Di Negeri Kafir, Bagaimana Shalatnya?
Ustad ana mau tanya, Insya Allah ana ingin safar ke negara kafir (China) yang tidak didirikan shalat fardu di dalamnya.Pertanyaannya:
- Bagaimana ana mengerjakan shalat fardunya? Apakah boleh sendiri?
- Sebagai pengganti shalat jumat apakah ana hanya mengerjakan shalat fardu zhuhur saja?
Syukran
Abu Jiddan
Alamat: Cengkareng, Jakarta Barat
Email: sukur_taxxxx@yahoo.com
Ustadz Musyaffa Ad Dariny, Lc. menjawab:
Pertama: Safar ke negara kafir, hendaknya sebisa mungkin dihindari, karena hukum asalnya tidak dibolehkan kecuali ada alasan yang kuat mendasarinya…
Kedua: Jika safarnya untuk berlibur, tamasya, dan senang-senang, para ulama’ melarangnya. Diantara dalilnya
(a) Sabda Nabi -Shallallahu’alaihi Wasallam- :
??? ???? ?? ?? ???? ???? ??? ???? ????????
“Aku berlepas diri dari setiap muslim yang tinggal di tengah-tengah kaum musyrikin” (HR. Abu Dawud: 2645, At-Tirmidzi:1604, di-shahih-kan oleh Albani dalam Al-Irwa‘:1207)
Beliau juga bersabda:
?? ???? ?????? ? ???? ??? ? ???? ????
“Barangsiapa berkumpul dengan orang musyrik dan tinggal bersamanya, maka ia sama dengannya” (HR. Abu Dawud, dan di-hasan-kan oleh Al Albani di Silsilah Shahihah, 2330, dengan dua jalan yang saling menguatkan).
(b) Karena madharat-nya lebih besar dari pada manfaatnya. Sudah jelas safar ke negara kafir, berpengaruh buruk terhadap agama seseorang, menyebabkannya jatuh pada banyak maksiat, menghamburkan banyak uang, padahal manfaatnya hanya untuk menghibur diri, yang sebenarnya bisa ia dapatkan di selain negara kafir.
(c) Karena adanya kaidah “menghindari mafsadah, lebih didahulukan dari pada mendatangkan maslahat“. Dan menghindarkan agama kita dari pengaruh buruk, lebih didahulukan dari pada mendatangkan rasa senang untuk menghibur diri. Jadi kalau anda ingin safar untuk bertamasya ke luar negeri, pilihlah negara-negara Islam, InsyaAllah di samping kebahagiaan, anda juga dapat tambahan pengetahuan tentang Islam.
Ketiga: Para ulama melarang safar ke negara kafir, kecuali untuk kebutuhan yang sangat mendesak, seperti: (a) Untuk berobat, karena tidak adanya pengobatan yang memadai di negaranya. (b)Untuk bisnis yang mengharuskannya safar ke negara kafir (c) Untuk belajar ilmu yang dibutuhkan kaum muslimin dan tidak ada di negaranya. (d) Untuk berdakwah di jalan Allah.
Keempat: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan: “Safar ke negara kafir tidak diperbolehkan kecuali dengan tiga syarat: (a) Memiliki ilmu agama, hingga bisa menjawab syubhat. (b) Agamanya kuat, hingga tak tergoda dengan syahwat (c) Adanya kebutuhan untuk safar ke negara kafir itu.” (Majmu’ Fatawa Syaikh Al-Utsaimin, 6/131)
Kelima: Jika safar itu harus anda lakukan, maka berusahalah untuk sholat berjama’ah walaupun di penginapan bersama teman anda, karena dalam keadaan genting saja Allah memerintahkan kita shalat berjama’ah (An-Nisa:102), apalagi jika keadaannya aman. Ayat ini juga menjadi dalil wajibnya shalat jama’ah walaupun sedang safar, karena ayat tersebut turun ketika beliau sedang perang dan safar.
Ingat pula sabda Rasulullah -shallallahu’alaihi wasallam- “Sesungguhnya berjama’ah yang paling berat bagi para munafikin adalah Sholat Isya’ dan Shubuh. Andai saja mereka tahu keutamaan yang ada di dalamnya, pasti mereka mendatanginya meski harus merangkak. Sungguh aku telah berniat menyuruh agar sholat didirikan, lalu ku suruh seorang (pengganti) untuk mengimami sholat bersama jama’ah, kemudian aku pergi bersama beberapa orang sambil membawa kayu bakar mendatangi rumah-rumah orang yang tidak mengikuti sholat berjama’ah, kemudian kubakar rumah mereka.” (HR. Bukhari-Muslim).
Hadits ini menunjukkan wajibnya shalat jama’ah, karena seandainya tidak wajib, tentunya Rasul -shallallahu’alaihi wasallam- tidak mengingkari mereka yang meninggalkannya, dan bermaksud membakar rumah mereka. Seandainya sholat berjama’ah itu fardhu kifayah, tentunya sudah cukup diwakili oleh orang yang shalat bersama beliau, dan tak perlu mengingkari yang lainnya.
Karena itu, pendapat yang terkuat, lebih hati-hati dan selamat adalah pendapat yang mengatakan diwajibkannya shalat jama’ah kepada setiap orang (fardhu ‘ain)… pendapat ini dipilih oleh Imam Ahmad, Abu Tsaur, Ishak, Al-Auza’i, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan sejumlah ulama lainnya. Pendapat ini juga dipilih oleh banyak ulama zaman ini, seperti: Syaikh Ibn Baz, Syaikh Al Albany, Syaikh Al-Utsaimin.
Keenam: Musafir tidak berkewajiban mendirikan sholat jum’at sendiri, karena Rasulullah -Shallallahu’alaihi Wasallam- tidak pernah melakukannya dalam safar, begitu pula para Khulafa’ur Rasyidin, dan para sahabat lainnya. Kecuali jika ada shalat jum’at di dekat tempat ia menginap ketika safar.
Ketujuh: Shalatnya musafir lebih afdhal-nya di-qashar, jadi semua shalatnya menjadi dua rakaat kecuali maghrib (tetap tiga rakaat). Dan lebih afdhal dilakukan pada waktunya masing-masing, tetapi boleh juga menjamaknya, yakni mengumpulkan shalat Dhuhur dan Ashar di satu waktu (bisa di waktu Dhuhur, bisa juga di waktu Ashar), dan mengumpulkan shalat Maghrib dan Isya’ (bisa di waktu Maghrib, bisa juga di waktu Isya’)
Demikian jawaban kami, semoga bermanfaat… Wassalam…
Penulis: Ustadz Musyaffa Ad Dariny, Lc.
Artikel UstadzKholid.Com
Tidak ada tulisan terkait

Ajaran Islam, kok serem banget yah. Penuh kecurigaan, penuh nada permusuhan dan menakutkan. Orang-orang non muslim semuanya dipandang seperti iblis yang harus dimusnahkan atau disamakan dengan binatang yang menjijikkan hingga tidak boleh didekati, malah lebih baik dibasmi dan dibumihanguskan.
Inikah Islam yang saat ini menjadi agama ku? Kalau aku tidak tahu. Yang ada dalam benak ku Islam itu ajaran yang mengusung etika dan moralitas yang mulia. Pembawa kedamaian dan mengajarkan baik sangka.
Mas Indra,
banggakah anda menjadi seorang muslim? Tentu bangga bukan. Ya, kita bersyukur kepada Allah telah diberi petunjuk untuk memeluk agama yang haq ini. Dan ini adalah nikmat yang besar. Oleh karena itu, tentu kita tidak ingin kehilangan nikmat ini bukan? Oleh karena itulah para ulama melarang kita untuk pergi ke negeri non-muslim tanpa keperluan mendesak. Karena resikonya, kita sulit memantapkan agama kita disana. Mau shalat, masjid tak ada, mau puasa, semua orang makan, mau menghindari persentuhan antar lawan jenis, sulit, dan aturan agama kita yang lain. Dan resiko yang lebih parah lagi, kita terbawa mengikuti ajaran agama lain sehingga kita melepas keIslaman kita. Mengerikan bukan?
Islam itu indah, Islam itu memang menekankan nilai-nilai budi pekerti yang luhr, akhlak yang baik, saling membantu, namun tahukah anda apa inti ajaran Islam sesungguhnya? Yaitu meyakini bahwa penyembahan hanya kepada satu sesembahan saja, dan kepada-Nya lah cinta kita yang tertinggi kita persembahkan.
Maka, konsekuensinya, penyembahan kepada banyak sesembahan adalah sesuatu yang paling bertentangan dengan konsep ini, jika cinta sejati kepada-Nya, maka tentu kita benci terhadap penyembahan kepada banyak sesembahan.
Kemudian perlu diketahui, kebencian terhadap penyembahan kepada sesembahan lain ini tidak berarti kita harus membunuhi setiap orang kafir yang kita temui di jalan. Tidak demikian. Membenci itu harus, tapi soal memerangi itu terdapat aturan khusus. Intinya membenci kekafiran itu harus, tapi melukai orang sembarangan, mengebom di sana-sini, merusak, dll tidak dibenarkan dalam Islam.
Nah, kami harap mas Indra bersemangat untuk mengenal Islam lebih dalam lagi agar tidak salah dalam menilai dan tidak terbawa pengaruh media dan pengaruh orientalis yang membuat stigma negatif tentang Islam.
Assalamu’alaikum
benar sekali apabila kita safar kenegeri kafir akan menjauhkan kita dari agama islam, karena terikut2 orang2 sekitar kita. Bagi yang sudah terlanjur di negeri kafir sebaiknya banyak berkumpul dengan org muslim. Usahakan mencari informasi lengkap makanan yang halal dimakan. Jangan sampai termakan makanan haram, Insya Allah daging halal bisa didapatkan di komunitas muslim atau dekat mesjid. Tambahan menurut pengalaman ana di cina Insya Allah pasti ada Mesjid, ana sempat di salah satu propinsi di cina disana mempunyai tiga mesjid yang sangat besar dan mempunyai komunitas muslim yang sangat besar. Makanan Halal dan restoran halal banyak insya Allah.
Assalamu’alaikum,
Saya setuju dengan pernyataan mas Abu Farhan diatas. Saya tinggal di US. Alhamdulillah, saya merasa justru tinggal ditengah2 masy. non-muslim membuat saya lebih dekat dengan-Nya. Dan menurut saya pribadi, masyarakat muslim yang tinggal di neg. non Muslim yang saya jumpai justru banyak yang lebih humble, sederhana, lebih mampu menghargai sesama meski berpendidikan sangat tinggi dan mempunyai karakter-karakter selayaknya seorang muslim yang pantas dicontoh.
Memang banyak juga yang tersesat jalannya. Tapi itu toh tidak hanya masy. yang tinggal di neg. non-muslim. Justru tinggal di neg. seperti Indonesia atau Mesir (saya pernah menetap disana), saya merasa takut dan kecewa karena gaya hidup dan cara berfikir/ mentalitas yang jauh dari kepantasan sebagai seorg kalifa Allah di muka bumi ini.
Buat yang tinggal di neg. non-muslim.. berserahlah hanya kepada-Nya. Fakta bahwa kita tinggal di neg. non muslim juga merupakan hal yang hanya terjadi atas ijin dari-Nya
Allah knows the best.
Salaam,
pokonya islam agama rahmatullah deh. selamat dunia dan akherat deh. top hbs deh….udeh deh….