<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>UstadzKholid &#187; Fiqih Ibadah</title>
	<atom:link href="http://ustadzkholid.com/category/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzkholid.com</link>
	<description>Meniti Sunnah Menggapai Ukhuwah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 13 Jul 2010 04:59:03 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Saya Kerja Di Pabrik, Apakah Tetap Shalat Berjama&#8217;ah?</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/saya-kerja-di-pabrik-apakah-tetap-shalat-berjamaah/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/saya-kerja-di-pabrik-apakah-tetap-shalat-berjamaah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Jul 2010 16:49:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1655</guid>
		<description><![CDATA[Ustadz saya kerja di pabrik jadi tidak bisa istiqamah melaksanakan shalat berjamaah, tapi di luar jam kerja insya Allah bisa. Bagaimana solusinya ustadz?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ustadz saya kerja di pabrik jadi tidak bisa istiqamah melaksanakan shalat berjamaah, tapi di luar jam kerja insya Allah bisa. Bagaimana solusinya ustadz?</p>
<p style="text-align: right;"><em>Pendengar Radio SuaraQur&#8217;an<br />
2 Desember 2008</em></p>
<p><span id="more-1655"></span><br />
<strong>Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. menjawab:</strong><br />
Shalat berjamaah adalah perkara yang penting dalam kehidupan seorang muslim, tanpa tidak boleh ada upaya untuk meremehkan hal tersebut. Para ulama rahimahumullah mengatakan shalat berjamaah hukumnya wajib, bahkan ada yang lebih keras lagi bahwa shalat berjamaah adalah syarat sahnya shalat wajib. Oleh karena itu kami sarankan untuk tetap shalat berjamaah di masjid atau mushalla. Dan biasanya tempat kerja memiliki mushalla atau ruangan khusus yang dipakai untuk shalat berjamaah yang bisa digunakan untuk shalat bersama teman-teman anda.</p>
<p>Kecuali bila memang pekerjaan ini membuat anda tidak memungkinkan untuk meninggalkan ruangan kerja, seperti misalnya sebagai satpam. Atau bila pekerjaan anda memegang sebuah mesin atau bagian yang bila ditinggalkan oleh orang yang menunggunya akan berakibat fatal atau bahaya bagi kelangsungan pabrik. Jika begitu keadaannya kita katakan:</p>
<p style="text-align: center;">الضرورات تبيح المحضورات, و الضرورات تقدر بقدرها<br />
“Keadaan darurat membolehkan perkara yang dilarang, dan kebolehannya itu sebatas kadar daruratnya”</p>
<p><em>Wallahu Ta&#8217;ala A&#8217;lam</em>.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc<br />
Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.Com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/saya-kerja-di-pabrik-apakah-tetap-shalat-berjamaah/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/saya-kerja-di-pabrik-apakah-tetap-shalat-berjamaah/&amp;title=Saya+Kerja+Di+Pabrik%2C+Apakah+Tetap+Shalat+Berjama%27ah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/saya-kerja-di-pabrik-apakah-tetap-shalat-berjamaah/&amp;title=Saya+Kerja+Di+Pabrik%2C+Apakah+Tetap+Shalat+Berjama%27ah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/saya-kerja-di-pabrik-apakah-tetap-shalat-berjamaah/&amp;t=Saya+Kerja+Di+Pabrik%2C+Apakah+Tetap+Shalat+Berjama%27ah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/saya-kerja-di-pabrik-apakah-tetap-shalat-berjamaah/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Saya+Kerja+Di+Pabrik%2C+Apakah+Tetap+Shalat+Berjama%27ah%3F+-+http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/saya-kerja-di-pabrik-apakah-tetap-shalat-berjamaah/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/saya-kerja-di-pabrik-apakah-tetap-shalat-berjamaah/&amp;title=Saya+Kerja+Di+Pabrik%2C+Apakah+Tetap+Shalat+Berjama%27ah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/saya-kerja-di-pabrik-apakah-tetap-shalat-berjamaah/&amp;title=Saya+Kerja+Di+Pabrik%2C+Apakah+Tetap+Shalat+Berjama%27ah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Saya+Kerja+Di+Pabrik%2C+Apakah+Tetap+Shalat+Berjama%27ah%3F+-+http://b2l.me/9hcsk&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Saya+Kerja+Di+Pabrik%2C+Apakah+Tetap+Shalat+Berjama%27ah%3F&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/saya-kerja-di-pabrik-apakah-tetap-shalat-berjamaah/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Ustadz%20saya%20kerja%20di%20pabrik%20jadi%20tidak%20bisa%20istiqamah%20melaksanakan%20shalat%20berjamaah%2C%20tapi%20di%20luar%20jam%20kerja%20insya%20Allah%20bisa.%20Bagaimana%20solusinya%20ustadz%3F" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/saya-kerja-di-pabrik-apakah-tetap-shalat-berjamaah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Dahi Terhalang Peci Ketika Shalat?</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-dahi-terhalang-peci-ketika-shalat/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-dahi-terhalang-peci-ketika-shalat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Jun 2010 13:10:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Aurat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[TanyaUstadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1623</guid>
		<description><![CDATA[Apakah dahi wajib menyentuh tanah atau lantai secara langsung tanpa terhalangi oleh kain yang dipakai oleh orang yang sholat tersebut seperti tertutup peci, surban, atau ‘imamah?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada yang mengatakan :&#8221;Sujud Tidak boleh kepada yang ditanggung badan atau yang segerak dengan badan (mahmul) atau segala sesuatu yang ada ditubuh misalnya sorban yang ada dikepala atau kain yang panjang menutupi tempat sujud. Sah jika diletakkan sapu tangan di tempat sujud, juga sah jika rambut menutup dahi dan tidak sah jika dahi tertutup oleh kopiah atau peci. Dari Ibnu ‘Abbas: “Sesungguhnya Nabi bersabda: ‘<em>Saya diperintahkan bersujud dengan tujuh (anggota badan) dan aku tidak boleh merintanginya dengan rambut atau kain</em>’ ” (HR. Ibnu Hibban)<br />
Kesimpulannya: Karena dahi bukan aurat maka tidak boleh terhalang kain (sejenisnya). Sedangkan lutut termasuk aurat, maka boleh tertutup kain celana, sarung, ghamis, dll.</p>
<p>Mohon penjelasan dari keterangan diatas? <em>Jazakumullah</em>.</p>
<p style="text-align: right;"><em>Abu Nafilah</em><span id="more-1623"></span></p>
<p><strong>Ustadz M. Subhan Khadafi, Lc. menjawab:</strong><br />
<strong></strong>Bukanlah karena dahi termasuk aurat atau bukan seperti halnya lutut yang merupakan aurat dan harus tertutup ketika shalat berdasarkan kesepakatan para ulama. Masalah ini yang sesungguhnya adalah:</p>
<blockquote><p>“Apakah dahi wajib menyentuh tanah atau lantai secara langsung tanpa terhalangi oleh kain yang dipakai oleh orang yang sholat tersebut seperti tertutup peci, surban, atau ‘imamah?”</p></blockquote>
<p>Adapun bila dahi yang terhalangi alas seperti tikar yang melekat pada lantai atau tanah maka para ulama sepakat akan kebolehannya.</p>
<p>Dengan demikian maka pendapat yang kuat adalah: diutamakan dahi untuk tidak terhalang ketika sujud dengan kain yang dikenakan oleh orang yang sedang shalat tersebut berdasarkan atsar Ibnu Umar yang tidak suka melihat orang yang sujud sedangkan dahinya terhalangi oleh surbannya: &#8220;<em>Sungguh Ubadah bin Shamit melepaskan sorbannya ketika hendak melaksanakan shalat</em>&#8220;.</p>
<p>An Nakha’i juga berkata: &#8220;<em>Sujud dengan menempelkan dahiku lebih aku sukai</em>&#8220;. Demikian pula sudah menjadi kebiasaan Nabi -<em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em>- bersujud dengan menempelkan dahinya ke lantai atau tanah sampai diriwayatkan bahwa lumpur yang basah menempel pada dahi beliau –<em>shallallaahu’alaihi wasallam</em>- (HR Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Sekalipun demikian jumhur ulama menganggap sah bila seseorang sujud sedangkan dahinya tertutup surban atau peci yang dikenakannya bila dikarenakan sebab tertentu seperti dinginnya atau panasnya lantai. Hal ini karena hadits Anas –rodhiallahu ‘anhu- yang dikeluarkan oleh Imam Al Bukhori dan Imam Muslim:<br />
مَا رَوَى أَنَسٌ ، قَالَ : { كُنَّا نُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَضَعُ أَحَدُنَا طَرَفَ الثَّوْبِ مِنْ شِدَّةِ الْحَرِّ فِي مَكَانِ السُّجُودِ } رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ .<br />
Artinya: “<em>Sungguh kita pernah sholat bersama Nabi –shallallaahu’alaihi wasallam-, maka sebagian diantara kita ada yang menjulurkan ujung pakaian yang dikenakannya sebagai alas sujudnya karena panas yang sangat menyengat</em>“.</p>
<p>Adapun hadits yang dikeluarkan oleh Ibnu Hibban:<br />
« أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةٍ ، لاَ أَكُفُّ شَعَرًا وَلاَ ثَوْبًا »<br />
yang diartikan : “<em>Sesungguhnya Nabi saw bersabda: ‘Saya diperintahkan bersujud dengan tujuh (anggota badan) dan aku tidak boleh merintanginya dengan rambut atau kain’ </em>” ,</p>
<p>maka terjemahan yang tepat adalah bukan merintangi tapi <strong>melipat</strong>. Jadi hadits Ibnu Hibban diatas bukanlah dalil yang melarang seseorang menutup dahinya dengan rambut, surban atau peci yang dikenakannya.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Ustadz M.Subhan Khadafi, Lc<br />
Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.Com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-dahi-terhalang-peci-ketika-shalat/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-dahi-terhalang-peci-ketika-shalat/&amp;title=Bolehkah+Dahi+Terhalang+Peci+Ketika+Shalat%3F+" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-dahi-terhalang-peci-ketika-shalat/&amp;title=Bolehkah+Dahi+Terhalang+Peci+Ketika+Shalat%3F+" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-dahi-terhalang-peci-ketika-shalat/&amp;t=Bolehkah+Dahi+Terhalang+Peci+Ketika+Shalat%3F+" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-dahi-terhalang-peci-ketika-shalat/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Bolehkah+Dahi+Terhalang+Peci+Ketika+Shalat%3F++-+http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-dahi-terhalang-peci-ketika-shalat/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-dahi-terhalang-peci-ketika-shalat/&amp;title=Bolehkah+Dahi+Terhalang+Peci+Ketika+Shalat%3F+" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-dahi-terhalang-peci-ketika-shalat/&amp;title=Bolehkah+Dahi+Terhalang+Peci+Ketika+Shalat%3F+" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Bolehkah+Dahi+Terhalang+Peci+Ketika+Shalat%3F++-+http://b2l.me/2dz3g&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Bolehkah+Dahi+Terhalang+Peci+Ketika+Shalat%3F+&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-dahi-terhalang-peci-ketika-shalat/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Apakah%20dahi%20wajib%20menyentuh%20tanah%20atau%20lantai%20secara%20langsung%20tanpa%20terhalangi%20oleh%20kain%20yang%20dipakai%20oleh%20orang%20yang%20sholat%20tersebut%20seperti%20tertutup%20peci%2C%20surban%2C%20atau%20%E2%80%98imamah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-dahi-terhalang-peci-ketika-shalat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shaf Wanita Dalam Shalat Berjama&#8217;ah</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/shaf-wanita-dalam-shalat-berjamaah/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/shaf-wanita-dalam-shalat-berjamaah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Apr 2010 01:07:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1541</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana posisi shaf perempuan yang shalat berjamaah bersama perempuan dan dimanakah letak imam dan makmum?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagaimana posisi shaf perempuan yang shalat berjamaah bersama perempuan dan dimanakah letak imam dan makmum?</p>
<p style=text-align: right;><em>Ummu Hana<br />
Karang Anyar</em></p>
<p style=text-align: left;><span id="more-1541"></span></p>
<p><strong>Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. menjawab:</strong><br />
Perempuan jika shalat berjama&#8217;ah bersama peremupuan tanpa ada laki-laki di sana maka mereka membuat shaf sebagaimana biasa. Jika jumlahnya banyak maka berbaris, namun jika sedikit tidak berbaris. Sedangkan imamnya berada ditengah dan makmumnya berada di sebelah kanan dan kirinya. Inilah yang dicontohkan oleh &#8216;Aisyah dan Ummu Salamah<em> Radhiallahu&#8217;anhuma</em>.</p>
<p>Sebagaimana disampaikan dalam <em>Al Mushannaf</em> Abdurrazzaq Ash Shan&#8217;ani, juga dibawakan oleh Syaikh Musthafa Al Adawi dalam <em>Jami&#8217; Ahkam An Nisa</em>.</p>
<p><em>Wallahu Ta&#8217;ala A&#8217;lam</em>.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.<br />
Artikel <a href=http://ustadzkholid.com>UstadzKholid.Com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/shaf-wanita-dalam-shalat-berjamaah/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/shaf-wanita-dalam-shalat-berjamaah/&amp;title=Shaf+Wanita+Dalam+Shalat+Berjama%27ah" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/shaf-wanita-dalam-shalat-berjamaah/&amp;title=Shaf+Wanita+Dalam+Shalat+Berjama%27ah" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/shaf-wanita-dalam-shalat-berjamaah/&amp;t=Shaf+Wanita+Dalam+Shalat+Berjama%27ah" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/shaf-wanita-dalam-shalat-berjamaah/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Shaf+Wanita+Dalam+Shalat+Berjama%27ah+-+http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/shaf-wanita-dalam-shalat-berjamaah/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/shaf-wanita-dalam-shalat-berjamaah/&amp;title=Shaf+Wanita+Dalam+Shalat+Berjama%27ah" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/shaf-wanita-dalam-shalat-berjamaah/&amp;title=Shaf+Wanita+Dalam+Shalat+Berjama%27ah" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Shaf+Wanita+Dalam+Shalat+Berjama%27ah+-+http://b2l.me/xn8rx&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Shaf+Wanita+Dalam+Shalat+Berjama%27ah&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/shaf-wanita-dalam-shalat-berjamaah/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Bagaimana%20posisi%20shaf%20perempuan%20yang%20shalat%20berjamaah%20bersama%20perempuan%20dan%20dimanakah%20letak%20imam%20dan%20makmum%3F" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/shaf-wanita-dalam-shalat-berjamaah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jika Sudah Iqamah, Makan Atau Shalat?</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-sudah-iqamah-makan-atau-shalat/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-sudah-iqamah-makan-atau-shalat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Mar 2010 09:47:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[TanyaUstadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1519</guid>
		<description><![CDATA[Bila makanan sudah terhidang, sedangkan iqamah sudah dikumandangkan, manakah yang lebih diutamakan? Makan dahulu ataukah shalat berjama'ah?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bila <span style=text-decoration: underline;>makanan sudah terhidang</span>, sedangkan iqamah sudah dikumandangkan, manakah yang lebih diutamakan? Makan dahulu ataukah shalat berjama&#8217;ah?</p>
<p style=text-align: right;><em>Yusuf, Palur</em></p>
<p style=text-align: left;><span id="more-1519"></span></p>
<p><strong>Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. menjawab:</strong><br />
Yang utama kita mendahulukan makan, sebagaimana sabda Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>:</p>
<p class=arab>?? ???? ????? ??????</p>
<p>“<em>Tidak ada shalat padahal makanan sudah terhidang</em>” (HR. Muslim, no.560)</p>
<p>Hal ini juga membantu agar shalat dapat lebih khusyuk dan tidak terganggu dengan makanan tersebut. Maka hendaknya mendahulukan makan, kemudian mempercepat makannya, kemudian shalat.</p>
<p>Apabila kemudian ia tidak mendapatkan shalat berjama&#8217;ah maka para ulama rahimahumullah mengatakan, orang yang meninggalkan shalat berjama&#8217;ah karena udzur <span style=text-decoration: underline;>tetap mendapatkan pahala shalat berjama&#8217;ah</span>. <em>Wallahu&#8217;alam</em></p>
<p><em>&#8212;</em></p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi. Lc.<br />
Artikel <a href=http://ustadzkholid.com>UstadzKholid.Com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-sudah-iqamah-makan-atau-shalat/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-sudah-iqamah-makan-atau-shalat/&amp;title=Jika+Sudah+Iqamah%2C+Makan+Atau+Shalat%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-sudah-iqamah-makan-atau-shalat/&amp;title=Jika+Sudah+Iqamah%2C+Makan+Atau+Shalat%3F" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-sudah-iqamah-makan-atau-shalat/&amp;t=Jika+Sudah+Iqamah%2C+Makan+Atau+Shalat%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-sudah-iqamah-makan-atau-shalat/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Jika+Sudah+Iqamah%2C+Makan+Atau+Shalat%3F+-+http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-sudah-iqamah-makan-atau-shalat/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-sudah-iqamah-makan-atau-shalat/&amp;title=Jika+Sudah+Iqamah%2C+Makan+Atau+Shalat%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-sudah-iqamah-makan-atau-shalat/&amp;title=Jika+Sudah+Iqamah%2C+Makan+Atau+Shalat%3F" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Jika+Sudah+Iqamah%2C+Makan+Atau+Shalat%3F+-+http://b2l.me/n8eax&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Jika+Sudah+Iqamah%2C+Makan+Atau+Shalat%3F&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-sudah-iqamah-makan-atau-shalat/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Bila%20makanan%20sudah%20terhidang%2C%20sedangkan%20iqamah%20sudah%20dikumandangkan%2C%20manakah%20yang%20lebih%20diutamakan%3F%20Makan%20dahulu%20ataukah%20shalat%20berjama%27ah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-sudah-iqamah-makan-atau-shalat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Aqiqah Ketika Sudah Dewasa</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-aqiqah-ketika-sudah-dewasa/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-aqiqah-ketika-sudah-dewasa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Mar 2010 09:24:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Aqiqah]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[TanyaUstadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1491</guid>
		<description><![CDATA[Ada seorang anak yang sudah baligh, yang dulunya anak tersebut oleh orang tuanya belum diaqiqahi, kemudian setelah baligh orang tuanya ingin mengaqiqahi. Apakah hal ini diperbolehkan dalam syariat Islam? Kemudian apakah hukumnya wajib bagi orang tua untuk mengaqiqahi anaknya?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu&#8217;alaykum ustadz. Ana mau tanya, ada seorang anak yang sudah baligh, yang dulunya anak tersebut oleh orang tuanya belum diaqiqahi, kemudian setelah baligh orang tuanya ingin mengaqiqahi. Apakah hal ini diperbolehkan dalam syariat Islam? Kemudian apakah hukumnya wajib bagi orang tua untuk mengaqiqahi anaknya? <em>Jazaakallahu khairan</em> ustadz&#8230;</p>
<p style="text-align: right;"><em>Wachid M.A.I<br />
Alamat: Cangkringan, Sleman, DIY<br />
Email: gusxxxx@yahoo.co.id</em></p>
<p align="left"><span id="more-1491"></span></p>
<p><strong>Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal menjawab:</strong><br />
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang meniti jalan mereka hingga akhir zaman.</p>
<p>Mengenai permasalahan ini, kita bisa mengambil pelajaran dari dua fatwa Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin berikut dalam <em>Liqo-at Al Bab Al Maftuh</em>. Semoga bermanfaat.</p>
<p><strong>[Pertama]</strong></p>
<p>Soal:</p>
<p>Ada seorang ayah yang memiliki sepuluh anak perempuan dan mereka semua belum diaqiqohi, namun sekarang mereka sudah berkeluarga. Apa yang mesti dilakukan oleh anak-anaknya? Apa sebenarnya hukum aqiqah?Apakah betul apabila seorang anak tidak diaqiqohi, maka ia tidak akan memberi syafaat pada orang tuanya?</p>
<p>Jawab:</p>
<p>Hukum aqiqah adalah sunnah mu’akkad. Aqiqah bagi anak laki-laki dengan dua ekor kambing, sedangkan bagi wanita dengan seekor kambing. Apabila mencukupkan diri dengan seekor kambing bagi anak laki-laki, itu juga diperbolehkan.[1] Anjuran aqiqah ini menjadi kewajiban ayah (yang menanggung nafkah anak, pen). Apabila ketika waktu dianjurkannya aqiqah (misalnya tujuh hari kelahiran, pen), orang tua dalam keadaan faqir (tidak mampu), maka ia tidak diperintahkan untuk aqiqah. Karena Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “<em>Bertakwalah kepada Allah semampu kalian</em>” (QS. At Taghobun: 16). Namun apabila ketika waktu  dianjurkannya aqiqah, orang tua dalam keadaan berkecukupan, maka aqiqah masih tetap jadi kewajiban ayah, bukan ibu dan bukan pula anaknya.</p>
<p>[<em>Liqo-at Al Bab Al Maftuh</em>, Syaikh Muhammad bin Sholih Al 'Utsaimin, kaset 214, no. 6]</p>
<p><strong>[Kedua]</strong></p>
<p>Soal:</p>
<p>Apabila seseorang tidak diaqiqahi ketika kecil, apakah ia tetap dianjurkan untuk diaqiqahi ketika dewasa? Apa saja batasan masih dibolehkannya aqiqah?</p>
<p>Jawab:</p>
<p>Apabila orang tuanya dahulu adalah orang yang tidak mampu pada saat waktu dianjurkannya aqiqah (yaitu pada hari ke-7, 14, atau 21 kelahiran, pen), maka ia tidak punya kewajiban apa-apa walaupun mungkin setelah itu orang tuanya menjadi kaya. Sebagaimana apabila seseorang miskin ketika waktu pensyariatan zakat, maka ia tidak diwajibkan mengeluarkan zakat, meskipun setelah itu kondisinya serba cukup. Jadi apabila keadaan orang tuanya tidak mampu ketika pensyariatan aqiqah, maka aqiqah menjadi gugur karena ia tidak memiliki kemampuan.</p>
<p>Sedangkan jika orang tuanya mampu ketika ia lahir, namun ia menunda aqiqah hingga anaknya dewasa, maka pada saat itu anaknya tetap diaqiqahi walaupun sudah dewasa.</p>
<p>Adapun waktu utama aqiqah adalah hari ketujuh kelahiran, kemudian hari keempatbelas kelahiran, kemudian hari keduapuluh satu kelahiran, kemudian setelah itu terserah tanpa melihat kelipatan tujuh hari.</p>
<p>Aqiqah untuk anak laki-laki dengan dua ekor kambing. Namun anak laki-laki boleh juga dengan satu ekor kambing. Sedangkan aqiqah untuk anak perempuan dengan satu ekor kambing dan lebih utama tidak menambahnya dari jumlah ini.</p>
<p>[<em>Liqo-at Al Bab Al Maftuh</em>, Syaikh Muhammad bin Sholih Al 'Utsaimin, kaset 234, no. 6]</p>
<p><strong>Pelajaran Penting Seputar Aqiqah</strong></p>
<p>Hukum aqiqah adalah sunnah mu’akkad dan seharusnya tidak ditinggalkan oleh orang yang mampu melakukannya.<br />
Aqiqah bagi anak laki-laki afdholnya dengan dua ekor kambing, namun dengan seekor kambing juga dibolehkan. Sedangkan aqiqah bagi anak perempuan adalah dengan seekor kambing.</p>
<p>Waktu utama aqiqah adalah hari ke-7 kelahiran, kemudian hari ke-14 kelahiran, kemudian hari ke-21 kelahiran, kemudian setelah itu terserah tanpa melihat hari kelipatan tujuh. Pendapat ini adalah pendapat ulama Hambali, namun dinilai lemah oleh ulama Malikiyah. Jadi, jika aqiqah dilaksanakan sebelum atau setelah waktu tadi sebenarnya diperbolehkan. Karena yg penting adalah aqiqahnya dilaksanakan. (Lihat <em>Shahih Fiqih Sunnah</em>, 2/383)</p>
<p>Aqiqah asalnya menjadi beban ayah selaku pemberi nafkah. Aqiqah ditunaikan dari harta ayah, bukan dari harta anak. Orang lain tidak boleh melaksanakan aqiqah selain melalui izin ayah. (Lihat <em>Shahih Fiqih Sunnah</em>, 2/382)</p>
<p>Imam Asy Syafi’i mensyaratkan bahwa yang dianjurkan aqiqah adalah orang yang mampu. (Lihat <em>Shahih Fiqih Sunnah</em>, 2/382)<br />
Apabila ketika waktu pensyariatan aqiqah (sebelum dewasa), orang tua dalam keadaan tidak mampu, maka aqiqah menjadi gugur, walaupun nanti beberapa waktu kemudian orang tua menjadi kaya. Sebaliknya apabila ketika waktu pensyariatan aqiqah (sebelum dewasa), orang tua dalam keadaan kaya, maka orang tua tetap dianjurkan mengaqiqahi anaknya meskipun anaknya sudah dewasa.</p>
<p>Imam Asy Syafi’i memiliki pendapat bahwa aqiqah tetap dianjurkan walaupun diakhirkan. Namun disarankan agar tidak diakhirkan hingga usia baligh. Jika aqiqah diakhirkan hingga usia baligh, maka kewajiban orang tua menjadi gugur. Akan tetapi ketika itu, anak punya pilihan, boleh mengaqiqahi dirinya sendiri atau tidak. (Lihat Shahih Fiqih Sunnah, 2/383)<br />
Perhitungan hari ke-7 kelahiran, hari pertamanya dihitung mulai dari hari kelahiran. Misalnya si bayi lahir pada hari Senin, maka hari ke-7 kelahiran adalah hari Ahad. Berarti hari Ahad adalah hari pelaksanaan aqiqah. [Keterangan Syaikh Ibnu Utsaimin lainnya, <em>Liqo-at Al Bab Al Maftuh</em>, kaset 161, no. 24]</p>
<p>Pendapat yang menyatakan, “Jika seseorang anak tidak diaqiqahi, maka ia tidak akan memberi syafaat kepada orang tuanya pada hari kiamat nanti”, ini adalah pendapat yang lemah sebagaimana dilemahkan oleh Ibnul Qayyim. [Keterangan Syaikh Ibnu Utsaimin lainnya, <em>Liqo-at Al Bab Al Maftuh</em>, kaset 161, no. 24]</p>
<p>Demikian pembahasan ringkas mengenai aqiqah. Semoga bermanfaat bagi kaum muslimin.</p>
<p>Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad, keluarga, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga akhir zaman.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal<br />
Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.Com</a>, juga dipublikasikan di <a href="http://rumaysho.com">Rumaysho.Com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-aqiqah-ketika-sudah-dewasa/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-aqiqah-ketika-sudah-dewasa/&amp;title=Hukum+Aqiqah+Ketika+Sudah+Dewasa" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-aqiqah-ketika-sudah-dewasa/&amp;title=Hukum+Aqiqah+Ketika+Sudah+Dewasa" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-aqiqah-ketika-sudah-dewasa/&amp;t=Hukum+Aqiqah+Ketika+Sudah+Dewasa" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-aqiqah-ketika-sudah-dewasa/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Hukum+Aqiqah+Ketika+Sudah+Dewasa+-+http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-aqiqah-ketika-sudah-dewasa/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-aqiqah-ketika-sudah-dewasa/&amp;title=Hukum+Aqiqah+Ketika+Sudah+Dewasa" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-aqiqah-ketika-sudah-dewasa/&amp;title=Hukum+Aqiqah+Ketika+Sudah+Dewasa" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Hukum+Aqiqah+Ketika+Sudah+Dewasa+-+http://b2l.me/n8uaF&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Hukum+Aqiqah+Ketika+Sudah+Dewasa&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-aqiqah-ketika-sudah-dewasa/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Ada%20seorang%20anak%20yang%20sudah%20baligh%2C%20yang%20dulunya%20anak%20tersebut%20oleh%20orang%20tuanya%20belum%20diaqiqahi%2C%20kemudian%20setelah%20baligh%20orang%20tuanya%20ingin%20mengaqiqahi.%20Apakah%20hal%20ini%20diperbolehkan%20dalam%20syariat%20Islam%3F%20Kemudian%20apakah%20hukumnya%20wajib%20bagi%20orang%20tua%20untuk%20mengaqiqahi%20anaknya%3F" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-aqiqah-ketika-sudah-dewasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jika Imam Membaca Qunut Shubuh</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-imam-membaca-qunut-shubuh/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-imam-membaca-qunut-shubuh/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 13:37:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[khilaf]]></category>
		<category><![CDATA[Qunut]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1453</guid>
		<description><![CDATA[Ustadz, bagaimana hukumnya orang yang menjadi makmumnya ahlul bid'ah? Apakah diperbolehkan seseorang mendirikan shalat berjamaah di asrama, dengan alasan masjid terdekat dari asrama imam rawatibnya biasanya melakukan ritual bid'ah sedangkan masjid yang lain jaraknya jauh? Misalnya, jika kita berkeyakinan bahwa qunut subuh adalah suatu bid'ah, maka bagaimana hukumnya jika kita menjadi makmumnya imam yang selalu mengamalkan qunut subuh, apakah boleh? Jazakallahu khairan]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagaimana hukumnya orang yang menjadi makmumnya ahlul bid’ah? Apakah diperbolehkan seseorang mendirikan shalat berjamaah di asrama, dengan alasan masjid terdekat dari asrama imam rawatibnya biasanya melakukan ritual bid’ah sedangkan masjid yang lain jaraknya jauh? Misalnya, jika kita berkeyakinan bahwa qunut subuh adalah suatu bid’ah, maka bagaimana hukumnya jika kita menjadi makmumnya imam yang selalu mengamalkan qunut subuh, apakah boleh?<em>Jazakallahu khairan</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Abu Abdirrahman<br />
Alamat: Jl. Mulyosari, Surabaya<br />
Email: emailkuxxxx@yahoo.com</em><span id="more-1453"></span></p>
<p><strong>Al Akh Yulian Purnama menjawab:</strong></p>
<p><strong>Pertama</strong>, shalat wajib berjama’ah di masjid hukum asalnya adalah wajib sebagaimana telah dijelaskan oleh Ustadz Kholid Syamhudi,Lc. <em>Hafizhahullah</em> pada artikel <a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-berjama%e2%80%99ah-wajib-ataukah-sunnah/">Hukum Shalat Berjama’ah Wajib Ataukah Sunnah</a>.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, sebagaimana telah diketahui penanya bahwa membaca doa qunut pada shalat shubuh secara rutin adalah perkara baru dalam agama. Meskipun memang sebagian Syafi’iyyah dan Malikiyyah menganggapnya disyariatkan. Penjelasan mengenai hal ini cukup panjang, namun ringkasnya, pendapat yang benar adalah bahwa hal tersebut termasuk perkara baru dalam agama dengan alasan berikut:</p>
<ol>
<li>Praktek membaca Doa Qunut yang dilakukan oleh Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wassallam</em> berdasarkan banyak hadits adalah Qunut Nazilah, yaitu doa Qunut yang dibaca karena adanya musibah besar yang menimpa kaum muslimin. Dan Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wassallam</em> mempraktekan hal tersebut tidak hanya pada shalat shubuh, namun pernah dilakukan pada seluruh shalat fardhu. Dan beliau tidak merutinkan membaca doa Qunut pada shalat shubuh meskipun memang praktek Qunut Nazilah yang beliau lakukan paling sering dilakukan ketika shalat shubuh. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Qayyim Al Jauziyyah:وكان هديه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ القنوت في النوازل خاصة ، وترْكَه عند عدمها ، ولم يكن يخصه بالفجر، بل كان أكثر قنوته فيها“Petunjuk dari Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wassallam</em> dalam masalah Qunut adalah hanya melakukannya jika terjadi nazilah (musibah besar) saja. Dan tidak melakukannya jika tidak ada nazilah. Tidak pula mengkhususkannya pada shalat shubuh, walaupun memang beliau paling sering membaca Qunut Nazilah ketika shalat shubuh (<em>Zaadul Ma’ad</em>, 1/273)”</li>
<li>Terdapat hadits shahih dari Abu Malik bin Sa’id Al Asy-ja’i yang tegas menunjukkan bahwa membaca qunut pada shalat shubuh secara rutin tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabat:عَنْ أَبِيهِ صَلَّيْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَقْنُتْ ، وَصَلَّيْتُ خَلْفَ أَبِي بَكْرٍ فَلَمْ يَقْنُتْ ، وَصَلَّيْتُ خَلْفَ عُمَرَ فَلَمْ يَقْنُتْ ، وَصَلَّيْتُ خَلْفَ عُثْمَانَ فَلَمْ يَقْنُتْ وَصَلَّيْتُ خَلْفَ عَلِيٍّ فَلَمْ يَقْنُتْ ، ثُمَّ قَالَ يَا بُنَيَّ إنَّهَا بِدْعَةٌ } رَوَاهُ النَّسَائِيّ وَابْنُ مَاجَهْ وَالتِّرْمِذِيُّ وَقَالَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ“<em>Dari ayahku, ia berkata: ‘Aku pernah shalat menjadi makmum Nabi Shallallahu’alaihi Wassallam namun ia tidak membaca Qunut, Aku pernah shalat menjadi makmum Abu Bakar namun ia tidak membaca Qunut, Aku pernah shalat menjadi makmum Umar namun ia tidak membaca Qunut, Aku pernah shalat menjadi makmum Utsman namun ia tidak membaca Qunut, Aku pernah shalat menjadi makmum Ali namun ia tidak membaca Qunut. Wahai anakku ketahuilah itu perkara bid’ah</em>‘” (HR. Nasa-i, Ibnu Majah, At Tirmidzi. At Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih”)<br />
Dalam lafadz Ibnu Majah:</p>
<p>قُلْت لِأَبِي يَا أَبَتِ إنَّكَ قَدْ صَلَّيْتَ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ بِالْكُوفَةِ نَحْوًا مِنْ خَمْسِ سِنِينَ أَكَانُوا يَقْنُتُونَ فِي الْفَجْرِ ؟ قَالَ : أَيْ بُنَيَّ مُحْدَثٌ</p>
<p>“<em>Abu Malik berkata: ‘Wahai ayah, engkau pernah shalat menjadi makmum Nabi Shallallahu’alaihi Wassallam, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali di kufah selama kurang lebih 5 tahun. Apakah mereka membaca qunut di shalat shubuh?’. Ayahku berkata: ‘Wahai anakku, itu perkara baru dalam agama’</em>“</li>
<li>Sedangkan hadits yang menyatakan bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wassallam membaca qunut di shalat shubuh hingga wafatnya, telah dijelaskan oleh para ulama bahwa bukan lah maknanya merutinkan qunut, jika dilihat dari praktek beliau.وَأَمَّا حَدِيثُ أَنَسٍ { مَا زَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِي الْفَجْرِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا } رَوَاهُ أَحْمَدُ وَغَيْرُهُ : فَفِيهِ مَقَالٌ ، وَيُحْتَمَلُ : أَنَّهُ أَرَادَ بِهِ : طُولَ الْقِيَامِ ، فَإِنَّهُ يُسَمَّى قُنُوتًا“Adapun hadits ‘<em>Rasulullah Shallallahu’alaihi Wassallam selalu qunut di shalat shubuh sampai berpisah dengan dunia</em>‘ Hadits Riwayat Ahmad dan lainnya. Tentang makna <em>Qunut</em> di sini terdapat beberapa pendapat. Dan nampaknya maknanya adalah beliau shalat shubuh dengan waktu berdiri yang lama. Oleh karena itu dalam bahasa arab disebut juga Qunut” (<em>Syarhu Muntahal Iradat</em>, 45/2)</li>
</ol>
<p><strong>Ketiga</strong>, mengenai shalat dibelakang imam yang melakukan bid’ah, selama bukan bid’ah yang menyebabkan kekafiran maka persoalan ini dibagi menjadi 2 bagian:</p>
<p><strong>1. Bolehkah dan sahkah shalatnya?</strong><br />
Untuk menjawab pertanyaan ini, kami bawakan nasehat yang bagus dari Syaikh Rabi bin Hadi Al Madkhali:<br />
“Jika imam membaca doa qunut di shalat shubuh, maka ikutilah dia. Walau anda sebagai ma’mum berpendapat berbeda. Bahkan jika anda sebagai ma’mum menganggap shalat sang imam itu tidak sah menurut mazhab anda, namun sah menurut mazhab sang imam, anda tetap boleh berma’mum kepadanya. Karena Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> memerintahkan demikian, beliau bersabda:</p>
<p>يُصَلُّونَ لَكُمْ فَإِنْ أَصَابُوا فَلَكُمْ وَإِنْ أخطؤوا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ</p>
<p>“<em>Shalatlah kalian bersama imam, jika shalat imam itu benar, kalian mendapat pahala. Jika shalat imam itu salah, kalian tetap mendapat pahala dan sang imam yang menanggung kesalahnnya</em>” (HR. Bukhari no.662)<br />
Jika demikian, maka anda tetap boleh shalat bersama imam tersebut.</p>
<p>Demikian juga yang dipraktekan oleh para salaf. Suatu ketika Khalifah Harun Ar Rasyid pergi berhaji lalu singgah di Madinah, kemudian berbekam. Kemudian ia bertanya kepada Imam Malik: “Aku baru berbekam, apakah aku boleh shalat tanpa wudhu lagi?”. Imam Malik menjawab: “Boleh”. Maka beliau pun mengimami shalat tanpa berwudhu lagi.</p>
<p>Karena menurut mazhab <del datetime="2010-02-19T10:00:55+00:00">Maliki</del> Hanafi, bekam dapat membatalkan wudhu, orang-orang bertanya kepada Abu Yusuf Al Hanafi: “Bagaimana mungkin aku shalat bermakmum pada Khalifah Harun Ar Rasyid padahal ia belum berwudhu??”. Abu Yusuf berkata: “<em>Subhanallah</em>… Ia Amirul Mu’minin!”</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga memiliki pendapat dalam hal ini: “Jika anda bermakmum pada imam yang memiliki perbedaan pendapat dengan anda dalam masalah sah atau tidaknya shalat. Lalu anda berpendapat bahwa shalat yang dilakukannya itu tidak sah, namun ia memiliki hujjah dan dalil bahwa shalat yang ia lakukan sudah sah, maka anda boleh bermakmum kepadanya. Kecuali jika sang imam menegaskan bahwa ia belum berwudhu, misalnya ia berkata: ‘Saya belum berwudhu dan saya akan shalat tanpa wudhu’. Maka shalatnya tidak sah bagi si imam dan tidak sah pula bagi anda”.<br />
[Sampai di sini perkataan Syaikh Rabi', dinukil dari <a href="http://www.rabee.net/show_fatwa.aspx?id=208">http://www.rabee.net/show_fatwa.aspx?id=208</a>]</p>
<p>Imam Al Bukhari dalam <em>Shahih</em>-nya juga membuat bab:</p>
<p>باب إِمَامَةِ الْمَفْتُونِ وَالْمُبْتَدِعِ وَقَالَ الْحَسَنُ صَلِّ وَعَلَيْهِ بِدْعَتُهُ</p>
<p>“Bab berimam kepada orang yang terkena fitnah atau mubtadi. Dan Al Hasan berkata: ‘Shalatlah bermakmum kepada mereka, sedangkan bid’ah yang mereka lakukan biarlah mereka yang menanggung’”. Perlu diketahui fiqih Imam Al Bukhari terdapat pada judul-judul babnya.</p>
<p>Ringkasnya, anda boleh shalat dibelakang imam yang melakukan kesalahan dalam shalat semisal membaca doa qunut dalam shalat shubuh atau semacamnya, selama kesalahan tersebut bukan kesalahan yang secara ijma ulama dapat membatalkan shalat, seperti tidak berwudhu. Namun tetap disarankan untuk mencari masjid yang imamnya sesuai atau lebih mendekati sunnah jika memungkinkan.</p>
<p><strong>2. Apa yang harus dilakukan?</strong><br />
Jika seseorang bermakmum dibelakang <a href="http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-imam-membaca-qunut-shubuh/">imam yang membaca doa qunut</a> pada shalat shubuh, yang merupakan bid’ah, apakah ia ikut membaca doa bersama imam? Ataukah diam saja? Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat diantara para ulama.</p>
<p><strong>Pendapat pertama</strong>, yaitu mengikuti imam membaca doa qunut, mengingat perintah untuk mengikuti imam. Sebagaimana pendapat Abu Yusuf Al Hanafi yang disebutkan dalam <em>Fathul Qadiir</em> (367/2):</p>
<p>وَقَالَ أَبُو يُوسُفَ رَحِمَهُ اللَّهُ يُتَابِعُهُ ) لِأَنَّهُ تَبَعٌ لِإِمَامِهِ ، وَالْقُنُوتُ مُجْتَهَدٌ فِيهِ</p>
<p>“Abu Yusuf <em>rahimahullah</em> berpendapat<em> ikut membaca qunut</em>. Karena hal tersebut termasuk kewajiban mengikuti imam. Sedangkan membaca qunut adalah ijtihad imam”</p>
<p>Dalam <em>Syarhul Mumthi’ Syarh Zaadul Mustaqni’</em> (45/4) kitab fiqh mazhab Hambali, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan:</p>
<p>وانظروا إلى الأئمة الذين يعرفون مقدار الاتفاق، فقد كان الإمام أحمدُ يرى أنَّ القُنُوتَ في صلاة الفجر بِدْعة، ويقول: إذا كنت خَلْفَ إمام يقنت فتابعه على قُنُوتِهِ، وأمِّنْ على دُعائه، كُلُّ ذلك مِن أجل اتِّحاد الكلمة، واتِّفاق القلوب، وعدم كراهة بعضنا لبعض</p>
<p>“Perhatikanlah para ulama yang sangat memahami pentingnya persatuan. Imam Ahmad berpendapat bahwa membaca <a href="http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-imam-membaca-qunut-shubuh/">qunut</a> ketika shalat shubuh itu bid’ah. Namun ia berkata: ‘Jika seseorang shalat bermakmum pada imam yang membaca qunut maka hendaknya ia mengikuti dan mengamini doanya’. Ini dalam rangka persatuan, dan mengaitkan hati dan menghilangkan kebencian diantara kaum muslimin”</p>
<p><strong>Pendapat kedua</strong>, diam dan tidak mengikuti imam ketika membaca doa qunut, karena tidak harus mengikuti imam dalam kebid’ahan. Dalam <em>Fathul Qadiir</em> (367/2), kitab Fiqih Mazhab Hanafi, dijelaskan:</p>
<p>فَإِنْ قَنَتَ الْإِمَامُ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ يَسْكُتُ مَنْ خَلْفَهُ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ وَمُحَمَّدٍ رَحِمَهُمَا اللَّهُ .</p>
<p>“Jika imam membaca doa qunut dalam shalat shubuh, sikap makmum adalah diam. Ini menurut Imam Abu Hanifah dan Muhammad <em>rahimahumallah</em>“</p>
<p>Dalam <em>Al Mubdi’</em> (238/2), kitab fiqih mazhab Hambali dikatakan:</p>
<p>وذكر أبو الحسين رواية فيمن صلى خلف من يقنت في الفجر أنه يسكت ولا يتابعه</p>
<p>“Abul Husain (Ishaq bin Rahawaih) membawakan riwayat tentang sahabat yang shalat dibelakang imam yang membaca qunut pada shalat shubuh dan ia diam“</p>
<p>Namun perkara ini adalah perkara <em>khilafiah ijtihadiyah</em>, anda dapat memilih pendapat yang menurut anda lebih mendekati kepada dalil-dalil yang ada. Wallahu Ta’ala A’lam, kami menguatkan pendapat pertama, yaitu mengikuti imam berdoa qunut mengingat hadits tentang perintah untuk mengikuti imam meskipun imam melakukan kesalahan selama tidak disepakati oleh para ulama kesalahan tersebut dapat membatalkan shalat, sebagaimana telah dibahas di atas.</p>
<p><strong>Yang terakhir</strong>, perlu dicamkan bahwa dalam keadaan ini anda tetap berkewajiban untuk menghadiri shalat berjama’ah di masjid. Sebagaimana solusi yang disarankan oleh <em>Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Wal Ifta</em>:</p>
<p>فإذا كان الإمام يسدل في صلاته ويديم القنوت في صلاة الصبح على ما ذكر في السؤال نصحه أهل العلم وأرشدوه إلى العمل بالسنة ، فإن استجاب فالحمد لله ، وإن أبى وسهلت صلاة الجماعة وراء غيره صُلِّيَ خلف غيره محافظةً على السنة ، وإن لم يسهل ذلك صُلِّيَ وراءه حرصاً على الجماعة ، والصلاةُ صحيحةٌ على كل حال .</p>
<p>“Jika imam melakukan sadl atau merutinkan membaca doa qunut ketika shalat shubuh, sebagaimana yang anda tanyakan, katakan kepadanya bahwa para ulama menasehatkan dirinya untuk beramal dengan yang sesuai sunnah. Jika ia setuju, alhamdulillah. Jika ia menolak, maka bila anda dapat dengan mudah mencari masjid lain, shalatlah di sana. Dalam rangka menjaga diri agar senantiasa mengamalkan yang sunnah. Jika sulit untuk mencari masjid lain, maka anda tetap shalat menjadi makmum imam tersebut, dalam rangka melaksanakan kewajiban shalat berjama’ah” (<em>Fatawa Lajnah Ad Daimah</em>, 7/366)</p>
<p><em>Wabillahi At Taufiq</em>.</p>
<p>——-</p>
<p>Penulis: Yulian Purnama<br />
Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.Com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-imam-membaca-qunut-shubuh/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-imam-membaca-qunut-shubuh/&amp;title=Jika+Imam+Membaca+Qunut+Shubuh" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-imam-membaca-qunut-shubuh/&amp;title=Jika+Imam+Membaca+Qunut+Shubuh" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-imam-membaca-qunut-shubuh/&amp;t=Jika+Imam+Membaca+Qunut+Shubuh" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-imam-membaca-qunut-shubuh/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Jika+Imam+Membaca+Qunut+Shubuh+-+http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-imam-membaca-qunut-shubuh/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-imam-membaca-qunut-shubuh/&amp;title=Jika+Imam+Membaca+Qunut+Shubuh" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-imam-membaca-qunut-shubuh/&amp;title=Jika+Imam+Membaca+Qunut+Shubuh" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Jika+Imam+Membaca+Qunut+Shubuh+-+http://b2l.me/n9kms&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Jika+Imam+Membaca+Qunut+Shubuh&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-imam-membaca-qunut-shubuh/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Ustadz%2C%20bagaimana%20hukumnya%20orang%20yang%20menjadi%20makmumnya%20ahlul%20bid%27ah%3F%20Apakah%20diperbolehkan%20seseorang%20mendirikan%20shalat%20berjamaah%20di%20asrama%2C%20dengan%20alasan%20masjid%20terdekat%20dari%20asrama%20imam%20rawatibnya%20biasanya%20melakukan%20ritual%20bid%27ah%20sedangkan%20masjid%20yang%20lain%20jaraknya%20jauh%3F%20Misalnya%2C%20jika%20kita%20berkeyakinan%20bahwa%20qunut%20subuh%20adalah%20suatu%20bid%27ah%2C%20maka%20bagaimana%20hukumnya%20jika%20kita%20menjadi%20makmumnya%20imam%20yang%20selalu%20mengamalkan%20qunut%20subuh%2C%20apakah%20boleh%3F%20Jazakallahu%20khairan" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-imam-membaca-qunut-shubuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengirim Pahala Kurban</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/mengirim-pahala-kurban/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/mengirim-pahala-kurban/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 14:43:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[kurban]]></category>
		<category><![CDATA[TanyaUstadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana mengirim pahala kurban untuk orang yang sudah meninggal?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan</strong><br />
Bagaimana hukum berkurban untuk orang yang sudah meninggal?</p>
<p><strong>Ustadz Kholid Syamhudi menjawab:</strong></p>
<p>Menjawab pertanyaan diatas, berikut kami bawakan pendapat Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, yang kami ambil dari kitab <em>Ahkam Al-Adhahi wal Dzakaah</em>, dengan beberapa tambahan referensi lainnya.</p>
<p>Pada asalnya, kurban disyari’atkan bagi orang yang masih hidup, sebagaimana Rasulullah dan para shahabat telah menyembelih kurban untuk dirinya dan keluarganya. Adapun persangkaan orang awam adanya kekhususan kurban untuk orang yang telah meninggal, maka hal itu tidak ada dasarnya.</p>
<p>Kurban bagi orang yang sudah meninggal, ada tiga bentuk.<span id="more-53"></span></p>
<p><strong>[1]. Menyembelih kurban bagi orang yang telah meninggal, namun yang masih hidup disertakan</strong>. Contohnya, seorang menyembelih seekor kurban untuk dirinya dan ahli baitnya, baik yang masih hidup dan yang telah meninggal dunia.</p>
<p>Demikian ini boleh, dengan dasar sembelihan kurban Nabi<em> Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> untuk dirinya dan ahli baitnya, dan diantara mereka ada yang telah meninggal sebelumnya. Sebagaimana tersebut dalam hadits shahih yang berbunyi.</p>
<p>“<em>Artinya : Aku menyaksikan bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Id Al-Adha di musholla (tanah lapang). Ketika selesai khutbahnya, beliau turun dari mimbarnya. Lalu dibawakan seekor kambing dan Rasulullah menyembelihnya dengan tangannya langsung dan berkata : “Bismillah wa Allahu Akbar hadza anni wa amman lam yudhahi min ummati” (Bismillah Allahu Akbar, ini dariku dan dari umatku yang belum menyembelih</em>) [1]. Ini meliputi yang masih hidup atau telah mati dari umatnya.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Diperbolehkan menyembelih kurban seekor kambing bagi ahli bait, isteri-isterinya, anak-anaknya dan orang yang bersama mereka, sebagaimana dilakukan para sahabat” [2] Dasarnya ialah hadits Aisyah, beliau berkata.</p>
<p>“<em>Artinya : Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta seekor domba bertanduk, lalu dibawakan untuk disembelih sebagai kurban. Lalu beliau berkata kepadanya (Aisyah), “Wahai , Aisyah, bawakan pisau”, kemudian beliau berkata : “Tajamkanlah (asahlah) dengan batu”. Lalu ia melakukannya. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabil pisau tersebut dan mengambil domba, lalu menidurkannya dan menyembelihnya dengan mengatakan : “Bismillah, wahai Allah! Terimalah dari Muhammad dan keluarga Muhammad dan dari umat Muhammad”, kemudian menyembelihnya</em>” [HR. Muslim]</p>
<p>Sehingga seorang yang menyembelih kurban seekor domba atau kambing untuk dirinya dan ahli baitnya, maka pahalanya dapat diperoleh juga oleh ahli bait yang dia niatkan tersebut, baik yang masih hidup atau yang telah meninggal dunia. Jika tidak berniat baik secara khusus atau umum, maka masuk dalam ahli bait semua yang termaktub dalam ahli bait tersebut, baik secara adat mupun bahasa. Ahli bait dalam istilah adat, yaitu seluruh orang yang di bawah naungannya, baik isteri, anak-anak atau kerabat. Adapun menurut bahasa, yaitu seluruh kerabat dan anak turunan kakeknya, serta anak keturunan kakek bapaknya.</p>
<p><strong>[2]. Menyembelih kurban untuk orang yang sudah meninggal, disebabkan tuntunan wasiat yang disampaikannya</strong>. Jika demikian, maka wajib dilaksanakan sebagai wujud dari pengamalan firman Allah.</p>
<p>“<em>Artinya : Maka barangsiapa yang mengubah wasiat itu setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui</em>” [QS. Al-Baqarah : 181]</p>
<p>Dr Abdullah Ath-Thayaar berkata : “Adapun kurban bagi mayit yang merupakan wasiat darinya, maka ini wajib dilaksanakan walaupun ia (yang diwasiati) belum menyembelih kurban bagi dirinya sendiri, karena perintah menunaikan wasiat” [3]</p>
<p><strong>[3]. Menyembelih kurban bagi orang yang sudah meninggal sebagai shadaqah terpisah dari yang hidup (bukan wasiat dan tidak ikut yang hidup)</strong> maka inipun dibolehkan.</p>
<p>Para ulama Hambaliyah (yang mengikuti madzhab Imam Ahmad) menegaskan bahwa pahalanya sampai ke mayit dan bermanfaat baginya dengan menganalogikannya kepada shadaqah. Ibnu Taimiyyah berkata : “Diperbolehkan menyembelih kurban bagi orang yang sudah meninggal sebagaimana diperolehkan haji dan shadaqah untuk orang yang sudah meninggal. Menyembelihnya di rumah dan tidak disembelih kurban dan yang lainnya di kuburan” [4]</p>
<p>Akan tetapi, <span style="text-decoration: underline;">kami tidak memandang benarnya pengkhususan kurban untuk orang yang sudah meninggal sebagai sunnah</span>, sebab Nabi Shallallahu ‘alaihi was al sallam tidak pernah mengkhususkan menyembelih untuk seorang yang telah meninggal. Beliau <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak menyembelih kurban untuk Hamzah, pamannya, padahal Hamzah merupakan kerabatnya yang paling dekat dan dicintainya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pula menyembelih kurban untuk anak-anaknya yang meninggal dimasa hidup beliau, yaitu tiga wanita yang telah bersuami dan tiga putra yang masih kecil. Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga tidak menyembelih kurban untuk istrinya, Khadijah, padahal ia merupakan istri tercintanya. Demikian juga, tidak ada berita jika para sahabat menyembelih kurban bagi salah seorang yang telah meninggal.</p>
<p>Demikian sedikit ulasan berkenaan dengan kurban bagi orang yang telah meninggal.</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/mengirim-pahala-kurban/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/mengirim-pahala-kurban/&amp;title=Mengirim+Pahala+Kurban+" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/mengirim-pahala-kurban/&amp;title=Mengirim+Pahala+Kurban+" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/mengirim-pahala-kurban/&amp;t=Mengirim+Pahala+Kurban+" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/mengirim-pahala-kurban/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Mengirim+Pahala+Kurban++-+http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/mengirim-pahala-kurban/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/mengirim-pahala-kurban/&amp;title=Mengirim+Pahala+Kurban+" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/mengirim-pahala-kurban/&amp;title=Mengirim+Pahala+Kurban+" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Mengirim+Pahala+Kurban++-+http://b2l.me/n9kmt&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Mengirim+Pahala+Kurban+&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/mengirim-pahala-kurban/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Bagaimana%20mengirim%20pahala%20kurban%20untuk%20orang%20yang%20sudah%20meninggal%3F" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/mengirim-pahala-kurban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Shalat Dhuha Secara Berjama&#8217;ah</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-shalat-dhuha-secara-berjamaah/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-shalat-dhuha-secara-berjamaah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Sep 2009 08:09:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Dhuha]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[TanyaUstadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1262</guid>
		<description><![CDATA[Apakah hadits berikut dapat menjadi dalil bolehnya shalat dhuha berjamaah?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ustadz bagaimana kualitas hadits ini ustad. Dalam kitab <em>Fathul Bari </em>(<em>Syarah Shahih Bukhari</em>) karya Imam Ibnu Hajar Al-’Asqalani, dinukilkan hadis ‘Itban bin Malik <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> tersebut, bahwa Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> telah melakukan shalat Dhuha (<em>subhata adh-dhuha</em>) di rumahnya [rumah 'Itban bin Malik], lalu orang-orang berdiri di belakang beliau dan mereka pun sholat dengan shalat beliau (<em>fa-qaamuu waraa`ahu fa-shalluu bi-shalaatihi</em>). (Ibnu Hajar Al-’Asqalani, <em>Fathul Bari</em>, 4/177).</p>
<p>Bisa sebagai hujah untuk shalat dhuha berjamaah tidak ustadz? Mohon penjelasannya ustadz. Terimakasih.</p>
<p><em>Wasalamu&#8217;alaikum warahmatullahi wabarakatuh</em></p>
<p align="right"><em>Muhadi<br />
Alamat: Boyolali, Surakarta<br />
Email: hi_techxxxx@yahoo.com</em></p>
<p align="left"><span id="more-1262"></span></p>
<p><strong>Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal menjawab:</strong></p>
<p>Riwayat ‘Itban bin Malik tersebut memang betul terdapat dalam <em>Fathul Baari</em> sebagai berikut.</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">??? ??????? ??????? ???? ?????? ???????????? ???? ???????? ??? ?????????? ???? ???????? ??? ?????? &#8221; ????? ??????? ???????? ?????? ???????? ???????? ????????? ?????? ??? ???????? ??????? ????????? ????????? ????????? ?????????? ??????????? &#8220;</p>
<p>&#8220;<em>Ada riwayat dari Imam Ahmad dari jalur Az Zuhriy, dari Mahmud bin Ar Robi’, dari ‘Itban bin Malik, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu wa ‘alaihi wa sallam pernah shalat Dhuha di rumahnya, lalu para sahabat berada di belakang beliau </em><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka mengikuti shalat yang beliau </em><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan</em>&#8220;<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam <em>Musnad</em>-nya. Ibnu Hajar mengatakan bahwa hadits ini dikeluarkan pula oleh Muslim dari riwayat Ibnu Wahb dari Yunus dalam hadits yang cukup panjang, tanpa menyebut “shalat Dhuha”.<a href="#_ftn2">[2]</a> Al Haitsami mengatakan bahwa para perawinya adalah perawi yang shahih.<a href="#_ftn3">[3]</a> Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sebagaimana syarat Bukhari-Muslim.<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Namun apakah hadits ini bisa sebagai dalil untuk melaksanakan shalat Dhuha rutin secara berjama’ah?</p>
<p>Alangkah bagusnya jika kita memahami terlebih dahulu bagaimana hukum melaksanakan shalat sunnah secara berjama’ah.</p>
<p>Mayoritas ulama ulama berpendapat bahwa shalat sunnah boleh dilakukan secara berjama’ah ataupun sendirian (<em>munfarid</em>) karena Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah melakukan dua cara ini, namun yang paling sering dilakukan adalah secara sendirian (<em>munfarid</em>). Perlu diketahui bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>pernah melakukan shalat bersama Hudzaifah; bersama Anas, ibunya dan seorang anak yatim; beliau juga pernah mengimami  para sahabat di rumah ‘Itban bin Malik<a href="#_ftn5">[5]</a>; beliau pun pernah melaksanakan shalat bersama Ibnu ‘Abbas.<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Ibnu Hajar Al Asqalani ketika menjelaskan hadits Ibnu ‘Abbas yang berada di rumah Maimunah dan melaksanakan shalat malam bersama Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, beliau <em>rahimahullah </em>mengatakan,</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">??????? ????????????? ??????????? ??? ???????????</p>
<p>“Dalam hadits ini menunjukkan dibolehkannya melakukan shalat sunnah secara berjama’ah.”<a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>An Nawawi tatkala menjelaskan hadits mengenai qiyam Ramadhan (tarawih), beliau <em>rahimahullah</em> mengatakan,</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">?????? ??????????? ???????? ? ????????? ???????????? ?????? ???????????? ?????? ??? ???????? ?????????? ?????? : ??????? ??????????? ???????????????? ??????? ???????????? ????? ???????????</p>
<p>“Boleh mengerjakan shalat sunnah secara berjama’ah. Namun pilihan yang paling bagus adalah dilakukan sendiri-sendiri (munfarid) kecuali pada beberapa shalat khusus seperti shalat ‘ied, shalat kusuf (ketika terjadi gerhana), shalat istisqo’ (minta hujan), begitu pula dalam shalat tarawih menurut mayoritas ulama.”<a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Ada sebuah pertanyaan yang pernah diajukan pada Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin <em>rahimahullah </em>mengenai hukum mengerjakan shalat nafilah (shalat sunnah) dengan berjama’ah. Syaikh <em>rahimahullah</em> menjawab,</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">??? ??? ??????? ???? ?? ???? ??????? ?????? ?? ????? ???? ????? ???? ??? ?????? ???? ?????? ??????? ?? ????? ???? ?? ??? ?? ????? ??? ?? ????? ??? ???? ???? ???? ??? ?? ???? ??? ???? ??? ?? ???? ?????(2)? ???? ??? ??? ??? ?? ???? ??? ???? ??? ??????? ?? ??? ?? ???? ??? ???? ???(3).</p>
<p>“Apabila seseorang melaksanakan shalat sunnah terus menerus secara berjama’ah, maka ini adalah sesuatu yang tidak disyari’atkan. Adapun jika dia melaksanakan shalat sunnah tersebut kadang-kadang secara berjama’ah, maka tidaklah mengapa karena terdapat petunjuk dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengenai hal ini seperti  shalat malam yang beliau lakukan bersama Ibnu ‘Abbas<a href="#_ftn9">[9]</a>. Sebagaimana pula beliau pernah melakukan shalat bersama Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu</em> dan anak yatim di rumah Ummu Sulaim<a href="#_ftn10">[10]</a>, dan masih ada contoh lain semisal itu.”<a href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p>Namun kalau shalat sunnah secara berjama’ah dilakukan dalam rangka pengajaran, maka ini diperbolehkan karena ada maslahah. Ibnu Hajar ketika menjelaskan shalat Anas bersama anak yatim di belakang Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> secara berjama’ah, beliau mengatakan,</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">??????? ?????? ???????? ????????? ??? ?????? ??????????? ??????????? ?????? ??? ?????? ??????? ????????? ?????????????? ? ???? ???????? ???? ?????? ???? ???? ????? ??????? ????? ???????? ??? ????? ?????? ?????? ???????? ????????? .</p>
<p>“Shalat sunnah yang utama adalah dilakukan secara munfarid (sendirian) jika memang di sana tidak ada maslahat seperti untuk mengajarkan orang lain. Namun dapat dikatakan bahwa jika shalat sunnah secara berjama’ah dilakukan dalam rangka pengajaran, maka ini dinilai lebih utama, lebih-lebih lagi pada diri Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>(yang bertugas untuk memberi contoh pada umatnya, -pen).”</p>
<p><strong>Kesimpulan:</strong></p>
<ol>
<li>Shalat sunnah yang utama adalah shalat sunnah yang dilakukan secara <em>munfarid</em> (sendiri) dan lebih utama lagi dilakukan di rumah, sebagaimana sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</li>
</ol>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">????????? ???????? ???????? ??? ??????????? ? ??????? ???????? ?????????? ??????? ????????? ??? ???????? ?????? ??????????????</p>
<p>“<em>Hendaklah kalian manusia melaksanakan shalat (sunnah) di rumah kalian karena sebaik-baik shalat adalah shalat seseorang di rumahnya kecuali shalat wajib.</em>” (HR. Bukhari no. 731)</p>
<ol>
<li>Terdapat shalat sunnah tertentu yang disyari’atkan secara berjama’ah seperti shalat tarawih.</li>
<li>Shalat sunnah selain itu –seperti shalat Dhuha dan shalat tahajud- lebih utama dilakukan secara <em>munfarid</em> dan boleh dilakukan secara berjama’ah namun tidak rutin atau tidak terus menerus, akan tetapi kadang-kadang.</li>
<li>Jika memang ada maslahat untuk melakukan shalat sunnah secara berjama’ah seperti untuk mengajarkan orang lain, maka lebih utama dilakukan secara berjama’ah.</li>
</ol>
<p><em>Wallahu a’lam bish showab.</em></p>
<p>Penulis: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.Com</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Fathul Baari, 4/177, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Idem</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Majma’ Az Zawa-id, 2/278, Darul Fikr, Beirut, cetakan 1412 H</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Lihat Ta’liq Syaikh Syu’aib Al Arnauth terhadap Musnad Imam Ahmad, Muassasah Qurthubah, Kairo</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Sebagaimana riwayat yang dibawakan oleh penanya.</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Al Maqsu’ah Al Fiqhiyyah, Bab Shalat Jama’ah, point 8, 2/9677, Multaqo Ahlul Hadits, Asy Syamilah.</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Fathul Baari, 3/421</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Syarh Muslim, 3/105, Abu Zakaria Yahya bin Syarf An Nawawi, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Hadits muttafaq ‘alaih.</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Hadits muttafaq ‘alaih. Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Ash Sholah, Bab Ash Sholah ‘alal Hashir (380) dan Muslim dalam Al Masaajid, Bab Bolehnya shalat sunnah secara berjama’ah 266 (658)</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Ibnu ‘Utsaimin, 14/231, Asy Syamilah</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-shalat-dhuha-secara-berjamaah/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-shalat-dhuha-secara-berjamaah/&amp;title=Hukum+Shalat+Dhuha+Secara+Berjama%27ah" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-shalat-dhuha-secara-berjamaah/&amp;title=Hukum+Shalat+Dhuha+Secara+Berjama%27ah" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-shalat-dhuha-secara-berjamaah/&amp;t=Hukum+Shalat+Dhuha+Secara+Berjama%27ah" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-shalat-dhuha-secara-berjamaah/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Hukum+Shalat+Dhuha+Secara+Berjama%27ah+-+http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-shalat-dhuha-secara-berjamaah/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-shalat-dhuha-secara-berjamaah/&amp;title=Hukum+Shalat+Dhuha+Secara+Berjama%27ah" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-shalat-dhuha-secara-berjamaah/&amp;title=Hukum+Shalat+Dhuha+Secara+Berjama%27ah" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Hukum+Shalat+Dhuha+Secara+Berjama%27ah+-+http://b2l.me/n9kmu&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Hukum+Shalat+Dhuha+Secara+Berjama%27ah&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-shalat-dhuha-secara-berjamaah/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Apakah%20hadits%20berikut%20dapat%20menjadi%20dalil%20bolehnya%20shalat%20dhuha%20berjamaah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-shalat-dhuha-secara-berjamaah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Membaca Al Qur&#8217;an Tanpa Suara?</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-membaca-al-quran-tanpa-suara/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-membaca-al-quran-tanpa-suara/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Sep 2009 09:20:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Al Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[TanyaUstadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1206</guid>
		<description><![CDATA[Pak Ustadz, apa hukum dan dalihnya membaca qur'an tanpa suara, sebab takut membangunkan istri yang sedang tidur dimalam hari?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa hukum dan dalihnya membaca qur’an tanpa suara, sebab takut membangunkan istri yang sedang tidur dimalam hari?</p>
<p><em>Tri Gangga<br />
Alamat: Jakarta<br />
Email: trigaxxxx@gmail.com</em><span id="more-1206"></span></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Jika yang dimaksud yaitu membaca Al Qur’an tanpa suara dan tanpa gerak bibir, yang demikian ini tidak dinamakan membaca Al Qur’an. Pertanyaan sejenis pernah ditanyakan kepada Syaikh Ibnu Baz <em>Rahimahullah</em>, beliau menjawab:</p>
<p>“Berdzikir itu harus menggerakan lisan dan harus bersuara, minimal didengar oleh diri sendiri. Orang yang membaca di dalam hati (dalam bahasa arab) tidak dikatakan <em>Qaari</em>. Orang yang membaca tidak dapat dikatakan sedang berdzikir atau sedang membaca Al Quran kecuali dengan lisan. Minimal didengar dirinya sendiri. Kecuali jika ia bisu, maka ini ditoleransi” (Kaset <em>Nurun ‘alad Darb</em>, <a href="http://www.ibnbaz.org.sa/mat/10456">http://www.ibnbaz.org.sa/mat/10456</a>)</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin <em>Rahimahullah</em> juga pernah ditanya hal serupa, beliau menjawab:</p>
<p>“<em>Qira’ah</em> itu harus dengan lisan. Jika seseorang membaca bacaan-bacaan shalat dengan hati saja, ini tidak dibolehkan. Demikian juga bacaan-bacaan yang lain, tidak boleh hanya dengan hati. Namun harus menggerakan lisan dan bibirnya, barulah disebut sebagai <em>aqwal </em>(perkataan). Dan tidak dapat dikatakan<em> aqwal,</em> jika tanpa lisan dan bergeraknya bibir” (<em>Majmu’ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin</em>, 13/156)</p>
<p>Demikian penjelasan para ulama. Ringkasnya, orang yang <a href="http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-membaca-al-quran-tanpa-suara/">membaca Al Qur’an</a> dalam hati tidak dikatakan sedang membaca Al Qur’an dan tidak diganjar pahala membaca Al Qur’an. Namun praktek ini disebut sebagai<em> tadabbur</em>atau <em>tafakkur</em> Al Qur’an. Yaitu mendalami dan merenungkan isi Al Qur’an. <em>Tadabbur</em> atau<em> tafakkur</em> Al Qur’an ini termasuk dzikir hati. Sebagaimana dijelaskan oleh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin: “Dzikir bisa dengan hati, dengan lisan dan dengan anggota badan….. Contoh dizikir hati yaitu merenungkan ayat-ayat Al Qur’an, rasa cinta kepada Allah, mengagungkan Allah, berserah diri kepada Allah, rasa takut kepada Allah, tawakkal kepada Allah, dan amalan hati yang lainnya” (<em>Tafsir Al Baqarah</em>, 2/167-168)</p>
<p>Solusinya, hendaknya anda membaca Al Qur’an dengan <em>sirr</em> (lirih). Sebagaimana sabda Rasulullah<em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>:</p>
<p>الجاهر بالقرآن كالجاهر بالصدقة، والمسر بالقرآن كالمسر بالصدقة</p>
<p>“<em>Membaca Al Qur’an dengan suara keras, seperti bersedekah tanpa disembunyikan. Membaca Al Qur’an dengan lirih, seperti bersedekah dengan sembunyi-sembunyi</em>” (HR. Tirmidzi no.2919, Abu Daud no.1333, Al Baihaqi, 3/13. Di-<em>shahih</em>-kan oleh Al Albani di <em>Shahih Sunan At Tirmidzi</em>)</p>
<p>Memang terdapat perbedaan pendapat diantara para ulama tentang mana yang lebih utama, membaca secara<em>sirr</em> ataukah secara <em>jahr</em>? Namun pada kondisi anda, jika khawatir membaca Al Qur’an dapat mengganggu orang lain, membaca secara <em>sirr</em> lebih utama. Berdasarkan hadits lain:</p>
<p>الا إن كلكم مناج ربه فلا يؤذين بعضكم بعضا ولا يرفع بعضكم على بعض في القراءة أو قال في الصلاة</p>
<p>“<em>Ketahuilah, kalian semua sedang bermunajat kepada Allah, maka janganlah saling mengganggu satu sama lain. Janganlah kalian mengeraskan suara dalam membaca Al Qur’an,’ atau beliau berkata, ‘Dalam shalat’,</em>” (HR. Abu Daud no.1332, Ahmad, 430, di-<em>shahih</em>-kan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani di<em> Nata-ijul Afkar</em>, 2/16).</p>
<p><em>Wallahu’alam</em>.</p>
<p>—</p>
<p>Penulis: Yulian Purnama<br />
Artikel <a href="http://ustadzkholid.com/">UstadzKholid.Com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-membaca-al-quran-tanpa-suara/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-membaca-al-quran-tanpa-suara/&amp;title=Bolehkah+Membaca+Al+Qur%27an+Tanpa+Suara%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-membaca-al-quran-tanpa-suara/&amp;title=Bolehkah+Membaca+Al+Qur%27an+Tanpa+Suara%3F" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-membaca-al-quran-tanpa-suara/&amp;t=Bolehkah+Membaca+Al+Qur%27an+Tanpa+Suara%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-membaca-al-quran-tanpa-suara/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Bolehkah+Membaca+Al+Qur%27an+Tanpa+Suara%3F+-+http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-membaca-al-quran-tanpa-suara/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-membaca-al-quran-tanpa-suara/&amp;title=Bolehkah+Membaca+Al+Qur%27an+Tanpa+Suara%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-membaca-al-quran-tanpa-suara/&amp;title=Bolehkah+Membaca+Al+Qur%27an+Tanpa+Suara%3F" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Bolehkah+Membaca+Al+Qur%27an+Tanpa+Suara%3F+-+File: /data/app/webapp/functions.php<br />Line: 7<br />Message: Too many connections&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Bolehkah+Membaca+Al+Qur%27an+Tanpa+Suara%3F&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-membaca-al-quran-tanpa-suara/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Pak%20Ustadz%2C%20apa%20hukum%20dan%20dalihnya%20membaca%20qur%27an%20tanpa%20suara%2C%20sebab%20takut%20membangunkan%20istri%20yang%20sedang%20tidur%20dimalam%20hari%3F" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-membaca-al-quran-tanpa-suara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Lelaki Shalat Memakai Celana Panjang</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-lelaki-shalat-memakai-celana-panjang/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-lelaki-shalat-memakai-celana-panjang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 07:26:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Celana]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Pantalon]]></category>
		<category><![CDATA[TanyaUstadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1173</guid>
		<description><![CDATA[Ustadz, apa hukumnya shalat memakai celana panjang tanpa memakai jubah/gamis/sarung? Apakah shalatnya tetap sah? Adakah batasan hukum celana yang sehari-hari kita pakai selain membuang isbal? Jazakumullahu khairan katsira.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa hukumnya shalat memakai celana panjang tanpa memakai jubah/gamis/sarung? Apakah shalatnya tetap sah? Adakah batasan hukum celana yang sehari-hari kita pakai selain membuang isbal? <em>Jazakumullahu khairan katsira</em>.</p>
<p><em>Abu Dzar<br />
Alamat: Tangerang<br />
Email: ibnustaxxxx@gmail.com</em><span id="more-1173"></span></p>
<p><strong>Al Akh Yulian Purnama menjawab:</strong><br />
Pada asalnya hukum memakai pakaian apapun dibolehkan dalam Islam, kecuali pakaian-pakaian tertentu yang termasuk dalam dalil-dalil yang menunjukkan pelarangan. Selain itu Islam tidak menetapkan model pakaian tertentu untuk shalat. Selama pakaian tersebut memenuhi syarat maka boleh dipakai untuk shalat, apapun modelnya.</p>
<p>Dengan demikian, yang perlu kita pegang adalah bahwa hukum asal memakai celana panjang adalah mubah. Namun para ulama memang membahas keabsahan shalat orang yang saat shalat dengan memakai celana panjang pada 2 keadaan berikut:</p>
<p><strong>1. Celana panjang yang dipakai masih menampakkan warna kulit dan menampakkan bentuk tubuh (ketat)</strong></p>
<p>Pada kondisi ini para ulama <em>ijma </em>(bersepakat) bahwa hukumnya haram dan shalatnya tidak sah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam An Nawawi, ulama besar mahdzab Syafi’i, beliau berkata:</p>
<p>لو ستر بعض عورته بشيء من زجاج بحيث ترى البشرة منه لم تصح صلاته بلا خلاف</p>
<p>“<em>Jika sebagian aurat sudah tertutupi dengan sesuatu yang berbahan kaca, sehingga masih terlihat warna kulitnya, maka tidak sah shalatnya tanpa ada perbedaan pendapat di antara ulama</em>” (<em>Al Majmu’</em>, 3/173)</p>
<p>Bahkan jika warna kulit hanya terlihat dengan samar, tetap tidak sah shalatnya. Dijelaskan oleh Ibnu Qudamah, ulama besar mahdzab Hambali, beliau berkata:</p>
<p>والواجب الستر بما يستر لون البشرة فإن كان خفيفا يبين لون الجلد من ورائه فيعلم بياضه أو حمرته لم تجز الصلاة فيه لأن الستر لا يحصل بذلك</p>
<p>“<em>Menutup aurat sampai warna kulit tertutupi secara sempurna, hukumnya wajib. Jika warna kulit masih tampak oleh orang dibelakangnya namun samar, yaitu masih bisa diketahui warna kulitnya putih atau merah, maka tidak sah shalatnya. Karena pada kondisi demikian belum dikatakan telah menutupi aurat</em>” (<em>Al Mughni</em>, 1/651)</p>
<p><strong>2. Celana panjang yang dipakai telah menutupi warna kulit secara sempurna namun masih menampakkan bentuk tubuh (ketat)</strong></p>
<p><strong> </strong>Pada kondisi ini <strong>terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama</strong>. Sebagian ulama mengatakan shalatnya tidak sah. Diantaranya Ibnu Hajar Al Asqalani, ulama besar mahdzab Syafi’i, beliau berkata:</p>
<p>عن أشهب، فيمن اقتصر على الصلاة في السراويل مع القدرة: يعيد في الوقت، إلا إن كان صفيقاً</p>
<p>“<em>Aku mendengar ini dari Asyhab, bahwa orang yang mencukupkan diri shalat dengan memakai celana panjang padahal ia sanggup memakai pakaian yang tidak ketat, ia wajib mengulang shalatnya pada saat itu juga, kecuali jika ia tidak tahu malu” </em>(<em>Fathul Bari</em>, 1/476)</p>
<p>Tidak sahnya shalat orang yang memakai pakaian ketat juga merupakan pendapat Syaikh Ibnu Baz, mantan ketua Komite Fatwa Saudi Arabia, ketika ditanya tentang hal ini beliau menjawab: “Jika celana pantalon ini menutupi aurat dari pusar sampai seluruh paha laki-laki, longgar dan tidak ketat, maka sah shalatnya. Namun lebih baik lagi jika di atasnya dipakai gamis yang dapat menutupi hingga seluruh pahanya, atau lebih baik lagi sampai setengah betis, karena yang demikian lebih sempurna dalam menutupi aurat. Shalat memakai sarung lebih baik daripada memakai celana panjang jika tidak ditambah gamis. Karena sarung lebih sempurna dalam menutupi aurat” (<em>Majmu’ Fatawa Ibnu Baz</em> , 1/68-69, <a href="http://www.ibnbaz.org.sa/mat/2480">http://www.ibnbaz.org.sa/mat/2480 </a>)</p>
<p>Dalam penjelasan Syaikh Ibnu Baz ini juga ditegaskan bolehnya shalat dengan memakai <a href="http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-lelaki-shalat-memakai-celana-panjang/">celana panjang</a> tanpa ditambah gamis atau sarung, asalkan tidak ketat.</p>
<p>Namun sebagian ulama berpendapat <strong>shalatnya tetap sah jika ia telah menutupi warna kulit dengan sempurna walaupun bentuk tubuh masih terlihat (ketat)</strong>. Sebagaimana pendapat Imam An Nawawi, bahkan beliau membantah ulama yang berpendapat shalatnya tidak sah:</p>
<p>فلو ستر اللون ووصف حجم البشرة كالركبة والألية ونحوهما صحت الصلاة فيه لوجود الستر ، وحكى الدارمي وصاحب البيان وجها أنه لا يصح إذا وصف الحجم ، وهو غلط ظاهر</p>
<p>“<em>Jika warna kulit telah tertutupi secara sempurna dan bentuk tubuh semisal paha dan daging betis atau semacamnya masih nampak, shalatnya sah karena aurat telah tertutupi. Memang Ad Darimi dan penulis kitab Al Bayan menyampaikan argumen yang menyatakan tidak sahnya shalat memakai pakaian yang masih menampakkan bentuk tubuh. Namun pendapat ini jelas-jelas sebuah kesalahan</em>” (<em>Al Majmu’</em>, 3/173)</p>
<p>Demikian juga pendapat Ibnu Qudamah, beliau menyatakan sahnya shalat memakai pakaian yang ketat namun beliau tidak menyukai orang yang melakukan hal tersebut:</p>
<p>وأن كان يستر لونها ويصف الخلقة جازت الصلاة لأن هذا لا يمكن التحرز منه وإن كان الساتر صفيقا</p>
<p>“<em>Jika warna kulit sudah tertutupi dan bentuk tubuh masih nampak, shalatnya sah. Karena hal tersebut tidak mungkin dihindari (secara sempurna). Namun orang yang shalat memakai pakaian ketat adalah orang yang tidak tahu malu</em>” (<em>Al Mughni</em>, 1/651)</p>
<p>Sebagian ulama juga berpendapat shalatnya sah namun pelakunya berdosa dikarenakan memakai baju ketat. Sebagaimana pendapat Syaikh Shalih Fauzan Al Fauzan <em>hafizhahullah</em>, ulama besar di Saudi Arabia saat ini, beliau berkata: “Baju ketat yang masih menampakkan bentuk tubuh wanita, baju yang tipis dan terpotong pada beberapa bagian, tidak boleh memakainya. Baju ketat tidak boleh digunakan oleh laki-laki maupun wanita, terutama bagi wanita, karena fitnah wanita lebih dahsyat. Adapun keabsahan shalatnya tergantung bagaimana pakaiannya. Jika pakaian ketat ini dipakai seseorang untuk shalat, dan telah cukup untuk menutupi auratnya, maka shalatnya sah karena aurat telah tertutup. Namun ia berdosa karena memakai pakaian ketat. Sebab pertama, karena dengan pakaian ketatnya, ia telah meninggalkan hal yang disyariatkan dalam shalat, ini terlarang. Sebab kedua, memakai baju ketat dapat mengundang fitnah karena membuat orang lain memalingkan pandangan kepadanya, apalagi wanita.” (<em>Muntaqa Fatawa Shalih Fauzan</em>, 3/308-309)</p>
<p>Dari beberapa penjelasan diatas, dapat kita simpulkan bahwa letak perbedaan pendapat di antara para ulama adalah dalam memutuskan apakah memakai pakaian ketat dalam shalat itu sudah termasuk menutup aurat atau tidak. Dengan demikian ini adalah perkara <em>khilafiyyah ijtihadiyyah</em>, yang masing-masing pendapat dari ulama tersebut harus dihormati.</p>
<p>Namun yang paling baik adalah menghindari hal yang diperselisihkan dan mengamalkan hal yang sudah jelas bolehnya. Sehingga memakai pakaian yang longgar dan lebar hingga tidak menampakkan warna kulit dan tidak menampakkan bentuk tubuh adalah lebih utama.</p>
<p>Kemudian perlu digarisbawahi, seluruh penjelasan di atas berlaku bagi setiap orang yang memiliki kemampuan dalam pakaian, ia berkecukupan dalam berpakaian dan mampu mengusahakan untuk memiliki pakaian yang longgar dan tidak ketat. Adapun orang yang tidak berkemampuan untuk berpakaian yang longgar, misalnya orang miskin yang hanya memiliki sebuah pakaian saja, atau orang yang berada dalam kondisi darurat sehingga tidak mendapatkan pakaian yang longgar, maka shalatnya sah dan ia tidak berdosa. Berdasarkan hadits dari Jabir bin Abdillah yang menceritakan dirinya ketika hanya memiliki sehelai kain untuk shalat, maka Rasulullah<em>Shallallahu’alaihi Wasallam </em>bersabda:</p>
<p>إِنْ كَانَ الثَّوْبُ وَاسِعاً فَالْتَحِفْ بِهِ وَإِنْ كَانَ ضَيِّقاً فَأتَّزِرْ بِهِ</p>
<p>“<em>Jika kainnya lebar maka gunakanlah seperti selimut, jika kainnya sempit maka gunakanlah sebagai sarung</em>” (HR. Bukhari no.361)</p>
<p>Allah Ta’ala juga berfirman:</p>
<p>فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ</p>
<p>“<em>Bertakwalah kalian semampu kalian</em>” (QS. At-Taghabun 16 )</p>
<p>Demikian penjelasan kami. <em>Wallahu’alam</em>.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Yulian Purnama<br />
Murajaah: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.<br />
Artikel <a href="http://ustadzkholid.com/">UstadzKholid.Com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-lelaki-shalat-memakai-celana-panjang/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-lelaki-shalat-memakai-celana-panjang/&amp;title=Hukum+Lelaki+Shalat+Memakai+Celana+Panjang" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-lelaki-shalat-memakai-celana-panjang/&amp;title=Hukum+Lelaki+Shalat+Memakai+Celana+Panjang" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-lelaki-shalat-memakai-celana-panjang/&amp;t=Hukum+Lelaki+Shalat+Memakai+Celana+Panjang" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-lelaki-shalat-memakai-celana-panjang/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Hukum+Lelaki+Shalat+Memakai+Celana+Panjang+-+http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-lelaki-shalat-memakai-celana-panjang/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-lelaki-shalat-memakai-celana-panjang/&amp;title=Hukum+Lelaki+Shalat+Memakai+Celana+Panjang" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-lelaki-shalat-memakai-celana-panjang/&amp;title=Hukum+Lelaki+Shalat+Memakai+Celana+Panjang" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Hukum+Lelaki+Shalat+Memakai+Celana+Panjang+-+http://b2l.me/n8g79&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Hukum+Lelaki+Shalat+Memakai+Celana+Panjang&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-lelaki-shalat-memakai-celana-panjang/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Ustadz%2C%20apa%20hukumnya%20shalat%20memakai%20celana%20panjang%20tanpa%20memakai%20jubah%2Fgamis%2Fsarung%3F%20Apakah%20shalatnya%20tetap%20sah%3F%20Adakah%20batasan%20hukum%20celana%20yang%20sehari-hari%20kita%20pakai%20selain%20membuang%20isbal%3F%20Jazakumullahu%20khairan%20katsira." rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-lelaki-shalat-memakai-celana-panjang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
