Shalat berjama’ah memiliki adab dan hukum-hukum yang terkait dan berhubungan dengannya. Semua ini karena arti penting dan kedudukannya dalam islam. Padahal pada kenyataannya banyak kaum muslimin yang belum mengetahui hal ini, sehingga banyak dijumpai mereka shalat berjama’ah tanpa memperhatikan adab dan hokum yang terkait. Akhirnya mereka terjerumus kedalam kesalahan dan dosa bahkan dalam kebid’ahan.
Batasan minimal peserta shalat berjama’ah.
Batasan minimal untuk shalat jama’ah adalah dua orang, seorang imam dan seorang makmum. Jumlah ini telah disepakati para ulama, sehingga Ibnu Qudamah menyatakan: “Shalat jama’ah dapat dilakukan oleh dua orang atau lebih. Kami belum menemukan perbedaan pendapat dalam masalah ini”[1].
Demikian juga Ibnu Hubairah menyatakan: “Para ulama bersepakat batasan minimal shalat jama’ah adalah dua orang, yaitu imam dan seorang makmum yang berdiri disebelah kanannya”.[2]
Shalat berjama’ah sah walaupun makmumnya seorang anak kecil atau wanita, berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu yang berbunyi:
????? ?????? ???????? ??????? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ???????? ???? ????????? ???????? ???????? ?????? ???????? ???? ????????? ???????? ????????? ???????????? ???? ?????????
“Aku tidur dirumah bibiku, lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bangun mengerjakan shalat malam. Lalu aku turut shalat bersamanya dan berdiri disamping kirinya. Kemudian beliau meraih kepalaku dan memindahkanku kesamping kanannya”[3]
Demikian juga hadits Anas bin Malik Radhiallahu’anhu :
????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ?????? ???? ??????????? ????? ???????????? ???? ????????? ????????? ??????????? ?????????
Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam shalat mengimami dia dan ibunya. Anas berkata: “Beliau menempatkanku disebelah kanannya dan wanita (ibunya) dibelakang kami”[4]
Semakin banyak jumlah makmum semakin besar pahalanya dan semakin Allah sukai, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:
????????? ????????? ???? ????????? ??????? ???? ????????? ???????? ????????? ????????? ???? ????????????? ??????? ???? ????????? ???? ????????? ????? ??????? ???????? ?????? ??????? ????? ??????? ????? ???????
“Shalat besama orang lain lebih baik dari shalat sendirian. Shalat bersama dua orang lebih baik dari shalat bersama seorang. Semakin banyak (yang shalat) semakim disukai Allah Ta’ala”[5]
Hadits ini jelas menunjukkan semakin banyak jumlah jama’ahnya semakin lebih utama dan lebih disukai Allah Ta’ala.
Demikian juga seorang anak kecil yang telah mumayiz boleh menjadi imam menurut pendapat yang rojih. Hal ini berdasarkan hadits Amru bin Salamah Radhiallahu’anhu yang berbunyi:
???????? ??????? ???????? ?????? ????????? ??????? ????? ?????? ??????????????? ???????? ????? ??????? ??????????????? ???????? ?????? ????? ?????????? ????????? ???? ?????? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ?????? ??????? ??????? ??????? ????? ??? ????? ????? ????????? ??????? ????? ??? ????? ????? ??????? ???????? ?????????? ????????????? ?????????? ??????????????? ???????????? ???????? ?????????? ?????? ?????? ?????? ???????? ???????? ?????? ????????????? ?????? ??????????? ??????? ????? ????? ???? ?????? ???????
“Ketika terjadi penaklukan kota Makkah, setiap kaum datang menyatakan keislaman mereka. Bapakku datang menyatakan keislaman kaumku. Ketika beliau pulang beliau berkata: “Demi Allah Aku membawakan kepada kalian kebenaran dari sisi Rasulullah”. Lalu berkata: “Shalatlah kalian shalat ini pada waktu ini dan shalatlah ini pada waktu ini. Jika telah masuk waktu shalat, hnedaklah salah seorang kalian beradzan dan orang yang paling banyak hafalan qur’annya yang mengimami. Lalu mereka mencari (imam). Ternyata tidak ada seorangpun yang lebih banyak dariku hafalan Al Qur’annya. Lalu mereka menunjukku sebagai imam dan aku pada waktu itu berusia enam atau tujuh tahun”[6]
Kapan dikatakan mendapati shalat berjama’ah?
Gambaran permasalahan ini adalah seorang datang kemasjid untuk shalat berjama’ah. Kemudian mendapati imam ber-tasyahud akhir, lalu ber-takbiratul ihram. Apakah masbuq tersebut dikatakan mendapatkan pahala berjama’ah bersama imam ataukah dianggap sebagai shalat sendirian (munfarid)?.
Dalam permasalahan ini para ulama berbeda pendapat dalam tiga pendapat:
Pertama: Shalat jama’ah didapatkan dengan takbir sebelum imam salam.
Ini pendapat madzhab Hanafiyah dan Syafiiyah.
Berdalil dengan hadits Abu Hurairah Radhiallahu’anhu dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam beliau bersabda:
????? ????????? ?????????? ????? ?????????? ?????????? ?????????? ????????? ?????????????????????? ????? ???????????? ????????? ????? ????????? ???????????
“Jika shalat telah diiqamati, maka janganlahmendatanginya denga nberlari, datangilah dengan berjalan. Kalian harus tenang. Apa yang kalian dapati maka shalatlah dan yang terlewatkan sempurnakanlah”[7]
Dalam hadits ini dinyatakan orang yang mendapatkan imam dalam keadaan sujud atau duduk tasyahud akhir sebagai orang yang mendapatkan, lalu menyempurnakan yang terlewatkan, sehingga orang yang bertakbir ihrom sebelum imam salam dikatakan mendapati shalat jama’ah.
Kedua: Membedakan antara jum’at dan jama’ah. Jika shalat jum’at melihat kepada raka’at dan jama’ah melihat kepada takbir.
Bermakna dalam shalat jum’at seseorang dikatakan mendapati shalat jum’at bersama imam bila mendapati satu raka’at bersama imam. Dikatakan mendapatkan jama’ah bila bertakbir sebelum imam mengucapkan salam. Ini pendapat yang masyhur dari madzhab syafi’i.[8]
Ketiga: Dikatakan mendapati shalat berjama’ah bila mendapati satu rakaat bersama imam.
Ini pendapat madzhab Malikiyah, Imam Ghazaaliy dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
Muhammad bin Abdil Wahab dan Abdurrahman bin Naashir As Sa’di telah merajihkannya.[9]
Berdalil dengan hadits Abu Hurairah Radhiallahu’anhu dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam beliau berkata:
???? ???????? ???????? ???? ?????????? ?????? ???????? ??????????
“Siapa yang mendapatkan raka’at dari shalat maka telah mendapatkan shalat”[10] dan hadits Ibnu Umar yang berbunyi:
????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ???? ???????? ???????? ???? ??????? ??????????? ???? ????????? ?????? ???????? ??????????
“Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang mendapatkan satu rakaat dari shalat jum’at atau selainnya maka telah mendapatkan shalat”.[11]
Sedangkan rakaat dilihat dari ruku’nya sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah yang marfu’ :
????? ???????? ????? ?????????? ???????? ??????? ??????????? ????? ??????????? ??????? ?????? ???????? ??????????? ?????? ???????? ??????????
“Jika kalian berangkat shalat dan menemukan kami sedang sujud maka bersujudlah dan jangan dihitung sebagai rakaat. Barang siapa yang mendapatkan raka’at maka telah mendapatkan shalat”[12]
Mereka menyatakan: “Orang yang mendapatkan satu rakaat dari shalat jum’at atau selainnya maka mendapatkan shalat. Demikian juga Shalat jama’ah tidak dianggap mendapatinya kecuali dengan mendapat satu raka’at”.[13]
Pendapat ini dirajihkan Syaikhul Islam dalam pernyataan beliau: “Yang benar adalah pendapat ini, karena hal berikut:
Pendapat ini adalah pendapat yang rajih, Wallahu a’lam bish Shawaab.
Hukum Berjama’ah Dalam Shalat Nafilah.[15]
Shalat nafilah (shalat tathawu’) sangat penting bagi seorang muslim, bahkan ia merupakan pelengkap dan penyempurna shalat fardhu. Melihat pentingnya permasalahan ini perlu diketahui secara jelas hukum seputar jama’ah dalam shalat nafilah.
Nafilah bila ditinjau dari pensyari’atan jama’ah padanya terbagi menjadi dua;
A. Shalat nafilah yang disyari’atkan padanya jama’ah
Shalat nafilah yang disunnahkan berjama’ah adalah:
1. Shalat Kusuf (Shalat gerhana matahari).
Shalat ini disunnahkan berjama’ah dengan kesepakatan para fuqaaha’. Sedangkan shalat gerhana bulan terdapat perselisihan para ulama padanya. Imam Abu Hanifah dan Malik menyatakan tidak disunnahkan, sedangkan imam Syafi’I dan Ahmad menyatakan sunnahnya.
2. Shalat Istisqa’
Disunnahkan berjamaah menurut madzhab Malikiyah, Syafiiyah, Hambaliyah dan dua murid Abu Hanifah yaitu Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan. Sedangkan Abu Hanifah berpendapat tidak disunnahkannya berjama’ah.
3. Shalat Ied
Disunnahkan berjamaah secara ijma’ kaum muslimin.
4. Shalat Tarawih
B. Shalat nafilah yang tidak disyari’atkan berjama’ah.
Shalat yang disyariatkan melakukannya sendirian tidak berjama’ah sangat banyak sekali, diantaranya shalat rawatib, shalat sunnah mutlaqoh dan yang disunnahkan di setiap malam dan siang.
Tentang hukum melakukan shalat-shalat tersebut berjama’ah terjadi peselisihan diantara para ulama. Madzhab Syafiiyah dan Hambaliyah memperbolehkan berjama’ah, Madzhab Hanafiyah memakruhkannya dan madzhab Malikiyah membolehkan berjama’ah kecuali sunnah rawatib sebelum subuh. Mereka nyatakan hal itu menyelisihi yang lebih utama, selebihnya boleh dengan syarat jama’ahnya tidak banyak dan tidak ditempat yang terkenal, karena takut terjadi riya’ dan munculnya anggapan bahwa hak itu wajib.
Akan tetapi yang benar dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam , beliau pernah melakukan kedua-duanya. Pernah meklakukan shalat sunnah tersebut dengan berjama’ah dan sendirian. Sebagaimana riwayat berikut ini:
a.
???? ?????? ???? ??????? ????? ????????? ?????????? ?????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ????????? ?????????? ???????? ?????? ????? ????? ??????? ??????????? ?????? ????? ?????? ???? ??????? ???????? ????? ??????? ????? ???? ???????? ???? ????? ??? ?????? ??????? ???????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ?????????? ????? ???????????? ????????? ???????????? ???? ?????????? ???????? ????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ???????????? ????? ?????????
“Dari Anas bin Malik Radhiallahu’anhu beliau menyatakan bahwa neneknya yang bernama Mualikah mengundang Rasulullah makan-makan yang dibuatnya. Lalu Rasulullah memakannya dan berkata: “bangkitlah kalian, aku akan shalat berjama’ah bersama kalian”. Anas berkata: aku mengambil tikarkami yang telah berwarna hitam karena lamanya pemakaian dan rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam bangkit. Aku dan seorang anak yatim membuat shof dibelakang beliau, sedang orang-orang tua wanita berdiri dibelakang kami. Rasulullah shalat dua raka’at kemudian pergi”[16]
b.
???? ????????? ???? ??????? ????? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ??????? ??? ?????????? ??????? ?????? ??????? ???? ????????? ???? ???? ???????? ????? ?????????? ???? ????? ??????? ????????? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ??????????? ???????? ???????? ????????????
“Dari Utbaan bin Maalik bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mendatanginya di rumahnya, lalu berkata: “Dimana dari rumahmu ini yang kamu suka aku shalat untuk mu”. Lalu aku tunjukkan satu tempat. Kemudian beliau bertakbir dan kami membuat shof dibelakangnya. Beliau shalat dua raka’at”[17]
Demikian juga Syaikh Shalih As Sadlaan me-rajih-kan pendapat kebolehannya dengan syarat, sebagaimana pernyataan beliau: “Yang benar dari yang telah kami sampaikan, nafilah boleh dilakukan dengan berjama’ah. Baik nafilahnya adalah sunnah rawatib atau sunnah mustahabbah atau tathawu’ mutlaq. Tapi dengan syarat tidak menjadikannya satu kebiasaan, tidak ditampakkan secara terang-terangan dan dilakukan karena satu sebab seperti diminta tuan rumah atau kerena berbarengan dalam menunaikan sunah, seperti tamu ketika bertamu, seandainya dia dan tuan rumahnya shalat witir berjama’ah, dengan syarat tidak timbul kebid’ahan atau perkara yang tidak dibolehkan oleh Syari’at. Jika terjadi satu dari yang telah disebutkan maka tidak disyari’atkan berjama’ah”.[18]
Kesimpulannya dibolehkan melaksanakan shalat sunnah berjama’ah selama tidak menimbulkan kebid’ahan atau pelanggaran syari’at dan dibutuhkan untuk itu. Wallahu a’lam.
Udzur Yang Memperbolehkan Tidak Menghadiri Shalat Berjama’ah
Diperbolehkan tidak menghadiri shalat berjama’ah dengan sebab-sebab tertentu. Diantara sebab-sebab tersebut:
1. Dingin dan hujan.
Berdasarkan hadits dari Nafi’, beliau berkata:
????? ????? ?????? ??????? ???????????? ??? ???????? ????? ?????? ??????? ????? ????? ????? ??????? ??? ?????????? ????? ????? ????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ????? ???????? ???????????? ????? ??????? ???????? ????? ?????? ???????? ??????? ????? ??????? ??? ??????????
“Sesungguhnya Ibnu Umar beradzan untuk shalat pada malam yang dingin dan berangin kencang, kemudian berkata: “Ala Shollu Fi Rihaalikum (Shalatlah kalian di rumah kalian)”. Lalu beliau berkata: “Sesuangguhnya Raasululloh memerintahkan muadzin jika malam dingin dan berhujan mengatakan: “Ala Shollu Firihaal”.(Mutafaqun Alaihi).
2. Sakit yang memberatkan penderitanya menghadiri jama’ah.
Berdasarkan firman Allah Ta’ala :
??????????? ?????????? ??? ???????? ???? ?????? ??????? ????????? ???????????? ???? ?????????? ?????????????? ??? ??????
“Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu“ (QS. Al Hajj 78)
dan Sabda beliau Shallallahu’alaihi Wasallam ketika sakit dan tidak bisa mengimami shalat beberapa hari:
??????? ????? ?????? ??????????? ?????????
“Perintahkanlah Abu Bakr agar mengimami manusia”[19]
Ibnu Hazm berkata: “Ini tidak diperselisihkan”[20]
3. Kondisi tidak aman yang dapat membahayakan diri, harta dan kehormatannya.
Berdasarkan firman Allah Ta’ala :
??? ????????? ????? ??????? ?????? ?????????
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS. Al Baqarah 286(
dan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam :
???? ?????? ?????????? ?????? ???????? ????? ??????? ???? ?????? ???? ??????
“Barang siapa yang mendengar adzan lalu tidak datang maka tidak ada shalat baginya kecuali karena udzur”[21]
Dalam riwayat Al Baihaqi ada tambahan tafsir udzur disini dengan sakit atau rasa takut (situasi tidak aman). [22]
4. Saat makanan telah dihidangkan dan menahan hajat kecil atau besar.
Berdasarkan hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:
??? ??????? ?????????? ?????????? ????? ???? ??????????? ??????????????
“Tidak boleh shalat saat makanan dihidangkan dan tidak pula ketika menahan buang hajat kecil dan besar”[23]
5. Ketiduran
Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam :
??????? ?????? ??? ????????? ????????? ???????? ???????????? ????? ???? ???? ??????? ?????????? ?????? ??????? ?????? ???????????????????? ?????? ?????? ?????? ?????????????? ????? ?????????? ?????
“Bukanlah ketiduran tafrith (tercela), akan tetapi tafrith hanya pada orang yang tidak shalat sampai datang waktu shalat yang lainnya. Barang siapa yang berbuat demikian maka hendaklah shalat ketika sadar” [24]
Demikianlah sebagian perkara yang penting yang berhubungan dengan shalat jama’ah. Semoga bermanfaat.
Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.
Artikel UstadzKholid.Com
[2] Al Ifshah An Ma’aanish Shihaah, 1/155, dinukil dari Shalatul Jam’ah karya Prof. DR. Shalih bin Ghaanim Assadlaan hal 47. lihat juga pernyataan kesepakatan ini dalam Raudhatun Nadiyah karya Shidiq Hasan Khan, 1/308.
[3] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Al Jum’ah, Bab Ma Ja’a fil Witri, no 937
[4] Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya kitab Al Masaajid wa Mawaadhi’ Shalat, bab Jawaazu Al Jama’ah fin Nafilah wash Shalat Ala Hashiir Wa Khamrah no. 1056.
[5] Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunan-nya, kitab Ash Shalat bab Fi Fadhli Shalatul Jama’ah no.467, An-Nasaa’i dalam sunannya kitab Al Imamah bab Al jama’ah idza kaana Itsnaini no.834, Ahmad dalam Musnad-nya no.20312 dan Al Haakim dalam Mustadrak-nya 3/269. Hadits ini di-shahih-kan Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya, 2/366-367, no. 1477.
[6] Diriwayatkan oleh imam Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Al Maghaaziy no. 3963.
[7] Diriwayatkan oleh imam Bukhari dalam Shahih-nya
[8] Lihat Majmu’ Fatawa, 23/331.
[9] Lihat Shalatul Jama’ah hal 50. tentang tarjih mereka ini dapat dilihat dalam kitab Adaab Al Masyi Ila Shalat hal 29 dan Al Mukhtaraat Al Jaliyah Fil Masaail Al Fiqhiyah (dalam Al Majmu’ah Al Kaamilah Li Mualafat Syeikh Abdurrahman bin Naashir Assa’diy, 2/109).
[10] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya kitab Mawaaqitus Shalat bab Man Adraka Minas Shalat Rakaat no.546 dan Muslim dalam Shahih-nya kitab Al Masaajid wa Mawaadhi’ Shalat, Bab Man Adraka Minas Shalat Rakaat Faqad Adraaka Shalat no. 954
[11] Diriwayatkan oleh An Nasaa’i dalam Sunan-nya kitab Al Mawaaqit Bab Man Adraka Rak’atan Minas Shalat no. 554, Ibnu Maajah dalam Sunan-nya, kitab Iqamatush Shalat Was Sunnah Fiha, bab Ma Ja’a Fiman Adraka Minal Jum’at Rak’atan no.1113 dan Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya 3/173.
[12] Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam sunannya kitab Ash Shalat Bab Fi Rajuli Yudrikul Imam Sajidan Kaifa Yasna’ no. 759
[13] Lihat Shalatul Jama’ah hal 51.
[14] Majmu’ Fatawa, 23/331-332 dengan sedikit pemotongan.
[15] Diringkas dari Shalatul Jama’ah, karya Syaikh Shalih As Sadlaan hal 74-78 dengan beberapa perubahan.
[16] Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahih-nya kitab Al Masaajid wa Mawaadhi’ Shalat bab Jawaazu Al Jama’ah Fin Nafilah was Shalat Ala Hashiir wa Khomrah no. 1053
[17] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya kitab Ash Shalat bab Idza Dahola Baitan Haitsu Syaa no. 406.
[18] Shalatul Jama’ah hal 77-78.
[19] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya
[20] Al Muhalla, 4/351.
[21] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, kitab Al Masaajid wal Jama’ah, bab At Taghlidz fi At Takhalluf ‘Anil Jama’ah no. 785. hadits ini di-shahih-kan Al Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Maajah no. 631.
[22] Dibawakan oleh penulis kitab Shalat Jama’ah hal 199 dan dinisbatkan kepada Sunan Al Kubra Al Baihaqi, 1/185.
[23] Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya kitab Al Masaajid wa Mawaadhi Shalat bab Karahatus Shalat Bi Hadhratith Tho’aam no. 869.
[24] Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya kitab Al Masaajid wa Mawaadhi Shalat, bab Qadha’ Shalat Fawaait no. 1099.
Tidak ada tulisan terkait
4 Komentar
Mendaftar RSS Komentar?
Assalamu’alaykum warohmatullohi wabarokatuh,
Ustadz, ana pelanggan majalah As-Sunnah, Al-Mawaddah dan Qiblati (juga Elfata dan Kinan untuk anak ana )serta pendengar radio Rodja. Ana sudah mengikuti serial mengenai awal waktu Adzan Shubuh di majalah Qiblati, dari yang ana baca dimajalah tersebut dan sangat urgent ana sampaikan bahwa :
1. Mayoritas masjid-masjid di seluruh dunia melakukan adzan waktu masuk sholat Shubuh lebih cepat 20 – 30 menit dari terbitnya waktu fajar Shodiq ( Mesjidil Haram telah mengundurkan Adzan Shubuh 5 menit dan Iqomat Shubuh 20 menit kemudian sehingga Sholat Shubuh yang didirikan sudah sesuai dengan terbitnya waktu Fajar Shodiq ).
2. Setidaknya ada 5 waktu konversi waktu Adzan Shubuh : Pedoman Waktu Sholat Sepanjang Masa, Federasi Islam Amerika Utara, Rabitah Alam Islami, Universitas Ummul Quro dan Dinas Geologi Mesir, masing-masing berbeda hingga 30 menit.
3. Berdasarkan Fakta dan Pengamatan yang dilakukan Tim/Kru Qiblati di sejumlah tempat bahwa waktu waktu Adzan Shubuh konversi Federasi Islam Amerika Utara yang mendekati fakta, sedangkan jadwal Sholat yang lainnya lebih cepat 20 – 30 menit.
4. Ana juga mengikuti dikumandangkannya adzan Shubuh di Radio Rodja dan kemungkinan Radio Rodja mengikuti jadwal dari Pedoman Waktu Sholat Sepanjang Masa seperti umumnya media elektronik lainnya di seluruh Indonesia, sehingga apa yang telah dilakukan oleh radio Rodja dan media lainnya adalah suatu kekeliruan yang wajib segera diperbaiki.
5. Wallohu ‘alam.
Demikian maksud ana semoga bermanfaat, dan mohon tanggapan Ustadz karena hal ini menyangkut halal haram atau sah tidak sahnya Sholat atau shoum Romadhon. Atas perhatian ustadz ana ucapkan jazakumulloh khoiron katsiron.
Wassalamu’alaykum warohmatullohi wabarokatuh
PRIHAT RAMDHANI
shalat yang lebih afdol itu dimana ya ustad?
apa dimasjid atau dirumah sebelum hendak kemesjid!!!!!!!!
Assalamu’alaikum ustadz.
Saya mau bertanya tentang bacaan makmum dibelakang imam yg membaca dgn suara keras
assalamu’alaikum warohmatullah
tanggapan saudara prihat…,hendaklah bertaqwa kepada Allah..
pertanyaan antum ini..sudah banyak antum sampaikan dibanyak website…dengan redaksi yang di copy dan paste…semoga ini pertanyaan murni,bukan menyebarkan opini..apalagi menyebutkan nama sebuah lembaga (radio rodja)yang sudah antum nilai dan dijustifikasi sudah melakukan kekeliruan besar…,Allahu al Musta’aan.keadaan penuntut ilmu akhir zamankah ini,,????
Trackbacks / Pingbacks
show trackbacks