Post Type

Status Anak Zina

Tidak dapat dipungkiri lagi musibah perzinaan sudah mulai merebak di negara ini. Kata zina mulai disamarkan dengan istilah yang samar dan agak menarik, WIL (Wanita Idaman Lain), PIL (Pria Idaman Lain), PSK (Penjaja Seks Komersial), Gadis Pendamping dan yang sejenisnya yang mengesankan permasalahan ini mulai dianggap ringan oleh sebagian kaum muslimin di negeri ini.

Ditambah lagi dengan ditinggalkannya syariat islam secara umum dan khususnya hukuman bagi para pezina. Sehingga hal-hal ini mendukung tersebarnya penyakit ini dilingkungan kaum muslimin. Padahal semaraknya perzinaan membuahkan banyak permasalahan. Tidak hanya pada kedua pelakunya namun juga pada buah hasil perbuatan tersebut. Gelaran anak zina sudah cukup membuat sedih anak tersebut, apalagi kemudian muncul masalah lainnya, seperti nasab, warisan, perwalian dan masalah-masalah sosial lainnya yang tidak mungkin lepas darinya.

Realita seperti ini tentunya tidak lepas dari sorotan syariat Islam yang sempurna dan cocok untuk semua zaman. Tinggal kita melihat kembali bagaimana fikih Islam memandang status anak zina dalam keluarganya. Hal ini menjadi lebih penting dan mendesak dengan banyaknya realita status mereka yang masih banyak dipertanyakan masyarakat. Tentunya ini semua membutuhkan penjelasan fikih islam walaupun dalam bentuk yang ringkas, agar masyarakat menyadari implikasi buruk zina dan tidak salah dalam menyikapi anak-anak yang lahir dari perzinaan.

Hal ini semakin penting untuk diketahui dengan adanya sikap salah dari sebagian masyarakat dalam menghukumi mereka. Apalagi dengan adanya sebagian kaum lelaki yang mengingkari janin yang dikandung istrinya atau anak yang lahir dari istrinya itu adalah hasil hubungan dengannya. Atau juga sengaja menikahi wanita hamil di luar nikah, kemudian untuk menutupi aib keluarga dan menasabkan anak tersebut sebagai anaknya.

Nasab anak zina
Anak zina pada asalnya dinasabkan kepada ibunya sebagaimana anak mulaanah dinasabkan kepada ibunya. Sebab keduanya sama-sama terputus nasabnya dari sisi bapaknya [lihat Al Mughni 9/123]. Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam menyatakan tentang anak zina:

??????? ??????? ???? ???????

Artinya: “Untuk keluarga ibunya yang masih ada” [HR. Abu Dawud, kitab Ath-Thalaq, Bab Fi Iddia` Walad Az-Zina no. 2268 dan dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shohih Sunan Abu Dawud no. 1983]

Juga menasabkan anak dari Mulaanah kepada ibunya, sebagaimana dijelaskan Ibnu Umar Radhiallahu'anhuma dalam penuturannya:

??????? ??????? ???? ???????
????? ?????????? ??? ???? ?????? ?????? ????????????? ? ?????????? ???? ????????? ? ????????? ??????????? ? ?????????? ????????? ?????????????

Artinya: “Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam mengadakan mulaanah antara seorang dengan istrinya. Lalu lelaki tersebut mengingkari anaknya tersebut dan Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam memisahkan keduanya dan menasabkan anak tersebut kepada ibunya.” [HR. Bukhari, Kitab Ath-Thalaq, Bab Yalhaqu al-Walad Bi al-Mar`ah lihat Fathu al Baari 9/460]

Inilah salah satu konsekuensi mulaanah. Ibnu al-Qayyim ketika menjelaskan konsekuensi mulaanah menyatakan: “Hukum yang ke enam adalah terputusnya nasab anak dari sisi sang bapak, karena Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam menetapkan untuk tidak dipanggil anak tersebut dengan nasab bapak, inilah yang benar dan ia adalah pendapat mayoritas ulama.” [Zaad al-Maad 5/357]

Syaikh Musthafa AlAdawi Hafizhahullah menyatakan: “Inilah pendapat mayoritas ulama bahwa nasab anak tersebut terputus dari sisi bapaknya karena Rasululloh Shallallahu'alaihi Wasallam menetapkan tidak dinasabkan kepada bapaknya. Inilah pendapat yang benar.” [Jaami Ahkaam an-Nisaa` 4/232]

Sedangkan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah menyatakan: “Anak zina diciptakan dari sperma tanpa pernikahan, sehingga tidak dinasabkan kepada seorangpun baik kepada lelaki yang menzinahinya atau kepada suami wanita tersebut apabila ia bersuami, karena ia tidak memiliki bapak yang syari.” [Syarhu al-Mumti, Tahqiq Kholid al-Musyaiqih, 4/255]

Nasab anak hasil selingkuh atau perzinahan, apabila dilihat kepada status ibunya, maka dapat dikategorikan menjadi dua :

1. Berstatus istri seorang suami.
Seorang wanita bersuami yang terbukti selingkuh kemudian melahirkan anaknya, maka tidak lepas dari dua keadaan:

  1. Sang suami tidak mengingkari anak tersebut dan mengakuinya sebagai anaknya.
    Apabila terlahir anak dari seorang wanita resmi bersuami dan sang suami tidak mengingkari anak tersebut, maka anak tersebut adalah anaknya, walaupun ada orang yang mengklaim itu adalah hasil selingkuh dengannya, dasarnya adalah sabda Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam dalam hadits Aisyah Radhiallahu'anha :

    ???????? ??????????? ? ????????????? ?????????

    Artinya: “Anak yang lahir adalah milik pemilik kasur (suami) dan pezinanya dihukum” [HR Al-Bukhari kitab Al-Faraaid, Bab Man iddaa Akhanat au Ibna Akhi, lihat Fathul Bari 12/52 ]

    Yang dimaksud dengan kata al-Firaasy disini adalah lelaki yang memiliki istri atau budak wanita yang sudah pernah digaulinya. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah Radhiallahu'anhu yang menyatakan bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam pernah bersabda:

    ????????? ????????? ??????????

    Artinya: “Anak yang lahir adalah milik sang pemilik kasur (suami)” [HR al-Bukhori dalam itab al-Faraaid, Bab al-Walad Lil Firaasy Hurratan kaanat au Amatan, lihat Fathul Baari, 12/32 ]

    Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sadi Rahimahullah menyatakan: “Kapan saja seorang wanita telah menjadi firaasy baik sebagai istri atau budak wanita, lalu lahirlah darinya seorang anak, maka anak itu milik pemilik firaasy” [al-Fatawa as-Sadiyah hal. 552]. Beliaupun menambahkan: “Dengan Firasy ini maka tidak dianggap keserupaan fisik atau pengakuan seorang dan tidak juga yang lainnya” [al-Fatawa as-Sadiyah hal. 553].

  2. Sang suami mengingkarinya
    Apabila sang suami mengingkari anak tersebut, maka sang wanita (sang istri) berada dalam satu dari dua keadaan:

    • Mengakui kalau itu memang hasil selingkuh atau terbukti dengan persaksian yang sesuai syariat, maka dihukum dengan rajam dan anaknya adalah anak zina. Dengan demikian maka nasab anak tersebut dinasabkan kepada ibunya.
    • Wanita itu mengingkari anak tersebut hasil selingkuh, maka pasangan suami istri itu saling melaknat (mulaanah) lalu dipisahkan dan digagalkan ikatan pernikahan keduanya selama-lamanya. Anak tersebut menjadi anak mulaanah bukan anak zina. Namun demikian tetap dinasabkan kepada ibunya.

2. Tidak menjadi istri seseorang.
Apabila wanita tersebut tidak memiliki suami, baik janda atau belum pernah menikah lalu melahirkan anak, maka anak tersebut memiliki dua keadaan:

  • Bila tidak ada seorangpun yang menzinainya yang meminta anak tersebut dinasabkan kepadanya, maka hukumnya tidak dinasabkan kepada lelaki dan dinasabkan kepada ibunya.
  • Bila ada yang mengaku menzinai wanita tersebut dan mengakui anak tersebut adalah anaknya, maka para ulama berbeda pendapat dalam hal ini dalam dua pendapat:

Pendapat pertama menyatakan Anak tersebut tidak dinasabkan kepadanya.
Inilah pendapat madzhab al-`aimah al-arbaah (imam empat madzhab) [Lihat Ikhtiyaraat Ibnu Taimiyah, Ahmad al-Muufi 2/828] dan pendapat Ibnu Hazm dari madzhab Zhahiriyah [Lihat al-Muhalla 10/323]. Pendapat ini dirajihkan Ibnu Qudamah dalam al-Mughni.

Dasar pendapat ini adalah:

  1. Sabda Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam:

    ???????? ??????????? ? ????????????? ?????????

    Artinya: “Anak yang lahir adalah milik pemilik kasur (suami) dan pezinanya dihukum.” [HR Bukhari]
    Dalam hadits yang mulia ini Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam tidak menjadikan anak tersebut dinasabkan kepada selain suami ibunya. Menasabkan anak zina tersebut kepada lelaki pezina menyelisihi tuntutan hadits ini.

  2. Hadits Abdullah bin Amru yang berbunyi:

    ????? ?????? ??????? ??? ???????? ????? ????? ???????? ??????? ????????? ????????? ???? ??????????????? ??????? ???????? ????? ?????? ????? ???????? ????????? ??? ???????? ??? ???????????? ?????? ?????? ??????????????? ????????? ??????????? ????????????? ?????????.

    Artinya: “Seorang berdiri seraya berkata: 'Wahai Rasulullah! Sungguh si Fulan ini adalah anak saya, saya dulu di zaman Jahiliyah menzinahi ibunya'. Maka Rasululloh Shallallahu'alaihi Wasallam menjawab: 'Tidak ada pengakuan anak dalam islam, telah hilang urusan jahiliyah. Anak adalah milik suami wanita (al-Firaasy) dan pezina dihukum'.”[HR. Abu Dawud, Kitab Ath-Thalaq, Bab Al-Walad Lil Firasy no. 2274 dan dishahihkan Al-Albani dalam Shahih sunan Abu Dawud dan Shahih al-jaami no. 2493]

  3. Sabda Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam :

    ??? ?????????? ??? ??????????? ???? ?????? ??? ??????????????? ?????? ?????? ???????????? ?????? ??????? ??????? ???? ?????? ???????? ????? ?????? ????? ???????

    Artinya: “Tidak ada perzinaan dalam islam, siapa yang berzina di zaman jahiliyah maka dinasabkan kepada kerabat ahli warisnya (Ashobah) dan siapa yang mengklaim anak tanpa bukti, maka tidak mewarisi dan tidak mewariskan.” [HR. Abu Dawud no. 2264 dan di-dhoif-kan Al-Albani dalam Dhoif al-Jaami dan Syuaib al-Arna`uth dalam tahqiq Zaad al-Maad 5/382]

  4. Hadits Abdullah bin Amru Radhiallahu'anhu yang berbunyi :

    ????? ?????????? -??? ???? ???? ????- ????? ????? ????? ???????????? ??????????? ?????? ??????? ??????? ??????? ???? ????????? ?????????? ??????? ????? ????? ???? ????? ???? ?????? ??????????? ?????? ?????????? ?????? ?????? ?????? ????????????? ???????? ???? ?????? ?????? ???????? ???? ??????????? ?????? ????? ???????? ???? ???????? ???? ???????? ?????? ????????? ????? ???????? ????? ????? ??????? ??????? ??????? ???? ?????????? ?????? ????? ???? ?????? ???? ??????????? ???? ???? ??????? ??????? ????? ????????? ??? ???????? ???? ????? ?????? ?????? ????? ??????? ??????? ???? ???? ????????? ?????? ?????? ???????? ???? ??????? ????? ???? ??????.

    Artinya: “Sungguh Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam ingin memutuskan bahwa setiap anak yang dinasabkan setelah (meninggal) bapak yang dinasabkan kepadanya tersebut diakui oleh ahli warisnya. Lalu beliau memutuskan bahwa semua anak yang lahir dari budak yang dimilikinya (sang majikan) pada waktu digauli (hubungan suami istri), maka dinasabkan kepada yang meminta

    penasabannya dan anak tersebut tidak memiliki hak sedikitpun dari warisan dibagikan sebelum (dinasabkan) padanya dan warisan yang belum dibagikan maka ia mendapatkan bagiannya. Tidak dinasabkan (kepada sang bapak) apabila bapak yang dinasabkan tersebut mengingkarinya. Apabila dari budak yang tidak dimilikinya atau dari wanita merdeka yang dizinainya, maka anak tersebut tidak dinasabkan kepadanya dan tidak mewarisi walaupun orang yang dinasabkan tersebut yang mengklaimnya, karena ia anak zina baik dari wanita merdeka atau budak sahaya.” [HR Abu daud no. 2265 dan 2266 dan dihasankan al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud dan Syuaib al-Arna`uth dalam tahqiq Zaad al-Maad 5/383]
    Ibnu al-Qayyim menyatakan: “Hadits ini membantah pendapat Ishaaq dan yang sepakat dengannya.” [Zaad al-Maad 5/384]

  5. Sabda Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam :

    ???????? ?????? ??????? ????????? ???? ?????? ??????????? ?????? ????? ? ??? ?????? ????? ????????

    Artinya: “Siapa saja yang menzinahi wanita merdeka atau budak sahaya maka anaknya adalah anak zina, tidak mewarisi dan mewariskan.” [HR At-Tirmidzi, kitab al-Fara`idh 4/428 dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih Sunan At-tirmidzi dan Shohih al-Jaami no. 2723]

  6. Ibnu Qudamah Rahimahullah menyampaikan alasannya bahwa anak zina tidak dinasabkan kepada bapaknya apabila tidak diminta penasabannya, sehingga menunjukkan anak itu tidak dianggap anak secara syarI sehingga tidak dapat dinasabkan kepadanya sama sekali. [Al-Mughni 7/129-130 dinukil dari Ikhtiyaraat Ibnu Taimiyah 2/828]

Pendapat kedua menyatakan anak tersebut dinasabkan kepada pezina apabila ia meminta penasabannya. Inilah pendapat Ishaaq bin Rahawaih, Urwah bin az-Zubeir, Sulaiman bin Yasaar dan Syeikh al-Islam Ibnu Taimiyah.

Ibnu Taimiyah menyatakan: “Ada dua pendapat ulama dalam masalah pezina meminta anak zinanya dinasabkan kepadanya apabila wanita yang dizinahi tersebut tidaklah bersuami. Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda:

???????? ??????????? ? ????????????? ?????????

Artinya: “Anak yang lahir adalah milik pemilik kasur (suami) dan pezinanya dihukum.

Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam menjadikan anak tersebut miliki suami (al-Firaasy) tidak kepada pezina. Apabila wanita itu tidak bersuami (al-Firaasy) maka tidak masuk dalam hadits ini.” [Majmu Fatawa 32/112-113]

Ibnu Taimiyah berargumen dengan perbuatan Khalifah Umar bin Al-Khathab sebagaimana diriwayatkan imam Malik dalam al-Muwaththa dengan lafadz:

????? ?????? ???? ??????????? ????? ???????? ????????? ??????????????? ?????? ??????????? ??? ??????????? .

Artinya: “Umar bin al-Khaththab Radhiallahu'anhu dahulu menasabkan anak-anak jahiliyah kepada yang mengakuinya (sebagai anak) dalam Islam.” [Al-Muwaththa 2/740]

Demikian juga berargumen dengan qiyas (analogi), karena bapak adalah salah satu pasangan berzina tersebut. Apabila dinasabkan kepada ibunya dan mewarisinya serta adanya nasab antara anak tersebut dengan kerabat ibunya padahal ia berzina dengan lelaki (bapaknya) tersebut. Anak itu ada dari air kedua pasangan tersebut dan berserikat padanya dan keduanya sepakat itu adalah anaknya, lalu apa yang mencegah dinasabkan anak tersebut kepada bapaknya, apabila selainnya tidak mengakuinya? Ini adalah qiyas murni [Zaad al-Maad 5/381].

Yang rajih, Wallahu Alam, adalah pendapat jumhur dengan shahihnya dalil kedua dan keempat yang merupakan dalil yang jelas menguatkan pendapat jumhur.

Ibnu al-Qayyim setelah membahas perbedaan pendapat dalam masalah ini dan menyampaikan hadits keempat dari dalil pendapat pertama, menyatakan: “Apabila hadits ini shohih maka wajib berpendapat dengan isi kandungannya dan mengambilnya. Apabila tidak (shahih) maka pendapat (yang rojih) adalah pendapat Ishaaq dan yang bersamanya.” [Zaad al-Maad 5/381]

Anak Zina dan Warisan
Hukum dalam warisan anak zina dalam semua keadaannya sama dengan hukum waris anak mulaanah karena terputusnya nasab mereka dari sang bapak [Lihat al-Mughni 9/122]. Masalah waris mewaris bagi anak zina adalah bagian dari konsekwensi nasabnya.

1. Anak zina dengan lelaki yang menzinahi ibunya.
Hubungan waris mewaris antara anak zina dengan bapaknya ada dengan adanya sebab pewarisan (Sabaab al-Irts) yaitu Nasab. Ketika anak zina tidak dinasabkan secara syarI kepada lelaki tersebut maka tidak ada waris mewarisi diantara keduannya. Dengan demikian maka anak zina tersebut tidak mewarisi dari orang tersebut dan kerabatnya dan juga lelaki tersebut tidak mewarisi harta dari anak zina tersebut.

2. Anak zina dengan ibunya
Sedangkan dengan ibunya maka terjadi saling mewarisi dan anak zina tersebut sama seperti anak-anak ibunya yang lainnya, karena ia adalah anaknya sehingga masuk dalam keumuman firman Allah Ta'ala :

?????????? ??????? ??? ???????????? ?????????? ?????? ????? ????????????? ?????? ????? ??????? ?????? ??????????? ????????? ??????? ??? ?????? ?????? ??????? ????????? ??????? ????????? ???????????? ??????? ??????? ????????? ????????? ?????? ?????? ???? ????? ???? ?????? ?????? ???? ?????? ???? ?????? ?????????? ????????? ????????? ????????? ?????? ????? ???? ???????? ????????? ????????? ???? ?????? ????????? ?????? ????? ???? ?????? ?????????? ??????????????? ?? ????????? ????????? ???????? ?????? ??????? ????????? ???? ??????? ????? ??????? ????? ???????? ????????

Artinya: “Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, Maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, Maka ia memperoleh separo harta. dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), Maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, Maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [QS. An-Nisaa` 4: 11]

Sebab anak tersebut dinasabkan kepada ibunya dan nasab adalah sebab pewarisan. Demikian juga anak zina tersebut statusnya dalam hal ini sama dengan anak mulaanah yang dijelaskan dalam hadits Sahl bin Saad as-Saidi yang menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu'alahi Wasallam memutuskan perkara mulaanah, Sahl bin Saad Radhiallahu'anhu berkata:

????????? ??????? ???? ????????? ?????? ?????????????????? ????????? ???????? ? ?????????? ????????? ??????? ???????? ??????? ????????? ? ????? ?????? ?????????? ??? ??????????? ???? ????????? ? ???????? ?????? ??? ?????? ??????? ?????

Artinya: “Maka menjadi sunnah memisahkan dua orang yang melakukan mulaanah. Wanitanya tersebut dalam keadaan hamil, lalu suaminya mengingkari kehamilannya dan anaknya dinasabkan kepada wanita tersebut, kemudian berlakulah sunnah dalam warisan bahwa anak tersebut mewarisi harta wanita tersebut dan wanita tersebut mewaris harta anaknya tersebut sesuai dengan ketetapan Allah” [HR Al-Bukhari, Kitab At-Tafsir no. 4746 lihat Fathul Baari 8/448 dan Muslim dalam kitab al-Lian, lihat Syarh An-Nawawi 10/123 ]

Ibnu Qudamah Rahimahullah berkata: “Seorang lelaki apabila melakukan mulaanah terhadap istrinya dan menolak anaknya dan hakim telah memisahkan antara keduanya, maka nak tersebut lepas darinya dan terputuslah hak waris mewaris dari sisi lelaki yang melakukan mulaanah tersebut, sehingga ia tidak mewarisinya dan tidak juga seorangpun ahli waris (Ashobah)nya. Ibunya dan dzawu al-Furudh darinya yang mewarisinya saja. Juga waris mewaris antara pasangan suami istri tersebut putus dan kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat dalam hal ini.” [Al-Mughni 9/114]

Mahromkah anak zina terhadap keluarga lelaki yang menzinai ibunya?
Telah lalu dijelaskan menurut pendapat yang rajih adalah anak zina terputus nasab dan hak warisnya dari lelaki yang menzinai ibunya (bapaknya). Dengan dasar ini maka anak zina tersebut bukanlah mahrom bagi keluarga lelaki tersebut, sebab status mahrom didapatkan dengan tiga sebab yaitu nasab, persusuan dan perkawinan dan ketiga sebab ini tidak ada pada anak zina. Oleh karena itu ia bukanlah mahram bagi lelaki tersebut, saudara dan anak-anak lelaki tersebut yang dilahirkan dari pernikahan yang sah. Konsekuensinya seluruh hukum-hukum yang berhubungan dengan kebolehan melihat, khalwat dan safar dilarang diantara mereka.
Melihat hal ini, mungkin akan muncul pertanyaan:

Bolehkah lelaki tersebut menikahinya?
Permasalahan ini pernah ditanyakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan beliau jawab dengan penjelasan sebagai berikut: “Tidak boleh ia menikahinya menurut mayoritas ulama besar muslimin hingga imam Ahmad mengingkari adanya perbedaan pendapat dalam hal ini dikalangan salaf. Beliau menyatakan: 'Siapa yang berbuat demikian maka dihukum bunuh'. Disampaikan kepada beliau dari Imam Maalik bahwa beliau membolehkannya, maka imam Ahmad mendustakan penukilan dari imam Maalik tersebut. Pengharaman hal ini adalah pendapat Abu Hanifah dan pengikutnya, Ahmad dan pengikutnya, Maalik dan mayoritas pengikutnya dan juga pendapat banyak dari pengikut madzhab Syafii. beliau juga mengingkari berita imam SyafiI berpendapat yang berbeda dengan ini. Para ulama berkata: 'SyafiI hanya menyatakan tentang anak perempuan dari susuan bukan anak zna hasil perzinahannya'.” [Majmu Fatawa 32/143]

Ibnu Taimiyah juga ditanya tentang seorang yang menzinahi seorang wanita, lalu lelaki tersebut meninggal dunia. Apakah anak lelaki tersebut diperbolehkan menikahi wanita tersebut?

Beliau menjawab: “Ini dilarang dalam madzhab Abu Hanifah, Ahmad dan salah satu dari dua pendapat dalam madzhab Maalik dan dalam pendapat kedua beliau membolehkan. Dan ini juga madzhab Syafii.” [Majmu Fatawa 32/143]

Dengan demikian jelaslah status anak zina dalam nasab, warisan dan mahrom. Mudah-mudahan penjelasan ringkas ini bermanfaat bagi kita semua.

Wabillahit Taufiq.

Penulis: Kholid Syamhudi, Lc.

Artikel UstadzKholid.Com

zp8497586rq

About The Author

28 comments

  1. Assalamu’alaikum.
    Alhamdulillah ad tambahan ilmu bg saya.Namun saya punya prtanyaan,bagaimana jika 2 orang brzina sampai hamil, kmudian si lelaki menikahi perempuan yg dzinahi tersebut sblm si janin lahir?Apakah anak ini tetap dhukumi sbagai anak zina?Dan apakah benar anak zina itu cenderung untuk berbuat jahat/bermaksiat sepanjang hidupnya?

  2. Assalamu’alaikum, Ustadz yang memberinafkah anak zina ini menjadi tanggung jawab siapa..? Sah/tdk pernikahan orang tuanya, seperti yg ditanyakan akhi ibnu mungkani..?
    Wassalamu’alaikum.

  3. ass…mas gmn seandainya anak yang terlahir zina itu perempuan.pada saat nikah,si calon pengantin prianya pada saat mengucapkan ijab kobul.misal saya terima nikahnya siti binti wati(nama ibunya) atau siti bin andre (nama ayah yang dulu telah menzinahi ibunya/wati,tetapi mereka tlah menikah sebelum wati terlahir kedunia) dengan maskawin emas 2 gram.di bayar tunai….makasih klo masnya mau memberi jawaban atas pertanyaan ini..wass

  4. Mahromkah anak zina terhadap keluarga lelaki yang menzinai ibunya?
    Telah lalu dijelaskan menurut pendapat yang rajih adalah anak zina terputus nasab dan hak warisnya dari lelaki yang menzinai ibunya (bapaknya). Dengan dasar ini maka anak zina tersebut bukanlah mahrom bagi keluarga lelaki tersebut, sebab status mahrom didapatkan dengan tiga sebab yaitu nasab, persusuan dan perkawinan dan ketiga sebab ini tidak ada pada anak zina. Oleh karena itu ia bukanlah mahram bagi lelaki tersebut, saudara dan anak-anak lelaki tersebut yang dilahirkan dari pernikahan yang sah. Konsekuensinya seluruh hukum-hukum yang berhubungan dengan kebolehan melihat, khalwat dan safar dilarang diantara mereka.

    Bismillah,
    Assalamu’alaikum

    Ustadz ana masih belum jelas pada kalimat di atas mohon penjelasannya yang lebih mudah ana fahami :
    1. Laki2 berzina dengan wanita kemudian hamil 3 bulan misalnya, kemudian di nikahkan sama orang tuanya.
    Pertanyaan : Pernikahannya sah apa tidak ?

    2. Kemidian anak tersebut lahir ( wanita misalnya )
    Pertanyaan : anak tersebut mahrom tidak sama bapaknya ( yg menzinai ibunya )?
    >> ana pernah dengar bahwa anak susuan ( wanita ) mahrom bagi suami dari ibu susu ( ini benar tidak? )
    ” sebab status mahrom didapatkan dengan tiga sebab yaitu nasab, persusuan dan perkawinan dan ketiga sebab ini tidak ada pada anak zina ”
    Pertanyaan : Ustad bukankah anak zina tersebut di susui oleh ibunya yang menjadikan mahrom bagi ibunya ( jika anak tsb laki2 ) jika anak tsb wanita mahrom apa tidak dengan bapaknya ( yang menzinai ibunya dan telah bertobat dan telah menikai ibunya karena dulu belum mengerti ilmu yang syar’i )
    Atas jawaban dari Ustadz ana ucapkan jazzakumulloh khoiron

    Wassalamu’alaikum

    Mijahid

  5. assalamu’alaikum

    bagaimana dengan jawaban untuk pertanyaan akh ghony? siapa wali dari si anak zina perempuan ketika menikah?

  6. Afwan numpang titipan p’tanyaan.
    Teman ana sdh 4 th psh rmh dgn suaminya,tp tetap mdpt nafkah (uang) u/anak mrk. Pd saat ribut2 dl suami bkata : klo kel kamu spe tau mslh ini,lbh baik kita pisah. Pertanyaan ana :
    1. Apakah kalimat spt itu trmsk talak? Krn akhirnya smua kel tau.
    2. Jika mau rujuk apa wajib nikah lg?
    3. Apakah hukumnya jk nikah dipimpin ahlul hizbiyah (HT/IM/JT)?
    Jazakumullah khair. Afwan jk tdk b’kenan memuat, ana mohon jwbn via email krn perjanjian acara rujuk insya Allah stlh lebaran.

  7. assalamualaikum ustad

    saya mau nanya nih,bagaimana hukumnya anak jinah jadi wali nikah???
    berikut dalilnya yah..
    makasih sebelumnya…

  8. ass.sy pny saudara.saudara saya hamil diluar nikah. kemudian dia menikah sah dengan bapak dari jabang bayi ini. sepengetahuan saya, dia harus dirujuk lagi meskipun dia sudah menikah sah.apakah benar begitu ustads?

    dan satu lagi,suami saya pernah mengucapkan “y sudah nanti kalau saya pulang,saya cerai u”.suami saya kerja diluar pulau.apa kita perlu rujuk lagi??dan bagaimana caranya?

    jawab via email saja ustad

    mohon bantuannya.trima kasih banyak.wasalam.

  9. 6 bulan saya menikah dg wanita yg mengaku telah di cerai,sekarang kebohongan si wanita terbongkar ternyata dia masih bersuami.wanita yg sya nikahi sekarang sdg mengandung anak sya,bagaimana status nikah saya dan bagaimana status anak yg di kandung.mohon penjelasannya.wass

  10. Assalamualaikum wr.wb.

    Pak Ustadz, kalau anak saya mungkin bukan benih sari saya. Sesuai dengan istri selingkuh harus di cerai, karena ini sudah terjadi berulangkali saya berencana menceraikan istri saya. Tetapi saya ingin tes DNA secara diam2 dengan anak saya.
    Pertanyaanya, kalau anak saya terbukti bukan dari benih saya dan kami bercerai, apakah saya masih berkewajiban menafkahi anak saya.
    Pak Ustadz, tolong jawab pertanyan saya yang sedang bingung.
    Wassalamu alaikum wr.wb.

  11. ada laki2 menikahi wanita yg dihamili,lalu melahirkan.jika nafkah anak zina tergantung pd ibunya,sedang si laki2 melarang wanita tsb mencari nafkah lalu bgmana sianak ini makan?

  12. seorang pencuri telah memakan brg curian tsb,lalu dia meminta keikhlasan empunya barang,lalu dia ikhlas apakah masih haram daging yang tumbuh dari barang curian tsb?apakah ini bs di qiyaskan dengan anak zina?

  13. pak ustad apakah dosa seorang laki2 yang telah berzina dengan wanita yg tlh bersuami dapat diampuni dan apakah diwajibkan bagi laki2 dan wanita tsb untuk jujur dan berterus terang kepada suami si wanita bahwa ia pernah berzina dg istrinya mengingat baik pria dan wanita yng berzina hanya sekali melakukan zina dan telah sangat menyesal serta bertaubat dengan sungguh2 mohon jawabannya

  14. Assalammualaikkum w.w. ,Pa Ustaz..
    Pertanyaan dari saya:- Bolehkah seorang Bapa, meriba anaknya sewaktu pernikahan atau Ijabkabul dijalankan pada ketika itu..,yang dimana anak itu sendiri adalah hasil hubungan gelap dari kedua2 pasangan (ibubapa yang sebenar). dan di lahirkan di luar pernikahan. Lalu ia bapanya ingin bertanggung jawab atas perbuatan dan kesalahannya dan ingin menangung segala nafkah keluarganya. Apakah di perbolehkan sewaktu pernikahan berjalan,bapanya meriba disisinya .Ingin kepastian..Terimakasih.Assalammualaikkum w.w.

  15. Assalamualaikum,ustad saya mau tanya,jika seorang anak perempuan yang lahir dari zina dan telah menikah.namun pada saat ijab kabul,namanya disebut dengan bin (nama ayahnya) berarti nikahnya itukan tidak sah.tapi usia pernikahannya telah 5 tahun,namun ia baru mengetahui aturan tersebut.apakah setelah ia mengetahui aturan tersebut,harus dia nikah ulang dengan suaminya?dan jika harus nikah ulang,apakah cukup dinikahkan oleh imam saja tanpa ada saksi?mohon penjelasannya..

  16. asalamualaikum .. saya ingin bertanya , boleh ke jikalau si lelaki bernikah dengan perempuan yang bukan anak si lelaki itu sendiri ?

  17. Ass..

    Pak ust.saya masih kurang paham,jikalau wanita yg saya hamili,lalu saya nikahi saat dia hamil,apakah pernikahan itu sah?bagaimana status anak kami?lalu jadi tanggung jawab siapakah anak ini?

    Mohon pencerahannya pak ust.

    Wassalam

  18. Ada seorang wanita yang ingin dinikahi suami saya krena kehamilannya yang mungkin itu anak hasil perselingkuhan mereka… Apakah jika suami saya tidak mau menikahinya itu salah karena wanita ini punya banyak pria..Apakah saya berdosa membiarkan suami saya untuk tidak menikahinya…Apakah suami saya bisa dituntut secara hukum..

  19. Assalamaualaikum,

    Ada berpacaran sehinngga wanita itu hamil. Disaat hamil 1 bln, mereka berputus hubungan. Lelaki itu memberitahu wanita utk aborrt kandungan. Namun wanita itu berdegil. Si lelaki cuba menghubungi namun wanita tidak mahu diganggu. Sehinnga kandunagn nya 7 bulan, apabila ibubapa tersedar, wanita itu memberitahu teman lelaki nya yg bertanggungjawab. Mereka bukan sahaja tidak berhubung, malah tidak bertegur sapa. Wanita itu ingin mengikut kehendak ibubapanya utk menikah, tapi dia kata sementara, setelah melahirkan dia ingin bercerai. Keluarga amat runsing..kerana tidak mahu membuat keputusan etrburu-buru. Apa kata Ustz?

  20. Assalaamu`alaikum … jazaakumullohu khoir ats pnjelasany ustadz

    namun bnyk yg tdk mengerti hukum2 ini
    penasaban kpd lk2 yg menzinai (di akte klahirn dlm ctt sipil ato panggilan sehari2), pewarisan yg dianggap spt anak yg diakui scr syar`i . perwalian yg bukan kepada Hakim

    smoga kita dilindungi Alloh sehingga thindar dr adzab Alloh di dunia (dngn sgala pelik perkara *anak zina*) dan di akhirat yg sangat panas api nerakanya .

  21. assalamualaikum. wr wb.

    pak ustad, saya telah melakukan kesalahan, karena telah berzina, saat wanita tersebut hamil 3 bulan, kami melakukan pernikahan, sedangkan wanitanya masih berstatus nasrani, dan pihak KUA tidak mengetahui akan hal ini, tetapi pihak KUA merasa kurang yakin, sehingga dia menyuruh wanita tersebut untuk mengucap syahadat, sampai sekarang, kami tidak pernah melakukan ijab setelahnya, dan kami telah memiliki 3 putri sampai dengan sekarang, mohon penjelasan, dan apa yang harus saya lakukan, kedepannya untuk anak-anak ini, mohon dengan sangat pak ustad.dan bagaimana dengan status anak kami ke dua dan ketiga?

    • walaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
      pernikahan saudara sah apabila wanita tersebut hamil dengan sebab saudara sendiri tanpa ada orang lain yang nyampurinya. dan status anak pertama jelas anak haram dan setelahnya anak saudara sendiri. status istri saudara yang nashroni tidak membatalkan akad nikah namun sebaiknya sekarang saudara ajak istri tersebut untuk belajar islam dan menjadi muslimah yang taat kepada Allah dan ajaran rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam

Comments for this article are now closed.