<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>UstadzKholid &#187; Ibadah</title>
	<atom:link href="http://ustadzkholid.com/category/ibadah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzkholid.com</link>
	<description>Meniti Sunnah Menggapai Ukhuwah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 13 Jul 2010 04:59:03 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Fiqih Ibadah Haji (1)</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 13:39:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<category><![CDATA[Ihram]]></category>
		<category><![CDATA[Miqat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1358</guid>
		<description><![CDATA[Rincian tata cara pelaksanaan ibadah haji]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sungguh Allah <em>Ta&#8217;ala</em> tidaklah menciptakan manusia dan jin kecuali hanya untuk menyembah-Nya semata, sebagaimana firman-Nya:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">??? ???? ???? ? ????? ??? ???????</p>
<p>&#8220;<em>Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. </em><em>(</em>QS. Adz dzariyat:56)</p>
<p>kemudian untuk merealisasikan penyembahan tersebut dibutuhkan suatu media yang dapat menjelaskan makna dan hakikat penyembahan yang dikehendaki Allah <em>Ta&#8217;ala</em>, maka dengan hikmah-Nya yang agung Dia mengutus para Rasul dalam rangka membawa dan menyampaikan risalah dan syariat-Nya kepada jin dan manusia. Dan risalah tersebut merupakan petunjuk yang jelas dan hujjah atas para hamba-Nya. Dan diantara kesempurnaan Islam Allah yang Maha Bijaksana menetapkan ibadah Haji ke Baitullah Al Haram sebagai salah satu dari syiar-syiar Islam yang agung. Bahkan ibadah haji merupakan rukun yang kelima dari rukun-rukun Islam dan merupakan salah satu sarana dan media bagi kaum muslimin untuk bersatu, meningkatkan ketaqwaan dan meraih surga yang telah dijanjikan untuk orang-orang yang bertaqwa.Oleh karena itu Islam dengan kesempurnaan syari&#8217;atnya telah menetapkan suatu tatacara atau metode yang lengkap dan terperinci sehingga tidak perlu adanya penambahan dan pengurangan dalam pelaksanaan ibadah ini. Dan sebagai seorang muslim yang baik tentunya akan berusaha dan bersemangat untuk mempelajarinya kemudian mengamalkannya setelah Allah memberikan pertolongan, kemudahan dan kemampuan baginya untuk menunaikan ibadah yang mulia ini.</p>
<p>Dari sinilah penulis berusaha untuk memberikan apa yang Allah <em>Ta&#8217;ala</em> karuniakan dari hal-hal yang berhubungan dengan ibadah yang mulia ini, sebuah ibadah yang selalu diharap-harap dan dicita-citakan kaum muslimin yang berpegang teguh dengan agamanya, mudah-mudahan hal ini bermanfaat bagi semua pihak dan dapat pula memperbaiki kesalahan-kesalahan yang banyak dilakukan sebagian para jama&#8217;ah haji serta dapat dijadikan sebagai petunjuk bagi mereka yang akan menunaikannya dan mudah-mudahan Allah <em>Ta&#8217;ala</em> menjadikan amalam yang kecil ini sebagai bekal bagi penulis ketika menghadap Rabb-Nya di hari yang tidak ada pertolongan dan belas kasihan kecuali dari-Nya yang Maha Kuasa lagi Maha Adil dan Maha Bijaksana.<span id="more-1358"></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>1. Definisi Haji</strong></p>
<p>a. Secara Etimologi</p>
<p>Kata haji berasal dari bahasa arab yang bermakna tujuan dan dapat dibaca dengan dua lafazh <em>Al-hajj</em> dan <em>Al-Hijj</em> <a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>b. Secara terminologi syariat</p>
<p>Haji menurut istilah syar&#8217;i adalah beribadah kepada Allah dengan melaksanakan manasik yang telah ditetapkan dalam sunnah Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> <a href="#_ftn2">[2]</a> dan ada pula ulama yang berpendapat: &#8220;Haji adalah bepergian dengan tujuan ke tempat tertentu pada waktu yang tertentu untuk melaksanakan suatu amalan yang tertentu pula<a href="#_ftn3">[3]</a>. Akan tetapi definisi ini kurang pas karena haji lebih khusus dari apa yang didefinisikan di sini, karena seharusnya ditambah dengan satu ikatan yaitu ibadah, maka apa yang ada pada definisi pertama lebih sempurna dan menyeluruh.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>2. Dalil Pensyari&#8217;atannya</strong></p>
<p>Haji merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima dan dia merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan bagi seorang muslim yang mampu, sebagaimana telah digariskan dan ditetapkan dalam Al-Qur&#8217;an, As-Sunnah dan Ijma&#8217;.</p>
<p>Adapun dalil dari Al-Qur&#8217;an:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">???? ??? ????? ?? ????? ?? ?????? ???? ?????? ??? ??? ??? ???? ??? ?? ?????????</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>&#8220;</em><em>M</em><em>engerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam&#8221;</em>. (QS. Ali Imran, 97)</p>
<p>dan firman Allah <em>Ta&#8217;ala</em></p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">?????? ???? ???????  ??? ??? ?????? ??? ?????? ?? ????? ??? ?????? ?????? ??? ???? ????? ???? ??? ??? ???? ?????? ?? ?? ???? ?? ???? ????? ?? ???? ?? ???? ?? ??? ???? ????? ??? ???? ??????? ??? ???? ??? ?????? ?? ????? ??? ?? ??? ????? ????? ???? ?? ???? ????? ??? ????? ??? ???? ????? ??? ??? ?? ??? ???? ????? ?????? ?????? ?????? ???? ??????? ?? ???? ???? ??????</p>
<p><em>&#8220;Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) kurban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu sebelum kurban sampai ke tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu dia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu berpuasa, atau bersedekah, atau berkurban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan umrah sebelum haji (di dalam bulan Haji), (wajiblah dia menyembelih) kurban yang mudah didapat. Tetapi jika dia tidak menemukan (binatang kurban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekkah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketauhilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.&#8221;</em> (QS. Al-Baqarah,196)</p>
<p>Dalil dari As-Sunnah:</p>
<p>Hadits yang diriwayatkan Muslim dari Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">????? ???? ????  ???? ?????? ????? ?? ??? ???? ????? ???? ?????</p>
<p><em>&#8220;Telah berkhutbah Rasulullah </em><em><em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em></em><em> kepada kami dan berkata: &#8220;Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya Allah </em><em><em>Ta&#8217;ala</em></em><em> telah mewajibkan atas kalian untuk berhaji, maka berhajilah kalian.&#8221;</em><em> </em>(HR. Muslim)</p>
<p>Dan hadits Ibnu Umar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">??? ??????? ??? ??? ????? ?? ?? ??? ??? ???? ??? ?????? ???? ???? ????? ?????? ?????? ?????? ??? ????? ???? ?????</p>
<p><em>&#8220;Islam itu didrikan atas lima perkara yaitu persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah (dengan benar) kecuali Allah dan bersaksi bahwa Muhammad </em><em><em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em></em><em> adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat,berhaji ke baitullah dan puasa di bulan ramadhan.&#8221;</em> (H.R. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Dalil ijma&#8217; (konsesus) para Ulama&#8217;</p>
<p>Para ulama dan kaum muslimin dari zaman Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> sampai sekarang telah bersepakat bahwa ibadah haji itu hukumnya wajib.<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>3. Syarat-syarat haji</strong></p>
<p>Haji diwajibkan atas manusia dengan lima syarat:</p>
<p>1. Islam</p>
<p>2. Berakal</p>
<p>3. Baligh</p>
<p>4. Memiliki kemampuan perbekalan dan kendaraan</p>
<p>5. Merdeka</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>4. Miqat-miqat untuk haji</strong></p>
<p><em>Miqat</em> adalah apa yang telah ditentukan dan ditetapkan oleh syari&#8217;at untuk suatu ibadah baik tempat atau waktu.<a href="#_ftn5">[5]</a> Dan haji memiliki dua <em>miqat</em> yaitu miqat <em>zamani</em> dan <em>makani</em>. Adapun <em>miqat</em> <em>zamani</em> dimulai dari malam pertama bulan syawal menurut kosensus para ulama, akan tetapi para ulama berbeda pendapat tentang kapan berakhirnya bulan haji. Perbedaan ini terbagi menjadi tiga pendapat yang masyhur yaitu:</p>
<p>1.Syawal, Dzul Qa&#8217;dah, dan 10 hari dari Dzul Hijjah dan ini merupakan pendapat Ibnu Abbas, Ibnu Mas&#8217;ud, Ibnu Umar, dan Ibnu Zubair dan ini yang dipilih madzhab hanbali.</p>
<p>2.Syawal, Dzul Qa&#8217;dah, dan 9 hari dari Dzul Hijjah dan ini yang dipilih madzhab Syafi&#8217;i.</p>
<p>3.Syawal, Dzul Qa&#8217;dah, dan Dzul Hijjah ini yang dipilih madzhab malikiyah</p>
<p>Dan yang rajih -<em>wallahu’alam</em>- bahwa bulan Dzul Hijjah seluruhnya termasuk bulan haji dengan dalil firman Allah <em>Ta&#8217;ala</em>:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">???? ???? ??????? ??? ??? ???? ???? ??? ??? ??? ???? ??? ???? ?? ???? …… ?????</p>
<p><em>&#8220;(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat kefasikan, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.&#8221; </em>(QS Al-Baqarah, 197)</p>
<p>dan firman Allah <em>Ta&#8217;ala</em> :</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">????? ?? ???? ?????? ??? ????? ??? ???? ?????? ?? ???? ???? ?? ????????</p>
<p><em>&#8220;Dan (inilah) suatu pemakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada manusia pada hari haji akbar, bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyirikin.&#8221; </em>(QS At-Taubah 9:3)</p>
<p>Dalam surat Al-Baqarah ini Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman (????) dan bukan dua bulan sepuluh hari atau dua bulan sembilan hari. padahal (????) jamak dari (???) dan hal itu menunjukkan paling sedikit tiga bulan dan pada asalnya kata (???) masuk padanya satu bulan penuh dan tidak dirubah asal ini kecuali dengan dalil syar&#8217;i <a href="#_ftn6">[6]</a> maka tidak boleh berhaji sebelum bulan syawal dan tidak boleh mengakhirkan suatu amalan haji setelah bulan Dzulhijjah.</p>
<p>Sebagai contoh seorang yang berhaji pada bulan Ramadhan maka ihramnya tersebut tidak dianggap sah untuk haji akan tetapi berubah menjadi ihram untuk Umrah.</p>
<p>Adapun miqat makani, maka berbeda-beda tempatnya disesuaikan dengan negeri dan kota yang akan menjadi tempat awal para haji untuk melakukan ibadah hajinya. Hal ini telah dijelaskan oleh Rasullulah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">??? ???? ???? <em> </em> ???? ??????? ?? ??????? ????? ????? ?????? ????? ????? ??? ????? ????? ????? ??? ?? ??? ??? ??? ????? ?? ??? ????? ??? ??? ???? ???? ? ?????? ??? ??? ????? ???? ?? ???? ????? ??? ??? ????? ????</p>
<p><em>&#8220;Rasulullah </em><em><em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em></em><em> telah menentukan miqat bagi ahli Madinah <strong>Dzul Hulaifah</strong> </em><a href="#_ftn7"><em>*</em></a><em> dan bagi ahli Syam <strong>Al-Juhfah</strong> dan bagi ahli Najd <strong>Qarn</strong> dan bagi ahli Yamam <strong>Yalamlam</strong> lalu bersabda: &#8220;mereka (miqat-miqat) tersebut adalah untuk mereka dan untuk orang-orang yang mendatangi mereka selain penduduknya bagi orang yang ingin haji dan umrah. Dan orang yang bertempat tinggal sebelum miqat-miqat tersebut, maka tempat mereka dari ahlinya, dan demikian pula dari penduduk Makkah berhaji (ihlal) dari tempatnya Makkah.&#8221;</em> (H.R Bukhari 2/165, 166; dan 3/21, Muslim 2/838-839, Abu Dawud 1/403, Nasa&#8217;i 5/94,95,96)</p>
<p>Dari hadits diatas Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> telah menerangkan bahwa miqat ahli Madinah adalah <strong><em>Dzul Hulaifah</em></strong> yang dikenal sekarang dengan nama <span style="text-decoration: underline;">Abyar Ali</span> yaitu sebuah tempat di <span style="text-decoration: underline;">Wadi Aqiq</span> yang berjarak enam mil atau 5<sup>2</sup>/<sub>3</sub> mil kurang seratus hasta<a href="#_ftn8">[7]</a> yang setara kurang lebih 11 km. dari Madinah. Dan dari makkah sejauh sepuluh marhalah atau kurang lebih 430 Km dan sebagian ulama mengatakan 435 Km. Dan <em>miqat</em> penduduk Syam adalah <strong><em>al-Juhfah</em></strong> yaitu suatu tempat yang sejajar dengan <strong><em>Raabigh</em></strong> dan dia berada dekat laut, jarak antara <strong><em>Raabigh </em></strong>(tempat yang sejajar dengannya) dengan makkah adalah lima marhalah atau sekitar 201 Km, dan berkata sebagian ulama sekitar 180 km. Akan tetapi karena banyaknya wabah di <strong><em>al-Juhfah</em></strong>, maka para jamaah haji dari Syam mengambil <strong><em>Raabigh </em></strong>sebagai ganti al-Juhfah. <em>Miqat</em> ini juga sebagai <em>miqat</em> penduduk Mesir, Maghrib, dan Afrika Selatan seperti Somalia jika datang melalui jalur laut atau darat dan berlabuh di<strong><em> Raabigh, </em></strong>akan tetapi kalau mereka datang melalui <strong><em>Yalamlam</em></strong> maka miqat mereka adalah miqat ahli Yaman yaitu <strong><em>Yalamlam</em></strong>. <strong><em>Yalamlam</em></strong> yang dikenal sekarang dengan daerah As Sa&#8217;diyah adalah bukit yang memisahkan <span style="text-decoration: underline;">Tuhamah</span> dengan <span style="text-decoration: underline;">As-Saahil</span>, berjarak dua marhalah atau sekitar 80 km dari Makkah, dan berkata sebagian ulama sekitar 92 km.</p>
<p>Demikian pula miqat penduduk Najd adalah<strong><em> Qarnul Manazil</em></strong> atau <strong><em>Qarnul Tsa&#8217;alib</em></strong>, yaitu sebuah bukit yang ada di antara Najd dan Hijaz. Jaraknya dari makkah dua marhalah atau sekitar 80 Km. dan berkata sebagian ulama sekitar 75 Km<a href="#_ftn9">*</a> demikian juga ahli Thaif dan Tuhamah Najd serta sekitarnya.<a href="#_ftn10">[8]</a> Kemudian ada satu miqat lagi yaitu <strong><em>Dzatu &#8216;Irq</em></strong> yaitu tempat yang sejajar denagn <strong><em>Qarnul Manazil</em></strong> yang terletak antara desa <span style="text-decoration: underline;">al-Mudhiq</span> dan <span style="text-decoration: underline;">Aqiq Ath-Thaif</span>, jaraknya dari Makkah dua marhalah atau sekitar 80 km. Dan miqat ini juga untuk penduduk Iraq. Akan tetapi terjadi perselisihan dari para ulama tetang penetapan <span style="text-decoration: underline;">Dzatul &#8216;Irq</span> sebagai miqat, apakah didasarkan dari perintah Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> atau dari perintah Umar bin Khaththab <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>?</p>
<p>a. Pendapat pertama menyatakan bahwa Nabilah yang menetapkannya sebagaimana dalan hadits Abu Dawud dan An-Nasa&#8217;i dari &#8216;Aisyah beliau berkata:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">?? ???? ???? ??? ???? ?????? ??? ?????</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya Rasulullah </em><em><em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em></em><em> telah menentukan miqat ahli &#8216;Iraq adalah Dzatul &#8216;irq&#8221;</em> (H.R Abu Dawud no. 1739 dan an-Nasa&#8217;i 2/6)<a href="#_ftn11">[9]</a></p>
<p>b. Pendapat kedua mengatakan bahwa Umar bin Khaththab <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> yang menetapkannya. Sebagaimana dalam Shahih Bukhari ketika penduduk Bashrah dan Kufah mengadu kepada Umar tentang jauhnya mereka dari Qarnul Manazil, bekata Umar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">??????? ????? ?? ??????</p>
<p><em>&#8220;Lihatlah tempat yang sejajar dengannya (Qarnul Mnazil) dari jalan kalian.&#8221;</em> Lalu Umar menetapkan Dzatul &#8216;Irq (H.R Bukhary 1/388) dan ini adalah pendapat Imam Syafi&#8217;i.</p>
<p>Yang rajih –<em>wallahu’alam</em>- bahwa miqat tersebut telah ditetapkan oleh Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dan penetapan Umar tersebut bersesuian dengan apa yang telah ditetapkan Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>, dan ini adalah pendapatnya Ibnu Qudamah.</p>
<p>Miqat-miqat diatas diperuntukkan bagi ahli tempat-tempat tersebut dan orang-orang yang lewat melaluinya dari selain ahlinya, sehingga setiap orang yang melewati miqat yang bukan miqatnya maka wajib baginya untuk berihram darinya. Misalnya: orang Indonesia yang melewati Madinah dan tinggal disana satu atau dua hari kemudian berangkat umrah atau haji maka wajib baginya untuk berihram dari <strong><em>Dzul Hulaifah</em></strong> atau ahli Najd atau ahli Yaman yang melewati Madinah tidak perlu pergi ke <strong><em>Qarnul Manazil</em></strong> atau <strong><em>Yalamlam </em></strong>akan tetapi diberi kemudahan oleh Allah <em>Ta&#8217;ala</em> untuk berihram dari<strong><em> Dzul Hulaifah.</em></strong>kecuali ahli Syam yang melewati madinah dan <strong><em>Al-Juhfah</em></strong>, maka ada perselisihan para ulama tentang kebolehan mereka menunda ihramnya sampai ke <strong><em>Al-Juhfah</em></strong>,</p>
<p>a. pendapat pertama membolehkan bagi mereka untuk mengakhirkan ihram mereka sampai <strong><em>Al-Juhfah</em></strong>, dan ini merupakan pendapat Abu Hanifah dan Imam Malik. Mereka berdalil bahwa seorang yang melewati dua miqat wajib baginya berihram dari salah satu dari keduanya. Satu dari keduanya adalah cabang, yaitu <strong><em>Dzul Hulaifah,</em></strong> dan yang kedua adalah asal, yaitu <strong><em>Al-Juhfah</em></strong> ,maka boleh mendahulukan asal dari cabangnya. dan pendapat ini yang dirajihkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sebagaimana dinukilkan Al-Ba&#8217;ly dalam <em>Ikhtiyarat al-Fiqhiyah</em> halaman 117.</p>
<p>b. Pendapat yang kedua mengatakan bahwa mereka wajib berihram dari <strong><em>Dzul Hulaifah</em></strong> karena zhahir hadits dari Ibnu Abbas diatas, dan ini adalah pendapat Jumhur Ulama. Dan ini adalah pendapat yang lebih hati-hati kerena keumuman sabda Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em></p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">???? ??? ????? ?? ??? ?????</p>
<p><em>&#8220;Dan bagi yang datang melaluinya dari selain ahlinya&#8221;</em> (Hadits Ibnu Abbas).</p>
<p>Adapun mereka yang berada di antara miqat dengan makkah maka wajib berihram dari tempat dia tetapkan niatnya untuk berhaji atau berumrah. Maka hal ini menguatkan penduduk yang berada di antara Dzul Hulaifah dan Al-Juhfah seperti penduduk ar-Rauha&#8217;, penduduk Badr dan Abyar al-Maasy untuk berihram dari tempat mereka. Demikian juga kalau ada seorang penduduk madinah kemudian bepergian ke Jeddah dan tinggal di sana satu atau dua hari kemudian ingin berumrah atau berhaji maka miqatnya adalah Jeddah kecuali kalau asal tujuan bepergiannya adalah umrah atau haji maka hajatnya tersebut ikut asal tujuannya sehingga dia ihram dari miqatnya yaitu Dzul Hulaifah. contohnya: Seorang mengatakan saya ingin pergi umrah dan saya akan turun dulu di Jeddah sebelum umrah untuk membeli barang-barang yang saya butuhkan, maka disini kepergiannya ke Jeddah adalah ikut kepada asal tujuannya yaitu umrah. Akan tetapi kalau asal tujuannya adalah pergi ke Jeddah dikarenakan ada kebutuhan yang sangat penting kemudian berkata: &#8220;Kalau dikendaki Alah dan saya mempunyai kesempatan, saya akan berumrah, maka disini umrah ikut kepada asal tujuan yaitu ke Jeddah. Maka dia berihram di Jeddah dan jika dia memilliki dua tujuan yang sama kuat maka diambil tujuan melaksanakan umrah sebagai asal. Demikian juga bagi ahli Makkah, mereka berihram dari Makkah untuk berhaji. Sedangkan untuk umrah, maka mereka harus keluar tanah haram Makkah yang paling dekat. Dengan dalil hadits Ibnu Abbas yang terdahulu dan hadits Aisyah ketika beliau berumrah setelah haji maka Rasululllah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> menyuruh Abdurrahman bin Abi Bakar untuk mengantarnya ke Tan&#8217;im, sebagaimana dalam hadits Abdurrahman, beliau berkata:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">????? ???? ???? ?? ???? ????? ??????? ?? ??????</p>
<p><em>&#8220;Rasulullah </em><em><em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em></em><em> telah memerintahkanku untuk menemani Aisyah dan (Aisyah) berihram untuk umrah dari Tan&#8217;im &#8220;</em>(H.R Mutafaq &#8216;alaih)</p>
<p>Demikianlah miqatnya ahli Makkah baik dia penduduk asli maupun pendatang berihram dari rumah-rumah mereka jika akan berhaji dan keluar ke tempat yang halal (di luar tanah haram Makkah) yang terdekat jika akan berumroh. Kemudan bagi mereka yang tidak melewati miqat-miqat tersebut, maka wajib bagi mereka untuk berihram dari tempat yang sejajar dengan miqat yang terdekat dari jalan yang dilewati tersebut.</p>
<p>Kesimpulan dari pembahasan ini bahwa mansia itu tidak lepas dari 3 keadaan:</p>
<p>1. Dia berada di dalam batas haram Makkah, ini dinamakan al-Harami atau al-Makki maka dia berikhram untuk haji dari tempat tinggalnya, dan kalau berumrah maka harus keluar dari haram dan berihram darinya.</p>
<p>2. Berada di luar haram Makkah dan berada sebelum <em>Miqat</em> maka mereka berihram dari tempatnya untuk berhaji dan berumrah.</p>
<p>3. Berada di luar <em>Miqat</em> maka mereka memiliki dua keadaan:</p>
<p>a. Melewati <em>Miqat</em>, maka wajib berihram dari <em>miqat</em></p>
<p>b. Tidak melewati miqat kalau ke Makkah, maka mereka berihram dari tempat yang sejajar atau memilih miqat yang terdekat dengannya.</p>
<p>Adapun seorang yang pergi ke Makkah tidak lepas dari dua keadaan:</p>
<p>1. Pergi ke Makkah dengan niat haji atau umrah atau keduanya bersama-sama maka tidak boleh dia masuk makkah kecuali dalam keadaan berihram.</p>
<p>2. Pergi ke Makkah dengan niat tidak berhaji dan umrah, maka dalam hal ini para ulama terbagi menjadi dua:</p>
<p>a. Orang yang melewati miqat dan ingin masuk makkah wajib berihram baik ingin haji dan umrah ataupun yang lainnya, ini merupaka madzhab Hanafiyah dan Malikiyah.</p>
<p>Berdalil dengan atsar Ibnu Abbas <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">??? ?? ???? ??? ?? ??? ??????</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya tidaklah masuk (ke haram makkah) kecuali dalam keadaan berihram&#8221;.</em></p>
<p>Mereka berkata: &#8220;Ini menunjukkan bahwa seorang mukalaf kalau melewati miqat dengan niat masuk makkah maka tidak boleh memasukinya kecuali dalam berihram. Demikian juga Allah telah mengharamkan makkah dan keharaman tersebut mengharuskan masuknya dengan cara yang khusus dan kalau tidak maka sama saja dengan yang lainnya.&#8221;</p>
<p>b. Boleh bagi yang melewati miqat dan tidak berniat haji atau umrah untuk tidak berihram dan ini adalah madzhab Syafi&#8217;i.</p>
<p>Mereka berdalil sebagai berikut:</p>
<p>Sabda Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">??? ???? ???? ? ??????</p>
<p><em>&#8220;Bagi siapa saja yang ingin melaksanakan haji dan umrah&#8221; </em>(Mutafaqun &#8216;Alaih)</p>
<p>Di sini Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> membatasi perintah berihram kepada orang yang berniat melaksanakan haji dan umrah, hal ini menunjukkan bahwa selainnya dibolehkan tidak berihram jika ingin masuk makkah</p>
<p>Berhujjah dengan masuknya Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> ke Makkah pada fathul Makkah dalam keadaan memakai topi baja pelindung kepala (<em>al-Mighfar</em>)</p>
<p>Dan yang rajih –<em>wallahu’alam</em>- adalah pendapat kedua yang membolehkan karena asalnya adalah tidak diwajibkan untuk berihram sampai ada dalil yang menunjukkannya. Dan ini adalah pendapat yang dirajihkan oleh Ibnu Qudamah dan Bahaudin al-Maqdisy serta Muhammad bin Muhammad al-Mukhtar asy-Syanqithy.</p>
<p>Dari pembahasan yang lalu menunjukkan wajibnya berihram dari miqat-miqat yang telah ditentukan oleh syar&#8217;i, lalu bagi mereka yang melewat miqat dan dia berniat haji atau umrah dan belum berihram maka dia tidak lepas dari tiga keadaan:</p>
<p>1. Melewati <em>miqat</em> dan belum berihram, lantas dia melampaui <em>miqat</em> beberapa jauh, kemudian kembali ke miqat untuk berihram darinya, maka hukumnya adalah boleh dan tidak terkena apa-apa, karena dia telah berihram dari tempat yang Allah perintahkan untuk berhram.</p>
<p>2. Melewati <em>miqat</em>, walaupun hanya satu kilometer, lalu berihram dan dia tidak kembali ke miqat, masalah ini ada dua gambaran:</p>
<p>a.Dia memiliki udzur syar&#8217;i sehingga tidak mampu untuk kembali, seperti takut kehilangan haji kalau kembali dan lain sebagainya.</p>
<p>b.Tidak memiliki udzur syar&#8217;i.</p>
<p>maka hukum kedua-duanya adalah sama, yaitu wajib menyembelih sembelihan, karena dia telah kehilangan kewajiban haji, yaitu berihram dari miqat.</p>
<p>3. Melewati <em>miqat</em> dan melampauinya, kemudian berihram setelah melampaui <em>miqat</em>, lalu kembali dan berihram lagi untuk kedua kali dari miqat maka dalam hal ini ada lima pendapat ulama:</p>
<p>a. Wajib atasnya dam (sembelihan) baik kembali atau tidak kembali, ini pendapat malikiyah dan hanabillah.</p>
<p>b. Tidak ada dam selama belum melaksanakan satu amalan-amalan haji atau umrah, ini madzhab Syafi&#8217;iyah</p>
<p>c. Kalau kembali ke miqat dalam keadaan bertalbiyah maka tidak ada dam (sembelihan) dan kalau kembali tidak bertalbiyah maka wajib atasnya dam.</p>
<p>d. Rusak hajinya atau umrahnya dan wajib mengulangi ihramdari miqat, ini pendapat Sa&#8217;id bin Jubair.</p>
<p>e. Tidak apa-apa, ini pendapat al-Hasan al-Bashry, al-Auza&#8217;i, dan ats-Tsaury.</p>
<p>Pendapat pertama adalah pendapat yang dirajihkan oleh Syaikh Muhammad bin Muhammad al-Mukhtar asy-Syanqithy dalam <em>Mudzakirat Syarh &#8216;Umdah</em> hal. 23.</p>
<p><strong>5. Jenis-jenis Manasik Haji</strong></p>
<p>Jenis-jenis manasik haji yang telah ditetapkan syariat ada tiga,yaitu:</p>
<p>1. Ifrad</p>
<p>Ifrad merupakan salah satu dari jenis manasik haji yang hanya berihram untuk haji tanpa dibarengi dengan umroh,maka seorang yang memilih jenis manasik ini harus berniat untuk haji saja, kemudian pergi ke Makkah dan ber-<em>th</em><em>a</em><em>waf qudum</em>, apabila telah ber-<em>th</em><em>a</em><em>waf</em> maka dia tetap berpakaian ihram dan dalam keadaan muhrim sampai hari nahar (tanggal 10 Dzul hijah dan tidak dibebani hadyu (sembelihan),serta tidak ber-Sa&#8217;i kecuali sekali dan umrohnya dapat dilakukan pada perjalanan yang lainnya.</p>
<p>Diantara bentuk-bentuk <em>Ifrad</em> adalah:</p>
<p>a.  Berumroh sebelum bulan-bulan haji dan tinggal menetap di Makkah sampai haji.</p>
<p>b.  Berumroh sebelum bulan-bulan haji, kemudian pulang ketempat tinggalnya dan setelah itu kembali ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji.</p>
<p>2. Tamattu&#8217;</p>
<p>Tamatu&#8217; adalah berihram untuk umrah di bulan-bulan haji setelah itu berihram untuk haji pada tahun itu juga. Dalam hal ini diwajibkan baginya untuk menyembelih <em>hadyu</em> (sembelihan). Oleh karena itu setelah <em>thawaf</em> dan <em>sa&#8217;i</em> dia mencukur rambut dan pada tanggal 8 Dzul Hijjah berihram untuk haji.</p>
<p>3. Qiran</p>
<p>Qiran adalah berihram untuk umrah dan haji sekaligus, dan membawa <em>hadyu</em> (sembelhan) sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>, dan qiran ini memiliki tiga bentuk:</p>
<p>a.  Berihram untuk haji dan umrah bersamaan, dengan menyatakan &#8220;???? ????? ????? &#8221; dengan dalil bahwa Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> didatangi Jibril u dan berkata:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">?? ?? ??? ?????? ??????? ? ?? ???? ?? ???</p>
<p><em>&#8220;Shalatlah di wadi yang diberkahi ini dan katakan &#8220;&#8216;Umrah fi hajjatin&#8221;</em> (H.R Bukhari)</p>
<p>b.  Berihram untuk umrah saja pertama kali kemudian memasukkan haji atasnya sebelum memulai thawaf. Dengan dalil hadits yang diriwayatkan &#8216;Aisyah ketika beliau berihram untuk umrah kemudian haidh di Saraf. Lalu Rasulullah memerintahkan beliau untuk berihlal (ihram) untuk haji dan perintah tersebut bukan merupakan pembatalan umrah dengan dalil sabda Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dalam hadits tersebut:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">???? ????? ???? ??????</p>
<p><em>&#8220;Cukuplah bagi kamu thawafmu untuk haji dan umrahmu&#8221; </em>(H.R Muslim no. 2925/132)</p>
<p>c.  Berihram untuk haji kemudan memasukkan umrah atasnya. Tentang kebolehan hal ini para ulama ada dua pendapat:</p>
<p>Boleh dengan dalil hadits &#8216;Aisyah:</p>
<p>??? ???? ???? <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> ?????</p>
<p>&#8220;<em>Rasululloh berihlal (ihrom) dengan haji&#8221;.</em></p>
<p>dan hadits Ibnu Umar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">?? ?? ??? ?????? ??????? ? ?? ???? ?? ???</p>
<p><em>&#8220;Shalatlah di wadi yang diberkahi ini dan katakan &#8220;&#8216;Umrah fi hajjatin&#8221;</em> (H.R Bukhari)</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">??? ?????? ?? ???? ??? ??? ???????</p>
<p><em>&#8220;telah masuk umroh kedalam haji sampa hari kiamat&#8221;.</em></p>
<p>Dalil-dalil ini menunjukkan kebolehan memasukkan umrah kedalam haji.</p>
<p>Tidak boleh dan ini adalah pendapat yang masyhur dalam madzhab hanbali. Berkata Syaikhul Islam: &#8220;Dan seandainya dia berihram dengan haji kemudian memasukkan umrah ke dalamnya, maka tidak boleh menurut pendapat yang rajih dan sebaliknya dengan kesepakatan para ulama&#8221; <a href="#_ftn12">[10]</a></p>
<p>Kemudian berselisih para ulama dari ketiga macam/jenis manasik ini dan dapat kita simpulkan menjadi tiga pendapat:</p>
<p>1. <em>Tamattu&#8217;</em> lebih utama dan ini merupakan pendapat Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, &#8216;Aisyah, Alhasan, &#8216;Atha&#8217;, Thawus, Mujahid, Jabir bin Zaid, Al-Qarim, Saalim, Ikrimah, Ahmad bin Hanbal, dan madzhab ahli zhahir serta merupakan pendapat yang masyhur dari madzhab hanbali dan satu daru dua pendapat Imam Syafi&#8217;i.</p>
<p>2. Qiran lebih utama dan ini merupakan pendapat madzhab Hanafi dan Tsaury berhujjah dengan:</p>
<p>Hadits Anas, beliau berkata:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">???? ???? ????  ??? ??? ??????: ???? ???? ? ????? ???? ???? ? ???? (???? ????)</p>
<p><em>&#8220;Aku mendengar Rasulullah berihlal dengan keduanya</em><em>: ‘L</em><em>abbaik Umrotan wa hajjan</em><em>’</em><em>&#8220;</em><em> </em><em>(Mutafaqun Alaih)</em></p>
<p>Hadits Adh-Dhabi bin Ma&#8217;bad ketika <em>talbiyah</em> dengan keduanya, kemudian datang umar lalu dia menanyakannya,maka beliau berkata: &#8220;Kamu telah mendapatkan sunah Nabimu” (HR Abu Dawud no. 1798; Ibnu Majah no. 2970 ddengan sanad shahih)</p>
<p>Perbuatan Ali dan perkataannya kepada Utsman ketika menegurnya:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">???? ????? ???? ??? ????? ??? ??? ??? ??? ???? ???? ????? (???? ???????)</p>
<p><em>&#8220;Aku mendengar Rasulullah bertalbiyyah dengan keduanya sekalgus, maka aku tidak akan meninggallkan ucapan Rasulullah karena pendapatmu &#8220;</em>(H.R Baihaqi)</p>
<p>Karena pada Qiran ada pembawaan <em>hadyu</em>, maka lebih utama dari yang tidak membawa.</p>
<p>3.  Ifrad lebih utama dan ini merupakan pendapat Imam Malik dan yang terkenal dari Madzhab Syafi&#8217;i serta pendapat Umar, Utsman, Ibnu Umar, Jabir dan &#8216;Aisyah; dengan hujjah:</p>
<ul>
<li>Hadits Aisyah dan Jabir yang menjelaskan bahwa Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> melakukan haji ifrad</li>
<li>Karena haji tersebut sempurna tanpa membutuhkan      penguat, maka yang tidak membutuhkan lebih utama dari yang membutuhkan.</li>
<li>Amalan Khulafaur Rasyidin</li>
</ul>
<p>Sedangkan yang rajih –<em>wallahu’alam</em>- adalah pendapat pertama dengan dalil:</p>
<p>a.  Hadits Ibnu Abbas, beliau berkata: ketika Rasulullah sampai di Dzi Thuwa dan menginap disana , lalu setelah shalat subuh beliau berkata:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">?? ??? ?? ?????????? ????????? ????</p>
<p><em>&#8220;Barang siapa yang ingin menjadikannya umrah maka jadikanlah dia sebagai umrah&#8221;</em> (Mutafaqun Alaihi)</p>
<p>b.  Hadits Aisyah:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">????? ?? ???? ???? ??? ???? ??? ??? ????? ???? ???? ??? ?????? ?????? ???? ???? ????  ?? ?? ??? ??? ?????? ?? ???? ???? ??? ?? ?? ??? ??? ????? ? ???? ?? ???? ?????? ???????</p>
<p><em>&#8220;Kami telah berangkat bersama Rasulullah dan tidaklah kami melihat kecuali itu adalah haji, ketika kami tiba di makkah kami thawaf di ka&#8217;bah, lalu Rasulullah memerintahkan orang yang tidak membawa hadyu (senmbelihan) untuk bertahalul, berkata Aisyah: maka bertahalullah orang yang tidak membawa hadyu dan istri-istri beliatidak membawa hadyu maka mereka bertahalul &#8221; </em>(Mutafaqun ‘Alaih)<em> </em></p>
<p>c.  Juga terdapat riwayat Jabir dan Abu Musa bahwa Rasulullah memerintahkan sahabat-sahabatnya ketika selesai thawaf di ka&#8217;bah untuk tahalul dan menjadikannya sebagai umrah.</p>
<p>Maka perintah pindah dari Ifrad dan Qiran kepada tamatu&#8217; menujukkan bahwa tamattu&#8217; lebih utama. Karena, tidaklah beliau memindahkan satu hal kecuali kepada yang lebih utama.</p>
<p>d.  Sabda Raslullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em></p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">?? ??????? ?? ???? ?? ??????? ?? ??? ????? ? ??????? ????</p>
<p><em>&#8220;Seandainya saya dapat mengulangi apa yang telah lalu dari amalan saya maka saya tidak akan membawa sembelihan dan menjadikannya Umrah&#8221;.</em> (H.R Muslim Ahmad no. 6/175)</p>
<p>e.  Kemarahan dan kekesalan Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> kepada para sahabatnya yang masih bimbang dengan anjuran beliau agar mereka menjadikan haji mereka umrah sebagaimana hadits Aisyah:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">???? ??? ? ?? ????? ????: ?? ????? ?? ???? ???? ???? ???? ?????? ??? ???? ???? ??? ???? ????? ???? ???? ?? ???????</p>
<p><em>&#8220;Maka masuklah Ali dan beliau dalam keadaan marah, lalu aku berkata: &#8220;Siapa yang membuatmu marah wahai Rasulullah?&#8221; Beliau menjawab: &#8220;Apakah kamu tidak tahu, aku memerintahkan orang-orang dengan suatu perintah , lalu mereka bimbang. (ragu dalam melaksanakannya) &#8220;</em>(H.R Muslim)</p>
<p>Maka jelaslah kemarahan beliau ini menunjukan satu keutamaan yang lebih dari yang lainnya &#8211; ????? ???? -</p>
<p>Sedangkan Syaikul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa hukumnya disesuaikan dengan keadaan, kalau dia membawa <em>hadyu</em> (sembelihan) maka <em>qiran</em> lebih utama, dan apabila dia telah berumrah sebelum bulan-bulan haji maka <em>ifrad</em> lebih utama dan selainnya <em>tama</em><em><em>Radhiallahu&#8217;anhu</em></em><em>tu&#8217;</em> lebih utama. Beliau berkata: “Dan yang rajih dalam hal ini adalah hukumnya berbeda-beda sesuai dengan perbedaan orang yang berhaji, kalau dia bepergian dengan satu perjalanan umrah dan satu perjalanan untuk haji atau bepergian ke Makkah sebelum bulan-bulan haji dan berumrah kemudian tinggal menetap disana sampai haji, maka dalam keadaan ini <em>ifrad</em> lebih utama baginya, dengan kesepakatan imam yang empat. Dan apabila dia mengerjakan apa yang telah dilakukan kebanyakan orang, yaitu mengabungkan antara umrah dan haji dalam satu kali perjalanan dan masuk Makkah dalam bulan-bulan haji, maka dalam keadaan ini qiran lebih utama baginya kalau dia membawa hadyu, dan kalau dia tidak membawa <em>hadyu</em> maka, ber-<em>tahal</em><em>l</em><em>ul</em> dari ihram untuk umrah lebih utama”<a href="#_ftn13">[11]</a></p>
<p>[Bersambung]</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc<br />
Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.Com</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> <em>Al-Mughn</em><em>i</em>, 5/5</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> <em>Syarhul Mumti&#8217;</em>, 7/7</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> <em>Muzakir</em><em>at Syarhul &#8216;Umdatil Fiqh</em>, Kitab <em>Haji wal Umrah</em> hal.1</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Lihat Al-Ijma, oleh Ibnul Mundzir hal 54 dan <em>Al-Mughny</em> 5/6</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Lihat <em>Syarhl Umdah</em> oleh Ibnu Taimiyah 2/302</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Lihat <em>Syarhul Mumti&#8217;</em>, 7/62-64 dan <em>Syarah Umdatul Fiqh</em> hal 14</p>
<p><a href="#_ftnref7">*</a> dikenal sekarang dengan <em>As-Sa&#8217;diyah</em></p>
<p><a href="#_ftnref8">[7]</a> <em>Syarah &#8216;Umdah</em> oleh Ibnu Taimiyah 2/316</p>
<p><a href="#_ftnref9">*</a> Dikenal sekarang dengan nama <span style="text-decoration: underline;">As-Sail al-Kabir</span>.</p>
<p><a href="#_ftnref10">[8]</a> <em>Syarah Umdah</em> Ibnu Taimiyah 2/316</p>
<p><a href="#_ftnref11">[9]</a> Hadits ini dishahihkan Al-Albani dalam <em>Al Irwa&#8217;</em> 6/176</p>
<p><a href="#_ftnref12">[10]</a> <em>Al-Ikhtiyarat </em><em>Fiqhiyyah</em>, hal 117</p>
<p><a href="#_ftnref13">[11]</a> Kitab <em>Manasik</em> hal. 14</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/&amp;title=Fiqih+Ibadah+Haji+%281%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/&amp;title=Fiqih+Ibadah+Haji+%281%29" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/&amp;t=Fiqih+Ibadah+Haji+%281%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Fiqih+Ibadah+Haji+%281%29+-+http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/&amp;title=Fiqih+Ibadah+Haji+%281%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/&amp;title=Fiqih+Ibadah+Haji+%281%29" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Fiqih+Ibadah+Haji+%281%29+-+http://b2l.me/n8ue2&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Fiqih+Ibadah+Haji+%281%29&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Rincian%20tata%20cara%20pelaksanaan%20ibadah%20haji" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Shalat Berjama’ah Wajib Ataukah Sunnah?</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-berjama%e2%80%99ah-wajib-ataukah-sunnah/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-berjama%e2%80%99ah-wajib-ataukah-sunnah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Mar 2009 04:52:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=624</guid>
		<description><![CDATA[Tidak disangsikan lagi permasalahan ibadah merupakan inti ajaran Islam. Syari'at sangat memperhatikan permasalahan ini, karena ia merupakan perwujudan aqidah seseorang. Salah satunya adalah shalat berjama'ah. 
Bagaimana sebenarnya hukum shalat berjama'ah? Wajib ataukah tidak?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak disangsikan lagi permasalahan ibadah merupakan inti ajaran Islam. Syari&#8217;at sangat memperhatikan permasalahan ini, karena ia merupakan perwujudan aqidah seseorang. Bahkan Allah Ta&#8217;ala menjadikannya sebagai tujuan penciptaan manusia, dalam firman-Nya:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right">????????????? ???????? ?????????? ???????????????????</p>
<p>Artinya:<em> &#8220;</em><em>Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.</em><em>&#8220;</em><em> </em>[QS.Adz Dzariyaat :56]<em></em></p>
<p>Diantara ibadah yang agung dan penting adalah shalat, karena ia merupakan amalan terbaik seorang hamba, sebagaimana Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right">???????????? ?????? ???????? ??????????? ????? ?????? ????????????? ?????????? ????? ????????? ????? ?????????? ?????? ????????</p>
<p>Artinya:<em> &#8220;</em><em>Beristiqamahlah dan kalian tidak akan mampu istiqamah yang sempurna. Ketahuilah sebaik-baiknya amalan kalian adalah shalat dan tidaklah menjaga wudhu kecuali seorang mukmin.</em><em>&#8220;</em><a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><em><strong>[1]</strong></em></a><strong></strong></p>
<p>Apalagi shalat telah diwajibkan Allah terhadap kaum mukminin, sehingga sudah selayaknya kita memperhatikan permasalahan ini. Tentunya berharap dapat menunaikannya secara sempurna.<span id="more-624"></span></p>
<p><strong>Kedudukan Shalat dalam Islam</strong><br />
Shalat tidak diragukan memiliki kedudukan tinggi dalam Islam. Ia adalah rukun kedua dan tiangnya agama. Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right">?????? ????????? ???????????? ??????????? ??????????</p>
<p>Artinya:<em> &#8220;</em><em>Pemimpin segala perkara (agama) adalah Islam (syahadatain) dan tiangnya adalah sh</em><em>a</em><em>l</em><em>a</em><em>t</em><em>&#8220;.</em><a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><em><strong>[2]</strong></em></a></p>
<p>Seluruh syariat para Rasul menganjurkan dan memotivasi umatnya untuk menunaikannya, sebagaimana Allah berfirman menjelaskan do&#8217;a Nabi Ibrahim &#8216;<em>Alaihissalam</em> :</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right">????? ?????????? ??????? ?????????? ?????? ??????????? ???????? ??????????? ???????</p>
<p><em>Artinya: &#8220;</em><em>Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Rabb kami, perkenankan do&#8217;aku.</em><em>&#8220;</em><em> </em>[QS. Ibrahiim :40]</p>
<p>dan Allah <em>Ta&#8217;ala</em> mengisahkan Nabi Ismail <em>&#8216;Alaihissalam</em> :</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right">??????? ???????? ???????? ???????????? ???????????? ??????? ????? ??????? ??????????<em></em></p>
<p>Artinya:<em> &#8220;</em><em>Dan ia menyuruh ahlinya untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang di ridhoi di sisi Rabbnya.</em><em>&#8220;</em><em> </em>[QS.Maryam :55]<em> </em><em></em></p>
<p>Demikian juga menyampaikan berita kepada Nabi Musa <em>&#8216;Alaihissalam</em> :</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right">???????? ????? ????? ???????? ????????? ???????????? ???????? ?????????? ?????????<em></em></p>
<p>Artinya:<em> &#8220;</em><em>Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Ilah (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.</em><em>&#8220;</em><em> </em>[QS.Thaahaa :14]<span style="text-decoration: underline;"> </span></p>
<p>Nabi<span style="text-decoration: underline;"> </span>Isa <em>&#8216;Alaihissalam</em> menceritakan nikmat yang beliau peroleh dalam ayat Al Qur&#8217;an yang berbunyi:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right">??????????? ?????????? ?????? ???????? ???????????? ???????????? ???????????? ????????? ??????</p>
<p>Artinya:<em> &#8220;</em><em>Dan dia menjadikan aku seorang yang berbakti di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidu</em><em>p&#8221;</em><em> </em>[QS. Maryam :31]<em></em></p>
<p>Bahkan Allah <em>Ta&#8217;ala</em> mengambil perjanjian Bani Israil untuk menegakkan shalat. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right">?????? ????????? ???????? ????? ???????????? ??? ??????????? ?????? ??????? ?????????????????? ?????????? ????? ?????????? ????????????? ??????????????? ????????? ????????? ??????? ?????????? ?????????? ????????? ?????????? ????? ????????????? ?????? ???????? ???????? ???????? ????????????</p>
<p>Artinya:<em> &#8220;</em><em>Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu):&#8221;Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.</em><em>&#8220;</em><em> </em>[QS.Al Baqarah :83]</p>
<p>Demikian juga Allah perintahkan hal itu pada Nabi Muhamad <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dalam firman-Nya:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right">???????? ???????? ???????????? ??????????? ????????? ????????????? ??????? ??????? ?????????? ?????????????? ???????????<em></em></p>
<p>Artinya:<em> &#8220;</em><em>Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu, Kamilah yang memberi rizki kepadamu. Dan akibat(yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa.</em><em>&#8220;</em><em> </em>[QS. Thaha:132]<em></em></p>
<p>Demikian tingginya kedudukan shalat dalam Islam sampai Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> menjadikannya pembeda antara mukmin dan kafir. Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right">????????? ??????? ????????? ???????????? ?????????? ?????? ????????? ?????? ??????</p>
<p>Artinya:<em> &#8220;</em><em>Perjanjian antara aku dan mereka adalah shalat barang siapa yang meninggalkannya maka telah berbuat kekafiran.</em><em>&#8220;</em><a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><em><strong>[3]</strong></em></a></p>
<p>Memang orang yang meninggalkan shalat akan lebih mudah meninggalkan yang lainnya, kemudian terputuslah hubungannya dari Allah Ta&#8217;ala. Abu Bakar Ash Shiddiq menyatakan dalam surat beliau kepada Umar: &#8220;Ketahuilah perkara yang paling penting padaku adalah shalat, karena orang yang meninggalkannya akan lebih mudah meninggalkan yang lainnya dan ketahuilah Allah Ta&#8217;ala memiliki satu hak di malam hari yang tidak Dia terima di siang hari dan satu hak di siang hari yang tidak diterima di malam hari. Allah tidak menerima amalan sunnah sampai menunaikan kewajiban&#8221;.<a name="_ftnref4" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p><strong>Hukum Shalat Berjama&#8217;ah</strong><br />
Shalat berjama&#8217;ah disyari&#8217;atkan dalam Islam, akan tetapi para ulama berselisih pendapat tentang hukumnya dalam empat pendapat:</p>
<p><strong>1.     Hukumnya fardhu kifayah.</strong></p>
<p>Ini merupakan pendapatnya Imam Syafi&#8217;i, Abu Hanifah, jumhur ulama Syafi&#8217;iyah <em>mutaqadimin</em> dan banyak ulama Hanafiyah dan Malikiyah.</p>
<p>Al Haafidz Ibnu Hajar berkata: &#8220;Zhahirnya nash (perkataan) Syafi&#8217;I, shalat berjamaah hukumnya fardhu kifayah. Inilah pendapat jumhur <em>mutaqaddim</em> dari ulama Syafi&#8217;iyah dan banyak ulama Hanafiyah serta Malikiyah&#8221;<a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><sup><sup>[5]</sup></sup></a>. Dalil mereka:</p>
<p>Hadits pertama:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right">??? ???? ????????? ??? ???????? ????? ?????? ??? ??????? ??????? ?????????? ?????? ???? ??????????? ?????????? ???????????? ???????????? ?????????????? ?????????? ???????? ????????? ????????????</p>
<p>Artinya:<em>&#8220;Tidaklah ada tiga orang dalam satu perkampungan atau pedalaman tidak ditegakkan pada mereka shalat kecuali Syeithon akan menguasainya. Berjamaahlah kalian, karena srigala hanya memangsa kambing yang sendirian&#8221;</em><a name="_ftnref6" href="#_ftn6"><em><strong>[6]</strong></em></a><em>. </em>As Saaib berkata: &#8220;Yang dimaksud berjamaah adalah jamaah dalam shalat.&#8221;<a name="_ftnref7" href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Hadits kedua:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right">????????? ????? ??????????? ??????????? ??????? ?????????????? ??????????? ????????? ????? ?????????????? ???????? ??????? ???????? ?????????? ????????????? ?????? ?????????? ??????????????? ????????????</p>
<p>Artinya:<em> &#8220;</em><em>Kembalilah kepada ahli kalian, lalu tegakkanlah shalat pada mereka serta ajari dan perintahkan mereka (untuk shalat). Shalatlah kalian sebagaiamana kalian melihat aku shalat. Jika telah datang waktu shalat hendaklah salah seorang kalian beradzan dan yang paling tua menjadi imam.</em><em>&#8220;</em><a name="_ftnref8" href="#_ftn8"><em><strong>[8]</strong></em></a></p>
<p>Hadits ketiga:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right">???? ?????? ??????? ???? ?????? ????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ????? ??????? ???????????? ???????? ??????? ???????? ???????? ??????????? ????????</p>
<p>Artinya:<em> &#8220;</em><em>Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah </em><em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em><em> bersabda: </em><em>&#8216;</em><em>Shalat berjamaah mengungguli shalat sendirian dua puluh tujuh derajat.</em><em>&#8216;&#8221;</em><a name="_ftnref9" href="#_ftn9"><em><strong>[9]</strong></em></a><em></em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>2.     Dihukumi sebagai syarat sah shalat. Shalat tidak sah tanpa berjama&#8217;ah kecuali dengan adanya udzur (hambatan).</strong></p>
<p>Ini pendapat <em>zhahiriyah</em> dan sebagian ulama hadits. Pendapat ini didukung oleh sejumlah ulama diantaranya: Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Aqiil dan Ibnu Abi Musa. Diantara dalil mereka:</p>
<p>Hadits pertama:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right">???? ?????? ?????????? ?????? ???????? ????? ??????? ???? ?????? ???? ??????</p>
<p>Artinya<em>: &#8220;</em><em>Barang siapa yang mendengar adzan lalu tidak datang maka tidak ada shalat baginya kecuali karena udzur.</em><em>&#8220;</em><a name="_ftnref10" href="#_ftn10"><em><strong>[10]</strong></em></a><em></em></p>
<p>Hadits kedua:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right">????????? ??????? ???????? ?????? ???????? ???? ????? ???????? ?????????? ????? ????? ???????????? ??????????? ????? ????? ????? ??????? ????????? ???????? ????? ????????? ????? ??????? ??????????? ?????????? ???????????</p>
<p>Artinya:<em> &#8220;</em><em>Demi dzat yang jiwaku ada ditanganNya, sungguh aku bertekad meminta dikumpulkan kayu bakar lalu dikeringkan (agar mudah dijadikan kayu bakar). Kemudian aku perintahkan shalat, lalu ada yang beradzan. Kemudian aku perintahkan seseorang untuk mengimami shalat dan aku tidak berjamaah untuk menemui orang-orang (lelaki yang tidak berjama&#8217;ah) lalu aku bakar rumah-rumah mereka</em><em>.&#8221;</em><a name="_ftnref11" href="#_ftn11"><em><strong>[11]</strong></em></a><em></em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Hadits ketiga:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right">????? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ?????? ??????? ??????? ??? ??????? ??????? ??????? ?????? ??? ??????? ?????????? ????? ??????????? ???????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ???? ????????? ???? ??????????? ??? ???????? ????????? ???? ???????? ?????? ??????? ??????? ???? ???????? ?????????? ???????????? ????? ?????? ????? ????????</p>
<p><em>Artinya: &#8220;</em><em>Seorang buta mendatangi Nabi n dan berkata: &#8220;wahai Rasulullah aku tidak mempunyai seorang yang menuntunku ke masjid&#8221;. Lalu dia meminta keringanan kepada Rasulullah n sehingga boleh shalat dirumah. Lalu beliau n memberikan keringanan kepadanya. Ketika ia meninggalkan nabi n langsung Rasulullah memanggilnya dan bertyanya: &#8220;apakah anda mendengar panggilan adzan shalat? Dia menjawab: &#8220;ya&#8221;. Lalu beliau berkata: &#8220;penuhilah!&#8221;</em><em>.&#8221;</em><a name="_ftnref12" href="#_ftn12"><em><strong>[12]</strong></em></a><em></em></p>
<p><strong>3.     Hukumnya sunnah muakkad</strong><br />
Ini pendapat madzhab Hanafiyah dan Malikiyah. Imam Ibnu Abdil Barr menisbatkannya kepada kebanyakan ahli fiqih Iraq, Syam dan Hijaaj. Dalil mereka:</p>
<p>Hadits pertama:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right">???? ?????? ??????? ???? ?????? ????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ????? ??????? ???????????? ???????? ??????? ???????? ???????? ??????????? ????????</p>
<p>Artinya:<em> &#8220;</em><em>Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah n bersabda: Shalat berjamaah mengungguli shalat sendirian dua puluh tujuh derajat.</em><em>&#8220;</em><a name="_ftnref13" href="#_ftn13"><em><strong>[13]</strong></em></a><em></em></p>
<p>Hadits Kedua:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right">????? ???????? ???????? ??????? ??? ?????????? ???????????? ????????? ??????? ?????????????? ????????? ?????????? ?????????? ?????? ???????????? ???? ?????????? ???????? ??????? ???? ??????? ??????????? ????? ??????? ????? ????????? ????? ???????? ?????? ???????????? ???? ?????????? ??? ?????????</p>
<p>Artinya:<em>&#8220;</em><em>Sesungguhnya orang yang mendapat pahal paling besar dalam shalat adalah yang paling jauh jalannya kemudian yang lebih jauh. Orang yang menunggu shalat sampai shalat bersama imam lebih besar pahalanya dari orang yang shalat kemudian tidur.</em><strong><em> </em></strong> Dalam riwayat Abu Kuraib: <em>sampai shalat bersama imam dalam jama&#8217;ah.</em><em>&#8220;</em><a name="_ftnref14" href="#_ftn14"><em><strong>[14]</strong></em></a><em></em></p>
<p>Imam Asy Syaukaniy menyatakan setelah membantah pendapat yang mewajibkannya: &#8220;Pendapat yang pas dan mendekati kebenaran, shalat jamaah termasuk sunah-sunah yang muakkad. Adapun hukum shalat jama&#8217;ah adalah fardhu &#8216;ain atau kifayah atau syarat sah shalat maka tidak&#8221;. Hal ini dikuatkan oleh Shidiq Hasan Khon dan pernyataan beliau: &#8220;Adapun hukumnya fardhu, maka dalil-dalil masih dipertentangkan. Akan tetapi disana ada cara ushul fiqh yang mengkompromikan dalil-dalil tersebut, yaitu hadits-hadits keutamaan shalat jama&#8217;ah menunjukkan keabsahan shalat sendirian. Hadits-hadits ini cukup banyak, diantaranya :</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right">????????? ?????????? ?????????? ?????? ???????????? ???? ?????????? ???????? ??????? ???? ??????? ???????? ???????? ????? ???????</p>
<p><em>Orang yang menunggu shalat sampai shalat bersama imam lebih besar pahalanya dari orang yang shalat sendirian kemudian tidur.</em> Hadits ini dalam kitab shohih.</p>
<p>Juga diantaranya hadits orang yang salah shalatnya yang sudah masyhur, dimana Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> memerintahkannya mengulangi shalat sendirian. Ditambah dengan hadits:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right">????? ?????? ??????????? ????? ?????</p>
<p><em>Artinya: &#8220;Seandainya ada seorang yang bersedekah kepadanya</em><em>&#8220;</em><a name="_ftnref15" href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p>Ketika melihat seorang shalat sendirian. Diantara hadits-hadits yang menguatkan adalah hadits yang mengajarkan rukun islam, karena <em>Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> tidak memerintahkan orang yang diajarinya untuk tidak shalat kecuali berjama&#8217;ah. Padahal beliau mengatakan kepada orang yang menyatakan saya tidak menambah dan menguranginya: <strong>???????? ???? ??????</strong> (telah beruntung jika benar) dan dalil-dalil lainnya. Semua ini dapat memalingkan sabda beliau <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>: <strong>????? ??????? ????</strong> yang ada pada hadits-hadits yang menunjukan kewajiban berjam&#8217;ah kepada peniadaan kesempurnaan bukan keabsahannya&#8221;<a name="_ftnref16" href="#_ftn16">[16]</a>. Pendapat ini dirajihkan As Syaukani dan  Shidiq hasan Khon serta Sayyid Saabiq.<a name="_ftnref17" href="#_ftn17">[17]</a></p>
<p><strong>4.     Hukumnya wajib ain (fardhu &#8216;ain) dan bukan syarat</strong><br />
Ini pendapat Ibnu Mas&#8217;ud, Abu Musa Al Asy&#8217;ariy, Atha&#8217; bin Abi Rabbaah, AL Auzaa&#8217;iy, Abu Tsaur, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibaan, kebanyakan ulama Hanafiyah dan madzhab Hambali. Dalil mereka:</p>
<p>Firman Allah Ta&#8217;ala :</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right">??????? ????? ??????? ?????????? ?????? ?????????? ?????????? ?????????? ???????? ??????? ?????????????? ?????????????? ??????? ???????? ????????????? ??? ??????????? ?????????? ????????? ??????? ???? ????????? ????????????? ?????? ?????????????? ?????????? ???????????????? ????? ????????? ???????? ???? ??????????? ???? ?????????????? ???????????????? ???????????? ????????? ????????? ????????? ????? ??????? ?????????? ??? ????? ?????? ????? ???? ??????? ???? ?????? ???????? ??? ???????? ?????????????? ???????? ?????????? ????? ????? ??????? ?????????????? ???????? ?????????</p>
<p>Artinya:<em> &#8220;</em><em>Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan seraka&#8217;at), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bershalat,lalu bershalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena karena kamu memang sakit; dan siap siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu.</em><em>&#8220;</em><em> </em>[QS. An Nisaa':102]<em></em></p>
<p>Dalam ayat ini terdapat dalil yang tegas akan kewajiban shalat berjamaah. Shalat jamaah tidak boleh ditinggalkan kecuali dengan udzur seperti ketakutan atau sakit.</p>
<p>Firman Allah <em>Ta&#8217;ala</em>:</p>
<h5 style="font-size:18px;text-align:right">??????????? ?????????? ????????? ?????????? ??????????? ???? ?????????????</h5>
<p><em>Artinya: &#8220;</em><em>Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku&#8217;lah bersama orang-orang yang ruku&#8217;</em><em>&#8220;</em><em>.</em>[QS. Al Baqarah :43] ini adalah perintah, kata perintah menunjukkan kewajibannya.</p>
<p>Firman Allah <em>Ta&#8217;ala</em>:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right"><strong>??? ??????? ?????? ????? ??? ???????? ?????????? ?????? ??????? ????????? ???? ?????? ???????????? ???????????? ???????? ??????????????? ????????? ??????????? ??? ?????? ????? ????????? ?????????? ?????????? ?????????? ?????????? ??????? ??????????? ????? ?????????? ??????????????</strong><strong></strong></p>
<p><em>Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan membayarkan zakat.Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. </em>[QS. Annur :36-37]<em></em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Firman Allah <em>Ta&#8217;ala</em>:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right">???? ?????? ?????? ??????????? ??????????? ??????????? ????? ????? ???????? ?????????? ??????????? ???? ???????? ??????????????? ??????????</p>
<p>Artinya:<em> &#8220;</em><em>Katakanlah:&#8221;Rabbku menyuruh menjalankan keadilan&#8221;. Dan (katakanlah):&#8221;Luruskan muka (diri)mu di setiap shalat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan keta&#8217;atanmu kepadaNya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah) kamu akan kembali kepadaNya&#8221;</em><em>&#8220;</em><em>.</em> [QS.Al A'raf :29]</p>
<p>Kedua ayat ini ada kata perintah yang menunjukkan kewajibannya.</p>
<p>Firman Allah <em>Ta&#8217;ala</em>:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right">?????? ???????? ??? ????? ???????????? ????? ?????????? ??????????????????? ????????? ????????????? ???????????? ??????? ?????? ??????? ?????????? ????? ?????????? ?????? ??????????<em></em></p>
<p>Artinya:<em> &#8220;</em><em>Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera.</em><em>&#8220;</em><em> </em>[QS. Al Qalam :42-43]<em></em></p>
<p>Ibnul Qayyim berkata: &#8220;Sisi pendalilannya adalah Allah Ta&#8217;ala menghukum mereka pada hari kiamat dengan memberikan penghalang antara mereka dengan sujud ketika diperintahkan untuk sujud. Mereka diperintahkan sujud didunia dan enggan menerimanya. Jika sudah demikian maka menjawab panggilan mendatangi masjid dengan menghadiri jamaah shalat, bukan sekedar melaksanakannya di rumahnya saja&#8221;.</p>
<p>Sabda Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> :</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right">????????? ??????? ???????? ?????? ???????? ???? ????? ???????? ?????????? ????? ????? ???????????? ??????????? ????? ????? ????? ??????? ????????? ???????? ????? ????????? ????? ??????? ??????????? ?????????? ???????????</p>
<p>Artinya:<em> &#8220;</em><em>Demi dzat yang jiwaku ada ditanganNya, sungguh aku bertekad meminta dikumpulkan kayu bakar lalu dikeringkan (agar mudah dijadikan kayu bakar). Kemudian aku perintahkan shalat, lalu ada yang beradzan. Kemudian aku perintahkan seseorang untuk mengimami shalat dan aku tidak berjamaah untuk menemui orang-orang (lelaki yang tidak berjama&#8217;ah) lalu aku bakar rumah-rumah mereka</em><em>&#8220;</em><a name="_ftnref18" href="#_ftn18">[18]</a><em></em></p>
<p>Ibnu Hajar dalam menafsirkan hadits ini menyatakan: &#8220;Adapun hadits bab (hadits diatas) maka zhahirnya menunjukkan shalat jamaah fardhu &#8216;ain, karena seandainya hanya sunnah tentu tidak mengancam peninggalnya dengan pembakaran tersebut. Juga tidak mungkin terjadi pada peninggal fardhu kifayah seperti pensyariatan memerangi orang-orang yang meninggalkan fardhu kifayah&#8221;<a name="_ftnref19" href="#_ftn19">[19]</a>. Demikian juga Ibnu Daqiqil&#8217;Ied menyatakan: &#8220;Ulama yang berpendapat bahwa shalat jamah hukumnya fardhu &#8216;ain berhujah dengan hadits ini, karena jika dikatakan fardhu kifayah, kewajiban itu dilaksanakan oleh Rasulullah dan orang yang bersamanya dan jika dikatakan sunnah, tentunya tidaklah dibunuh peninggal sunnah. Dengan demikian jelaslah shalat jamaah hukumnya fardhu &#8216;ain&#8221;.<a name="_ftnref20" href="#_ftn20">[20]</a></p>
<p>Sabda Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> :</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right">????? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ?????? ??????? ??????? ??? ??????? ??????? ??????? ?????? ??? ??????? ?????????? ????? ??????????? ???????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ???? ????????? ???? ??????????? ??? ???????? ????????? ???? ???????? ?????? ??????? ??????? ???? ???????? ?????????? ???????????? ????? ?????? ????? ????????</p>
<p>Artinya:<em> &#8220;</em><em>Seorang buta mendatangi Nabi </em><em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em><em> dan berkata: &#8220;wahai Rasulullah aku tidak mempunyai seorang yang menuntunku ke masjid&#8221;. Lalu dia meminta keringanan kepada Rasulullah </em><em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em><em> sehingga boleh shalat dirumah. Lalu beliau </em><em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em><em> memberikan keringanan kepadanya. Ketika ia meninggalkan nabi n langsung Rasulullah memanggilnya dan bertyanya: &#8220;apakah anda mendengar panggilan adzan shalat? Dia menjawab: &#8220;ya&#8221;. Lalu beliau berkata: &#8220;penuhilah!&#8221;</em><em>&#8220;</em><em>.</em><a name="_ftnref21" href="#_ftn21">[21]</a></p>
<p>Ibnu Qudamah berkata setelah menyampaikan hujahnya dengan hadits ini: &#8220;Jika orang buta yang tidak memiliki orang yang mengantarnya tidak diberi keringanan, maka selainnya lebih lagi&#8221;<a name="_ftnref22" href="#_ftn22">[22]</a></p>
<p>Sabda Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> :<strong></strong></p>
<p style="font-size:18px;text-align:right">??? ???? ????????? ??? ???????? ????? ?????? ??? ??????? ??????? ?????????? ?????? ???? ??????????? ?????????? ???????????? ???????????? ?????????????? ?????????? ???????? ????????? ????????????</p>
<p>Artinya:<em> </em><em>&#8220;Tidaklah ada tiga orang dalam satu perkampungan atau pedalaman tidak ditegakkan pada mereka shalat kecuali </em><em>setan </em><em>akan menguasainya. Berjamaahlah kalian, karena srigala hanya memangsa kambing yang sendirian&#8221; . </em><a name="_ftnref23" href="#_ftn23"><em><strong>[23]</strong></em></a><em>. </em></p>
<p>Nash-nash ini menunjukkan kewajiban shalat berjama&#8217;ah. Pendapat ini dirajihkan oleh <em>Lajnah Daimah lil Buhuts Wal Ifta&#8217; </em>(komite tetap untuk riset dan fatwa Saudi Arabia)<a name="_ftnref24" href="#_ftn24">[24]</a> dan Syaikh Prof. DR. Sholeh bin Ghanim As Sadlaan dalam kitabnya &#8220;<em>Shalat</em><em>u</em><em>l Jama&#8217;ah</em>&#8220;<a name="_ftnref25" href="#_ftn25">[25]</a> serta sejumlah ulama lainnya. <em>Wallahu a&#8217;lam</em></p>
<hr size="1" /><a name="_ftn1" href="#_ftnref1">[1]</a> Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah, kitab <em>Th</em><em>aharoh Wa Sunanuha</em>, bab <em>Al Muhafadz</em><em>ah Alal  Wudhu</em> No. 253, Ahmad dalam Musnad-nya No. 21400 dan 21344 dan Ad Darimi dalam Sunan-nya, kitab <em>Thahar</em><em>ah</em>, <em>bab Ma Ja&#8217;a fith Thuhur</em> No.653.<br />
<a name="_ftn2" href="#_ftnref2">[2]</a> Diriwayatkan oleh At Tirmidzi dalam Sunan-nya, kitab <em>Al Iman bir Rasulillah</em> <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> no. 3541 dan Ahmad dalam Musnad-nya no. 21054, At Tirmidzi berkata: &#8220;Ini hadits hasan shahih&#8221;.<br />
<a name="_ftn3" href="#_ftnref3">[3]</a> Diriwayatkan oleh At Tirmidzi dalam Jami&#8217;-nya (Sunan-nya), kitab <em>Iman Bir Rasulillah N Bab Ma Ja&#8217;a Fi Tarki Shalat</em> no. 2545 dan An Nasa&#8217;I dalam Sunan-nya kitab Shalat, bab <em>Al Hukmu Fi Taarikis Shalat</em> no. 459. dengan sanad yang shahih.<br />
<a name="_ftn4" href="#_ftnref4">[4]</a> Dinukil oleh Ibnu Taimiyah dalam <em>Majmu&#8217; Fatawa</em> 22/40.<br />
<a name="_ftn5" href="#_ftnref5">[5]</a> <em>Fathul Ba</em><em>ari</em> 2/26.<br />
<a name="_ftn6" href="#_ftnref6">[6]</a> Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya, kitab <em>Ash Shalat</em>, bab <em>At</em><em> Tasydiid Fi Tarkil Jama</em><em>&#8216;ah</em> no.460, An Nasa&#8217;i dalam Sunan-nya, kitab <em>Al Imaamah</em>, bab <em>A</em><em>t Tasydiid Fi Tarkil </em><em>Jama&#8217;ah</em> no.738 dan Ahmad dalam Musnad-nya no. 26242.<br />
<a name="_ftn7" href="#_ftnref7">[7]</a> Lihat penukilan Abu Dawud setelah menyampaikan hadits di atas.<br />
<a name="_ftn8" href="#_ftnref8">[8]</a> Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya, kitab <em>Al Adzaan</em>, Bab <em>Al Adzaan Lil Musaafir Idza Kaanu Jama&#8217;atan Wal Iqamah Kadzaalik</em> no. 595 dan Muslim dalam Shahih-nya kitab <em>Al Masaajid Wa Mawaadhi&#8217; Ash Shalat</em>, bab <em>Man Ahaqu Bil Imamah </em>no. 1080.<br />
<a name="_ftn9" href="#_ftnref9">[9]</a> Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya kitab <em>Al Adzaan</em>, Bab <em>Fadhlu Shalatul Jama&#8217;ah</em> no. 609.<br />
<a name="_ftn10" href="#_ftnref10">[10]</a> Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, kitab <em>Al Masaajid Wal Jama&#8217;ah</em>, bab <em>At</em><em> </em><em>Taghlidz Fi Attakhalluf &#8216;Anil Jama&#8217;ah</em> no. 785. hadits ini dishahihkan Al Albani dalam <em>Sh</em><em>ahih sunan Ibn</em><em>i Maajah</em> no. 631.<br />
<a name="_ftn11" href="#_ftnref11">[11]</a> Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya kitab <em>Al Adzaan</em>, bab <em>Wujubu Shalatil Jama&#8217;ah</em> no. 608 dan Muslim dalam Shahih-nya kitab <em>Al Masaajid Wa Mawaadhi&#8217;</em> shalat, bab <em>Fadhlu Shalatil Jamaah Wa Bayaani Attasydiid Fit Takhalluf &#8216;Anha</em> no. 1041.<br />
<a name="_ftn12" href="#_ftnref12">[12]</a> Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya kitab <em>Al Masaajid Wa Mawaadhi&#8217; Shalat</em>, bab <em>Yajibu Ityanul Masjid &#8216;Ala Man Sami&#8217;a Annida&#8217;</em> no. 1044.<br />
<a name="_ftn13" href="#_ftnref13">[13]</a> Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya kitab <em>Al Adzaan</em>, Bab <em>Fadhlu Shalatul Jama&#8217;ah</em> no. 609.<br />
<a name="_ftn14" href="#_ftnref14">[14]</a> Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya kitab <em>Al Masaajid Wa Mawaadhi&#8217; Shalat</em>, bab <em>Fadhlu Katsrotil Khutha Ilal Masaajid</em>, no.1064.<br />
<a name="_ftn15" href="#_ftnref15">[15]</a> Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya no. 11380.<br />
<a name="_ftn16" href="#_ftnref16">[16]</a> <em>Raudhatun Nadiyah Syarah Durarul Bahiyah</em> 1/306.<br />
<a name="_ftn17" href="#_ftnref17">[17]</a> <em>Fiqh</em><em>us Sunnah</em> 1/248<br />
<a name="_ftn18" href="#_ftnref18">[18]</a> Diriwayatkan oleh Bukhori dalam shohihnya kitab <em>Al Adzaan</em>, bab <em>Wujubu Shalatil Jama&#8217;ah</em> no. 608 dan Muslim dalam Shohih-nya kitab <em>Al Masaajid Wa Mawaadhi&#8217; Shalat</em>, bab <em>Fadhlu Shalatil Jamaah Wa Bayaani Attasydiid Fit Takhalluf &#8216;Anha</em> no. 1041.<br />
<a name="_ftn19" href="#_ftnref19">[19]</a> <em>Fathul Baari</em> 2/125<br />
<a name="_ftn20" href="#_ftnref20">[20]</a> <em>Ihkamul Ahkaam</em> 1/124.<br />
<a name="_ftn21" href="#_ftnref21">[21]</a> Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya kitab <em>Al Masaajid Wa Mawaadhi&#8217; Shalat</em>, bab <em>Yajibu Ityanul Masjid &#8216;Ala Man Sami&#8217;a Annida&#8217;</em> no. 1044.<br />
<a name="_ftn22" href="#_ftnref22">[22]</a> <em>Al Mughni</em> 3/6.<br />
<a name="_ftn23" href="#_ftnref23">[23]</a> Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya, kitab <em>Ash Shalat</em>, bab <em>At</em><em> Tasydiid Fi Tarkil Jamaah</em> no.460, An Nasa&#8217;I dalam Sunan-nya, kitab <em>Al Imaamah</em>, bab <em>At Tasydiid Fi Tarkil Jama&#8217;ah</em> no.738 dan Ahmad dalam Musnad-nya no. 26242.<br />
<a name="_ftn24" href="#_ftnref24">[24]</a> <em>Fatawa Lajnah Daimah</em> 7/283.<br />
<a name="_ftn25" href="#_ftnref25">[25]</a> <em>Shalat</em><em>u</em><em>l Jama&#8217;ah</em><em>,</em> Hal. 72</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-berjama’ah-wajib-ataukah-sunnah/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-berjama%e2%80%99ah-wajib-ataukah-sunnah/&amp;title=Hukum+Shalat+Berjama%E2%80%99ah+Wajib+Ataukah+Sunnah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-berjama%e2%80%99ah-wajib-ataukah-sunnah/&amp;title=Hukum+Shalat+Berjama%E2%80%99ah+Wajib+Ataukah+Sunnah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-berjama%e2%80%99ah-wajib-ataukah-sunnah/&amp;t=Hukum+Shalat+Berjama%E2%80%99ah+Wajib+Ataukah+Sunnah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-berjama%e2%80%99ah-wajib-ataukah-sunnah/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Hukum+Shalat+Berjama%E2%80%99ah+Wajib+Ataukah+Sunnah%3F+-+http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-berjama%e2%80%99ah-wajib-ataukah-sunnah/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-berjama%e2%80%99ah-wajib-ataukah-sunnah/&amp;title=Hukum+Shalat+Berjama%E2%80%99ah+Wajib+Ataukah+Sunnah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-berjama%e2%80%99ah-wajib-ataukah-sunnah/&amp;title=Hukum+Shalat+Berjama%E2%80%99ah+Wajib+Ataukah+Sunnah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Hukum+Shalat+Berjama%E2%80%99ah+Wajib+Ataukah+Sunnah%3F+-+File: /data/app/webapp/functions.php<br />Line: 7<br />Message: Too many connections&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Hukum+Shalat+Berjama%E2%80%99ah+Wajib+Ataukah+Sunnah%3F&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-berjama%e2%80%99ah-wajib-ataukah-sunnah/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Tidak%20disangsikan%20lagi%20permasalahan%20ibadah%20merupakan%20inti%20ajaran%20Islam.%20Syari%27at%20sangat%20memperhatikan%20permasalahan%20ini%2C%20karena%20ia%20merupakan%20perwujudan%20aqidah%20seseorang.%20Salah%20satunya%20adalah%20shalat%20berjama%27ah.%20%0D%0ABagaimana%20sebenarnya%20hukum%20shalat%20berjama%27ah%3F%20Wajib%20ataukah%20tidak%3F" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-berjama%e2%80%99ah-wajib-ataukah-sunnah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bukti dan Tanda Cinta Rasul</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/aqidah/bukti-dan-tanda-cinta-rasul/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/aqidah/bukti-dan-tanda-cinta-rasul/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2009 08:00:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[rasul]]></category>
		<category><![CDATA[salaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=489</guid>
		<description><![CDATA[Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Seandainya manusia diberikan semua pengakuannya tentulah banyak orang yang menuntut darah dan harta orang lain.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mencintai Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> merupakan kewajiban bagi setiap muslim dan semuanya mengaku ingin mencintainya, namun tidak semua pengakuan cinta dianggap benar dan tidak semua keinginan baik itu baik. Oleh karena itu diperlukan bukti dan tanda yang dapat dijadikan standar kebenaran pengakuan cinta Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> , <span id="more-489"></span>sebab bila pengakuan tidak dibuktikan dengan bukti, maka tentulah banyak orang membuat kerusakan dan keonaran dengan pengakuan-pengakuan dusta, sebagaimana disabdakan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>:</p>
<p align="right"><span style="font-size: large; font-family: times, times new roman, serif;">???? ??????? ???????? ????????????? ????????? ????? ??????? ??????? ??????????????? ???? ??????? ? ????</span></p>
<p><em>Seandainya manusia diberikan semua pengakuannya tentulah banyak orang yang menuntut darah dan harta orang lain.</em> HR  Al Bukhari, kitab Tafsier Al Qur’an no. 1487 dan Muslim kitab Al Aqdhiyah, Bab Al Yamien ‘Ala Al Muda’I no. 3228</p>
<p>Karena itu, wajib atas setiap muslim mengetahu bukti dan tanda kecintaan kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> dan mengamalkan serta merealisasikannya dalam kehidupan sehari-harinya. Sebab bukti dan tanda-tanda tersebut menunjukkan kecintaannya yang hakiki sehingga semakin banyak memiliki bukti dan tanda tersebut maka semakin tinggi dan sempurna kecintaannya kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>.</p>
<p>Diantara bukti dan tanda-tanda tersebut adalah:</p>
<p>1. Mencontoh dan menjalankan sunnah beliau <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> .<br />
Mencontoh, mengikuti Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> dan berjalan diatas manhaj beliau serta berpegang teguh dan mengikuti seluruh pernyataan dan perbuatan beliau adalah awal tanda cinta Rasul sehingga orang yang benar mencintai Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> adalah orang yang mengikuti Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> secara lahiriyah dan batiniyah serta selalu menyesuaikan perkataan dan perbuatannya dengan sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>. Hal ini dijelaskan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> dalam hadits Anas bin Malik, beliau <em>radhiyallahu &#8216;anhu </em>berkata:</p>
<p align="right"><span style="font-size: large; font-family: times, times new roman, serif;">????? ??? ??????? ????? ?????? ????? ???????? ????????? ??? ??????? ???? ???????? ???? ???????? ?????????? ?????? ??? ???????? ????? ???????? ????????? ????? ????? ??? ??? ??????? ???????? ???? ???????? ?????? ??????? ???????? ?????? ?????????? ?????? ?????????? ????? ????? ??? ??????????</span></p>
<p><em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku: Wahai anakkku, jika kamu mampu pada pagi sampai sore hari tida ada dihatimu sifat berkhiyanat pada seorangpun maka perbuatlah. Kemudian beliau n berkata kepadaku lagi: Wahai anakku! Itu termasuk sunnahku dan siapa yang menghidupkan sunnahku maka ia telah mencintaiku dan siapa yang telah mencintaiku maka aku bersamanya disyurga.</em> HR Al Tirmidzi, kitab Al Ilmu, Bab Ma jaa Fil Akhdzi bissunnah Wajtinaab Al Bida’ no. 2678</p>
<p>Orang yang mencintai Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> adalah orang yang semangat berpegang teguh dan menghidupkan sunnah dan itu diwujudkan dengan mengamalkan sunnahnya, melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya dalam pernyataan dan perbuatan serta mendahulukan itu semua dari hawa nafsu dan kelezatannya sebagaimana firman Allah :</p>
<p align="right"><span style="font-size: large; font-family: times, times new roman, serif;">???? ???? ????? ?????????? ??????????????? ??????????????? ??????????????? ??????????????? ??????????? ????????????????? ??????????? ?????????? ?????????? ??????????? ????????????? ??????? ?????????? ???? ??????? ??????????? ????????? ??? ????????? ????????????? ??????? ???????? ??????? ?????????? ? ????????? ??? ??????? ????????? ?????????????</span></p>
<p><em>Katakanlah:&#8221;Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya&#8221;. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.</em> (QS. At-Taubah:24)</p>
<p>Menghidupkan sunnah dan mengikuti Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> dalam setiap langkah kehidupannya adalah bukti kecintaannya kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> sebagaimana juga menjadi bukti kecintaan kepada Allah. Allah berfirman:</p>
<p align="right"><span style="font-size: large; font-family: times, times new roman, serif;">???? ???? ???????? ?????????? ????? ?????????????? ???????????? ????? ?????????? ?????? ??????????? ? ??????? ??????? ???????</span></p>
<p><em>Katakanlah:&#8221;Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu&#8221;. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.</em> (QS. Ali Imran: 31)</p>
<p>Berdasarkan hal ini, kecintaan kepada Allah dan RasulNya menuntut konsekwensi mengamalkan hal-hal yang dicintai dan menjauhi yang dilarang dan dibenci dan tidak mungkin ada orang yang mencintai Rasulnya adalah orang yang tidak mau mengikuti sunnahnya atau bahkan melakukan kebid’ahan dengan sengaja.</p>
<p>2. Banyak ingat dan menyebutnya, karena orang yang mencintai sesuatu tentu akan memperbanyak ingat dan menyebutnya dan senantiasa ingat kepadanya merupakan sebab sinambungnya kecintaan dan pertumbuhannya.</p>
<p>3. Menyampaikan sholawat dan salam kepada beliau untuk mengamalkan firman Allah:</p>
<p align="right"><span style="font-size: large; font-family: times, times new roman, serif;">????? ????? ??????????????? ?????????? ????? ?????????? ? ??? ???????? ????????? ??????? ??????? ???????? ??????????? ??????????</span></p>
<p><em>Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.</em> (QSAl-Ahzaab:56)</p>
<p>Dan hadits Nabi yang berbunyi :</p>
<p align="right"><span style="font-size: large; font-family: times, times new roman, serif;">????? ??????? ????? ?????? ????? ???????? ????????? ????? ?????? ??????? ????????? ????? ??????? ??? ???????? ???????? ????????? ????? ????????? ????? ??????? ???????????? ??????????? ???????????? ????? ????????? ????? ????? ????? ????????? ????? ????? ????? ??????? ?????? ??? ??????? ??????? ?????? ???????? ?????????? ???????? ?????? ???????? ???? ???? ???????? ??????? ??? ?????? ????? ?????? ????????? ????? ??? ?????? ?????? ?????? ?????? ?????? ???? ?????? ????????? ????? ??? ?????? ?????? ?????? ?????? ?????? ???? ????? ?????? ??????????????? ????? ??? ?????? ?????? ?????? ?????? ?????? ???? ?????? ???????? ???? ???????? ???????? ????? ????? ??????? ??????? ?????????? ???? ????????</span></p>
<p><em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dulu bila berlalu dua pertiga malam, beliau bangun dan berkata: Wahai sekalian manusia berdzikirlah kepada Allah, berdzikirlah kepada Allah. Pasti datang tiupan sangkakala pertama yang diikuti dengan yang kedua, datang kematian dengan kengeriannya, datang kematian dengan kengeriannya. Ubai berkata: Aku berkata: Wahai Rasululloh aku memperbanyak sholawat untukmu, berapa banyak aku bersholawat untukmu? Beliau menjawab: Sesukamu. Lalu Ubai berkata lagi: aku berkata: seperempat. Beliau berkata: terserah, tapi kalau kamu tambah maka itu lebih baik. Aku berkata: setengah. Beliau menjawab lagi: terserah, tapi kalau kamu tambah maka lebih baik bagimu. Maka aku berkata lagi: kalau begitu dua pertiga. Beliau menjawab: Terserah, kalau kamu tambah maka lebih baik bagimu. Lalu akau berkata: Saya jadikan seluruh (do’aku) adalah sholawat untukmu. Maka Rasululloh menjawab: Kalau begitu (sholawat) itu mencukupkan keinginamu (dunia dan akherat) dan Allah akan mengampuni dosamu.</em> HR Al Tirmidzi , kitab Sifat Al Qiyaamh no. 2457 dan Syeikh Al Albani dalam Silsilah Ahadits Shohihah (no.954) menyatakan: Sanadnya hasan karena perbedaan ulama yang terkenal tentang Ibnu Uqail.</p>
<p>Ibnu Al Qayyim <em>rahimahullah</em> menyatakan: <em>Syeikh kami Abul Abas Ibnu Taimiyah rahimahullah ditanya tentang tafsir hadits ini, beliau menjawab: Ubai waktu itu memiliki doa yang digunakan untuk dirinya sendiri, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: Apakah ia menjadikan seperempat do’anya untuk bersholawat untuk beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau n berkata lagi: jika kamu tambah maka itu lebih baik bagimu. Ia menjawab: separuhnya. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: jika kamu tambah maka itu lebih baik bagimu. Sampai kemudian menyatakan: aku jadikan doaku semuanya untuk sholawat untukmu. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: kalau begitu itu mencukupkan kamu dari semua keinginanmu dan Allah mengampuni dosamu. Hal ini karena orang yang bersholawat satu kali untuk Nabi n akan mendapatkan sholawat dari Allah sepuluh kali dan siapa yang mendapat sholawat Allah maka tentunya akan dapat mencukupi semua keinginannya dan diampuni dosanya, inilah pengertia ucapan beliau.</em> (Lihat: Jala’ Al AFhaam fi Fadhli Al Sholat Wa Al Salam ‘Ala Khoiril Anam, Ibnul Qayyim, tahqiq Zaid bin Ahmad Al Nasyiri, cetakan pertama tahun 1425H Dar ‘Alam Al Fawaaid, hal 76.)</p>
<p>4. Menyebut keutamaan dan kekhususan serta sifat, akhlak dam prilaku utama yang Allah berikan kepada beliau, juga mu’jizat serta bukti kenabian untuk mengenal kedudukan dan martabat beliau n serta untuk mencontoh sifat dan akhlak beliau. Demikian juga untuk mengenalkan orang lain dan mengingatkan mereka tentang hal itu agar mereka semakin iman dan bertambah kecintaan kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>.<br />
Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> ketika menyebutkan faedah yang didapat dari Sholawat untuk Nabi n menyatakan: Seorang ketika memperbanyak menyebut kekasihnya, mengingatnya dihati dan mengingat kebaikan-kebaikan dan factor-faktor yang menumbuhkan perasaan cinta kepadanya maka semakin berlipat ganda kecintaannya kepada kekasihnya tersebut dan bertambah rindu kepadanya serta menguasai seluruh hatinya. Apabila ia tidak sama sekali menyebutnya dan tidak mengingatnya dan mengingat kebaikan-kebaikan sang kekasih dihatinya maka akan berkurang rasa cinta dihatinya. Memang tidak ada yang dapat menyenangkannya lebih dari melihat kekasihnya tersebut dan tidak juga ada yang menyejukkan hatinya lebih dari menyebut dan mengingat sang kekasih dan kebaikan-kebaikannya. Apabila kuat hal ini dihatinya maka lisannya langsung akan memuji dan menyebut kebaikan-kebaikannya. Bertambah dan berkurangnya hal ini sesuai dengan bertambah dan berkurangnya rasa cinta dihatinya dan indera kita menjadi saksi kebenaran hal itu.</p>
<p>5. Bersikap sopan santun dan beradab dengan beliau <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> baik dalam menyebut nama atau memanggilnya, sebab Allah berfirman:</p>
<p align="right"><span style="font-size: large; font-family: times, times new roman, serif;">??? ?????????? ??????? ?????????? ?????????? ????????? ?????????? ??????? ? ???? ???????? ????? ????????? ?????????????? ???????? ???????? ? ???????????? ????????? ???????????? ???? ???????? ???? ??????????? ???????? ???? ??????????? ??????? ???????</span></p>
<p><em>Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain).Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.</em> (QS. AnNuur: 63)</p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah </em>menyatakan: <em>Adab tertinggi terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah menerima penuh, tunduk patuh kepada perintahnya dan menerima beritanya dengan penuh penerimaan dan pembenaran tanpa ada penentangan dengan khayalan batil yang dinamakan ma’qul (masuk akal), syubhat, keraguan atau mendahulukan pendapat para intelektual dan kotoran pemikiran mereka, sehingga hany berhukum dan menerima, tunduk dan taat kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.</em></p>
<p>6. Berharap melihat beliau dan rindu berjumpa dengannya walaupun harus membayarnya dengan harta dan keluarga. Tanda kecintaan ini dijelaskan langsung Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> dalam sabda beliau:</p>
<p align="right"><span style="font-size: large; font-family: times, times new roman, serif;">???? ??????? ???????? ??? ?????? ????? ?????????? ??????? ??????? ?????????? ???? ?????? ?????????? ?????????</span></p>
<p><em>Diantara umatku yang paling mencintaiku adalah orang-orang yang hidup setelahku, salah seorang dari mereka sangat ingin melihatku walaupun menebus dengan keluarga dan harta.</em> HR Muslim, kitab Al Jannah wa Shifat Na’imiha Wqa Ahliha, Bab Fiman Yawaddu Ru’yat Al Nabi Biahlihi wa malihi. No. 5060</p>
<p>Demikian juga dalam hadits Abu Hurairah <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda:</p>
<p align="right"><span style="font-size: large; font-family: times, times new roman, serif;">????????? ?????? ????????? ??? ?????? ????????????? ????? ?????????? ?????? ????? ???????? ????? ?????? ???????? ??????? ???????? ???? ???????? ?????????</span></p>
<p><em>Demi Dzat yang jiwa Muhammad ditanganNya (Allah), pasti akan datang pada salah seorang dari kalian satu waktu dan ia tidak melihatku, kemudian melihat aku lebih ia cintai dari keluarga dan hartanya.</em> HR Muslim, kitab Al Fadhoil, bab Fadhlu Al Nadzor Ila Nabi n wa Tamanihi no. 4359.</p>
<p>7. Nasehat untuk Allah, kitabNya, RasulNya dan pemimpin kaum muslimin serta umumnya kaum muslimin.</p>
<p>8. Belajar Al Qur’an, sinambung membacanya dan memahami maknanya. Demikian juga belajar sunnahnya, mengajarkannya dan mencintai ahlinya (ahlu sunnah). Imam Al Qadhi Iyaad <em>rahimahullah</em> menyatakan: <em>Diantara tanda-tanda mencintai rasululloh adalah mencintai Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dan beliau mengambil petunjuk dan menunjuki (manusia) dengannya serta berakhlak dengannya sehingga A’isyah menyatakan:</em></p>
<p align="right"><span style="font-size: large; font-family: times, times new roman, serif;">????? ?????? ??????? ???? ????? ????????</span></p>
<p><em>Sesungguhnya Akhlak beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Al Qur’an.</em> HR Muslim, kitab Sholat Al Musafirin, Bab Jaami’ sholat Al Lail no.1233</p>
<p>Ibnu Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata:<em> “Janganlah seseorang menanyakan untuk dirinya kecuali Al Qur’an, apabila ia mencintai Al Qur’an maka ia mencintai Allah dan RasulNya”.</em> (lihat: Huquq Al Nabi 1/343)</p>
<p>9. Mencintai orang yang Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> cintai, diantaranya:</p>
<p>a. Ahli baitnya (kerabat)</p>
<p>Imam Al Baihaqi <em>rahimahullah </em>berkata: &#8220;<em>Dan masuk dalam lingkupan kecintaan kepada beliau n adalah mencintai ahli bait&#8221;</em>.(lihat: Syu’abil Iman, Al Baihaqi 1/282) Sedangkan Ibn Taimiyah <em>rahimahullah </em>menyatakan: <em>&#8220;Diantara ushul ahlus Sunnah wal Jama’ah , mereka mencintai ahli bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan memberikan loyalitas pada mereka serta menjaga wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang mereka.&#8221;</em> (lihat: Majmu’ fatawa 3/407)<br />
Kemudian beliau <em>rahimahullah</em> menyatakan: <em>Ahlul bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki hak-hak yang wajib dipelihara, karena Allah menjadikan untuk mereka hak dalam Al Khumus, Al fei’ dan memerintahkan bersholawat untuk mereka bersama sholawat untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam</em> . lalu mendefinisikan ahli bait dengan menyatakan: <em>Ahli bait Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang diharamkan mengambil shodaqah, demikian pendapat imam Al Syaafi’I dan Ahmad bin Hambal serta yang lainnya dari para ulama.</em></p>
<p>b. Para istri beliau <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em></p>
<p>Ahlus Sunnah Wal Jama’ah menjaga keutamaan dan hak-hak mereka dan meyakini mereka tidak sama seperti para wanita lainnya, sebab Allah telah membedakannya dalam firmanNya:</p>
<p align="right"><span style="font-size: large; font-family: times, times new roman, serif;">??? ??????? ?????????? ????????? ???????? ???? ?????????? ? ???? ????????????? ????? ?????????? ??????????? ?????????? ??????? ??? ???????? ?????? ???????? ??????? ?????????? </span></p>
<p><em>Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain</em>, (QS. Al Ahzab: 32)</p>
<p>Dan menjadikannya sebagai ibu kaum mukminin dalam firmanNya:</p>
<p align="right"><span style="font-size: large; font-family: times, times new roman, serif;">????????????? ?????????????? ?</span></p>
<p><em>Dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka.</em> (QS. Al Ahzaab: 6)</p>
<p>Demikian juga menjadikan pengharaman menikahi mereka setelah wafat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> sampai hari kiamat dalam firmanNya:</p>
<p align="right"><span style="font-size: large; font-family: times, times new roman, serif;">????? ????? ?????? ???? ???????? ??????? ????? ????? ???? ?????????? ??????????? ???? ???????? ??????? ? ????? ????????? ????? ?????? ????? ???????? </span></p>
<p><em>Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.</em> (QS. Al Ahzaab: 53)</p>
<p>Sehingga wajib bagi kita menjaga hak-hak mereka setelah mereka wafat, bersholawat untuk mereka bersama Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> dan memohonkan ampunan bagi mereka serta menjelaskan pujian dan keutamaan mereka.</p>
<p>c. Para sahabat beliau <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> .</p>
<p>Imam Al Baihaqi <em>rahimahullah </em>menyatakan: Masuk dalam kecintaan kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> adalah cinta kepada para sahabat beliau, karena Allah telah memuji mereka dalam firmanNya:</p>
<p align="right"><span style="font-size: large; font-family: times, times new roman, serif;">????????? ??????? ????? ? ??????????? ?????? ?????????? ????? ??????????? ????????? ?????????? ? ????????? ???????? ???????? ??????????? ??????? ???? ????? ???????????? ? ?????????? ??? ??????????? ???? ?????? ?????????? ? ??????? ?????????? ??? ???????????? ? ???????????? ??? ???????????? ???????? ???????? ???????? ????????? ????????????? ??????????? ?????? ??????? ???????? ??????????? ????????? ?????? ??????????? ? ?????? ????? ????????? ??????? ?????????? ????????????? ???????? ?????????? ????????? ???????? </span></p>
<p><em>Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka ruku&#8217; dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda meraka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu&#8217;min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.</em> (QS. Al-Fath:29) dan firman Allah:</p>
<p align="right"><span style="font-size: large; font-family: times, times new roman, serif;">?????? ?????? ????? ???? ?????????????? ???? ?????????????? ?????? ??????????? ???????? ??? ??? ??????????? ?????????? ???????????? ?????????? ????????????? ??????? ????????</span></p>
<p><em>Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu&#8217;min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). </em>(QS. Al-Fath:18).</p>
<p>Kemudian beliau rahimahullah menyatakan: <em>&#8220;Apabila mereka (para sahabat) telah mendapatkan kedudukan ini, maka mereka memiliki hak dari jamaah muslimin untuk mencintai mereka dan mendekatkan diri kepada Allah dengan kecintaan kepada mereka, karena Allah apabila meridhoi seorang maka Dia mencintainya dan wajib atas seorang hamba untuk mencintai orang yang Allah cintai.&#8221;</em> (Lihat: Syu’abil Iman Al Baihaqi 1/287)<br />
Umat islam wajib mencintai sahabat, meridhoi mereka dan mendo’akan kebaikan untuk mereka, sebagaimana Allah perintahkan dalam firmanNya:</p>
<p align="right"><span style="font-size: large; font-family: times, times new roman, serif;">??????????? ??????? ???? ?????????? ?????????? ???????? ??????? ????? ???????????????? ????????? ?????????? ????????????? ????? ???????? ??? ?????????? ?????? ?????????? ??????? ???????? ??????? ??????? ???????</span></p>
<p><em>&#8220;Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa:&#8221;Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang&#8221;.</em> (QS. Al-Hashr:10)</p>
<p>Imam Al Baihaqi <em>rahimahullah</em> menyatakan: <em>&#8220;Apabila telah jelas bahwa mencintai sahabat termasuk iman, maka mencintai mereka bermakna meyakini dan mengakui keutamaan-kutamaan mereka, mengetahui setiap mereka memiliki hak yang harus ditunaikan dan setiap yang perhatian kepada islam diperhatikan serta yang memiliki kedudukan khusus pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditempatkan pada kedudukannya dan menyebarkan kebaikan-kebaikan mereka serta mendoakan kebaikan untuk mereka dan mencontoh semua yang ada dalam permasalahan agama dari mereka. Tidak boleh mencari-cari kesalahan dan ketergelinciran mereka.&#8221;</em> (lihat: Syu’abul Iman hal 297)<br />
Sedangkan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitab Al Aqidah Al Wasithiyah menyatakan: <em>&#8220;Diantara ushul (pokok ajaran) Ahlu Sunnah Wal Jamaah adalah selamat hati dan lisan mereka dari mencela para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana disifatkan Allah dalam firmanNya:</em></p>
<p align="right"><span style="font-size: large; font-family: times, times new roman, serif;">??????????? ??????? ???? ?????????? ?????????? ???????? ??????? ????? ???????????????? ????????? ?????????? ????????????? ????? ???????? ??? ?????????? ?????? ?????????? ??????? ???????? ??????? ??????? ???????</span></p>
<p><em>Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa:&#8221;Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang.</em> (QS. Al-Hashr:10) dan mentaati Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>  dalam sabda beliau <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> :</p>
<p align="right"><span style="font-size: large; font-family: times, times new roman, serif;">??? ????????? ?????????? ???? ??????? ???????? ???????? ???? ????? ?????????? ???????? ?????? ?????? ??????? ??? ?????? ????? ?????????? ????? ?????????</span></p>
<p><em>Janganlah kalian mencela para sahabatku, demi Allah seandainya salah seorang kalian berinfaq emas sebesar gunung uhud, tidak akan menyamai satu mud mereka dan tidak pula separuhnya.</em></p>
<p><em>Mereka (ahlu sunnah) menerima keutamaan-keutamaan dan martabat-martabat mereka yang telah dijelaskan dalam Al Qur’an dan As Sunnah serta ijma. Mereka juga mendahulukan orang yang berinfaq dan berperang sebelum Al fathu –perjanjian Hudaibiyah- atas orang yang berinfaq dan berperang setelah itu dan mendahulukan para muhajirin atas anshor serta beriman bahwa Allah telah berfirman kepada orang yang ikut serta perang Badar dan jumlah mereka tigaratus sekian belas orang: (Berbuatlah sesuka hati kalian, karena kalian sungguh telah diampuni). (Juga beriman) bahwa tidak ada seorangpun yang berbaiat dibawah pohon (bai’at ridwan) yang masuk neraka, bahkan Allah telah meridhoi mereka dan mereka ridhi kepada Allah dan jumlah mereka lebih dari seribu empat ratus orang. Mereka (ahlu sunnah) bersaksi bahwa orang yang Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam persaksikan sebagai ahli syurga seperti sepuluh orang yang dijanjikan masuk syurga (Al ‘Asyarah), Tsabit bin Qais bin Syammas dan sahabat-sahabat lainnya dan beriman dengan pernyataan Amirul Mukminin Ali bin Abi Tholib dan yang lainnya yang telah dinukil secara mutawatir bahwa sebaik-baik umat ini setelah nabinya adalah Abu Bakar kemudian Umar dan menetapkan yang ketiga adalah Utsman dan yang keempat adalah Ali sebagaimana disebutkan dalam atsar dan para sahabat bersepakat mendahulukan Utsman dalam Bai’at dengan adanya sebagian ahlu sunnah pernah berselisih tentang Utsman dan Ali setelah kesepakatan mereka mendahulukan Abu bakar dan Umar, siapakah dari keduanya yang lebih utama? Sebagian orang mencahulukan Utsman dan diam atau menetapkan keempat adalah Ali dan sebagian lainnya mendahulukan Ali serta sebagian yang lainnya diam tidak bersikap. Namun perkara kaum muslimin telah tetap mendahulukan Utsman kemudian Ali, walaupun maslah ini –yaitu masalah Utsman dan Ali- bukan termasuk pokok dasar (ushul) yang digunakan untuk menghukumi sesat orang yang menyelisihinya menurut mayoritas Ahlu Sunnah. Akan tetapi yang digunakan untuk memvonis sesat adalah masalah kekhilafahannya. Hal itu karena kholifah setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Abu bakar kemudian Umar kemudian Utsman kemudian Ali. Siapa yang mencela kekhilafahan salah seorang dari mereka ini maka ia lebih sesat dari keledai.</em> (Lihat: Majmu’ Fatawa 3/152-153 atau Syarah Al Aqidah Al Wasithiyah Min Kalami Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah, Kholid bin Abdullah Al Mushlih, cetakan pertama tahun 1421 H, Dar Ibnul Jauzi hal. 177-184).</p>
<p>9. Membenci orang yang Allah dan RasulNya benci, memusuhi orang yang memusuhi Allah dan rasulNya, menjauhi orang yang menyelelisihi sunnahnya dan berbuat kebid’ahan dalam agama dan merasa berat atas semua perkara yang menyelisihi syari’at. Allah berfirman:</p>
<p align="right"><span style="font-size: large; font-family: times, times new roman, serif;">??? ?????? ??????? ??????????? ??????? ??????????? ???????? ??????????? ???? ?????? ????? ??????????? ?????? ??????? ?????????? ???? ????????????? ???? ????????????? ???? ????????????? ? ?????????? ?????? ??? ??????????? ??????????? ????????????? ??????? ?????? ? ?????????????? ???????? ??????? ???? ????????? ???????????? ?????????? ?????? ? ?????? ????? ???????? ???????? ?????? ? ?????????? ?????? ????? ? ????? ????? ?????? ????? ???? ?????????????? </span></p>
<p><em>Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka denga pertolongan yang datang daripada-Nya.Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya.Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya.Mereka itulah golongan Allah.Ketahuilah, bhwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.</em> (QS. Al-Mujaadilah: 22)</p>
<p>Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> berkata:<em> &#8220;Seorang mukmin wajib memusuhi karena Allah dan berloyalitas karena Allah. Apabila disana ada Mukmin maka wajib memberikan loyalotas kepadanya –walaupun ia berbuat dzolim- karena kedzoliman tidak memutus loyalitas iman, Allah berfirman:</em></p>
<p align="right"><span style="font-size: large; font-family: times, times new roman, serif;">?????? ???????????? ???? ?????????????? ??????????? ???????????? ??????????? ? ?????? ?????? ???????????? ????? ??????????? ??????????? ??????? ??????? ??????? ??????? ?????? ?????? ????? ? ?????? ??????? ???????????? ??????????? ??????????? ???????????? ? ????? ????? ??????? ?????????????? [??:?] ???????? ?????????????? ???????? ???????????? ?????? ???????????? ? ?????????? ????? ??????????? ??????????? [??:??]???????? ?????????????? ???????? ???????????? ?????? ???????????? ? ?????????? ????? ??????????? ??????????? </span></p>
<p><em>Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu&#8217;min berperang maka damaikanlah antara keduanya.Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali, kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah.Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mu&#8217;min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (QS. Al-Hujuraat: 9-10)</em></p>
<p><em>Allah sebutkan persaudaraan walaupun terjadi peperangan dan perbuatan aniaya dan memerintahkan perdamaian diantara mereka. Sehingga diwajibkan memberikan loyalitas kepada mukmin walaupun ia mendzolimimu dan berbuat aniaya padamu sedangkan orang kafir wajib dimusuhi walaupun memberimu dan berbuat baik padamu. Hal ini karena Allah telah mengutus para Rasul dan menurunkan kitab suci agar agama ini semua untukNya, sehingga cinta, pemuliaan dan pahala untuk para waliNya sedangkan kebencian, kehinaan dan siksaan untuk para musuhNya. Apabila berkumpul pada seseorang kebaikan, keburukan dan kefajiran, ketaatan dan kemaksiatan, sunnah dan bid’ah, maka berhak mendapatkan loyalitas dan pahala sesuai dengan kebaikan yang dimilikinya dan berhak mendapatkan permusuhan dan siksaan sesuai dengan keburukan yang dimilikinya. Sebab berkumpul pada satu orang tersebut factor yang menghasilkan pemuliaan dan penghinaan, lalu berkumpul ini dan itu, seperti maling (pencuri) yang fakir dipotong tangannya karena mencuri dan diberi dari baitulmal sesuatu yang mencukupi kebutuhannya. Ini adalah dasar pokok (asal) yang disepakati Ahlu Sunnah wal jama’ah.</em> (Lihat: Majmu’ Fatawa 27/208-209).<br />
Demikianlah sebagian tanda dan bukti penting kecintaan kita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam semoga Allah memudahkan kita untuk mendapatkan dan merealisasikannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Wabillahi taufiq.</p>
<p>(Sebagian besar materi makalah ini diambil dari kitab <em>Huquq Al Nabi ‘Ala Umatihi Fi Dhu’il Kitab Was Sunnah,</em> DR Muhammad Kholifah Al Tamimi, cetakan pertama tahun 1418 H, Penerbit Adwaa’ Al Salaf)</p>
<p>Penulis: Kholid Syamhudi Lc</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/aqidah/bukti-dan-tanda-cinta-rasul/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/aqidah/bukti-dan-tanda-cinta-rasul/&amp;title=Bukti+dan+Tanda+Cinta+Rasul" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/aqidah/bukti-dan-tanda-cinta-rasul/&amp;title=Bukti+dan+Tanda+Cinta+Rasul" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/aqidah/bukti-dan-tanda-cinta-rasul/&amp;t=Bukti+dan+Tanda+Cinta+Rasul" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/aqidah/bukti-dan-tanda-cinta-rasul/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Bukti+dan+Tanda+Cinta+Rasul+-+http://ustadzkholid.com/aqidah/bukti-dan-tanda-cinta-rasul/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/aqidah/bukti-dan-tanda-cinta-rasul/&amp;title=Bukti+dan+Tanda+Cinta+Rasul" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/aqidah/bukti-dan-tanda-cinta-rasul/&amp;title=Bukti+dan+Tanda+Cinta+Rasul" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Bukti+dan+Tanda+Cinta+Rasul+-+http://b2l.me/pawdf&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Bukti+dan+Tanda+Cinta+Rasul&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/aqidah/bukti-dan-tanda-cinta-rasul/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Rasulullah%20shallallahu%20%E2%80%98alaihi%20wasallam%20bersabda%3A%0D%0ASeandainya%20manusia%20diberikan%20semua%20pengakuannya%20tentulah%20banyak%20orang%20yang%20menuntut%20darah%20dan%20harta%20orang%20lain." rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/aqidah/bukti-dan-tanda-cinta-rasul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masalah &#8220;Ash Sholaatu Khoirun Min An Naum&#8221;</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/masalah-asholaatu-khoirun-min-an-naum/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/masalah-asholaatu-khoirun-min-an-naum/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Mar 2009 09:04:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[adzan]]></category>
		<category><![CDATA[at taswieb]]></category>
		<category><![CDATA[khilaf]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=446</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana sebenarnya hukum At Tatswieb atau ucapan muadzin Ash Sholatu Khoirun Minan Naum (?????? ??? ?? ?????) pada adzan sholat shubuh setelah ucapan hayya ‘Ala Al falaah?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Permasalahan <em><strong>At Tatswieb</strong></em> bukanlah masalah asing bagi kaum muslimin, karena setiap adzan shubuh mereka mendengarkannya. Namun banyak tata cara dan hukum yang dirasa belum banyak yang mengetahuinya. Oleh karena itu, perlu sekali dijabarkan permasalahan ini agar kita dapat mengamalkannya sesuai dengan syariat Islam.  <strong></strong></p>
<p><strong>Pengertian At Tatswieb</strong><br />
<em>At Tatswieb</em> dalam bahasa Arab berasal dari kata (<span style="font-size: 18px">??? </span>) yang berarti kembali dan ada yang menyatakan dari kata (<span style="font-size: 18px">??? </span>) jika memberi isyarat dengan pakaiannya setelah selesai memberitahu orang lain.[<em>Fathul Bari</em>, Ibnu Hajar]  Sehingga kata <em>At Tatswieb</em> menurut etimologi bahasa Arab bermakna mengulangi pengumuman setelah pengumuman dan digunakan untuk menyebut ucapan muadzin <em>Ash Sholatu Khoirun Minan Naum</em> (?????? ??? ?? ?????) pada adzan sholat shubuh setelah ucapan <em>hayya ‘Ala Al falaah</em> dua kali.<span id="more-446"></span> Namun dalam penggunaannya kata <em>At Tatswieb</em> ini digunakan untuk tiga perkara:</p>
<ol> <span><span></p>
<li>Ucapan muadzin dalam sholat shubuh <em>Al Sholatu Koirun min an Naum</em> (?????? ??? ?? ?????), inilah yang difahami banyak orang. Demikianlah disampaikan imam Al Khathaabi: &#8220;Orang umum tidak mengenal <em>At Tatswieb</em> kecuali ucapan Muadzin :  ?????? ??? ?? ????? &#8220;</li>
<li>Iqamat, berdasarkan hadits Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>yang berbunyi:
<p style="text-align:right;font-size:18px">????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ????? ????? ??????? ??????????? ???????? ???????????? ?????? ??????? ?????? ??? ???????? ???????????? ??????? ????? ?????????? ???????? ?????? ????? ??????? ???????????? ???????? ?????? ????? ????? ???????????? ???????? ?????? ???????? ?????? ????????? ?????????? ??????? ??????? ????? ??????? ????? ????? ???? ?????? ???????? ?????? ??????? ????????? ??? ??????? ???? ??????</p>
<p>Artinya: &#8220;<em>Sesungguhnya Rasululloh Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam bersabda: Jika dikumandangkan adzan untuk sholat, maka Syeitan lari dan ia memiliki suara kentut sampai ia tidak mendengar adzan. Jika selesai adzan maka ia datang kembali sampai jika diiqamatkan untuk sholat maka ia akan lari lagi sehingga selesai Al tatswieb (iqamat), maka ia datang kembali sehingga membisikkan (mengganggu) antara seseorang dengan hatinya, syeitan menyatakan: Ingatlah ini dan itu, untuk sesuatu yang belum pernah ia ingat sebelumnya, sehingga seseorang itu berada dalam keadan tidak tahu jumlah rakaat sholatnya.</em>&#8221; [HR Al Bukhori, kitab Al Adzan, bab <em>Fadhlu Al Ta’dzien</em>]</p>
<p>Al Haafidz Ibnu Hajar menyatakan: Mayoritas ulama menyatakan bahwa yang dimaksud dengan <em>At Tatswieb</em> dalam hadits ini adalah Iqamat, inilah yang ditegaskan oleh Abu ‘Awanah dalam Shahih-nya, Al Khathabi dan Al Baihaqi. Imam Al Qurthubi menyatakan: kalimat (??????? ????????????) bermakna jika diiqamatkan dan asalnya ia mengulang sesuatu yang menyerupai adzan dan setiap orang yang mengulang-ulang suaranya dinamakan (dalam bahasa Arab) <em>Mutsawwib</em> (?????????) [lihat <em>Fathul Bari</em>]</li>
<li>Ucapan muadzin antara adzan dan iqamat:
<p style="text-align:right;font-size:18px">&#8221; ???? ??????? ?????????? ????? ????? ?????????? ????? ????? ?????????? . &#8220;</p>
<p>Ini merupakan istilah khusus dalam <strong>madzhab Abu Hanifah</strong> dan amalan ini adalah amalan yang tidak ada dasarnya. Bahkan Ibnu Umar menganggapnya satu kebid’ahan, sebagaimana diriwayatkan At Tirmidzi dalam Sunan-nya.</li>
<p></span></span></ol>
<p><span><span>Imam At Tirmidzi menyatakan: Para ulama berselisih pendapat tentang tafsir <em>At Tatswieb</em>, sebagian mereka menyatakan <em>At Tatswieb</em> adalah ucapan dalam adzan subuh (?????????? ?????? ???? ?????????), inilah pendapat Ibnu Al Mubarak dan Imam Ahmad. Sedang Imam Ishaaq Ibnu Rahawaih menyatakan tentang <em>At Tatswieb</em> yang lain, beliau menyatakan: <em>&#8220;At Tatswieb</em> yang dilarang adalah yang diada-adakan orang setelah masa Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>, yaitu jika muadzin telah selesai beradzan maka ia diam sebentar menunggu orang-orang dengan membacakan antara adzan dan iqamat:</span></span></p>
<p style="text-align:right;font-size:18px"><span><span> ???? ??????? ?????????? ????? ????? ?????????? ????? ????? ??????????</span></span></p>
<p><span><span>Imam Al Tirmidzi berkata: &#8220;Apa yang disampaikan Imam Ishaaq tersebut adalah <em>At tatswieb </em>yang dilarang para ulama dan diada-adakan orang setelah masa Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> sedangkan tafsir Ibnu Al Mubarak dan Ahmad bahwa <em>At Tatswieb</em> adalah ucapan muadzin dalam sholat subuh ?????????? ?????? ???? ????????? adalah pendapat yang benar dan dinamakan juga <em>At Tatswieb</em>. Inilah yang dirajihkan para ulama.&#8221; [Sunan Al Tirmidzi , Tahqiq Ahmad Syakir 1/380-381]</span></span></p>
<p><span><span>Namun yang akan diutarakan dalam pembahasan kita kali ini adalah makna yang pertama yaitu ucapan Muadzin <em>Al Sholatu Khoirun Minan Naum </em>(?????????? ?????? ???? ?????????) pada adzan sholat shubuh setelah ucapan <em>hayya ‘Ala Al falaah</em> dua kali  <strong></strong></span></span></p>
<p><span><span><strong>Hukum dan Pensyariatannya.</strong><br />
<em>At Tatswieb</em> disyariatkan dengan dasar hadits <strong>Abul Mahdzurah </strong>yang berbunyi:</span></span></p>
<p style="text-align:right;font-size:18px"><span><span>?????? ????? ??????? ????????? ?????? ?????????? ?????? ???? ????????? ?????????? ?????? ???? ????????? ??????? ???????? ??????? ???????? ??? ?????? ?????? ???????</span></span></p>
<p><span><span>Artinya: &#8220;<em>Jika sholat subuh aku mengucapkan</em></span></span></p>
<p style="text-align:right;font-size:18px"><span><span>?????????? ?????? ???? ????????? ?????????? ?????? ???? ????????? ??????? ???????? ??????? ???????? ??? ?????? ?????? ???????</span></span></p>
<p><span><span>[HR Abu Daud no. 501, An Nasa’I (2/7-8) dan Ahmad 3/408 dan dishohihkan Al Albani dalam <em>Takhrij Al Misykah</em> no. 645]</span></span></p>
<p><span><span>Dengan dasar hadits ini mayoritas ulama menghukumi At Tatswieb sebagai sunnah untuk adzan subuh [lihat <em>Al Majmu’ 3/92 dan Al Mughni</em> 1/407]. Penulis kitab <em>Shahih Fiqh Al Sunnah</em> menyatakan: &#8220;<em>At Tatswieb</em> dalam adzan Fajar telah diriwayatkan dari hadits Bilal, Sa’ad Al Qartz, Abu Hurairoh, Ibnu Umar, Na’im Al Nahaam, A’isyah, Abu Al Muahdzurah, namun dalam sanad-sanadnya ada kelemahan dan yang terbaik dari semuanya adalah tiga riwayat terakhir dan ia dengan keseluruhannya telah menunjukkan pensyariatan <em>At Tatswieb</em> dalam adzan fajar.&#8221; [<em>Shahih Fiqh Al Sunnah</em>, Abu Maalik Kamaal bin Al Sayyid Saalim].</span></span></p>
<p><span><span><strong>At Tatswieb Diluar Adzan Subuh</strong><br />
Telah dipaparkan di atas tentang pensyariatan dan hukum <em>At Tatswieb</em> dalam adzan subuh, namun disana ada sebagian ulama <strong>madzhab Hanafiyah </strong>dan <strong>Syafi’iyah</strong> yang membolehkan <em>At Tatswieb</em> di waktu isya’, mereka berdalih karena waktu isya adalah waktu lalai dan tidur seperti subuh dan sebagian ulama madzhab Syafi’iyah bahkan memperbolehkannya dalam semua waktu sholat. Ini adalah satu kebid’ahan yang menyelisihi sunnah. Ibnu Umar telah mengingkarinya sebagaimana dalam riwayat Mujahid, beliau berkata:</span></span></p>
<p style="text-align:right;font-size:18px"><span><span>?????? ???? ????? ?????? ????????? ?????? ??? ????????? ???? ????????? ????? ??????? ????? ??????? ?????? ????????</span></span></p>
<p><span><span>Artinya: &#8220;<em>Aku dahulu bersama Ibnu Umar, lalu ada seorang bertatswieb pada sholat dzuhur atau Ashar, maka beliau berkata: Mari kita keluar, karena ini adalah kebid’ahan.</em>&#8221; [HR Abu Daud dan dihasankan Syaikh Al Albani dalam <em>Al Irwa’ </em>no. 236] </span></span></p>
<p>Demikian juga Al Tirmidzi membawakan riwayat dari Imam Mujahid, ia berkata :</p>
<p style="text-align:right;font-size:18px">???????? ???? ?????? ??????? ???? ?????? ????????? ?????? ??????? ????? ???????? ??????? ???? ????????? ????? ????????? ???????????? ???????? ?????? ??????? ???? ?????? ???? ??????????? ??????? ??????? ????? ???? ?????? ????? ????????????? ?????? ??????? ?????</p>
<p><span><span>Artinya: &#8220;<em>Aku bersama Abdulah bin Umar masuk satu masjid yang telah dikumandangkan adzan padanya dan kami ingin sholat disana, lalu muadzin melakukan AlTtatswieb. Kemudian Ibnu Umar keluar dari masjid dan berkata: marilah kita keluar dari mubtadi’ ini dan tidak sholat di masjid tersebut.</em>&#8221; Imam Al Tirmidzi mengomentari riwayat ini: Abdullah bin Umar melarang <em>Al Tatswieb</em> yang diada-adakan orang setelah Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>. [<em>Sunan Al Tirmidzi,</em> Tahqiq Ahmad Syakir 1/381]</span></span></p>
<p><span><span><strong>Waktu di Pengucapan At Tatswieb</strong><br />
Adapun waktu pengucapannya, ada dua pendapat ulama tentang masalah ini, apakah diucapkan pada adzan awal sebelum waktu subuh ataukan adzan kedua yang dilakukan pada waktu subuh?</span></span></p>
<p><span><span>a. <strong>Pendapat pertama</strong> menyatakan bahwa At Tatswieb dilakukan pada adzan pertama yang ada sebelum adzan masuk waktu subuh dengan dasar hadits Ibnu Umar yang berbunyi:</span></span></p>
<p style="text-align:right;font-size:18px"><span><span>????? ????? ?????? ???? ????????? ???????? ?????? ?????????? ?????????? ?????? ??? ????????? ???????????</span></span></p>
<p><span><span>Artinya: &#8220;<em>Ibnu Umar dahulu berkata pada adzan awal setelah Al Falaah</em>:</span></span></p>
<p style="align:right;font-size:18px"><span><span>?????????? ?????? ??? ?????????</span></span></p>
<p><span><span><em>dua kali</em>.&#8221; [Hadits mauquf diriwayatkan Al Baihaqi dan dihasankan Al Albani dalam <em>Tamamul Minnah</em> 1/146]</span></span></p>
<p><span><span>Dan  lafadz hadits Abu Al Mahdzurah yang berbunyi:</span></span></p>
<p style="text-align:right;font-size:18px"><span><span>??????? ????????? ???????????? ???? ???????? ?????? ?????????? ?????? ???? ??????????</span></span></p>
<p><span><span>Artinya: &#8220;<em>Dan jika kamu beradzan diawal dari subuh, maka katakanlah:</em></span></span></p>
<p style="align:right;font-size:18px"><span><span>?????????? ?????? ???? ?????????</span></span></p>
<p><span><span>[HR Ahmad 3/408-409, Abu Daud Bab <em>Kaifa Al Adzan</em> no. 501, Al Nasaa’I Bab <em>Al Adzan Fi Al Safar</em> 2/7, Abdurrazaaq dalam <em>Al Mushonnaf</em> no.1821, Ibnu Abi Syaibah 1/204, Ibnu Huzaimah no. 385, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya no. 1673, Ad Daraquthni 1/234 dan Al Baihaqi 1/422 diringkas dari takhrij pentahqiq kitab <em>Al Syarhu Al Mumti’</em>, lihat 2/56]</span></span></p>
<p><span><span>Dalam lafadz lainnya:</span></span></p>
<p style="text-align:right;font-size:18px"><span><span>??? ????????? ???? ?????????</span></span></p>
<p><span><span>Artinya: &#8220;<em>Pada yang pertama dari subuh</em>.&#8221;<br />
[Lihat <em>Shohih Al Fiqhu Al Sunnah</em>]</span></span></p>
<p><span><span>Inilah pendapat yang dirajihkan Al Albani. Beliau menyatakan: &#8221; <em>At Tatswieb</em> disyariatkan hanya di adzan awal subuh yang dikumandangkan sebelum masuk waktu sekitar seperempat jam, dengan dasar hadits Ibnu Umar yang berbunyi :</span></span></p>
<p style="text-align:right;font-size:18px"><span><span>????? ???? ????????? ???????? ?????? ?????????? ?????????? ?????? ??? ????????? ???????????</span></span></p>
<p><span><span>Artinya: &#8220;<em>Dahulu berkata pada adzan awal setelah Al Falaah</em>:</span></span></p>
<p style="text-align:right;font-size:18px"><span><span>?????????? ?????? ??? ?????????</span></span></p>
<p><span><span><em>dua kali.</em>&#8220;</span></span></p>
<p><span><span>[Diriwayatkan Al Baihaqi (1/423) dan demikian juga Al Thohawi dalam Syarhu Al Ma’ani (1/82) dan sanadnya hasan, sebagaimana disampaikan Al Haafidz].<br />
Sedangkan hadits Abu Al Mahdzurah mutlak mencakup dua adzan, namun adzan yang kedua bukan yang dimaksudkan, karena ada yang mengikatnya dalam riwayat lainnya dengan lafadz :</span></span></p>
<p style="text-align:right;font-size:18px"><span><span>??????? ????????? ???????????? ???? ???????? ?????? ?????????? ?????? ???? ??????????</span></span></p>
<p><span><span>Artinya: &#8220;<em>Dan jika kamu beradzan diawal dari subuh, maka katakanlah:</em></span></span></p>
<p style="text-align:right;font-size:18px"><span><span>?????????? ?????? ???? ?????????</span></span></p>
<p><span><span>[Diriwayatkan oleh Abu daud, Al Nasaa’I, AL Thohawi dan lainnya dan ia sudah ada dalam kitab <em>Shahih Abi Daud</em> no. 510-516]</span></span></p>
<p><span><span>Sehingga haditsnya ini mendukung hadits Ibnu Umar, oleh karena itu Al Shon’ani berkata dalam kitab <em>Subul Al Salaam </em>(1/167-168) setelah menyampaikan lafadz Al Nasaa’I: Dalam hadits ini ada <em>taqyiid </em>terhadap riwayat yang mutlak. Ibnu Ruslaan berkata: Ibnu Khuzaimah menshahihkan riwayat ini. Ia berkata: &#8220;Pensyariatan At Tatswieb hanyalah diadzan pertama fajar, karena untuk membangunkan orang yang tidur, sedangkan adzan kedua, maka untuk pemberitahuan masuk waktu dan mengajak sholat&#8221;. Saya berkata (Al Albani): &#8220;Berdasarkan hal ini, maka kata ?????????? ?????? ???? ????????? tidak termasuk lafadz adzan yang disyariatkan untuk mengajak orang sholat dan memberitahu masuknya waktu sholat, akan tetapi ia termasuk lafadz yang disyariatkan untuk membangunkan orang tidur&#8221;.[Dinukil dari <em>Tamamul minnah</em>, 146-147]</span></span></p>
<p><span><span>Kemudian Syaikh Al Albani juga berkata: &#8220;Imam Ath Thohawi berkata setelah menyampaikan hadits Abu Al Mahdzurah dan Ibnu Umar diatas yang tegas menunjukkan bahwa Al Tatswieb ada pada adzan pertama: Ini adalah pendapat Abu Hanifah, Abu Yusuf dan Muhammad <em>Rahimahumuullah</em>.&#8221; [Dinukil dari <em>Tamamul minnah</em>, 146-147]</span></span></p>
<p><span><span>b. <strong>Pendapat kedua</strong> menyatakan Al Tatswieb dilakukan pada adzan subuh yaitu adzan kedua, berdalil dengan hadits-hadits yang tidak memberikan batasan pada adzan awal dan membawa hadits-hadits yang ada penentuan diadzan pertama kepada makna adzan pertama untuk menentukan masuknya waktu subuh, karena Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> menyatakan:</span></span></p>
<p style="text-align:right;font-size:18px"><span><span>?????? ????? ??????????? ???????</span></span></p>
<p><span><span>Artinya: &#8220;<em>Antara dua adzan ada sholat sunnah</em>.&#8221;</span></span></p>
<p><span><span> Inilah yang dirojihkan Komite Tetap untuk penelitian Islam dan Fatwa negara Saudi Arabia [lihat <em>Fatawa Lajnah Al Daimah</em> 1/59-61 soal no. 1396 dan 2678], dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Syaikh Ibnu Utsaimin berkata: &#8220;Sebagian orang di zaman sekarang telah salah dalam memahami bahwa yang diinginkan dengan adzan yang ada pelafalan dua kalimat ini adalah adzan sebelum fajar. Syubhat mereka dalam hal ini adalah adanya sebagian lafadz hadits yang berbunyi:</span></span></p>
<p style="text-align:right;font-size:18px"><span><span>??????? ????????? ???????????? ???? ???????? ?????? ?????????? ?????? ???? ??????????</span></span></p>
<p><span><span>Artinya: &#8220;<em>Dan jika kamu beradzan diawal dari subuh, maka katakanlah</em></span></span></p>
<p style="text-align:right;font-size:18px"><span><span>?????????? ?????? ???? ?????????</span></span></p>
<p><span><span>Mereka menganggap bahwa At Tatswieb hanyalah ada pada adzan yang dikumandangkan di akhir malam dan menyatakan bahwa At Tatswieb dalam adzan pada waktu masuk subuh adalah kebid’ahan. Maka kami menjawab bahwa Rasululloh <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> menyatakan:</span></span></p>
<p style="text-align:right;font-size:18px"><span><span>??????? ????????? ?????????? ???????? ????????</span></span></p>
<p><span><span>Beliau menyatakan: ???????? ???????? dan sudah dimaklumi bahwa adzan yang ada di akhir malam bukan untuk shalat subuh, namun ia sebagaimana dikatakan Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> :</span></span></p>
<p style="text-align:right;font-size:18px"><span><span>????????? ?????????  ?? ???????? ????????</span></span></p>
<p><span><span>&#8220;<em>Untuk membangunkan orang yang tidur dan mengembalikan orang yang bangun (untuk istirahat mempersiapkan diri)</em>&#8220;. Sedangkan shalat subuh tidak diadzankan kecuali setelah terbit fajar subuh, kalau diadzankan sebelum terbit fajar subuh maka adzannya tidak sah dengan dasar sabda Rasululloh:  Jika sholat sudah datang maka hendaklah salah seorang kalian beradzan untuk kalian. Sudah jelas bahwa sholat tidak datang kecuali setelah masuk waktu. Tinggal permasalahan pada lafadz hadits: ??????? ????????? ?????????? Maka kami jawab: hal ini tidak masalah, karena adzan dalam bahasa Arab bermakna pemberitahuan, demikian juga iqamah adalah pemberitahuan. Oleh karena itu Nabi </span></span><span><span><em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em></span></span><span><span> berkata: ?????? ????? ??????????? ??????? (<em>Antara dua adzan ada sholat sunnah</em>) dan yang dimaksud dengan dua adzan ini adalah adzan dan iqamat dan dalam shahih Al Bukhori ada pernyataan: “Dan Utsman menambah adzan ketiga dalam sholat jum’at.”. padahal sudah jelas sekali bahwa jum’at hanya ada dua adzan dan satu iqamah dan ia menamakannya adzan ketiga. Dengan demikian hilanglah permasalahannya, sehingga <em>At Tatswieb</em> dilakukan pada adzan sholat subuh. [<em>Syarhu Al Mumti’</em> 2/ 56-57]</span></span></p>
<p><span><span><strong>Bagaimana pendapat yang rajih? </strong><br />
Penulis kitab <em>Shohih Fiqhi As Sunnah</em> menyatakan: &#8220;Hadits-hadits yang telah disampaikan terdahulu, diantaranya ada yang menyebutkan <em>At Tatswieb </em>tanpa penentuan waktunya apakah diadzan pertama atau kedua dan diantaranya ada yang menjelaskan bahwa ia di adzan pertama. Namun tidak ada satupun hadits yang menegaskan bahwa ia dilakukan di adzan kedua. Hal ini menunjukkan pensyariatan <em>At Tatswieb</em> ada di adzan pertama, karena untuk membangunkan orang yang bangun- sebagaimana terdahulu-. Sedangkan adzan kedua untuk memberitahu masuknya waktu dan mengajak sholat. Juga sudah dimaklumi bahwa Nab</span></span><span><span><em>i Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em></span></span><span><span> memiliki dua muadzin untuk shalat fajar, salah satunya Bilal -dan <em>At Tatswieb</em> juga ada riwayat darinya- dan kedua Ibnu Umi Maktum. <strong>Bilal-lah yang melakukan adzan pertama dan tidak ada satu pun riwayat yang menyatakan Ibnu Umi Maktum melakukan <em>At Tatswieb</em></strong>. [<em>Shahih Fiqhi As Sunnah</em>, 1/284]</span></span></p>
<p><span><span><strong>Bagaimana Menjawab At Tatswieb? </strong><br />
Bila seorang mendengar <em>At Tatswieb</em> maka disyariatkan membalas dengan mengucapkan kalimat: ?????????? ?????? ???? ????????? berdasarkan keumuman hadits Abu Sa’id Al Khudri yang berbunyi:</span></span></p>
<p style="text-align:right;font-size:18px"><span><span>????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ????? ????? ?????????? ?????????? ????????? ?????? ??? ??????? ????????????</span></span></p>
<p><span><span>Artinya: &#8220;<em>Sesungguhnya Rasululloh <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda jika kalian mendengar adzan maka jawablah seperti yang disampaikan Muadzin</em>.&#8221; [Muttafaqun Alaihi].</span></span></p>
<p><span><span>Demikian, mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat.</span></span></p>
<p><span><span>Penulis: Kholid Syamhudi, Lc.</span></span></p>
<p><span><span>Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.com</a><br />
</span></span></p>
<p><span><span><br />
</span></span></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/masalah-asholaatu-khoirun-min-an-naum/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/masalah-asholaatu-khoirun-min-an-naum/&amp;title=Masalah+%22Ash+Sholaatu+Khoirun+Min+An+Naum%22" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/masalah-asholaatu-khoirun-min-an-naum/&amp;title=Masalah+%22Ash+Sholaatu+Khoirun+Min+An+Naum%22" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/masalah-asholaatu-khoirun-min-an-naum/&amp;t=Masalah+%22Ash+Sholaatu+Khoirun+Min+An+Naum%22" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/masalah-asholaatu-khoirun-min-an-naum/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Masalah+%22Ash+Sholaatu+Khoirun+Min+An+Naum%22+-+http://ustadzkholid.com/fiqih/masalah-asholaatu-khoirun-min-an-naum/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/masalah-asholaatu-khoirun-min-an-naum/&amp;title=Masalah+%22Ash+Sholaatu+Khoirun+Min+An+Naum%22" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/masalah-asholaatu-khoirun-min-an-naum/&amp;title=Masalah+%22Ash+Sholaatu+Khoirun+Min+An+Naum%22" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Masalah+%22Ash+Sholaatu+Khoirun+Min+An+Naum%22+-+http://b2l.me/n8g5j&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Masalah+%22Ash+Sholaatu+Khoirun+Min+An+Naum%22&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/masalah-asholaatu-khoirun-min-an-naum/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Bagaimana%20sebenarnya%20hukum%20At%20Tatswieb%20atau%20ucapan%20muadzin%20Ash%20Sholatu%20Khoirun%20Minan%20Naum%20%28%3F%3F%3F%3F%3F%3F%20%3F%3F%3F%20%3F%3F%20%3F%3F%3F%3F%3F%29%20pada%20adzan%20sholat%20shubuh%20setelah%20ucapan%20hayya%20%E2%80%98Ala%20Al%20falaah%3F" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/masalah-asholaatu-khoirun-min-an-naum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dzikir Kunci Kebaikan</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/akhlaq/dzikir-kunci-kebaikan/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/akhlaq/dzikir-kunci-kebaikan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Feb 2009 09:40:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[fiqh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=339</guid>
		<description><![CDATA[Tidak diragukan lagi setiap orang ingin mendapat kebaikan dan dijauhkan dari kemudharatan. Namun tidak semua orang sadar dan mau bersungguh-sungguh dalam mencapai keinginan tersebut. Padahal Allah Ta'ala telah menjelaskan kunci-kunci kebaikan tersebut dalam wahyunya dengan gamlang dan tegas. Kunci kebaikan itu adalah dzikir kepada Allah (dzikrullah).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak diragukan lagi setiap orang ingin mendapat kebaikan dan dijauhkan dari kemudharatan. Namun tidak semua orang sadar dan mau bersungguh-sungguh dalam mencapai keinginan tersebut. Padahal Allah <em>Ta&#8217;ala </em>telah menjelaskan kunci-kunci kebaikan tersebut dalam wahyunya dengan gamlang dan tegas. Kunci kebaikan itu adalah dzikir kepada Allah (<em>dzikrullah</em>).<span id="more-339"></span></p>
<p><strong>Urgensi dan Kedudukan Dzikir.</strong><br />
Satu kepastian bahwa dzikir dan do’a adalah sebaik-baik amalan yang mendekatkan diri seorang muslim kepada Rabbnya, bahkan ia merupakan kunci semua kebaikan yang diinginkan seorang hamba disunia dan akhirat. Kapan saja yang Alah<em> Ta&#8217;ala </em>berikan kunci ini pada seorang hamba maka Allah <em>Ta&#8217;ala</em> inginkan ia membukanya dan jika Allah menyesatkannya maja pintu kebaikan tersisa jauh darinya, sehingga hatinya gundah gulana, bingung, pikiran kalut, depresi dan lemah semangat dan keinginannya. Apabila ia menjaga dzikir dan do’a serta terus berlindung kepada Allah maka hatinya akan tenang, sebagaiman firman Allah :</p>
<p style="font-size:18px;align:right">????????? ????????? ????????????? ?????????? ???????? ????? ????????????? ????? ??????????? ??????????</p>
<p>Artinya: &#8220;<em>(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah.Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram</em>.&#8221; (QS. Arra’du :28)</p>
<p>Dan mendapat keutamaan dan faedah yang sangat banyak didunia dan akherat. [<em>Fiqh Al Ad’iyah wa Al Adzkaar</em>, karya DR. Abdurrozaq bin Abdulmuhsin Alibadr]</p>
<p>Allah berfirman menjelaskan arti penting dan kedudukan dzikir dalam banyak ayatnya, diantaranya:</p>
<p style="font-size:18px;align:right">????? ?????????????? ???????????????? ???????????????? ???????????????? ??????????????? ??????????????? ??????????????? ??????????????? ??????????????? ??????????????? ??????????????? ??????????????? ??????????????????? ??????????????????? ??????????????? ??????????????? ??????????????? ??????????? ??????????????? ??????????????? ????? ???????? ??????????????? ??????? ????? ????? ??????????? ????????? ????????</p>
<p>Artinya: &#8220;<em>Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu&#8217;min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta&#8217;atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu&#8217;, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.</em>&#8221; (QS. Al Ahzaab. :35)</p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p style="font-size:18px;align:right">??????????? ????????? ????????? ????????? ????? ??????? ????????</p>
<p>Artinya: &#8220;<em>Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.</em>&#8221; (QS. Al Ahzaab :41)<br />
serta :</p>
<p style="font-size:18px;align:right">??????? ????????? ?????????????? ??????????? ????? ???????????? ???????????? ???? ??????? ??????? ?????? ???????? ??? ??????? ???????? ???????? ??? ?????????? ????????? ??? ??????????? ???? ???????</p>
<p>Artinya: &#8220;<em>Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (denga menyebut) Allah, sebagimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang mendo&#8217;a:&#8221;Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia&#8221;, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.</em>&#8221; (QS. Al Baqorah :200).</p>
<p>Demikian juga Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> telah menjelaskan secara gamblang arti penting dan kedudukan dzikir pada diri seorang muslim dalam banyak haditsnya, diantaranya:</p>
<p style="font-size:18px;align:right">???? ????? ?????? ?????? ??????? ?????? ????? ????? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ?????? ??????? ???????? ??????? ????????? ??? ???????? ??????? ?????? ???????? ????????????</p>
<p>Artinya: &#8220;<em>Dari Abu Musa , beliau berkata: telah bersabda Nabi n : “permisalan orang yang berdzikir kepada Allah dan yang tidak berdzikir seperti orang yang hidup dan mati</em>”. [Hadits riwayat Bukhori dalam Shohihnya, kitab <em>Ad Da’awaat</em>, Bab <em>Fadhlu Dzikrullah</em>, No. 6407]</p>
<p>Dan hadits beliau yang berbunyi:</p>
<p style="font-size:18px;align:right">???? ????? ?????????? ????? ????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ??????? ??? ??????? ??????? ??????? ????? ?????? ??????? ???? ????????? ??????? ??????? ????? ????????? ?????? ??????????????? ??????? ????? ??????????????? ??? ??????? ??????? ????? ????????????? ??????? ???????? ???????????????</p>
<p>Artinya: &#8220;<em>Dari Abu Hurairoh, beliau berkata: “Al Mufarridun telah mendahului” mereka bertanya: ‘Siapakah Al Mufarridun wahai Rasululloh?’ beliau menjawab: “Laki-laki dan perempuan Yang banyak berdzikir”</em>&#8221; [Hadits riwayat Muslim dalam shohihnya, kitab <em>Ad Du’a wa Dzikir wa Taubah wal Istighfar</em>, bab <em>Al Hats Ala Dzikr</em>, no. 2676]</p>
<p>Oleh karena itu dzikir-dzikir yang telah diajarkan Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> (<em>adzkaar nabawiyah</em>) memiliki kedudukan dan arti penting yang tinggi dalam diri seorang muslim, sehingga banyak ditulis kitab dan karta tulis yang beraneka ragam tentang permasalahan ini. Namun seorang muslim diperintahkan untuk berdzikir kepada Allah dengan dzikir yang telah disyari’atkannya, karena dzikir adalah bagian dari ibadah dan ibadah dibangun diatas dasar tauqifiyah (berdasar kepada dalil wahyu) dan ittiba’ (mencontoh Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>), tidak menurut hawa nafsu dan kehendak hati semata. Untuk itu Ibnu Taimiyah berkata: “Tidak diragukan lagi bahwa <em>Adzkaar </em>(dzikir-dzikir) dan do’a-do’a merupakan ibadah yang utama. Sedangkan ibadah dibangun diatas dasar tauqifiyah dan ittiba’, tidak menurut hawa nafsu dan kebid’ahan. Sehingga do’a-do’a dan adzkar nabawiyah merupakan dzikir dan do’a yang paling harus dicari oleh pencarinya. Pelakunya berada dijalan yang aman dan selamat. Sedang faedah dan hasil yang disapat tidak dapat diungkap dengan kata-kata dan lisan tidak dapat mencakupnya. Adzkaar yang lainnya ada kalanya diharomkan atau makruh atau terkadang berisi kesyirikan yang banyak orang bodoh tidak mengetahuinya. Permasalahan ini cukup panjang penjabarannya.</p>
<p>Tidak diperbolehkan seorang membuat sebuah dzikir atau do’a yang tidak dicontohkan Rasululloh dan menjadikannnya sebagai ibadah ritual yang dilakukan oleh manusia secara rutin seperti rutinitas sholat lima waktu. Ini jelas kebidahan dalam agama yang tidak diperkenankan Allah. Berbeda dengan do’a yang dilakukan seseorang kadang-kadang tidak rutin dengan tidak menjadikannya sunah untuk manusia, maka ini jika tidak diketahui terkandung makna kandungan yang harom, tidak boleh dipastikan keharomannya, akan tetapi terkadang ada keharoman padanya sedang  manusia tidak merasanya. Ini sebagaimana seorang berdo’a ketika genting dengan do’a-do’a yang ia ingat pada waktu itu. Ini dan yang semisalnya hampir sama. Adapun mengambil wirid-wirid (<em>ma’tsurat </em>(pent))yang tidak disyariatkan dan membuat-buat dzikir yang tidak syar’I maka ini terlarang. Sudah demikianpun, da’a-do’a dan dzikir syar’I berisi permintaan yang agung lagi benar. Tidak meninggalkannya dan beralih kepada dzikir-dzikir bid’ah yang dibuat-buat kecuali orang bodoh atau lemah atau melampaui batas.”.[<em>Majmu’ Al fataawa Ibnu Taimiyah</em>, juz 22/ 510-511]</p>
<p><strong>Keutamaan dan Faedah Dzikir.</strong><br />
Keutamaan dan faedah dzikir sangat banyak sekali, sampai-sampai imam Ibnul Qayyim menyatakan dalam kitabnya <em>Al Waabil Ashshoyyib</em> (Lihat <em>Al Waabil Al Shoyyib Wa Raafi’ Al kalimi Al Thoyyib</em>, karya Ibnul Qayyim, tahqiq Hasan Ahmad isbir) bahwa dzikir memiliki lebih dari seratus faedah dan menyebutkan tujuh puluh tiga faedah didalam kitab tersebut.</p>
<p>Diantara keutamaan dan faedah dzikir adalah:</p>
<p><strong>1.	Dzikir dapat mengusir syeitan dan melindungi orang yang berdzikir darinya</strong>, sebagaimana sabda Rasululloh <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> :</p>
<p style="font-size:18px;align:right">??????????? ???? ?????????? ??????? ??????? ?????? ?????? ???????? ?????? ?????? ?????????? ??? ???????? ???????? ?????? ????? ????? ????? ?????? ??????? ?????????? ???????? ???????? ???????? ????????? ??? ???????? ???????? ???? ???????????? ?????? ???????? ???????</p>
<p>Artinya: &#8220;<em>Dan Aku (Yahya bin Zakariya) memerintahkan kalian untuk banyak berdzikir kepada Allah. Permisalannya itu seperti seseorang yang dikejar-kejar musuh lalu ia mendatangi benteng yang kokoh dan berlindung di dalamnya. Demikianlah seorang hamba tidak dapat melindungi dirinya dari syeitan kecuali dengan dzikir kepada Allah.</em>&#8221; [Hadits riwayat imam Ahmad dalam Musnadnya (4/202), At Tirmidziy dalam sunannya, kitab <em>Al Amtsal ‘An Rasulullih</em>, Bab <em>Ma Ja’a Fi Matsal Al Sholat wa Al Shiyaam wa Al Shodaqah</em> no. 2863 dan dishohihkan Syeikh Al Albaniy dalam <em>Shohih Al Jaami’</em> no. 1724]</p>
<p>Ibnul Qayim memberikan komentarnya terhadap hadits ini: ‘Seandainya dzikir hanya memiliki satu keutamaan ini saja, maka sudah cukup bagi seorang hamba untuk tidak lepas lisannya dari dzikir kepada Allah dan senantiasa gerak berdzikir, karena ia tidak dapat melindungi dirinya dari musuhnya kecuali dengan dzikir kepada Allah. Para musuh hanya akan masuk melalui pintu kelalaian dalam keadaan terus mengintainya. Jika ia lengah maka musuh langsung menerkam dan memangsanya dan jika berdzikir kepada Alah maka musuh Allah itu meringkuk dan merasa kecil serta melemah sehingga seperti <em>Al Wash’</em> (sejenis burung kecil) dan seperti lalat’. [<em>Al Waabil Al Shoyyib</em>, hal 61]</p>
<p>Manusia ketika lalai dari dzikir maka syeitan langsung menempel dan menggodanya serta menjadi teman yang selalu menyertainya, sebagaimana firman Allah:</p>
<p style="font-size:18px;align:right">????? ?????? ??? ?????? ??????????? ????????? ???? ?????????? ?????? ???? ???????</p>
<p>Artinya: &#8220;<em>Barangsiapa yang berpaling dari dzikir (Rabb) Yang Maha Pemurah (al-Qur&#8217;an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.</em>&#8221; (QS. Az Zukhruf:36).</p>
<p>Seorang hamba tidak mampu melindungi dirinya dari Syeitan kecuali dengan dzikir kepada Allah.</p>
<p><strong>2.	Dzikir dapat menghilangkan kesedihan, kegundahan dan depresi dan dapat mendatangkan ketenangan, kebahagian dan kelapangan hidup</strong>. Hal ini dijelaskan Allah dalam firmanNya:</p>
<p style="font-size:18px;align:right">????????? ????????? ????????????? ?????????? ???????? ????? ????????????? ????? ??????????? ??????????</p>
<p>Artinya: &#8220;<em>(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah.Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.</em>&#8221; (QS. Ar Ra’du :28)</p>
<p><strong>3.	Dzikir dapat menghidupkan hati</strong>, bahkan dzikir itu sendiri pada hakekatnya adalah kehidupan bagi hati tersebut. Apabila hati kehilangan dzikir maka seakan-akan kehilangan kehidupannya sehingga tidak hidup sebuah hati tanpa dzikir kepada Allah. Oleh karena itu Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: ‘Dzikir bagi hati seperti air bagi ikan, lalu bagaimana keadaan ikan jika kehilangan air?’ [<em>Al Waabil Al Shoyyib</em> hal. 70]</p>
<p><strong>4.	Dzikir menghapus dosa dan menyelamatkannya dari adzab Allah</strong>, karena dzikir merupakan satu kebaikan yang besar dan kebaikan menghapus dosa dan menghilangkannya. Tentunya hal ini dapat menyelamatkan orang yang berdzikir dari adzab Allah sebagaimana sabda Rasululloh <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> :</p>
<p style="font-size:18px;align:right">??? ?????? ???????? ??????? ????? ??????? ???? ???? ??????? ??????? ???? ?????? ???????</p>
<p>Artinya: &#8220;<em>Tidaklah seorang manusia mengamalkan satu amalan yang lebih menyelamatkan dirinya dari adzab Allah dari dzikrullah.</em>&#8221; [Hadits riwayat Ahmad dalam Musnadnya 5/239 dan dishohihkan Syeikh Al Albaniy dalam <em>Shohih Al Jami’</em> no. 5644]</p>
<p><strong>5.	Dzikir menghasilkan pahala, keutamaan dan karunia Allah yang tidak dihasilkan selainnya</strong>, padahal sangat mudah mengamalkannya, karena gerakan lisan lebih mudah dari gerakan anggota tubuh lainnya. Diantara pahala dzikir yang disebutkan Rasululloh adalah:</p>
<p style="font-size:18px;align:right">???? ????? ??? ?????? ?????? ??????? ???????? ??? ??????? ???? ???? ????????? ?????? ????????? ?????? ????? ????? ?????? ??????? ??? ?????? ??????? ??????? ??????? ???? ?????? ?????? ??????? ?????????? ???? ??????? ???????? ?????????? ?????? ??????? ????????? ????????? ???? ??????? ???? ???????????? ???????? ?????? ?????? ???????? ?????? ?????? ?????? ?????????? ?????? ????? ???? ?????? ?????? ?????? ???????? ???? ??????</p>
<p>Artinya: &#8220;<em>Barang siapa mengucapkan (dzikir):</em></p>
<p style="font-size:18px;align:right">??? ?????? ?????? ??????? ???????? ??? ??????? ???? ???? ????????? ?????? ????????? ?????? ????? ????? ?????? ???????</p>
<p><em>dalam sehari seratus kali, maka itu sama dengan pahala sepulih budak, ditulis seratus kebaikan untuknya dan  dihapus seratus dosanya. Juga menjadi pelindungnya dari syeitan pada hari itu sampai sore dan tidak ada satupun yang lebih utama dari amalannya kecuali seorang yang beamal dengan amalan yang lebih banyak dari hal itu</em>.&#8221; [Hadits riwayat Al Bukhori dalam shohihnya, kitab <em>badi’ Al Kholq bab Sifat Iblis Wa Junuduhu</em> no. 3293, Muslim dalam shohihnya kitab <em>Ad Du’a wa Dzikir wa Taubah wal Istighfar bab Fadhlu Al tahlil Wa Takbir wa Tahmid</em> no. 2691]</p>
<p>Ibnul Qayim berkata: ‘Dzikir adalah ibadah yang paling mudah namun paling agung dan utama, karena gerakan lisan adalah gerakan anggota tubuh yang paling ringan dan mudah. Seandainya satu anggota tubuh manusia set\hari semalam bergerak seukuran gerakan lisannya, tentulah hal itu sangat menyusahkannya sekali, bahkan tidak mampu. [<em>Al Waabil Al Shoyyib</em> hal 73]</p>
<p><strong>6.	Dzikir adalah  tanaman syurga</strong> [Lihat <em>Al Waabil Al Shoyyib</em> hal 73-74, <em>Fiqh Al Ad’iyah Wa Al Adzkar</em> hal 19-20 dan <em>Dzikru Wa Tadzkiir </em>karya Syeikh Prof. Dr. Shoolih bin Ghoonim Alsadlaan].  Ini berlandaskan sabda Rasululloh <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dalam hadits Abdillah bin Mas’ud yang berbunyi:</p>
<p style="font-size:18px;align:right">??????? ???????????? ???????? ???????? ??? ??????? ??? ????????? ???????? ????????? ?????? ?????????? ?????????????? ????? ?????????? ????????? ??????????? ???????? ???????? ?????????? ???????? ??????? ?????????? ????????? ??????? ??????????? ??????? ????? ?????? ?????? ??????? ????????? ????????</p>
<p>Artinya: &#8220;<em>Aku berjumpa dengan Ibrohim pada malam isra’ dan mi’roj, lalu ia berkata: “Wahai Muhammad, sampaikan salamku kepada umatmu dan beritahulah mereka bahwa syurga memiliki tanah yang terbaik dan air yang paling menyejukkan. Syurga itu dataran kosong (Qai’aan) dan tumbuhannya adalah (dzikir) Subhanallahi Wala ilaha illa Allah wallahu Akbar.</em>&#8221; [Hadits riwayat At Tirmidziy dalam sunannya kitab <em>Al Da’awaat ‘An Ar Rasul  bab Ma Ja’a Fi Fadhl Tasbiih wa Tahlil Wa takbir wa Tahmid </em>no.3462 dan dihasankan Al Albaniy dalam Silsilah Shohihah no. 105]</p>
<p>Hal ini juga dikuatkan dengan riwayat lain dari hadits Abu Ayub Al Anshoriy yang ada dalam musnad Ahmad bin Hambal 5/418.</p>
<p><strong>7.	Dzikir menjadi cahaya penerang bagi yang berdzikir di dunia, di alam kubur dan di akherat</strong>. Meneranginya di <em>shirot</em>, sehingga tidaklah hati dan kuburan memiliki cahaya seperti cahaya dzikrullah. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta&#8217;ala :</p>
<p style="font-size:18px;align:right">???????? ????? ??????? ??????????????? ??????????? ???? ?????? ??????? ???? ??? ???????? ?????? ???????? ??? ???????????? ?????? ????????? ???????</p>
<p>Artinya: &#8220;<em>Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan ditengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya.</em>&#8221; (QS. Al An’am:122)</p>
<p>Pertama adalah seorang mukmin yang memiliki cahaya dengan sebab keimanan, kecintaan, pengenalan dan dzikir kepada Allah dan yang lain adalah orang yang lalai dari Allah yang tidak mau berdzikir dan mencintaiNya. [<em>Al Waabil Al Shoyyib </em>hal 82-83]</p>
<p><strong>8.	Dzikir menjadi sebab mendapatkan sholawat dari Allah dan para malaikatNya</strong>, sebagamana firman Allah:</p>
<p style="font-size:18px;align:right">??? ???????? ????????? ??????? ????????? ??????? ??????? ???????? ???????????? ???????? ????????? ???? ??????? ???????? ?????????? ?????????????? ?????????????? ???? ???????????? ????? ???????? ??????? ???????????????? ????????</p>
<p>Artinya: &#8220;<em>Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.</em>&#8221; (QS. Al Ahzaab:41-43)</p>
<p><strong>9.	Banyak berdzikir dapat menjauhkan seseorang dari kemunafikan</strong>, karena orang munafik sangat sedikit berdzikir kepada Allah, sebagiamana firman Allah <em>Ta&#8217;ala</em>:</p>
<p style="font-size:18px;align:right">?????????? ??????? ????????? ???????? ????????? ?????????? ???? ???????? ?????? ??????? ???? ??????????? ??????? ????????</p>
<p>Artinya: &#8220;<em>Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka . Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut nama Allah kecuali sedikit sekali.</em>&#8221; (QS. An Nisa’:142)</p>
<p>Syeikh Abdurrozaq bin Abdulmuhsin Al Abad berkata: ‘Bisa jadi karena hal tersebut Allah menutup surat Munafiqin dengan firmanNya:</p>
<p style="font-size:18px;align:right">??? ???????? ????????? ??????? ?? ?????????? ????????????? ???? ???????????? ???? ?????? ??????? ?????? ???????? ?????? ??????????? ???? ?????????????</p>
<p>Artinya: &#8220;<em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah hrata-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.</em>&#8221; (QS. Al Munafiquun:9).</p>
<p>Karena terdapat padanya peringatan dari fitnah kaum munafiqin yang lalai dari dzikrullah lalu terjerumus dalam kemunafikan. <em>Wal ‘iyadzubillah</em>.</p>
<p>Imam Ali bin Abi Tholib ditanya tentang khowarij: ‘apakah mereka munafiq atau bukan?’ beliau menjawab: ‘Orang munafik tidak berdzikir kepada Allah kecuali sedikit’. Ini merupakan alamat kemunafikan, yaitu sedikit berdzikir kepada Allah. Berdasarkan hal ini maka banyak berdzikir merupakan pengaman dari kenifakan. [<em>Fiqh Al Ad’iyah Wa Al Adzkaar</em> hal 24]</p>
<p><strong>10.	Dzikir adalah amalan yang paling baik, paling suci dan paling tinggi derajatnya</strong>, sebagaimana dinyatakan Rasululloh dalam sabdanya</p>
<p style="font-size:18px;align:right">????? ????????????? ???????? ????????????? ???????????? ?????? ??????????? ????????????? ??? ????????????? ???????? ?????? ???? ????????? ????????? ??????????? ???????? ?????? ???? ???? ????????? ??????????? ???????????? ????????????? ???????????? ????????????? ??????? ????? ????? ?????? ??????? ????????</p>
<p>Artinya: “<em>Inginkah kalian aku beritahu amalan kalian yang terbain dan tersuci serta tertinggi pada derajat kalian, ia lebih baik dari berinfak emas dan perak dan lebih baik dari kalian menjumpai musuh lalu kalian memenggal kepalanya dan mereka memenggal kepala kalian?” Mereka menjawab:’ ya’,  lalu rasululloh menjawab: “Dzikrullah”</em>&#8220;. [Hadits riwayat At Tiurmidziy dalam sunannya kitab <em>Ad da’awaat ‘An Rasulillah </em>no. 3377 dan Ibnu Majah dalam sunannya kitab <em>Al Adab bab Fadhlu dzikr</em> no. 3790 dan dishohihkan Al Albaniy dalam Shohih Al Jami’ no. 2629]<br />
Demikian beberapa keutamaan dan faedah yang dapat diutarakan dalam makalah singkat ini.</p>
<p><strong>Adab dalam berdzikir.</strong><br />
Berdzikir memiliki adab-adab yang perlu diperhatikan dan diamalkan, diantaranya:</p>
<ol>
<li> Ikhlas dalam berdzikir mengharap ridho Allah.</li>
<li>Berdzikir dengan dzikir dan wirid yang telah dicontohkan Rasululloh, karena dzikir adalah ibadah. Telah lalu penjelasan Ibnu Taimiyah tentang hal tersebut.</li>
<li>Memahami makna dan penunjukkannya dan khusu’ dalam melakukannya. Ibnul Qayim berkata: ‘Dzikir yang paling utama dan manfaat adalah yang sesuai lisan dengan hati dan merupakan dzikir yang telah dicontohkan Rasululloh serta orang yang berdzikir memahami makna dan tujuan kandungannya [Dinukil dari <em>Fiqh Al Ad’iyah wal Azkar</em> hal. 9]</li>
<li>Memperhatikan tujuh adab yang telah dijelaskan Allah dalam firmanNya:
<p style="font-size:18px;align:right">???????? ???????? ??? ???????? ?????????? ?????????? ??????? ????????????? ????????? ???????????? ???????????? ?????????? ????? ?????????????</p>
<p>Artinya: &#8220;<em>Dan sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.</em>&#8221; (Surat Al A’raf:205)<br />
Ayat yang mulia ini menunjukkan tujuh adab penting dalam berdzikir, yaitu:</p>
<ol type="a">
<li>Dzikir dilakukan dalam hati, karena hal itu lebih dekat kepada ikhlash.</li>
<li>Dilakukan dengan merendahkan diri agar terwujud sikap penyembahan yang sempurna kepada Allah.</li>
<li>Dilakukan dengan rasa takut dari siksaan Allah akibat kelalaian dalam beramal dan tidak diterimanay dzikir tersebut. Oleh karena itulah Allah mensifati kaum mukminin dengan firmanNya:
<p style="font-size:18px;align:right">??????????? ????????? ??????????? ????????????? ???????? ????????? ????? ????????? ??????????</p>
<p>Artinya: &#8220;<em>Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.</em>&#8221; (Surat Al Mu’minun:60)</li>
<li>Dilakukan tanpa mengeraskan suara, karena hal itu lebih dekat kepada tafakkur yang baik.</li>
<li>Dilakukan dengan lisan dan hati.</li>
<li>Dilakukan diwaktu pagi dan petang. Memang dua waktu ini memiliki keistimewaan, sehingga Allah sebut dalam ayat ini, ditambah lagi keistimewaan lainnya yaitu keistimewaan yang disampaikan rasulullah dalam sabdanya:
<p style="font-size:18px;align:right">?????????????? ??????? ??????????? ??????????? ????????????? ???????????? ??????????????? ??? ??????? ????????? ????????? ????????? ????? ???????? ????????? ??????? ??????? ?????????????? ????????? ?????? ???????? ?????? ?????? ?????????? ???????? ???????????? ????????????? ?????? ?????????? ??????????????? ?????? ??????????</p>
<p>Artinya: &#8220;<em>Bergantian pada kalian malaikat di malam dan malaikat di waktu siang. Mereka berjumpa diwaktu sholat fajr dan ashr kemudian naiklah malaikat yang mendatangi kalian dan Rabb merreka menanyakan mereka dan Allah lebih tahu dengan mereka: “Bagaimana keadaan hambaKu ketika kamu tinggalkan?” mereka menjawab: ‘Kami tinggalkan mereka dalam keadaan sholat dan kami datangi mereka dalam keadaan sholat’</em>&#8220;[Hadits riwayat Al Bukhori dalam shohihnya kitab <em>Mawaaqit Ash Sholat bab Fadl Sholat AL Ashr</em> no.522 dan Muslim dalam shohihnya kitab <em>Al Masaajid wa Mawadi’ Al Sholat bab Fadl Sholat Al Fajr wal Ashr wa Muhafadztu ‘Alaihima</em> no. 632]</li>
<li>Larangan lalai dari dzikrullah.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>[Diringkas dengan beberapa perubahan dan tambahan dari <em>Fiqh Al Ad’iyah wal Azkar</em> hal.57-59]</p>
<p>Dengan ini jelaslah keutamaan dzikir sebagai kunci kebaikan dan adabnya, mudah-mudahan yang sedikit ini dapat bermanfaat.</p>
<p>Penulis: Kholid Syamhudi, Lc.</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">Ustadzkholid.com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/akhlaq/dzikir-kunci-kebaikan/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/dzikir-kunci-kebaikan/&amp;title=Dzikir+Kunci+Kebaikan" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/dzikir-kunci-kebaikan/&amp;title=Dzikir+Kunci+Kebaikan" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/akhlaq/dzikir-kunci-kebaikan/&amp;t=Dzikir+Kunci+Kebaikan" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/dzikir-kunci-kebaikan/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Dzikir+Kunci+Kebaikan+-+http://ustadzkholid.com/akhlaq/dzikir-kunci-kebaikan/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/dzikir-kunci-kebaikan/&amp;title=Dzikir+Kunci+Kebaikan" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/dzikir-kunci-kebaikan/&amp;title=Dzikir+Kunci+Kebaikan" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Dzikir+Kunci+Kebaikan+-+http://b2l.me/n8q7a&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Dzikir+Kunci+Kebaikan&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/akhlaq/dzikir-kunci-kebaikan/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Tidak%20diragukan%20lagi%20setiap%20orang%20ingin%20mendapat%20kebaikan%20dan%20dijauhkan%20dari%20kemudharatan.%20Namun%20tidak%20semua%20orang%20sadar%20dan%20mau%20bersungguh-sungguh%20dalam%20mencapai%20keinginan%20tersebut.%20Padahal%20Allah%20Ta%27ala%20telah%20menjelaskan%20kunci-kunci%20kebaikan%20tersebut%20dalam%20wahyunya%20dengan%20gamlang%20dan%20tegas.%20Kunci%20kebaikan%20itu%20adalah%20dzikir%20kepada%20Allah%20%28dzikrullah%29." rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/akhlaq/dzikir-kunci-kebaikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
