Salafiyah Dan Solidaritas Muslim
Loyalitas, persaudaraan dan solidaritas muslim harus dilandasi dan ditegakkan diatas aqidah dan manhaj yang shohih, sehingga loyalitas dan solidaritas tersebut tidak menyimpang dan salah. Tidak mungkin terjadi persaudaraan kecuali diatas iman, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. 49:10)
Dalam ayat yang mulia ini Allah Ta’ala menjadikan iman sebagai sumber perekat persaudaraan dan iman tidak tegak dalam aqidah yang rusak. Sehingga hal ini melazimkan adanya perbaikan aqidah setiap muslim untuk menjadi mukmin yang bersaudara tersebut.
Tentunya hal ini terwujud dengan kembali kepada agama kita yang telah dimurnikan dari ajaran asing dan mentarbiyah jiwa muslim diatas agama yang suci dan mulia ini.
Lalu bagaimana peran kita dalam mewujudkannya?
Dakwah salafiyah dalam memperbaiki masyarakat
Perbaikan masyarakat muslim dari penyimpangan agama dan kerusakan adalah satu bentuk solidaritas muslim yang terbesar dan terpenting, karena ini adalah salah satu bentuk loyalitas (wala’) yang harus diberikan seorang muslim. Maka semua usaha memperbaiki masyarakat merupakan bentuk solidaritas muslim.
Salah satu bentuk solidaritas dakwah salafiyah terhadap kaum muslimin adalah dakwah memperbaiki masyarakat dengan cara bertahap dimulai dengan yang paling penting dan mendesak kemudian yang setelahnya, sehingga dapat membentuk masyarakat yang baik dan jauh dari penyimpangan agama. Mereka memulai dengan mengajak kepada perbaikan aqidah dengan mengajak bertauhid dan melarang kesyirikan, kemudian mengajak untuk menegakkan sholat, menunaikan zakat, melaksanakan seluruh kewajiban dan menjauhi segala larangan. (Lihat Muqaddimah Dr. Sholeh bin Fauzan Al Fauzan untuk kitab Manhaj Al Anbiya’ Fi Al Da’wah Ila Allah Fihi Al Hikmah Wa Al ‘Aql, hlm 7.)
Inilah salah satu ketentuan manhaj salaf dalam berdakwah, mereka mencontoh dakwah para rasul yang mengajak menusia memperbaiki aqidah mereka, bahkan dakwah kepada tauhid merupakan asas dan dasar pondasi dakwah para Rasul serta inti dakwah mereka, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلاَلَةُ فَسِيرُوا فِي اْلأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):”Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya.Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)” (QS. 16:36)
Dalam ayat yang mulia ini, Allah menjelaskan tugas jabatan para rasul dan asas dakwah mereka serta inti risalah kerasulan mereka, yaitu berdakwah kepada tauhid dan mengikhlaskan ibadah semata untuk Allah serta menjauhi sesembahan selain Allah. (lihat: Usus Manhaj Al Salaf Fi Al Dakwah Ila Allah, karya Fawaaz bin Hulaiyil bin Rabaah Al Suhaimi, cetakan pertama tahun 1423 H, Dar Ibnu Affaan, Mesir dan Dar Ibnu AL Qayyim, Damaam, KSA, hlm 85) demikian juga firman Allah:
وَمَآأَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّنُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لآ إِلَهَ إِلآ أَنَا فَاعْبُدُونِ
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya:”Bahwasanya tidak ada Ilah(yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (QS. 21:25)
Demikianlah dakwah para rasul, mereka berjalan diatas satu manhaj dan satu dasar pijakan yaitu tauhid yang menjadi bagian terbesar yang mereka sampaikan kepada manusia seluruhnya disetiap tempat dan zaman. Oleh karena itu wajib bagi setiap da’i untuk mengetahui, mendakwahkan dan mengajarkan pondasi dan asas pijakan dakwah para rasul ini, karena tidak diterima amalan manusia kecuali dengannya.
Syeikh DR Sholih bin Abdillah bin Fauzan Al Fauzaan hafizhahullah berkata: “Sungguh seluruh dakwah yang tidak ditegakkan diatas asas ini (tauhid) dan manhajnya tidak tegak diatas manhaj para rasul, maka akan menemui kerugian dan kehancuran serta lelah tanpa faedah. Bukti nyatanya adalah para jama’ah dakwah (pergerakan) sekarang ini yang mengambil manhaj dakwahnya berbeda dengan manhaj dakwah para rasul. Mereka semua kecuali sedikit melalaikan sisi aqidah dan mengajak kepada perkara sampingan. Ada jama’ah yang berdakwah mengajak perbaikan hukum dan politik dan menuntut penegakkan hudud (hukum islam dalam pidana) dan penerapan syari’at dalam menghukum manusia. Memang ini perkara penting, namun bukan yang terpenting, sebab bagaimana menuntut penerapan hukum Allah terhadap pencuri dan pezina sebelum menuntut penerapan hukum Allah terhadap orang musyrik? Bagaimana menuntut penerapan hukum Allah pada dua orang yang bertengkar karena kambing dan onta sebelum menuntut penerapan hukum Allah pada para penyembah berhala dan kubur dan orang yang menyimpang dalam masalah nama dan sifat Allah dengan menghapus penunjukkan maknanya dan menyimpangkannya?.” (lihat:Muqaddimah Manhaj Al Anbiya’ op.cit hal 9).
Syeikh DR Rabi’ bin Hadi Al Madkholi hafizhahullah berkata: “Wajib kita yakini bahwa seandainya ada disana manhaj yang lebih utama dan baik dari manhaj ini, tentulah Allah akan memilihkannya untuk para rasulNya dan mendahulukannya. Lalu apakah pantas seorang mukmin membencinya dan memilih selainnya sebagai manhaj serta melecehkan manhaj rabbani ini dan para da’inya?.” (DR Rabi’ bin Hadi Al Madkholi, Manhaj Al Anbiya Fi Dakwa Ila Allah Fihi Al Hikmatu Wa AL Aqlu, cetakan kedua tahun 1414 H, Maktabah Al Ghuraba’ Al Atsariyah, Madinah, KSA, hal 43)
Lalu dewasa ini bermunculan rumor, opini dan tuduhan bahwa dakwah salafiyah adalah dakwah yang jumud, parsial, tidak memiliki solidaritas terhadap kaum muslimin dan dakwahnya hanya dakwah tauhid saja tidak ada yang lainnya. Rumor dan tuduhan ini nampaknya di latar belakangi ketidak mengertian terhadap hakekat dakwah salafiyah yang menyeluruh dalam setiap medan kehidupan atau fanatisme buta terhadap golongan atau pergerakan dakwah yang menyelisihi manhaj salaf yang berkembang saat ini. Padahal dakwah salafiyah adalah dakwah islam dan dakwah yang menyeluruh pada setiap medan kehidupan. Dakwah ini datang untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan syirik menuju tauhid, dan dari kerancuan dan kebidahan menuju kesatuan sunnah dan aqidah serta dari adzab kemaksiatan kepada kelezatan dan cahaya ketaatan. (Lihat Usus manhaj Salaf op.cit hal 98).
Dakwah salafiyah adalah dakwah yang berjalan mengikuti dakwahnya para salaf al Sholih tiga generasi terbaik umat ini, yaitu sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in. Dakwah inilah yang membuat mereka menjadi generasi terbaik dan teladan bagi generasi setelahnya. Sudah tentu hanya dangan dakwah inilah kaum muslimin dapat mengembalikan kemuliaan dan kejayaan mereka yang telah hilang lama.
Kebenaran dalam dakwah tidak didasari konsep pemikiran dan hawa nafsu, namun harus sesuai dengan yang telah Allah Ta’ala tentukan. Ketaatan yang paling urgen dan utama dalam kitabullah dan sunnah Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam adalah tauhid, sedangkan dosa dan kemungkaran yang paling besar dan berbahaya adalah kesyirikan. Seorang da’i yang berdakwah dengan bertahap dari yang terpenting kemudian yang setelahnya tentu melihatnya kepada apa yang dianggap terpenting dalam Al Qur’an dan Sunnah.
Konsep dakwah bertahap ini tidak berarti tidak perduli dengan kejadian dan kemungkaran yang terjadi disekitarnya, namun dengan tetap menjalankan konsep bertahap ini (tadarruj), iapun memperhatikan perkembangan kemaksiatan dan kemungkaran yang terjadi dalam masyarakatnya dan mendakwahi mereka untuk meninggalkannya. Inilah yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
“Barang siapa dari kalian melihat kemungkaran maka hendaklah merubahnya dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya dan jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” [HR Muslim dalam shohihnya. kitab Al Iman no 49]
Demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diutus untuk memperbaiki alam semesta dan merealisasikan kemaslahatan para hamba Allah dengan mengajak kepada kebajikan dan melarang dari kemungkaran. Hal ini dijelaskan beliau dalam sabdanya:
إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى مَا يَعْلَمُهُ خَيْرًا لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ مَا يَعْلَمُهُ شَرًّا لَهُمْ
“Sesungguhnya tidak ada seorang nabipun sebelumku kecuali wajib baginya untuk menunjuki umatnya kepada kebaikan yang ia ketahui dan memperingatkan mereka dari kejelekan yang ia ketahui.” [HR Muslim dalam Shohihnya kitab Al Imaarah, bab Wujub Al Wafa Bi Baiat Al Kholifah Al Awwal fal Awal no 1844]
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: Perintah yang dibebankan kepada RasulNya adalah amar makruf (mengajak kepada kebajikan) dan larangan yang diemban beliau adalah nahi ‘an al mungkar (larangan dari kemungkaran). (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 28/65).
Dengan demikian dakwah salafiyah mengajak manusia kepada ajaran agama yang menyeluruh dan tidak parsial, sebagaimana tuduhan sebagian orang bodoh. Sebab syari’at ada untuk merealisasikan dan menyempurnakan kemaslahatan dan kemanfaatan dan menghapus atau memperkecil kerusakan dan kemudhoratan.
Kalau demikian, maka maksud seorang da’i dalam dakwahnya adalah mewujudkan kemaslahatan dan menghilangkan kerusakan sebisa mungkin, sehingga memulai dengan yang besar dan mendasar baru kemudian yang setelahnya dan jika berkembang disatu masyarakat kemungkaran dan perkara yang menyelisihi agama maka ia harus menjelaskan kebenaran dalam perkara tersebut dan mengajak masyarakatnya meninggalkan dan menjauhi kemungkaran tersebut.
Atas dasar ini, maka manhaj salaf sangat memperhatikan dakwah memperbaiki keadaan masyarakat dan perkara-perkara yang menyelisihi syari’at pada mereka untuk menyebarkan kebaikan dan menghilangkan kerusakan yang ada, sehingga bila tampak terlihat dakwah ini banyak menjelaskan kesalahan yang dilakukan para da’i dan pergerakan yang ada, maka tidak lain itu dalam rangka menjelaskan kebenaran kepada masyarakat agar mereka terhindar dari kerusakan dan kemungkaran agama. Jangan difahami hal ini sebagai cacian dan makian kepada sesama muslim. Demikianlah nasehat jangan diahami sebagai olok-olok dan cemoohan, karena itu merupakan satu bentuk solidarits terhadap sesama kaum muslimin.
Syeikh Fawaaz Al Suhaimi penulis kitab Usus Manhaj Salaf Fi dakwah Ila Allah berkata: “Jika manhaj salaf memberikan perhatian terbesar dalam tauhid dan dakwah kepadanya, tidaklah bermakna manhaj salaf tidak mau tahu pada apa yang terjadi pada masyarakat kaum muslimin berupa perkara-perkara mungkar. Bukanlah makna dakwah kepada tauhid kamu itu tidak berdakwah kepada tuntutan dan syarat-syaratnya. Yang benar dakwah kepada tauhid adalah dakwah yang menyeluruh untuk mewujudkan kalimat la ilaaha illa Allah dalam semua yang terjadi dalam masyarakat muslimin; seluruhnya sesuai dengan kedudukan dan kemampuannya.”
Dengan penjelasan ini jelaslah bahwa rumor dan tuduhan tersebut hanyalah isapan jempol dari orang yang tidak faham terhadap hakekat dakwah salafiyah. Ini semua akan semakin jelas bila mengenal keistimewaan manhaj salaf dalam dakwah
Keistimewaan manhaj salaf dalam dakwah
(pembahasan ini kami ringkas dari kitab Usus Manhaj Salaf Fi Al Dakwah Ila Allah op.cit hal 171-179).
Manhaj salaf dalam dakwah kepada Allah memiliki banyak keistimewaan, namun sekarang kami ringkas pada tiga keistimewaan saja, yaitu
1. bersumber dari syari’at.
Diantara keistimewaan manhaj dakwah salafiyah adalah manhaj ini bersumber kepada sumber petunjuk dan keselamatan manusia yaitu Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam . keistimewaan inilah yang telah dijelaskan Al Qur’an dan diseru para salaf sholih, karena ia adalah sebab kejayaan dan kemenangan dan sebab persatuan dan kesatuan kaum muslimin.
2. mewujudkan kemaslahatan agama dan dunia
Berdakwah dengan manhaj salaf akan mewujudkan kemaslahatan yang besar dalam agama dan dunia, baik untuk para da’inya ataupun mad’unya, karena ia telah berjalan diatas syari’at yang akan memberikan rasa aman, jaminan, ketentraman dan kedamaian. Syari’at Allah dibuat dan dibangun untuk kebaikan umat dalam agama dan dunianya, sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya:
إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى مَا يَعْلَمُهُ خَيْرًا لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ مَا يَعْلَمُهُ شَرًّا لَهُمْ
“Sesungguhnya tidak ada seorang nabipun sebelumku kecuali wajib baginya untuk menunjuki umatnya kepada kebaikan yang ia ketahui dan memperingatkan mereka dari kejelekan yang ia ketahui.” [HR Muslim dalam Shohihnya kitab Al Imaarah, bab Wujub Al Wafa Bi Baiat Al Kholifah Al Awwal fal Awal no 1844]
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: Syari’at dibangun dan ditegakkan diatas hikmah dan maslahat hamba di dunia dan akherat, seluruh syari’at adalah adil dan rahmat serta maslahat. (Ibnul Qayyim, I’lam Al Muwaqqi’in 3/3).
Dengan demikian dakwah salafiyah memiliki :
- Keteguhan dan kesempurnaan dalam pemahaman dan akal dan kejelasan tujuan dan cara mencapainya, sebagaimana firman Allah:
مَّافَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِن شَىْءٍ
“Tiadalah Kami lupakan sesuatu apapun di dalam Al-Kitab” (QS. 6:38)
- Petunjuk kepada yang paling baik dan lurus bagi agama dan dunia, sebagaimana firman Allah:
إِنَّ هَذَا الْقُرْءَانَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
“Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus” (QS. 17:9)
- Kebaikan dunia di setiap zaman dan tempat, sebagaimana firman Allah:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu” (QS. 5:3)
- Komitmen dengan fithroh dan jauh dari kengawuran dan hawa nafsu yang merusak, sebagaimana firman Allah:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لاَتَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَيَعْلَمُونَ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.(Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. 30:30)
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam menegaskan bahwa Syari’at dengan segala masalah dakwah yang terkandung didalamnya memberikan maslahat dan menghilangkan kerusakan: “Bahkan cukuplah seorang mukmin itu mengetahui bahwa seluruh perintah Allah adalah untuk kemaslahatan semata atau kemaslahatan yang lebih besar dan seluruh larangan Allah adalah mafsadah (kerusakan) semata atau kerusakan yang lebih besar”. (Majmu’ fatawa 27/91).
- Kemudahan dan jauh dari sifat pembangkangan dan kesusahan, sebagaimana firman Allah:
يُرِيدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (QS. 2:185)
Demikianlah dakwah yang menjadikan syari’at sebagai dasar pondasi gerakannya.
3. Manhaj salaf senantiasa dimenangkan Allah sampai hari kiamat.
Diantara keistemewaan terbesar dakwah salafiyah adalah dakwah yang senantiasa Allah menangkan sampai hari kiamat, dimana Allah jadikan manhaj nabiNya n sebgai penutup sekalian agama dan tidak menerima agama selain agamanya. Demikian juga Allah menjadikannya sebagai agama untuk seluruh penduduk bumi. Maka jika agama ini untuk seluruh penduduk bumi, maka tentunya akan kekal manhaj yang menjadi bagian dari agama ini generasi demi generasi sampai hari kiamat nanti.
Memang, akan terjadi pasang surut dan dakwah ini menjadi asing pada kebanyakan tempat dan daerah, apalagi ketika kebidahan, khurafat dan penyimpangan telah menguasai permukaan bumi ini. Namun Allah tetap akan membangkitkan orang yang memperbaharui (tajdid) agama ini untuk membongkar habis penyimpangan dan kebobrokan serta tipudaya musuh islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُلُهُ يَنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الْغَالِيْنَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِيْنَ وتَأْويْلَ الْجَاهِلِيْنَ
“Membawa ilmu ini dari setiap generasi orang-orang adilnya yang menghilangkan darinya penyimpangan orang yang sesat dan ajaran orang yang merusak (agama) serta ta’wilnya orang-orang bodoh.”
Adapun dalil yang menunjukkan keistimewaan ini banyak sekali diantaranya:
Firman Allah :
“Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, (yaitu) sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang” (QS. 37:171-173)
dan firmanNya:
Allah telah menetapkan:”Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang”. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (QS. 58:21)
Serta sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :
لاَ يَزَال مِنَْ أُمَّتِيْ أُمَّةٌ قَائِمَةً عَلَى أَمْرِ اللَّهِ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ عَلَى ذَلِكَ
senantiasa ada dari umatku sekelompok orang yang menegakkan perintah Allah l tidak merugikannya orang yang menghina dan menyelisihi mereka sampai datang hari kiamat dan mereka berada dalam keadaan demikian. Hadits Muttafaqun Alaihi dari jalan Muawiyah radhyallahu ‘anhu yang memiliki delapan jalan periwayatan yang telah saya takhrij dalam Allaaali al mantsurah bi Aushaafith Thoifatil Manshurah (1).
Sebagai penutup, kami sampaikan sebab yang mengantar kepada kemenangan dan kejayaan yang ada dalam firman Allah:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merobah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa.Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik. (QS. 24:55)
Ayat yang mulia ini menjelaskan sebab kemenangan, yaitu beribadah kepada Allah, mentauhidkanNya, berjalan diatas manhaj tauhid dan kenabian dan menjauhi hawa nafsu yang menyelisihi syari’at dan kebidahan. Sehingga kebersihan tauhid dari noda syirik, bid’ah dan hawa nafsu syahwat adalah sebab kemenangan dan kejayaan. Syeikh Abdulaziz bin Baaz rahimahullah berkata: Ketika para salaf sholih dan generasi awal umat ini berjalan diatas ketentuan Al Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Allah muliakan, angkat nama mereka dan memberikan kekuasaan kepada mereka dimuka bumi ini sebagai wujud dari janji Allah kepada mereka. (lihat: Majalah Al Buhuts Al Islamiyah edisi 23/9).
Oleh karena itu marilah kita wujudkan solidaritas kita kepada kaum muslimin dengan mengamalkan kandungan ayat ini dan mengajak saudara-saudara kita untuk mewujudkan sebab-sebab kemenangan ini. Ingatlah Allah tidak pernah dan tidak akan pernah menyelisihi janjiNya.
Penulis: Kholid Syamhudi, Lc
Artikel ustadzkholid.com
Tidak ada tulisan terkait

Maaf ya Ustadz…
Saat ini saudara-saudara kita di Pelastina sedang menghadapi mihnah, mereka dibantai oleh Yahudi la’natulloh ‘alaih, banyak komponen umat Islam di negeri yang bergerak untuk menggalang bantuan bagi saudara-saudara kita tsb, dari yang paling sederhana yaitu mendoakan sampai yang paling rumit yaitu menjadi calon-calon mujahid yang siap diberangkatkan ke sana.
Hanya saja saya belum mendengar aksi para salafiyun di negeri ini, sementara seperti yang saya baca di sebuah situs bagaimana seorang Aidh Al Qorni ( yang menurut saya juga seorang salafi )ketika ia berfatwa tentang Palestina, ia ditangkap oleh Pemerintah Saudi dan konon kini mendekam di balik jeruji besi di negeri nabi itu, apa yang terjadi dengan salafiyun Ya Ustadz ?
Saya berharap kita turut pula bergerak seperti saat perang di Ambon bagaimana salafiyun antusias untuk turut pula berjihad. Jika memang di Palestina tidak bisa diberlakukan seperti yang dilakukan di Ambon maka di mana para tokoh Salafi negeri yang memberikan pernyataan resminya tentang Palestina ? Malah saya sempat menyaksikan di televisi bagaimana seorang Ustadz Ja’far Umar Thalib malah tidak mendukung dikirimkan relawan jihad ke sana, tapi beliau tidak memberi pernyataan apapun selain itu.
Mohon menjadi perhatian
Syukron
Assalammualaikum warohmatullahiwabarokatuh……
Ustad rahimahullah, judul di atas “Salafiyah Dan Solidaritas Muslim”, ya, saya belum melihat satu lembaga ataupun perseorangan yang mengaku “salifun” menunjukkan langkah nyata dalam menyaksikan kezoliman terhadap sodaranya di Palestin selain kumpul sumbangan semata. Meskipun kaya dan berkuasanya para “salifun” tersebut namun sepertinya menutup mata terhadap sodaranya yang bersyahadat, berkitab dan ber-rasul sama. Atau karena mereka dianggap bukan “salifun” ?
Bukankah Rasul bersabda bahwa “bukanlah dari golonganku bila tetangganya/saudaranya menderita tetapi kita tidak peduli?”
Jadi siapa saja baik dia yang mengaku “Salifun”, “Ahlul Sunnah”, “Khawariz”, “Syiah”, “Murjiah” atau apapun manhaj Islamnya, bila tidak peduli saudaranya maka janganlah berkoar-koar kalau dia mencintai Rasululloh ! itu DUSTA. Rasul berlepas dari mereka.
Sedangkan hanya berdoa saja itupun adalah selemah-lemahnya iman?
Bagaimana dengan negara –yang ngakunya “Manhaj Salaf”, kuat finansial dan berkuasa namun tutup telinga atau cuma berteriak mengecam itu– ? masih layak disebut muslim?
Alangkah indahnya Islam bila tak terlepas dari QURAN dan SUNNAH.
Mohon penjelasannya Ustad rahimahullah
Assalamu’alaikum
menanggapi komentar dari akh zaki…
ana sudah menyangka bahwa itulah sikap yang akan selalu ditunjukkan oleh orang2 harokiyyun..
selalu berprasangka buruk terhadap salafiyyun..
akh zaki..salafiyyun tidak perlu berkoar2 untuk menunjukkan solidaritasnya kepada seluruh kaum muslimin.
semua tahu bagaimana kiprah salafiyyun di dalam menghadapi tragedi ambon yang telah lalu (baik yg bergabung dengan laskar jihad ataupun tidak).
juga bagaimana dulu di afganistan banyak ikhwah2 salafi yg berjihad disana..
salafiyyun jelas tidak akan melakukan cara2 yg digunakan harokiyyun hizbiyyun dgn berdemontrasi sambil membawa bendera dan menggunakan atribut partai..(Maklum mau pemilu..)
apa karena kami tidak seperti harokiyyun lalu dengan mudah antum menyangka kami tidak ada solidaritas??
salah wahai akhi..
solidaritas tidak mesti dilakukan seperti yang antum lakukan??
antum sendiri sudah memberikan kontribusi apa??apa antum ikut berjihad ke palestina membantu kaum muslimin di sana?? lebih baik intropeksi diri sendiri wahai akhi..
kami memang tidak pernah melakukan aksi massa yang notabene menggalang dukungan terhadap partai/golongan seperti yg antum biasa lakukan..
antum juga menyebut syiah sebagai bagian dari manhaj islam… syiah bukan islam akhi..
berhati2lah klo menilai sesuatu itu akhi..
lebih baik akhi menuntut ilmu lebih banyak lagi..
syukron..
wassalamualaikum..
kepada saudaraku ZAki dan yang lainnya…
Mohon, janganlah kita meremehkan suatu kebaikan. Doa adalah suatu ibadah yang besar dan agung. Betapa banyak permasalahan yang bisa diselesaikan dengan doa. Bahkan terkadang hanya doa satu-satunya jalan untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Maka janganlah meremehkan doa.
Anda mau ataupun tidak, doa termasuk salah satu bentuk kepedulian kita kepada mereka. Begitu pula memberikan sumbangan berupa harta benda. Bukankah jihad juga perlu harta benda?
Jika yang Anda maksud adalah kepedulian dengan berangkat jihad ke Palestin, maka perlu ditanyakan apakah orang yang berkomentar seperti Anda juga telah berangkat ke sana?
Sungguh Allah memberikan syariat ini atas dasar kemampuan manusia. Maka bertakwalah kepada ALlah sesuai dengan kemampuan.
Adapun negara yang anda sebut kuat finansial dst… apakah layak disebut muslim?
Jika maksud Anda negara saudi, maka negara tersebut telah berbuat banyak dalam permasalahan seperti ini. Sebagai contoh,
“Khadim al-Haramain Raja Saudi Abdullah Ali Saud dan putera mahkota Sultan bin Abdul Aziz juga telah memberikan sumbangan sebesar 40 juta riyal untuk bantuan saudara-saudara kita yang sedang mengalami bencana, dan juga turut menggalang dana bantuan dari para warga, lebih dari sembilan juta riyal Saudi” diambil dari http://www.alsofwah.or.id/cetakakhbar.php?id=833
Bagaimana mungkin kita katakan negara saudi bukan negara islam? padahal kita ketahui hukum yang berlaku di sana adalah hukum islam.
Negara saudi membawahi dua kota suci, salah satunya adalah Makkah, kota tempat baitulloh, Ka’bah, yang telah dijanjikan oleh Rasululloh shallallahu alaih wa sallam akan senantiasa dalam keadaan Islam dengan sabdanya, “Laa hijrota ba’dal Fath” Tidak ada hijrah setelah Fathu mekah.
INTINYA:
Kami memohon kepada saudara-saudara kita yang bersemangat untuk membela saudara Islam yang terzholimi…
Janganlah semangat kita membawa diri kita bersikap tidak adil kepada saudara Islam kita yang lain, dengan mengatakan bahwa doa atau sumbangan dana tidaklah mencukupi untuk dikatakan sebagai bentuk kepedulian. Padahal itulah yang mereka mampui. Ini adalah ketidakadilan.
…
Alhamdulillah…ternyata banyak tanggapan yang sungguh berarti….
Tidak ada maksud meremehkan ataupun merendahkan suatu kaum ataupun golongan…terlebih “salifun”. Maaf ana pakai “salifun” (tanda kutip)karena tidak sedikit masyarakat mengaku “salifun” tersebut terjebak pada satu fokus masalah sehingga melupakan/lalai masalah lainnya. Misal, sibuk persoalan Isbat tapi datang selalu telat, sibuk mempertahankan jenggot tapi amanat selalu khilaf.
Komentar ana terdahulu meminta tanggapan Ustad Kholid (sesuai tema yg beliau sampaikan) lebih aktual dan faktual dengan mencontohkan kasus Palestine….
Ana termasuk manusia yg selemah2nya Iman…hanya mampu menangis meratap ketika saudaranya terluka. Meratapi dunia Islam yang terkapar lemah tersuntik racun zionis. Terpecah belah hanya karena sebutir prasangka dusta. Ana bertanya karena berharap sodaraku dapat memberikan solusi konkrit atas masalah tersebut. Ana bukan “harokiyyun hizbiyyun” atau yang lainnya…. Ana hanya mustadafin yang bersyahadah…manusia bodoh, lemah dan mungkin dihinakan.
Syukron buat saudaraku semua……..maaf bila terbaca kasar..tiada maksud bermusuh ato berburuk sangka..
Terimakasih telah dikirimin email…sungguh berharga…Allahhu Akbar
Hormat ana pada Ustad, Abu Aufa dan a moslem ….semoga kita meraih Taqwa dan menjadi umat Rasullulloh SAW yang ber Akhlakul Karimah
Assalammualaikum …………..
Wa’alaikumus salam
al Akh Zaki -Rahimakumullahu- jazakumullah khoiran atas komentar antum dalam hal ini dan juga berterimakasih atas ghiroh (kecemburuan)antum dalam hal ini. terus terang ana yakin setiap orang yang mencintai Allah dan RasulNya pasti akan mencintai saudaranya seiman apalagi yang mengenal bagaimana bentuk sikap empat dan kasih sayang yang ada dikalangan para salaf dahulu. semua merasakan penderitaan dan kepiluan atas peristiwa yang terjadi di jalur Gaza atau di Iraaq atau di afghanistan. namun apakah perasaan tersebut membuat kita bertindak dan melakukan aktivitas yang berakibat buruk bagi kaum muslimin yang sedang tertimpa musibah atau yang belum tertimpa musibah. apalagi sampai terjerumus dalam kemaksiatan dan kebid’ahan. ini perkara penting yang harus diperhatikan.’
statemen dan pernyataan alhamdulillah telah disebarkan dalam Muslim.or.id berupa fatwa mufti agung kerajaan saudi arabia yang ana terjemahkan dalam upaya memberikan pencerahan dan pemberitahuan sikap yang benar dalam masalah ini. sebab dalam masalah besar seperti ini kita wajib kembali kepada para ulama yang mengerti bagaimana syariat memberikan solusi dengan mempertimbangkan kaedah mashlahat dan madhorat yang sudah dikenal dikalangan para ulama syari’at sejak dahulu kala hingga saat ini. bantuan materi dan immateri dari kalangan salafiyun didunia tidak dapat dihitung hanya dengan angka-angka. namun yang perlu diingat amalan sholeh yang utama adalah yang hanya diketahui dirinya dan sang penciptanya. jangan cepat menghukumi tidak ada sebelum meneliti benar memang itu tidak ada. perlu diketahui berapa banyak para ulama salafiyun menjadi perintis dan pelopor jihad didunia ini. ambil contoh Abdulhamid bin Badies seorang ulama salafi di al-Jazair dan pendiri Jum’iyah ulama disana adalah pelopor jihad di al-Jazair menghadapi penjajah hingga akhirnya ALlah memberikan kepada mereka kemerdekaan. diafghanistan muncul seorang ulama salafi namanya Muhammad Husein (sebagaimana nama ini diceritakan putra beliau kepada ana di Universitas Islam Madinah) yang dikenal dengan Syeikh Jamilurrahman seorang saudagar kayu yang kaya kemudian mempelopori jihad diafghanistan. juga dalam jihad Palestina dikenal tokoh salafi yang bernama ‘Izzuddin al-Qasaam menjadi pelopor jihad disana. (dalam hal ini lihat bukti-buktinya dalam kitab Salafiyun wa Qadhaya Falestin karya Syeikh Masyhur Hasan salman). tahulah orang yang tahu dan tidak tahulah orang yang tidak tahu. Syeikh DR. Muhammad al-Khudhairi pernah bercerita kepada ana sendiri dan kedua telinga yang ada sekaranglah yang dipakai dulu untuk mendengarnya bahwa Syeikh ibnu Baaz seorang ulama dan mufti saudi arabia terdahulu -semoga Allah merahmatinya- walaupun sudah sepuh (usia tua) dan tidak dapat melihat namun memberikan peran besar dengan fatwa dan harta beliau. Syeikh DR Muhammad menceritakan bahwa beliau mengifakkan gaji bulanannya untuk kepentingan jihad di afghanistan dahulu.
demikianlah berapa banyak murid syeikh al-Albani ikut serta dalam perang afghanistan yang pertama-tama sebelum mereka perang saudara. jadi janganlah terburu-buru menuduh bila belum mendapatkan bukti dan ceritanya.
sebenarnya ini terpaksa ana sampaikan kepada antum semua agar tidak ada kezholiman dan keduataan dipertahankan setiap sa’atnya. janganlah perasaan menyeret kita kepada perkara negatif.
maaf atas komentar panjang inin, mudah-mudahan bermanfaat.
wasalam
Alhamdulillah…terima kasih atas tanggapan ustad -semoga Allah merahmatih-. Penjelasan seperti ini yang sangat saya butuhkan. Informasi yang seperti ini jarang didapat dari sumber yang mengaku “salafiun”, mereka selalu berdalih,”Tauhid dan aqidah kita lebih penting dari sekadar ngurusin yang gituan”. Seakan Islam hanya persoalan aqidah, menistakan persoalan lainnya. Bagi ana ini penyempitan makna Islam yang kaffah.
Maaf saya tidak anti dengan kaum “salafiun”. Ana hanya sedikit alergi dengan berbagai halaqoh, karena lebih berdampak perpecahan dibandingkan persatuan umat Islam. Mengapa kita tidak memakai saja nama ‘kaum Muslim’ atau ‘umat Islam’ sebagai identitas. Toh istilah “salafiun” atau “salafiah” tidak ada dalam indeks Al Quran? Maaf, -ini hanya menurut ana pribadi- istilah tersebut merupakan konvensi sebahagian umat Islam zaman sekarang ini. Bahkan para salaf terdahulu yang dimaksud pun tidak mengenal “salafiah”, yang ada hanya Islam yang berpedoman pada Allah SWT dan Rasul-Nya. Mengapa kita tidak seperti mereka?
Ustad benar bila menyatakan bahwa ana “cemburu” dalam hal ini. Ya ana sangat cemburu kepada siapa saja yang soleh dan berilmu seperti Ustad. Karena itu ana bertanya agar lebih paham Quran dan Sunnah.
Maaf bila ada kata yang tidak berkenan.
Semoga Ahlussunnah/Salafiyun terhindar dari tudingan negatif, prasangka buruk orang2 yang dengki nan hasad..
Dan semoga saudara2 kami kaum muslim di negeri Palestina,Gaza, Iraq, Afghanistan, Iran yang teraniaya selalu mendapat perlindungan dan kekuatan dari Allah Azza wa Jalla..
Dalam Islam kita diperintahkan Allah dan Rasulullah untuk selalu mengikhlaskan amal dan ibadah kita, salah satunya adalah tidak menceritakann amal dan perbuatan baik yg kita lakukan. Mungkin karena saudara-saudara kita tidak melihat bukti langsung amal perbuatan ini, sehingga mereka beranggapan bahwa salaf tidak ikut andil dalam melihat penderitaan saudaranya. Maka anggapan seperti ini keliru wahai saudaraku, kami pun sangat merasakan penderitaan saudara-saudara kami di palestina maupun di negara manapun. akan tetapi ingatlah bahwa amal dan perbuatab kita dituntut ikhlas, agar dapat diterima oleh Allah. Oleh karena itu kami tidak ikut serta dalam demonstrasi dan semacamnya. Oleh karena itu janganlah karena tidak melihat bukti, saudara-saudaraku menganggap kami tidak peduli dengan permasalahan kaum muslimin.