Post Type

Derajat hadist mengerak-gerakan jari ketika sholat

assalamu'alaikum,
Ustadz pada hadits Wa`il bin Hujr (menggerak-gerakan jari telunjuk) terdapat perawi bernama Za`idah bin Qudamah yaitu seorang rawi tsiqoh yang kuat hafalannya.
Pendapat pertama : Za`idah bin Qudamah telah menyelisihi dua puluh dua orang rawi yang mana kedua puluh dua orang rawi ini semuanya tsiqoh bahkan sebagian dari mereka itu lebih kuat kedudukannya dari Za`idah sehingga apabila Za`idah menyelisihi seorang saja dari mereka itu maka sudah cukup untuk menjadi sebab syadznya riwayat Za`idah. Semuanya meriwayatkan dari ‘Ashim bin Kulaib bin Syihab dari ayahnya dari Wa`il bin Hujr. Dan dua puluh dua rawi tersebut tidak ada yang menyebutkan lafadz yuharrikuha (digerak-gerakkan)

http://an-nashihah.com/index.php?mod=article&cat=Hadits&article=68&page_order=4.

Pendapat kedua : bahwa seorang perawi tsiqqoh tidak boleh dituduh keliru atau salah, kecuali dengan bukti yang kuat. Sedangkan tidak ada seorang ahli haditspun sejauh yang menuduh Za`idah melakukan kesalahan dan melakukan idraj (penyisipan) lafazh dalam hadits ini, tidak ada pertentangan antara hadits tambahan Za`idah dengan 20 riwayat dari perawi lainnya. Bahkan, bisa kita katakan bahwa ziyadah (tambahan) dari Za`idah adalah tambahan ilmu dan hifzh (hafalan) dari Za`idah. Wallohu a’lam http://konsultasi.stai-ali.ac.id/?p=70
Pertanyaannya :

Mana yang rojih dari kedua pendapat ini Ustadz..?
Jazakumullah Khair.

Aslam ibnu romadhon
Jl.KH.Agus Salim Rt.005 Rw.008 No.28 Bekasi Jaya.

Ustadz Kholid menjawab :
W’alaikum salam
Memang dalam permasalahan ini kami pandang termasuk permasalahan yang agak rumit. Masalah ini kembali kepada manhaj para ulama dalam menyikapi tambahan perawi tsiqah (Ziyadah ats-Tsiqah) apakah diterima atau tidak.

Sebagian ulama memandang hukum masalah ini kembali kepada setiap kasus

dan memandang tambahan kalimat yang disampaikan Zaaidah bin Qudamah sebagai tambahan yang SYADZ (menyelisihi yang lebih kuat). Sebab beliau menyelisihi sejumlah besar para tsiqat. Mereka mengadu ketsiqahan Zaaidah dengan kekuatan orang yang menyelisihinya. Kalau demikian jelas Zaaidah kalah dalam kekuatan dan tambahan beliau dinyatakan lemah dan tidak diterima. Diantara ulama yang berpendapat demikian adalah Syaikh Muqbil bin Hadi –Rahimahullahu- dan para murid beliau.

Sebagian lagi memandang perlunya mengkompromikan dahulu seluruh riwayat yang ada. Mereka memandang tambahan dalam riwayat Zaaidah tidak bertentangan dengan riwayat perawi tsiqah lainnya. Bila tidak bertentangan maka seharusnya di kompromikan dengan menyatakan bahwa riwayat Zaaidah adalah penjelas dari keumuman isyarat dengan telunjuk yang disampaikan dalam riwayat lainnya. Sehingga tambahan ini diterima dan diamalkan. Konsekwensinya disunnahkan menggerakkan jari telunjuk dalam tasyahud. Diantara ulama yang berpendapat demikian adalah Syeikh Muhammad Nashiruddin al-Albani –Rahimahullah- dan para murid beliau.
Yang rojih –wallahu a'lam- dalam pandangan kami adalah pendapat kedua. Sebab mengamalkan seluruh riwayat yang ada lebih utama dari menolak sebagiannya. Demikian juga sikap yang dijelaskan imam Ibnu Hajar –Rahimahullahu- dalam kitab Nukhbat al-Fikaar dalam menyikapi masalah Ziyaadah ats-Tsiqah. Beliau menyatakan:

??????????? ??????????? ???????????? ? ??? ???? ?????? ??????????? ?????? ???? ???????

Tambahan perowi Shohih dan hasan diterima selama tidak meniadakan (kontradiktif) terhadap (riwayat) yang lebih tsiqah darinya.

Hal ini ditambah dengan tambahan pengetahuan yang dimiliki Zaaidah dengan menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan isyarat tersebut adlah menggerakkan jemari telunjuknya dalam tasyahud.
Wallahu a'lam.

zp8497586rq

About The Author

16 comments

  1. Apakah benar arti indonesianya “menggerak-gerakan” (berarti berulang-ulang) bukan “menggerakan” (berarti sekali gerak). mohon penjelasan shorofnya kenapa di artikan perulangan. Andaikata benar artinya mengerak-gerakan, bagaimana cara mengerak-gerakan yang sesuat sunnah nabi, apakah diputar-putar, gerak atas bawah, atao samping kiri-kanan/kanan-kiri

  2. … karena saya tidak berani membuat bid’ah dengan melakukan cara/metode perulangan gerakan telunjuk berdasarkan kehendak sendiri. mohon dalilnya

  3. Wa’alaikumussalam
    Memang dalam hadits tersebut tercantum kata Yuharrikuha dengan wazan Fa’aala denga di tasydidkan hurup ra’nya yang bermakna mengerak-gerakkannya. caranya disampaikan sebagian ulama dengan dikebawahkan dan dikeataskan
    wassalam

  4. assalamualaikum. pak ustadz, saya hanya ingin minta dalil yang mensunahkan kita untuk menggerak – gerakan jari ketika tasyahud,setahu saya bukannya dalam sholat itu kita tidak boleh terlalu banyak gerak, mohon penjelasnnnya. sykuron. wass

  5. Assalamu’alaikum
    Ustadz, di blog akh Abu Salma (http://abusalma.wordpress.com/2009/02/23/video-sifat-gerakan-telunjuk-ketika-tasyahhud/) ada penjelasan video dari Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini tentang cara tahrik (menggerakkan) jari telunjuk. Dan dikatakan di sana bahwa gerakannya bukanlah atas bawah atau baik turun atau khafdh wa raf’.
    Namun yang benar adalah telunjuk diarahakan ke kiblat, lalu digerakkan bergetar kecil yg tdk berubah dari tempatnya (kata Syaikh Abu Ishaq : harokatan syadidatan fi makaniha)…
    Bagaimana penjelasan Syaikh Abu Ishaq ini menurut antum ustadz? sebab, ana koq condong bahwa tahrik itu mutlak, bisa ke atas ke bawah, naik turun, kanan kiri, putar2 smuanya masuk tahrik. Nah, ana sendiri blm mendapati dalil pengkhususan gerakan seperti yg diutarakan Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini, yg seakan2 beliau hanya taklid kpd Syaikh al-Albani…
    Kaifa ro’yukum ya fadhilatul ustaadz? Afiduna barokallohu fiik…

  6. terdapat beberapa pendapat, yang shohih berdasarkan amalan salaf adalah naik-turun jari telunjuk. wallahu a’lam

  7. Mhn maaf, dr yg sy ketahui, di dlm hadist, hanya disebutkan Nabi SAW berisyarat dgn telunjuknya. Di sana tdk disebutkan teknik berisyaratnya. Apakah dimulai dr awal, dr tengah, digerakkan, atau tdk digerakkan. Hemat saya, silakan memilih. Kita tdk dpt mengatakan salah satunyalah yang tershohih. Bisa jadi semuanya benar. Ini bergantung, dr ulama mana dia merujuk. Maaf bila saya salah. Wallahu a ‘lam.

  8. Wa’alaikumussalam
    Cara berfikir dan istidlal antum tidak tepat. Memang Rasulullah tdk menjelaskan posisi mulainya kapan? Namun dari konteks hadits jls isyarat dngn jari telunjuk beliau lakukan pada tahiyat.
    Dngn demikian kita lihat pengertian tahiyat apakah dimulai ditengah atau diawal? Jelas tahiyat tidak dikatakan sempurna dan sah bila tidak dari awal. Shg isyaratpun dimulai ketika dimulainya tahiyat
    Mudah2an kita difaqihkan dalam agama ini
    Wassalam

  9. Assalammualaikum,,
    kalau menggerak-gerakan berarti bergerak, sedangkan dalam shalat bergerak 3 kali berturut-turut adalah batal dan tidak sah shalatnya,, dan dalam hal ini menggerakan jari bisa lebih dari 3 kali berturut-turut.. batal dong shalatnya.!! mohon penjelasannya… syukron.
    wassalam..

  10. untuk dwi ana ingin bertanya apakah ada dalil yg mengatakan jika dalam sholat kita melakukan pergerakan 3x itu membatalkan sholat?karen ana belum pernah tau dalilnya.

  11. assalamualaikum pak ustad,ana ngertos yang di atas dapat di perkuat dengan rhawi yang sangat jelas.

  12. ane sih orang awam jadi ambil yg berdalil saja hadist keteranganya dengan hadist yg lain bukan kontradiksi melainkan penjelasan semoga kita difaqihkan dalam beragama

  13. menurut ane sih.. kalo maslah digerakkan ini jadi masalah.. jalanin aja yang tidak menggerakkannya.. karena menurut gua,.. yang lebih rajih koq yang tidak digerakkan.. emang sih kalo mggerakan juga shahih.. tapi kalo diamalin terus salah dalam gerakkannya kan juga rempong.. jadi pilih yang diam aja deh.. tidak digerakkan… Wallahu A’lam

Comments for this article are now closed.