Hukum PEMILU dan Bagaimana Menyikapinya?

Kategori: Manhaj Tanggal: Apr 4, 2009 | 25 Komentar

Assalamu ‘alaikum, ustadz.
Alhamdulillah, Allohuma sholi ‘ala muhammad wa ‘ala aliihi wa shohbihi ajma’in.

Ana mau tanya tentang Pemilu, sebenarnya bagaimana kita mensikapinya?
Apa hukumnya?

Jazakallohu khoir.
Wassalamu ‘alaikum.

Abu Abdurrouf
Alamat: Gamping, Sleman, DIY
Email: pamukojo***@yahoo.com

Ustadz Kholid Menjawab:
Untuk menjawab pertanyaan ini dan semisalnya, kami bawakan saja fatwa Syaikh Abdulmalik Ramadhani dalam wawancara beliau dengan al-Akh Abdullah Taslim berikut ini:
Tanya (Abdullah bin Taslim): Sehubungan dengan Pemilu untuk memilih presiden yang sebentar lagi akan diadakan di Indonesia, dimana Majelis Ulama Indonesia mewajibkan masyarakat Indonesia untuk memilih dan mengharamkan golput, bagaimana sikap kaum muslimin dalam menghadapi masalah ini?

Syaikh Abdul Malik:
Segala puji bagi Allah, serta salawat, salam dan keberkahan semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada keluarga dan para sahabatnya, serta orang-orang yang setia mengikuti jalannya, amma ba’du:
Saat ini mayoritas negara-negara Islam menghadapi cobaan (berat) dalam memilih pemimpin (kepala negara) mereka melalui cara pemilihan umum, yang ini merupakan (penerapan) sistem demokrasi yang sudah dikenal. Padahal terdapat perbedaan yang sangat jauh antara sistem demokrasi dan (syariat) Islam (dalam memilih pemimpin), yang ini dijelaskan oleh banyak ulama (ahlus sunnah wal jama’ah). Untuk penjelasan masalah ini, saudara-saudaraku (sesama ahlus sunnah) bisa merujuk kepada sebuah kitab ringkas yang ditulis oleh seorang ulama besar dan mulia, yaitu kitab “al-’Adlu fil Islaam wa laisa fi dimokratiyyah al maz’uumah” (Keadilan yang hakiki ada pada syariat Islam dan bukan pada sistem demokrasi yang dielu-elukan), tulisan guru kami syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al-’Abbaad al-Badr –semoga Allah menjaga beliau dan memanjangkan umur beliau dalam ketaatan kepada-Nya –.
‘Ala kulli hal, pemilihan umum dalam sistem demokrasi telah diketahui, yaitu dilakukan dengan cara seorang muslim atau kafir memilih seseorang atau beberapa orang tertentu (sebagai calon presiden). Semua perempuan dan laki-laki juga ikut memilih, tanpa mempertimbangkan/membedakan orang yang banyak berbuat maksiat atau orang shaleh yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Semua ini (jelas) merupakan pelanggaran terhadap (syariat) Islam. Sesungguhnya para sahabat yang membai’at (memilih) Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu (sebagai khalifah/pemimpin kaum muslimin sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) di saqiifah (ruangan besar beratap tempat pertemuan) milik (suku) Bani Saa’idah, tidak ada seorang perempuan pun yang ikut serta dalam pemilihan tersebut. Karena urusan siyasah (politik) tidak sesuai dengan tabiat (fitrah) kaum perempuan, sehingga mereka tidak boleh ikut berkecimpung di dalamnya. Dan ini termasuk pelanggaran (syariat Islam), padahal Allah Ta’ala berfirman:

???????? ????????? ????????????

“Dan laki-laki tidaklah seperti perempuan.” (Qs. Ali ‘Imraan: 36)
Maka bagaimana kalian (wahai para penganut sistem demorasi) menyamakan antara laki-laki dan perempuan, padahal Allah yang menciptakan dua jenis manusia ini membedakan antara keduanya?! Allah Ta’ala berfirman:

????????? ???????? ??? ??????? ??????????? ??? ????? ?????? ??????????

?
“Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya, sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka.” (Qs. al-Qashash: 68)
Di sisi lain Allah Ta’ala berfirman:

???????????? ?????????????? ???????????????? ??? ?????? ?????? ???????????

“Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir). Mengapa kamu (berbuat demikian); bagaimanakah kamu mengambil keputusan?” (Qs. al-Qalam: 35 – 36)
Sementara kalian (wahai para penganut sistem demokrasi) menyamakan antara orang muslim dan orang kafir?! Maka ini tidak mungkin untuk…(kalimat yang kurang jelas). Masalah ini (butuh) penjelasan yang panjang lebar.
Akan tetapi (bersamaan dengan itu), sebagian dari para ulama zaman sekarang berpendapat bolehnya ikut serta dalam pemilihan umum dalam rangka untuk memperkecil kerusakan (dalam keadaan terpaksa). Meskipun mereka mengatakan bahwa (hukum) asal (ikut dalam pemilihan umum) adalah tidak boleh (haram). Mereka mengatakan: Kalau seandainya semua orang diharuskan ikut serta dalam pemilu, maka apakah anda ikut memilih atau tidak? Mereka berkata: anda ikut memilih dan pilihlah orang yang paling sedikit keburukannya di antara mereka (para kandidat yang ada). Karena umumnya mereka yang akan dipilih adalah orang-orang yang memasukkkan (mencalonkan) diri mereka dalam pemilihan tersebut. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah radhiallahu ‘anhu:
“Janganlah engkau (berambisi) mencari kepemimpinan, karena sesungguhnya hal itu adalah kehinaan dan penyesalan pada hari kiamat nanti.” (Gabungan dua hadits shahih riwayat imam al-Bukhari (no. 6248) dan Muslim (no. 1652), dan riwayat Muslim (no. 1825))
Maka orang yang terpilih dalam pemilu adalah orang yang (berambisi) mencari kepemimpinan, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang (berambisi) mencari kepemimpinan maka dia akan diserahkan kepada dirinya sendiri (tidak ditolong oleh Allah dalam menjalankan kepemimpinannya).” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan lain-lain, dinyatakan lemah oleh syaikh al-Albani dalam “adh-Dha’iifah” (no. 1154). Lafazh hadits yang shahih Riwayat al-Bukhari dan Muslim: “Jika engkau menjadi pemimpin karena (berambisi) mencarinya maka engkau akan diserahkan kepadanya (tidak akan ditolong oleh Allah).”
Allah akan meninggalkannya (tidak menolongnya), dan barangsiapa yang diserahkan kepada dirinya sendiri maka berarti dia telah diserahkan kepada kelemahan, ketidakmampuan dan kesia-siaan, sebagaimana yang dinyatakan oleh salah seorang ulama salaf – semoga Allah meridhai mereka–.
‘Ala kulli hal, mereka berpendapat seperti ini dalam rangka menghindari atau memperkecil kerusakan (yang lebih besar). Ini kalau keadaannya memaksa kita terjeremus ke dalam dua keburukan (jika kita tidak memilih). Adapun jika ada dua orang calon (pemimpin yang baik), maka kita memilih yang paling berhak di antara keduanya.
Akan tetapi jika seseorang tidak mengatahui siapa yang lebih baik (agamanya) di antara para kandidat yang ada, maka bagaimana mungkin kita mewajibkan dia untuk memilih, padahal dia sendiri mengatakan: aku tidak mengetahui siapa yang paling baik (agamanya) di antara mereka. Karena Allah Ta’ala berfirman:

???? ?????? ??? ?????? ???? ???? ?????? ????? ????????? ??????????? ???????????? ????? ????????? ????? ?????? ??????????

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya.” (Qs. al-Israa’: 36)
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang menipu/mengkhianati kami maka dia bukan termasuk golongan kami.” (HSR Muslim (no. 101)). Jika anda memilih orang yang anda tidak ketahui keadaannya maka ini adalah penipuan/pengkhianatan.
Demikian pula, jika ada seorang yang tidak merasa puas dengan kondisi pemilu (tidak memandang bolehnya ikut serta dalam pemilu) secara mutlak, baik dalam keadaan terpaksa maupun tidak, maka bagaimana mungkin kita mewajibkan dia melakukan sesuatu yang tidak diwajibkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam?!
Maka ‘ala kulli hal, kita meyakini bahwa Allah Ta’ala Dialah yang memilih untuk umat ini pemimpin-pemimpin mereka. Kalau umat ini baik maka Allah akan memilih untuk mereka pemimpin-pemimpin yang baik pula, (sabaliknya) kalau mereka buruk maka Allah akan memilih untuk mereka pemimpin-pemimpin yang buruk pula. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

?????????? ???????? ?????? ????????????? ??????? ????? ??????? ???????????

Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zhalim itu menjadi pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (Qs. al-An’aam: 129)
Maka orang yang zhalim akan menjadi pemimpin bagi masyarakat yang zhalim, demikianlah keadaannya.
Kalau demikian, upayakanlah untuk menghilangkan kezhaliman dari umat ini, dengan mendidik mereka mengamalkan ajaran Islam (yang benar), agar Allah memberikan untuk kalian pemimpin yang kalian idam-idamkan, yaitu seorang pemimpin yang shaleh. Karena Allah Ta’ala berfirman:

????? ??????? ?? ????????? ??? ???????? ?????? ??????????? ??? ?????????????

?
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Dalam ayat ini) Allah tidak mengatakan “…sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada pemimpin-pemimpin mereka”, akan tetapi (yang Allah katakan): “…sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
Aku telah menulis sebuah kitab tentang masalah ini, yang sebenarnya kitab ini khusus untuk para juru dakwah, yang mengajak (manusia) ke jalan Allah Ta’ala, yang aku beri judul “Kamaa takuunuu yuwallaa ‘alaikum” (sebagaimana keadaanmu maka begitupulalah keadaan orang yang menjadi pemimpinmu). Aku jelaskan dalam kitab ini bahwa watak para penguasa selalu berasal dari watak masyarakatnya, maka jika masyarakatnya (berwatak) baik penguasanya pun akan (berwatak) baik, dan sebaliknya.
Maka orang-orang yang menyangka bahwa (yang terpenting dalam) masalah ini adalah bersegera untuk merebut kekuasaan, sungguh mereka telah melakukan kesalahan yang fatal dalam hal ini, dan mereka tidak mungkin mencapai hasil apapun (dengan cara-cara seperti ini). Allah Ta’ala ketika melihat kerusakan pada Bani Israil disebabkan (perbuatan) Fir’aun, maka Allah membinasakan Fir’aun dan memberikan kepada Bani Israil apa yang mereka inginkan, dengan Allah menjadikan Nabi Musa ‘alaihissalam sebagai pemimpin mereka. (Akan tetapi) bersamaan dengan itu, kondisi (akhlak dan perbuatan) mereka tidak menjadi baik, sebagaimana yang Allah kisahkan dalam al-Qur’an. Mereka tidak menjadi baik meskipun pemimpin mereka adalah kaliimullah (orang yang langsung berbicara dengan Allah Ta’ala), yaitu Nabi Musa ‘alaihissalam, sebagaimana yang sudah kita ketahui. Bahkan sewaktu Allah berfirman (menghukum) sebagian dari Bani Israil:

??????? ???????? ?????????

?
“Jadilah kamu kera yang hina.” (Qs. al-Baqarah: 65)
Kejadian ini bukanlah di zaman kekuasaan Fir’aun. Akan tetapi hukuman Allah ini (menimpa) sebagian mereka (karena mereka melanggar perintah Allah) ketika mereka di bawah kepemimpinan Nabi Musa ‘alaihissalam dan para Nabi Bani Israil ‘alaihimussalam sepeninggal Nabi Musa ‘alaihissalam, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Bani Israil selalu dipimpin oleh para Nabi ‘alaihimussalam, setiap seorang Nabi wafat maka akan digantikan oleh Nabi berikutnya.” (HSR al-Bukhari dan Muslim)
Dan hanya Allah-lah yang mampu memberikan taufik (kepada manusia).

???? ???? ???? ????? ??? ????? ???? ???? ????? ??????? ???? ?????? ?? ????? ??? ?? ????????

Madinah Nabawiyyah, 15 Rabi’ul awal 1430 H / 11 Maret 2009 M
***

Tidak ada tulisan terkait

25 Komentar

Mendaftar RSS Komentar?

  1. bambang pujiyanto says:

    dalam sebuah buku ada ditulis bahwa jika termakan seekor semut boleh mematikan hati selama 40 hari. adakah dasar hadisnya atau fatwa ulamak? mohon dijelaskan, makasih.

  2. nida says:

    menolak demokrasi tp mengakui dan mendukung pemimpin yg di pilih dgn cara itu??

  3. benar apa yang dianalogikan oleh ustadz Zainal Abidin, Lc.

    kita ahlusunnah wal jamaah berada ditengah-tengah, menilai demokrasi seperti halnya menilai zina, kita mengharam prosesnya namun menerima hasilnya, maksudnya kita mengharamkan zina, namun anak hasil zina tidak kita haramkan, begitu juga dengan demokrasi, kita mengharamkan demokrasi, namun dinegara yang bukan negara Islam ini, kita menerima hasilnya berupa pemimpin/presidennya siapa.

  4. Wa’alaikumussalam
    Jazakumullahu khoiran atas komentar dan tanggapan antum. Utk akh Bambang kami
    sampai hari ini belum dengar ttg hal tersebut. Utk Nida demikianlah kelebihan
    dan keistimewaan ahlussunnah ia tidak memilih namun tetap patuh kepada penguasa
    selama masih muslim. Kalau orang memilih lalu mematuhi itu suatu yg wajar dan
    klo milih dan tidak mematuhi yang dipilihnya itu namanya khianat. Nyuruh mimpin
    untuk dilanggar dan tdk dipatuhi. Utk adoitya tidak terlalu salah namun klaim indonesia
    bukan negara islam membutuhkan fatwa khusus dari para ulama, memang kita akui demkrasi
    Bukan dari islam dan bertentangan dengagnya namun untuk menentukan satu negara tdk lagi
    Islam butuh rincian dan merujuk kepada ahli ilmu. Wallahu a’lam
    Wassalam

  5. doelexpress says:

    ikut pemilu dinegara mayoritas muslim ,kita sebagai muslim harus mematuhi ALLah Swt .Rasul Dan Umara(kalo ga salah Pemimpin).

    Sebagai rakyat Kita harus mematuhi sang pemimpin, dengan syarat syarat sesuai dengan Al-quran dan Al-hadist, Dan apabila pemimpin Itu Dzalim Maka kita harus memeranginya .

    Dikhawatirkan Aspirasi umat muslim Tidak tersalurkan dan kalo tidak ikut
    mungkin kaum kafir akan memerintah negeri ini ,maka muslim wajib ikut memilih pemimpin muslim yang sesuai sifat nabi.

    demonstrasi terjadi karena pemimpin yang gagal dan kurangnya penghormatan. demokrasi yg terlalu bebas membuat orang bertindak tidak sesuai aturan,memfitnah,menghina,dll.

    demikianlah tanggapan saya yang singkat dan awam .maklum adanya

  6. Santoso says:

    doelexpress berkomentar
    “..Dikhawatirkan Aspirasi umat muslim Tidak tersalurkan dan kalo tidak ikut mungkin kaum kafir akan memerintah negeri ini ,maka muslim wajib ikut memilih pemimpin muslim yang sesuai sifat nabi..”

    Realita dan fakta yang ada sekarang: “pemerintahan” kita adalah MAYORITAS muslim. TAPI tetap aja aspirasi umat islam tidak tersalurkan.
    Siapakah pemimpin yang wajib dipilih yang sesuai dengan sifat Nabi menurut anda?

    Ada yang mengatakan “pilihlah yang baik”.
    Maka saya menjawab, “saya tidak tahu siapa yang baik”.
    Ada yang mengatakan “kalau tidak ada yang baik, maka pilihlah yang paling sedikit keburukannya diantara yang yang buruk”.
    Maka saya menjawab, “saya tidak tahu siapa yang paling sedikit keburukannya”.

  7. tedy says:

    Jika ada yang khawatir banyaknya golput bisa melumpuhkan kekuatan umat Islam dan golput hanyalah kumpulan org2 yg tidak peduli dengan perjuangan Islam, maka ini keliru. sesungguhnya yang paling bertanggung jawab terhadap kemunduran umat adalah kaum muslimin yang membuat partai2 sehingga suara umat islam terpecah belah.

  8. Zul says:

    Assalamu ‘alaykum Pak Ustadz

    Jadi kalau umat Islam di Indonesia siapa yang mewakili. Apakah Pak Ustadz pernah mengalami rezim Suharto sewaktu dia masih tidak suka Islam? Islam diinjak-injak. Coba tanyakan kepada orang yang mengalaminya. Coba Pak Ustadz tanyakan apa yang terjadi di negara berpenduduk mayoritas muslim tetapi mereka ditindas oleh juga penguasa yang mengaku muslim. Mohon pak ustadz tidak terpaku pada kitab-kitab kuning dan melihat secara konprehensif persoalan umat Islam di dunia ini. Islam bukan hanya di Jazirah Arab Pak Ustadz. Sebaiknya Pak ustadz banyak membaca sejarah umat muslim itu sendiri sebelum memberi keterangan dan penjelasan.

    Zul

  9. abi says:

    tegakkan Tauhid dulu. InsyaAllah, Allah akan mewariskan kekuasaan kepada kaum muslimin. bukan dengan ikut2an cara2 orang kafir seperti itu.
    tidakkah kita lihat orang2 muslim berbondong2 mdatangi dukun2 itu?bgmn Allah akan memberi kebaikan kepada Indonesia??
    dakwahkan Tauhid!

  10. Aswad says:

    Akhi Zul, semoga Allah menjaga anda dalam kebaikan…

    Pertama, coba antum perhatikan, tulisan ini bukanlah tulisan Ustadz Kholid atau Ustadz Abdullah Taslim. Tulisan ini adalah terjemah fatwa dari Syaikh Abdul Malik Ar Ramadhani, seorang ulama yang memiliki kapasitas untuk membahas politik dengan tinjauan dalil Al Qur’an dan Hadits. Dan perlu diketahui, seseorang tidaklah dikatakan ulama jika ia tidak faham fiqhul waqi’ (realita).
    Kedua, jika yang ada maksudkan adalah “Kalau tidak ada ummat Islam yang masuk pada parlemen maka pemerintahan akan dikuasai non-muslim dan kaum muslimin di injak-injak“.
    Kalau demikian yang anda maksud, sungguh andalah yang ternyata kurang faham realita, kurang membaca sejarah dan tidak melihat secara komprehensif. Karena:

    1. Justru karena sistem parlemen dan demokrasi-lah yang membuka peluang bagi non-muslim untuk berkuasa.
    2. Yang ideal dan sesuai dengan prinsip Islam yang benar adalah ummat Islam meminggalkan demoraksi. Namun realita menunjukkan mayoritas ummat Islam masih awwam terhadap hal ini dan mereka sebagian ikut serta dalam demokrasi. Jadi pernyataan anda “Kalau tidak ada ummat Islam yang masuk pada parlemen” itu tidak realistis dan berandai-andai. Karena pada realita ummat Islam masih mendominasi pemerintahan.
    3. Pernyataan anda bagaikan mimpi di siang bolong karena hal tersebut hampir mustahil terjadi. Karena sebagian besar masyarakat Indonesia adalah muslim. Jika sistemnya masih demokrasi dan semuanya tidak ikut PEMILU atau tidak masuk parlemen tentu PEMILU tidak sah karena pemilihnya hanya sebagian kecil orang!!

    Ketiga, sebelum mencerna fatwa di atas sebaiknya perlu anda ketahui bahwa Demokrasi bertentangan dengan Islam. Panjang pembahasan tentang hal ini, simak saja di sini.

    Keempat, sejarah membuktikan bahwa Islam itu tidak cocok dengan demokrasi dan demokrasi menolak Islam berkuasa. Sudah banyak partai Islam yang memenangi PEMILU dan menguasai pemerintahan namun tetap tidak bisa menegakkan syariat, tidak bisa memberantas kesyirikan dan kemungkaran. Bahkan kekuasaan merekapun diruntuhkan oleh demokrasi itu sendiri. Lihatlah bagaimana akhir dari Partai Masyumi yang pernah memenangi pemilu, mereka begitu saja takluk oleh rezim Sukarno. Apakah sempat menegakkan syariat?? Lihat juga partai FIS yang dijatuhkan oleh Rezim Boudiaf di Mesir. Atau partai Hamas yang hanya menciptakan perang saudara di Palestina. Ini semua menunjukkan bahwa bergelut dalam Demokrasi itu suatu kebodohan kuadrat. Sudah bertentangan dengan syariat, hasilnya pun terbukti tidak sesuai harapan.

    Anda mungkin bertanya: “Kalau tidak ikut demokrasi lalu apa? Diam saja seperti kalian??”. Jawab ringkasnya, tashfiyah dan tarbiyah. Kenali jalan Islam yang benar, ajari diri sendiri, kemudian keluarga, tetangga, dan seterusnya hingga semua masyarakat paham Islam yang benar termasuk orang-orang di pemerintahan. Dan dengan sendirinya kekuasaan ada ditangan Islam. Indah bukan?

  11. joko says:

    buat ustadz kholid dan Syaikh Abdul Malik Ar Ramadhani, seorang ulama yang memiliki kapasitas untuk membahas politik dengan tinjauan dalil Al Qur’an dan Hadits yang sangat faham fiqhul waqi’ (realita).
    kalo menurut saya tulisan anda merupakan pembodohan terhadap bangsa dan negara ini yang mayoritasnya adalah muslim.
    kalo anda pake fatwa Syaikh Abdul Malik Ar Ramadhani yang menggunakan alquran :
    ???????? ????????? ????????????

    “Dan laki-laki tidaklah seperti perempuan.” (Qs. Ali ‘Imraan: 36)
    Maka bagaimana kalian (wahai para penganut sistem demorasi) menyamakan antara laki-laki dan perempuan, padahal Allah yang menciptakan dua jenis manusia ini membedakan antara keduanya?!

    menurut saya anda salah menempatkan posisi ayat ini kalo untuk digunakan sebagai dasar bahwa memilih presiden diindonesia.

    asal usulnya ayat itu turun harus diperjelas dulu, baru bisa dipake untuk jadi tameng buat fatwa.

    saran saya mendingan anda pindah kewarganegaraan saja. cari negara yang sistemnya ideal menurut anda dan ulama-ulama anda yang anda agungkan dan tidak punya salah sedikitpun dalam membuat fatwa.

    ” saya sangat yakin anda tidak akan mempublish tulisan saya diblog anda, pengalaman saya beberapa kali mengomentari tulisan-tulisan seperti ini gak pernah dipublish” -karena anda dan golongan anda yang mengaku paling benar adalah pengecut”

  12. hanif says:

    Mungkin saya akan berkata, ‘Siapa yg termakan konspirasi siapa’.

    mari kita hitung2an, positive & negatifnya, bukankah Allah juga berkata, Kuserahkan urusan dunia ini kepadamu
    Ini teori singkatloh, nanti kalau panjang2 nggak cukup dan males bacanya
    Teori 1
    20%dari 40$ Umat muslim yg golput kemaren berkata, Demokrasi adalah buatan orang kafir yg tidak boleh diikuti. lalu yg 8% ikut pemilu kemaren, kalau bisa balik lagi supaya tdk milih. jd totalnya 0% bagi pemilih muslim beriman, dan mereka sehari-hari mengajarkan islam yg benar kpd keluarga dan tetangga, tp disisi lain dia gigit jari, karena dari hari kehari aturan dan perutan dibuat oleh orang islam tapi tidak mengerti akan islam. Lalu demolah setiap hari, bahkan mungkin bisa muncul peperangan,darah dimana-mana, yg katanya menegakkan islam itu memang harus berdarah-darah. (lalu akhir kata islam di benci, karena selalu dg darah, padahal sebelumnya negri ini berjalan dengan damai2 saja.) .’Gambaran asli rakyat indonesia saat ini’.

    Teori 2
    20% yg Golput ikut pemilu,lalu bertambah suara yg 8% itu, lalu totalnya menjadi 28% (realita saat ini) singkat cerita memenangkan pemilu dan Presiden sekaligus, dia membuat undang2 yg mengadopsi syariah islam. disisi lain, sepulang kerja dia mengajarkan anaknya tetangganya hidup sesuai syariat islam. kalau orang sudah terbiasa & tdk takut akan adobsi syariat islam,krn ternyata indahnya peraturan islam itu, Lalu baru bergerak menjadi sistem syariat islam, bagaimana..?

    memang ini sepertinya terlalu meremehkan dan sepele, cuma saya akan berkata, ’siapa yg termakan konspirasi siapa’. Sehingga Jumlah suara pemilih partai islam jd berkurang.

    kalau teorinya disampaikan bawah dahulu pernah partai islam menang tapi tdk jalan, saya juga bisa bertieori kalau pada jaman yg sama dipaksakan syariat islam mungkin juga tdk jalan, karena pelaksananya itu-itu juga, jd bukan partainya, tapi masing2 individu penggeraknya serta lingkungan sekitarnya,Untuk itu kita butuh jaman sekarang partai dakwah, sebagai pemenang, setelah itu bawa langkah selanjutnya, karena saya lihat muslim sekarang tingkat ilmunya semakin baik, krn mudahnya mendapatkan informasi dg cepat.

  13. duniafana says:

    To : Sdr. Aswad,
    Saya terkejut dengan tanggapan Anda tentang HAMAS. Silakan Anda baca tulisan Ustadz Ihsan Tanjung di eramuslim. Semoga bermanfaat.

  14. Aswad says:

    Kepada akhi Joko, semoga Allah merahmati anda…

    Akhi, saya setuju bahwa tidak ada orang yang perkataannya harus diterima kecuali hanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Dan para ulama tidak lepas dari salah, kita terima perkataannya jika cocok dengan Al Qur’an dan hadits, dan kita tolak jika tidak cocok.

    Begitu juga anda, saya dan ummat muslim semua akan seharusnya menerima pendapat anda jika cocok dengan Al Qur’an dan hadits, dan jika tidak cocok maka sepatutnya DITOLAK.

    Dengan dasar itu saya hendak memberikan beberapa pandangan kepada anda:
    1. Syaikh Abdul Malik Ar Ramadhani di sini mendasari pendapatnya pada dalil Al Qur’an dan hadits, sedangkan anda berpendapat dalam mengkritik beliau di dasari dengan apa? Saya tidak lihat anda membawakan dalil sedikitpun?

    Maka dalam sisi ini saya berpihak pada Syaikh Abdul Malik Ar Ramadhani yang pendapatnya lebih ilmiah daripada kritikan anda.

    2. Anda mengkritik seorang ulama dalam hal penafsiran Al Qur’an. Seorang ulama, entah berapa kitab tafsir Al Qur’an yang dipelajarinya. Maka agar kritikan ini fair, seharusnya si pengkritik pun telah mempelajari banyak kitab tafsir dan faham kaidah-kaidah ilmu tafsir. Bagaimana dengan anda?
    Apa pendapat anda jika ada mahasiswa semester 1 yang mendapat nilai E pada mata kuliah Fisika Dasar mengkritik seorang profesor Fisika tentang sebuah teori fisika??

    Maka dalam hal ini, saya lebih berpihak pada Syaikh yang saya nilai lebih menguasai ilmu tafsir.

    3. Jika anda dapat memahami artikel tersebut dengan baik, akan jelas bahwa ayat
    ???????? ????????? ????????????

    Dan laki-laki tidaklah seperti perempuan” (Qs. Ali ‘Imraan: 36)
    Adalah salah satu dari banyak dalil yang digunakan Syaikh untuk menjelaskan kebobrokan demokrasi. Karena demokrasi menyamakan semua orang, baik wanita atau lelaki, baik tua atau muda, baik pandai atau bodoh, baik sehat atau tidak sehat semua sama. Satu suara seorang profesor doktor ahli politik dikalahkan begitu saja oleh satu suara seorang yang tidak mengecap bangku sekolah. Orang yang berakal seharusnya menyadari ini.

    Ketahuilah akhi, semoga Allah merahmatimu, demokrasi itu bertentangan dengan Islam. Islam tidak cocok dengan demokrasi dan demokrasi pun menolak Islam berkuasa. Karena yang benar adalah: Ketetapan Allah dan Rasul-Nya di atas ketetapan mayoritas atau suara rakyat. Pembahasan rinci mengenai ini dapat anda baca di artikel “Syura VS Demokrasi

    Maka dalam hal ini saya lebih berpihak pada Syaikh, karena secara akal maupun secara dalil telah terbukti Demorasi itu bathil.

    4. Anda mengkritik Syaikh yang berdalil dengan ayat tersebut untuk menunjukkan bahwa lelaki dan wanita itu dibedakan dalam Islam. Padahal hal ini dibenarkan oleh para ahli tafsir.

    Al Qurthubi menjelaskan ayat ini: “Istri Imran bernadzar ketika sedang mengandung agar anaknya kelak dapat berkhidmat di Masjidil Aqsha. Namun ketika anaknya yang lahir ternyata perempuan, ia membatalkannya. Karena wanita adalah aurat. Maka ia pun meminta udzur kepada Rabb-Nya” [Lihat Tafsir Al Qurthubi]. Al Qurthubi di sini menjelaskan bahwa ayat menjelaskan salah satu perbedaan antara lelaki dan wanita bhw wanita adalah aurat. Jika berkhidmat di masjid saja tidak boleh apa lagi berkhidmat pada negara dengan menjadi presiden??

    Ibnu Katsir pun menjelaskan: “‘Lelaki berbeda dengan perempuan’ yaitu dalam kekuatan raga dan kekuatan dalam beribadah serta dalam kemampuan untuk berkhidmat di Masjidil Aqsha” [Lihat Tafsir Ibnu Katsir]

    Dalam Tafsir Jalalain pun dijelaskan: “Anak lelaki yang diharapkan oleh Istri Imran tentunya tidak sama dengan anak perempuan yang ternyata Allah berikan. Karena istri Imran menginginkan seorang anak lelaki yang dapat berkhidmat di Masjidil Aqsha. Sedangkan anak perempuan tidak bisa. Karena sifat lemahnya, karena perempuan itu aurat, juga dikarenakan ada hal-hal yang dilarang pada saat haidh, dan sebab lainnya” [Lihat Tafsir Jalalain]

    Kesimpulannya:
    - Islam membedakan wanita dan laki-laki. Sedangkan demokrasi menyamakannya. Maka Islam yang benar, demokrasi SALAH.
    - Wanita menjadi pemimpin negara yang berkhidmat kepada negara adalah suatu hal yang dilarang dalam Islam.
    (Baca lebih lengkap di artikel “Presiden Wanita Dalam Tinjauan Islam“)

    Maka setelah saya cek penafsiran para ahli tafsir, ternyata sejalan dengan pendapat Syaikh Abdul Malik Ar Ramadhani, sehingga dalam hal ini saya berpihak pada Syaikh.

    5. Lihatlah dirimu akhi, engkau mengkritik seorang yang menyampaikan dalil seolah engkau lebih paham dalil. Agama adalah nasehat, tulisan ini jelas menginginkan kebaikan kepada ummat muslim agar meninggalkan demokrasi karena itu adalah keburukan dunia dan akhirat.

    Namun lihat dirimu, apa yang engkau harapkan dari komentarmu? Apakah kebaikan? Lalu mengapa lisanmu begitu kotor? Engkau berkata:

    “karena anda dan golongan anda yang mengaku paling benar adalah pengecut”

    Padahal Allah Ta’ala berfirman, yang artinya:
    Siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang mengajak kepada jalan Allah?” [QS. Fushilat: 33]
    Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:
    Seorang muslim sejati adalah orang yang menyelamatkan muslim yang lain dari kejahatan lisan dan tangannya” [HR.Bukhari-Muslim]

    Maka karena saya lihat Syaikh memakai kata-kata yang lebih sopan dan lebih ilmiah dari anda, dalam hal ini saya memihak pada Syaikh.

    Wallahu’alam.
    Baarakallahu fiikum.

  15. AbuNajwa says:

    kemana mas joko? sebaiknya anda terus mengikuti pembahasan/artikel-artikel yang ada di sini atau link yang disiapkan oleh akhi yang lain yang berkaitan dengan masalah yang sedang di bahas. insya allah kalau anda terus mengikuti pembahasan disini anda akan menemukan kebenaran yang tentu saja tolok ukurnya alquran dan assunnah dengan pemahaman sahabat. masalah demokrasi, politik, pemilu sudah banyak di bahas oleh para ulama ahlussunnah semenjak mulai berkembangnya kepartaian yang mengatasnamakan islam di negeri2 muslim. dasar pijakan pembahasan tentu saja alquran wa assunnah dengan pemahaman dari generasi terbaik umat ini yakni para sahabat rodhiallohuanhum. mungkin saja kajian tentang itu (demokrasi) tidak atau belum sampai kepada anda karena mungkin anda kebanyakan baca koran dan nonton gosip di tv sehingga jauh dari lautan ilmunya para ulama yang salah satunya adalah Syaikh Abdul Malik Ar Ramadhani.
    sungguh mas joko, jika anda mau membaca/mempelajari kitab2 para ulama ahlussunnah maka anda akan sangat menyesal telah berkata:
    kalau menurut saya tulisan anda….
    menurut saya anda salah…
    menurut prasangka saya (maaf kalau salah) anda bahkan belum pernah sekalipun menamatkan alquran beserta tafsirnya dari salah satu almufassir, tetapi anda berani berkata “menurut saya…
    menurut prasangka saya (maaf kalau salah) anda baru hafal beberapa hadits saja (belum sampai ribuan) apalagi sampai mamahami maksud hadits dengan benar, mengetahui sanatnya, dan biografi para perowinya, tatapi anda berani berkata “menurut saya…
    sungguh mas joko, anda berkata tanpa ilmu bahkan diselimuti dengan hawa nafsu dan kebodohan(ketidaktahuan). semoga niat anda mengunjungi web ini dan yang sejenisnya adalah dalam rangka menambah keilmuan dan mencari kebenaran. semoga allah ta’ala merahmati anda dan memudahkan anda dalam memahami dienNya
    Baarakallahu fiikum.

  16. abu ibrohim says:

    Bismillah

    Assalamualikum ustd ana mau bertanya apa hukum memakai baju yg ada tulisan syahadatnya apakah kita boleh memakainya?

  17. agus suryanto says:

    Semoga Allah SWT memberikan petunjuk yang lurus untuk mas Joko dalam menimba ilmu yang haq. amin.

  18. abu mu'adz says:

    Innalillahi wa inailaihi rojiun, semoga Allah subhanahu wa ta ala memberikan hidayah kepada kita semua dan menunjukkan bahwa yang haq itu dan yang batil itu tetap batil, Amin!
    Sangat ironi memang, membantah suatu masalah hanya dengan ra’yu akal pikiran pribadi bukan pada Al qur’an dan As Sunnah. Sebagai umat Islam yang mulia ini yang sudah memiliki pondasi dasar ajaran yang jelas, kenapa harus memakai ajaran lain yang jelas-jelas tidak jelas.
    Semoga Akh Joko bisa lebih santun dan tentunya lebih paham tentang ajaran agama ini.

  19. nanda says:

    semoga akh Joko udah bertaubat… :D

  20. Ibnu Abihi says:

    Maaf … saya tidak bisa berkata-kata lagi melihat kejahilan para komentatornya ….

  21. Akhi Chan says:

    Kalo Mau Buat Kopi Bersihkan dulu Gelas dari Teh, Kemudian baru dibuat kopi. Bukan di campur aduk antara teh dan kopi. Jangan campuradukkan sistem hidup(dien) thoghut dengan Sistem Hidup Islam. Menurut Ana Malah Haram mengikuti Pemilu. Semua sudah di atur Allah, Yang sedikit belum tentu kalah dan belum tentu salah. Ingin negara hancur silahkan ikuti Demokrasi Laknatulloh.

    Berikut Resensi tentang Demokrasi Sesat! Masihkah antum akan mencapur adukkan Agama?

    Demokrasi adalah agama kafir buatan manusia, dan pemeluknya ada yang berstatus sebagai tuhan yang membuat hukum serta ada yang berstatus sebagai pengikut yang menyembah tuhan-tuhannya itu. Allah berfirman:

    Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang Telah diturunkan Allah kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang Telah diturunkan Allah), Maka Ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. dan Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. [Al-Maaidah:49]

    Sedangkan dalam agama demokrasi ada ajaran syirik, maka para penyembahnya berkata:
    Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diinginkan rakyat, dan ikutilah keinginan mereka. Dan berhati-hatilah kamu jangan sampai kamu dipalingkan dari apa yang mereka inginkan dan mereka tetapkan hukumnya.”

    Begitulah mereka katakan dan inilah yang diajarkan dan ditetapkan oleh agama demokrasi. Ini merupakan kekafiran yang jelas dan kemusyrikan yang terang bila mereka menerapkannya, namun demikian sesungguhnya kenyataan mereka lebih busuk dari itu, sebab bila seseorang mau mengatakan tentang keadaan praktek mereka tentu dia pasti mengatakan: Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diinginkan oleh para thaghut dan kroni-kroninya, dan janganlah satu hukum dan satu undang-undang dibuat kecuali setelah ada pengesahan dan persetujuannya…!!!

    Sungguh ini adalah kesesatan yang terang lagi nyata, bahkan penyekutuan (Khalik) dengan hamba secara aniaya. Allah berfirman:

    Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. [An-Nisaa’: 59]

    Padahal faham demokrasi mengatakan:
    bila kalian berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikan kepada rakyat, majlis perwakilannya, dan rajanya sesuai dengan undang-undang dasar dan aturan yang berlaku.”

    Jadi inilah kebebasan agama demokrasi: Melepaskan diri dari agama Allah, syari’at-Nya, dan melanggar batasan-batasannya. Adapun hukum undang-undang bumi dan aturannya maka itu selalu dijaga, dijunjung tinggi dan disucikan (disakralkan) serta dilindungi dalam agama demokrasi mereka yang busuk, bahkan orang yang berusaha melanggarnya, menentangnya, atau menggugurkannya dia akan merasakan sangsinya.

    Maka masihkah kamu mengikuti tunduk kepada faham/agama demokrasi?

    Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kita memujiNya, memohon pertolongan dan berlindung kepadaNya dari keburukan diri kita dan kejelekan amalan kita, siapa yang diberi petunjuk oleh Allah niscaya dia akan tertunjuki, sedang siapa yang disesatkan Allah tiada yang mampu memberi petunjuk kepadanya.

    Resensi : Artikel Abu Ja’far Al Atsary

  22. Santoso says:

    “Demokrasi adalah seburuk-buruk cara memilih pemimpin.”
    Dan letak kelemahannya/keburukannya adalah “setiap orang yg telah dianggap berumur cukup boleh memilih tanpa melihat apakah orang itu pandai, bodoh(banget), baik(alim), jahat(kriminal) ,dsb.

    Bayangkan, 1 suara orang pandai kalah oleh 2 suara orang bodoh, dan juga 1 suara orang baik dan alim kalah oleh 2 suara penjahat kambuhan (residivis).
    Bayangkan apa jadinya kalau orang-orang bodoh bermusyawarah untuk memilih pemimpin, kira-kira siapa yg akan dipilih oleh mereka? Sangat mungkin yg paling bodoh.

    Ana punya contoh “kasus nyata” di mushola tempat ana, bagaimana orang-orang bodoh yg menuruti hawa nafsunya bermusyawarah untuk menunjuk Imam sholat, dan hasilnya yg ditunjuk adalah orang yg paling bodoh diantara mereka, yg paling buruk bacaan Al-Qur’annya, dll. Ketika ditanya knp mereka menunjuk orang tsb? Jawaban mereka adalah, soalnya kalau “sama yg lain” habis sholat tidak berdzikir berjamaah.

    Itu adalah salah satu contoh demokrasi skala kecil.

  23. abu thariq says:

    okelah kita semua sepakat bahwa demokrasi adalah harom. sekarang kondisi masyrakat kita belum sepaham dengan kita, nilai-nilai ketauhidan dan keimanan belum tertanam dengan kuat di dada mereka. sehingga ketika al-haq ini kita sampaikan pada mereka yang ada hanyalah kebencian yang timbul dalam sanubari mereka. jadi meneurut saya (koreksi jika keliru) saat ini marilah kita semua bersatu bergerak bersama terlebih dahulu memberikan pemahamna pada saudara-saudara kita. agar mereka mengenal apa itu Aqidah islam. jika semua itu sudah terlaksana, maka dengan sendirinya keasadran bahwa demokrasi itu adalah hal yang bathil akan muncul dalam pemikiran mereka.

    mengubah konsep pemerintahan dalm negara itu berat akhi, jangan kan mengubah negara, mengubah sikap keluarga dan tetangga kita saja tentang aktivitas bid’ah susahnya minta ampun. yang ada kita malah dicela kan oleh tetangga sebagai wahabai lah, aliran keraslah dan masih banyak lagi.. marilah, ana berseru pada saudara ku yang sangat saya cintai, kita berbijak dalam dakwah, tepat dalam berprioritas, maka tegaknya islam itu akan datang dengan sendirinya sebagai hadiah dari Allah Azza wa jalla karena hamba-hambanya telah murni dalam beribadah padanya.

    “jika engkau merasakan kepanansan di tengah tanah lapang yang snagat disukai oleh masyarakat, maka tanamlah pohon di situ dan janagnlah engkau malah menghardik masyarakat yang berada di tengah lapang itu, wah lama donk nunggu pohonnya besar!! itulah kegunaan sabar dalam berdakwah itu, sebagaiman di serukan oleh sekhud islam rahimahullah”

    akhukum fillah abu thariq

  24. Fahrul says:

    Assalamu ‘alikum untuk duniafana sesungguhnya HAMAS telah memecah belah umat Islam bukankah dengan mereka mendirikan partai telah memecahbelah Islam dan membuat umat Islam tak sepaham dgn HAMAS mendirikan partai sendiri sehingga umat Islam di Palestina terpecahbelah

  25. yusef says:

    sebetulnya tidak perlu panjang lebar untuk mengomentari masalah system apapun diluar system islam, pada intinya manusia pada awalnya menjadi baik karena persaksiannya sebagai muslim atau bersyahadah dengan benar dan membenarkan. berangkat dari syahadatain ini realisasinya adalah baro’ah (pemisahan)dengan system jahiliah, penolakan dari aturan atau undang-undang versi manusia. kenapa umat islam mengikuti jejak orang musyrik, kafir, munafiq? ini harus dipertanyakan apakah faham dan diimani apa yang dia iqrarkan, janji dan sumpahnya (syahadat) sebagai muslim atau tidak? belum tiap sholat beca surat alkafirun “Lakum diinukum waliyadin” yang artinya agamamu untuk kamu dan agama kami untuk kami, undang-undangmu untuk kamu dan undang-undang kami untuk kami, syari’at kamu untuk kamu dan syari’at kami untuk kami, hukum kamu untuk kamu dan lain-lain tetapi amaliyahnya mengikuti mereka, kan syariat, hukum, undang-undang islam itu sudah sempurna kenapa cari aturan lain? kan hukum islam itu nikmat mengapa diganti dengan hukum yang mengundang laknat dan adzab?. jadi intinya umat yang mayoritas ini kebanyakan aqidah belum sampai. maka dakwah yang urgen itu syahadatain, bukan yang lainnya.
    klo syahadat ini difahami dan diimani apapun resiko sebagai hamba akan dihadapinya. jadi intinya darimana manusia itu harus mulai berangkat keilmuan agar wujud amaliyah yang benar, ya dari syahadat ini. kapan amal yang lain bisa benar jika syahadatnya cuma hafal bacaannya saja?

Trackbacks / Pingbacks

show trackbacks

Mau Berkomentar?

XHTML: Tag-tag berikut dapat digunakan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Please note: Komentar yang anda masukan barusan sebenarnya belum muncul, komentar akan dimoderasi oleh admin terlebih dahulu.