Post Type

Dalil Isbal Harus Ditinjau Asbabul Wurud-nya?

Assalamualaikum..
Ustadz ada teman yang bertanya tentang dalil-dalil isbal. Yang dia tanyakan seperti berikut :
“Dapatkah kita memahami dalil secara tekstual belaka? Bukankah hadits-hadits muncul lantaran ada konteksnya? Terus, apa sih konteks (asbabul wurud) hadits-hadits tersebut?”
Mohon jawabannya. Jazakallahu khoiron

Azwar
Alamat: kejawan gebang I/15 surabya
Email: go_fau***@yahoo.com

Ustadz Kholid menjawab :
Tidak semua hadits hukumnya dilihat kepada sebabnya, sebab yang penting adalah lafadznya dan bukan sebabnya, demikian keterangan para ulama ahli tafsir dan ushul. Sehingga hukum tidak harus dilihat sebab wurudnya hadits. Hadits-hadits isbal cukup banyak dan jelas, bahkan nabi pernah memarahi Abdullah bin Umar yang mengenakan pakaian panjang hingga bila berjalan terdengar suara gerakan baju tersebut. Lihatlah pernyataan Ibnu Umar:

???????? ????? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ????????? ??????? ???????????? ??????? ???? ????? ?????? ?????? ??????? ???? ?????? ????? ???? ?????? ?????? ??????? ????????? ????????? ?????????? ???????? ????? ?????? ???????????? ?????? ?????? ?????????? ?????? ?????

Artinya: “Aku menemui Rasululloh dalam keadaan mengenaikan sarung yang menggeser tanah. Maka beliau bertanya: 'Siapakah ini?'. Aku menjawab: 'Abdulah bin Umar'. Beliau berkata: 'Apabila engkau adalah Abdullah bin Umar maka angkatlah sarungmu!'.  Maka aku pendekkan hingga setengah betis. Sarungnya Ibnu Umar terus separuh betis hingga beliau wafat” [HR Ahmad]

Inilah pakaian seorang muslim sebagaimana disampaikan Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam dalam sabda beliau :

???????? ??????????? ????? ?????? ???????? ????? ?????? ???? ??? ??????? ?????? ???????? ???????? ????????????? ??? ????? ???????? ???? ????????????? ?????? ??? ???????? ???? ????? ????????? ??????? ???? ???????? ??????? ????????

Artinya: “Pakaian muslim hingga separuh betis dan tdak mengapa bila diantara itu dengan kedua mata kakinya. Sedangkan yang dibawah mata kaki maka itu di neraka. Siapa yang memanjangkan pakaiannya (dibawah mata kaki) secara sombong maka Allah tidak melihat kepadanya.” [HR Abu Daud]

Dengan demikian jelaslah bila kita seorang muslim maka pakaian kita haruslah seperti pakaian seorang muslim.

Wabillahitaufiq

zp8497586rq
zp8497586rq

About The Author

12 comments

  1. ustadz,,,bagaimana kalau celana yang digunakan hanya sebatas di atas mata kaki….maksudnya hanya kelihatan mata kakinya saja,,,dan tidak sampai setengah betis …apakah sudah memenuhi persyaratan ?
    dan bagaimana jika seseorang menggunakan pakaian yang menutupi mata kaki, tetapi tidak sampai menyentuh tanah ….?
    mohon kejelasannya di kirim ke email saya
    sukron katsiron

  2. wa’alaikumussalam
    pokoknya batasnya adalah mata kaki sehingga yang dibawahnya terkena sangsi tersebut dan yang pas tepat tidak sampai menutupi mata kaki maka ia tidak masuk apalagi yang diatasnya.
    wassalamu’alaikum

  3. Ustadz bagaimana dengan orang yang berpendapat “itu kan kalau secara sombong seperti tertulis diteks hadist,sedangkan aku melakukan ny dengan niat bukan untuk sombong”mohon jawaban ny ustadz

  4. @abu fawaz,
    kalau kita perhatikan haditnya, sahabat abubakar itu melakukan isbal karena kurusnya beliau sehingga celananya selalu melorot.

    sehingga dapat kita pahami beliau melakukannya tidak dengan kesengajaan beliau. aslinya beliau berkenginan sekali mengamalkan perintah rasulullah tersebut.

    akan berbeda dengan orang yang jika melakukannya karena:
    1. malas,
    3. dengan anggapan ga zaman
    4. dengan anggapan ekstrim
    5. atau dengan anggapan yang secara tidak langsung menolak hukum isbal

    point2 diatas bisa masuk ke dalam kesombongan karena pengertian sombong menurut Rasulullah:

    Sifat sombong adalah mengabaikan kebenaran dan memandang rendah manusia yang lain” [HR Muslim]

    wallahu a’lam

  5. assalamu`alaikum ustadz.Ana sering ketemu jamaah lain yang menolak larangan isbal.Kilah mereka antara lain adl mengacu pada lafadz hadits “….dengan kesombongan”.Juga dengan dalih Abu Bakar juga isbal.Lalu mereka berkata ini hanyalah kilafiah saja.Bagaimana ana harus manjalaskan ini sebagai suatu kemaksiatan yang harus dihindari?Jazakumullah.(mohom jawaban ke e-mail ana ya ustadz)

  6. Asslamualaikum…..
    ustad tolong ana dijelaskan bagaimana seharusnya saff orang berjamaah yang hanya berdua dengan imam. apakah makmumnya sejajar dengan imam atau di bekalang dengan.. dan apa dasar dalilnya….
    jajakumullah hairan kasiran….

  7. wa’alaikumussalam
    silahkan lihat link diatas insya Allah bermanfaat sebagai tambahan dalil. oh iya Jazakumullahu khoiran atas perhatiannya
    @ wira F. batasannya adaah tidak menutup mata kaki dan bila mata kaki masih kelihatan maka belum dinamakan isbal, karena haditsnya menyatakan dibawah mata kaki. bila telah menutup mata kaki maka masuk dalam ancaman hadits tsb walaupun tidak menyentuh tanah. apalagi yang menyentuh???!

Comments for this article are now closed.