<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>UstadzKholid &#187; Hadits</title>
	<atom:link href="http://ustadzkholid.com/category/hadits/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzkholid.com</link>
	<description>Meniti Sunnah Menggapai Ukhuwah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 13 Jul 2010 04:59:03 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pohon di Kuburan Meringankan Siksa?</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/aqidah/pohon-di-kuburan-meringankan-siksa/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/aqidah/pohon-di-kuburan-meringankan-siksa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Apr 2009 10:02:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tri.subekti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Kuburan]]></category>
		<category><![CDATA[Siksa Kubur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=849</guid>
		<description><![CDATA[Sebagian orang memiliki kepercayaan bahwa pohon tertentu yang ditanam di atas atau di dekat kuburan dapat meringankan siksa si penghuni kubur. Mereka pun berdalil dengan sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim. Benarkan kepercayaan yang demikian?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><P style="TEXT-ALIGN: right; FONT-SIZE: 16px" align=right><FONT size=5 face="times, times new roman, serif">???? ????? ???????? ????? ????? ?????????? ?????? ????? ???????? ????????? ???????????? ??????? ????????? ?????????????? ????? ???????????? ??? ??????? ?????? ??????????? ??????? ??? ?????????? ???? ????????? ???????? ???????? ??????? ??????? ?????????????? ????? ?????? ????????? ???????? ?????????? ?????????? ???????? ??? ????? ?????? ????????? ??????? ??? ??????? ??????? ???? ???????? ????? ????? ????????? ????????? ????????? ??? ???? ?????????</FONT></P></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;<em>Dari Ibnu Abbas Radhiallahu &#8216;anhu , beliau berkata, &#8220;Rasulullah </em><em>shallallahu&#8217;alaihi wassalam melewati dua buah kuburan, lalu beliau bersabda, &#8216;Sungguh keduanya sedang disiksa, mereka disiksa bukan karena perkara besar (dalam pandangan keduanya). Salah satu dari dua orang ini, (semasa hidupnya) tidak menjaga diri dari  kencing, sedangkan yang satunya lagi, dia keliling menebar namimah.&#8217; Kemudian beliau mengambil pelepah basah, beliau belah jadi dua, lalu beliau tancapkan di atas masing-masing kubur satu potong. Para sahabat bertanya, &#8216;Wahai Rasulullah, kenapa engkau melakukan ini ?&#8217; Beliau menjawab, &#8216;Semoga mereka diringankan siksaannya selama keduanya belum kering.&#8221; &#8220;</em></p>
<p align="left"><span id="more-849"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Takhrij</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Hadits ini diatas dikeluarkan oleh:</p>
<ul>
<li>Imam Bukhari dalam <em>Al Jami&#8217; As Shahih</em> (1/317-Fathul Baari) No. 216, 218, 1361, 1378, 6052 dan 6055</li>
<li>Imam Muslim dalam <em>As Shahih</em> (3/200 &#8211; syarah Imam Nawawi) No. 292</li>
<li>Imam Tirmidzi dalam <em>Al Jami</em>&#8216; (1/102) No. 70, dan beliau mengatakan, &#8220;Hadits Hasan Shahih&#8221;</li>
<li>Imam Abu Daud dalam <em>As Sunan</em> (1/5) No. 20</li>
<li>Imam Nasa&#8217;I dalam <em>Al Mujtaba</em> (1/28)</li>
<li>Imam Ibnu Majah dalam As Sunan (1/125) No. 237</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pemahaman Yang Benar Terhadap Hadits</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sabda beliau, <strong>?????????? ??????????????</strong> (Sesungguhnya mereka berdua sedang disiksa.). Kata ganti (mereka berdua-pent) adalah kata ganti untuk kubur, (namun) yang dimaksudkan adalah penghuni kubur.</p>
<p style="text-align: justify;">Sabda beliau, <strong>????? ???????????? ??? ???????</strong> (Mereka berdua disiksa bukan karena perkara besar(dalam pandangan keduanya)). Dalam riwayat lain Imam Bukhari,</p>
<p style="font-size:16px;text-align: right;">???????????? ??? ??????? ????????? ?????????</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Mereka berdua disiksa karena perkara besar (dalam pandangan keduanya) namun sungguh itu adalah perkara besar.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam Shahih Bukhari juga dalam Kitab Wudhu terdapat lafadz,</p>
<p style="font-size:16px;text-align: right;">????? ???????????? ??? ??????? ???? ??????? ????????</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Mereka berdua tidak disiksa karena perkara besar(dalam pandangan keduanya), bahkan  sungguh itu adalah perkara besar.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan dua tambahan lafadz yang shahih ini, dapat ditetapkan bahwa penyebabnya adalah dosa besar. Maka sabda Rasulullah s<em>hallallahu &#8216;alaihi wassalam</em>, &#8220;Mereka berdua disiksa bukan karena perkara besar.&#8221; Perlu di jelaskan.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Nawawi <em>rahimahullah</em> dalam <em>Syarah Shahih Muslim</em> (3/201) mengatakan, para ulama telah menyebutkan dua penafsiran dalam hadits ini</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pertama</strong>, itu bukanlah perkara besar dalam pandangan mereka berdua.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kedua</strong>, meninggalkan kedua perkara ini bukanlah sesuatu yang besar (susah). <strong></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Al Qadli Iyadh menyampaikan tafsir <strong>ketiga</strong> yaitu, tidak termasuk dosa besar.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya (Syaikh Raid) katakan, berdasarkan tafsir ketiga ini, maksud hadits ini adalah larangan dan memberikan peringatan yang keras kepada orang lain selain dua penghuni kubur ini, agar tidak mengira bahwa adzab Allah itu hanya ada akibat dari dosa besar yang membinasakan, karena adzab itu (kadang) ada akibat dari selainnya. <em>Wallahu a&#8217;lam</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebab kedua perbuatan ini (yaitu tidak menjaga diri dari air kencing dan namimah-pent) menjadi dosa besar adalah  perbuatan tidak bersih dari kencing mengakibatkan batalnya shalat. Sehingga tidak diragukan lagi tidak membersihkan diri dari kencing merupakan perbuatan dosa besar. Demikian juga menebar namimah (adu domba) dan berusaha berbuat kerusakan termasuk perbuatan yang paling buruk, apalagi jika bersesuaian dengan sabda beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> yang menggunakan kata <em>YAMSYI</em> (<em>fi&#8217;il mudhari&#8217;</em>) yang biasanya menunjukkan keadaan yang terus berkelanjutan (artinya dia terus-terus melakukannya selama hidupnya-pent).</p>
<p style="text-align: justify;">Sabda beliau <strong>??? ??????????</strong> . Al Hafiz Ibnu Hajar dalam <em>Fathul Baari</em> mengatakan, &#8220;Beginilah dalam kebanyakan riwayat yaitu dengan dua huruf yang bertitik dua diatas (dua huruf Ta&#8217;-pent), huruf pertama difathahkan dan huruf kedua dikasrahkan. Dalam riwayat Ibnu Asakir<a name="_ftnref4" href="#_ftn4">[1]</a> <strong>????????????</strong> (membesihkan diri-pent) dengan huruf <em>ba&#8217;</em> disukunkan, berasal dari kata <strong>????????????</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hadist riwayat Imam Muslim dan Abu Dawud dari hadits Al A&#8217;masy<a name="_ftnref5" href="#_ftn5">[2]</a> <strong>????????????</strong> dengan huruf <em>nun </em>yang disukunkan, setelah itu huruf <em>zai</em> lalu huruf <em>ha</em>. Makna kata  <strong>??? ??????????</strong> adalah tidak membuat antara dia dengan kencingnya sesuatu yang bisa melindunginya dari percikan kencing. Dengan demikian, maka maknanya sejalan dengan riwayat  <strong>????????????</strong> .</p>
<p style="text-align: justify;">Al hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> dalam <em>Fathul Baari</em> (1/318) menyatakan, &#8220;Dalam riwayat Abu Nu&#8217;aim berbunyi <strong>?????????????</strong> <strong> </strong>(tidak menjaga diri-pent) dan kata ini merupakan penjelas maksud (kata-kata diatas-pent).  Sebagian para ulama memberlakukan kata  <strong>??? ??????????</strong> sesuai zhahirnya. Mereka mengatakan, bahwa arti kata itu adalah tidak menutup auratnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sabda beliau <strong>??????? ??????????????</strong> yaitu mengutip dan menceritakan perkataan seseorang dengan tujuan mencelakakan. Adapun jika tujuannya untuk mewujudkan satu kemaslahatan atau menghindari kerusakan secara syar&#8217;i maka hal itu dibenarkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Nawawi <em>rahimahullah</em> dalam <em>Syarh Muslim</em> (3/201) mengatakan, &#8220;(<strong>Namiimah</strong>) adalah menceritakan perkataan seseorang ke orang lain dengan tujuan merusaknya (Adu domba).&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan perbuatan <em>Nabi shallallahu &#8216;alaihi</em> <em>wassalam</em> menaruh dua potong pelepah basah diatas dua kubur, menurut pandangan para ulama, perbuatan beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> itu dipahami bahwa beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam </em>memintakan syafa&#8217;at untuk penghuni kubur itu, lalu permintaan beliau s<em>hallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> dikabulkan dengan diberi keringanan adzab kepada kedua penghuni kubur itu sampai kedua potong pelepah itu kering.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Muslim <em>rahimahullah</em> menyebutkan di akhir kitab Shahih-nya sebuah hadits yang panjang yaitu hadits Jabir tentang dua penghuni kubur, (beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> bersabda-pent):</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;<em>&#8230; maka syafa&#8217;atku untuk meringankan adzab dari kedua penghuni kubur itu dikabulkan selama dua batang kayu ini masih basah</em>.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hadits tersebut tidak ada isyarat yang menunjukkan bolehnya menanam pelepah kurma atau yang lainnya di atas kuburan. Itu merupakan (kekhususan) Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em>, karena Allah <em>Ta&#8217;ala </em>memperlihatkan kepada beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> keadaan dua penghuni kubur tersebut dan adzab yang mereka alami. Ini merupakan kekhususan diantara kekhususan-kekhususan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> sebagaimana penjelasan yang akan datang insya Allah <em>Ta&#8217;ala</em> .</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pemahaman keliru tentang hadits ini</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ada yang memahami hadits diatas dengan pemahaman keliru. Sebagian mereka berdalil (berargumentasi) dengan hadits ini, tentang bolehnya menanam kurma dan pepohonan diatas kuburan. Mereka mengatakan bahwa <em>illah </em>(penyebab) diringankan adzab dari kedua penghuni kubur ini adalah dua pelepah yang masih basah karena keduanya senantiasa bertasbih kepada Allah selama masih basah sedangkan yang kering tidak bertasbih.</p>
<p style="text-align: justify;">Pendapat ini menyelisihi firman Allah<em> Ta&#8217;ala</em> ,</p>
<p style="font-size:16px;text-align: right;">????? ???? ?????? ??????????????? ?????????? ??????? ??????????????? ?????????????</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Dan tak ada suatupun melainkan nertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.&#8221;</em> (QS Al Isra&#8217; 44)</p>
<p style="text-align: justify;">Kalaulah seandainya, penyebab diringankan adzab adalah tasbih, tentu tidak ada seorangpun yang mendapatkan siksa di dalam kuburnya karena debu dan bebatuan yang berada di atas mayit bertasbih kepada Allah <em>Ta&#8217;ala</em> .<strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Syaikh kami Al Albani <em>rahimahullah</em> mengatakan dalam <em>Ahkamul Janaaiz </em>(hal. 201), &#8220;Kalau seandainya kondisi basah pelepah itu yang dimaksud, pasti para salafus shalih telah memahaminya  dan mengamalkan penunjukkannya serta telah meletakkan pelepah atau batang pohon di atas kubur ketika mereka berziarah. Kalau seandainya mereka melakukan hal tersebut, tentu beritanya akan masyhur kemudian dinukil para perawi terpercaya kepada kita. Karena ini termasuk perkara yang menarik perhatian dan mesti dinukil. Jika tidak dinukil, maka menunjukkan bahwa hal itu tidak  pernah terjadi. Cara seperti ini dalam mendekatkan diri kepada Allah adalah bid&#8217;ah&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun hadits Buraidah Al Aslamiy <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> yang berisi bahwa beliau berwasiat agar ditaruhkan dua pelepah diatas kuburnya. Maka hal ini merupakan hasil ijtihad beliau semata dan ijtihad itu kadang benar dan kadang salah. Dan kebenaran bersama orang yang meninggalkan perbuatan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Syaikh Ibnu Baaz <em>rahimahullah</em> dalam komentar beliau atas kitab <em>Fathul Baari </em>(3/223) mengatakan, &#8220;Pendapat yang mengatakan bahwa hal itu merupakan kekhususan Nabi merupakan pendapat yang benar. Karena Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> tidak pernah menanamkan pelepah kecuali di atas kuburan yang beliau ketahui penghuninya sedang disiksa dan tidak melakukan hal itu kepada semua kuburan. Kalau seandainya perbuatan itu sunnah, tentu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> akan melakukannya kepada semua kuburan. Juga karenakan para khulafa&#8217; Ar Rasyidin dan tokoh besar shahabat tidak pernah melakukan hal itu. Kalau seandainya itu disyari&#8217;atkan tentu mereka akan segera melakukannya&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Bukhari <em>rahimahullah</em> membuat satu bab dalam kitab shahihnya (3/222) <strong>Bab Al Jariidati Ala Al Qabri</strong><strong>.</strong><strong> </strong>Ibnu Rusydi mengatakan, tampaknya dari penjelasan Imam Bukhari <em>rahimahullah</em> bahwa hal itu khusus untuk dua orang itu saja, oleh karena itu beliau melanjutkannya dengan membawakan perkataan Ibnu Umar <em>radliallahu &#8216;anhuma</em> ketika melihat sebuah tenda di atas kuburan Abdurrahman,</p>
<p style="font-size:16px;text-align: right;">????????? ??? ??????? ?????????? ????????? ????????</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Wahai anak muda, cabutlah itu! Hanya amal perbuatannya saja yang (bisa) menaunginya&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Para ahli ilmu menjelaskan bahwa ini adalah satu kejadian khusus yang mungkin dikhususkan kepada orang-orang yang Allah perlihatkan kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> keadaan sang mayit.</p>
<p style="text-align: justify;">Al Khathabi berkata dalam <em>Ma&#8217;alimus Sunan</em> (1/27) mengomentari hadits ini, &#8220;Ini termasuk bertabarruk (mengharapkan barakah-pent) dengan atsar dan do&#8217;a beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam agar diringankan adzab dari keduanya. Seakan-akan beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjadikan waktu basahnya ranting itu sebagai batas dari permintaan keringanan adzab dari beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> , bukan karena pelepah basah memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki pelepah kering.  Kebanyakan orang di banyak negara menanam pepohonan di atas kubur-kubur mereka, saya lihat mereka melakukan ini tidak mengambilnya dari sisi ini&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Syaikh Ahmad Syakir dalam komentar beliau terhadap Sunan Tirmidzi (1/103) berkata setelah hadits ini: &#8220;Benarlah (apa yang dikatakan-pent) Al Khattaby. Kebanyakan orang semakin menjadi-jadi melakukan amal yang tidak ada dasarnya ini dan berlebih-lebihan dalam hal ini. terutama di negeri Mesir, karena taklid kepada orang-orang nasrani, sampai-sampai mereka meletakkan bunga-bunga diatas pekuburan, saling menghadiahkan bunga diantara mereka. Lalu mareka taruh diatas pusara keluarga dekat mereka dan kenalan mereka sebagai penghormatan kepada penghuni kubur dan sikap pura-pura baik kepada yang masih hidup. Bahkan kebiasaan ini menjadi setengah resmi dalam acara persahabatan  antar bangsa. Engkau dapatkan, para pembesar Islam, jika berkunjung ke salah satu negara Eropa pergi ke kuburan para pembesar negera itu atau ke kubur yang mereka sebut <strong>kuburan pahlawan tak dikenal</strong> dan menabur bunga diatasnya. Sebagian mereka meletakkan bunga plastik yang tidak ada unsur basah padanya karena ikut-ikutan orang Prancis dan mengikuti perbuatan-perbuatan Nashara dan Yahudi. Dan  para ulama tidak mengingkar mereka atas perbuatan tersebut apalagi orang awam, bahkan engkau melihat mereka sendiri meletakkan di kuburan orang mati mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya tahu kebanyakan wakaf-wakaf yang mereka namakan wakaf khairiyah ditanami pohon kurma dan bunga-bunga yang berbau harum yang diletakkan di atas kuburan. Semua ini adalah perbuatan bid&#8217;ah dan mungkar yang tidak memiliki dasar sama sekali, tidak memiliki sandaran dari Al-Qur&#8217;an maupun Sunnah. Para ahli ilmu wajib mengingkari dan memberantas kebiasaan-kebiasaan ini sesuai dengan kemampuan masing-masing.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Syaikh kami Al Albani mengatakan dalam kitab <em>Ahkaamul Janaiz</em> (hal. 201),</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ada beberapa perkara yang menguatkan (pendapat yang mengatakan) bahwa meletakkan  pelepah di atas kuburan merupakan kekhususan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> dan peringanan adzab bukan disebabkan  pelepah yang beliau n bagi dua. -beliau t menyebutkan, diantaranya:</p>
<p style="text-align: justify;">Hadits Jabir radhiallahu &#8216;anhu yang terdapat dalam shahih Muslim , Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Sesungguhnya aku melewati dua kuburan yang sedang disiksa, maka dengan syafa&#8217;atku aku ingin agar adzabnya diperingan dari keduanya selama dua ranting ini masih basah.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ini jelas sekali, (menerangkan) bahwa keringanan adzab itu disebabkan oleh syafa&#8217;atnya <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> dan do&#8217;anya n bukan karena unsur basah (yang ada pada ranting itu-pent), baik kisah Jabir <em>radhiallahu &#8216;anhu </em> ini satu kejadian dengan kisah Ibnu Abbaz <em>radhiallahu &#8216;anhu </em>yang terdahulu sebagaimana yang dirajihkan oleh Al &#8216;Aini atau yang ulama lain, ataupun dua kejadian yang berbeda sebagaimana dirajihkan oleh Ibnu Hajar dalam <em>Fathul Baari.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Adapun berdasarkan kemungkinan pertama (yaitu kisah J<em>abir radhiallahu &#8216;anhu</em> satu kejadian dengan kisah Ibnu Abbas <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> ) maka cukup jelas. Adapun berdasarkan kemungkinan kedua, karena penelitian yang benar menunjukkan bahwa penyebabnya satu dalam dua kisah tersebut karena adanya kemiripan yang ada dalam dua kisah tersebut. Juga karena keberadaan pelepah basah sebagai sebab diringankan adzab dari mayit ini termasuk perkara yang tidak diketahui secara syar&#8217;i atau akal. Kalau seandainya hal ini benar, tentu orang yang paling ringan adzabnya adalah orang-orang kafir yang menanamkan pepohonan dikuburan seperti layaknya sebuah taman karena banyaknya tanaman dan pepohonan yang selalu hijau di musim panas ataupun dingin. Ditambah juga bahwa sebagian ulama seperti Imam Suyuthi t menjelaskan  bahwa sebab pengaruh pelepah basah dalam peringanan adzab adalah karena dia bertasbih kepada Allah <em>Ta&#8217;ala</em> . mereka mengatakan, &#8220;Jika hilang sifat basah dari pelepah itu dan kering, maka berhentilah dari tasbih!.</p>
<p style="text-align: justify;">Alasan ini menyelisihi keumuman firman Allah Ta&#8217;ala ,</p>
<p style="font-size:16px;text-align: right;">?????? ???? ?????? ???? ????????? ?????????? ???????? ?? ??????????? ?????????????<em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;</em><em>Dan tak ada suatupun melainkan nertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.</em><em>&#8220;</em><em> </em>(QS. Al Isra&#8217;:44)</p>
<p style="text-align: justify;">Jika hal ini sudah jelas, maka mudah untuk memahami kebathilan qiyas lemah yang dikutip oleh Imam Suyuthi <em>rahimahullah</em> dari orang yang tidak beliau sebutkan, &#8220;<strong>Jika adzab kubur diringankan dari keduanya dengan sebab tasbbih pelepah tersebut, maka bagaimana pula dengan al-Qur&#8217;an yang dibacakan seorang mukmin ? Dia mengatakan, &#8220;Hadits ini merupakan dalil menanam pohon di kuburan&#8221;</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Saya (Syaikh Al Albani) mengatakan, &#8220;Kokohkan dulu kursi singgasana baru dipahat&#8221;<a name="_ftnref6" href="#_ftn6">[3]</a>, Apakah (mungkin) bayangan sesuatu itu lurus sementara batang (empunya bayangan) bengkok. Kalau seandainya qiyas ini benar, tentulah para salafusshalih akan bersegera melakukannya karena mereka lebih bersemangat dalam kebaikan dibandingkan kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Keterangan yang telah lewat menunjukkan bahwa meletakkan pelepah di kuburan itu merupakan kekhususan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam </em>dan rahasia peringanan adzab dari dua penghuni kubur diatas bukan karena pelepah yang basah akan tetapi karena syafa&#8217;at dan do&#8217;a Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> . Kejadian ini termasuk kejadian yang tidak mungkin terulang lagi setelah beliau n wafat dan tidak juga orang lain setelah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> , karena mengetahui adzab kubur termasuk kekhususan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> . Hal ini termasuk perkara ghaib yang tidak akan diketahui kecuali oleh Rasul, sebagaimana berita dalam firman Allah Ta&#8217;ala ,</p>
<p style="font-size:16px;text-align: right;">??????? ????????? ???? ???????? ????? ???????? ???????</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;</em><em>(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.</em><em>&#8220;</em><em> (</em>QS.Al Jin:26)</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">[Diterjemahkan oleh Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. dari kitab <em>Tashihul Akhtha' wal Auhaam all Waqi'ah fi fahmi Ahaditsin Nabi alaihis shalatu was salam,</em> Syaikh Raid Shabri Bin Abu Alfah, hal 72-78] <a name="_ftnref1" href="#_ftn1"></a></p>
<p style="text-align: justify;">Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.com</a></p>
<hr size="1" />
<p style="text-align: justify;"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4">[1]</a> Penerjemah juga menemukan beberapa riwayat lain yang menggunakan kalimat <strong>????????????</strong><em> </em>seperti riwayat Imam Nasa&#8217;I berikut</p>
<p style="font-size:16px;text-align: right;">???? ????? ???????? ????? ????? ??????? ??????? ?????? ???????  ?????? ????????? ???????????? ??????? ?????????? ?????????????? ????? ???????????? ??? ??????? ?????? ??????????? ??????? ??? ???????????? ???? ???????? ???????? ???????? ??????? ??????? ?????????????? ????? ?????? ????????? ???????? ?????????? ?????????? ????? ?????? ??? ????? ?????? ????????? ????????? ??? ??????? ??????? ???? ???????? ????? ??????? ???????????? ???? ????????? ????????? ??? ???? ?????????</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Dari Ibnu Abbas , beliau berkata, &#8220;Rasulullah </em><em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em><em> melewati dua buah kuburan, lalu beliau bersabda, &#8216;Sungguh Keduanya sedang disiksa, mereka disiksa bukan karena dosa besar. Salah satu dari dua orang ini, tidak menjaga diri dari  kencing, sedangkan yang satunya lagi, dia keliling menebar <strong>namiimah</strong>.&#8217; Kemudian beliau mengambil ranting basah, beliau patahkan jadi dua, lalu beliau tancapkan diatas masing-masing kubur satu potong. Para sahabat bertanya, &#8216;Wahai Rasulullah, kenapa Rasul melakukan ini ?&#8217; Beliau menjawab, &#8216;Semoga mereka diringankan siksaannya selama kedua ranting itu beum kering.<strong></strong></em></p>
<p style="text-align: justify;"><a name="_ftn5" href="#_ftnref5">[2]</a> Riwayat selengkapnya,</p>
<p style="font-size:16px;text-align: right;">????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ????? ?????????? ??????? ?????????? ???????????? ????? ???????????? ??? ??????? ?????? ????? ??????? ??? ???????????? ???? ????????? ???????? ????? ??????? ??????? ?????????????? &#8230;</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Rasulullah </em><em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em><em> melewati dua buah kuburan, lalu beliau bersabda, &#8216;Sesungguhnya Keduanya sedang disiksa, mereka disiksa bukan karena dosa besar, orang ini tidak membersihkan  diri dari  kencing, sedangkan yang ini dia keliling menebar <strong>namiimah&#8230;</strong></em><strong><em>&#8220;</em></strong><strong><em> </em></strong><strong>(HR. Abu Dawud)</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><a name="_ftn6" href="#_ftnref6">[3]</a> Ini peribahasa yang bermakna buktikan dulu kebenaran satu masalah baru dipakai sebagai ukuran. (pent)</p>
<p style="text-align: justify;">


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/aqidah/pohon-di-kuburan-meringankan-siksa/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/aqidah/pohon-di-kuburan-meringankan-siksa/&amp;title=Pohon+di+Kuburan+Meringankan+Siksa%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/aqidah/pohon-di-kuburan-meringankan-siksa/&amp;title=Pohon+di+Kuburan+Meringankan+Siksa%3F" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/aqidah/pohon-di-kuburan-meringankan-siksa/&amp;t=Pohon+di+Kuburan+Meringankan+Siksa%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/aqidah/pohon-di-kuburan-meringankan-siksa/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Pohon+di+Kuburan+Meringankan+Siksa%3F+-+http://ustadzkholid.com/aqidah/pohon-di-kuburan-meringankan-siksa/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/aqidah/pohon-di-kuburan-meringankan-siksa/&amp;title=Pohon+di+Kuburan+Meringankan+Siksa%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/aqidah/pohon-di-kuburan-meringankan-siksa/&amp;title=Pohon+di+Kuburan+Meringankan+Siksa%3F" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Pohon+di+Kuburan+Meringankan+Siksa%3F+-+http://b2l.me/n9ppd&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Pohon+di+Kuburan+Meringankan+Siksa%3F&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/aqidah/pohon-di-kuburan-meringankan-siksa/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Sebagian%20orang%20memiliki%20kepercayaan%20bahwa%20pohon%20tertentu%20yang%20ditanam%20di%20atas%20atau%20di%20dekat%20kuburan%20dapat%20meringankan%20siksa%20si%20penghuni%20kubur.%20Mereka%20pun%20berdalil%20dengan%20sebuah%20hadits%20yang%20diriwayatkan%20Imam%20Bukhari%20dan%20Imam%20Muslim.%20Benarkan%20kepercayaan%20yang%20demikian%3F" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/aqidah/pohon-di-kuburan-meringankan-siksa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terjaganya Hadits Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/hadits/terjaganya-hadits-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/hadits/terjaganya-hadits-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Apr 2009 13:46:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[salafy]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=714</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta'ala berfirman:

?????? ?????? ?????????? ????????? ???????? ???? ????????????

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Dzikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al Hijr: 9)
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Allah ta’ala mengutus Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>untuk membimbing manusia kepada jalan yang lurus dan memerintahkan mereka untuk mentaati dan mencontoh prilaku beliau. Allah ta’ala berfirman :</p>
<p align="right"><span style="font-size: 15px;">????? ???????? ?????????? ????????? ????? ????????? ?????? ???????????? ?????????? ?????? ? ????? ?????? ??????? ??????????</span></p>
<p><em>Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia.Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Allah.Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya</em>. (QS. Al-Hasyr: 7)</p>
<p>Beliaupun <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em> telah menunaikan semua tugasnya dan meninggalkan al-Qur`an dan Sunnah sebagai petunjuk bagi manusia hingga hari kiamat dalam mencapai keselamatan dunia dan akherat. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda:</p>
<p align="right"><span style="font-size: 15px;">???????? ???????? ?????????? ???? ?????????? ??? ????????????? ??????? ??????? ????? ?? ?????????</span></p>
<p><em>Aku tinggalkan pada kalian dua hal, kalian tidak akan sesat selama kalian berpegang teguh kepada keduanya yaitu Kitabullah (al-Qur`an) dan Sunnahku</em>. (HR al-Haakim dan dishohihkan al-Albani dalam Shohih al-Jâmi&#8217; as-Shoghîr no. 2937)</p>
<p>Dari sini jelaslah hadits-hadits Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em> menjadi salah satu sumber pengambilan hukum syari&#8217;at baik berupa aqidah, hukum fikih dan yang lainnya. Sunnah-sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>ini menjadi sumber kehidupan seorang muslim dalam menggapai kebahagian dan keridho&#8217;an disisi Allah ta’ala . Jadilah hadits-hadits ini menjadi sumber dan asas syari&#8217;at yang kekal dan terjaga keontetikannya.<span id="more-714"></span><br />
Syeikh Abdul muhsin al-Abâd hafizhahullah menyatakan: Sesungguhnya Sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>adalah wahyu yang Allah sampaikan kepada NabiNya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia bersama al-Qur`an yang mulia adalah asas agama islam dan sumber hukumnya. Keduanya saling terkait sebagaimana kaitan syahadat Lâ ilâha Illa Allah dan syahadat Muhammad Rasulullah. Siapa yang tidak beriman kepada Sunnah berarti tidak beriman kepada al-Qur&#8217;an. ( Lihat: Kitab Miftâh al-Jannah Fî al-Ihtijâj Bi as-Sunnah karya al-Suyuthi, cetakan kelima tahun 1415H terbitan al-Jâmi&#8217;ah al-Islamiyah Madinah hal. 3)<br />
Memang keduanya adalah sumber utama dalam mengenal aqidah dan hukum-hukum syari&#8217;at yang saling melengkapi, sebab Sunnah adalah penjelas kandungan al-Qur&#8217;an yang mujmal (global) dan membatasi kemutlakannya. Bahkan sebenarnya ia adalah penerapan al-Qur&#8217;an melalui Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em> yang Allah ta’ala sifatkan dengan ketinggian akhlaknya dalam firmanNya:</p>
<p align="right"><span style="font-size: 15px;">????????? ???????? ?????? ??????</span></p>
<p><em>Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.</em> (QS.Al Qolam: 4)</p>
<p>Demikianlah ummul Mukminin A&#8217;isyah <em>radhiyallahu &#8216;anha</em> ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak dapat mengungkapkannya kecuali dengan menyatakan:</p>
<p align="right"><span style="font-size: 15px;">????? ???????? ??????????</span></p>
<p><em>Akhlak beliau adalah al-Qur`an </em>(HR Ahmad no. 23460 dan dishohihkan al-Albani dalam Shohih al-Jâmi&#8217; as-Shoghîr no 4811).</p>
<p>Sehingga Allah <em>ta’ala</em> berfirman:</p>
<p align="right"><span style="font-size: 15px;">?????? ????? ?????? ??? ??????? ????? ???????? ???????? ?????? ????? ???????  ????? ??????????? ???????? ???????? ????? ????????</span></p>
<p><em>Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.</em> (QS. Al Ahdzab: 21)</p>
<p><strong>Allah <em>ta’ala</em> Menjaga sunnah RasulNya</strong></p>
<p>Eratnya hubungan al-Qur`an dan Sunnah ini tidak akan dapat dipisah-pisah dalam memahami islam yang benar dan dikehendaki Allah <em>ta’ala</em>. Ironisnya, kedudukan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tinggi ini membuat musuh-musuh islam berang dan berusaha merusaknya dengan membuat-buat perkataan yang disandarkan kepada beliau <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>. bahkan sampai berusaha melontarkan syubhat-syubhat untuk mengingkari sunnah sebagai sumber hokum. Namun Allah<em> ta’ala</em> telah menjamin keontetikannya dan akan memeliharanya sebagaimana menjaga dan memelihara al-Qur`an. Seperti yang dijelaskan Allah dalam firmanNya:</p>
<p align="right"><span style="font-size: 15px;">?????? ?????? ?????????? ????????? ???????? ???? ????????????</span></p>
<p><em>Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Dzikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.</em> (QS. Al Hijr: 9)</p>
<p>Ayat yang mulia ini adalah nash penjagaan al-Qur`an dan juga terkandung penjagaan terhadap hadits-hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, karena Allah <em>ta’ala</em> berfirman:</p>
<p align="right"><span style="font-size: 15px;">????????????? ???????? ????????? ??????????? ????????? ??? ??????? ??????????  ????????????? ??????????????</span></p>
<p><em>Dan Kami turunkan kepadamu al-Dzikr, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan</em>, (QS. An Nahl: 44)</p>
<p>(dalam ayat ini) Allah ta’ala memerintahkan RasulNya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> untuk menjelaskan al-Qur`an kepada manusia, maka seandainya penjelasan beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> terhadap al-Qur`an tidak terjaga dan terpelihara (mahfûzh) tentulah tidak dapat berpegang teguh dan beramal dengan al-Qur`an. Padahal Allah juga berfirman:</p>
<p align="right"><span style="font-size: 15px;">????? ???????? ???? ????????? 3  ???? ???? ?????? ?????? ???????  4</span></p>
<p><em>dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur&#8217;an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)</em>, (QS. An Najm: 3-4) .</p>
<p>(lihat: Zawâbigh Fî Wajhi as-Sunnah Qadiman wa Haditsan, Sholahuddin Maqbûl Ahmad, cetakan pertama tahun 1411 H, Islamic Sceintific Research Academy, Newdelhi, India, hal. 7-8)</p>
<p>Dengan demikian jelaslah bahwa janji Allah untuk memelihara al-Dzikr tidak hanya terbatas pada al-Qur`an saja tapi yang dimaksud adalah menjaga syari&#8217;at dan agama Allah <em>ta’ala</em> yang disampaikan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan ia lebih umum dari sekedar al-Qur`an atau Sunnah saja. (lihat: As-Sunnah wa Makânatuha Fî al-Tasyri&#8217; al-Islami, Musthofa as-Sibaa&#8217;I, cetakan keempat tahun 1405 H , al-Maktab al-Islami, Baerut, hal. 156)</p>
<p>Ibnu Hazm <em>rahimahullah</em> dalam kitab al-Ihkaam (1/121) menyatakan: Tidak ada perbedaan antara para ulama ahli lughah (bahasa Arab) dan syari&#8217;at bahwa semua wahyu yang turun dari Allah <em>ta’ala</em> itu adalah a<em>l-Dzikru al-Munazzal .</em> semua wahyu terpelihara dengan pemeliharaan Allah ta’ala dengan pasti dan semua yang Allah jamin pemeliharaannya maka terjaga tidak akan hilang dan tidak akan terubah sedikitpun yang tidak ada penjelasan tentang kebatilannya.<br />
Kemudian beliau membantah orang yang menganggap pengertian al-Dzikr dalam ayat diatas sebagai al-Qur`an saja dengan menyatakan: ini adalah klaim dusta yang tidak berdasarkan bukti dan pengkhususan kata al-Dzikr tanpa dalil… kata al-Dzikr adalah nama umum untuk semua yang Allah ta’ala turunkan kepada RasulNya n berupa al-Qur`an atau sunnah yang merupakan wahyu penjelas al-Qur`an. Juga Allah<em> ta’ala</em> berfirman:</p>
<p align="right"><span style="font-size: 15px;">????????????? ???????? ????????? ??????????? ????????? ??? ??????? ??????????  ????????????? ??????????????</span></p>
<p><em>Dan Kami turunkan kepadamu al-Dzikr, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan</em>, (QS. An Nahl: 44)</p>
<p>Sehingga benar beliau n diperintahkan untuk menjelaskan al-Qur`an kepada manusia. Dalam al-Qur`an ada banyak perintah mujmal seperti sholat, zakat, haji dan selain itu yang kita tidak ketahui apa yang Allah ta’ala wajibkan dengan lafadz al-Qur`an namun dengan penjelasan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam . Apabila penjelasan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap yang global (mujmal) tidak terpelihara dan tidak terjamin keselamatannya dari yang bukan dari sunnah, maka tidak dapat mengambil manfaat dari nash al-Qur`an, lalu hilanglah kebanyakan syari&#8217;at yang diwajibkan kepada kita dan kita tidak tahu kebenaran yang Allah ta’ala kehendaki. (Dinukil dari kitab as-Sunnah wa Makânatuha Fî al-Tasyri&#8217; al-Islami hal. 156-158)<br />
Demikian juga pemeliharaan al-Qur`an tidak sempurna kecuali dengan menjaga dan memilihara sunah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Hal itu karena makna kandungan al-Qur`an terrefleksikan pada akhlak dan amalan beliau. Sehingga mengingkari, tidak menggunakan dan membiarkan satu sunnah yang shohih atau menyimpangkan dan mentakwilkannya keluar dari maksudnya serta memahaminya diluar ketentuan syari&#8217;at adalah sama dengan meninggalkan dan tidak peduli dengan al-Qur`an. (Lihat : Kitab Zawâbigh hal.8)</p>
<p><strong>Bentuk Penjagaan Allah terhadap Sunnah</strong></p>
<p>Jelaslah seluruh yang disampaikan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tentang agama semuanya wahyu dan al-Dzikr. Semuanya terjaga dan terpelihara dengan penjagaan dan pemeliharaan Allah.<br />
Adapun al-Qur`an maka semuanya terpelihara dan dinukilkan secara mutawatir. Sedangkan Sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang merupakan penjelas al-Qur`an , pengkhusus lafadz-lafadz umumnya dan pembatas lafadz-lafadz mutlaknya pun terjaga dan terpelihara. Diantara yang Allah <em>ta’ala</em> jadikan sebagai sebab pemeliharaan dan penjagaan sunnah adalah sebagai berikut:</p>
<p>1. Thô`ifah al-Manshuroh</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> ciptakan sekelompok dari umat islam yang senantiasa menegakkan kebenaran sampai hari kiamat, sebagaimana disampaikan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dalam sabda beliau:</p>
<p align="right"><span style="font-size: 15px;">??? ??????? ????????? ???? ???????? ?????????? ????? ???????? ??? ??????????? ???? ?????????? ?????? ???????? ?????? ?????? ?????? ????????</span></p>
<p><em>Senantiasa ada sekelompok dari umatku yang menang diatas kebenaran, tidak merugikan mereka orang-orang yang menghina mereka hingga datang keputusan Allah dan mereka dalam keadaan demikian.</em> (HR Muslim no. 3544)</p>
<p>Dengan adanya umat yang menegakkan kebenaran dan memenanginya maka tentunya akan dapat memelihara keontetikan sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Hal ini terbukti dengan adanya perhatian para salaf umat dan ulama muhadditsin disetiap zaman dan tempat.</p>
<p>2. Perhatian salaf sholeh terhadap sunnah</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> menyiapkan pembela sunnah dengan menciptakan generasi salaf sholeh dan setelah mereka yang telah memberikan perhatian besar kepada sunnah. Perhatian salaf umat ini terhadap sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>sangat beragam sesuai dengan kemampuan dan sarana yang ada disetiap zaman. Oleh karena itu didapatkan mereka telah mengerahkan seluruh kesungguhan dan kemampuan serta beragam sarana dalam memperhatikan sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> baik berupa ilmu dan amal, menghafal dan menulisnya, mempelajari dan menyebarkannya kepada umat manusia. Setelah wafat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>para sahabat memberikan perhatian lebih dari sebelumnya dalam menjaga sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, diantaranya menghafal dan tatsabut (klarifikasi) sehingga salah seorang mereka bepergian untuk satu hadits sepanjang perjalanan sebulan dalam rangka cek ulang (tatsabut) tentang hafalannya. Demikian juga menulisnya dalam lembaran shahifah kemudian menyebarkannya diantara manusia. Semua ini disesuaikan dengan metodologi amaliyah dan ilmiyah.<br />
Demikian pula para Tabi&#8217;in memberikan perhatian terhadap sunnah yang dapat diwujudkan dalam banyak bentuk diantaranya:<br />
1. Perhatian dalam menghafalnya<br />
2. Bertanya tentang sanad<br />
3. mencari tahu keadaan para perawi dan penukil hadits yang menghasilkan ilmu rijal. Ilmu rijal ini menjadi salah satu keistimewaan umat islam.<br />
4. Tadwin (kodefikasi) sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang dimulai lembaran sahifah hingga menjadi karya tulis yang memiliki bab dan tersusun rapi. (Lihat: Tadwin as-Sunnah An-nabawiyah, Nasy&#8217;atuhu wa Tathawwuruhu, DR. Muhammad bin Mathor az-Zahrôni, cetakan kedua tahun 1419H, Dar al-Khudhairi, Madinah Nabawiyah hal. 38)</p>
<p>3. Ulama-ulama muhaditsin.</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> telah memberikan taufiq kepada sejumlah besar dari kalangan ulama-ulama muhadditsin pada setiap masa dan tempat untuk meriwayatkannya, menyebarkannya, menulisnya, menggunakannya dalam menepis kebatilan dan melakukan hidmat yang sempurna dan tiada bandingannya terhadap sunnah dalam sejarah dunia. Ulama muhadditsin telah mengeluarkan segala kemampuan dan kekuatannya dalam menjaga sunnah Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dari penambahan dan pengurangan sehingga bila ditambah satu huruf pada matan hadits akan mereka jelaskan. Ibnu Hibban dalam mensifatkan ulama Muhadditsin menyatakan, Hingga salah seorang mereka seandainya ditanya tentang jumlah huruf dalam sunnah-sunnah untuk setiap sunnah tentulah mereka akan sampaikan jumlahnya dan seandainya ditambahkan padanya huruf alif atau wawu, tentulah akan dikeluarkan secara paksa dan akan ditampakkan. (lihat: Manhaj al-Muhadditsin Fî Taqwiyât al-Ahâdits al-Hasanah wa al-Dho&#8217;ifah, DR. al Murtadho al-Zein Ahmad, cetakan pertama tahun 1415 H , Maktabah ar-Rusyd hal 7)</p>
<p>Manshur bin &#8216;Ammâr as-Sulami al-Khurâsâni dalam mensifati ahlu hadits menyatakan: Allah ta&#8217;ala menugaskan penjagaan atsar yang menafsirkan al-Qur`an dan sunnah-sunnah yang kokoh bangunannya sekelompok orang-orang pilihan. Allah <em>ta’ala </em>memberikan mereka taufiq untuk mencarinya dan menulisnya dan memberikan kekuatan kepada mereka dalam memelihara dan menjaganya. Juga memberikan kepada mereka kecintaan membaca dan mempelajarinya dan menghilangkan dari mereka perasaan lelah dan bosan, duduk dan bepergian, mengorbankan jiwa dan harta dengan menyeberangi hal-hal yang menakutkan. Mereka bepergian dari satu negeri kenegeri lainnya untuk menuntut ilmu di setiap tempat dalam keadaan rambut yang kusut, pakaian yang compang camping, perut yang lapar, mulut yang kering, wajah yang pucat karena kelelahan dan kelaparan dan badan yang kurus. Mereka memiliki satu tekad keras dan ridho kepada ilmu sebagai petunjuk dan pemimpinnya, tidaklah rasa lapar dan haus memutus mereka dari hal itu. Juga musim panas dan dingin tidak membuat mereka bosan dalam memilah-milah yang shohih dari yang bermasalah dan yang kuat dari yang lemah (dari sunnah-sunnah) dengan pemahaman yang kokoh, pandangan yang luas dan hati yang sangat mengerti kebenaran. Sehingga dapat menjaga dari kesesatan orang yang suka menduga-duga, kebidahan orang-orang mulhid dan kedustaan para pendusta. Seandainya kamu melihat mereka diwaktu malam hari telah menghidupkannya dengan menulis semua yang telah mereka dengar dan mengoreksi semua yang telah mereka kumpulkan dalam keadaan menjauhi kasur yang empuk dan pembaringan yang menggiurkan. Rasa kantukpun telah menguasai mereka sehingga menidurkan mereka dan berlepasanlah pena-pena dari telapak tangan mereka, lalu (seketika itu juga) mereka tersadar dalam keadaan terkejut. Kelelahan telah memberikan rasa sakit pada punggung-punggung mereka dan keletihan bergadang telah melelahkan akal pikiran mereka sehingga mereka berusa menghilangkannya untuk mengistirahatkan badan mereka dan berusaha berpindah dari satu tempat ketempat yang lain untuk menghilangkan rasa kantuk dan tidurnya dan memijat-mijat mata dengan tangan mereka kemudian kembali menulis karena semangat yang tinggi dan selera mereka kepada ilmu. (hal ini) tentulah membuatmu mengerti bahwa mereka adalah penjaga islam dan penjaga gudang ilmu Allah <em>ta’ala</em>. Apabila mereka telah selesai menunaukan sebagian yang mereka tuntut dari keinginan-keinginan mereka tersebut, maka mereka pulang menuju negeri mereka lalu duduk menetap dimasjid-masjid dan memakmurkannya dengan menggunakan pakaian ketawadu&#8217;an (kerendahan hati), pasrah dan menyerah. Mereka berjalan dengan rendah hati, tidak mengganggu tetangga dan tidak melakukan perbuatan buruk hingga apabila ada penyimpangan atau orang yang keluar dari agama, mereka keluar sebagaimana keluarnya singa dari kandangnya mempertahankan syiar-syiar islam. (Lihat: Al-Muhaddits al-Fâshil Baina ar-Râwi wa al-Wâ&#8217;I hal. 220-221 dinukil dari Manhaj al-Muhadditsin Fi Taqwiyât al-Ahâdits al-Hasanah wa al-Dho&#8217;ifah hal. 6-7)<br />
Demikianlah mereka manjadi penjaga sunnah-sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>di sepanjang masa.</p>
<p>4. Rihlah Fî Tholabi al-Hadits</p>
<p>Diantara perhatian dan usaha para ulama menjaga sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah dengan melakukan bepergian mengumpulkan hadits (Rihlah Fî Tholabi al-Hadits). Mereka mengerahkan segala daya dan upaya untuk mengumpulkan hadits dan sanad-sanadnya hingga bepergian yang menempuh jarak sangat jauh dengan titik kesulitan yang demikian besar. Rihlah ini sudah menjadi tradisi mereka dalam menuntut ilmu dan memiliki pangaruh yang sangat besar dalam penyebaran hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan memperbanyak jalur periwayatannya, sebagaimana juga memiliki pengaruh baik dalam mengenal para perawi dengan sangat detail dan dalam, sebab seorang Muhaddits yang pergi kesatu negeri lalu mengenal ulamanya, berbicara dengan mereka dan bertanya. Dengan demikian juga dapat membongkar pemalsu hadits dan menghilangkan banyak hadits palsu yang ada pada umat ini, sehingga umat terlepas dari musibah penyimpangan agama. Pantaslah bila Ibrohim bin Adham menyatakan, Allah telah menghilangkan musibah dari umat ini dengan bepergiannya ash-hâbu al-Hadits.( Lihat: Tadwien as-Sunnah 44 dan 50)</p>
<p>5. Kaidah ilmu jarh wa ta&#8217;dil dan Mushtholah</p>
<p>Usaha para ulama dari zaman sahabat hingga kini menghasilkan Kaidah ilmu mustholah dan ilmu al-jarh wa Ta&#8217;dil. Para ulama menulis dan menyusun ilmu-ilmu ini dalam rangka memerangi kebidahan dan menjaga agama ini dari kedustaan para pendusta dan penyimpangan serta takwil orang bodoh. Lihatlah penyataan imam al-Haakim dalam Muqaddimah kitab Ma&#8217;rifat &#8216;Ulûm al-Hadits yang berbunyi<em>: Sungguh aku melihat kebid&#8217;ahan dizaman kita ini telah banyak dan pengetahuan orang terhadap ushul sunnan sangat sedikit dengan tenggelamnya mereka dalam penulisan Hadits dan banyak mengumpulkannya dengan lalai dan tidak perhatian. Hal ini mendorongku untuk menulis kitab yang ringan mencakup bagian dan jenis ilmu Hadits yang dibutuhkan para penuntut hadits yang terus menerus menulis hadits-hadits…</em>(Lihat: Ma&#8217;rifat &#8216;Ulûm al-Hadits, Al-Hâkim Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah an-naisâburi, tahqiq DR. as-Sayyid Mu&#8217;azhzhom Husein. Cetakan kedua tahun 1397 H, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Bairut, hal. 1)</p>
<p>Demikian juga Para sahabat telah meletakkan manhaj (metodologi) pengenalan kejujuran perawi dari kedustaannya dan diikuti para tabi&#8217;in. para ulama semakin memperluas setiap kali menjauh dari zaman generasi terbaik umat ini. Belum habis abad ketiga hijriyah, ilmu ini telah tersebar dan dikenal. Ilmu ini dinamakan ilmu al-jarh wa Ta&#8217;dil. (lihat: Dirâsât Fî al-Jarh Wa Ta&#8217;dil, DR Muhammad Dhiya&#8217;urrahman al-A&#8217;zhomi, cetakan keempat tahun 1419H, Maktabag al-Ghurabâ&#8217; al-Atsariyah, madinah hal.20)</p>
<p>Kaidah-kaidah ilmu hadits ini mempelajari seluruh sisi hadits secara sempurna dan dalam, sehingga dapat memilah-milah antara yang shohih dengan yang lemah dan palsu. Ini semua merupakan satu bentuk penjagaan Allah terhadap Sunnah.<br />
Demikianlah sekelumit permasalahan penjagaan Allah <em>ta’ala</em> terhadap sunnah RasulNya, mudah-mudahan bermanfaat.</p>
<p>Penulis: Kholid Syamhudi Lc</p>
<p>Maraji&#8217;:<br />
1. Miftâh al-Jannah Fî al-Ihtijâj Bi as-Sunnah karya al-Suyuthi, cetakan kelima tahun 1415H terbitan al-Jâmi&#8217;ah al-Islamiyah Madinah<br />
2. Zawâbigh Fî Wajhi as-Sunnah Qadiman wa Haditsan, Sholahuddin Maqbûl Ahmad, cetakan pertama tahun 1411 H, Islamic Sceintific Research Academy, Newdelhi, India, hal. 7-8<br />
3. As-Sunnah wa Makânatuha Fî al-Tasyri&#8217; al-Islami, Musthofa as-Sibaa&#8217;I, cetakan keempat tahun 1405 H , al-Maktab al-Islami, Baerut, hal. 156.<br />
4. Tadwin as-Sunnah An-nabawiyah, Nasy&#8217;atuhu wa Tathawwuruhu, DR. Muhammad bin Mathor az-Zahrôni, cetakan kedua tahun 1419H, Dar al-Khudhairi, Madinah Nabawiyah<br />
5. Manhaj al-Muhadditsin Fî Taqwiyât al-Ahâdits al-Hasanah wa al-Dho&#8217;ifah, DR. al Murtadho al-Zein Ahmad, cetakan pertama tahun 1415 H , Maktabah ar-Rusyd<br />
6. Ma&#8217;rifat &#8216;Ulûm al-Hadits, Al-Hâkim Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah an-naisâburi, tahqiq DR. as-Sayyid Mu&#8217;azhzhom Husein. Cetakan kedua tahun 1397 H, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Bairut<br />
7. Dirâsât Fî al-Jarh Wa Ta&#8217;dil, DR Muhammad Dhiya&#8217;urrahman al-A&#8217;zhomi, cetakan keempat tahun 1419H, Maktabag al-Ghurabâ&#8217; al-Atsariyah, madinah.</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/hadits/terjaganya-hadits-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/hadits/terjaganya-hadits-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam/&amp;title=Terjaganya+Hadits+Nabi+Shallallahu+%27alaihi+wa+sallam" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/hadits/terjaganya-hadits-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam/&amp;title=Terjaganya+Hadits+Nabi+Shallallahu+%27alaihi+wa+sallam" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/hadits/terjaganya-hadits-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam/&amp;t=Terjaganya+Hadits+Nabi+Shallallahu+%27alaihi+wa+sallam" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/hadits/terjaganya-hadits-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Terjaganya+Hadits+Nabi+Shallallahu+%27alaihi+wa+sallam+-+http://ustadzkholid.com/hadits/terjaganya-hadits-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/hadits/terjaganya-hadits-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam/&amp;title=Terjaganya+Hadits+Nabi+Shallallahu+%27alaihi+wa+sallam" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/hadits/terjaganya-hadits-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam/&amp;title=Terjaganya+Hadits+Nabi+Shallallahu+%27alaihi+wa+sallam" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Terjaganya+Hadits+Nabi+Shallallahu+%27alaihi+wa+sallam+-+http://b2l.me/n9mes&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Terjaganya+Hadits+Nabi+Shallallahu+%27alaihi+wa+sallam&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/hadits/terjaganya-hadits-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Allah%20ta%27ala%20berfirman%3A%0D%0A%0D%0A%3F%3F%3F%3F%3F%3F%20%3F%3F%3F%3F%3F%3F%20%3F%3F%3F%3F%3F%3F%3F%3F%3F%3F%20%3F%3F%3F%3F%3F%3F%3F%3F%3F%20%3F%3F%3F%3F%3F%3F%3F%3F%20%3F%3F%3F%3F%20%3F%3F%3F%3F%3F%3F%3F%3F%3F%3F%3F%3F%0D%0A%0D%0ASesungguhnya%20Kami-lah%20yang%20menurunkan%20al-Dzikr%2C%20dan%20sesungguhnya%20Kami%20benar-benar%20memeliharanya.%20%28QS.%20Al%20Hijr%3A%209%29%0D%0A" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/hadits/terjaganya-hadits-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Derajat hadist mengerak-gerakan jari ketika sholat</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/hadits/derajat-hadist-mengerak-gerakan-jari-ketika-sholat-2/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/hadits/derajat-hadist-mengerak-gerakan-jari-ketika-sholat-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Feb 2009 08:36:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekomasuri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[tasyahud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=372</guid>
		<description><![CDATA[Manakah pendapat yang rajih tentang menggerak-gerakkan telunjuk saat tasyahud ?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><em><strong>assalamu&#8217;alaikum,</strong></em><br />
Ustadz pada hadits Wa`il bin Hujr (menggerak-gerakan jari telunjuk) terdapat perawi bernama Za`idah bin Qudamah yaitu seorang rawi tsiqoh yang kuat hafalannya.<br />
Pendapat pertama : Za`idah bin Qudamah telah menyelisihi dua puluh dua orang rawi yang mana kedua puluh dua orang rawi ini semuanya tsiqoh bahkan sebagian dari mereka itu lebih kuat kedudukannya dari Za`idah sehingga apabila Za`idah menyelisihi seorang saja dari mereka itu maka sudah cukup untuk menjadi sebab syadznya riwayat Za`idah. Semuanya meriwayatkan dari ‘Ashim bin Kulaib bin Syihab dari ayahnya dari Wa`il bin Hujr. Dan dua puluh dua rawi tersebut tidak ada yang menyebutkan lafadz <em>yuharrikuha </em>(digerak-gerakkan)</p>
<p>http://an-nashihah.com/index.php?mod=article&amp;cat=Hadits&amp;article=68&amp;page_order=4.</p>
<p>Pendapat kedua : bahwa seorang perawi tsiqqoh tidak boleh dituduh keliru atau salah, kecuali dengan bukti yang kuat. Sedangkan tidak ada seorang ahli haditspun sejauh yang menuduh Za`idah melakukan kesalahan dan melakukan idraj (penyisipan) lafazh dalam hadits ini, tidak ada pertentangan antara hadits tambahan Za`idah dengan 20 riwayat dari perawi lainnya. Bahkan, bisa kita katakan bahwa <em>ziyadah </em>(tambahan) dari Za`idah adalah tambahan ilmu dan hifzh (hafalan) dari Za`idah. <em>Wallohu a’lam </em>http://konsultasi.stai-ali.ac.id/?p=70<br />
Pertanyaannya :</p>
<p>Mana yang rojih dari kedua pendapat ini Ustadz..?<br />
<em>Jazakumullah Khair.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em><strong>Aslam ibnu romadhon<br />
Jl.KH.Agus Salim Rt.005 Rw.008 No.28 Bekasi Jaya.</strong></em></p>
<p style="text-align: left;"><span id="more-372"></span><strong>Ustadz Kholid menjawab :</strong><br />
<em>W’alaikum salam</em><br />
Memang dalam permasalahan ini kami pandang termasuk permasalahan yang agak rumit. Masalah ini kembali kepada manhaj para ulama dalam menyikapi tambahan perawi tsiqah (Ziyadah ats-Tsiqah) apakah diterima atau tidak.</p>
<p style="text-align: left;">Sebagian ulama memandang hukum masalah ini kembali kepada setiap kasus dan memandang tambahan kalimat yang disampaikan Zaaidah bin Qudamah sebagai tambahan yang <em>SYADZ </em>(menyelisihi yang lebih kuat). Sebab beliau menyelisihi sejumlah besar para tsiqat. Mereka mengadu ketsiqahan Zaaidah dengan kekuatan orang yang menyelisihinya. Kalau demikian jelas Zaaidah kalah dalam kekuatan dan tambahan beliau dinyatakan lemah dan tidak diterima. Diantara ulama yang berpendapat demikian adalah Syaikh Muqbil bin Hadi –<em>Rahimahullahu</em>- dan para murid beliau.</p>
<p style="text-align: left;">Sebagian lagi memandang perlunya mengkompromikan dahulu seluruh riwayat yang ada. Mereka memandang tambahan dalam riwayat Zaaidah tidak bertentangan dengan riwayat perawi tsiqah lainnya. Bila tidak bertentangan maka seharusnya di kompromikan dengan menyatakan bahwa riwayat Zaaidah adalah penjelas dari keumuman isyarat dengan telunjuk yang disampaikan dalam riwayat lainnya. Sehingga tambahan ini diterima dan diamalkan. Konsekwensinya disunnahkan menggerakkan jari telunjuk dalam tasyahud. Diantara ulama yang berpendapat demikian adalah Syeikh Muhammad Nashiruddin al-Albani –<em>Rahimahullah</em>- dan para murid beliau.<br />
Yang rojih –<em>wallahu a&#8217;lam-</em> dalam pandangan kami adalah pendapat kedua. Sebab mengamalkan seluruh riwayat yang ada lebih utama dari menolak sebagiannya. Demikian juga sikap yang dijelaskan imam Ibnu Hajar <em>–Rahimahullahu</em>- dalam kitab <em>Nukhbat al-Fikaar </em>dalam menyikapi masalah <em>Ziyaadah ats-Tsiqah</em>. Beliau menyatakan:</p>
<p style="text-align: right;font-size:18px">??????????? ??????????? ???????????? ? ??? ???? ?????? ??????????? ?????? ???? ???????</p>
<p style="text-align: left;"><em>Tambahan perowi Shohih dan hasan diterima selama tidak meniadakan (kontradiktif) terhadap (riwayat) yang lebih tsiqah darinya.</em></p>
<p style="text-align: left;">Hal ini ditambah dengan tambahan pengetahuan yang dimiliki Zaaidah dengan menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan isyarat tersebut adlah menggerakkan jemari telunjuknya dalam tasyahud.<br />
<em>Wallahu a&#8217;lam.</em></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/hadits/derajat-hadist-mengerak-gerakan-jari-ketika-sholat-2/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/hadits/derajat-hadist-mengerak-gerakan-jari-ketika-sholat-2/&amp;title=Derajat+hadist+mengerak-gerakan+jari+ketika+sholat" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/hadits/derajat-hadist-mengerak-gerakan-jari-ketika-sholat-2/&amp;title=Derajat+hadist+mengerak-gerakan+jari+ketika+sholat" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/hadits/derajat-hadist-mengerak-gerakan-jari-ketika-sholat-2/&amp;t=Derajat+hadist+mengerak-gerakan+jari+ketika+sholat" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/hadits/derajat-hadist-mengerak-gerakan-jari-ketika-sholat-2/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Derajat+hadist+mengerak-gerakan+jari+ketika+sholat+-+http://ustadzkholid.com/hadits/derajat-hadist-mengerak-gerakan-jari-ketika-sholat-2/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/hadits/derajat-hadist-mengerak-gerakan-jari-ketika-sholat-2/&amp;title=Derajat+hadist+mengerak-gerakan+jari+ketika+sholat" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/hadits/derajat-hadist-mengerak-gerakan-jari-ketika-sholat-2/&amp;title=Derajat+hadist+mengerak-gerakan+jari+ketika+sholat" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Derajat+hadist+mengerak-gerakan+jari+ketika+sholat+-+http://b2l.me/pawdx&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Derajat+hadist+mengerak-gerakan+jari+ketika+sholat&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/hadits/derajat-hadist-mengerak-gerakan-jari-ketika-sholat-2/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Manakah%20pendapat%20yang%20rajih%20tentang%20menggerak-gerakkan%20telunjuk%20saat%20tasyahud%20%3F" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/hadits/derajat-hadist-mengerak-gerakan-jari-ketika-sholat-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
