Bolehkah Dahi Terhalang Peci Ketika Shalat?
Ada yang mengatakan :”Sujud Tidak boleh kepada yang ditanggung badan atau yang segerak dengan badan (mahmul) atau segala sesuatu yang ada ditubuh misalnya sorban yang ada dikepala atau kain yang panjang menutupi tempat sujud. Sah jika diletakkan sapu tangan di tempat sujud, juga sah jika rambut menutup dahi dan tidak sah jika dahi tertutup oleh kopiah atau peci. Dari Ibnu ‘Abbas: “Sesungguhnya Nabi bersabda: ‘Saya diperintahkan bersujud dengan tujuh (anggota badan) dan aku tidak boleh merintanginya dengan rambut atau kain’ ” (HR. Ibnu Hibban)
Kesimpulannya: Karena dahi bukan aurat maka tidak boleh terhalang kain (sejenisnya). Sedangkan lutut termasuk aurat, maka boleh tertutup kain celana, sarung, ghamis, dll.
Mohon penjelasan dari keterangan diatas? Jazakumullah.
Abu Nafilah
Ustadz M. Subhan Khadafi, Lc. menjawab:
Bukanlah karena dahi termasuk aurat atau bukan seperti halnya lutut yang merupakan aurat dan harus tertutup ketika shalat berdasarkan kesepakatan para ulama. Masalah ini yang sesungguhnya adalah:
“Apakah dahi wajib menyentuh tanah atau lantai secara langsung tanpa terhalangi oleh kain yang dipakai oleh orang yang sholat tersebut seperti tertutup peci, surban, atau ‘imamah?”
Adapun bila dahi yang terhalangi alas seperti tikar yang melekat pada lantai atau tanah maka para ulama sepakat akan kebolehannya.
Dengan demikian maka pendapat yang kuat adalah: diutamakan dahi untuk tidak terhalang ketika sujud dengan kain yang dikenakan oleh orang yang sedang shalat tersebut berdasarkan atsar Ibnu Umar yang tidak suka melihat orang yang sujud sedangkan dahinya terhalangi oleh surbannya: “Sungguh Ubadah bin Shamit melepaskan sorbannya ketika hendak melaksanakan shalat“.
An Nakha’i juga berkata: “Sujud dengan menempelkan dahiku lebih aku sukai“. Demikian pula sudah menjadi kebiasaan Nabi -shallallaahu ‘alaihi wasallam- bersujud dengan menempelkan dahinya ke lantai atau tanah sampai diriwayatkan bahwa lumpur yang basah menempel pada dahi beliau –shallallaahu’alaihi wasallam- (HR Bukhari dan Muslim).
Sekalipun demikian jumhur ulama menganggap sah bila seseorang sujud sedangkan dahinya tertutup surban atau peci yang dikenakannya bila dikarenakan sebab tertentu seperti dinginnya atau panasnya lantai. Hal ini karena hadits Anas –rodhiallahu ‘anhu- yang dikeluarkan oleh Imam Al Bukhori dan Imam Muslim:
مَا رَوَى أَنَسٌ ، قَالَ : { كُنَّا نُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَضَعُ أَحَدُنَا طَرَفَ الثَّوْبِ مِنْ شِدَّةِ الْحَرِّ فِي مَكَانِ السُّجُودِ } رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ .
Artinya: “Sungguh kita pernah sholat bersama Nabi –shallallaahu’alaihi wasallam-, maka sebagian diantara kita ada yang menjulurkan ujung pakaian yang dikenakannya sebagai alas sujudnya karena panas yang sangat menyengat“.
Adapun hadits yang dikeluarkan oleh Ibnu Hibban:
« أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةٍ ، لاَ أَكُفُّ شَعَرًا وَلاَ ثَوْبًا »
yang diartikan : “Sesungguhnya Nabi saw bersabda: ‘Saya diperintahkan bersujud dengan tujuh (anggota badan) dan aku tidak boleh merintanginya dengan rambut atau kain’ ” ,
maka terjemahan yang tepat adalah bukan merintangi tapi melipat. Jadi hadits Ibnu Hibban diatas bukanlah dalil yang melarang seseorang menutup dahinya dengan rambut, surban atau peci yang dikenakannya.
—
Penulis: Ustadz M.Subhan Khadafi, Lc
Artikel UstadzKholid.Com
Tidak ada tulisan terkait

Maksudnya melipat dengan rambut atau kain itu seperti apa Ustadz? Syukron
Assalamu’alaikum
ana hendak bertanya,,berkenaan dengan shalat berjama’ah,,
ana tinggal di daerah yang disana ada masjid yang ada kuburannya,,,
dan jika ana sholat disana gmn hkumnya?????sedangkan ana jauh dari masjid-masjid yang tidak ada kburannya…..apakah ana boleh sholat di masjid tsb…. syukran
kirim ke email ana
Assalamu ‘alaikum
Ustadz Kholid saya mau tanya:
Apakah ada dalil yang menunjukkan disunnahkannya untuk menghitamkan dahi?
Assalamu ‘alaikum
Ustadz,ana pernah membaca masalah sujud di atas tikar hanya dibolehkan saat tanah panas,atau menggunakan tikar dg unsur tanah saja dan tak boleh dg lainnya. Nah ana tanyakan bagaimana bersujud di atas kertas koran tak bergambar,karpet,kain sajadah bukan dari kulit binatang atau dari wol,ataupun semacamnya bukan unsur tanah? Apakah sah shalat kita? Mohon penjelasan Ustadz. Jazakallah
assalamu’alaykum
ustadz… ana izin memasukkan blog ustadz di blogroll ana…jazakumuLLahu Khoiron Katsiiro
Zulfikar Hakim says:
June 9 10 at 6:30 am
Maksudnya melipat dengan rambut atau kain itu seperti apa Ustadz? Syukron
FAHRUL SAYS:
MAKSUDNYA ANDA MENGGULUNG PAKAIAN ATAU RAMBUT ANDA MISALNYA LENGAN ATAU CELANA PANJANG ANDA DIGULUNG.
SEMOGA ALLAH MEMBERIKAN KEBERKAHAN DAN KEBAIKAN BERLIMPAH SERTA TANBAHAN ILMU KEPADA ANDA.
ASSALAMU’ALAIKUM
USTADZ MENGENAI HUKUM MENGHITAMKAN DAHI SUDAH SAYA TEMUKAN DI USTADZARIS.COM
Assalamualaikum wbt ya ustaz.
Ana pelajar UIAM Gombak, menuntut ilmu dengan Ustaz Subhan.
Ana mahu memohon bantuan ustaz. Plannya semester ini kami mahu meneruskan kajian Umdatul Ahkam bersama Ustaz Subhan di Universiti Islam Antarabangsa Malaysia.
Ana sudah cuba hubungi nombor telefon Ustaz Subhan di Malaysia, tetapi tidak dapat.
Jadi ana sedikit kerisauan. Harap ustaz dapat membantu, seandainya ustaz dapat menghubungi dan mencari beliau mana tahu Ustaz Subhan ada di indonesia. Jika beliau di Indonesia, ana tidak, risau tetapi jika di Malaysia, dan ana gagal ‘contact’ beliau, ana sedikit risau. Ini kerana dakwah salafiah di Malaysia diuji dengan pelbagai ujian dan fitnah, jadi ana takut perkara yang tidak baik menimpa Ustaz Subhan.
Harap ustaz dapat membantu ana menghubungi ustaz Subhan jika beliau berada di Indonesia. Ini emel saya muslimz87@yahoo.com
Bagaimana dengan akhwat? Biasanya dahinya tertutup jilbabnya/rukuhnya/mukena’nya kalau ia sujud. Sahkah sholatnya?
Assalamu`alaikum
@Sandhi
Jawaban atas pertanyaan anda sudah terjawab dalam artikel di atas yaitu:
Sekalipun demikian jumhur ulama menganggap sah bila seseorang sujud sedangkan dahinya tertutup surban atau peci yang dikenakannya bila dikarenakan sebab tertentu seperti dinginnya atau panasnya lantai. Hal ini karena hadits Anas –rodhiallahu ‘anhu- yang dikeluarkan oleh Imam Al Bukhori dan Imam Muslim:
مَا رَوَى أَنَسٌ ، قَالَ : { كُنَّا نُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَضَعُ أَحَدُنَا طَرَفَ الثَّوْبِ مِنْ شِدَّةِ الْحَرِّ فِي مَكَانِ السُّجُودِ } رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ .
Artinya: “Sungguh kita pernah sholat bersama Nabi –shallallaahu’alaihi wasallam-, maka sebagian diantara kita ada yang menjulurkan ujung pakaian yang dikenakannya sebagai alas sujudnya karena panas yang sangat menyengat“.
asalamu’alaikum ustadz,ana punya pertanyaan,ditafsir ibnu katsir Q.S,ALFATH 29;MENGAPA IBNU UMAR dan ABU DARDA menCELA DAHI yg HITAM BEKAS SUJUD,dan ana pernah tahu dr seorng ustadz katanya “insyaALLAH gak masalah”mana yg benar ,apa sahabat nabi atau ustadz itu?
apakah jawaban itu hanya NAFSUnya saja,?
DAN INI memang menjadi GANJALAN diHATI ANA apalagi banyk ikhwan yg hitam diDAHINYA Ssangat menggangu ana,(malu dikatakan “itu temanmu berlebihan dalam sujud”
jazakumullah katsiiron