<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>UstadzKholid</title>
	<atom:link href="http://ustadzkholid.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzkholid.com</link>
	<description>Meniti Sunnah Menggapai Ukhuwah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 13 Jul 2010 04:59:03 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Saya Kerja Di Pabrik, Apakah Tetap Shalat Berjama&#8217;ah?</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/saya-kerja-di-pabrik-apakah-tetap-shalat-berjamaah/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/saya-kerja-di-pabrik-apakah-tetap-shalat-berjamaah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Jul 2010 16:49:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1655</guid>
		<description><![CDATA[Ustadz saya kerja di pabrik jadi tidak bisa istiqamah melaksanakan shalat berjamaah, tapi di luar jam kerja insya Allah bisa. Bagaimana solusinya ustadz?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ustadz saya kerja di pabrik jadi tidak bisa istiqamah melaksanakan shalat berjamaah, tapi di luar jam kerja insya Allah bisa. Bagaimana solusinya ustadz?</p>
<p style="text-align: right;"><em>Pendengar Radio SuaraQur&#8217;an<br />
2 Desember 2008</em></p>
<p><span id="more-1655"></span><br />
<strong>Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. menjawab:</strong><br />
Shalat berjamaah adalah perkara yang penting dalam kehidupan seorang muslim, tanpa tidak boleh ada upaya untuk meremehkan hal tersebut. Para ulama rahimahumullah mengatakan shalat berjamaah hukumnya wajib, bahkan ada yang lebih keras lagi bahwa shalat berjamaah adalah syarat sahnya shalat wajib. Oleh karena itu kami sarankan untuk tetap shalat berjamaah di masjid atau mushalla. Dan biasanya tempat kerja memiliki mushalla atau ruangan khusus yang dipakai untuk shalat berjamaah yang bisa digunakan untuk shalat bersama teman-teman anda.</p>
<p>Kecuali bila memang pekerjaan ini membuat anda tidak memungkinkan untuk meninggalkan ruangan kerja, seperti misalnya sebagai satpam. Atau bila pekerjaan anda memegang sebuah mesin atau bagian yang bila ditinggalkan oleh orang yang menunggunya akan berakibat fatal atau bahaya bagi kelangsungan pabrik. Jika begitu keadaannya kita katakan:</p>
<p style="text-align: center;">الضرورات تبيح المحضورات, و الضرورات تقدر بقدرها<br />
“Keadaan darurat membolehkan perkara yang dilarang, dan kebolehannya itu sebatas kadar daruratnya”</p>
<p><em>Wallahu Ta&#8217;ala A&#8217;lam</em>.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc<br />
Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.Com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/saya-kerja-di-pabrik-apakah-tetap-shalat-berjamaah/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/saya-kerja-di-pabrik-apakah-tetap-shalat-berjamaah/&amp;title=Saya+Kerja+Di+Pabrik%2C+Apakah+Tetap+Shalat+Berjama%27ah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/saya-kerja-di-pabrik-apakah-tetap-shalat-berjamaah/&amp;title=Saya+Kerja+Di+Pabrik%2C+Apakah+Tetap+Shalat+Berjama%27ah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/saya-kerja-di-pabrik-apakah-tetap-shalat-berjamaah/&amp;t=Saya+Kerja+Di+Pabrik%2C+Apakah+Tetap+Shalat+Berjama%27ah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/saya-kerja-di-pabrik-apakah-tetap-shalat-berjamaah/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Saya+Kerja+Di+Pabrik%2C+Apakah+Tetap+Shalat+Berjama%27ah%3F+-+http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/saya-kerja-di-pabrik-apakah-tetap-shalat-berjamaah/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/saya-kerja-di-pabrik-apakah-tetap-shalat-berjamaah/&amp;title=Saya+Kerja+Di+Pabrik%2C+Apakah+Tetap+Shalat+Berjama%27ah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/saya-kerja-di-pabrik-apakah-tetap-shalat-berjamaah/&amp;title=Saya+Kerja+Di+Pabrik%2C+Apakah+Tetap+Shalat+Berjama%27ah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Saya+Kerja+Di+Pabrik%2C+Apakah+Tetap+Shalat+Berjama%27ah%3F+-+http://b2l.me/9hcsk&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Saya+Kerja+Di+Pabrik%2C+Apakah+Tetap+Shalat+Berjama%27ah%3F&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/saya-kerja-di-pabrik-apakah-tetap-shalat-berjamaah/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Ustadz%20saya%20kerja%20di%20pabrik%20jadi%20tidak%20bisa%20istiqamah%20melaksanakan%20shalat%20berjamaah%2C%20tapi%20di%20luar%20jam%20kerja%20insya%20Allah%20bisa.%20Bagaimana%20solusinya%20ustadz%3F" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/saya-kerja-di-pabrik-apakah-tetap-shalat-berjamaah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peringatan Isra&#8217; Mi&#8217;raj</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/peringatan-isra-miraj/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/peringatan-isra-miraj/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jun 2010 14:39:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tri.subekti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Isra Mi'raj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=742</guid>
		<description><![CDATA[Apa itu Isra' Mi'raj dan bolehkan merayakan peringatan Isra Mi'raj?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p lang="en-US">Bulan Rajab, bulan yang dihormati manusia. Bulan ini termasuk bulan <em>haram</em> (<em>Asyhurul Hurum</em>). Banyak cara manusia menghormati bulan ini, ada yang menyembelih hewan, ada yang melakukan sholat khusus Rajab dan lain-lainnya.</p>
<p>Di  bulan ini juga, sebagian kaum muslimin memperingati satu peristiwa yang sangat luar biasa, peristiwa perjalanan Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dari Makkah ke Baitul Maqdis, kemudian ke <em>sidratul muntaha</em> menghadap Pencipta alam semesta dan Pemeliharanya. Itulah peristiwa Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj.</p>
<p>Peristiwa ini tidak akan dilupakan kaum muslimin, karena perintah sholat lima waktu sehari semalam diberikan oleh Allah pada saat Isra’ dan Mi’raj. Tiang agama ini tidak akan lepas dari peristiwa Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> .</p>
<p>Akan tetapi, haruskah peristiwa itu diperingati? Apakah peringatan Isra’ mi’raj yang dilakukan kaum ini merupakan hal yang baik ataukah satu hal yang merusak agama? Simaklah pembahasan kali ini, mudah-mudahan Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk memahaminya dan menerima kebenaran.<span id="more-742"></span></p>
<p><strong>Kapan Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj terjadi?</strong><br />
Ketika mendengar sebuah peristiwa besar, mestinya ada satu pertanyaan yang akan segera timbul dalam hati si pendengar yaitu masalah waktu terjadi. Begitu pula kaitannya dengannya peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> .</p>
<p lang="en-US">Kapan sebenarnya Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj terjadi, benarkah pada tanggal 27 Rajab atau tidak? Untuk  bisa memberikan jawaban yang benar, kita perlu melihat pendapat para ulama seputar masalah ini. Berikut kami nukilkan beberapa pendapat para ulama:</p>
<p><strong>Pertama:</strong> Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqaalaniy <em>Rahimahullah</em> <sup><a href="#sdfootnote1sym"><sup>1</sup></a></sup> berkata: &#8220;Para ulama berselisih tentang waktu Mi&#8217;raj. Ada yang mengatakan sebelum kenabian. Ini pendapat yang aneh, kecuali kalau dianggap terjadinya dalam mimpi. Kebanyakan para ulama berpendapat bahwa peristiwa itu terjadi setelah kenabian. Para ulama yang mengatakan peristiwa Isra’ dan Mi’raj terjadi setelah kenabian juga berselisih, diantara mereka ada yang mengatakan setahun sebelum hijrah. Ini pendapat Ibnu Sa&#8217;ad dan yang lainnya dan dirajihkan (dikuatkan) oleh Imam An Nawawiy dan Ibnu Hazm, bahkan Ibnu Hazm berlebihan dengan mengatakan  ijma&#8217; (menjadi kesepakatan para ulama’) dan itu terjadi pada bulan Rabiul Awal. Klaim ijma&#8217; ini tertolak, karena seputar hal itu ada perselisihan yang banyak lebih dari sepuluh pendapat.&#8221;<sup><a href="#sdfootnote2sym"><sup>2</sup></a></sup></p>
<p lang="en-US">Kemudian beliau menyebutkan pendapat para ulama tersebut satu persatu.</p>
<ul>
<li>Pendapat pertama mengatakan: &#8220;setahun sebelum hijroh, tepatnya bulan Rabi&#8217;ul Awal&#8221;. Ini pendapat Ibnu Sa&#8217;ad dan yang lainnya dan dirajihkan An Nawawiy</li>
<li>
<p lang="en-US">Kedua mengatakan: &#8220;delapan bulan sebelum hijroh, tepatnya bulan 	Rajab&#8221;. Ini isyarat perkataan Ibnu Hazm, ketika berkata: &#8220;Terjadi di bulan rajab tahun 12 kenabian&#8221;.</p>
</li>
<li>Ketiga mengatakan: &#8220;enam bulan sebelum hijroh, tepatnya bulan Romadhon&#8221;. Ini disampaikan oleh Abu Ar Rabie&#8217; bin Saalim.</li>
<li>Keempat mengatakan: &#8220;sebelas bulan sebelum hijroh tepatnya di bulan	Robiul Akhir&#8221;. Ini pendapat Ibrohim bin Ishaq Al Harbiy, ketika berkata: &#8220;Terjadi pada bulan Rabiul Akhir, setahun sebelum 	hijroh&#8221;. Pendapat ini dirojihkan Ibnul Munayyir dalam syarah As Siirah karya Ibnu Abdil Barr.</li>
<li>Kelima mengatakan: &#8220;setahun dua bulan sebelum hijroh&#8221;. Pendapat ini disampaikan Ibnu Abdilbar.</li>
<li>Keenam mengatakan: &#8220;setahun tiga bulan sebelum hijroh&#8221;. Pendapat 	ini disampaikan oleh Ibnu Faaris.</li>
<li>
<p lang="en-US">Ketujuh mengatakan: &#8220;setahun lima bulan sebelum hijroh&#8221;. Ini pendapat As Suddiy.</p>
</li>
<li>Kedelapan 	mengatakan: &#8220;delapan belas bulan sebelum hijroh, tepatnya dibulan Ramadhan&#8221;. Pendapat ini disampaikan Ibnu Sa&#8217;ad, Ibnu Abi Subrah dan Ibnu Abdilbar.</li>
<li>
<p lang="en-US">Kesembilan mengatakan: &#8221; Bulan Rajab tiga tahun sebelum hijroh&#8221;. Pendapat ini disampaikan Ibnul Atsir</p>
<p lang="en-US">Kesepuluh mengatakan: &#8220;lima tahun sebelum hijroh&#8221;. Ini pendapat imam	Az Zuhriy dan dirojihkan Al Qadhi &#8216;Iyaadh. <sup><a href="#sdfootnote3sym"><sup>3</sup></a></sup></p>
</li>
</ul>
<p>Oleh karena banyaknya perbedaan pendapat dalam masalah ini, maka benarlah apa yang dikatakan Ibnu Taimiyah <em>Rahimahullah</em> , bahwa tidak ada dalil kuat yang menunjukkan bulannya dan tanggalnya. Bahkan pemberitaannya terputus serta massih diperselisihkan, tidak ada yang dapat memastikannya.<sup><a href="#sdfootnote4sym"><sup>4</sup></a></sup></p>
<p>Bahkan Imam Abu Syaamah mengatakan, &#8220;Dan para ahli dongeng menyebutkan Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj terjadi di bulan Rajab. Menurut ahli ta&#8217;dil dan jarh (Ulama Hadits) itu adalah kedustaan&#8221;.<sup> </sup><sup><a href="#sdfootnote5sym">5</a></sup></p>
<p><strong>Hukum Memperingati Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj.</strong><br />
Mungkinkah Islam agama yang sempurna ini mensyariatkan sesuatu yang belum jelas ketentuan waktunya?  Cukuplah ini sebagai indikator kuat akan bid’ahnya peringatan Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj yang banyak diadakan kaum muslimin. Apalagi kita telah tahu bahwa para ulama salaf telah sepakat (konsensus) menggolongkan peringatan yang dilakukan berulang-ulang (musim) yang tidak ada syariatnya termasuk kebidahan yang dilarang Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> . berdalil dengan sabda beliau:</p>
<p lang="en-US">وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ</p>
<p lang="en-US"><em>Hati-hatilah dari hal yang baru, karena setiap  hal yang baru  itu bid’ah dan setiap kebidahan itu sesat. </em>(Riwayat At Tirmidziy dan Ibnu Majah)</p>
<p lang="en-US"><em>dan</em></p>
<p lang="en-US"><em>.</em> مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ</p>
<p lang="en-US"><em>Siapa yang membuat-buat dalam perkaraku (agamaku) ini, sesuatu yang bukan darinya maka dia tertolak. </em>(Riwayat Bukhari dan Muslim)</p>
<p lang="en-US">serta:</p>
<p lang="en-US">مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ</p>
<p><em>Siapa yang beramal satu amalan yang tidak ada perintahku padanya mak dia tertolak. </em>(Riwayat Muslim)<em>. </em></p>
<p lang="en-US">Peringatan Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj adalah perkara baru yang tidak pernah dilakukan para sahabat dan tabiin maupun orang-orang alim setelah mereka dari para salaf umat ini. Padahal mereka adalah orang yang paling semangat mencari kebaikan dan paling semangat mengamalkan amal sholeh.<sup><a href="#sdfootnote6sym"><sup>6</sup></a></sup></p>
<p lang="en-US">Untuk itu berkata Syeikhil Islam Ibnu Taimiyah ketika beliau ditanya tentang keutamaan malam Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj dan malam qadar, &#8220;… Dan tidak diketahui seorangpun dari kaum muslimin menjadikan malam Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj memiliki keutaman atas selainnya, apalagi diatas malam qadar. Demikian juga para sahabat g dan orang yang mengikuti mereka dengan baik tidak sengaja mengkhususkan satu amalan di malam Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj dan mereka juga tidak memperingatinya, oleh karena itu tidak diketahui kapan malam tersebut. Peristiwa isra&#8217; merupakan keutamaan beliau <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> yang besar, namun demikian, tidak perintahkan mengkhususkan (mengistimewakan) malam tersebut dan tempat kejadian tersebut dengan melakukan satu ibadah syar&#8217;i. Bahkan gua Hiro’ yang merupakan tempat turun wahyu pertama kali dan merupakan tempat pilihan Beliau <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> sebelum diutus menjadi Nabi, tidak pernah sengaja di kunjungi oleh beliau <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> ataupun salah seorang sahabatnya selama berada diMakkah. Tidak pula mengkhususkan (mengistimewakan) hari turunnya wahyu dengan satu ibadah tertentu atau yang lainnya. Tidak pula mengkhususkan tempat pertama kali turun wahyu dengan sesuatu. Maka barang siapa mengkhususkan (mengistimewakan) tempat-tempat dan waktu-waktu yang diinginkan dengan melakukan satu ibadah tertentu karena termotivasi oleh peristiwa diatas atau yang sejenisnya, maka dia sama dengan ahli kitab yang telah menjadikan hari kelahiran Isa q musim dan ibadah seperti hari natal dan lain sebagainya&#8221;<sup><a href="#sdfootnote7sym"><sup>7</sup></a></sup></p>
<p lang="en-US">Untuk lebih memperjelas masalah hukum peringatan Isra’ Mi’raj, kami sampaikan fatwa beberapa ulama tentang hukum peringatan ini.</p>
<p><strong>Pertama</strong>: An Nahaas <em>rahimahullah</em> <sup><a href="#sdfootnote8sym"><sup>8</sup></a></sup></p>
<p>Beliau berkata, &#8220;Peringatan malam Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj adalah bid’ah besar dalam agama dan kebid’ahan yang dibuat oleh teman-teman Syaithon.&#8221;<sup><a href="#sdfootnote9sym"><sup>9</sup></a></sup></p>
<p><strong>Kedua</strong>: Ibnul Haaj.<sup><a href="#sdfootnote10sym"><sup>10</sup></a></sup></p>
<p>Beliau berkata, &#8220;Diantara kebid’ahan yang mereka buat  pada bulan Rajab adalah malam dua puluh tujuh yang merupakan malam Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj &#8220;<sup><a href="#sdfootnote11sym"><sup>11</sup></a></sup></p>
<p><strong>Ketiga</strong>:  Fatwa Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy Syaikh <em>rahimahullah</em> <sup><a href="#sdfootnote12sym"><sup>12</sup></a></sup> dalam jawaban beliau atas undangan yang disampaikan kepada Robithoh Alam Islamiy untuk menghadiri salah satu peringatan Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj setelah beliau ditanya tentang hal itu. Lalu beliau menjawab,&#8221;Ini tidak disyariatkan, dengan berdasarkan Al-Qur&#8217;an, As-sunnah, Istishhab dan akal&#8221;.</p>
<p><strong>Dalil Al Qur&#8217;an</strong></p>
<p>Firman Allah:</p>
<p><strong>الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا</strong></p>
<p><em>Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridha Islam itu jadi agamamu.</em> (QS. Al Maidah : 3)</p>
<p lang="en-US">dan firmanNya:</p>
<p><strong>يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِى اْلأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ</strong></p>
<p lang="en-US"><em>Hai orang-orang yang beriman, ta&#8217;atilah Allah dan ta&#8217;atilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alquran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. </em>(QS. An Nisa&#8217;  59)</p>
<p lang="en-US"><em>kembali kepada Allah</em> maksudnya kembali kepada Al Quran, <em>kembali kepada Rasulullah</em> <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> maksudnya merujuk ke Sunnahnya setelah beliau meninggal dunia.</p>
<p lang="en-US">Demikian juga firmanNya:</p>
<p><strong>قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللهُ غَفُورُُ رَّحِيمُُ </strong></p>
<p lang="en-US"><em>Katakanlah (hai Muhammad), &#8220;Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu&#8221;. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. </em>(QS. Al Imran: 31)</p>
<p lang="en-US">dan firmanNya:</p>
<p><strong>فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ</strong></p>
<p lang="en-US"><em>maka orang-orang yang menyalahi perintah-Nya hendaklah mereka takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. </em>(QS. An Nur: 63)</p>
<p lang="en-US"><strong>Dalil Sunnah</strong></p>
<p lang="en-US"><strong>Pertama</strong> : Hadits shahih dalam shohihain dari Aisyah z bahwa Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda</p>
<p lang="en-US">مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ</p>
<p lang="en-US"><em>Siapa yang membuat-buat dalam perkaraku (agamaku) ini, sesuatu yang bukan darinya maka dia tertolak. </em>(Riwayat Bukhari dan Muslim)<em>,</em></p>
<p lang="en-US">dan hadits shahih dalam Kitab Shahih Muslim</p>
<p lang="en-US">مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ</p>
<p lang="en-US"><em>Barangsiapa yang melakukan satu amalan yang tidak kami perintahkan maka dia tertolak </em>(Riwayat Muslim)<em>. </em></p>
<p lang="en-US">Kedua: Hadits riwayat Ibnu Majah, At Tirmidziy dan dianggap shohih oleh beliau serta diriwayatkan pula oleh  Ibnu Hibban dalam shohihnya dari Irbaadh bin Saariyah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> , beliau berkata, “Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda</p>
<p lang="en-US">وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ</p>
<p lang="en-US"><em>Hindarilah </em><em>hal-hal yang baru, karena setiap  hal yang baru  itu bidah.</em></p>
<p lang="en-US">Ketiga: Riwayat Ahmad, Al bazaar dari Ghadhiif bahwa Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda</p>
<p lang="en-US">مَا أَحدَثَ قَوْمٌ بِدْعَةً إِلاَّ رَفَعَ مِثْلَهَا مِنَ السُّنَّةِ</p>
<p lang="en-US"><em>Tidaklah satu kaum berbuat bid&#8217;ah kecuali dihilangkan sepertinya dari Sunnah.</em> Dan diriwayatkan oleh Ath Thabraaniy akan tetapi dengan lafadz:</p>
<p lang="en-US">مَا مِنْ أُمَّةٍ ابْتَدَعَتْ بَعْدَ نَبِيِّهَا إِلاَّ أَضَاعَتْ مِثْلَهَا مِنَ السُّنَّةِ</p>
<p lang="en-US"><em>Tidak ada umat yang melakukan kebidahan setelah nabinya kecuali dihilangkan sunnah seukuran bid’ahnya.</em></p>
<p lang="en-US">Keempat: Riwayat Ibnu Majah, Ibnu Abi Ashim dari Anas bin Malik <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> beliau berkata, “Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> telah bersabda</p>
<p lang="en-US">أَبَى اللهُ أَنْ يَقْبَلَ عَمَلَ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعَ بِدْعَتَهُ</p>
<p lang="en-US"><em>Allah tidak akan menerima amalan pelaku bid&#8217;ah sampai ia meninggalkan perbuatan bid’ahnya.</em></p>
<p lang="en-US">Dan dalam riwayat Ath Thabraniy dengan lafadz</p>
<p lang="en-US">إِنَّ اللهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعَ بِدْعَتَهُ</p>
<p lang="en-US"><em>Sesungguhnya Allah menutup taubat dari semua pelaku bid&#8217;ah sampai ia meninggalkan perbuatan bid’ahnya.</em></p>
<p lang="en-US"><strong>Dalil Istishhaab</strong></p>
<p lang="en-US">Hal ini tidak ada dasar perintahnya. Pada dasarnya, <em>ibadah itu tauqifiyah</em>, sehingga tidak boleh kita mengatakan, &#8220;Ibadah ini disyariatkan” kecuali ada dalil dari Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijma&#8217;, dan tidak boleh pula mengatakan, &#8220;Ini diperbolehkan karena termasuk dalam maslahat mursalah, istihsaan (anggapan baik), qiyas (analogi) atau ijtihad” karena permasalahan aqidah, Ibadah dan hal-hal yang telah ada ukurannya (dalam Syariat) seperti pembagian warisan dan pidana adalah perkara yang tidak ada tempat bagi ijtihad atau sejenisnya.</p>
<p lang="en-US"><strong>Dalil Akal</strong></p>
<p>Jika perayaan Isra’ dan Mi’raj bertujuan untuk mengagungkan peristiwa Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj itu sendiri, kita katakan, &#8220;seandainya hal ini disyari&#8217;atkan, tentunya Beliau <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> merupakan orang pertama yang melaksanakannya&#8221;.</p>
<p>Jika perayaan itu untuk mengagungkan Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dan mengenang perjuangan Beliau <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> seperti pada maulid Nabi, maka tentulah Abu Bakr <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> adalah orang yang pertama melakukannya , lalu Umar, Utsman, Ali, kemudian orang-orang setelah mereka. Disusul kemudian oleh para tabiin selanjut para imam. Padahal tidak ada seorangpun dari mereka yang diketahui melakukan hal tersebut meskipun sedikit. Maka cukuplah bagi kita untuk melakukan apa yang menurut mereka cukup.&#8221;<sup><a href="#sdfootnote13sym"><sup>13</sup></a></sup></p>
<p>Beliaupun berfatwa di dalam <em>fatawa wa rasail</em> beliau, &#8220;Peringatan Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj adalah perkara batil dan satu kebidahan. Ini termasuk sikap meniru-niru orang yahudi dan nashrani dalam mengagungkan hari yang tidak diagungkan syari&#8217;at. Pemilik kedudukan tinggi Rasulullah  Muhammad <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> lah yang menetapkan syariat. Dialah yang menjelaskan halal dan harom. Sementara para <em>khulafa&#8217; rasyidin</em> dan para imam dari para sahabat dan tabiin tidak pernah diketahui melakukan peringatan tersebut.&#8221; Kemudian berkata lagi, &#8220;Maksudnya perayaan peringatan Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj adalah bid’ah. Maka tidak boleh bekerjasama dalam hal tersebut.&#8221;<sup><a href="#sdfootnote14sym"><sup>14</sup></a></sup></p>
<p><strong>Keempat</strong>: Fatwa Syaikh Abdul Aziz Ibnu Baaz <em>rahimahullah</em> <sup><a href="#sdfootnote15sym"><sup>15</sup></a></sup>:</p>
<p>&#8220;Tidak disangsikan lagi, Isra&#8217; mi&#8217;roj merupakan tanda kebesaran Allah Ta&#8217;ala yang menunjukkan kebenaran Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dan ketinggian derajat Beliau disisi Allah Ta&#8217;ala . Sebagaimana Isra’ dan Mi’raj termasuk tanda-tanda keagungan Allah dan ketinggianNya atas seluruh makhluk. Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ اْلأَقْصَا الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَآ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ</p>
<p lang="en-US"><em>Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat</em>. (Al Isra&#8217; : 1)</p>
<p lang="en-US">Dan telah telah diriwayatkan secara <em>mutawatir</em> dari Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bahwa Beliau diangkat ke langit dan dibukakan pintu-pintunya sampai Beliau melewati langit yang ketujuh. Lalu RobNya berbicara kepadanya dengan sesuatu yang dikehendakinya dan diwajibkan padanya sholat lima waktu. Allah Ta&#8217;ala pertama kali mewajibkan padanya lima puluh sholat, lalu senantiasa Nabi Muhammad <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> meminta keringanan sampai dijadikan lima sholat. Itulah lima sholat yang diwajibkan tapi pahalanya lima puluh, karena satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Allah k zat yang harus dipuji dan disyukuri atas segala nikmatNya.</p>
<p lang="en-US">Tidak ada dalam hadits yang shohih penentuan malam terjadinya Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj. Semua hadits yang menjelaskan penentuan malamnya menurut ulama hadits adalah hadits yang tidak shohih dari Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>. Allah Ta&#8217;ala memiliki hikmah dalam melupakan manusia tentangnya. Seandainya ada penentuannya yang absahpun kaum muslimin tidak boleh mengkhususkannya dengan satu ibadah tertentu, tidak boleh mereka merayakan peringatannya, karena Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dan para sahabatnya tidak memperingatinya dan tidak pula mengkhususkan ibadah tertentu padanya. Seandainya peringatannya adalah perkara yang disyariatkan, tentunya Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> telah menjelaskannya kepada umatnya, baik dengan ucapan atau perbuatan Beliau. Seandainya pernah dilakukan niscaya akan iketahui serta akan dinukilkan oleh para sahabatnya g kepada kita. Karena mereka telah menyampaikan segala sesuatu yang dibutuhkan umat dan tidak melalaikan urusan agama ini sedikitpun, bahkan mereka berlomba-lomba dalam melaksanakan kebaikan.</p>
<p lang="en-US">Maka seandainya peringatan malam Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj disyariatkan niscaya mereka orang pertama yang melakukannya, apalagi Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> adalah orang yang sering menasehati umatnya. Beliau telah menyampaikan risalah agama sebaik-baiknya serta telah menunaikan amanah yang diembannya. Maka seandainya mengagungkan dan memperingati malam tersebut termasuk ajaran agama, maka tentunya Beliau tidak melalaikan dan menyembunyikannya.</p>
<p lang="en-US">Karena Nabi tidak mengagungkan dan memperingati malam tersebut, maka jelaslah peringatan dan pengagungan malam tersebut bukan termasuk ajaran Islam.</p>
<p lang="en-US">Begitulah Allah Ta&#8217;ala telah menyempurnakan agama Islam dan menyempurnakan nikmat untuk umatnya serta mengingkari orang yang menambah-nambah syariat Islam dengan sesuatu yang tidak diizinkanNya. Allah berfirman dalam Al Qur&#8217;an</p>
<p><strong>الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا</strong></p>
<p><em>Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu. (QS. </em>Al Maidah : 3)</p>
<p lang="en-US">Demikian juga dalam firmanNya</p>
<p>أَمْ لَهُمْ شُرَكَآؤُاْ شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَالَمْ يَأْذَن بِهِ اللهُ وَلَوْلاَ كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِىَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمُُ</p>
<p><em>Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan (selain Allah) yang mensyari&#8217;atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan.Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih. (QS. </em>Asy Syura :21)</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dalam hadits-hadits yang shohih telah memperingatkan bahaya bid’ah dan menjelaskan bahwa bid’ah itu sesat. Untuk memperingatkan umat ini dari besarnya bahaya bidah dan untuk menghindarkan mereka dari membuat bid’ah. Kami akan sampaikan beberapa hadits, diantaranya hadits yang shohih dalam shohihain dari Aisyah x dari Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> , Beliau bersabda</p>
<p lang="en-US">مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ</p>
<p lang="en-US"><em>Siapa yang membuat-buat dalam perkaraku (agamaku) ini, sesuatu yang bukan darinya maka dia tertolak. (Riwayat Bukhari dan Muslim)</em></p>
<p lang="en-US">dan dalam riwayat Muslim</p>
<p lang="en-US">مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ</p>
<p lang="en-US"><em>Siapa yang beramal satu amalan yang tidak ada perintahku padanya mak dia tertolak. (Riwayat Muslim). </em></p>
<p lang="en-US">Dan dalam shohih Muslim dari Jabir bin Abdillah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> beliau berkata: &#8220;Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> berkhutbah pada hari jum&#8217;at dan mengatakan:</p>
<p lang="en-US">أَمَا بَعْدُ فَإِِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللَّهِ وَ خَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ</p>
<p lang="en-US">A<em>ma Ba&#8217;du; sesungguhnya sebaik ucapan adalah kitabullah dan sebaik contoh adalah contoh petunjuk Muhammad </em><em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> , sejelek-jeleknya perkara adalah perkara yang dibuat-buat, dan setiap kebidahan adalah sesat.</p>
<p lang="en-US">Dalam sunan dari Al Irbaadh bin Saariyah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> , beliau berkata</p>
<p lang="en-US">وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظَةً بَلِيغَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ وَذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَأَوْصِنَا قَالَ أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِيْ تَمَسَّكُوْابِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ</p>
<p lang="en-US"><em>Rasulullah </em><em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> telah menasehati kami dengan nasehat yang mendalam, hati bergetar dan mata meneteskan airmata. Lalu kami berkata: &#8220;Wahai Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> seakan-akan nasehat perpisahan, maka berilah kami wasiat!. Lalu beliau berkata: &#8220;aku wasiatkan kalian untuk bertaqwa kepada Allah ,patuh dan taat, walaupun kalian dipimpin seorang budak, karena siapa yang hidup dari kalian, maka akan melihat perselisihan yang banyak. Maka kalian harus berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnahnya para khulafa rasyidin yang memberi petunjuk setelahku. Berpeganglah kalian dan gigitlah dia dengan gigi graham kalian serta hati-hatilah dari hal yang baru, karenasetiap  hal yang baru  itu bidah dan setiap kebidahan itu sesat. (Riwayat At Tirmidziy dan Ibnu Majah).</p>
<p lang="en-US">Dan banyak hadits yang lain yang semakna dengan ini.</p>
<p lang="en-US">Demikian juga peringatan dan ancaman dari perbuatan bid’ah telah ada dari sahabat Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dan para salaf sholih setelah mereka. Karena perbuatan bid’ah adalah penambahan dalam agama dan syariat yang tidak diizinkan Allah Ta&#8217;ala serta meniru-niru kaum Yahudi dan Nashroni musuh Allah. Melakukan bid’ah berarti pelecehan terhadap agama Islam dan menuduh Islam tidak sempurna. Dengan demikian jelas menimbulkan kerusakan dan kemungkaran yang besar, karena Allah telah menyatakan kesempurnaan agama ini  melalui firmanNya</p>
<p>الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ</p>
<p><em>Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu</em> (QS. Al Maidah 3)</p>
<p lang="en-US">Perbuatan bid’ah juga secara terang-terangan menyelisihi hadits-hadits Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> yang memperingatkan dan mengancam kebid’ahan.</p>
<p>Mudah-mudahan apa yang telah kami jelaskan dari dalil-dali tersebut cukup memuaskan pencari kebenaran dalam mengingkari dan mengingatkan kebidahan ini- yaitu peringatan  malam Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj -. Sesungguhnya dia bukanlah dari syariat Islam sedikitpun.<sup><a href="#sdfootnote16sym"><sup>16</sup></a></sup></p>
<p>Demikianlah keterangan para ulama seputar hukum merayakan peringatan Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj. Keterangan yang cukup jelas dan gamblang disertai dalil-dalil yang kuat bagi pencari kebenaran. Kemudian masihkah kita melakukannya, padahal peringatan tersebut satu kebidahan dan bukan termasuk ajaran Islam. Bahkan itu merupakan penambahan syariat dalam Islam dan menyerupai kelakuan ahli kitab yang telah membuat bid’ah dalam agama mereka, sehingga menjadi rusak dan hancur.</p>
<p lang="en-US">Sudahkan kita merenungkan bahaya kebidahan terhadap islam?</p>
<p>Cukuplah peringatan Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> , para sahabat dan ulama Islam sebagai peringatan bagi kita untuk sadar dan bangkit memperbaiki kondisi kaum muslimin demi mencapai kejayaan Islam.</p>
<p>Mudah-mudahan Allah meudahkan kita untuk memahami tulisan ini dan mudah-mudahan Allah menolong kita dalam menjalankan ketaatan kepadaNya dan untuk meninggalkan perayaan yang telah menghabiskan harta dan tenaga yang banyak akan tetapi justru merusak agama dan amalan kita semua.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.</p>
<p>Artikel UstadzKholid.Com</p>
<p lang="en-US">
<p lang="en-US"><span style="text-decoration: underline;">Catatan Kaki</span></p>
<p><a href="#sdfootnote1anc">1</a> Beliau bernama Ahmad bin Ali bin Muhammad Al 	Kinaaniy Al Asqaalaniy, seorang ulama besar dalam hadits dan fiqih, 	pengarang kitab <em>Fathul Bariy Syarah Shahih Bukhari</em>, meninggal tahun 	852 H.</p>
<p lang="en-US"><a href="#sdfootnote2anc">2</a> Ibnu Hajar, <em>Fathul Bari</em> 7/203.</p>
<p lang="en-US"><a href="#sdfootnote3anc">3</a> ibid</p>
<p lang="en-US"><a href="#sdfootnote4anc">4</a> lihat <em>Zaadul Ma&#8217;aad</em> 1/57.</p>
<p lang="en-US"><a href="#sdfootnote5anc">5</a> <em>Al Baa&#8217;its</em>, hal 171.</p>
<p lang="en-US"><a href="#sdfootnote6anc">6</a> Lihat <em>Al Bida&#8217; Al Hauliyah</em> hal. 274.</p>
<p lang="en-US"><a href="#sdfootnote7anc">7</a> Dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam kitab <em>Zaadul Ma&#8217;ad</em> 1/58-59.</p>
<p lang="en-US"><a href="#sdfootnote8anc">8</a> Beliau bernama Abu Zakariya Ahmad bin Ibrahim bin Muhammad 	Ad Dimasyqiy, dikenal dengan Ibnu Nahaas, seorang ulama besar yang 	meninggal dalam perang menghadapi Perancis tahun 814 H.</p>
<p lang="en-US"><a href="#sdfootnote9anc">9</a> lihat <em>Al Bida&#8217; Al Hauliyah</em> hal 279.</p>
<p lang="en-US"><a href="#sdfootnote10anc">10</a> Beliau bernama Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Al Haaj, Abu 	Abdillah Al &#8220;Abdariy Al Faasiy, meninggal tahun 737 H.</p>
<p lang="en-US"><a href="#sdfootnote11anc">11</a> lihat <em>Al bida&#8217; Al Hauliyah</em> hal. 275, menukil dari <em>Al Madkhal</em> 1/.294.</p>
<p><a href="#sdfootnote12anc">12</a> Beliau bernama Muhammad bin Ibrahim bin Abdillathif bin Abdirrohman 	bin Hasan bin Muhammad bin Abdil Wahaab, dilahirkan di Riyadh tahun 	1311 H dan meninggal di bulan Ramadhan 1398 H. Beliau pernah 	menjabat sebagai ketua <em>Rabithah Alam Islamiy</em>, Rektor Jami&#8217;ah 	Islamiyah dan Mufti agung kerajaan Saudi Arabia sebelum Syaikh Ibnu 	Baaz.</p>
<p lang="en-US"><a href="#sdfootnote13anc">13</a> Lihat <em>Al Bida&#8217; Al Hauliyah</em> hal. 276-279 menukil dari <em>Fatawa wa 	Rasail Asy Syaikh Muhammad bin Ibrahim</em> 3/97-100.</p>
<p lang="en-US"><a href="#sdfootnote14anc">14</a> Ibid 3/103.</p>
<p lang="en-US"><a href="#sdfootnote15anc">15</a> Beliau bernama Abdulaziz bin Abdillah bin Abdirrahman bin Baaz, 	dilahirkan tahun 1330 H di Riyadh. Beliau seorang alim besar abad 	ini dan menjadi mufti agung Kerajaan Saudi Arabia menggantikan 	Syeikh Muhammad bin Ibrahim Ali Asy Syaikh sampai meninggal tahun 	1420 H.</p>
<p lang="en-US"><a href="#sdfootnote16anc">16</a> Lihat catatan kaki kitab <em>Fatawa Lajnah Daimah</em> 3/64-66.</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/peringatan-isra-miraj/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/peringatan-isra-miraj/&amp;title=Peringatan+Isra%27+Mi%27raj" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/peringatan-isra-miraj/&amp;title=Peringatan+Isra%27+Mi%27raj" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/peringatan-isra-miraj/&amp;t=Peringatan+Isra%27+Mi%27raj" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/peringatan-isra-miraj/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Peringatan+Isra%27+Mi%27raj+-+http://ustadzkholid.com/fiqih/peringatan-isra-miraj/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/peringatan-isra-miraj/&amp;title=Peringatan+Isra%27+Mi%27raj" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/peringatan-isra-miraj/&amp;title=Peringatan+Isra%27+Mi%27raj" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Peringatan+Isra%27+Mi%27raj+-+File: /data/app/webapp/functions.php<br />Line: 7<br />Message: Too many connections&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Peringatan+Isra%27+Mi%27raj&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/peringatan-isra-miraj/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Apa%20itu%20Isra%27%20Mi%27raj%20dan%20bolehkan%20merayakan%20peringatan%20Isra%20Mi%27raj%3F" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/peringatan-isra-miraj/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Isbal Tanpa Bermaksud Sombong</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/isbal-tanpa-bermaksud-sombong/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/isbal-tanpa-bermaksud-sombong/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jun 2010 09:32:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[isbal]]></category>
		<category><![CDATA[sombong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1497</guid>
		<description><![CDATA[Ana mau tanya Ustadz Apakah berdosa pelaku isbal itu...! Ana kekantor memakai celana panjang dibawah mata kaki..tapi ana tidak ada maksud untuk berlaku sombong...! mohon penjelasan. Trimakasih]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ana mau tanya Ustadz Apakah berdosa pelaku isbal itu&#8230;! Ana kekantor memakai celana panjang dibawah mata kaki..tapi ana tidak ada maksud untuk berlaku sombong&#8230;! mohon penjelasan. Trimakasih</p>
<p style="text-align: right;"><em>Syaiful<br />
Email: syaiful_uxxx@plasa.com</em></p>
<p><span id="more-1497"></span><br />
<strong>Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal menjawab:</strong></p>
<p>Mungkin sebagian orang sering menemukan di sekitarnya orang-orang yang celananya di atas mata kaki (<em>cingkrang</em>). Bahkan ada yang mencemoohnya dengan menggelarinya sebagai ‘celana kebanjiran’. Pembahasan kali ini –insya Allah- akan sedikit membahas mengenai cara berpakaian seperti ini apakah memang pakaian ini merupakan ajaran Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>atau bukan.</p>
<p><strong>Penampilan Nabi </strong><em><strong>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</strong></em><strong> dengan Celana Setengah Betis</strong></p>
<p>Perlu diketahui bahwasanya celana di atas mata kaki adalah sunnah dan ajaran Nabi<em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Hal ini dikhususkan bagi laki-laki, sedangkan wanita diperintahkan untuk menutup telapak kakinya. Kita dapat melihat bahwa pakaian Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> selalu berada di atas mata kaki sebagaimana dalam keseharian beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Dari Al Asy’ats bin Sulaim, ia berkata :</p>
<p dir="rtl">سَمِعْتُ عَمَّتِي ، تُحَدِّثُ عَنْ عَمِّهَا قَالَ : بَيْنَا أَنَا أَمْشِي بِالمَدِيْنَةِ ، إِذَا إِنْسَانٌ خَلْفِي يَقُوْلُ : « اِرْفَعْ إِزَارَكَ  ، فَإِنَّهُ أَنْقَى» فَإِذَا هُوَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّمَا هِيَ بُرْدَةٌ  مَلْحَاءُ) قَالَ : « أَمَّا لَكَ فِيَّ أُسْوَةٌ  ؟ » فَنَظَرْتُ فَإِذَا إِزَارَهُ إِلَى نِصْفِ سَاقَيْهِ</p>
<p>Saya pernah mendengar bibi saya menceritakan dari pamannya yang berkata, “Ketika saya sedang berjalan di kota Al Madinah, tiba-tiba seorang laki-laki di belakangku berkata<em>, ’Angkat kainmu, karena itu akan lebih bersih.’ </em>Ternyata orang yang berbicara itu adalah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </em>Aku berkata<em>,</em>”<em>Sesungguhnya yang kukenakan ini tak lebih hanyalah burdah yang bergaris-garis hitam dan putih”. </em>Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apakah engkau tidak menjadikan aku sebagai  teladan?” </em>Aku melihat kain sarung beliau, ternyata ujung bawahnya di pertengahan kedua betisnya<em>.”</em> (Lihat <em>Mukhtashor Syama’il Muhammadiyyah</em>, hal. 69, Al Maktabah Al Islamiyyah Aman-Yordan. Beliau katakan hadits ini <em>shohih</em>)</p>
<p>Dari Hudzaifah bin Al Yaman, ia berkata, “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah memegang salah satu atau kedua betisnya. Lalu beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p dir="rtl">هَذَا مَوْضِعُ الإِزَارِ فَإِنْ أَبِيْتَ فَأَسْفَلَ فَإِنْ أَبِيْتَ فَلاَ حَقَّ لِلإِْزَارِ فِي الْكَعْبَيْنِ</p>
<p>“<em>Di sinilah letak ujung kain. Kalau engkau tidak suka, bisa lebih rendah lagi. Kalau tidak suka juga, boleh lebih rendah lagi, akan tetapi tidak dibenarkan kain tersebut menutupi mata kaki.</em>” (Lihat <em>Mukhtashor Syama’il Al Muhammadiyyah</em>, hal.70, Syaikh Al Albani berkata bahwa hadits ini <em>shohih</em>)</p>
<p>Dari dua hadits ini terlihat bahwa celana Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> selalu berada di atas mata kaki sampai pertengahan betis. Boleh bagi seseorang menurunkan celananya, namun dengan syarat tidak sampai menutupi mata kaki. Ingatlah, Nabi<em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah sebagai teladan terbaik bagi kita dan bukanlah professor atau doctor atau seorang master yang dijadikan teladan.  Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="rtl">لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا</p>
<p>“<em>Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.</em>” (QS. Al Ahzab [60] : 21)</p>
<p><strong>Menjulurkan Celana Hingga Di Bawah Mata Kaki</strong></p>
<p>Perhatikanlah hadits-hadits yang kami bawakan berikut ini yang sengaja kami bagi menjadi dua bagian. Hal ini sebagaimana kami ikuti dari pembagian Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin <em>rahimahullah</em> dalam kitab beliau <em>Syarhul Mumthi’</em> pada<em>Bab Satrul ‘Awrot</em>. <strong></strong></p>
<p><strong>Pertama: Menjulurkan celana di bawah mata kaki dengan sombong</strong></p>
<p>Dari Ibnu Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="rtl">لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ</p>
<p>“<em>Allah tidak akan melihat kepada orang yang menyeret pakaianya dalam keadaan sombong</em>.” (HR. Muslim no. 5574).</p>
<p>Dari Ibnu Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma </em>juga, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="rtl">إِنَّ الَّذِى يَجُرُّ ثِيَابَهُ مِنَ الْخُيَلاَءِ لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya orang yang menyeret pakaiannya dengan sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat</em>.” (HR. Muslim no. 5576)</p>
<p>Masih banyak lafazh yang serupa dengan dua hadits di atas dalam <em>Shohih Muslim</em>.</p>
<p>Dari Abu Dzar, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="rtl">ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ</p>
<p>“<em>Ada tiga orang yang tidak diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat nanti, tidak dipandang, dan tidak disucikan serta bagi mereka siksaan yang pedih.</em>”</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menyebut tiga kali perkataan ini. Lalu Abu Dzar berkata,</p>
<p dir="rtl">خَابُوا وَخَسِرُوا مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ</p>
<p>“<em>Mereka sangat celaka dan merugi. Siapa mereka, Ya Rasulullah?</em>”</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menjawab,</p>
<p dir="rtl">الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ</p>
<p>“<em>Mereka adalah orang yang isbal, orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu</em>.” (HR. Muslim no. 306). Orang yang isbal (<em>musbil</em>) adalah orang yang menjulurkan pakaian atau celananya di bawah mata kaki. <strong></strong></p>
<p><strong>Kedua: Menjulurkan celana di bawah mata kaki tanpa sombong</strong></p>
<p>Dari Abu Huroiroh <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="rtl">مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِى النَّارِ</p>
<p>“<em>Kain</em> <em>yang berada di bawah mata kaki itu berada di neraka.</em>” (HR. Bukhari no. 5787)</p>
<p>Dari hadits-hadits di atas terdapat dua bentuk menjulurkan celana dan masing-masing memiliki konsekuensi yang berbeda. Kasus yang pertama -sebagaimana terdapat dalam hadits Ibnu Umar di atas- yaitu menjulurkan celana di bawah mata kaki (<em>isbal</em>) dengan sombong. Hukuman untuk kasus pertama ini sangat berat yaitu Allah tidak akan berbicara dengannya, juga tidak akan melihatnya dan tidak akan disucikan serta baginya azab (siksaan) yang pedih. Bentuk pertama ini termasuk dosa besar.</p>
<p>Kasus yang kedua adalah apabila seseorang menjulurkan celananya tanpa sombong. Maka ini juga dikhawatirkan termasuk dosa besar karena Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengancam perbuatan semacam ini dengan neraka.</p>
<p>Perhatikan bahwasanya hukum di antara dua kasus ini berbeda. Tidak bisa kita membawa <em>hadits muthlaq</em> dari Abu Huroiroh pada kasus kedua ke <em>hadits muqoyyad </em>dari Ibnu Umar pada kasus pertama karena hukum masing-masing berbeda. Bahkan ada sebuah hadits dari Abu Sa’id Al Khudri yang menjelaskan dua kasus ini sekaligus dan membedakan hukum masing-masing. Lihatlah hadits yang dimaksud sebagai berikut.</p>
<p dir="rtl">إِزْرَةُ الْمُسْلِمِ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ وَلاَ حَرَجَ &#8211; أَوْ لاَ جُنَاحَ &#8211; فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْكَعْبَيْنِ مَا كَانَ أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ فَهُوَ فِى النَّارِ مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ</p>
<p>“<em>Pakaian seorang muslim adalah hingga setengah betis. Tidaklah mengapa jika diturunkan antara setengah betis dan dua mata kaki. Jika pakaian tersebut berada di bawah mata kaki maka tempatnya di neraka. Dan apabila pakaian itu diseret dalam keadaan sombong, Allah tidak akan melihat kepadanya (pada hari kiamat nanti)</em>.” (HR. Abu Daud no. 4095. Dikatakan<em>shohih</em> oleh Syaikh Al Albani dalam <em>Shohih Al Jami’ Ash Shogir</em>, 921)</p>
<p>Jika kita perhatikan dalam hadits ini, terlihat bahwa hukum untuk kasus pertama dan kedua berbeda.</p>
<p>Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa jika menjulurkan celana tanpa sombong maka hukumnya makruh karena menganggap bahwa hadits Abu Huroiroh pada kasus kedua dapat dibawa ke hadits Ibnu Umar pada kasus pertama. Maka berarti yang dimaksudkan dengan menjulurkan celana di bawah mata kaki sehingga mendapat ancaman (siksaan) adalah yang menjulurkan celananya dengan sombong. Jika tidak dilakukan dengan sombong, hukumnya makruh. Hal inilah yang dipilih oleh An Nawawi dalam <em>Syarh Muslim</em> dan <em>Riyadhus Shalihin</em>, juga merupakan pendapat Imam Syafi’i serta pendapat ini juga dipilih oleh Syaikh Abdullah Ali Bassam di <em>Tawdhihul Ahkam min Bulughil Marom</em> -semoga Allah merahmati mereka-.</p>
<p>Namun, pendapat ini kurang tepat. Jika kita melihat dari hadits-hadits yang ada menunjukkan bahwa hukum masing-masing kasus berbeda. Jika hal ini dilakukan dengan sombong, hukumannya sendiri. Jika dilakukan tidak dengan sombong, maka kembali ke hadits mutlak yang menunjukkan adanya ancaman neraka. Bahkan dalam hadits Abu Sa’id Al Khudri dibedakan hukum di antara dua kasus ini. Perhatikan  baik-baik hadits Abu Sa’id di atas: <em>Jika pakaian tersebut berada di bawah mata kaki maka tempatnya di neraka. Dan apabila pakaian itu diseret dalam keadaan sombong, Allah tidak akan melihat kepadanya (pada hari kiamat nanti)</em>. Jadi, yang menjulurkan celana dengan sombong ataupun tidak, tetap mendapatkan hukuman. <em>Wallahu a’lam bish showab</em>.</p>
<p><strong>Catatan: </strong>Perlu kami tambahkan bahwa para ulama yang menyatakan makruh seperti An Nawawi dan lainnya, mereka tidak pernah menyatakan bahwa hukum isbal adalah <strong>boleh</strong> kalau tidak dengan sombong. Mohon, jangan disalahpahami maksud ulama yang mengatakan demikian. Ingatlah bahwa para ulama tersebut hanya menyatakan makruh dan bukan menyatakan boleh berisbal. Ini yang banyak salah dipahami oleh sebagian orang yang mengikuti pendapat mereka. Maka hendaklah perkara makruh itu dijauhi, jika memang kita masih memilih pendapat yang lemah tersebut. Janganlah terus-menerus dalam melakukan yang makruh. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua.</p>
<p><strong>Sedikit Kerancuan, Abu Bakar Pernah Menjulurkan Celana Hingga di Bawah Mata Kaki</strong></p>
<p>Bagaimana jika ada yang berdalil dengan perbuatan Abu Bakr di mana Abu Bakr dahulu pernah menjulurkan celana hingga di bawah mata kaki?</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin <em>rahimahullah</em> pernah mendapat pertanyaan semacam ini, lalu beliau memberikan jawaban sebagai berikut.</p>
<p>Adapun yang berdalil dengan hadits Abu Bakr <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, maka kami katakan tidak ada baginya hujjah (pembela atau dalil) ditinjau dari dua sisi.</p>
<p><strong>Pertama,</strong> Abu Bakr <em>radhiyallahu ‘anhu </em>mengatakan, ”<em>Sesungguhnya salah satu ujung sarungku biasa melorot kecuali jika aku menjaga dengan seksama.</em>” Maka ini bukan berarti dia melorotkan (menjulurkan) sarungnya karena kemauan dia. Namun sarungnya tersebut melorot dan selalu dijaga. Orang-orang yang <em>isbal</em> (menjulurkan celana hingga di bawah mata kaki, pen) biasa menganggap bahwa mereka tidaklah menjulurkan pakaian mereka karena maksud sombong. Kami katakan kepada orang semacam ini : Jika kalian maksudkan menjulurkan celana hingga berada di bawah mata kaki tanpa bermaksud sombong, maka bagian yang melorot tersebut akan disiksa di neraka. Namun jika kalian menjulurkan celana tersebut dengan sombong, maka kalian akan disiksa dengan azab (siksaan) yang lebih pedih daripada itu yaitu Allah tidak akan berbicara dengan kalian pada hari kiamat, tidak akan melihat kalian, tidak akan mensucikan kalian dan bagi kalian siksaan yang pedih.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, Sesungguhnya Abu Bakr sudah diberi <em>tazkiyah</em> (rekomendasi atau penilaian baik) dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>dan sudah diakui bahwa Abu Bakr tidaklah melakukannya karena sombong. Lalu apakah di antara mereka yang berperilaku seperti di atas (dengan menjulurkan celana dan tidak bermaksud sombong, pen) sudah mendapatkan <em>tazkiyah</em> dan <em>syahadah</em>(rekomendasi)?! Akan tetapi syaithon membuka jalan untuk sebagian orang agar mengikuti ayat atau hadits yang samar (dalam pandangan mereka, pen) lalu ayat atau hadits tersebut digunakan untuk membenarkan apa yang mereka lakukan. <em>Allah-llah yang memberi petunjuk ke jalan yang lurus kepada siapa yang Allah kehendaki. Kita memohon kepada Allah agar mendapatkan petunjuk dan ampunan</em>. (Lihat <em>Fatawal Aqidah wa Arkanil Islam,</em> Darul Aqidah, hal. 547-548).</p>
<p><strong>Marilah Mengagungkan dan Melaksanakan Ajaran Nabi </strong><em><strong>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam<br />
</strong></em></p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="rtl">مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang menta&#8217;ati Rasul, sesungguhnya ia telah menta&#8217;ati Allah</em>.” (QS. An Nisa’ [4] : 80)</p>
<p dir="rtl">فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ</p>
<p>“<em>Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih</em>.” (QS. An Nur [24] : 63)</p>
<p dir="rtl">وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ</p>
<p>“<em>Dan jika kamu ta&#8217;at kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.</em>” (QS. An Nur [24] : 54)</p>
<p>Hal ini juga dapat dilihat dalam hadits Al ‘Irbadh bin Sariyah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> seolah-olah inilah nasehat terakhir Nabi<em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menasehati para sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em>,</p>
<p dir="rtl">فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ</p>
<p>“<em>Berpegangteguhlah dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ur rosyidin yang mendapatkan petunjuk (dalam ilmu dan amal). Pegang teguhlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian.</em>” (HR. Abu Daud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban. At Tirmidizi mengatakan hadits ini <em>hasan shohih</em>. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shohih. Lihat <em>Shohih At Targhib wa At Tarhib</em> no. 37)</p>
<p>Salah seorang <em>khulafa’ur rosyidin</em> dan manusia terbaik setelah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </em>Abu Bakar Ash Shiddiq<em>radhiyallahu ‘anhu </em>mengatakan,</p>
<p dir="rtl">لَسْتُ تَارِكًا شَيْئًا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَعْمَلُ بِهِ إِلَّا عَمِلْتُ بِهِ إِنِّي أَخْشَى إِنْ تَرَكْتُ شَيْئًا مِنْ أَمْرِهِ أَنْ أَزِيْغَ</p>
<p>”<em>Aku tidaklah biarkan satupun yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam amalkan kecuali aku mengamalkannya karena aku takut jika meninggalkannya sedikit saja, aku akan menyimpang</em>.” (Lihat <em>Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud, </em>Syaikh Al Albani mengatakan bahwa <em>atsar</em> ini <em>shohih</em>)</p>
<p><strong>Sahabat Sangat Perhatian dengan Masalah Celana</strong></p>
<p>Sebagai penutup dari pembahasan ini, kami akan membawakan sebuah kisah yang menceritakan sangat perhatiannya salaf (shahabat) dengan masalah celana di atas mata kaki, sampai-sampai di ujung kematian masih memperingatkan hal ini.</p>
<p>Dalam <em>shohih Bukhari</em> dan <em>shohih Ibnu Hibban</em>, dikisahkan mengenai kematian Umar bin Al Khaththab setelah dibunuh seseorang ketika shalat. Lalu orang-orang mendatanginya di saat menjelang kematiannya. Lalu datanglah pula seorang pemuda. Setelah Umar ngobrol sebentar dengannya, ketika dia beranjak pergi, terlihat pakaiannya menyeret tanah (dalam keadaan <em>isbal</em>). Lalu Umar berkata,</p>
<p dir="rtl">رُدُّوا عَلَىَّ الْغُلاَمَ</p>
<p>“<em>Panggil pemuda tadi!</em>” Lalu Umar berkata,</p>
<p dir="rtl">ابْنَ أَخِى ارْفَعْ ثَوْبَكَ ، فَإِنَّهُ أَبْقَى لِثَوْبِكَ وَأَتْقَى لِرَبِّكَ ،</p>
<p>“<em>Wahai anak saudaraku. Tinggikanlah pakaianmu! Sesungguhnya itu akan lebih mengawetkan pakaianmu dan akan lebih bertakwa kepada Rabbmu.</em>”</p>
<p>Jadi, masalah isbal (celana menyeret tanah) adalah perkara yang amat penting. Jika ada yang mengatakan ‘kok masalah celana saja dipermasalahkan?’ Maka cukup kisah ini sebagai jawabannya. Kita menekankan masalah ini karena salaf (shahabat) juga menekankannya. -Semoga kita dimudahkan dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah-</p>
<p>Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin. Semoga Allah selalu memberikan ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyib, dan menjadikan amalan kita diterima di sisi-Nya. <em>Innahu sami’un qoriibum mujibud da’awaat</em>. <em>Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.</em></p>
<p>Selesai disusun di Yogyakarta,</p>
<p>pada siang hari, hari ke-29 bulan Shofar tahun 1429 H</p>
<p>bertepatan dengan hari ‘ied umat Islam setiap pekannya (Jum’at), 7 Maret 2008</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/isbal-tanpa-bermaksud-sombong/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/isbal-tanpa-bermaksud-sombong/&amp;title=Isbal+Tanpa+Bermaksud+Sombong" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/isbal-tanpa-bermaksud-sombong/&amp;title=Isbal+Tanpa+Bermaksud+Sombong" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/isbal-tanpa-bermaksud-sombong/&amp;t=Isbal+Tanpa+Bermaksud+Sombong" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/isbal-tanpa-bermaksud-sombong/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Isbal+Tanpa+Bermaksud+Sombong+-+http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/isbal-tanpa-bermaksud-sombong/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/isbal-tanpa-bermaksud-sombong/&amp;title=Isbal+Tanpa+Bermaksud+Sombong" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/isbal-tanpa-bermaksud-sombong/&amp;title=Isbal+Tanpa+Bermaksud+Sombong" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Isbal+Tanpa+Bermaksud+Sombong+-+http://b2l.me/n8ea7&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Isbal+Tanpa+Bermaksud+Sombong&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/isbal-tanpa-bermaksud-sombong/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Ana%20mau%20tanya%20Ustadz%20Apakah%20berdosa%20pelaku%20isbal%20itu...%21%20Ana%20kekantor%20memakai%20celana%20panjang%20dibawah%20mata%20kaki..tapi%20ana%20tidak%20ada%20maksud%20untuk%20berlaku%20sombong...%21%20mohon%20penjelasan.%20Trimakasih" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/isbal-tanpa-bermaksud-sombong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Dahi Terhalang Peci Ketika Shalat?</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-dahi-terhalang-peci-ketika-shalat/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-dahi-terhalang-peci-ketika-shalat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Jun 2010 13:10:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Aurat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[TanyaUstadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1623</guid>
		<description><![CDATA[Apakah dahi wajib menyentuh tanah atau lantai secara langsung tanpa terhalangi oleh kain yang dipakai oleh orang yang sholat tersebut seperti tertutup peci, surban, atau ‘imamah?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada yang mengatakan :&#8221;Sujud Tidak boleh kepada yang ditanggung badan atau yang segerak dengan badan (mahmul) atau segala sesuatu yang ada ditubuh misalnya sorban yang ada dikepala atau kain yang panjang menutupi tempat sujud. Sah jika diletakkan sapu tangan di tempat sujud, juga sah jika rambut menutup dahi dan tidak sah jika dahi tertutup oleh kopiah atau peci. Dari Ibnu ‘Abbas: “Sesungguhnya Nabi bersabda: ‘<em>Saya diperintahkan bersujud dengan tujuh (anggota badan) dan aku tidak boleh merintanginya dengan rambut atau kain</em>’ ” (HR. Ibnu Hibban)<br />
Kesimpulannya: Karena dahi bukan aurat maka tidak boleh terhalang kain (sejenisnya). Sedangkan lutut termasuk aurat, maka boleh tertutup kain celana, sarung, ghamis, dll.</p>
<p>Mohon penjelasan dari keterangan diatas? <em>Jazakumullah</em>.</p>
<p style="text-align: right;"><em>Abu Nafilah</em><span id="more-1623"></span></p>
<p><strong>Ustadz M. Subhan Khadafi, Lc. menjawab:</strong><br />
<strong></strong>Bukanlah karena dahi termasuk aurat atau bukan seperti halnya lutut yang merupakan aurat dan harus tertutup ketika shalat berdasarkan kesepakatan para ulama. Masalah ini yang sesungguhnya adalah:</p>
<blockquote><p>“Apakah dahi wajib menyentuh tanah atau lantai secara langsung tanpa terhalangi oleh kain yang dipakai oleh orang yang sholat tersebut seperti tertutup peci, surban, atau ‘imamah?”</p></blockquote>
<p>Adapun bila dahi yang terhalangi alas seperti tikar yang melekat pada lantai atau tanah maka para ulama sepakat akan kebolehannya.</p>
<p>Dengan demikian maka pendapat yang kuat adalah: diutamakan dahi untuk tidak terhalang ketika sujud dengan kain yang dikenakan oleh orang yang sedang shalat tersebut berdasarkan atsar Ibnu Umar yang tidak suka melihat orang yang sujud sedangkan dahinya terhalangi oleh surbannya: &#8220;<em>Sungguh Ubadah bin Shamit melepaskan sorbannya ketika hendak melaksanakan shalat</em>&#8220;.</p>
<p>An Nakha’i juga berkata: &#8220;<em>Sujud dengan menempelkan dahiku lebih aku sukai</em>&#8220;. Demikian pula sudah menjadi kebiasaan Nabi -<em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em>- bersujud dengan menempelkan dahinya ke lantai atau tanah sampai diriwayatkan bahwa lumpur yang basah menempel pada dahi beliau –<em>shallallaahu’alaihi wasallam</em>- (HR Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Sekalipun demikian jumhur ulama menganggap sah bila seseorang sujud sedangkan dahinya tertutup surban atau peci yang dikenakannya bila dikarenakan sebab tertentu seperti dinginnya atau panasnya lantai. Hal ini karena hadits Anas –rodhiallahu ‘anhu- yang dikeluarkan oleh Imam Al Bukhori dan Imam Muslim:<br />
مَا رَوَى أَنَسٌ ، قَالَ : { كُنَّا نُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَضَعُ أَحَدُنَا طَرَفَ الثَّوْبِ مِنْ شِدَّةِ الْحَرِّ فِي مَكَانِ السُّجُودِ } رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ .<br />
Artinya: “<em>Sungguh kita pernah sholat bersama Nabi –shallallaahu’alaihi wasallam-, maka sebagian diantara kita ada yang menjulurkan ujung pakaian yang dikenakannya sebagai alas sujudnya karena panas yang sangat menyengat</em>“.</p>
<p>Adapun hadits yang dikeluarkan oleh Ibnu Hibban:<br />
« أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةٍ ، لاَ أَكُفُّ شَعَرًا وَلاَ ثَوْبًا »<br />
yang diartikan : “<em>Sesungguhnya Nabi saw bersabda: ‘Saya diperintahkan bersujud dengan tujuh (anggota badan) dan aku tidak boleh merintanginya dengan rambut atau kain’ </em>” ,</p>
<p>maka terjemahan yang tepat adalah bukan merintangi tapi <strong>melipat</strong>. Jadi hadits Ibnu Hibban diatas bukanlah dalil yang melarang seseorang menutup dahinya dengan rambut, surban atau peci yang dikenakannya.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Ustadz M.Subhan Khadafi, Lc<br />
Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.Com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-dahi-terhalang-peci-ketika-shalat/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-dahi-terhalang-peci-ketika-shalat/&amp;title=Bolehkah+Dahi+Terhalang+Peci+Ketika+Shalat%3F+" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-dahi-terhalang-peci-ketika-shalat/&amp;title=Bolehkah+Dahi+Terhalang+Peci+Ketika+Shalat%3F+" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-dahi-terhalang-peci-ketika-shalat/&amp;t=Bolehkah+Dahi+Terhalang+Peci+Ketika+Shalat%3F+" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-dahi-terhalang-peci-ketika-shalat/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Bolehkah+Dahi+Terhalang+Peci+Ketika+Shalat%3F++-+http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-dahi-terhalang-peci-ketika-shalat/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-dahi-terhalang-peci-ketika-shalat/&amp;title=Bolehkah+Dahi+Terhalang+Peci+Ketika+Shalat%3F+" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-dahi-terhalang-peci-ketika-shalat/&amp;title=Bolehkah+Dahi+Terhalang+Peci+Ketika+Shalat%3F+" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Bolehkah+Dahi+Terhalang+Peci+Ketika+Shalat%3F++-+http://b2l.me/2dz3g&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Bolehkah+Dahi+Terhalang+Peci+Ketika+Shalat%3F+&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-dahi-terhalang-peci-ketika-shalat/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Apakah%20dahi%20wajib%20menyentuh%20tanah%20atau%20lantai%20secara%20langsung%20tanpa%20terhalangi%20oleh%20kain%20yang%20dipakai%20oleh%20orang%20yang%20sholat%20tersebut%20seperti%20tertutup%20peci%2C%20surban%2C%20atau%20%E2%80%98imamah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-dahi-terhalang-peci-ketika-shalat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Nabi Pernah Berbuat Salah?</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/manhaj/apakah-nabi-pernah-berbuat-salah/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/manhaj/apakah-nabi-pernah-berbuat-salah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Apr 2010 13:58:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Ma'sum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1589</guid>
		<description><![CDATA[Apa dan bagaimana sebenarnya konsep kema'shuman Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ana mau bertanya tentang bagaimana sebenarnya konsep kema&#8217;shuman Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam itu. Sedangkan kalau kita merujuk kepada al-Qur&#8217;an dan as-sunnah, maka akan kita temukan ayat-ayat dalam al-Qur&#8217;an yang isinya menegur beliau (misalnya QS. at-Tahrim: 1 dan QS. Abasa: 1-11) dan di dalam as-sunnah maka akan kita temukan juga hal yang semisal, seperti beliau pernah shalat dzuhur 2 rakaat karena lupa, yang akhirnya beliau melakukan sujud sahwi. Beliau shallallahu &#8216;alahi wa sallam juga ditegur oleh Allah berkenaan dengan fitnah yang terjadi pada &#8216;Aisyah. Mohon kiranya pa&#8217; Ustad berkenan menjelaskan, apa dan bagaimana sebenarnya konsep kema&#8217;shuman Rasulullah shallallahu &#8216;alahi wa sallam. Jazakumullah khairan katsiran.</p>
<p style="text-align: right;"><em>Ubaid<br />
Alamat: Jakarta Timur<br />
Email: </em><span style="text-decoration: underline;"><a href="mailto:aerxxxx@yahoo.com"><em>aerxxxx@yahoo.com</em></a></span><span id="more-1589"></span></p>
<p><strong>Al Akh Yulian Purnama menjawab:</strong><br />
Mengenai kema&#8217;shuman Rasulullah serta para Nabi dan Rasul secara umum, perlu dibagi menjadi dua macam:</p>
<p><strong>1. Kema&#8217;shuman dari kesalahan dalam menyampaikan ajaran agama</strong></p>
<p>Yaitu apakah Rasulullah serta para Nabi dan Rasul terjaga dari melakukan kesalahan dalam menyampaikan agama? Jawabnya: ya. Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ</p>
<p>“<em>Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): &#8220;Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya&#8221;, dan mereka mengatakan: &#8220;Kami dengar dan kami taat&#8221;. (Mereka berdoa): &#8220;Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali</em>&#8220;. (QS. Al Baqarah: 285)</p>
<p>Pada ayat di atas, setiap mu&#8217;min diwajibkan untuk beriman kepada apa yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul, ini menunjukkan bahwa ajaran yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul terbebas dari <a href="http://ustadzkholid.com/manhaj/apakah-nabi-pernah-berbuat-salah/">kesalahan</a>, kealpaan dan kecacatan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -<em>rahimahullah</em>- berkata:</p>
<p>ان الأنبياء صلوات الله عليهم معصومون فيما يخبرون به عن الله سبحانه وفى تبليغ رسالاته باتفاق الأمة ولهذا وجب الايمان بكل ما اوتوه</p>
<p>“Para Nabi Shalawatullah &#8216;alaihim mereka ma&#8217;shum dalam mengabarkan dan menyampaikan ajaran agama dari Allah, ini disepakati para ulama. Oleh karena itulah mengimani apa yang mereka bawa adalah wajib” (<em>Majmu&#8217; Fatawa</em>, 289-290/10)</p>
<p><strong>2. Kema&#8217;shuman dari dosa dan maksiat</strong></p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -<em>rahimahullah</em>- juga menjelaskan bahwa kema&#8217;shuman dari dosa dan maksiat terdapat perbedaan pendapat diantara para ulama. Sebagian ulama berpendapat mereka ma&#8217;shum secara mutlak. Sebagian yang lain berpendapat bahwa mereka ma&#8217;shum dari dosa besar saja. Sebagian yang lain berpendapat bahwa mereka hanya ma&#8217;shum dalam penyampaian risalah namun tidak ma&#8217;shum dari dosa dan maksiat.</p>
<p>Sebagian ulama yang berpendapat bahwa para Nabi dan Rasul ma&#8217;shum secara mutlak berdalil dengan alasan logika, yaitu bagaimana mungkin kita diperintahkan untuk meneladani dan mentaati para Nabi dan Rasul jika mereka pernah berbuat dosa. Alasan logika yang lain adalah, para Nabi dan Rasul adalah manusia-manusia sempurna, jika mereka berbuat dosa dan maksiat, tentu tidak sempurna lagi. Pendapat  ini lemah karena hanya didasari oleh logika saja. Maka Syaikhul Islam pun menyanggahnya:</p>
<p>فهذا انما يكون مع البقاء على ذلك وعدم الرجوع والا فالتوبة النصوح التى يقبلها الله يرفع بها صاحبها الى اعظم مما كان عليه كما قال  بعض السلف كان داود عليه السلام بعد التوبة خيرا منه قبل الخطيئة</p>
<p>“Logika tersebut bisa saja benar jika para Nabi dan Rasul terus-menerus berbuat dosa lalu tidak ruju&#8217;, padahal tidak demikian. Dan taubat nasuha yang diterima oleh Allah dapat mengangkat orang yang bertaubat tersebut kepada martabat yang lebih tinggi daripada sebelum ia bertaubat. Sebagaimana perkataan para salaf:</p>
<p>كان داود عليه السلام بعد التوبة خيرا منه قبل الخطيئة</p>
<p>&#8216;<em>Nabi Daud &#8216;Alaihissalam keadaannya lebih mulia setelah bertaubat daripada sebelum ia berbuat kesalahan</em>&#8216;” (<em>Majmu&#8217; Fatawa</em>, 294/10)</p>
<p>Oleh karena itu kita jumpai banyak dalil yang menunjukkan bahwa para Nabi dan Rasul pernah berbuat dosa. Namun jika kita perhatikan setiap dalil yang menunjukkan para Nabi dan Rasul berbuat dosa selalu digandengkan dengan taubat dan ruju&#8217;nya mereka.</p>
<p>Nabi Adam dan istrinya &#8216;Alaihimassalam berkata:</p>
<p>قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ</p>
<p>“<em>Keduanya berkata: &#8220;Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi</em>” (QS. Al A&#8217;raf: 23)</p>
<p>Nabi Nuh &#8216;<em>Alaihissalam</em> berkata:</p>
<p>قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ</p>
<p>“<em>Nuh berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi</em>&#8221; (QS. Hud: 47)</p>
<p>Allah Ta&#8217;ala menceritakan tentang Nabi Daud &#8216;<em>Alaihissalam :</em></p>
<p>فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَ فَغَفَرْنَا لَهُ ذَٰلِكَ ۖ وَإِنَّ لَهُ عِنْدَنَا لَزُلْفَىٰ وَحُسْنَ مَآبٍ</p>
<p>“<em>Nabi Daud meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat. Maka Kami ampuni baginya kesalahannya itu. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik</em>” (QS. Shad: 24-25)</p>
<p>Begitu juga Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam. Banyak terdapat hadits dari yang menunjukkan bahwa beliau tidak lepas dari kesalahan. Sebagaimana hadits:</p>
<p>سألت عائشة عن دعاء كان يدعو به رسول الله صلى الله عليه وسلم . فقالت : كان يقول &#8221; اللهم ! إني أعوذ بك من شر ما عملت ، وشر ما لم أعمل &#8221; . وفي رواية : &#8221; ومن شر ما لم أعمل</p>
<p>“<em>Aisyah ditanya tentang doa yang biasa diamalkan oleh Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam. Ia menjawab: &#8216;Beliau sering berdoa: &#8216;Ya Allah, aku berlindung dari keburukan yang telah aku perbuat dan keburukan yang belum aku perbuat&#8217;. </em>Dalam riwayat lain<em>: &#8216;Dari keburukan yang aku belum tahu&#8217;</em>&#8216;” (HR. Muslim no.2716)</p>
<p>Oleh karena itu beliau tidak pernah bosan bertaubat. Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p>يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ</p>
<p>“<em>Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah. Sungguh aku biasa bertaubat kepada Allah seratus kali dalam sehari</em>” (HR. Muslim no.7034)</p>
<p>Sehingga pendapat yang kuat adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:</p>
<p>فإن القول بأن الانبياء معصومون عن الكبائر دون الصغائر هو قول أكثر علماء الاسلام وجميع الطوائف حتى إنه قول اكثر أهل الكلام</p>
<p>“Pendapat yang menyatakan bahwa para Nabi itu ma&#8217;shum dari dosa besar namun tidak ma&#8217;shum dari dosa kecil adalah pendapat mayoritas ulama dan seluruh aliran-aliran Islam yang ada, bahkan sampai-sampai ini pun merupakan pendapat mayoritas ahlul kalam” (<em>Majmu&#8217; Fatawa</em>, 319/4)</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong>: pendapat yang benar -<em>wallahu&#8217;alam</em>-, para Nabi dan Rasul ma&#8217;shum dari dosa besar dan ma&#8217;shum dari terus-menerus melakukan dosa kecil. Mereka pernah berbuat kesalahan yang tergolong dosa kecil namun segera bertaubat dan pasti diampuni oleh Allah <em>Ta&#8217;ala</em>. Dengan demikian akan selaras dengan sabda Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>:</p>
<p>كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ</p>
<p>“<em>Setiap manusia pasti banyak berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang sering bertaubat</em>” (HR. Tirmidzi no.2687. At Tirmidzi berkata: “Hadits ini gharib”. Di-<em>hasan</em>-kan Al Albani dalam <em>Al Jami Ash Shaghir</em>, 291/18)</p>
<p>Wallahu Ta&#8217;ala A&#8217;lam</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Yulian Purnama</p>
<p>Artikel UstadzKholid.Com</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/manhaj/apakah-nabi-pernah-berbuat-salah/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/apakah-nabi-pernah-berbuat-salah/&amp;title=Apakah+Nabi+Pernah+Berbuat+Salah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/manhaj/apakah-nabi-pernah-berbuat-salah/&amp;title=Apakah+Nabi+Pernah+Berbuat+Salah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/manhaj/apakah-nabi-pernah-berbuat-salah/&amp;t=Apakah+Nabi+Pernah+Berbuat+Salah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/apakah-nabi-pernah-berbuat-salah/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Apakah+Nabi+Pernah+Berbuat+Salah%3F+-+http://ustadzkholid.com/manhaj/apakah-nabi-pernah-berbuat-salah/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/apakah-nabi-pernah-berbuat-salah/&amp;title=Apakah+Nabi+Pernah+Berbuat+Salah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/apakah-nabi-pernah-berbuat-salah/&amp;title=Apakah+Nabi+Pernah+Berbuat+Salah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Apakah+Nabi+Pernah+Berbuat+Salah%3F+-+File: /data/app/webapp/functions.php<br />Line: 7<br />Message: Too many connections&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Apakah+Nabi+Pernah+Berbuat+Salah%3F&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/manhaj/apakah-nabi-pernah-berbuat-salah/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Apa%20dan%20bagaimana%20sebenarnya%20konsep%20kema%27shuman%20Rasulullah%20shallallahu%20%27alahi%20wa%20sallam%3F" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/manhaj/apakah-nabi-pernah-berbuat-salah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Berkabung Bagi Istri</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/keluarga-tanya-ustadz/hukum-berkabung-bagi-istri/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/keluarga-tanya-ustadz/hukum-berkabung-bagi-istri/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Apr 2010 01:37:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>
		<category><![CDATA[ta'ziah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1556</guid>
		<description><![CDATA[Sudah menjadi satu keharusan bagi kita untuk mengetahui hukum dan adab seputar masalah kematian. Diantara masalah yang belum banyak diketahui masyarakat kita, khususnya di Indonesia adalah permasalahan berkabung]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kematian merupakan sunatullah yang pasti menimpa setiap makhluk yang bernyawa, sebagaimana firman Allah:</p>
<p class=arab>????? ?????? ????????? ????????? ? ????? ????????? ???????????</p>
<p><em>Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan</em> (QS. Al Ankabut: 57)<br />
Dan firman Allah:</p>
<p class=arab>??????? ?????? ????????? ???????????? ?????????????? ????????? ???????? ??????? ? ?????? ?????????? ??????????</p>
<p><em>Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun</em>. (QS. Al Mulk: 2)</p>
<p>Sehingga sudah menjadi satu keharusan bagi kita untuk mengetahui hukum dan adab seputar masalah ini. Diantara masalah yang belum banyak diketahui masyarakat kita, khususnya di Indonesia adalah permasalahan berkabung.<span id="more-1556"></span></p>
<p>Berkembang dewasa ini atau sebelumnya realita yang menyelisihi syariat islam dalam permasalahan berkabung ini. Diantaranya berkabung dengan menaikkan bendera setengah tiang untuk wafatnya seorang pemimpin atau tokoh besar selama sehari atau tiga hari atau tujuh hari atau lebih. Hal ini jelas tidak ada dasarnya dalam islam. Demikian juga kaum laki-laki berkabung atas kematian salah seorang keluarga atau kerabatnya merupakan satu hal yang tidak disyariatkan, sebab Islam hanya menetapkan berkabung kepada wanita jika suaminya meninggal dunia atau salah satu keluarganya dengan cara-cara tertentu yang telah ditetapkan syari’at dengan istilah <em>Al Hadaad</em>. Sehingga perlu sekali kita mengetahui hukum seputar <em>Al hadaad</em> yang telah ditetapkan syari’at Islam.</p>
<p><strong>Makna Al Hadaad (berkabung) dalam Islam</strong><br />
Berkabung yang dalam bahasa Arabnya adalah Al Hadaad ( ??????????)  bermakna tidak mengenakan perhiasan baik berupa pakaian yang menarik, minyak wangi atau yang lainnya yang dapat menarik orang lain untuk menikahinya[1]. Ada juga yang menyatakan bahwa <em>al Hadaad</em> adalah sikap wanita yang meninggal suaminya tidak mengenakan semua yang dapat menarik orang lain untuk menikahinya berupa minyak wangi, celak mata dan pakaian menarik dan tidak keluar rumah tanpa hajat.[2]</p>
<p><strong>Jenis Berkabung</strong><br />
<em> Al Hadaad</em> ini terbagi menjadi dua, yaitu:</p>
<ol>
<li>Berkabung dari kematian suami selama empat bulan sepuluh hari</li>
<li>Berkabung dari kematian salah satu keluarganya selain suami selama tiga hari.</li>
</ol>
<p>Pembagian ini berdasarkan sabda Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam:</em></p>
<p class=arab>??? ??????? ??????????? ???????? ????????? ??????????? ???????? ???? ??????? ????? ??????? ?????? ??????? ?????? ????? ?????????  ???? ????</p>
<p><em>Tidak boleh seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari Akhir untuk berkabung atas kematian melebihi tiga hari kecuali atas kematian suaminya</em>[3]</p>
<p>Dan dalam riwayat Al Bukhari ada tambahan lafadz :</p>
<p class=arab>?????????? ??????? ???????? ?????????? ???????? ?????????</p>
<p><em>Maka ia berkabung atas hal tersebut (kematian suami) selama empat bulan sepuluh hari</em> [4]</p>
<p><strong>Hukum Berkabung atas kematian suami</strong><br />
Para ulama ahlu sunnah bersepakat kecuali Al Hasan Al Bashri, Al Hakam bin Utaibah dan Al Sya’bi menyatakan bahwa hukum <em><a href=http://ustadzkholid.com/keluarga/hukum-berkabung-bagi-istri/>Al Hadaad</a></em> jenis yang pertama adalah wajib. Hal ini juga didasari oleh dalil dari Al Qur’an dan Sunnah.</p>
<p>Dalil dari Al Qur’an adalah Firman Allah :</p>
<p class=arab>??????????? ????????????? ???????? ??????????? ?????????? ????????????? ??????????????? ?????????? ???????? ????????? ? ??????? ???????? ??????????? ????? ??????? ?????????? ?????? ???????? ??? ????????????? ?????????????? ? ????????? ????? ??????????? ?????</p>
<p><em>Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis masa ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu(para wali) memberiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat</em> (QS. Al Baqarah: 234)</p>
<p>Sedangkan dari sunnah adalah hadits dari Zainab bintu Abu Salamah, beliau berkata :</p>
<p class=arab>???????? ????? ???????? ??????? ??????? ????????? ????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ????????? ??? ??????? ??????? ????? ???????? ????????? ??????? ????????? ?????? ????????? ????????? ??????????????? ??????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ??? ??????????? ???? ???????? ????? ?????? ??????? ??? ????? ????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ???????? ???? ?????????? ???????? ???????? ?????? ??????? ???????????? ??? ??????????????? ??????? ????????????? ????? ?????? ?????????</p>
<p><em>Aku telah mendengar Umuu Salamah berkata: Seorang wanita datang menemui Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya putriku ditinggal mati suaminya dan ia mengadukan sakit pada matanya, apakah ia ia boleh mengenakan celak mata? Lalu Rasulullah menjawab: tidak sebanyak dua kali atau tiga kali, semuanya dengan kata tidak. Kemudian Rasulullah berkata: <span style=text-decoration: underline;>Itu harus empat bulan sepuluh hari</span> dan dahulu salah seorang dari kalian dizaman jahiliyah membuang kotoran binatang pada akhir tahun</em> [5]</p>
<p>Demikian juga hadits yang berbunyi:</p>
<p class=arab>??? ??????? ??????????? ???????? ????????? ??????????? ???????? ???? ??????? ????? ??????? ?????? ??????? ?????? ????? ?????????  ???? ????</p>
<p><em>Tidak boleh seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari Akhir untuk berkabung atas kematian melebihi tiga hari kecuali atas kematian suaminya</em> [6]</p>
<p>Perkataan ulama dalam hal ini :</p>
<ul>
<li><span style=text-decoration: underline;>Ibnu Qudamah</span> (wafat tahun 620 H) menyatakan: Kami tidak mengetahui perbedaan pendapat diantara para ulama tentang kewajiban <em>Al Hadaad</em> (berkabung) bagi wanita yang ditinggal mati suaminya kecuali dari Al Hasan, beliau menyatakan tidak wajib. Namun pendapat ini adalah pendapat yang syadz (aneh menyelisihi) pendapat para ulama dan menyelisihi sunnah sehingga tidak dianggap [7].</li>
<li><span style=text-decoration: underline;>Ibnu Al Qayyim</span> (wafat tahun 751H) berkata : Umat telah berijma’ tentang kewajiban <em>Al hadaad</em> bagi wanita yag ditinggal mati suaminya, kecuali yang diriwayatkan dari Al Hasan dan Al Hakam bin Utaibah [8].</li>
</ul>
<p><strong>Hukum berkabung atas kematian salah satu keluarga selain suami</strong></p>
<p>Berkabung atas kematian salah seorang kerabat atau keluarga selain suami diperbolehkan selama tiga hari saja dan tidak boleh lebih. Walaupun diperbolehkan namun bila suami mengajak <a href=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/keluarga-tanya-ustadz/apa-batasan-bermesraan-dengan-istri/>berhubungan intim</a>, maka wanita tersebut tidak boleh menolaknya.</p>
<p>Perkataan ulama dalam hal ini:</p>
<ul>
<li><span style=text-decoration: underline;>Ibnu Hajar Al Asqalani</span> (wafat tahun 852 H) menegaskan: Syari’at memperbolehkan seorang wanita untuk berkabung atas kematian selain suaminya selama tiga hari, karena kesedihan yang mendalam dan penderitaan yang menghujam karena kematian orang tersebut. Hal itu tidak wajib menurut kesepakatan para ulama. Namun seandainya suami mengajaknya berhubungan intim (<em>jima</em>’) maka tidak boleh ia menolaknya [9].</li>
<li><span style=text-decoration: underline;>Ibnu Hazm</span> (wafat tahun 456 H) menyatakan: Seandainya seorang wanita berkabung selama tiga hari atas kematian bapak, saudara, anak, ibu atau kerabat lainnya, maka hal itu mubah [10].</li>
<li><span style=text-decoration: underline;>Ibnu Al Qayyim</span> (wafat tahun 751 H) juga menyatakan: Berkabung atas kematian suami hukumnya wajib dan atas kematian selainnya boleh saja [11].</li>
</ul>
<p><strong>Syarat-syaratnya </strong>[12]</p>
<p>Adapun syarat-syarat diwajibkannya Al Hadaad adalah :</p>
<ol>
<li><span style=text-decoration: underline;>Wanita tersebut berakal dan baligh</span>. Para ulama bersepakat bahwa wanita yang baligh dan berakal diwajibkan Al Hadaad, namun masih berselisih tentang wanita yang masih belum baligh atau gila. Pendapat yang rojih adalah pendapat mayoritas ulama yang mewajibkannya</li>
<li><span style=text-decoration: underline;>Islam</span>. Ini juga telah disepakati para ulama. Namun mereka berselisih pada wanita ahli kitab apakah dikenakan kewaiban ini atau tidak ? pendapat yang rojih adalah pendapat mayoritas ulama yang menyatakan hal itu diwajibkan pada wanita ahli kitab yang menikah dengan muslim, lalu suaminya tersebut meninggal dunia.</li>
<li><span style=text-decoration: underline;>Menikah dengan akad yang shahih</span> (sah)</li>
</ol>
<p><strong>Masa Waktu berkabung dan Cara menghitung harinya</strong><br />
Telah disinggung diatas bahwa masa berkabung bagi wanita adalah empat bulan sepuluh hari. Ini berlaku pada semua wanita kecuali yang hamil. Wanita hamil yang ditinggal mati suaminya berkabung sampai melahirkan, berdasarkan firman Allah <em>Ta&#8217;ala</em>:</p>
<p class=arab>?????????? ???????????? ??????????? ???? ???????? ??????????? ? ?????? ??????? ??????? ???????? ???? ???? ???????? ???????</p>
<p><em>Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya</em> (QS. 65:4)</p>
<p>Dan hadits Suabi’ah yang berbunyi:</p>
<p class=arab>?????? ?????? ???? ?????? ??????? ???? ??????????? ???????????? ????? ?????? ??????? ???? ???????? ?????????? ????? ?????????? ???????????? ???????? ??????? ?????? ?????? ???? ???????? ?????? ??? ????? ??????? ???? ??????? ??????? ??????? ?????? ??????? ??????????? ??????? ??? ??????? ?????????? ?????? ??????? ?????? ???????? ???? ???????? ????????? ?????? ????????? ???????? ????????? ???? ?????????? ??????????? ???????????? ???????? ????????? ????? ???????????? ???? ???????? ?????? ???? ????? ?????? ???????? ??????? ????? ??? ??? ??????? ????????????? ????????? ????????? ?????????? ??????? ????????? ??? ?????? ????????? ?????? ??????? ???????? ?????????? ???????? ???????? ??????? ?????????? ???????? ????? ??? ?????? ???????? ??????? ???????? ????? ?????????? ?????????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ???????????? ???? ?????? ???????????? ???????? ???? ???????? ????? ???????? ??????? ??????????? ?????????????? ???? ????? ???</p>
<p><em>Umar bin Abdillah bin Al Arqam Al Zuhri menulis surat kepada Abdullah bin ‘Utbah memberitahukan kepadanya bahwa Subai’ah telah menceritakan kepadanya bahwa beliau (Subai’ah) adalah istri Sa’ad bin Khaulah yang berasal dari bani ‘Amir bin Lu’ai dan beliau ini termasuk orang yang ikut perang badr. Lalu Sa’ad meninggal dunia pada haji wada’ sedangkan Subai’ah dalam keadaan hamil. Kemudian tidak lama kemudian beliau melahirkan setelah wafat suaminya tersebut. Ketika selesai nifasnya maka Subai’ah berhias untuk dinikahi. Abu Sanaabil bin Ba’kak seorang dari bani Abduddar menemuinya sembari berkata: Mengapa saya lihat kamu berhias, tampaknya kamu ingin menikah? Tidak demi Allah kamu tidak boleh menikah sampai selesai empat bulan sepuluh hari. Subai’ah berkata: ketika ia bicara demikian kepada ku maka aku memakai pakaianku pada sore harinya lalu aku mendatangi Rasululloh dan menanyakan hal tersebut. Kemudian rasululloh memberikan fatwa kepadaku bahwa aku telah halal dengan melahirkan dan memerintahkanku menikah bila ingin</em> [13]</p>
<p>Oleh karena itu imam Ibnu Al Qayyim menyatakan: Adapun orang yang hamil, jika telah melahirkan, maka gugurlah kewajiban berkabungnya tersebut menurut kesepakatan mereka, sehingga ia boleh menikah, berhias dan memakai wangi-wangian untuk suaminya (yang baru) dan berhias sesukanya [14].</p>
<p>Sedangkan Ibnu Hajar menyatakan: Mayoritas ulama dari para salaf dan imam fatwa di negeri-negeri berpendapat bahwa orang yang hamil jika wafat suaminya menjadi halal (boleh menikah) dan selesai masa iddahnya dengan melahirkan [15].</p>
<p>Masa berkabung ini dimulai dari hari kematian suami, walaupun berita kematiannya terlambat ia dengar. Demikianlah pendapat mayoritas para sahabat, imam madzhab yang empat, Ishaaq bin Rahuyah, Abu Ubaid dan Abu Tsaur.[16]</p>
<p>Perhitungannya dengan menggunakan bulan Hijriyah. Sebagai contoh, seorang wanita ditinggal mati suaminya pada lima hari sebelum selesai bulan Dzulhijjah, maka ia hitung sisa Dzulhijah tersebut dan melihat hilal Muharrom, Shafar, Rabi’ul awal dan Rabi’u Ats Tsani, bila telah genap empat bulan tersebut maka ia tambahkan dengan sisa bulan Dzulhijah tersebut dan tambah hari sampai sepuluh hari empat bulan. Kemudian diperbolehkan berhias sebagaimana wanita berhias.</p>
<p><strong>Hal-hal yang dilarang dalam masa berkabung</strong><br />
Diharamkan pada wanita yang berkabung ini semua yang diharamkan pada orang yang menunggu masa iddah dari berhias atau yang lainnya yang dapat menarik untuk menikahinya.</p>
<p>Demikian, mudah-mudahan bermanfaat.</p>
<p>&#8212;</p>
<p><span style=text-decoration: underline;>Catatan kaki</span></p>
<p>[1] Lihat<em> Fathul Bari</em>, Ibnu Hajar, tanpa cetakan dan tahun, <em>Al Maktabah Al Salafiyah</em>, Mesir, hal 3/146</p>
<p>[2] Lihat <em>Al Kalimaat Al Bayyinaat Fi Ahkam Hadaad Al Mukminat</em>, Muhamad Al Hamuud Al Najdi,cetakan pertama tahun 1415 H, Dar Al Fath. Hal 8</p>
<p>[3] Diriwayatkan Imam Muslim dalam <em>Shahih</em>-nya kitab <em>Thalak bab Wujub Al Ihdaad</em> no. 3714.</p>
<p>[4] Diriwayatkan imam Al Bukhari dalam <em>Shahih</em>-nya, Kitab<em> Al Janaaiz</em>, bab <em>Ihdaad Al Mar’ah ‘Ala Ghairi Zaujiha</em>, no. 1280. lihat <em>Fathul Bari</em> op.cit hal 3/146</p>
<p>[5] Diriwayatkan Imam Al Bukhari, kitab <em>Thalaq</em>, Bab <em>Tahiddu Al Mutawaffa ‘Anha Arba’ata Asyhur Wa ‘Asyra</em>, no. 5335. lihat <em>Fathul Bari</em> op.cit hal 9/484</p>
<p>[6] Diriwayatkan Imam Muslim dalam <em>Shahih</em>-nya kitab <em>Thalak bab Wujub Al Ihdaad</em> no. 3714.</p>
<p>[7] <em>Al Mughni</em>, Ibnu Qudamah, tahqiiq Abdulmuhsin bin Abdullah Al Turki dan Abdulfatah bin Muhammad Al Halwu, cetakan kedua tahun 1413H, penerbit Hajar, Kairo , mesir hal. 11/284.</p>
<p>[8] <em>Zaad Al Ma’ad Fi Hadyu Khoirul Ibad</em>, Ibnu Al Qayyim, Tahqiiq Syu’aib Al Arnauth dan Abdulqadir Al Arnauth, cetakan ketiga tahun 1421H <em>Muassat Al Risalah</em> hal 5/618</p>
<p>[9] <em>Fathul Bari</em> op.cit 3/146.</p>
<p>[10] <em>Al Muhalla</em>, Ibnu Hazm Tahqiq Ahmad Muhammad Syakir, tanpa cetakan dan tahun, Daar Al Turats, Mesir. Hal 10/280</p>
<p>[11] <em>Zaad Al Ma’ad</em>, op.cit 5/618.</p>
<p>[12] diringkas secara bebas dari <em>Al Kalimaat Al Bayyinaat Fi Ahkam Hadaad Al Mukminat</em>, Muhamad Al Hamuud Al Najdi, op.cit hal 11-13</p>
<p>[13] Diriwayatkan Imam Muslim dalam <em>Shahih</em>-nya, kitab <em>Thalak</em>, bab  <em>Inqidho Al Mutawaaffa ‘Anha <span style=font-style: normal;><em>Jauzuha</em> no. 3707</span></em></p>
<p>[14] <em>Zaad Al Ma’ad</em> op.cit hal 5/619.</p>
<p>[15] <em>Fathul bari</em> op.cit hal 9/474.</p>
<p>[16] Lihat <em>Al kalimaat Al Bayyinat,</em> op.cit hal 19.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc<br />
Artikel <a href=http://ustadzkholid.com>UstadzKholid.Com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/keluarga-tanya-ustadz/hukum-berkabung-bagi-istri/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/keluarga-tanya-ustadz/hukum-berkabung-bagi-istri/&amp;title=Hukum+Berkabung+Bagi+Istri" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/keluarga-tanya-ustadz/hukum-berkabung-bagi-istri/&amp;title=Hukum+Berkabung+Bagi+Istri" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/keluarga-tanya-ustadz/hukum-berkabung-bagi-istri/&amp;t=Hukum+Berkabung+Bagi+Istri" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/keluarga-tanya-ustadz/hukum-berkabung-bagi-istri/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Hukum+Berkabung+Bagi+Istri+-+http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/keluarga-tanya-ustadz/hukum-berkabung-bagi-istri/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/keluarga-tanya-ustadz/hukum-berkabung-bagi-istri/&amp;title=Hukum+Berkabung+Bagi+Istri" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/keluarga-tanya-ustadz/hukum-berkabung-bagi-istri/&amp;title=Hukum+Berkabung+Bagi+Istri" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Hukum+Berkabung+Bagi+Istri+-+http://b2l.me/xn39H&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Hukum+Berkabung+Bagi+Istri&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/keluarga-tanya-ustadz/hukum-berkabung-bagi-istri/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Sudah%20menjadi%20satu%20keharusan%20bagi%20kita%20untuk%20mengetahui%20hukum%20dan%20adab%20seputar%20masalah%20kematian.%20Diantara%20masalah%20yang%20belum%20banyak%20diketahui%20masyarakat%20kita%2C%20khususnya%20di%20Indonesia%20adalah%20permasalahan%20berkabung" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/keluarga-tanya-ustadz/hukum-berkabung-bagi-istri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Madzhab Dan Perkembangannya</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/manhaj/madzhab-dan-perkembangannya/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/manhaj/madzhab-dan-perkembangannya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Apr 2010 14:44:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[madzhab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1559</guid>
		<description><![CDATA[Hari demi hari kaum muslimin dewasa ini selalu mendapakan ujian pengkaburan nilai-nilai agamanya. Pengkaburan ini dilakukan dengan slogan perbedaan madzhab, sehingga akhirnya istilah madzhab dijadikan pembungkus kebid ‘ahan dan penyelewengan dalam agama]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari demi hari kaum muslimin dewasa ini selalu mendapakan ujian pengkaburan nilai-nilai agamanya. Pengkaburan ini dilakukan dengan slogan perbedaan <a href="http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/manhaj-tanya-ustadz/bolehkah-ber-madzhab/">madzhab</a>, sehingga akhirnya istilah madzhab dijadikan pembungkus kebid ‘ahan dan penyelewengan dalam agama. Realita yang ada menunjukkankan juga istilah madzhab memiliki konotasi taqlid, oleh karena itu perlu sekali kita melihat sejarah perkembangan pemikiran kaum muslimin dalam permasalahan ini walaupun secara singkat.</p>
<p><strong>Pengertian madzhab</strong><br />
Kata Madzhab berasal dari kata bahasa Arab ????? ?- ???????? &#8211; ???????? &#8211; ????????? – ????????? bermakna berjalan (pergi) atau lewat, sedangkan ??????????? bermakna i’tiqad (keyakinan), jalan dan ushul yang dijalankannya [1], seperti pernyataan : Madzhab kami adalah madzhab sepuluh orang yang dijamin masuk syurga dan Ahmad[2].</p>
<p>Jadi, istilah madzhab sebenarnya mencakup juga keyakinan dan aqidah, sehingga sering digunakan para ulama untuk menyatakan keyakinan dan akidah ahlussunnah, seperti pernyataan Imam Al Shabuni ketika menjelaskan aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah : Dan termasuk madzhab Ahli Al Hadits, Imam adalah perkataan dan perbuatan serta <em>ma’rifah</em> (ilmu), bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan[3]. Demikian juga beliau menyatakan : Diantara madzhab Ahlu Sunnah wal Jamaah [4]<span id="more-1559"></span></p>
<p>Dengan demikian, salahlah bila seorang yang fanatis terhadap satu madzhab misalnya madzhab Syafi’i, lalu hanya mengambil madzhab beliau dalam fiqih dan meninggalkan aqidah yang diyakini beliau. Seperti kebanyakan pengikut madzhab yang ada, mereka ngotot menyatakan dirinya bermadzhab namun jauh dari keyakinan dan amalan imam yang diikutinya tersebut.</p>
<p><strong>Sejarah Perkembangan madzhab-madzhab yang menyimpang</strong></p>
<p>Umat islam di zaman Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> adalah umat yang satu dan bersatu mengikuti seluruh petunjuk Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> . namun semakin jauh dari masa kenabian dan jauh dari kota Madinah maka bermunculanlah madzhab-madzhab yang menyimpang dan kebid’ahan. Kota-kota yang dihuni banyak para sahabat relatif lebih sulit dan sedikit kebid’ahannya dibandingkan yang lainnya, sebab disanalah berkembang ilmu dan iman. Kota-kota tersebut adalah Makkah, Madinah, Bashroh, Kufah dan Syam. Dari kota-kota tersebut kota Madinahlah yang tidak muncul kebidahan sampai selesai masa tabiit Tabiin sedangkan yang lainnya telah bermunculan kebidahan. Kota Kufah muncul kebidahan syi’ah dan Murji’ah, kota Bashroh muncul Qadariyah, <em>mu’tazilah</em> dan <em>shufiyah</em> dan kota Syam muncul bidah <em>Nawashib </em>[5]. Bahkan kota Madinah tidak berkembang kebidahan sampai zaman murid-murid imam Malik yang merupakan kurun keempat.</p>
<p>Syaikhul Islam menceritakan perkembangan kebid’ahan dalam umat ini: Ketahuilah umumnya kebid’ahan yang berhubungan dengan aqidah dan ibadah, hanyalah terjadi pada umat islam di masa-masa akhir kekhilafahan Khulafaa’ Rasyidin, sebagaimana diberitakan Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dalam sabdanya :</p>
<p class="arab">???? ?????? ???????? ??????? ????????? ??????????? ???????? ???????????? ?????????? ????????? ???????????? ??????????????? ?????????????</p>
<p><em>Barang siapa yang masih hidup dari kalian maka akan melihat perselisihan yang banyak. Maka berpegang teguhlah kepada Sunnahku dan Sunnah para kholifah Rasyidin</em>..[6][7]</p>
<p>Kemudian beliau menyatakan: Ketika negara khulafa’ Rasyidin habis dan jadilah kerajaan, maka muncullah kekurangan pada pemerintah dan ini mesti diikuti juga dengan kemunculan hal tersebut pada ulamanya, sehingga muncullah pada kekhilafahan Ali bin Abi Tholib dua kebid’ahan yaitu <a href="http://ustadzkholid.com/manhaj/mengenal-khawarij"></a>Khawarij dan Rafidhah. Dua kebidahan ini berhubungan dengan masalah imamah dan khilafah serta yang yang berhubungan dengan hal itu dari amalan dan hukum-hukum syari’at [8].</p>
<p>Dalam pernyataan lainnya beliau menyatakan: Ketika terjadi perpecahan setelah terbunuhnya khalifah Utsman muncullah kebidahan khawarij dan muncul juga syi’ah dengan 3 alirannya. Yang ekstrim dibakar oleh Ali bin Abi Tholib, <em>Syiah Mufadholah</em> dicambuk delapan puluh kali oleh Ali dan aliran Saba’iyah yang imam Ali ancam dan Ibnu Saba’ dicari untuk dibunuh namun berhasil melarikan diri[9].</p>
<p>Kemudian setelah pemerintahan Mu’awiyah dan Yazid bin Mu’awiyah umat Islam berpecah belah. Ibnu Taimiyah menyatakan: Kemudian Yazid meninggal dunia dan umat Islam berpecah belah, Ibnu Az Zubair memerintah di Hijaaz, Banu Al Hakam memerintah di Syam dan Al Mukhtar bin Abu Ubaid dan lainnya merebut Iraq. Dan ini terjadi di akhir masa shahabat dan masih tersisa pada mereka sahabat seperti Abdullah bnu Abas, Abdullah bin Umar, Jabir bin Abdillah, Abu Sa’id Al Khudri dan sejawatnya. Pada masa inilah muncul bidah Qadariyah dan <a href="http://ustadzkholid.com/manhaj/implikasi-buruk-pemikiran-murjiah"></a>Murji’ah. Lalu para sahabat seperti Ibnu Abas, Ibnu Umar[10], Jabir[11] dan Watsilah bin Al Asqaa’ serta yang lainnya membantahnya dengan tetap membantah kebidahan khawarij dan rafidhoh. Pada umumnya madzhab Qadariyah ketika itu hanya berbicara pada masalah amalan hamba (<em>A’maal Al Ibaad</em>) sebagaimana Murji’ah pun berbicara dalam permasalahan ini, sehingga mereka hanya berbicara tentang masalah taat dan maksiat, Mu’min dan fasiq dan yang sejenisnya dari masalah <em>Asma Wa Ahkaam</em> [12] dan <em>Al Wa’d wa Al Wa’id</em> [13] dan belum berbicara lagi tentang Rabb dan sifat-sifatNya kecuali di akhir-akhir masa shighor tabiin tepatnya di akhir kekhilafahan bani Umayah diawal abad ketiga –<em>Tabi&#8217;ut Tabiin</em>- ketika kebanyakan mereka telah wafat [14].</p>
<p>Kemudian beliau menuturkan kembali dalam pernyataannya: Lalu sebagian kitab-kitab Persia, India dan Rumawi dialih bahasakan kebahasa Arab dan muncullah apa yang disabdakan Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> :</p>
<p class="arab">????? ??????? ????????? ?????? ???????? ????????? ?? ??? ???????????? ?? ???????? ????? ????????????</p>
<p><em>Kemudian tersebarlah kedustaan sampai seseorang bersaksi dan tidak dimintai persaksian dan bersumpah tanpa diminta bersumpah</em>.</p>
<p>Lalu muncullah tiga kebidahan yaitu <em>Ar Ra’yu</em> [15], <em>Al Kalam</em> dan <em>Tashawuf</em>. Kemudian muncul bidah <em>tajahhum</em> (<em>jahmiyah</em>) yaitu bidah penolakan sifat-sifat Allah, lalu muncul juga bid&#8217;ah <em>tamtsil</em> [16].</p>
<p>Ibnu Taimiyah menyatakan tentang kemunculan Jahmiyah ini dalam pernyataannya: Adapun Jahmiyah, maka mereka muncul di akhir zaman Tabi’in setelah wafatnya Umar bin Abdil Aziz. Kemunculan Jahm bin Shafwan di Kota Khurasaan di zaman kekhilafahan Hisyam bin Abdilmalik [17].</p>
<p>Ibnu Al Qayyim menyampaikan kepada kita ringkas sejarah yang dipaparkan guru beliau diatas dengan pernyataan: Bidah Qadariyah muncul diakhir masa sahabat, lalu sahabat yang masih hidup seperti Abdullah bin Umar, Ibnu Abas dan yang semisalnya mengingkarinya, kemudian muncul bidah Irja’ (murji’ah)setelah habis masa sahabat lalu para kibar tabiin angkat bicara membantahnya, kemudian muncul bid’ah tajahhum (Jahmiyah) setelah selesai masa Tabi’in. bidah ini menjadi besar dan menyebar kejelekannya pada zaman para imam seperti imam Ahmad dan yang semisalnya. Kemudian setelah itu muncul bid’ah Hulul (Hululiyah) dan berkembang pada zaman Al Husein Al Hallaaj. Setiap kali syeithon memunculkan satu kebidahan dan yang lainnya maka Allah bangkitkan diantara hizbu dan tentaraNya yang membantah dan memperingatkan kaum muslimin dari kebidahan tersebut [18].</p>
<p>Sedangkan Ibnu Hajar menjelaskan bahwa setelah penulisan hadits Nabi muncul penulisan tafsir Al Qur’an, kemudian pembukuan masalah-masalah fiqih yang dilahirkan dari Ra’yu murni kemudian pembukuan yang berhubungan dengan amalan-amalan hati (tashawuf). Adapun yang pertama (pembukuan hadits) diingkari oleh Umar, Abu Musa dan sekelompok sahabat dan mayoritas mereka membolehkannya. Sedangkan yang kedua diingkari sejumlah Tabi&#8217;in diantaranya Asy Sya’bi dan yang ketiga diingkari Imam Ahmad dan sejumlah ulama. Demikian juga Imam Ahmad lebih mengingkari lagi yang setelahnya. Diantara yang muncul berkembang juga adalah pembukuan pendapat-pendapat yang berhubungan dengan ushul agama, sehingga tersebarlah kelompok <em>Mutsbitah</em> (yang menetapkan sifat Allah) dan <em>An Nufaah</em> (yang menolak sifat Allah). Kelompok pertama menjadi ekstrim sampai menyerupakan Allah dengan makhluk dan yang kedua sampai menolak semua sifat Allah (<em>Mu&#8217;aththil</em>). Para salaf dengan kerasnya mengingkari hal ini seperti Abu Hanifah, Abu Yusuf dan Imam Asy Syafi’i. Dan pernyataan mereka dalam mencela ilmu kalam sudah masyhur. Sebabnya karena mereka berbicara dalam hal-hal yang Rasululloh <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dan para sahabatnya tidak membicarakannya. Imam malik pernah menyatakan bahwa pada zaman nabi, Abu bakar dan Umar tidak ada sedikitpun kebidahan- yaitu bidah khawarij, Rafidhah, Qadariyah- lalu berkembang lebih luas (bid&#8217;ah ini) pada masa belakangan dari tiga generasi yang utama dalam mayoritas perkara yang telah diingkari para tabiin dan tabiit tabiin. Mereka tidak puas hanya dengan hal ini sehingga mencampur adukkan masalah-masalah agama dengan ilmu kalam Yunani dan menjadikan statemen filsafat sebagai dasar rujukan terhadap atsar (nash-nash syar’I) yang menyelisihinya dengan ta’wiel walaupun dipaksakan. Kemudian juga tidak cukup hanya dengan ini saja sampai menganggap apa yang mereka susun tersebut sebagai ilmu yang paling mulia dan utama untuk dipelajari serta orang yang tidak menggunakan istilah yang mereka buat tersebut sebagai orang awam yang bodoh. Orang yang berbahagia adalah orang yang berpegang teguh kepada ajaran salaf dan menjauhi kebidahan orang kholaf.[19]</p>
<p>Demikianlah orang-orang yang meanganggap pemikiran mereka lebih baik dari nash-nash syar’I, lalu setelah itu bermunculanlah sikap taklid buta pada kaum muslimin yang menyebabkan mereka jauh darikemulian dan kejayaan yang pernah dirasakan para salaf shalih.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah melengkapi pernyataan beliau diatas dengan menyatakan: Kemudian orang-orang terdahulu (<em>Mutaqaddimun</em>) yang meletakkan jalan pemikiran , ilmu kalam dan tasawuf dan yang lainnya masih mencampurkan hal itu dengan dasar Al Qur’an dan Sunnah serta Atsaar, karena masanya masih dekat (dengan generasi terbaik) dan juga cahaya sunnah Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> masih tampak tinggi, walaupun disebagian orang cahaya sunnah ini telah tercampuri kegelapan yang lainnya. Sedangkan orang-orang akhir (<em>Mutaakhirun</em>) maka banyak dari mereka yang lepas dari kaidah yang diletakkan orang terdahulunya, seperti orang yang menulis kitab ilmu kalam dari kalangan <em>mutaakhirin</em> yang hanya memuat kaidah-kaidah berfikir bid&#8217;ah saja dan berpaling dari kitabullah dan Sunnah. Juga menjadikan keduanya sebagai rujukan sekunder saja atau beriman kepada keduanya secara global saja atau perkaranya keluar sampai menjadi zindiq. Ahli kalam <em>mutaqaddimun</em> lebih baik dari <em>mutaakhirun</em>-nya. Demikian juga yang menulis pembahasan <em>Ar Ra’yu</em> hanya menjelaskan pemikiran imamnya dan sahabat pendukungnya saja dan berpaling dari Al Qur’an dan Sunnah serta menimbang isi kandungan Al Qur’an dan Sunnah dengan pemikiran imamnya saja, seperti banyak dari para pengikut madzhab Abu Hanifah, malik, Syafi’I dan Ahmad [20].</p>
<p>Demikian akhirnya <a href="http://ustadzkholid.com/manhaj/madzhab-dan-perkembangannya"></a>madzhab menjadi segala-galanya. Semua yang menyelisihi madzhab walaupun itu Al Qur’an dan Sunnah maka harus ditinggalkan. Bahkan sampai-sampai dikatakan yang tidak bermadzhab satu dianggap sesat. Tidak sampai disini saja namun sampai ada yang melarang meneliti langsung Al Qur’an dan Sunnah dengan dalih madzhab telah mencukupinya. <em>Subhanallahu hadza buhtanun Adzim</em>.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Sejarah ini membuktikan bahwa jauhnya kaum muslimin dari Al Qur’an dan Sunnah serta pemahaman para Salaf Shalih mengakibatkan kaum muslimin jatuh dalam kehancuran dan taklid buta. Marilah kita jadikan Al Qur’an dan Sunnah sebagai pelindung kita dari semua kesesatan dan kehancuran dan menjadikan keduanya sebagai sumber pelita kehidupan kita semua. Sebagaimana firman Allah <em>Ta’ala</em>:</p>
<p class="arab">????????????? ???????? ????? ???????? ????? ??????????? ??????????? ???????? ????? ?????????? ???? ??????? ????????? ????????? ?????? ??????????? ????????????? ???????????? ?????????? ????????? ????? ????? ???????? ????? ???????? ???????????? ???????? ???????? ????????? ????? ?????? ?????????? ??????????? ???????????</p>
<p><em>Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk</em>. (QS. Al Imran: 103)</p>
<p>Mudah-mudahan dengan demikian Allah <em>Ta&#8217;ala</em> memberikan nikmat persaudaraan kepada kita semua.</p>
<p>&#8212;</p>
<p><span>Referensi</span></p>
<p>1. Al Qaamus Al Muhith, Muhammad bin Ya’qub Al Fairyuzabadi (wafat tahun 817 H ), tahqiq Muhammad Na’im Al Urqusysi, cetakan kelima tahun 1416 H, Muassasah Ar Risaalah</p>
<p>2. Al Kuliyaat, Mu’jam Fi AL Mushtholahaat Wa Al Furuq Al Lughowiyah, Ayub bin Musa Al Husaini Al Kafawi (W. 1094 H) tahqiq ‘Adnaan Darus dan Muhammad Al Mishri cetakan pertama tahun 1412H, Muassasah Ar Risalah, Bairut</p>
<p>3. Aqidah Al Salaf Wa Ashhabul Hadits, Abu Utsman Isma’il bin Abdurrahman Ash Shobuni, (Wafat 449 H ), tahqiq DR. Nashir bin Abdurrahman Al Judai’, cetakan kedua tahun 1419H, Dar Al ‘Ashimah</p>
<p>4. Majmu’ fatawa Ibnu Taimiyah</p>
<p>5. Taqrib Al Tadmuriyah, Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, tahqiq Sayyid Abbas bin Ali Al Julaimi, cetakan pertama tahun 1413H, Maktabah Al Sunnah, Mesir</p>
<p>6. Al Intishor Li Ahli Al Hadits, Muhammad bin Umar Salim Bazamuul, cetakan pertama tahun 1418 H Dar Al Hijroh, KSA</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.Com</a></p>
<p><span>Footnote</span></p>
<p>[1] Lihat <em>Al Qaamus Al Muhith</em>, Muhammad bin Ya’qub Al Fairyuzabadi (wafat tahun 817 H ), tahqiq Muhammad Na’im Al Urqusysi, cetakan kelima tahun 1416 H, Muassasah Ar Risaalah, Bairut hal. 111</p>
<p>[2] lihat <em>Al Kuliyaat, Mu’jam Fi AL Mushtholahaat Wa Al Furuq Al Lughowiyah</em>, Ayub bin Musa Al Husaini Al Kafawi (W. 1094 H) tahqiq ‘Adnaan Darus dan Muhammad Al Mishri cetakan pertama tahun 1412H, Muassasah Ar Risalah, Bairut hal 878.</p>
<p>[3] <em>Aqidah Al Salaf Wa Ashhabul Hadits</em>, Abu Utsman Isma’il bin Abdurrahman Ash Shobuni, (Wafat 449 H ), tahqiq DR. Nashir bin Abdurrahman Al Judai’, cetakan kedua tahun 1419H, Dar Al ‘Ashimah hal 264</p>
<p>[4] ibid hal.285</p>
<p>[5] lihat <em>Majmu’ fatawa</em> 20/300-301</p>
<p>[6] Hadits <em>Shahih Lighairihi</em>. Hadits ini diriwayatkan imam Ahmad dalam Musnadnya 4/126. Ad Darimi dalam Muqaddimah sunannya, At Tirmidzi no. 2676 dan Ibnu Majah no 42 dan 44 (lihat takhrij Muhamad Umar Bazmul dalam kitab Al Intishor Li Ahli AlHadits hal 35)</p>
<p>[7] <em>Majmu’ Fataawa</em> 10/354</p>
<p>[8] ibid 10/356</p>
<p>[9] ibid 20/301.</p>
<p>[10] Lihat bantahan beliau terhadap qadariyah pada hadits no 8 dalam kitab Al Iman pada Shahih Muslim.</p>
<p>[11] Lihat bantahan beliau pada shohih Muslim, kitab Al Iman, no. 191.</p>
<p>[12] Penamaan seseorang dengan mukmin atau kafir dan hukumnya didunia dan akhirat.</p>
<p>[13] Masalah janji dan ancaman yang ada dalam nash-nash dan penerapannya.</p>
<p>[14] <em>Majmu’ Fatawa</em> 10/357</p>
<p>[15] yang dimaksud disini adalah menjadikan akal sumber rujukan dan mendahulukanatau mengedepankannya dari Nash Al Qur’an dan Sunnah. Lihat <em>Al Intishor Li Ahli Al Hadits</em>, Muhammad bin Umar Salim Bazamuul, cetakan pertama tahun 1418 H Dar Al Hijroh, KSA hal. 21</p>
<p>[16] ibid 10/358.</p>
<p>[17] Ibid 20/302.</p>
<p>[18] lihat Tahdzib Sunan Abi Daud 7/61 hadits no 4527, kami nukil dari <em>Taqrib Al Tadmuriyah</em>, Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, tahqiq Sayyid Abbas bin Ali Al Julaimi, cetakan pertama tahun 1413H, Maktabah Al Sunnah, Mesir hal 12.</p>
<p>[19] Dinukil dari <em>Taqrib Al Tadmuriyah</em> hal 12-13 dengan merujuk kepada Fathul Bari 13/253)</p>
<p>[20] <em>Majmu’ Fatawaa</em> 10/366</p>
<p><em> </em></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/manhaj/madzhab-dan-perkembangannya/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/madzhab-dan-perkembangannya/&amp;title=Madzhab+Dan+Perkembangannya" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/manhaj/madzhab-dan-perkembangannya/&amp;title=Madzhab+Dan+Perkembangannya" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/manhaj/madzhab-dan-perkembangannya/&amp;t=Madzhab+Dan+Perkembangannya" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/madzhab-dan-perkembangannya/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Madzhab+Dan+Perkembangannya+-+http://ustadzkholid.com/manhaj/madzhab-dan-perkembangannya/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/madzhab-dan-perkembangannya/&amp;title=Madzhab+Dan+Perkembangannya" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/madzhab-dan-perkembangannya/&amp;title=Madzhab+Dan+Perkembangannya" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Madzhab+Dan+Perkembangannya+-+http://b2l.me/pf7vk&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Madzhab+Dan+Perkembangannya&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/manhaj/madzhab-dan-perkembangannya/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Hari%20demi%20hari%20kaum%20muslimin%20dewasa%20ini%20selalu%20mendapakan%20ujian%20pengkaburan%20nilai-nilai%20agamanya.%20Pengkaburan%20ini%20dilakukan%20dengan%20slogan%20perbedaan%20madzhab%2C%20sehingga%20akhirnya%20istilah%20madzhab%20dijadikan%20pembungkus%20kebid%20%E2%80%98ahan%20dan%20penyelewengan%20dalam%20agama" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/manhaj/madzhab-dan-perkembangannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keluarga Abdul Muthalib</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/sejarah-islam/keluarga-abdul-muthalib/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/sejarah-islam/keluarga-abdul-muthalib/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Apr 2010 02:31:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[sirah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1554</guid>
		<description><![CDATA[Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam berasal dari keluarga terhormat bani Hasyim dari orang tua yang bernama Abdullah bin Abdul Muthalib dan ibunya Aminah bintu Wahb dari Bani Zuhrah. Demikian juga sekilas kisah Abdul Mutholib dan perannya dalam msyarakat Quraisy, khususnya dalam perang gajah]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Muhammad <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> berasal dari keluarga terhormat bani Hasyim dari orang tua yang bernama Abdullah bin Abdul Muthalib dan ibunya Aminah bintu Wahb dari Bani Zuhrah. Demikian juga sekilas kisah Abdul Mutholib dan perannya dalam msyarakat Quraisy, khususnya dalam perang gajah. Maka pada kesempatan ini dipaparkan sekilas tentang keluarganya yang memiliki hubungan langsung dengan kelahiran nabi Muhammad <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>.</p>
<p><span id="more-1554"></span></p>
<p><strong>Anak-anak Abdul Muthalib</strong></p>
<p>Abdul Muthalib seorang tokoh terkemuka Quraisy dari bani Hasyim memiliki beberapa putra dan putri, diantaranya:</p>
<ol>
<li><span style=text-decoration: underline;>Al Haarits bin Abdul Muthalib</span>, anak tertua beliau dan wafat dimasa hidup Abdul Muthalib. Dari anak-anak Al Harits yang masuk Islam adalah Ubaidah terbunuh di parang badar, Rabi’ah, Abu Sufyaan dan Abdullah.</li>
<li><span style=text-decoration: underline;>Az Zubair bin Abdul Muthalib,</span> saudara kandung Abdullah (ayahanda Rasulullah), ia adalah penglima bani Hasyim dan bani Al Muthalib dalam perang <em>Fijaar</em>, seorang terhormat dan penyair, namun tidak menjumpai masa-masa Islam. Diantara anaknya yang masuk Islam adalah Abdullah terbunuh dalam perang Ajnadain, Dhuba’ah, Majl, Shafiyah dan ‘Atikah.</li>
<li><em><span style=text-decoration: underline;>Hamzah bin Abdul Muthalib</span></em>, paman sekaligus saudara sesusuan Rasulullah yang masuk Islam dan menjadi pahlawan islam di perang Badar dan Uhud. Beliau terbunuh syahid di perang Uhud.</li>
<li><span style=text-decoration: underline;>Al Abaas bin Abdul Muthalib</span>, yang masuk islam dan menjadi pembela Rasulullah dalam memperjuangkan Islam. Beliau dilahirkan tiga tahun sebelum perang gajah dan meninggal tahun 32 H dalam usia 86 tahun.</li>
<li><span style=text-decoration: underline;>Abu Lahab bin Abdul Muthalib</span>, musuh besar dan penentang keras dakwah Rasululloh, sampai Allah turunkan firmanNya: Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar. (QS. 111:1-4) Ia mati setelah perang Badar. Diantara putra-putranya ‘Utaibah yang mati diterkam binatang buas, Utbah dan Mu’tib keduanya masuk islam pada hari penaklukan kota Makkah.</li>
<li><span style=text-decoration: underline;>Abu Thalib Abdul Manaf bin Abdul Muthalib</span>, paman Nabi yang memelihara dan membela beliau dalam penyebaran dakwah Islam, namun tidak mau masuk islam lantaran takut dicela kaumnya.</li>
<li><span style=text-decoration: underline;>Al Baidha’ Ummu Hakiem bintu Abdul Muthalib</span>, yang menikah dengan Kurz bin Rabi’ah bin Habieb bin Abdus Syams. Ia memiliki dua anak yang bernma Amir dan Arwa’, lalu Arwa ini menikah dengan Affaan bin Abu Al ‘Ash dan melahirkan <strong>Utsman bin Affan</strong> khalifah Rasyidin yang ketiga. Arwa’ ibunya Utsman bin Affaan ini hidup sampai masa kekhilafahan anaknya.</li>
<li><span style=text-decoration: underline;>Barrah binti Abdul Muthalib</span>, ibu sahabat Abu Salamah bin Abdul Aswad Al Makhzumi</li>
<li><span style=text-decoration: underline;>Shafiyah bintu Abdul Muthalib</span>, ibu sahabat Al Zubair bin Al Awaam, beliau menikah pertama kali dengan Al Haarits bin Harb, lalu ditinggal mati dan menikah lagi dengan Al ‘Awam dan melahirkan Al Zubair. Beliau masuk islam dan ikut berhijrah. Beliau wafat tahun 20 H di Madinah dan dimakamkan di Baqi’</li>
<li><span style=text-decoration: underline;>Arwa’</span>, ibu dari keluarga Jahsy yang memiliki anak-anak diantaranya: Abdullah, Abu Ahmad, Ubaidillah, Zainab dan Hamnah.</li>
<li><span style=text-decoration: underline;>Abdullah bin Abdul Muthalib</span>, ayah Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>.</li>
</ol>
<p>Demikianlah <a href=http://ustadzkholid.com/sejarah-islam/keluarga-abdul-muthalib/>anak-anak Abdul Muthalib</a> yang disebutkan para ulama sejarah islam.</p>
<p><strong>Pernikahan Abdullah dan Aminah</strong></p>
<p>Sudah menjadi ketetapan sejarah, bahwa Abdullah bin Abdul Muthalib menikahi Aminah bintu Wahb wanita Bani Zuhrah. Bani Zuhrah masih termasuk kerabat bani Hasyim, bahkan Abdul Muthalib juga menikahi salah seorang wanita Bani Zuhrah yaitu Haalah bintu Wuhaib dan Wuhaib paman Aminah pun dipelihara di rumah Abdul Muthalib. Tidak ada penukilan sejarah peroncian pernikahan Abdullah ini yang dapat dijadikan sandaran sejarah, sedangkan riwayat yang menjelaskan perincian kisah pernikahannya semuanya lemah dan tidak dapat dijadikan sandaran sama sekali.[1]</p>
<p><strong>Abdullah Wafat</strong></p>
<p>Abdullah sakit dan wafat serta dikuburkan di kota Madinah ditempat keluarga neneknya Bani Adi bin Najaar, ketika melakukan perjalanan pulang berdagang dikota Madinah, sebagaimana dijelaskan dalam hadits mursal dari Imam Al Zuhri yang menyatakan:</p>
<p>?????? ????? ?????????? ?????? ????? ???? ?????? ???????????? ????????? ??????? ???? ?????????? ?????????? ?????? ????? ????? ?? ???????? ??????? ???????? ????? ?????? ???? ?????? ?????? ????????????</p>
<p><em>Abdul Muthalib mengutus Abdullah membeli kurma di Yatsrieb (Madinah), lalu ia meninggal disana, lalu Aminah melahirkan Rasulullah lalu beliau dipelihara Abdul Muthalib</em>.</p>
<p>Riwayat diatas lemah dari sisi sanad periwayatan karena riwayat mursal Az Zuhri, namun ini sama dengan hadits yang diriwayatkan Qais bin Makhramah seorang sahabat Nabi ketika mengisahkan <a href=http://ustadzkholid.com/sejarah-islam/kelahiran-rasulullah-shallallahu-%E2%80%98alaihi-wasallam/>kelahiran Rasulullah</a> dalam pernyataan beliau:</p>
<p>????????? ???????? ?? ??????? ??????? ????<br />
<em>Bapak beliau meninggal dunia dalam keadaan ibunya mengandung beliau (Rasulullah)</em>.[2]</p>
<p>Demikianlah pendapat ulama yang dirajihkan Ibnu Ishaaq dan Ibnu Sa’ad dan inilah yang masyhur. Dengan demikian hal ini sesuai dengan firman Allah <em>Ta’ala </em>(yang artinya):</p>
<p><em>Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu</em>. (QS. Ad Dhuha: 6)</p>
<p>Semoga bermanfaat.</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/sejarah-islam/keluarga-abdul-muthalib/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/sejarah-islam/keluarga-abdul-muthalib/&amp;title=Keluarga+Abdul+Muthalib" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/sejarah-islam/keluarga-abdul-muthalib/&amp;title=Keluarga+Abdul+Muthalib" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/sejarah-islam/keluarga-abdul-muthalib/&amp;t=Keluarga+Abdul+Muthalib" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/sejarah-islam/keluarga-abdul-muthalib/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Keluarga+Abdul+Muthalib+-+http://ustadzkholid.com/sejarah-islam/keluarga-abdul-muthalib/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/sejarah-islam/keluarga-abdul-muthalib/&amp;title=Keluarga+Abdul+Muthalib" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/sejarah-islam/keluarga-abdul-muthalib/&amp;title=Keluarga+Abdul+Muthalib" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Keluarga+Abdul+Muthalib+-+http://b2l.me/n8eh2&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Keluarga+Abdul+Muthalib&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/sejarah-islam/keluarga-abdul-muthalib/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Muhammad%20Shallallahu%27alaihi%20Wasallam%20berasal%20dari%20keluarga%20terhormat%20bani%20Hasyim%20dari%20orang%20tua%20yang%20bernama%20Abdullah%20bin%20Abdul%20Muthalib%20dan%20ibunya%20Aminah%20bintu%20Wahb%20dari%20Bani%20Zuhrah.%20Demikian%20juga%20sekilas%20kisah%20Abdul%20Mutholib%20dan%20perannya%20dalam%20msyarakat%20Quraisy%2C%20khususnya%20dalam%20perang%20gajah" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/sejarah-islam/keluarga-abdul-muthalib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kapan Zakat Pertanian Dibayarkan?</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/kapan-zakat-pertanian-dibayarkan/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/kapan-zakat-pertanian-dibayarkan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Apr 2010 01:51:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1546</guid>
		<description><![CDATA[Apakah wajib zakat atas panen padi yang dihasilkan setelah 6 bulan, 4 bulan diairi hujan dan 2 bulan diairi dengan alat pengairan. Jika ya, berapakah kadarnya?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apakah wajib zakat atas panen padi yang dihasilkan setelah 6 bulan, 4 bulan diairi hujan dan 2 bulan diairi dengan alat pengairan. Jika ya, berapakah kadarnya?</p>
<p style=text-align: right;>08135107xxxx</p>
<p><span id="more-1546"></span><br />
<strong>Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. menjawab:</strong><br />
Syariat islam telah mewajibkan zakat pada harta kita dan diantaranya adalah hasil pertanian yang dikeluarkan ketika panen atau setelah panen. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah <em>Ta&#8217;ala</em> (yang artinya) :<br />
<em>Dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan</em>. (QS Al-An’aam: 141)</p>
<p>Namun tentunya juga syariat menetapkan syarat-syarat yang harus diperhatikan setiap muslim yang ingin berzakat. Diantara syarat kewajiban zakat hasil pertanian dan perkebunan adalah:</p>
<ol>
<li><span style=text-decoration: underline;>Berbentuk biji atau buah-buahan</span>, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Sa’id Al Khudri yang berbunyi
<p class=arab>?????? ???? ????? ????? ?????? ???????? ?????? ???????? ???????? ?????????</p>
<p><em>Tidak ada pada biji-bijian dan kurma zakat hingga mencapai lima wasaq</em> (HR. Bukhari no.1459, Muslim no.979 )</li>
<li><span style=text-decoration: underline;>Dapat ditakar atau ditimbang</span>, karena ukuranya dengan wasaq sehingga yang tidak ditakar dan ditimbang tidak diwajibkan zakat padanya.</li>
<li><span style=text-decoration: underline;>Dapat disimpan lama</span> (<em>Muddakhar</em>), seperti gandum, beras, jagung, kurma, anggur kering  dll.</li>
<li><span style=text-decoration: underline;>Tumbuh ditanam manusia dan memiliki pemilik</span>.</li>
<li><span style=text-decoration: underline;>Mencapai nishab</span> (standar zakat), yaitu seukuran 5 wasaq yang setara dengan 300 sha’ atau 750 kg (apabila satu sha’ = 2,5 kg), berdasarkan sabda Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> :
<p class=arab>?????? ??????? ????? ???????? ???????? ????????&#8230;</p>
<p><em>Tidak ada dibawah lima wasaq zakat</em> (HR. Bukhari no.1447, Muslim no.979)</li>
</ol>
<p>Apabila memenuhi syarat-syarat diatas maka ketika panen atau setelahnya wajib dikeluarkan zakat bila tanpa pembiayaan pengairan atau tadah hujan 1/10 atau (10%) dari hasil panen dan bila dengan adanya pembiayaan pengairan maka dikenakan 1/20 atau 5 % dari hasil panen. Hal ini dijelaskan dalam sabda beliau <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> :</p>
<p class=arab>??????? ?????? ?????????? ?????????????? ???? ????? ????????? ?????????? ????? ?????? ??????????? : ?????? ?????????</p>
<p><em>Pada pertanian yang disirami langit (hujan) dan mata air atau pengairan yang tidak membutuhkan pembiayaan maka sepersepuluh (10 %) dan yang disirami dengan pengairan yang butuh pembiayaan maka seperduapuluh (5 %)</em>. (HR Al-Bukhari no.1483)</p>
<p>Ukuran ini apabila tidak tercampur kedua system pengairan ini. Apabila tercampur antara tadah hujan dengan pengairan dengan biaya dalam satu usaha penanaman maka dapat dirinci sebagai berikut:</p>
<blockquote><p>Apabila seimbang antara tadah hujan dengan pengairan dengan pembiayaan maka diambil 3/40 atau 7,5 % sebagaimana dijelaskan Imam Ibnu Qudamah dalam kitab <em>Al-Mughni</em> (4/165) dan ada yang menukilkan ijma’ ulama atas hal ini.</p>
<p>Permasalahan yang saudara sampaikan ada pada keadaan perbedaan ukuran antara yang disiram dengan tadah hujan dan yang diairi dengan pembiayaan. Dalam hal ini para ulama menetapkan ukurannya terhadap mana yang lebih memberikan manfaat kepada tanaman tersebut. Apabila pertumbuhan tanaman dengan pembiayaan lebih banyak dari pertumbuhan dengan sebab tadah hujan maka yang dikeluarkan hanya 5 % saja sedangkan bila sebaliknya maka harus dikeluarkan 10 %.</p></blockquote>
<p>Nah melihat keadaan saudara nampaknya tadah hujan lebih dominan dari pada pengairan dengan pembiayaan, sehingga saudara harus mengeluarkan 10 % dari hasil panen.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc<br />
Artikel <a href=http://ustadzkholid.com>UstadzKholid.Com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/kapan-zakat-pertanian-dibayarkan/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/kapan-zakat-pertanian-dibayarkan/&amp;title=Kapan+Zakat+Pertanian+Dibayarkan%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/kapan-zakat-pertanian-dibayarkan/&amp;title=Kapan+Zakat+Pertanian+Dibayarkan%3F" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/kapan-zakat-pertanian-dibayarkan/&amp;t=Kapan+Zakat+Pertanian+Dibayarkan%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/kapan-zakat-pertanian-dibayarkan/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Kapan+Zakat+Pertanian+Dibayarkan%3F+-+http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/kapan-zakat-pertanian-dibayarkan/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/kapan-zakat-pertanian-dibayarkan/&amp;title=Kapan+Zakat+Pertanian+Dibayarkan%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/kapan-zakat-pertanian-dibayarkan/&amp;title=Kapan+Zakat+Pertanian+Dibayarkan%3F" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Kapan+Zakat+Pertanian+Dibayarkan%3F+-+http://b2l.me/n8eak&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Kapan+Zakat+Pertanian+Dibayarkan%3F&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/kapan-zakat-pertanian-dibayarkan/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Apakah%20wajib%20zakat%20atas%20panen%20padi%20yang%20dihasilkan%20setelah%206%20bulan%2C%204%20bulan%20diairi%20hujan%20dan%202%20bulan%20diairi%20dengan%20alat%20pengairan.%20Jika%20ya%2C%20berapakah%20kadarnya%3F" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/kapan-zakat-pertanian-dibayarkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shaf Wanita Dalam Shalat Berjama&#8217;ah</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/shaf-wanita-dalam-shalat-berjamaah/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/shaf-wanita-dalam-shalat-berjamaah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Apr 2010 01:07:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1541</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana posisi shaf perempuan yang shalat berjamaah bersama perempuan dan dimanakah letak imam dan makmum?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagaimana posisi shaf perempuan yang shalat berjamaah bersama perempuan dan dimanakah letak imam dan makmum?</p>
<p style=text-align: right;><em>Ummu Hana<br />
Karang Anyar</em></p>
<p style=text-align: left;><span id="more-1541"></span></p>
<p><strong>Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. menjawab:</strong><br />
Perempuan jika shalat berjama&#8217;ah bersama peremupuan tanpa ada laki-laki di sana maka mereka membuat shaf sebagaimana biasa. Jika jumlahnya banyak maka berbaris, namun jika sedikit tidak berbaris. Sedangkan imamnya berada ditengah dan makmumnya berada di sebelah kanan dan kirinya. Inilah yang dicontohkan oleh &#8216;Aisyah dan Ummu Salamah<em> Radhiallahu&#8217;anhuma</em>.</p>
<p>Sebagaimana disampaikan dalam <em>Al Mushannaf</em> Abdurrazzaq Ash Shan&#8217;ani, juga dibawakan oleh Syaikh Musthafa Al Adawi dalam <em>Jami&#8217; Ahkam An Nisa</em>.</p>
<p><em>Wallahu Ta&#8217;ala A&#8217;lam</em>.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.<br />
Artikel <a href=http://ustadzkholid.com>UstadzKholid.Com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/shaf-wanita-dalam-shalat-berjamaah/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/shaf-wanita-dalam-shalat-berjamaah/&amp;title=Shaf+Wanita+Dalam+Shalat+Berjama%27ah" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/shaf-wanita-dalam-shalat-berjamaah/&amp;title=Shaf+Wanita+Dalam+Shalat+Berjama%27ah" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/shaf-wanita-dalam-shalat-berjamaah/&amp;t=Shaf+Wanita+Dalam+Shalat+Berjama%27ah" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/shaf-wanita-dalam-shalat-berjamaah/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Shaf+Wanita+Dalam+Shalat+Berjama%27ah+-+http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/shaf-wanita-dalam-shalat-berjamaah/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/shaf-wanita-dalam-shalat-berjamaah/&amp;title=Shaf+Wanita+Dalam+Shalat+Berjama%27ah" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/shaf-wanita-dalam-shalat-berjamaah/&amp;title=Shaf+Wanita+Dalam+Shalat+Berjama%27ah" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Shaf+Wanita+Dalam+Shalat+Berjama%27ah+-+http://b2l.me/xn8rx&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Shaf+Wanita+Dalam+Shalat+Berjama%27ah&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/shaf-wanita-dalam-shalat-berjamaah/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Bagaimana%20posisi%20shaf%20perempuan%20yang%20shalat%20berjamaah%20bersama%20perempuan%20dan%20dimanakah%20letak%20imam%20dan%20makmum%3F" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/shaf-wanita-dalam-shalat-berjamaah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
