<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>UstadzKholid.com &#187; TanyaUstadz</title>
	<atom:link href="http://ustadzkholid.com/category/tanya-ustadz/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzkholid.com</link>
	<description>Meniti Sunnah Menggapai Ukhuwah</description>
	<lastBuildDate>Fri, 06 Jan 2012 02:41:56 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Bagaimana Hukum Uang Muka Dalam Jual Beli?</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-uang-muka-dalam-jual-beli/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-uang-muka-dalam-jual-beli/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Aug 2011 04:57:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[TanyaUstadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=2027</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Ustadz, 
Sudah umum terjadi, bahwasanya pada transaksi jual beli ada uang muka atau DP sebagai tanda jadi si pembeli akan membeli barang dari penjual. Apakah praktik uang muka itu dibenarkan oleh syariat?
Jazakalloohu khoiron.
Abu Mirza (aslijreb***@gmail.com)

Jawab: 
Setiap orang tidak mungkin bisa lepas dari orang lain yang menutupi kebutuhannya. Interaksi antar individu manusia adalah perkara penting [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu’alaikum Ustadz,</em><em> </em></p>
<p>Sudah umum terjadi, bahwasanya pada transaksi jual beli ada uang muka atau DP sebagai tanda jadi si pembeli akan membeli barang dari penjual. Apakah praktik uang muka itu dibenarkan oleh syariat?<br />
<em>Jazakalloohu khoiron.</em></p>
<p><em>Abu Mirza (aslijreb***@gmail.com)</em><br />
<span id="more-2027"></span><br />
<strong>Jawab: </strong></p>
<p>Setiap orang tidak mungkin bisa lepas dari orang lain yang menutupi kebutuhannya. Interaksi antar individu manusia adalah perkara penting yang mendapatkan perhatian besar dalam Islam. Khususnya yang berhubungan dengan pertukaran harta. Oleh karena itu Allah berfirman:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا</strong></p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.</em><em>” </em> (QS. An Nisaa’ 4: 29)<br />
Dalam ayat yang mulia ini Allah menjelaskan pertukaran harta dapat dilakukan dengan perniagaan yang berasaskan saling suka diantara para transaktornya.</p>
<p>Dewasa ini banyak sekali berkembang sistem perniagaan yang perlu dijelaskan hukum syariatnya, apalagi dimasa kaum muslimin sudah menjauh dari agamanya, ditambah lagi ketidakmengertian mereka terhadap syariat Islam. Salah satu sistem perniagaan tersebut adalah jual beli dengan panjar atau uang muka atau DP.</p>
<p><strong>Jual beli ini diperbolehkan sebagaimana </strong>pendapat madzhab Hambaliyyah dan diriwayatkan juga kebolehan jual beli ini dari Umar bin Al-Khathab, Ibnu Umar, Sa’id bin Al Musayyib dan Muhammad bin Sirin.[16]</p>
<p><strong>Dasar argumentasi mereka adalah:</strong></p>
<p>a. Atsar yang berbunyi:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>عَنْ نَافِعِ بْنِ الحارث, أَنَّهُ اشْتَرَى لِعُمَرَ دَارَ  السِّجْنِ مِنْ صَفْوَانَ بْنِ أُمَيَّةَ, فَإِنْ رَضِيَ عُمَرُ , وَ إِلاَّ فَلَهُ كَذَا وَ كَذَا</strong></p>
<p><em>Diriwayatkan dari Nafi bin Al-Harits, ia pernah membelikan sebuah bangunan penjara untuk Umar dari Shafwan bin Umayyah, (dengan ketentuan) apabila Umar suka. Bila tidak, maka Shafwan berhak mendapatkan uang sekian dan sekian. </em></p>
<p>Atsar ini dikeluarkan Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya (5/392) dan Al Bukhari secara mu’allaq (lihat Fathul Bari 5/91) dan Al Atsram meriwayatkannya dalam kitab Sunnahnya dari jalan periwayatan Ibnu ‘Uyainah dari Amru bin Dinaar dari Abdurrahman bin Farukh dengan lafadz,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>” أن نافع بن عبد الحارث اشترى داراً للسجن من صفوان بن أمية بأربعة آلاف درهم، فإن رضي عمر فالبيع له، وإن عمر لم يرض فأربعمائة لصفوان ” .</strong></p>
<p>Demikian juga Abdurrazaaq dalam Mushonnafnya (5/148-149), Al Baihaqi dalam sunannya 6/34, Al Azraaqi dalam Akhbaar Makkah 2/165 dan Al Fakihi dalam Akhbaar Makkah 3/254 seluruhnya dari jalan Sufyan bin ‘Uyainah.</p>
<p>Riwayat ini dapat dijadikan hujjah, sebagaimana dilakukan imam Ahmad bin Hambal.<br />
Al-Atsram berkata: Saya bertanya kepada Ahmad: “Apakah Anda berpendapat demikian?” Beliau menjawab: “Apa yang harus kukatakan? Ini Umar rodhiyallohu ‘anhu (telah berpendapat demikian).[18]<br />
Demikian juga Ibnul Qayyim menukilkannya dari beliau pada Bada’i Al Fawa’id 4/84.</p>
<p>Ditambah kisah ini telah masyhur dikalangan para ulama dan penulis sejarah Makkah seperti Al Azraaqi, Al Fakihi dan Umar bin Syubah hingga diriwayatkan penjara ini masih ada sampai zaman Al Fakihie. Wallahu A’lam.</p>
<p>c. Panjar ini adalah kompensasi dari penjual yang menunggu dan menyimpan barang transaksi selama beberapa waktu. Ia tentu saja akan kehilangan sebagian kesempatan berjualan. Tidak sah ucapan orang yang mengatakan bahwa panjar itu telah dijadikan syarat bagi penjual tanpa ada imbalannya.</p>
<p>d. Tidak sahnya qiyas atau analogi jual beli ini dengan Al Khiyar Al Majhul (hak pilih terhadap hal yang tidak diketahui), karena syarat dibolehkannya panjar ini adalah dibatasinya waktu menunggu. Dengan dibatasinya waktu pembayaran, maka batallah analogi tersebut, dan hilanglah sisi yang dilarang dari jual beli tersebut.</p>
<p>e. Jual beli ini tidak dapat dikatakan jual beli mengandung perjudian sebab tidak terkandung spekulasi antara untung dan buntung. Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Syarah Bulugh Al Maram hal. 100 menyatakan: ketidak jelasan dalam jual beli Al Urbun tidak sama dengan ketidak jelasan dalam perjudian, karena ketidak jelasan dalam perjudian menjadikan dua transaktor tersebut berada antara untung dan buntung, adapun ini tidak, karena penjual tidak merugi bahkan untung dan paling tidak barangnya dapat kembali. Sudah dimaklumi seorang penjual memiliki syarat hak pilih untuk dirinya selama satu hari atau dua hari, dan itu diperbolehkan. Dan jual beli dengan uang muka ini menyerupai syarat hak pilih tersebut. Hanya saja penjual diberi sebagian dari pembayaran apabila barang dikembalikan, karena nilainya telah berkurang bila orang mengetahui hal itu walaupun hal ini didahulukan namun ada maslahat disana. Juga ada maslahat lain bagi penjual karena pembeli bila telah menyerahkan uang muka akan termotivasi untuk menyempurnakan transaksi jual belinya. Demikian juga ada maslahat bagi pembeli, karena ia masih dapat memilih mengembalikan barang tersebut bila menyerahkan uang muka. Padahal bila tidak tentu diharuskan terjadinya jual beli tersebut.</p>
<p>Namun perlu diingat bila penjual mengembalikan uang muka (panjar) tersebut kepada pembeli ketika gagal menyempurnakan jual belinya, itu lebih baik dan lebih besar pahalanya disisi Allah sebagaimana disabdakan Rasululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>مَنْ أَقَالَ مُسْلِمًا أَقَالَهُ اللَّهُ عَثْرَتَهُ</strong></p>
<p><em>Siapa yang berbuat iqaalah dalam jual belinya kepada seorang muslim maka Allah akan bebaskan ia dari kesalahan dan dosanya.</em><br />
Iqalah dalam jual beli dapat digambarkan dengan seorang membeli sesuatu dari seorang penjual, kemudian pembeli ini menyesal membelinya, ada kala karena sangat rugi atau sudah tidak butuh lagi atau tidak mampu melunasinya, lalu pembeli itu mengembalikan barangnya kepada penjual dan penjualnya menerimanya kembali (tanpa mengambil sesuatu dari pembeli).</p>
<p>Wallahu a’lam</p>
<p><strong>Ust. Kholid Syamhudi, Lc.</strong></p>
<p><strong>Artikel <a href="../">ustadzkholid.com</a></strong></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-uang-muka-dalam-jual-beli/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-uang-muka-dalam-jual-beli/&amp;title=Bagaimana+Hukum+Uang+Muka+Dalam+Jual+Beli%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-uang-muka-dalam-jual-beli/&amp;title=Bagaimana+Hukum+Uang+Muka+Dalam+Jual+Beli%3F" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-uang-muka-dalam-jual-beli/&amp;t=Bagaimana+Hukum+Uang+Muka+Dalam+Jual+Beli%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-uang-muka-dalam-jual-beli/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Bagaimana+Hukum+Uang+Muka+Dalam+Jual+Beli%3F+-+http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-uang-muka-dalam-jual-beli/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-uang-muka-dalam-jual-beli/&amp;title=Bagaimana+Hukum+Uang+Muka+Dalam+Jual+Beli%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-uang-muka-dalam-jual-beli/&amp;title=Bagaimana+Hukum+Uang+Muka+Dalam+Jual+Beli%3F" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Bagaimana+Hukum+Uang+Muka+Dalam+Jual+Beli%3F+-+http://bit.ly/qHwyjF&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Bagaimana+Hukum+Uang+Muka+Dalam+Jual+Beli%3F&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-uang-muka-dalam-jual-beli/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Pertanyaan%3A%0D%0A%0D%0AAssalamu%E2%80%99alaikum%20Ustadz%2C%20%0D%0A%0D%0ASudah%20umum%20terjadi%2C%20bahwasanya%20pada%20transaksi%20jual%20beli%20ada%20uang%20muka%20atau%20DP%20sebagai%20tanda%20jadi%20si%20pembeli%20akan%20membeli%20barang%20dari%20penjual.%20Apakah%20praktik%20uang%20muka%20itu%20dibenarkan%20oleh%20syariat%3F%0D%0AJazakalloohu%20khoiron.%0D%0A%0D%0AAbu%20Mirza%20%28aslijreb%2A%2A%2A%40gmail.com" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-uang-muka-dalam-jual-beli/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bapak Angkat Mahramkah?</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/buka-muhrim/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/buka-muhrim/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jul 2011 07:36:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[TanyaUstadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=2016</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan :
Assalamu&#8217;alaikum, ustadz ana punya bapak angkat, bapak angkat ana itu adiknya bapak kandung ana tapi lain bapak. Apakah bapak angkat ana itu mahram, katanya ana nanti kebagian warisan,berhakkah ana? Kalau iya berapa bagian punya ana, ana takut kalau mereka salah karena mereka masih awam. Jazakallakhair
&#8220;ummu_XXXXXX@XXX.com&#8221; (ummu_ikhwan@ovi.com)

Jawaban:
Wa’alaikumussalam.
Memang masih banyak kesalahpahaman dalam permasalahan kedudukan anak yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan :</strong></p>
<p><em>Assalamu&#8217;alaikum</em>, ustadz ana punya bapak angkat, bapak angkat ana itu adiknya bapak kandung ana tapi lain bapak. Apakah bapak angkat ana itu mahram, katanya ana nanti kebagian warisan,berhakkah ana? Kalau iya berapa bagian punya ana, ana takut kalau mereka salah karena mereka masih awam. <em>Jazakallakhair</em></p>
<p><em>&#8220;ummu_XXXXXX@XXX.com&#8221; (ummu_ikhwan@ovi.com)</em><br />
<span id="more-2016"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa’alaikumussalam.</em></p>
<p>Memang masih banyak kesalahpahaman dalam permasalahan kedudukan anak yang diasuh dan diadopsi oleh seseorang.</p>
<p>Permasalahan anak angkat atau bapak angkat merupakan satu masalah besar yang banyak tidak diketahui kaum muslimin dewasa ini. Hasilnya banyak problem dan kezaliman terjadi dengan sebab hal ini. Yang berhak mewarisi terhalang haknya dan yang tidak berhak mewarisi malah mengambil bagian warisan terbanyak. Juga menyangkut perwalian nikah dan kemahroman. Berapa banyak peristiwa dan kejadian buruk yang diakibatkan karena merasa dekat dan telah berjasa besar dalam memeliharanya. Pergaulan layaknya anak kandung dengan orang tua kandungnya pun jadi hal yang biasa padahal Islam tidak mengakui adanya bapak angkat dalam pengertian menggantikan kedudukan orang tua aslinya dalam nasab dan lain-lainnya.</p>
<p>Disini Hukum Islam tidak mengenal lembaga anak angkat atau dikenal dengan adopsi dalam arti terlepasnya anak angkat dari kekerabatan orang tua asalnya dan beralih ke dalam kekerabatan orang tua angkatnya. Adopsi seperti ini termasuk budaya jahiliyah yang dihapus Allah dengan menurunkan surat Al-Ahzab ayat 4 dan 5 yang artinya,</p>
<p>“<em>Allah tidak menjadikan anak-anak angkatmu itu sebagai anak-anakmu sendiri, yang demikian itu adalah omongan-omonganmu dengan mulut-mulutmu, sedang Allah berkata dengan benar dan Dia-lah yang menunjukkan ke jalan yang lurus. Panggillah mereka (anak-anak) itu dengan bapak-bapak mereka, sebab dia itu lebih lurus di sisi Allah. Jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka mereka itu adalah saudaramu seagama dan kawan-kawanmu.</em><em>&#8220;</em></p>
<p>Dengan turunnya ayat tersebut, maka Islam telah menghapus seluruh pengaruh yang ditimbulkan oleh aturan jahiliyah, misalnya tentang warisan dan dilarangnya kawin dengan bekas isteri anak angkat. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Anfal ayat 75 yang artinya,</p>
<p><em>“Keluarga sebagian mereka lebih berhak terhadap sebagian menurut Kitabullah.</em><em>”</em></p>
<p>Dan surat An-Nisa’ ayat 24 yang artinya,</p>
<p><em>“Dan bekas isteri-isteri anakmu yang berasal dari tulang rusukmu sendiri.</em><em>”</em></p>
<p>Secara panjang lebar Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menjelaskan tentang halalnya mengawini bekas isteri anak angkat, yaitu ketika Rasulullah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> ragu dan takut bertemu dengan orang banyak ketika akan mengawini Zainab binti Jahsy, karena Zainab adalah mantan isteri Zaid bin Haritsah, atau dikenal dengan Zaid bin Muhammad. Hal ini sebagaimana difirmakan-Nya dalam surat Al-Ahzab ayat 37 – 40.</p>
<p>Namun dalam kasus ini ternyata bapak angkat yang mengasuh anda tersebut masih tiri bapak seibu yang berarti dalam istilah kita adalah saudara tiri bapak.</p>
<p>Dalam Islam saudara seibu dari bapak juga masuk dalam kategori paman (<em>al-‘am</em>) sehingga masih menjadi mahram karena masuk dalam firman Allah,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالاَتُكُمْ وَبَنَاتُ اْلأَخِ وَبَنَاتُ اْلأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ الاَّتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُم مِّنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَآئِكُمْ وَرَبَآئِبُكُمُ الاَّتِي فِي حُجُورِكُم مِّن نِّسَآئِكُمُ الاَّتِي دَخَلْتُم بِهِنَّ فَإِن لَّمْ تَكُونُوا دَخَلْتُم بِهِنَّ فَلاَجُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلآَئِلُ أَبْنَآئِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلاَبِكُمْ وَأَن تَجْمَعُوا بَيْنَ اْلأُخْتَيْنِ إِلاَّ مَاقَدْ سَلَفَ إِنَّ اللهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا</strong></p>
<p><em>Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, <strong>saudara-saudara bapakmu</strong> yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.</em> (QS. An-Nisaa’:23).</p>
<p>Sedangkan masalah warisan maka saudari termasuk putri saudara seibu dari bapak angkat saudari. Dalam hal ini saudari <strong>tidak termasuk ahli warisnya</strong> sehingga tidak berhak menerima warisan dari bapak angkat tersebut.</p>
<p><em>Wallahu a’lam.</em></p>
<p><strong>DiJawab oleh Ustadz Kholid Syamhudi, L.c.<br />
Artikel <a href="http://www.ustadzkholid.com/" target="_blank">www.UstadzKholid.com</a></strong></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/buka-muhrim/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/buka-muhrim/&amp;title=Bapak+Angkat+Mahramkah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/buka-muhrim/&amp;title=Bapak+Angkat+Mahramkah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/buka-muhrim/&amp;t=Bapak+Angkat+Mahramkah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/buka-muhrim/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Bapak+Angkat+Mahramkah%3F+-+http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/buka-muhrim/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/buka-muhrim/&amp;title=Bapak+Angkat+Mahramkah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/buka-muhrim/&amp;title=Bapak+Angkat+Mahramkah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Bapak+Angkat+Mahramkah%3F+-+http://bit.ly/pmV8Z1&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Bapak+Angkat+Mahramkah%3F&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/buka-muhrim/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Pertanyaan%20%3A%0D%0A%0D%0AAssalamu%27alaikum%2C%20ustadz%20ana%20punya%20bapak%20angkat%2C%20bapak%20angkat%20ana%20itu%20adiknya%20bapak%20kandung%20ana%20tapi%20lain%20bapak.%20Apakah%20bapak%20angkat%20ana%20itu%20mahram%2C%20katanya%20ana%20nanti%20kebagian%20warisan%2Cberhakkah%20ana%3F%20Kalau%20iya%20berapa%20bagian%20punya%20ana%2C%20ana%20takut%20kalau%20mereka%20salah%20karena%20mereka%20masih%20a" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/buka-muhrim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Shalat Tasbih dan Tata caranya</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-tasbih-dan-tata-caranya/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-tasbih-dan-tata-caranya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Jun 2011 04:21:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[TanyaUstadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1990</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan:
Assalamu’alaikum wr. wb.
Ust. Apa hukum shalat tasbih dan bagaimana tata caranya?
Wassalam
Hamba Allah

Jawaban:
Wa’alaikumussalam.
Para ulama bersilang pendapaat tentang hukum shalat tasbih dalam tiga pendapat berdasarkan perbedaan mereka terhadap keabsahan hadits Al-Abaas bin Abdilmuthalib yang berbunyi:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّاهُ أَلَا أُعْطِيكَ أَلَا أَمْنَحُكَ أَلَا أَحْبُوكَ أَلَا أَفْعَلُ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu’alaikum wr. wb.</em></p>
<p>Ust. Apa hukum shalat tasbih dan bagaimana tata caranya?<br />
<em>Wassalam</em></p>
<p><em>Hamba Allah</em><br />
<span id="more-1990"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa’alaikumussalam.</em></p>
<p>Para ulama bersilang pendapaat tentang hukum shalat tasbih dalam tiga pendapat berdasarkan perbedaan mereka terhadap keabsahan hadits Al-Abaas bin Abdilmuthalib yang berbunyi:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّاهُ أَلَا أُعْطِيكَ أَلَا أَمْنَحُكَ أَلَا أَحْبُوكَ أَلَا أَفْعَلُ لَكَ عَشْرَ خِصَالٍ إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ ذَنْبَكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ وَقَدِيمَهُ وَحَدِيثَهُ وَخَطَأَهُ وَعَمْدَهُ وَصَغِيرَهُ وَكَبِيرَهُ وَسِرَّهُ وَعَلَانِيَتَهُ عَشْرُ خِصَالٍ أَنْ تُصَلِّيَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ تَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَةٍ فَإِذَا فَرَغْتَ مِنْ الْقِرَاءَةِ فِي أَوَّلِ رَكْعَةٍ قُلْتَ وَأَنْتَ قَائِمٌ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً ثُمَّ تَرْكَعُ فَتَقُولُ وَأَنْتَ رَاكِعٌ عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنْ الرُّكُوعِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَهْوِي سَاجِدًا فَتَقُولُهَا وَأَنْتَ سَاجِدٌ عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنْ السُّجُودِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَسْجُدُ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنْ السُّجُودِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا فَذَلِكَ خَمْسَةٌ وَسَبْعُونَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ تَفْعَلُ فِي أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ إِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيَهَا فِي كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَفِي كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي عُمُرِكَ مَرَّةً</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda kepada Al-Abaas bin Abdulmuthalib: <em>“Wahai pamanku! Maukan aku beri, maukah aku anugerahkan, maukah aku kasih dan maukah aku lakukan untukmu sepuluh perkara apabila kamu kerjakan maka Allah akan mengampuni seluruh dosa yang pertama hingga terakhir, yang lalu dan yang sekarang, baik yang dilakukan karena keliru ataupun sengaja, dosa kecil dan besar, tersembunyi dan yang terang-terangan. Sepuluh perkara itu adlah kamu lakukan shalat empat rakaat, kamu baca dalam setiap rakaat surat Al-Fatihah dan surat (Al-Qur`an). Apabila telah selesai dari membaca surat di awal rakaat, maka ucapkalah dalam keadaan kamu berdiri:</em><br />
<strong>سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ</strong> <em>sebanyak lima belas kali kemudian ruku’ lalu ucapkanlah dlam keadaan kamu ruku’ sepuluh kali, kemudian mengangkat kepalanya (berdiri) dari ruku’ lalu ucapkanlah tasbih tersebut sepuluh kali, kemudian turun sujud dan mengucapkan dalam sujudmu tasbih tsb 10 kali, kemudian bangkit dari sujud dan mengucapkan nya 10 kali. Kemudian sujud lagi dan mengucapkanya 10 kali lalu bangkit dan mengucapkan 10 kali. Sehingga jumlahnya 75 kali dalam satu rakaat.  Kerjakanlah empat rakaat apabila kamu mampu melakukannya dalamsetiap hari sekali maka kerjakanlah dan bila tidka mampu maka sekali dalam satu Jum’at apabila tidka mampu maka setiap bulan sekali dan bila tidak mampu maka sekali dalam seumur hidup.&#8221;</em> (HR Abu Daud 1105 4/59 dan ibnu Maajah 1377  dan dimasukkan Al-Albani dalam <em>Shahih At-Targhib</em> dan <em>At-Tarhib</em> no 677 ).</p>
<p>Diantara ulama dan yang menghukumi hadits ini sebagai hadits <em>dhaif</em> (lemah) dan sebagian lainnya mengabsahkannya. Diantara ulama yang mengabsahkan hadits ini adalah Abu Daud,  Al-Haakim, Al-Baihaqi, ibnu Hajar, Ahmad Syakir dan Al-Albani.</p>
<p>Yang <em>rajih</em> –<em>wallahu a’lam</em>-  dari pendapat ulama tentang hadits ini adalah pendapat yang mengabsahkan riwayat ini.</p>
<p>Berdasarkan hal ini maka shalat tasbih termasuk shalat sunnah yang diperbolehkan dengan tata cara yang ada dalam hadits diatas.</p>
<p>Dapat disimpulkan tata caranya adalah:</p>
<p>1.    Bertakbir dan berdiri lalu membaca Al-Fatihah  dan surat dari Al-Qur`an kemudian membaca `15 tasbih yang berbunyi: <strong>سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ</strong><br />
2.    Kemudian ruku’ dan membaca tasbih tersebut 10 kali<br />
3.    Lalu berdiri i’tidal setelah mengucapkan sami’allahu liman hamidah mengucapkan tasbih 10  kali<br />
4.    Lalu turun sujud dan membaca tasbih ini dalam sujudnya sebanyak 10 kali<br />
5.    Lalu bangkit dari sujud untuk duduk diantara dua sujud dan mengucapkan tasbih ini 10 kali<br />
6.    Kemudian sujud kedua dan mengucapokan dalam sujudnya tasbih ini 10 kali<br />
7.    Kemudian bangkit dari sujud dan mengucapan tasbih sebanyak 10 kali. Sehingga totalnya adalah 75 kali tasbih.<br />
8.    Kemudian bangkit untuk rakaat kedua, ketiga dan keempat seperti itu juga. Sehingga jumlah totalnya adalah 300 kali tasbih.</p>
<p>Demikianlah seputar shalat tasbih mudah-mudahan bermanfaat.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Kholid Syamhudi, L.c.<br />
Artikel <a href="http://www.ustadzkholid.com/" target="_blank">www.UstadzKholid.com</a></strong></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-tasbih-dan-tata-caranya/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-tasbih-dan-tata-caranya/&amp;title=Hukum+Shalat+Tasbih+dan+Tata+caranya" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-tasbih-dan-tata-caranya/&amp;title=Hukum+Shalat+Tasbih+dan+Tata+caranya" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-tasbih-dan-tata-caranya/&amp;t=Hukum+Shalat+Tasbih+dan+Tata+caranya" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-tasbih-dan-tata-caranya/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Hukum+Shalat+Tasbih+dan+Tata+caranya+-+http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-tasbih-dan-tata-caranya/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-tasbih-dan-tata-caranya/&amp;title=Hukum+Shalat+Tasbih+dan+Tata+caranya" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-tasbih-dan-tata-caranya/&amp;title=Hukum+Shalat+Tasbih+dan+Tata+caranya" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Hukum+Shalat+Tasbih+dan+Tata+caranya+-+http://bit.ly/jNIhXH&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Hukum+Shalat+Tasbih+dan+Tata+caranya&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-tasbih-dan-tata-caranya/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Pertanyaan%3A%0D%0A%0D%0AAssalamu%E2%80%99alaikum%20wr.%20wb.%0D%0A%0D%0AUst.%20Apa%20hukum%20shalat%20tasbih%20dan%20bagaimana%20tata%20caranya%3F%0D%0AWassalam%0D%0A%0D%0AHamba%20Allah%0D%0A%0D%0AJawaban%3A%0D%0A%0D%0AWa%E2%80%99alaikumussalam.%0D%0A%0D%0APara%20ulama%20bersilang%20pendapaat%20tentang%20hukum%20shalat%20tasbih%20dalam%20tiga%20pendapat%20berdasarkan%20perbedaan%20mereka%20terhadap%20keabsahan%20hadits%20" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-tasbih-dan-tata-caranya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8216;Kecipratan&#8217; Harta Korupsi, Diapakan?</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/kecipratan-harta-korupsi-diapakan/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/kecipratan-harta-korupsi-diapakan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 May 2011 07:55:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Muamalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1683</guid>
		<description><![CDATA[Ustadz mohon pencerahannya. Saya bekerja di salah satu instansi dimana setelah saya berkecimpung setahun lebih, saya melihat banyak hal-hal yang bisa dibilang tidak bisa diterima nurani saya. Ada istilah &#8216;korupsi berjamaah&#8217; dimana me-mark up dana kegiatan dan memalsukan bukti pembayaran menjadi kebiasaan. Sedangkan honor-honor yang seharusnya menjadi hak saya malah tidak dibayarkan, tetapi di sisi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ustadz mohon pencerahannya. Saya bekerja di salah satu instansi dimana setelah saya berkecimpung setahun lebih, saya melihat banyak hal-hal yang bisa dibilang tidak bisa diterima nurani saya. Ada istilah &#8216;korupsi berjamaah&#8217; dimana me-<em>mark up</em> dana kegiatan dan memalsukan bukti pembayaran menjadi kebiasaan. Sedangkan honor-honor yang seharusnya menjadi hak saya <em>malah</em> tidak dibayarkan, tetapi di sisi lain yang tidak seharusnya hak saya <em>malah</em> diberikan. Aneh betul, ustadz.</p>
<p>Saya ingin bertanya ustadz, jika saya menerima uang dari hasil seperti itu apakah haram ustadz?</p>
<p>Apabila saya tolak, saya takut dikucilkan dari pergaulan, dianggap <em>belagu</em> karena saya anak baru. Kalau saya berikan ke teman kantor juga sama saja teman saya yang makan uang &#8220;gak jelas&#8221; itu (karena tidak mungkin dikembalikan ke kas negara). Apabila uang yang saya terima itu saya masukkan ke yayasan panti asuhan atau lembaga sosial bagaimana ustadz? Maksudnya agar orang yang membutuhkan saja memanfaatkan uangnya, <em>toh</em> mereka lebih berhak. Tapi apakah saya pantas memberikan uang yang &#8220;tidak jelas&#8221; itu ke orang-orang tidak berdosa?<br />
<span id="more-1683"></span><br />
Saya bingung ustadz, pengetahuan agama saya masih minim, tapi saya tidak mau melakukan hal yang bertentangan dengan hati nurani saya. Mohon bantuannya ustad jawabannya dikirimkan via email supaya saya bisa baca kalo lupa mampir lagi ke website ini. Mohon sekali bantuannya ustadz ya biar hati saya tenang.</p>
<p>Terima kasih Ustadz. <em>Assalamu&#8217;alaikum</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Seorang Muslimah<br />
purenamus*****@yahoo.com</em></p>
<p><strong>Ustadz Ammi Nur Baits menjawab:</strong><br />
<em>Wa &#8216;alaikumus salam wa rahmatullah wa barakatuh,</em></p>
<p><em>Bismillah.</em>..<br />
Semoga apa yang anda tanyakan, bisa kita temukan jawabannya pada penjelasan berikut, yang saya kutip dari buku <em>Fiqih Walimah Nikah:</em></p>
<p><strong>Bab: Manusia Berpenghasilan	 Haram</strong><br />
Sebagian ulama merinci masalah ini menjadi dua rincian:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, seluruh hartanya haram. Sebagian Malikiyah menyatakan bahwa, barangsiapa yang seluruh hartanya dari yang haram maka haram mengambil sedikitpun dari harta tersebut. Demikian pula jika diketahui bahwa makannnya dibeli dari harta yang haram (<em>Syarh Mukhtashar Khalil li Al Khursyi</em>, 21/500). Hal yang sama juga dinyatakan oleh sebagian ulama madzhab Hambali bahwa orang yang seluruh hartanya haram maka haram pula memakannya.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, sebagian besar hartanya haram. Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian syafi&#8217;iyah berpendapat makruh. Ketika menjelaskan kaidah ushul dalam madzhab Syafi&#8217;iyah yang redaksinya: &#8220;<em>idzaa ijtama&#8217;a al halal wa al haram ghuliba al haram</em>&#8221; (jika terkumpul sesuatu yang halal dan yang haram maka dimenangkan yang haram), kemudian As Suyuthi menyebutkan beberapa catatan terkait dengan masalah ragu dalam menentukan yang haram. Diantaranya adalah ragu namun tidak diketahui asalnya, dan beliau memberikan contoh: &#8220;Bertransaksi dengan orang yang sebagian besar hartanya haram, jika tidak diketahui jenis benda (yang haram) maka tidak terlarang, menurut pendapat yang lebih benar, namun dimakruhkan. Demikian pula, mengambil pemberian penguasa jika kebanyakan hartanya haram (<em>Al Asybah wa An Nadhair-Syafi&#8217;I</em>, 209). Demikian pula ditegaskan oleh An Nawawi dalam Syarh <em>Al Muhadzab</em> bahwa pendapat yang masyhur dalam madzhab Syafi&#8217;I adalah makruh bukan haram, tidak sebagaimana pendapat Ghazali.</p>
<p>Al Marudzi bertanya kepada Imam Ahmad tentang orang yang bekerja dengan riba, bolehkan makan hartanya? Imam Ahmad menjawab: &#8220;Tidak boleh. Karena Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah melaknat orang yang makan riba dan memberi makan orang lain dengan riba. Dan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memerintahkan untuk menahan diri ketika ada ketidak-jelasan antara yang halal dan yang haram.&#8221;</p>
<p>Syaikhul Islam ditanya tentang orang yang sebagian besar hartanya haram. Apakah transaksi dengan orang ini haram ataukah makruh? Kemudian beliau menukil perkataan Imam Ahmad, yang ringkasnya bahwa jika diketahui dengan pasti bahwa benda A inilah yang haram maka tidak boleh diterima. Namun jika kebanyakan hartanya haram dan tidak diketahui maka (sebaiknya) menghindarkan dirinya dari hal ini, kecuali jika harta haram tersebut sedikit dan tidak diketahui.</p>
<p>Sedangkan sebagian ulama&#8217; Hambali berpendapat tidak haram secara mutlak baik harta yang haram tersebut banyak maupun sedikit, akan tetapi makruh. Lemah dan kuatnya hukum makruh ini sebanding dengan banyak dan sedikitnya harta yang haram. (<em>Al Furu Ibn Muflih</em> 4/403). Pendapat terakhir yang dinukil Ibnu Muflih ini dinilai paling tepat oleh Al Mardawi dalam <em>Tashih Al Furu&#8217;</em> (<em>Fatawa Syabakah Islamiyah</em> no. 6880).</p>
<p>Sebagian ulama membedakan antara harta yang haram karena dzatnya – seperti babi, khamr – dan yang haram karena sifat – seperti harta riba –. Untuk harta yang haram karena sifatnya, maka yang menanggung dosa adalah pemiliknya bukan orang yang menerima harta ini dengan jalan yang mubah, semacam jamuan makan atau pemberian. Rincian semacam ini dinilai paling kuat oleh Syaikh Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin (<em>Al Qoul Al Mufid</em> 2/243). Syaikh Al Utsaimin berdalil dengan mu&#8217;amalah yang dilakukan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan orang yahudi. Padahal telah dipahami bahwa harta orang yahudi kebanyakan dari riba dan sesuatu yang haram lainnya, seperti uang suap dan sogok. Disamping itu, pendapat ini juga didukung oleh kaidah dalam ilmu fiqh: <em>tabaadul asbaabil milki ka tabaadulil a&#8217;yaan</em> (perubahan sebab kepemilikan suatu benda sebagaimana perubahan status benda tersebut).</p>
<p>Oleh karena itu, jika kita menguatkan pendapat yang terakhir ini maka <strong><span style="text-decoration: underline;">status uang tersebut halal bagi yang menerima</span></strong>, karena uang tersebut statusnya sebagai gaji anda.</p>
<p>Satu hal lagi yang perlu kita perhatikan, anda memiliki tanggung jawab moral untuk mengarahkan kesalahan ini. Semoga Allah membimbing kita meniti jalan hidayah. <em>Wa Allahu A&#8217;lam</em>.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.Com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/kecipratan-harta-korupsi-diapakan/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/kecipratan-harta-korupsi-diapakan/&amp;title=%27Kecipratan%27+Harta+Korupsi%2C+Diapakan%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/kecipratan-harta-korupsi-diapakan/&amp;title=%27Kecipratan%27+Harta+Korupsi%2C+Diapakan%3F" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/kecipratan-harta-korupsi-diapakan/&amp;t=%27Kecipratan%27+Harta+Korupsi%2C+Diapakan%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/kecipratan-harta-korupsi-diapakan/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=%27Kecipratan%27+Harta+Korupsi%2C+Diapakan%3F+-+http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/kecipratan-harta-korupsi-diapakan/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/kecipratan-harta-korupsi-diapakan/&amp;title=%27Kecipratan%27+Harta+Korupsi%2C+Diapakan%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/kecipratan-harta-korupsi-diapakan/&amp;title=%27Kecipratan%27+Harta+Korupsi%2C+Diapakan%3F" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=%27Kecipratan%27+Harta+Korupsi%2C+Diapakan%3F+-+http://bit.ly/lhClB5&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=%27Kecipratan%27+Harta+Korupsi%2C+Diapakan%3F&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/kecipratan-harta-korupsi-diapakan/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Ustadz%20mohon%20pencerahannya.%20Saya%20bekerja%20di%20salah%20satu%20instansi%20dimana%20setelah%20saya%20berkecimpung%20setahun%20lebih%2C%20saya%20melihat%20banyak%20hal-hal%20yang%20bisa%20dibilang%20tidak%20bisa%20diterima%20nurani%20saya.%20Ada%20istilah%20%27korupsi%20berjamaah%27%20dimana%20me-mark%20up%20dana%20kegiatan%20dan%20memalsukan%20bukti%20pembayaran%20menjadi%20kebi" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/kecipratan-harta-korupsi-diapakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makanan Non-Daging Pemberian Orang Kafir</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/makanan-non-daging-pemberian-orang-kafir/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/makanan-non-daging-pemberian-orang-kafir/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Oct 2010 22:33:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[halal]]></category>
		<category><![CDATA[makanan]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Kafir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1674</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu&#8217;alaikum Ustadz. Saya ingin tahu apakah hukumnya menerima dan memakan pemberian dari orang kafir yang telah disembah. Pemberian tersebut adalah seperti beras, minyak masak , beehoon, tepung, gula dan sebagainya.
Rosidah
angsapu*****@gmail.com
Ustadz Ammi Nur Baits menjawab:
Wa alaikumus salam, Bismillah&#8230;
Sesungguhnya hukum asal segala sesuatu adalah halal, kucuali jika ada dalil yang menunjukkan bahwa hal itu haram. Jika tidak ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Assalamu&#8217;alaikum</em> Ustadz. Saya ingin tahu apakah hukumnya menerima dan memakan pemberian dari orang kafir yang telah disembah. Pemberian tersebut adalah seperti beras, minyak masak , <em>beehoon</em>, tepung, gula dan sebagainya.</p>
<p style="text-align: right;"><em>Rosidah<br />
angsapu*****@gmail.com</em><span id="more-1674"></span></p>
<p><strong>Ustadz Ammi Nur Baits menjawab:</strong><br />
<em>Wa alaikumus salam, Bismillah&#8230;</em></p>
<p>Sesungguhnya hukum asal segala sesuatu adalah halal, kucuali jika ada dalil yang menunjukkan bahwa hal itu haram. Jika tidak ada dalil yang menjelaskan status benda tersebut maka dikembalikan pada hukum asal, yaitu halal.</p>
<p>Kita yakin bahwa kejadian persembahan semacam ini banyak terjadi di zaman Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ketika berdakwah di Mekkah. Namun, terkait hal ini, benda yang Allah haramkan adalah: hewan yang disembelih untuk selain Allah. Hal ini bisa anda lihat di Surat Al Baqarah: 173, Al Maidah: 3, Al An&#8217;am: 145, dan An Nahl: 115.</p>
<p>Andaikan ada benda lain yang Allah haramkan selain hewan yang disembelih untuk makhluq, tentu Allah akan sebutkan. ini menunjukkan -Allahu a&#8217;lam- bahwa segala sesuatu yang dipersembahkan untuk selain Allah hukumnya kembali kepada hukum asal benda tersebut (halal) kecuali: yang bentukkanya hewan sembelihan yang ditujukan untuk selain Allah.</p>
<p>Dengan demikian, beras, minyak masak , beehoon, tepung, gula, dan sebangsanya boleh dikonsumsi, selama kita mendapatkannya juga dengan cara yang dibolehkan, seperti diberi atau membeli.</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam</em>.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.Com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/makanan-non-daging-pemberian-orang-kafir/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/makanan-non-daging-pemberian-orang-kafir/&amp;title=Makanan+Non-Daging+Pemberian+Orang+Kafir" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/makanan-non-daging-pemberian-orang-kafir/&amp;title=Makanan+Non-Daging+Pemberian+Orang+Kafir" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/makanan-non-daging-pemberian-orang-kafir/&amp;t=Makanan+Non-Daging+Pemberian+Orang+Kafir" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/makanan-non-daging-pemberian-orang-kafir/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Makanan+Non-Daging+Pemberian+Orang+Kafir+-+http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/makanan-non-daging-pemberian-orang-kafir/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/makanan-non-daging-pemberian-orang-kafir/&amp;title=Makanan+Non-Daging+Pemberian+Orang+Kafir" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/makanan-non-daging-pemberian-orang-kafir/&amp;title=Makanan+Non-Daging+Pemberian+Orang+Kafir" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Makanan+Non-Daging+Pemberian+Orang+Kafir+-+http://b2l.me/ayjm7w&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Makanan+Non-Daging+Pemberian+Orang+Kafir&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/makanan-non-daging-pemberian-orang-kafir/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Assalamu%27alaikum%20Ustadz.%20Saya%20ingin%20tahu%20apakah%20hukumnya%20menerima%20dan%20memakan%20pemberian%20dari%20orang%20kafir%20yang%20telah%20disembah.%20Pemberian%20tersebut%20adalah%20seperti%20beras%2C%20minyak%20masak%20%2C%20beehoon%2C%20tepung%2C%20gula%20dan%20sebagainya.%0D%0ARosidah%0D%0Aangsapu%2A%2A%2A%2A%2A%40gmail.com%0D%0AUstadz%20Ammi%20Nur%20Baits%20menjawab%3A%0D%0AWa%20alaikumus%20" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/makanan-non-daging-pemberian-orang-kafir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sikap Terhadap Ibu Kandung, Setelah Lama Diadopsi</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/sikap-terhadap-ibu-kandung-setelah-lama-diadopsi/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/sikap-terhadap-ibu-kandung-setelah-lama-diadopsi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Oct 2010 09:50:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[TanyaUstadz]]></category>
		<category><![CDATA[waris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1669</guid>
		<description><![CDATA[Begini ustadz, saya anak tunggal, bapak sudah lama meninggal dan ibu baru 1 bulan meninggal. Setelah ibu meninggal, saya dengan suami membongkar almari untuk mencari semua dokumen. Saya kaget karena saya adalah bukan anak kandung orang tua saya, krn ditemukan dokumen pengadilan negeri yang intinya isi tentang adopsi saya. Orang tua saya berikut saudara saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Begini ustadz, saya anak tunggal, bapak sudah lama meninggal dan ibu baru 1 bulan meninggal. Setelah ibu meninggal, saya dengan suami membongkar almari untuk mencari semua dokumen. Saya kaget karena saya adalah bukan anak kandung orang tua saya, krn ditemukan dokumen pengadilan negeri yang intinya isi tentang adopsi saya. Orang tua saya berikut saudara saya tidak ada yang memberitahukan dari kecil sampai orang tua meninggal.</p>
<p>Empat 4 hari setelah ibu meninggal, datang Fulanah, yang mengaku bahwa ia adalah ibu kandung saya (biasanya sebelum lebaran, ia selalu datang tiap tahun) dan selama ini ibu saya bilang bahwa Fulanah adalah bekas pembantu yang dulu ikut disini lama, sehingga terjalin hubungan yg baik. Tapi yang membuat suami saya agak marah karena Fulanah menanyakan tentang rumah, mobil, motor dll, dan suami saya marah karena ia anggap kurang etis, berhubung ibu barusan meninggal, namun sudah menanyakan warisan.</p>
<p>Ddengan keadaan ini, akhirnya saya tanyakan kepada <em>bulik </em>saya (adik ibu) dan ia jawab bahwa saya sebenarnya adalah anak angkat dan ibu kandung saya adalah Fulanah. Tapi bapak kandung saya menghilang entah kemana. Dan saya diadopsi dari bayi umur kurang dari 6 bulan, sebab Fulanah bingung ditinggal suaminya. Dan atas kesepakatan keluarga pada waktu itu anak di adopsi ibu saya dan ia tidak menuntut apapun.</p>
<p>Dan bulik saya bilang, sesuai dengan Islam bahwa saya dianggap sebagai anak asli dari ibu saya yg meninggal karena ia yg membesarkan dari kecil hingga besar. Sedangkan Fulanah (ibu kandung) cukup dihormati saja dan cukup sekadar tahu kalo ia adalah ibu kandung yg melahirkan saya. Pertanyaan saya ustadz:</p>
<ol>
<li>Bagaimana saya harus bersikap terhadap Fulanah, karena saya takut ia akan menuntut macam-macam terhadap saya dan saya juga tidak enak dengan suami dan keluarganya.</li>
<li>Apa benar perkataan <em>bulik </em>saya, bahwa yang dianggap ibu sebenarnya adalah ibu saya yang sudah meninggal?</li>
</ol>
<p>Atas saran dan jawaban yang ustadz berikan, saya ucapkan terimakasih.</p>
<p style="text-align: right;"><em>Seorang muslimah<br />
ati*****@yahoo.com</em><span id="more-1669"></span></p>
<p><strong>Ustadz Ammi Nur Baits menjawab:</strong></p>
<p><em>Alhamdulillah, was shalaatu was salaamu &#8216;alaa rasulillah&#8230;</em><br />
Semoga Allah membimbing kita untuk meniti jalan kebenaran, meskipun pahit rasanya.</p>
<p><strong>Pertama</strong>, kami menasehatkan agar Ibu selalu bersabar dan tabah dalam menghadapi setiap cobaan. banyak memohon bimbingan kepada Allah, semoga Allah memberikan solusi terbaik bagi setiap masalah yang kita alami</p>
<p><strong>Kedua</strong>, dalam setiap permasalahan yang kita tidak ketahui pemecahan dan rincian hukumnya, hendaknya kita jangan tergesa-gesa dalam memutuskan perkaranya, sebelum merujuk pada keterangan Al Qur&#8217;an dan sunnah. Hal ini bisa dilakukan dengan meminta bimbingan kepada ahlinya, maksud saya: orang yang paham Al Qur&#8217;an dan Sunnah.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, jangan mudah mengambil keputusan hanya berdasarkan usulan dan saran orang lain yang sama sekali tidak ada dasarnya. lebih-lebih jika usulan tersebut ditunggangi dengan emosi dan kepentingan pribadi. apapun keadaannya, berusahalah untuk menyesuaikan diri dengan Al Qur&#8217;an dan sunnah&#8230;</p>
<p>Terkait dengan permasalahan Ibu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, siapakah Ibu kita?<br />
Semua orang tahu bahwa Ibu adalah wanita yang melahirkan kita. Bahkan dalam hukum fiqh, termasuk ibu adalah wanita yang melahirkan anak meskipun dari hasil hubungan zina. nasab dan hubungan warisnya dinisbahkan kepada ibunya bukan bapaknya. (lihat <em>Al Mausu&#8217;ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah</em>). Apapun yang terjadi, wanita yang melahirkan kita adalah ibu kita, meskipun kita sudah diadopsi orang lain, bahkan mungkin sejak kita dilahirkan.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, orang tua yang mengadopsi kita BUKAN orang tua kita. dia hanya sebatas orang tua asuh, yang telah berjasa mendidik kita. bahkan anggapan bahwa orang tua asuh (pengadopsi) adalah orang tua aslinya adalah prinsip masyarakat kafir Jahiliyah. Sebagaimana dijelaskan para ulama ketika menafsirkan surat Al Ahzab, ayat 37. Dan hukum ini telah dihapus dengan datangnya Islam.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, karena orang yang mengadopsi bukan orang tua kita maka tidak ada hukum waris dan hukum lainnya, terkait hubungan antara orang tua dan anak. dengan demikian, Ibu secara hukum islam tidak berhak mendapatkan warisan dari orang tua angkat ibu. namun harta peninggalannya, diserahkan kepada ahli waris dari keluarganya. untuk hukum warisan, perlu ada penjelasan tentang siapa saja yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan orang tua angkat Ibu. karena pembagian waris ini telah Allah tetapkan dalam Al Qur&#8217;an, dan tidak boleh menyimpang dari itu.</p>
<p>sebagai bahan renungan, berikut kami sebutkan beberapa dalil terkait masalah ini:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, Islam mengharamkan seseorang untuk menisbahkan dirinya kepada selain orang tuanya.</p>
<p><span style="color: #800000;"><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-size: large;"><span style="font-family: Traditional Arabic;">لَيْسَ مِن رَجُلٍ ادَّعَى لِغَيْرِ أَبِيهِ وَهْوَ يَعْلَمُهُ إِلاَّ كَفَرَ</span></span></span></span><br />
&#8220;<em>Siapa saja yang mengaku anak orang lain (bukan bapaknnya) dan dia tahu (itu bukan orang tuanya) maka dia telah kafir.</em>&#8221; (HR. Al Bukhari &#8211; Muslim)<br />
Maksud telah kafir dalam hadis di atas adalah kafir nikmat. artinya, si anak ini tidak tahu berterima kasih kepada bapaknya. bisa juga dimaknai kafir yang mengeluarkan dari islam orang ini meyakini bolehnya menisbahkan diri kepada selain orang tuanya.<br />
Maka jika seseorang diharamkan menisbahkan diri kepada selain bapaknya, demikian juga diharamkan untuk menisbahkan diri kepada selain ibunya.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, Islam menganjurkan agar seseorang berbakti kepada orang tuanya. bahkan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mendo&#8217;akan keburukan bagi orang yang tidak bisa berbakti kepada orang tuanya.</p>
<p>Dari Abu Hurairah, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>bersabda: &#8220;<em>Celakalah orang, yang ketemu dengan kedua orang tuanya atau salah satunya di usia tua, namun pertemuannya dengan orang tuanya tidak bisa memasukkan dirinya ke dalam surga. kemdian Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan para sahabat mengucapkan Amin.</em>&#8221; (HR. At Turmudzi, Al Bazzar &amp; dishahihkan Al Albani)</p>
<p>Sungguh, kesempatan anda bertemu dengan ibu anda adalah satu nikmat yang besar.sangat disayangkan jika itu disia-siakan. anda bisa bayangkan, sejak anda bayi berusia 6 bulan hingga saat ini anda dewasa dan berkeluarga, tidakkah kita ingin bisa memberikan pengabdian kepada orang tua kita&#8230; sesungguhnya kemuliaan anak adalah ketika dia bisa berbakti kepada orang tuanya.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, siapapun ibu kita, dia memiliki jasa yang besar kepada kita.<br />
Suatu hari, Ibnu Umar bin Khottob melihat seorang yang menggendong ibunya sambil thawaf di Ka’bah. Orang tersebut lalu berkata kepada Ibnu Umar, “<em>Wahai  Ibnu Umar, menurut pendapatmu apakah aku sudah membalas kebaikan ibuku?</em>” Ibnu Umar menjawab, “<em>Belum, meskipun sekadar satu erangan ibumu ketika melahirkanmu. Akan tetapi engkau sudah berbuat baik. Allah akan memberikan balasan yang banyak kepadamu terhadap sedikit amal yang engkau lakukan</em>.” (Diambil dari kitab <em>al-Kabair </em>karya adz-Dzahabi)</p>
<p>Kita tidak pernah tahu bagaimana keadaan Ibu kita ketika melahirkan kita&#8230;berapa kali rintihan dan erangan yang beliau lakukan ketika melahirkan kita. sanggpkah kita membalas jasanya&#8230;jika dengan menggendong ibu sambil thawaf di ka&#8217;bah tidak bisa menggantikan satu rintihan kesakitan ibu ketika melahirkan&#8230;</p>
<p>Jika Fulanah betul-betul ibu anda, beliau-lah yang lebih layak dengan anda dari pada orang lain yang bukan orang tua anda. beliau lebih untuk mendapatkan harta anda dari pada orang lain, beliau lebih layak untuk mendapat nafkah dari anaknya dari pada orang lain&#8230;</p>
<p><strong>Bagaimana dengan orang tua angkat yang mengadopsi kita?</strong><br />
Kita tidak boleh menganggap orang tua yang mengasuh kita menjadi tidak berarti. beliau memiliki jasa besar kepada kita. mengasuh, mendidik, dan membesarkan. kita menghormati beliau sebatas jasanya&#8230; dan sekali lagi HARAM hukumnya menganggap bahwa mereka adalah orang tua kita.</p>
<p><strong>Sikap yang selanjutnya anda lakukan:</strong><br />
Selanjutnya, anda dudukkan masalah ini di hadapan suami anda dan bibik dari ibu angkat anda. selayaknya sebagai suami yang baik, dia menghormati orang tua istrinya yang asli.</p>
<p>Agar suami dan bibik bisa memahami perkara ini sesuai dengan hukum islam. kita semua tidak ingin terjadi permasalahan, lebih-lebih sengketa antara suami &amp; bibi dengan ibu anda. semoga Allah memberi taufik kepada kita semua&#8230;</p>
<p><strong>Tentang warisan orang tua angkat:</strong><br />
a. Jika anda dan ibu anda tidak memiliki hubungan kekeluargaan dengan ibu angkat anda maka anda dan ibu anda, tidak memiliki hak warisan. jika kita berani mengambil, berarti kita mengambil harta orang lain tanpa alasan dan itu HARAM</p>
<p>b. untuk rincian siapa saja yang berhak mendapat warisan dari ortu angkat anda maka perlu rincian siapa saja yang menjadi keluarga dan memiliki hubungan darah dengan ortu angkat anda.</p>
<p><em>Allahumma waffiqnaa&#8230;<br />
Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p><em>&#8212;</em></p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.Com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/sikap-terhadap-ibu-kandung-setelah-lama-diadopsi/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/sikap-terhadap-ibu-kandung-setelah-lama-diadopsi/&amp;title=Sikap+Terhadap+Ibu+Kandung%2C+Setelah+Lama+Diadopsi" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/sikap-terhadap-ibu-kandung-setelah-lama-diadopsi/&amp;title=Sikap+Terhadap+Ibu+Kandung%2C+Setelah+Lama+Diadopsi" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/sikap-terhadap-ibu-kandung-setelah-lama-diadopsi/&amp;t=Sikap+Terhadap+Ibu+Kandung%2C+Setelah+Lama+Diadopsi" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/sikap-terhadap-ibu-kandung-setelah-lama-diadopsi/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Sikap+Terhadap+Ibu+Kandung%2C+Setelah+Lama+Diadopsi+-+http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/sikap-terhadap-ibu-kandung-setelah-lama-diadopsi/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/sikap-terhadap-ibu-kandung-setelah-lama-diadopsi/&amp;title=Sikap+Terhadap+Ibu+Kandung%2C+Setelah+Lama+Diadopsi" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/sikap-terhadap-ibu-kandung-setelah-lama-diadopsi/&amp;title=Sikap+Terhadap+Ibu+Kandung%2C+Setelah+Lama+Diadopsi" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Sikap+Terhadap+Ibu+Kandung%2C+Setelah+Lama+Diadopsi+-+http://b2l.me/axk722&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Sikap+Terhadap+Ibu+Kandung%2C+Setelah+Lama+Diadopsi&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/sikap-terhadap-ibu-kandung-setelah-lama-diadopsi/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Begini%20ustadz%2C%20saya%20anak%20tunggal%2C%20bapak%20sudah%20lama%20meninggal%20dan%20ibu%20baru%201%20bulan%20meninggal.%20Setelah%20ibu%20meninggal%2C%20saya%20dengan%20suami%20membongkar%20almari%20untuk%20mencari%20semua%20dokumen.%20Saya%20kaget%20karena%20saya%20adalah%20bukan%20anak%20kandung%20orang%20tua%20saya%2C%20krn%20ditemukan%20dokumen%20pengadilan%20negeri%20yang%20intinya%20i" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/sikap-terhadap-ibu-kandung-setelah-lama-diadopsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saya Kerja Di Pabrik, Apakah Tetap Shalat Berjama&#8217;ah?</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/saya-kerja-di-pabrik-apakah-tetap-shalat-berjamaah/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/saya-kerja-di-pabrik-apakah-tetap-shalat-berjamaah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Jul 2010 16:49:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1655</guid>
		<description><![CDATA[Ustadz saya kerja di pabrik jadi tidak bisa istiqamah melaksanakan shalat berjamaah, tapi di luar jam kerja insya Allah bisa. Bagaimana solusinya ustadz?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ustadz saya kerja di pabrik jadi tidak bisa istiqamah melaksanakan shalat berjamaah, tapi di luar jam kerja insya Allah bisa. Bagaimana solusinya ustadz?</p>
<p style="text-align: right;"><em>Pendengar Radio SuaraQur&#8217;an<br />
2 Desember 2008</em></p>
<p><span id="more-1655"></span><br />
<strong>Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. menjawab:</strong><br />
Shalat berjamaah adalah perkara yang penting dalam kehidupan seorang muslim, tanpa tidak boleh ada upaya untuk meremehkan hal tersebut. Para ulama rahimahumullah mengatakan shalat berjamaah hukumnya wajib, bahkan ada yang lebih keras lagi bahwa shalat berjamaah adalah syarat sahnya shalat wajib. Oleh karena itu kami sarankan untuk tetap shalat berjamaah di masjid atau mushalla. Dan biasanya tempat kerja memiliki mushalla atau ruangan khusus yang dipakai untuk shalat berjamaah yang bisa digunakan untuk shalat bersama teman-teman anda.</p>
<p>Kecuali bila memang pekerjaan ini membuat anda tidak memungkinkan untuk meninggalkan ruangan kerja, seperti misalnya sebagai satpam. Atau bila pekerjaan anda memegang sebuah mesin atau bagian yang bila ditinggalkan oleh orang yang menunggunya akan berakibat fatal atau bahaya bagi kelangsungan pabrik. Jika begitu keadaannya kita katakan:</p>
<p style="text-align: center;">الضرورات تبيح المحضورات, و الضرورات تقدر بقدرها<br />
“Keadaan darurat membolehkan perkara yang dilarang, dan kebolehannya itu sebatas kadar daruratnya”</p>
<p><em>Wallahu Ta&#8217;ala A&#8217;lam</em>.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc<br />
Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.Com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/saya-kerja-di-pabrik-apakah-tetap-shalat-berjamaah/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/saya-kerja-di-pabrik-apakah-tetap-shalat-berjamaah/&amp;title=Saya+Kerja+Di+Pabrik%2C+Apakah+Tetap+Shalat+Berjama%27ah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/saya-kerja-di-pabrik-apakah-tetap-shalat-berjamaah/&amp;title=Saya+Kerja+Di+Pabrik%2C+Apakah+Tetap+Shalat+Berjama%27ah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/saya-kerja-di-pabrik-apakah-tetap-shalat-berjamaah/&amp;t=Saya+Kerja+Di+Pabrik%2C+Apakah+Tetap+Shalat+Berjama%27ah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/saya-kerja-di-pabrik-apakah-tetap-shalat-berjamaah/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Saya+Kerja+Di+Pabrik%2C+Apakah+Tetap+Shalat+Berjama%27ah%3F+-+http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/saya-kerja-di-pabrik-apakah-tetap-shalat-berjamaah/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/saya-kerja-di-pabrik-apakah-tetap-shalat-berjamaah/&amp;title=Saya+Kerja+Di+Pabrik%2C+Apakah+Tetap+Shalat+Berjama%27ah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/saya-kerja-di-pabrik-apakah-tetap-shalat-berjamaah/&amp;title=Saya+Kerja+Di+Pabrik%2C+Apakah+Tetap+Shalat+Berjama%27ah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Saya+Kerja+Di+Pabrik%2C+Apakah+Tetap+Shalat+Berjama%27ah%3F+-+http://b2l.me/9hcsk&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Saya+Kerja+Di+Pabrik%2C+Apakah+Tetap+Shalat+Berjama%27ah%3F&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/saya-kerja-di-pabrik-apakah-tetap-shalat-berjamaah/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Ustadz%20saya%20kerja%20di%20pabrik%20jadi%20tidak%20bisa%20istiqamah%20melaksanakan%20shalat%20berjamaah%2C%20tapi%20di%20luar%20jam%20kerja%20insya%20Allah%20bisa.%20Bagaimana%20solusinya%20ustadz%3F" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/saya-kerja-di-pabrik-apakah-tetap-shalat-berjamaah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Isbal Tanpa Bermaksud Sombong</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/isbal-tanpa-bermaksud-sombong/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/isbal-tanpa-bermaksud-sombong/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jun 2010 09:32:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[isbal]]></category>
		<category><![CDATA[sombong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1497</guid>
		<description><![CDATA[Ana mau tanya Ustadz Apakah berdosa pelaku isbal itu...! Ana kekantor memakai celana panjang dibawah mata kaki..tapi ana tidak ada maksud untuk berlaku sombong...! mohon penjelasan. Trimakasih]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ana mau tanya Ustadz Apakah berdosa pelaku isbal itu&#8230;! Ana kekantor memakai celana panjang dibawah mata kaki..tapi ana tidak ada maksud untuk berlaku sombong&#8230;! mohon penjelasan. Trimakasih</p>
<p style="text-align: right;"><em>Syaiful<br />
Email: syaiful_uxxx@plasa.com</em></p>
<p><span id="more-1497"></span><br />
<strong>Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal menjawab:</strong></p>
<p>Mungkin sebagian orang sering menemukan di sekitarnya orang-orang yang celananya di atas mata kaki (<em>cingkrang</em>). Bahkan ada yang mencemoohnya dengan menggelarinya sebagai ‘celana kebanjiran’. Pembahasan kali ini –insya Allah- akan sedikit membahas mengenai cara berpakaian seperti ini apakah memang pakaian ini merupakan ajaran Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>atau bukan.</p>
<p><strong>Penampilan Nabi </strong><em><strong>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</strong></em><strong> dengan Celana Setengah Betis</strong></p>
<p>Perlu diketahui bahwasanya celana di atas mata kaki adalah sunnah dan ajaran Nabi<em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Hal ini dikhususkan bagi laki-laki, sedangkan wanita diperintahkan untuk menutup telapak kakinya. Kita dapat melihat bahwa pakaian Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> selalu berada di atas mata kaki sebagaimana dalam keseharian beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Dari Al Asy’ats bin Sulaim, ia berkata :</p>
<p dir="rtl">سَمِعْتُ عَمَّتِي ، تُحَدِّثُ عَنْ عَمِّهَا قَالَ : بَيْنَا أَنَا أَمْشِي بِالمَدِيْنَةِ ، إِذَا إِنْسَانٌ خَلْفِي يَقُوْلُ : « اِرْفَعْ إِزَارَكَ  ، فَإِنَّهُ أَنْقَى» فَإِذَا هُوَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّمَا هِيَ بُرْدَةٌ  مَلْحَاءُ) قَالَ : « أَمَّا لَكَ فِيَّ أُسْوَةٌ  ؟ » فَنَظَرْتُ فَإِذَا إِزَارَهُ إِلَى نِصْفِ سَاقَيْهِ</p>
<p>Saya pernah mendengar bibi saya menceritakan dari pamannya yang berkata, “Ketika saya sedang berjalan di kota Al Madinah, tiba-tiba seorang laki-laki di belakangku berkata<em>, ’Angkat kainmu, karena itu akan lebih bersih.’ </em>Ternyata orang yang berbicara itu adalah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </em>Aku berkata<em>,</em>”<em>Sesungguhnya yang kukenakan ini tak lebih hanyalah burdah yang bergaris-garis hitam dan putih”. </em>Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apakah engkau tidak menjadikan aku sebagai  teladan?” </em>Aku melihat kain sarung beliau, ternyata ujung bawahnya di pertengahan kedua betisnya<em>.”</em> (Lihat <em>Mukhtashor Syama’il Muhammadiyyah</em>, hal. 69, Al Maktabah Al Islamiyyah Aman-Yordan. Beliau katakan hadits ini <em>shohih</em>)</p>
<p>Dari Hudzaifah bin Al Yaman, ia berkata, “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah memegang salah satu atau kedua betisnya. Lalu beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p dir="rtl">هَذَا مَوْضِعُ الإِزَارِ فَإِنْ أَبِيْتَ فَأَسْفَلَ فَإِنْ أَبِيْتَ فَلاَ حَقَّ لِلإِْزَارِ فِي الْكَعْبَيْنِ</p>
<p>“<em>Di sinilah letak ujung kain. Kalau engkau tidak suka, bisa lebih rendah lagi. Kalau tidak suka juga, boleh lebih rendah lagi, akan tetapi tidak dibenarkan kain tersebut menutupi mata kaki.</em>” (Lihat <em>Mukhtashor Syama’il Al Muhammadiyyah</em>, hal.70, Syaikh Al Albani berkata bahwa hadits ini <em>shohih</em>)</p>
<p>Dari dua hadits ini terlihat bahwa celana Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> selalu berada di atas mata kaki sampai pertengahan betis. Boleh bagi seseorang menurunkan celananya, namun dengan syarat tidak sampai menutupi mata kaki. Ingatlah, Nabi<em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah sebagai teladan terbaik bagi kita dan bukanlah professor atau doctor atau seorang master yang dijadikan teladan.  Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="rtl">لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا</p>
<p>“<em>Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.</em>” (QS. Al Ahzab [60] : 21)</p>
<p><strong>Menjulurkan Celana Hingga Di Bawah Mata Kaki</strong></p>
<p>Perhatikanlah hadits-hadits yang kami bawakan berikut ini yang sengaja kami bagi menjadi dua bagian. Hal ini sebagaimana kami ikuti dari pembagian Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin <em>rahimahullah</em> dalam kitab beliau <em>Syarhul Mumthi’</em> pada<em>Bab Satrul ‘Awrot</em>. <strong></strong></p>
<p><strong>Pertama: Menjulurkan celana di bawah mata kaki dengan sombong</strong></p>
<p>Dari Ibnu Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="rtl">لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ</p>
<p>“<em>Allah tidak akan melihat kepada orang yang menyeret pakaianya dalam keadaan sombong</em>.” (HR. Muslim no. 5574).</p>
<p>Dari Ibnu Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma </em>juga, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="rtl">إِنَّ الَّذِى يَجُرُّ ثِيَابَهُ مِنَ الْخُيَلاَءِ لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya orang yang menyeret pakaiannya dengan sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat</em>.” (HR. Muslim no. 5576)</p>
<p>Masih banyak lafazh yang serupa dengan dua hadits di atas dalam <em>Shohih Muslim</em>.</p>
<p>Dari Abu Dzar, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="rtl">ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ</p>
<p>“<em>Ada tiga orang yang tidak diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat nanti, tidak dipandang, dan tidak disucikan serta bagi mereka siksaan yang pedih.</em>”</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menyebut tiga kali perkataan ini. Lalu Abu Dzar berkata,</p>
<p dir="rtl">خَابُوا وَخَسِرُوا مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ</p>
<p>“<em>Mereka sangat celaka dan merugi. Siapa mereka, Ya Rasulullah?</em>”</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menjawab,</p>
<p dir="rtl">الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ</p>
<p>“<em>Mereka adalah orang yang isbal, orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu</em>.” (HR. Muslim no. 306). Orang yang isbal (<em>musbil</em>) adalah orang yang menjulurkan pakaian atau celananya di bawah mata kaki. <strong></strong></p>
<p><strong>Kedua: Menjulurkan celana di bawah mata kaki tanpa sombong</strong></p>
<p>Dari Abu Huroiroh <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="rtl">مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِى النَّارِ</p>
<p>“<em>Kain</em> <em>yang berada di bawah mata kaki itu berada di neraka.</em>” (HR. Bukhari no. 5787)</p>
<p>Dari hadits-hadits di atas terdapat dua bentuk menjulurkan celana dan masing-masing memiliki konsekuensi yang berbeda. Kasus yang pertama -sebagaimana terdapat dalam hadits Ibnu Umar di atas- yaitu menjulurkan celana di bawah mata kaki (<em>isbal</em>) dengan sombong. Hukuman untuk kasus pertama ini sangat berat yaitu Allah tidak akan berbicara dengannya, juga tidak akan melihatnya dan tidak akan disucikan serta baginya azab (siksaan) yang pedih. Bentuk pertama ini termasuk dosa besar.</p>
<p>Kasus yang kedua adalah apabila seseorang menjulurkan celananya tanpa sombong. Maka ini juga dikhawatirkan termasuk dosa besar karena Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengancam perbuatan semacam ini dengan neraka.</p>
<p>Perhatikan bahwasanya hukum di antara dua kasus ini berbeda. Tidak bisa kita membawa <em>hadits muthlaq</em> dari Abu Huroiroh pada kasus kedua ke <em>hadits muqoyyad </em>dari Ibnu Umar pada kasus pertama karena hukum masing-masing berbeda. Bahkan ada sebuah hadits dari Abu Sa’id Al Khudri yang menjelaskan dua kasus ini sekaligus dan membedakan hukum masing-masing. Lihatlah hadits yang dimaksud sebagai berikut.</p>
<p dir="rtl">إِزْرَةُ الْمُسْلِمِ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ وَلاَ حَرَجَ &#8211; أَوْ لاَ جُنَاحَ &#8211; فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْكَعْبَيْنِ مَا كَانَ أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ فَهُوَ فِى النَّارِ مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ</p>
<p>“<em>Pakaian seorang muslim adalah hingga setengah betis. Tidaklah mengapa jika diturunkan antara setengah betis dan dua mata kaki. Jika pakaian tersebut berada di bawah mata kaki maka tempatnya di neraka. Dan apabila pakaian itu diseret dalam keadaan sombong, Allah tidak akan melihat kepadanya (pada hari kiamat nanti)</em>.” (HR. Abu Daud no. 4095. Dikatakan<em>shohih</em> oleh Syaikh Al Albani dalam <em>Shohih Al Jami’ Ash Shogir</em>, 921)</p>
<p>Jika kita perhatikan dalam hadits ini, terlihat bahwa hukum untuk kasus pertama dan kedua berbeda.</p>
<p>Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa jika menjulurkan celana tanpa sombong maka hukumnya makruh karena menganggap bahwa hadits Abu Huroiroh pada kasus kedua dapat dibawa ke hadits Ibnu Umar pada kasus pertama. Maka berarti yang dimaksudkan dengan menjulurkan celana di bawah mata kaki sehingga mendapat ancaman (siksaan) adalah yang menjulurkan celananya dengan sombong. Jika tidak dilakukan dengan sombong, hukumnya makruh. Hal inilah yang dipilih oleh An Nawawi dalam <em>Syarh Muslim</em> dan <em>Riyadhus Shalihin</em>, juga merupakan pendapat Imam Syafi’i serta pendapat ini juga dipilih oleh Syaikh Abdullah Ali Bassam di <em>Tawdhihul Ahkam min Bulughil Marom</em> -semoga Allah merahmati mereka-.</p>
<p>Namun, pendapat ini kurang tepat. Jika kita melihat dari hadits-hadits yang ada menunjukkan bahwa hukum masing-masing kasus berbeda. Jika hal ini dilakukan dengan sombong, hukumannya sendiri. Jika dilakukan tidak dengan sombong, maka kembali ke hadits mutlak yang menunjukkan adanya ancaman neraka. Bahkan dalam hadits Abu Sa’id Al Khudri dibedakan hukum di antara dua kasus ini. Perhatikan  baik-baik hadits Abu Sa’id di atas: <em>Jika pakaian tersebut berada di bawah mata kaki maka tempatnya di neraka. Dan apabila pakaian itu diseret dalam keadaan sombong, Allah tidak akan melihat kepadanya (pada hari kiamat nanti)</em>. Jadi, yang menjulurkan celana dengan sombong ataupun tidak, tetap mendapatkan hukuman. <em>Wallahu a’lam bish showab</em>.</p>
<p><strong>Catatan: </strong>Perlu kami tambahkan bahwa para ulama yang menyatakan makruh seperti An Nawawi dan lainnya, mereka tidak pernah menyatakan bahwa hukum isbal adalah <strong>boleh</strong> kalau tidak dengan sombong. Mohon, jangan disalahpahami maksud ulama yang mengatakan demikian. Ingatlah bahwa para ulama tersebut hanya menyatakan makruh dan bukan menyatakan boleh berisbal. Ini yang banyak salah dipahami oleh sebagian orang yang mengikuti pendapat mereka. Maka hendaklah perkara makruh itu dijauhi, jika memang kita masih memilih pendapat yang lemah tersebut. Janganlah terus-menerus dalam melakukan yang makruh. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua.</p>
<p><strong>Sedikit Kerancuan, Abu Bakar Pernah Menjulurkan Celana Hingga di Bawah Mata Kaki</strong></p>
<p>Bagaimana jika ada yang berdalil dengan perbuatan Abu Bakr di mana Abu Bakr dahulu pernah menjulurkan celana hingga di bawah mata kaki?</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin <em>rahimahullah</em> pernah mendapat pertanyaan semacam ini, lalu beliau memberikan jawaban sebagai berikut.</p>
<p>Adapun yang berdalil dengan hadits Abu Bakr <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, maka kami katakan tidak ada baginya hujjah (pembela atau dalil) ditinjau dari dua sisi.</p>
<p><strong>Pertama,</strong> Abu Bakr <em>radhiyallahu ‘anhu </em>mengatakan, ”<em>Sesungguhnya salah satu ujung sarungku biasa melorot kecuali jika aku menjaga dengan seksama.</em>” Maka ini bukan berarti dia melorotkan (menjulurkan) sarungnya karena kemauan dia. Namun sarungnya tersebut melorot dan selalu dijaga. Orang-orang yang <em>isbal</em> (menjulurkan celana hingga di bawah mata kaki, pen) biasa menganggap bahwa mereka tidaklah menjulurkan pakaian mereka karena maksud sombong. Kami katakan kepada orang semacam ini : Jika kalian maksudkan menjulurkan celana hingga berada di bawah mata kaki tanpa bermaksud sombong, maka bagian yang melorot tersebut akan disiksa di neraka. Namun jika kalian menjulurkan celana tersebut dengan sombong, maka kalian akan disiksa dengan azab (siksaan) yang lebih pedih daripada itu yaitu Allah tidak akan berbicara dengan kalian pada hari kiamat, tidak akan melihat kalian, tidak akan mensucikan kalian dan bagi kalian siksaan yang pedih.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, Sesungguhnya Abu Bakr sudah diberi <em>tazkiyah</em> (rekomendasi atau penilaian baik) dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>dan sudah diakui bahwa Abu Bakr tidaklah melakukannya karena sombong. Lalu apakah di antara mereka yang berperilaku seperti di atas (dengan menjulurkan celana dan tidak bermaksud sombong, pen) sudah mendapatkan <em>tazkiyah</em> dan <em>syahadah</em>(rekomendasi)?! Akan tetapi syaithon membuka jalan untuk sebagian orang agar mengikuti ayat atau hadits yang samar (dalam pandangan mereka, pen) lalu ayat atau hadits tersebut digunakan untuk membenarkan apa yang mereka lakukan. <em>Allah-llah yang memberi petunjuk ke jalan yang lurus kepada siapa yang Allah kehendaki. Kita memohon kepada Allah agar mendapatkan petunjuk dan ampunan</em>. (Lihat <em>Fatawal Aqidah wa Arkanil Islam,</em> Darul Aqidah, hal. 547-548).</p>
<p><strong>Marilah Mengagungkan dan Melaksanakan Ajaran Nabi </strong><em><strong>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam<br />
</strong></em></p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="rtl">مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang menta&#8217;ati Rasul, sesungguhnya ia telah menta&#8217;ati Allah</em>.” (QS. An Nisa’ [4] : 80)</p>
<p dir="rtl">فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ</p>
<p>“<em>Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih</em>.” (QS. An Nur [24] : 63)</p>
<p dir="rtl">وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ</p>
<p>“<em>Dan jika kamu ta&#8217;at kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.</em>” (QS. An Nur [24] : 54)</p>
<p>Hal ini juga dapat dilihat dalam hadits Al ‘Irbadh bin Sariyah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> seolah-olah inilah nasehat terakhir Nabi<em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menasehati para sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em>,</p>
<p dir="rtl">فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ</p>
<p>“<em>Berpegangteguhlah dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ur rosyidin yang mendapatkan petunjuk (dalam ilmu dan amal). Pegang teguhlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian.</em>” (HR. Abu Daud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban. At Tirmidizi mengatakan hadits ini <em>hasan shohih</em>. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shohih. Lihat <em>Shohih At Targhib wa At Tarhib</em> no. 37)</p>
<p>Salah seorang <em>khulafa’ur rosyidin</em> dan manusia terbaik setelah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </em>Abu Bakar Ash Shiddiq<em>radhiyallahu ‘anhu </em>mengatakan,</p>
<p dir="rtl">لَسْتُ تَارِكًا شَيْئًا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَعْمَلُ بِهِ إِلَّا عَمِلْتُ بِهِ إِنِّي أَخْشَى إِنْ تَرَكْتُ شَيْئًا مِنْ أَمْرِهِ أَنْ أَزِيْغَ</p>
<p>”<em>Aku tidaklah biarkan satupun yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam amalkan kecuali aku mengamalkannya karena aku takut jika meninggalkannya sedikit saja, aku akan menyimpang</em>.” (Lihat <em>Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud, </em>Syaikh Al Albani mengatakan bahwa <em>atsar</em> ini <em>shohih</em>)</p>
<p><strong>Sahabat Sangat Perhatian dengan Masalah Celana</strong></p>
<p>Sebagai penutup dari pembahasan ini, kami akan membawakan sebuah kisah yang menceritakan sangat perhatiannya salaf (shahabat) dengan masalah celana di atas mata kaki, sampai-sampai di ujung kematian masih memperingatkan hal ini.</p>
<p>Dalam <em>shohih Bukhari</em> dan <em>shohih Ibnu Hibban</em>, dikisahkan mengenai kematian Umar bin Al Khaththab setelah dibunuh seseorang ketika shalat. Lalu orang-orang mendatanginya di saat menjelang kematiannya. Lalu datanglah pula seorang pemuda. Setelah Umar ngobrol sebentar dengannya, ketika dia beranjak pergi, terlihat pakaiannya menyeret tanah (dalam keadaan <em>isbal</em>). Lalu Umar berkata,</p>
<p dir="rtl">رُدُّوا عَلَىَّ الْغُلاَمَ</p>
<p>“<em>Panggil pemuda tadi!</em>” Lalu Umar berkata,</p>
<p dir="rtl">ابْنَ أَخِى ارْفَعْ ثَوْبَكَ ، فَإِنَّهُ أَبْقَى لِثَوْبِكَ وَأَتْقَى لِرَبِّكَ ،</p>
<p>“<em>Wahai anak saudaraku. Tinggikanlah pakaianmu! Sesungguhnya itu akan lebih mengawetkan pakaianmu dan akan lebih bertakwa kepada Rabbmu.</em>”</p>
<p>Jadi, masalah isbal (celana menyeret tanah) adalah perkara yang amat penting. Jika ada yang mengatakan ‘kok masalah celana saja dipermasalahkan?’ Maka cukup kisah ini sebagai jawabannya. Kita menekankan masalah ini karena salaf (shahabat) juga menekankannya. -Semoga kita dimudahkan dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah-</p>
<p>Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin. Semoga Allah selalu memberikan ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyib, dan menjadikan amalan kita diterima di sisi-Nya. <em>Innahu sami’un qoriibum mujibud da’awaat</em>. <em>Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.</em></p>
<p>Selesai disusun di Yogyakarta,</p>
<p>pada siang hari, hari ke-29 bulan Shofar tahun 1429 H</p>
<p>bertepatan dengan hari ‘ied umat Islam setiap pekannya (Jum’at), 7 Maret 2008</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/isbal-tanpa-bermaksud-sombong/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/isbal-tanpa-bermaksud-sombong/&amp;title=Isbal+Tanpa+Bermaksud+Sombong" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/isbal-tanpa-bermaksud-sombong/&amp;title=Isbal+Tanpa+Bermaksud+Sombong" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/isbal-tanpa-bermaksud-sombong/&amp;t=Isbal+Tanpa+Bermaksud+Sombong" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/isbal-tanpa-bermaksud-sombong/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Isbal+Tanpa+Bermaksud+Sombong+-+http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/isbal-tanpa-bermaksud-sombong/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/isbal-tanpa-bermaksud-sombong/&amp;title=Isbal+Tanpa+Bermaksud+Sombong" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/isbal-tanpa-bermaksud-sombong/&amp;title=Isbal+Tanpa+Bermaksud+Sombong" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Isbal+Tanpa+Bermaksud+Sombong+-+http://b2l.me/n8ea7&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Isbal+Tanpa+Bermaksud+Sombong&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/isbal-tanpa-bermaksud-sombong/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Ana%20mau%20tanya%20Ustadz%20Apakah%20berdosa%20pelaku%20isbal%20itu...%21%20Ana%20kekantor%20memakai%20celana%20panjang%20dibawah%20mata%20kaki..tapi%20ana%20tidak%20ada%20maksud%20untuk%20berlaku%20sombong...%21%20mohon%20penjelasan.%20Trimakasih" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/isbal-tanpa-bermaksud-sombong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Dahi Terhalang Peci Ketika Shalat?</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-dahi-terhalang-peci-ketika-shalat/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-dahi-terhalang-peci-ketika-shalat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Jun 2010 13:10:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Aurat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[TanyaUstadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1623</guid>
		<description><![CDATA[Apakah dahi wajib menyentuh tanah atau lantai secara langsung tanpa terhalangi oleh kain yang dipakai oleh orang yang sholat tersebut seperti tertutup peci, surban, atau ‘imamah?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada yang mengatakan :&#8221;Sujud Tidak boleh kepada yang ditanggung badan atau yang segerak dengan badan (mahmul) atau segala sesuatu yang ada ditubuh misalnya sorban yang ada dikepala atau kain yang panjang menutupi tempat sujud. Sah jika diletakkan sapu tangan di tempat sujud, juga sah jika rambut menutup dahi dan tidak sah jika dahi tertutup oleh kopiah atau peci. Dari Ibnu ‘Abbas: “Sesungguhnya Nabi bersabda: ‘<em>Saya diperintahkan bersujud dengan tujuh (anggota badan) dan aku tidak boleh merintanginya dengan rambut atau kain</em>’ ” (HR. Ibnu Hibban)<br />
Kesimpulannya: Karena dahi bukan aurat maka tidak boleh terhalang kain (sejenisnya). Sedangkan lutut termasuk aurat, maka boleh tertutup kain celana, sarung, ghamis, dll.</p>
<p>Mohon penjelasan dari keterangan diatas? <em>Jazakumullah</em>.</p>
<p style="text-align: right;"><em>Abu Nafilah</em><span id="more-1623"></span></p>
<p><strong>Ustadz M. Subhan Khadafi, Lc. menjawab:</strong><br />
<strong></strong>Bukanlah karena dahi termasuk aurat atau bukan seperti halnya lutut yang merupakan aurat dan harus tertutup ketika shalat berdasarkan kesepakatan para ulama. Masalah ini yang sesungguhnya adalah:</p>
<blockquote><p>“Apakah dahi wajib menyentuh tanah atau lantai secara langsung tanpa terhalangi oleh kain yang dipakai oleh orang yang sholat tersebut seperti tertutup peci, surban, atau ‘imamah?”</p></blockquote>
<p>Adapun bila dahi yang terhalangi alas seperti tikar yang melekat pada lantai atau tanah maka para ulama sepakat akan kebolehannya.</p>
<p>Dengan demikian maka pendapat yang kuat adalah: diutamakan dahi untuk tidak terhalang ketika sujud dengan kain yang dikenakan oleh orang yang sedang shalat tersebut berdasarkan atsar Ibnu Umar yang tidak suka melihat orang yang sujud sedangkan dahinya terhalangi oleh surbannya: &#8220;<em>Sungguh Ubadah bin Shamit melepaskan sorbannya ketika hendak melaksanakan shalat</em>&#8220;.</p>
<p>An Nakha’i juga berkata: &#8220;<em>Sujud dengan menempelkan dahiku lebih aku sukai</em>&#8220;. Demikian pula sudah menjadi kebiasaan Nabi -<em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em>- bersujud dengan menempelkan dahinya ke lantai atau tanah sampai diriwayatkan bahwa lumpur yang basah menempel pada dahi beliau –<em>shallallaahu’alaihi wasallam</em>- (HR Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Sekalipun demikian jumhur ulama menganggap sah bila seseorang sujud sedangkan dahinya tertutup surban atau peci yang dikenakannya bila dikarenakan sebab tertentu seperti dinginnya atau panasnya lantai. Hal ini karena hadits Anas –rodhiallahu ‘anhu- yang dikeluarkan oleh Imam Al Bukhori dan Imam Muslim:<br />
مَا رَوَى أَنَسٌ ، قَالَ : { كُنَّا نُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَضَعُ أَحَدُنَا طَرَفَ الثَّوْبِ مِنْ شِدَّةِ الْحَرِّ فِي مَكَانِ السُّجُودِ } رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ .<br />
Artinya: “<em>Sungguh kita pernah sholat bersama Nabi –shallallaahu’alaihi wasallam-, maka sebagian diantara kita ada yang menjulurkan ujung pakaian yang dikenakannya sebagai alas sujudnya karena panas yang sangat menyengat</em>“.</p>
<p>Adapun hadits yang dikeluarkan oleh Ibnu Hibban:<br />
« أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةٍ ، لاَ أَكُفُّ شَعَرًا وَلاَ ثَوْبًا »<br />
yang diartikan : “<em>Sesungguhnya Nabi saw bersabda: ‘Saya diperintahkan bersujud dengan tujuh (anggota badan) dan aku tidak boleh merintanginya dengan rambut atau kain’ </em>” ,</p>
<p>maka terjemahan yang tepat adalah bukan merintangi tapi <strong>melipat</strong>. Jadi hadits Ibnu Hibban diatas bukanlah dalil yang melarang seseorang menutup dahinya dengan rambut, surban atau peci yang dikenakannya.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Ustadz M.Subhan Khadafi, Lc<br />
Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.Com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-dahi-terhalang-peci-ketika-shalat/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-dahi-terhalang-peci-ketika-shalat/&amp;title=Bolehkah+Dahi+Terhalang+Peci+Ketika+Shalat%3F+" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-dahi-terhalang-peci-ketika-shalat/&amp;title=Bolehkah+Dahi+Terhalang+Peci+Ketika+Shalat%3F+" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-dahi-terhalang-peci-ketika-shalat/&amp;t=Bolehkah+Dahi+Terhalang+Peci+Ketika+Shalat%3F+" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-dahi-terhalang-peci-ketika-shalat/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Bolehkah+Dahi+Terhalang+Peci+Ketika+Shalat%3F++-+http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-dahi-terhalang-peci-ketika-shalat/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-dahi-terhalang-peci-ketika-shalat/&amp;title=Bolehkah+Dahi+Terhalang+Peci+Ketika+Shalat%3F+" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-dahi-terhalang-peci-ketika-shalat/&amp;title=Bolehkah+Dahi+Terhalang+Peci+Ketika+Shalat%3F+" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Bolehkah+Dahi+Terhalang+Peci+Ketika+Shalat%3F++-+http://b2l.me/2dz3g&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Bolehkah+Dahi+Terhalang+Peci+Ketika+Shalat%3F+&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-dahi-terhalang-peci-ketika-shalat/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Apakah%20dahi%20wajib%20menyentuh%20tanah%20atau%20lantai%20secara%20langsung%20tanpa%20terhalangi%20oleh%20kain%20yang%20dipakai%20oleh%20orang%20yang%20sholat%20tersebut%20seperti%20tertutup%20peci%2C%20surban%2C%20atau%20%E2%80%98imamah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-dahi-terhalang-peci-ketika-shalat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Berkabung Bagi Istri</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/keluarga-tanya-ustadz/hukum-berkabung-bagi-istri/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/keluarga-tanya-ustadz/hukum-berkabung-bagi-istri/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Apr 2010 01:37:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>
		<category><![CDATA[ta'ziah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1556</guid>
		<description><![CDATA[Sudah menjadi satu keharusan bagi kita untuk mengetahui hukum dan adab seputar masalah kematian. Diantara masalah yang belum banyak diketahui masyarakat kita, khususnya di Indonesia adalah permasalahan berkabung]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kematian merupakan sunatullah yang pasti menimpa setiap makhluk yang bernyawa, sebagaimana firman Allah:</p>
<p class=arab>كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ</p>
<p><em>Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan</em> (QS. Al Ankabut: 57)<br />
Dan firman Allah:</p>
<p class=arab>الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ</p>
<p><em>Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun</em>. (QS. Al Mulk: 2)</p>
<p>Sehingga sudah menjadi satu keharusan bagi kita untuk mengetahui hukum dan adab seputar masalah ini. Diantara masalah yang belum banyak diketahui masyarakat kita, khususnya di Indonesia adalah permasalahan berkabung.<span id="more-1556"></span></p>
<p>Berkembang dewasa ini atau sebelumnya realita yang menyelisihi syariat islam dalam permasalahan berkabung ini. Diantaranya berkabung dengan menaikkan bendera setengah tiang untuk wafatnya seorang pemimpin atau tokoh besar selama sehari atau tiga hari atau tujuh hari atau lebih. Hal ini jelas tidak ada dasarnya dalam islam. Demikian juga kaum laki-laki berkabung atas kematian salah seorang keluarga atau kerabatnya merupakan satu hal yang tidak disyariatkan, sebab Islam hanya menetapkan berkabung kepada wanita jika suaminya meninggal dunia atau salah satu keluarganya dengan cara-cara tertentu yang telah ditetapkan syari’at dengan istilah <em>Al Hadaad</em>. Sehingga perlu sekali kita mengetahui hukum seputar <em>Al hadaad</em> yang telah ditetapkan syari’at Islam.</p>
<p><strong>Makna Al Hadaad (berkabung) dalam Islam</strong><br />
Berkabung yang dalam bahasa Arabnya adalah Al Hadaad ( ??????????)  bermakna tidak mengenakan perhiasan baik berupa pakaian yang menarik, minyak wangi atau yang lainnya yang dapat menarik orang lain untuk menikahinya[1]. Ada juga yang menyatakan bahwa <em>al Hadaad</em> adalah sikap wanita yang meninggal suaminya tidak mengenakan semua yang dapat menarik orang lain untuk menikahinya berupa minyak wangi, celak mata dan pakaian menarik dan tidak keluar rumah tanpa hajat.[2]</p>
<p><strong>Jenis Berkabung</strong><br />
<em> Al Hadaad</em> ini terbagi menjadi dua, yaitu:</p>
<ol>
<li>Berkabung dari kematian suami selama empat bulan sepuluh hari</li>
<li>Berkabung dari kematian salah satu keluarganya selain suami selama tiga hari.</li>
</ol>
<p>Pembagian ini berdasarkan sabda Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam:</em></p>
<p class=arab>??? ??????? ??????????? ???????? ????????? ??????????? ???????? ???? ??????? ????? ??????? ?????? ??????? ?????? ????? ?????????  ???? ????</p>
<p><em>Tidak boleh seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari Akhir untuk berkabung atas kematian melebihi tiga hari kecuali atas kematian suaminya</em>[3]</p>
<p>Dan dalam riwayat Al Bukhari ada tambahan lafadz :</p>
<p class=arab>?????????? ??????? ???????? ?????????? ???????? ?????????</p>
<p><em>Maka ia berkabung atas hal tersebut (kematian suami) selama empat bulan sepuluh hari</em> [4]</p>
<p><strong>Hukum Berkabung atas kematian suami</strong><br />
Para ulama ahlu sunnah bersepakat kecuali Al Hasan Al Bashri, Al Hakam bin Utaibah dan Al Sya’bi menyatakan bahwa hukum <em><a href=http://ustadzkholid.com/keluarga/hukum-berkabung-bagi-istri/>Al Hadaad</em> jenis yang pertama adalah wajib. Hal ini juga didasari oleh dalil dari Al Qur’an dan Sunnah.</p>
<p>Dalil dari Al Qur’an adalah Firman Allah :</p>
<p class=arab>وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ</p>
<p><em>Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis masa ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu(para wali) memberiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat</em> (QS. Al Baqarah: 234)</p>
<p>Sedangkan dari sunnah adalah hadits dari Zainab bintu Abu Salamah, beliau berkata :</p>
<p class=arab>???????? ????? ???????? ??????? ??????? ????????? ????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ????????? ??? ??????? ??????? ????? ???????? ????????? ??????? ????????? ?????? ????????? ????????? ??????????????? ??????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ??? ??????????? ???? ???????? ????? ?????? ??????? ??? ????? ????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ???????? ???? ?????????? ???????? ???????? ?????? ??????? ???????????? ??? ??????????????? ??????? ????????????? ????? ?????? ?????????</p>
<p><em>Aku telah mendengar Umuu Salamah berkata: Seorang wanita datang menemui Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya putriku ditinggal mati suaminya dan ia mengadukan sakit pada matanya, apakah ia ia boleh mengenakan celak mata? Lalu Rasulullah menjawab: tidak sebanyak dua kali atau tiga kali, semuanya dengan kata tidak. Kemudian Rasulullah berkata: <span style=text-decoration: underline;>Itu harus empat bulan sepuluh hari</span> dan dahulu salah seorang dari kalian dizaman jahiliyah membuang kotoran binatang pada akhir tahun</em> [5]</p>
<p>Demikian juga hadits yang berbunyi:</p>
<p class=arab>??? ??????? ??????????? ???????? ????????? ??????????? ???????? ???? ??????? ????? ??????? ?????? ??????? ?????? ????? ?????????  ???? ????</p>
<p><em>Tidak boleh seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari Akhir untuk berkabung atas kematian melebihi tiga hari kecuali atas kematian suaminya</em> [6]</p>
<p>Perkataan ulama dalam hal ini :</p>
<ul>
<li><span style=text-decoration: underline;>Ibnu Qudamah</span> (wafat tahun 620 H) menyatakan: Kami tidak mengetahui perbedaan pendapat diantara para ulama tentang kewajiban <em>Al Hadaad</em> (berkabung) bagi wanita yang ditinggal mati suaminya kecuali dari Al Hasan, beliau menyatakan tidak wajib. Namun pendapat ini adalah pendapat yang syadz (aneh menyelisihi) pendapat para ulama dan menyelisihi sunnah sehingga tidak dianggap [7].</li>
<li><span style=text-decoration: underline;>Ibnu Al Qayyim</span> (wafat tahun 751H) berkata : Umat telah berijma’ tentang kewajiban <em>Al hadaad</em> bagi wanita yag ditinggal mati suaminya, kecuali yang diriwayatkan dari Al Hasan dan Al Hakam bin Utaibah [8].</li>
</ul>
<p><strong>Hukum berkabung atas kematian salah satu keluarga selain suami</strong></p>
<p>Berkabung atas kematian salah seorang kerabat atau keluarga selain suami diperbolehkan selama tiga hari saja dan tidak boleh lebih. Walaupun diperbolehkan namun bila suami mengajak <a href=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/keluarga-tanya-ustadz/apa-batasan-bermesraan-dengan-istri/>berhubungan intim, maka wanita tersebut tidak boleh menolaknya.</p>
<p>Perkataan ulama dalam hal ini:</p>
<ul>
<li><span style=text-decoration: underline;>Ibnu Hajar Al Asqalani</span> (wafat tahun 852 H) menegaskan: Syari’at memperbolehkan seorang wanita untuk berkabung atas kematian selain suaminya selama tiga hari, karena kesedihan yang mendalam dan penderitaan yang menghujam karena kematian orang tersebut. Hal itu tidak wajib menurut kesepakatan para ulama. Namun seandainya suami mengajaknya berhubungan intim (<em>jima</em>’) maka tidak boleh ia menolaknya [9].</li>
<li><span style=text-decoration: underline;>Ibnu Hazm</span> (wafat tahun 456 H) menyatakan: Seandainya seorang wanita berkabung selama tiga hari atas kematian bapak, saudara, anak, ibu atau kerabat lainnya, maka hal itu mubah [10].</li>
<li><span style=text-decoration: underline;>Ibnu Al Qayyim</span> (wafat tahun 751 H) juga menyatakan: Berkabung atas kematian suami hukumnya wajib dan atas kematian selainnya boleh saja [11].</li>
</ul>
<p><strong>Syarat-syaratnya </strong>[12]</p>
<p>Adapun syarat-syarat diwajibkannya Al Hadaad adalah :</p>
<ol>
<li><span style=text-decoration: underline;>Wanita tersebut berakal dan baligh</span>. Para ulama bersepakat bahwa wanita yang baligh dan berakal diwajibkan Al Hadaad, namun masih berselisih tentang wanita yang masih belum baligh atau gila. Pendapat yang rojih adalah pendapat mayoritas ulama yang mewajibkannya</li>
<li><span style=text-decoration: underline;>Islam</span>. Ini juga telah disepakati para ulama. Namun mereka berselisih pada wanita ahli kitab apakah dikenakan kewaiban ini atau tidak ? pendapat yang rojih adalah pendapat mayoritas ulama yang menyatakan hal itu diwajibkan pada wanita ahli kitab yang menikah dengan muslim, lalu suaminya tersebut meninggal dunia.</li>
<li><span style=text-decoration: underline;>Menikah dengan akad yang shahih</span> (sah)</li>
</ol>
<p><strong>Masa Waktu berkabung dan Cara menghitung harinya</strong><br />
Telah disinggung diatas bahwa masa berkabung bagi wanita adalah empat bulan sepuluh hari. Ini berlaku pada semua wanita kecuali yang hamil. Wanita hamil yang ditinggal mati suaminya berkabung sampai melahirkan, berdasarkan firman Allah <em>Ta&#8217;ala</em>:</p>
<p class=arab>وَاللائِي يَئِسْنَ مِنَ الْمَحِيضِ مِنْ نِسَائِكُمْ إِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلاثَةُ أَشْهُرٍ وَاللائِي لَمْ يَحِضْنَ وَأُولاتُ الأحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا</p>
<p><em>Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya</em> (QS. 65:4)</p>
<p>Dan hadits Suabi’ah yang berbunyi:</p>
<p class=arab>?????? ?????? ???? ?????? ??????? ???? ??????????? ???????????? ????? ?????? ??????? ???? ???????? ?????????? ????? ?????????? ???????????? ???????? ??????? ?????? ?????? ???? ???????? ?????? ??? ????? ??????? ???? ??????? ??????? ??????? ?????? ??????? ??????????? ??????? ??? ??????? ?????????? ?????? ??????? ?????? ???????? ???? ???????? ????????? ?????? ????????? ???????? ????????? ???? ?????????? ??????????? ???????????? ???????? ????????? ????? ???????????? ???? ???????? ?????? ???? ????? ?????? ???????? ??????? ????? ??? ??? ??????? ????????????? ????????? ????????? ?????????? ??????? ????????? ??? ?????? ????????? ?????? ??????? ???????? ?????????? ???????? ???????? ??????? ?????????? ???????? ????? ??? ?????? ???????? ??????? ???????? ????? ?????????? ?????????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ???????????? ???? ?????? ???????????? ???????? ???? ???????? ????? ???????? ??????? ??????????? ?????????????? ???? ????? ???</p>
<p><em>Umar bin Abdillah bin Al Arqam Al Zuhri menulis surat kepada Abdullah bin ‘Utbah memberitahukan kepadanya bahwa Subai’ah telah menceritakan kepadanya bahwa beliau (Subai’ah) adalah istri Sa’ad bin Khaulah yang berasal dari bani ‘Amir bin Lu’ai dan beliau ini termasuk orang yang ikut perang badr. Lalu Sa’ad meninggal dunia pada haji wada’ sedangkan Subai’ah dalam keadaan hamil. Kemudian tidak lama kemudian beliau melahirkan setelah wafat suaminya tersebut. Ketika selesai nifasnya maka Subai’ah berhias untuk dinikahi. Abu Sanaabil bin Ba’kak seorang dari bani Abduddar menemuinya sembari berkata: Mengapa saya lihat kamu berhias, tampaknya kamu ingin menikah? Tidak demi Allah kamu tidak boleh menikah sampai selesai empat bulan sepuluh hari. Subai’ah berkata: ketika ia bicara demikian kepada ku maka aku memakai pakaianku pada sore harinya lalu aku mendatangi Rasululloh dan menanyakan hal tersebut. Kemudian rasululloh memberikan fatwa kepadaku bahwa aku telah halal dengan melahirkan dan memerintahkanku menikah bila ingin</em> [13]</p>
<p>Oleh karena itu imam Ibnu Al Qayyim menyatakan: Adapun orang yang hamil, jika telah melahirkan, maka gugurlah kewajiban berkabungnya tersebut menurut kesepakatan mereka, sehingga ia boleh menikah, berhias dan memakai wangi-wangian untuk suaminya (yang baru) dan berhias sesukanya [14].</p>
<p>Sedangkan Ibnu Hajar menyatakan: Mayoritas ulama dari para salaf dan imam fatwa di negeri-negeri berpendapat bahwa orang yang hamil jika wafat suaminya menjadi halal (boleh menikah) dan selesai masa iddahnya dengan melahirkan [15].</p>
<p>Masa berkabung ini dimulai dari hari kematian suami, walaupun berita kematiannya terlambat ia dengar. Demikianlah pendapat mayoritas para sahabat, imam madzhab yang empat, Ishaaq bin Rahuyah, Abu Ubaid dan Abu Tsaur.[16]</p>
<p>Perhitungannya dengan menggunakan bulan Hijriyah. Sebagai contoh, seorang wanita ditinggal mati suaminya pada lima hari sebelum selesai bulan Dzulhijjah, maka ia hitung sisa Dzulhijah tersebut dan melihat hilal Muharrom, Shafar, Rabi’ul awal dan Rabi’u Ats Tsani, bila telah genap empat bulan tersebut maka ia tambahkan dengan sisa bulan Dzulhijah tersebut dan tambah hari sampai sepuluh hari empat bulan. Kemudian diperbolehkan berhias sebagaimana wanita berhias.</p>
<p><strong>Hal-hal yang dilarang dalam masa berkabung</strong><br />
Diharamkan pada wanita yang berkabung ini semua yang diharamkan pada orang yang menunggu masa iddah dari berhias atau yang lainnya yang dapat menarik untuk menikahinya.</p>
<p>Demikian, mudah-mudahan bermanfaat.</p>
<p>&#8212;</p>
<p><span style=text-decoration: underline;>Catatan kaki</span></p>
<p>[1] Lihat<em> Fathul Bari</em>, Ibnu Hajar, tanpa cetakan dan tahun, <em>Al Maktabah Al Salafiyah</em>, Mesir, hal 3/146</p>
<p>[2] Lihat <em>Al Kalimaat Al Bayyinaat Fi Ahkam Hadaad Al Mukminat</em>, Muhamad Al Hamuud Al Najdi,cetakan pertama tahun 1415 H, Dar Al Fath. Hal 8</p>
<p>[3] Diriwayatkan Imam Muslim dalam <em>Shahih</em>-nya kitab <em>Thalak bab Wujub Al Ihdaad</em> no. 3714.</p>
<p>[4] Diriwayatkan imam Al Bukhari dalam <em>Shahih</em>-nya, Kitab<em> Al Janaaiz</em>, bab <em>Ihdaad Al Mar’ah ‘Ala Ghairi Zaujiha</em>, no. 1280. lihat <em>Fathul Bari</em> op.cit hal 3/146</p>
<p>[5] Diriwayatkan Imam Al Bukhari, kitab <em>Thalaq</em>, Bab <em>Tahiddu Al Mutawaffa ‘Anha Arba’ata Asyhur Wa ‘Asyra</em>, no. 5335. lihat <em>Fathul Bari</em> op.cit hal 9/484</p>
<p>[6] Diriwayatkan Imam Muslim dalam <em>Shahih</em>-nya kitab <em>Thalak bab Wujub Al Ihdaad</em> no. 3714.</p>
<p>[7] <em>Al Mughni</em>, Ibnu Qudamah, tahqiiq Abdulmuhsin bin Abdullah Al Turki dan Abdulfatah bin Muhammad Al Halwu, cetakan kedua tahun 1413H, penerbit Hajar, Kairo , mesir hal. 11/284.</p>
<p>[8] <em>Zaad Al Ma’ad Fi Hadyu Khoirul Ibad</em>, Ibnu Al Qayyim, Tahqiiq Syu’aib Al Arnauth dan Abdulqadir Al Arnauth, cetakan ketiga tahun 1421H <em>Muassat Al Risalah</em> hal 5/618</p>
<p>[9] <em>Fathul Bari</em> op.cit 3/146.</p>
<p>[10] <em>Al Muhalla</em>, Ibnu Hazm Tahqiq Ahmad Muhammad Syakir, tanpa cetakan dan tahun, Daar Al Turats, Mesir. Hal 10/280</p>
<p>[11] <em>Zaad Al Ma’ad</em>, op.cit 5/618.</p>
<p>[12] diringkas secara bebas dari <em>Al Kalimaat Al Bayyinaat Fi Ahkam Hadaad Al Mukminat</em>, Muhamad Al Hamuud Al Najdi, op.cit hal 11-13</p>
<p>[13] Diriwayatkan Imam Muslim dalam <em>Shahih</em>-nya, kitab <em>Thalak</em>, bab  <em>Inqidho Al Mutawaaffa ‘Anha <span style=font-style: normal;><em>Jauzuha</em> no. 3707</span></em></p>
<p>[14] <em>Zaad Al Ma’ad</em> op.cit hal 5/619.</p>
<p>[15] <em>Fathul bari</em> op.cit hal 9/474.</p>
<p>[16] Lihat <em>Al kalimaat Al Bayyinat,</em> op.cit hal 19.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc<br />
Artikel <a href=http://ustadzkholid.com>UstadzKholid.Com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/keluarga-tanya-ustadz/hukum-berkabung-bagi-istri/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/keluarga-tanya-ustadz/hukum-berkabung-bagi-istri/&amp;title=Hukum+Berkabung+Bagi+Istri" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/keluarga-tanya-ustadz/hukum-berkabung-bagi-istri/&amp;title=Hukum+Berkabung+Bagi+Istri" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/keluarga-tanya-ustadz/hukum-berkabung-bagi-istri/&amp;t=Hukum+Berkabung+Bagi+Istri" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/keluarga-tanya-ustadz/hukum-berkabung-bagi-istri/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Hukum+Berkabung+Bagi+Istri+-+http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/keluarga-tanya-ustadz/hukum-berkabung-bagi-istri/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/keluarga-tanya-ustadz/hukum-berkabung-bagi-istri/&amp;title=Hukum+Berkabung+Bagi+Istri" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/keluarga-tanya-ustadz/hukum-berkabung-bagi-istri/&amp;title=Hukum+Berkabung+Bagi+Istri" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Hukum+Berkabung+Bagi+Istri+-+http://b2l.me/xn39H&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Hukum+Berkabung+Bagi+Istri&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/keluarga-tanya-ustadz/hukum-berkabung-bagi-istri/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Sudah%20menjadi%20satu%20keharusan%20bagi%20kita%20untuk%20mengetahui%20hukum%20dan%20adab%20seputar%20masalah%20kematian.%20Diantara%20masalah%20yang%20belum%20banyak%20diketahui%20masyarakat%20kita%2C%20khususnya%20di%20Indonesia%20adalah%20permasalahan%20berkabung" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/keluarga-tanya-ustadz/hukum-berkabung-bagi-istri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kapan Zakat Pertanian Dibayarkan?</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/kapan-zakat-pertanian-dibayarkan/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/kapan-zakat-pertanian-dibayarkan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Apr 2010 01:51:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1546</guid>
		<description><![CDATA[Apakah wajib zakat atas panen padi yang dihasilkan setelah 6 bulan, 4 bulan diairi hujan dan 2 bulan diairi dengan alat pengairan. Jika ya, berapakah kadarnya?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apakah wajib zakat atas panen padi yang dihasilkan setelah 6 bulan, 4 bulan diairi hujan dan 2 bulan diairi dengan alat pengairan. Jika ya, berapakah kadarnya?</p>
<p style=text-align: right;>08135107xxxx</p>
<p><span id="more-1546"></span><br />
<strong>Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. menjawab:</strong><br />
Syariat islam telah mewajibkan zakat pada harta kita dan diantaranya adalah hasil pertanian yang dikeluarkan ketika panen atau setelah panen. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah <em>Ta&#8217;ala</em> (yang artinya) :<br />
<em>Dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan</em>. (QS Al-An’aam: 141)</p>
<p>Namun tentunya juga syariat menetapkan syarat-syarat yang harus diperhatikan setiap muslim yang ingin berzakat. Diantara syarat kewajiban zakat hasil pertanian dan perkebunan adalah:</p>
<ol>
<li><span style=text-decoration: underline;>Berbentuk biji atau buah-buahan</span>, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Sa’id Al Khudri yang berbunyi
<p class=arab>?????? ???? ????? ????? ?????? ???????? ?????? ???????? ???????? ?????????</p>
<p><em>Tidak ada pada biji-bijian dan kurma zakat hingga mencapai lima wasaq</em> (HR. Bukhari no.1459, Muslim no.979 )</li>
<li><span style=text-decoration: underline;>Dapat ditakar atau ditimbang</span>, karena ukuranya dengan wasaq sehingga yang tidak ditakar dan ditimbang tidak diwajibkan zakat padanya.</li>
<li><span style=text-decoration: underline;>Dapat disimpan lama</span> (<em>Muddakhar</em>), seperti gandum, beras, jagung, kurma, anggur kering  dll.</li>
<li><span style=text-decoration: underline;>Tumbuh ditanam manusia dan memiliki pemilik</span>.</li>
<li><span style=text-decoration: underline;>Mencapai nishab</span> (standar zakat), yaitu seukuran 5 wasaq yang setara dengan 300 sha’ atau 750 kg (apabila satu sha’ = 2,5 kg), berdasarkan sabda Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> :
<p class=arab>?????? ??????? ????? ???????? ???????? ????????&#8230;</p>
<p><em>Tidak ada dibawah lima wasaq zakat</em> (HR. Bukhari no.1447, Muslim no.979)</li>
</ol>
<p>Apabila memenuhi syarat-syarat diatas maka ketika panen atau setelahnya wajib dikeluarkan zakat bila tanpa pembiayaan pengairan atau tadah hujan 1/10 atau (10%) dari hasil panen dan bila dengan adanya pembiayaan pengairan maka dikenakan 1/20 atau 5 % dari hasil panen. Hal ini dijelaskan dalam sabda beliau <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> :</p>
<p class=arab>??????? ?????? ?????????? ?????????????? ???? ????? ????????? ?????????? ????? ?????? ??????????? : ?????? ?????????</p>
<p><em>Pada pertanian yang disirami langit (hujan) dan mata air atau pengairan yang tidak membutuhkan pembiayaan maka sepersepuluh (10 %) dan yang disirami dengan pengairan yang butuh pembiayaan maka seperduapuluh (5 %)</em>. (HR Al-Bukhari no.1483)</p>
<p>Ukuran ini apabila tidak tercampur kedua system pengairan ini. Apabila tercampur antara tadah hujan dengan pengairan dengan biaya dalam satu usaha penanaman maka dapat dirinci sebagai berikut:</p>
<blockquote><p>Apabila seimbang antara tadah hujan dengan pengairan dengan pembiayaan maka diambil 3/40 atau 7,5 % sebagaimana dijelaskan Imam Ibnu Qudamah dalam kitab <em>Al-Mughni</em> (4/165) dan ada yang menukilkan ijma’ ulama atas hal ini.</p>
<p>Permasalahan yang saudara sampaikan ada pada keadaan perbedaan ukuran antara yang disiram dengan tadah hujan dan yang diairi dengan pembiayaan. Dalam hal ini para ulama menetapkan ukurannya terhadap mana yang lebih memberikan manfaat kepada tanaman tersebut. Apabila pertumbuhan tanaman dengan pembiayaan lebih banyak dari pertumbuhan dengan sebab tadah hujan maka yang dikeluarkan hanya 5 % saja sedangkan bila sebaliknya maka harus dikeluarkan 10 %.</p></blockquote>
<p>Nah melihat keadaan saudara nampaknya tadah hujan lebih dominan dari pada pengairan dengan pembiayaan, sehingga saudara harus mengeluarkan 10 % dari hasil panen.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc<br />
Artikel <a href=http://ustadzkholid.com>UstadzKholid.Com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/kapan-zakat-pertanian-dibayarkan/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/kapan-zakat-pertanian-dibayarkan/&amp;title=Kapan+Zakat+Pertanian+Dibayarkan%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/kapan-zakat-pertanian-dibayarkan/&amp;title=Kapan+Zakat+Pertanian+Dibayarkan%3F" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/kapan-zakat-pertanian-dibayarkan/&amp;t=Kapan+Zakat+Pertanian+Dibayarkan%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/kapan-zakat-pertanian-dibayarkan/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Kapan+Zakat+Pertanian+Dibayarkan%3F+-+http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/kapan-zakat-pertanian-dibayarkan/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/kapan-zakat-pertanian-dibayarkan/&amp;title=Kapan+Zakat+Pertanian+Dibayarkan%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/kapan-zakat-pertanian-dibayarkan/&amp;title=Kapan+Zakat+Pertanian+Dibayarkan%3F" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Kapan+Zakat+Pertanian+Dibayarkan%3F+-+http://b2l.me/n8eak&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Kapan+Zakat+Pertanian+Dibayarkan%3F&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/kapan-zakat-pertanian-dibayarkan/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Apakah%20wajib%20zakat%20atas%20panen%20padi%20yang%20dihasilkan%20setelah%206%20bulan%2C%204%20bulan%20diairi%20hujan%20dan%202%20bulan%20diairi%20dengan%20alat%20pengairan.%20Jika%20ya%2C%20berapakah%20kadarnya%3F" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/kapan-zakat-pertanian-dibayarkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shaf Wanita Dalam Shalat Berjama&#8217;ah</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/shaf-wanita-dalam-shalat-berjamaah/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/shaf-wanita-dalam-shalat-berjamaah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Apr 2010 01:07:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1541</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana posisi shaf perempuan yang shalat berjamaah bersama perempuan dan dimanakah letak imam dan makmum?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagaimana posisi shaf perempuan yang shalat berjamaah bersama perempuan dan dimanakah letak imam dan makmum?</p>
<p style=text-align: right;><em>Ummu Hana<br />
Karang Anyar</em></p>
<p style=text-align: left;><span id="more-1541"></span></p>
<p><strong>Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. menjawab:</strong><br />
Perempuan jika shalat berjama&#8217;ah bersama peremupuan tanpa ada laki-laki di sana maka mereka membuat shaf sebagaimana biasa. Jika jumlahnya banyak maka berbaris, namun jika sedikit tidak berbaris. Sedangkan imamnya berada ditengah dan makmumnya berada di sebelah kanan dan kirinya. Inilah yang dicontohkan oleh &#8216;Aisyah dan Ummu Salamah<em> Radhiallahu&#8217;anhuma</em>.</p>
<p>Sebagaimana disampaikan dalam <em>Al Mushannaf</em> Abdurrazzaq Ash Shan&#8217;ani, juga dibawakan oleh Syaikh Musthafa Al Adawi dalam <em>Jami&#8217; Ahkam An Nisa</em>.</p>
<p><em>Wallahu Ta&#8217;ala A&#8217;lam</em>.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.<br />
Artikel <a href=http://ustadzkholid.com>UstadzKholid.Com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/shaf-wanita-dalam-shalat-berjamaah/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/shaf-wanita-dalam-shalat-berjamaah/&amp;title=Shaf+Wanita+Dalam+Shalat+Berjama%27ah" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/shaf-wanita-dalam-shalat-berjamaah/&amp;title=Shaf+Wanita+Dalam+Shalat+Berjama%27ah" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/shaf-wanita-dalam-shalat-berjamaah/&amp;t=Shaf+Wanita+Dalam+Shalat+Berjama%27ah" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/shaf-wanita-dalam-shalat-berjamaah/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Shaf+Wanita+Dalam+Shalat+Berjama%27ah+-+http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/shaf-wanita-dalam-shalat-berjamaah/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/shaf-wanita-dalam-shalat-berjamaah/&amp;title=Shaf+Wanita+Dalam+Shalat+Berjama%27ah" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/shaf-wanita-dalam-shalat-berjamaah/&amp;title=Shaf+Wanita+Dalam+Shalat+Berjama%27ah" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Shaf+Wanita+Dalam+Shalat+Berjama%27ah+-+http://b2l.me/xn8rx&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Shaf+Wanita+Dalam+Shalat+Berjama%27ah&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/shaf-wanita-dalam-shalat-berjamaah/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Bagaimana%20posisi%20shaf%20perempuan%20yang%20shalat%20berjamaah%20bersama%20perempuan%20dan%20dimanakah%20letak%20imam%20dan%20makmum%3F" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/shaf-wanita-dalam-shalat-berjamaah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jika Sudah Iqamah, Makan Atau Shalat?</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-sudah-iqamah-makan-atau-shalat/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-sudah-iqamah-makan-atau-shalat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Mar 2010 09:47:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[TanyaUstadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1519</guid>
		<description><![CDATA[Bila makanan sudah terhidang, sedangkan iqamah sudah dikumandangkan, manakah yang lebih diutamakan? Makan dahulu ataukah shalat berjama'ah?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bila <span style=text-decoration: underline;>makanan sudah terhidang</span>, sedangkan iqamah sudah dikumandangkan, manakah yang lebih diutamakan? Makan dahulu ataukah shalat berjama&#8217;ah?</p>
<p style=text-align: right;><em>Yusuf, Palur</em></p>
<p style=text-align: left;><span id="more-1519"></span></p>
<p><strong>Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. menjawab:</strong><br />
Yang utama kita mendahulukan makan, sebagaimana sabda Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>:</p>
<p class=arab>?? ???? ????? ??????</p>
<p>“<em>Tidak ada shalat padahal makanan sudah terhidang</em>” (HR. Muslim, no.560)</p>
<p>Hal ini juga membantu agar shalat dapat lebih khusyuk dan tidak terganggu dengan makanan tersebut. Maka hendaknya mendahulukan makan, kemudian mempercepat makannya, kemudian shalat.</p>
<p>Apabila kemudian ia tidak mendapatkan shalat berjama&#8217;ah maka para ulama rahimahumullah mengatakan, orang yang meninggalkan shalat berjama&#8217;ah karena udzur <span style=text-decoration: underline;>tetap mendapatkan pahala shalat berjama&#8217;ah</span>. <em>Wallahu&#8217;alam</em></p>
<p><em>&#8212;</em></p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi. Lc.<br />
Artikel <a href=http://ustadzkholid.com>UstadzKholid.Com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-sudah-iqamah-makan-atau-shalat/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-sudah-iqamah-makan-atau-shalat/&amp;title=Jika+Sudah+Iqamah%2C+Makan+Atau+Shalat%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-sudah-iqamah-makan-atau-shalat/&amp;title=Jika+Sudah+Iqamah%2C+Makan+Atau+Shalat%3F" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-sudah-iqamah-makan-atau-shalat/&amp;t=Jika+Sudah+Iqamah%2C+Makan+Atau+Shalat%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-sudah-iqamah-makan-atau-shalat/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Jika+Sudah+Iqamah%2C+Makan+Atau+Shalat%3F+-+http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-sudah-iqamah-makan-atau-shalat/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-sudah-iqamah-makan-atau-shalat/&amp;title=Jika+Sudah+Iqamah%2C+Makan+Atau+Shalat%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-sudah-iqamah-makan-atau-shalat/&amp;title=Jika+Sudah+Iqamah%2C+Makan+Atau+Shalat%3F" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Jika+Sudah+Iqamah%2C+Makan+Atau+Shalat%3F+-+http://b2l.me/n8eax&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Jika+Sudah+Iqamah%2C+Makan+Atau+Shalat%3F&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-sudah-iqamah-makan-atau-shalat/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Bila%20makanan%20sudah%20terhidang%2C%20sedangkan%20iqamah%20sudah%20dikumandangkan%2C%20manakah%20yang%20lebih%20diutamakan%3F%20Makan%20dahulu%20ataukah%20shalat%20berjama%27ah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-sudah-iqamah-makan-atau-shalat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Aqiqah Ketika Sudah Dewasa</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-aqiqah-ketika-sudah-dewasa/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-aqiqah-ketika-sudah-dewasa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Mar 2010 09:24:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Aqiqah]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[TanyaUstadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1491</guid>
		<description><![CDATA[Ada seorang anak yang sudah baligh, yang dulunya anak tersebut oleh orang tuanya belum diaqiqahi, kemudian setelah baligh orang tuanya ingin mengaqiqahi. Apakah hal ini diperbolehkan dalam syariat Islam? Kemudian apakah hukumnya wajib bagi orang tua untuk mengaqiqahi anaknya?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu&#8217;alaykum ustadz. Ana mau tanya, ada seorang anak yang sudah baligh, yang dulunya anak tersebut oleh orang tuanya belum diaqiqahi, kemudian setelah baligh orang tuanya ingin mengaqiqahi. Apakah hal ini diperbolehkan dalam syariat Islam? Kemudian apakah hukumnya wajib bagi orang tua untuk mengaqiqahi anaknya? <em>Jazaakallahu khairan</em> ustadz&#8230;</p>
<p style="text-align: right;"><em>Wachid M.A.I<br />
Alamat: Cangkringan, Sleman, DIY<br />
Email: gusxxxx@yahoo.co.id</em></p>
<p align="left"><span id="more-1491"></span></p>
<p><strong>Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal menjawab:</strong><br />
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang meniti jalan mereka hingga akhir zaman.</p>
<p>Mengenai permasalahan ini, kita bisa mengambil pelajaran dari dua fatwa Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin berikut dalam <em>Liqo-at Al Bab Al Maftuh</em>. Semoga bermanfaat.</p>
<p><strong>[Pertama]</strong></p>
<p>Soal:</p>
<p>Ada seorang ayah yang memiliki sepuluh anak perempuan dan mereka semua belum diaqiqohi, namun sekarang mereka sudah berkeluarga. Apa yang mesti dilakukan oleh anak-anaknya? Apa sebenarnya hukum aqiqah?Apakah betul apabila seorang anak tidak diaqiqohi, maka ia tidak akan memberi syafaat pada orang tuanya?</p>
<p>Jawab:</p>
<p>Hukum aqiqah adalah sunnah mu’akkad. Aqiqah bagi anak laki-laki dengan dua ekor kambing, sedangkan bagi wanita dengan seekor kambing. Apabila mencukupkan diri dengan seekor kambing bagi anak laki-laki, itu juga diperbolehkan.[1] Anjuran aqiqah ini menjadi kewajiban ayah (yang menanggung nafkah anak, pen). Apabila ketika waktu dianjurkannya aqiqah (misalnya tujuh hari kelahiran, pen), orang tua dalam keadaan faqir (tidak mampu), maka ia tidak diperintahkan untuk aqiqah. Karena Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “<em>Bertakwalah kepada Allah semampu kalian</em>” (QS. At Taghobun: 16). Namun apabila ketika waktu  dianjurkannya aqiqah, orang tua dalam keadaan berkecukupan, maka aqiqah masih tetap jadi kewajiban ayah, bukan ibu dan bukan pula anaknya.</p>
<p>[<em>Liqo-at Al Bab Al Maftuh</em>, Syaikh Muhammad bin Sholih Al 'Utsaimin, kaset 214, no. 6]</p>
<p><strong>[Kedua]</strong></p>
<p>Soal:</p>
<p>Apabila seseorang tidak diaqiqahi ketika kecil, apakah ia tetap dianjurkan untuk diaqiqahi ketika dewasa? Apa saja batasan masih dibolehkannya aqiqah?</p>
<p>Jawab:</p>
<p>Apabila orang tuanya dahulu adalah orang yang tidak mampu pada saat waktu dianjurkannya aqiqah (yaitu pada hari ke-7, 14, atau 21 kelahiran, pen), maka ia tidak punya kewajiban apa-apa walaupun mungkin setelah itu orang tuanya menjadi kaya. Sebagaimana apabila seseorang miskin ketika waktu pensyariatan zakat, maka ia tidak diwajibkan mengeluarkan zakat, meskipun setelah itu kondisinya serba cukup. Jadi apabila keadaan orang tuanya tidak mampu ketika pensyariatan aqiqah, maka aqiqah menjadi gugur karena ia tidak memiliki kemampuan.</p>
<p>Sedangkan jika orang tuanya mampu ketika ia lahir, namun ia menunda aqiqah hingga anaknya dewasa, maka pada saat itu anaknya tetap diaqiqahi walaupun sudah dewasa.</p>
<p>Adapun waktu utama aqiqah adalah hari ketujuh kelahiran, kemudian hari keempatbelas kelahiran, kemudian hari keduapuluh satu kelahiran, kemudian setelah itu terserah tanpa melihat kelipatan tujuh hari.</p>
<p>Aqiqah untuk anak laki-laki dengan dua ekor kambing. Namun anak laki-laki boleh juga dengan satu ekor kambing. Sedangkan aqiqah untuk anak perempuan dengan satu ekor kambing dan lebih utama tidak menambahnya dari jumlah ini.</p>
<p>[<em>Liqo-at Al Bab Al Maftuh</em>, Syaikh Muhammad bin Sholih Al 'Utsaimin, kaset 234, no. 6]</p>
<p><strong>Pelajaran Penting Seputar Aqiqah</strong></p>
<p>Hukum aqiqah adalah sunnah mu’akkad dan seharusnya tidak ditinggalkan oleh orang yang mampu melakukannya.<br />
Aqiqah bagi anak laki-laki afdholnya dengan dua ekor kambing, namun dengan seekor kambing juga dibolehkan. Sedangkan aqiqah bagi anak perempuan adalah dengan seekor kambing.</p>
<p>Waktu utama aqiqah adalah hari ke-7 kelahiran, kemudian hari ke-14 kelahiran, kemudian hari ke-21 kelahiran, kemudian setelah itu terserah tanpa melihat hari kelipatan tujuh. Pendapat ini adalah pendapat ulama Hambali, namun dinilai lemah oleh ulama Malikiyah. Jadi, jika aqiqah dilaksanakan sebelum atau setelah waktu tadi sebenarnya diperbolehkan. Karena yg penting adalah aqiqahnya dilaksanakan. (Lihat <em>Shahih Fiqih Sunnah</em>, 2/383)</p>
<p>Aqiqah asalnya menjadi beban ayah selaku pemberi nafkah. Aqiqah ditunaikan dari harta ayah, bukan dari harta anak. Orang lain tidak boleh melaksanakan aqiqah selain melalui izin ayah. (Lihat <em>Shahih Fiqih Sunnah</em>, 2/382)</p>
<p>Imam Asy Syafi’i mensyaratkan bahwa yang dianjurkan aqiqah adalah orang yang mampu. (Lihat <em>Shahih Fiqih Sunnah</em>, 2/382)<br />
Apabila ketika waktu pensyariatan aqiqah (sebelum dewasa), orang tua dalam keadaan tidak mampu, maka aqiqah menjadi gugur, walaupun nanti beberapa waktu kemudian orang tua menjadi kaya. Sebaliknya apabila ketika waktu pensyariatan aqiqah (sebelum dewasa), orang tua dalam keadaan kaya, maka orang tua tetap dianjurkan mengaqiqahi anaknya meskipun anaknya sudah dewasa.</p>
<p>Imam Asy Syafi’i memiliki pendapat bahwa aqiqah tetap dianjurkan walaupun diakhirkan. Namun disarankan agar tidak diakhirkan hingga usia baligh. Jika aqiqah diakhirkan hingga usia baligh, maka kewajiban orang tua menjadi gugur. Akan tetapi ketika itu, anak punya pilihan, boleh mengaqiqahi dirinya sendiri atau tidak. (Lihat Shahih Fiqih Sunnah, 2/383)<br />
Perhitungan hari ke-7 kelahiran, hari pertamanya dihitung mulai dari hari kelahiran. Misalnya si bayi lahir pada hari Senin, maka hari ke-7 kelahiran adalah hari Ahad. Berarti hari Ahad adalah hari pelaksanaan aqiqah. [Keterangan Syaikh Ibnu Utsaimin lainnya, <em>Liqo-at Al Bab Al Maftuh</em>, kaset 161, no. 24]</p>
<p>Pendapat yang menyatakan, “Jika seseorang anak tidak diaqiqahi, maka ia tidak akan memberi syafaat kepada orang tuanya pada hari kiamat nanti”, ini adalah pendapat yang lemah sebagaimana dilemahkan oleh Ibnul Qayyim. [Keterangan Syaikh Ibnu Utsaimin lainnya, <em>Liqo-at Al Bab Al Maftuh</em>, kaset 161, no. 24]</p>
<p>Demikian pembahasan ringkas mengenai aqiqah. Semoga bermanfaat bagi kaum muslimin.</p>
<p>Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad, keluarga, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga akhir zaman.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal<br />
Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.Com</a>, juga dipublikasikan di <a href="http://rumaysho.com">Rumaysho.Com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-aqiqah-ketika-sudah-dewasa/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-aqiqah-ketika-sudah-dewasa/&amp;title=Hukum+Aqiqah+Ketika+Sudah+Dewasa" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-aqiqah-ketika-sudah-dewasa/&amp;title=Hukum+Aqiqah+Ketika+Sudah+Dewasa" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-aqiqah-ketika-sudah-dewasa/&amp;t=Hukum+Aqiqah+Ketika+Sudah+Dewasa" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-aqiqah-ketika-sudah-dewasa/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Hukum+Aqiqah+Ketika+Sudah+Dewasa+-+http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-aqiqah-ketika-sudah-dewasa/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-aqiqah-ketika-sudah-dewasa/&amp;title=Hukum+Aqiqah+Ketika+Sudah+Dewasa" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-aqiqah-ketika-sudah-dewasa/&amp;title=Hukum+Aqiqah+Ketika+Sudah+Dewasa" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Hukum+Aqiqah+Ketika+Sudah+Dewasa+-+http://b2l.me/n8uaF&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Hukum+Aqiqah+Ketika+Sudah+Dewasa&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-aqiqah-ketika-sudah-dewasa/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Ada%20seorang%20anak%20yang%20sudah%20baligh%2C%20yang%20dulunya%20anak%20tersebut%20oleh%20orang%20tuanya%20belum%20diaqiqahi%2C%20kemudian%20setelah%20baligh%20orang%20tuanya%20ingin%20mengaqiqahi.%20Apakah%20hal%20ini%20diperbolehkan%20dalam%20syariat%20Islam%3F%20Kemudian%20apakah%20hukumnya%20wajib%20bagi%20orang%20tua%20untuk%20mengaqiqahi%20anaknya%3F" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/hukum-aqiqah-ketika-sudah-dewasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Sebenarnya Hukum Musik?</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/bagaimana-sebenarnya-hukum-musik/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/bagaimana-sebenarnya-hukum-musik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 03:27:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[TanyaUstadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1495</guid>
		<description><![CDATA[Sudah diketahui bahwa musik memang menghanyutkan jiwa dan terkadang membangkitkan nafsu, namun masih ada orang yang dianggap mufti atau ustad membolehkan bernyanyi dalam batas-batas tertentu. Mohon penjabarannya, adakah sahabat yang membolehkan alat-alat musik dan nyanyian?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah diketahui bahwa musik memang menghanyutkan jiwa dan terkadang membangkitkan nafsu, namun masih ada orang yang dianggap mufti atau ustad membolehkan bernyanyi dalam batas-batas tertentu. Mohon penjabarannya, adakah sahabat yang membolehkan alat-alat musik dan nyanyian?</p>
<p style="text-align: right;"><em>Ikhsan Wibowo<br />
Alamat: Qatar<br />
Email: ichan_almustadhxxxx@yahoo.com</em>
</p>
<p align="left"><span id="more-1495"></span></p>
<p><strong>Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal menjawab:</strong><br />
Hidup di akhir zaman, siapa saja tidak lepas dari lantunan suara musik atau nyanyian. Mungkin di antara kita –dulunya- adalah orang-orang yang sangat gandrung terhadap lantunan suara seperti itu. Bahkan mendengar lantunan tersebut juga sudah menjadi sarapan tiap harinya. Itulah yang juga terjadi pada sosok si fulan. Hidupnya dulu tidaklah bisa lepas dari “gitar” dan musik. Namun, sekarang hidupnya jauh berbeda. Setelah Allah mengenalkannya dengan Al Haq (penerang Al Qur’an dan As Sunnah), dia pun perlahan-lahan menjauhi berbagai nyanyian. Alhamdulillah, dia pun mendapatkan ganti yang lebih baik yaitu dengan <em>Kalamullah</em> (Al Qur’an) yang semakin membuat dirinya  mencintai dan merindukan perjumpaan dengan Allah.<br />
Lalu apa yang menyebabkan hatinya bisa berpaling kepada Kalamullah dan meninggalkan nyanyian? Tentu saja, karena taufik Allah kemudian siraman ilmu. Dengan ilmu syar’i yang dia dapati, hatinya mulai tergerak dan mulai sadarkan diri. Dengan mengetahui dalil Al Qur’an dan Hadits yang membicarakan bahaya lantunan yang melalaikan, dia pun mulai meninggalkannya perlahan-lahan. Juga dengan bimbingan kalam-kalam para ulama, dia semakin jelas dengan hukum keharamannya.</p>
<p>Alangkah baiknya jika kita melihat dalil-dalil yang dimaksudkan dan juga perkataan para ulama masa silam mengenai hukum nyanyian. Mungkin kita adalah di antara orang-orang yang gandrung. Semoga dengan mengetahui hal ini, Allah membuka hati kita dan memberi hidayah pada kita seperti yang didapatkan si fulan tadi. <em>Allahumma a’in wa yassir</em> (Ya Allah, tolonglah dan mudahkanlah).</p>
<p><strong>Beberapa Ayat Al Qur’an yang Membicarakan “Nyanyian”</strong></p>
<p><strong>[Pertama]</strong> Nyanyian dikatakan sebagai “<em>lahwal hadits</em>” (perkataan yang tidak berguna)<br />
Allah Ta’ala berfirman,<br />
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا وَلَّى مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا كَأَنَّ فِي أُذُنَيْهِ وَقْرًا فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ<br />
“<em>Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah padanya dengan azab yang pedih</em>” (QS. Luqman: 6-7)</p>
<p>Ibnu Jarir Ath Thabariy -<em>rahimahullah</em>- dalam kitab tafsirnya mengatakan bahwa para pakar tafsir berselisih pendapat apa yang dimaksud dengan “lahwal hadits” dalam ayat tersebut. Sebagian mereka mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah nyanyian dan mendengarkannya. Lalu setelah itu Ibnu Jarir menyebutkan beberapa perkataan ulama salaf mengenai tafsiran ayat tersebut. Di antaranya adalah dari Abu Ash Shobaa’ Al Bakri –<em>rahimahullah</em>-. Beliau mengatakan bahwa dia mendengar Ibnu Mas’ud ditanya mengenai tafsiran ayat tersebut, lantas beliau –<em>radhiyallahu ‘anhu</em>- mengatakan, “Yang dimaksud adalah nyanyian, demi Dzat yang tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi selain Dia.” Beliau menyebutkan makna tersebut sebanyak tiga kali. (Lihat <em>Jami’ul Bayan fii Ta’wilil Qur’an</em>, 20/127).</p>
<p>Begitu pula tafsiran yang sama dikatakan oleh Mujahid, Sa’ib bin Jubair, ‘Ikrimah, dan Qotadah. Dari Ibnu Abi Najih, Mujahid berkata bahwa yang dimaksud lahwu hadits adalah bedug (genderang). (<em>Zaadul Masiir</em>, Ibnul Jauziy, 5/105).</p>
<p>Asy Syaukani dalam kitab tafsirnya mengatakan, “Lahwal hadits adalah segala sesuatu yang melalaikan seseorang dari berbuat baik. Hal itu bisa berupa nyanyian, permainan, cerita-cerita bohong dan setiap kemungkaran.” Lalu Asy Syaukani menukil perkataan Al Qurtubhi yang mengatakan bahwa tafsiran yang paling bagus untul makna lahwal hadits adalah nyanyian. Inilah pendapat para sahabat dan tabi’in. (Lihat <em>Fathul Qadir</em>, 5/483)</p>
<p>Jika ada yang mengatakan, “<em>Penjelasan tadi kan hanya penafsiran sahabat, bagaimana mungkin bisa jadi hujjah (dalil)</em>?”</p>
<p>Maka cukup kami katakan bahwa tafsiran sahabat terhadap suatu ayat bisa sebagai hujjah bahkan bisa dianggap sama dengan hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> (derajat <em>marfu’</em>). Simaklah perkataan Ibnul Qayyim setelah menjelaskan penafsiran mengenai “<em>lahwal hadits</em>” sebagai berikut,<br />
“Al Hakim Abu ‘Abdillah dalam kitab tafsirnya di <em>Al Mustadrok</em> mengatakan bahwa seharusnya setiap yang haus akan ilmu mengetahui bahwa tafsiran sahabat –di mana para sahabat lah yang menyaksikan turunnya wahyu- menurut Bukhari dan Muslim dianggap sebagai perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di tempat lainnya beliau mengatakan bahwa menurutnya tafsiran sahabat tentang suatu ayat sama statusnya dengan hadits marfu’ (yang sampai pada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>).” Lalu Ibnul Qayyim mengatakan, “Walaupun itu adalah tafsiran sahabat, tetap tafsiran mereka lebih didahulukan daripada tafsiran orang-orang sesudahnya. Alasannya, mereka adalah umat yang paling mengerti tentang maksud dari ayat yang diturunkan oleh Allah karena Al Qur’an turun di masa mereka hidup.”(Lihat <em>Ighatsatul Lahfan</em>, 1/240)</p>
<p>Jadi, jelaslah bahwa makna lahwal hadits dengan nyanyian patut kita terima karena ini adalah perkataan sahabat yang statusnya bisa sama dengan sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p><strong>[Kedua]</strong> Orang-orang yang bernyanyi disebut “<em>saamiduun</em>”</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p>أَفَمِنْ هَذَا الْحَدِيثِ تَعْجَبُونَ , وَتَضْحَكُونَ وَلا تَبْكُونَ , وَأَنْتُمْ سَامِدُونَ , فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا<br />
“<em>Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis? Sedang kamu saamiduun? Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)</em>” (QS. An Najm: 59-62)</p>
<p>Apa yang dimaksud <em>saamiduun</em>?</p>
<p>Menurut salah satu pendapat, makna saamiduun adalah bernyanyi dan ini berasal dari bahasa orang Yaman. Mereka biasa menyebut “<em>ismud lanaa</em>” dan maksudnya adalah: “<em>Bernyanyilah untuk kami</em>”. Pendapat ini diriwayatkan dari ‘Ikrimah dan Ibnu ‘Abbas. (Lihat <em>Zaadul Masiir</em>, 5/448)<br />
‘Ikrimah mengatakan, “Mereka biasa mendengarkan Al Qur’an, lalu mereka malah bernyanyi. Kemudian turunlah ayat ini (surat An Najm di atas).” (<em>Ighatsatul Lahfan</em>, /258)<br />
Jadi, dalam dua ayat ini teranglah bahwa mendengarkan “nyanyian” adalah suatu yang dicela dalam Al Qur’an.</p>
<p><strong>Perkataan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> Mengenai Nyanyian</strong></p>
<p><strong>[Hadits Pertama]</strong></p>
<p>Bukhari membawakan dalam Bab “Siapa yang menghalalkan khomr dengan selain namanya” sebuah riwayat dari Abu ‘Amir atau Abu Malik Al Asy’ari telah menceritakan bahwa dia tidak berdusta, lalu dia menyampaikan sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p>???????????? ???? ???????? ????????? ?????????????? ??????? ???????????? ??????????? ?????????????? ? ??????????????? ????????? ????? ?????? ?????? ??????? ?????????? ??????????? ?????? ? ??????????? &#8211; ??????? ?????????? &#8211; ????????? ??????????? ??????? ????????? ????? . ??????????????? ??????? ???????? ????????? ? ?????????? ???????? ???????? ???????????? ????? ?????? ????????????<br />
“<em>Sungguh, benar-benar akan ada di kalangan umatku sekelompok orang yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan alat musik. Dan beberapa kelompok orang akan singgah di lereng gunung dengan binatang ternak mereka. Seorang yang fakir mendatangi mereka untuk suatu keperluan, lalu mereka berkata, ‘Kembalilah kepada kami esok hari.’ Kemudian Allah mendatangkan siksaan kepada mereka dan menimpakan gunung kepada mereka serta Allah mengubah sebagian mereka menjadi kera dan babi hingga hari kiamat</em>” (Diriwayatkan oleh Bukhari secara <em>mu’allaq</em> dengan lafazh jazm/ tegas). Jika dikatakan &#8216;<em>menghalalkan musik</em>&#8216;, berarti musik itu haram.</p>
<p>Hadits di atas dishahihkan oleh banyak ulama, di antaranya adalah: Syaikhul Islam <span style="text-decoration: underline;">Ibnu Taimiyah</span> dalam <em>Al Istiqomah</em> (1/294) dan <span style="text-decoration: underline;">Ibnul Qayyim</span> dalam <em>Ighatsatul Lahfan</em> (1/259). Begitu pula hal yang sama dikatakan oleh <span style="text-decoration: underline;">An Nawawi</span>, <span style="text-decoration: underline;">Ibnu Rajab Al Hambali</span>, <span style="text-decoration: underline;">Ibnu Hajar dan Asy Syaukani</span> –<em>rahimahumullah</em>-.</p>
<p>Memang ada sebagian ulama semacam Ibnu Hazm dan orang-orang yang mengikuti pendapat beliau sesudahnya seperti Al Ghozali yang menyatakan cacatnya hadits di atas, sehingga mereka pun menghalalkan musik. Alasannya, mereka mengatakan bahwa sanad hadits ini <em>munqothi’</em> (terputus) karena Al Bukhari tidak me-<em>maushul</em>-kan sanadnya (menyambungkan sanadnya). Untuk menyanggah hal ini, kami akan kemukakan 5 sanggahan sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, Al Bukhari betul bertemu dengan Hisyam bin ‘Ammar dan beliau betul mendengar langsung darinya. Jadi, jika Al Bukhari mengatakan bahwa Hisyam berkata, maka itu sama saja dengan perkataan Al Bukhari langsung dari Hisyam.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, jika Al Bukhari belum pernah mendengar hadits itu dari Hisyam, tentu Al Bukhari tidak akan mengatakan dengan lafazh tegas (jazm). Jika beliau mengatakan dengan lafazh jazm (tegas), maka sudah pasti beliau mendengarnya langsung dari Hisyam. Inilah yang paling mungkin, karena begitu banyak orang  yang meriwayatkan dari Hisyam dan dia adalah guru yang sudah sangat masyhur. Sedangkan Al Bukhari adalah hamba yang sangat tidak mungkin melakukan tadlis (kecurangan dalam periwayatan).</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, Al Bukhari memasukkan hadits ini dalam kitabnya yang disebut dengan kitab shahih, yang tentu saja hal ini bisa dijadikan hujjah (dalil). Seandainya hadits tersebut tidaklah shahih menurut Al Bukhari, lalu mengapa beliau memasukkan hadits tersebut dalam kitab shahih[?]</p>
<p><strong>Keempat</strong>, Al Bukhari membawakan hadits ini secara <em>mu’allaq</em> (di bagian awal sanad ada yang terputus). Namun di sini beliau menggunakan lafazh <em>jazm</em> (pasti, seperti dengan kata <em>qoola</em> yang artinya dia berkata) dan bukan <em>tamridh</em> (seperti dengan kata <em>yurwa</em> atau <em>yudzkaru</em>, yang artinya telah diriwayatkan atau telah disebutkan). Jadi, jika Al Bukhari mengatakan, “<em>Qoola: qoola Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> [dia mengatakan bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, ...]”, maka itu sama saja beliau nengatakan hadits tersebut disandarkan pada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p><strong>Kelima</strong>, seandainya berbagai alasan di atas kita buang, maka hadits ini tetaplah shahih dan bersambung karena dilihat dari jalur lainnya, sebagaimana akan dilihat pada hadits berikutnya. (Lihat <em>Ighatsatul Lahfan</em>, 1/259-260)</p>
<p><strong>[Hadits Kedua]</strong></p>
<p>Dari Abu Malik Al Asy’ari, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>????????????? ????? ???? ???????? ????????? ????????????? ???????? ???????? ???????? ????? ??????????? ?????????????? ????????????????? ???????? ??????? ?????? ???????? ?????????? ???????? ??????????? ???????????????<br />
“<em>Sungguh, akan ada orang-orang dari ummatku yang meminum khamr, mereka menamakannya dengan selain namanya. Mereka dihibur dengan musik dan alunan suara biduanita. Allah akan membenamkan mereka ke dalam bumi dan Dia akan mengubah bentuk mereka menjadi kera dan babi</em>” (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Hibban. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)</p>
<p><strong>[Hadits Ketiga]</strong></p>
<p>Dari Nafi’ –bekas budak Ibnu ‘Umar-, beliau mengatakan,</p>
<p>?????? ?????? ????? ?????? ?????? ?????????? ????? ???????? ???????????? ??? ?????????? ???????? ??????????? ???? ?????????? ?????? ??????? ??? ??????? ?????????? ????????? ??????. ????? ????????? ?????? ?????? ???. ????? ???????? ???????? ????????? ???????????? ????? ?????????? ??????? ???????? ??????? ??????? -??? ???? ???? ????- ???????? ?????? ?????????? ????? ???????? ?????? ?????<br />
Ibnu ‘Umar pernah mendengar suara seruling dari seorang pengembala, lalu beliau menyumbat kedua telinganya dengan kedua jarinya. Kemudian beliau pindah ke jalan yang lain. Lalu Ibnu ‘Umar berkata, “Wahai Nafi’, apakah kamu masih mendengar suara tadi?” Aku (Nafi’) berkata, “Iya, aku masih mendengarnya.”<br />
Kemudian Ibnu ‘Umar terus berjalan, lalu aku berkata, “Aku tidak mendengarnya lagi.”<br />
Barulah setelah itu Ibnu ‘Umar melepaskan tangannya dari telinganya dan kembali ke jalan itu lalu berkata, “Beginilah aku melihat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ketika mendengar suara seruling dari seorang pengembala. Beliau melakukannya seperti tadi.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan)</p>
<p>Dari dua hadits pertama dijelaskan mengenai keadaan umat Islam nanti yang akan menghalalkan musik,berarti sebenarnya musik itu haram kemudian ada yang menganggap halal. Begitu pula pada hadits ketiga yang menceritakan kisah Ibnu ‘Umar bersama Nafi’. Ibnu ‘Umar mencontohkan bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melakukan hal yang sama dengannya yaitu menjauhi dari mendengar musik, sehingga hal ini menunjukkan bahwa musik itu jelas-jelas terlarang.</p>
<p>Jika ada yang mengatakan bahwa sebenarnya yang dilakukan Ibnu ‘Umar tadi hanya menunjukkan bahwa itu adalah cara terbaik tatkala mendengar suara nyanyian atau alat musik, namun tidak berdosa. Maka cukup kami katakan sebagaimana yang dikatakan oleh Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni (julukan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah),“Demi Allah, bahkan mendengarkan nyanyian (atau alat musik) adalah bahaya yang mengerikan pada agama seseorang, tidak ada cara lain selain dengan menutup jalan agar tidak mendengarnya.” (<em>Majmu’ Al Fatawa</em>, 11/567)</p>
<p><strong>Perkataan Para Ulama Salaf Mengenai Nyanyian (Musik)</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Ibnu Mas’ud</span> mengatakan, “Nyanyian menumbuhkan kemunafikan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan sayuran.”</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Al Qasim bin Muhammad</span> pernah ditanyakan tentang nyanyian lalu beliau menjawab, “Aku melarang nyanyian padamu dan aku membenci jika engkau mendengarnya.” Lalu orang yang bertanya tadi mengatakan, “Apakah nyanyian itu haram?”  Al Qasim pun mengatakan,”Wahai anak saudaraku, jika Allah telah memisahkan yang benar dan yang keliru, lantas pada posisi mana Allah meletakkan ‘nyanyian’[?]”</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">‘Umar bin ‘Abdul Aziz</span> pernah menulis surat kepada guru yang mengajarkan anaknya, isinya adalah: ”Hendaklah yang pertama kali diyakini oleh anak-anakku dari budi pekertimu adalah kebencianmu pada nyanyian. Karena nyanyian itu berasal dari setan dan ujung akhirnya adalah murka Allah. Aku mengetahui dari para ulama yang terpercaya bahwa mendengarkan nyanyian dan alat musik serta gandrung padanya hanya akan menumbuhkan kemunafikan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan rerumputan. Demi Allah, menjaga diri dengan meninggalkan nyanyian sebenarnya lebih mudah bagi orang yang memiliki kecerdasan daripada bercokolnya kemunafikan dalam hati.”</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Fudhail bin Iyadh</span> mengatakan, “Nyanyian adalah mantera-mantera zina.”</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Adh Dhohak</span> mengatakan, “Nyanyian itu akan merusak hati dan akan mendatangkan kemurkaan Allah.”</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Yazid bin Al Walid</span> mengatakan, “Wahai anakku, hati-hatilah kalian dari mendengar nyanyian karena nyanyian itu hanya akan mengobarkan hawa nafsu, menurunkan harga diri, bahkan nyanyian itu bisa menggantikan minuman keras yang bisa membuatmu mabuk kepayang. &#8230; Ketahuilah, nyanyian itu adalah pendorong seseorang untuk berbuat zina.” (Lihat <em>Talbis Iblis</em>, 289)</p>
<p><strong>Empat Ulama Madzhab Mencela Nyanyian</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Imam Abu Hanifah</span> membenci nyanyian dan menganggap mendengarnya sebagai suatu perbuatan dosa. (Lihat<em> Talbis Iblis</em>, 282)</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Imam Malik bin Anas</span> pun melarang nyanyian dan melarang mendengarkannya. Sampai-sampai Imam Malik mengatakan, “Barangsiapa membeli budak lalu ternyata budak tersebut adalah seorang biduanita (penyanyi), maka hendaklah dia kembalikan budak tadi karena terdapat ‘aib.” (<em>Talbis Iblis</em>, 284)</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Imam Asy Syafi’i</span> mengatakan, “Nyanyian adalah suatu hal yang sia-sia yang tidak kusukai karena nyanyian itu adalah seperti kebatilan. Siapa saja yang sudah kecanduan mendengarkan nyanyian, maka persaksiannya tertolak.” (<em>Talbis Iblis</em>, 283)</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Imam Ahmad bin Hambal</span> mengatakan, “Nyanyian itu menumbuhkan kemunafikan dalam hati dan aku pun tidak menyukainya.” (<em>Talbis Iblis</em>, 280)</p>
<p><strong>Bila Sudah Tersibukkan dengan Nyanyian</strong></p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memberikan pelajaran yang sangat berharga sekali, beliau mengatakan,<br />
“Seorang hamba jika sebagian waktunya telah tersibukkan dengan amalan yang tidak disyari’atkan, maka pasti dia akan kurang bersemangat dalam melakukan hal-hal yang disyari’atkan dan bermanfaat. Hal ini jauh berbeda dengan orang yang mencurahkan usahanya untuk melakukan hal yang disyari’atkan. Pasti orang ini akan semakin cinta dan semakin mendapatkan manfaat dengan melakukan amalan tersebut, agama dan islamnya pun akan semakin sempurna.”</p>
<p>Lalu Syaikhul  Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, ”Oleh karena itu, banyak sekali orang yang terbuai dengan nyanyian (atau syair-syair) yang tujuan semula adalah untuk menata hati. Maka pasti karena maksudnya, dia akan semakin berkurang semangatnya dalam menyimak Al Qur’an. Bahkan sampai-sampai dia pun membenci untuk mendengarnya.” (<em>Iqtidho’ Ash Shiroth Al Mustaqim</em>, 1/543)</p>
<p>Jadi perkataan Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni (yang dijuluki Syaikhul Islam) memang betul-betul terjadi pada orang-orang yang sudah begitu gandrung dengan nyanyian, gitar dan bahkan dengan nyanyian “Islami” (yang disebut nasyid). Tujuan mereka mungkin adalah untuk menata hati. Namun sayang seribu sayang, jalan yang ditempuh adalah jalan yang keliru karena hati mestilah ditata dengan hal-hal yang <em>masyru’</em> (disyariatkan) dan bukan dengan hal-hal yang tidak masyru’ yang membuat kita sibuk dan lalai dari kalam <em>Robbul ‘alamin</em> yaitu Al Qur’an.</p>
<p>Tentang nasyid yang dikenal di kalangan sufiyah dan bait-bait sya’ir, Syaikhul Islam mengatakan,<br />
“Oleh karena itu, kita dapati pada orang-orang yang kesehariannya dan santapannya tidak bisa lepas dari nyanyian, maka mereka pasti tidak akan begitu merindukan lantunan suara Al Qur’an. Mereka pun tidak begitu senang ketika mendengarnya. Mereka tidak akan merasakan kenikmatan tatkala  mendengar Al Qur’an dibanding dengan mendengar bait-bait sya’ir (nasyid). Bahkan ketika mereka mendengar Al Qur’an, hatinya pun menjadi lalai, begitu pula dengan lisannya akan sering keliru.” (<em>Majmu’ Al Fatawa</em>, 11/567)</p>
<p>Sebagai penutup, kami hanya katakan bahwa pengganti nyanyian dan musik adalah dengan mendengarkan Al Qur’an karena inilah yang disyari’atkan dan inilah yang bisa menata dan menghidupkan hati. Jika seseorang meninggalkan musik dan nyanyian, pasti Allah akan memberi ganti dengan yang lebih baik.</p>
<p>??????? ???? ?????? ??????? ??????? ????? ??????? ?????? ????????? ??????? ???? ??? ???? ?????? ???? ??????<br />
“<em>Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan sesuatu yang lebih baik</em>” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)</p>
<p>Semoga Allah membuka hati dan memberi hidayah bagi setiap orang yang membaca risalah ini.<br />
<em> Washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. Walhamdulillahi robbil ‘alamin</em>.</p>
<p>&#8212;<br />
Penulis: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal<br />
Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.Com</a>, juga dipublikasikan di <a href="http://rumaysho.com">Rumaysho.com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/bagaimana-sebenarnya-hukum-musik/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/bagaimana-sebenarnya-hukum-musik/&amp;title=Bagaimana+Sebenarnya+Hukum+Musik%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/bagaimana-sebenarnya-hukum-musik/&amp;title=Bagaimana+Sebenarnya+Hukum+Musik%3F" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/bagaimana-sebenarnya-hukum-musik/&amp;t=Bagaimana+Sebenarnya+Hukum+Musik%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/bagaimana-sebenarnya-hukum-musik/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Bagaimana+Sebenarnya+Hukum+Musik%3F+-+http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/bagaimana-sebenarnya-hukum-musik/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/bagaimana-sebenarnya-hukum-musik/&amp;title=Bagaimana+Sebenarnya+Hukum+Musik%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/bagaimana-sebenarnya-hukum-musik/&amp;title=Bagaimana+Sebenarnya+Hukum+Musik%3F" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Bagaimana+Sebenarnya+Hukum+Musik%3F+-+http://b2l.me/n83gd&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Bagaimana+Sebenarnya+Hukum+Musik%3F&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/bagaimana-sebenarnya-hukum-musik/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Sudah%20diketahui%20bahwa%20musik%20memang%20menghanyutkan%20jiwa%20dan%20terkadang%20membangkitkan%20nafsu%2C%20namun%20masih%20ada%20orang%20yang%20dianggap%20mufti%20atau%20ustad%20membolehkan%20bernyanyi%20dalam%20batas-batas%20tertentu.%20Mohon%20penjabarannya%2C%20adakah%20sahabat%20yang%20membolehkan%20alat-alat%20musik%20dan%20nyanyian%3F" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/bagaimana-sebenarnya-hukum-musik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

