<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>UstadzKholid.com &#187; Manhaj</title>
	<atom:link href="http://ustadzkholid.com/category/manhaj/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzkholid.com</link>
	<description>Meniti Sunnah Menggapai Ukhuwah</description>
	<lastBuildDate>Fri, 06 Jan 2012 02:41:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Tashfiyah dan Tarbiyah Jalan Menuju Kejayaan Umat (Seri-3)</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/manhaj/umat-islam/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/manhaj/umat-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jul 2011 04:04:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Mengenal Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=2013</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana Dengan Zaman Ini? Orang yang memperhatikan perjalanan para ulama ahlus sunnah di masa yang lalu dan sekarang akan mendapati bahwa para ulama ahlus sunnah menempuh jalan yang satu dalam berdakwah, di atas ilmu dan bashirah (hujjah/argumentasi yang nyata), seperti dijelaskan Allah, قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُوا إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bagaimana Dengan Zaman Ini?</strong></p>
<p>Orang yang memperhatikan perjalanan para ulama <em>ahlus sunnah</em> di masa yang lalu dan sekarang akan mendapati bahwa para ulama <em>ahlus sunnah</em> menempuh jalan yang satu dalam berdakwah, di atas ilmu dan <em>bashirah</em> (<em>hujjah</em>/argumentasi yang nyata), seperti dijelaskan Allah,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُوا إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَآ أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ</strong></p>
<p>“<em>Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah Subhanahu wa Ta’aladengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.</em>” (QS. Yusuf: 108)</p>
<p>Dakwah mereka mencakup ilmu, belajar (<em>ta’allum</em>) dan mengajar (<em>ta’liim</em>). Metode ini dibangun diatas tiga dasar: mengetahui kebenaran, berdakwah kepadanya, dan teguh di atasnya. Metode ini harus ditempuh dengan <strong><em>tashfiyah dan tarbiyah</em></strong>.<br />
<span id="more-2013"></span><br />
<em>Tashfiyah</em> (pemurnian) adalah memurnikan Islam pada semua bidangnya dari semua perkara yang asing dan jauh darinya.</p>
<p><em>Tarbiyah</em> (pembinaan) adalah membina generasi-generasi Islam di zaman ini, yang sedang tumbuh dengan Islam yang telah dimurnikan. (At-<em>Tashfiyah wat Tarbiyah</em>, hlm.19, karya Syekh Ali bin Hasan al-Halabi)</p>
<p><strong>Mengapa Harus Tashfiyah</strong></p>
<p>Bila kita perhatikan realita umat ini dan hadits-hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang telah disampaikan di atas, kita mendapati bahwa ajaran Islam telah terkotori ke<em>bid’ah</em>an dan perkara-perkara yang justru menyelisihi hakikat ajaran Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang telah dipahami generasi pertama umat ini. Atas dasar itulah, sangat perlu dilakukan pembaruan dan pemurnian ajaran tersebut dari yang mengotorinya.</p>
<p>Syekh Muhammad al-Basyir al-Ibrahimi menjelaskan, “Setelah kita berpikir, meneliti, dan mengkaji keadaan umat dengan tempat tumbuh penyakit-penyakitnya, maka kita benar-benar mengetahui bahwa jalan-jalan <em>bid’ah</em> dalam Islam adalah sebab terpecahbelahnya kaum muslimin, dan kita mengetahui bahwa ketika kita melawannya berarti kita melawan seluruh keburukan.” (<em>Al-Ashalah</em>: 1/34)</p>
<p>Jelaslah, sebab munculnya perpecahan kaum muslimin adalah jauhnya mereka dari ajaran Islam yang benar. Ajaran yang telah menyatukan para sahabat yang sebelumnya mereka bercerai-berai dan saling memusuhi. Kemudian setelah bercampurnya ajaran tersebut dengan ke<em>bid’ah</em>an pada kaum muslimin, terjadilah perpecahan dan permusuhan di antara mereka hingga akhirnya mereka menjadi rendah dan hina seperti sekarang ini.</p>
<p>Sesungguhnya tersebarnya kesesatan akidah, <em>bid’ah-bid’ah</em> ibadah, dan perselisihan dalam agama menjadikan kaum muslimin lepas dari agamanya dan jauh dari dua pondasi utamanya. Itulah yang menjauhkan kaum muslimin dari keistimewaan-keistimewaan agama dan akhlaknya, sehingga sampai kepada kondisi yang kita lihat sekarang.</p>
<p><strong>Oleh karena itu, kaum muslimin tidak mungkin selamat dari bid’ah, kesesatan, atau penyimpangan-penyimpangan kecuali dengan <em>tashfiyah</em> terhadap agama dan hal-hal yang terkait dengannya, dari seluruh noda dan perkara asing yang masuk padanya.</strong></p>
<p><strong>Bidang-Bidang yang Di-<em>tashfiyah</em></strong></p>
<p>Begitu banyak bidang yang perlu di-<em>tashfiyah</em> karena betapa banyak hal baru, kebiasaan dan penyelewengan yang masuk, baik dalam perkara <em>ushuluddin</em> (perkara pokok dalam agama) maupun <em>furu’</em> (cabang)nya.</p>
<p>Syekh Ali bin Hasan al-Halabi <em>hafidzuhullah</em> menyebutkan contoh bidang-bidang yang perlu di<em>tashfiyah</em>, yaitu: (1) Akidah, (2) Hukum, (3) Sunnah, (4) Fikih, (5) Tafsir, (6) Tazkiyah, (7) Pemikiran, (8) Tarikh, (9) Dakwah, dan (10) Bahasa Arab.</p>
<p><strong>Yang Melakukan <em>Tashfiyah</em></strong></p>
<p>Tentulah <em>tashfiyah</em> tersebut dilakukan oleh para ulama yang telah mapan ilmunya. Adapun masyarakat Islam, mereka mengikuti penjelasan ulama. Sesungguhnya, ulama <em>rabbaniyin</em> akan tetap ada sampai akhir zaman yang dikehendaki oleh Allah. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ : يَنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الْغَالِيْنَ وَتَأْوِيْلَ الْجَاهِلِيْنَ وَ إِنْتِحِالَ الْمُبْطِلِيْنَ</strong></p>
<p><em>“Ilmu agama ini akan dibawa oleh orang-orang yang terpercaya pada setiap generasi: mereka akan menolak tahrif (perubahan) yang dilakukan oleh orang-orang yang melewati batas, ta’wil (penyimpangan arti) yang dilakukan oleh orang-orang yang bodoh, dan kedustaan yang dilakukan oleh orang-orang yang berbuat kepalsuan.” </em>(Riwayat Ibnu ‘Adi, Al-Baihaqi, Ibnu ‘Asakir, Ibnu Hibban, dll,; dinyatakan berderajat <em>hasan</em> oleh Syekh Salim bin ‘Ied al-Hilali dalam <em>Hilyatul ‘Alim Al-Mu’allim</em>, hlm.77, juga oleh Syekh Ali bin Hasan di dalam <em>At-Tashfiyah wat Tarbiyah</em>)</p>
<p>Para ulama menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “orang-orang yang terpercaya” dalam hadits ini adalah para ulama ahli hadits di setiap zaman.</p>
<p><strong>Mengiringi <em>Tashfiyah</em> dengan <em>Tarbiyah</em></strong></p>
<p><em>Nah</em>, jalan menuju kejayaan harus dimulai dengan mengembalikan ajaran Islam ini seperti <strong><em>perkara pertama</em></strong>nya dengan melakukan <em>tashfiyah, </em>hingga kembali sebagaimana yang dijalani Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabatnya, baik dalam akidah, ibadah, <em>suluk</em> (jalan hidup) dan seluruh perkara yang berkaitan dengan syariat. Namun, tidak hanya berhenti sampai di sini. Hal tersebut harus dilanjutkan dengan <em>tarbiyah</em> (pembinaan) umat di atas dasar ilmu yang sudah <em>shahih</em> dan sudah di-<em>tashfiyah </em>(dimurnikan).</p>
<p>Syekh al-Albani <em>rahimahullah</em> menyatakan, “Apabila kita ingin kejayaan dari Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dan kerendahan diangkat dari kita, serta kita dimenangkan dari musuh-musuh kita, maka untuk mencapai itu semua, seluruh hal yang telah saya isyaratkan&#8211;dari kewajiban meluruskan pemahaman dan menghilangkan pemikiran-pemikiran yang menyelisihi dalil-dalil syar’i&#8211;tidaklah cukup …. Disana ada hal lain yang sangat penting sekali-–inilah inti yang sebenarnya&#8211;dalam meluruskan pemahaman, yaitu beramal; karena ilmu adalah sarana untuk beramal. Apabila seseorang telah belajar dan ilmunya sudah ter-<em>tashfiyah</em>, kemudian dia tidak mengamalkan ilmu tersebut, maka sangat otomatis terjadi ilmu tersebut tidak menghasilkan buah. Oleh karena itu, ilmu harus disertai dengan amalan. Sudah menjadi kewajiban para ulama untuk mengurus pembinaan kaum muslimin yang baru di atas dasar ketetapan yang ada dalam Alquran dan Assunah. Jangan membiarkan manusia berada di atas pemikiran dan kesalahan yang mereka warisi. Sebagiannya pasti batil menurut kesepakatan para ulama, sebagiannya masih diperselisihkan dan memiliki kekuatan dalam penelitian dan ijtihad serta <em>ra’yu </em>(pendapat pribadi), dan sebagian ijtihad dan <em>ra’yu</em> ini menyelisihi sunnah. Setelah dilakukan <em>tashfiyah </em>terhadap perkara-perkara ini dan menjelaskan semua kewajiban memulai dan berjalan padanya, maka harus ada <em>tarbiyah </em>(pembinaan) terhadap orang-orang baru di atas ilmu yang shahih ini. Pembinaan inilah yang akan membentuk masyarakat Islam yang bersih untuk kita dan kemudian akan tegak daulah Islam untuk kita. Tanpa dua hal ini, yaitu ilmu yang shahih dan pembinaan yang benar di atas ilmu yang shahih ini, mustahil-–menurut keyakinan saya&#8211;tiang-tiang Islam akan tegak atau hukum Islam atau negara Islam.” (<em>At-Tashfiyah wat Tarbiyah wa Haajat an-Naas Ilaihaa,</em> hlm.29-31)</p>
<p>Hal ini dijabarkan oleh Syekh Abdurrahman bin Yahya al-Mu&#8217;allimi dalam pernyataan beliau, &#8220;Orang-orang yang mengenal Islam dan ikhlas terhadapnya telah banyak melaporkan bahwa kelemahan dan kemunduran yang menimpa umat Islam hanyalah disebabkan jauhnya mereka dari hakikat Islam.  Aku melihat bahwa hal itu kembali kepada tiga perkara:</p>
<p>-       Pertama: Bercampurnya sesuatu yang bukan berasal dari agama (Islam) dengan sesuatu yang berasal dari agama (Islam).</p>
<p>-       Kedua: Lemahnya keyakinan terhadap sesuatu yang termasuk bagian dari agama (Islam).</p>
<p>-       Ketiga: Tidak mengamalkan hukum-hukum agama (Islam).</p>
<p>Berdasarkan ini, maka mengetahui adab-adab yang benar yang diajarkan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> di dalam ibadah dan mu&#8217;amalah, tinggal dan bersafar, bergaul dengan orang lain dan sendirian, gerakan dan diam, bangun dan tidur, makan dan minum, berbicara dan diam, dan selain itu yang ada pada kehidupan manusia, dengan berusaha mengamalkannya sesuai dengan kesanggupan, itu adalah obat satu-satunya untuk penyakit-penyakit itu. Sesungguhnya banyak dari adab-adab itu mudah pada jiwa, maka jika seseorang mengamalkan sesuatu yang mudah baginya, dengan meninggalkan hal yang menyelisihinya, <em>insyaAllah Subhanahu wa Ta’ala </em>tidak lama (kemudian) dia ingin menambah. Sehingga mudah-mudahan tidaklah lewat satu masa tertentu kecuali dia telah menjadi teladan bagi orang lain di dalam hal itu.</p>
<p>Dengan mengikuti petunjuk Nabi yang lurus itu, dan berakhlak dengan akhlak yang agung itu, walaupun sampai batas tertentu, hati akan bersinar, dada akan longgar, jiwa akan tenang, sehingga keyakinan menjadi mendalam, dan amalan menjadi baik. Jika banyak orang yang meniti jalan ini, tidak lama penyakit-penyakit itu akan hilang, <em>insyaallah</em>&#8220;. (Mukaddimah pada kitab <em>Fadhlullahis Shamaad</em> 1/17; dinukil dari <em>At-Tashfiyah wat Tarbiyah</em>, hlm: 19-20, karya Syekh Ali bin Hasan al-Halabi)</p>
<p>Demikian kemudahan yang diberikan Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> kepada penulis, mudah-mudahan bermanfaat.</p>
<p><em>Alhamdulillaahi Rabbil &#8216;Aalam</em><em>iiin</em></p>
<p><strong>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, L.c.<br />
Artikel <a href="http://www.ustadzkholid.com/" target="_blank">www.UstadzKholid.com</a></strong></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/manhaj/umat-islam/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/umat-islam/&amp;title=Tashfiyah+dan+Tarbiyah+Jalan+Menuju+Kejayaan+Umat+%28Seri-3%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/manhaj/umat-islam/&amp;title=Tashfiyah+dan+Tarbiyah+Jalan+Menuju+Kejayaan+Umat+%28Seri-3%29" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/manhaj/umat-islam/&amp;t=Tashfiyah+dan+Tarbiyah+Jalan+Menuju+Kejayaan+Umat+%28Seri-3%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/umat-islam/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Tashfiyah+dan+Tarbiyah+Jalan+Menuju+Kejayaan+Umat+%28Seri-3%29+-+http://ustadzkholid.com/manhaj/umat-islam/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/umat-islam/&amp;title=Tashfiyah+dan+Tarbiyah+Jalan+Menuju+Kejayaan+Umat+%28Seri-3%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/umat-islam/&amp;title=Tashfiyah+dan+Tarbiyah+Jalan+Menuju+Kejayaan+Umat+%28Seri-3%29" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Tashfiyah+dan+Tarbiyah+Jalan+Menuju+Kejayaan+Umat+%28Seri-3%29+-+http://bit.ly/r3ZQ81&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Tashfiyah+dan+Tarbiyah+Jalan+Menuju+Kejayaan+Umat+%28Seri-3%29&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/manhaj/umat-islam/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Bagaimana%20Dengan%20Zaman%20Ini%3F%0D%0A%0D%0AOrang%20yang%20memperhatikan%20perjalanan%20para%20ulama%20ahlus%20sunnah%20di%20masa%20yang%20lalu%20dan%20sekarang%20akan%20mendapati%20bahwa%20para%20ulama%20ahlus%20sunnah%20menempuh%20jalan%20yang%20satu%20dalam%20berdakwah%2C%20di%20atas%20ilmu%20dan%20bashirah%20%28hujjah%2Fargumentasi%20yang%20nyata%29%2C%20seperti%20dijelaskan%20Allah%2C%0D%0A%D9%82%D9%8F%D9" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/manhaj/umat-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tashfiyah dan Tarbiyah Jalan Menuju Kejayaan Umat (Seri-2)</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/manhaj/islam-umat-jaya/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/manhaj/islam-umat-jaya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jul 2011 02:43:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Mengenal Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=2011</guid>
		<description><![CDATA[KEMBALI KEPADA ISLAM Dengan keadaan yang buruk disebabkan jauhnya dari agama Allah, maka keadaan umat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan kembali menuju agama ini. Solusi ini bukanlah ijtihad (penentuan pendapat oleh ulama tentang hukum suatu hal dalam Islam, berdasarkan Alquran dan Assunah –ed) dari ulama yang berijtihad, namun ketetapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KEMBALI KEPADA ISLAM </strong></p>
<p>Dengan keadaan yang buruk disebabkan jauhnya dari agama Allah, maka keadaan umat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan kembali menuju agama ini. Solusi ini bukanlah ijtihad (penentuan pendapat oleh ulama tentang hukum suatu hal dalam Islam, berdasarkan Alquran dan Assunah <sup>–ed</sup>) dari ulama yang berijtihad, namun ketetapan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Oleh karena itu, semua pendapat yang bertentangan dengan <em>nash</em> (dalil tegas) dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah tertolak, karena Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah menjelaskan solusi kemuliaan umat ini, sebagaimana hadits di bawah ini,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ</strong></p>
<p><em>Dari Ibnu Umar, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jika kamu berjual-beli &#8216;inah (semacam riba), kamu memegangi ekor-ekor sapi, kamu puas dengan tanaman, dan kamu meninggalkan jihad, maka Allah Subhanahu wa Ta’alapasti akan menimpakan kehinaan kepadamu. Dia tidak akan menghilangkan kehinaan itu sehingga kamu kembali menuju agamamu.’.&#8221;</em> (Riwayat Abu Daud: no.3462; Ahmad: no.4825; dll. Lihat: <em>Ash-Shahiihah</em>: no.11)<br />
<span id="more-2011"></span><br />
Syekh al-Albani menyatakan, “Kalau begitu, satu-satunya terapi adalah <strong><em>kembali menuju agamamu</em></strong>, namun agama ini-–sebagaimana diketahui oleh semua orang khususnya para penuntut ilmu agama&#8211;sangat diperselisihkan. Perselisihan ini tidak hanya terbatas pada permasalahan <em>furu</em>’ (cabang)-–sebagaimana sangkaan banyak penulis dan ulama&#8211;. Akan tetapi, perselisihan ini telah melampaui permasalahan akidah.”</p>
<p>Kemudian beliau mempertanyakan, “Agama mana yang harus kita jadikan tempat kembali?” (<em>At-Tashfiyah wat Tarbiyah wa Haajatul Muslimin Ilaiha</em>, hlm.14-15)</p>
<p>Permasalahan ini dijawab oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, yang disampaikan oleh Abu Waaqid al-Laitsi <em>radhiallahu ‘anhu,</em></p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ وَ نَحْنُ جُلُوْسٌ عَلَى الْبِسَاطِ : إِنَّهَا سَتَكُوْنُ فِتْنَةٌ قَالُوْا : كَيْفَ نَفْعَلُ يَا رَسُوْلَ الله؟ قَالَ : فَرَدَّ يَدَهُ إِلَى الْبِسَاطِ فَأَمْسَكَ بِهِ  قَألَ : تَفْعَلُوْنَ كَذَا<br />
</strong></p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>وَذَكَرَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ يَوْمًا أَنَّهَا سَتَكُوْنُ فِتْنَةٌ فَلَمْ يَسْمَعْهُ كَثِيْرٌ منَ النَّاسِ فَقَالَ مُعَاذُ : تَسْمَعُوْنَ مَا يَقُوْلُ رَسُوْلُ اللهِ ؟ قَألُوْا : مَا قَالَ ؟ قَالَ : يَقُوْلُ : إِنَّهَا سَتَكُوْنُ فِتْنَةٌ قَالُوْا : كَيْفَ بِنَا يَا رَسُوْلَ الله؟ أَوْ كَيْفَ نَصْنَعُ ؟ قَالَ : تَرْجِعُوْنَ إِلَى أَمْرِكُمُ الأَوَّلِ </strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya Rasulullah pernah berkata, sedangkan kami dalam keadaan duduk-duduk di tikar, ‘Akan muncul fitnah.’ Mereka bertanya, ‘Apa yang kami kerjakan, wahai Rasulullah?’.” Abu Waaqid menyatakan, “Lalu beliau mengembalikan tangannya ke tikar lalu memegangnya dan berkata, ‘Kerjakan demikian!’.</em></p>
<p><em>Rasulullah pada satu hari menjelaskan kepada mereka bahwa fitnah (ujian) akan datang, lalu banyak orang yang tidak mendengarnya. Maka Mu’adz berkata, ‘Apakah kalian mendengar apa yang dikatakan Rasulullah?’ Mereka menjawab, ‘Apa yang dikatakannya?’ Mu’adz berkata, ‘Beliau bersabda, ‘Akan muncul fitnah.’ Mereka bertanya, ‘Bagaimana dengan kami, wahai Rasulullah? Atau apa yang harus kami lakukan?’ Beliau menjawab, ‘Kembalilah kepada <strong>perkaramu yang pertama</strong></em>.’.” (lihat: <em>Silsilah Shahiihah</em>: no.11)</p>
<p>Dalam hadis yang mulia ini Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menjelaskan terjadinya fitnah, ujian, dan musibah yang menimpa  kaum muslimin. Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga menjelaskan jalan keluar dari semua (permasalahan) ini, yaitu dengan kembali kepada <strong><em>perkara pertama</em></strong>, yaitu ajaran Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabatnya g, sebagaimana disampaikan dalam hadits Irbaadh bin Saariyah <em>radhiallahu ‘anhu</em> yang berbunyi,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ هَذِهِ لَمَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا قَالَ قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لاَ يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلاَّ هَالِكٌ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِمَا عَرَفْتُمْ مِنْ سُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَعَلَيْكُمْ بِالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّمَا الْمُؤْمِنُ كَالْجَمَلِ اْلأَنِفِ حَيْثُمَا قِيدَ انْقَادَ </strong></p>
<p><em>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menasihati kami dengan sebuah nasihat yang membuat mata kami meneteskan air mata dan membuat hati kami bergetar. Maka kami berkata, ‘Wahai, Rasulullah! Sungguh ini adalah nasihat perpisahan, maka apa yang engkau wasiatkan kepada kami?’ Beliau berkata, ‘Sungguh telah aku tinggalkan kalian di atas jalan yang sangat jelas, siangnya seperti malamnya, tidaklah (seseorang)  berpaling darinya setelahku kecuali (dia) binasa. Barangsiapa diantara kalian yang hidup, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang teguh kepada sunnah (ajaran)ku dan sunnah Khulafaaurraasyidiin (para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan lurus) yang telah kalian ketahui. Gigitlah (sunnah tersebut) dengan gigi geraham. Wajib atas kalian untuk taat (kepada pemerintah), walaupun yang memerintah adalah budak habasyi (budak berkulit hitam), karena sesungguhnya seorang mukmin itu seperti unta yang diberi tali kendali, kemana dia diikat maka ia akan patuh.” </em>(Riwayat Ibnu Majah dan Ahmad)</p>
<p>Dalam riwayat lain dinyatakan,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ </strong></p>
<p><em>“Aku wasiatkan kepada kamu untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat (kepada penguasa kaum muslimin) walaupun (dia) seorang budak habasyi (budak berkulit hitam). Karena sesungguhnya barangsiapa yang hidup setelahku, maka dia akan melihat banyak perselisihan. Maka wajib kalian untuk berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para Khulafaaurraasyidiin (para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan lurus). Peganglah dan gigitlah (sunnah tersebut) dengan gigi geraham. Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat.” </em>(Riwayat Abu Daud: no.4607; Tirmidzi: 2676; ad-Darimi; Ahmad; dan lainnya dari Al ‘Irbadh bin Saariyah)</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Rajab <em>rahimahullah</em> menyatakan, “Sabda Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> “<strong>مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي</strong>” berisi berita dari Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tentang banyaknya perselisihan dalam masalah <em>ushul</em> (pokok) agama dan <em>furu’</em> (cabang)nya, serta perkataan, perbuatan, dan keyakinan yang menimpa umat ini. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatakan tentang perpecahan umat menjadi 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu kelompok yaitu yang berada diatas ajaran Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabatnya <em>radhiallahu ‘anhum</em>. Demikian juga hadits ini berisi perintah untuk berpegang teguh dengan sunnah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan sunnah <em>Khulaafaurraasyidiin</em> setelah beliau, ketika terjadi perpecahan dan perselisihan.</p>
<p><strong>Siapakah yang Berada Di Atas Ajaran Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan Para Sahabatnya <em>radhiallahu ‘anhum</em>?</strong></p>
<p>Orang yang memperhatikan hadits-hadits di atas akan mengetahui dengan benar jalan kembali tersebut. Apalagi hal ini telah diisyaratkan dalam sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>خَيْرُكُمْ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ قَالَ عِمْرَانُ لاَ أَدْرِي أَذَكَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدُ قَرْنَيْنِ أَوْ ثَلاَثَةً</strong></p>
<p>“<em>Sebaik-baik kalian adalah generasiku (sahabat), kemudian yang menyusul mereka (tabi’in), kemudian yang menyusul mereka (tabi’ut tabi’in).” Imran berkata, ‘Saya tidak ingat dengan benar apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan setelah itu dua generasi atau tiga generasi</em>.” (Riwayat Bukhari)</p>
<p>Bila melihat kepada kejadian dan peristiwa sejarah masa lalu, maka jelaslah bahwa orang yang paling kuat berpegang kepada jalan dan ajaran tiga generasi di atas adalah <em>Ahlususnah</em> dengan berbagai namanya, seperti <em>ahli hadits </em>(orang yang berusaha mempelajari dan mengamalkan hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> <sup>-ed</sup>), <em>salafiyyuun </em>(pengikut para sahabat, tabiin, dan tabi’ut tabi’in <sup>-ed</sup>)<em>,</em> dan <em>al-ghuraba’ </em>(orang-orang yang asing <sup>-ed</sup>).</p>
<p>Imam Abul Qasim Isma’il at-Taimi al-Ashbahani menyatakan,</p>
<p>“Kami mengenal sunnah (ajaran) Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melalui <em>atsar</em> yang diriwayatkan dengan <em>sanad</em> yang shahih. Kelompok ini&#8211;yaitu <em>ash-habul hadits</em>&#8211;adalah orang yang paling semangat menuntutnya, lebih semangat mengamalkannya, dan lebih mengikuti pemiliknya (Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>). Maka wajib bagi kita untuk berpegang teguh dengan Alquran dan Assunah, karena merekalah ahlinya, bukan kelompok yang lainnya. Oleh karena orang yang mengaku ahli dalam bidang tertentu, apabila tidak ada padanya sesuatu yang menunjukkan keahliannya, maka ia telah membatalkan pengakuannya. Keahlian seseorang diketahui dengan alatnya. Apabila engkau melihat seseorang membuka pintu tokonya dengan membawa pemanggang besi (<em>al-kiir</em>), palu, dan lempengan untuk pukulan (<em>sanadan</em>), maka engkau tahu kalau ia adalah pandai besi. Apabila engkau melihat seseorang membawa jarum dan gunting, maka engkau tahu bahwa ia adalah seorang penjahit. Kapan saja seorang penjual kurma berkata kepada penjual minyak wangi, “Saya adalah penjual minyak wangi,” maka ia akan menjawab, “Engkau berdusta, sayalah penjual minyak wangi.” Semua orang umum yang menyaksikan akan membenarkan ucapannya (bahwa penjual kurma itu berdusta). Kami mendapati sahabat-sahabat kami bepergian mencari <em>atsar</em> yang menunjukkan sunnah-sunnah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, lalu mereka mengambilnya dari sumbernya, dan mengumpulkan dari tempat-tempatnya serta menghapalnya. Mereka juga mengajak manusia untuk mengikutinya dan tidak menyelisihinya. Sunnah-sunnah ini (akhirnya) menjadi banyak berada pada mereka dan ditangan mereka hingga mereka terkenal dengannya, sebagaimana terkenalnya tukang roti dengan rotinya, penjual kurma dengan kurmanya, dan penjual minyak wangi dengan minyak wanginya. Sebaliknya, engkau melihat orang-orang lain terbalik pengetahuan dan <em>ittiba’</em> (sikap mengikuti tuntunan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>)nya, mencela sunnah (ajaran Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>), dan memotivasi manusia agar tidak memperhatikan pengumpulan sunnah dan penyebarannya serta menggelari sunnah dan <em>ahli sunnah</em> dengan gelaran yang paling jelek. Maka kami mengetahui dengan indikasi-indikasi ini bahwa mereka yang bersemangat mengumpulkan sunnah, menghapal, dan mengikutinya lebih pantas daripada kelompok-kelompok lain yang tidak memperhatikannya. Hal tersebut karena yang dimaksud <em>ittiba’</em> menurut para ulama adalah mengambil sunnah-sunnah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang telah shahih dan yang diperintahkan untuk mengamalkannya dan berhenti dari larangannya. Indikasi-indikasi ini tampak jelas pada <em>ahli sunnah</em> yang pantas menyandang nama ini.”</p>
<p>Memang demikianlah mereka, seperti yang disampaikan oleh Manshur bin ‘Amaar as-Sulami al-Khurasani, seorang ulama yang hidup ditahun 200-an, dalam penuturannya,</p>
<p>“Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menugaskan penjagaan <em>atsar</em> (peninggalan para sahabat g) yang menafsirkan Alquran dan sunnah-sunnah yang kokoh bangunannya kepada sekelompok orang-orang pilihan. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> memberikan mereka taufik untuk mencarinya dan menuliskannya, dan memberikan kekuatan kepada mereka dalam memelihara dan menjaganya. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> juga memberikan kecintaan membaca dan mempelajarinya kepada mereka, dan menghilangkan dari mereka perasaan lelah dan bosan, duduk dan bepergian, mengorbankan jiwa dan harta dengan menyeberangi hal-hal yang menakutkan. Mereka bepergian dari satu negeri ke negeri lainnya untuk menuntut ilmu di setiap tempat dalam keadaan rambut yang kusut, pakaian compang-camping, perut lapar, mulut kering, wajah pucat karena kelelahan dan kelaparan, dan badan yang kurus. Mereka memiliki satu tekad kuat dan ridha kepada ilmu sebagai petunjuk dan pemimpinnya. Rasa lapar dan haus tidak memutus mereka dari hal itu. Juga musim panas dan dingin, tidak membuat mereka bosan dalam memilah-milah yang shahih dari yang bermasalah, dan yang kuat dari yang lemah (dari sunnah-sunnah) dengan pemahaman yang kuat, pandangan yang luas, dan hati yang sangat mengerti kebenaran. Sehingga (mereka) dapat menjaga dari kesesatan orang yang suka menduga-duga, perbuatan bid&#8217;ah orang-orang <em>mulhid</em> (orang yang menyimpang dari kebenaran <sup>–ed</sup>), dan kedustaan para pendusta. Seandainya engkau melihat mereka (para penjaga <em>atsar</em> <sup>–ed</sup>), mereka menghidupkan malam hari dengan menulis semua yang telah mereka dengar, mengoreksi semua yang telah mereka kumpulkan, dalam keadaan menjauhi kasur empuk dan pembaringan yang menggiurkan. Rasa kantuk pun telah menguasai mereka sehingga menidurkannya dan lepaslah pena-pena dari telapak tangan mereka; namun seketika itu juga mereka tersadar dalam keadaan terkejut.</p>
<p>Kelelahan telah memberikan rasa sakit pada punggung mereka, dan keletihan berjaga waktu malam telah melelahkan akal pikiran mereka, sehingga mereka berusaha menghilangkannya. Untuk mengistirahatkan badan, mereka berusaha berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Untuk menghilangkan rasa kantuk dan tidurnya, mereka memijat-mijat mata dengan tangan mereka, kemudian kembali menulis karena semangat yang tinggi dan antusias mereka kepada ilmu. Hal ini, tentu membuat engkau mengerti, bahwa mereka adalah penjaga Islam dan penjaga gudang ilmu Allah. Apabila mereka telah selesai menunaikan sebagian yang mereka tuntut dari keinginan-keinginannya tersebut, maka mereka pulang menuju negerinya, lalu duduk menetap di masjid-masjid dan memakmurkannya dengan menggunakan pakaian <em>tawadhu`</em> (kerendahan hati), pasrah, dan menyerah. Mereka berjalan dengan rendah hati, tidak mengganggu tetangga dan tidak melakukan perbuatan buruk, hingga apabila ada penyimpangan atau orang yang keluar dari agama, maka mereka keluar sebagaimana keluarnya singa dari kandangnya untuk mempertahankan syiar-syiar Islam.<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p><strong>=Bersambung <em>insya Allah</em>=</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, L.c.<br />
Artikel <a href="http://www.ustadzkholid.com/" target="_blank">www.UstadzKholid.com</a></strong></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> <em>Al-Muhaddits al-Fashil Baina ar-Rawi wa al-Wa&#8217;i</em>, hlm. 220-221. Dinukil dari <em>Manhaj al-Muhadditsin fi Taqwiyat al-Ahadits al-Hasanah wa al-Dha&#8217;ifah</em>, hlm.6-7.</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/manhaj/islam-umat-jaya/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/islam-umat-jaya/&amp;title=Tashfiyah+dan+Tarbiyah+Jalan+Menuju+Kejayaan+Umat+%28Seri-2%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/manhaj/islam-umat-jaya/&amp;title=Tashfiyah+dan+Tarbiyah+Jalan+Menuju+Kejayaan+Umat+%28Seri-2%29" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/manhaj/islam-umat-jaya/&amp;t=Tashfiyah+dan+Tarbiyah+Jalan+Menuju+Kejayaan+Umat+%28Seri-2%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/islam-umat-jaya/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Tashfiyah+dan+Tarbiyah+Jalan+Menuju+Kejayaan+Umat+%28Seri-2%29+-+http://ustadzkholid.com/manhaj/islam-umat-jaya/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/islam-umat-jaya/&amp;title=Tashfiyah+dan+Tarbiyah+Jalan+Menuju+Kejayaan+Umat+%28Seri-2%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/islam-umat-jaya/&amp;title=Tashfiyah+dan+Tarbiyah+Jalan+Menuju+Kejayaan+Umat+%28Seri-2%29" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Tashfiyah+dan+Tarbiyah+Jalan+Menuju+Kejayaan+Umat+%28Seri-2%29+-+http://bit.ly/nuuswr&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Tashfiyah+dan+Tarbiyah+Jalan+Menuju+Kejayaan+Umat+%28Seri-2%29&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/manhaj/islam-umat-jaya/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A KEMBALI%20KEPADA%20ISLAM%20%0D%0A%0D%0ADengan%20keadaan%20yang%20buruk%20disebabkan%20jauhnya%20dari%20agama%20Allah%2C%20maka%20keadaan%20umat%20ini%20tidak%20akan%20menjadi%20baik%20kecuali%20dengan%20kembali%20menuju%20agama%20ini.%20Solusi%20ini%20bukanlah%20ijtihad%20%28penentuan%20pendapat%20oleh%20ulama%20tentang%20hukum%20suatu%20hal%20dalam%20Islam%2C%20berdasarkan%20Alquran%20dan%20Assun" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/manhaj/islam-umat-jaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tashfiyah dan Tarbiyah Jalan Menuju Kejayaan Umat (Seri-1)</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/manhaj/tashfiyah-dan-tarbiyah-jalan-menuju-kejayaan-umat/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/manhaj/tashfiyah-dan-tarbiyah-jalan-menuju-kejayaan-umat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jul 2011 07:17:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Mengenal Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=2005</guid>
		<description><![CDATA[Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa petunjuk dan agama yang haq (benar). Oleh karena itulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala memenangkan agama ini di atas seluruh agama, walaupun orang kafir tidak menyukainya. Kemudian dengan berjalannya waktu dan jauhnya masa dari zaman kenabian, umat Islam semakin jauh dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sesungguhnya Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> telah mengutus Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan membawa petunjuk dan agama yang <em>haq</em> (benar). Oleh karena itulah, Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> memenangkan agama ini di atas seluruh agama, walaupun orang kafir tidak menyukainya. Kemudian dengan berjalannya waktu dan jauhnya masa dari zaman kenabian, umat Islam semakin jauh dari agamanya yang <em>haq</em>. Banyak perkara yang bukan agama dianggap sebagai agama. Demikian juga, lemahnya ilmu dan semangat mengamalkan Islam telah banyak menimpa umat ini. Maka tidak aneh, Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menimpakan kehinaan pada umat ini. Kehinaan itu tidak akan hilang sehingga mereka kembali kepada agama-Nya.<br />
<span id="more-2005"></span><br />
<strong>Satu Realita yang Menyedihkan</strong></p>
<p>Keadaan umat dewasa ini termasuk sudah mencapai tingkatan terendah dalam sejarah Islam. Kehinaan, keterbelakangan, dan penjajahan (baik yang terang-terangan maupun samar) tetap melekat pada negara-negara Islam. Tentunya hal ini membuat kita berpikir dan selalu bertanya mengapa demikian dan apa yang membuat kaum muslimin terjerumus ke dalam keadaan seperti ini. Lalu, kita pun bertanya adakah solusi dari ini semua?</p>
<p>Banyak tokoh kaum muslimin mencari solusi menuju kejayaan Islam dengan aneka ragam pemikiran dan konsepnya. Ada yang menjadikan ekonomi sebagai sebab kemunduran dan solusinya adalah mengembangkan perekonomian yang unggul dan maju. Ada juga yang menjadikan partai politik sebagai kendaraan menuju kejayaan tersebut. Ada juga yang hanya memperhatikan adab dan budi pekerti tanpa menyentuh akidah Islam.</p>
<p>Mungkin mereka semua lupa atau belum tahu bahwa Islam adalah agama yang sempurna dan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah menjelaskan seluruh kebaikan yang akan membuat umat ini jaya di dunia dan akhirat. Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga telah memperingatkan umat ini dari semua hal yang berbahaya dan merugikan bagi dunia dan akhirat mereka. Sebagaimana dijelaskan dalam sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ </strong></p>
<p>“<em>Sesungguhnya tidak ada seorang nabi pun sebelumku kecuali wajib baginya untuk menunjukkan umatnya kepada kebaikan yang diketahuinya untuk mereka dan memperingatkan mereka dari keburukan yang ia ketahui untuk mereka.</em>”  (HR. Muslim)</p>
<p>Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pun telah menjelaskan keadaan umat secara umum dalam sabdanya,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>وَإِنَّ أُمَّتَكُمْ هَذِهِ جُعِلَ عَافِيَتُهَا فِي أَوَّلِهَا وَسَيُصِيبُ آخِرَهَا بَلاَءٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا وَتَجِيءُ فِتْنَةٌ فَيُرَقِّقُ بَعْضُهَا بَعْضًا وَتَجِيءُ الْفِتْنَةُ فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ هَذِهِ مُهْلِكَتِي ثُمَّ تَنْكَشِفُ وَتَجِيءُ الْفِتْنَةُ فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ هَذِهِ هَذِهِ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنْ النَّارِ وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ وَمَنْ بَايَعَ إِمَامًا فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَثَمَرَةَ قَلْبِهِ فَلْيُطِعْهُ إِنْ اسْتَطَاعَ فَإِنْ جَاءَ آخَرُ يُنَازِعُهُ فَاضْرِبُوا عُنُقَ اْلآخَرِ</strong></p>
<p>“<em>Dan sesungguhnya (bagi) umat kalian ini, keselamatannya dijadikan di awalnya. Dan di akhirnya, mereka akan ditimpa musibah dan perkara-perkara yang kalian ingkari, sehingga fitnah akan datang lalu sebagiannya menganggap kecil sebagian yang lain. Kemudian datanglah fitnah, seorang mukmin akan berkata, ‘Inilah kebinasaanku.’ Lalu fitnah itu hilang. Kemudian datang lagi fitnah lalu seorang mukmin berkata, ‘Inilah, inilah.’ Barangsiapa yang ingin diselamatkan dari neraka dan masuk ke dalam surga, maka hendaklah kematiannya menjemputnya dalam keadaan ia telah beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’aladan hari akhir, dan hendaklah ia bersikap kepada orang lain sebagaimana ia ingin orang lain bersikap demikian terhadapnya. Barangsiapa membai’at (berjanji untuk patuh dan taat dalam kebaikan <sup>-ed</sup>) kepada seorang imam dan ia telah memberikan tepukan tangannya (perjanjiannya) dan buah hatinya, maka hendaklah menaatinya apabila mampu. Apabila ada seseorang menentang imam tersebut, maka bunuhlah.</em>” (Riwayat Muslim)</p>
<p>Dengan demikian, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah menjelaskan kemunduran umat ini, keadaan, sebab, dan solusinya.</p>
<p><strong>R</strong><strong>ealitas Umat</strong><strong> </strong><strong>Dalam Hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></strong></p>
<p>Jika kita melihat kenyataan umat Islam ini dengan pandangan agama Islam, kita akan mendapati realita umat yang terpuruk. Sesungguhnya, hal ini telah diberitakan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Inilah di antara realita umat Islam ini.</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ اْلأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ</strong></p>
<p><em>Dari Tsauban, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hampir-hampir bangsa-bangsa (kafir) saling mengajak untuk memerangi kalian sebagaimana orang-orang yang hendak makan saling mengajak menuju piring besar mereka.’ Seorang sahabat bertanya, ‘Apakah itu disebabkan sedikitnya jumlah kami pada hari itu?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ’Tidak, bahkan pada hari itu kalian banyak, tetapi kalian adalah buih/sampah bagaikan buih/sampah banjir. Dan Allah Subhanahu wa Ta’alaakan menghilangkan rasa gentar/takut dari dada musuh-musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah Subhanahu wa Ta’alaakan menimpakan ‘<strong>wahn’ (kelemahan)</strong> di dalam hati kalian.’ Seorang sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah yang menyebabkan</em><em> </em><em>kelemahan </em><em>itu?’ Beliau menjawab, <strong>‘Cinta dunia dan membenci kematian</strong>.’.&#8221;</em> (Riwayat Abu Daud: no. 4297; Ahmad: 5/278; Abu Nu&#8217;aim di dalam <em>Hilyatul Auliya&#8217;</em>: 1/182. Hadits ini berderajat <em>shahih lighairihi</em>)</p>
<p>Syekh Salim bin &#8216;Ied al-Hilali <em>hafidzuhullah</em> menjelaskan sebagian kandungan hadits yang mulia ini, “Bahwa umat Islam telah menjadikan dunia sebagai keinginannya yang terbesar dan sebagai puncak ilmunya. Oleh karena itu, mereka membenci kematian dan mencintai kehidupan (dunia), karena mereka membangun dunia tetapi tidak berbekal untuk akhirat.” (<em>Limaadza Ikhtartu al-Manhajas Salafii</em>, hlm.11)</p>
<p>Ini yang Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> takutkan, yaitu bila umat ini telah sampai pada keadaan seperti ini.</p>
<p>Dari Abdullah bin Amr bin Al Ash <em>radhiallahu ‘anhu</em> dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong> إِذَا فُتِحَتْ عَلَيْكُمْ فَارِسُ وَالرُّومُ أَيُّ قَوْمٍ أَنْتُمْ قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ نَقُولُ كَمَا أَمَرَنَا اللَّهُ قَالَ أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ تَتَنَافَسُونَ ثُمَّ تَتَحَاسَدُونَ ثُمَّ تَتَدَابَرُونَ ثُمَّ تَتَبَاغَضُونَ أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ ثُمَّ تَنْطَلِقُونَ فِي مَسَاكِينِ الْمُهَاجِرِينَ فَتَجْعَلُونَ بَعْضَهُمْ عَلَى رِقَابِ بَعْضٍ</strong></p>
<p><em>“Jika negara Parsi dan Romawi telah ditaklukan untuk kalian, kaum apakah kalian?” Abdurrahman bin Auf berkata, “Kami berbuat sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’alaperintahkan kepada kami.”<a href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a> Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Tidak seperti itu, kalian akan berlomba-lomba kemudian saling hasad (iri hati), kemudian saling membenci lalu saling bermusuhan. Kemudian kalian berangkat ke tempat-tempat tinggal kaum muhajirin dan kalian menjadikan sebagian mereka  membunuh sebagian yang lain.”</em> (Riwayat Muslim)</p>
<p>Oleh karena itu, ketika gudang harta Kisra (Raja Parsi) ditaklukkan, Umar bin Khaththab <em>radhiallahu ‘anhu</em> menangis dan berkata,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>إِنَّ هَذَا لَمْ يَفْتَحْ عَلَى قَوْمٍ قَطْ إِلاَّ جَعَلَ الله ِبَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ</strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya ini tidak dibukakan bagi suatu kaum, kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan peperangan di antara mereka.”</em></p>
<p>Apa yang ditakutkan oleh khalifah Umar bin al-Khaththab <em>radhiallahu ‘anhu</em> ini pun akhirnya terjadi. Mulailah bermunculan perpecahan yang membuat kaum kafir mampu menghancurkan kaum muslimin. Sebagaimana telah disebutkan dengan jelas dalam hadits Tsauban <em>radhiallahu ‘anhu</em></p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَإِنِّي سَأَلْتُ رَبِّي ِلأُمَّتِي أَنْ لاَ يُهْلِكَهَا بِسَنَةٍ بِعَامَّةٍ وَلاَ يُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ فَيَسْتَبِيحَ بَيْضَتَهُمْ وَإِنَّ رَبِّي قَالَ لِي يَا مُحَمَّدُ إِنِّي إِذَا قَضَيْتُ قَضَاءً فَإِنَّهُ لاَ يُرَدُّ وَلاَ أُهْلِكُهُمْ بِسَنَةٍ بِعَامَّةٍ وَلاَ أُسَلِّطُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ فَيَسْتَبِيحَ بَيْضَتَهُمْ وَلَوْ اجْتَمَعَ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِ أَقْطَارِهَا أَوْ قَالَ بِأَقْطَارِهَا حَتَّى يَكُونَ بَعْضُهُمْ يُهْلِكُ بَعْضًا وَحَتَّى يَكُونَ بَعْضُهُمْ يَسْبِي بَعْضًا </strong></p>
<p><em>Dari Tsauban, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya aku memohon kepada Robbku untuk umatku agar Dia tidak membinasakan umatku dengan paceklik yang merata, dan agar Dia tidak menjadikan musuh dari selain mereka menguasai mereka, sehingga musuh itu akan merampas daerah mereka. Dan sesungguhnya Rabbku berkata kepadaku,’Wahai Muhammad, sesungguhnya jika Aku telah menetapkan satu keputusan, maka itu tidak akan ditolak. Dan Aku tidak akan membinasakan mereka (umatmu) dengan paceklik yang merata. Dan Aku tidak akan menjadikan musuh dari selain mereka menguasai mereka, sehingga musuh itu akan merampas daerah mereka, walaupun musuh berkumpul dari berbagai penjuru bumi, sampai sebagian mereka (umatmu) membinasakan sebagian yang lain, dan  sampai sebagian mereka (umatmu) menjadikan tawanan sebagian yang lain.’.” </em>(Riwayat Abu Daud: no.4252; Ahmad: 5/278, 284; Al-Baihaqi: no.3952. Dishahihkan oleh Syaikh Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>ashiruddin al-Albani)</p>
<p>Lalu apa yang membuat kekuatan kaum muslimin dan bentengnya runtuh sehingga mereka terjangkit penyakit cinta dunia dan takut mati? Jawabannya kita dapatkan pada petunjuk kenabian yang ada pada hadits Hudzaifah bin al-Yaman <em>radhiallahu ‘anhu</em>, beliau <em>radhiallahu ‘anhu</em> berkata,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يستنون بغير سنتي ويَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا قَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِيإِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ</strong></p>
<p><em>“Orang-orang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan sedangkan aku bertanya kepadanya tentang keburukan karena aku takut jangan-jangan keburukan itu akan menimpaku. Maka aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kami dahulu berada di zaman jahiliyah dan keburukan, lalu Allah Subhanahu wa Ta’alamemberikan kami kebaikan ini, apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?’ Beliau menjawab, ‘Ya.’ Aku bertanya, ‘Dan apakah setelah keburukan itu ada kebaikan?’ Beliau menjawab, ‘Ya, dan padanya ada kabut (dakhan).’ Aku bertanya lagi, ‘Apa kabut (dakhan) tersebut?’ Beliau menjawab, ‘Satu kaum yang mengikuti teladan selain sunnah (ajaran)ku, dan mengambil petunjuk selain petunjukku, kamu menganggap baik dari mereka dan kamu pun mengingkarinya.’ Aku bertanya lagi, ‘Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan lagi.’ Beliau menjawab, ‘Ya, para dai yang mengajak ke pintu-pintu neraka (jahanam). Barangsiapa yang menerima ajakan mereka, niscaya mereka jerumuskan ke dalam neraka.’ Aku bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepada kami tentang sifat-sifat mereka?’ Beliau menjawab, ‘Mereka dari kaum kita dan berbicara dengan bahasa kita.’ Aku bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya?’ Beliau menjawab, ‘Berpegang teguhlah pada jamaah kaum muslimin dan imamnya,’ Aku bertanya lagi, ‘Bagaimana jika tidak ada jamaah maupun imam?’ Beliau menjawab, ‘Hindarilah semua kelompok-kelompok itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga kematian menjemputmu dalam keadaan seperti itu.” </em>(Riwayat Muslim)</p>
<p>Syekh Salim bin ‘Ied al-Hilali <em>hafidzuhullah</em> menyatakan, “Sesungguhnya racun berbahaya yang menghancurkan kekuatan kaum muslimin, melumpuhkan gerakan mereka, dan merenggut berkahnya, bukanlah pedang-pedang orang kafir yang berkumpul mengadakan tipu daya terhadap Islam, pemeluknya, dan negaranya. Akan tetapi, dia adalah bakteri penyakit yang keji yang merebak di dalam tubuh Islam yang besar dalam waktu yang sangat lambat tetapi terus menerus dan efektif (berdaya guna). Hal ini menegaskan bahwa penamaan orang-orang Yahudi terhadap negara Islam dengan nama “laki-laki yang sakit” (<em>the sickman</em>) sangat tepat sekali, karena merekalah yang menanamkan bakteri syahwat dan virus <em>syubhat</em> (kerancuan <sup>-ed</sup>) ke dalam tatanan negara Islam, kemudian tumbuh dan berkembang di bawah pemeliharaan dan pembinaan mereka.” (<em>Limaadza Ikhtartu al-Manhajas Salafii</em>)</p>
<p>Dalam hadits di atas telah jelaslah bahwa penyebab kehancuran kaum muslimin adalah kebid’ahan dan dai-dai sesat. Kemudian, dai-dai sesat pembuat fitnah sangat semangat dalam melancarkan program-programnya. Sebaliknya, orang-orang yang berada dalam kebenaran, lengah dan terlelap. Buktinya adalah <em>dakhan</em> (kabut) ini membesar sampai mengalahkan kebenaran, menyerang kebenaran dan ahlinya, menyerahkan urusan kepada selain ahlinya, serta meletakkan kebenaran bukan pada tempatnya. Di sinilah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menyampaikan sabdanya,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>سَيَأْتِيْ سَنَوَاتٌ خَدَّعَاتٌ يُصَدَّقُ فِيْهِنَّ الْكَاذِبُ وُيُكَذَّبُ فِيْهِنَّ الصَادِقُ وَ يُؤْتَمَنُ الخَائِنُ وَيُخَوَّنُ الأَمِيْنُ وَيَنْطِقُ فِيْهِنَّ الرُوَيْبِضَةُ فَقِيْل: وَمَا الرُوَيْبِضَةُ ؟ قَالَ: الرَجَلُ التَافَةُ يَتَكَلَّمُ فِيْ أَمْرِ العَامَةِ </strong></p>
<p><em>“Akan datang masa-masa yang menipu. (Pada saat itu), para pendusta dibenarkan dan orang-orang yang jujur didustakan, para pengkhianat diberi amanat dan orang yang (menjaga) amanat dianggap pengkhianat, dan pada masa itu para ruwaibidhah berbicara. Lalu ada yang mengatakan, ‘Siapakah “ruwaibidhah” itu?’ Beliau menjawab, ‘Orang bodoh yang berbicara tentang permasalahan umat.’”</em> (Riwayat Ibnu Majah dan Ahmad)</p>
<p>Syekh Abdurrahman bin Yahya Al-Mu&#8217;allimi <em>hafidzuhullah</em> menyampaikan bahwa realita umat Islam dewasa ini terjadi karena tiga perkara:</p>
<p>-   Pertama: Bercampurnya sesuatu yang bukan berasal dari agama (Islam) dengan sesuatu yang berasal dari agama (Islam).</p>
<p>-   Kedua: Lemahnya keyakinan terhadap sesuatu yang termasuk bagian dari agama (Islam).</p>
<p>-   Ketiga: Tidak mengamalkan hukum-hukum agama (Islam).</p>
<p>Apabila kesimpulan beliau dicermati, ternyata (akar permasalahan) kembali kepada kebid’ahan yang tercampur di dalam agama ini. Kebid’ahan inilah yang melemahkan keyakinan kaum muslimin terhadap ajaran agamanya, sebagaimana diisyaratkan dalam hadits Hudzaifah. Dari kurang yakinnya kaum muslimin terhadap ajaran Islam, muncullah kecintaan kepada dunia yang mengantarkan mereka untuk meninggalkan hukum-hukum agama yang mulia ini.</p>
<p><strong>=Bersambung <em>insya Allah</em>=</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, L.c.<br />
Artikel <a href="http://www.ustadzkholid.com/" target="_blank">www.UstadzKholid.com</a></strong></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Kami memuji, mensyukuri, dan memohon tambahan keutamaan-Nya. (an-Nawawi: 18/96)</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/manhaj/tashfiyah-dan-tarbiyah-jalan-menuju-kejayaan-umat/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/tashfiyah-dan-tarbiyah-jalan-menuju-kejayaan-umat/&amp;title=Tashfiyah+dan+Tarbiyah+Jalan+Menuju+Kejayaan+Umat+%28Seri-1%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/manhaj/tashfiyah-dan-tarbiyah-jalan-menuju-kejayaan-umat/&amp;title=Tashfiyah+dan+Tarbiyah+Jalan+Menuju+Kejayaan+Umat+%28Seri-1%29" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/manhaj/tashfiyah-dan-tarbiyah-jalan-menuju-kejayaan-umat/&amp;t=Tashfiyah+dan+Tarbiyah+Jalan+Menuju+Kejayaan+Umat+%28Seri-1%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/tashfiyah-dan-tarbiyah-jalan-menuju-kejayaan-umat/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Tashfiyah+dan+Tarbiyah+Jalan+Menuju+Kejayaan+Umat+%28Seri-1%29+-+http://ustadzkholid.com/manhaj/tashfiyah-dan-tarbiyah-jalan-menuju-kejayaan-umat/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/tashfiyah-dan-tarbiyah-jalan-menuju-kejayaan-umat/&amp;title=Tashfiyah+dan+Tarbiyah+Jalan+Menuju+Kejayaan+Umat+%28Seri-1%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/tashfiyah-dan-tarbiyah-jalan-menuju-kejayaan-umat/&amp;title=Tashfiyah+dan+Tarbiyah+Jalan+Menuju+Kejayaan+Umat+%28Seri-1%29" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Tashfiyah+dan+Tarbiyah+Jalan+Menuju+Kejayaan+Umat+%28Seri-1%29+-+http://bit.ly/oVakgx&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Tashfiyah+dan+Tarbiyah+Jalan+Menuju+Kejayaan+Umat+%28Seri-1%29&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/manhaj/tashfiyah-dan-tarbiyah-jalan-menuju-kejayaan-umat/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Sesungguhnya%20Allah%20Subhanahu%20wa%20Ta%E2%80%99ala%20telah%20mengutus%20Nabi%20Muhammad%20shallallahu%20%E2%80%98alaihi%20wa%20sallam%20dengan%20membawa%20petunjuk%20dan%20agama%20yang%20haq%20%28benar%29.%20Oleh%20karena%20itulah%2C%20Allah%20Subhanahu%20wa%20Ta%E2%80%99ala%20memenangkan%20agama%20ini%20di%20atas%20seluruh%20agama%2C%20walaupun%20orang%20kafir%20tidak%20menyukainya.%20Kemudian%20deng" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/manhaj/tashfiyah-dan-tarbiyah-jalan-menuju-kejayaan-umat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tajdid dalam Islam</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/manhaj/tajdid-dalam-islam/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/manhaj/tajdid-dalam-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Mar 2011 06:03:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Ushul Fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1844</guid>
		<description><![CDATA[Sudah menjadi satu keniscayaan bahwa manusia tidak akan baik dan teratur kehidupannya tanpa agama yang benar, sebab itulah timbangan yang benar dan ukuran standar dalam mengenal kebenaran dan keadilan dalam seluruh urusannya. Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah menyatakan kaidah penting dalam kewajiban berpegang teguh (komitmen) kepada ajaran Rasul dan penjelasan bahwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah menjadi satu keniscayaan bahwa manusia tidak akan baik dan teratur kehidupannya tanpa agama yang benar, sebab itulah timbangan yang benar dan ukuran standar dalam mengenal kebenaran dan keadilan dalam seluruh urusannya. Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> pernah menyatakan kaidah penting dalam kewajiban berpegang teguh (komitmen) kepada ajaran Rasul dan penjelasan bahwa kebahagian dan petunjuk hanyalah pada <em>ittiba’</em> Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Sedangkan kesesatan dan kesengsaraan pada menyelisihinya. Seluruh kebaikan yang ada, baik yang umum ataupun yang khusus bersumber dari sisi Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan seluruh keburukan di alam ini yang khusus berhubungan dengan hamba disebabkan karena menyelisihi Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> atau ketidaktahuan terhadap ajaran beliau.  (Lihat <em>Majmu’ Al-Fatawa</em>, 19/93).<span id="more-1844"></span></p>
<p>Imam Ibnu Al-Qayyim <em>rahimahullah</em> menjelaskan kebutuhan hamba kepada para rasul utusan Allah dalam ungkapan beliau,<em> “Tidak ada jalan menggapai kebahagian dan kesuksesan di dunia dan akhirat, kecuali ada di tangan mereka. Tidak ada juga cara mengenal yang baik dan buruk secara terperinci kecuali dari sisi mereka. Demikian juga tidak dapat diraih keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala sama sekali kecuali di tangan mereka. Yang baik dari perilaku, perkataan dan akhlak hanyalah ada pada petunjuk dan ajaran mereka. Merekalah timbangan yang pas untuk menimbang seluruh perkataan dan perbuatan, serta akhlak manusia dengan perkataan dan perbuatan serta akhlak mereka. Dengan mengikuti mereka terpisahlah orang yang mendapat petunjuk dengan yang sesat. Kebutuhan mendesak kepada para rasul lebih besar dari pada kebutuhan badan kepada ruhnya dan mata kepada cahayanya, serta ruh kepada kehidupannya. Semua kebutuhan yang harus ditunaikan segera, maka kebutuhan mendesak kepada para rasul di atas itu semua.” </em> (Lihat <em>Zaad Al-Ma’ad</em>, 1/79).</p>
<p>Beliaupun menambahkan, <em>“Apabila kebahagian hamba di dunia dan akhirat bergantung kepada petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka wajib pada setiap orang yang ingin kebaikan untuk dirinya dan ingin kesuksesan dan kebahagian untuk mengetahui  ajaran, sejarah hidup dan semua urusan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dapat mengeluarkannya dari lingkungan orang-orang bodoh dan memasukkannya ke dalam hitungan pengikut, pendukung dan golongan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.&#8221; </em> (Lihat <em>Zaad Al-Ma’ad</em>, 1/79).</p>
<p>Dengan demikian, agama yang benar sangat dibutuhkan dalam memperbaiki manusia di dunia dan akhiratnya. Sebagaimana tidak ada kebahagian seseorang di akhirat kecuali dengan mengikuti Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Juga tidak akan baik dalam dunia dan kehidupannya kecuali dengan mengikuti ajaran agama yang benar. Seluruh manusia sangat membutuhkan ajaran agama dalam seluruh keadaannya, karena manusia memiliki dua gerakan; gerakan untuk mendapatkan kemanfaatan dan gerakan untuk menolak dan mencegah ke-<em>mudharat</em>-an. Agama inilah yang menjadi cahaya yang menjelaskan kemanfaatan dan ke-<em>mudharat</em>-an (Lihat <em>Majmu’ Al-Fatawa</em>, 19/99).</p>
<p>Karena itu, Allah<em> Subhanahu wa Ta’ala</em> mengutus Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sebagai penutup para nabi dan rasul membawa ajaran Islam yang universal kepada seluruh umat manusia.  Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ لآ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِ وَيُمِيتُ فَئَامِنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ</p>
<p><em>“Katakanlah, ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang Ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimAt-kalimAt-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk’&#8221;</em>. (QS. Al-A’raf: 158).</p>
<p>Di samping itu juga menjaga agama ini dengan menjaga Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dari seluruh upaya pengurangan dan penambahan. Sehingga, Islam akan menjadi ajaran yang terjaga dan kekal sampai hari kiamat nanti.</p>
<p><strong>Ke-<em>bid’ah</em>-an Semarak</strong></p>
<p>Tidak dipungkiri lagi Islam terjaga, namun terkadang pengamalan Islam itu melemah dan terjadi pengurangan dan pertambahan yang dimasukkan ke dalam ajaran yang mulia ini. Karena itu, nampak bermunculan ke-<em>bid’ah</em>-an dan perkara yang menyelisihi syariat, serta hilangnya beberapa sunnah dengan sebab itu. Kerena lemahnya pengamalan atau bahkan hilangnya pengamalan ajaran Islam pada sebagian besar kaum muslimin, maka umat Islam membutuhkan orang yang memperbarui agama ini dengan mengembalikannya kepada keaslian dan kemurnian ajaran suci ini. Lalu Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> yang Maha Pemurah dan Penyayang memberikan anugerah-Nya kepada umat ini dengan dimunculkannya para <em>mujaddid</em> yang mengikuti jejak langkah Rasulullah sh<em>allallahu ‘alaihi wa sallam</em> agar menghidupkan kembali ajaran Islam dan mematikan ke-<em>bid’ah</em>-an,  serta mengembalikan umat ini untuk komitmen terhadap ajaran agamanya yang benar.</p>
<p><strong>Tajdid Satu Istilah Syar’i</strong></p>
<p>Istilah <em>At-Tajdid</em> adalah istilah <em>syar’i</em> yang bersumber kepada hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang berbunyi,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus untuk umat ini setiap awal seratus tahun orang yang memperbarui agamanya.”</em> (HR. Abu Daud no. 3740 dan dinilai <em>shahi</em>h oleh Syaikh Al-Albani dalam <em>Silsilah Ahadits Ash-Shahihah</em>, no. 599).</p>
<p>Istilah ini berasal dari bahasa Arab dari kata (جَدَّدَ) dan (جَدِيْدٌ). Kata <em>Al-Jadid</em> banyak digunakan dalam Alquran dan As-Sunnah atau dalam penggunaan para ulama. Bila kita melihat pengertian etimologi bahasa Arab tentang kata <em>“At-Tajdid”</em> dan kata turunannya ternyata kembali kepada pengertian <em>menghidupkan</em> (الإِحْيَاء), <em>membangkitkan</em> (البعْثُ) dan <em>mengembalikan</em> (الإِعَادَةُ). Sehingga ada tiga unsur makna yang terkandung dalam kata tersebut yaitu<em> keberadaan sesuat</em>u (وُجُوْد كَوْنِيَة) <em>kemudian hancur atau hilang</em> (بَلَى أو دُرُوْس) kemudian<em> dihidupkan dan dikembalikan</em> (الإِحْيَاء أو الإعَادَة). (<em>Mafhum Tajdid Ad-Dien</em>, Bisthami Muhammad Sa’id, hal. 18).</p>
<p>Karena istilah ini bersumber kepada sabda Rasulullah s<em>hallallahu ‘alaihi wa salla</em>m, maka hanya sunnah Rasulullah s<em>hallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sajalah yang dapat menentukan pengertian yang benar terhadap istilah <em>“At-Tajdid”</em> dan ketentuan-ketentuannya.</p>
<p>Kata <em>“At-Tajdid</em>” dalam hadits-hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sama dengan pengertian bahasa di atas yaitu menunjukkan pengertian kebangkitan, menghidupkan dan mengembalikan. Hal ini dapat dilihat dalam hadits Abdullah bin Amru bin Al-Ash <em>radhiallahu ‘anhu</em> yang berbunyi,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّ الإِيْمَانَ لَيَخْلَقُ فِيْ جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْب ، فَاسْأَلُوْا اللهَ أَنْ يُجَدِّدُ الإِيْمَانَ فِيْ قُلُوْبِكُمْ</p>
<p><em><br />
</em></p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya iman akan rusak di hati salah seorang kalian sebagaimana rusaknya baju, maka mohonlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengembalikan iman dalam kalbu kalian.”</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p><strong>Sebuah Pengertian yang Benar</strong></p>
<p>Sebuah realita kalau pengertian istilah <em>“At-Tajdid”</em> banyak diperselisihkan orang dan disimpangkan dari pengertian yang benar. Berapa banyak orang mendefinisikannya dengan beragam definisi yang menyimpang dari islam. Padahal semua mengerti kalau istilah ini bersumber dari hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, sehingga pasti pengertian yang benar tentang istilah ini adalah yang dimaksudkan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan disampaikan kepada para sahabat. Kemudian Sahabat telah menyampaikannya kepada generasi setelahnya secara bersambung dan estafet. Oleh karena orang yang berhak menjelaskan pengertian istilah <em>syar’i</em> ini adalah para ulama <em>sala</em>f  dari kalangan sahabat, <em>tabiin</em> dan <em>tabiit tabiin</em> serta para imam besar yang sudah terkenal dan masyhur serta diterima kaum muslimin generasi demi generasi.</p>
<p>Berikut ini pernyataan mereka tentang pengertian istilah <em>At-Tajdid</em> secara global (Semua pernyataan dalam masalah ini penulis nukilkan dari kitab <em>Tajdid ad-Din</em>, M<em>afhum wa Dhawaabith wa Atsaarahu</em>, Prof. DR. Muhammad bin Abdulaziz al-‘Ali secara ringkas dari hlm. 40-49) :</p>
<p><strong>1.</strong> Pengajaran agama dan menghidupkan sunnah-sunnah serta menolak kedustaan atas nama Nabi sh<em>allallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Hal ini dijelaskan Imam Ahmad bin Hambal <em>rahimahullah</em> dalam pengertian <em>tajdid</em>. Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berkata, <em>&#8220;Sesungguhnya Allah membangkitkan untuk manusia dalam setiap seratus tahunnya  orang yang mengajarkan sunah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menolak dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kedustaan.&#8221; </em> (Lihat<em> Taarikh al-Baghdadi,</em> 2/62).</p>
<p><strong>2. </strong> Memurnikan agama, membela akidah yang benar dan menjelaskan sunnah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> serta membela ahlinya dan menghancurkan ke-<em>bid’ah</em>-an.</p>
<p>Al-Munaawi <em>rahimahullah</em> ketika menjelaskan tentang<em> tajdid</em> dalam agama menyatakan,<em> &#8220;Maksudnya adalah menjelaskan sunnah dari bidah, memperbanyak ilmu, membela ahli ilmu dan menghancurkan kebidahan dan merendahkannya.&#8221; </em> (Lihat<em> Faidh Al-Qadir,</em>2/281).</p>
<p>Oleh karena itu, imam Ahmad bin Hambal <em>rahimahullah</em> menyatakan, <em>&#8220;Diriwayatkan dalam satu hadits bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus setiap seratus tahun orang yang memurnikan agamanya.&#8221;</em> (Lihat <em>Shofwat ash-Shofwah,</em> 2/13).</p>
<p><strong> 3. </strong>Menghidupkan semua yang telah melemah dan menghilang dari <em>ma’alim</em> (<em>syiar</em>) agama. Juga menghidupkan semua perkara sunnah yang telah hilang dan semua ilmu akidah dan ibadah yang telah samar.<br />
Abu Sahli Ash-Shu’luuki (wafat tahun 369 H.) pernah berkata tentang tajdid, <em>&#8220;Allah telah mengembalikan agama ini setelah hilang mayoritasnya dengan Ahmad bin Hambal.&#8221; </em>(Lihat <em>Tabyiin Kadzib al-Muftari,</em> hal. 53).</p>
<p><strong>4.</strong> Menghidupkan ilmu (<em>Ihyaa Al-Ilmi</em>) sebagaimana dalam sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ : يَنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الْغَالِيْنَ وَتَأْوِيْلَ الْجَاهِلِيْنَ وَ إِنْتِحِالَ الْمُبْطِلِيْنَ</p>
<p><em>“Ilmu agama ini akan dibawa oleh orang-orang yang terpercaya pada setiap generasi: mereka akan menolak tahrif (perubahan) yang dilakukan oleh orang-orang yang melewati batas, ta’wil (penyimpangan arti) yang dilakukan oleh orang-orang yang bodoh, dan kedustaan yang dilakukan oleh orang-orang yang berbuat kepalsuan.” </em> (HR. Ibnu ‘Adi, Al-Baihaqi, Ibnu ‘Asakir, Ibnu Hibban, dll,; dinyatakan berderajat <em>hasan</em> oleh Syeikh Salim bin ‘Ied al-Hilali dalam <em>Hilyatul ‘Alim Al-Mu’allim</em>, hal. 77, juga oleh Syeikh Ali bin Hasan di dalam <em>At-Tashfiyah wat Tarbiyah</em>).</p>
<p><strong>5.</strong> Membangkitkan kembali upaya mengamalkan Alquran dan sunnah Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> dalam seluruh sisi kehidupan manusia dan mengembalikan peristiwa dan hal yang baru kepada isi kandungannya.<br />
Imam Muhammad bin Sulaiman Al-Alqami (wafat tahun 969 H) menyatakan, <em>“Pengertian Tajdid adalah menghidupkan kembali pengamalan Al-Qur`an dan Sunnah serta perintah mengamalkan kandungan keduanya</em>.&#8221; (Lihat <em>‘Aunul Ma’bud, </em>4/178 dan <em>Faidhul-Qadir</em> 2/281).</p>
<p>Sedangkan imam Al-Munaawi menjelaskan sebab perlunya <em>tajdid</em> dalam ungkapan beliau, <em>&#8220;Hal ini karena Allah Ta&#8217;ala menjadikan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam sebagai penutup para nabi dan rasul (Khatamul anbiya’war rusul), padahal peristiwa dan kejadian tak terhitung jumlahnya dan mengenal hukum agama sudah menjadi kelaziman hingga hari kiamat. Disamping itu zhahir nash-nash syariat belum bisa menjelaskannya secara sempurna, bahkan harus ada cara yang sempurna dalam masalah ini, maka hikmah Allah menuntut munculnya satu kaun dari para ulama di awal setiap abad yang menanggung beban menjelaskan kejadian-kejadian tersebut untuk memperlakukan umat ini bersama ulama mereka sebagaimana perlakuan pada bani israil bersama nabi-nabi mereka.&#8221;</em> (Lihat <em>Faidhul Qadir,</em> 1/10).</p>
<p><strong>6. </strong> <em>Ta’shil Al-Ilm</em>i (membuat kaidah-kaidah dasar ilmu yang benar) dan mengajak orang untuk mengambil agamanya dari sumbernya yang asli melalui para ulama disertai dengan<em> tarbiya</em>h (pendidikan) manusia diatas pemahaman agama yang benar.</p>
<p>Demikianlah beberapa pernyataan ulama terdahulu seputar <em>tajdid</em> yang nampaknya berbeda namun memiliki satu kesamaan dalam memahami istilah <em>tajdid</em> ini. Hal ini dapat diungkapkan dalam ungkapan berikut ini:</p>
<ul>
<li><em>At –Tajdid</em> (pembaharuan agama) adalah menghidupkan kembali yang telah hilang atau lemah dari pokok-pokok agama (<em>Ushuluddin</em>) dan cabangnya, baik berupa ucapan atau perbuatan dan mengembalikanbnya kepada keadaannya yang benar yang telah diajarkan Al-Qur`an dan sunnah serta menghilangkan semua yang berhubungan dengan agma pada akal manusia dan amalannya berupa kebidahan dan <em>khurafat.</em> (Lihat <em>Tajdidud Dien Mafhumuhu wa Dhawaabituhu wa Atsaaruhu,</em> hal. 46).</li>
<li><em>At-Tajdid</em> adalah mengembalikan kecemerlangan, keindahan islam dan menghidupkan yang telah hilang dari sunnah dan <em>syiar-syiar-</em>nya serta mensucikan islam dari ke-<em>bid’ah</em>-an dan<em> khura</em>fat, juga membersihkannya dari tambahan-tambahan manusia yang masuk padanya dan menebarkan agama ini diantara manusia pada keadaannya yang asli, murni dan suci. (Lihat <em>Asbaabul Akhthaa’ fit Tafsir</em> DR. Thaahir Mahmud Muhammad Ya’qub, 2/786).</li>
<li><em>At-Tajdid</em> adalah menghidupkan dan menebar <em>syiar-syiar</em> agama (<em>ma’aalimuddin</em>) baik yang bersifat ilmiyah maupun <em>amaliyah</em> yang telah dijelaskan<em> nash-nash</em> Alquran dan sunnah serta pemahaman <em>salaf</em>. (Lihat <em>Mafhum Tajdidid Din,</em> hal. 30).</li>
</ul>
<p>Dari tiga kesimpulan ini dapat diambil satu pengertian singkat untuk istilah <em>At-Tajdid </em>yang dalam istilah kita adalah pembaharuan agama sebagai upaya mengembalikan umat kepada islam yang tegak diatas Al-Qur`an dan sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sesuai dengan pemahaman <em>salaf </em>umat dari kalangan para sahabat, <em>tabi’in</em> dan orang yang mengikuti jejak langkah mereka dalam beragama.<br />
<em> Wallahu a’lam.</em></p>
<p>Penulis Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.<br />
Artikel<a href="http://www.ustadzkholid.com" target="_blank"> www.ustadzkholid.com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/manhaj/tajdid-dalam-islam/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/tajdid-dalam-islam/&amp;title=Tajdid+dalam+Islam" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/manhaj/tajdid-dalam-islam/&amp;title=Tajdid+dalam+Islam" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/manhaj/tajdid-dalam-islam/&amp;t=Tajdid+dalam+Islam" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/tajdid-dalam-islam/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Tajdid+dalam+Islam+-+http://ustadzkholid.com/manhaj/tajdid-dalam-islam/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/tajdid-dalam-islam/&amp;title=Tajdid+dalam+Islam" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/tajdid-dalam-islam/&amp;title=Tajdid+dalam+Islam" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Tajdid+dalam+Islam+-+http://bit.ly/eSRLKJ&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Tajdid+dalam+Islam&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/manhaj/tajdid-dalam-islam/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Sudah%20menjadi%20satu%20keniscayaan%20bahwa%20manusia%20tidak%20akan%20baik%20dan%20teratur%20kehidupannya%20tanpa%20agama%20yang%20benar%2C%20sebab%20itulah%20timbangan%20yang%20benar%20dan%20ukuran%20standar%20dalam%20mengenal%20kebenaran%20dan%20keadilan%20dalam%20seluruh%20urusannya.%20Oleh%20karena%20itu%2C%20Syaikhul%20Islam%20Ibnu%20Taimiyah%20rahimahullah%20pernah%20menyatak" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/manhaj/tajdid-dalam-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Nabi Pernah Berbuat Salah?</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/manhaj/apakah-nabi-pernah-berbuat-salah/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/manhaj/apakah-nabi-pernah-berbuat-salah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Apr 2010 13:58:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Ma'sum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1589</guid>
		<description><![CDATA[Apa dan bagaimana sebenarnya konsep kema'shuman Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ana mau bertanya tentang bagaimana sebenarnya konsep kema&#8217;shuman Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam itu. Sedangkan kalau kita merujuk kepada al-Qur&#8217;an dan as-sunnah, maka akan kita temukan ayat-ayat dalam al-Qur&#8217;an yang isinya menegur beliau (misalnya QS. at-Tahrim: 1 dan QS. Abasa: 1-11) dan di dalam as-sunnah maka akan kita temukan juga hal yang semisal, seperti beliau pernah shalat dzuhur 2 rakaat karena lupa, yang akhirnya beliau melakukan sujud sahwi. Beliau shallallahu &#8216;alahi wa sallam juga ditegur oleh Allah berkenaan dengan fitnah yang terjadi pada &#8216;Aisyah. Mohon kiranya pa&#8217; Ustad berkenan menjelaskan, apa dan bagaimana sebenarnya konsep kema&#8217;shuman Rasulullah shallallahu &#8216;alahi wa sallam. Jazakumullah khairan katsiran.</p>
<p style="text-align: right;"><em>Ubaid<br />
Alamat: Jakarta Timur<br />
Email: </em><span style="text-decoration: underline;"><a href="mailto:aerxxxx@yahoo.com"><em>aerxxxx@yahoo.com</em></a></span><span id="more-1589"></span></p>
<p><strong>Al Akh Yulian Purnama menjawab:</strong><br />
Mengenai kema&#8217;shuman Rasulullah serta para Nabi dan Rasul secara umum, perlu dibagi menjadi dua macam:</p>
<p><strong>1. Kema&#8217;shuman dari kesalahan dalam menyampaikan ajaran agama</strong></p>
<p>Yaitu apakah Rasulullah serta para Nabi dan Rasul terjaga dari melakukan kesalahan dalam menyampaikan agama? Jawabnya: ya. Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ</p>
<p>“<em>Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): &#8220;Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya&#8221;, dan mereka mengatakan: &#8220;Kami dengar dan kami taat&#8221;. (Mereka berdoa): &#8220;Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali</em>&#8220;. (QS. Al Baqarah: 285)</p>
<p>Pada ayat di atas, setiap mu&#8217;min diwajibkan untuk beriman kepada apa yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul, ini menunjukkan bahwa ajaran yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul terbebas dari <a href="http://ustadzkholid.com/manhaj/apakah-nabi-pernah-berbuat-salah/">kesalahan</a>, kealpaan dan kecacatan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -<em>rahimahullah</em>- berkata:</p>
<p>ان الأنبياء صلوات الله عليهم معصومون فيما يخبرون به عن الله سبحانه وفى تبليغ رسالاته باتفاق الأمة ولهذا وجب الايمان بكل ما اوتوه</p>
<p>“Para Nabi Shalawatullah &#8216;alaihim mereka ma&#8217;shum dalam mengabarkan dan menyampaikan ajaran agama dari Allah, ini disepakati para ulama. Oleh karena itulah mengimani apa yang mereka bawa adalah wajib” (<em>Majmu&#8217; Fatawa</em>, 289-290/10)</p>
<p><strong>2. Kema&#8217;shuman dari dosa dan maksiat</strong></p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -<em>rahimahullah</em>- juga menjelaskan bahwa kema&#8217;shuman dari dosa dan maksiat terdapat perbedaan pendapat diantara para ulama. Sebagian ulama berpendapat mereka ma&#8217;shum secara mutlak. Sebagian yang lain berpendapat bahwa mereka ma&#8217;shum dari dosa besar saja. Sebagian yang lain berpendapat bahwa mereka hanya ma&#8217;shum dalam penyampaian risalah namun tidak ma&#8217;shum dari dosa dan maksiat.</p>
<p>Sebagian ulama yang berpendapat bahwa para Nabi dan Rasul ma&#8217;shum secara mutlak berdalil dengan alasan logika, yaitu bagaimana mungkin kita diperintahkan untuk meneladani dan mentaati para Nabi dan Rasul jika mereka pernah berbuat dosa. Alasan logika yang lain adalah, para Nabi dan Rasul adalah manusia-manusia sempurna, jika mereka berbuat dosa dan maksiat, tentu tidak sempurna lagi. Pendapat  ini lemah karena hanya didasari oleh logika saja. Maka Syaikhul Islam pun menyanggahnya:</p>
<p>فهذا انما يكون مع البقاء على ذلك وعدم الرجوع والا فالتوبة النصوح التى يقبلها الله يرفع بها صاحبها الى اعظم مما كان عليه كما قال  بعض السلف كان داود عليه السلام بعد التوبة خيرا منه قبل الخطيئة</p>
<p>“Logika tersebut bisa saja benar jika para Nabi dan Rasul terus-menerus berbuat dosa lalu tidak ruju&#8217;, padahal tidak demikian. Dan taubat nasuha yang diterima oleh Allah dapat mengangkat orang yang bertaubat tersebut kepada martabat yang lebih tinggi daripada sebelum ia bertaubat. Sebagaimana perkataan para salaf:</p>
<p>كان داود عليه السلام بعد التوبة خيرا منه قبل الخطيئة</p>
<p>&#8216;<em>Nabi Daud &#8216;Alaihissalam keadaannya lebih mulia setelah bertaubat daripada sebelum ia berbuat kesalahan</em>&#8216;” (<em>Majmu&#8217; Fatawa</em>, 294/10)</p>
<p>Oleh karena itu kita jumpai banyak dalil yang menunjukkan bahwa para Nabi dan Rasul pernah berbuat dosa. Namun jika kita perhatikan setiap dalil yang menunjukkan para Nabi dan Rasul berbuat dosa selalu digandengkan dengan taubat dan ruju&#8217;nya mereka.</p>
<p>Nabi Adam dan istrinya &#8216;Alaihimassalam berkata:</p>
<p>قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ</p>
<p>“<em>Keduanya berkata: &#8220;Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi</em>” (QS. Al A&#8217;raf: 23)</p>
<p>Nabi Nuh &#8216;<em>Alaihissalam</em> berkata:</p>
<p>قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ</p>
<p>“<em>Nuh berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi</em>&#8221; (QS. Hud: 47)</p>
<p>Allah Ta&#8217;ala menceritakan tentang Nabi Daud &#8216;<em>Alaihissalam :</em></p>
<p>فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَ فَغَفَرْنَا لَهُ ذَٰلِكَ ۖ وَإِنَّ لَهُ عِنْدَنَا لَزُلْفَىٰ وَحُسْنَ مَآبٍ</p>
<p>“<em>Nabi Daud meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat. Maka Kami ampuni baginya kesalahannya itu. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik</em>” (QS. Shad: 24-25)</p>
<p>Begitu juga Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam. Banyak terdapat hadits dari yang menunjukkan bahwa beliau tidak lepas dari kesalahan. Sebagaimana hadits:</p>
<p>سألت عائشة عن دعاء كان يدعو به رسول الله صلى الله عليه وسلم . فقالت : كان يقول &#8221; اللهم ! إني أعوذ بك من شر ما عملت ، وشر ما لم أعمل &#8221; . وفي رواية : &#8221; ومن شر ما لم أعمل</p>
<p>“<em>Aisyah ditanya tentang doa yang biasa diamalkan oleh Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam. Ia menjawab: &#8216;Beliau sering berdoa: &#8216;Ya Allah, aku berlindung dari keburukan yang telah aku perbuat dan keburukan yang belum aku perbuat&#8217;. </em>Dalam riwayat lain<em>: &#8216;Dari keburukan yang aku belum tahu&#8217;</em>&#8216;” (HR. Muslim no.2716)</p>
<p>Oleh karena itu beliau tidak pernah bosan bertaubat. Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p>يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ</p>
<p>“<em>Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah. Sungguh aku biasa bertaubat kepada Allah seratus kali dalam sehari</em>” (HR. Muslim no.7034)</p>
<p>Sehingga pendapat yang kuat adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:</p>
<p>فإن القول بأن الانبياء معصومون عن الكبائر دون الصغائر هو قول أكثر علماء الاسلام وجميع الطوائف حتى إنه قول اكثر أهل الكلام</p>
<p>“Pendapat yang menyatakan bahwa para Nabi itu ma&#8217;shum dari dosa besar namun tidak ma&#8217;shum dari dosa kecil adalah pendapat mayoritas ulama dan seluruh aliran-aliran Islam yang ada, bahkan sampai-sampai ini pun merupakan pendapat mayoritas ahlul kalam” (<em>Majmu&#8217; Fatawa</em>, 319/4)</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong>: pendapat yang benar -<em>wallahu&#8217;alam</em>-, para Nabi dan Rasul ma&#8217;shum dari dosa besar dan ma&#8217;shum dari terus-menerus melakukan dosa kecil. Mereka pernah berbuat kesalahan yang tergolong dosa kecil namun segera bertaubat dan pasti diampuni oleh Allah <em>Ta&#8217;ala</em>. Dengan demikian akan selaras dengan sabda Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>:</p>
<p>كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ</p>
<p>“<em>Setiap manusia pasti banyak berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang sering bertaubat</em>” (HR. Tirmidzi no.2687. At Tirmidzi berkata: “Hadits ini gharib”. Di-<em>hasan</em>-kan Al Albani dalam <em>Al Jami Ash Shaghir</em>, 291/18)</p>
<p>Wallahu Ta&#8217;ala A&#8217;lam</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Yulian Purnama</p>
<p>Artikel UstadzKholid.Com</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/manhaj/apakah-nabi-pernah-berbuat-salah/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/apakah-nabi-pernah-berbuat-salah/&amp;title=Apakah+Nabi+Pernah+Berbuat+Salah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/manhaj/apakah-nabi-pernah-berbuat-salah/&amp;title=Apakah+Nabi+Pernah+Berbuat+Salah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/manhaj/apakah-nabi-pernah-berbuat-salah/&amp;t=Apakah+Nabi+Pernah+Berbuat+Salah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/apakah-nabi-pernah-berbuat-salah/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Apakah+Nabi+Pernah+Berbuat+Salah%3F+-+http://ustadzkholid.com/manhaj/apakah-nabi-pernah-berbuat-salah/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/apakah-nabi-pernah-berbuat-salah/&amp;title=Apakah+Nabi+Pernah+Berbuat+Salah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/apakah-nabi-pernah-berbuat-salah/&amp;title=Apakah+Nabi+Pernah+Berbuat+Salah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Apakah+Nabi+Pernah+Berbuat+Salah%3F+-+File: /data/app/webapp/functions.php<br />Line: 7<br />Message: Too many connections&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Apakah+Nabi+Pernah+Berbuat+Salah%3F&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/manhaj/apakah-nabi-pernah-berbuat-salah/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Apa%20dan%20bagaimana%20sebenarnya%20konsep%20kema%27shuman%20Rasulullah%20shallallahu%20%27alahi%20wa%20sallam%3F" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/manhaj/apakah-nabi-pernah-berbuat-salah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Madzhab Dan Perkembangannya</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/manhaj/madzhab-dan-perkembangannya/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/manhaj/madzhab-dan-perkembangannya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Apr 2010 14:44:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[madzhab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1559</guid>
		<description><![CDATA[Hari demi hari kaum muslimin dewasa ini selalu mendapakan ujian pengkaburan nilai-nilai agamanya. Pengkaburan ini dilakukan dengan slogan perbedaan madzhab, sehingga akhirnya istilah madzhab dijadikan pembungkus kebid ‘ahan dan penyelewengan dalam agama]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari demi hari kaum muslimin dewasa ini selalu mendapakan ujian pengkaburan nilai-nilai agamanya. Pengkaburan ini dilakukan dengan slogan perbedaan <a href="http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/manhaj-tanya-ustadz/bolehkah-ber-madzhab/">madzhab</a>, sehingga akhirnya istilah madzhab dijadikan pembungkus kebid ‘ahan dan penyelewengan dalam agama. Realita yang ada menunjukkankan juga istilah madzhab memiliki konotasi taqlid, oleh karena itu perlu sekali kita melihat sejarah perkembangan pemikiran kaum muslimin dalam permasalahan ini walaupun secara singkat.</p>
<p><strong>Pengertian madzhab</strong><br />
Kata Madzhab berasal dari kata bahasa Arab ????? ?- ???????? &#8211; ???????? &#8211; ????????? – ????????? bermakna berjalan (pergi) atau lewat, sedangkan ??????????? bermakna i’tiqad (keyakinan), jalan dan ushul yang dijalankannya [1], seperti pernyataan : Madzhab kami adalah madzhab sepuluh orang yang dijamin masuk syurga dan Ahmad[2].</p>
<p>Jadi, istilah madzhab sebenarnya mencakup juga keyakinan dan aqidah, sehingga sering digunakan para ulama untuk menyatakan keyakinan dan akidah ahlussunnah, seperti pernyataan Imam Al Shabuni ketika menjelaskan aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah : Dan termasuk madzhab Ahli Al Hadits, Imam adalah perkataan dan perbuatan serta <em>ma’rifah</em> (ilmu), bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan[3]. Demikian juga beliau menyatakan : Diantara madzhab Ahlu Sunnah wal Jamaah [4]<span id="more-1559"></span></p>
<p>Dengan demikian, salahlah bila seorang yang fanatis terhadap satu madzhab misalnya madzhab Syafi’i, lalu hanya mengambil madzhab beliau dalam fiqih dan meninggalkan aqidah yang diyakini beliau. Seperti kebanyakan pengikut madzhab yang ada, mereka ngotot menyatakan dirinya bermadzhab namun jauh dari keyakinan dan amalan imam yang diikutinya tersebut.</p>
<p><strong>Sejarah Perkembangan madzhab-madzhab yang menyimpang</strong></p>
<p>Umat islam di zaman Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> adalah umat yang satu dan bersatu mengikuti seluruh petunjuk Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> . namun semakin jauh dari masa kenabian dan jauh dari kota Madinah maka bermunculanlah madzhab-madzhab yang menyimpang dan kebid’ahan. Kota-kota yang dihuni banyak para sahabat relatif lebih sulit dan sedikit kebid’ahannya dibandingkan yang lainnya, sebab disanalah berkembang ilmu dan iman. Kota-kota tersebut adalah Makkah, Madinah, Bashroh, Kufah dan Syam. Dari kota-kota tersebut kota Madinahlah yang tidak muncul kebidahan sampai selesai masa tabiit Tabiin sedangkan yang lainnya telah bermunculan kebidahan. Kota Kufah muncul kebidahan syi’ah dan Murji’ah, kota Bashroh muncul Qadariyah, <em>mu’tazilah</em> dan <em>shufiyah</em> dan kota Syam muncul bidah <em>Nawashib </em>[5]. Bahkan kota Madinah tidak berkembang kebidahan sampai zaman murid-murid imam Malik yang merupakan kurun keempat.</p>
<p>Syaikhul Islam menceritakan perkembangan kebid’ahan dalam umat ini: Ketahuilah umumnya kebid’ahan yang berhubungan dengan aqidah dan ibadah, hanyalah terjadi pada umat islam di masa-masa akhir kekhilafahan Khulafaa’ Rasyidin, sebagaimana diberitakan Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dalam sabdanya :</p>
<p class="arab">???? ?????? ???????? ??????? ????????? ??????????? ???????? ???????????? ?????????? ????????? ???????????? ??????????????? ?????????????</p>
<p><em>Barang siapa yang masih hidup dari kalian maka akan melihat perselisihan yang banyak. Maka berpegang teguhlah kepada Sunnahku dan Sunnah para kholifah Rasyidin</em>..[6][7]</p>
<p>Kemudian beliau menyatakan: Ketika negara khulafa’ Rasyidin habis dan jadilah kerajaan, maka muncullah kekurangan pada pemerintah dan ini mesti diikuti juga dengan kemunculan hal tersebut pada ulamanya, sehingga muncullah pada kekhilafahan Ali bin Abi Tholib dua kebid’ahan yaitu <a href="http://ustadzkholid.com/manhaj/mengenal-khawarij"></a>Khawarij dan Rafidhah. Dua kebidahan ini berhubungan dengan masalah imamah dan khilafah serta yang yang berhubungan dengan hal itu dari amalan dan hukum-hukum syari’at [8].</p>
<p>Dalam pernyataan lainnya beliau menyatakan: Ketika terjadi perpecahan setelah terbunuhnya khalifah Utsman muncullah kebidahan khawarij dan muncul juga syi’ah dengan 3 alirannya. Yang ekstrim dibakar oleh Ali bin Abi Tholib, <em>Syiah Mufadholah</em> dicambuk delapan puluh kali oleh Ali dan aliran Saba’iyah yang imam Ali ancam dan Ibnu Saba’ dicari untuk dibunuh namun berhasil melarikan diri[9].</p>
<p>Kemudian setelah pemerintahan Mu’awiyah dan Yazid bin Mu’awiyah umat Islam berpecah belah. Ibnu Taimiyah menyatakan: Kemudian Yazid meninggal dunia dan umat Islam berpecah belah, Ibnu Az Zubair memerintah di Hijaaz, Banu Al Hakam memerintah di Syam dan Al Mukhtar bin Abu Ubaid dan lainnya merebut Iraq. Dan ini terjadi di akhir masa shahabat dan masih tersisa pada mereka sahabat seperti Abdullah bnu Abas, Abdullah bin Umar, Jabir bin Abdillah, Abu Sa’id Al Khudri dan sejawatnya. Pada masa inilah muncul bidah Qadariyah dan <a href="http://ustadzkholid.com/manhaj/implikasi-buruk-pemikiran-murjiah"></a>Murji’ah. Lalu para sahabat seperti Ibnu Abas, Ibnu Umar[10], Jabir[11] dan Watsilah bin Al Asqaa’ serta yang lainnya membantahnya dengan tetap membantah kebidahan khawarij dan rafidhoh. Pada umumnya madzhab Qadariyah ketika itu hanya berbicara pada masalah amalan hamba (<em>A’maal Al Ibaad</em>) sebagaimana Murji’ah pun berbicara dalam permasalahan ini, sehingga mereka hanya berbicara tentang masalah taat dan maksiat, Mu’min dan fasiq dan yang sejenisnya dari masalah <em>Asma Wa Ahkaam</em> [12] dan <em>Al Wa’d wa Al Wa’id</em> [13] dan belum berbicara lagi tentang Rabb dan sifat-sifatNya kecuali di akhir-akhir masa shighor tabiin tepatnya di akhir kekhilafahan bani Umayah diawal abad ketiga –<em>Tabi&#8217;ut Tabiin</em>- ketika kebanyakan mereka telah wafat [14].</p>
<p>Kemudian beliau menuturkan kembali dalam pernyataannya: Lalu sebagian kitab-kitab Persia, India dan Rumawi dialih bahasakan kebahasa Arab dan muncullah apa yang disabdakan Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> :</p>
<p class="arab">????? ??????? ????????? ?????? ???????? ????????? ?? ??? ???????????? ?? ???????? ????? ????????????</p>
<p><em>Kemudian tersebarlah kedustaan sampai seseorang bersaksi dan tidak dimintai persaksian dan bersumpah tanpa diminta bersumpah</em>.</p>
<p>Lalu muncullah tiga kebidahan yaitu <em>Ar Ra’yu</em> [15], <em>Al Kalam</em> dan <em>Tashawuf</em>. Kemudian muncul bidah <em>tajahhum</em> (<em>jahmiyah</em>) yaitu bidah penolakan sifat-sifat Allah, lalu muncul juga bid&#8217;ah <em>tamtsil</em> [16].</p>
<p>Ibnu Taimiyah menyatakan tentang kemunculan Jahmiyah ini dalam pernyataannya: Adapun Jahmiyah, maka mereka muncul di akhir zaman Tabi’in setelah wafatnya Umar bin Abdil Aziz. Kemunculan Jahm bin Shafwan di Kota Khurasaan di zaman kekhilafahan Hisyam bin Abdilmalik [17].</p>
<p>Ibnu Al Qayyim menyampaikan kepada kita ringkas sejarah yang dipaparkan guru beliau diatas dengan pernyataan: Bidah Qadariyah muncul diakhir masa sahabat, lalu sahabat yang masih hidup seperti Abdullah bin Umar, Ibnu Abas dan yang semisalnya mengingkarinya, kemudian muncul bidah Irja’ (murji’ah)setelah habis masa sahabat lalu para kibar tabiin angkat bicara membantahnya, kemudian muncul bid’ah tajahhum (Jahmiyah) setelah selesai masa Tabi’in. bidah ini menjadi besar dan menyebar kejelekannya pada zaman para imam seperti imam Ahmad dan yang semisalnya. Kemudian setelah itu muncul bid’ah Hulul (Hululiyah) dan berkembang pada zaman Al Husein Al Hallaaj. Setiap kali syeithon memunculkan satu kebidahan dan yang lainnya maka Allah bangkitkan diantara hizbu dan tentaraNya yang membantah dan memperingatkan kaum muslimin dari kebidahan tersebut [18].</p>
<p>Sedangkan Ibnu Hajar menjelaskan bahwa setelah penulisan hadits Nabi muncul penulisan tafsir Al Qur’an, kemudian pembukuan masalah-masalah fiqih yang dilahirkan dari Ra’yu murni kemudian pembukuan yang berhubungan dengan amalan-amalan hati (tashawuf). Adapun yang pertama (pembukuan hadits) diingkari oleh Umar, Abu Musa dan sekelompok sahabat dan mayoritas mereka membolehkannya. Sedangkan yang kedua diingkari sejumlah Tabi&#8217;in diantaranya Asy Sya’bi dan yang ketiga diingkari Imam Ahmad dan sejumlah ulama. Demikian juga Imam Ahmad lebih mengingkari lagi yang setelahnya. Diantara yang muncul berkembang juga adalah pembukuan pendapat-pendapat yang berhubungan dengan ushul agama, sehingga tersebarlah kelompok <em>Mutsbitah</em> (yang menetapkan sifat Allah) dan <em>An Nufaah</em> (yang menolak sifat Allah). Kelompok pertama menjadi ekstrim sampai menyerupakan Allah dengan makhluk dan yang kedua sampai menolak semua sifat Allah (<em>Mu&#8217;aththil</em>). Para salaf dengan kerasnya mengingkari hal ini seperti Abu Hanifah, Abu Yusuf dan Imam Asy Syafi’i. Dan pernyataan mereka dalam mencela ilmu kalam sudah masyhur. Sebabnya karena mereka berbicara dalam hal-hal yang Rasululloh <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dan para sahabatnya tidak membicarakannya. Imam malik pernah menyatakan bahwa pada zaman nabi, Abu bakar dan Umar tidak ada sedikitpun kebidahan- yaitu bidah khawarij, Rafidhah, Qadariyah- lalu berkembang lebih luas (bid&#8217;ah ini) pada masa belakangan dari tiga generasi yang utama dalam mayoritas perkara yang telah diingkari para tabiin dan tabiit tabiin. Mereka tidak puas hanya dengan hal ini sehingga mencampur adukkan masalah-masalah agama dengan ilmu kalam Yunani dan menjadikan statemen filsafat sebagai dasar rujukan terhadap atsar (nash-nash syar’I) yang menyelisihinya dengan ta’wiel walaupun dipaksakan. Kemudian juga tidak cukup hanya dengan ini saja sampai menganggap apa yang mereka susun tersebut sebagai ilmu yang paling mulia dan utama untuk dipelajari serta orang yang tidak menggunakan istilah yang mereka buat tersebut sebagai orang awam yang bodoh. Orang yang berbahagia adalah orang yang berpegang teguh kepada ajaran salaf dan menjauhi kebidahan orang kholaf.[19]</p>
<p>Demikianlah orang-orang yang meanganggap pemikiran mereka lebih baik dari nash-nash syar’I, lalu setelah itu bermunculanlah sikap taklid buta pada kaum muslimin yang menyebabkan mereka jauh darikemulian dan kejayaan yang pernah dirasakan para salaf shalih.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah melengkapi pernyataan beliau diatas dengan menyatakan: Kemudian orang-orang terdahulu (<em>Mutaqaddimun</em>) yang meletakkan jalan pemikiran , ilmu kalam dan tasawuf dan yang lainnya masih mencampurkan hal itu dengan dasar Al Qur’an dan Sunnah serta Atsaar, karena masanya masih dekat (dengan generasi terbaik) dan juga cahaya sunnah Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> masih tampak tinggi, walaupun disebagian orang cahaya sunnah ini telah tercampuri kegelapan yang lainnya. Sedangkan orang-orang akhir (<em>Mutaakhirun</em>) maka banyak dari mereka yang lepas dari kaidah yang diletakkan orang terdahulunya, seperti orang yang menulis kitab ilmu kalam dari kalangan <em>mutaakhirin</em> yang hanya memuat kaidah-kaidah berfikir bid&#8217;ah saja dan berpaling dari kitabullah dan Sunnah. Juga menjadikan keduanya sebagai rujukan sekunder saja atau beriman kepada keduanya secara global saja atau perkaranya keluar sampai menjadi zindiq. Ahli kalam <em>mutaqaddimun</em> lebih baik dari <em>mutaakhirun</em>-nya. Demikian juga yang menulis pembahasan <em>Ar Ra’yu</em> hanya menjelaskan pemikiran imamnya dan sahabat pendukungnya saja dan berpaling dari Al Qur’an dan Sunnah serta menimbang isi kandungan Al Qur’an dan Sunnah dengan pemikiran imamnya saja, seperti banyak dari para pengikut madzhab Abu Hanifah, malik, Syafi’I dan Ahmad [20].</p>
<p>Demikian akhirnya <a href="http://ustadzkholid.com/manhaj/madzhab-dan-perkembangannya"></a>madzhab menjadi segala-galanya. Semua yang menyelisihi madzhab walaupun itu Al Qur’an dan Sunnah maka harus ditinggalkan. Bahkan sampai-sampai dikatakan yang tidak bermadzhab satu dianggap sesat. Tidak sampai disini saja namun sampai ada yang melarang meneliti langsung Al Qur’an dan Sunnah dengan dalih madzhab telah mencukupinya. <em>Subhanallahu hadza buhtanun Adzim</em>.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Sejarah ini membuktikan bahwa jauhnya kaum muslimin dari Al Qur’an dan Sunnah serta pemahaman para Salaf Shalih mengakibatkan kaum muslimin jatuh dalam kehancuran dan taklid buta. Marilah kita jadikan Al Qur’an dan Sunnah sebagai pelindung kita dari semua kesesatan dan kehancuran dan menjadikan keduanya sebagai sumber pelita kehidupan kita semua. Sebagaimana firman Allah <em>Ta’ala</em>:</p>
<p class="arab">وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ</p>
<p><em>Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk</em>. (QS. Al Imran: 103)</p>
<p>Mudah-mudahan dengan demikian Allah <em>Ta&#8217;ala</em> memberikan nikmat persaudaraan kepada kita semua.</p>
<p>&#8212;</p>
<p><span>Referensi</span></p>
<p>1. Al Qaamus Al Muhith, Muhammad bin Ya’qub Al Fairyuzabadi (wafat tahun 817 H ), tahqiq Muhammad Na’im Al Urqusysi, cetakan kelima tahun 1416 H, Muassasah Ar Risaalah</p>
<p>2. Al Kuliyaat, Mu’jam Fi AL Mushtholahaat Wa Al Furuq Al Lughowiyah, Ayub bin Musa Al Husaini Al Kafawi (W. 1094 H) tahqiq ‘Adnaan Darus dan Muhammad Al Mishri cetakan pertama tahun 1412H, Muassasah Ar Risalah, Bairut</p>
<p>3. Aqidah Al Salaf Wa Ashhabul Hadits, Abu Utsman Isma’il bin Abdurrahman Ash Shobuni, (Wafat 449 H ), tahqiq DR. Nashir bin Abdurrahman Al Judai’, cetakan kedua tahun 1419H, Dar Al ‘Ashimah</p>
<p>4. Majmu’ fatawa Ibnu Taimiyah</p>
<p>5. Taqrib Al Tadmuriyah, Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, tahqiq Sayyid Abbas bin Ali Al Julaimi, cetakan pertama tahun 1413H, Maktabah Al Sunnah, Mesir</p>
<p>6. Al Intishor Li Ahli Al Hadits, Muhammad bin Umar Salim Bazamuul, cetakan pertama tahun 1418 H Dar Al Hijroh, KSA</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.Com</a></p>
<p><span>Footnote</span></p>
<p>[1] Lihat <em>Al Qaamus Al Muhith</em>, Muhammad bin Ya’qub Al Fairyuzabadi (wafat tahun 817 H ), tahqiq Muhammad Na’im Al Urqusysi, cetakan kelima tahun 1416 H, Muassasah Ar Risaalah, Bairut hal. 111</p>
<p>[2] lihat <em>Al Kuliyaat, Mu’jam Fi AL Mushtholahaat Wa Al Furuq Al Lughowiyah</em>, Ayub bin Musa Al Husaini Al Kafawi (W. 1094 H) tahqiq ‘Adnaan Darus dan Muhammad Al Mishri cetakan pertama tahun 1412H, Muassasah Ar Risalah, Bairut hal 878.</p>
<p>[3] <em>Aqidah Al Salaf Wa Ashhabul Hadits</em>, Abu Utsman Isma’il bin Abdurrahman Ash Shobuni, (Wafat 449 H ), tahqiq DR. Nashir bin Abdurrahman Al Judai’, cetakan kedua tahun 1419H, Dar Al ‘Ashimah hal 264</p>
<p>[4] ibid hal.285</p>
<p>[5] lihat <em>Majmu’ fatawa</em> 20/300-301</p>
<p>[6] Hadits <em>Shahih Lighairihi</em>. Hadits ini diriwayatkan imam Ahmad dalam Musnadnya 4/126. Ad Darimi dalam Muqaddimah sunannya, At Tirmidzi no. 2676 dan Ibnu Majah no 42 dan 44 (lihat takhrij Muhamad Umar Bazmul dalam kitab Al Intishor Li Ahli AlHadits hal 35)</p>
<p>[7] <em>Majmu’ Fataawa</em> 10/354</p>
<p>[8] ibid 10/356</p>
<p>[9] ibid 20/301.</p>
<p>[10] Lihat bantahan beliau terhadap qadariyah pada hadits no 8 dalam kitab Al Iman pada Shahih Muslim.</p>
<p>[11] Lihat bantahan beliau pada shohih Muslim, kitab Al Iman, no. 191.</p>
<p>[12] Penamaan seseorang dengan mukmin atau kafir dan hukumnya didunia dan akhirat.</p>
<p>[13] Masalah janji dan ancaman yang ada dalam nash-nash dan penerapannya.</p>
<p>[14] <em>Majmu’ Fatawa</em> 10/357</p>
<p>[15] yang dimaksud disini adalah menjadikan akal sumber rujukan dan mendahulukanatau mengedepankannya dari Nash Al Qur’an dan Sunnah. Lihat <em>Al Intishor Li Ahli Al Hadits</em>, Muhammad bin Umar Salim Bazamuul, cetakan pertama tahun 1418 H Dar Al Hijroh, KSA hal. 21</p>
<p>[16] ibid 10/358.</p>
<p>[17] Ibid 20/302.</p>
<p>[18] lihat Tahdzib Sunan Abi Daud 7/61 hadits no 4527, kami nukil dari <em>Taqrib Al Tadmuriyah</em>, Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, tahqiq Sayyid Abbas bin Ali Al Julaimi, cetakan pertama tahun 1413H, Maktabah Al Sunnah, Mesir hal 12.</p>
<p>[19] Dinukil dari <em>Taqrib Al Tadmuriyah</em> hal 12-13 dengan merujuk kepada Fathul Bari 13/253)</p>
<p>[20] <em>Majmu’ Fatawaa</em> 10/366</p>
<p><em> </em></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/manhaj/madzhab-dan-perkembangannya/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/madzhab-dan-perkembangannya/&amp;title=Madzhab+Dan+Perkembangannya" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/manhaj/madzhab-dan-perkembangannya/&amp;title=Madzhab+Dan+Perkembangannya" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/manhaj/madzhab-dan-perkembangannya/&amp;t=Madzhab+Dan+Perkembangannya" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/madzhab-dan-perkembangannya/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Madzhab+Dan+Perkembangannya+-+http://ustadzkholid.com/manhaj/madzhab-dan-perkembangannya/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/madzhab-dan-perkembangannya/&amp;title=Madzhab+Dan+Perkembangannya" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/madzhab-dan-perkembangannya/&amp;title=Madzhab+Dan+Perkembangannya" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Madzhab+Dan+Perkembangannya+-+http://b2l.me/pf7vk&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Madzhab+Dan+Perkembangannya&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/manhaj/madzhab-dan-perkembangannya/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Hari%20demi%20hari%20kaum%20muslimin%20dewasa%20ini%20selalu%20mendapakan%20ujian%20pengkaburan%20nilai-nilai%20agamanya.%20Pengkaburan%20ini%20dilakukan%20dengan%20slogan%20perbedaan%20madzhab%2C%20sehingga%20akhirnya%20istilah%20madzhab%20dijadikan%20pembungkus%20kebid%20%E2%80%98ahan%20dan%20penyelewengan%20dalam%20agama" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/manhaj/madzhab-dan-perkembangannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Implikasi Buruk Pemikiran Murji&#8217;ah</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/manhaj/implikasi-buruk-pemikiran-murjiah/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/manhaj/implikasi-buruk-pemikiran-murjiah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Feb 2010 06:01:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Firqah]]></category>
		<category><![CDATA[Murji'ah]]></category>
		<category><![CDATA[salaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1443</guid>
		<description><![CDATA[Muhammad bin Muslim al-Zuhri berkata, "Tidak ada satu kebid'ahan dalam Islam yang lebih berbahaya dari pemeluknya (muslimin) dari kebid'ahan ini yaitu Al-Irja'"]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perpecahan kaum muslimin menjadi kelompok-kelompok pemikiran yang banyak tidak dapat dipungkiri lagi. Semua itu tidak lepas dari jauhnya mereka dari ajaran Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dan para sahabatnya dalam beragama. Ini tampak jelas.</p>
<p class="arab">فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّهَا ضَلَالَةٌ فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَعَلَيْهِ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ</p>
<p>&#8220;<em>Sungguh siapa diantara kalian yang hidup maka akan melihat perselisihan yang banyak dan berhati-hatilah kalian dari perkara yang baru, karena ia adalah kesesatan. Siapa dari kalian yang mendapatinya maka wajib komitmen kepada sunnahku dan Sunnah para khulafa` Rasyidin al Mahdiyin, gigitlah ia dengan gigi grahammu</em>&#8220;. (HR At Tirmidzi).</p>
<p>Demikianlah sejarah membuktikan kebenaran wasiat beliau n ini, hingga tidak terjadi perselisihan dan perpecahan kecuali pada akhir khilaafah khulafa&#8217;rasyidin. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>Rahimahullah</em> menyatakan, &#8220;Ketahuilah bahwa mayoritas kebid&#8217;ahan yang berhubungan dengan aqidah dan ibadah hanyalah terjadi di akhir-akhir khilafah khulafa&#8217; rasyidin&#8221;<sup>1</sup>. <span id="more-1443"></span>Lalu beliau melanjutkan penjelasannya dengan menyatakan, &#8220;Ketika berlalu masa khulafa&#8217; rasyidin dan kekuasaan berada di tangan raja, maka munculkan kelemahan pada para penguasa. Sehingga hal ini mesti akan tampak juga pada para ulamanya. Lalu muncul pada akhir kekhilafahan Ali dua kebid&#8217;ahan yaitu Khawarij dan Rafidhah, ketika itu kebid&#8217;ahannya berhubungan dengan <em>imamah</em> (kepemimpinan) dan khilafah serta amalan dan hukum-hukum syari&#8217;at yang muncul darinya . . . Kemudian setelah Yazid meninggal dunia maka umat islam terpecah belah; Ibnu Az Zubeir di Hijaaz, Bani Al Hakam di Syaam dan al-Mukhtaar bin Abi &#8216;Ubaid dan selainnya di Iraaq, ini terjadi diakhir masa sahabat dan masih tersisa sebagian mereka diantaranya Adullah bin &#8216;Abaas, Abdullah bin &#8216;Umar, Jaabir bin Abdillah, Abu Sa&#8217;id al-Khudri dan lain-lainnya. Muncullah bid&#8217;ah al-Qadariyah dan al-Murji&#8217;ah lalu sahabat yang masih hidup seperti Ibnu &#8216;Abaas, Ibnu &#8216;Umar, Jaabir, Waatsilah bin al-Asyqa&#8217; dan selainnya membantah kebidahan ini. Sebagaimana mereka dan selainnya dahulu membantah kebidahan khawarij dan Rafidhah&#8221;<sup>2</sup>.</p>
<p>Munculnya kelompok murji&#8217;ah ini diawal masa tabi&#8217;in tepatnya setelah selesai pemberontakan atau fitnah Ibnu Al-Asy&#8217;ats, sebagaimana dinyatakan Qataadah bin Da&#8217;aamah As-Sadusi, &#8220;Irja&#8217; (pemikiran murji&#8217;ah) munculnya setelah kekalahan Ibnu al-Asy&#8217;ats&#8221;<sup>3</sup>. Demikian juga Imam Al-Bukhaari <em>Rahimahullah</em> membawakan bukti otentik keberadaan murji&#8217;ah ini dimasa tabi&#8217;in dengan membawakan satu riwayat dari Zubaid <em>Rahimahullah</em> beliau berkata:</p>
<p class="arab">سَأَلْتُ أَبَا وَائِلٍ عَنْ الْمُرْجِئَةِ فَقَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ</p>
<p>&#8220;<em>Aku bertanya kepada Abu Waa&#8217;il tentang Al Murji&#8217;ah, lalu beliau menjawab: Telah mengkhabarkan kepadaku Abdullah bahwa Nabi n bersabda, Mencela muslim adalah fasik dan membunuhnya adalah kekufuran.</em>&#8221; (HR. Al Bukhari, kitab Al Iman, Bab <em>Khouf al-Mu`min min An Yahbitho &#8216;Amaluhu Wahuwa La Yasy&#8217;urun</em> no. 48)</p>
<p>Ibnu Hajar al-&#8217;Asqalani <em>Rahimahullah</em> mengomentari hadits ini dengan pernyataan, &#8220;Ucapan ( ???? ??? ???? ?? ??????? ) bermakna tentang pemikiran Murji`ah. Dalam riwayat Abu Daud al-Thayalisi <em>Rahimahullah</em> dari Syu&#8217;bah <em>Rahimahullah</em> dari Zubaid <em>Rahimahullah</em> beliau berkata: &#8220;Ketika muncul Murji`ah aku mendatangi Abu Waa&#8217;il <em>Rahimahullah</em> lalu aku sampaikan hal tersebut. Sehingga jelaslah bahwa pertanyaannya itu tentang keyakinan mereka dan itu dilakukan pada waktu kemunculan mereka. Abu Waa&#8217;il <em>Rahimahullah</em> wafat tahun 99 H dan ada yang berpendapat tahun 82 H. hal ini menunjukkan bahwa kebidahan murji`ah ini sudah lama sekali&#8221;<sup>4</sup>.</p>
<p>Dengan demikian kebid&#8217;ahan murji`ah ini telah muncul pada masa-masa terbaik umat ini.</p>
<p><strong>Pemikiran Irja&#8217;, satu kebidahan dan kesesatan</strong><br />
Para ulama sepanjang masa telah menetapkan Murji`ah sebagai kelompok bid&#8217;ah yang sesat dan mengingkari serta membantah mereka, diantara mereka adalah:</p>
<ul>
<li><span style="text-decoration: underline;">Abdullah bin Abbas bin Abdil Muthalib</span> (wafat tahun 68 H). Beliau <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> menyatakan, &#8220;Berhati-hatilah dari Irja&#8217; karena ia adalah cabang dari pemikiran Nashrani&#8221;.</li>
<li><span style="text-decoration: underline;">Ibrahim bin Yazid bin Qais al-Nakha&#8217;i</span>. (Wafat tahun 96H). Beliau Rahimahullah menyatakan, &#8220;Sungguh finah mereka (Murji`ah) menurutku lebih aku takutkan atas umat ini dari fitnah <em>al-Azaariqah</em> (Khawarij)&#8221;<sup>6</sup></li>
<li><span style="text-decoration: underline;">Muhammad bin Muslim al-Zuhri</span> (wafat tahun 125H). Beliau berkata, &#8220;Tidak ada satu kebid&#8217;ahan dalam Islam yang lebih berbahaya dari pemeluknya (muslimin) dari kebid&#8217;ahan ini yaitu Al-Irja&#8217;&#8221;<sup>7</sup></li>
<li><span style="text-decoration: underline;">Yahya bin Sa&#8217;id al-Anshari</span> (wafat tahun 144 H) dan Qataadah (Wafat tahun 113H). Al-Auzaa&#8217;i <em>Rahimahullah</em> menyatakan, &#8220;Dulu Yahya dan Qatadah menyatakan, &#8216;Tidak ada kebid&#8217;ahan yang lebih ditakutkan menurut pendapat mereka atas umat ini dari al-Irja&#8217; &#8216;&#8221;<sup>8</sup></li>
<li><span style="text-decoration: underline;">Manshur bin Al-Mu&#8217;tamir Al-Sulami</span> (wafat tahun 132H ). Beliau Rahimahullah menyatakan, &#8220;Aku tidak berpendapat seperti pendapat Murji`ah yang sesat dan bid&#8217;ah&#8221;<sup>9</sup>.</li>
<li><span style="text-decoration: underline;">Malik bin Anas bin Malik</span> (wafat tahun 179 H). Ada beberapa riwayat tentang sikap beliau terhadap Murji&#8217;ah dan pemikirannya yang dapat diringkas dalam tiga hal:
<ol>
<li>Tidak mengadakan perdebatan atau pernikahan dengan mereka dan ini termasuk hajr yang disyari&#8217;atkan.</li>
<li>Membantah dan menjelaskan kebatilan madzhab Murji`ah</li>
<li>Tidak mengkafirkan mereka dengan sebab pemikiran dan kebid&#8217;ahan mereka<sup>10</sup>.</li>
</ol>
</li>
<li><span style="text-decoration: underline;">Ahmad bin Hambal</span> (wafat tahun 241H). Beliau <em>Rahimahullah</em> ditanya, &#8220;Siapakah orang murji`ah itu?&#8217; Beliau menjawab, &#8216;Orang murji`ah adalah yang menyatakan bahwa iman itu hanyalah pernyataan&#8221;. Beliau juga ditanya tentang orang yang menyatakan bahwa iman itu hanyalah perkataan. Lalu beliau menjawab, &#8220;Ini perkataan ahlu al-Irja&#8217;, perkataan bid&#8217;ah tidak pernah disampaikan para salaf kita dan orang-orang panutan&#8221;<sup>11</sup>.</li>
<li><span style="text-decoration: underline;">Abu Abdillah Muhammad bin Bathah al-Akbari</span> (wafat tahun 387 H) setelah menyampaikan banyak celaan ulama atas Murji`ah menyatakan, &#8220;Berhati-hatilah kalian –Rahimakumullah- dari bermajlis dengan kaum yang keluar dari Islam, karena mereka telah menentang al-Qur`an. Menyelisihi Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dan keluar dari Ijma&#8217; ulama muslimin. Mereka menyatakan bahwa iman adalah perkataan tanpa amalan&#8221;<sup>12</sup>. Dalam kesempatan lain beliaupun menyatakan, &#8220;Berhati-hatilah kalian! -Rahimakumullah- orang yang menyatakan, &#8216;Saya mukmin di sisi Allah&#8217;, &#8216;saya mukmin yang sempurna imannya&#8217; dan &#8216;Iman saya seperti imannya Jibril dan Miikaa`iil&#8217;. Mereka ini semuanya adalah Murji`ah yang sesat, menyimpang dan berpaling dari agama&#8221;<sup>13</sup>.</li>
<li><span style="text-decoration: underline;">Syaikh Al-Albani</span> (Wafat tahun 1421 H) memasukkan Murji`ah ke dalam golongan Ahlu al-Hawa dan Bid&#8217;ah<sup>14</sup>.</li>
<li><em><span style="text-decoration: underline;">Lajnah ad-Daa`imah Lil Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta`</span></em> menyatakan dalam fatwanya no. 21436 tanggal 8 Rabi&#8217; ats-Tsani 1421H tentang fenomena pemikiran Murji`ah dizaman ini. mereka menyatakan, &#8220;Tidak diragukan lagi bahwa pemikiran ini (Murji`ah) adalah batil dan sesat secara nyata, menyelisihi al-Qur`an, Sunnah dan ijma&#8217; ahlus Sunnah wa al-Jama&#8217;ah sejak dahulu sampai sekarang&#8221;<sup>15</sup>.</li>
</ul>
<p>Oleh karena itu para ulama terdahulu sampai sekarang memberikan perhatian serius dalam membantah Murji`ah dan penganutnya. Mereka menjadika masalah ini sebagai satu topic pembahasan khusus dalam kitab-kitab aqidah, bahkan menulis karya tulis khusus tentang bantahan terhadap mereka seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan selainnya.</p>
<p><strong>Bahaya dan Implikasi Buruk Murji`ah</strong><br />
Melihat pengingkaran dan peringatan keras para ulama diatas, sudah seharusnya kita berhati-hati terhadapa bahaya yang muncul dari kebid&#8217;ahan Murji`ah ini dan menjelaskan bahaya dan dampak buruknya terhadap umat. Khususnya di zaman kiwari ini dikala umat islam jauh dan bodoh terhadap ajaran Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>.<br />
Diantara bahaya dan dampak buruknya adalah:</p>
<ol>
<li>Sebagai satu kebid&#8217;ahan, maka Murji`ah bila masuk dalam aqidah kaum muslimin dapat memporak-porandakan persatuan dan kesatuannya. Sebab kebid&#8217;ahan bila muncul dan berkembang dalam tubuh umat islam akan menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara mereka. Hal ini karena pelaku kebid&#8217;ahan akan membela kebid`ahanya, padahal Sunnah Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam pasti ada pendukung yang menegakkannya. Dengan demikian umat akan terpecah<sup>16</sup>.</li>
<li>Membuat pemilik aqidahnya masuk dalam 72 golongan yang diancam masuk neraka dalam sabda Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alahi Wasallam</em> :
<p class="arab">إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ</p>
<p>&#8220;<em>Sesungguhnya orang sebelum kalian dari ahli kitab telah berpecah belah dalam 72 golongan dan sungguh umat ini akan pecah menjadi 73 golongan; 72 golongan di neraka dan satu disyurga yaitu al-Jama&#8217;ah</em>&#8221; (HR Abu Daud).<br />
membuat banyak hukum islam yang hilang yang merupakan satu sebab hilangnya syari&#8217;at dan membuat kerusakan pada keindahan islam yang merupakan sebab orang berpaling dan tidak mengagungkan syari&#8217;at Allah<sup>17</sup>. Ini merupakan salah satu dampak buruk kebid&#8217;ahan secara umum dan Murji`ah masuk didalamnya.</li>
<li>Telah berdusta atas nama Allah dan memiliki pemikiran yang telah dicela seluruh ulama.<br />
Imam al-Ajuri (wafat tahun 360H) menyatakan, &#8220;Siapa yang memiliki pemikiran seperti ini (Irja`) maka telah berdusta atas nama Allah dan membawa lawannya kebenaran serta sesuatu yang sangat diingkari seluruh ulama, karena pemilik pemikiran ini menganggap bahwa orang yang telah mengucapkan <em>La Ilaha Illa Allah</em> maka dosa besar yang dilakukannya dan kekejian yang ia laksanakan tidak merusaknya sama sekali dan menurutnya orang yang baik dan takwa yang tidak melakukan sedikitpun hal-hal tersebut dengan orang yang fajir adalah sama. Ini jelas kemungkaran. Allah berfirman:</p>
<p class="arab">أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ</p>
<p>&#8220;<em>Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, Yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu</em>&#8221; (QS. Al-Jatsiaat: 21) dan firman Allah Ta&#8217;ala :</p>
<p class="arab">أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الأرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ</p>
<p>&#8220;<em>Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang- orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat ma&#8217;siat?</em>&#8221; (QS. Shaad: 28)</li>
<li>Meyakini bahwa amalan tidak mempengaruhi imannya, sehingga banyak orang menyatakan bahwa yang penting adalah hatinya dalam berbuat kemaksiatan seakan-akan perbuatan tersebut tidak mempengaruhi keimanan dihatinya.<br />
membuka pintu untuk orang-orang rusak melakukan kerusakan dalam agama dan tidak merasa terikat dengan perintah dan larangan syari&#8217;at. Sehingga akan memperbesar kerusakan dan kemaksiatan dimasyarakat muslimin. Bahkan bukan tidak mungkin membuat mereka melakukan kekufuran dan kesyirikan dengan beralasan itu adalah amalan dan tidak merasa imannya berkurang dan hilang. <em>Na&#8217;udzubillahi min al-Dhalal</em>!</li>
<li>Menghilangkan unsur <em>jihad fisabilillah</em> dan <em>amar ma`ruf nahi mungkar</em>.</li>
<li>Menyamakan antara orang shalih dengan yang tidak dan orang yang istiqamah diatas agama Allah dengan yang fasik. Sebab menurut versi mereka, amal shalih tidak mempengaruhi keimanan seseorang sebagaimana amal maksiat tidak mempengaruhi imam.</li>
</ol>
<p>Hal-hal ini disampaikan <em>Lajnah ad-Daimah Lil Buhuts &#8216;Ilmiyah wa al-Ifta`</em> dalam fatwa mereka no. 21436 tanggal 8 <em>Rabi&#8217; ats-Tsani</em> 1421H tentang fenomena pemikiran Murji`ah dizaman ini. Mereka menyatakan, &#8220;Tidak diragukan lagi bahwa pemikiran ini (Murji`ah) adalah batil dan sesat yang nyata, menyelisihi al-Qur`an, Sunnah dan ijma&#8217; ahlus Sunnah wa al-Jama&#8217;ah sejak dahulu sampai sekarang. Pemikiran Murji`ah ini membuka pintu bagi orang-orang jelek dan rusak untuk lepas dari din al Islam dan tidak terikat dengan perintah dan larangan syari&#8217;at, rasa takut dan khawatir dari Allah Ta&#8217;ala. juga menghilangkan sisi <em>jihad fisabilillah</em> dan <em>amar ma`ruf nahi mungkar</em> dan menyamakan antara yang shalih dengan yang <em>thalih</em> (tidak shalih), yang taat dengan yang maksiat dan yang istiqamah diatas agama Allah Ta&#8217;ala dengan yang fasik yang lepas dari perintah dan larangan syari&#8217;at selama amalan-amalan mereka tersebut tidak mempengaruhi iman seperti pernyataan versi mereka . . . Syaikhul Islam Rahimahullah berkata, &#8216;Para salaf terdahulu sangat keras pengingkaran mereka terhadap Murji`ah karena mereka mengeluarkan amalan dari iman dan tidak diragukan lagi bahwa pernyataan Murji`ah yang menyamakan iman manusia termasuk kesalahan yang sangat besar. Yang benar manusia tidak sama dalam tashdiq, cinta, takut dan ilmu bahkan berbeda-beda tingkatannya dari sisi yang banyak&#8217;&#8221;.</p>
<p>Inilah konsekuensi pernyataan mereka bahwa amalan tidak termasuk iman. Karena itu muncul pernyataan mereka bahwa iman Abu Bakar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> dan iman Iblis adalah satu<sup>18</sup>. Demikian inilah penyebab Murji`ah jauh dan berpaling dari penjelasan al-Qur`an, Sunnah dan pernyataan para sahabat, tabi&#8217;in dan ulama besar umat ini dan bersandar kepada pemikiran mereka dan yang mereka fahami dari bahasa Arab semata<sup>19</sup>.</p>
<p>Demikianlah sebagian dari bahaya dan dampak buruk pemikiran Murji`ah, mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kita semua.</p>
<p><em>Wabillahi Taufiq</em>.</p>
<p><strong>Referensi</strong></p>
<ul>
<li><em>Majmu&#8217; Fatawa</em>, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, tanpa cetakan dan tahun</li>
<li><em>Al Ibaanah &#8216;An al-Syari&#8217;at al-Firqat al-Najiyah Wa Mujaanabat al-Furqah al-Madzmuumah</em>, Muhammad bin Bathah al-&#8217;Akbari, tahqiq Ridha bin Na&#8217;saan Mu&#8217;thi, cetakan kedua tahun 1415H, Dar al-Raayah</li>
<li><em>Fathul Bari</em>, Ibnu Hajar Al &#8216;Asqalani, tanpa cetakan dan tahun, al-Maktabah al-Salafiyah</li>
<li><em>Al-Muntaqa Min Syarhi Ushul I&#8217;tiqaad Ahli as-Sunnah wa al-Jamaa&#8217;ah</em>, Abu Mu&#8217;adz Mahmud bin Imam bin Manshur AliMuwaafi, cetakan pertama tahun 1415H, Maktabah al-Sahabat, Jeddah, KSA</li>
<li><em>Al-Bid&#8217;ah Asbaabuha wa Madhoruha</em>, Syaikh Mahmud Syaltuut, Tahqiq Syaikh Ali Hasan, cetakan kedua tahun 141H, Dar Ibnu al-Jauzi,</li>
<li><em>Silsilah al-Ahadits al-Shohihah</em>, Syeikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, cetakan pertama tahun 1417H, Maktabah al-Ma&#8217;aarif, Riyaadh, KSA</li>
<li><em>Firaq Mu&#8217;asharah Tantasibu Ila al-Islam</em>, DR. Ghalib bin Ali &#8216;Awaaji, cetakan ketiga tahun 1418H, Dar Lienah,</li>
<li><em>Manhaj al-Imam Maalik Fi Itsbaat al-Aqiedah</em>, Saa&#8217;ud bin Abdulaziz al-Da&#8217;jaan, cetakan pertama tahun 1416H, Maktabah Ibnu Taimiyah</li>
</ul>
<p><strong>Catatan Kaki</strong></p>
<p><sup>1</sup> <em>Majmu&#8217; Fatawa</em>, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, tanpa cetakan dan tahun, 10/354<br />
<sup>2</sup> <em>Majmu&#8217; Fatawa</em>, 10/356-357<br />
<sup>3</sup> <em>Al Ibaanah &#8216;An al-Syari&#8217;at al-Firqat al-Najiyah Wa Mujaanabat al-Furqah al-Madzmumah</em>, Muhammad bin Bathah al-&#8217;Akbari, tahqiq Ridha bin Na&#8217;saan Mu&#8217;thi, cetakan kedua tahun 1415H, Dar al-Raayah 2/889<br />
<sup>4</sup> <em>Fathul Bari</em>, Ibnu Hajar Al &#8216;Asqalani, tanpa cetakan dan tahun, al-Maktabah al-Salafiyah 1/112<br />
<sup>5</sup> dibawakan al-Lalika&#8217;I dalam <em>Syarh Ushul I&#8217;tiqaad</em>, dinukil dari a<em>l-Muntaqa Min Syarhi Ushul I&#8217;tiqaad Ahli as-Sunnah wa al-Jamaa&#8217;ah</em>, Abu Mu&#8217;adz Mahmud bin Imam bin Manshur AliMuwaafi, cetakan pertama tahun 1415H, Maktabah al-Sahabat, Jeddah, KSA hlm 211<br />
<sup>6</sup> <em>Al Ibaanah</em>, 2/885<br />
<sup>7</sup> Ibid<br />
<sup>8</sup> Ibid, 2/886<br />
<sup>9</sup> Ibid<br />
<sup>10</sup> M<em>anhaj al-Imam Maalik Fi Itsbaat al-Aqiedah</em>, Saa&#8217;ud bin Abdulaziz al-Da&#8217;jaan, cetakan pertama tahun 1416H, Maktabah Ibnu Taimiyah, hlm 507<br />
<sup>11</sup> dinukil dari kitab <em>Firaq Mu&#8217;asharah Tantasibu Ila al-Islam</em>, DR. Gholib bin Ali &#8216;Awaaji, cetakan ketiga tahun 1418H, Dar Lienah, 2/975-976<br />
<sup>12</sup> <em>Al Ibaanah</em>, 2/893.<br />
<sup>13</sup> Ibid, 2/899<br />
<sup>14</sup> Lihat <em>Silsilah al-Ahadits al-Shohihah</em>, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, cetakan pertama tahun 1417H, Maktabah al-Ma&#8217;aarif, Riyaadh, KSA 6/1274<br />
<sup>15</sup> Fatwa ini juga ada dalam lampiran pelengkap dalam kitab <em>al-Tibyaan Li&#8217;alaqaat al-Amal bimusamma al-Iman</em>, Ali bin Ahmad bin Suyuuf, cetakan pertama tahun 1425H, Maktabat al-&#8217;Ulum wa al-Hikam, hlm 282-287.<br />
<sup>16</sup> Lihat <em>al-Bid&#8217;ah Asbaabha wa Madharuha</em>, Syaikh Mahmud Syaltuut, Tahqiq Syaikh Ali Hasan, cetakan kedua tahun 141H, Dar Ibnu al-Jauzi, hlm 58<br />
<sup>17</sup> Ibid, hlm 68<br />
<sup>18</sup> lihat <em>al-Muntaqa min Syarhu Ushul I&#8217;tiqaad</em>, hlm 215.<br />
<sup>19</sup> Lihat <em>Fatwa Lajnah ad-Daa`imah lil Buhuts &#8216;al-Ilmiyah wa al-Ifta`</em> no. 21436 tanggal 8 Rabi&#8217; ats-Tsani 1421H.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.<br />
Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.Com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/manhaj/implikasi-buruk-pemikiran-murjiah/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/implikasi-buruk-pemikiran-murjiah/&amp;title=Implikasi+Buruk+Pemikiran+Murji%27ah" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/manhaj/implikasi-buruk-pemikiran-murjiah/&amp;title=Implikasi+Buruk+Pemikiran+Murji%27ah" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/manhaj/implikasi-buruk-pemikiran-murjiah/&amp;t=Implikasi+Buruk+Pemikiran+Murji%27ah" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/implikasi-buruk-pemikiran-murjiah/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Implikasi+Buruk+Pemikiran+Murji%27ah+-+http://ustadzkholid.com/manhaj/implikasi-buruk-pemikiran-murjiah/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/implikasi-buruk-pemikiran-murjiah/&amp;title=Implikasi+Buruk+Pemikiran+Murji%27ah" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/implikasi-buruk-pemikiran-murjiah/&amp;title=Implikasi+Buruk+Pemikiran+Murji%27ah" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Implikasi+Buruk+Pemikiran+Murji%27ah+-+http://b2l.me/n9efp&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Implikasi+Buruk+Pemikiran+Murji%27ah&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/manhaj/implikasi-buruk-pemikiran-murjiah/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Muhammad%20bin%20Muslim%20al-Zuhri%20berkata%2C%20%22Tidak%20ada%20satu%20kebid%27ahan%20dalam%20Islam%20yang%20lebih%20berbahaya%20dari%20pemeluknya%20%28muslimin%29%20dari%20kebid%27ahan%20ini%20yaitu%20Al-Irja%27%22" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/manhaj/implikasi-buruk-pemikiran-murjiah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rintangan Dakwah</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/manhaj/rintangan-dakwah/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/manhaj/rintangan-dakwah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Dec 2009 10:06:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1406</guid>
		<description><![CDATA[Kaum Quraisy menghadang dakwah dan mengambil beraneka ragam cara dan sarana untuk menghadang dakwah yang mereka anggap mengancam kemaslahatan mereka.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gema dakwah jahriyah Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>terhadap kerabat dekat beliau terus menggema di seantero kota Makkah hingga turun firman Allah:</p>
<p class="arab">?فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ</p>
<p>&#8220;<em>Maka sampaikanlah olehmu segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik</em>&#8221; (QS. Al Hijr: 94)</p>
<p>Kemudian Rasululloh menyingsingkan lengan bajunya untuk menyampaikan kebenaran kepada seluruh penduduk Makkah. Beliau mengajak manusia meninggalkan penyembahan berhala dan semua jenis paganisme yang sudah mengakar pada mereka. Disamping juga menyampaikan hakikat Islam dan membantah aqidah-aqidah batil yang sudah mencengkram akal para penduduk Makkah.</p>
<p>Ketika itulah kaum Quraisy melihat pengaruh dakwah Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> ini tidak terbatas, tidak sebagaimana keadaan orang terdahulu yang telah mengajak meninggalkan paganisme seperti Zaid bin Nufail dan semisalnya.</p>
<p>Oleh karena itu mereka bangkit menghadang dakwah dan mengambil beraneka ragam cara dan sarana untuk menghadang dakwah yang mereka anggap mengancam kemaslahatan mereka. Dakwah yang mereka anggap akan menghancurkan harga diri dan ambisi serta kedudukan mereka ditanah haram.<span id="more-1406"></span></p>
<p>Diantara cara dan sarana terpenting yang mereka gunakan untuk menghadang dakwah mulia ini adalah:</p>
<p><strong>1. Berusaha mempengaruhi Abu Thalib untuk menghentikan dakwah Rasulullah atau menghentikan perlinduangan beliau terhadap Rasulullah. </strong></p>
<p>Dikisahkan bahwa sejumlah tokoh terkemuka Quraisy mendatangi Abu Thalib dan menyatakan: Sungguh keponakanmu telah mencaci maki tuhan-tuhan kita, mencela agama kita, menuduh pikiran kita bodoh dan memvonis nenek moyang kita sesat. Pilih kamu menghentikannya atau kamu biarkan (tidak turut campur) antara kami dan dia. Karena kamu dan kami sama-sama menyelisihinya, maka kami cukupkan kamu untuk menghentikannya. Lalu Abu Thalib menyampaikan kepada mereka ungkapan yang lembut dan menolaknya dengan halus.<sup>[1]</sup></p>
<p><strong>2. Ancaman keras kepada Rasulullah dan Abu Thalib</strong></p>
<p>Ketika Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> tetap berkeras tidak menghentikan dakwahnya dan Abu Thalib pun tidak melepas perlindungannya, maka kaum Quraisy mengambil cara lain untuk menghentikan dakwah beliau; yaitu dengan ancaman. Oleh karena itulah Abu Thalib akhirnya menyampaikan kepada Rasululloh keinginannya agar beliau menghentikan dakwahnya terlebih dahulu. Namun Rasulullah tetap menolaknya. Diriwayatkan Ibnu Ishaaq, Al Bukhari dalam kitan tarikhnya dan Al Baihaqi dengan sanad hasan dari hadits Aqiel bin Abi Thalib bahwa Abu Thalib mengutusnya memanggil Muhammad <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>, setelah sampai maka Abu Thalib berkata kepadanya:</p>
<p>&#8220;Sungguh bani pamanmu (Quraisy) telah menyatakan bahwa kamu menyakiti mereka di tempat pertemuan dan masjid mereka. Berhentilah dari menyakiti mereka!&#8221;. Lalu Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> mendongakkan pandangannya kelangit sambil berkata: &#8220;<em>Apakah kalian melihat matahari itu?</em>&#8221; Mereka menjawab: &#8220;Ya&#8221;. Beliau berkata lagi: &#8220;<em>Tidaklah aku lebih mampu meninggalkan hal itu (dakwah islam (pen)) dari kalian walaupun kalian dapat mengambil dari matahari tersebut cahaya</em>&#8220;. Maka Abu Tholib pun menyatakan: &#8220;Demi Allah! keponakanku tidak berdusta, maka kembalilah kalian!&#8221;.<sup>[2]</sup></p>
<p>Demikian juga terhadap Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> langsung sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad dan Al Bukhori serta At Tirmidzi dari Ibnu Abas <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> :</p>
<p class="arab">عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ أَبُو جَهْلٍ لَئِنْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي عِنْدَ الْكَعْبَةِ لَآتِيَنَّهُ حَتَّى أَطَأَ عَلَى عُنُقِهِ قَالَ فَقَالَ لَوْ فَعَلَ لَأَخَذَتْهُ الْمَلَائِكَةُ عِيَانًا </p>
<p>&#8220;<em>Beliau berkata: Abu Jahal pernah berkata: Seandainya aku melihat Rasululoh n sholat di Ka&#8217;bah tentu aku akan mendatanginya hingga menginjak lehernya. Ibnu Abas berkata: Lalu Rasululloh n bersabda: Seandainya ia berbuat tentulah para malaikat akan menyiksanya secara terang-terangan</em>&#8220;.<sup>[3]</sup></p>
<p><strong>3. Tuduhan batil untuk menjauhkan manusia dari beliau <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em></strong><strong>. </strong></p>
<p><strong></strong>Diantara tuduhan tersebut adalah:<br />
<strong>a. Tuduhan beliau gila</strong></p>
<p>Sebagaimana Firman Allah:</p>
<p class="arab">وَقَالُوا يَا أَيُّهَا الَّذِي نُزِّلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ إِنَّكَ لَمَجْنُونٌ</p>
<p>&#8220;<em>Mereka berkata:&#8221;Hai orang yang diturunkan al-Qur&#8217;an kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila</em>&#8221; (QS. Al Hijr 15:6)<br />
lalu Allah bantah dengan firmanNya:</p>
<p class="arab">مَا أَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ</p>
<p>&#8220;<em>Berkat nikmat Rabbmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila&#8221;</em> (QS. Al Qalam 68:2)</p>
<p>Demikian juga dijelaskan tuduhan mereka ini dalam firmanNya yang lain:</p>
<p class="arab">وَإِنْ يَكَادُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُولُونَ إِنَّهُ لَمَجْنُونٌ</p>
<p>&#8220;<em>Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar al-Qur&#8217;an dan mereka berkata: &#8216;Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila&#8217; </em>&#8220;. (QS. Al Qalam 68: 51)</p>
<p><strong>b. Mereka menuduh Rasulullah sebagai tukang Sihir atau terkena sihir. </strong></p>
<p>Dalam hal ini Allah jelaskan dalam firman-Nya:</p>
<p class="arab">وَعَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ</p>
<p>&#8220;<em>Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata :&#8221;ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta</em>&#8220;. (QS. Shaad 38:4)</p>
<p>dan firmanNya:</p>
<p class="arab">وَقَالَ الظَّالِمُونَ إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلا رَجُلا مَسْحُورًا</p>
<p>&#8220;<em>Dan orang-orang yang zalim itu berkata:&#8221;Kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang kena sihir.</em>&#8221; (QS. Al Furqan 25:8)</p>
<p><strong>c. Tuduhan berbuat Dusta </strong></p>
<p>Seperti dijelaskan dalam firmanNya:</p>
<p class="arab">وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلا إِفْكٌ افْتَرَاهُ وَأَعَانَهُ عَلَيْهِ قَوْمٌ آخَرُونَ فَقَدْ جَاءُوا ظُلْمًا وَزُورًا</p>
<p>&#8220;<em>Dan orang-orang kafir berkata:&#8221;al-Qur&#8217;an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad, dan dia dibantu oleh kaum yang lain; maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kezaliman dan dusta yang besar</em>&#8221; (QS. Al Furqan 25:4)</p>
<p><strong>d. Membawa dongengan-dongengan orang-orang terdahulu. </strong></p>
<p>Ini dijelaskan Allah dalam firmanNya:</p>
<p class="arab">وَقَالُوا أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلَى عَلَيْهِ بُكْرَةً وَأَصِيلا</p>
<p>&#8220;<em>Dan mereka berkata: &#8216;Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang</em>&#8220;. (QS. Al Furqan 25:5)</p>
<p><strong>e. Menuduh bahwa Al Qur’an bukan dari Allah namun berasal dari manusia </strong></p>
<p>Seperti digambarkan Allah dalam firmanNya:</p>
<p class="arab">وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ</p>
<p>&#8220;<em>Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: &#8220;Sesungguhnya al-Qur&#8217;an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)&#8221;. Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa &#8216;Ajam, sedang al-Qur&#8217;an adalah dalam bahasa Arab yang terang</em>&#8221; (QS. 16:103)</p>
<p>Demikianlah sebagian cara dan sarana yang digunakan kaum musyrikin Quraisy dalam menghalangi dakwah Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>.</p>
<p>Masih banyak lagi cara dan sarana yang digunakan mereka yang insya Allah akan dipaparkan pada tulisan lain.</p>
<p><em>Wabillahi At Taufiq</em></p>
<p><sup>[1]</sup> Riwayat ini disampaikan Ibnu Hisyam dari riwayat Ibnu Ishaq tanpa sanad periwayatan. Sehingga riwayat ini lemah walaupun masyhur dalam buku-buku sejarah Nabi.</p>
<p><sup>[2]</sup> Syaikh Al Albani dalam kitab <em>Shahih Al Sirah Al Nabawiyah</em> hal 143 menyatakan: &#8220;Hadits ini telah dikeluarkan Al Haakim dalam Al Mustadrak 3/577 dari sisi lain yang tidak sama dengan riwayat Al Baihaqi ini. Dan poros sanadnya ada pada Tholhah bin Yahya dari Musa bin Tholhah dari Aqiel. Sanadnya hasan sebagaimana telah dijelaskan dalam kitab Al Shohihah 92. adapun hadits yang berbunyi: Wahai pamanku! Seandainya mereka meletakkan matahari ditangan kananku…. Tidak aku sampaikan disini kerena lemah walaupun sangat masyhur. Tentang lafadz ini telah dijelaskan dalam kitab Al Dhoifah 913&#8243;.</p>
<p><sup>[3]</sup> Al Musnad 1/368 dan Al Bukhari 4958 dan Al Tirmidzi 3406.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.<br />
Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.Com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/manhaj/rintangan-dakwah/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/rintangan-dakwah/&amp;title=Rintangan+Dakwah" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/manhaj/rintangan-dakwah/&amp;title=Rintangan+Dakwah" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/manhaj/rintangan-dakwah/&amp;t=Rintangan+Dakwah" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/rintangan-dakwah/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Rintangan+Dakwah+-+http://ustadzkholid.com/manhaj/rintangan-dakwah/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/rintangan-dakwah/&amp;title=Rintangan+Dakwah" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/rintangan-dakwah/&amp;title=Rintangan+Dakwah" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Rintangan+Dakwah+-+File: /data/app/webapp/functions.php<br />Line: 7<br />Message: Too many connections&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Rintangan+Dakwah&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/manhaj/rintangan-dakwah/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Kaum%20Quraisy%20menghadang%20dakwah%20dan%20mengambil%20beraneka%20ragam%20cara%20dan%20sarana%20untuk%20menghadang%20dakwah%20yang%20mereka%20anggap%20mengancam%20kemaslahatan%20mereka." rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/manhaj/rintangan-dakwah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Khawarij</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/manhaj/mengenal-khawarij/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/manhaj/mengenal-khawarij/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 02:25:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[bom]]></category>
		<category><![CDATA[khawarij]]></category>
		<category><![CDATA[takfir]]></category>
		<category><![CDATA[teroris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1340</guid>
		<description><![CDATA[Khawarij adalah firqah pertama yang menyempal dari jama’ah muslimin dan memiliki pengikut yang tidak kecil serta memiliki sejarah berdarah yang cukup panjang dengan kaum muslimin.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Khawarij adalah <em>firqah </em>pertama yang menyempal dari jama’ah muslimin dan memiliki pengikut yang tidak kecil serta memiliki sejarah berdarah yang cukup panjang dengan kaum muslimin.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan: &#8220;Yang pertama menyempal dari jamaah muslimin, yang merupakan ahlul bid&#8217;ah, adalah Khawarij <em>Al Maariqun</em>&#8220;<a href="#_ftn1">[1]</a>.</p>
<p>Mereka menyempal dalam permasalahan i’tikad sehingga menjadi contoh bagi gerakan revolusi berdarah dalam sejarah politik Islam yang membuat sibuk kekhilafahan Islam dalam tempo yang sangat panjang.</p>
<p>Disamping itu, firqah ini masih eksis (ada) dan memiliki kekuatan sampai saat ini di negara Oman, Zanjibar (satu wilayah negara Tanzania), timur Afrika dan di sekitar negara Maroko, Tunisia, Libiya dan Al Jaza’ir dengan madzhab <em>Ibadhiyah</em>-nya. Demikian juga pemikiran dan keyakinan mereka masih banyak mengotori pemikiran dan keyakinan kaum muslimin hingga saat ini.<span id="more-1340"></span></p>
<p><strong>Sekilas Sejarah Munculnya </strong><strong>Khawarij</strong></p>
<p>Pemikiran dan cikal bakal kelompok khawarij telah ada di zaman nabi yaitu dengan kemunculan <span style="text-decoration: underline;">Dzul Khuwaishirah</span>, sehingga Ibnul Jauzi menyatakan: &#8220;Dzul Khuwaishirah adalah khawarij pertama yang keluar dalam islam. Penyakitnya adalah ridha dengan pemikiran pribadinya. Seandainya ia diam pasti akan tahu bahwa tidak ada pemikiran yang benar yang menyelisihi pendapat Rasulullah. Pengikut orang inilah yang memerangi Ali bin Abu Thalib&#8221;<a href="#_ftn2">[2].</a></p>
<p>Kemudian berkembang dan memulai gerakannya dengan memberontak terhadap kekhilafahan Utsman bin Affan <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> dan berhasil membunuh beliau. Kemudian kelompok khawarij ini menjadi satu kelompok resmi pada tanggal 10 Syawal tahun 37 H dengan membai’at Abdullah bin Wahb Al Raasibi sebagai pemimpin mereka.<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Kemudian imam Ali bin Abi Thalib <em>Radhiallah&#8217;anhu</em> memerangi mereka di daerah Al Nahrawaan hingga tersisa sedikit dan melarikan diri kebeberapa daerah. Tentang hal ini Al Baghdadi menceritakan: &#8220;Terbunuh orang-orang khawarij pada hari itu hingga hanya tersisa sembilan orang. Dua orang dari mereka lari ke daerah Sajistaan dan dari pengikut keduanya muncul Khawarij Sajistaan, dua orang lagi lari ke Yaman dan dari pengikutnya muncul sekte Ibadhiyah di Yaman. Dua orang lainnya lari ke Omaan dan muncul dari pengikutnya Khawarij Omaan dan dua yang lainnya lari kedaerah Al Jazirah dan muncul dari pengikutnya Khawarij Al Jaziroh. Tinggal seorang lari kedaerah Tel Muzan&#8221;<a href="#_ftn4">[4]</a>.</p>
<p>Khawarij inilah yang bertanggung jawab atas fitnah perpecahan pertama dan pembunuhan kaum muslimin. Hal ini karena mereka memiliki pemikiran <span style="text-decoration: underline;">Takfir </span>yang sesat. Mereka mengkafirkan para penguasa muslimin dan membunuh sebagian mereka. Mereka melakukan pembunuhan terhadap menantu Rasulullah, Utsman bin Affaan, Ali bin Abi Thalib <em>Radhiallahu&#8217;anhum</em> dan yang lainnya dari kalangan para sahabat dan kaum muslimin. Benarlah yang dikatakan Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>:<strong> </strong></p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">??????????? ?????? ???????????? ??????????? ?????? ????????????</p>
<p>&#8220;<em>(Kaum Khawarij) memerangi kaum muslimin dan membiarkan penyembah berhala</em>&#8221;</p>
<p>Kemudian mereka berkembang dan pecah menjadi beberapa sekte, diantaranya Al Azaariqah, Al Najdaat, Al Sholihiyah dan Al Ibadhiyah yang sekarang masih eksis dibeberapa Negara.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Sebab penyimpangan </strong><strong>Khawarij</strong><a href="#_ftn5">[5]</a><strong> </strong></p>
<p>Diantara sebab-sebab penyimpangan Khawarij adalah:</p>
<ol>
<li>Bodoh dan tidak faham tafsir Al Qur&#8217;an. Syaikhul      Islam Ibnu Taimiyah menyatakan: &#8220;Bid&#8217;ah pertama terjadi seperti bidah      khawarij hanyalah disebabkan kesalah fahaman mereka terhadap Al Qur&#8217;an,      tidak ada maksud menentangnya, namum mereka memahami dari Al Qur&#8217;an dengan      salah sehingga meyakini bahwa sesuatu itu mengharuskan pengkafiran para      pecandu dosa, karena mukmin itu hanyalah yang baik dan takwa. Mereka      menyatakan: &#8216;Siapa yang tidak baik dan takwa maka ia kafir dan kekal      dineraka&#8217;. Kemudian menyatakan: &#8216;Utsman, Ali dan orang yang mendukung mereka      bukan mukmin, Karena mereka berhukum dengan selain hukum Islam&#8217;. Sehingga      kebidahan mereka memiliki alur sebagai berikut:<br />
<strong>Pertama </strong>: Siapa yang menyelisihi Al Qur&#8217;an dengan amalannya atau pendapat yang salah, maka ia telah kafir.<br />
<strong>Kedua</strong>: Ali dan Utsman dan semua yang mendukung keduanya dulu berbuat demikian&#8221;.<a href="#_ftn6">[6]</a></li>
<li>Tidak mengikuti Sunnah dan pemahaman para sahabat      dalam menerapkan Al Qur&#8217;an dan Sunnah. Al Imam Al Bukhari menyatakan:
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">????? ????? ?????? ????????? ??????? ?????? ??????? ??????? ????????? ??????????? ????? ?????? ???????? ??? ??????????? ???????????? ????? ??????????????</p>
<p>&#8220;<em>Ibnu Umar memandang mereka (Khawarij) sebagai makhluk terjelek dan menyatakan: &#8216;Sunguh mereka mengambil ayat-ayat yang turun untuk orang kafir lalu menerapkannya untuk kaum mukminin</em>&#8220;.</li>
<li><em>Wara&#8217;</em> tanpa ilmu. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah      menyatakan: &#8220;Sikap wara&#8217; ini menjerumuskan pemiliknya ke kebidahan besar,      karena khawarij bersikap wara&#8217; dari kedzaliman dan dari semua yang mereka      yakini kedzaliman dengan bercampur baur dengan kedzaliman tersebut menurut      prasangka mereka hingga mereka meninggalkan kewajiban berupa shalat jum&#8217;at,      jamaah, haji dan jihad (bersama kaum muslimin) serta sikap      menasehati dan rahmat kepada kaum muslimin. Pemilik wara&#8217; seperti ini      telah diingkari para imam, seperti imam empat madzhab&#8221;<a href="#_ftn7">[7]</a>.Kemudian beliau menjelaskan bahwa sikap wara&#8217; tidak lurus tanpa disertai ilmu yang banyak dan pemahaman yang baik dalam pernyataan beliau: &#8220;Oleh karena itu orang yang bersikap wara&#8217; membutuhkan ilmu yang banyak terhadap Al Qur&#8217;an dan Sunnah dan pemahaman yang benar terhadap agama. Bila tidak, maka sikap wara&#8217; yang rusak tersebut merusak lebih banyak dari kebaikannya. Sebagaimana dilakukan ahlu bid&#8217;ah dari Khawarij dan selainnya&#8221;.</li>
<li>Memandang satu kesatuan antara kesalahan dan      dosa. Mereka menganggap kesalahan dan dosa satu hal yang tidak mungkin      terpisah. Sehingga seorang yang berbuat salah menurut mereka pasti      berdosa. Syaikhul Islam menyatakan: &#8221;     Orang-orang sesat menjadikan kesalahan dan dosa satu kesatuan yang tidak      terpisahkan&#8221;. Kemudian beliau berkata:  &#8220;Dari sini muncullah banyak sekte ahlil      bid&#8217;ah dan sesat. Ada      sekelompok mereka yang mencela salaf dan melaknat mereka dengan keyakinan      para salaf tersebut telah berbuat dosa dan pelaku dosa tersebut pantas      dilaknat bahkan terkadang mereka menghukuminya sebagai fasik atau kafir,      sebagaimana dilakukan khawarij yang mengkafirkan, melaknat dan      menghalalkan memerangi Ali bin Abi Thalib dan &#8216;Utsman bin Affaan serta      orang-orang yang loyal terhadap keduanya&#8221;. <a href="#_ftn8">[8]</a>.</li>
<li>Keliru dan rancu memahami <em>wasilah </em>dan <em>maqaasid </em>(tujuan syar&#8217;i). contohnya amar ma&#8217;ruf nahi mungkar adalah sesuatu yang      dituntut dalam syari&#8217;at (<em>Mathlab Syar&#8217;i</em>) yang memiliki ketentuan, batasan      dan wasilah (sarana) tertentu. Kaum Khawarij dengan sebab berpalingnya      mereka dari Sunnah Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> menjadikan yang mungkar menjadi ma&#8217;ruf dan      sebaliknya yang yang ma&#8217;ruf jadi mungkar. Oleh karena itu Syaikhul Islam      menyatakan: &#8220;Kebidahan yang pertama kali muncul dan paling dicela dalam      Sunnah dan atsar adalah bidah khawarij. Mereka memiliki dua kekhususan      masyhur yang membuat mereka menyempal dari jamaah muslimin dan imam      mereka:<br />
<strong>Pertama</strong>: keluar dari Sunnah dan mereka jadikan yang tidak jelek      dianggap kejelekan dan yang tidak baik dianggap kebaikan.<br />
<strong>Kedua</strong>: pada      Khawarij dan ahli bidah, mereka mengkafirkan orang lain hanya dengan sebab      perbuatan dosa dan kejelakan. Konsekuensi dari vonis kafir dengan sebab      perbuatan dosa ini adalah menghalalkan darah kaum muslimin dan harta      mereka dan (menganggap) negeri Islam negeri kafir dan negeri mereklah      negeri iman&#8221;<a href="#_ftn9">[9]</a>.</li>
</ol>
<p><strong>Pemikiran</strong> <strong>dan Aqidah</strong> <strong>Khawarij</strong></p>
<p>Diantara pemikiran dan aqidah Khawarij yang terkenal adalah:</p>
<ol>
<li><a href="http://ustadzkholid.com/manhaj/jangan-mudah-mengkafirkan/">Mengkafirkan </a>pelaku      dosa besar dan memberlakukan hukum orang kafir didunia dan akhirat      padanya. Abul Hasan Al &#8216;Asy&#8217;ari ketika menceritakan pokok ajaran khawarij      menyatakan: &#8220;Mereka (Khawarij) seluruhnya sepakat menyatakan semua dosa      besar adalah kekufuran kecuali sekte Al Najdaat; mereka tidak berpendapat      demikian&#8221;.<a href="#_ftn10">[10]</a></li>
<li> Mengkafirkan orang yang menyelisihi      mereka dan memaksa orang lain mengikuti kebidahannya. Setelah itu      menghalalkan darah dan harta orang yang menyelisihinya.<a href="#_ftn11">[11]</a> Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan: &#8220;Mereka mengkafirkan orang yang      menyelisihi mereka dan menghalalkan darinya –dengan dalih telah murtad      menurut anggapan mereka- sesuatu yang tidak pernah mereka halalkan dari      orang kafir asli, sebagaimana sabda Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> :
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">??????????? ?????? ???????????? ??????????? ?????? ????????????&#8221;</p>
<p><em>Memerangi kaum muslimin dan membiarkan penyembah berhala (Ahlul Autsan)</em>&#8220;.<a href="#_ftn12">[12]</a></li>
<li>Mengingkari adanya syafaat Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> terhadap pelaku dosa besar yang belum bertaubat sebelum      wafatnya.</li>
<li>Mencari-cari kesalahan      para ulama salaf dan salafi, karena mereka memandang para ulama tersebut      sebagai batu sandungan dalam jalan mewujudkan tujuan mereka.<a href="#_ftn13">[13]</a></li>
<li>Membenci kaum      muslimin dan mengkafirkan mereka serta menghalalkan darah dan harta      mereka.</li>
<li>Mencari kesalahan      pemerintah yang sah (<em>Waliyul Umur</em>) dan mengajak orang banyak untuk      menyerangnya kemudian mencela pemerintah dan mengkafirkan mereka.<a href="#_ftn14">[14]</a></li>
<li>Mewajibkan      menggulingkan pemimpin (pemerintah) yang berbuat dzolim dan jahat dan      melarang mereka menjadi penguasa dengan segala cara yang mereka mampui,      baik dengan kekerasan senjata atau tidak. Abul Hasan Al Asy&#8217;ari menuliskan      catatan tentang khawarij: &#8220;Mereka memandang (wajib) menggulingkan penguasa      yang lalim dan mencegah mereka menjadi penguasa dengan segala cara yang      mereka mampui , dengan pedang atau tidak denga pedang&#8221;<a href="#_ftn15">[15].</a> Sedangkan Ibnul Jauzi menyatakan: &#8220;Terus saja Khawarij memberontak terhadap      pemerintah. Mereka memiliki beraneka ragam madzhab. Pengikut Naafi&#8217; bin Al      Azraq menyatakan: Kami masih musyrik selama masih berada di negeri syirik,      apa bila kami memberontak maka kami menjadi muslim. Mereka juga      menyatakan: Orang yang menyelisihi kami dalam madzhab adalah musyrik,      pelaku dosa besar adalah musyrik dan orang yang tidak terlibat ikut serta      bersama mereka dalam perang adalah orang kafir. Mereka menghalalkan      pembunuhan wanita dan anak-anak kaum muslimin dan memvonis mereka dengan      syirik&#8221;<a href="#_ftn16">[16].</a></li>
</ol>
<p>Demikian sekilas tentang Khawarij. Mudah-mudahan Allah jauhkan kita semua dari pemikiran, aqidah dan fitnah mereka ini.</p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<ol>
<li><em>Al Khawarij, Tarikhuhum Wa Araauhum Al I&#8217;tiqadiyah      Wa Mauqif Al Islam Minha</em>, DR. Ghalib bin &#8216;Ali &#8216;Awaji</li>
<li><em>Al Takfir wa Dhawaabithuhu, Syaikh Ibrahim bin      &#8216;Amir Al Ruhaili</em>, cetakan pertama tahun1426H, Dar Al Imam Al Bukhari</li>
<li><em>Al Mausu’ah Al Muyassarah Fil Adyaan Wal Madzaahib      Wal Ahzaab Al Mu’asharah</em></li>
<li><em>Majmu&#8217; Fatawa Ibnu Taimiyah</em></li>
<li>Majalah Umati edisi 13/Sya&#8217;bah 1426-September 2005M</li>
</ol>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.<br />
Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.Com</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> <em>Al Mausu’ah Al Muyassarah Fil Adyaan Wal Madzaahib Wal Ahzaab Al Mu’asharah</em>, 1/53.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> <em>Talbis Iblis</em>, hal 90.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> <em>Al Mausu’ah Al Muyassarah Fil Adyaan Wal Madzaahib Wal Ahzaab Al Mu’asharah</em>, 1/53.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> <em>Al Farqu Bainal Firaq Al Baghdadi</em>, hal 80-81, lihat <em>Al Khawarij, Tarikhuhum Wa Araauhum Al I&#8217;tiqadiyah Wa Mauqif Al Islam Minha</em>, DR. Gholib bin &#8216;Ali &#8216;Awaji hal 95.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Diringkas dari makalah berjudul <em>Al Ru&#8217;yah Al Salafiyah Lil Waaqi&#8217; Al Mu&#8217;ashir</em>, tulisan Syaikh Abdullah bin Al &#8216;Ubailaan. Majalah Ummati edisi 13/Sya&#8217;bah 1426-September 2005M hal 8-11 dan <em>Al Takfir wa Dhawaabithuhu</em>, Syaikh Ibrahim bin &#8216;Amir Al Ruhaili, cetakan pertama tahun1426H, Dar Al Imam Al Bukhari.</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> <em>Majmu&#8217; Al Fatawa</em>, 13/30-31</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> <em>Majmu&#8217; Fatawa</em>, 20/140</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> <em>Majmu&#8217; Al Fatawa</em>, 35/69-70</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> <em>Majmu&#8217; Al Fatawa</em>, 19/71-73</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> <em>Maqaalat Islamiyyin</em>, 1/168 dinukil dari <em>Al Takfir Wa Dhawabithuhu</em>, hal 173.</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> <em>Majmu&#8217; Al Fatawa</em>, 3/279</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> <em>Majmu&#8217; Al Fatawa</em>, 3/355</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> Majalah Umati edisi 13/Sya&#8217;bah 1426-September 2005M hal 11</p>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> ibid</p>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> <em>Maqaalat Islamiyyin</em>, 1/204 dinukil dari <em>Al Takfir Wa Dhowabithuhu, </em>hal 174</p>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> <em>Talbis Iblis</em> hal 130-131 dinukil dari <em>Al Takfir Wa Dhawabithuhu</em>, hal 174</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/manhaj/mengenal-khawarij/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/mengenal-khawarij/&amp;title=Mengenal+Khawarij" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/manhaj/mengenal-khawarij/&amp;title=Mengenal+Khawarij" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/manhaj/mengenal-khawarij/&amp;t=Mengenal+Khawarij" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/mengenal-khawarij/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Mengenal+Khawarij+-+http://ustadzkholid.com/manhaj/mengenal-khawarij/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/mengenal-khawarij/&amp;title=Mengenal+Khawarij" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/mengenal-khawarij/&amp;title=Mengenal+Khawarij" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Mengenal+Khawarij+-+http://b2l.me/n99qs&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Mengenal+Khawarij&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/manhaj/mengenal-khawarij/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Khawarij%20adalah%20firqah%20pertama%20yang%20menyempal%20dari%20jama%E2%80%99ah%20muslimin%20dan%20memiliki%20pengikut%20yang%20tidak%20kecil%20serta%20memiliki%20sejarah%20berdarah%20yang%20cukup%20panjang%20dengan%20kaum%20muslimin." rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/manhaj/mengenal-khawarij/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kekeliruan Yang Muncul Dalam Fatwa Kontemporer</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/manhaj/kekeliruan-yang-muncul-dalam-fatwa-kontemporer/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/manhaj/kekeliruan-yang-muncul-dalam-fatwa-kontemporer/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Oct 2009 07:50:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1309</guid>
		<description><![CDATA[Tidak dipungkiri lagi ijtihâd para Ulama dalam memberikan fatwa pada masalah kontemporer (Nawâzil) sangat dibutuhkan umat ini. Apalagi permasalahan kontemporer (Nawâzil) sangat banyak dan terus bermunculan. Namun tentunya, yang bisa berbicara untuk memutuskan permasalahan ini hanyalah para ulama yang memenuhi syarat]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Allah <em>Ta’ala</em> menutup dakwah para Rasul dengan dakwah Rasulullâh <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> dan Allah <em>Ta’ala</em> memenangkan risalah beliau hingga hari kiamat nanti. Allah <em>Ta’ala</em> ciptakan generasi Sahabat dan <em>Tabi&#8217;in</em> yang bertugas menegakkan hujjah kepada manusia. Juga memerintahkan mereka untuk menjaga syariat Islam dan ber-<em>tafaqquh fiddîn</em> (belajar ilmu agama). Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:</p>
<p style="font-size:24px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic;">وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ</p>
<p><em>“</em><em>Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al-Kitâb dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya</em><em>”</em> (QS. Ali Imrân:79)</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> juga berfirman:</p>
<p style="font-size:24px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic;">وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ</p>
<p><em>“</em><em>Tidak sepatutnya bagi Mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya</em>” (QS. At-Taubah:122)</p>
<p>Dalam ayat yang mulia ini Allah <em>Ta’ala</em> membagi mereka menjadi dua kelompok. Salah satunya diperintahkan untuk berjihad di jalan-Nya dan yang lainnya diperintahkan menuntut ilmu agama, agar kaum Muslimin dapat merujuk dan bertanya kepada mereka tentang berbagai permasalahan dien; Termasuk dalam permasalahan kontemporer (<em>nawâzil</em>) yang terjadi di kalangan kaum Muslimin.<span id="more-1309"></span> Allah <em>Ta’ala</em> berfirman :</p>
<p style="font-size:24px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic;">فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ</p>
<p><em>“</em><em>Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui</em><em>”</em> (QS. An-Nahl: 43)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Syarat Berfatwa Dalam N<em>awâzil</em></strong></p>
<p>Tidak dipungkiri lagi <em>ijtihâd</em> para Ulama dalam memberikan fatwa pada masalah kontemporer (<em>Nawâzil</em>) sangat dibutuhkan umat ini. Apalagi permasalahan kontemporer (<em>Nawâzil</em>) sangat banyak dan terus bermunculan. Namun tentunya, yang bisa berbicara untuk memutuskan permasalahan ini hanyalah para ulama yang memenuhi syarat, di antaranya:</p>
<ol>
<li>Seorang <em>mujtahid </em>(orang berilmu yang mampu menelaah hukum agama<em>)</em>, walaupun bukan      <em>mujtahid</em> mutlak dan hanya bisa ber-<em>ijtihad</em> dalam      sebagian bidang ilmu.</li>
<li>Harus      memiliki gambaran jelas dan pemahaman yang benar terhadap permasalahan yang      akan dijadikan sebagai obyek <em>ijtihad</em>nya.</li>
<li>Dalam      menetapkan hukum, dia bersandar pada dalil syar&#8217;i yang <em>mu&#8217;tabar</em> (yang dibenarkan).</li>
</ol>
<p><strong>Beberapa Kekeliruan Yang Sering Ditemui Dalam <em>Fatwa</em> Kontemporer</strong></p>
<p>Para Ulama yang berfatwa dalam masalah <em>Nawâzil</em> terkadang keliru walaupun secara kuantitas tiga syarat di atas sudah terpenuhi. Kekeliruan tersebut bertingkat-tingkat, tidak sama, ada yang jelas dan ada yang samar. Berikut ini beberapa kekeliruan yang samar dalam fatwa <em>nawâzil</em>:</p>
<p><strong>1. Penguraian permasalahan ke dalam elemen-elemen pembentuknya</strong> dengan memberikan hukum khusus satu persatu tanpa melihat hasil yang ada apabila digabung dan disusun.</p>
<ol></ol>
<p>Sebagai contoh adalah jual beli <em>murâbahah. </em>Yaitu jual beli yang tersusun dari tiga akad yaitu akad <em>wakâlah </em>(perwakilan), akad <em>Muwâ&#8217;adah</em> <em>bisy-Syirâ&#8217;</em> (janji membeli) dan akad jual beli kredit. Ketiga akad ini sah dan dibenarkan. Berdasarkan hal ini maka jual beli <em>murâbahah</em> adalah akad yang <em>shahîh</em>. Inilah yang disampaikan orang yang mensahkan jual beli ini, tanpa menengok kepada pengertian baru yang muncul ketika ketiga akad itu disatukan.</p>
<p>Sedangkan Ulama yang melarangnya, berpendapat bahwa walaupun jual beli <em>murâbahah</em> ini terbentuk dari tiga akad tersebut, namun keadaan dan faktor pendorong pengadaan dan penyebarannya menunjukkan akad ini salah satu diantara upaya merekayasa riba. Karena penjual -yaitu bank pembiaya- ingin meminjamkan uang kepada pembeli dengan mendapatkan profit (bunga), demikian juga pembeli, dia ingin meminjam uang dari bank dengan memberi bunga. Barang yang ada hanya dijadikan rekayasa hingga berubah bentuk menjadi pinjaman dengan bunga  yang kemudian dinamakan jual beli <em>murâbahah</em>.</p>
<p>Contoh lainnya adalah fatwa sebagian Ulama tentang <em>al-Ijârah al-Muntahiyah bit-tamlîk</em> (<em>finance leasing</em>). Ada yang menyatakannya sebagai adalah akad yang sah, karena tersusun dari <em>ijârah</em> (sewa menyewa), jual beli (<em>Bai&#8217;</em>) atau pemberian (<em>Hibah</em>). <em>Ijârah</em> jelas disepakati kebolehannya. Kemudian apabila masa <em>ijârah</em> (sewa menyewa) telah selesai, maka pemilik barang memiliki kebebasan penuh untuk menjual barangnya atau menghibahkannya kepada siapa yang ia sukai atau tetap menahan barang itu sebagai miliknya. Tidak ada yang mampu mencegah pemilik  barang dari kebebasannya mengelola barang miliknya, mau dijual atau dihibahkan.</p>
<p>Bukan maksud di sini memaparkan pendapat yang membolehkan atau yang melarang dalam masalah ini atau lainnya. Tetapi hanya mengingatkan tentang pentingnya mengkompromikan antara tinjauan secara menyeluruh (<em>an-Nazhar al-Kulli al-Ijmâli</em>) dengan tinjauan secara rinci (<em>an-nazhar al-Juz&#8217;i at-tafshîli</em>) ketika hendak menetapkan satu hukum pada sebuah <em>nawazil</em>. Juga hendak menjelaskan bahwa membatasi hanya dengan salah satu sisi tinjauan saja dapat menjerumuskan pada kesalahan.</p>
<p>Sudah menjadi kewajiban seorang ulama ahli fikih untuk melihat dengan teliti permasalahan dan akad transaksi kontemporer dan memahami hakekatnya serta meninjau akibat yang ditimbulkannya. <strong> </strong></p>
<p><strong>2. Berkelit dari realita</strong>. Banyak orang yang berfatwa apabila ditanya tentang masalah kontemporer, dia menjawab dengan menerangkan hukum masalah tersebut dari sisi hukum asal, kemudian menyampaikan syarat-syarat hukumnya. Padahal pada kenyataannya syarat tersebut sangat sulit dilaksanakan.</p>
<ol></ol>
<p>Contoh: sebagian orang yang berfatwa ketika ditanya tentang hukum finance leasing (<em>al-Ijâr al-Muntahiyah bit-Tamlîk</em>) menjawab bahwa itu boleh. Tetapi penanya melanjutkan lagi bahwa mereka mengharuskan asuransi. Maka sang <em>mufti </em>menjawab : “Jangan kamu setuju dengan asuransinya; ambil saja mobilnya tanpa asuransi dan asuransinya tidak mengikat”.</p>
<p><em>Mufti</em> ini seharusnya memperjelas gambaran yang ada dalam praktek. Semua finance leasing (<em>ijârah al-muntahiyah bit-Tamlîk</em>) dalam praktek ternyata berisi asuransi.</p>
<p>Semestinya ia menjelaskan, <em>finance leasing</em> dengan syarat mengikuti asuransi itu boleh atau tidak? Kemudian setelah itu dia bisa memberikan penjelasan tambahan bahwa <em>finance leasing</em> itu boleh dilakukan bila sudah memenuhi beberapa syarat. Dilanjutkan dengan penjabaran syarat-syarat tersebut. Bila syarat-syarat tersebut dilanggar, maka hukumnya begini dan begitu.</p>
<p>Contoh lain, seorang ditanya tentang hukum berpartisipasi dalam kompetisi sepak bola, lalu dia menjawab bahwa pada asalnya hal itu diperbolehkan, kecuali bila terdapat hal-hal yang larangan <em>syari’at&#8217;</em>.</p>
<p>Perhatikanlah jawaban ini, tidak sesuai<em> </em>dengan pertanyaannya. Pertanyaan penanya tersebut tidak lepas dari realita yang terlihat di lapangan. Kompetisi ini tidak lepas dari berbagai pelanggaran <em>syari&#8217;at</em> seperti membuang-buang waktu, membuka aurat, kerusakan akhlak, menghabiskan umur dan membuang-buang harta. Hal-hal ini jelas bertentangan dengan <em>maqâshid syari&#8217;at</em> (tujuan syariat) dari banyak sisi.</p>
<p>Kemudian juga, si penanya tidak menanyakan hukum asal. Seandainya si penanya menanyakan hukum asal, maka si mufti seharusnya mengingatkan si penanya tentang realita yang terjadi di lapangan setelah menjelaskan hukum asalnya.</p>
<p>Kesimpulannya seorang <em>mufti</em> sebaiknya tidak menjawab dengan cara di atas dan berusaha untuk memperhatikan dua perkara:</p>
<ol>
<li>Menjelaskan bentuk realitanya dan tidak lupa menjelaskan hukumnya; karena tidak menjelaskan kenyataan atau berkelit darinya adalah kekeliruan yang berbahaya.</li>
<li>Menyampaikan hukum asal dengan penjelasan ketentuan dan syarat-syarat yang mencakup kemungkinan bentuk-bentuk lain dari yang telah ada dan yang akan ada.</li>
</ol>
<p>Fatwa yang memenuhi dua hal ini akan menjadi lebih jelas dan baku.</p>
<p><strong>3. Permasalahan istilah dan bahasa yang umum</strong></p>
<ol></ol>
<p>Merupakan<strong> </strong>satu keniscayaan ketika hendak menetapkan hukum terhadap satu masalah kontemporer untuk melihat hakekat permasalahannya, tidak silau dengan nama-nama atau pun istilahnya. Karena hukum <em>syara&#8217;</em> hanya berhubungan dengan hakekat dan pengertian, bukan dengan lafadz dan susunan kata.</p>
<p>Memang tidak bisa dipungkiri bahwa bermain dengan istilah-istilah agama menjadi fenomena pada banyak transaksi-transaksi yang tidak benar dewasa ini. Buktinya, bila menilik seluruh transaksi yang muncul dari bank-bank syari&#8217;at atau konvensional, tidak ada pelayanan yang<em> </em>menggunakan nama riba secara terang-terangan. Namun, apakah ini menunjukkan bahwa seluruh transaksi<em> </em>tersebut bebas dari <em>riba </em>?</p>
<p>Perhatikanlah pula pengorbanan dan keberanian yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin Palestina yang lemah saat berhadapan dengan orang-orang yahudi, musuh kaum Muslimin. Sebagian mereka menamakannya <em>‘amaliyah istisyhadiyyah</em> (usaha untuk mendapatkan mati syahid), sementara sebagian yang menamainya dengan <em>‘amaliyah intihariyyah</em> (perbuatan bunuh diri). Padahal setiap penamaan memiliki makna tersendiri. Yang menjadi problem dalam pemberian nama yaitu ketika tidak peduli dengan makna dan kandungan nama itu. Tidak logis, kalau kita menghukumi perbuatan diatas dengan hukum haram sementara pada saat yang sama kita menamainya dengan <em>‘amaliyah istisyhadiyyah</em>. Sebaliknya, bagaimana bisa perbuatan itu dihukumi sesuai dengan syari’at, sementara dia digelari <em>‘amaliyah intihariyyah</em>.</p>
<p>Kaedah baku dan standar dalam hal ini adalah sedapat mungkin menggunakan nama-nama <em>syar&#8217;i</em> dalam penamaan seluruh perkara. Namun bila ada permasalahan yang baru dan tidak ada nama yang <em>syar&#8217;i</em> untuknya, maka wajib menamainya dengan nama yang dikenal secara bahasa, yang pas dan yang menunjukkan hakekat permasalahan tersebut.</p>
<p><strong>4. Tidak cermat dalam melihat perkembangan dan perubahan <em>nawâzil</em></strong>.</p>
<ol></ol>
<p>Ini termasuk kesalahan karena hakekat <em>nawâzil</em> terkadang mengalami sedikit perubahan dan pergeseran. Perubahan ini terkadang  merubah hakekat <em>nawâzil</em> secara keseluruhan dari hakekat sebelumnya. Meski terjadi perubahan, namun istilah <em>nawâzil</em> tetap melekat pada keduanya, baik seblum ataupun setelah terjadi perubahan.</p>
<p>Memberikan fatwa hanya berdasarkan gambaran pertama dari suatu permasalahan pada suatu kejadian akan melahirkan <em>tashawwur</em> (gambaran) yang keliru dan kesalahan dalam memahaminya (<em>miss understanding</em>).</p>
<p>Kalau demikian, orang yang ingin memahami kejadian tersebut secara sempurna, sudah seharusnya terus meng-<em>update</em> informasi tentangnya. Khususnya pada zaman ini, dimana perubahan itu begitu cepat terjadi.</p>
<p>Sudah dimaklumi bahwa sebuah fatwa bisa berubah seiring dengan perubahan waktu, tempat dan keadaan serta adat yang berlaku. Dari sini sudah seharusnya seorang yang berfatwa<em> </em>memperhatikan waktu, tempat, kondisi dan keadaan yang berhubungan dengannya, serta adat yang berlaku dalam hukumnya terhadap satu permasalahan kontemporer.</p>
<p>Untuk itu, kewajiban yang berfatwa dalam urusan kontemporer ini adalah menjelaskan bentuk masalahnya dan hukumnya serta memberikan batasan hukum terhadap masalahnya secara khusus, serta memperhatikan sumber hukumnya. Akan lebih baik lagi bila diberikan tanggal keluarnya fatwa tersebut.</p>
<p>Sebagai contoh dalam hal ini adalah sikap Syaikh Abdurrahmân bin Nâshir as-Sa&#8217;di <em>Rahimahullah</em> dalam salah satu fatwanya. Beliau <em>Rahimahullah</em> menyampaikan, sebagian Ulama terdahulu telah berfatwa bahwa seorang wanita apabila meninggal dunia dalam keadaan mengandung bayi yang masih hidup, maka dilarang membedah perutnya untuk mengeluarkan bayinya. Karena ini termasuk <em>al-mutslah</em> (merusak jenazah/mayat). Kemudian beliau <em>Rahimahullah</em> memberikan komentar : “Namun pada masa-masa terakhir ini, ilmu bedah telah berkembang pesat dan akhirnya membedah perut atau sebagian anggota badan tidak lagi dianggap <em>al-mutslah</em>. Mereka bisa melakukannya terhadap orang yang masih hidup dengan keridhaan dan keinginan terhadap beraneka ragam sistem pengobatan. Sehingga saya cenderung seandainya para ahli fikih terdahulu menyaksikan keadaan ini tentu mereka akan memperbolehkan membedah perut orang hamil, dengan sebab keberadaan bayinya yang masih hidup dan demi mengeluarkannya. Khususnya bila masa hamil sudah usai  dan diketahui atau besar kemungkinan bayinya akan bisa diselamatkan.”</p>
<p>Setelah menyampaikan kecenderungan beliau <em>Rahimahullah</em> , Syaikh Abdurrahman Nashir As-Sa’di <em>Rahimahullah</em> mengatakan : “<em>A</em><em>l-mutslah</em> yang mereka jadikan sebagai alasan untuk melarang tindakan ini menunjukkan asumsi ini.” <a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p><strong>5. Cenderung mempermudah dan meringankan fatwa, </strong>tanpa memperhatikan <em>maqâshid syari&#8217;at</em>.</p>
<ol></ol>
<p>Anggapan mereka bahwa inilah yang paling sesuai dengan keadaan manusia di zaman ini. Karena kebanyakan manusia saat ini tidak lagi berpegang teguh dengan hukum-hukum agama dan sibuk dengan gemerlap kehidupan. Untuk itu, harus dilakukan upaya pendekatan agama kepada mereka yang berjiwa lemah dan yang lainnya, supaya mereka bisa menerima dan mencari hukum-hukum <em>syara&#8217;</em>. Ini upaya yang wajib dilakukan. namun pendapat yang memberikan kemudahan tersebut harus memiliki dasar kuat yang menopangnya berupa <em>nash</em> atau <em>qiyas</em> atau pendapat imam ahli fikih yang diikuti.</p>
<p>Di antara contohnya adalah fatwa sebagian Ulama yang membolehkan seorang wanita bepergian haji dengan teman-teman yang dipercaya tanpa <em>mahram</em>.<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p><strong>6. Kecenderungan untuk memperberat dan melarang</strong> <strong>tanpa memperhatikan <em>maqâshid syari&#8217;at</em></strong>.</p>
<ol></ol>
<p>Dengan<strong> </strong>asumsi ini lebih hati-hati dan cocok dengan keadaan sebagian kaum Muslimin yang sering meremehkan dan tidak mau melaksanakan tugas-tugas syari&#8217;at. Terkadang sikap meremehkan ini pada akhirnya bisa menyeret seseorang meninggalkan aturan-aturan agama sama sekali.</p>
<p>Di antara contohnya adalah fatwa sebagian Ulama yang menyatakan tidak boleh melempar <em>jumrah</em> di malam hari, juga fatwa yang menyatakan bahwa bayi tabung hukum haram secara mutlak.</p>
<p><strong>7. Berhujjah dengan fatwa sekelompok Ulama</strong> (<em>al-Iftâ` al-Jamâ`i</em>) dan merasa cukup denganya serta menjadikannya sebagai dalil tanpa merasa butuh dengan yang lain.</p>
<ol></ol>
<p>Yang dimaksud dengan <em>al-Iftâ` al-Jamâ`i</em> adalah semua fatwa dan ketetapan ataupun penjelasan dikeluarkan oleh sebagian al-<em>Majâmi&#8217;</em> (konferensi) dan <em>lajnah</em> ilmiyah. Terkait dengan hal ini, ada beberapa point penting yang perlu diperhatikan :</p>
<p><strong>a. Tidak disangsikan lagi bahwa fatwa yang bersumber dari banyak Ulama lebih pantas untuk diterima dibandingkan fatwa perorangan.</strong></p>
<ol></ol>
<p>Perlu dibedakan antara fatwa yang dikeluarkan sebuah <em>lajnah fatwa</em> yang terdiri dari sejumlah mufti dengan ijma’ kesepakatan para ulama. Perlu diketahui juga bahwa ifta’ jama’i tidak bisa mencapai derajat ijma’, baik dari sisi kekuatan hujjahnya ataupun segi kesepakatannya. Sebab fatwa dari konferensi dan badan ilmiyah dunia tersebut adalah hasil pemikiran fikih yang dirangkai disusun dari berbagai penelitian, karya tulis dan sensus lapangan. Jelas ketetapan konferensi dengan tinjauan ini lebih baku dan teliti secara fikih daripada fatwa sekelompok Ulama. Fatwa sekelompok Ulama jelas &#8211; karena banyaknya mereka &#8211; memberikan perasaan lebih tenang dan tentram dibanding fatwa perorangan. Inilah tiga tingkatan fatwa kontemporer, yang tertinggi adalah ketetapan konferensi, kemudian fatwa sekelompok Ulama, kemudian fatwa perorangan.</p>
<p><strong>b. Harus membedakan antara fatwa yang disampaikan mayoritas Ulama dengan adanya Ulama yang menyelisihinya dengan masalah <em>Ijmâ&#8217;</em>.</strong> Juga mengetahui bahwa fatwa sekelompok Ulama tidak sampai pada martabat <em>ijmâ&#8217;</em> dalam peran sebagai <em>hujjah</em> dan kesepakatan.</p>
<p><strong>c. Kelemahan fatwa secara berjama`ah kadang terjadi karena tekanan pihak tertentu</strong> dan biasanya tidak memiliki sarana iklan penyampaian yang sesuai<span style="text-decoration: underline;">.</span></p>
<p><strong>d. Terkadang pendapat yang dikeluarkan konferensi (<em>al-Majma&#8217;</em>) adalah pendapat minoritas</strong>, walaupun dikeluarkan dengan kesepakatan mereka semuanya. Sebab tidak semua Ulama dunia bisa ikut serta dalam konferensi tersebut.</p>
<p><strong>e. Di antara ide yang sering dilontarkan yaitu membentuk perkumpulan para Ulama dunia yang independen</strong>, tidak berada di bawah satu kekuatan atau satu pemerintahan. Perkumpulan ini yang akan mempelajari dan meneliti masalah-masalah kontemporer yang terjadi di tengah umat dengan tanpa tekanan dari fihak manapun. <strong> </strong></p>
<p><strong>8. Berhujjah dengan fatwa perorangan</strong> dan mengamalkannya serta pasrah kepadanya. Yang dimaksud dengan fatwa perorangan (<em>al-Iftâ` al-Fardi</em>) adalah fatwa dan ketetapan yang keluar dari seorang Ulama.</p>
<ol></ol>
<p>Dalam hal ini ada beberapa point penting:</p>
<ol>
<li>Fatwa perorangan adalah penyempurna dan berasal dari fatwa kelompok (<em>al-Iftâ al-Jamâ&#8217;i</em>).</li>
<li>Kebenaran terkadang ada pada satu individu bukan pada mayoritas. Ini adalah perkara yang sudah ditetapkan oleh <em>syara&#8217;</em> dan nyata.</li>
<li>Sebagian fatwa <em>mufti</em> tidak dianggap. Karena, terkenal suka meremehkan suatu permasalahan dan mengikuti hawa nafsu.</li>
<li>Pendapat seorang <em>mufti</em> atau lebih, kadang tersiarkan dan tersebar luas hingga orang menyangka ini adalah pendapat mayoritas, padahal sebenarnya tidak demikian.</li>
</ol>
<p>Demikian sebagian kekeliruan yang nampak dalam banyak fatwa kontemporer, semoga menjadi pencerahan bagi kita semua.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>[Disarikan oleh Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. dari kitab <em>Fiqhun Nawazil Dirasatu Ta'shiliyyah Wa Tathbiqiyyah</em> (1/68-77), karya Syaikh Muhammad bin Husain Al Jizani <em>Hafizhahullah</em>]</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.Com</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> <em>Fatâwa as-Sa&#8217;diyah</em> hlm 189-190</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Fatwa ini nampaknya memberikan kemudahan pada manusia, padahal sebenarnya malah sebaliknya, jika kita melihat kepadatan jamaah haji yang sangat beresiko menimbulkan berbagai bahaya bagi sebagian jamaah haji bahkan bisa menyebabkan kematian. Khususnya bagi mereka yang lemah seperti jompo, orang sakit dan wanita.</p>
<p>Dengan cara pandang ini, kalau ingin memberikan kemudahan bagi kaum wanita mestinya mereka dilarang berhaji tanpa ada <em>mahram</em> yang menjaga mereka.</p>
<p>Dengan kata lain, bukankah pelarangan wanita berhaji tanpa <em>mahram</em> akan mengakibatkan berkurangnya kepadatan dan memperkecil jumlah jamaah haji?</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/manhaj/kekeliruan-yang-muncul-dalam-fatwa-kontemporer/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/kekeliruan-yang-muncul-dalam-fatwa-kontemporer/&amp;title=Kekeliruan+Yang+Muncul+Dalam+Fatwa+Kontemporer" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/manhaj/kekeliruan-yang-muncul-dalam-fatwa-kontemporer/&amp;title=Kekeliruan+Yang+Muncul+Dalam+Fatwa+Kontemporer" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/manhaj/kekeliruan-yang-muncul-dalam-fatwa-kontemporer/&amp;t=Kekeliruan+Yang+Muncul+Dalam+Fatwa+Kontemporer" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/kekeliruan-yang-muncul-dalam-fatwa-kontemporer/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Kekeliruan+Yang+Muncul+Dalam+Fatwa+Kontemporer+-+http://ustadzkholid.com/manhaj/kekeliruan-yang-muncul-dalam-fatwa-kontemporer/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/kekeliruan-yang-muncul-dalam-fatwa-kontemporer/&amp;title=Kekeliruan+Yang+Muncul+Dalam+Fatwa+Kontemporer" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/kekeliruan-yang-muncul-dalam-fatwa-kontemporer/&amp;title=Kekeliruan+Yang+Muncul+Dalam+Fatwa+Kontemporer" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Kekeliruan+Yang+Muncul+Dalam+Fatwa+Kontemporer+-+File: /data/app/webapp/functions.php<br />Line: 7<br />Message: Too many connections&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Kekeliruan+Yang+Muncul+Dalam+Fatwa+Kontemporer&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/manhaj/kekeliruan-yang-muncul-dalam-fatwa-kontemporer/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Tidak%20dipungkiri%20lagi%20ijtih%C3%A2d%20para%20Ulama%20dalam%20memberikan%20fatwa%20pada%20masalah%20kontemporer%20%28Naw%C3%A2zil%29%20sangat%20dibutuhkan%20umat%20ini.%20Apalagi%20permasalahan%20kontemporer%20%28Naw%C3%A2zil%29%20sangat%20banyak%20dan%20terus%20bermunculan.%20Namun%20tentunya%2C%20yang%20bisa%20berbicara%20untuk%20memutuskan%20permasalahan%20ini%20hanyalah%20para%20ulama%20yang%20memenuhi%20syarat" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/manhaj/kekeliruan-yang-muncul-dalam-fatwa-kontemporer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Semua Orang Kafir Disikapi Sama?</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/manhaj/apakah-semua-orang-kafir-disikapi-sama/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/manhaj/apakah-semua-orang-kafir-disikapi-sama/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 13:00:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[kafir]]></category>
		<category><![CDATA[teroris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1297</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimanakah seharusnya kita berhubungan dengan orang-orang kafir? Apakah mereka disikapi sama?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika kekhilafahan islam dan hukum Islam ditinggalkan maka banyak sekali hak dan kewajiban yang terlantar dan disalah artikan. Sikap dan tindakan yang melanggar syari’at dianggap bagian dari syari’at (baca: jihad), terutama yang berhubungan dengan orang kafir. Ada yang beranggapan, orang kafir seluruhnya sama wajib diperangi, tidak boleh diberi keamanan. Sebaliknya, ada juga yang menganggap semua orang kafir itu memiliki hak-hak yang sama dengan kaum muslimin. Kedua anggapan ini tidak bisa dibenarkan. Anggapan pertama akan menyeret kepada perbuatan zhalim, padahal Islam mengajarkan keadilan dan mengharamkan perbuatan zhalim kepada siapapun juga. Sedangkan anggapan yang kedua akan melunturkan dan mengikis <em>al wala’</em> (loyal kepada kaum muslimin) dan <em>al </em><em>b</em><em>ara’</em> (berlepas diri dari semua orang kafir) dari hati kaum mulimin.</p>
<p>Lalu bagaimanakah seharusnya kita berhubungan dengan orang-orang kafir? Apakah mereka disikapi sama?</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Keindahan dan Keadilan Islam </strong></p>
<p>Islam melarang umatnya melakukan pembunuhan tanpa alasan yang haq. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الأرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا</p>
<p><em>“</em><em>Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, ataubukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya</em><em>”</em><em> </em>(QS. Al-Mâidah: 32)<span id="more-1297"></span><em> </em></p>
<p>juga firman-Nya:</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">وَلا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ </p>
<p><em>“</em><em>Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan suatu (sebab) yang benar</em><em>”</em><em> </em>(QS. Al-‘An’âm: 151)<em> </em></p>
<p>Jiwa dalam ayat di atas bersifat umum mencakup jiwa muslim dan non-muslim. Semuanya haram dibunuh kecuali dengan alasan yang dibenarkan syari&#8217;at, seperti adanya pembunuhan yang dilakukan orang kafir tersebut.  Jika alasan yang dibenarkan ini ada pada seseorang, maka syari&#8217;at membolehkan membunuhnya sebagai hukuman dari perbuatan yang dilakukannya. Syari’at tidak pernah memberikan izin apalagi memerintahkan membunuh satu jiwa dengan sebab kejahatan yang dilakukan orang lain. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman :</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">وَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولا</p>
<p><em>“</em><em>Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul</em><em>”</em><em> </em>(QS. Al-Isra&#8217;: 15)<em> </em></p>
<p>Inilah Islam, sebuah agama yang dibangun di atas dasar keadilan dan memerintahkan umatnya untuk senantiasa berbuat adil.</p>
<p><strong>Orang kafir dan Hak mereka</strong><strong> </strong></p>
<p>Para ulama membagi orang kafir menjadi tiga kategori:</p>
<ol>
<li>Orang kafir harbi (<em>al-</em><em>m</em><em>uhâribîn</em>)</li>
<li>Orang kafir yang memiliki perjanjian dengan kaum muslimin (<em>ahlu al-‘ahd</em><em> / al mua’ahhad</em>)</li>
<li>Orang kafir (<em>ahlu dzimmah</em> / <em>adz-Dzim</em><em>m</em><em>i</em>)</li>
</ol>
<p>Imam Ibnu al-Qayyim <em>Rahimahullah</em> mengatakan: &#8220;Setelah surat <em>Bara`ah</em> (at-Taubah) turun, masalah orang kafir terbagi menjadi tiga golongan: kafir harbi (<em>al-Muhâribîn</em>), <em>ahlu al-‘Ahd</em> dan <em>ahlu adz-Dzimmah</em>.<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kafir Harbi</strong><strong> </strong></p>
<p>Orang kafir <em>harbi</em> adalah semua orang musyrik dan ahli kitab yang boleh diperangi atau semua orang kafir yang menampakkan permusuhan dan menyerang kaum muslimin.</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin <em>Rahimahullah</em> menyatakan: &#8220;Kafir <em>harbi</em> tidak memiliki hak untuk mendapatkan penjagaan dan pemeliharaan dari kaum muslimin&#8221;<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Mereka adalah orang kafir asli yang diperangi Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>. Beliau <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">???????? ???? ????????? ???????? ?????? ?????????? ???? ??? ?????? ?????? ??????? ??????? ?????????? ??????? ??????? ??????????? ?????????? ?????????? ?????????? ??????? ???????? ?????? ???????? ?????? ??????????? ??????????????? ?????? ??????? ???????????? ????????????? ????? ???????</p>
<p><em>“</em><em>Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, menegakkan shalat dan menunaikan zakat. Apabila mereka telah melakukannya, berarti mereka telah menjaga jiwa dan harta mereka dariku (Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam ) kecuali dengan (alasan-red) hak Islam serta hisab mereka diserahkan kepada Allah</em><em>”</em> (HR al-Bukhâri).</p>
<p>Golongan ini diperangi, apabila ia atau negaranya telah menampakkan atau menyatakan perang terhadap kaum muslimin atau kaum muslimin terlebih dahulu mengumumkan perang terhadap mereka setelah orang-orang kafir ini menolak ajakan kepada Islam.</p>
<p>Perlu diketahui bahwa <strong>tidak semua kafir harbi diperangi</strong>. Dalam banyak hadits, Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> melarang membunuh orang yang tidak ikut perang seperti anak-anak, wanita, orang-orang jompo, berpenyakit lumpuh, banci, pendeta dan orang buta.<a href="#_ftn3">[3]</a> Kemudian Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin <em>Rahimahullah</em> menjelaskan bahwa tujuh golongan ini tidak boleh dibunuh kecuali dengan salah satu dari tiga sebab :</p>
<ol>
<li>Mereka memiliki peran dalam pemikiran dan pengaturan</li>
<li>Mereka ikut berperang</li>
<li>Memberikan dorongan semangat kepada para tentara musuh untuk berperang.<a href="#_ftn4">[4]</a></li>
</ol>
<p>Syaikhul Islam ibnu Taimiyah <em>Rahimahullah</em> menyatakan: &#8220;Apabila hukum asal dari peperangan yang disyari’atkan itu adalah jihad dan tujuannya adalah menjadikan agama ini seluruhnya untuk Allah dan meninggikan kalimat Allah sehingga menjadi yang tertinggi, maka orang yang menghalang-halangi harus diperangi. Sedangkan orang yang tidak memiliki kekuatan untuk menghalangi atau berperang, seperti wanita, anak-anak, pendeta (rahib), orang jompo, buta dan lumpuh serta sejenisnya maka tidak boleh dibunuh menurut jumhur ulama, kecuali jika mereka ikut andil dalam peperangan, baik dengan perkataan atau perbuatannya. Walaupun sebagian ulama ada yang memandang boleh membunuh seluruhnya disebabkan kekufuran mereka semata kecuali wanita dan anak-anak karena mereka adalah harta (<em>ghanimah</em>) bagi kaum muslimin. Pendapat yang benar adalah pendapat pertama.<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Orang Kafir Harbi yang Mendapatkan Jaminan Keamanan</strong><strong> dan <em>Al Mu’ahhad</em></strong></p>
<p>Golongan ini terbagi menjadi dua yaitu yang minta suaka atau perlindungan keamanan (<em>al-Musta`min</em>) dan yang memiliki perjanjian damai yang disepakati (<em>al-Mu’âhad</em>).</p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin <em>Rahimahullah</em> menyatakan: &#8220;<em>al-Musta’minûn</em> memiliki hak mendapat perlindungan dari kaum muslimin dalam waktu dan tempat yang telah ditentukan, berdasarkan firman Allah <em>Ta’ala</em> :</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ </p>
<p><em>“</em><em>Dan jika salah seorang kaum musyirikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya</em><em>”</em><em> </em>(QS. at-Taubah: 6)<em> </em></p>
<p>Sedangkan <em>al-Mu’âhad</em>, mereka berhak mendapatkan pelaksanaan perjanjian dari kita dalam waktu yang sudah disepakati, selama mereka tetap berpegang pada janji mereka tanpa menguranginya sedikitpun, tidak membantu musuh yang menyerang kita serta tidak mencela agama kita. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">إِلا الَّذِينَ عَاهَدْتُمْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ثُمَّ لَمْ يَنْقُصُوكُمْ شَيْئًا وَلَمْ يُظَاهِرُوا عَلَيْكُمْ أَحَدًا فَأَتِمُّوا إِلَيْهِمْ عَهْدَهُمْ إِلَى مُدَّتِهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ</p>
<p><em>“Kecuali orang-orang musyirikin yang kamu mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatupun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa</em><em>”</em><em> (Q</em><em>S.</em><em> </em><em>at-Taubah:</em><em> </em><em>4)</em></p>
<p>dan firman Allah Ta’ala:</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">وَإِنْ نَكَثُوا أَيْمَانَهُمْ مِنْ بَعْدِ عَهْدِهِمْ وَطَعَنُوا فِي دِينِكُمْ فَقَاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْرِ إِنَّهُمْ لا أَيْمَانَ لَهُمْ </p>
<p><em>“</em><em>Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjiny</em><em>a”</em><em> </em>(QS. at-Taubah:12)<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Tentang pemberian keamanan ini Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">????????? ?????????????? ????????? ??????? ????? ???????????</p>
<p><em>“</em><em>Perlindungan kaum muslimin (terhadap orang kafir) adalah sama walaupun jaminan itu diberikan oleh kaum muslimin yang paling rendah</em><em>”</em><a href="#_ftn7"><em><strong>[7]</strong></em></a><em> </em></p>
<p>Dalam hadits ini terdapat petunjuk bahwa hak perlindungan kepada non muslim boleh diberikan oleh seorang muslim. Apabila syarat-syarat pemberian perlindungan telah terpenuhi, maka perlindungan yang diberikan oleh seorang muslim memiliki kekuatan yang sama dengan perlindungan yang diberikan penguasa muslim. Berdasarkan hal ini maka pemberian perlindungan seorang muslim secara pribadi atau penguasa muslim kepada orang kafir baik Kristen ataupun Yahudi adalah sah. Sehingga seluruh kaum muslimin dari penduduk negara tersebut tertuntut untuk mentaatinya.</p>
<p>Demikianlah yang dilakukan Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> kepada utusan musuh islam. Ibnul Qayyim <em>Rahimahullah</em> menyatakan: &#8220;Dua utusan Musailamah al-Kadzdzâb datang membawa surat Musailamah al-Kadzdzâb kepada Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>. Mereka adalah Abdullah bin an-Nawâ<span style="text-decoration: underline;">h</span>ah dan ibnu atsâl. Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> berkata kepada keduanya: “Seandainya bukan karena  utusan itu tidak dibunuh maka tentulah aku akan memenggal leher kalian berdua!”<a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Ibnul Qayyim <em>Rahimahullah</em> menambahkan lagi:” Diantara petunjuk Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> adalah tidak menahan utusan apabila ia sudah memilih Islam. Penguasa kaum muslimin tidak boleh menghalangi utusan tersebut untuk kembali ke kaumnya, bahkan penguasa kaum muslimin harus mengembalikannya kepada kaum yang mengutusnya. Sebagaimana dijelaskan Abu Râfi’ dalam pernyataan beliau <em>Radhiallahu’anhu</em>: &#8220;Kaum Quraisy mengutusku menemui Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>. Ketika aku telah menemui beliau <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>, Islam masuk ke hatiku. Lalu aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, saya tidak ingin kembali kepada mereka’ Beliau <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> menanggapi: &#8220;Aku tidak pernah melanggar janji dan menahan utusan. Kembalilah kepada mereka! Apabila yang ada di hatimu sekarang ini masih terus ada, maka setelah itu kembalilah (kepada kami-red)!<a href="#_ftn9">[9]</a>.<a href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Oleh karena itu, dilarang membunuh dan mengganggu orang kafir yang masuk negara islam dengan perlindungan dan perjanjian, seperti wisatawan asing, utusan dan duta besar yang ditempatkan di negara Islam. Karena mereka masuk dengan visa dan perjanjian antar negara. Syaikh Shâlih bin Fauzân Ali Fauzân <em>hafizhahullâh</em> –salah seorang anggota komite ulama besar Saudi Arabia-  menyatakan : &#8220;Apabila kita mengudang mereka untuk datang atau kita berikan perlindungan (<em>al-Amân</em>) maka kita tidak boleh mencelakakan atau merugikan mereka. Kita wajib berlaku adil hingga mereka pergi dan menyelesaikan perjanjian mereka serta pulang ke negara mereka. Karena mereka masuk dengan perlindungan dan kita yang meminta dia untuk datang. Karena itulah, kita wajib memperlakukan mereka dengan adil, tidak menzhalimi mereka serta wajib memberikan hak-hak mereka. Sedangkan dalam masalah cinta, maka kita tidak boleh mencintai mereka. Namun kebencian kita kepada mereka tidak boleh menyeret kita untuk menzhalimi mereka atau mengurangi sedikit pun hak mereka atau mengganggu mereka. Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى </p>
<p><em>“</em><em>Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqw</em><em>a”</em><em> </em>(QS. Al-Mâidah: 8 )<em> </em></p>
<p>Namun di masa-masa yang akan datang, kita tidak mendatangkan mereka dan menggantikannya dengan para pekerja dari saudara-saudara kita kaum muslimin.<a href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p><strong>Ahli Dzimmah</strong></p>
<p>Golongan ketiga yaitu ahli dzimmah. Golongan inilah yang paling banyak memiliki hak atas kaum muslimin dibandingkan dengan golongan sebelumnya. Karena mereka hidup di negara Islam dan di bawah perlindungan dan penjagaan kaum muslimin dengan sebab upeti (<em>Jizyah</em>) yang mereka bayarkan.</p>
<p><em>Dzimmah</em> dalam pengertian para ulama syari’at adalah membiarkan sebagian orang kafir berada dalam kekufurannya dengan syarat membayar jizyah (upeti) dan komitmen dengan hukum-hukum agama.<a href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p>Akad <em>dzimmah</em> ini diperbolehkan untuk ahli kitab dan orang (non-bani Israel) yang menganut agama mereka serta orang Majusi. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman :</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">قَاتِلُوا الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلا بِالْيَوْمِ الآخِرِ وَلا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ</p>
<p><em>“</em><em>Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) pada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah Dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk</em><em>”</em><em> </em>(QS. at-Taubah: 29<em>)</em></p>
<p>Dalam ayat diatas, jelaslah bahwa jizyah diambil dari ahli kitab yaitu Yahudi dan Nashrâni. Sedangakan orang Majusi juga ditariki jizyah, dengan dasar hadits Abdurahman bin ‘Auf z yang menyatakan :</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ????????? ???? ??????? ??????</p>
<p><em>“</em><em>Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah mengambil jizyah dari Majusi Hajar</em><em>”</em><a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Ibnul Qayyim <em>Rahimahullah</em> menyatakan: &#8220;Para ulama ahli fikih telah berijma bahwa <em>jizyah</em> (upeti) diambil dari ahli kitab dan dari Majusi.<a href="#_ftn14">[14]</a></p>
<p><strong>Hukum </strong><strong>S</strong><strong>eputar </strong><strong>A</strong><strong>hli Dzimmah.</strong></p>
<p>Akad ini hanya boleh dilakukan oleh pemerintah atau wakilnya, seperti para panglima perang atau orang yang memang ditugaskan menangani hal tersebut. Karena akad <em>dzimmah</em> banyak memiliki konsekwensi hukum, berbeda dengan perlindungan keamanan (<em>al-Amân</em>). Disamping juga, akad <em>dzimmah</em> ini bersifat terus menerus dan tidak terbatas dalam waktu tertentu.</p>
<p>Akad ini diwujudkan oleh pemerintah islam apabila memenuhi syarat-syarat berikut :</p>
<ol>
<li><em>Ahli Dzimmah</em> komitmen dan terus membayar upeti (<em>Jizyah</em>) setiap tahun.</li>
<li>Mereka tidak boleh menjelek-jelekkan Islam sedikit pun</li>
<li>Tidak melakukan sesuatu yang merugikan dan membahayakan kaum muslimin.</li>
<li>Mereka tunduk dengan semua aturan dan hukum Islam<a href="#_ftn15">[15]</a></li>
</ol>
<p>Diantara konsekuensi akad <em>dzimmah</em> ini adalah:<a href="#_ftn16">[16]</a></p>
<ol>
<li>Dilarang membunuh, menyakiti dan mengambil harta mereka dengan semena-mena.</li>
<li>Wajib bagi pemerintah kaum muslimin untuk menjaga dan melindungi mereka serta tidak mengganggu mereka.</li>
<li>Wajib bagi pemerintah kaum muslimin untuk menerapkan hukum Islam pada jiwa, harta dan kehormatan mereka.</li>
<li>Wajib bagi pemerintah Islam untuk menegakkan had (hukuman) atas mereka dalam semua yang mereka yakini haram.</li>
<li>Wajib bagi <em>ahli dzimmah</em> untuk tampil beda dengan kaum muslimin dalam berpakaian dan tidak boleh menampakkan sesuatu yang dianggap mungkar dalam Islam, meskipun sedikit atau menampakkan sesuatu yang menjadi syiar agama mereka seperti salib dan sebagainya.</li>
<li>Kaum muslimin dilarang menyerupai mereka (<em>at-Tasyabbuh</em>) dan tidak boleh berdiri menyambut mereka serta mendahulukan mereka untuk berbicara di depan majlis kaum muslimin.</li>
<li>Kaum muslimin dilarang mengucapkan salam terlebih dahulu kepada mereka, mengucapkan selamat atas hari raya mereka dan men-<em>ta’ziyah</em></li>
<li>Kaum muslimin diperbolehkan menjenguk <em>ahli dzimmah</em> yang sakit untuk satu kemaslahatan. (<em>al-Mashlahat ar-Râjihah</em>)</li>
</ol>
<p>Demikian sekilas tentang pengelompokan orang-orang kafir dan hak-hak mereka dalam pemerintahan Islam.  Mudah-mudahan memberikan pencerahan terhadap kita dan kaum muslimin.</p>
<p><em>Wabillahi taufiq</em>.</p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<ol>
<li><em>Ahkâm Ahli Dzimmah</em>, Ibnul Qayyim, <em>Tahqîq Yusuf ahmad al-Bakri dan Syakir Taufiq</em>, cetakan pertama 1418 H, penerbit Ramâdi</li>
<li><em>as-Siyâsah asy-Syar’iyah Fi Ishlâh ar-Râ’i wa ar-Râ’iyah</em>, Ibnu Taimiyah. Tahqîq Abdullah bin Muhammad al-Maghribi, cetakan pertama tahun 1406 H, Dâr al-Arqâm</li>
<li><em>Syar<span style="text-decoration: underline;">h</span>u al-Mumti’ ‘alâ Zâd al-Mustaqni’</em> , Syaikh Muhammad bin Shâlih al-Utsaimîn. Tahqîq Khâlid bin Ali al-Musyaiqih, cetakan pertama tahun 1417 H , Muassasah Aasâm.</li>
<li><em>Huqûqun Da’at Ilaihâ al-Fithrah Wa Qarrarahâ asy-Syari’at</em>, Syaikh Muhammad bin Shâlih al-Utsaimîn, cetakan : Pertama, tahun 1427 H , Madâr al-Wathan</li>
<li><em>Ushûl al-Manhaj al-Islâmi</em>, <em>Dirâsât mu’asharah Fi al-Aqidah wa al-Ahkâm wa al-Adab</em>, Abdurrahman bin Abdilkarim al-‘Ubaid, Jum’iyah Ihyâ at-Turâts</li>
<li><em>Zâd al-Ma’âd Fi Hadyi Khairil ‘Ibâd</em>, Ibnul Qayyim, Tahqîq Syu’aib al-Arnauth dan Abdil Qadir al-Arna`uth. Cetakan ke 2 tahun 1421 H , Muassasah ar-Risâlah.</li>
</ol>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Ustadz Khalid Syamhudi, Lc.</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.Com</a></p>
<p><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> <em>Zâd al-Ma’âd</em><em>,</em> 3/145</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> <em>Huqûq Da’at Ilaihâ al-Fithrah Wa Qarrarahâ asy-Syari’at</em>, Ibnu Utsaimin hal 16</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Lihat matan <em>zâd al-Mustaqni’</em> dalam <em>Syarhu al-Mumti’</em> 8/27.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Lihat <em>Syarhu al-Mumti’</em> 8/27 secara ringkas.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> <em>as-Siyâsah asy-Syar’iyah Fî Islâhi ar-Râ’i wa ar-Râ’iyah</em>, Ibnu Taimiyah hlm. 165-166</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> <em>Huqûqun Da’at Ilaihâ al-Fithrah</em>, hlm. 26</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> HR Muslim no. 2344</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> HR Abu Daud no. 2761 dan dinilai <em>Hasan Lighairihi</em> oleh Syu’aib al-Arna`uth dalam <em>Tahqîq Zâd al-Ma’âd</em> 3/126.</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> HR Imam Muslim no. 1787</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Zaad al-Ma’aad 3/127</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> <em>al-Muntaqâ` min Fatâwâ Syaikh Shâlih al-Fauzân</em> 1/252.</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> <em>Raudh al-Murbi’</em> 4/303.</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> HR al-Bukhâri no. 3157</p>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> <em>Ahkâm Ahli adz-Dzimmah</em>, Ibnu al-Qayyim 1/79</p>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> <em>Ushûl al-Manhaj al-Islâmi</em>, hlm. 449</p>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> Diambil dari <em>Huqûqun Da’at Ilaihâ al-Fithrah</em>, hlm. 26 dan <em>Ushûl al-Manhaj al-Islâmi</em>, hlm. 449-450</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/manhaj/apakah-semua-orang-kafir-disikapi-sama/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/apakah-semua-orang-kafir-disikapi-sama/&amp;title=Apakah+Semua+Orang+Kafir+Disikapi+Sama%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/manhaj/apakah-semua-orang-kafir-disikapi-sama/&amp;title=Apakah+Semua+Orang+Kafir+Disikapi+Sama%3F" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/manhaj/apakah-semua-orang-kafir-disikapi-sama/&amp;t=Apakah+Semua+Orang+Kafir+Disikapi+Sama%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/apakah-semua-orang-kafir-disikapi-sama/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Apakah+Semua+Orang+Kafir+Disikapi+Sama%3F+-+http://ustadzkholid.com/manhaj/apakah-semua-orang-kafir-disikapi-sama/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/apakah-semua-orang-kafir-disikapi-sama/&amp;title=Apakah+Semua+Orang+Kafir+Disikapi+Sama%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/apakah-semua-orang-kafir-disikapi-sama/&amp;title=Apakah+Semua+Orang+Kafir+Disikapi+Sama%3F" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Apakah+Semua+Orang+Kafir+Disikapi+Sama%3F+-+http://b2l.me/n8kfe&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Apakah+Semua+Orang+Kafir+Disikapi+Sama%3F&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/manhaj/apakah-semua-orang-kafir-disikapi-sama/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Bagaimanakah%20seharusnya%20kita%20berhubungan%20dengan%20orang-orang%20kafir%3F%20Apakah%20mereka%20disikapi%20sama%3F" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/manhaj/apakah-semua-orang-kafir-disikapi-sama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kewajiban Merujuk Pada Ulama</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/manhaj/kewajiban-merujuk-pada-ulama/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/manhaj/kewajiban-merujuk-pada-ulama/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 06:14:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=987</guid>
		<description><![CDATA[Para ulama Islam bertugas untuk memerangi setan dan para budaknya. Menjelaskan kebenaran dan kebatilan kepada umat manusia. Sehingga petunjuk dan ajaran Islam ini terjaga dan terpelihara hingga hari kiamat nanti.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Allah Ta&#8217;ala mengutus para rasul untuk menyampaikan syariatNya, agar menjadi hujjah bagi semua makhlukNya dan menutupnya dengan mengutus Muhammad <em>Shallallahu&#8217;alahi Wasallam</em> . Rasul yang menerangi manusia dan mengeluarkan mereka dari kegelapan, membawa ke jalan yang lurus. Demikian ketetapan Allah; menunjuki manusia, sehingga mendapatkan keridhaanNya. Allah berfirman,</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: 22px;"><span style="font-style: normal;"><span>قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ</span></span></span></span></p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="en-US"><span style="font-style: normal;"><span><em>Kami berfirman,&#8221;Turunlah kamu dari jannah itu! Kemudian jika datang petunjukKu kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjukKu, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.</em>&#8220;” </span></span></span><span lang="id-ID">(QS. Al Baqarah:38).</span></p>
<p align="JUSTIFY">Petunjuk disini bermakna: Rasul dan kitab suci.<a name="sdfootnote1anc" href="#sdfootnote1sym"><sup>1</sup></a> Petunjuk ini merupakan sumber kebahagian dan kejayaan umat dan dapat menghilangkan kebodohan dan membawa keselamatan.<span id="more-987"></span></p>
<p align="JUSTIFY">Ibnu Taimiyah berkata, “Tidak ada kebahagian dan keselamatan di hari akhirat, kecuali dengan mengikuti Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alahi Wasallam</em>. FirmanNya,</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: 22px;">وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ وَمَن يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ ناَرًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابُُ مُّهِينُُ </span></span></p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="en-US"><span style="font-style: normal;"><span>Barangsiapa yang mentaati </span></span></span><span lang="id-ID"><em>Allah dan RasulNya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam jannah yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan RasulNya dan melanggar ketentuan-ketentuanNya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api naar sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” </em></span><span lang="id-ID">(QS. An Nisa’:</span> <span lang="id-ID">14).</span>”<a name="sdfootnote2anc" href="#sdfootnote2sym"><sup>2</sup></a></p>
<p align="JUSTIFY">Kunci kebahagian dunia dan akhirat terletak karena ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Jiwa kita lebih membutuhkan mengenal ajaran dan taat kepada Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alahi Wasallam </em>dibandingkan dengan kebutuhan kepada makan dan minum. Sehingga sepatutnya kita semua mengenalnya dengan mempelajari Al Qur’an dan Sunnah, yang telah diriwayatkan dan dinukilkan para ulama sejak zaman Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alahi Wasallam </em>hingga sekarang dan sampai hari kiamat nanti. Karena tidak cukup dengan hanya mengandalkan akal dalam mengenal ajaran Beliau <em>Shallallahu&#8217;alahi Wasallam</em>.</p>
<p align="JUSTIFY">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>Rahimahullah</em> berkata,“Dengan diutusnya Muhammad <em>Shallallahu&#8217;alahi Wasallam</em>, jelaslah sudah kekafiran dari keimanan, keuntungan dari kerugian, petunjuk dari kesesatan, penyimpangan dari kelurusan, kekeliruan dari kebenaran, ahli syurga dari ahli neraka, orang yang bertakwa dari orang <em>fajir</em> dan mendahulukan jalan orang yang Allah karuniai nikmat dari kalangan para nabi, <em>shidiqin, syuhada</em> dan <em>shalihin</em> dari jalannya orang yang dimurkai Allah dan sesat.</p>
<p align="JUSTIFY">Sehingga jiwa lebih membutuhkan untuk mengenal ajaran dan mengikuti Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alahi Wasallam</em>, daripada kebutuhannya kepada makan dan minum. Karena, jika tidak memiliki makan minum hanya terjadi kematian. Sedangkan jika tidak memiliki petunjuk, akan mendapatkan adzab. Maka sudah menjadi kewajiban bagi setiap orang menumpahkan seluruh kekuatan dan kemampuannya untuk mengenal ajaran beliau dan mentaatinya. Inilah jalan keselamatan dari adzab yang pedih dan jalan kebahagiaan ke surga. Caranya dengan mengambil riwayat dan penukilan (Al Qur’an dan As Sunnah, pen.). Karena tidak akan bisa mengenalnya, bila hanya mengandalkan akal. Sebagaimana cahaya mata, tidak dapat melihat kecuali dengan adanya cahaya yang di depannya. Demikian pula cahaya akal, tidak berfungsi kecuali jika ada cahaya terang risalah Allah Ta&#8217;ala . Oleh karena itu dakwah menyampaikan agama termasuk kewajiban Islam yang agung. Dan mengenal perintah Allah dan Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alahi Wasallam</em> wajib atas seluruh manusia.”<a name="sdfootnote3anc" href="#sdfootnote3sym"><sup>3</sup></a></p>
<p align="JUSTIFY">Kesimpulannya, petunjuk Allah <em>Ta&#8217;ala </em>tidak dapat diketahui dan dicapai hanya dengan akal. Tetapi harus dilandasi dan dibangun dengan wahyu Allah <em>Ta&#8217;ala</em>. Itulah agama Islam yang telah Allah sempurnakan dan ridhai sebagai agama petunjuk yang sempurna. Allah <em>Ta&#8217;ala </em>berfirman,</p>
<p style="page-break-after: avoid; text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: 22px;"><strong>الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا</strong></span></span></p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="en-US"><span style="font-style: normal;"><span><em>Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu.</em>” </span></span></span><span lang="id-ID">(QS Al Maidah:3).</span></p>
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY">Semua sepakat tentang kesempurnaan petunjuk Allah <em>Ta&#8217;ala </em>ini. Lantas bagaimana cara mengenalnya setelah Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alahi Wasallam </em>meninggal dunia? Dan para sahabat yang menyaksikan penerapan petunjuk tersebut telah meninggal juga?</p>
<p align="JUSTIFY"><strong>ULAMA PENJAGA SYARI’AT ISLAM </strong></p>
<p align="JUSTIFY">Sesungguhnya Allah Ta&#8217;ala telah menjaga Al Qur’an, sehingga tidak mungkin dirubah lafadz dan hurufnya. Musuh Islam sudah putus asa dalam merubah lafadz dan hurufnya. Akan tetapi setan dan para budaknya berusaha memasukkan penyimpangan dan pengkaburan makna kandungan AlQur’an. Sehingga penambahan dan pengurangan ini dapat menyesatkan sebagian manusia.</p>
<p align="JUSTIFY">Mereka ingin memadamkan cahaya agama Allah Ta&#8217;ala dengan segala kemampuannya. Akan tetapi Allah <em>Ta&#8217;ala </em>akan selalu menyempurnakan cahayaNya dan menjaga agamaNya. FirmanNya,</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: 22px;">يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ</span></span></p>
<p align="LEFT">“<span lang="en-US"><em><span>Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benc</span></em></span><span lang="en-US"><span style="font-style: normal;"><span>i”</span></span></span>(QS. Ash Shaf:8).</p>
<p align="JUSTIFY">Untuk itulah Allah <em>Ta&#8217;ala </em>membangkitkan para ulama Islam untuk memerangi sethan dan para budaknya. Menjelaskan kebenaran dan kebatilan kepada umat manusia. Sehingga petunjuk dan ajaran Islam ini terjaga dan terpelihara hingga hari kiamat nanti.</p>
<p align="JUSTIFY">Syaikhul Islam dengan gamblang menyatakan, ”Al Qur’an berbeda dengan yang lainnya -karena pengkhususan dari Allah; sebagai <em>mu’jizat</em> yang berbeda dengan perkataan manusia, sebagaimana firman-Nya</p>
<p style="font-style: normal; text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: 22px;">قُل لَّئِنِ اجْتَمَعَتِ اْلإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَن يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْءَانِ لاَيَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْكَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا</span></span></p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="en-US"><em><span>Katakanlah,&#8221;Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur&#8217;an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.”</span></em></span><span lang="en-US"><span style="font-style: normal;"><span> </span></span></span><span lang="id-ID">(QS Al Isra’:88)</span><span lang="id-ID"><em> </em></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">dan diriwayatkan secara </span><span lang="id-ID"><em>mutawatir, </em></span><span lang="id-ID">maka tidak ada seorangpun yang bersemangat merubah lafadz dan hurufnya; tetapi sethan bersemangat memasukkan pengkaburan dan penyimpangan dalam makna-maknanya dengan perubahan dan </span><span lang="id-ID"><em>ta’wil</em></span><span lang="id-ID">. </span>bersemangat memasukkan tambahan dan pengurangan yang dapat menyesatkan sebagian manusia dalam hadits-hadits Nabi <em>Shallallahu&#8217;alahi Wasallam </em>. Lalu Allah membangkitkan para ulama pengkritik, ahli petunjuk dan kebenaran. Mereka memerangi tentara syethan dan membedakan antara kebenaran dan kebathilan, serta bersemangat menjaga sunnah dan makna-makna Al Qur’an dari tambahan dan pengurangan.”<a name="sdfootnote4anc" href="#sdfootnote4sym"><sup>4</sup></a></p>
<p align="JUSTIFY"><strong>ULAMA MERUPAKAN NARA SUMBER DAN RUJUKAN DALAM MEMAHAMI AGAMA</strong></p>
<p align="JUSTIFY">Demikianlah Allah Ta&#8217;ala menciptakan para ulama sebagai pewaris Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alahi Wasallam </em>. Mengikuti jejak langkah Beliau dalam berdakwah kepada Allah Ta&#8217;ala . Mereka menjadi pemikul ilmu dan pengemban risalah Islam. Sehingga Allah Ta&#8217;ala menjaga ilmu dengannya, dan menghilangkan ilmu dengan mencabut mereka. Dijelaskan dalam Al Qur’an dan As Sunnah, diantaranya :</p>
<p align="JUSTIFY">Firman Allah <em>Ta&#8217;ala </em>,</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: 22px;">قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي اَدْعُوا إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَآأَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ</span></span></p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="en-US"><em><span>Katakanlah,&#8221;Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.</span></em></span><span lang="en-US"><span style="font-style: normal;"><span>” </span></span></span><span lang="id-ID">(QS Yusuf:108).</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Imam Ibnul Qoyyim </span><span lang="id-ID"><em>Rahimahullah</em></span><span lang="id-ID"> menafsirkan ayat ini, setelah menyampaikan perbedaan ulama tentang kata (</span><span style="font-family: Traditional Arabic;">أَنَاوَمَنِ اتَّبَعَنِي</span><span lang="id-ID">) kembali kepada </span><span lang="id-ID"><em>dhomir</em></span><span lang="id-ID"> (kata ganti) dalam kata (</span><span style="font-family: Traditional Arabic;">أَدْعُوا</span>?<span lang="id-ID">) yang berarti berdakwah kepada Allah, seperti aku berdakwah, atau kembali kepada kata (</span><span style="font-family: Traditional Arabic;">عَلَى بَصِيرَةٍ</span><span lang="id-ID">) berarti pengikutnya yang memiliki </span><span lang="id-ID"><em>bashirah </em></span><span lang="id-ID">(ilmu). Berkata (Imam Ibnul Qoyyim </span><span lang="id-ID"><em>Rahimahullah</em></span><span lang="id-ID">), “Baik makna ayat,‘</span><span lang="id-ID"><em>aku dan orang yang mengikuti di atas hujjah dan aku berdakwah kepada Allah,</em></span><span lang="id-ID">’ atau maknanya,‘</span><span lang="id-ID"><em>aku berdakwah kepada Allah Ta&#8217;ala di atas hujjah </em></span><span lang="id-ID"><em><strong>(bashirah)</strong></em></span><span lang="id-ID"><em> sebagaimana yang diikutinya berbuat</em></span><span lang="id-ID">’, maka merekalah pengganti Rasul dan pewarisnya yang benar. </span>para ulama yang melaksanakan ajaran Beliau Shallallahu&#8217;alahi Wasallam baik secara ilmu, amal, petunjuk, mengajar, sabar dan jihad. Merekalah para <em>shidiqin</em>dan merekalah sebaik-baik pengikut para nabi. Tokoh dan imam mereka ialah Abu Bakar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>.”<a name="sdfootnote5anc" href="#sdfootnote5sym"><sup>5</sup></a></p>
<p align="JUSTIFY">(Imam Ibnul Qoyyim) berkata dalam kitab yang lain, “Ayat ini menunjukkan, bahwa pengikutnya adalah para ulama yang berdakwah kepada Allah Ta&#8217;ala di atas <em>bashirah</em>(hujjah). Barangsiapa tidak termasuk mereka, maka bukan termasuk pengikutnya secara hakikat dan sempurna, walaupun termasuk pengikutnya secara <em>penisbatan</em>dan dakwah.”<a name="sdfootnote6anc" href="#sdfootnote6sym"><sup>6</sup></a></p>
<p align="JUSTIFY">Jelaslah disini, bahwa pengikut Beliau <em>Shallallahu&#8217;alahi Wasallam </em>yang pasti yaitu  para ulama, yang menjadi pewaris Beliau <em>Shallallahu&#8217;alahi Wasallam</em>. Sebagaiman telah ditegaskan dalam sabda Beliau <em>Shallallahu&#8217;alahi Wasallam</em>,</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: 22px;"><strong>مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ </strong></span></span></p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="en-US"><span style="font-style: normal;"><span>B</span></span></span><span lang="en-US"><em><span>arang siapa yang berjalan mencari ilmu, niscaya Allah Ta&#8217;ala jalankan ia dengannya salah satu jalan syurga. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayapnya, ridha kepada penuntut ilmu. Sesungguhnya seorang ulama akan dimintakan ampunan oleh makhluk yang ada di langit dan di bumi sampai ikan-ikan di air. Sesungguhnya keutamaan seorang ulama atas seorang ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang. Dan para ulama adalah pewaris para nabi dan para nabi tidak mewariskan dinar dan tidak pula dirham, mereka mewariskan ilmu. Maka, barangsiapa yang mengambil ilmu, berarti telah mengambil bagiannya dengan sempurna</span></em></span><span lang="en-US"><span style="font-style: normal;"><span>.”</span></span></span><a name="sdfootnote7anc" href="#sdfootnote7sym"><sup>7</sup></a></p>
<p align="JUSTIFY">Dengan demikian, jelaslah kesalahan sebagian orang yang mengatakan bahwa para ulama<a name="sdfootnote8anc" href="#sdfootnote8sym"><sup>8</sup></a> bukanlah da’i. Atau melecehkannya dengan memberi perumpamaan para ulama, hanya memberi manfaat kepada orang yang ada di sekelilingnya; seperti sumur. Sedangkan para da’i<a name="sdfootnote9anc" href="#sdfootnote9sym"><sup>9</sup></a> dapat memberi manfaat kepada seluruh umat, karena mereka seperti awan yang berisi air hujan yang mendatangi manusia di rumah-rumah mereka dan memberikan hidayah di manapun berada.<a name="sdfootnote10anc" href="#sdfootnote10sym"><sup>10</sup></a></p>
<p align="JUSTIFY">Ini adalah pelecehan terhadap para ulama sebagai pewaris para nabi. Dan para nabi adalah imam dalam dakwah. Maka, mestinya merekalah yang berhak dikatakan imam dakwah, karena mereka pewarisnya.</p>
<p align="JUSTIFY">Bahkan Allah Ta&#8217;ala menjadikan mereka sebagai simbol ilmu dan mencabut ilmu dengan cara mewafatkannya, sebagaimana sabda Beliau <em>Shallallahu&#8217;alahi Wasallam </em>,</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: 22px;">إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا </span></span></p>
<p>“<span lang="en-US"><em>Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari para hamba, akan tetapi mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, sehingga jika tidak tersisa seorang ‘alimpun, maka manusia mengambil para tokoh yang bodoh, lalu bertanya (tentang urusan mereka) dan mereka menjawab tanpa ilmu. Sehingga mereka sesat dan menyesatkan</em></span><span lang="en-US"><span style="font-style: normal;">.” </span></span>(HR Bukhari)<em>.</em></p>
<p align="JUSTIFY">Hadits ini mengisyaratkan, apabila para ulama tidak ada, maka manusia merujuk permasalahannya kepada orang bodoh dan mengikuti fatwa mereka yang tidak berlandaskan ilmu. Hal ini menjadi penyebab tersesatnya mereka. Bila demikian, maka merujuk permasalahan umat kepada para ulama merupakan satu kewajiban sebagai satu konsekwensi yang logis. Lebih lagi, bahwa tugas mereka yaitu untuk menolak sikap melewati batas, menghancurkan kebatilan dan menghilangkan kebodohan. Disampaikan oleh Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alahi Wasallam</em> dalam sabdanya,</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: 22px;"><span>يَحْمِلُ هَذَا اْلعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ يَنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الْغَالِيْنَ وَ انْتِحَالَ الْمُبْطِلِيْنَ وَ تَأْوِيْلَ الْجَاهِلِيْنَ</span></span></span></p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="en-US"><em><span>Ilmu ini akan dibawa oleh orang yang adil dari setiap generasi; mereka akan menolak </span></em></span><em><strong>tahrif </strong></em><em>(perubahan)<a name="sdfootnote11anc" href="#sdfootnote11sym"><sup>11</sup></a></em><em> orang yang melampaui batas, menolak </em><em><strong>intihal</strong></em><em><a name="sdfootnote12anc" href="#sdfootnote12sym"><sup>12</sup></a></em><em> ahlil batil dan </em><em><strong>ta’wil</strong></em><em> orang yang bodoh.</em><em>”</em><a name="sdfootnote13anc" href="#sdfootnote13sym"><sup>13</sup></a></p>
<p align="JUSTIFY">Demikianlah, para ulama adalah pemimpin yang mengendalikan dakwah. Mengarahkan dan membimbing umat. Bila tidak, maka umat ini akan tersesat dan mengambil orang bodoh sebagai pemimpin dan pengarah mereka.</p>
<p align="JUSTIFY">Dalil-dalil lain yang menunjukkan wajib merujuk kepada para ulama -dalam agama ini- di antaranya ialah :</p>
<p align="JUSTIFY"><em>Pertama</em>. Ulama adalah pemimpin agama dan penjaga syari’at. FirmanNya,</p>
<p style="margin-left: 0.08in; text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: 22px;">وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِئَايَاتِنَا يُوقِنُونَ </span></span></p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="en-US"><em><span>Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar.Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.</span></em></span><span lang="en-US"><span style="font-style: normal;"><span>” </span></span></span>(QS As Sajdah : 24).</p>
<p style="margin-right: 0.02in;" align="LEFT">Mereka dijadikan pemimpin karena kesabaran dan keyakinan mereka kepada ayat-ayat Allah. Keyakinan tersebut tidak akan mereka dapati kecuali dengan ilmu.</p>
<p style="margin-right: 0.02in;" align="JUSTIFY">Syaikhul Islam Ibnu taimiyah berkata,“Dengan kesabaran dan yakin, dicapai <em>imamah</em> (kepemimpinan) dalam agama.”</p>
<p style="margin-right: 0.02in;" align="JUSTIFY">Imam Ibnul Qoyyim menjelaskan hal ini dengan pernyataannya,“Allah telah menjadikan para ulama penjaga dan pengaman agama dan wahyuNya. Meridhai mereka untuk menjaga, menegakkan dan membelanya. Cukuplah itu sebagai kedudukan yang tinggi dan keutamaan yang agung. Allah berfirman,</p>
<p style="margin-left: 0.02in; margin-right: 0.06in; font-style: normal; text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: 22px;">ذَلِكَ هُدَى اللهِ يَهْدِى بِهِ مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُم مَّاكَانُوا يَعْمَلُونَ  أُوْلَئِكَ الَّذِينَ ءَاتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ فَإِن يَكْفُرْ بِهَا هَاؤُلآءِ فَقَدْ وَكَّلْنَا بِهَا قَوْمًا لَيْسُوا بِهَا بِكَافِرِينَ</span></span></p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="en-US"><em><span>Itulah petunjuk Allah yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka kitab, hikmah (pemahaman agama) dan kenabian. Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya (yang tiga macam itu), maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak mengingkarinya</span></em></span><span lang="en-US"><span style="font-style: normal;"><span>”. </span></span></span><span lang="id-ID">(QS</span>Al An’am<span lang="id-ID"> : </span>-<span lang="id-ID">89)</span>.<a name="sdfootnote14anc" href="#sdfootnote14sym"><sup>14</sup></a></p>
<p align="JUSTIFY"><em>Kedua</em>. Ulama adalah hujjah Allah terhadap hambaNya di dunia. Hujjah tidak dapat ditegakkan, kecuali melalui seorang ‘alim yang berilmu. Tentang hal ini Allah berfirman,</p>
<p style="margin-left: 0.02in; text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: 22px;">وَإِذَا جَآءَهُمْ أَمْرُُ مِّنَ اْلأَمْنِ أَوْ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُوْلِى اْلأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلاَ فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاَتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلاَّ قَلِيلاً.</span></span><span style="font-size: large;"><span>.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="en-US"><em><span>Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syetan, kecuali sebagian kecil saja (di antaramu).</span></em></span><span lang="en-US"><span style="font-style: normal;"><span>” </span></span></span><span lang="id-ID">(QS</span> An Nisa’<span lang="id-ID"> : 83).</span></p>
<p align="JUSTIFY"><em>Ketiga</em>. Ulama termasuk dalam <em>ulil amri</em>, sebagaimana tafsir kebanyakan ulama <em>salaf</em> mengenai firman Allah,</p>
<p style="margin-left: 0.02in; font-style: normal; text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: 22px;">يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِى اْلأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ ذَلِكَ خَيْرُُ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً</span></span></p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><em><span>Hai orang-orang yang beriman, ta&#8217;atilah Allah dan ta&#8217;atilah Rasul(Nya), dan Ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur&#8217;an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya</span></em></span><span lang="id-ID"><span style="font-style: normal;"><span>.” </span></span></span><span lang="id-ID">(QS An Nisa : 59).</span></p>
<p align="JUSTIFY"><em>Keempat</em>. Ulama adalah <em>ahli dzikri,</em> sebagaimana difirmankan Allah,</p>
<p style="margin-left: 0.02in; page-break-after: avoid; text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: 22px;">وَمَآأَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلاَّ رِجَالاً نُوحِى إِلَيْهِمْ فَسْئَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَتَعْلَمُونَ</span></span></p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="en-US"><em><span>Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui</span></em></span><span lang="en-US"><span style="font-style: normal;"><span>,” </span></span></span>(QS An Nahl : 43)<em>.</em></p>
<p align="JUSTIFY">Dari dalil-dalil di atas, jelaslah kewajiban merujuk kepada ulama dalam memahami agama ini, agar tidak tersesat dan menyimpang.</p>
<p align="JUSTIFY">Mudah-mudahan kita dapat menjadikan para ulama sebagai nara sumber dan rujukan dalam memahami agama ini. Tentu saja, melihat dan menimbang semua pendapat mereka dengan Al Qur’an dan As Sunnah serta ijma’ para sahabat dan pemahaman para <em>salafush shalih</em>.</p>
<div id="sdfootnote1">
<p align="LEFT"><a name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc">1</a> <span lang="en-US"><em><span>Taisir 	Karimir Rahman</span></em></span><span lang="en-US"><span style="font-style: normal;"><span>, 	Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, hal. 32.</span></span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote2">
<p align="LEFT"><a name="sdfootnote2sym" href="#sdfootnote2anc">2</a> <span lang="en-US"><em><span>Majmu’ 	Fatawa</span></em></span><span lang="en-US"><span style="font-style: normal;"><span> 1 /4</span></span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote3">
<p align="LEFT"><a name="sdfootnote3sym" href="#sdfootnote3anc">3</a> <span lang="en-US"><span style="font-style: normal;"><span>Ibid, 	1 /5-6.</span></span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote4">
<p align="LEFT"><a name="sdfootnote4sym" href="#sdfootnote4anc">4</a> <span lang="en-US"><em><span>Majmu’ 	Fatawa,</span></em></span><span lang="en-US"><span style="font-style: normal;"><span> 1/7.</span></span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote5">
<p align="LEFT"><a name="sdfootnote5sym" href="#sdfootnote5anc">5</a> <span lang="en-US"><em><span>Miftah 	Daris Saadah</span></em></span><span lang="en-US"><span style="font-style: normal;"><span> hal.167-168. Dinukil dari </span></span></span><span lang="en-US"><em><span>Badai’ 	Tafasir Al Jami’ Li Tafsir Ibnil Qayyim</span></em></span><span lang="en-US"><span style="font-style: normal;"><span>, 	Karya Yusri Sayid Ahmad 2/477.</span></span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote6">
<p align="LEFT"><a name="sdfootnote6sym" href="#sdfootnote6anc">6</a> <span lang="en-US"><em><span>Madarijus 	Salikin</span></em></span><span lang="en-US"><span style="font-style: normal;"><span> 2/482.</span></span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote7">
<p align="LEFT"><a name="sdfootnote7sym" href="#sdfootnote7anc">7</a> <span lang="en-US"><span style="font-style: normal;"><span>Hadits 	ini diriwayatkan Abu Dawud no.3641, At Tirmidzi no.3682, Ibnu Majah 	no.223, Ahmad 5/196 dan Ad Darimi 1/98. Hadits ini dihasankan oleh 	Syaikh Salim bin Ied Al Hilali dalam </span></span></span><span lang="en-US"><em><span>Bashair 	Dzawi Syaraf Bi Syarhi Marwiyati Manhajis Salaf </span></em></span><span lang="en-US"><span style="font-style: normal;"><span>, 	hal.33.</span></span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote8">
<p align="LEFT"><a name="sdfootnote8sym" href="#sdfootnote8anc">8</a> <span lang="en-US"><span style="font-style: normal;"><span>Yang 	mereka juluki ulama </span></span></span><span lang="en-US"><em><span>masail</span></em></span><span lang="en-US"><span style="font-style: normal;"><span>.</span></span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote9">
<p align="LEFT"><a name="sdfootnote9sym" href="#sdfootnote9anc">9</a> <span style="font-style: normal;"><span>Dalam 	istilah mereka ulama dakwah, yang berkeliling melakukan </span></span><em><span>jaulah</span></em><span style="font-style: normal;"><span> dari rumah ke rumah dan dari masjid ke masjid.</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote10">
<p align="LEFT"><a name="sdfootnote10sym" href="#sdfootnote10anc">10</a> <span style="font-style: normal;"><span>Pembagian 	dan pengelompokan </span></span><em><span>ulama 	dakwah</span></em><span style="font-style: normal;"><span> dan </span></span><em><span>ulama masa’il</span></em><span style="font-style: normal;"><span> merupakan hal yang tidak ada dasarnya, bahkan tidak ada sebelumnya 	dari kalangan para salaf. Pembagian ini dilakukan sebagian orang 	bodoh yang belum mengenal arti penting dan peran ulama dalam 	perbaikan umat.</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote11">
<p align="LEFT"><a name="sdfootnote11sym" href="#sdfootnote11anc">11</a> <span lang="en-US"><span style="font-style: normal;"><span>Pengkaburan 	ajaran yang benar.</span></span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote12">
<p align="LEFT"><a name="sdfootnote12sym" href="#sdfootnote12anc">12</a> <span style="font-style: normal;"><span>Kedustaan </span></span><em><span>ahlil bathil.</span></em></p>
</div>
<div id="sdfootnote13">
<p align="LEFT"><a name="sdfootnote13sym" href="#sdfootnote13anc">13</a> <span style="font-style: normal;"><span>Hadits 	ini dihasankan oleh Syaikh Ali Hasan dalam </span></span><em><span>Tasfiyah 	Wa Tarbiyah</span></em><span style="font-style: normal;"><span>, 	hal 24 </span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote14">
<p align="LEFT"><a name="sdfootnote14sym" href="#sdfootnote14anc">14</a> <span lang="en-US"><span style="font-style: normal;"><span>Dinukil 	dari </span></span></span><span lang="en-US"><em><span>Bashair 	Dzawi Syaraf Bi Syarhi Marwiyati Manhajis Salaf</span></em></span><span lang="en-US"><span style="font-style: normal;"><span>, 	hal.37.</span></span></span></p>
</div>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/manhaj/kewajiban-merujuk-pada-ulama/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/kewajiban-merujuk-pada-ulama/&amp;title=Kewajiban+Merujuk+Pada+Ulama" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/manhaj/kewajiban-merujuk-pada-ulama/&amp;title=Kewajiban+Merujuk+Pada+Ulama" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/manhaj/kewajiban-merujuk-pada-ulama/&amp;t=Kewajiban+Merujuk+Pada+Ulama" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/kewajiban-merujuk-pada-ulama/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Kewajiban+Merujuk+Pada+Ulama+-+http://ustadzkholid.com/manhaj/kewajiban-merujuk-pada-ulama/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/kewajiban-merujuk-pada-ulama/&amp;title=Kewajiban+Merujuk+Pada+Ulama" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/kewajiban-merujuk-pada-ulama/&amp;title=Kewajiban+Merujuk+Pada+Ulama" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Kewajiban+Merujuk+Pada+Ulama+-+File: /data/app/webapp/functions.php<br />Line: 7<br />Message: Too many connections&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Kewajiban+Merujuk+Pada+Ulama&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/manhaj/kewajiban-merujuk-pada-ulama/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Para%20ulama%20Islam%20bertugas%20untuk%20memerangi%20setan%20dan%20para%20budaknya.%20Menjelaskan%20kebenaran%20dan%20kebatilan%20kepada%20umat%20manusia.%20Sehingga%20petunjuk%20dan%20ajaran%20Islam%20ini%20terjaga%20dan%20terpelihara%20hingga%20hari%20kiamat%20nanti." rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/manhaj/kewajiban-merujuk-pada-ulama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Mudah Mengkafirkan!</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/manhaj/jangan-mudah-mengkafirkan/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/manhaj/jangan-mudah-mengkafirkan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Jul 2009 08:57:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[bom]]></category>
		<category><![CDATA[kafir]]></category>
		<category><![CDATA[khawarij]]></category>
		<category><![CDATA[takfir]]></category>
		<category><![CDATA[teroris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=989</guid>
		<description><![CDATA[Diantara fitnah yang sangat berbahaya yang muncul dalam tubuh kaum muslimin adalah fitnah takfir (vonis kafir terhadap orang lain) yang menyimpang dari syari’at islam. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kenyataan dunia islam dan kaum muslimin dewasa ini cukup menyedihkan. Tuduhan demi tuduhan dilemparkan musuh-musuh Allah <em>Ta’ala</em> akibat ulah sekelompok kaum muslimin. Memang musuh-musuh islam terus mengintai negara dan masyarakat islam, mengintai kapan mereka berbuat salah, kapan menjadi materialis dan kapan cinta dunia menguasai mereka. Akhirnya masa-masa yang mereka tunggu itu tiba. Kaum muslimin hidup bergelimang dunia dan dosa, kebodohan menjadi ciri mereka. Kemudian mereka keluar dari rel syariat dan tanpa sadar merusak bumi dan seisinya. Padahal sesuatu yang keluar dari relnya mesti berbahaya, apalagi dalam permasalahan agama.</p>
<p>Akhirnya kehinaan dan fitnah melanda mereka sebagai satu konsekuensi pelanggaran dan jauhnya mereka dari syariat rasulNya. Allah berfirman:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:'Traditional Arabic'">الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ</p>
<p>“<em>Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih</em>” (QS. An Nuur:63)</p>
<p>Bermunculanlah penyakit dan fitnah dalam tubuh kaum muslimin, membuat mereka bingung, sedih dan pecah berserakan. Semoga Allah mengembalikan dan mempersatukan kaum muslimin diatas ajaran agama islam yang benar.</p>
<p>Diantara fitnah yang sangat berbahaya yang muncul dalam tubuh kaum muslimin adalah fitnah <em>takfir </em>(vonis kafir terhadap orang lain) yang menyimpang dari syari’at islam. <span id="more-989"></span>Fitnah ini diawali dengan munculnya sekte khawarij pada zaman Ali bin Abi Thalib <em>Radhiallahu’anhu </em>. Fitnah khawarij ini pernah menggoncang dunia Islam dan menumpahkan ribuan bahkan jutaan darah kaum muslimin. Cukup banyak harta dan jiwa yang dikorbankan kaum muslimin dalam meredam fitnah ini, lihatlah sejak pembunuhan Khalifah dan menanti Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam </em>Utsman bin Affaan Radhiallahu’ahu , disusul dengan terbunuhnya khalifah dan menantu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam Ali bin Abi Thalib <em>Radhiallahu’ahu</em> sampai pemberontakan mereka terhadap negara islam bani Umayah dan Abbasiyah serta negara-negara islam hingga saat ini. Sehingga DR Ghalib bin Ali Al ‘Awaajiy menyatakan: “Khawarij adalah salah satu firqah besar yang melakukan revolusi berdarah dalam sejarah politik islam. Mereka telah menyibukkan negara-negara Islam dalam waktu yang sangat panjang sekali”.<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Pertama kali muncul, mereka mencela sebaik-baiknya orang sholih waktu itu, yaitu khalifah Ali <em>Radhiallahu’anhu </em>. ini bukanlah satu hal yang aneh karena tokoh pertama mereka yang bernama Dzul Khuwaishirah telah mencela sebaik-baiknya makhluk Allah, yaitu Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam </em>. sebagaimana dikisahkan dalam riwayat dibawah ini :</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:'Traditional Arabic'">????? ????? ??????? ???????????? ?????? ??????? ?????? ????? ????????? ?????? ?????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ?????? ???????? ??????? ??????? ??? ??????????????? ?????? ?????? ???? ????? ??????? ??????? ??? ??????? ??????? ??????? ??????? ???????? ?????? ???????? ????? ???? ???????? ???? ?????? ?????????? ???? ???? ?????? ???????? ??????? ?????? ??? ??????? ??????? ??????? ??? ????? ?????????? ???????? ??????? ?????? ??????? ???? ?????????? ???????? ?????????? ????????? ???? ??????????? ??????????? ???? ??????????? ??????????? ?????????? ??? ????????? ????????????? ??????????? ???? ???????? ????? ???????? ????????? ???? ????????????</p>
<p>“<em>Sesungguhnya Abu Sa’id Al Khudriy bercerita: “ketika kami bersama Rasululluh Shallallahu’alaihi Wasallam dan beliau membagi-bagi sesuatu, datanglah kepada beliau Dzul Khuwaishiroh seorang berasal dari Bani Tamiim lalu berkata: “Wahai Rasulullah berbuat adillah!”. Lalu beliau menjawab: “celaku kamu, siapakah yang berbiat adil jika aku tidak berbuat adil. Engkau telah rugi dan celaka jika aku tidak adil”. Umar berkata: “Wahai Rasulullah izinkanlah aku memenggal lehernya” beliau menjawab: “Biarkan dia! Sesungguhnya dia memiliki pengikut, salah seorang dari kalian akan meremehkan sholatnya dibanding sholat mereka dan puasanya dibanding puasa mereka. Mereka membaca Al Qur’an tapi hanya ditenggorokan mereka saja. Mereka meninggalkan agama sebagaimana anak panah keluar dari busurnya</em>”. (Mutafaqun alaihi).</p>
<p>Lihatlah berawal dari harta dan penentangan terhadap pemimpin, muncul khawarij, sungguh benar sabda Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam </em>:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:'Traditional Arabic'">????? ??????? ??????? ???????? ?????????? ???????? ????????</p>
<p>&#8220;<em>Sesungguhnya setiap umat memiliki fitnah dan fitnah umatku adalah harta</em>&#8220;.</p>
<p>Dzul Khuwaishirah menentang Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam </em>dengan slogan keadilan dan menuntut keadilan, hak dan kesamaan. Dari sinlah ia menuduh Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam </em>berbuat tidak adil sehingga menuntut Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam </em>menjelaskan keadaan pengikutnya.</p>
<p>Ini pada Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam </em>, tentunya untuk orang yang dibawahnya dari para penguasa dan wali amri kaum muslimin lebih gampang dan mudah bagi mereka.</p>
<p>Pengikut Dzul Khuwaishirah muncul dizaman Ali bin Abi Thalib juga karena harta dan penentangan mereka terhadap kebijakan khalifah Ali <em>Radhiallahu’anhu </em>. <a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Setelah itu mereka mengkafirkan pelaku dosa besar dan menghalalkan darah dan harta kaum muslimin seluruhnya kecuali anggota sekte mereka. Inilah yang membawa mereka memberontak dan membunuhi orang-orang yang tidak bersalah. Oleh karena itulah Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> nyatakan dalam haditsnya:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:'Traditional Arabic'">????? ???? ???????? ????? ??????? ??????????? ?????????? ??? ????????? ????????????? ??????????? ???? ???????????? ??????? ????????? ???? ???????????? ??????????? ?????? ???????????? ??????????? ?????? ???????????? ??????????? ?????????????? ???????????? ?????? ?????</p>
<p>“<em>Sesunggunya dibelakang orang ini akanlahir satu kaum yangmembaca Al Qur’an tidak lewat dari kerongkongan mereka. Mereka lepas dari islam seperti lepasnya anak panahdari busurnya. Mereka membunuh kaum muslimin dan membiarkan penyembah berhala. Sungguh jika aku mendapatkan mereka niscaya aku beunuh mereka dengan cara pembunuhan kaum ‘ad</em>”. (HR.  Abu Daud) dan dalam riwayat yang lainnya:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:'Traditional Arabic'">???? ????? ??????? ???????? ?????? ??????? ??????????</p>
<p>“<em>Mereka adalah sejelek-jeleknya orangyangterbunuh dibawah langit</em>” (HR. At Tirmidzi No. 2926 dan Ibnu Maajah dalam <em>Muqaddimah </em>No.173).</p>
<p>Kaum khawarij ini diperangi kaum muslimin hingga hampir hilang dari permukaan bumi ini. Memang masih ada dibeberapa tempat kumpulan mereka ini, seperti di Oman, Maroko, Al Jazaair  dan Zanjibaar yang diwakili oleh sekte Ibadhiyah. Akan tetapi pemikiran dan aqidah mereka masih eksis  dan bertebaran disekitar kaum muslimin dan terkadang sebagian kaum muslimin tidak sadar memiliki pemikiran dan aqidah mereka ini.</p>
<p>Kemudian lebih dari seperempat abad yang lalu muncullah istilah <em>Takfiir dan Hijrah</em>, ditandai dengan salah satu kejadian besar yaitu pembunuhan terhadap penulis kitab <em>At Tafsiir wal Mufassirun</em> Syaikh Muhammad Husein Adz Dzahabiy. <em>Jamaah takfiir wal hijrah </em>ini dikatakan para peniliti sebagai bagian dari Jamaah Ikhwanul Muslimin. Mereka kecewa dengan sikap dan tindakan tokoh pemimpin Ikhwanul Muslimin dalam peran mereka dalam politik negeri Mesir.</p>
<p>Ini akan semakin jelas jika kita melihat dan menelaah pemikiran Sayyid Quthub, salah seorang tokoh besar dan legendaris dari Jamaah Ikhwanul Muslimin. Mereka banyak menjadikan pemikran tokoh intelektual ini dalam kaedah beragamanya mereka, sehingga jadilah mereka orang yang cepat memvonis kafir orang lain dan mencela para ulama yang tidak cocok atau dianggap sesuai dengan mereka. Hal ini tidaklah mengherankan karena orang yang telah terkena fitnah takfiir ini tentunya tidak lepas dari gaya penampilan para pendahulu mereka dari kalangan khawarij. Lihatlah beberapa pemikiran Sayyid Quthub tentang takfiir dan hijrah, agar dapat diketahui besarnya bahaya yang muncul akibatnya.</p>
<p><strong>Tentang <em>Takfiir</em></strong><a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Sayyid Quthub mengkafirkan hampir seluruh kaum muslimin termasuk para Muadzin yang selalu melantunkan kalimat tauhid  Ini dapat dapat dilihat pada tulisan beliau, diantara pernyataan beliau:</p>
<ol>
<li>“<strong>Manusia telah murtad</strong> kepada penyembahan makhluk (paganisme) dan kejahatan agama serta telah keluar dari <em>Laa ilaha Illa Allah</em>. Walaupun sebaian mereka masih selalu mengumandangkan <em>Laa ilaha Illa Allah</em> di atas tempat beradzan”.<a href="#_ftn4">[4]</a></li>
<li>“<strong>Manusia telah kembali kepada kejahiliyahan</strong> dan keluar dari <em>Laa ilaha Illa Allah</em>. Manusia seluruhnya- termasuk didalamnya orang–orang yang selalu mengumandangkan pada adzan-adzan di timur sampai barat bumi ini kalimat <em>Laa ilaha Illa Allah</em> tanpa pengertian dan pebuktian nyata- bahkan mereka ini lebih berat dosa dan adzabnya pada hari kiamat; karena mereka telah murtad kepada penyembahan makhluk setelah jelas bagi mereka petunjuk dan setelah mereka berada pada agama Allah”.<a href="#_ftn5">[5]</a></li>
<li>“Masyarakat yang menganggap dirinya muslimah <strong>masuk dalam lingkungan masyarakat jahiliyah</strong> bukan karena meyakini uluhiyah pada selain Allah. Bukan pula karena menujukan syiar-syiar peribadatan kepada selain Allah Ta’ala akan tetapi mereka masuk dalam lingkup ini karena tidak beribadah kepada Allah saja dalam hukum-hukum kehidupannya”.<a href="#_ftn6">[6]</a></li>
<li>“Orang yang tidak mentauhidkan Allah Ta’ala dalam hakimiyah- disemua zaman dan tempat- <strong>adalah orang-orang musyrik</strong>. Tidak mengeluarkan mereka dari kesyirikan ini keyakinan mereka terhadap <em>Lailaaha illa allah</em> dan tidak pula syiar (peribadatan) yang mereka tujukan kepada Allah Ta’ala ”.<a href="#_ftn7">[7]</a></li>
<li>“Tidak ada satupun dipermukaan bumi ini negara islam dan tidak pula masyarakat muslim”.<a href="#_ftn8">[8]</a></li>
</ol>
<p>Beliau mengkafirkan masyarakat kaum muslimin yang ada karena tidak menggunakan hukum-hukum Allah Ta’ala dalam mengatur kehidupan mereka. Akan tetapi beliau mensifatkan penyembah berhala dari kalangan kaum musyrikin dengan pernyataan beliau: “Kesyirikan mereka yang hakiki bukanlah pada permasalahan ini -yaitu penyembahan berhala untuk mendekatkan diri dan meminta syafaat dihadapan Allah- dan tidak pula islamnya orang yang masuk islam karena meninggalkan permohonan syafaat kepada para berhala tersebut”.<a href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Lihatlah pernyataan beliau ini, bukankah menyelisihi firman Allah <em>Ta’ala </em>:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:'Traditional Arabic'">وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ</p>
<p><em>“</em><em>Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):&#8221;Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu&#8221;,(</em><em>QS. </em><em>An Nahl:36)</em>. Dan :</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:'Traditional Arabic'">إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ</p>
<p><em>“</em><em>Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu</em><em>”</em><em> (</em><em>QS. </em><em>An Nisaa:48)</em>.</p>
<p>Bahkan para Rasul berdakwah mengajak kaumnya untuk tidak menyembah selain Allah <em>Ta’ala</em> dan menyatakan::<strong><em> </em></strong></p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:'Traditional Arabic'">يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ </p>
<p><em>&#8220;Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Ilah bagimu selain-Nya</em><em>”</em><em> (</em><em>QS. </em><em>Al A’r</em><em>a</em><em>f:59)</em>. Kemudian kaum ‘Ad membantah ajakan Nabi mereka dengan menyatakan:<strong><em> </em></strong></p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:'Traditional Arabic'">قَالُوا أَجِئْتَنَا لِنَعْبُدَ اللَّهَ وَحْدَهُ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ</p>
<p><em>Mereka berkata:&#8221;Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami maka datanglah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar&#8221;. (</em><em>QS. </em><em>Al A’r</em><em>a</em><em>f:70)</em></p>
<p>Demikian juga kaum Nabi Nuh ‘<em>Alaihissalam</em> ketika didakwahi untuk tidak menyembah orang sholih yang diyakini dapat memberi syafaat dan mendekatkan diri kepada Allah <em>Ta’ala</em> menyatakan:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:'Traditional Arabic'">وَقَالُوا لا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلا سُوَاعًا وَلا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا</p>
<p><em>“</em><em>Dan mereka berkata:&#8221;Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) ilah-ilah kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa&#8217;, yaghuts, ya&#8217;uq dan nasr&#8221;, (</em><em>QS. </em><em>Nuh:23)</em></p>
<p>Ternyata dakwahnya para Rasul adalah mengajak manusia menyembah Allah Ta’ala dan menjauhi syirik dalam peribadatan, bukan syirik hakimiyah –seperti yang mereka inginkan-. Bahkan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menegaskan dalam pernyataan beliau :</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:'Traditional Arabic'">??? ????? ????? ??????? ???? ??????????? ????????? ????????? ???????? ????? ?????????? ??? ???????? ??? ??????? ???????????? ???????????? ??????????</p>
<p>“<em>Wahai bani Adam sesungguhnya jika kamu menjumpaiKu dengan membawa sepenuh bumi kesalahan kemudian menjumpaiKu dalam keadaan tidak menyekutukan Ku, sungguh Aku akan memberimu sepenuh bumi pengampunan</em>” (HR. At Tirmidzi No.3463).<strong> </strong> dan:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:'Traditional Arabic'">??? ??????? ????????? ??? ????? ??????? ????? ?????????? ????? ??????? ??????????? ???????? ????? ???? ??????????? ????? ?????????? ???? ??????? ????????? ??? ????????? ???????? ????? ??????? ??????????? ???????? ????? ???? ??? ?????????????</p>
<p>“<em>Wahai Mu’adz tahukah kamu apa hak Allah atas hambaNya, beliau menjawab: “Allah dan RasulNya lebih mengetahui”. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjawab: “MenyembahNya dan tidak menyekutukanNya. Apakah kamu tahu apa hak mereka atas Allah”. Muadz menjawab: “Allah dan RasulNya lebih mengetahui”. Beliau menjawab: “Tidak mengadzab mereka</em>”. (Mutafaqun ‘alaihi).</p>
<p><em>Subhanallah</em>! Seandainya memang benar perkataan dan pernyataan Sayyid Quthub ini, tentulah apa yang didakwahkan para Rasul tersebut tidak sesuai dengan kenyataan dan kebutuhan umat manusia. Ini sungguh kesalahan yang sangat fatal sekali.</p>
<p>Pemikiran takfiir ini terus merebak pada para pemuda kaum muslimin yang bersemangat, sehingga akibatnya mereka mengorbankan diri mereka untuk membom, merusak dan membunuh dengan dalih jihad suci melawan orang kafir, bahkan lebih dari itu mereka melecehkan para ulama dan mengkafirkan mereka, karena mereka tidak mengkafirkan orang yang telah kafir. Alangkah mengerikannya akibat dari pemikiran <em>takfiir </em>ini!</p>
<p>Sudah seharusnya kaum muslimin waspada kembali terhadap pemikiran-pemikiran yang merusak ini dengan menuntut ilmu agama dari para ulama dan tidak tergesa-gesa memvonis kafir (<em>takfiir</em>) terhadap orang lain.</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> <em>Firaaqun Mu’ashaarah Tantasibu Ilal Islam</em> karya beliau sendiri, 1/88.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Lihat kisahnya dalam perdebatan Ibnu Abbas dengan mereka dalam buku “<em>Mengapa Memilih Manhaj Salafi</em>”</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Semua penukilan perkataan Sayyid Quthub diambil dari makalah Syeikh Sa’ad Al Hushein dalam Majalah <em>A</em><em>sh Ashoolah</em> 35/VI/Sya’ban 1422 H.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> <em>Fi </em><em>Zhilalil Qur’an</em> 2/1057, cetakan Dar Asyuruuq.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Ibid-</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> <em>Ma’alim Fith Thoriiq </em>hal.101 cetakan Darusy Syuruuq.</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> <em>Fi Zhilaalil Qur’an </em>2/1492 cet. Daarusy Syuruuq.</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Ibid 2/2122.</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Ibid 3/1492</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/manhaj/jangan-mudah-mengkafirkan/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/jangan-mudah-mengkafirkan/&amp;title=Jangan+Mudah+Mengkafirkan%21" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/manhaj/jangan-mudah-mengkafirkan/&amp;title=Jangan+Mudah+Mengkafirkan%21" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/manhaj/jangan-mudah-mengkafirkan/&amp;t=Jangan+Mudah+Mengkafirkan%21" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/jangan-mudah-mengkafirkan/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Jangan+Mudah+Mengkafirkan%21+-+http://ustadzkholid.com/manhaj/jangan-mudah-mengkafirkan/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/jangan-mudah-mengkafirkan/&amp;title=Jangan+Mudah+Mengkafirkan%21" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/jangan-mudah-mengkafirkan/&amp;title=Jangan+Mudah+Mengkafirkan%21" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Jangan+Mudah+Mengkafirkan%21+-+http://b2l.me/n8hc4&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Jangan+Mudah+Mengkafirkan%21&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/manhaj/jangan-mudah-mengkafirkan/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Diantara%20fitnah%20yang%20sangat%20berbahaya%20yang%20muncul%20dalam%20tubuh%20kaum%20muslimin%20adalah%20fitnah%20takfir%20%28vonis%20kafir%20terhadap%20orang%20lain%29%20yang%20menyimpang%20dari%20syari%E2%80%99at%20islam.%20" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/manhaj/jangan-mudah-mengkafirkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjawab Syubhat Tentang Abu Hurairah Radhiallahu’anhu (2)</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/manhaj/menjawab-syubhat-tentang-abu-hurairah-radhiallahu%e2%80%99anhu-2/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/manhaj/menjawab-syubhat-tentang-abu-hurairah-radhiallahu%e2%80%99anhu-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Jun 2009 05:58:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bantahan]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Hurairah]]></category>
		<category><![CDATA[Syiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=968</guid>
		<description><![CDATA[Karena seringnya ia meriwayatkan hadits, Ummul Mukminin 'A'isyah dan para sahabat yang utama menuduh Abu Hurairah radhiallahu'anhu berbicara tak karuan (mazzah), berbohong (kadzdzab) dan lain-lain. Benarkah?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mencela dan melecehkan para sahabat dengan penghinaan dan tuduhan ngawur merupakan cara-cara pengikut iblis dan musuh-musuh Islam. Tujuan mereka sebenarnya hanyalah berusaha mencela dan merendahkan para saksi kebenaran islam dan hendak mencela Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam dengan menyatakan beliau memiliki sahabat-sahabat yang jelek dan tidak memilih sahabat yang baik saja. Akhirnya dengan cara ini mereka ingin menghancurkan agama islam dan memadamkan cahayanya. Namun Allah tidak ingin cahaya agamaNya padam, bahkan Allah menyempurnakan cahaya agamaNya walaupun kaum kafir pengikut iblis tidak suka dan marah. Biarlah mereka menghadap Alllah dengan membawa kemarahan dan kedengkiannya.</p>
<p>Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel <a href="http://ustadzkholid.com/manhaj/menjawab-syubhat-tentang-abu-hurairah-radhiallahu%e2%80%99anhu/">Menjawab Syubhat Tentang Abu Hurairah Radhiallahu&#8217;anhu (1)</a>.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Syubhat 6</span></strong></p>
<p><strong>Mereka menyatakan: &#8220;Karena seringnya ia meriwayatkan hadits, Ummul Mukminin &#8216;A&#8217;isyah dan para sahabat yang utama menuduhnya sebagai berbicara tak keruan (<em>mazzah</em>), berbohong (<em>kadzdzab</em>) dan lain-lain.</strong></p>
<p><strong>Umar mengancam akan memukul dan mengasingkannya apabila ia meriwayatkan hadits. Ia sendiri mengaku tidak berani mengucapkan sebuah hadits di </strong><strong>zaman Umar. Ummul Mukminin &#8216;A&#8217;isyah mengatakan bahwa ia tidak pernah mendengar Rasul bercerita seperti yang disampaikan Abu Hurairah. &#8216;Ali menamakannya pembohong umat. Demikian juga tokoh-tokoh yang terdahulu.</strong><a name="_ftnref1"></a><strong></strong></p>
<p align="left"><span id="more-968"></span></p>
<p><strong>Juga menyatakan: &#8220;Hadits-hadits yang disampaikan Abu Hurairah, menurut Abu Muhammad bin Hazm berjumlah 5374 buah. Bila dibandingkan dengan seluruh hadits yang disampaikan oleh keempat Khulafa&#8217;ur-Rasyidin, jumlah ini sangat banyak. Abu Bakar, misalnya, menyampaikan 142 hadits (yang dimasukkan dalam Bukhari, 22), &#8216;Umar 537 hadits (yang dianggap shahih, 50), &#8216;Utsman 146 (Bukhari memasukkan 9 hadits, Muslim 5), dan &#8216;Ali 586 hadits (yang diangap shahih 50); semuanya hanya 1411 hadits dan itu berarti Cuma 21 % dari jumlah hadits yang disampaikan Abu Hurairah seorang diri. Dan jumlah ini hampir sama dengan jumlah ayat-ayat Al Qur&#8217;an.</strong></p>
<p><strong>Sebagai perbandingan, maka seluruh hadits yang disampaikan Abu Bakar selama 20 tahun pergaulannya dengan Rasul, hanya diperoleh Abu Hurairah dalam 16,7 hari duduk di Shuffah setelah ia menganut Islam, &#8216;Umar dalam 63,1 hari, &#8216;Utsman dalam 17,1 hari, &#8216;Ali dalam 68,9 hari, Tholhah bin &#8216;Ubaidilah dalam 4,4 hari, Salman al-Farisi dalam 7 hari. Zubair bin al Awaam dalam 1,1 hari, &#8216;Abdurraohman bin &#8216;Auf dalam 1 hari. Dan seluruh haditsnya baru diucapkannya hampir 30 tahun sesudah Rasul Allah SHALLALLAHU&#8217;ALAIHI WASALLAM wafat, sebagaimana pengakuannya, karena sekembalinya dari Bahrain dia tidak diperkenankan mengobral haditsnya.</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Bantahan:</span></p>
<p>Apakah benar para sahabat utama menuduh Abu Hurairah berdusta? Sebagaimana dituduhkan diatas. Itu semua tidak benar, sebab para sahabat besar seperti Abu Bakar, &#8216;Umar dan lain-lainnya memberikan pengakuan dan menerima hadits Abu Hurairah. Sedangkan riwayat mereka menuduh Abu Hurairah berdusta diriwayatkan dari <strong>Al Nadzam</strong> atau <strong>Bisyr Al Mirrisi</strong> atau <strong>Abu Ja&#8217;far Al Iskafi</strong> yang merupakan musuh besar penentang Ahlus Sunnah Wal Jamaah.</p>
<p>Adapun yang dinisbatkan kepada &#8216;Umar bahwa beliau mengancam akan memukul dan mengasingkannya apabila ia meriwayatkan hadits diambil dari kitab lbnu &#8216;Asakir, bahwa Umar bin Al Khaththab <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> berkata kepada Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>: &#8220;Engkau akan sungguh-sungguh tidak meriwayatkan hadits dari Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>, atau aku pulangkan anda ke negeri Daus?&#8221; Dan kitab Ibnu &#8216;Asakir termasuk yang banyak memuat hadits-hadits <em>dhaif </em>(lemah), bahkan <em>maudhu&#8217; </em>(palsu). Jika benar pernyataan tersebut, dapat difahami, bahwa kekhawatiran Umar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> itu terhadap hadits-hadits yang terkadang dibuat oleh orang (yang diletakkan) bukan pada tempatnya, disebabkan mereka banyak membicarakan hadits-hadits yang mengandung masalah <em>rukhsah </em>(keringanan dari Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>), juga karena (dikhawatirkan) jika seseorang memperbanyak meriwayatkan hadits mungkin terjadi kesalahan atau kekeliruan, lalu orang-orang meriwayatkannya atau yang semisalnya<a name="_ftnref2"></a>. Namun, tampaknya <em>zhahir</em> kisah ini menunjukkan, bila hadits ini merupakan kepalsuan yang dilakukan oleh <strong>Rafidhah</strong> yang ingin menampakkan kesan kebencian Umar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> kepada hadits-hadits Rasul <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>. Kemudian pernyataan Umar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> sendiri menjadi bukti yang menunjukkan adanya kontradiksi isi kandungannya. Artinya, ancaman Umar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> kepada Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> dengan mengasingkannya ke negeri Daus tanah airnya tidaklah perlu, sebab pengasingan itu tidak tepat. Juga, periwayatan hadits-hadits tidak membutuhkan nasihat Umar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>, jika dimaksudkan untuk menjaga hadits-hadits Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>. Bila yang diriwayatkan Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> itu tidak <em>shahih</em>, tidak benar pula Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> menghindari daerah Daus, sebuah negeri yang juga dapat melindunginya? Jika hadits-hadits Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> itu tidak <em>shahih</em> menurut pandangan Umar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>, niscaya ia akan secepatnya memotong lisan Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> dan tidak perlu mengasingkannya ke negeri kaumnya atau ke daerah lainnya<a name="_ftnref3"></a>.</p>
<p>Dan terdapat kisah &#8216;Umar menerima persaksian dan riwayat Abu Hurairah, diantaranya kisah yang diriwayatkan Imam Al Bukhari <em>rahimahullah</em> dari Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>, ia berkata :</p>
<p>?????? ?????? ??????????? ?????? ??????? ??????? ???????????? ????????? ???? ?????? ???? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ??? ????????? ??????? ????? ?????????? ???????? ???????? ??? ??????? ?????????????? ????? ???????? ????? ??? ???????? ????? ???????? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ??????? ??? ???????? ????? ??????????????</p>
<p>&#8220;Umar mendatangi seorang wanita yang bertato, lalu ia berdiri seraya berkata,<em>&#8220;Bersumpahlah kalian dengan nama Allah. Siapa diantara kalian yang mendengar dari Nabi Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam tentang tato?&#8221;</em> Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> berkata: Akupun bangkit dan berdiri, seraya berkata, <em>&#8220;Saya mendengarnya, wahai Amirul Mukminin.&#8221;</em> Umar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> bertanya,<em>&#8220;Bagaimana yang engkau dengar?&#8221;</em> Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> menjawab,<em>&#8220;Aku mendengar Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam bersabda: &#8216;Janganlah kalian bertato dan meminta untuk ditato&#8217; </em>&#8220;<a name="_ftnref4"></a></p>
<p>Ini semua merupakan bantahan langsung dari perbuatan &#8216;Umar atas berita bohong yang dinisbatkan kepadanya.</p>
<p>Demikian juga kisah &#8216;Aisyah <em>Radhiallahu&#8217;anha</em> yang disebutkan dalam tuduhan mereka diatas adalah pernyataan beliau :</p>
<p>????? ?????????? ????? ?????????? ????? ???????? ????? ??????? ????????? ????????? ???? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ??????????? ?????? ???????? ????????? ??????? ?????? ???? ???????? ????????? ?????? ???????????? ?????????? ???????? ????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ???? ?????? ???????? ?????????? ?????? ??????????<strong></strong></p>
<p><em>&#8220;Tidakkah Abu Hurairah membuatmu heran, datang lalu duduk di samping kamarku menyampaikan hadits dari Rasulullah memperdengarkannya kepadaku dan aku sedang shalat sunnah, lalu ia pergi sebelum aku menyelesaikan shalat sunnahku. Seandainya aku mendapatinya tentu aku akan membantahnya.</em> <em>Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam tidak menyampaikan hadits seperti penyampaian kalian.&#8221;</em><a name="_ftnref5"></a></p>
<p>Inilah sebab pengingkarannya, Aisyah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> tidak melemahkannya dan tidak juga menuduhnya sebagai pendusta sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian penuduhnya. Sekalipun demikian, &#8216;Aisyah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> tetap mengakui, bahwa Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> meninggalkan tempat sebelum ia <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> selesai dari shalatnya. Padahal waktu shalat bukanlah waktu yang lama.</p>
<p>Adapun pernyataannya <em>&#8220;Jika aku menjumpainya, niscaya aku akan menjawabnya,&#8221;</em> yakni niscaya aku akan menegurnya dan menjelaskannya, pelan dalam menyampaikan hadits itu lebih baik daripada memaparkannya secara cepat<a name="_ftnref6"></a>. Perkataan Aisyah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> &#8220;<em>Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam tidak menyampaikan hadits seperti penyampaian kalian,</em>&#8221; yaitu menyampaikan hadits dengan pelan dan tersusun rapi, berurutan (menyelesaikan yang satu, kemudian baru yang lainnya), agar tidak bercampur bagi yang mendengarnya.</p>
<p>Tidak ada dalam pernyataan &#8216;A&#8217;isyah yang menunjukkan ia menolak hadits Abu Hurairah atau menuduhnya telah berdusta atas nama Nabi atau membuat-buat hadits palsu. Bahkan &#8216;A&#8217;isyah menerima dan membenarkan periwayatan Abu Hurairah sebagaimana dalam hadits Khobaab yang bertanya kepada Ibnu Umar:</p>
<p>??? ?????? ??????? ???? ?????? ????? ???????? ??? ??????? ????? ?????????? ??????? ?????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ??????? ???? ?????? ???? ????????? ???? ????????? ???????? ????????? ????? ????????? ?????? ???????? ????? ???? ??????????? ???? ?????? ????? ???????? ?????? ?????? ?????? ?????? ????????? ????? ?????? ????? ???? ???? ????????? ?????? ?????? ?????????? ????? ?????? ????????? ????? ????????? ??????????? ???? ?????? ????? ?????????? ????? ???????? ???????? ???????????? ??? ??????? ???????? ????? ?????? ???????? ???? ????????? ??????????? ???????????? ??? ?????? ?????? ?????? ???????? ?????????? ??????? ??????? ????????? ?????? ????? ?????????? ???????? ????? ?????? ?????????? ??????? ????? ??? ?????? ????????? ????? ????? ?????? ?????????? ??? ?????????? ?????????</p>
<p><em>&#8220;</em><em>Wahai Abdullah bin Umar tidakkah engkau mendengar apa yang disampaikan Abu Hurairah, bahwa beliau mendengar Rasululloh Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em><em> bersabda: &#8220;Barangsiapa yang keluar bersama jenazah dari rumahnya dan menyolatkannya kemudian mengiringinya sampai dikubur, maka ia mendapat pahala  dua Qiraath. Setiap Qirath seperti gunung uhud. Barang siapa yang menyolatkan jenazah kemudian pulang, maka mendapat pahala seperti gunung uhud&#8221;. Lalu Ibnu Umar mengutus Khobaab ke &#8216;A&#8217;isyah untuk menanyakan perkataan Abu Hurariroh tersebut kemudian kembali kepadanya memberitahu pernyataan &#8216;A&#8217;isyah. Lalu Ibnu Umar mengambil segenggam ke</em><em>rikil masjid yang ia bolak-balikkan ditangannya sampai data</em><em>ng utusan beliau tersebut. Lalu berkata utusan tersebut: &#8221;A&#8217;isyah berkata: &#8216;Sungguh benar Abu Hurairah&#8217;. Lalu Ibnu Umar membuang kerikil-krikil yang ada ditangannya ke tanah, kemudian berkata: &#8216;Kita telah kehilangan banyak qiraath&#8217;.</em><a name="_ftnref7"></a><em> </em></p>
<p>Sedangkan pernyataan Imam &#8216;Ali yang mereka kemukakan diatas merupakan kedustaan sebagaimana disampaikan penulis kitab <em>Difa&#8217; &#8216;An Abu Hurairah</em>: &#8220;Tidak ada referensi yang valid dan terpercaya yang menunjukkan adanya pernyataan yang menyakinkan, bahwa Ali <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> menuduh Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> telah berdusta, atau melarangnya meriwayatkan hadits. Akan tetapi, sebagian musuh Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> berusaha berargumen dengan mengambil riwayat dari Abu Ja&#8217;far Al Iskaafi, bahwa ketika mendengar hadits Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>, (maka) Ali <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> berkata: <em>&#8220;Ketahuilah, sesungguhnya sedusta-dusta orang&#8230;,&#8221;</em> atau ia berkata: <em>&#8220;Sedusta-dusta orang terhadap Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam ialah Abu Hurairah Ad Dausi&#8221;</em>.</p>
<p>Riwayat ini adalah <em>dhaif </em>(lemah) dan tertolak. Sebab, jalur <em>sanadnya</em> dari Al Iskaafi; ia seorang pengikut hawa nafsu, sekaligus menyeru orang menuhankan hawa nafsunya. Disamping itu, ia juga seorang rawi yang tidak <em>tsiqah.</em><a name="_ftnref8"></a> Bahkan demikian ini merupakan dusta besar yang telah disingkap kebohongannya, berdasarkan kesepakatan sebagian besar putra, sahabat dan  para panglima Ali <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>, serta sejumlah tokoh Syi&#8217;ah generasi awal dan anak keturunan Al Hasyimi tetap diam dan terus meriwayatkan dari Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>, atau meriwayatkan haditsnya melalui jalan periwayatan orang-orang terpercaya (<em>tsiqat</em>) jika mereka tidak mendengarnya langsung dari Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>.&#8221;<a name="_ftnref9"></a></p>
<p>Seandainya ada peringatan dan pengingkaran para sahabat terhadap banyaknya riwayat Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>, maka ini menunjukkan kepada kita, bahwa mereka selalu mengutamakan kehati-hatian, ketelitian, kejelian dalam meriwayatkan dan menyandarkan cara periwayatannya. Mereka tidak memperbanyak (menyampaikan hadits), karena takut terjatuh pada kekeliruan.</p>
<p>Ketika Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> memaparkan apa yang beliau dengar, tidak ada perasaan takut seperti mereka. Hal ini, karena kepercayaan Abu Hurairah terhadap hafalan serta daya ingatnya. Sehingga, bukanlah sesuatu yang aneh dan salah, jika kita mendapatkan ada orang yang memandang penting memperbanyak riwayat, sedangkan yang lain membatasi dengan mengingkari banyaknya riwayat Abu Hurairah. Khususnya, apabila seorang sahabat mendapatkan <em>dhahir</em> hadits-hadits yang memerintahkan untuk membatasi dalam meriwayatkan hadits dengan <em>merajihkannya</em> dari hadits-hadits lain, yang memerintahkan untuk menyampaikan dan memperbolehkan meriwayatkan hadits (secara bebas) -atau barangkali- belum mendengar hadits-hadits lainnya.<a name="_ftnref10"></a></p>
<p>Kemudian mereka mulai mempertanyakan kenapa Abu Hurairah banyak menyampaikan hadits melebihi para sahabat besar lainnya, seperti <em>K</em><em>ha</em><em>lifah Al Rasyidin</em>. Usaha membandingkan riwayat Abu Hurairah dengan riwayat <em>K</em><em>hulafa&#8217; Ar </em><em>Rasyidin</em> dalam jumlah hadits yang diriwayatkan mereka merupakan satu kesalahan yang besar, dengan dasar-dasar sebagai berikut:</p>
<p>Memang benar bahwa <em>Khulafa&#8217; A</em><em>r</em><em> Rasyidin</em> telah mendahului Abu Hurairah dalam persahabatan dan keislaman serta penerimaan hadits. Namun mereka sibuk mengurus permasalahan negara dan pengaturan hukum serta pengiriman para ulama, ahli qur&#8217;an dan <em>Qadhi&#8217;</em>(hakim). Sehingga mereka telah menunaikan amanat yang mereka emban sebagaimana mereka telah menunaikan amanat mengurus permasalahan umat. Sebagaimana kita tidak mencela Khalid bin Al Walid dengan sedikitnya periwayatan beliau dari Rasululllah karena sibuk dengan jihad. Demikian juga tidak mencela Abu Hurairah dengan banyaknya periwayatan beliau karena sibuk dengan ilmu. Setiap orang dimudahkan Allah kepada yang terbaik baginya.</p>
<p>Abu Hurairah meluangkan seluruh waktu dan pikirannya kepada ilmu dan pengajaran tanpa ikut serta dalam politik. Ditambah dengan kebutuhan orang kepada beliau karena usia panjang beliau. Hal ini membuat perbandingan antara beliau dengan sahabat-sahabat besar atau <em>K</em><em>hulafa&#8217; Ar</em><em> Rasyidin</em> tidak benar.<a name="_ftnref11"></a></p>
<p>Rasa aneh dan tuduhan memperbanyak hadits telah dijawab oleh Abu Hurairah sendiri dalam pernyataannya:</p>
<p>????? ????? ?????????? ?????? ??????? ?????? ????? ????????? ?????????? ????? ????? ?????????? ???????? ?????????? ???? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ???????????? ??? ????? ??????????????? ?????????????? ??? ???????????? ???? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ???????? ??????? ????? ?????????? ??????? ????????? ???? ??????????????? ????? ???????????? ?????? ?????????????? ???????? ???????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ????? ?????? ??????? ?????????? ????? ??????? ?????????? ????? ?????? ??????? ???????? ????????? ???? ???????????? ?????? ????????????? ???????? ??????? ?????????? ???? ?????????? ?????????? ????? ????? ??????????</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya Abu Hurairah berkata: &#8216;Kalian akan menyatakan, bahwa Abu Hurairah banyak meriwayatkan hadits. <strong>Dan Allahlah tempat (untuk membuktikan) janji</strong>. Juga mengatakan &#8216;Mengapa orang-orang Al Muhajirin dan Anshor tidak banyak meriwayatkan hadits, seperti periwayatan Abu Hurairah?&#8217; Sungguh, saudara- saudaraku dari Muhajirin disibukkan dengan jual-beli di pasar. Sedangkan saudara- saudaraku dari Anshor disibukkan oleh pengelolaan harta mereka. Adapun aku seorang miskin yang selalu mengikuti Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam <strong>selama perutku berisi</strong>. Aku hadir saat mereka tidak hadir, dan aku ingat dan paham saat mereka lupa.&#8221;</em><a name="_ftnref12"></a></p>
<p>Dalam lafadz Imam Ahmad: &#8220;<em>Sedang aku adalah seorang yang i&#8217;tikaf (berdiam diri di masjid (Ahlus Sifah), dan paling banyak turut serta dalam majelis-majelis Rasul Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam. Aku hadir saat mereka tidak hadir, dan aku menghafalnya ketika mereka lupa.&#8221;</em><a name="_ftnref13"></a></p>
<p>Dalam lafadz Al Hakim: &#8220;<em>Sungguh, isteri ataupun jual-beli di pasar tidak menyibukkan kami dari turut serta bersama Rasul Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam, melainkan aku meminta kepada Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam satu kalimat yang Beliau Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam ajarkan kepadaku atau sesuap makanan yang Beliau berikan kepadaku</em>&#8220;.<a name="_ftnref14"></a></p>
<p>Kita lihat dalam pernyataan dan sejarah Abu Hurairah, beliau telah mencurahkan seluruh potensinya untuk mendengar, menghafal dan menyaksikan seluruh peristiwa pada Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>ditambah dengan kemampuan beliau menghafal yang demikian kuat dan waktu mulazamahnya setelah berdatangan orang untuk masuk Islam. Tentunya hal ini meembuatnya dapat menghafal hadits-hadits yang tidak ada dikalangan sahabat lain.</p>
<p>Hal ini terbukti. Kita dapati sebagian besar <em>kibaar sahabat </em>(tokoh-tokoh besar sahabat) telah menyadari dan mengakui, bahwa mereka telah disibukkan dengan jual beli di pasar dari pada mendengarkan sebagian hadits-hadits Rasul <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> sebagaimana yang dilukiskan oleh Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>. Lihatlah, Al Faruq Umar bin Khaththab mendengar sebuah hadits dari Abu Musa Al Asy&#8217;ari, lalu ia mengingkarinya, sampai Abu Said Al Khudri bersaksi menguatkan Abu Musa Al Asy&#8217;ari, bahwa ia mendengar hadits itu juga, lalu Umar (pun) berkata:</p>
<p>&#8220;<em>Aku belum tahu hadits ini termasuk perkara Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam. Jual-beli di pasar telah melalaikanku dari mendengar hadits ini&#8221;</em> <a name="_ftnref15"></a>.</p>
<p>Bahkan tidak hanya jual-beli yang melalaikan Beliau <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> semata. Juga tempat tinggal Beliau yang berada di &#8216;<em>Awaali</em><a name="_ftnref16"></a> Madinah. Tidak seperti Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> yang hanya beberapa langkah dari kamar Aisyah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>. Jika demikian, maka tidaklah aneh jika Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh sahabat-sahabat lama (tokoh besar sahabat). <a name="_ftnref17"></a></p>
<p>Dengan demikian tertolaklah tuduhan orang-orang yang beralasan dengan sedikitnya hadits yang diriwayatkan oleh <em>kibarush shahabah</em> (sahabat senior) untuk menolak dan mendustakan riwayat-riwayat Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> yang telah banyak meriwayatkan hadits. Tidak lain mereka sendirilah yang berdusta. Sedikitnya riwayat dari sahabat senior Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>, tak lain karena mereka telah wafat sebelum dibutuhkan oleh umat. Dan yang banyak riwayatnya, hanyalah dari Umar bin Al Khathab dan Ali bin Abi Thalib. Sebab, keduanya dijadikan pemimpin (kaum muslimin), sehingga ditanya dan memutuskan perkara kaum muslimin.</p>
<p>Seluruh sahabat Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> adalah para pemimpin tauladan yang dicontoh dan dikenang seluruh amalan yang mereka kerjakan. Mereka dimintai fatwa dan berfatwa; mereka mendengar hadits-hadits Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> lalu menyampaikannya. Sehingga banyak sahabat-sahabat senior yang lebih sedikit haditsnya dibanding dengan lainnya; seperti: Abu Bakar, Utsman, Thalhah, Az Zubair, Sa&#8217;ad bin Abi Waqash, Abdul Rahman bin Auf, Abu Ubaidah bin Al Jarrah, Sa&#8217;ad bin Zaid bin Amr bin Naufal, Ubay bin Ka&#8217;ab, Sa&#8217;ad bin Ubadah, Ubadah bin Ash Shamith, Usaid bin Khudhair, Muadz bin Jabal dan lainnya yang segenerasi dengan mereka <em>radiyallahu&#8217;anhum</em>. Kita tidak mendapatkan mereka banyak meriwayatkan hadits sebagaimana para sahabat-sahabat muda, seperti: Jabir bin Abdullah, Abu Sa&#8217;id Al Khudri, Abdullah bin Umar bin Al Khaththab, Abdullah bin Amr bin Al Ash, Abdullah bin Abbas, Rafi&#8217; bin Khudaij, Anas bin Malik, Al Barra&#8217; bin Azib dan yang segenerasi dengan mereka; sebab mereka hidup (setelah para tokoh tua sahabat)  dan berumur panjang, sehingga orang-orang membutuhkan mereka. Sementara itu, banyak para sahabat sebelum dan setelahnya meninggal bersama ilmunya. Sebagian mereka ada yang tidak menyampaikan satu haditspun dari Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>, yang mungkin lebih lama bersahabat, belajar dan mendengar hadits Beliau <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dibandingkan dengan orang yang meriwayatkan hadits. Akan tetapi kita memahami hal ini, karena mereka sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadits. Atau yang bersangkutan tidak perlu menyampaikan, karena banyaknya sahabat-sahabat Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> (yang telah meriwayatkan hadits). Atau karena kesibukkan mereka dengan ibadah dan pergi berjihad di jalan Allah hingga mereka wafat, dan tidak satu pun hadits yang diriwayatkan darinya.</p>
<p>Al Mu&#8217;allimi <em>rahimahullah</em> berpendapat, disana ada dua tugas. Yang pertama menerima hadits dan penjelasan langsung dari Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>. Yang kedua adalah tugas menyampaikan. Adapun menerima hadits dan penjelasan langsung dari Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> (<em>talaqqi</em>), maka para sahabat tidak mampu terus-menerus <em>bermulazamah </em>(mengikuti Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>) dengan konsisten; sedangkan Anas dan Abu Hurairah <em>radiyallahu&#8217;anhuma</em> secara terus-menerus mengikuti Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> untuk melayani Beliau <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>. Hal itu menunjukkan secara pasti, bahwa keduanya menerima langsung dari Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> lebih banyak, dibandingkan dengan <em>talaqqi</em> para shahabat yang sibuk dengan perdagangan dan pertaniannya. Disamping itu, Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> memiliki antusiasme yang tinggi terhadap ilmu, juga <em>talaqqi </em>hadits-hadits yang dihafal orang-orang yang telah mendahuluinya dalam bersahabat dengan Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>, sehingga terkadang beliau meriwayatkannya dari mereka.<a name="_ftnref18"></a></p>
<p>Adapun dalam hal menyampaikan. Sesungguhnya Abu Bakar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> hanya hidup pada masa penyampaian hadits selama kurang lebih dua tahun, dan dalam keadaan sibuk melaksanakan tugas menata permasalahan kaum muslimin. Sedangkan Umar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>, pada masa Abu Bakar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>, (ia) disibukkan dengan tugas kementerian (pendamping Abu Bakr) dan perdagangan. Setelah wafatnya Abu Bakar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> ia sibuk menata dan mengatur urusan kaum muslimin.</p>
<p>Diriwayatkan dalam kitab <em>Al Mustadrak</em>, bahwa Muadz bin Jabal <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> mewasiatkan sahabat-sahabatnya untuk mencari ilmu. Lalu beliau menyebutkan kepada mereka nama-nama: Abu Darda&#8217;, Salman, Ibnu Mas&#8217;ud dan Abdullah bin Sallam, <em>radiyallahu&#8217;anhum</em>. Lalu Yazid bin Umairah berkata,<em>&#8220;Lalu (bagaimana) Umar bin Al Khathab?&#8221;</em> Muadz <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> menjawab,<em>&#8220;Janganlah anda bertanya kepada Umar, sebab ia orang yang sibuk.&#8221; </em></p>
<p>Demikian juga Utsman dan Ali <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> pada masa hidupnya disibukkan dengan tugas-tugas kementerian (pendamping Khalifah) dan lainnya, kemudian disibukkan dengan tugas sebagai khalifah dan menghadapi berbagai macam fitnah dan ujian. Orang yang semangat dan gemar mencari ilmu, mengejar mereka dan yang semisalnya; memandang seluruh shahabat adalah orang-orang yang <em>tsiqah</em> (terpercaya). Karenanya mereka menganggap cukup dengan kedudukan sahabat- sahabat. Para sahabat generasi senior memandang, bukan menjadi suatu keharusan yang mendesak atas mereka untuk menyampaikan (hadits), kecuali jika dibutuhkan. Juga memandang cukup, jika amal sudah dilakukan berdasarkan hal tersebut, sehingga tidak ada sedikitpun dari Sunnah Nabi yang diabaikan. Disebabkan para sahabat masih sangat banyak dan masa tinggal serta kehidupan mereka akan panjang. Begitu pula berbagai kegiatan yang membutuhkan <em>tabligh </em>(penyampaian hadits) amatlah banyak. Atas itu semua, Allah <em>Ta&#8217;ala</em> telah berjanji menjaga syariatNya. Meskipun demikian, mereka pun sangat hati-hati terhadap dirinya, karena takut salah. Mereka juga berpendapat, jika ada salah seorang diantara mereka keliru saat dibutuhkan menyampaikan (hadits), maka yang bersangkutan termaafkan; (ini) berbeda jika menyampaikannya sebelum dibutuhkan lalu ia keliru. Sekalipun demikian, mereka sangat suka orang lain yang mencukupkannya. Walaupun demikian adanya, mereka tetap meriwayatkan berbagai macam hadits. Sampai kepada mereka dari sebagiannya, bahwa Abu Hurairah telah banyak meriwayatkan hadits dan tidak ada yang mengingkarinya. Yang ada, hanyalah kisah yang menunjukkan, bahwa memperbanyak riwayat menyalahi yang utama.<a name="_ftnref19"></a></p>
<p>Yang aneh bin ajaib, ada orang yang kaget dengan banyaknya hadits Abu Hurairah dan lebih aneh lagi dibahas pada abad kedua puluhan ini! Apakah kaget dengan hafalan Abu Hurairah yang mampu menghafal 5374 hadits? Atau kaget beliau menghafal sejumlah ini dari Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> selama tiga tahunan? Jika kaget dengan kuatnya hafalan beliau, maka ini bukanlah sarana untuk mencelanya, karena banyak orang Arab yang telah menghafal lebih banyak dari hafalan Abu Hurairah. Kita lihat banyak para sahabat yang telah hafal Al Qur&#8217;an, hadits dan syair-syair. Lalu apa katanya tentang mereka? Apa yang ia katakan tentang hafalan Abu Bakar tentang nasab Arab? Apa yang dikatakannya tentang Hammaad Al Raawiyah orang yang paling tahu sejarah, syair, berita, nasab dan bahasa orang Arab? Apa yang dikatakan padanya jika ia menyampaikan untuk setiap huruf hija&#8217;iyah seratus qasidah yang panjang dari syair jahiliyah saja? Apa yang dikatakannya tentang hafalan hibrul umat Ibnu Abaas dan hafalan imam Az Zuhriy, Asy Sya&#8217;bi dan Qatadah bin Da&#8217;amah Al Sadusi? Jadi hafalan Abu Hurairah bukanlah baru dan aneh. Apalagi bila diketahui bahwa hadits-hadits yang berjumlah 5374 itu tidak semuanya shahih. Sehingga Abu Hurairah tidak dapat dituduh melalui hafalan dan banyaknya hadits beliau ini. Jika ia kaget dengan kemampuan Abu Hurairah menerima hadits-hadits yang banyak ini dari Rasulullah selama 3 tahun, maka ia telah lupa bahwa Abu Hurairah bersahabat dengan Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> di tahun-tahun yang penting. Masa terjadinya peristiwa-peristiwa sosial, politik dan pensyari&#8217;atan secara umum sehingga memungkinkan beliau menghafal seluruhnya tersebut.<a name="_ftnref20"></a></p>
<p><strong>Penutup.</strong></p>
<p>Tuduhan dan syubhat yang dilontarkan musuh Islam seputar sahabat Abu Hurairah masih sangat banyak, namun sebagaian yang telah dibantah diatas mudah-mudahan dapat menjadi ibroh bagi kaum muslimin dan menjadi peringatan terhadap bahaya yang mengancam mereka.</p>
<p>Sebagai penutup kami bawakan pernyataan Ibnu Khuzaimah yang dinukil Dr. Muhammad &#8216;Ajaaj Al Khathib dalam kitab <em>As Sunnah Qabla Al Tadwiin</em> dari <em>Al Mustadrak &#8216;Ala Al Shahihain</em> karya imam Al Hakim. Nashnya sebagai berikut:</p>
<p>&#8220;Orang yang telah buta hatinya mencela Abu Hurairah hanya karena ingin menolak hadits beliau. Karena mereka tidak faham maknanya. Orang tersebut adakalanya seorang <em>mu&#8217;aththil jahmi </em>(pengikut alirat sesat Jahmiyah (pen)) yang mendengar hadits-hadits beliau yang menyelisihi madzhab mereka yang kufur, lalu mencela Abu Hurairah dan menuduhnya dengan tuduhan yang Allah telah sucikan darinya dalam rangka membuat opini pada orang awam dan rendahan bahwa hadits-hadits beliau tidak benar. Adakalanya ia seorang khowarij yang mengangkat pedang kepada kaum muslimin dan tidak memandang kewajiban mentaati khalifah dan imam. Jika ia mendengar hadits-hadits Abu Hurairah dari Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> menyelisihi madzhabnya yang sesat, tidak dapat cara menolak berita-berita beliau ini dengan hujjah maka ujungnya mencela Abu Hurairah. Atau seorang <em>Qadariy</em> (pengikut aliran sesat <em>Qadariyah) </em>yang meninggalkan islam dan kaum muslimin dan mengkafirkan kaum muslimin yang mengikuti takdir yang telah ditakdirkan Allah dahulu dan tetapkan sebelum hamba itu melakukannya. Jika melihat hadits-hadits yang beliau sampaikan dari Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dalam menetapkan taqdir, tidak mendapatkan hujjah yang mendukung pendapat mereka yang merupakan kekufuran dan kesyirikan, maka hujahnya adalah menyatakan bahwa berita-berita Abu Hurairah tidak boleh dipakai sebagai hujjah. Atau seorang bodoh   yang ingin menjadi faqih dan mencarinya bukan dari tempatnya, jika mendengar berita Abu Hurairah menyelisihi pendapat madzhab orang yang dipilihnya dengan taklid tanpa hujjah, maka   mencela Abu Hurairah dan menolak hadits-haditsnya yang menyelisihi madzhab mereka dan berhujah dengan hadits-hadits Abu Hurairah atas orang yang menyelisihinya jika haditsnya tersebut sesuai dengan madzhabnya!!!&#8221;<a name="_ftnref21"></a></p>
<p>Semoga bermanfaat.</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.Com</a></p>
<hr size="1" /><a name="_ftn1"></a> Saqifah op.cit hlm 14.</p>
<p><a name="_ftn2"></a> <em>Al Bidayah Wa An Nihayah</em>, oleh Ibnu Katsir VIII/106.</p>
<p><a name="_ftn3"></a> <em>Zhulumaatu Abi Ar Rayyah</em>, halaman 43.</p>
<p><a name="_ftn4"></a> Al Bukhari, dalam Shahihnya kitab Al Libaas bab Al Mustawsyimah no. 5490 hlm VII/214</p>
<p><a name="_ftn5"></a> <em>Muslim</em>, dalam Shahihnya kitab AL Ilmu Bab Sardu Al Hadits no. 3303</p>
<p><a name="_ftn6"></a> <em>Fathul Bari,</em> VII/389-390.</p>
<p><a name="_ftn7"></a> Muslim dalam Shahihnya kitab Al Jana&#8217;iz Bab Fadhlu &#8216;Ala Al Sholat Waittiba&#8217;uha no. 1574.</p>
<p><a name="_ftn8"></a> <em>Abu Hurairah Rawiyatul Islam</em>, halaman 278, yang dikutip apa yang dituduhkan oleh Al Iskaafi dari <em>Syarhu Nahji Al Balaghah</em>, I/468 Cet. Beirut.</p>
<p><a name="_ftn9"></a> Difa&#8217; &#8216;An Abi Hurairoh, op.cit hlm 123</p>
<p><a name="_ftn10"></a> ibid hlm 87 dengan perubahan.</p>
<p><a name="_ftn11"></a> Al Sunnah Qabla Al Tadwiin op.cit hlm 450.</p>
<p><a name="_ftn12"></a> <em>Al Bukhari</em>,dalam Shahihnya, kitab Al Buyu&#8217; Bab Ma Ja&#8217;a Fi Qaulihi Ta&#8217;ala Faidza Qadhaita Al Sholat no. 1906 &#8211; III/135. dan Ahmad bin Hambal dalam <em>Musnad Ahmad</em> hadits no. 7273</p>
<p><a name="_ftn13"></a> <em>Al Musnad,</em> XIV/122.</p>
<p><a name="_ftn14"></a> <em>Al Mustadrak,</em> III/510 dengan <em>sanad</em> yang <em>shahih</em>.</p>
<p><a name="_ftn15"></a> <em>Muslim</em>, VI/179.</p>
<p><a name="_ftn16"></a> Nama daerah di kota Madinah. Hingga kini masih dikenal dengan nama tersebut.</p>
<p><a name="_ftn17"></a> Difa&#8217; &#8216;An Abi Hurairoh op.cit hlm 72-75 secara singkat.</p>
<p><a name="_ftn18"></a> <em>Al Anwaa&#8217;u Al Kasyifah</em>, halaman 141. kami nukil dari Difa&#8217; &#8216;An Abi Hurairoh op.cit hlm 91</p>
<p><a name="_ftn19"></a> Difa&#8217; &#8216;An Abi Hurairoh op.cit hlm 91.</p>
<p><a name="_ftn20"></a> Dinukil secara bebas dari <em>Al Sunnah Qabla Al Tadwiin</em> op.cit hlm 449.</p>
<p><a name="_ftn21"></a> <em>As Sunnah Qabla Tadwiin</em> op.cit hlm 467-468.</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/manhaj/menjawab-syubhat-tentang-abu-hurairah-radhiallahu’anhu-2/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/menjawab-syubhat-tentang-abu-hurairah-radhiallahu%e2%80%99anhu-2/&amp;title=Menjawab+Syubhat+Tentang+Abu+Hurairah+Radhiallahu%E2%80%99anhu+%282%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/manhaj/menjawab-syubhat-tentang-abu-hurairah-radhiallahu%e2%80%99anhu-2/&amp;title=Menjawab+Syubhat+Tentang+Abu+Hurairah+Radhiallahu%E2%80%99anhu+%282%29" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/manhaj/menjawab-syubhat-tentang-abu-hurairah-radhiallahu%e2%80%99anhu-2/&amp;t=Menjawab+Syubhat+Tentang+Abu+Hurairah+Radhiallahu%E2%80%99anhu+%282%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/menjawab-syubhat-tentang-abu-hurairah-radhiallahu%e2%80%99anhu-2/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Menjawab+Syubhat+Tentang+Abu+Hurairah+Radhiallahu%E2%80%99anhu+%282%29+-+http://ustadzkholid.com/manhaj/menjawab-syubhat-tentang-abu-hurairah-radhiallahu%e2%80%99anhu-2/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/menjawab-syubhat-tentang-abu-hurairah-radhiallahu%e2%80%99anhu-2/&amp;title=Menjawab+Syubhat+Tentang+Abu+Hurairah+Radhiallahu%E2%80%99anhu+%282%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/menjawab-syubhat-tentang-abu-hurairah-radhiallahu%e2%80%99anhu-2/&amp;title=Menjawab+Syubhat+Tentang+Abu+Hurairah+Radhiallahu%E2%80%99anhu+%282%29" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Menjawab+Syubhat+Tentang+Abu+Hurairah+Radhiallahu%E2%80%99anhu+%282%29+-+File: /data/app/webapp/functions.php<br />Line: 7<br />Message: Can't connect to local MySQL server through socket '/var/run/mysqld/mysqld.sock' (11)&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Menjawab+Syubhat+Tentang+Abu+Hurairah+Radhiallahu%E2%80%99anhu+%282%29&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/manhaj/menjawab-syubhat-tentang-abu-hurairah-radhiallahu%e2%80%99anhu-2/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Karena%20seringnya%20ia%20meriwayatkan%20hadits%2C%20Ummul%20Mukminin%20%27A%27isyah%20dan%20para%20sahabat%20yang%20utama%20menuduh%20Abu%20Hurairah%20radhiallahu%27anhu%20berbicara%20tak%20karuan%20%28mazzah%29%2C%20berbohong%20%28kadzdzab%29%20dan%20lain-lain.%20Benarkah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/manhaj/menjawab-syubhat-tentang-abu-hurairah-radhiallahu%e2%80%99anhu-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjawab Syubhat Tentang Abu Hurairah Radhiallahu’anhu (1)</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/manhaj/menjawab-syubhat-tentang-abu-hurairah-radhiallahu%e2%80%99anhu/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/manhaj/menjawab-syubhat-tentang-abu-hurairah-radhiallahu%e2%80%99anhu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Jun 2009 08:07:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bantahan]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Hurairah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Syiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=963</guid>
		<description><![CDATA[Abu Hurairah -Radhiallahu'anhu- dituduh orang yang mengikuti Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam hanya untuk mencari makan, dituduh pembohong Islam, dan diragukan periwayatan haditsnya. Simak  artikel yang menghempas tuduhan itu semua.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mencela dan melecehkan para sahabat dengan penghinaan dan tuduhan <em>ngawur</em> merupakan cara-cara pengikut iblis dan musuh-musuh Islam. Tujuan mereka sebenarnya hanyalah berusaha mencela dan merendahkan para saksi kebenaran islam dan hendak mencela Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dengan menyatakan beliau memiliki sahabat-sahabat yang jelek dan tidak memilih sahabat yang baik saja. Akhirnya dengan cara ini mereka ingin menghancurkan agama islam dan memadamkan cahayanya. Namun Allah tidak ingin cahaya agamaNya padam, bahkan Allah menyempurnakan cahaya agamaNya walaupun kaum kafir pengikut iblis tidak suka dan marah. Biarlah mereka mampus dengan kemarahan dan kedengkiannya.</p>
<p>Mereka hendak memadamkan sunnah Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dengan slogan yang tampak luarnya <em>rahmah</em> dan ilmiah namun di dalamnya menyimpan dendam kesumat dan penipuan besar serta kepandiran. Slogan studi kritis hadits, studi ilmiyah dan kebebasan berpendapat, ini semua hanyalah semu dan fatamorgana, tujuannya hanya satu menghancurkan Islam dengan segala cara. Oleh sebab itu berhati-hatilah wahai kaum muslimin dari racun yang mereka tebarkan dimana-mana untuk merusak aqidah dan syariat kita.</p>
<p>Diantara para sahabat yang mereka serang adalah perawi hadits Nabi terbanyak Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> dengan melemparkan tuduhan <em>ngawur</em> dan kritikan tanpa dasar, namun dibungkus dengan kata-kata indah dan ilmiyah sehingga banyak menipu kaum muslimin yang belum mengenal aqidah dan syariat islam. Maka dalam makalah singkat ini kita coba mengungkap beberapa tuduhan yang dilontarkan musuh islam kepada tokoh besar kita Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> yang terzahlimi dengan mencoba membantah dan membedahnya dengan tetap terus memohon kepada Allah kemudahan dan petunjuknya.<span id="more-963"></span></p>
<p>Diantara syubhat yang dilontarkan dengan zhalim oleh para musuh Islam<a name="_ftnref1"></a> adalah;</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Syubhat 1</span></strong></p>
<p><strong>Mereka </strong><a name="_ftnref2"></a><strong>menyatakan: &#8220;Berbeda dengan para sahabat lain, para ahli sejarah tidak dapat memastikan nama sebenarnya dari Abu Hurairah, namanya dizaman jahiliyah maupun dizaman Islam. Begitu pula asal usulnya.&#8221;.</strong><a name="_ftnref3"></a><strong> Juga menyatakan : &#8220;Abu Hurairah bukan sahabat besar, bukan dari kaum muhajirin bukan Anshor, bukan penyair Rasul, bukan keluarga Rasul, malah asal-usulnya, orang tuanya, bahkan nama aslinyapun tidak diketahui orang.&#8221;</strong><a name="_ftnref4"></a><strong></strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Bantahan </span></p>
<p>Memang Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> terkenal dengan <em>kun-yah</em> (julukannya) melebihi namanya. Namun pernyataan diatas tidak benar seluruhnya dan tidak dapat dijadikan alasan untuk melecehkan Abu Hurairah. Adapun sejarah Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> pada masa jahiliyah memang tidak dikenal, namun, demikian itu satu kewajaran, karena bangsa Arab -seluruhnya- tenggelam dalam ke-<em>jahiliyah</em>-an dan terkungkung di wilayah jazirahnya saja. Mereka tidak peduli dengan keadaan dunia. Begitu juga dunia tidak peduli dengan keadaan dan kondisi mereka, kecuali yang berhubungan dengan perniagaan, karena melintasi wilayah mereka.</p>
<p>Baru, ketika Islam datang, Allah memuliakan dan menjadikan mereka sebagai pengemban risalahNya, jadilah setiap individu dari mereka memiliki sejarah yang ditulis menjadi bahan pembicaraan. Dan para <em>perawi</em>, selalu memperhatikan berita mereka, serta mereka memiliki murid yang mengambil ilmu dan petunjuk dari mereka.</p>
<p>Para ahli sejarah sudah memahami, bahwa terkenalnya seseorang dengan gelar atau julukan merupakan perkara biasa dan wajar. Bahkan, terkadang seseorang berselisih dalam hal nama dan <em>kun</em><em>-</em><em>yah</em> (julukan)nya, sebagaimana terjadi atas khalifah pertama, beliau dikenal dengan gelarnya Abu Bakar. Begitu juga dengan Abu Ubaidah, Abu Dujanah dan Abu Darda&#8217;. Mereka merupakan tokoh besar dan pahlawan dari kalangan sahabat. Namun lebih dikenal dengan gelar-gelar mereka, hingga sebagian besar manusia tidak mengetahui nama mereka yang sebenarnya. Belum pernah kita dengar pada kurun waktu tertentu, bahwa kedudukan dan keturunan dapat menentukan penghargaan intelektualitas<a name="_ftnref5"></a>. Karenanya, celaan dan pelecehan terhadap julukan Abu Hurairah dan ketenaran beliau dengannya melebihi namanya adalah tidak benar. Apalagi para ulama Islam telah me-<em>ra</em><em>jih</em>-kan nama beliau di zaman Jahiliyah adalah Abdus Syamsi dan setelah masuk Islam adalah <strong>Abdurrahman</strong>. Kemudian tuduhan beliau tidak jelas asal usulnya juga satu kebodohan dari mereka (para penuduh ini) karena asal-usul dan nasabnya cukup terhormat.</p>
<p>Apakah ihwal Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> dalam hal ini berbeda dengan ihwal sahabat-sahabat Nabi lainnya? Lalu, mengapa ketiak-jelasan sejarah kehidupan Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> pada masa <em>jahiliyah</em> merusak kedudukan dan menghancurkan posisi beliau dalam Islam? Apakah ada dalam Kitabullah, bahwa orang yang tidak dikenal sejarahnya sebelum Islam harus direndahkan dan dilecehkan posisi dan kedudukannya serta meragukan terhadap semua riwayatnya dari hadits-hadits Rasul? Maha Suci Allah, sesungguhnya ini merupakan tuduhan dan tipu daya yang besar.<a name="_ftnref6"></a></p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Syubhat 2</span></strong></p>
<p><strong>Mereka menyatakan: &#8220;Abu Hurairah ada di Madinah hanya 1 tahun 9 bulan di Shuffah. Abu Hurairah datang kepada Rasulullah pada bulan Safar tahun 7 Hijriyah, setelah perang Khaibar dan tinggal di emperan masjid Madinah (Shuffah) sampai bulan Zulqaidah tahun 8 Hijriyah, karena pada bulan itu ia disuruh Rasul ke Bahrain menemani Al Ala&#8217; Al Hadhrami sebagai <em>Muadzdzin</em>&#8220;.</strong><a name="_ftnref7"></a><strong> </strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Bantahan</span><span style="text-decoration: underline;">:</span></p>
<p>Pernyataan ini tidak benar, sebab Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> bersahabat dengan Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em><em> </em>sekitar 4 tahun lebih.<a name="_ftnref8"></a> Sebagaimana ditegaskan oleh Humaid bin Abdurrahman Al Himyari dalam pernyataannya<em>,</em></p>
<p dir="rtl">??????? ??????? ?????? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ???????? ??????? ????? ???????? ????? ?????????? <em></em></p>
<p><em>&#8220;Aku berteman dan berjumpa dengan orang-orang yang bersahabat dengan Nabi sebagaimana persahabatan Abu Hurairah dengan Nabi </em><em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em><em> selama empat tahun.&#8221;</em><a name="_ftnref9"></a><em>. </em></p>
<p><em>S</em>edang kepergiannya menemani Al &#8216;Alaa&#8217;  Al Hadhrami tidak menunjukkan beliau menetap di sana sampai Rasulullah meninggal, apalagi adanya riwayat yang menyatakan beliau ber-<em>mulazamah</em> dengan Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> selama empat tahun di atas. Demikian juga pendapat yang didukung riwayat otentik menunjukkan beliau ikut serta perang Khaibar walaupun tidak seluruhnya<a name="_ftnref10"></a> dan mengikuti haji bersama Abu Bakar Ash Shidiq <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> tahun 9 H.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Syubhat 3</span></strong></p>
<p><strong>Mereka menyatakan : &#8220;Ia sendiri menceritakan bahwa ia mendatangi Rasul bukan karena ia mendapat hidayah atau karena kecintaannya kepada Nabi seperti yang lain, tapi untuk mendapatkan makanan. Dalam riwayat Ahmad, Bukha</strong><strong>ri dan Muslim, Abu Hurairah berkata: &#8220;Aku adalah seorang miskin, aku bersahabat dengan Rasul Allah untuk mengisi perutku.&#8221; Dan dalam riwayat lain: &#8220;U</strong><strong>ntuk memenuhi perutku yang lapar.&#8221; Dalam riwayat Muslim: &#8220;Aku melayani Rasul Alllah untuk mengisi perutku.&#8221; Atau Aku menetap dengan Rasul Allah untuk mengisi perutku&#8221;</strong><a name="_ftnref11"></a><strong> kemudian menyatakan lagi : &#8220;Ia juga punya hobi makan, karena kesukaannya yang berlebihan akan makanan, maka sering juga disebut sebagai pembawa &#8216;hadist lesung&#8217; (lesung -<em>al-mihras</em>- , alat untuk menumbuk dan mengulek makanan. Lihat, &#8220;Hadits Lalat&#8221; dan &#8220;Hadits Pundi-pundi&#8221;)</strong><a name="_ftnref12"></a><strong></strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Bantahan:</span></p>
<p>Riwayat-riwayat yang dipakai mereka sebagai dasar tuduhan mereka terhadap Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>, bahwa beliau melakukan aktivitas mendengar hadits Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> hanya untuk mencari sesuap nasi yang mengenyangkan perutnya dalam kata lain melakukannya hanya karena sedikit dunia yang rendah, memang diriwayatkan secara shahih dengan lafadz:</p>
<p dir="rtl">????? ????? ?????????? ?????? ??????? ?????? ????? ????????? ?????????? ????? ????? ?????????? ???????? ?????????? ???? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ???????????? ??? ????? ??????????????? ?????????????? ??? ???????????? ???? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ???????? ??????? ????? ?????????? ??????? ????????? ???? ??????????????? ????? ???????????? ?????? ?????????????? ???????? ???????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ????? ?????? ??????? ?????????? ????? ??????? ?????????? ????? ?????? ??????? ???????? ????????? ???? ???????????? ?????? ????????????? ???????? ??????? ?????????? ???? ?????????? ?????????? ????? ????? ??????????</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya Abu Hurairah berkata: &#8216;Kalian akan menyatakan, bahwa Abu Hurairah banyak meriwayatkan hadits. <strong>Dan Allahlah tempat (untuk membuktikan) janji</strong>. Juga mengatakan &#8216;Mengapa orang-orang Al Muhajirin dan Ansh</em><em>a</em><em>r tidak banyak meriwayatkan hadits, seperti periwayatan Abu Hurairah?&#8217; Sungguh, saudara- saudaraku dari Muhajirin disibukkan dengan jual-beli di pasar. Sedangkan saudara- saudaraku dari Ansh</em><em>a</em><em>r disibukkan oleh pengelolaan harta mereka. Adapun aku seorang miskin yang selalu mengikuti Rasulullah <strong>selama perutku berisi</strong>. Aku hadir saat mereka tidak hadir, dan aku ingat dan paham saat mereka lupa.&#8221;</em><a name="_ftnref13"></a><em> </em></p>
<p>Pernyataan Beliau di lafadz pertama &#8220;<em>Allah-lah tempat (membuktikan) janji</em>&#8221; pengertiannya, bahwa Allah akan menghisabku jika aku sengaja berdusta, (dan) sekaligus akan menghisab orang-orang yang menuduhku dengan tuduhan yang keji<a name="_ftnref14"></a>. Adapun pernyataan beliau: <strong>&#8220;</strong><em>selama  perutku berisi</em><strong>&#8220;</strong>, yakni merasa telah puas dengan sesuap makanan, sehingga beliau tidak pernah tidak hadir di sisi Nabi<a name="_ftnref15"></a>.</p>
<p>Kalau demikian tuduhan atas beliau sangat dipaksakan sekali dan tidak ilmiah. Hal itu karena Abu Hurairah tidak sekedar menceritakan persahabatannya yang sama-sama dimiliki sahabat lainnya semata. Namun, Beliau dalam pernyatannya tersebut ingin juga menceritakan keistimewaan (yang dimilikinya). Keistimewaan tersebut adalah kebersamaan Beliau bersama Rasulullah yang tidak dimiliki oleh yang lainnya.</p>
<p>Keistimewaan tersebut beliau jelaskan dengan caranya (yang)  <em>tawadhu&#8217;</em>, dengan menyatakan: &#8220;<em>Selama perutku berisi</em>&#8220;, lalu menyebutkan keistimewaan para sahabat lainnya, sebagai orang-orang yang mampu dan kuat mencari penghidupan. Hal ini, demi Allah, merupakan akhlak yang luar biasa.<a name="_ftnref16"></a></p>
<p>Tuduhan Abu Hurairah banyak makan dan bersemangat mendapatkan makanan serta bersahabat dengan Nabi hanya karena makanan, bukan karena hidayah Islam atau kecintaan pada beliau merupakan tuduhan keji yang hanya dilontarkan orang yang hasad atau orang yang memiliki kerusakan syaraf. Jika tidak, bagaimana mungkin seorang yang berakal dapat membenarkan pemahaman, bahwa Abu Hurairah sanggup meninggalkan negerinya, kabilah dan tanah airnya demi menjumpai Rasul hanya (sekadar) untuk makan dan minum semata?</p>
<p>Apakah Abu Hurairah di kabilahnya tidak mendapatkan makan dan minum? Lalu untuk apa Abu Hurairah datang ke Madinah? Apakah di negerinya ia tidak bisa mendapat makanan dan minuman sebagaimana yang diperoleh para petani dan pedagang di sana? Tuduhan ini betul-betul pelecehan terhadap sahabat yang mulia ini. Dan para penuduh lebih layak dilecehkan dan diragukan keikhlasannya dari beliau.                Hingga sampai sejauh inikah kebutaan hati dan kedengkian mereka?</p>
<p>Kemudian dalam pernyataan mereka ini terdapat penyimpangan makna, karena dalam riwayat tersebut bukan dengan lafadz <em>Shuhbah </em>(bersahabat), namun yang benar, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dengan lafadz &#8216;<em>Alzamu</em>&#8216; (<em>selalu menemani dan mengikuti)</em>. Demikian juga Imam Muslim meriwayatkannya dengan lafadz: <em>&#8220;Aku adalah seorang miskin yang melayani Rasul selama perutku berisi&#8221;</em>. Hal ini menunjukkan penyimpangan yang jelas dari pernyataan beliau, sebab kata &#8220;persahabatan&#8221; (<em>shuhbah</em>) tidak sama dengan kta &#8220;<em>mulazamah</em>&#8221; dan &#8220;<em>al khidmah</em>&#8221; (melayani dan membantu). Sehingga pernyataan beliau ini jelas-jelas untuk menjelaskan sebab banyaknya periwayatan beliau terhadap hadits-hadits Nabi seperti telah jelas dari alur pernyataannya. Demikian juga para penuduh ini disamping telah melakukan <em>tahrif</em> (penyimpangan) di atas juga memotong pernyataan beliau yang merubah konotasi maknanya, sehingga terfahami bahwa pendorong utama persahabatan beliau adalah mencari sesuap makanan. Padahal semua itu, beliau katakan untuk menjelaskan sebab pendorong menjadi sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Demikianlah, <em>tahrif</em> (menyimpangkan sesuatu dari lafadz atau makna sebenarnya) sudah menjadi adat kebiasaan orang yang menyimpang dari jalan yang lurus dan penyembah hawa nafsu.</p>
<p>Lalu, darimana mereka mengklaim diri mereka mampu mengungkapkan secara benar dan jelas sebab persahabatan Abu Hurairah dengan Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>? Apakah mereka lebih tahu dari Rasulullah yang telah memberikan pengakuan dan pujiannya kepada Abu Hurairah?</p>
<p>Mereka tidak cukup hanya dengan itu, bahkan menyatakan, bahwa makna lafadz (?????) pada perkataan Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> (&#8216;????? ???? ????????) bermakna untuk yang menunjukkan sebab. Ini juga merupakan kedustaan dan penipuan lain, sekaligus sebagai bukti mereka selalu mencari jalan untuk menjatuhkan pribadi Abu Hurairah.</p>
<p>Pernyataan Abu Hurairah ini telah difahami dengan benar oleh para ulama Islam, seperti pernyataan Imam Nawawi ketika menjelaskan perkataan Abu Hurairah (<em>ala mil&#8217;i bathni):</em> &#8220;Maknanya aku senantiasa <em>mulazamah</em> dengan Beliau <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>. Aku rela dengan makananku. Aku tidak mengumpulkan harta untuk simpanan dan tidak untuk yang lainnya. Dan akupun tidak berusaha menambah porsi makanan bagiku. sedangkan maksud pernyataan beliau &#8216;<em>melayani</em>&#8216;, bukan sebagai upaya untuk memperoleh gaji atau upah&#8221;<a name="_ftnref17"></a>.</p>
<p>Sehingga jelaslah kebatilan tuduhan ini.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Syubhat 4</span></strong></p>
<p><strong>Mereka berkata: &#8220;Ia mendatangi para sahabat seperti &#8216;Umar dan Abu Bakar dengan berpura-pura meminta dibacakan sebuah ayat Al Qur&#8217;an, menurut pengakuannya sendiri, padahal ia ingin agar ditawari makanan, tetapi tiada seorang sahabatpun menawarkan makanan kepadanya, kecuali Ja&#8217;far bin Abi Thalib, yang langsung mengajak Abu Hurairah ke rumahnya. </strong></p>
<p><strong>Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah: &#8220;Demi Allah, tiada lain kecuali Dia, aku sering menekan perutku ke bumi karena lapar, dan pada suatu hari, karena lapar, aku menekan perutku dengan batu sambil duduk di jalan tempat mereka keluar dari masjid. Aku bertemu Abu Bakar dan aku bertanya kepadanya tentang ayat kitab Allah, dan aku tidak menanyainya kecuali (dengan maksud) agar dia memberi aku makan; tapi ia berlalu dan tidak melakukannya. Dan &#8216;Umar bertemu denganku dan aku bertanya mengenai ayat kitab Allah, aku tidak bertanya (kepadanya) kecuali agar ia mengajak aku makan, dan ia tidak melakukannya.</strong></p>
<p><strong>Bukhari: &#8220;Aku bila bertanya mengenai sebuah ayat (al Qur&#8217;an) kepada Ja&#8217;far (bin Abu Tholib) maka dia tidak akan menjawab kecuali setelah ia mengajakku kerumahnya&#8221;. Dibagian lain: &#8220;Aku meminta kepada Ja&#8217;far bin Abi Thalib untuk membacakan kepadaku ayat (Al Qur&#8217;an) yaitu artinya, agar dia memberi aku makan, dan dia (Ja&#8217;far bin Abu Tholib) adalah orang yang paling baik terhadap orang miskin. Ia mengajak kami ke</strong><strong> </strong><strong>rumahnya dan memberi kami makan seadanya&#8221;.</strong></p>
<p>Bantahan:</p>
<p>Kisah ini dibawakan imam Al Bukhari yang lengkapnya berbunyi:</p>
<p dir="rtl">??????? ??????? ??? ?????? ?????? ???? ???? ?????? ???????????? ????????? ????? ????????? ???? ???????? ?????? ?????? ????????? ????????? ????? ??????? ???? ???????? ???????? ???????? ??????? ????? ??????????? ??????? ??????????? ?????? ??????? ????? ?????? ???????????? ???? ????? ???? ??????? ??????? ??? ?????????? ?????? ????????????? ??????? ?????? ???????? ????? ????? ??? ?????? ???????????? ???? ????? ???? ??????? ??????? ??? ?????????? ?????? ????????????? ??????? ?????? ???????? ????? ????? ??? ????? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ??????????? ????? ?????? ???????? ??? ??? ??????? ????? ??? ??????? ????? ????? ??? ????? ????? ?????? ????????? ??? ??????? ??????? ????? ??????? ??????? ???????????? ???????? ????????????? ???????? ??? ???????? ???????? ??????? ??? ?????? ??????? ???? ?????? ????? ????????? ??????? ????????? ???? ??????? ???? ????????? ????? ????? ????? ?????? ????????? ??? ??????? ??????? ????? ??????? ????? ?????? ?????????? ??????????? ??? ????? ???????? ?????????? ????????? ???????????? ??? ????????? ????? ?????? ????? ????? ????? ????? ?????? ????? ???????? ???????? ?????? ????? ?????????? ?????? ??????????? ??????? ??????? ??????? ???????? ????????? ???????? ?????????? ????????? ??????? ?????????????? ?????? ?????????? ?????? ???????? ????? ????? ????????? ??? ?????? ?????????? ?????? ??????? ????? ???? ??????? ???? ????? ????????? ???????? ?????????? ????? ??????? ????? ????????? ???????? ????? ??????????? ????? ????? ???? ??????????? ???? ????? ????????? ?????? ?????? ???? ??????? ??????? ????????? ????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ????? ?????????????? ?????????????? ???????????? ??????????????? ???????? ?????? ?????????? ????????????? ???? ????????? ????? ??? ????? ????? ?????? ????????? ??? ??????? ??????? ????? ???? ???????????? ????? ?????????? ????????? ?????????? ????????? ????????? ?????????? ?????? ??????? ????? ??????? ??????? ????????? ??????????? ????????? ?????????? ?????? ??????? ????? ??????? ??????? ????????? ?????????? ?????? ??????? ????? ??????? ??????? ????????? ?????? ??????????? ????? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ?????? ?????? ????????? ????????? ???????? ????????? ?????????? ????? ?????? ???????? ??????? ??????????? ??????? ????? ????? ?????? ????????? ??? ??????? ??????? ????? ??????? ????? ???????? ?????? ???????? ??? ??????? ??????? ????? ??????? ????????? ?????????? ?????????? ??????? ??????? ?????????? ????? ????? ??????? ??????? ?????? ?????? ??? ????????? ???????? ?????????? ??? ?????? ???? ????????? ????? ????????? ?????????????? ????????? ???????? ??????? ???????? ???????? ???????????<strong></strong></p>
<p><em>&#8220;</em><em>Demi Allah. Tidak ada sesembahan yang benar, kecuali Dia. Sungguh aku tempelkan perutku ke tanah karena lapar dan aku ganjal perutku dengan batu menahan lapar. Sungguh pada suatu hari aku duduk di jalan yang biasa mereka pakai pulang dari (bertemu) Rasulullah Lalu Abu Bakar melintasi jalan itu. Aku pun bertanya kepadanya tentang satu ayat Al Qur&#8217;an. Dan tidaklah aku menanyakannya, kecuali agar Abu Bakar menjamuku. Beliau pun melewatiku dan tidak berbuat apa-apa. Lalu melintas di jalan itu, Umar bin Al Khaththab. Aku pun bertanya kepadanya satu ayat Qur&#8217;an. Dan tidaklah kutanyakan hal itu, kecuali agar beliau menjamuku. Namun beliau pun melintas dan tidak berbuat apa-apa. Kemudian setelah itu Abul Qasim Muhammad melintas di jalan itu seraya tersenyum ketika memandangku. Beliau mengetahui yang sedang bergejolak dalam hatiku dan yang tersirat dari wajahku. Kemudian Beliau memanggilku,&#8221;Wahai, Abu Hirr,&#8221; aku pun menjawabnya,&#8221;Aku penuhi panggilanmu, wahai Rasulullah.&#8221; Beliau bersabda,&#8221;Ikuti aku.&#8221; Beliau beranjak meninggalkanku dan aku pun mengiringi di belakang Beliau Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam. Beliau masuk rumah dan aku pun meminta izin dan diizinkan. Ketika Beliau Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam memasuki rumah, beliau mendapati susu dalam gelas besar (bejana). Beliau Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam bertanya, &#8220;Darimana susu ini?&#8221; Mereka (isteri-isteri Beliau Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam) Radhiallahu&#8217;anhu menjawab,&#8221;Hadiah dari fulan atau fulanah untuk engkau.&#8221; Beliaupun memanggilku,&#8221;Wahai, Abu Hirr.&#8221; Aku pun menjawabnya,&#8221;Kupenuhi panggilanmu, wahai Rasul.&#8221; Beliau bersabda,&#8221;Temuilah Ahlush Shuffah dan undanglah mereka kesini.&#8221; Kata Abu Hurairah, Ahlush Shuffah adalah tamu Islam. Mereka tidak bersandar kepada keluarga tertentu. Tidak memiliki harta dan famili seorang pun juga. Jika datang kepada Beliau Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam shadaqah, Beliau Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam kirimkan makanan tersebut kepada mereka dan sama sekali tidak ikut mencicipi makanan tersebut. Jika datang kepada Beliau Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam berupa hadiah (untuknya), maka Beliau Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam pun mengirimkannya kepada Ahlush Shuffah dan ikut bersama menikmatinya. Hal itu kurang berkenan bagiku, maka aku berkata (dalam hati),&#8221;Apakah susu ini cukup untuk Ahlush Suffah?! Menurutku, akulah yang berhak pertama kali meminum susu agar aku menjadi kuat dengannya. Maka ketika Beliau datang, Beliau memerintahku untuk membagikannya kepada mereka. Padahal, mungkin susu itu tidak akan sampai kepadaku. Namun, mentaati Allah dan RasulNya merupakan keharusan, maka akupun mendatangi dan mengundang mereka. Lalu mereka datang dan mohon izin masuk. Kemudian Beliau Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam pun mengizinkannya. Lalu mereka mengambil posisi masing-masing di tempat yang ada di rumah Beliau Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam. Beliau memanggilku,&#8221;Wahai, Abu Hirr.&#8221; Aku pun menjawabnya,</em><em> </em><em>&#8220;Kupenuhi panggilanmu, wahai Rasul &#8230;.&#8221; Beliau bersabda lagi,</em><em> </em><em>&#8220;Ambil dan bagikan kepada mereka.&#8221; Aku pun mengambil gelas dan memberikannya kepada salah seorang (diantara mereka); ia meminumnya hingga puas dan kenyang, lalu ia kembalikan gelas itu dan aku berikan kepada orang lain; lalu meminumnya sampai puas dan kenyang. Begitu seterusnya hingga berakhir kepada Nabi Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam dalam keadaan seluruh Ahlush Shufah kenyang. Lalu Beliau Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam mengambil gelas tadi dan meletakkannya di atas tangan Beliau Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam seraya memandangku sambil tersenyum dan bersabda, &#8220;Wahai, Abu Hirr. Duduk dan minumlah.&#8221; Akupun duduk dan meminumnya. Lalu Beliau Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam bersabda lagi,</em><em> </em><em>&#8220;Minumlah,&#8221; lalu aku minum. Beliau terus memerintahku minum, sehingga aku berkata,&#8221;Cukup. Demi yang mengutusmu dengan kebenaran, tidak lagi aku dapati tempat untuk minuman dalam tubuhku. Beliau bersabda,&#8221;Berikanlah kepadaku,&#8221; aku pun menyerahkan gelas tadi, kemudian Beliau Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam memuji Allah dan meminum susu yang tersisa</em><em>&#8220;</em><em>.</em><a name="_ftnref18"></a></p>
<p>Mereka berdalih dengan kisah ini untuk menguatkan pernyataan mereka terdahulu dalam mencela Abu Hurairah sebagai orang yang beramal untuk sesuap makanan, namun apakah karena kejadian tersebut, lalu kita tolak seluruh hadits beliau? Apalagi sampai menghina beliau sebagai orang yang punya hobi makan dan disebut sebagai pembawa hadits lesung.</p>
<p>Orang yang meneliti kehidupan para sahabat menemukan bahwa beliau dalam hal ini tidak sendirian. Ada diantara sahabat yang berbuat hal yang serupa, diantaranya Watsilah bin Al Asqaa&#8217; sebagaimana diriwayatkan Al Hakim dengan lafadz:</p>
<p><em>&#8220;Kami bertempat tinggal selama tiga hari. Setiap orang yang menuju masjid mengajak dua dan tiga orang sesuai dengan kemampuannya, dan memberi mereka makan&#8221;. Beliau berkata lagi,&#8221;Aku termasuk yang tidak dibawa selama tiga hari tiga malam. Tiba-tiba aku melihat Abu Bakar di kegelapan malam. Aku pun mendatanginya dan memintanya untuk membacakan surat Saba&#8217; hingga sampai di rumahnya. Aku berharap ia mengundangku makan malam. Lalu beliaupun membacakannya kepadaku hingga depan pintu rumah (beliau) kemudian berhenti  di depan pintu sampai selesai membacakan seluruhnya. Kemudian ia masuk dan meninggalkanku di luar. Kemudian aku menemui Umar. Aku berbuat seperti itu dan beliau (pun) berbuat serupa dengan perbuatan Abu Bakar terdahulu. Keesokan harinya, pagi-pagi aku menemui Rasul Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam dan menceritakan hal tersebut padanya, dan Beliaupun menjamuku.&#8221;</em> <a name="_ftnref19"></a></p>
<p>apakah kita menolak seluruh hadits Waatsilah karena peristiwa ini?</p>
<p>Sedangkan kisah beliau dengan Ja&#8217;far bin Abu Thalib dibawakan Imam Bukhari dengan lafadz:</p>
<p dir="rtl">?????? ???????? ?????????????? ???????? ???? ????? ??????? ?????????? ????? ????????????? ??? ????? ??? ???????? ?????? ???? ????? ?????????? ????????? ?????????? ?????? ?????? ?????? ?????????????? ?????????? ??? ??????</p>
<p><em>Sebaik-baik manusia terhadap orang miskin adalah Ja&#8217;far bin Abu Thalib. Dia terus mengunjungi kami dan memberi makan kami apa yang ada di rumahnya, sampai-sampai membawa tempat makanan tanpa berisi makanan. Kami pun memegangnya, lalu menjilati sisa yang ada di tempat makanan tersebut.</em><a name="_ftnref20"></a></p>
<p>Lihatlah perbedaan dan penukilan ngawur yang menjadi cirri khas ahli bid&#8217;ah dan musuh Islam!!!</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Syubhat 5</span></strong></p>
<p><strong>Mereka menyatakan: &#8220;Keperibadian Abu Hurairah lemah. Tatkala kembali dari Bahrain, Umar bin Kha</strong><strong>tha</strong><strong>b mencurigainya menggelapkan uang baitul mal. &#8216;Umar menuduhnya sebagai pencuri dan menyebutnya sebagai musuh Allah dan musuh kaum muslimin, dalam riwayat lain, musuh Kitab atau musuh Islam. </strong></p>
<p>Bantahan:</p>
<p>Pernyataan mereka ini berdasarkan riwayat yang disampaikan Ibnu Sa&#8217;ad dengan sanad yang shahih tentang kisah kepulangan Abu Hurairah dari tugasnya sebagai amir (gubernur) Bahrain. Beliau menghadap Umar bin Khathab dengan membawa uang sebanyak 400.000 dari Bahrain. Umar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> bertanya padanya: <em>&#8220;Apakah engkau menzhalimi seseorang?&#8221;</em> Ia menjawab,<em>&#8220;Tidak.&#8221;</em> Umar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> bertanya lagi,<em>&#8220;Apakah engkau mengambil sesuatu dengan tidak benar?&#8221;</em> Ia menjawab,<em>&#8220;Tidak.&#8221;</em> Umar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> bertanya lagi, <em>&#8220;Berapa banyak yang engkau bawa untuk pribadi?&#8221;</em> Ia menjawab, <em>&#8220;Sebanyak 20.000.&#8221;</em> Umar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> bertanya, <em>&#8220;Dari mana engkau mendapatkannya?&#8221;</em> Ia menjawab, <em>&#8220;Aku berdagang.&#8221;</em> Umar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> berkata, <em>&#8220;Hitunglah modal dan rizkimu (gajimu), maka ambillah. Sedang yang lainnya simpanlah diBaitul Mal.&#8221;</em><a name="_ftnref21"></a></p>
<p>Dan dalam lafazh Abu Ubaid, (disebutkan) Umar berkata padanya: <em>&#8220;Wahai, musuh Allah dan musuh KitabNya. Apakah engkau  mengambil (mencuri) harta?&#8221;</em> Ia menjawab, <em>&#8220;Aku bukan musuh Allah dan bukan musuh KitabNya. Akan tetapi aku adalah musuh bagi yang menentang keduanya dan aku tidak mencuri harta Allah.&#8221;</em> Umar bertanya kembali: <em>&#8220;Dari mana berkumpul untukmu uang sejumlah 10.000 dirham?&#8221;</em> Ia menjawab, <em>&#8220;Kudaku berkembang biak. Pemberian untukku selalu aku dapatkan. Begitu juga sahamku (bagianku dari pembagian rampasan perang),</em><em> juga berkembang dan bertambah.&#8221; </em>Lalu Umar mengambilnya dariku. Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> berkata, <em>&#8220;Ketika kutunaikan shalat Shubuh, aku mintakan ampunan untuk Amirul mukminin.&#8221;</em><a name="_ftnref22"></a></p>
<p>Kita lihat para musuh Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> mempergunakan perkataan keras Umar <em>Radhiallahu&#8217;anhu </em>ini untuk mencaci Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> dan menuduhnya mencuri dan merampas; padahal permasalahannya tidak demikian. Umar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> melakukan pengambilan sebagian harta tersebut terhadap sejumlah pejabatnya<a name="_ftnref23"></a> dan tidak mengkhususkan kepada Abu Hurairah dengan perlakuan semacam ini. Sebabnya, ketika Amr bin Ash Sha&#8217;iq melihat harta para pejabat semakin bertambah banyak, ia merasa aneh, lalu menulis surat kepada Umar bin Al Khaththab dalam bentuk bait-bait syi&#8217;ir.<a name="_ftnref24"></a> Lalu Umar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> pun mengirim utusan kepada para petugas. Diantara mereka adalah Sa&#8217;ad <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>, dan Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>, lalu ia mengambil harta mereka menjadi setengah bagian<a name="_ftnref25"></a>. Begitu juga ia memutasi Abu Musa Al Asy&#8217;ari dari tugas di Bashrah, dan hartanya dibagi menjadi dua bagian. Demikian juga pada Al Haarits bin Wahb.<a name="_ftnref26"></a></p>
<p>Umar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> tidaklah menuduh Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>, dan tidak juga hanya mengambil harta miliknya saja. Bahkan itulah sistem politik Umar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> terhadap para pejabatnya; bukan atas dasar <em>syubhat</em>, namun itu merupakan ijtihad dan kehebatan beliau dalam me-<em>manage</em> perkara-perkara kaum muslimin.<a name="_ftnref27"></a> Sungguh Umar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> sangat mencintai sahabat, sebagaimana ia mencintai dirinya. Dan beliau sangat tidak suka, bila salah seorang dari mereka mendapatkan harta yang berbau <em>syubhat</em>. Berita perbuatan beliau ini banyak diriwayatkan dalam perjalanan hidupnya.<a name="_ftnref28"></a></p>
<p>Khalifah Umar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> khawatir atas mereka. Jangan-jangan orang <em>bermu&#8217;amalah</em> dalam perdagangan dan usaha dengan mereka karena jabatan yang disandangnya. Karenanya beliau mengambil sebagian dari harta mereka dan meletakkannya di Baitul Mal agar terlepas tanggungjawabnya di hadapan Allah <em>Ta&#8217;ala</em>. Kemudian ia pun memberikannya kepada mereka setelah pengambilan tersebut dari harta Baitul Mal sesuai jumlah yang layak. Dengan demikian menjadi halallah bagi mereka tanpa ada <em>syubhat</em>.<a name="_ftnref29"></a></p>
<p>Para penuduh tersebut hanya memandang dan menukil riwayat ini sesuai dengan keinginannya, lalu menjadikanya sebagai senjata untuk menyerang sahabat Abu Hurairah dan menuduhnya berkepribadian lemah, tanpa menyebutkan riwayat secara lengkap. Padahal dalam riwayat tersebut terdapat bantahan Abu Hurairah Radhiallahu&#8217;anhu terhadap Umar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>, ketika Umar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> berkata padanya<em>&#8220;Wahai, musuh Allah dan musuh kitabNya. Apakah engkau telah mencuri harta Allah?&#8221;</em>, Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> menjawab,<em>&#8220;Aku bukan musuh Allah dan bukan musuh KitabNya. Akan tetapi aku adalah musuh bagi yang menentang keduanya.&#8221; </em></p>
<p>Dengan demikian jelaslah Umar tidak mencurigai dan menuduh Abu Hurairah mencuri. Hal ini dibuktikan dengan keinginan beliau mengangkat kembali Abu Hurairah untuk kedua kalinya. Sebagaiman diriwayatkan Abu Ubaid setelah riwayat diatas dengan bunyi: &#8220;Kemudian, setelah itu Umar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> berkata kepadaku: <em>&#8220;Bukankah engkau mau bertugas kembali?&#8221;</em> Aku menjawabnya: <em>&#8220;Tidak&#8221;.</em> Ia berkata: <em>&#8220;Mengapa,</em> (tidak mau)<em> padahal telah bertugas orang yang lebih baik darimu, yakni Yusuf&#8221;</em>. Akupun menimpalinya,<em>&#8220;Sesungguhnya Yusuf seorang </em><em>N</em><em>abi dan anak seorang N</em><em>abi pula. Sedangkan aku adalah anak Umaimah, dan aku takut tiga dan dua&#8221;</em>. Umar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> berkata, <em>&#8220;Kenapa engkau tidak berkata lima?&#8221;</em> Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> menjawab, <em>&#8220;Aku takut berbicara tanpa dasar ilmu dan memutuskan tanpa hilm (sabar dan hati-hati).&#8221; </em>Atau ia berkata: <em>&#8220;Aku berkata</em> <em>tanpa hilm (sabar dan hati-hati), dan aku memutuskan perkara tanpa dasar ilmu&#8221;.</em></p>
<p>Seorang perawi (dari Ibnu Sirin) berkata: <em>&#8220;Keraguan ini berasal dari Ibnu Sirin&#8221;.</em> (Lalu Abu Hurairah berkata lagi),<em>&#8220;Dan aku takut akan dipukul punggungku dan dicela kehormatanku dan diambil hartaku dengan paksa.&#8221;</em><a name="_ftnref30"></a><em></em></p>
<p>Seandainya Umar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> telah mengetahui Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> pernah berkhianat, niscaya tidak akan memakainya sama sekali dan tidak akan memanggilnya untuk kedua kalinya. Seandainya Khalifah Umar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> meragukan sifat amanah Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> sedikit saja, tentu beliau akan menghakimi dan menghukumnya dengan hukuman <em>syar&#8217;i</em>. Akan tetapi, beliau telah mengetahui sifat amanah dan keikhlasannya, maka beliaupun kembali menemui Abu Hurairah meminta menjadi pejabat beliau<a name="_ftnref31"></a>.</p>
<p>[Bersambung..]</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid</a></p>
<hr size="1" /><a name="_ftn1"></a> Semua tuduhan dan kecaman dalam pembahasan ini diambil dengan huruf per huruf dari buku &#8220;<em>Saqifah, Awal Perselisihan Umat</em>&#8221; karya seorang syiah dari Lampung yang bernama O. Hashem, cetakan ketiga tahun 1415 H -1994 M, terbitan penerbit Al Muntazhar, Jakarta barat. Buku ini sebenarnya hanya menukil tuduhan dan kecaman para pendahulunya dari kalangan orang syiah dan musuh-musuh Islam. <strong>Maka hendaklah kaum muslimin berhati-hati terhadap buku ini karena berisi kebohongan dan kelicikan dalam mengolah kata sehingga dapat mengelabuhi kaum muslimin yang tidak memiliki dasar pengetahuan islam yang baik. </strong></p>
<p>Kemudian jawabannya kami ambilkan dari kitab <em>Difa&#8217;un &#8216;An Abi Hurairah karya Abdul Mun&#8217;im Shalih Al &#8216;Ali Al &#8216;Izzi</em>, tanpa tahun, Dar Al Syuruq, Bairut<em>,  As Sunnah Qabla Al Tadwin</em> karya Dr. Muhammad &#8216;Ajaaj Al Khathib, cetakan kelima tahun 1401 H, Dar El Fikar, Bairut, dan kitab-kitab hadits serta beberapa referinsi lainnya.<strong></strong></p>
<p><a name="_ftn2"></a> Kami gunakan kata &#8216;<strong>mereka</strong>&#8216; disini karena tuduhan ini juga dilontarkan orang lain, baik di Indonesia atau di negara lain agar lebih bersifat umum. Karena penulis buku Saqifah hanya mengekor dan menukil dari orang lain, diantaranya Abu Rayah (dimesir) atau orang-orang syi&#8217;ah lainnya.</p>
<p><a name="_ftn3"></a> <em>Saqifah</em>, op.cit hlm 12</p>
<p><a name="_ftn4"></a> ibid hlm 20.</p>
<p><a name="_ftn5"></a> Dikutip dari kitab <em>Difa&#8217;un &#8216;An Abu Hurairah</em> dari pernyataan Al Ustadz Al Khathib dalam kitab <em>Abu Hurairah Rawiyatul ISlam,</em> halaman 213.<em></em></p>
<p><a name="_ftn6"></a> Dikutip dari pernyataan Dr. As Siba&#8217;i dalam <em>Sunnah Wa Makanatuha,</em> halaman 307.<em></em></p>
<p><a name="_ftn7"></a> Saqifah op.cit hlm 11</p>
<p><a name="_ftn8"></a><em> Siar A&#8217;lami An Nubala,</em> karya Al Dzahabiy, Tahqiq Syu&#8217;aib Al Arnauth, Maktabah Al Risalah, Bairut hlm II/426.</p>
<p><a name="_ftn9"></a> <em>Musnad Ahmad,no. 16793</em>; <em>Abu Dawud</em>, dalam Sunannya, kitab Al Thoharoh, Bab Al Nahyu &#8216;an Dzalika no 73 hlm I/19; <em>Al Nasa&#8217;i</em>, dalam sunannya kitan Al Ziinaah bab Al Akhdzi &#8216;An Al Syaarib no. 4968 hlm I/130 dengan <em>sanad-sanad</em> yang <em>shahih</em>.</p>
<p><a name="_ftn10"></a> Lihat Riwayat-riwayat tersebut dalam kitab Difa&#8217; &#8216;An Abi Hurairoh karya Abdul Mun&#8217;im Al&#8217;Izzi. Hlm 25-26.</p>
<p><a name="_ftn11"></a> Saqifah op.cit 12</p>
<p><a name="_ftn12"></a> ibid hlm 14.</p>
<p><a name="_ftn13"></a> <em>Al Bukhari</em>,dalam Shahihnya, kitab <em>Al Buyu&#8217; Bab Ma Ja&#8217;a Fi Qaulihi Ta&#8217;ala Faidza Qadhaita Al Sholat</em> no. 1906 &#8211; III/135. dan Ahmad bin Hambal dalam <em>Musnad Ahmad</em> hadits no. 7273</p>
<p><a name="_ftn14"></a> <em>Fathul Bari,</em> karya Ibnu Hajar, tanpa tahun, Maktabah Al Salafiyah, hlm V/28.</p>
<p><a name="_ftn15"></a> <em>Fathul Bari,</em> op.cit IV/288.</p>
<p><a name="_ftn16"></a> Dari pernyataan <em>Al Mualimi rahimahullah</em> dalam <em>Al Anwaar Al Kaasyifah,</em> halaman 147.</p>
<p><a name="_ftn17"></a> Syarh An Nawawi terhadap<em> Shahih Muslim, </em>tashhih Syeikh Kholil Ma&#8217;muun Syeihaa, cetakan ketiga tahun 1317 H, Dar Al Ma&#8217;rifah, Baerut hlm XV/270.</p>
<p><a name="_ftn18"></a> <em>Shahih Al Bukhari</em>,dalam Shahihnya kitab Al Riqaaq, Bab <em>Kaifa &#8216;Isy Rasululloh wa Ashhabihi Wa Takhallihim min Al Dunya</em> no. 5971 hlm VIII/120.</p>
<p><a name="_ftn19"></a> Dinukil dari <em>Difaun &#8216;An Abi Hurairoh</em>, op.cit hlm 45-46 dari <em>Al Mustadrak</em>, IV/116.</p>
<p><a name="_ftn20"></a> <em> Al Bukhari</em>, dalam Shahihnya kitab <em>Al Ath&#8217;imah</em>, Bab <em>Al Halwa wa Al Asl</em>, no. 5431 hlm IX/557.</p>
<p><a name="_ftn21"></a> <em>Thabaqaat Ibnu Sa&#8217;ad</em>, IV/336 dengan <em>sanad</em> yang <em>shahih.</em></p>
<p><a name="_ftn22"></a> <em>Al Amwaal</em>, oleh Abu Ubaid, halaman 269.</p>
<p><a name="_ftn23"></a> <em>Al Bidayah Wan Nihayah</em>, VlIII/13.</p>
<p><a name="_ftn24"></a> <em>Al Amwaal</em>, oleh Abu Ubaid, halaman 269. Muhammad &#8216;Ajaj Al Khathib menyebutkan di hlm. 225 dari <em>Thabaqat Ibnu Sa&#8217;ad,</em> 105/J.3/Q.2. pembagian Sa&#8217;ad.</p>
<p><a name="_ftn25"></a> <em>Al Amwaal</em>, oleh Abu Ubaid, halaman 269; dinukil dari Difa&#8217; &#8216;An Abi Hurairoh op.cit hlm 141 dan menyatakan bahwa Muhammad &#8216;Ajaj Al Khathib menyebutkan di halaman 225 dari <em>Tahabaqat lbnu Sa</em>&#8216;<em>ad</em>, 105/J.3/Q.2.</p>
<p><a name="_ftn26"></a> Difa&#8217; &#8216;An Abi Hurairoh op.cit hlm 140 dan menyatakan bahwa Muhammad &#8216;Ajaj mengisyaratkan di halaman 225, bahwa Ibnu Abdi Rabbih menyebutkan berita keduanya dalam <em>Al Aqdu Al Farid</em>, I/33.</p>
<p><a name="_ftn27"></a> <em>Abu Hurairah Rawiyatul Islam</em>, halaman 225; <em>As Sunnah Qabla At Tadwin</em>, halaman 438.</p>
<p><a name="_ftn28"></a> <em>Al Anwaar Al Kasyifah</em>, karya Abdurrahman Al Mu&#8217;allimiy halaman 213.</p>
<p><a name="_ftn29"></a> <em>ibid</em></p>
<p><a name="_ftn30"></a> <em>Al Amwaal</em>, oleh Ibnu Ubaid, halaman 269 dengan <em>sanad</em> yang <em>shahih</em> dari jalan Yazid bin Ibrahim At Tasatuni dari lbnu Sirin, dan kisah itu sendiri dalam <em>Al Mustadrak</em>, 11/ 347 dan <em>Uyunu Al Atsaar</em>, I/53. diambil dari AL Difa&#8217; &#8216;An Abu Hurairoh op.cit hlm 142.</p>
<p><a name="_ftn31"></a> <em>As Sunnah Qabla At Tadwin</em>, halaman 438.</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/manhaj/menjawab-syubhat-tentang-abu-hurairah-radhiallahu’anhu/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/menjawab-syubhat-tentang-abu-hurairah-radhiallahu%e2%80%99anhu/&amp;title=Menjawab+Syubhat+Tentang+Abu+Hurairah+Radhiallahu%E2%80%99anhu+%281%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/manhaj/menjawab-syubhat-tentang-abu-hurairah-radhiallahu%e2%80%99anhu/&amp;title=Menjawab+Syubhat+Tentang+Abu+Hurairah+Radhiallahu%E2%80%99anhu+%281%29" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/manhaj/menjawab-syubhat-tentang-abu-hurairah-radhiallahu%e2%80%99anhu/&amp;t=Menjawab+Syubhat+Tentang+Abu+Hurairah+Radhiallahu%E2%80%99anhu+%281%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/menjawab-syubhat-tentang-abu-hurairah-radhiallahu%e2%80%99anhu/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Menjawab+Syubhat+Tentang+Abu+Hurairah+Radhiallahu%E2%80%99anhu+%281%29+-+http://ustadzkholid.com/manhaj/menjawab-syubhat-tentang-abu-hurairah-radhiallahu%e2%80%99anhu/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/menjawab-syubhat-tentang-abu-hurairah-radhiallahu%e2%80%99anhu/&amp;title=Menjawab+Syubhat+Tentang+Abu+Hurairah+Radhiallahu%E2%80%99anhu+%281%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/menjawab-syubhat-tentang-abu-hurairah-radhiallahu%e2%80%99anhu/&amp;title=Menjawab+Syubhat+Tentang+Abu+Hurairah+Radhiallahu%E2%80%99anhu+%281%29" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Menjawab+Syubhat+Tentang+Abu+Hurairah+Radhiallahu%E2%80%99anhu+%281%29+-+File: /data/app/webapp/functions.php<br />Line: 7<br />Message: Too many connections&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Menjawab+Syubhat+Tentang+Abu+Hurairah+Radhiallahu%E2%80%99anhu+%281%29&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/manhaj/menjawab-syubhat-tentang-abu-hurairah-radhiallahu%e2%80%99anhu/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Abu%20Hurairah%20-Radhiallahu%27anhu-%20dituduh%20orang%20yang%20mengikuti%20Rasulullah%20Shallallahu%27alaihi%20Wasallam%20hanya%20untuk%20mencari%20makan%2C%20dituduh%20pembohong%20Islam%2C%20dan%20diragukan%20periwayatan%20haditsnya.%20Simak%20%20artikel%20yang%20menghempas%20tuduhan%20itu%20semua." rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/manhaj/menjawab-syubhat-tentang-abu-hurairah-radhiallahu%e2%80%99anhu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

