<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>UstadzKholid.com &#187; Ushul Fiqih</title>
	<atom:link href="http://ustadzkholid.com/category/ushul-fiqih/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzkholid.com</link>
	<description>Meniti Sunnah Menggapai Ukhuwah</description>
	<lastBuildDate>Fri, 06 Jan 2012 02:41:56 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Tajdid dalam Islam</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/manhaj/tajdid-dalam-islam/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/manhaj/tajdid-dalam-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Mar 2011 06:03:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Ushul Fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1844</guid>
		<description><![CDATA[Sudah menjadi satu keniscayaan bahwa manusia tidak akan baik dan teratur kehidupannya tanpa agama yang benar, sebab itulah timbangan yang benar dan ukuran standar dalam mengenal kebenaran dan keadilan dalam seluruh urusannya. Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah menyatakan kaidah penting dalam kewajiban berpegang teguh (komitmen) kepada ajaran Rasul dan penjelasan bahwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah menjadi satu keniscayaan bahwa manusia tidak akan baik dan teratur kehidupannya tanpa agama yang benar, sebab itulah timbangan yang benar dan ukuran standar dalam mengenal kebenaran dan keadilan dalam seluruh urusannya. Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> pernah menyatakan kaidah penting dalam kewajiban berpegang teguh (komitmen) kepada ajaran Rasul dan penjelasan bahwa kebahagian dan petunjuk hanyalah pada <em>ittiba’</em> Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Sedangkan kesesatan dan kesengsaraan pada menyelisihinya. Seluruh kebaikan yang ada, baik yang umum ataupun yang khusus bersumber dari sisi Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan seluruh keburukan di alam ini yang khusus berhubungan dengan hamba disebabkan karena menyelisihi Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> atau ketidaktahuan terhadap ajaran beliau.  (Lihat <em>Majmu’ Al-Fatawa</em>, 19/93).<span id="more-1844"></span></p>
<p>Imam Ibnu Al-Qayyim <em>rahimahullah</em> menjelaskan kebutuhan hamba kepada para rasul utusan Allah dalam ungkapan beliau,<em> “Tidak ada jalan menggapai kebahagian dan kesuksesan di dunia dan akhirat, kecuali ada di tangan mereka. Tidak ada juga cara mengenal yang baik dan buruk secara terperinci kecuali dari sisi mereka. Demikian juga tidak dapat diraih keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala sama sekali kecuali di tangan mereka. Yang baik dari perilaku, perkataan dan akhlak hanyalah ada pada petunjuk dan ajaran mereka. Merekalah timbangan yang pas untuk menimbang seluruh perkataan dan perbuatan, serta akhlak manusia dengan perkataan dan perbuatan serta akhlak mereka. Dengan mengikuti mereka terpisahlah orang yang mendapat petunjuk dengan yang sesat. Kebutuhan mendesak kepada para rasul lebih besar dari pada kebutuhan badan kepada ruhnya dan mata kepada cahayanya, serta ruh kepada kehidupannya. Semua kebutuhan yang harus ditunaikan segera, maka kebutuhan mendesak kepada para rasul di atas itu semua.” </em> (Lihat <em>Zaad Al-Ma’ad</em>, 1/79).</p>
<p>Beliaupun menambahkan, <em>“Apabila kebahagian hamba di dunia dan akhirat bergantung kepada petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka wajib pada setiap orang yang ingin kebaikan untuk dirinya dan ingin kesuksesan dan kebahagian untuk mengetahui  ajaran, sejarah hidup dan semua urusan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dapat mengeluarkannya dari lingkungan orang-orang bodoh dan memasukkannya ke dalam hitungan pengikut, pendukung dan golongan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.&#8221; </em> (Lihat <em>Zaad Al-Ma’ad</em>, 1/79).</p>
<p>Dengan demikian, agama yang benar sangat dibutuhkan dalam memperbaiki manusia di dunia dan akhiratnya. Sebagaimana tidak ada kebahagian seseorang di akhirat kecuali dengan mengikuti Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Juga tidak akan baik dalam dunia dan kehidupannya kecuali dengan mengikuti ajaran agama yang benar. Seluruh manusia sangat membutuhkan ajaran agama dalam seluruh keadaannya, karena manusia memiliki dua gerakan; gerakan untuk mendapatkan kemanfaatan dan gerakan untuk menolak dan mencegah ke-<em>mudharat</em>-an. Agama inilah yang menjadi cahaya yang menjelaskan kemanfaatan dan ke-<em>mudharat</em>-an (Lihat <em>Majmu’ Al-Fatawa</em>, 19/99).</p>
<p>Karena itu, Allah<em> Subhanahu wa Ta’ala</em> mengutus Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sebagai penutup para nabi dan rasul membawa ajaran Islam yang universal kepada seluruh umat manusia.  Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ لآ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِ وَيُمِيتُ فَئَامِنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ</p>
<p><em>“Katakanlah, ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang Ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimAt-kalimAt-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk’&#8221;</em>. (QS. Al-A’raf: 158).</p>
<p>Di samping itu juga menjaga agama ini dengan menjaga Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dari seluruh upaya pengurangan dan penambahan. Sehingga, Islam akan menjadi ajaran yang terjaga dan kekal sampai hari kiamat nanti.</p>
<p><strong>Ke-<em>bid’ah</em>-an Semarak</strong></p>
<p>Tidak dipungkiri lagi Islam terjaga, namun terkadang pengamalan Islam itu melemah dan terjadi pengurangan dan pertambahan yang dimasukkan ke dalam ajaran yang mulia ini. Karena itu, nampak bermunculan ke-<em>bid’ah</em>-an dan perkara yang menyelisihi syariat, serta hilangnya beberapa sunnah dengan sebab itu. Kerena lemahnya pengamalan atau bahkan hilangnya pengamalan ajaran Islam pada sebagian besar kaum muslimin, maka umat Islam membutuhkan orang yang memperbarui agama ini dengan mengembalikannya kepada keaslian dan kemurnian ajaran suci ini. Lalu Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> yang Maha Pemurah dan Penyayang memberikan anugerah-Nya kepada umat ini dengan dimunculkannya para <em>mujaddid</em> yang mengikuti jejak langkah Rasulullah sh<em>allallahu ‘alaihi wa sallam</em> agar menghidupkan kembali ajaran Islam dan mematikan ke-<em>bid’ah</em>-an,  serta mengembalikan umat ini untuk komitmen terhadap ajaran agamanya yang benar.</p>
<p><strong>Tajdid Satu Istilah Syar’i</strong></p>
<p>Istilah <em>At-Tajdid</em> adalah istilah <em>syar’i</em> yang bersumber kepada hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang berbunyi,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus untuk umat ini setiap awal seratus tahun orang yang memperbarui agamanya.”</em> (HR. Abu Daud no. 3740 dan dinilai <em>shahi</em>h oleh Syaikh Al-Albani dalam <em>Silsilah Ahadits Ash-Shahihah</em>, no. 599).</p>
<p>Istilah ini berasal dari bahasa Arab dari kata (جَدَّدَ) dan (جَدِيْدٌ). Kata <em>Al-Jadid</em> banyak digunakan dalam Alquran dan As-Sunnah atau dalam penggunaan para ulama. Bila kita melihat pengertian etimologi bahasa Arab tentang kata <em>“At-Tajdid”</em> dan kata turunannya ternyata kembali kepada pengertian <em>menghidupkan</em> (الإِحْيَاء), <em>membangkitkan</em> (البعْثُ) dan <em>mengembalikan</em> (الإِعَادَةُ). Sehingga ada tiga unsur makna yang terkandung dalam kata tersebut yaitu<em> keberadaan sesuat</em>u (وُجُوْد كَوْنِيَة) <em>kemudian hancur atau hilang</em> (بَلَى أو دُرُوْس) kemudian<em> dihidupkan dan dikembalikan</em> (الإِحْيَاء أو الإعَادَة). (<em>Mafhum Tajdid Ad-Dien</em>, Bisthami Muhammad Sa’id, hal. 18).</p>
<p>Karena istilah ini bersumber kepada sabda Rasulullah s<em>hallallahu ‘alaihi wa salla</em>m, maka hanya sunnah Rasulullah s<em>hallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sajalah yang dapat menentukan pengertian yang benar terhadap istilah <em>“At-Tajdid”</em> dan ketentuan-ketentuannya.</p>
<p>Kata <em>“At-Tajdid</em>” dalam hadits-hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sama dengan pengertian bahasa di atas yaitu menunjukkan pengertian kebangkitan, menghidupkan dan mengembalikan. Hal ini dapat dilihat dalam hadits Abdullah bin Amru bin Al-Ash <em>radhiallahu ‘anhu</em> yang berbunyi,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّ الإِيْمَانَ لَيَخْلَقُ فِيْ جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْب ، فَاسْأَلُوْا اللهَ أَنْ يُجَدِّدُ الإِيْمَانَ فِيْ قُلُوْبِكُمْ</p>
<p><em><br />
</em></p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya iman akan rusak di hati salah seorang kalian sebagaimana rusaknya baju, maka mohonlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengembalikan iman dalam kalbu kalian.”</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p><strong>Sebuah Pengertian yang Benar</strong></p>
<p>Sebuah realita kalau pengertian istilah <em>“At-Tajdid”</em> banyak diperselisihkan orang dan disimpangkan dari pengertian yang benar. Berapa banyak orang mendefinisikannya dengan beragam definisi yang menyimpang dari islam. Padahal semua mengerti kalau istilah ini bersumber dari hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, sehingga pasti pengertian yang benar tentang istilah ini adalah yang dimaksudkan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan disampaikan kepada para sahabat. Kemudian Sahabat telah menyampaikannya kepada generasi setelahnya secara bersambung dan estafet. Oleh karena orang yang berhak menjelaskan pengertian istilah <em>syar’i</em> ini adalah para ulama <em>sala</em>f  dari kalangan sahabat, <em>tabiin</em> dan <em>tabiit tabiin</em> serta para imam besar yang sudah terkenal dan masyhur serta diterima kaum muslimin generasi demi generasi.</p>
<p>Berikut ini pernyataan mereka tentang pengertian istilah <em>At-Tajdid</em> secara global (Semua pernyataan dalam masalah ini penulis nukilkan dari kitab <em>Tajdid ad-Din</em>, M<em>afhum wa Dhawaabith wa Atsaarahu</em>, Prof. DR. Muhammad bin Abdulaziz al-‘Ali secara ringkas dari hlm. 40-49) :</p>
<p><strong>1.</strong> Pengajaran agama dan menghidupkan sunnah-sunnah serta menolak kedustaan atas nama Nabi sh<em>allallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Hal ini dijelaskan Imam Ahmad bin Hambal <em>rahimahullah</em> dalam pengertian <em>tajdid</em>. Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berkata, <em>&#8220;Sesungguhnya Allah membangkitkan untuk manusia dalam setiap seratus tahunnya  orang yang mengajarkan sunah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menolak dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kedustaan.&#8221; </em> (Lihat<em> Taarikh al-Baghdadi,</em> 2/62).</p>
<p><strong>2. </strong> Memurnikan agama, membela akidah yang benar dan menjelaskan sunnah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> serta membela ahlinya dan menghancurkan ke-<em>bid’ah</em>-an.</p>
<p>Al-Munaawi <em>rahimahullah</em> ketika menjelaskan tentang<em> tajdid</em> dalam agama menyatakan,<em> &#8220;Maksudnya adalah menjelaskan sunnah dari bidah, memperbanyak ilmu, membela ahli ilmu dan menghancurkan kebidahan dan merendahkannya.&#8221; </em> (Lihat<em> Faidh Al-Qadir,</em>2/281).</p>
<p>Oleh karena itu, imam Ahmad bin Hambal <em>rahimahullah</em> menyatakan, <em>&#8220;Diriwayatkan dalam satu hadits bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus setiap seratus tahun orang yang memurnikan agamanya.&#8221;</em> (Lihat <em>Shofwat ash-Shofwah,</em> 2/13).</p>
<p><strong> 3. </strong>Menghidupkan semua yang telah melemah dan menghilang dari <em>ma’alim</em> (<em>syiar</em>) agama. Juga menghidupkan semua perkara sunnah yang telah hilang dan semua ilmu akidah dan ibadah yang telah samar.<br />
Abu Sahli Ash-Shu’luuki (wafat tahun 369 H.) pernah berkata tentang tajdid, <em>&#8220;Allah telah mengembalikan agama ini setelah hilang mayoritasnya dengan Ahmad bin Hambal.&#8221; </em>(Lihat <em>Tabyiin Kadzib al-Muftari,</em> hal. 53).</p>
<p><strong>4.</strong> Menghidupkan ilmu (<em>Ihyaa Al-Ilmi</em>) sebagaimana dalam sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ : يَنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الْغَالِيْنَ وَتَأْوِيْلَ الْجَاهِلِيْنَ وَ إِنْتِحِالَ الْمُبْطِلِيْنَ</p>
<p><em>“Ilmu agama ini akan dibawa oleh orang-orang yang terpercaya pada setiap generasi: mereka akan menolak tahrif (perubahan) yang dilakukan oleh orang-orang yang melewati batas, ta’wil (penyimpangan arti) yang dilakukan oleh orang-orang yang bodoh, dan kedustaan yang dilakukan oleh orang-orang yang berbuat kepalsuan.” </em> (HR. Ibnu ‘Adi, Al-Baihaqi, Ibnu ‘Asakir, Ibnu Hibban, dll,; dinyatakan berderajat <em>hasan</em> oleh Syeikh Salim bin ‘Ied al-Hilali dalam <em>Hilyatul ‘Alim Al-Mu’allim</em>, hal. 77, juga oleh Syeikh Ali bin Hasan di dalam <em>At-Tashfiyah wat Tarbiyah</em>).</p>
<p><strong>5.</strong> Membangkitkan kembali upaya mengamalkan Alquran dan sunnah Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> dalam seluruh sisi kehidupan manusia dan mengembalikan peristiwa dan hal yang baru kepada isi kandungannya.<br />
Imam Muhammad bin Sulaiman Al-Alqami (wafat tahun 969 H) menyatakan, <em>“Pengertian Tajdid adalah menghidupkan kembali pengamalan Al-Qur`an dan Sunnah serta perintah mengamalkan kandungan keduanya</em>.&#8221; (Lihat <em>‘Aunul Ma’bud, </em>4/178 dan <em>Faidhul-Qadir</em> 2/281).</p>
<p>Sedangkan imam Al-Munaawi menjelaskan sebab perlunya <em>tajdid</em> dalam ungkapan beliau, <em>&#8220;Hal ini karena Allah Ta&#8217;ala menjadikan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam sebagai penutup para nabi dan rasul (Khatamul anbiya’war rusul), padahal peristiwa dan kejadian tak terhitung jumlahnya dan mengenal hukum agama sudah menjadi kelaziman hingga hari kiamat. Disamping itu zhahir nash-nash syariat belum bisa menjelaskannya secara sempurna, bahkan harus ada cara yang sempurna dalam masalah ini, maka hikmah Allah menuntut munculnya satu kaun dari para ulama di awal setiap abad yang menanggung beban menjelaskan kejadian-kejadian tersebut untuk memperlakukan umat ini bersama ulama mereka sebagaimana perlakuan pada bani israil bersama nabi-nabi mereka.&#8221;</em> (Lihat <em>Faidhul Qadir,</em> 1/10).</p>
<p><strong>6. </strong> <em>Ta’shil Al-Ilm</em>i (membuat kaidah-kaidah dasar ilmu yang benar) dan mengajak orang untuk mengambil agamanya dari sumbernya yang asli melalui para ulama disertai dengan<em> tarbiya</em>h (pendidikan) manusia diatas pemahaman agama yang benar.</p>
<p>Demikianlah beberapa pernyataan ulama terdahulu seputar <em>tajdid</em> yang nampaknya berbeda namun memiliki satu kesamaan dalam memahami istilah <em>tajdid</em> ini. Hal ini dapat diungkapkan dalam ungkapan berikut ini:</p>
<ul>
<li><em>At –Tajdid</em> (pembaharuan agama) adalah menghidupkan kembali yang telah hilang atau lemah dari pokok-pokok agama (<em>Ushuluddin</em>) dan cabangnya, baik berupa ucapan atau perbuatan dan mengembalikanbnya kepada keadaannya yang benar yang telah diajarkan Al-Qur`an dan sunnah serta menghilangkan semua yang berhubungan dengan agma pada akal manusia dan amalannya berupa kebidahan dan <em>khurafat.</em> (Lihat <em>Tajdidud Dien Mafhumuhu wa Dhawaabituhu wa Atsaaruhu,</em> hal. 46).</li>
<li><em>At-Tajdid</em> adalah mengembalikan kecemerlangan, keindahan islam dan menghidupkan yang telah hilang dari sunnah dan <em>syiar-syiar-</em>nya serta mensucikan islam dari ke-<em>bid’ah</em>-an dan<em> khura</em>fat, juga membersihkannya dari tambahan-tambahan manusia yang masuk padanya dan menebarkan agama ini diantara manusia pada keadaannya yang asli, murni dan suci. (Lihat <em>Asbaabul Akhthaa’ fit Tafsir</em> DR. Thaahir Mahmud Muhammad Ya’qub, 2/786).</li>
<li><em>At-Tajdid</em> adalah menghidupkan dan menebar <em>syiar-syiar</em> agama (<em>ma’aalimuddin</em>) baik yang bersifat ilmiyah maupun <em>amaliyah</em> yang telah dijelaskan<em> nash-nash</em> Alquran dan sunnah serta pemahaman <em>salaf</em>. (Lihat <em>Mafhum Tajdidid Din,</em> hal. 30).</li>
</ul>
<p>Dari tiga kesimpulan ini dapat diambil satu pengertian singkat untuk istilah <em>At-Tajdid </em>yang dalam istilah kita adalah pembaharuan agama sebagai upaya mengembalikan umat kepada islam yang tegak diatas Al-Qur`an dan sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sesuai dengan pemahaman <em>salaf </em>umat dari kalangan para sahabat, <em>tabi’in</em> dan orang yang mengikuti jejak langkah mereka dalam beragama.<br />
<em> Wallahu a’lam.</em></p>
<p>Penulis Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.<br />
Artikel<a href="http://www.ustadzkholid.com" target="_blank"> www.ustadzkholid.com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/manhaj/tajdid-dalam-islam/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/tajdid-dalam-islam/&amp;title=Tajdid+dalam+Islam" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/manhaj/tajdid-dalam-islam/&amp;title=Tajdid+dalam+Islam" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/manhaj/tajdid-dalam-islam/&amp;t=Tajdid+dalam+Islam" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/tajdid-dalam-islam/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Tajdid+dalam+Islam+-+http://ustadzkholid.com/manhaj/tajdid-dalam-islam/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/tajdid-dalam-islam/&amp;title=Tajdid+dalam+Islam" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/tajdid-dalam-islam/&amp;title=Tajdid+dalam+Islam" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Tajdid+dalam+Islam+-+http://bit.ly/eSRLKJ&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Tajdid+dalam+Islam&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/manhaj/tajdid-dalam-islam/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Sudah%20menjadi%20satu%20keniscayaan%20bahwa%20manusia%20tidak%20akan%20baik%20dan%20teratur%20kehidupannya%20tanpa%20agama%20yang%20benar%2C%20sebab%20itulah%20timbangan%20yang%20benar%20dan%20ukuran%20standar%20dalam%20mengenal%20kebenaran%20dan%20keadilan%20dalam%20seluruh%20urusannya.%20Oleh%20karena%20itu%2C%20Syaikhul%20Islam%20Ibnu%20Taimiyah%20rahimahullah%20pernah%20menyatak" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/manhaj/tajdid-dalam-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ijma Sumber Hukum Islam</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/ushul-fiqih/ijma-sumber-hukum-islam/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/ushul-fiqih/ijma-sumber-hukum-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jan 2010 06:39:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ushul Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ijma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1428</guid>
		<description><![CDATA[Ijma' adalah salah satu dasar yang menjadi sumber rujukan, pedoman dan sumber dasar hukum syari'at yang mulia ini setelah Al Qur`an dan Sunnah. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dewasa ini kaum muslimin banyak belum mengerti dan memahami hakekat sumber hukum yang menjadi rujukannya dalam beragama. Ironisnya pernyataan sumber hukum Islam adalah al-Qur`an dan sunnah serta Ijma’dan Qiyas merupakan hal yang sudah umum di masyarkat. Namun itu hanya sekedar slogan tanpa diketahui hakekatnya sehingga banyak para da’I dan tokoh agama berfatwa menyelisihi sumber-sumber hukum tersebut.</p>
<p>Padahal sudah sangat jelas kedudukan Ijma&#8217; dalam agama ini, karena ijma&#8217; adalah salah satu dasar yang menjadi sumber rujukan, pedoman dan sumber dasar hukum syari&#8217;at yang mulia ini setelah Al Qur`an dan Sunnah. Ijma&#8217; bersumber dari Al Qur`an dan Sunnah, menjadi penguat kandungan keduanya dan penghapus perselisihan yang ada diantara manusia dalam semua perselisihan mereka.</p>
<p>Syeikh Islam Ibnu Taimiyah menyatakan: &#8220;Ijma’ adalah sumber hukum ketiga yang dijadikan pedoman dalam ilmu dan agama, mereka menimbang seluruh amalan dan perbuatan manusia baik batiniyah maupun lahiriyah yang berhubungan dengan agama dengan ketiga sumber hokum ini&#8221;. (lihat <em>Syarh al-‘Aqidah al-Wasithiyah</em>, Khalid al-Mushlih hal. 203)<span id="more-1428"></span></p>
<p>Ijma’ menjadi sesuatu yang <em>ma’shum</em> dari kesalahan dengan dasar firman Allah dan Sabda Rasululloh <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>. lihatlah firman Allah:</p>
<p>&#8220;<em>Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudahjelas kebenaran baginya. dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu&#8217;min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali</em>&#8220;. (QS. An-Nisaa’ 4:115)</p>
<p>dan sabda Rasululloh <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> :</p>
<p style="font-size:20px;text-align:right;">لاََََ تَجْتَمِعُ أُمَّتِيْ عَلَى ضَلاَلَةٍ</p>
<p>&#8220;Umatku tidak akan berkumpul (sepakat) diatas kesesatan&#8221;. (HR. Asy-Syafi’I dalam <em>Ar-Risalah</em>)</p>
<p>Karenanya Syaikhul Islam menyatakan: &#8220;Agama kaum muslimin dibangun diatas ittiba’ kepada al-Qur`an dan Sunnah Rasululloh serta kesepakatan umat (ijma’). Maka ketiga ini adalah sumber hukum yang ma’shum&#8221;. (lihat <em>Dar’u Ta’arudh al-‘Aql wa an-Naql</em>, 1/272).</p>
<p>Demikianlah Allah Ta&#8217;ala menyatukan hati umat ini dengan Ijma&#8217; sebagai rahmat dan karunia dariNya. Ijma&#8217; umat ini dalam mayoritas dasar dan pokok agama dan banyak dari masalah furu&#8217;nya menjadi sebab kesatuan kaum muslimin, penyempitan lingkaran perselisihan dan pemutus perbedaan pendapat diantara orang yang berbeda pendapat.</p>
<p>Oleh karena itu,wajib bagi orang yang ingin selamat dari ketergelinciran dan kesalahan untuk mengetahui ijma&#8217; (konsensus) kaum muslimin dalam permasalahan agama agar dapat berpegang teguh (komitmen) dan mengamalkan tuntutannya setelah benar-benar selamat dari penyimpangan (<em>tahrif</em>) dan memastikan kebenaran penisbatannya (penyandarannya) kepada syari&#8217;at serta tidak dibenarkan menyelisihinya setelah mengetahui ijma&#8217; tersebut.</p>
<p>Para imam (ulama besar) umat ini telah sepakat memvonis sesat orang yang menyelisihi konsensus umat ini dalam satu permasalahan agama. Bahkan bisa menjadi sebab vonis kafir dan murtad dalam beberapa keadaan tertentu.</p>
<p>Karena itulah para ulama juga telah memperhatikan hal ini secara sempurna, tinggal kita semua kembali merujuk kepada keterangan mereka tentang ijma’ yang benar.</p>
<p>Semoga dengan kita menimbang semua amalan perbuatan yang berhubungan dengan agama kepada ketiga sumber diatas kaum muslimin dapat bersatu. <em>Amien</em>.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.<br />
Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.Com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/ushul-fiqih/ijma-sumber-hukum-islam/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/ushul-fiqih/ijma-sumber-hukum-islam/&amp;title=Ijma+Sumber+Hukum+Islam" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/ushul-fiqih/ijma-sumber-hukum-islam/&amp;title=Ijma+Sumber+Hukum+Islam" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/ushul-fiqih/ijma-sumber-hukum-islam/&amp;t=Ijma+Sumber+Hukum+Islam" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/ushul-fiqih/ijma-sumber-hukum-islam/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Ijma+Sumber+Hukum+Islam+-+http://ustadzkholid.com/ushul-fiqih/ijma-sumber-hukum-islam/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/ushul-fiqih/ijma-sumber-hukum-islam/&amp;title=Ijma+Sumber+Hukum+Islam" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/ushul-fiqih/ijma-sumber-hukum-islam/&amp;title=Ijma+Sumber+Hukum+Islam" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Ijma+Sumber+Hukum+Islam+-+http://b2l.me/n8es9&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Ijma+Sumber+Hukum+Islam&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/ushul-fiqih/ijma-sumber-hukum-islam/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Ijma%27%20adalah%20salah%20satu%20dasar%20yang%20menjadi%20sumber%20rujukan%2C%20pedoman%20dan%20sumber%20dasar%20hukum%20syari%27at%20yang%20mulia%20ini%20setelah%20Al%20Qur%60an%20dan%20Sunnah.%20" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/ushul-fiqih/ijma-sumber-hukum-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Ushul Fikih Versi Ahlu sunnah wa al-Jama’ah</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/ushul-fiqih/sejarah-ushul-fikih-versi-ahlu-sunnah-wa-al-jama%e2%80%99ah/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/ushul-fiqih/sejarah-ushul-fikih-versi-ahlu-sunnah-wa-al-jama%e2%80%99ah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2009 16:41:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu ubaidillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ushul Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[madzhab]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[syafi'i]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=180</guid>
		<description><![CDATA[Ilmu ushul fikih menurut ahlu sunnah wal jama’ah sebagaimana bidang keilmuan lainnya mengalami dan melalui beberapa tahapan penting.
1.    Marhalah Tadwin (kodefikasi) atau penulisan dasar-dasar ilmu ushul fikih yang dipelopori oleh imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i
2.    Marhalah Ittijaah al-Haditsi (ushul fikih dengan metodologi hadits) yang dipelopori imam Al-Khothib al-Baghdadi dan Ibnu Abdilbarr.
3.    Marhalah Ishlah dan pelurusan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ilmu ushul fikih menurut ahlu sunnah wal jama’ah sebagaimana bidang keilmuan lainnya mengalami dan melalui beberapa tahapan penting.<br />
1.    <strong>Marhalah Tadwin</strong> (kodefikasi) atau penulisan dasar-dasar ilmu ushul fikih yang dipelopori oleh imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i<br />
2.    <strong>Marhalah Ittijaah al-Haditsi</strong> (ushul fikih dengan metodologi hadits) yang dipelopori imam Al-Khothib al-Baghdadi dan Ibnu Abdilbarr.<br />
3.    <strong>Marhalah Ishlah</strong> dan pelurusan yang tidak benar dalam ilmu ushul fikih yang dipelopori imam Ibnu Taimiyah dan Ibnu al-Qayyim.<span id="more-180"></span></p>
<p><strong>Marhalah-marhalah perkembangan ilmu ushul fikih.</strong><br />
1.    <span style="text-decoration: underline;">Marhalah pertama dimulai pada masa imam asy-Syafi’i dan berakhir kurang lebih sekitar akhir abad ke empat hijriyah</span>. Keistimewaan marhalah ini adalah penulisan kaidah ilmu ushul fikih oleh imam asy-Syafi’i dan keadaan serta kondisi yang berhubungan langsung dengan penulisan ini.<br />
Imam asy-Syafi’i hidup dimasa berkembangnya dua madrasah yang setiap dari madrasah ini tegak diatas manhaj yang tidak sama dengan yang lainnya. Dua madrasah ini adalah madrasah hadits yang berada di Madinah dengan tokoh besarnya adalah imam Malik bin Anas bin Malik al-Ashbahi (w 179 H) dan kedua adalah madrasah ar-Ra’yi yang berada di Irak dengan tokoh besarnya adalah para murid Abu Hanifah.</p>
<p>Madrasah hadits dikenal sangat kental dan dekat dengan riwayat, karena kota Madinah adalah tempat berkumpulnya para sahabat dan tempat turunnya wahyu. Sebaliknya madrasah ar-Ra’yi sangat kental nuansa akalnya karena tidak memiliki sebab-sebab riwayat seperti di Madinah, ditambah lagi banyaknya fitnah dan pemalsuan hadits di sana. Yang perlu diperhatikan bahwa kedua madrasah ini sepakat mewajibkan untuk menerima dan mengamalkan al-Qur`an dan sunnah dan tidak mendahulukan akal dari kedua sumber tersebut.</p>
<p>Dalam hal ini imam asy-Syafi’i mampu mengkompromikan kedua madrasah ini dan memperoleh keistimewaan yang dimiliki masing-masing madrasah tersebut. Beliau menyatukan fikih imam Malik di Madinah – yang beliau sendiri adalah murid imam Malik – dan fikih Abu Hanifah di Irak, karena beliau berguru langsung kepada imam Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani (w 189 H) ditambah dengan fikih ahli Syam dan Mesir karena beliau pun mengambil ilmu dari para ulama pakar fikih di sana. Ditambah lagi dengan Madrasah Makkah yang memiliki perhatian lebih besar dalam tafsir al-Qur`an dan sebab turunnya.  Dimana beliau belajar langsung di Makkah kepada para ulama fikih dan ulama hadits disana hingga mendapatkan kedudukan sebagai mufti. Semua ini didukung dengan kepakaran beliau dalam bahasa Arab yang beliau dapatkan dari pedalaman Arab pada kabilah Hudzail yang termasuk suku terfasih dalam berbahasa Arab. Dengan anugerah besar yang dimiliki inilah –dengan taufiq dari Allah- beliau mampu meletakkan ushul dan kaidah dalam ber-<em>istimbath</em> (pengambilan hukum dari dalil) serta ketentuan berijtihad. Juga beliau mampu menjadikan fikih diambil dari sumber hukum yang jelas dan pasti. Dengan sebab itu beliau membuka pandangan ulama fikih dan memberikan contoh kepada para mujtahid setelah beliau untuk bertindak seperti yang telah beliau lakukan dan menyempurnakan yang ditemui mereka nantinya. Demikianlah imam asy-Syafi’i menulis kitab “<em>ar-Risaalah</em>” yang menjadi kitab pertama dalam ushul fikih.</p>
<p>Imam Ahmad bin Muhammad bin Hambal (w 241 H) berkata: Dahulu fikih itu terkunci pada ahlinya saja hingga Allah bukakan dengan asy-Syafi’i. (lihat <em>Tahdzieb al-Asma’  wa al-Lughaat </em>1/61)</p>
<p>Beliau juga menyatakan: Dahulu peradilan kami berada di tangan para sahabat Abu Hanifah tidak dapat diganggu gugat hingga kami melihat imam asy-Syafi’i. Beliau orang terpakar dalam al-Qur`an dan sunnah Rasululloh <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Dan ahli hadits tidak akan pernah kenyang dari kitab-kitab asy-Syafi’i. (lihat <em>Muqaddimah kitab ar-Risalah </em>hal. 6 ). Juga berkata: Kalau bukan imam asy-Syafi’i maka kami tidak mengenal fikih hadits.</p>
<p>Imam asy-Syafi’i telah meletakkan pondasi pertama penulisan dan kodefikasi ilmu ushul dan menjelaskan ketentuan ilmu ini serta memperjelas gambarannya.</p>
<p>Imam Syafi’i dalam upaya beliau menyusun ilmu ushul fikih mengikuti jejak langkah orang sebelum beliau dan bersandar kepada al-Qur`an dan sunnah serta siroh para sahabat dan atsar para imam besar. Juga mengambil faedah dari ilmu bahasa Arab dan sejarah manusia, serta penggunaan akal dan qiyas.</p>
<p>Kemudian setelah beliau, bermunculan upaya para ulama ahli sunnah, namun baru berkisar pada permasalahan komitmen dengan Al-Qur`an dan sunnah. Diantaranya adalah:<br />
a.    Risalah imam Ahmad tentang ketaatan kepada Rasululloh <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em>.<br />
b.    Kitab <em>Akhbaar Ahaad</em> dan kitab <em>al-I’tishom</em>, keduanya bagian dari shohih al-Bukhori.<br />
c.    Kitab <em>Ta’wiel Musykil al-Qur`an</em> dan kitab <em>Ta’wiel Mukhtalaf al-Hadits</em> keduanya karya Ibnu Qutaibah.<br />
d.    Dan kitab lainnya yang dikarang para ulama salaf lainnya.</p>
<p>Pada marhalah ini kodefikasi ilmu usul fikih telah sempurna melalui karya imam asy-Syafi’i kemudian datang para ulama setelah beliau menyempurnakan upaya yang telah beliau mulai khususnya yang berhubungan dengan komitmen kepada Al-Qur`an dan sunnah. Semua upaya ini merupakan benang merah manhaj ahli sunnah dan kaedah umum dalam ushul fikih versi ahlu sunnah. Marhalah ini memiliki pengaruh besar dan penting bagi para ulama setelah mereka.</p>
<p>2.    <span style="text-decoration: underline;">Marhalah kedua berawal dari awal abad kelima hijriyah hingga sekitar akhir abad ketujuh Hijriyah. </span>Dalam masa ini muncullah dua imam besar, yaitu:<br />
a.    Imam ahli sunnah ditimur al-Khothib al-Baghdadi penulis kitab <em>Tarikh Baghdad</em><br />
b.    Imam ahli sunnah di Barat Abu Umar bin Abdilbarr penulis kitab <em>at-Tamhied</em>.<br />
Al-Khothib al-Baghdadi menulis dalam bidang ushul fikih kitab <em>al-Faqieh wa al-Mutafaqqih</em> yang beliau buat sebagai nasehat kepada ahli hadits. Kitab ini termasuk pengembangan dari kitab <em>ar-Risaalah</em> karya imam asy-Syafi’i dengan beberapa penambahan seperti permasalahan <em>jidaal </em>dan pembahasan yang berhubungan dengan adab fikih.</p>
<p>Sedangkan Ibnu Abdilbarr menulis kitab <em>Jaami’ Bayaan al-Ilmi wa Fadhlihi </em>sebagai jawaban bagi orang yang bertanya tentang beberapa pertanyaan yaitu:<br />
-    Pengertian ilmu.<br />
-    Pengokohan hujjah dengan ilmu.<br />
-    Penjelasan salahnya orang yang berbicara dalam agama Allah tanpa pemahaman yang benar.<br />
-    Larangan memvonis tanpa hujjah.<br />
-    Apa yang diperbolehkan dan yang dibenci dalam adu hujjah dan debat.<br />
-    Pemikiran akal mana yang dicela dan mana yang dipuji?<br />
Muncul dalam marhalah ini juga dua kitab yaitu:<br />
-    Kitab <em>Taqwiem al-Adilah</em> karya Abu Zaid ad-Dabuusy. Ibnu Kholdun mengomentari kitab ini dengan menyatakan: Adapun metodologi versi madzhab Abu Hanifah, maka para ulamanya telah menulis banyak sekali karya tulis dan yang terbaik untuk <em>mutaqaddimin </em>adalah karya Abu Zaid ad-Dabuusi. (Muqadimah <em>Ibnu Kholdun </em>hal. 361)<br />
-    Kitab <em>al-Mustashfa </em>karya al-Ghazali. Kitab ini diringkas oleh Ibnu Qudamah dalam kitab <em>Raudhah an-Naazhir Wa Jannat al-Manaazhir</em><br />
Marhalah ini memiliki karakteristik banyaknya materi ushul yang dibangun dari hadits nabi dan atsar shohih dari sahabat dan tabi’in dan masuknya metodologi hadits yang dapat dilihat dari penyampaian riwayat dengan sanadnya. Metodologi ini tidak hanya sebatas pada riwayat dan penyampaian hadits namun juga padanya istimbath, fikih, penetapan qiyas dan ijtihad serta lainnya.</p>
<p>Marhalah ini merupakan pengembangan dari marhalah sebelumnya yang diwakili dengan kitab <em>ar-Risaalah</em>. Ibnu Abdilbarr dan al-Khothib al-Baghdadi serta Abu Manshur as-Sam’aani sendiri mengambil faedah dari peninggakan asy-Syafi’i. Sedangkan kitab Raudhah an-Naazhir memberikan gambaran baru yang nampak sekali pengaruh manhaj <em>mutakallim </em>(ahli kalam) dengan tetap menjaga konsep dasar manhaj salaf padanya secara umum.</p>
<p>3.    <span style="text-decoration: underline;">Marhalah ketiga yang dimulai pada awal abad kedelapan sampai sekitar akhir abad kesepuluh hijriyah.</span> Muncul dalam marhalah ini dua imam yaitu:<br />
a.    Ibnu Taimiyah<br />
b.    Ibnu al-Qayyim</p>
<p>Marhalah ini memiliki karekteristik yang dibangun diatas dua pokok :<br />
-    Penjelasan dan penampakan kaedah-kaedah ushul sesuai manhaj salaf</p>
<p>-    Pengarahan kritik dan pelurusan kesalahan yang ada pada <em>mutakallimin</em> (ahli kalam) dalam kaedah-kaedah ushul.<br />
Hal ini selesai melalui imam Ibnu Taimiyah dan Ibnu al-Qayyim. Keduanya membangun upaya besar tersebut diatas kekayaan ilmiyah yang ditinggalkan imam asy-Syafi’i dan ulama yang sejalan dengan beliau.<br />
Pada marhalah ini muncul juga karya-karya ilmiyah para ulama madzhab Hambali seperti Ibnu al-Lahaam, al-Mirdaawi, dan al-Fatuhi. Namun nampaknya semua adalah pengembangan dari kitab Ibnu Qudamah yang masih nampak pengaruh manhaj mutakallimnya. Walaupun mereka tentunya menerima dan mengambil faedah dari karya-karya Ibnu Taimiyah dan Ibnu al-Qayyim sehingga nampak sekali dengan jelas terpengaruhnya kitab-kitab ini dengan ketetapan kedua imam tersebut.</p>
<p>Inilah marhalah-marhalah yang dilewati ahlu sunnah dalam perjalanan pembentukan ilmu ushul fikih. Kemudian muncul juga beberpa karya tulis dari sebagian ulama ahli sunnah namun semuanya kembali kepada keterangan yang sudah dibuat dalam marhalah-marhalah diatas. Diantara karya ilmiyah tersebut adalah:<br />
1.    ?????? ??? ???? ?????? ???? ?? ???? karya syeikh Abdulqadir bin Badraan ad-Dumi ad-Dimasyqi (wafat tahun 1346 H)<br />
2.    &#8221;???? ?????? ??????&#8221; ??? ???? &#8220;???? ?????? ???? ???????&#8221;? karya beliau juga.<br />
3.    &#8221;????? ????? ?? ???? ?????&#8221; karya Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di (wafat tahun 1376 H)<br />
4.    &#8221;????? ?????? ??? ????? ??????&#8221; karya Haafizh bin Ahmad al-Hakami wafat tahun 1377 H<br />
5.    &#8221;????? ???? ????? ??? ???? ??????&#8221; karya Muhammad al-Amien asy-Syinqithi (wafat tahun 1393 H). dan lain-lainnya.<br />
Semoga bermanfaat.</p>
<p>Penulis: Ust. Kholid Syamhudi, Lc.<br />
Diringkas dari: <em>Ma&#8217;alim Ushul Fiqh &#8216;Inda Ahlis Sunnah wal Jama&#8217;ah</em></p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzkholid.com/">ustadzkholid.com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/ushul-fiqih/sejarah-ushul-fikih-versi-ahlu-sunnah-wa-al-jama’ah/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/ushul-fiqih/sejarah-ushul-fikih-versi-ahlu-sunnah-wa-al-jama%e2%80%99ah/&amp;title=Sejarah+Ushul+Fikih+Versi+Ahlu+sunnah+wa+al-Jama%E2%80%99ah" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/ushul-fiqih/sejarah-ushul-fikih-versi-ahlu-sunnah-wa-al-jama%e2%80%99ah/&amp;title=Sejarah+Ushul+Fikih+Versi+Ahlu+sunnah+wa+al-Jama%E2%80%99ah" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/ushul-fiqih/sejarah-ushul-fikih-versi-ahlu-sunnah-wa-al-jama%e2%80%99ah/&amp;t=Sejarah+Ushul+Fikih+Versi+Ahlu+sunnah+wa+al-Jama%E2%80%99ah" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/ushul-fiqih/sejarah-ushul-fikih-versi-ahlu-sunnah-wa-al-jama%e2%80%99ah/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Sejarah+Ushul+Fikih+Versi+Ahlu+sunnah+wa+al-Jama%E2%80%99ah+-+http://ustadzkholid.com/ushul-fiqih/sejarah-ushul-fikih-versi-ahlu-sunnah-wa-al-jama%e2%80%99ah/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/ushul-fiqih/sejarah-ushul-fikih-versi-ahlu-sunnah-wa-al-jama%e2%80%99ah/&amp;title=Sejarah+Ushul+Fikih+Versi+Ahlu+sunnah+wa+al-Jama%E2%80%99ah" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/ushul-fiqih/sejarah-ushul-fikih-versi-ahlu-sunnah-wa-al-jama%e2%80%99ah/&amp;title=Sejarah+Ushul+Fikih+Versi+Ahlu+sunnah+wa+al-Jama%E2%80%99ah" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Sejarah+Ushul+Fikih+Versi+Ahlu+sunnah+wa+al-Jama%E2%80%99ah+-+http://b2l.me/n8r67&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Sejarah+Ushul+Fikih+Versi+Ahlu+sunnah+wa+al-Jama%E2%80%99ah&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/ushul-fiqih/sejarah-ushul-fikih-versi-ahlu-sunnah-wa-al-jama%e2%80%99ah/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Ilmu%20ushul%20fikih%20menurut%20ahlu%20sunnah%20wal%20jama%E2%80%99ah%20sebagaimana%20bidang%20keilmuan%20lainnya%20mengalami%20dan%20melalui%20beberapa%20tahapan%20penting.%0D%0A1.%C2%A0%C2%A0%20%C2%A0Marhalah%20Tadwin%20%28kodefikasi%29%20atau%20penulisan%20dasar-dasar%20ilmu%20ushul%20fikih%20yang%20dipelopori%20oleh%20imam%20Muhammad%20bin%20Idris%20asy-Syafi%E2%80%99i%0D%0A2.%C2%A0%C2%A0%20%C2%A0Marhalah%20Itti" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/ushul-fiqih/sejarah-ushul-fikih-versi-ahlu-sunnah-wa-al-jama%e2%80%99ah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

