<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>UstadzKholid.com &#187; Hadits</title>
	<atom:link href="http://ustadzkholid.com/category/hadits/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzkholid.com</link>
	<description>Meniti Sunnah Menggapai Ukhuwah</description>
	<lastBuildDate>Fri, 06 Jan 2012 02:41:56 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Liur Anjing dan Cara Mensucikannya (Seri II)</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/liur-anjing/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/liur-anjing/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Sep 2011 03:10:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=2044</guid>
		<description><![CDATA[Telah kita bahas sebelumnya tentang takhrij hadis.
وَعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ: طُهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيْهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ، أُوْلاَهُنَّ بِالتُّرَابِ
أخْرَجَهُ مُسْلِمٌ
وَفِيْ لَفظٍ لَهُ: &#8220;فَلْيُرِقْهُ&#8221; وَلِلتِّرْمِذِيِّ: &#8220;أُخْرَاهُنَّ، أَوْ أُوْلاَهُنَّ بِالتُّرَابِ&#8220;
Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhuia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Sucinya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Telah kita bahas <a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/liur-anjing-dan-cara-mensucikannya/" target="_blank">sebelumnya</a> tentang takhrij hadis.</p>
<p style="text-align: right;"><strong>وَعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ: طُهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيْهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ، أُوْلاَهُنَّ بِالتُّرَابِ</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>أخْرَجَهُ مُسْلِمٌ</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>وَفِيْ لَفظٍ لَهُ: &#8220;فَلْيُرِقْهُ&#8221; وَلِلتِّرْمِذِيِّ: &#8220;أُخْرَاهُنَّ، أَوْ أُوْلاَهُنَّ بِالتُّرَابِ</strong>&#8220;</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radliallahu ‘anhu</em>ia berkata: Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah bersabda: <em>“Sucinya bejana kamu yang dijilat anjing adalah dengan cara mencucinya sebanyak tujuh kali dan yang pertama dengan tanah.”</em></p>
<p>Diriwayatkan oleh Muslim. Dan dalam suatu lafazhnya: “Hendaklah ia membuang air yang di bejana tersebut.” Dan dalam riwayTirmidziy dengan lafazh: “Salah satu bilasannya dengan tanah atau yang pertamanya.”<br />
<span id="more-2044"></span><br />
Selanjutnya pembahasan tentang:</p>
<p><strong>4. Masaa’il</strong></p>
<p>Ada beberapa masalah terkait dengan hadits ini, diantaranya:</p>
<p><strong>1.</strong><span style="text-decoration: underline;"> Apakah tambahan kata (فليرقه) shahih ataukah tidak?</span></p>
<p>Sebagian ahli hadits melemahkan lafazh (فليرقه) yang ada dari jalur periwayatan Ali bin Mushir dari al-A’masy dari Abu Razien dan Abu Shalih dari Abu Hurairah. Imam Muslim mengisyareatkan bersendirinya Ali bin Mushir dalam meriwayatkan lafazh ini. Imam an-Nasa’i menyataka: Saya tidak mengetahui ada seorang yang mendampingi Ali bin Mushir atas riwayat (فليرقه). (Sunan an-nasaa’i 1/53). Demikian juga semakna dengannya disampaikan ibnu mandah (lihat fathu al-baari 1/331)</p>
<p>Imam al-Iraqi menyatakan: Ini tidak merusaknya, karena tambahan dari tsiqah (ziyadah tsiqah) diterima menurut  pendapat mayoritas ulama&#8230;. Ali bin Mushir ini telah ditsiqahkan oleh Ahmad bin hambal, Yahya bin Ma’in, al-“ijli dan selain mereka. Beliau seorang huffazh yang dijadikan sandaran oleh syeikhain (al-Bukhari dan Muslim). Saya tidak tahu ada seorang yang mencelanya, sehingga kesendiriannya tersebut tidak berpengaruh. (Tharhu at-tatsrieb 2/121).</p>
<p>Sedang ibnu al-mulaqqin menyatakan: Kesendiriannya dalam meriwayatkan hal ini tidak bermasalah; karena  Ali bin Mushir adalah seorang imam, hafizh yang disepakati ketakwaannya dan jadi hujjah. Oleh karena itu ad-Daraquthni menyatakan setelah menyampaikan riwayat ini: Sanadnya hasan dan para perawinya Tsiqah (lihat Sunan ad-daraquthni 1/64). Ini juga diriwayatkan imamul aimmah Muhammad bin ishaq bin Khuzaimah dalam shahihnya (Shahih ibnu Khuzaimah no. 98) dan lafazhnya (فليهرقه) dan zhahir riwayat ini adalah kewajiban mnumpahkan air dan makanan&#8230;. (syarhu al-Umdah 1/306 dan al-Badru al-Munir 2/325).</p>
<p>Hadits dengan tambahan ini dihukumi shahih oleh syeikh al-Albani dalam Irwa’ al-Ghalil no. 167.</p>
<p><strong>2.</strong> <span style="text-decoration: underline;">Jumlah pencucian.</span></p>
<p>Terfahami dari hadits Abdullah bin Mughaffal bahwa mencucinya delapan kali, karena lafazh :</p>
<p>«وعفروه الثامنة بالتراب» sehingga ini menjadi dasar wajibnya mencuci delapan kali. Ibnu Abdilbarr menyatakan:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>(بهذا الحديث كان يفتي الحسن البصري، أن يُغسل الإناء سبع مرات والثامنة بالتراب، ولا أعلم أحداً كان يفتي بذلك غيره)</strong></p>
<p>Dengan dasar hadits ini al-Hasan al-bashri berfatwa mencuci bejana tujuh kali dan kedelapannya dengan menggunakan debu (tanah). Saya tidak mengetahui ada yang berfatwa demikian selain beliau. (at-tamhied 18/266). Nampaknya ibnu Abdilbarr menginginkan ulama-ulama terdahulu. Padahal ini juga pendapat yang diriwayatkan dari imam Ahmad, seperti dalam al-Mughni 1/73 dan dari Imam Maalik seperti dijelaskna dalam kitab at-talkhish 1/36)</p>
<p>Diantara ulama ada yang merajihkan hadits Abu Hurairah dan cuciannya hanya 7 kali. Mereka menjawab hadits Ibnu Mughaffal dengan beberapa jawaban:</p>
<ol>
<li>Cucian dijadikan delapan, karena tanah (debu) satu jenis bukan termasuk air, sehingga menjadikan bersatunya air dengan tanah dalam satu cucian dihitung dua. Sekan-akan tanah menduduki posisi satu cucian sehingga disebut kedelapan.</li>
<li>Abu Hurairah orang yang paling hafal hadits dizamannya, sehingga riwayatnya lebih didahulukan.</li>
</ol>
<p>Diantara ulama ada yang merajihkan hadits Ibnu Mughaffal; karena beliau menambah cucian kedelapan. Tambahan ini diterima khususnya dari beliau. Hal ini tidak mengapa karena mengamalkan pengertian yang terfahami dari nash dan berisi pengertian kehati-hatian.</p>
<p>Yang rajih pendapat pertama.</p>
<p><strong>3.</strong> <span style="text-decoration: underline;">Urutan pencucian dengan tanah (debu)</span>.</p>
<p>Disebutkan posisi pencucian dengan tanah dalam hadits-hadits yang kita bahas ini dalam beberapa sisi. Ada riwayat : «أُولاهن بالتراب»  , ada juga dengan lafazh: «وعفروه الثامنة بالتراب»   dan ada juga :  أولاهن أو أخراهن   serta ada juga dengan lafazh: «إحداهن» sedangkan dalam riwayat ath-Thahawi (Syarah Musykil al-Atsar 1/21) dengan lafazh: أولاها ـ أو السابعة ـ بالتراب . ini semua tidak masalah dan tidak mengharukan untuk menghilangkan pensyariatan penggunaan tanah hanya karena adanya perbedaan-perbedaan ini, sebagaimana pendapat madzhab hanafiyah dan Malikiyah (lihat Syarhu al-‘Umdah karya ibnul Mulaqqin 1/308 dan Tharhu At-tatsrieb 2/129-130). Hal ini karena masih bisa dirajihkan dengan merajihkan lafazh (أُولاهن) ; karena ia adalah riwayat Abu Hurairah dari jalan periwayatan Muhammad bin Sirin. Riwayat ibnu Sirin ini dibawakan oleh tiga perawi yaitu Hisyam bin Hisaan, Habieb bin asy-Syahied dan Ayub as-Sakhtiyaani. Imam Muslim mengeluarkan riwayat ini dari riwayat Hisyam. Riwayat ini rajih dengan tiga hal:</p>
<ol>
<li>Banyak perawinya</li>
<li>Salah seorang dari syeikhain (al-Bukhari dan Muslim) mengeluarkannya.</li>
<li>Dari sisi pengertiannya; karena pencucian dengan tanah lebih pas kalau pertama sebab dibutuhkan setelah pencucian dengan air yang menghilangkan sisa tanah tersebut. Beda kalau dijadikan yang ketujuh maka ia membutuhkan pencucian lagi setelahnya.</li>
</ol>
<p>Adapun riwayat at-tirmidzi yang berbunyi:أولاهن أو أُخراهن  apabila ia berasal dari pernyataan Nabi maka ini menunjukkan adanya pilihan antara keduanya. Apabila itu keraguan dari sebagian perawi maka terjadilah satu hal yang kontradiktif, sehingga kembali kepada tarjih dan yang rajih adalah yang pertama sebagaimana diatas. Diantara indikator ini adalah keraguan dari perawi hadits adalah adanya riwayat lain dalam sunan at-tirmidzi dengan lafazh: أولاهن ـ أو قال: أخراهن ـ بالتراب</p>
<p>Sedangkan riwayat (إحداهن) hal ini tidak ada dalam kutubussittah, adanya pada sunan ad-Daraquthni dan al-bazaar (lihat al-badru al-Munir 2/330). Hal ini tidak bertentangan dengan riwayat sebelumnya karena ia tidak ada penentuan bisa di yang pertama atau yang lainnya. Sehingga difahami dengan riwayat (أولاهن).</p>
<p>Demikian juga dengan hadits وعفروه الثامنة بالتراب maka kedelapan ini ditinjau pada tambahan atas tujuh kali cucian memakai air bukan sebagai yang terakhir. Dengan demikian inipun tidak menyelisihi riwayat-riwayat diatas.</p>
<p><em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p><strong>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.</strong></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://ustadzkholid.com/" target="_blank">www.UstadzKholid.com</a></strong></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/liur-anjing/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/liur-anjing/&amp;title=Liur+Anjing+dan+Cara+Mensucikannya+%28Seri+II%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/liur-anjing/&amp;title=Liur+Anjing+dan+Cara+Mensucikannya+%28Seri+II%29" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/liur-anjing/&amp;t=Liur+Anjing+dan+Cara+Mensucikannya+%28Seri+II%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/liur-anjing/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Liur+Anjing+dan+Cara+Mensucikannya+%28Seri+II%29+-+http://ustadzkholid.com/fiqih/liur-anjing/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/liur-anjing/&amp;title=Liur+Anjing+dan+Cara+Mensucikannya+%28Seri+II%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/liur-anjing/&amp;title=Liur+Anjing+dan+Cara+Mensucikannya+%28Seri+II%29" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Liur+Anjing+dan+Cara+Mensucikannya+%28Seri+II%29+-+http://bit.ly/rl57wR&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Liur+Anjing+dan+Cara+Mensucikannya+%28Seri+II%29&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/liur-anjing/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Telah%20kita%20bahas%20sebelumnya%20tentang%20takhrij%20hadis.%0D%0A%D9%88%D9%8E%D8%B9%D9%8E%D9%86%D9%92%20%D8%A3%D9%8E%D8%A8%D9%90%D9%8A%D9%92%20%D9%87%D9%8F%D8%B1%D9%8E%D9%8A%D9%92%D8%B1%D9%8E%D8%A9%D9%8E%20%D8%B1%D9%8E%D8%B6%D9%90%D9%8A%D9%8E%20%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%20%D8%B9%D9%8E%D9%86%D9%92%D9%87%D9%8F%20%D9%82%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%8E%3A%20%D9%82%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%8E%20%D8%B1%D9%8E%D8%B3%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%84%D9%8F%20%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%20%D8%B5%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%8E%D9%89%20%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%20%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%8A%D9%92%D9%87%D9%90%20%D9%88%D9%8E%D8%B3%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%85%D9%8E%3A%20%D8%B7%D9%8F%D9%87%D9%8F%D9%88%D8%B1%D9%8F%20%D8%A5%D9%90%D9%86%D9%8E%D8%A7%D8%A1%D9%90%20%D8%A3%D9%8E%D8%AD%D9%8E%D8%AF%D9%90%D9%83%D9%8F%D9%85%D9%92%20%D8%A5%D9%90%D8%B0%D9%8E%D8" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/liur-anjing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hadits ke-5 Kitab Bulughul Maram tentang Ukuran Banyak-sedikitnya Air (Selesai)</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-ke-5-kitab-bulughul-maram-tentang-ukuran-banyak-sedikitnya-air-selesai/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-ke-5-kitab-bulughul-maram-tentang-ukuran-banyak-sedikitnya-air-selesai/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Jun 2011 03:41:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1988</guid>
		<description><![CDATA[Penjelasan Kosa kata
وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ الله عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم: إِذَا كَانَ المْاَءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلِ الخَبَثَ وَفِيْ لَفْظٍ:لمَ ْيَنْجُسْ

Kata قلتين  (qullataini) dengan di dhammah-kan huruf Qaaf-nya berarti dua qullah. Qullah sendiri adalah kantong air yang besar dari tanah yang dinamakan juga dengan Al-Hubb (الحُب). Qullah disini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Penjelasan Kosa kata</strong></p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ الله عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم: إِذَا كَانَ المْاَءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلِ الخَبَثَ وَفِيْ لَفْظٍ:لمَ ْيَنْجُسْ</strong></p>
<ul>
<li>Kata قلتين  (<em>qullataini</em>) dengan di <em>dhammah</em>-kan huruf <em>Qaaf</em>-nya berarti dua <em>qullah</em>. <em>Q</em><em>ullah</em> sendiri adalah kantong air yang besar dari tanah yang dinamakan juga dengan <em>Al-Hubb</em> (<strong>الحُب</strong>). <em>Qullah</em> disini adalah <em>Qullah</em> Hajar yang sudah dikenal dikalangan sahabat dan bangsa Arab. Adapun riwayat yang menentukan <em>qullah</em>nya dengan lafazh (قلال هجر)  maka itu tidak <em>shahih</em>, karena termasuk riwayat Mughirah bin Saqlaab dari Muhammad bin Ishaaq. Dan Mughiroh ini seorang mungkar Hadits dan umumnya riwayatnya tanpa penguat. Ditambah lagi ia menyelisihi para perawi <em>tsiqah</em> dari para murid Ibnu Ishaaq. Yang dimaksud dengan <em>qullah</em> dalam hadits adalah <em>qullah</em> yang besar. Nampaknya sengaja Nabi tidak menentukan ukurannya untuk kemudahan manusia; karena beliau tidak menyampaikan sesuatu kepada para sahabatnya kecuali yang mereka pahami, sehingga hilanglah ketidakjelasan tersebut. Namun karena tidak ada penentuannya maka terjadi <em>khilaf</em> dalam ukuran nya. Nampaknya yang rajih adalah pendapat yang menyatakan dua <em>qullah</em> sama dengan 500 <em>ritl baghdadi</em>, dan 1 <em>ritl irak</em> sama dengan 90 <em>misq</em><em>a</em><em>l</em>. Dengan takaran kilo, dua <em>qullah</em> sama dengan 200 kg dan ada yang menyatakan 102 kh yang setara dengan 307 liter.</li>
<li>Kata لم يحمل الخبث  (<em>lam yahmil khabats</em>), yaitu tidak dicemari oleh kotoran (najis), maknanya adalah air tidak ternajisi dengan masuknya najis ke dalamnya, jika air tersebut mencapai dua <em>qullah</em>. Dikatakan juga bahwa maksudnya adalah air tersebut dapat melarutkan (menghilangkan) najis yang masuk ke dalamnya, sehingga air tersebut tidak ternajisi.</li>
<li>Kata الخبث  (<em>khabats</em>) adalah najis.</li>
</ul>
<p><span id="more-1988"></span><br />
<strong>Pengertian Hadits secara Umum.</strong></p>
<p>Hadits ini memberikan pengertian bahwa air yang banyak – yang mencapai dua qullah atau lebih- apabila terkena najis maka ia tidak berubah menjadi najis baik berubah sifatnya atau tidak. Namun pengertian seperti ini tidak benar karena adanya ijma’ bahwa air yang terkena najis dan berubah salah satu sifatnya maka menjadi najis baik sedikit maupun banyak, seperti yang telah dijelaskan dalam penjelasan hadits Abu Saaid Al-Khudri pada hadits no. 2.</p>
<p>Pengertian sebaliknya dari hadits ini bahwa air yang sedikit yang tidak mencapai dua qullah dengan sekedar terkena najis saja sudah menjadi najis, baik berubah atau tidak berubah salah satu sifatnya. Pengertian ini menyelisih hukum <em>Al-Manthuq</em> (pengertian umum), karena tidak diambil keumumannya; sebabnya tidak disyaratkan hukum pengertian sebaliknya (<em>mafhuum</em>) menyelisihi pengertian umum (<em>Al-manthuq</em>) dari semua sisi, bahkan cukup penyelisihannya walaupun hanya dalam satu bentuk dari bentuk keumumannya. Inilah pengertian kaidah <strong> (المفهوم لا عموم له)</strong><strong> </strong>Pengertin sebaliknya tidak digunakan keumumannya.  Berdasarkan hal ini tidak mesti setiap yang tidak mencapai dua qullah menjadi najis. Apabila terkena najis dan berubah sifatnya maka ia menjadi najis dan bila tidak ada perubahan sifat maka tetap dalam keadaan suci. Namun air yang dibawah dua qullah menjadi pusat perhatian agar otang tidak semau-maunya atau meremehkannya. Hal ini karena ukuran tersebut menjadi sesuatu yang mudah terpengaruh najis. Inilah pendapat imam Malik dan Ahmad serta Zhahiriyah dan syeikhul islam ibnu Taimiyah dan ibnulQayyim merajihkannya.</p>
<p>Imam Asy Syaukani <em>rahimahullah</em> mengatakan,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>وأما حديث القلتين فغاية ما فيه أن ما بلغ مقدار القلتين لا يحمل الخبث فكان هذا المقدار لا يؤثر فيه الخبث في غالب الحالات فإن تغير بعض أوصافه كان نجسا بالإجماع الثابت من طرق متعددة…. وأما ما كان دون القلتين فلم يقل الشارع إنه يحمل الخبث قطعا وبتا بل مفهوم حديث القلتين يدل على أن ما دونهما قد يحمل الخبث وقد لا يحمله فإذا حمله فلا يكون ذلك إلا بتغير بعض أوصافه فيقيد مفهوم حديث القلتين بحديث التغير المجمع على قبوله والعمل به كما قيد منطوقه بذلك</strong></p>
<p>“Kandungan utama hadits qullatain adalah air yang telah mencapai kadar sebanyak dua qullah, tidaklah membawa/mengandung najis, dikarenakan umumnya kadar air yang demikian tidaklah dipengaruhi oleh najis. (Namun), apabila ternyata sebagian karakter air berubah, maka statusnya menjadi najis berdasarkan ijma’ ulama yang ditetapkan dari beberapa periwayatan” Beliau melanjutkan: “Adapun air yang jumlahnya di bawah dua qullah, maka rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memastikan bahwa air dengan kadar tersebut mengandung najis. Bahkan konteks hadits menunjukkan bahwa air dengan kadar di bawah dua qullah, terkadang membawa najis dan juga terkadang tidak membawa najis. Apabila air tersebut mengandung najis, maka statusnya tidaklah berubah menjadi najis kecuali salah satu karakternya berubah. Sehingga, konteks hadits qullatain ditaqyid (dikaitkan) dengan hadits yang telah disepakati untuk diterima dan diamalkan, yang menyatakan bahwa air yang bercampur dengan najis, statusnya menjadi najis apabila terjadi perubahan pada salah satu karakternya. (<em>Sail al Jarar</em> 1/5<em>5). Wallahu a’lam</em>.</p>
<p><strong>Faidah hadits</strong></p>
<ol>
<li>Hadits dua qullah di atas meskipun telah sah sanad-nya, harus dipahami bersama dengan hadits-hadits yang lain, karena hadits sebagiannya menafsirkan sebagian yang lain. Dan tidak bisa dipahami menurut zhahir-nya hadits sebagaimana yang dipahami oleh mazhab Syafi’iy dan lain-lain. Karena kalau demikian akan bertentangan dengan sejumlah hadits shahih, seperti hadits Abu Sa’id Al Khudriy (no: 2) dan hadits Abu Hurairah yang akan datang (no: 6,7, 8). Ambil misal kalau dipahami secara zhahir-nya “Apabila air itu sebanyak dua qullah tidak najis”, kemudian mazhab dua qullah ini ditanya: “Boleh atau tidak kalau seorang kencing di air yang banyaknya dua qullah?” Kalau mereka menjawab “boleh”, maka akan bertentangan dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melarang kencing di air yang tergenang yang tidak mengalir, (no: 7 hadits Abu Hurairah) Kalau mereka menjawab “Tidak boleh”, maka akan bertentangan dengan zhahir-nya hadits dua <em>qullah</em> yang menjadi mazhab mereka, maka dengan sendirinya batal lah dalil dan<em> hujjah</em> mereka. Jawaban mereka “tidak boleh” menunjukkan bahwa mereka tidak memahami hadits dua qullah secara zhahir-nya, akan tetapi mereka memahaminya bersama hadits-hadits yang lain. Oleh karena itu mazhab yang paling berbahagia dalam masalah ini ialah mazhabnya imam Malik dan Ahmad. Bahwa air itu sedikit banyaknya tetap suci dan mensucikan selama belum berubah salah satu sifatnya yaitu baunya atau rasanya atau warnanya dengan sebab kemasukan najis, sebagaimana telah saya jelaskan sebelum ini (no: 2). Dan hadits dua qullah tidak dapat tidak harus dibawa seperti ketentuan dan ketetapan di atas, bahwa air dua qullah apabila telah berubah salah satu sifatnya dengan sebab kemasukan najis, maka dia tidak lagi suci dan mensucikan. <em>Wallahu a’lam</em>.</li>
<li>Jika air mencapai dua <em>qullah</em>, maka air tersebut dapat menghilangkan najis (dengan sendirinya) sehingga najis tidak memberi pengaruh, dan inilah makna tersurat dari hadits tersebut.</li>
<li>Dipahami dari hadits tersebut bahwa air yang kurang dari dua <em>qullah</em>, terkadang terkontaminasi oleh najis dengan masuknya najis sehingga air tersebut menjadi ternajisi, tetapi terkadang tidak menjadi ternajisi dengannya.</li>
<li>Ternajisi atau tidaknya air bergantung pada ada atau tidaknya zat najis di dalamnya, jika najis tersebut telah hancur dan larut, maka air tersebut tetap pada kesuciannya.</li>
<li>Air sedikit sekali terpegaruh oleh najis secara umum, sehingga seyogyanya dibuang dan berhati-hati dengan tidka menggunakannya.</li>
</ol>
<p><strong>Masaail</strong></p>
<p>Ada beberapa masalah berkenaan dengan hadits ini:</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Pertama,</strong></span> Hukum air bila tidak mencapai 2 <em>qullah</em> dan terkena najis apakah bisa menjadi najis atau tidak?</p>
<p>Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini dalam dua pendapat:</p>
<ol>
<li> Imam Abu Hanifah, Asy Syafi’i, dan Ahmad, serta pengikut madzhab mereka, berpendapat bahwa air yang sedikit menjadi ternajisi dengan masuknya najis, walaupun najisnya tidak mengubah sifat air. Para ulama yang mengatakan bahwa air dapat ternajisi dengan sekedar masuknya najis berdalil dengan pemahaman hadits Ibnu Umar ini. Pemahamannya menurut mereka bahwa air yang kurang dari dua <em>qullah</em> akan mengandung kotoran [najis]. Di dalam satu riwayat, “Jika (air) mencapai dua <em>qullah</em>, maka tidak ada sesuatupun yang dapat menajiskannya”. Maka pemahamannya bahwa air yang kurang dari dua <em>qullah</em> menjadi ternajisi dengan sekedar masuknya najis, sebagaimana mereka berdalil dengan hadits tentang perintah menumpahkan air pada wadah yang dijilati oleh anjing tanpa memperdulikan tentang perubahan sifat air nya.<br />
<em>Hadits qullatain</em> (dua <em>qullah</em>) tidak bertentangan dengan pendapat Abu Hanifah, sebab air seukuran dua kulah jika diisi dalam suatu wadah, maka air di salah satu ujung wadah tidak bergerak dengan bergeraknya ujung lainnya.</li>
<li>Imam Malik, Az Zhahiriyyah, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, ulama-ulama <em>salafiyah</em> di Nejd, dan para <em>muhaqqiqin</em> berpendapat bahwa air tidak menjadi ternajisi dengan masuknya najis selama salah satu dari tiga sifat air (rasa, warna, dan bau) tidak berubah.</li>
</ol>
<p>Adapun dalil- dalil para ulama yang tidak memandang sebagai air yang ternajisi kecuali dengan perubahan sifat, diantaranya hadits qullataini ini, sesungguhnya makna hadits tersebut adalah air yang mencapai dua <em>qullah</em> tidak ternajisi dengan sekedar masuknya najis, karena air yang mencapai dua <em>qullah</em> tersebut tidak mengandung kotorang [najis] dan dapat menghilangkan najis-najis di dalamnya.</p>
<p>Adapun pemahaman hadits tersebut, tidak lazim demikian, sebab terkadang air menjadi ternajisi jika najis mengubah salah satu sifat air, dan terkadang air tidak ternajisi. Sebagaimana mereka juga berdalil dengan hadits tentang menuangkan seember air pada air kencing Arab Badui dan dalil lainnya.</p>
<p>Ibnul Qayyim berkata, “Yang dituntut oleh prinsip dasar syariat adalah: Jika air tidak berubah sifatnya oleh najis maka air tersebut tidak menjadi ternajisi, hal itu karena air tetap dalam sifat alaminya, dan air yang seperti ini termasuk yang Thayyib (baik) dalam firman Allah, ((dan dihalalkan bagi mereka yang baik-baik)). Ini dapat diqiyaskan terhadap seluruh benda cair, jika terkena najis dan tidak mengubah warna, rasa, dan bau.</p>
<p>Pendapat kedua ini yang rajih. Syeikh Abdulaziz bin Baaz merajihkan pendapat ini dengan menyatakan: Yang benar air yang tidak mencapai dua <em>qullah</em> tidak menjadi najis kecuali bila ada perubahan sifat seperti juga yang mencapai dua <em>qullah</em>. Hal ini berdasarkan pada sabda Rasulullah:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>إنَّ المَاءَ طَهُورٌ لاَ يُنَجِّسُهُ شَي</strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya air adalah thahur tidaklah sesuatu menjadikan air tersebut najis.”</em></p>
<p>Hadits yang driwayatkan imam Ahmad, Abu Daud, At-tirmidzi dan An-Nasaa’i dengan sanad yang <em>shahih</em> dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri. Disampaikan Nabi dua <em>qullah</em> untuk menunjukkan bahwa air yang lebih sedikit dari dua <em>qullah</em> butuh kepada klarifikasi, penelitian dan perhatian. <em>Wallahu a’lam</em> (<em>M</em><em>ajmu’ </em><em>F</em><em>atawa wa Rasaail wa </em><em>M</em><em>aqalaat </em><em>M</em><em>utanawwi’at</em> 10/16-17).</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Kedua,</strong></span> Batas banyak dan sedikitnya air.</p>
<p>Dalam masalah ini ada dua pendapat:</p>
<ol>
<li>Sedikitnya air menurut Abu Hanifah adalah air yang jika digerakkan di satu ujung wadahnya, maka ujung lainnya juga ikut bergerak.</li>
<li>Adapun sedikitnya air menurut madzhab Syafi’i dan Ahmad (<em>Hanabilah</em>) adalah air yang kurang dua <em>qullah</em>. Inilah yang <em>shahih</em> dengan adanya <em>hadits Qullataian</em>.</li>
</ol>
<p><strong>Penulis: Ustadz Khalid Syamhudi, L.c.<br />
Artikel <a href="http://www.ustadzkholid.com/" target="_blank">www.UstadzKhalid.com</a></strong></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-ke-5-kitab-bulughul-maram-tentang-ukuran-banyak-sedikitnya-air-selesai/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-ke-5-kitab-bulughul-maram-tentang-ukuran-banyak-sedikitnya-air-selesai/&amp;title=Hadits+ke-5+Kitab+Bulughul+Maram+tentang+Ukuran+Banyak-sedikitnya+Air+%28Selesai%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-ke-5-kitab-bulughul-maram-tentang-ukuran-banyak-sedikitnya-air-selesai/&amp;title=Hadits+ke-5+Kitab+Bulughul+Maram+tentang+Ukuran+Banyak-sedikitnya+Air+%28Selesai%29" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-ke-5-kitab-bulughul-maram-tentang-ukuran-banyak-sedikitnya-air-selesai/&amp;t=Hadits+ke-5+Kitab+Bulughul+Maram+tentang+Ukuran+Banyak-sedikitnya+Air+%28Selesai%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-ke-5-kitab-bulughul-maram-tentang-ukuran-banyak-sedikitnya-air-selesai/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Hadits+ke-5+Kitab+Bulughul+Maram+tentang+Ukuran+Banyak-sedikitnya+Air+%28Selesai%29+-+http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-ke-5-kitab-bulughul-maram-tentang-ukuran-banyak-sedikitnya-air-selesai/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-ke-5-kitab-bulughul-maram-tentang-ukuran-banyak-sedikitnya-air-selesai/&amp;title=Hadits+ke-5+Kitab+Bulughul+Maram+tentang+Ukuran+Banyak-sedikitnya+Air+%28Selesai%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-ke-5-kitab-bulughul-maram-tentang-ukuran-banyak-sedikitnya-air-selesai/&amp;title=Hadits+ke-5+Kitab+Bulughul+Maram+tentang+Ukuran+Banyak-sedikitnya+Air+%28Selesai%29" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Hadits+ke-5+Kitab+Bulughul+Maram+tentang+Ukuran+Banyak-sedikitnya+Air+%28Selesai%29+-+http://bit.ly/lYFtuU&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Hadits+ke-5+Kitab+Bulughul+Maram+tentang+Ukuran+Banyak-sedikitnya+Air+%28Selesai%29&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-ke-5-kitab-bulughul-maram-tentang-ukuran-banyak-sedikitnya-air-selesai/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Penjelasan%20Kosa%20kata%0D%0A%D9%88%D9%8E%D8%B9%D9%8E%D9%86%D9%92%20%D8%B9%D9%8E%D8%A8%D9%92%D8%AF%D9%90%20%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%90%20%D8%A8%D9%92%D9%86%D9%90%20%D8%B9%D9%8F%D9%85%D9%8E%D8%B1%D9%8E%20%D8%B1%D9%8E%D8%B6%D9%90%D9%8A%D9%8E%20%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%20%D8%B9%D9%8E%D9%86%D9%92%D9%87%D9%8F%D9%85%D9%8E%D8%A7%20%D9%82%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%8E%3A%20%D9%82%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%8E%20%D8%B1%D9%8E%D8%B3%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%84%D9%8F%20%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%90%20%D8%B5%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%89%20%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%20%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%8A%D9%92%D9%87%D9%90%20%D9%88%D9%8E%D8%B3%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%85%3A%20%D8%A5%D9%90%D8%B0%D9%8E%D8%A7%20%D9%83%D9%8E%D8%A7%D9%86%D9%8E%20%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%92%D8%A7%D9%8E%D8%A1%D9%8F%20%D9%82%D9%8F%D9%84%D9%91%D9%8E%D8%AA%D9%8E%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%90%20%D9%84%D9%8E%D9%85%D9%92%20%D9%8A%D9" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-ke-5-kitab-bulughul-maram-tentang-ukuran-banyak-sedikitnya-air-selesai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hadits ke-5 Kitab Bulughul Maram tentang Ukuran Banyak-sedikitnya Air (Seri-1)</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-kelima-kitab-bulughul-maram-tentang-ukuran-banyak-sedikitnya-air/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-kelima-kitab-bulughul-maram-tentang-ukuran-banyak-sedikitnya-air/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Jun 2011 07:06:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1980</guid>
		<description><![CDATA[5- وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ الله عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم: إِذَا كَانَ المْاَءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلِ الخَبَثَ وَفِيْ لَفْظٍ:لمَ ْيَنْجُسْ
أَخْرَجَهُ الأَرْبَعَةُ وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَالْحَاكِمُ وابنُ حِبّانَ
Dari Abdullah bin Umar, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila air itu berukuran dua qullah maka air itu tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>5- وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ الله عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم: إِذَا كَانَ المْاَءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلِ الخَبَثَ وَفِيْ لَفْظٍ:لمَ ْيَنْجُسْ<br />
أَخْرَجَهُ الأَرْبَعَةُ وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَالْحَاكِمُ وابنُ حِبّانَ</strong></p>
<p>Dari Abdullah bin Umar, ia berkata, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em><strong>“Apabila air itu berukuran dua qullah maka air itu tidak kotor (najis).”</strong> Dan dalam salah satu riwayat dengan lafazh, <strong>“tidak dapat ternajiskan.”</strong></em></p>
<p>Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidziy, Nasaa-i, dan Ibnu Majah dan telah di-<em>shahih</em>-kan oleh Ibnu Khuzaimah, dan Al Hakim dan Ibnu Hibban.<br />
<span id="more-1980"></span><br />
<span style="text-decoration: underline;"><strong>Biografi Perawi Hadits</strong></span></p>
<p>Beliau adalah Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar bin Al-Khathaab bin Nufail Al-Qurasyi Al-‘Adawi Al-Madani salah seorang sahabat yang memiliki keistimewaan dalam ilmu dan amal. Sejak masih kecil, ia sudah masuk Islam bersama Ayahnya, Umar bin Khattab. Ia ikut hijrah (pindah) ke Kota Madinah bersama Ayahnya ketika usianya baru menginjak sepuluh tahun. Peperangan pertama yang beliau ikuti adalah perang Khandaq, karena beliau sebelum perang khandaq masih kecil.</p>
<p>Imam Maalik berkata: Abdullah bin Umar masih hidup setelah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> wafat enampuluh tahun lamanya. Orang-orang mendatanginya untuk menerima ilmu. Beliau sangat berhati-hati dalam berfatwa dan semua yang beliau kerjakan.</p>
<p>Abdullah bin Umar sering bergaul dan selalu dekat dengan Rasulullah. Kecintaannya kepada Rasulullah sangat mengagumkan. Kemana pun Rasulullah pergi, ia sering turut menyertainya. Ia memang tercatat masih ipar Rasulullah, karena saudari kandungnya yang bernama Hafsah binti Umar menjadi istri Rasulullah. Ia senantiasa berusaha mencontoh sifat, kebiasaan harian dan meniru segala gerak-gerik Rasulullah, seperti cara memakai pakaian, makan, minum, bergaul, dan hal lainnya. Atas dasar inilah, ia disegani dan dihormati banyak orang. Bahkan, ia pernah menjadi guru yang mengajari murid-muridnya yang datang dari berbagai tempat, meski tidak lama.</p>
<p>Satu waktu, Khalifah Utsman bin Affan pernah menawari Abdullah bin Umar untuk menjabat sebagai hakim. Tetapi ia tidak mau menerimanya. Ia lebih memilih menjadi warga biasa. Memasuki masa tua, Abdullah bin Umar mendapat cobaan dari Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>, yakni kehilangan pengelihatannya. Sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis –sejumlah 2.630 hadis setelah Abu Hurairah—ini kemudian wafat pada tahun 73 H. dalam usia 87 tahun. Ia merupakan salah satu sahabat Rasulullah yang paling akhir yang meninggal di Dzi Thuwa, Mekkah. (lihat keterangan wafat ibnu Umar di <em>Fathul Jalal wal Ikraam</em> 1/67).</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Takhrijul hadits</strong></span></p>
<p>Hadits <em>Qullatain</em> (hadits dua <em>Qullah</em>) ini memiliki 3 jalan periwayatan:</p>
<p><em><strong>Jalan pertama:</strong></em> Diriwayatkan oleh Abu dawud (no: 63), Nasaa-i (1/46), Daarimi (1/187), Ibnu Khuzaimah (no: 92), Ibnu Hibban (no: 1237, 1241 –di <em>shahih</em>nya-), Daruquthni (1/14-17), Hakim (1/132,133), Baihaqiy (1/260) dan lain-lain banyak sekali. Hadits di atas diriwayatkan dari jalan yang begitu banyak dari Abu Usamah, dari Walid bin Katsir, dari Muhammad bin Ja’far bin Zubair (dalam salah satu <em>sanad</em>-nya dari Muhammad bin Abbad bin Ja’far), dari Abdullah bin Abdullah bin Umar dari bapaknya yaitu Abdullah bin umar (dalam salah satu sanadnya; dari ‘Ubaidullah bin Abdullah bin umar dari bapaknya yaitu Abdullah bin umar), ia berkata,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَنِ الْمَاءِ وَمَا يَنُوْبُهُ مِنَ الدَّوَابِّ وَالسِّبَاعِ؟ فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلْ الْخَبَثَ</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah ditanya tentang air yang silih berganti binatang dan binatang buas berdatangan meminumnya? Jawab beliau, <em><strong>“Apabila air itu sebanyak dua qullah dia tidak najis.”</strong></em></p>
<p>Sanad hadits ini <em>shahih</em> atas syarat Bukhari dan Muslim dan rawi-rawinya semuanya<em> tsiqat</em>.</p>
<p>Abu Usamah namanya Hammad bin Usamah.</p>
<p>Berkata imam Hakim, “Hadits ini <em>shahih</em> atas syarat Bukhari dan Muslim” Dan imam Adz Dzahabi telah menyetujuinya.</p>
<p>Juga telah di-<em>shahih</em>-kan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Daruquthni dan baihaqiy dan lain-lainnya sebagaimana akan datang penjelasannya di akhir <em>takhrij hadits</em> dua <em>Qullah</em>.</p>
<p>Adapun jalannya sanad di atas sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Abu usamah meriwayatkan dari Walid bin Katsir, kemudian:</li>
<li>Walid bin Katsir meriwayatkan dari Muhammad bin Ja’far bin Zubair dan dari Muhammad bin Abbad bin Ja’far, keduanya telah meriwayatkan dari:</li>
<li>Abdullah bin Abdullah bin Umar dan ‘Ubaidullah bin Abdullah bin Umar dari bapak keduanya, yaitu Abdullah bin umar. (Syarah Tirmidziy oleh Ahmad Syakir juz 1 hal.99).</li>
</ol>
<p><em><strong>Jalan kedua,</strong></em> dari hadits dua <em>qullah</em>:</p>
<p>Telah diriwayatkan oleh Abu Dawud (no: 64), Tirmidziy (no: 67), Ibnu Majah (no: 517), Ahmad (2/12, 27,38), Daruquthni (1/19,20), Hakim (1/133), Baihaqiy (1/261) dan lain-lain banyak sekali, yang semuanya dari jalan yang banyak dari Muhammad bin Ishaq, dari Muhammad bin Ja’far bin Zubair dari ‘Ubaidullah bin Abdullah bin Umar, dari bapaknya (yaitu Abdullah bin Umar), bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya&#8230; (seperti di atas).</p>
<p>Saya berkata: sanad hadits ini hasan, karena muhammad bin Ishaq bin Yasar seorang rawi yang haditsnya hasan dan dia juga seorang mudallis, akan tetapi di dalam sanad hadits ini yaitu di dalam salah satu riwayat Daruquthni (1/21) ia telah mempergunakan lafazh yang tegas, yaitu ia berkata: “Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ja’far.” Dengan demikian telah hilanglah <em>syubhat tadlis</em>-nya dan naiklah riwayatnya menjadi hasan, sebagaimana perkataan saya di atas bahwa sanad hadits ini hasan. Akan tetapi hadits di atas telah naik menjadi<em> shahih lighairihi</em> karena telah dikuatkan oleh jalan yang pertama dan ketiga di bawah ini:</p>
<p><em><strong>Jalan ketiga:</strong></em> Telah diriwayatkan oleh Abu Dawud (no: 65), Ibnu Majah (no: 518), Ahmad (2/23,107), Daruquthni (1/22-23), Hakim (1/34), Baihaqiy (1/261-262) dan lain-lain semuanya dari jalan Hammad bin Salamah (ia berkata): telah mengabarkan kepada kami ‘Ashim bin Mundzir, dari ‘Ubaidullah bin Abdullah bin Umar, ia berkata: telah menceritakan kepadaku bapakku (Abdullah bin Umar),</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : قَالَ: إِذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ فَإِنَّهُ لاَيَنْجُس</strong></p>
<p>Bahwasanya Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wa salla</em>m telah bersabda, <strong><em>“Apabila air itu ukurannya sebanyak dua qullah, maka sesungguhnya ia tidak najis.”</em></strong></p>
<p>Sanad hadits ini <em>shahih </em>dan rawi-rawinya <em>tsiqat</em>, berkata syaikh Ahmad Syakir di <em>takhrij Musnad Ahma</em>d (no: 4753): “<em>Isnad</em>-nya <em>shahih</em>”</p>
<p>Para ulama berselisih dalam menghukumi hadits ini. Sebagian mereka men-<em>shahih</em>-kan hadits ini, diantaranya Imam Syafi’i, Ahmad, Yahya bin Ma’in, Tirmidziy, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al-Haakim, Abu Ubaid Al-Qaasim bin Sallaam, ath-Thahawiy,Daruquthni, Baihaqiy, Ibnu Mandah, Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qayyim, Adz Dzahabi, ibnu Daqiqil’ied, Al-‘Alaa’i, Abdulhaq Al-Isybiliy, Al ‘Iraqiy, Ibnu Hajar, Ibnu Hazm, Ahmad Syakir, Al Albani dan lain-lain.</p>
<p>Sebagian lainnya masih men-<em>dhaif</em>-kannya, diantaranya Ibnu Abdilbarr (lihat At-Tamhid 1/329) dan Ibnul ‘Arabi (lihat Ahkaam Al-Qur`an 3/1425 dan ‘Aridhatul ahwadzi 1/84). Sebab yang menjadikan mereka melemahkan hadits ini adalah adanya kegoncangan (Al-Idh-thiraab) dalam sanad dan matan-nya.</p>
<p>Idhthirab di sanad karena adanya Al-Walied bin Katsier Al-Makhzumi seorang perawi <em>shaduq</em> (perawi hadits hasan), yang meriwayatkan hadits ini kadang dari Muhammad bin Ja’far bin Az-Zubeir dan kadang dari Muhammad bin ‘Abaad bin Ja’far. Kadang dari Abdullah bin Abdillah bin Umar dan kadang dari Ubaidillah bin Abdillah bin Umar dan kadang dari keduanya.</p>
<p>Mereka menyatakan, “Ketika terjadi perbedaan pada sanadnya, apakah ia dari Muhammad bin ‘Abaad atau dari Muhammad bin Ja’far? Maka kita tau hadits tersebut mudh-tharib tidak mahfuzh. Pen-tarjih-an salah satu dari keduanya tidak mungkin; karena pen-tarjih-an tersebut adakalanya dengan sebab banyaknya jalan periwayatan dan adakalanya dengan hafalan dan ketepatan hafalan. Semua itu ada pada riwayat dua jalan periwayatan tersebut. Riwayat Al-Walied sendiri dikuatkan oleh riwayat Muhammad bin Ishaaq dari Muhammad bin Ja’far bin Az-Zubeir dari Abdullah bin Abdullah bin Umar dalam riwayat Ahmad dalam Musnad-nya (2/27), Abu Daud (no.64), at-Tirmidzi (no. 67), ibnu Majah (no. 517) dan ad-Daraquthni (1/19). Dalam riwayat ad-Daraquthni ini Muhammad bin Ishaq menyampaikan lafal mendengar langsung dengan jelas (<strong>صرح بالتحديث</strong> ) sehingga hilanglah syubhat tadlies-nya. Sedangkan Hammad bin Salamah meriwayatkan hadits ini dari ‘Ashim bin Al-Mundzir dari Abdullah. Ini ada dalam musnad Ahmad 2/3, Abu daud (no. 65), Ibnu Majah (no. 518). Sanad-nya ini para perawinya tsiqah (kredibel) sebagaimana dijelaskan Al-Bushairi (Mishbaah Az-Zujaajah 1/206).</p>
<p>Adapun Al-Idh-thirab dalam matan-nya, ada riwayat,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>إذا بلغ الماء قلتين</strong></p>
<p><strong><em>“Apabila air sampai dua qullah.”</em></strong> dan juga diriwayatkan,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>إذا كان الماء قدر قلتين أو ثلاث لم ينجسه شيء</strong></p>
<p><strong><em>“Apabila air ada seukuran dua qullah atau tiga maka tidak ada satupun yang menajiskannya.”</em></strong> Dalam riwayat ibnu ‘Adi, Al-‘Uqaili dan Ad-Daraquthni,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>إذا بلغ الماء أربعين قلة فإنه لا يحمل الخبث</strong></p>
<p><strong><em>“Apabila air mencapai empat puluh qulah maka ia tidak memabawa najis.”</em></strong></p>
<p>Para ulama menjawab sebab pelemahan hadits ini dengan idhthirab dengan dua cara:</p>
<p><em><strong>Pertama : </strong></em>Cara tarjih. Diantaranya yang mengambil cara ini adalah Abu hatim (lihat <em>Al-Ilal</em> 1/244) dan Ibnu mandah (lihat <em>Nashbur Raayah</em> 1/16) serta Al-Khathabi yang merajihkan riwayat Muhammad bin ja’far bin Az-Zubeir. Sedang Abu Daud merajihkan riwayat Muhammad bin ‘Abaad bin ja’far, sebagaimana dinashkan dalam sunannya.</p>
<p><em><strong>Kedua : </strong></em>cara kompromi (Maslak Al-Jam’) – inilah yang <em>shahih</em>-. Para ulama yang mengambil cara ini menyatakan bahwa setiap dari kedua perawi tersebut tsiqah dan dijadikan hujjah dalam <em>Shahihain</em>. Demikian juga perawi dari keduanya yaitu Al-Walied bin Katsier. Sehingga hadits ini bagaimanapun juga berkisar pada perawi tsiqah sehingga bisa dijadikan hujjah. Dalam hadits ini Abu Usamah kadang meriwayatkan dari Al-Walied dari Muhammad bin Ja’far dan kadang dari Al-Walied dari Muhammad bin Abaad dan Muhammad bin ja’far bin Az-Zubeir yang meriwayatkan dari Abdullah dan Ubaidillah bin Abdillah bin Umar. Sedangkan Muhammad bin Abaad mereiwayatkannya dari Abdullah bin Abdillah bin Umar. Inilah pendapat Al-baihaqi, Al-Haakim, Ad-Daraquthni, Al-‘Alai dan Al-Haafizh ibnu Hajar.</p>
<p>Sedangkan tentang <em>idhthirab</em> matan dengan lafazh <strong>(قلتين أو ثلاثاً)</strong> adalah riwayat Hammad bin Salamah dari ‘Ashim bin Al-Mundzir. Hammad ini walaupun <em>tsiqah</em> namun ia mengalami perubahan (kemampuan hafalannya) di akhir usianya (usia tuanya). Perbedaan ini bersumber darinya; karena yang meriwayatkan darinya sejumlah perowi diantaranya ada yang hufaazh atsbaat. Mereka meriwayatkan dengan dua lafazh sekaligus – lafazh ragu (<strong>قلتين أو ثلاثاً</strong>)  dan lafazh pasti (<strong>قلتين</strong>)-. Hal ini menunjukkan perbedaan terjadi dari beliau bukan yang lainnya. Namun riwayat yang tidak ada tambahan (<strong>أو ثلاثاً</strong>) lebih benar; karena riwayat dari orang yang lebih baik hafalannya dan karena sesuai dengan riwayat Abu Usamah dari Al-Walied bin katsier.</p>
<p>Adapun riwayat (<strong>إذا بلغ الماء أربعين قلة فإنه لا يحمل الخبث</strong>) bukanlah dari hadits <em>qullatai</em>n sama sekali.</p>
<p>Adapun ulama yang membela hadits ini dan mengamalkannya seperti Imam Asy Syaukani, beliau berkata, “Telah di jawab tuduhan <em>idhtirab</em> (simpang siur) dari segi sanad bahwa selagi terjaga di seluruh jalur periwayatannya, maka tidak bisa dianggap <em>idhtirab</em> (simpang siur), karena hadits tersebut dinukil oleh yang terpercaya kepada yang terpercaya. Al Hafidz berkata, “Hadits ini memiliki jalur periwayatan dari Al Hakim dan sanad-nya dikatakan baik oleh Ibnu Ma’in.” Adapun tuduhan idhtirab dari segi matan, maka sesungguhnya riwayat “tiga” itu syadz, riwayat “empat puluh kullah” itu <em>mudhtarib</em>, bahkan dikatakan bahwa kedua riwayat tersebut <em>maudhu’</em>, dan riwayat “empat puluh” di-<em>dha’if</em>-kan oleh Ad-Daruqtni.<br />
Ibnu Taimiyah berkata, “Kebanyakan ulama meng-<em>hasan</em>-kan hadits ini dan menjadikannya sebagai <em>hujjah</em> (dalil), mereka telah membantah perkataan yang mencela hadits ini.”</p>
<p>Diantara ulama yang men-<em>shahih</em>-kan hadits ini adalah Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Ibnu Mandzah, At Thahawi, An Nawawi, Adz Dzahabi, Ibnu Hajar, Asy Suyuthi, Ahmad Syakir, dan syaikh Al-Albani.</p>
<p>Syaikh Al Albani berkata, “<em>hadits ini shahih</em>”, diriwayatkan oleh lima imam bersama Ad Darimi, At Thahawi, Ad Daruquthni, Al Hakim, Al Baihaqi, Ath Thayalisi dengan sanad yang<em> shahih</em>. Ath Thahawi, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Adz Dzahabi, An Nawawi, Al Asqalaani men-<em>shahih</em>-kan hadits ini, dan sikap sebagian ulama yang mencacati hadits ini dengan <em>idhtirab</em> (simpang siur) tidaklah dapat diterima, sebagaimana telah saya jelaskan dalam <em>Shahih Abi Daud</em> (56-58). (<em>Irwa’ Al-Ghalil</em> 1/60 hadits no. 23).</p>
<p>Dari sini jelaslah kebenaran pendapat yang men-shahih-kan hadits dua <em>qulla</em>h di atas, bahkan salah satu jalannya (jalan yang pertama) atas syarat Bukhari dan Muslim, maka tidak ada jalan bagi sebagian ulama untuk melemahkannya dengan mengatakan bahwa hadits dua <em>qullah</em> itu <em>mudltharib</em> (goncang) sanad dan matan-nya.</p>
<p>=Bersambung <em>Insya Allah</em>=</p>
<p><strong>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, L.c.<br />
Artikel <a href="http://www.ustadzkholid.com/" target="_blank">www.UstadzKholid.com</a></strong></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-kelima-kitab-bulughul-maram-tentang-ukuran-banyak-sedikitnya-air/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-kelima-kitab-bulughul-maram-tentang-ukuran-banyak-sedikitnya-air/&amp;title=Hadits+ke-5+Kitab+Bulughul+Maram+tentang+Ukuran+Banyak-sedikitnya+Air+%28Seri-1%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-kelima-kitab-bulughul-maram-tentang-ukuran-banyak-sedikitnya-air/&amp;title=Hadits+ke-5+Kitab+Bulughul+Maram+tentang+Ukuran+Banyak-sedikitnya+Air+%28Seri-1%29" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-kelima-kitab-bulughul-maram-tentang-ukuran-banyak-sedikitnya-air/&amp;t=Hadits+ke-5+Kitab+Bulughul+Maram+tentang+Ukuran+Banyak-sedikitnya+Air+%28Seri-1%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-kelima-kitab-bulughul-maram-tentang-ukuran-banyak-sedikitnya-air/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Hadits+ke-5+Kitab+Bulughul+Maram+tentang+Ukuran+Banyak-sedikitnya+Air+%28Seri-1%29+-+http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-kelima-kitab-bulughul-maram-tentang-ukuran-banyak-sedikitnya-air/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-kelima-kitab-bulughul-maram-tentang-ukuran-banyak-sedikitnya-air/&amp;title=Hadits+ke-5+Kitab+Bulughul+Maram+tentang+Ukuran+Banyak-sedikitnya+Air+%28Seri-1%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-kelima-kitab-bulughul-maram-tentang-ukuran-banyak-sedikitnya-air/&amp;title=Hadits+ke-5+Kitab+Bulughul+Maram+tentang+Ukuran+Banyak-sedikitnya+Air+%28Seri-1%29" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Hadits+ke-5+Kitab+Bulughul+Maram+tentang+Ukuran+Banyak-sedikitnya+Air+%28Seri-1%29+-+http://bit.ly/kiXNDP&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Hadits+ke-5+Kitab+Bulughul+Maram+tentang+Ukuran+Banyak-sedikitnya+Air+%28Seri-1%29&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-kelima-kitab-bulughul-maram-tentang-ukuran-banyak-sedikitnya-air/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A 5-%20%D9%88%D9%8E%D8%B9%D9%8E%D9%86%D9%92%20%D8%B9%D9%8E%D8%A8%D9%92%D8%AF%D9%90%20%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%90%20%D8%A8%D9%92%D9%86%D9%90%20%D8%B9%D9%8F%D9%85%D9%8E%D8%B1%D9%8E%20%D8%B1%D9%8E%D8%B6%D9%90%D9%8A%D9%8E%20%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%20%D8%B9%D9%8E%D9%86%D9%92%D9%87%D9%8F%D9%85%D9%8E%D8%A7%20%D9%82%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%8E%3A%20%D9%82%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%8E%20%D8%B1%D9%8E%D8%B3%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%84%D9%8F%20%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%90%20%D8%B5%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%89%20%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%20%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%8A%D9%92%D9%87%D9%90%20%D9%88%D9%8E%D8%B3%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%85%3A%20%D8%A5%D9%90%D8%B0%D9%8E%D8%A7%20%D9%83%D9%8E%D8%A7%D9%86%D9%8E%20%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%92%D8%A7%D9%8E%D8%A1%D9%8F%20%D9%82%D9%8F%D9%84%D9%91%D9%8E%D8%AA%D9%8E%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%90%20%D9%84%D9%8E%D9%85%D9%92%20%D9%8A%D9%8E%D8%AD%D9%92%D9%85%D9%90%D9%84%D9%90%20%D8%A7%D9%84%D8" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-kelima-kitab-bulughul-maram-tentang-ukuran-banyak-sedikitnya-air/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hadits ke-3 dan 4 dari Kitab Bulughul Marram</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-3-kitab-bulughul-marram/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-3-kitab-bulughul-marram/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Jun 2011 03:31:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1967</guid>
		<description><![CDATA[Kelemahan Hadits Abu Umamah
3-  وَعَنْ أَبِيْ أُمَامَةَ البَاهِلِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم: إِنَّ الماءَ لاَ يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ إِلاَّ مَا غَلَبَ عَلَى رِيْحِهِ وَطَعْمِهِ وَلَوْنِه
أَخْرَجَهُ ابْنُ مَاجَهْ وَضَعَّفَهُ أَبُوْ حَاتِمٍ
Dari Abu Umamah Al Bahiliy radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya air itu (suci) tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><span style="text-decoration: underline;"><strong>Kelemahan Hadits Abu Umamah</strong></span></p>
<p style="text-align: right;">3-  <strong>وَعَنْ أَبِيْ أُمَامَةَ البَاهِلِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم: إِنَّ الماءَ لاَ يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ إِلاَّ مَا غَلَبَ عَلَى رِيْحِهِ وَطَعْمِهِ وَلَوْنِه</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>أَخْرَجَهُ ابْنُ مَاجَهْ وَضَعَّفَهُ أَبُوْ حَاتِمٍ</strong></p>
<p>Dari Abu Umamah Al Bahiliy<em> radhiallahu ‘anhu</em> ia berkata, “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <strong>“Sesungguhnya air itu (suci) tidak ada sesuatu pun yang menajiskannya, kecuali apabila  telah berubah baunya atau rasanya atau warnanya.’”</strong> (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan telah di-<em>dhaif</em>-kan oleh Abu Hatim)<br />
<span id="more-1967"></span><br />
<strong>Penjelasan hadits ini mencakup:</strong></p>
<ul>
<li><strong><em>Biografi Perawi Hadits</em></strong></li>
</ul>
<p>Abu Umamah adalah Abu Umamah Shuday bin ‘Ajlaan Al-Baahiliy dari kabilah Bahilah. Terkenal dengan kunyah (gelarannya) dan beliau tinggal menetap di Syam dan meninggal disana pada tahun 81 H. ada sebagian ulama yang menetapkan tahun wafat beliau pada tahun 86 H. dimasa kehilafahan Abdilmalik bin Marwaan. Beliau adalah shahabat yang terakhir wafat di negeri syam.</p>
<ul>
<li><strong><em>Takhrijul hadits</em></strong></li>
</ul>
<p>Hadits ini diriwayatkan oleh: Ibnu Majah (no: 521), Ad-Daraquthni (1/28), Ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir (8/123) dan Al Baihaqi (1/259) dari jalan Risydin bin Sa’ad (ia berkata), &#8220;Telah mengabarkan kepada kami Mu’awiyah bin Shalih, dari Raasyid bin Sa’ad dari Abi Umamah Al Baahiliy seperti di atas.&#8221;</p>
<p>Sanad hadits ini <em>dhaif </em>disebabkan <em>dhaif</em>-nya Risydin bin Sa’ad sebagaimana ditegaskan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar di <em>Taqrib</em>-nya.­ Imam Ahmad dan Abu Zur’ah telah menghukumi Risydin sebagai perawi <em>dhaif</em> (lemah). Sedangkan Abu Hatim berkata: <em>Munkarul Hadits</em>. An-Nasaa’i menyatakan:<em> Matrukul Hadits</em>. (lihat <em>Tahdzib At-Tahdzib</em> 3/240).</p>
<p>Imam Ad-Daraquthni menyatakan: Selain Risydin bin Sa’ad tidak ada yang me-<em>marfu’</em>-kannya dari Mu’awiyah bin Shalih dan dia perawi lemah (<em>laisa bilqawwi</em>). Yang benar adalah pernyataan Raasyid (haditsnya <em>mursal</em>). Al-Ahwash bin Hakim meriwayatkannya dari rasyid bin Sa’ad dari nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> secara<em> mursal</em>. (<em>sunan Ad-Daraquthni</em> 1/29). Sedangkan imam An-Nawawi menyatakan: Sepakat para ahli hadits menghukumi hadits ini lemah. (<em>Al-Majmu’</em> 1/110).</p>
<p>Oleh karena itu penulis (Al-Haafizh ibnu Hajar) menyatakan: Abu Hatim melemahkannya. pernyataan Abu Hatim ini dinukilkan langsung oleh anaknya dalam kitab <em>Al-‘Ilal</em> (1/44) dengan lafazh,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>(فقال: قال أبي: يوصله رشدين بن سعد، يقول: عن أبي أمامة عن النبي صلّى الله عليه وسلّم، ورشدين ليس بقوي، والصحيح مرسل)</strong></p>
<p>Bapakku berkata: Risydin bin Sa’ad me-maushul-kannya dengan menyatakan: dari Abu Umamah dari nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> dan Risydin ini bukanlah perawi yang kuat (lemah) dan yang benar adalah <em>mursal</em>.</p>
<p>Kemudian ibnu hajar menambahkan dengan hadits yang ke empat,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>4.  وَلِلْبَيْهَقِّيُّ: الْمَاءُ طَهُورٌ إِلاَّ إِنْ تَغَيَّرَ رِيْحُهُ، أَوْ طَعْمُهُ، أوْ لَوْنُهُ بِنَجَاسَةٍ تَحْدُثُ فِيْهِ</strong></p>
<p>Dan dalam riwayat Baihaqi dengan lafazh, <em><strong>“Air itu suci kecuali bila telah berubah baunya, atau rasanya, atau warnanya dengan sebab kemasukan najis yang tercampur dengan air tersebut.”</strong></em></p>
<p>Nampaknya ibnu hajar menyampaikan hadits ini untuk menafsirkan kata penghubung <em>(‘Athaf</em>) yang ada dalam riwayat ibnu Majah diatas. Maksudnya adalah salah satu dari sifAt-sifat tersebut, sehingga huruf <em>wawu</em> (<strong>و</strong>) bermakna huruf <em>Au</em> (<strong>أو</strong>).</p>
<p>Hadits ini diriwayatkan oleh Baihaqiy (1/259-260) dari jalan ‘Athiyah bin Baqiyyah bin Walid (ia berkata), “Telah menceritakan kepada kami bapakku (Baqiyah bin Walid), dari Tsaur bin Yazid, dari Raasyid bin Sa’ad, dari Abi Umamah seperti di atas.”</p>
<p>Dalam Sanad-nya ada ‘Athiyah bin Baqiyah yang meriwayatkan dari bapaknya. Ia sering salah dan membawakan hadits yang aneh. Demikian juga bapaknya yaitu Baqiyah bin Walid seorang rawi yang sering melakukan tadlis atas rawi-rawi yang lemah (<em>Tadlis Taswiyah</em>), dan di sanad ini ia telah melakukan tadlis-nya dengan mempergunakan lafazh <em>‘an’anah</em>.  Oleh karena itu imam Al-baihaqi dalam <em>Sunan Al-Kubra</em> 1/259) menyatakan:<strong><em> Hadits ini tidak kuat</em></strong>.</p>
<p><strong>Kesimpulannya:</strong></p>
<p>Hadits Abu umamah di atas telah di-<em>dhaif</em>-kan oleh para imam ahli hadits seperti Syafi’iy sebagaimana diterangkan Baihaqiy di kitab <em>Sunan</em>-nya (1/260) dan lain-lain. Bahkan imam Nawawi menegaskan “<em><strong>telah sepakat ahli hadits melemahkannya</strong></em>.” Namun asal hadits ini shahih dan yang lemah adalah riwayat pengecualian di atas (yaitu karena baunya&#8230;dan seterusnya, sedangkan bagian pertama dari hadits telah sah dari hadits Abu Sa’id Al Khudriy no: 2).</p>
<p>Adapun tentang hukumnya para ulama telah ijma’ menetapkan bahwa air itu suci dan mensucikan kecuali karena berubah baunya atau rasanya atau warnanya, disebabkan kemasukan najis. Berkata imam Ibnul Mundzir, “Telah ijma’ para ulama sesungguhnya air itu sedikit atau banyak apabila kemasukan najis lalu dengan sebab najis tersebut berubah rasa atau warna atau baunya maka air itu menjadi najis. Maka <em>ijma’</em>-lah yang menjadi dalil karena najis yang telah berubah salah satu sifatnya, bukan karena tambahan (di atas yang lemah riwayatnya).” (Lihat<em> Subulus Salam</em> 1/19)</p>
<p><strong>Penulis: Ustadz Khlod Syamhudi, L.c.<br />
Artikel <a href="http://www.ustadzkholid.com/" target="_blank">www.UstadzKholid.com</a></strong></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-3-kitab-bulughul-marram/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-3-kitab-bulughul-marram/&amp;title=Hadits+ke-3+dan+4+dari+Kitab+Bulughul+Marram+" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-3-kitab-bulughul-marram/&amp;title=Hadits+ke-3+dan+4+dari+Kitab+Bulughul+Marram+" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-3-kitab-bulughul-marram/&amp;t=Hadits+ke-3+dan+4+dari+Kitab+Bulughul+Marram+" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-3-kitab-bulughul-marram/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Hadits+ke-3+dan+4+dari+Kitab+Bulughul+Marram++-+http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-3-kitab-bulughul-marram/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-3-kitab-bulughul-marram/&amp;title=Hadits+ke-3+dan+4+dari+Kitab+Bulughul+Marram+" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-3-kitab-bulughul-marram/&amp;title=Hadits+ke-3+dan+4+dari+Kitab+Bulughul+Marram+" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Hadits+ke-3+dan+4+dari+Kitab+Bulughul+Marram++-+http://bit.ly/injDfK&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Hadits+ke-3+dan+4+dari+Kitab+Bulughul+Marram+&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-3-kitab-bulughul-marram/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Kelemahan%20Hadits%20Abu%20Umamah%0D%0A3-%C2%A0%20%D9%88%D9%8E%D8%B9%D9%8E%D9%86%D9%92%20%D8%A3%D9%8E%D8%A8%D9%90%D9%8A%D9%92%20%D8%A3%D9%8F%D9%85%D9%8E%D8%A7%D9%85%D9%8E%D8%A9%D9%8E%20%D8%A7%D9%84%D8%A8%D9%8E%D8%A7%D9%87%D9%90%D9%84%D9%90%D9%8A%D9%91%D9%90%20%D8%B1%D9%8E%D8%B6%D9%90%D9%8A%D9%8E%20%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%8F%20%D8%B9%D9%8E%D9%86%D9%92%D9%87%D9%8F%20%D9%82%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%8E%3A%20%D9%82%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%8E%20%D8%B1%D9%8E%D8%B3%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%84%D9%8F%20%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%90%20%D8%B5%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%89%20%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%20%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%8A%D9%92%D9%87%D9%90%20%D9%88%D9%8E%D8%B3%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%85%3A%20%D8%A5%D9%90%D9%86%D9%91%D9%8E%20%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%A7%D8%A1%D9%8E%20%D9%84%D8%A7%D9%8E%20%D9%8A%D9%8F%D9%86%D9%8E%D8%AC%D9%91%D9%90%D8%B3%D9%8F%D9%87%D9%8F%20%D8" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-3-kitab-bulughul-marram/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hadits 2 Kitab Bulughul Marram (Hukum Asal Air adalah suci) – Selesai</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-2-kitab-bulughul-marram-hukum-asal-air-adalah-suci-%e2%80%93-selesai/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-2-kitab-bulughul-marram-hukum-asal-air-adalah-suci-%e2%80%93-selesai/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jun 2011 09:07:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1963</guid>
		<description><![CDATA[4. Masa’il 
Ada beberapa masalah seputar hadits ini, diantaranya:
• Pertama: Pembagian Air dari Sisi Penamaannya
Berdasarkan konteks umum pada hadits ini pula, kalangan fuqaha` Islam membagi air dari tinjauan yang lebih umum menjadi dua bagian. Yaitu air mutlak dan air muqayyad.

Air mutlak (المَاءُ المُطْلَقُ) adalah air yang tetap berada pada asal penciptaannya. Yaitu bahwa setiap sifat/karakter air yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>4. Masa’il </em></strong></p>
<p>Ada beberapa masalah seputar hadits ini, diantaranya:</p>
<p>• Pertama: <strong>Pembagian Air dari Sisi Penamaannya</strong></p>
<p>Berdasarkan konteks umum pada hadits ini pula, kalangan fuqaha` Islam membagi air dari tinjauan yang lebih umum menjadi dua bagian. Yaitu <strong><em>air mutlak</em></strong> dan <strong><em>air muqayyad</em></strong>.</p>
<ul>
<li><strong>Air mutlak</strong> (<strong>المَاءُ المُطْلَقُ</strong>) adalah <strong>air yang tetap berada pada asal penciptaannya</strong>. Yaitu bahwa setiap sifat/karakter air yang Allah ciptakan mengiringi zat air, baik itu sifat panas, dingin, tawar, asin ataukah selainnya. Baik air tersebut tercurah dari langit (hujan, embun dan selainnya) ataukah yang memancar dari dalam tanah (mata air, air laut, sungai dan selainnya). Jika air tersebut berada pada asal sifat air yang diciptakan Allah, maka air tersebut adalah air yang <em>thahur</em> yaitu pada hukum penggunaannya.</li>
</ul>
<p><span id="more-1963"></span><br />
Di antara fuqaha Islam ada yang mengatakan dalam menafsirkan air mutlak ini sebagai,<em>“air yang mana sudut pandang pemahaman setiap orang akan sama dalam menilai kemutlakan penamaan air. Semisal pada air sungai, air mata air, air telaga, air hujan dan semisalnya. Dengan demikian diperbolehkan berwudhu` -dan juga mandi- dengan kesemua air tersebut, baik ragam air tersebut berada pada tempatnya masing-masing  ataukah berada pada bejana-bejana air.”</em> Karena perpindahan air tersebut dari satu tempat ke tempat lainnya tidaklah menggugurkan kemutlakan penamaan air dari air tersebut. Ataukah dapat dibahasakan bahwa air mutlak adalah air yang berlaku penamaan air tanpa adanya indikasi lain yang menjadi sifat lazimnya, semisal bentuk penisbatan pada air bunga.</p>
<ul>
<li><strong>Air muqayyad</strong> (<strong>المَاءُ المُقَيَّدُ</strong>) adalah kebalikan dari air mutlak diatas. Yaitu air yang mana sudut pandang setiap orang tidaklah segera memutuskan adanya kemutlakan penamaan suatu air. Air ini adalah air yang keluar dari perasan sesuatu (sari pati), semisal air perasan kayu, air perasan buah dan bunga dan semisalnya.</li>
</ul>
<p>Termasuk juga dalam kategori air muqayyad adalah setiap air mutlak yang bercampur dengan zat-zat cair lainnya –baik zat cair tersebut suatu yang <em>thahir</em> atau <em>najis</em>-. Dimana pencampuran zat cair tersebut pada air mutlak sampai pada taraf hilangnya penamaan kemutlakan air, misalnya air cuka, air susu dan selainnya. Air mutlak yang telah mengalami perubahan sifat kemutlakannya tersebut karena bercampur dengan sesuatu yang thahir, hingga percampuran tersebut menghilangkan penamaan kemutlakan air pada suatu air mutlak tidaklah tergolong sebagai air yang <em>thahur</em>. Dengan kata lain, <em>sifat ath-thahuriyah</em> pada air mutlak tersebut telah sirna seiring dengan hilangnya kemutlakan penamaan air padanya, baik kadar air tersebut banyak atau sedikit.</p>
<p>• Kedua:<strong> Hukum Thaharah dengan Air Mutlak</strong></p>
<p>Pada dasarnya, jenis air yang diperbolehkan untuk thaharah (wudhu` atau mandi) adalah air yang berada pada kemutlakannya. Berdasarkan beberapa dalil berikut,</p>
<p><em>Pertama</em>, Firman Allah ta’ala,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا [الفرقان: 48]</strong></p>
<p><em>Dan Kami telah turunkan dari langir air yang thahur.” </em>(QS. Al-Furqan: 48)</p>
<p><em>Kedua</em>, hadits Abu Sa’id Al-Khudri di atas.</p>
<p><em>Ketiga</em>, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab ash-Shahih beliau, bahwa Nabi bersabda di dalam doa beliau,</p>
<p><em>“Wahai Allah sucikanlah aku dengan salju, air dan es.”</em></p>
<p><em>Keempat</em>, hadits Abu Hurairah tentang hukum pemakaian air laut untuk thaharah, yang telah kita sebutkan pada edisi sebelumnya.</p>
<p><em>Kelima</em>, konsensus ulama sebagaimana kutipan beberapa ulama</p>
<p>• Ketiga: <strong>Pembagian Air Mutlak.</strong></p>
<p>Para ulama berbeda pendapat mengenai pembagian air mutlak ini dalam beberapa pendapat, namun yang rojih bahwa air terbagi menjadi dua bagian; suci mensucikan (thahur) dan air najis. Berdasarkan firman Allah :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا [الفرقان: 48]</strong></p>
<p><em>Dan Kami telah turunkan dari langir air yang thahur.” </em>(QS. Al-Furqan: 48)</p>
<p>Demikian juga keumuman hadits Abu Sa’id Al-Khudri di atas.</p>
<p>Syeikh Abdurrahman bin Naashir as-Sa’di : Maksudnya, hadits ini (hadits Abu Sa’id) menunjukkan air terbagi menjadi dua bagian:</p>
<ol>
<li> Najis yaitu air yang berubah salah satu       sifatnya karena najis, baik sedikit ataupun banyak</li>
<li>Thahur yaitu yang selainnya.</li>
</ol>
<p>Penetapan jenis ketiga yang tidak thahur dan tidak juga najis bahkan dikatakan thahir tidak berdasarkan dalil syar’i, sehingga tetap berada pada asal kesuciannya (thahuriyah). Keumuman hadits ini dikuatkan dengan firman Allah :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>فَلَمْ تَجِدُوا مَآءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا</strong></p>
<p>lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih).&#8221; (QS. Al-Maaidah: 6)</p>
<p>ini bersifat umum untuk semua air karena nakirah dalam kontek penafian, sehingga mencakup seluruh air dan keluar darinya air najis karena adanya ijma’. (Bahjah Quluub Al-Abraar hlm 136)</p>
<p>sedangkan Syeikh Abdulaziz bin Abdillah bin Baaz menyatakan: Yang benar, air mutlak terbagi menjadi dua; thahur dan najis. Allah berfirman :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا [الفرقان: 48]</strong></p>
<p><em>Dan Kami telah turunkan dari langir air yang thahur.” </em>(<strong>QS. Al-Furqan: 48</strong>) dan firmanNya juga:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>إِذْ يُغَشِّيكُمُ النُّعَاسَ أَمَنَةً مِّنْهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُم مِّنَ السَّمَآءِ مَآءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ وَيُذْهِبَ عَنكُمْ رِجْزَ الشَّيْطَانِ وَلِيَرْبِطَ عَلَى قُلُوبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ اْلأَقْدَامَ</strong></p>
<p>&#8220;(Ingatlah), Ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit <strong>untuk mensucikan kamu dengan hujan itu</strong> dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu).&#8221;  (QS. Al-Anfal:11)</p>
<p>Nabi bersabda:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>إنَّ المَاءَ طَهُورٌ لاَ يُنَجِّسُهُ شَيءٌ</strong> <strong> </strong></p>
<p><em> “<strong>Sesungguhnya air adalah thahur tidaklah sesuatu menjadikan air tersebut najis</strong>.”</em></p>
<p>Maksudnya adalah kecuali yang berubah, rasa, bau atau warnanya karena kecampuran najis, maka ia najis menurut ijma’ ulama. Sedangkan yang tercampur dalam air berupa minuman, daun, atau sejenisnya, maka tidak membuat najis air tersebut dan tidak hilang sifat thahuriyahnya selama masih dinamakan air. Apabila telah berubah penamaan airnya dengan sebab campuran tersebut kepada nama lain seperti susu, kopi, teh dna sejenisnya, maka ia keluar dengan sebab itu dari nama air dan tidak dinamakan air lagi, namun ia tetap suci walaupun adanya campuran ini dan tidak najis. (Majmu’ Fatawa wa Maqalaat Syeikh Bin Baaz 10/56)</p>
<p>• Keempat:<strong> Air Tercampur Benda Suci.</strong></p>
<p>Pencampuran air dengan zat-zat thahir sendiri terbagi atas beberapa kondisi pencampuran yang mengakibatkannya dinisbatkan kepada benda tersebut.</p>
<p>Penisbatan itu diantaranya:</p>
<p><strong>Pertama</strong>: Penisbatan yang tidak memberi sifat thaharah pada satu riwayat –yaitu di mazhab Imam Ahmad-. Yang mana terdiri atas tiga jenis,</p>
<ol>
<li>Air sari pati dari zat yang thahir, semisal sari pati bunga, cengkeh dan termasuk juga tetesan air (getah) dari belahan –kayu- pohon apabila dipotong  dalam keadaan basah.</li>
<li>Zat thahir yang bercampur dengan air hingga merubah penamaan air tersebut ataukah unsur-unsur zat thahir tersebut lebih mendominasi, semisal cuka dan selainnya.</li>
<li>Air yang dipergunakan untuk merebus sesuatu zat yang thahir hingga merubah nama air.</li>
</ol>
<p><strong>Kedua:</strong> Penisbatan yang diperbolehkan untuk berwudhu` pada satu riwayat –dalam mazhab Imam Ahmad-, yang terdiri atas tiga bagian:</p>
<ol>
<li>Penisbatan yang tidak menyebabkan pencampuran, dan semacam ini tidak terdapat perbedaan diantara ulama.</li>
<li>Pencampuran dengan sesuatu yang tidak mungkin untuk dihindari, semisal tanaman (lumut atau semisalnya) yang  tumbuh di dalam air ataukah dedaunan yang terjatuh ke dalam air.</li>
<li>Pencampuran dengan suatu yang memiliki sifat ath-thahuriyah sebagaimana sifat air itu sendiri. Semisal tanah, yang walau merubah sifat air namun tidak menghalangi sifat ath-thahuriyah air karena kedua-duanya memiliki sifat ath-thahuriyah.</li>
<li>Pencampuran akibat persinggungan dengan air tanpa mengalami penyatuan zat. Semisal krim gel atau zat-zat thahir berbentuk padatan selama tidak melebur dengan air.</li>
</ol>
<p>• Kelima: <strong>Air Mutlak Tercampur najis</strong></p>
<p>Tercampurnya pencampuran air mutlak dengan suatu yang najis, beberapa ulama Islam dari berbagai mazhab menyebutkan adanya konsensus/kesepakatan ulama bahwa air tersebut telah menjadi najis, jika najasah/najis yang berada dalam air telah merubah unsur-unsur dan sifat dasar air.</p>
<p>Ibnul Mundzir mengatakan, “Ulama telah sepakat bahwa air yang sedikit atau banyak, apabila suatu najis terjatuh ke dalamnya dan najis tersebut merubah rasa, warna atau aroma air, maka air tersebut dihukumi najis. Berwuhdu` dan mandi dengan air tersebut tidak sah.”</p>
<p>Kutipan yang senada dengan pernyataan Ibnul Mundzir di atas juga disampaikan oleh Ibnu Qudamah serta Ibnu Rusyd dan beliau menambahkan, “Dan mereka –para ulama- sepakat bahwa air dalam kapasitas yang sangat banyak yang tidak mengalami perubahan sifat-sifatnya (akibat adanya najsi pada air tersebut), air yang sangat banyak tersebut hukumnya thahir.”</p>
<p>Asy-Syaukani dalam menguatkan hal di atas mengatakan, “Dan persinggungan langsung (antara air dan najis) bukanlah tolak ukur dan bukan juga sebab berlakunya hukum najis kecuali jika najis tersebut telah merubah sifat-sifat air. Jikalau salah satu dari sifat-sifat dasar air telah mengalami perubahan, maka air telah dihukumi sebagai najis, baik air itu dekat atau berada jauh dari zat najis.”</p>
<p><strong>(Lihat juga pembahasan ini di dalam <em>Al-Hawi Al-Kabir</em> 1/37-39, <em>Al-Mughni</em> 1/13-20, <em>Al-Lubab</em> 1/39-40,<em> Al-Ausath</em> 1/260, <em>Bidayah Al-Mujtahid</em> 1/72,<em> Syarh Al-Muntaha</em> 1/14,<em> Nail Al-Authar</em> 1/190-191, <em>as-Sail Al-Jarrar</em> 1/54, <em>ar-Raudhah an-Nadiyah</em> 1/53, <em>Asy-Syarh Al-Mumti’</em> 1/24)</strong></p>
<p><strong>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, L.c.</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.ustadzkholid.com/" target="_blank">www.UstadzKholid.com</a></strong></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-2-kitab-bulughul-marram-hukum-asal-air-adalah-suci-–-selesai/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-2-kitab-bulughul-marram-hukum-asal-air-adalah-suci-%e2%80%93-selesai/&amp;title=Hadits+2+Kitab+Bulughul+Marram+%28Hukum+Asal+Air+adalah+suci%29+%E2%80%93+Selesai" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-2-kitab-bulughul-marram-hukum-asal-air-adalah-suci-%e2%80%93-selesai/&amp;title=Hadits+2+Kitab+Bulughul+Marram+%28Hukum+Asal+Air+adalah+suci%29+%E2%80%93+Selesai" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-2-kitab-bulughul-marram-hukum-asal-air-adalah-suci-%e2%80%93-selesai/&amp;t=Hadits+2+Kitab+Bulughul+Marram+%28Hukum+Asal+Air+adalah+suci%29+%E2%80%93+Selesai" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-2-kitab-bulughul-marram-hukum-asal-air-adalah-suci-%e2%80%93-selesai/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Hadits+2+Kitab+Bulughul+Marram+%28Hukum+Asal+Air+adalah+suci%29+%E2%80%93+Selesai+-+http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-2-kitab-bulughul-marram-hukum-asal-air-adalah-suci-%e2%80%93-selesai/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-2-kitab-bulughul-marram-hukum-asal-air-adalah-suci-%e2%80%93-selesai/&amp;title=Hadits+2+Kitab+Bulughul+Marram+%28Hukum+Asal+Air+adalah+suci%29+%E2%80%93+Selesai" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-2-kitab-bulughul-marram-hukum-asal-air-adalah-suci-%e2%80%93-selesai/&amp;title=Hadits+2+Kitab+Bulughul+Marram+%28Hukum+Asal+Air+adalah+suci%29+%E2%80%93+Selesai" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Hadits+2+Kitab+Bulughul+Marram+%28Hukum+Asal+Air+adalah+suci%29+%E2%80%93+Selesai+-+http://bit.ly/jzdrXQ&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Hadits+2+Kitab+Bulughul+Marram+%28Hukum+Asal+Air+adalah+suci%29+%E2%80%93+Selesai&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-2-kitab-bulughul-marram-hukum-asal-air-adalah-suci-%e2%80%93-selesai/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A 4.%20Masa%E2%80%99il%20%0D%0A%0D%0AAda%20beberapa%20masalah%20seputar%20hadits%20ini%2C%20diantaranya%3A%0D%0A%0D%0A%E2%80%A2%20Pertama%3A%20Pembagian%20Air%20dari%20Sisi%20Penamaannya%0D%0A%0D%0ABerdasarkan%20konteks%20umum%20pada%20hadits%20ini%20pula%2C%20kalangan%20fuqaha%60%20Islam%20membagi%20air%20dari%20tinjauan%20yang%20lebih%20umum%20menjadi%20dua%20bagian.%20Yaitu%C2%A0air%20mutlak%20dan%20air%20muqayyad.%0D%0A%0D%0A%09Ai" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-2-kitab-bulughul-marram-hukum-asal-air-adalah-suci-%e2%80%93-selesai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hadits 2 Kitab Bulughul Marram (Hukum Asal Air adalah suci) – Seri 2</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-2-kitab-bulughul-marram-hukum-asal-air-adalah-suci-%e2%80%93-seri-2/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-2-kitab-bulughul-marram-hukum-asal-air-adalah-suci-%e2%80%93-seri-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jun 2011 07:29:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1961</guid>
		<description><![CDATA[أَنَّهُ قِيْلَ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَ نَتَوَضَّأُ مِنْ بِئْرِ بُضَاعَةِ؟ –وَهِيَ بِئْرٌ يُطْرَحُ فِيْهَا الحَيْضُ وَلَحْمُ الكِلاَبِ وَالنَّتْنُ- فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الماَءُ طَهُوْرٌ لاَيُنَجِّسُهُ شَيْءٌ
“Ditanyakan kepada Rasulullah: apakah kami boleh berwudhu dari sumur Budha`ah yaitu sebuah sumur yang di dalamnya dicampakkan kain pembalut haidh, daging anjing dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><strong>أَنَّهُ قِيْلَ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَ نَتَوَضَّأُ مِنْ بِئْرِ بُضَاعَةِ؟ –وَهِيَ بِئْرٌ يُطْرَحُ فِيْهَا الحَيْضُ وَلَحْمُ الكِلاَبِ وَالنَّتْنُ- فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الماَءُ طَهُوْرٌ لاَيُنَجِّسُهُ شَيْءٌ</strong></p>
<p><em>“Ditanyakan kepada Rasulullah: apakah kami boleh berwudhu dari sumur Budha`ah yaitu sebuah sumur yang di dalamnya dicampakkan kain pembalut haidh, daging anjing dan kotoran?” Maka beliau menjawab, “Sesungguhnya air adalah thahur tidaklah sesuatu menjadikan air tersebut najis.”</em></p>
<p><em><strong>1. Penjelasan Kosa kata Hadits</strong></em></p>
<ul>
<li>Pernyataan beliau (<strong>أنتوضأ</strong>) bermakna apakah boleh kami berwudhu.</li>
</ul>
<ul>
<li>(<strong>بئر بُضاعة</strong>) dengan di <em>dhommah</em>-kan huruf<em> ba’</em>-nya atau di-<em>kasrah</em>-kan. Sumur Budha’ah adalah sumur yang berisi banyak dicampakkan kain pembalut haidh, daging anjing dan kotoran. Namun jangan mengira bahwa sahabat melakukan hal itu dengan sengaja  padahal air waktu itu sulit atau jarang ada di daerah mereka. Hal ini terjadi karena sumur tersebut berada pada dataran rendah dan banjir membawa kotoran dari jalanan dan menghempaskannya kedalam sumur tersebut. Ada yang berpendapat bahwa angin kencang yang melemparkannya. Boleh saja banjir dan angin semuanya yang membawanya kesana. Ini disampaikan Al-Khathabi dan lainnya. “<em>Budha`ah</em>” sendiri seperti disebutkan di dalam<em> Mu’jam Al-Buldan</em> (1/442) adalah, “Pemukiman bani Sa`idah yang berada di Madinah. Dan sumur mereka adalah sumur yang telah terkenal.”</li>
</ul>
<ul>
<li>(<strong>الحيض</strong>) dengan di-kasrah-kan huruf <em>ha’</em> dan di<em>-fathah</em>-kan huruf <em>ya’</em>-nya, bermakna kain yang dipakai untuk membersihkan darah haidh.</li>
</ul>
<ul>
<li>(<strong>الماء طهور</strong>) huruf alim dan lam dalam kata <em>Al-Maa’</em> adalah untuk bersifat umum dalam artian seluruh air maka ia suci.</li>
</ul>
<ul>
<li>(<strong>لا ينجسه شيء</strong>) inipun bersifat umum karena <em>isim nakirah</em> dalam bentuk kalimat syarat menunjukkan pengertian umum. Sehingga pengertiannya mencakup segala sesuatu.</li>
</ul>
<p><span id="more-1961"></span><br />
<em><strong>2. Pengertian Hadits Secara Umum</strong></em></p>
<p>Hadits ini menunjukkan satu kaidah umum bahwa semua air yang bersumber dari bumi, dan turun dari langit yang masih berada pada sifat penciptaannya atau yang berubah karena pengaruh tempat mengalirnya atau alat penampungnya atau terkena barang-barang suci walaupun terjadi perubahan yang banyak adalah suci dapat digunakan untuk bersuci dan lainnya.(Disarikan dari <em>Bahjah Qulub al-Abrar</em>, Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di hlm. 132) Tidak terkecualikan dari keumuman ini kecuali air yang berubah warna, baud an rasanya karena tercampur najis dengan dasar ijma’.</p>
<p><em><strong>3. Faidah Hadits.</strong></em></p>
<ul>
<li>Terfahami bahwa air tidak najis dengan terkena sesuatu baik airnya sedikit atau banyak walaupun berubah sifat-sifatnya, namun yang benar ini tidak selalu ada pada keumumannya.</li>
</ul>
<p>Imam An-Nawawi menyatakan, &#8220;Ketahuilah bahwa hadits  Budha’ah adalah bersifat umum yang telah dikhususkan (<em>‘Aam makhshush</em>/  <strong>عام مخصوص</strong>). Dikhususkan darinya air yang berubah sifatnya dengan sebab tercampur najis, karena hal itu telah menjadi ijma’.&#8221; (<em>Al-Majmu</em>’, 1/85)</p>
<p>Imam Asy-Syaukani di dalam <em>Nail Al-Authar</em> (1/190) mengatakan, “Hadits tersebut menunjukkan bahwa air –secara umum- tidaklah menjadi najis hanya disebabkan terjatuhnya sesuatu. Baik air tersebut dalam jumlah yang sedikit (<strong>المَاءُ القَلِيْلُ</strong>) atau dalam jumlah yang banyak (<strong>المَاءُ الكَثِيْرُ</strong>). Baik sifat-sifat air tersebut mengalami perubahan atau tidak, hanya saja terdapat konsensus ulama bahwa apabila air mengalami perubahan pada salah satu sifatnya karena sebab najis, maka air tersebut telah keluar dari sifat <em>ath-thahuriyah</em>.“</p>
<p>Dengan demikian air itu sedikit atau banyak tetap suci dan mensucikan kecuali kalau berubah salah satu sifatnya seperti baunya atau rasanya atau warnanya dengan sebab kemasukan najis. Inilah yang menjadi mazhabnya para shahabat seperti Umar bin Khath-thab, Aisyah, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Abu Hurairah dan lain-lain. Demikan juga <em>tabi’in</em> seperti Sa’id bin Musayyab, Mujahid, Ikrimah, Hasan Bashri dan lain-lain. Dan yang menjadi mazhabnya imam Malik dan imam Ahmad -dalam salah satu pendapatnya- dan Azh Zhahiriyah dan lain-lain. Mereka semuanya mengamalkan ketegasan sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam hadits Abu Sa’id Al Khudriy (no:2) (<em>Subulus Salam</em>, 1/17-18)</p>
<ul>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa air seperti air sungai, laut, sumur dan hujan itu suci mensucikan tidak ternajisi oleh sesuatu sampai diketahui menjadi najis dengan adanya sifat-sifat najasah. Diantara dalil-dalil yang menguatkan hal ini adalah:</li>
</ul>
<p>Firman Allah,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا [الفرقان: 48]</strong></p>
<p><em>“Dan Kami turunkan dari langit air yang suci mensucikan.”</em> (QS. Al-Furqan : 48).</p>
<p>Juga firman Allah,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَسْكَنَّاهُ فِي الأَرْضِ وَإِنَّا عَلَى ذَهَابٍ بِهِ لَقَادِرُونَ  [المؤمنون: 18]</strong></p>
<p><em>Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan Sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya.</em> (QS Al-Mu’minun : 18).</p>
<p>Rasulullah juga bersabda –sebagaimana opada hadits yang pertama dulu – tentang air laut:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>«هو الطهور ماؤه»</strong></p>
<p><em>Airnya suci.</em></p>
<ul>
<li>Air itu suci dan mensucikan dari hadats dan semua najis.</li>
</ul>
<ul>
<li> Air tetap suci bila berubah dengan sebab tercampur benda suci, karena sabda Rasulullah, “<em>Tidak menajisinya sesuatu</em>”.</li>
</ul>
<ul>
<li> Air itu sedikit atau banyak apabila kemasukan najis dan tidak berubah salah satu sifatnya seperti: baunya atau rasanya atau warnanya, maka air itu tetap suci menurut mazhab yang lebih kuat dan benar dari perselisihan para ulama sebagaimana telah dijelaskan dengan luas berdasarkan dalil-dalil <em>naql</em> dan akal oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan beliau sendiri menguatkannya dan berpegang dengan mazhab ini. Dan inilah yang menjadi mazhabnya Malik dan Ahmad –dalam salah satu pendapatnya- dan lain-lain. (<em>Majmu’ fatawa Ibnu Taimiyyah</em>, 21/30-35).</li>
</ul>
<ul>
<li> Kesucian air yang dimasukkan tangan orang yang baru bangun dari tidur malam padahal nabi telah melarang orang yang baru bangun tidur untuk memasukkan kedua tangannya kedalam bejana air sampai mencucinya tiga kali. Rasululah tidak menyatakan bahwa airnya najis dan hanya melarang memasukkan tangannya saja. Karena itulah status air ini tetap dalam keumuman hadits Abu Sa’id ini.</li>
</ul>
<ul>
<li> Bahwa air itu sedikit atau banyak apabila berubah salah satu sifatnya seperti: baunya atau rasanya atau warnanya dengan sebab kemasukan atau bercampur dengan suatu zat yang tidak najis seperti sabun atau daun bidara atau kamper atau tepung atau garam dan lain-lain selama tidak berubah nama bagi zat air tersebut –seperti berubah namanya menjadi air teh, air kopi atau susu- maka air tersebut tetap suci dan mensucikan berdasarkan beberapa dalil:</li>
</ul>
<ol>
<li> Hadits Abu Hurairah (no:1) bahwa air laut itu suci, sedangkan air laut itu telah berubah rasanya, baunya dan warnanya karena bercampur dengan garam yang begitu banyak sehingga berubah rasanya menjadi asin, akan tetapi tidak sampai merubah nama bagi zat air tersebut.</li>
<li> Bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah memerintahkan memandikan orang yang mati dalam keadaan ihram dengan air dan daun bidara sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari (no: 1267,1268) dan Muslim (no:1206).</li>
<li>Dan beliau juga telah memerintahkan memandikan anak perempuannya yang mati dengan air dan daun bidara sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari (no: 1253). Berkata Ibnu Taimiyyah, “Sudah maklum, bahwa daun bidara itu dapat merubah air, maka kalau sekiranya perubahan dapat merusak air tersebut niscaya beliau tidak akan memerintahkannya.”</li>
<li>Bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah berwudlu dari bak yang di dalamnya terdapat bekas tepung sebagaimana yang diriwayatkan oleh Nasaa-i (no: 415), Ibnu Majah (no: 378) dan Ahmad (6/342).</li>
<li>Keumuman firman Allah,  “&#8230;Maka jika kamu tidak mendapatkan air&#8230;” (QS. Al Maidah ayat: 6).  Lafazh air bersifat umum dalam bentuk <em>nakirah</em>. (<em>Majmu’ Fataawa Ibnu Taimiyyah</em> 21/24-29).</li>
</ol>
<p>=Bersambung <em>Insya Allah</em>=</p>
<p><strong>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, L.c.<br />
Artikel <a href="http://www.ustadzkholid.com/" target="_blank">www.UstadzKholid.com</a></strong></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-2-kitab-bulughul-marram-hukum-asal-air-adalah-suci-–-seri-2/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-2-kitab-bulughul-marram-hukum-asal-air-adalah-suci-%e2%80%93-seri-2/&amp;title=Hadits+2+Kitab+Bulughul+Marram+%28Hukum+Asal+Air+adalah+suci%29+%E2%80%93+Seri+2" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-2-kitab-bulughul-marram-hukum-asal-air-adalah-suci-%e2%80%93-seri-2/&amp;title=Hadits+2+Kitab+Bulughul+Marram+%28Hukum+Asal+Air+adalah+suci%29+%E2%80%93+Seri+2" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-2-kitab-bulughul-marram-hukum-asal-air-adalah-suci-%e2%80%93-seri-2/&amp;t=Hadits+2+Kitab+Bulughul+Marram+%28Hukum+Asal+Air+adalah+suci%29+%E2%80%93+Seri+2" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-2-kitab-bulughul-marram-hukum-asal-air-adalah-suci-%e2%80%93-seri-2/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Hadits+2+Kitab+Bulughul+Marram+%28Hukum+Asal+Air+adalah+suci%29+%E2%80%93+Seri+2+-+http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-2-kitab-bulughul-marram-hukum-asal-air-adalah-suci-%e2%80%93-seri-2/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-2-kitab-bulughul-marram-hukum-asal-air-adalah-suci-%e2%80%93-seri-2/&amp;title=Hadits+2+Kitab+Bulughul+Marram+%28Hukum+Asal+Air+adalah+suci%29+%E2%80%93+Seri+2" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-2-kitab-bulughul-marram-hukum-asal-air-adalah-suci-%e2%80%93-seri-2/&amp;title=Hadits+2+Kitab+Bulughul+Marram+%28Hukum+Asal+Air+adalah+suci%29+%E2%80%93+Seri+2" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Hadits+2+Kitab+Bulughul+Marram+%28Hukum+Asal+Air+adalah+suci%29+%E2%80%93+Seri+2+-+http://bit.ly/j3wbJ5&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Hadits+2+Kitab+Bulughul+Marram+%28Hukum+Asal+Air+adalah+suci%29+%E2%80%93+Seri+2&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-2-kitab-bulughul-marram-hukum-asal-air-adalah-suci-%e2%80%93-seri-2/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A %D8%A3%D9%8E%D9%86%D9%91%D9%8E%D9%87%D9%8F%20%D9%82%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%84%D9%8E%20%D9%84%D9%90%D8%B1%D9%8E%D8%B3%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%84%D9%90%20%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%90%20%D8%B5%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%8E%D9%89%20%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%8F%20%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%8A%D9%92%D9%87%D9%90%20%D9%88%D9%8E%D8%B3%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%8E%D9%85%D9%8E%20%3A%20%D8%A3%D9%8E%20%D9%86%D9%8E%D8%AA%D9%8E%D9%88%D9%8E%D8%B6%D9%91%D9%8E%D8%A3%D9%8F%20%D9%85%D9%90%D9%86%D9%92%20%D8%A8%D9%90%D8%A6%D9%92%D8%B1%D9%90%20%D8%A8%D9%8F%D8%B6%D9%8E%D8%A7%D8%B9%D9%8E%D8%A9%D9%90%D8%9F%20%E2%80%93%D9%88%D9%8E%D9%87%D9%90%D9%8A%D9%8E%20%D8%A8%D9%90%D8%A6%D9%92%D8%B1%D9%8C%20%D9%8A%D9%8F%D8%B7%D9%92%D8%B1%D9%8E%D8%AD%D9%8F%20%D9%81%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%87%D9%8E%D8%A7%20%D8%A7%D9%84%D8%AD%D9%8E%D9%8A%D9%92%D8%B6%D9%8F%20%D9%88%D9%8E%D9%84%D9%8E%D8%AD%D9%92%D9%85%D9%8F%20%D8%A7%D9%84%D9%83%D9%90%D9%84%D8%A7" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-2-kitab-bulughul-marram-hukum-asal-air-adalah-suci-%e2%80%93-seri-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hadits 2 Kitab Bulughul Marram (Hukum Asal Air adalah suci) – Seri 1</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-2-kitab-bulughul-marram-hukum-asal-air-adalah-suci-%e2%80%93-seri-1/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-2-kitab-bulughul-marram-hukum-asal-air-adalah-suci-%e2%80%93-seri-1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jun 2011 16:00:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1953</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Asal Air adalah suci
 2. وَعَنْ أَبي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلّى الله عليه وسلّم: «إنَّ المَاءَطَهُورٌ لاَ يُنَجِّسُهُ شَيءٌ». أَخْرَجَهُ الثلاَثَةُ، وَصَحَّحَه أَحْمَدُ
2. “Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan, ‘Rasulullah bersabda,“Sesungguhnya air adalah thahur tidaklah sesuatu menjadikan air tersebut najis.” (Diriwayatkan oleh Ats-Tsalatsah dan Ahmad mensahihkannya).
Ο [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Hukum Asal Air adalah suci</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong> 2. وَعَنْ أَبي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلّى الله عليه وسلّم: «إنَّ المَاءَطَهُورٌ لاَ يُنَجِّسُهُ شَيءٌ». أَخْرَجَهُ الثلاَثَةُ، وَصَحَّحَه أَحْمَدُ</strong></p>
<p><strong>2.<em> “Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan, ‘Rasulullah bersabda,“Sesungguhnya air adalah thahur tidaklah sesuatu menjadikan air tersebut najis.”</em></strong> (Diriwayatkan oleh Ats-Tsalatsah dan Ahmad mensahihkannya).</p>
<p><strong>Ο <span style="text-decoration: underline;">Penjelasan Hadits</span></strong></p>
<p>Hadits ini akan dijelaskan dalam beberapa sub bahasan:</p>
<p><strong><em>Biografi Perawi Hadits</em></strong></p>
<p>Perawi hadits ini adalah Abu Sa’id Al-Khudri. Nama beliau adalah Sa’ad bin Sinan bin Malik Al-Khazraji Al-Anshari Al-Khudri,ada yang menyatakan : Sa’ad bin Maalik bin Sinan . Nisbah kata “Al-Khudri” berasal dari Khudrah salah satu perkampungan kaum Anshar, sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qamus.(Lihat <em>Subul As-Salam,</em> 1/11).</p>
<p>Beliau ikut perang bersama Nabi sebanyak12 peprangan, yang pertama adalah perang khandaq pada tahun kelima, karena sebelum itu usia beliau belum baligh.  Beliau menghafal dari Nabi ilmu yang banyak dan menjadi ulama besar dikalangan para sahabat. Beliau meninggal tahun 74 H. dan dimakamkan di Al-baqi’. (<em>Tambihul Afham Bi Syarhi Umdatul Ahkam</em>, Syeikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, 1/ ).<br />
<span id="more-1953"></span><br />
<strong><em>Takhrij Al-Hadits</em></strong></p>
<p>Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam <em>As-Sunan</em> (no. 66), At-Tirmidzi di dalam <em>As-Sunan</em> (no.66) dan beliau mengatakan: “hadits hasan.” Juga diriwayatkan oleh An-Nasa`i di <em>As-Sunan</em> (1/174), Ahmad di dalam <em>Al-Musnad</em> (3/31), asy-Syafi’I di dalam kitab <em>Al-Umm</em> (1/23), Ad-Daraquthni di dalam <em>As-Sunan</em> (1/no. 10) di dalam <em>As-Sunan</em>, Al-Baihaqi di dalam <em>As-Sunan Al-Kubra</em> (1/4, 257), Abu Dawud Ath-Thayalisi (no. 2199), Ibnul Jarud di dalam <em>Al-Muntaqa</em><strong> </strong>(no. 47) dan selainnya dari jalan Abu Usaamah dari Al-Walid bin Katsir dari Muhammad bin Ka’ab dari Ubaidillah bin Abdillah bin raafi’ bin Khadij dari Abu Sa’id Al-Khudri – <em>Radhiyallahu ‘anhu</em>-</p>
<p style="text-align: right;"><strong>أَنَّهُ قِيْلَ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَ نَتَوَضَّأُ مِنْ بِئْرِ بُضَاعَةِ؟ –وَهِيَ بِئْرٌ يُطْرَحُ فِيْهَا الحَيْضُ وَلَحْمُ الكِلاَبِ وَالنَّتْنُ- فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الماَءُ طَهُوْرٌ لاَيُنَجِّسُهُ شَيْءٌ </strong></p>
<p>“<em>Ditanyakan kepada Rasulullah: apakah kami boleh berwudhu dari sumur Budha`ah yaitu sebuah sumur yang di dalamnya dicampakkan kain pembalut haidh, daging anjing dan kotoran?” </em><em>Maka beliau menjawab, “<strong>Sesungguhnya air adalah thahur tidaklah sesuatu menjadikan air tersebut najis</strong>.”</em></p>
<p>Hadits ini adalah hadits sahih dengan banyaknya jalan periwayatan dan <em>syahid</em> penguatnya.<em> </em>Memang Ubaidillah bin Raafi’ dikatakan oleh ibnu Mandah: <strong><em>Majhul</em></strong> (tidak dikenal) dan disebutkan ibnu Hibaan dalam kitab <em>Ats-Tsiqaat</em>. Sedangkan imam Ibnu Hajar menyatakan dalam kitab <em>At-Taqrib</em> (1/536):  <strong><em>Mastuur</em></strong>. Sedangkan sisa perawinya <strong><em>tsiqaat</em></strong> termasuk perawi-perawi yang dipakai Al-Bukhari dan Muslim dalam sahih keduanya.</p>
<p>Di dalam riwayat Nasaa-i dan Ibnu Abi Syaibah dan lain-lain, sebagian rawi telah keliru mengatakan, “Ubaidullah bin Abdurrahman!? yang benar ialah ‘Ubaidullah bin Abdullah bin Raafi’i bin Khudaij .Oleh karena itu, Bukhari dengan tegas mengatakan bahwa orang yang menamakannya ‘Ubaidullah bin Abdurrahman telah keliru sebagaimana telah diterangkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar di <em>Tahdzibut Tahdzib</em> (7/28). Meskipun demikian kedua orang rawi di atas, yaitu baik ‘Ubaidullah bin Abdullah atau ‘Ubaidullah bin Abdurrahman sama dla’if tidak dikenal atau <em>Majhul</em>.  Walaupun didalam <em>sanad</em>nya ada perawi yang <em>Majhul</em> namun dengan adanya banyak riwayat pendukung (<em>Syawahid</em>) dari hadits Ibnu Abbas, Aisyah -sebagaimana dikatakan Tirmidzi-, Jabir dan Sahl bin Sa’ad dan jalan periwayatan lainnya (<em>mutaba’ah</em>) menjadikan hadits ini naik menjadi <em>sahih lighairihi</em>.</p>
<p>Hadits ini disahihkan oleh Ahmad, beliau mengatakan, “Hadits sumur “<em>Budha’ah</em>” hadits yang sahih.” Juga di sahihkan oleh Yahya bin Ma’in, Abu Muhammad Ali bin Hazm, dan Al-Hakim. Hadits ini juga di sahihkan oleh Al-Baghawi di dalam <em>Syarh As-Sunnah</em> (2/61), An-Nawawi di dalam <em>Al-Majmu’ syarh Al-Muhadzdzab</em> (1/127) dan Asy-Syaikh Al-Albani di dalam <em>Al-Irwa`</em> (no. 14). Al-Hafizh menyebutkan di dalam <em>At-Talkhish</em> (1/13), Ibnu Mundah mengomentari hadits Abu Sa’id ini dan berkata,“<strong><em>Sanadnya masyhur</em></strong>.”</p>
<p><strong>Ο <span style="text-decoration: underline;">Faidah</span></strong></p>
<p>Ada istilah hadits lemah (<em>dha’if</em>), <em>Majhul</em> dan <em>sahih lighairihi</em> dalam <em>takhrij</em> hadis diatas, maka perlu penjelasan singkat tentang hal ini.<strong></strong></p>
<p><strong><em>Hadits Dha’if</em></strong></p>
<p>Hadits <em>dha’if</em> atau dikenal dalam istilah kita sebagai hadits yang lemah adalah hadits yang tidak memenuhi kreteria hadits yang sahih dan hasan.</p>
<p><strong><em>Sebab yang menjadikan hadits dihukumi sebagai hadits dha’if.</em></strong></p>
<p>Bila melihat kepada alasan para ulama menghukum satu hadits sebagai hadits lemah didapatkan kembali kepada dua sebab:</p>
<p><strong>- Sebab pertama: </strong><em>sanad</em>nya terputus.</p>
<p>Melihat kepada sebab pertama ini, maka hadits dihukumi lemah karena tidak memenuhi salah satu syarat hasan dan shohih yaitu bersambungnya <em>sanad</em>. Hal ini dapat terjadi pada:</p>
<p><strong>1).</strong> <em>Awal sanad </em>:<em> </em>Apabila terjadi penghapusan perawi diawal <em>sanad</em> baik seorang atau lebih maka dinamakan muallaq.</p>
<p><strong>2).</strong> <em>Akhir sanad setelah tabi’in </em>: Apabila terjadi penghapusan perawi setelah tabi’in maka dinamakan Mursal.</p>
<p><strong>3).</strong> <em>Di tengah-tengah sanad </em>: Apabila terjadi ditengah-tengah <em>sanad</em> maka ada dua:</p>
<ul>
<li><em><strong>Yang Jelas</strong></em> dan ini berbagi dua :</li>
</ul>
<ol>
<li><em>Munqati’</em> : hadits <em>munqati’</em> adalah semua hadits yang <em>sanad</em>-nya tidak bersambung dalam semua sisi terputusnya baik yang hilang adalah satu atau banyak dengan syarat tidak diawal <em>sanad</em> dan tidak berurutan.</li>
<li><em>Mu’dhol</em>:  <em>Al-Mu’dhol</em> adalah semua hadits yang terputus <em>sanad-</em>nya dua perawi atau lebih dengan syarat harus berurutan dan tidak diawal <em>sanad</em>.</li>
<li><em>Mudallas.</em></li>
<li><em>Mursal khafi</em> adalah riwayat dari orang yang semasa namun tidak pernah bertemu.</li>
</ol>
<ul>
<li><em><strong>Yang Samar</strong></em> ada dua :</li>
</ul>
<ol>
<li><em>Mudallas.</em></li>
<li><em>Mursal khafi</em> adalah riwayat dari orang yang semasa namun tidak pernah bertemu.</li>
</ol>
<p><strong>- Sebab kedua:</strong><strong> </strong>Celaan pada perawi.</p>
<ol>
<li>Dusta      perawi, haditsnya  dinamakan      <em>maudhu’.</em></li>
<li>Tuduhan      dusta, haditsnya dinamakan      hadits <em>matruk</em>.</li>
<li><em>Fahsyu Al-Ghalath</em> (sering salah) .</li>
<li><em>Ghaflah</em>.</li>
<li>Kefasikan, Ketiga      sebab ini haditsnya dinamakan mungkar menurut istilah sebagian ulama atau <em>dhaif jiddan</em> (lemah sekali).</li>
<li><em>Wahm</em>, haditsnya dinamakan      <em>Muallal</em>.</li>
<li><em>Mukhalafah</em>, haditsnya dinamakan      <em>syadz</em> atau <em>mungkar</em>.</li>
<li><em>Jahalah.</em></li>
<li><em>Bid’ah.</em></li>
<li><em>Su’u Al-hifzh</em> (lemah hafalannya) .</li>
</ol>
<p>Untuk artikel berikutnya <em>Insya Allah</em> masih membahas hadits di atas. Yaitu, tentang penjelasan kosa kata dalam hadits dan masalah-masalah yang lainnya.<br />
=Bersambung <em>Insya Allah</em>=</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi,L.c.<br />
Artikel <a href="http://www.ustadzkholid.com/" target="_blank">www.ustadzkholid.com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-2-kitab-bulughul-marram-hukum-asal-air-adalah-suci-–-seri-1/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-2-kitab-bulughul-marram-hukum-asal-air-adalah-suci-%e2%80%93-seri-1/&amp;title=Hadits+2+Kitab+Bulughul+Marram+%28Hukum+Asal+Air+adalah+suci%29+%E2%80%93+Seri+1" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-2-kitab-bulughul-marram-hukum-asal-air-adalah-suci-%e2%80%93-seri-1/&amp;title=Hadits+2+Kitab+Bulughul+Marram+%28Hukum+Asal+Air+adalah+suci%29+%E2%80%93+Seri+1" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-2-kitab-bulughul-marram-hukum-asal-air-adalah-suci-%e2%80%93-seri-1/&amp;t=Hadits+2+Kitab+Bulughul+Marram+%28Hukum+Asal+Air+adalah+suci%29+%E2%80%93+Seri+1" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-2-kitab-bulughul-marram-hukum-asal-air-adalah-suci-%e2%80%93-seri-1/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Hadits+2+Kitab+Bulughul+Marram+%28Hukum+Asal+Air+adalah+suci%29+%E2%80%93+Seri+1+-+http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-2-kitab-bulughul-marram-hukum-asal-air-adalah-suci-%e2%80%93-seri-1/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-2-kitab-bulughul-marram-hukum-asal-air-adalah-suci-%e2%80%93-seri-1/&amp;title=Hadits+2+Kitab+Bulughul+Marram+%28Hukum+Asal+Air+adalah+suci%29+%E2%80%93+Seri+1" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-2-kitab-bulughul-marram-hukum-asal-air-adalah-suci-%e2%80%93-seri-1/&amp;title=Hadits+2+Kitab+Bulughul+Marram+%28Hukum+Asal+Air+adalah+suci%29+%E2%80%93+Seri+1" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Hadits+2+Kitab+Bulughul+Marram+%28Hukum+Asal+Air+adalah+suci%29+%E2%80%93+Seri+1+-+http://bit.ly/lK0bee&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Hadits+2+Kitab+Bulughul+Marram+%28Hukum+Asal+Air+adalah+suci%29+%E2%80%93+Seri+1&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-2-kitab-bulughul-marram-hukum-asal-air-adalah-suci-%e2%80%93-seri-1/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Hukum%20Asal%20Air%20adalah%20suci%0D%0A%202.%20%D9%88%D9%8E%D8%B9%D9%8E%D9%86%D9%92%20%D8%A3%D9%8E%D8%A8%D9%8A%20%D8%B3%D9%8E%D8%B9%D9%90%D9%8A%D8%AF%D9%8D%20%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%AE%D9%8F%D8%AF%D9%92%D8%B1%D9%90%D9%8A%D9%91%D9%90%20%D8%B1%D8%B6%D9%8A%20%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%20%D8%B9%D9%86%D9%87%20%D9%82%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%8E%3A%20%D9%82%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%8E%20%D8%B1%D9%8E%D8%B3%D9%8F%D9%88%D9%84%D9%8F%20%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%90%20%D8%B5%D9%84%D9%91%D9%89%20%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%20%D8%B9%D9%84%D9%8A%D9%87%20%D9%88%D8%B3%D9%84%D9%91%D9%85%3A%20%C2%AB%D8%A5%D9%86%D9%91%D9%8E%20%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%8E%D8%A7%D8%A1%D9%8E%D8%B7%D9%8E%D9%87%D9%8F%D9%88%D8%B1%D9%8C%20%D9%84%D8%A7%D9%8E%20%D9%8A%D9%8F%D9%86%D9%8E%D8%AC%D9%91%D9%90%D8%B3%D9%8F%D9%87%D9%8F%20%D8%B4%D9%8E%D9%8A%D8%A1%D9%8C%C2%BB.%20%D8%A3%D9%8E%D8%AE%D9%92%D8%B1%D9" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/hadits-2-kitab-bulughul-marram-hukum-asal-air-adalah-suci-%e2%80%93-seri-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hadis 1 Kitab Bulughul Marram (Kesucian Air Laut) &#8211; Selesai</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/hadis-1-kitab-bulughul-marram-kesucian-air-laut-2/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/hadis-1-kitab-bulughul-marram-kesucian-air-laut-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jun 2011 03:18:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1948</guid>
		<description><![CDATA[عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ  اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،  في البَحْرِ: هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ، الْحِلُّ مَيْتَتُهُأَخْرَجَهُ  الأَرْبَعَةُ وَابْنُ أَبِيْ شَيْبَةَ وَاللَّفْظُ لَهُ وَصَحَّحَهُ ابْنُ  خُزَيْمَةَ وَالتِّرْمِيْذِيُّ وَرَوَاهُ مَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ  وَأَحْمَدُ
&#8220;Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang (hukum) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><strong>عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ  اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،  في البَحْرِ: هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ، الْحِلُّ مَيْتَتُهُ</strong><strong>أَخْرَجَهُ  الأَرْبَعَةُ وَابْنُ أَبِيْ شَيْبَةَ وَاللَّفْظُ لَهُ وَصَحَّحَهُ ابْنُ  خُزَيْمَةَ وَالتِّرْمِيْذِيُّ وَرَوَاهُ مَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ  وَأَحْمَدُ</strong></p>
<p style="text-align: left;">&#8220;Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu ia berkata: Telah bersabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tentang (hukum) air laut: <em><strong>“</strong><strong>Air laut itu suci, (dan) halal bangkainya.</strong><strong>”</strong></em></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Penjelasan Kosa kata Hadits</strong></span><br />
(<span style="color: #800000;"><strong>هو الطَّهور ماؤه</strong></span>). Kata <span style="color: #800000;"><strong>الطَّهور</strong></span> dalam bahasa arab adalah<em> shighat mubalaghah</em> bermakna suci dan mensucikan. Dibaca dengan di-<em>fathah</em>-kan huruf <em>tha’</em>-nya bermakna sesuatu yang dipakai untuk bersuci. Kata ganti   <span style="color: #800000;"><strong>هو</strong></span> kembali kepada laut. Sehingga (<span style="color: #800000;"><strong>هو</strong></span>) dalam bahasa arab kedudukannya adalah <em>Mubtada’</em> dan(<span style="color: #800000;"><strong>الطهور</strong></span>)   adalah <em>mubtada’</em> kedua, sedangkan kata (<span style="color: #800000;"><strong>ماؤه</strong></span>) adalah <em>khabar</em> atau <em>faa`il</em> untuk kata (<span style="color: #800000;"><strong>الطهور</strong></span>) , karena dia adalah <em>shighah mubalaghah</em>.  Jumlah susunan <em>mubtada’</em> kedua dan <em>khabar</em>-nya menjadi <em>khabar</em> bagi <em>mubtada`</em> pertama. Susunan ini dalam bahasa arab berisi pembatasan sifat kepada <em>maushuf</em> (yang dishifati). Berarti maknanya membatasi kesucian hanya pada air laut. Pembatasan ini tidak hakiki, karena kesucian ada pada selain air laut juga. Maka ia sebenarnya adalah pembatasan tertentu (<em>qashru Ta’yiin</em>); karena penanya bimbang antara kebolehan berwudhu dan tidak, sehingga Rasulullah menentukan kebolehannya.<br />
(<span style="color: #800000;"><strong>الحِلُّ ميتته</strong></span>) demikian tanpa adanya huruf sambung <em>wawu</em>. Kata(<span style="color: #800000;"><strong>الحل</strong></span>)  dengan di-<em>kasrah</em>-kan huruf <em>ha’-</em>nya, dalam bahasa arab adalah <em>mashdar</em> dari  <span style="color: #800000;"><strong>حلَّ يَحِلُّ</strong></span> yang menjadi anonim kata haram. Sedangkan kata (<span style="color: #800000;"><strong>ميتته</strong></span>)  dengan di-<em>fathah</em>-kan huruf <em>mim</em>-nya adalah semua hewan laut yang mati tanpa sembelihan syar’i seperti ikan<br />
<span id="more-1948"></span><br />
Pelajaran yang dapat diambil dari Hadits:</p>
<ol>
<li> Kedudukan hadits ini disampaikan imam Syafi’i dengan ungkapan: Hadits ini separuh ilmu thaharah. Juga ibnu al-Mulaqqin menyatakan: Hadits ini hadits yang agung dan salah satu pokok thaharah berisi banyak sekali hukum dan kaedah penting.</li>
<li> Bertanya kepada ahli ilmu jika tidak mengetahui sesuatu masalah agama, mengamalkan perintah Allah di dalam Alquran, <em>“Betanyalah kepada ahli ilmu jika kamu tidak tahu.”</em></li>
<li>Semangat sahabat dalam mencari dan menerima ilmu dari Rasulullah. Hal ini nampak dari sebab adanya hadits ini berupa pertanyaan mereka kepada Rasulullah.</li>
<li>Bertanya merupakan satu cara mendapatkan ilmu yang sangat penting.</li>
<li>Bolehnya seorang menjawab pertanyaan melebihi dari yang ditanyakan, apabila penanya membutuhkannya. Sebab dalam hadits ini, orang yang naik perahu butuh mengenal hukum bangkai hewan laut. Disini Rasulullah n memberikan fatwa ini karena mereka butuhkan dan mungkin juga selain mereka membutuhkannya. Oleh karena itu seorang mufti bila melihat kebutuhan penanya tentang sesuatu yang belum ditanyakan, maka disyariatkan untuk menambah melebihi pertanyaan. Apabila tidak maka jawaban hendaknya sesuai dengan pertanyaan saja. Syeikh Al-Basaam menyatakan, &#8220;Pentingnya menambah keterangan dalam fatwa atas satu pertanyaan. Hal itu apabila mufti menganggap penanya tidak mengerti hukum tersebut atau ia tertimpa masalah tersebut. Sebagaimana dalam bangkai hewan laut pada orang yang menyeberangi lautan. Ibnul Arabi menyatakan, &#8216;Itu termasuk nilai-nilai posotif fatwa dengan menjawab melebihi pertanyaan untuk menyempurnakan faedahnya dan menyampaikan ilmu yang tidak ditanyakan. Ini akan sangat penting apabila nampak kebutuhan terhadap hukum tersebut.&#8217;&#8221; (<em>taudhih al-Ahkaam</em>, 1/117).</li>
<li>Ilmu terlebih dahulu sebelum beramal.</li>
<li>Boleh berlayar mengarungi lautan meskipun bukan untuk berjihad.</li>
<li>Membawa bekal ketika shafar menyalahi perbuatan kaum shufi.</li>
<li>Kewajiban memelihara dan menjaga diri dari kebinasaan seperti kelaparan dan kehausan.</li>
<li>Dari kaidah <em>ushul</em>, <strong>“Menolak kerusakan didahulukan dari mengambil manfaat.”</strong></li>
<li>Bahwa syariat Islam itu sangat mudah bagi mereka yang paham dan ikhlas.</li>
<li>Bahwa seseorang tidak dibebani kecuali semampunya.</li>
<li>Bahwa syariat Islam selalu memberikan jalan keluar bagi segala kesulitan.</li>
<li>Air laut itu suci dan mensucikan. Syeikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menyatakan, &#8220;Air lau suci mensucikan seluruhnya tanpa pengecualian.&#8221; (<em>fathuljalal walikram</em>, 1/60)</li>
<li>Bangkai binatang laut itu halal dan suci, sebab dalam kaidah dikatakan, <strong>&#8220;Semua yang halal itu suci dan tidak semua yang suci itu halal. Setiap najis itu haram dan tidak semua yang haram itu najis.&#8221;</strong> (<em>Fathuljalal walikram</em>, 1/60).</li>
<li>Bolehnya berwudlu dengan air yang telah bercampur dengan sesuatu sehingga berubah rasanya, atau baunya atau warnanya selama tidak kemasukan najis, dan selama penamaannya tetap air, bukan yang telah berubah menjadi air teh atau kopi, dan lain-lain.</li>
<li>Islam mengatur hidup dan kehidupan manusia, dunia mereka dan akhirat mereka.</li>
<li>Air laut suci mensucikan tidak keluar dari hukum ini sama sekali. Oleh karenanya diperbolehkan bersuci dengan air laut dari hadat kecil atau besar serta najis.</li>
<li>Penjelasan hukum bangkai hewan laut yang tidak hidup kecuali diair.</li>
<li>Pengertian hadits ini menunjukkan pengharaman bangkai hewan darat.</li>
<li>Kewajiban merujuk kepada ulama ketika ada masalah, karena sahabat ini merujuk kepada Rasulullah ketika mendapatkan masalah dalam bersuci dengan air laut.</li>
<li>Para sahabat tidak bersuci dengan air laut, karena asin bergaram dan baunya amis. Air yang demikian adanya tidak diminum sehingga opara sahabat menganggap yang tidak diminum tidak bisa digunakan untuk bersuci. Rasulullah tidak menjawab hanya dengan kata “iya” ketika mereka bertanya: “apakah kami boleh berwudhu dengannya?”, agar kebolehan berwudhu dengannya itu terfahami tidak terikat dengan keadaan darurat semata bahkan utntuk semua keadaan. Juga agar tidak difahami kebolehan tersebut hanya untuk berwudhu semata, namun boleh untuk menghilangkan hadat besar dan mensucikan najis.</li>
</ol>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Masaail.</strong></span></p>
<p>Hewan laut atau air dibagi oleh para ulama menjadi dua:</p>
<ol>
<li>Hewan air yang hanya hidup didalam air dan bila keluar kedaratan maka akan mati seperti hewan yang disembelih. Contohnya ikan dan sejenisnya.</li>
<li>Hewan air yang dapat hidup di daratan juga, dinamakan sebagian orang dengan al-Barma`i (yang hidup didua alam). Seperti buaya, kepiting dan sejenisnya.</li>
</ol>
<p>Para ulama berbeda pendapat dalam hukum memakan hewan air dalam beberapa pendapat:</p>
<ul>
<li>Seluruh hewan laut halal. Inilah pendapat madzhab Malikiyah dan asy-Syafi’iyah. Mereka berdalil dengan keumuman firman Allah ,</li>
</ul>
<p style="text-align: right;"><strong>أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ صَيْدُ الْبَرِّ مَادُمْتُمْ حُرُمًا وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ</strong></p>
<p><em>&#8220;Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.&#8221;</em> (QS. Al-Maidah : 96).<br />
Dan hadits Abu Hurairah yang kita bahas ini. Ayat dan hadits ini bersifat umum pada semua hewan laut.</p>
<ul>
<li>Seluruh hewan laut atau air halal kecuali katak, buaya dan ular. Ini adalah pendapat madzhab Hambaliyah. Mereka berdalil dengan keumuman ayat dan hadits yang digunakan argument oleh pendapat pertama. Mengecualikan katak karena hewan yang dilarang membunuhnya dan mengecualikan buaya karena ia buas pemangsa dengan taringnya dan memangsa manusia. Sedangkan ular karena termasuk yang menjijikkan.</li>
</ul>
<ul>
<li> Semua yang ada dalam laut diharamkan kecuali ikan. Ikan dihalalkan untuk dimakan kecuali yang sudah mati mengambang dipermukaan laut. Ini adalah pendapat madzhab Abu Hanifah. Mereka berdalil pada keumuman firman Allah,</li>
</ul>
<p style="text-align: right;"><strong>حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنزِيرِ وَمَآأُهِلَّ لِغَيْرِ اللهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَآأَكَلَ السَّبُعُ إِلاَّ مَاذَكَّيْتُمْ وَمَاذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِاْلأَزْلاَمِ ذَلِكُمْ فِسْقٌ</strong></p>
<p><em>“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan.”</em> (QS. Al-Maaidah: 3).<br />
Dalam ayat ini, Allah tidak merinci antara hewan laut dengan darat, sehingga  berlaku umum. Juga firman Allah,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>يَأْمُرُهُم بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ</strong></p>
<p><em>&#8220;Yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma&#8217;ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.&#8221; </em>(QS. Al-A’raaf : 157).<br />
Selain ikan semua hewan laut buruk (<em>khabiets</em>), seperti kepiting dan lain-lainnya.</p>
<ul>
<li> Dibolehkan memakan hewan laut selain ikan apabila yang serupa dengannya dari hewan darat halal dimakan. Misalnya babi laut diharamkan karena babi darat diharamkan, anjing laut haram karena anjing darat haram. Ini adalah satu diantara pendapat dalam madzhab syafi’iyah dan satu pendapat dari madzhab Hambaliyah. Dalilnya adalah qiyaas (analogi) hewan laut dengan hewan darat, karena kesamaan nama maka diberi hukum yang sama.</li>
</ul>
<p><strong><em>Pendapat yang rajih</em></strong><br />
Syeikh Prof. DR. Shalih bin Abdillah bin Fauzan alifauzan merajihkan pendapat madzhab malikiyah dengan dasar kuatnya dalil mereka dan tidak adanya dalil yang mengkhususkan keumuman dalil-dalil mereka. Kemudian syeikh membantah pendapat yang lainnya dengan menyatakan,<br />
Dalil yang digunakan pendapat yang mengharamkan bangkai hewan laut berupa keumuman firman Allah,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ</strong></p>
<p><em>&#8220;Diharamkan bagimu (memakan) bangkai</em>.&#8221; (QS. Al-Maaidah: 3).</p>
<p>Maka jawabnya adalah ini umum yang sudah dikhususkan dengan sabda nabi tentang air lautan,</p>
<p style="text-align: right;">(<strong>هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ، الْحِلُّ مَيْتَتُهُ</strong>)</p>
<p>Sedangkan argumen mereka dengan keumuman firman Allah,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ</strong></p>
<p>&#8220;<em>Dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk</em>.&#8221; (QS. Al-A’raaf : 157).</p>
<p>Dalam mengharamkan kepiting, ular dan sejenisnya dari hewan laut, maka tidak bisa diterima perihal ini semua adalah habiets (buruk/menjijikkan). Sekedar klaim ini termasuk yang menjijikkan tidak mengalahkan kegamblangan dalil-dalil (yang membolehkan). Sedangkan qiyaas (analogi) mereka semua yang ada dilaut dengan hewan darat yang dilarang, maka ini tidak sah karena menyelisihi nash syariat. (<em>Al-Ath’imah</em>, hlm. 78-79).<br />
Demikian juga syeikh Muhammad bin shalih Al-Utsaimin merajihkan keumuman ini dalam pernyataan beliau,  &#8220;Yang benar adalah tidak dikecualikan satupun dari hal itu. Semua hewan laut (air) yang yidak hidup kecuali diair adalah halal baik yang hidup ataupun bangkainya, karena keumuman ayat yang telah kami sampaikan terdahulu.&#8221;  (<em>Syarhulmumti’</em>, 15/35)<br />
<em>Wallahu a’lam.</em></p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi,L.c.<br />
Artikel <a href="http://www.ustadzkholid.com/" target="_blank">www.ustadzkholid.com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/hadis-1-kitab-bulughul-marram-kesucian-air-laut-2/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadis-1-kitab-bulughul-marram-kesucian-air-laut-2/&amp;title=Hadis+1+Kitab+Bulughul+Marram+%28Kesucian+Air+Laut%29+-+Selesai" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadis-1-kitab-bulughul-marram-kesucian-air-laut-2/&amp;title=Hadis+1+Kitab+Bulughul+Marram+%28Kesucian+Air+Laut%29+-+Selesai" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadis-1-kitab-bulughul-marram-kesucian-air-laut-2/&amp;t=Hadis+1+Kitab+Bulughul+Marram+%28Kesucian+Air+Laut%29+-+Selesai" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadis-1-kitab-bulughul-marram-kesucian-air-laut-2/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Hadis+1+Kitab+Bulughul+Marram+%28Kesucian+Air+Laut%29+-+Selesai+-+http://ustadzkholid.com/fiqih/hadis-1-kitab-bulughul-marram-kesucian-air-laut-2/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadis-1-kitab-bulughul-marram-kesucian-air-laut-2/&amp;title=Hadis+1+Kitab+Bulughul+Marram+%28Kesucian+Air+Laut%29+-+Selesai" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadis-1-kitab-bulughul-marram-kesucian-air-laut-2/&amp;title=Hadis+1+Kitab+Bulughul+Marram+%28Kesucian+Air+Laut%29+-+Selesai" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Hadis+1+Kitab+Bulughul+Marram+%28Kesucian+Air+Laut%29+-+Selesai+-+http://bit.ly/lvvA4k&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Hadis+1+Kitab+Bulughul+Marram+%28Kesucian+Air+Laut%29+-+Selesai&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/hadis-1-kitab-bulughul-marram-kesucian-air-laut-2/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A %D8%B9%D9%8E%D9%86%D9%92%20%D8%A3%D9%8E%D8%A8%D9%90%D9%8A%D9%92%20%D9%87%D9%8F%D8%B1%D9%8E%D9%8A%D9%92%D8%B1%D9%8E%D8%A9%D9%8E%20%D8%B1%D9%8E%D8%B6%D9%90%D9%8A%D9%8E%20%20%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%8F%20%D8%B9%D9%8E%D9%86%D9%92%D9%87%D9%8F%20%D9%82%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%8E%3A%20%D9%82%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%8E%20%D8%B1%D9%8E%D8%B3%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%84%D9%8F%20%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%20%D8%B5%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%8E%D9%89%20%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%20%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%8A%D9%92%D9%87%D9%90%20%D9%88%D9%8E%D8%B3%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%8E%D9%85%D9%8E%D8%8C%20%20%D9%81%D9%8A%20%D8%A7%D9%84%D8%A8%D9%8E%D8%AD%D9%92%D8%B1%D9%90%3A%20%D9%87%D9%8F%D9%88%D9%8E%20%D8%A7%D9%84%D8%B7%D9%91%D9%8E%D9%87%D9%8F%D9%88%D9%92%D8%B1%D9%8F%20%D9%85%D9%8E%D8%A7%D8%A4%D9%8F%D9%87%D9%8F%D8%8C%20%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%AD%D9%90%D9%84%D9%91%D9%8F%20%D9%85%D9%8E%D9%8A%D9%92%D8%AA%D9%8E%D8%AA%D9%8F%D9%87%D9%8F" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/hadis-1-kitab-bulughul-marram-kesucian-air-laut-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hadis 1 Kitab Bulughul Marram (Kesucian Air Laut)</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/hadis-1-kitab-bulughul-marram-kesucian-air-laut/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/hadis-1-kitab-bulughul-marram-kesucian-air-laut/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 May 2011 09:35:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1942</guid>
		<description><![CDATA[Kesucian Air Laut
1.  عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، في البَحْرِ: هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ، الْحِلُّ مَيْتَتُهُأَخْرَجَهُ الأَرْبَعَةُ وَابْنُ أَبِيْ شَيْبَةَ وَاللَّفْظُ لَهُ وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَالتِّرْمِيْذِيُّ وَرَوَاهُ مَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ

Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang (hukum) air laut: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Kesucian Air Laut</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>1.  عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، في البَحْرِ: هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ، الْحِلُّ مَيْتَتُهُ</strong><strong>أَخْرَجَهُ الأَرْبَعَةُ وَابْنُ أَبِيْ شَيْبَةَ وَاللَّفْظُ لَهُ وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَالتِّرْمِيْذِيُّ وَرَوَاهُ مَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ</strong></p>
<ol>
<li>Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu ia berkata: Telah bersabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tentang (hukum) air laut: <em><strong>“</strong><strong>Air laut itu suci, (dan) halal bangkainya.</strong><strong>”</strong></em></li>
</ol>
<p>Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidziyy, Nasaa-i, Ibnu Majah, dan Ibnu Abi Syaibah, dan ini merupakan lafalnya, dan telah disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, dan Tirmizi dan telah diriwayatkan pula oleh Malik, Syafi’i dan Ahmad.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Penjelasan Hadis.</strong></span></p>
<p>Hadis ini akan dijelaskan dalam beberapa sub bahasan:</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Biografi Perawi Hadis.</strong></span></p>
<p>Perawi hadis ini adalah sahabat Nabi yang mulia Abu Hurairoh Abdurrahman bin Shakhr ad-Dausi yang terkenal dengan kunyah beliau “Abu Hurairah”. Beliau masuk islam pada tahun peristiwa perang Khaibar dan <em>mulazamah</em> (belajar) kepada Nabi sehingga menjadi sahabat yang terbanyak meriwayatkan hadis Nabi.<br />
<span id="more-1942"></span><br />
Beliau menjadi salah satu ulama besar dan ahli fatwa dikalangan sahabat dan terkenal dengan kewibawaan, ibadah dan sifat rendah hatinya. Imam al-Bukhari menyatakan, beliau memiliki delapan ratus murid atau lebih.</p>
<p>Beliau meninggal dunia di kota Madinah pada tahun 57 H. dan dimakamkan di pekuburan Baqi’..</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong><em>Takhrij</em></strong><strong> Hadis.</strong></span></p>
<p>Sebelum memulai dengan penjelasan <em>Takhrij</em> hadis ini, perlu kiranya disampaikan sedikit tentang pengertian <em>Takhrij</em> dan pembagian hadis menurut kreteria diterima atau tidak..</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Pengertian <em>Takhrij</em></strong></span></p>
<p><em>Takhrij</em> menurut bahasa mempunyai beberapa makna. Yang paling mendekati di sini adalah berasal dari kata <em>kharaja</em> ( <strong>خَرَجَ </strong>) yang artinya nampak dari tempatnya, atau keadaannya, dan terpisah, dan kelihatan. Demikian juga kata <em>al-ikhraj</em> ( <strong>اْلِإخْرَج </strong>) yang artinya menampakkan dan memperlihatkannya. Dan <em>al-makhraj</em> ( <strong>المَخْرَج </strong>) artinya artinya tempat keluar; dan <em>akhrajal-hadis wa kharrajahu</em> artinya menampakkan dan memperlihatkan hadis kepada orang dengan menjelaskan tempat keluarnya.</p>
<p><em>Takhrij</em> menurut istilah adalah menunjukkan tempat hadis pada sumber aslinya yang mengeluarkan hadis tersebut dengan sanadnya dan menjelaskan derajatnya ketika diperlukan.</p>
<p>Hadis yang sedang kita bahas ini dikeluarkan oleh Malik di Muwath-tha’-nya (I/45 –<em>Tanwiirul Hawalik syarah Muwath-tha</em><em>’</em><em> </em>oleh Suyuthi), Syafi’i di kitabnya Al Umm (I/16), Ahmad di Musnad-nya (2/232,361), Abu Dawud dalam sunan-nya (no: 83), Tirmizi (no: 69), Nasaa-i dalam sunannya (1/50, 176), Ibnu Majah dalam sunan-nya (no: 43), Ad Darimi dalam sunan-nya (1/186), Ibnul Jaarud dalam al-Muntaqaa’ (no: 43), Ibnu Khuzaimah dalam kitab sahih ibnu Khudzaimah (no: 777), Ibnu Hibban dalam sahihnya (no: 119 –Mawarid), Hakim dalam al-mustadrak (1/140-141), ibnu Abi Syaibah dalamal-Mushannaf (1/131) dan lain-lain, semuanya dari jalan imam Malik dari Sofwan bin Sulaim dari Sa’id bin Salamah (ia berkata:) sesungguhnya Mughirah bin Abi Burdah telah mengabarkan kepadanya, bahwasanya ia pernah mendengar Abu Hurairah berkata,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّا نَرْكَبُ الْبَحْرَ وَنَحْمِلُ مَعَنَا الْقَلِيْلُ مِنَ الْمَاءِ إِنْ تَوَضَّأْنَا بِهِ عَطِشْنَا أَفَنَـتَوَضَّأُ بِمَاءِ الْبَحْرِ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : هُوَ الطُّهُوْرُ مَاؤُهُ الحِلُّ مَيْتَتُهُ </strong></p>
<p>“Telah bertanya seorang laki-laki kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>: ya Rasulullah, kami akan berlayar di lautan dan kami hanya membawa sedikit air, maka kalau kami berwudlu dengan mempergunakan air tersebut pasti kami akan kehausan, oleh karena itu bolehkah kami berwudlu dengan air laut? Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, <em><strong>“</strong><strong>Laut itu suci airnya, (dan) halal bangkainya.</strong><strong>”</strong></em></p>
<p>Hadis ini sahih dan semua perawinya <em>tsiqah</em> (kredibel) dan termasuk para perawi sahih al-Bukhari dan Muslim (<em>asy-Syaikhan</em>), kecuali al-Mughiroh bin Abi Burdah. Beliau ini dihukumi<em> tsiqah</em> oleh imam An-Nasaa’i dan dimasukkan ibnu Hibban dalam kitab <em>Ats-Tsiqaat.</em></p>
<p>Hadis ini telah di-<em>sahih-</em>kan<em> </em>oleh <em>jama’ah ahli hadis</em>, diantaranya:</p>
<ol>
<li>Imam al-Bukhari, ketiak ditanya oleh imam at-Tirmizi tentang hadis ini, beliau menjawab : hadis ini <em>sahih.</em></li>
<li>Imam at-Tirmizi, ia berkata: hadis ini hasan sahih.</li>
<li>Imam Ibnu Khuzaimah.</li>
<li>Imam Ibnu Hibban.</li>
<li>Imam al-Hakim.</li>
<li>Ath-Thahawi</li>
<li>Al-Baihaqi</li>
<li>Ibnu Abdilbarr dalam at-Tamhid 16/218-219: Hadis ini menurutku sahih, karena para ulama telah menerima hadis ini dan beramal dengannya. Tidak ada seorang ahli fikih pun yang menyelisihinya secara umum.</li>
<li>Ibnul Mundzir.</li>
<li>Ibnu Mandah.</li>
<li>Al Baghawi.</li>
<li>Al-Khathabi.</li>
<li>Abdulhaq al-Isybili</li>
<li>Ibnu Taimiyah.</li>
<li>Ibnu Katsir.</li>
<li>Ibnul Atsir, ia berkata: ini hadis yang sahih lagi masyhur, telah dikeluarkan oleh para imam di kitab-kitab mereka, dan mereka telah berhujjah dengannya dan rawi-rawinya tsiqaat.</li>
<li>Ibnu Hajar.</li>
<li>Al-Albani, beliau menyatakan: ini sanadnya sahih semua perawinya <em>tsiqah</em> (kredibel). (<em>irwa</em><em>’</em><em> al-Ghalil</em> 1/43).</li>
</ol>
<p>Hadis di atas pun telah mempunyai beberapa jalan (<em>thuruq</em>) selain dari jalan imam Malik. dan juga telah mempunyai <em>syawaahid</em> dari jamaah para sahabat, diantaranya: Jabir bin Abdillah, Al Firaasiy, Ibnu Abbas, Abdullah bin ‘Amru, Anas bin Malik, Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar.</p>
<p>Syeikh Abdullah bin Abdurrahman ali Basaam menyatakan: Hadis ini disahihkan oleh para ulama diantaranya: al-Bukhari, al-Haakim, ibnu Hibaan, ibnu Mundzir, ath-Thahawi, al-baghawi, al-Khathabi, ibnu Khuzaimah, ad-Daraquthni, ibnu Hazm, ibnu Taimiyah, ibnu Daqiqil Ied, ibnu Katsir, ibnu Hajar dan lainnya sampai lebih dari 36 imam. (<em>Taudhih al-Ahkaam</em>, 1/115).</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Apa itu Hadis Sahih.</strong></span></p>
<p>Hadis yang sahih adalah hadis yang bersambung sanadnya dari awal hingga akhir baik itu Nabi atau sahabat atau yang dibawahnya dengan syarat para perawinya adil dan memiliki kesempurnaan Dhabth tanpa adanya syadz dan ilat yang merusaknya.</p>
<p>Inilah definisi hadis <em>sahih lidzatihi</em> yang sudah disepakati para ulama hadis.</p>
<p>Dari definisi ini dapat dijelaskan bahwa keluar dari definisi ini :</p>
<ul>
<li><em>Sahih lighairihi</em> karena ia butuh penguat dari jalan lain (<em>Mutaabi’</em>) atau  penguat dari hadis lainnya (<em>syaahid</em>) yang manguatkanya dan menjadikannya sahih.</li>
<li>Hadis-hadis yang tidak bersambung sanadnya, seperti <em>munqathi’, mu’dhal, mursal, dan mu’allaq.</em></li>
<li>Hadis-hadis yang ada perawinya yang tidak adil, seperti <em>matruk, maudhu’</em> dan <em>mungkar</em> –versi penulis <em>manzhumah</em>-.</li>
<li>Hadis-hadis yang ada perawinya yang tidak sempurna <em>Dhabth</em>-nya atau dicela karena kelemahan dalam hal ini, sepeti hadis hasan dan hadis <em>dha’if .</em></li>
<li>Hadis-hadis yang menyelisihi yang lebih kuat dan rajih darinya, seperti hadis Syaadz dan hadis mungkar –versi mayoritas ulama hadis dan dirajihkan ibnu Hajar.</li>
<li>Hadis-hadis yang ada <em>illat</em> yang merusaknya, seperti hadis <em>muallal </em>dan <em>mudallas </em>apabila pelaku <em>tadlis</em>-nya tidak menyampaikan kejelasan mendengarnya dengan lafal jelas.</li>
</ul>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Syarat hadis Sahih</span>.</strong></p>
<p>Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa hadis yang sahih memiliki 5 Syarat.</p>
<p><strong>1). </strong><em>Sanad</em>-nya bersambung. Maksudnya setiap perawi mendengar langsung dari gurunya.<br />
<strong>2).</strong><em> Al-‘Adalah</em> (adil). Maksudnya disini para perawi memiliki kemampuan yang membuatnya dapat konsisten dalam ketakwaan dan menjauhi kefasikan dan perusak muru’ah (harga diri dan kehormatannya). Hal ini dapat dijabarkan dengan muslim, baligh dan berakal yang tidak melakukan perbuatan dosa besar dan tidak terus menerus berbuat dosa kecil serta tidak berbuat perbuatan yang merusak muru’ahnya.<br />
<strong>3). </strong>Kesempurnaan <em>Adh-Dhabth</em>. Pengertiannya adalah kekuatan hafalan dan penjagaannya. Para ulama membagi sifat <em>adh-Dhabth</em> menjadi dua:</p>
<ul>
<li><em>Ad –Dhabt ash-Shadr</em> yaitu kemampuan untuk menyampaikan hafalannya kapan saja dan dimana saja.</li>
<li><em>Ad –Dhabt al-Kitaabah</em> yaitu kemampuan untuk menjaga kitab dan tulisannya sejak mendengarnya hingga menyampaikannya.</li>
</ul>
<p><strong>4). </strong>Tidak ada <em>syadz</em>-nya.</p>
<p><strong>5). </strong>Tidak ada <em>illat</em> yang merusaknya.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Contoh hadis sahih.</strong></span></p>
<p>Contohnya adalah hadis yang berbunyi,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>قَالَ الْبُخَارِيُّ : حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ عَبْدُ اللهِ بْنِ الزُّبَيْرِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيْدٍ الأَنْصَارِيْ قَالَ أَخْبَرَنِيْ مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ التَّيْمِيْ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيْ يَقُوْلُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقُوْلُ : ( إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِىءٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ<br />
</strong></p>
<p>Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam mengetahui hadis sahih setelah mendapatkan sanad dan matannya adalah sebagai berikut:</p>
<ul>
<li><strong><em><span style="text-decoration: underline;">Mengenal kedudukan dan pendapat para ulama tentang perawi yang ada dalam sanad satu persatu. Dalam hadis ini terdapat nama-nama perawi sebagi berikut:</span></em></strong></li>
</ul>
<ol>
<li>Abu Bakar Abdullah bin az-Zubair bin ‘Isaa al-Humaidi. Nasab beliau bertemu dengan Khadijah <em>ummul mukminin</em> pada Asad dan dengan Nabi pada Qushai. Seorang imam besar yang menemani Syafi’i dalam mencari ilmu dari Ibnu ‘Uyainah dan mengambil fikih dari beliau. Beliau seorang <em>tsiqah hafizh</em> dan <em>faqih</em> serta termasuk murid besar ibnu ‘Uyainah.  Beliau menemani imam asy-Syafi’i hingga ke Mesir dan baru pulang ke Makkah setelah asy-Syafi’i  wafat hingga meninggal tahun 219 H.</li>
<li>Abu Muhammad Sufyan bin      ‘Uyainah bin Abi ‘Imran al-Hilali al-Kufi kemudian al-Makki. Beliau      kelahiran Kufah dan menetap di Makkah. Beliau mendengar lebih dari 70 tabi’in.      ibnu Hajar menyatakan, “Beliau seorang <em>Tsiqat hafizh faqih </em>imam      hujjah namun berubah hafannya diakhir hayatnya dan melakukan <em>tadlis</em> namun hanya dari para perawi yang <em>tsiqah</em>. Beliau adalah orang yang      paling bagus hafalannya dalam hadis Amru bin Dinaar. Beliau termasuk murid      dari Yahya bin Saa’id al-Anshari. Meninggal pada bulan rajab tahun 178 H.      dalam usia 71 tahun</li>
<li>Abu Sa’id Yahya bin Sa’id      bin Qais bin ‘Amru al-Anshari al-Madani al-Qaadhi seorang <em>tsiqah tsabat</em> dan meninggal tahun 144 H.</li>
<li>Abu Abdillah Muhammad bin      Ibrahim bin al-Haarits bin Khalid at-Taimi al-Madani seorang <em>tsiqah</em> meninggal tahun 120 H.</li>
<li>‘Alqamah      bin Waqqaash al-Laitsi al-Madani seorang <em>tsiqah</em> <em>tsabat</em> dan      meninggal pada masa kekhilafahan Abdulmalik bin Marwan.<strong> </strong></li>
<li>Umar bin al-Khathab      al-‘Adawi sahabat nabi dan khalifah rasyid yang kedua.</li>
</ol>
<ul>
<li><strong><span style="text-decoration: underline;"><em>Mengenal bersambung atau tidaknya sanad hadis yang sedang dicari hukumnya, dengan cara melihat kepada </em><em>lafal simaa’ &#8211; nya. Didapatkan semua perawi menyampaikan dengan lafal yang jelas gamblang mendengar dari perawi diatasnya, sehingga dapat dipastikan mereka mendengar langsung dari perawi diatasnya</em></span></strong>.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong><em><span style="text-decoration: underline;">Mengumpulkan jalan      periwayatan hadis yang ada baik dalam riwayat lainnya atau hadis dari      sahabat lainnya untuk diketahui apakah ada yang menyelisihinya atau ada      illah (penyakit) yang merusak kebasahan hadis tersebut.</span></em></strong></li>
</ul>
<p><strong><em><span style="text-decoration: underline;"> </span></em></strong></p>
<ul>
<li><strong><em><span style="text-decoration: underline;">Kemudian baru dapat      menghukum hadis tersebut termasuk sahih atau tidak.</span></em></strong></li>
</ul>
<p>Ternyata bila kita terapkan syarat-syarat hadis sahih didapatkan semuanya ada pada hadis ini. Sehingga dihukumi sebagai hadis sahih.</p>
<p><strong>=Bersambung <em>insya Allah</em>=</strong></p>
<p><strong>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi,L.c.</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.ustadzkholid.com/" target="_blank">www.ustadzkholid.com</a></strong></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/hadis-1-kitab-bulughul-marram-kesucian-air-laut/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadis-1-kitab-bulughul-marram-kesucian-air-laut/&amp;title=Hadis+1+Kitab+Bulughul+Marram+%28Kesucian+Air+Laut%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadis-1-kitab-bulughul-marram-kesucian-air-laut/&amp;title=Hadis+1+Kitab+Bulughul+Marram+%28Kesucian+Air+Laut%29" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadis-1-kitab-bulughul-marram-kesucian-air-laut/&amp;t=Hadis+1+Kitab+Bulughul+Marram+%28Kesucian+Air+Laut%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadis-1-kitab-bulughul-marram-kesucian-air-laut/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Hadis+1+Kitab+Bulughul+Marram+%28Kesucian+Air+Laut%29+-+http://ustadzkholid.com/fiqih/hadis-1-kitab-bulughul-marram-kesucian-air-laut/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadis-1-kitab-bulughul-marram-kesucian-air-laut/&amp;title=Hadis+1+Kitab+Bulughul+Marram+%28Kesucian+Air+Laut%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hadis-1-kitab-bulughul-marram-kesucian-air-laut/&amp;title=Hadis+1+Kitab+Bulughul+Marram+%28Kesucian+Air+Laut%29" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Hadis+1+Kitab+Bulughul+Marram+%28Kesucian+Air+Laut%29+-+http://bit.ly/mqj831&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Hadis+1+Kitab+Bulughul+Marram+%28Kesucian+Air+Laut%29&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/hadis-1-kitab-bulughul-marram-kesucian-air-laut/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Kesucian%20Air%20Laut%0D%0A1.%C2%A0%20%D8%B9%D9%8E%D9%86%D9%92%20%D8%A3%D9%8E%D8%A8%D9%90%D9%8A%D9%92%20%D9%87%D9%8F%D8%B1%D9%8E%D9%8A%D9%92%D8%B1%D9%8E%D8%A9%D9%8E%20%D8%B1%D9%8E%D8%B6%D9%90%D9%8A%D9%8E%20%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%8F%20%D8%B9%D9%8E%D9%86%D9%92%D9%87%D9%8F%20%D9%82%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%8E%3A%20%D9%82%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%8E%20%D8%B1%D9%8E%D8%B3%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%84%D9%8F%20%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%20%D8%B5%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%8E%D9%89%20%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%20%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%8A%D9%92%D9%87%D9%90%20%D9%88%D9%8E%D8%B3%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%8E%D9%85%D9%8E%D8%8C%20%D9%81%D9%8A%20%D8%A7%D9%84%D8%A8%D9%8E%D8%AD%D9%92%D8%B1%D9%90%3A%20%D9%87%D9%8F%D9%88%D9%8E%20%D8%A7%D9%84%D8%B7%D9%91%D9%8E%D9%87%D9%8F%D9%88%D9%92%D8%B1%D9%8F%20%D9%85%D9%8E%D8%A7%D8%A4%D9%8F%D9%87%D9%8F%D8%8C%20%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%AD%D9%90%D9%84%D9%91%D9" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/hadis-1-kitab-bulughul-marram-kesucian-air-laut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bulughul Maram (Seri 06-Kitab Ath-Thaharah)</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-06-kitab-ath-thaharah/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-06-kitab-ath-thaharah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Apr 2011 04:26:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1912</guid>
		<description><![CDATA[Kitab Ath-Thaharah (كتاب الطهارة)
Imam Ibnu Hajar memulai kitab beliau Bulughulmaram dengan kitab Ath-Thaharah sebagaimana para ulama lainnya dalam menulis kitab-kitab fikih. Para ulama mendahulukan kitab Thaharah karena beberapa alasan, diantarnya:
a). Hadits-hadits shahih dari Rasulullah seputar syiar-syiar Islam dimulai dengan shalat, lalu zakat, puasa dan haji setelah syahadatain. Seperti disebutkan dalam hadits  Abdillah bin Umar yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Kitab <em>Ath-Thaharah </em>(</strong><strong>كتاب الطهارة</strong><strong>)</strong></p>
<p>Imam Ibnu Hajar memulai kitab beliau <em>Bulughulmaram</em> dengan kitab <em>Ath-Thaharah </em>sebagaimana para ulama lainnya dalam menulis kitab-kitab fikih. Para ulama mendahulukan kitab <em>Thaharah</em> karena beberapa alasan, diantarnya:</p>
<p><strong>a).</strong> Hadits-hadits <em>shahih</em> dari Rasulullah seputar syiar-syiar Islam dimulai dengan shalat, lalu zakat, puasa dan haji setelah <em>syahadatain</em>. Seperti disebutkan dalam hadits  Abdillah bin Umar yang berbunyi,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>قَالَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; « بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ » .</strong><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><em>Rasulullah telah bersabda</em>, <em>‘Islam dibangun diatas lima rukun; syahadatain, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadhan.’”</em> (<em>Muttafaqun ‘alihi</em>).<br />
<span id="more-1912"></span><br />
Di sini shalat menjadi rukun pertama yang bersifat <em>amaliyah</em> sehingga didahulukan dari selainnya. Namun shalat memiliki kunci yang menjadi syarat sahnya yaitu <em>Thaharah</em>. Karena itu Rasulullah bersabda,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>« مِفْتَاحُ الصَّلاَةِ الطُّهُورُ وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ »</strong></p>
<p><em>”Kunci pembuka shalat adalah thaharah dan pengharamnya adalah takbir dan pembubarnya (penutupnya) adalah taslim (baca salam).”</em> (HR.  At-Tirmidzi dan di-<em>shahih-</em>kan Al-Albani dalam <em>shahih</em> sunan At-Tirmidzi).</p>
<p><em>Thaharah</em> menjadi syarat sah shalat yang terpenting sebagaimana dijelaskan Allah dalam firman-Nya,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاَةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلِكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِن كُنتُم مَّرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَآءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ الْغَآئِطِ أَوْ لاَمَسْتُمُ النِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَآءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ مَايُرِيدُ اللهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ </strong></p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu, Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmAt-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” </em>(QS. Al-Maaidah: 6).<em> </em></p>
<p>Nabi pun bersabda,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>لاَ يَقْبَلُ اللَّهُ صَلاَةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ</strong></p>
<p><em>“Allah tidak menerima shalat salah seorang kalian apabila berhadats hingga berwudhu.”</em></p>
<p><strong>b). </strong><em>Thaharah</em> adalah <em>takhliyah</em> (pensucian atau pengosongan), karena ia adalah pembersihan dan pensucian. Dikatakan para ulama “<em>At-takhliyah qabla At-tahliyah</em> (Pemurnian sebelum penghiasan).”</p>
<p><strong>c). </strong><em>Thaharah</em> adalah syarat sah shalat yang paling banyak rincian dan cabang permasalahannya.</p>
<p>Karena itulah para ulama penulis kitab fikih mendahulukan kitab <em>At-Thaharah </em>atas selainnya.</p>
<p>Imam Ash-Shan’ani berkata, “Beliau (ibnu Hajar) memulai dengan (kitab) <em>Thaharah</em> karena mengikuti tata cara para penulis (buku fikih) dan untuk mendahualukan perkara agama dari selainnya. Juga untuk memperhatikan amalan yang terpenting, yaitu shalat. Ketika <em>Thaharah</em> menjadi salah satu syarat shalat, maka beliau memulai dengannya. Kemudian ketika air adalah yang diperintahkan secara asal untuk dijadikan alat bersuci maka beliau dahulukan juga.” (<em>Subulus Salam,</em> 1/80).</p>
<p>Demikian juga imam Muhammad bin Ali Asy-Syaukani menjelaskan sebab didahulukannya kitab <em>Ath-Thaharah</em> dari yang lainnya dalam penulisan kitab fikih dengan menyatakan, “Ketika kunci shalat yang merupakan tiang agama maka para penulis kitab fikih membuka karya tulis mereka dengannya.” (<em>Nailul Authaar</em> 1/23).</p>
<p>Pernyataan imam ibnu Hajar : (<strong>كتاب الطهارة</strong>)     terdiri dari dua kosa kata yaitu: kata (<strong>كتاب</strong>) dan kata (<strong>الطهارة</strong>) <strong> </strong><strong>. </strong></p>
<p><strong>Pengertian kata kitab</strong>.<strong> </strong></p>
<p>Kata (<strong>كتاب</strong>) dalam bahasa arab adalah <em>mashdar</em> dari kata (<strong>كَتَبَ – يَكْتُبُ – كِتَابًا وَ كِتَابَةً وَ كُتْبًا</strong><strong> </strong>) <strong>. </strong>susunan kata dari huruf tiga ini memiliki pengertian kumpul atau bersatu. Diantara pengertian ini adalah pernyataan: (<strong>اكتتب بنو فلان</strong>) apabila berkumpul dan (<strong>الكتيبة </strong>) bermakna kumpulan kuda perang dan (<strong>الكتاب</strong>) karena berkumpulnya kata-kata dan huruf. Dinamakan sebagai kitab karena mengumpulkan yang diletakkan padanya. (<em>Fathul Majid Tahqiq Asyraf Abdulmaqshud,</em> 1/17).</p>
<p>Kitab dalam istilah para ulama adalah semua yang ditulis diatas kertas untuk disampaikan kepada orang lain atau yang ditulis untuk menjaga dari kelupaan. Namun kata kitab juga digunakan para ulama untuk semua yang menyatukan beberapa bab pembahasan dan fasal (Lihat <em>Taudhih Al-Ahkaam</em> 1/113 dan <em>Nailulautha</em>r 1/23).</p>
<p>Penggunaan yang kedua inilah yang dimaksudkan dari pernyataan ibnu Hajar : Kitab <em>At-Thaharah</em>.</p>
<p><strong>Pengertian kata <em>Thaharah</em> dan Pembagiannya.</strong></p>
<p>Sedangkan pengertian <em>Thaharah</em> dalam bahasa arab memberikan pengertian kebersihan dan kesucian dari kotoran baik yang berujud dzat (Hissiyah) atau yang ma’nawiyah. (taudhih Al-Ahkaam 1/113 dan master textbook GHDT 5083 hlm 10). Diantara kotoran yang bewujud (Hissiyah) adalah kencing dan tinja. Sedangkan contoh yang ma’nawiyah adalah syirik dan semua kebejatan akhlak.</p>
<p>Dengan demikian <em>Thaharah</em> terbagi menjadi dua;</p>
<p><em><strong>Pertama: </strong></em><em>Thaharah ma’nawiyah</em> yang ada di <em>kalbu</em>, seperti dijelaskan dalam firman Allah,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>أُوْلاَئِكَ الَّذِينَ لَمْ يُرِدِ اللهُ أَن يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمْ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْي وَلَهُمْ فِي اْلأَخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمُ</strong></p>
<p><em>Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan didunia dan diakhirat mereka beroleh siksaan yang besar. (QS. 5:41)</em></p>
<p>Juga dalam firmanNya:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلاَتَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ اْلأُوْلَى وَأَقِمْنَ الصَّلاَةَ وَءَاتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا</strong></p>
<p><em>Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta&#8217;atilah Allah dan Rasul-Nya.Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS. 33:33)</em></p>
<p><em>Thaharah</em> ma’nawiyah ini menjadi bagian dari ilmu aqidah.</p>
<p><strong><em>Kedua:</em></strong> <em>Thaharah</em> <em>Hissiyah</em>. Ini yang menjadi bagian dari pembahasan ilmu fikih yang menjadi tujuan penulisan kitab <em>Bulughulmaram</em>.</p>
<p>Tentang pembagian <em>Thaharah</em> ini, syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menyatakan: <em>Thaharah</em> dalam syariat digunakan untuk dua pengertian:</p>
<p><strong>1). </strong><em>Thaharah</em> <em>qalbu</em> (pensucian kalbu) dari kesyirikan dalam ibadah, sikap benci dan permusuhan kepada hamba Allah yang mukmin. Ini lebih penting daripada <em>Thaharah</em> badan, bahkan tidak mungkin <em>Thaharah</em> badan terlaksanakan dengan adanya kotoran syirik. Allah berfirman:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَس</strong></p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis</em>.&#8221;  (QS. At-Taubah: 28).</p>
<p>Nabi pun bersabda,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>إِنَّمَا الْمُؤْمِنُ لاَ يَنْجُسُ</strong></p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya mukmin itu tidak najis.</em> &#8221; (<em>Muttafaqun ‘alaihi</em>).</p>
<p><strong>2). </strong><em>Thaharah hissiyah </em>(<em>Thaharah</em> badan). <em>(Syaehu Al-Mumti’ ‘Ala Zaad Al-Mustaqni’</em>, 1/25).</p>
<p><em>Thaharah</em> Hissiyah atau <em>Thaharah</em> badan ini didefinisikan para ulama fikih dengan:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>اِرْتِفَاعُ الحَدَثِ بِالْمَاءِ أو التُرَابِ الْمُطَهِّرَيْنِ وَ فِيْ مَعْناه وَ زَوَال النَّجَسِ</strong></p>
<p>Mengangkat <em>hadats</em> dengan air atau debu yang mensucikan dan yang semakna (dgn pengangkatan <em>hadats</em>) dengannya serta<strong> </strong> menghilangkan najis.  Dari definisi ini ada beberapa istilah yang perlu dijelakan:</p>
<ul>
<li>(<strong>اِرْتِفَاعُ الحَدَثِ بِالْمَاءِ أو التُرَابِ الْمُطَهِّرَيْنِ</strong>)  <em>Hadats</em> adalah sifat yang ada dalam badan mencegah dari shalat dan sejenisnya yang disyaratkan padanya <em>Thaharah</em>. Sehingga mengangkat <em>hadats</em>adalah menghilangkan sifat hukum tersebut. Mengangkat <em>hadats</em> ini dapat dilakukan dengan air dan debu. Mengangkat <em>hadats</em> dengan menggunakan air pada <em>wudhu</em> dan mandi dan menggunakan debu dalam tayammum.</li>
</ul>
<ul>
<li>(<strong>وَ فِيْ مَعْناه</strong>) maksudnya adalah bersuci yang dianjurkan namun tidak dalam rangka mengangkat <em>hadats</em> seperti memperbaharui <em>wudhu</em> orang yang belum batal <em>wudhu</em>nya dan mandi-mandi sunnah.</li>
</ul>
<ul>
<li>(<strong>وَ زَوَال النَّجَسِ</strong>) bermakna hilangnya najis. Penggunaan kalimat (hilangnya najis) lebih umum dari kalimat menghilangkan najis (إزالة<strong> النَّجَسِ</strong>), karena kata menghilangkan (إزالة) merupakan perbuatan <em>mukallaf</em>. Sedangkan kata hilangnya najis bisa dengan perbuatan mukallaf dan bisajuga perbuatan yang lain, seperti seandainya turun hujan ditanah yang terkena najis atau mengenai pakaian yang terkena najis sehingga hilang najisnya, maka itu membuatnya suci, sebab dalam menghilangkan najis tidak disyaratkan niat .</li>
</ul>
<p>Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa <em>thaharah</em> badan terbagi menjadi dua:</p>
<ol>
<li><em>Thaharah</em> dari <em>hadats</em>. <em>Thaharah</em> dari <em>hadats</em> ini terbagi menjadi dua; <em>Thaharah</em> dari <em>hadats</em> kecil dengan <em>wudhu</em> atau penggantinya yaitu <em>tayammum</em> dan <em>Thaharah</em> dari <em>hadats</em> besar dengan mandi wajib atau penggantinya yaitu <em>tayammum</em>.</li>
<li><em>Thaharah</em> dari najis.</li>
</ol>
<p><em>Thaharah</em> badan ini membutuhkan alat dan sarana yangdigunakan untuk bersuci, menghilangkan najis dan mengangkat <em>hadats</em>. Alat yang dijelaskan Allah sebagai alat bersuci adalah air<a href="#_ftn1">[1]</a>, seperti dalam firman Allah,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاَةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلِكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِن كُنتُم مَّرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَآءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ الْغَآئِطِ أَوْ لاَمَسْتُمُ النِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَآءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ مَايُرِيدُ اللهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ </strong></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu, Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmAt-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” </em>(QS. Al-Maaidah: 6)<em> </em></p>
<p>Karena itulah, imam Ibnu Hajar mengedepankan permasalahan air dalam kitab <em>Thaharah</em> ini, dengan menyatakan (<strong>باب المياه</strong>) yaitu bab tentang air.</p>
<p>Imam An-Nawawi menjelaskan tentang urutan ini dalam pernyataan beliau, “Para penulis kitab fikih memulai dalam kitab-kitab fikih dengan kitab <em>Thaharah</em> kemudian bab tentang air (<strong>باب المياه</strong>)  karena keselarasan yang indah dan mengamalkan hadits Nabi <em>shallallahu ‘lahi wa sallam</em> yang diriwayatkan imam Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Ibnu Umar bahwa Rasulullah pernah bersabda,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>« بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ » .</strong></p>
<p><em>“Islam dibangun diatas lima rukun; syahadatain, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadhan (Muttafaqun ‘alihi). (disini) Rasulullah memulai setelah iman dengan shalat, sehingga mendahulukan shalat lebih penting menurut para penulis tersebut dalam kitab-kitab fikih.”</em> (<em>Al-Majmu’ Syarhu Al-Muhadzdzab,</em> 1/80).<br />
-Bersambung <em>insya Allah</em>-</p>
<p>Penulis Ustadz Kholid Syamhudi,L.c.<br />
Artikel <a href="http://www.Ustadzkholid.com" target="_blank">www.ustadzkholid.com</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Lihat <em>Syarhu al-Mumti’</em>, 1/27</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-06-kitab-ath-thaharah/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-06-kitab-ath-thaharah/&amp;title=Bulughul+Maram+%28Seri+06-Kitab+Ath-Thaharah%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-06-kitab-ath-thaharah/&amp;title=Bulughul+Maram+%28Seri+06-Kitab+Ath-Thaharah%29" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-06-kitab-ath-thaharah/&amp;t=Bulughul+Maram+%28Seri+06-Kitab+Ath-Thaharah%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-06-kitab-ath-thaharah/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Bulughul+Maram+%28Seri+06-Kitab+Ath-Thaharah%29+-+http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-06-kitab-ath-thaharah/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-06-kitab-ath-thaharah/&amp;title=Bulughul+Maram+%28Seri+06-Kitab+Ath-Thaharah%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-06-kitab-ath-thaharah/&amp;title=Bulughul+Maram+%28Seri+06-Kitab+Ath-Thaharah%29" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Bulughul+Maram+%28Seri+06-Kitab+Ath-Thaharah%29+-+http://bit.ly/eNt884&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Bulughul+Maram+%28Seri+06-Kitab+Ath-Thaharah%29&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-06-kitab-ath-thaharah/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Kitab%20Ath-Thaharah%20%28%D9%83%D8%AA%D8%A7%D8%A8%20%D8%A7%D9%84%D8%B7%D9%87%D8%A7%D8%B1%D8%A9%29%0D%0AImam%20Ibnu%20Hajar%20memulai%20kitab%20beliau%20Bulughulmaram%20dengan%20kitab%20Ath-Thaharah%20sebagaimana%20para%20ulama%20lainnya%20dalam%20menulis%20kitab-kitab%20fikih.%20Para%20ulama%20mendahulukan%20kitab%20Thaharah%20karena%20beberapa%20alasan%2C%20diantarnya%3A%0D%0A%0D%0Aa%29.%20Hadits-hadits%20shahih%20dari%20Rasul" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-06-kitab-ath-thaharah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bulughul Maram (Seri 03-Mengenal Kitab Bulughul-Maram)</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-03-mengenal-kitab-bulughul-maram/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-03-mengenal-kitab-bulughul-maram/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Apr 2011 05:37:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1893</guid>
		<description><![CDATA[Kitab Bulugh Al-Maraam termasuk karya ilmiah terbaik dan terpenting dalam penyusuan dan pengumpulan hadit-hadits ahkam yang ringkas. Memuat sekitar 1520 hadits dan ada yang menyebut jumlahnya 1596 hadits yang menjadi sandaran hukum-hukum syariat disusun sesuai bab-bab fikih dengan penjelasan martabat hadits dan perawi serta ulama yang mengeluarkannya.
Cetakan kitab Bulugh Al-Maram
Kitab Bulugh Al-Maraam telah dicetak dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kitab <em>Bulugh Al-Maraam</em> termasuk karya ilmiah terbaik dan terpenting dalam penyusuan dan pengumpulan hadit-hadits <em>ahkam</em> yang ringkas. Memuat sekitar 1520 hadits dan ada yang menyebut jumlahnya 1596 hadits yang menjadi sandaran hukum-hukum syariat disusun sesuai bab-bab fikih dengan penjelasan martabat hadits dan perawi serta ulama yang mengeluarkannya.</p>
<p><strong>Cetakan kitab Bulugh Al-Maram</strong></p>
<p>Kitab <em>Bulugh Al-Maraam</em> telah dicetak dalam banyak penerbit, diantaranya:</p>
<ol>
<li><span id="more-1893"></span>Cetakan Hajariyah di Laktaw tahun 1253 H.</li>
<li>Cetakan Lahore tahun 1305 H.</li>
<li>Cetakan Mathba’ Al-Anshari di Newdelhi, India tahun 1311 H.</li>
<li>Cetakan Mathba’ah At-Tamaddun Ash-Shina’iyah di Mesir tahun 1320 H.</li>
<li>Cetakan Mathba’ah Mushthafa Muhammad di Mesir dengan <em>tash-hih</em> Syeikh Muhammad Haamid Al-Faqi tahun 1348 H., lalu cetakan kedua tahun 1352 H. dengan tambahan dan penomoran hadits dengan jumlah hadits menurut cetakan ini 1596 hadits.</li>
<li> Cetakan Mathba’ah Abdulhamid Hanafi dengan <em>tash-hih</em> Syeikh Abdullah bin Muhammad Ash-Shidiq Al-Ghumari tahun 1372.</li>
<li>Cetakan Dar Al-Kitab Al-‘Arabi tahun 1374 H dengan <em>tash-hih</em> Syeikh Ridhwan Muhammad Ridhwan yang bersandar kepada cetakan lahore tahun 1305 H. Jumlah haditsnya versi beliau adalah 1356 hadits.</li>
<li>Cetakan Dar Al-‘Ahdi dan dipasarkan Maktabah An-Nahdhah Al-Haditsiyah di Makkah pada tahun 1372 H. dengan <em>tash-hih</em> Thoha Muhammad Az-Zaini  dan <em>ta’liq</em> As-Sayyid Muhammad Amin Al-Kutubi. Cetakan ini bersandar kepada naskah cetakan Mushthofa Al-Yabi Al-Halabi tahun 1351 H. dan naskah cetakan Mathba’ah Mushthofa Ahmad tahun 1352 H dan ada <em>ta’liq</em> Abdullah Al-Ghumari yang sama persis dengan <em>ta’liq</em> Syeikh Muhammad Haamid Al-faqi dengan dihapus sebagian <em>Muqaddimah</em>-nya saja.</li>
<li>Cetakan Mathabi’ Al-Kitab Al-‘Arabi tahun 1373 H. dengan <em>Tash-hih</em> Syeikh Muhammad Ridhwan.</li>
<li>Cetakan Dar Ihya Al-Ulum di Baerut dengan <em>tahqiq</em> Syeikh Usamah Shalahuddin Manimanah tahun 1412 H.</li>
<li>Cetakan kairo tahun 1414 H. dengan <em>tahqiq</em> dan <em>takhrij</em> Syeikh ‘Ishamuddin Sayyid Ash-Shababathi diterbitkan Dar Al-Hadits di Kairo. Cetakan ini dilengkapi dengan pendapat syeikh Al-Albani tentang hukum haditsnya.</li>
<li>Cetakan Dar Ibnu Katsir Damaskus dengan <em>tahqiq</em> Syeikh Yusuf Ali Badiwi, cetakan keduanya tahun 1415 H.</li>
<li>Cetakan Maktabah Nizar Musthofa Al-Baz di makkah tahun 1417 H. dengan <em>tahqiq</em> Markaz Ad-Dirasat wa Al-Buhuts di penerbit tersebut.</li>
<li>Cetakan maktabah Ad-Dalil di Al-Jubail KSA. tahun 1417 H. dengan <em>tahqiq</em> Samir bin Amin Az-Zuhairi. Pen-<em>tahqiq</em> bersandar kepada dua naskah manuskrip. Kemudian cetakan keduanya dicetak Dar adh-Dhiya’ di Riyadh tahun 1419 H. Sedangkan cetakan ke tujuh tahun 1424 H. dicetak Dar Al-Falaq Riyadh.</li>
<li>Cetakan Dar Al-‘Athar Riyadh tahun 1424  H. dengan <em>tahqiq</em> Abu Mu’adz Thariq bin ‘Audhullah Muhammad. Pen<em>tahqiq</em> bersandar kepada empat naskah manuskrip dari kitab ini dengan tambahan <em>takhrij</em> ringkas.</li>
<li>Cetakan maktabah <em>Takhrij</em>Rusyd cetakan pertama tahun 1426 H dengan <em>ta’liq</em> Ahmad bin Sulaiman. Ia bersandar kepada 3 naskah manuskrip dengan merujuk kepada naskah yang telah dicetak dengan <em>ta’liq</em> Syeikh Al-faqi dan naskah Subul As-Salam yang telah divetak dengan <em>tahqiq</em> Muhammad Shubhi Halaq.</li>
</ol>
<p>Demikian sebagian cetakan yang ada dengan harapan mudah-mudahan bermanfaat.</p>
<p><strong>Keistimewaan kitab Bulugh Al-Maram.</strong></p>
<p>Kitab ini sebagaimana disampaikan penulisnya dalam <em>Muqaddimah</em> kitabnya ini, “Ini adalah ringkasan yang mencakup pokok dalil-dalil dari hadits-hadits berkenaan dengan hukum-hukum syari. Aku pilihkan secara teliti agar orang yang menghafalnya menjadi menonjol diantara sejawatnya dan dapat membantu para pelajar pemula serta para <em>mujtahid</em> tidak akan merasa cukup dengannya&#8230;” Ungkapan beliau ini sangat tepat, sebab fikih pasti butuh <em>istidlal</em> dari dalil Al-Qur`an dan Sunnah .</p>
<p>Kitab <em>Bulugh Al-Maram</em> ini memiliki banyak keistimewaan, diantaranya<a href="#_ftn1">[1]</a>:</p>
<p><strong>1. </strong> Beliau menyusun kitab, bab dan hadits-haditsnya sesuai dengan bab-bab fikih. Beliau menyampaikan nama kitab kemudian bab kemudian menyampaikan hadits-hadits yang khusus tentang hal itu. Terkadang menyampaikan nama kitab kemudian menyampaikan hadits-hadits tanpa menyebutkan bab sebagaimana dilakukan pada kitab <em>Al-Janaiz</em> dan awal-awal kitab <em>Az-Zakat, Shiyam dan An-Nikah</em> dan selainnya.</p>
<p><strong>2. </strong> Beliau mencukupkan hadits-hadits <em>marfu’</em> dan tidak memasukkan hadits-hadits <em>mauquf</em> kecuali sedikit, sebagaimana dalam kitab <em>An-Nikah, Bab Al-Iela’, Iddah</em> dan selainnya.</p>
<p><strong>3. </strong> Beliau meringkas hadits-hadits yang panjang dengan ringkasan yang indah tidak berubah dengan perubahan ibarat (ungkapan) dengan mencukupkan pada tempat istidlalnya saja. Umumnya beliau mencukupkan dalam menyampaikan hadits bagian yang menjadi dasar satu hukum (<em>Syahid</em>) dan kadang menyampaikan hadits yang asalnya panjang sampai satu halaman dalam sekitar satu baris atau dua baris.</p>
<p><strong>4.</strong> Beliau menghapus <em>sanad</em> periwayatan dan mencukupkan dengan perawi yang tertinggi saja dan terkadang menyampaikan perawi sebelum perawi tersebut dengan satu tujuan namun hal itu sedikit sekali.</p>
<p><strong>5. </strong> Umumnya beliau menjelaskan derajat hadits dari sisi <em>shahih</em>, hasan atau lemah. Hal ini adakalanya menukil dari selainnya atau menghukum sendiri. Apabila beliau menukil dari ulama lain maka beliau sampaikan nama ulama yang menilai shahih, hasan atau <em>dha’if</em>. Inilah diantaranya keistimewaan yang terpenting dan menjadi ruhnya ilmu hadits, sehingga pembaca mengetahui hadits-hadits yang shahih dari yang lemah. Walaupun beliau tidak menjelaskan sebab yang menjadikan hadits tersebut menjad lemah kecuali sangat sedikit. Ini nampaknya beliau lakukan untuk meringkas dan memudahkan pembaca pemula.</p>
<p><strong>6. </strong>Beliau terkadang menyebutkan permasalahan dalam <em>sanad</em>-<em>sanad</em> berupa <em>irs</em>a<em>l (Mursal), inqitha’</em> (<em>Mungqathi’</em>) atau <em>Waqf (Mauquf)</em> . kadang beliau merojihkan apabila hadits memiliki lebih dari satu <em>sanad</em>. Semua itu diungkapkan dengan ungkapan singkat.</p>
<p><strong>7. </strong> Beliau terkadang menyampaikan riwayat-riwayat dan hadits-hadits yang mendukung hadits yang beliau jadikan sebagai asal (pokok). Dan tidak melakukannya kecuali karena faedah berupa <em>taqy</em><em>î</em><em>d Al-Muthlaq, Tafshil Al-Mujmal, Taudhih Mughallaq, daf’u Ta’</em>a<em>rudh</em> atau sejenisnya.</p>
<p><strong>8. </strong> beliau telah mengumpulkan hadits-hadits yang dijadikan oleh para fuqaha’ sebagai tempat pengambilan hukum-hukum fikih dengan menjelaskan setelah setiap hadits para Imam yang meriwayatkan hadits tersebut berikut darajat haditsnya shahih atau <em>dha’if</em> tersusun secara sistematis berdasarkan bab-bab fikih. kemudian dimasukkan juga di bagian akhir buku ini pembagian yang lain tentang hadits adab, Akhlak, zikir dan doa, sehingga hadits di dalamnya mencapai sekitar 1596 Hadits.</p>
<p><strong>9. </strong> Kitab ini tidak hanya kitab fikih saja namun juga kitab hadits, dimana penulisnya menyusun kitab ini sesuai bab-bab fikih dimulai dengan kitab thoharah sampai <em>kitab Al-‘Itq</em> kemudian ditutup dengan satu kitab yaitu kitab <em>J</em><em>a</em><em>mi’ Fi Al-Adab wal Birr Wa Ash-Shilah Wa Al-Wara’ dan At-Tarhib</em> (ancaman) dari akhlak yang buruk dan kitab jami’ ini  diakhiri dengan bab <em>Adz-Dzikr wa Ad-Du’a</em>. Beliau menjelaskan dalil-dalil dari sunnah dengan perhatian besar terhadap siapa yang mengeluarkan hadits dengan menyatakan,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>أخرجه فلان وفلان</strong></p>
<p><strong>10. </strong> Perhatian yang besar terhadap <em>Takhrij</em> Hasits dan pembahasan tentang <em>sanad</em>, perawi dan penjelasan <em>ilah hadits</em>. Juga menyampaikan ulama yang mengeluarkan hadits diluar <em>kutub sittah</em> (6 kitab induk hadits yaitu Al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasaa’i dan ibnu Majah) dan tidak mencukupkan hanya dengan menyebut sebagian mereka.</p>
<p><strong>11. </strong> Meneliti dan mencari mayoritas atau seluruh jalan periwayatan hadits dengan menjelaskan hukum dan illah yang ada pada jalan periwayatan</p>
<p><strong>12. </strong> Menjelaskan tambahan <em>lafadz</em> yang ada atas <em>matan</em> hadits-hadits <em>kutub sittah</em> dan tidak mencukupkan hanya dengan <em>lafadz</em>nya tersebut. Juga adanya isyarat dengan menyatakan,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>زاد فلان كذا </strong><strong> </strong>atau<strong> </strong><strong> </strong><strong>فيه كذا</strong></p>
<p><strong>13. </strong> Mendahulukan <em>ashah Al-Ahadits</em> (hadits yang ter-<em>sh</em><em>a</em><em>hih</em>) pada setiap bab dan meninggalkan riwayat yang dilemahkan para ulama.</p>
<p><strong>14. </strong> Ringkasnya beliau dalam menjelaskan <em>lafadz jarhu</em> dan <em>ta’diel</em> dengan menyampaikan <em>lafadz</em> yang singkat namun bermakna pas dan benar.</p>
<p>Demikian sebagian dari keistimewaannya sehingga para ulama memberikan perhatian serius terhadap kitab ini.</p>
<p><strong>Syarah</strong><strong> Bulugh Al-Maram.</strong></p>
<p>Diantara <em>syarah</em> kitab <em>Bulugh Al-Maraam</em> ada yang telah dicetak dan ada yang masih berupa naskah manuskrip atau dalam bentuk rekaman. Diantara yang telah dicetak adalah: <em> </em></p>
<p><strong>1. </strong><em>Badru At-Tamaan Syarhu Bulugh Al-Maraam</em> (البدر      التمام شرح بلوغ المرام), karya Syarafuddin Al-Husein bin Muhammad Sa’id bin ‘Isa Al-Laa’i      yang dikenal dengan Al-Maghribi wafat tahun 1119 H. Kitab ini pertama kali      dicetak tahun 1414 H. di Mathaabi’ hajar di kairo sebagai sebuah skripsi      dengan <em>tahqiq</em> Ali bin Abdillah Az-Zabn, namun hanya sampai <em>syarah</em> hadits ke 197 saja. Kemudian Allah berikan kemudahan dengan munculnya      cetakan lengkap kitab ini dari Daar Al-Wafa’ di Al-Manshurah, Mesir      bekerja sama dengan WAMI dengan <em>tahqiq</em> DR. Muhammad Syahuud Khirfaan      dicetak tahun 1425 H dalam lima jilid. Imam Asy-Syaukani dalam Al-Badru Ath-Thaali’      1/230 menyatakan tentang <em>syarah</em> ini bahwa ia adalah <em>syarah</em> yang      berbobot. Beliau menukil semua keterangan yang ada di kitab talkhish Al-Habir       atas matan hadits dan <em>sanad</em>nya,      kemudian apabila hadits ada di <em>shahih</em> <em>Al-Bukhari</em> maka beliau      menukil dari fathu Al-Baari. Apabila ada di <em>shahih</em> Muslim maka      menukil <em>syarah</em> An-Nawawi. Terkadang menukil juga dari kitab <em>syarah      As-Sunan</em> karya Ibnu Ruslaan, namun secara umum beliau tidak menibatkan      pernyataan dan penukilannya kepada ahlinya, padahal ia menyebutkannya      persis sama lafadznya. Juga menukil perbedaan ulama dari kitab <em>Al-Bahr Az-Zakhaar</em> dan terkadang dari kitab <em>Nihayah ibnu Rusyd</em>. Kesimpulannya kitab      ini adalah <em>syarah</em> yang berfaidah. <em> </em></p>
<p><strong>2. </strong><em>Subul As-Salaam Syarhu Bulugh Al-Maraam</em> (سبل السلام      شرح بلوغ المرام), karya imam Muhammad bin Isma`il Al-Amir Ash-Shan’aani      (1099-1182 H). Inilah <em>syarah</em> yang paling terkenal dan banyak      dimiliki para penuntut ilmu. Kitab ini telah dicetak dalam beberapa      cetakan diantaranya adalah:</p>
<ol>
<li>Cetakan Al-Mathba’ Al-Faaruqi di Newdelhi India tahun 1311 H.</li>
<li> Cetakan Al-Mathba’ah Al-Muniriyah di Mesir.</li>
<li>Cetakan Universitas Islam Imam Muhammad bin Su’ud dalam 4 jilid, cetakan keempatnya ditahun 1408 H dengan <em>tahqiq</em> di jilid pertama DR. Muhammad Muhriz Hasan Sulaami, jilid kedua oleh DR. Khalil Mulaa Khathir, jilid ketiga oleh DR. Husein bin Qasim Al-Husaini.</li>
<li>Cetakan Mathba’ah Al-Istiqamah di Kairo untuk Al-Maktabah At-Tijaariyah Mesir tahun 1368 H.</li>
<li>Cetakan Makyabah Al-Jumhuriyah Al-‘Arabiyah di mesir dengan <em>tahqiq</em> Thoha Abdurrouf Sa’ad tahun 1397 H.</li>
<li>Cetakan Daar Al-Kitaab Al-‘Arabi dengan <em>tahqiq</em>, <em>ta’liq</em> dan <em>Takhrij</em> Fawaaz Ahmad Zamrali dan Ibrohim Muhammad Al-Jamal, cetakan pertama  tahun 1405 H. dalam 4 jilid.</li>
<li>Cetakan Daar Ibnu Al-jauzi dengan <em>tahqiq</em> Muhammad Shubhi Hasan Halaaq pada tahun 1418 H. dalam 8 jilid.</li>
<li>Cetakan Daar Al-‘Ashimah dengan <em>tahqiq</em> Thaariq bin ‘Audhullah Muhammad pada tahun 1422 H dalam 5 jilid.</li>
</ol>
<p><strong>3. </strong><em>Mukhtashar Al-Kalaam ‘Ala Bulugh Al-Maraam</em> (مختصر الكلام على بلوغ المرام), karya      Syeikh Faishal bin Abdilaziz bin Mubaarak wafat tahun 1376 H. dicetak pada      tahun 1373 H. di Mathba’ah Mushthofa Al-Baabi Al-Halabi dan diterbitkan Al-Maktabah      Al-Ahliyah di Riyadh dalam Al-majmu’ah Al-jalilah yang merupakan kumpulan      tiga karya beliau yaitu: <em>Mukhtashar Al-Kaalam ‘Ala Bulugh Al-Maraam,      Mahaasin Ad-Din ‘ala Matni Al-Arba’in</em> dan <em>Maqaam TakhrijRasyaad      baina At-Taqlid wa Al-Ijtihad</em>. Dicetak kitab ini secara terpisah di      Daar Isybiliyaa di Riyadh tahun 1419 H.</p>
<p><strong>4. </strong><em>Fiqhu Al-Islaam Syahu Bulugh Al-Maraam</em> (فقه الإسلام      شرح بلوغ المرام), karya Syeikh Abdulqaadir Syaibat Al-Hamd. Kitab ini      dicetak di mathaabi’ <em>Takhrij</em>Rasyid di kota Madinah dalam 10 juz      sebagai wakaf untuk penuntut ilmu. Kemudian dicetak ulang pada tahun 1423      H. oleh Maktabah Al-Ma’aarif di Riyaadh dalam 10 juz dan diakhirnya ada      biografi penulis.</p>
<p><strong>5. </strong><em>Taudhih Al-Ahkaam Min Bulugh Al-Maraam</em> (توضيح      الأحكام من بلوغ المرام), karya Syeikh Abdullah bin      Abdirrahman Alu Basaam. Dicetak pertama kali dalam 6 jilid oleh Daar Al-Qiblat      Lits-Tsaqaafah Al-Islamiyah di Jeddah dan Hai’at Al-Ighaatsah kemudian      dicetak kedua kalinya tahun 1414 H. Syeikh terus memberikan tambahan      hingga keluar cetakan kelima sebelum wafatnya beliau yang diterbitkan oleh      Maktabah Al-Asadi di makkah tahun 1423 H.</p>
<p><strong>6. </strong><em>Hidayah Al-Anaam Bi Syarhi Bulugh Al-Maraam</em> (هداية      الأنام بشرح بلوغ المرام), karya DR. Abdurrasyid      Abdulaziz Saalim dicetak di Maktabah Asy-Syuruuq Mesir tahun 1422 H      sebagai cetakan pertama.</p>
<p><strong>7. </strong><em>Al-Ifhaam Syarhu Bulugh Al-Maraam</em> (الإفهام شرح      بلوغ المرام), karya Syeikh Abdulaziz bin Abdillah <em>Takhrij</em>Raajihi      dicetak di Daar Al-‘Ashimah Riyadh dalam 2 jilid cetakan pertama tahun      1425 H.</p>
<p><strong>8. </strong><em>I’laam Al-Anaam Syarhu Bulugh Al-Maraam Min Ahadits Al-Ahkam</em> (إعلام      الأنام شرح بلوغ المرام من أحاديث الأحكام) karya Prof.DR. Nuruddin ‘Itr.      Cetakan pertama tahun 1395 H di Daar Al-Fuurfuur di Damaskus dan yang      kesembilan tahun 1419 H.</p>
<p><strong>9. </strong><em>Qafwu Al-Atsar Fi Syarhi Bulugh Al-Maraam Bikalaam      ibni Hajar</em> (قفو الأثر في شرح بلوغ المرام بكلام ابن حجر), karya      Syeikh Abdulmun’im Ibrohim. Dicetak dalam 5 jilid oleh Maktabah Nizaat      Mushthofa Al-Baaz tahun 1420 H.</p>
<p><strong>10. </strong><em>Fathu Al-‘Alaam Syarhu Bulugh Al-Maraam</em> (فتح العلام      شرح بلوغ المرام), karya imam Asy-Syarif Shiddiq bin Hasan Khan Al-Bukhari      (1248-1307 H). <em>Syarah</em> ini dicetak pertama kali di Al-mathba’ah Al-Amiriyah      di Buulaaq Mesir tahun 1302 H, lalu di kopi Daar Shaadir di bairut.      Kemudian Markaz Al-‘Alamah Abdulaziz bin Baaz Liddirasaat Al-Islamiyah di      kota As-Salaam di India bekerja sama dengan dar Ad-Daa’i di Riyaadh      menyetak kitab ini dengan <em>tahqiq</em> Abdulmanaan Abdullathif Al-Madani      bersama DR. Muhammad Luqmaan As-Salafi dengan <em>muraja’ah</em> Muhammad      Muhsin Ash-Shidiqi dan Muhamma Maa Hataab At-Taimi dicetak tahun 1421 H.</p>
<p><strong>11. </strong><em>Nail Al-Maraam Syarhu Bulugh Al-Maraam</em> (نيل المرام      شرح بلوغ المرام), karya Muhamma bin Yaasin Abdullah seorang ulama kota Al-Maushil      Irak. Dicetak di mathba’ah Az-Zahra1 Al-haditsiyah di kota Al-maushil      tahun 1983 M.</p>
<p><strong>12. </strong><em>Ibaanah Al-Ahkaam Syarhu Bulugh Al-Maraam</em> (إبانة      الأحكام شرح بلوغ المرام), karya Hasan Sulaiman An-Nuri dan ‘Alwi Abaas Al-Maaliki.      Dicetak Daar Al-Fikr tahun 1424 H<em>.</em></p>
<p><strong>13. </strong><em>Tashiil Al-Ilmaam Bi Fiqhi Al-Ahadits Min Bulugh      Al-Maraam</em> (تسهيل الإلمام بفقه الأحاديث من بلوغ المرام), karya      Syeikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah alifauzaan anggota majelis ulama      besar saudi Arabiya (<em>Hai’at Kibaar Al-Ulama</em>). Dicetak dalam 7 jilid      cetakan pertama tahun 1427 H. oleh Abdussalaam bin      Abdillah alsulaiman. <em> </em></p>
<p><strong>14. </strong><em>Basyiir Al-Kiraam bi Bulugh Al-Maraam</em> (بشير الكرام      ببلوغ المرام) karya Syeikh Muhammad Amien Al-Kutubi<em>.</em></p>
<p><strong>15. </strong><em>Ittihaaf Al-Kiraam Bi At-Ta’liiq ‘ala Bulugh      Al-Maraam</em> (اتحاف الكرام بالتعليق على بلوغ المرام), karya      Syeikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuuri. Dicetak pertama kali di Al-Mathba’ah      As-Salafiyah di Banares, India pada tahun 1403 H kemudian dicetak ulang di      Daar As-Salaam di Riyadh pada tahun 1413H bekerja sama dengan Daar Al-faihaa1      di Damaskus. <em> </em></p>
<p><strong>16. </strong><em>Hasyiyah Ad-Dahlawi ‘ala Bulugh Al-Maraam</em> (حاشية      الدهلوي على بلوغ المرام), karya Syeikh Ahmad bin Hasan Ad-dahlawi wafat tahun 1338      H. Dicetak di India tahun 1325 H. kemudian dicetak Al-Maktab Al-Islami      tahun 1394 H. dalam 2 jilid.</p>
<p><strong>17. </strong><em>Syarhu Bulugh Al-Maraam</em> (شرح بلوغ      المرام), karya Abu Qutaibah Nazhar Muhammad Al-Faariyaabi      diterbitkan Daar Ash-Shumai’i di Riyaadh dalam dua jilid tahun 1418 H.</p>
<p><strong>18. </strong><em>Tuhfat Al-Kiraam Syarhu Bulugh Al-Maraam</em> (تحفة الكرام      شرح بلوغ المرام), karya DR. Muhammad Luqmaan As-Salafi.      Dicetak cetakan pertama tahun 1421 H di Daar Ad-Da’i di Riyadh bekerjasama dengan Markaz Bin Baaz      Liddirasaat Al-Islamiyah di India.</p>
<p><strong>19. </strong><em>Hasyiyah Asy-Syeikh Abdulaziz bin Abdullah binBaaz,</em> di susun Syeikh Abdulaziz      bin Ibrohim bin Qaasim seorang Qadhi di m<em>ahkam</em>ah <em>Takhrij</em>Riyadh      Al-Kubro. Cetakan pertama dalam dua jilid dicetak tahun 1424 H oleh Daar Al-Imtiyaaz.</p>
<p><strong>20. </strong><em>Fathu Al-Wahaab Syarhu Bulugh Al-Maraam</em> (فتح الوهاب      شرح بلوغ المرام), karya Syeikh Muhammad Ahmad <em>Takhrij</em>Raah Asy-Syinqithi      dicetak Dar Al-Fikr tahun 1404 H.</p>
<p><strong>21. </strong><em>Fathu Dzi Al-Jalaal wa Al-Ikraam Bisyarhi Bulugh Al-Maraam</em> (فتح ذي      الجلال والإكرام بشرح بلوغ المرام), karya Syeikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin wafat      tahun 1421 H.</p>
<p><strong>22. </strong><em>Haasayiyah Syeikh Abdulaziz bin Abdillah bin Baaz      ‘Ala Bulugh Al-Maraam Min Adillat Al-Ahkam. Murajaah</em> Syeikh Abdulaziz bin Ibrahim      bin Qaasim, cetakan pertama tahun 1424 H. Daar Al-Imtiyaaz, Riyaadh.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Syarah</strong><strong> Bulugh Al-Maraam yang masih berupa naskah manuskrip.</strong></p>
<p>Disamping kitab-kitab <em>syarah</em> <em>Bulugh Al-Maraam</em> yang sudah dicetak, ada juga yang masih tersimpan berupa naskah manuskrip, diantaranya:</p>
<ol>
<li><em>Ifhaam Al-Afhaam Syarhu Bulugh Al-Maraam</em> (إفهام      الأفهام شرح بلوغ المرام), karya As-Sayyid Yusuf bin Muhammad Al-Ahdal      wafat 1242 H.</li>
<li><em>Syarah</em> Syeikh Muhammad bin Ahmadin .</li>
<li><em>Syarah</em> Syeikh Muhammad ‘Abid Al-Anshari.</li>
<li><em>‘Iddatu Al-Hukaam Fi Syarhi Bulugh Al-Maraam</em> (<strong>عدة الحكام      في شرح بلوغ المرام</strong>), karya Al-Fairuzabaadi.</li>
<li><em>Tanwier Al-Afhaam Syerh Bulugh Al-Maraam</em> (<strong>تنوير      الأفهام شرح بلوغ المرام</strong>), karya Syeikh Haasyim Sa’id Al-Buqmi.</li>
<li><em>Syarahu bulugh am-Maraam</em>, karya Ibrahim bin Abbu      Qaasim bin Ibrahim bin Abdullah bin Jum’aan wafat tahun 922 H.</li>
<li><em>Manhat Al-Kalaam Syarhu Bulugh Al-Maraam</em> (<strong>منحة الكلام      شرح بلوغ المرام</strong>), karya Jamaluddin Yusuf bin Syaahin Sibti ibnu Hajar Al-‘Asqalani      wafat tahun 899 H.</li>
<li><em>Hasyiyah ‘ala Bulugh Al-Maraam</em>, karya Abdurrahman bin Muhammad aiJimi At-Tamimi      wafat tahun 1068 H.</li>
<li><em>Fathu Al-‘Alaam Syarhu Bulugh Al-Maraam</em> (<strong>فتح العلام      شرح بلوغ المرام</strong>), karya Syeikh Muhammad Yaasin      Al-Fadaani</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kitab-kitab Takhrij hadits-hadits Bulugh Al-Maraam.</strong></p>
<p>Para ulama dan penuntut ilmu memberikan perhatian dalam <em>Takhrij</em> dan hukum atas hadits yang ada di kitab <em>Bulugh Al-Maraam</em> disamping <em>syarah</em><em>-</em>nya. Diantara kitab-kitab <em>Takhrij</em> ini adalah:</p>
<ol>
<li><em>At-Tibyaan Fi Takhriij Ahaadits Bulugh Al-Maraam</em> (<strong>التبيان في تخريج أحاديث بلوغ      المرام</strong>), karya Khalid bin Dhaifullah Asy-Syalaahi      yang dicetak dalam 8 jilid di Muassasah <em>Takhrij </em>Risaalah tahun 1421      H.</li>
<li><em>Khulashah Al-Kalaam Fi Takhriij Ahadits Bulugh      Al-Maraam</em> (<strong>خلاصة الكلام في تخريج أحاديث بلوغ      المرام</strong>), karya Khalid bin Dhaifullah dicetak      di Maktabah <em>Takhrij </em>Rusyd tahun 1425 H. dalam 3 jilid dan merupakan      <em>tahdzib</em> dan pilihan dari kitab diatas.</li>
<li><em>Tambih Al-Kiraam ‘Ala Ahaadits Fi Bulugh Al-Maraam</em> (<strong>تنبيه الكرام على أحاديث      في بلوغ المرام</strong>), karya Abdullah bin Shalih Al-‘Ubailaan.<strong> </strong></li>
</ol>
<p>Demikiankanlah sebagian usaha dan perhatian ulama terhadap kitab ini mudah-mudahan memotivasi kita untuk memeperlajarinya.</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, L.c.<br />
Artikel <a href="http://www.Ustadzkholid.com" target="_blank">www.ustadzkholid.com</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Disusun secara bebas dari kitab <em>A</em><em>r-Raudh A</em><em>l-Basâm Fi Dzikri Mazâyâ wa Fadhâ`il Bulugh A</em><em>l-Marâm</em>, karya Hasan bin Shidiq Hasan Khaan hal. 52-53.<strong> </strong></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-03-mengenal-kitab-bulughul-maram/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-03-mengenal-kitab-bulughul-maram/&amp;title=Bulughul+Maram+%28Seri+03-Mengenal+Kitab+Bulughul-Maram%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-03-mengenal-kitab-bulughul-maram/&amp;title=Bulughul+Maram+%28Seri+03-Mengenal+Kitab+Bulughul-Maram%29" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-03-mengenal-kitab-bulughul-maram/&amp;t=Bulughul+Maram+%28Seri+03-Mengenal+Kitab+Bulughul-Maram%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-03-mengenal-kitab-bulughul-maram/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Bulughul+Maram+%28Seri+03-Mengenal+Kitab+Bulughul-Maram%29+-+http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-03-mengenal-kitab-bulughul-maram/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-03-mengenal-kitab-bulughul-maram/&amp;title=Bulughul+Maram+%28Seri+03-Mengenal+Kitab+Bulughul-Maram%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-03-mengenal-kitab-bulughul-maram/&amp;title=Bulughul+Maram+%28Seri+03-Mengenal+Kitab+Bulughul-Maram%29" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Bulughul+Maram+%28Seri+03-Mengenal+Kitab+Bulughul-Maram%29+-+http://bit.ly/ewb1F9&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Bulughul+Maram+%28Seri+03-Mengenal+Kitab+Bulughul-Maram%29&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-03-mengenal-kitab-bulughul-maram/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Kitab%20Bulugh%20Al-Maraam%20termasuk%20karya%20ilmiah%20terbaik%20dan%20terpenting%20dalam%20penyusuan%20dan%20pengumpulan%20hadit-hadits%20ahkam%20yang%20ringkas.%20Memuat%20sekitar%201520%20hadits%20dan%20ada%20yang%20menyebut%20jumlahnya%201596%20hadits%20yang%20menjadi%20sandaran%20hukum-hukum%20syariat%20disusun%20sesuai%20bab-bab%20fikih%20dengan%20penjelasan%20martaba" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-03-mengenal-kitab-bulughul-maram/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bulughul-Maram (Seri 02-Pendahuluan)</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-02-pendahuluan/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-02-pendahuluan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Apr 2011 07:51:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1873</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah pencipta langit dan bumi, yang menjadikan kegelapan dan cahaya yang terang, sementara mereka orang-orang kafir tetap dalam pengingkaran. Nikmat-nikmat Allah tidak dapat dihitung dan orang yang ber-tahmid tidak dapat menunaikan syukur kepadaNya serta tidak ada seorangpun yang dapat mensifati keagunganNya. Dialah yang menciptakan langit dan bumi, dan bila dia berkehendak maka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Segala puji bagi Allah pencipta langit dan bumi, yang menjadikan kegelapan dan cahaya yang terang, sementara mereka orang-orang kafir tetap dalam pengingkaran. Nikmat-nikmat Allah tidak dapat dihitung dan orang yang ber-<em>tahmid</em> tidak dapat menunaikan syukur kepadaNya serta tidak ada seorangpun yang dapat mensifati keagunganNya. Dialah yang menciptakan langit dan bumi, dan bila dia berkehendak maka cukuplah dengan berkata “<em>kun”</em> maka jadilah<em>, </em>Aku memuji dan bersyukur atas segala nikmat-Nya, aku memohon pertolongan kepada-Nya baik di kala lapang maupun sempit, aku bertawakal kepadanya atas segala katetapan dan ketentuannya, aku bersaksi bahwa tiada <em>ilah</em> (sesembahan yang benar) selain Allah, dan berkeyakinan bahwa tidak ada Rabb selain Dia, syahadat orang yang tidak meragukan persaksiannya, keyakinan orang yang tidak enggan beribadah kepada-Nya, aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya yang <em>Al-Amin</em> [terpercaya], dia adalah rasulnya yang paripurna, Allah memberinya keyakinan yang mantap, dia telah menunaikan amanah, dia menjelaskan risalah dengan baik, dia telah memberikan peringatan kepada umat, dia menyingkap segala yang kabur, dia memerangi di jalAn-Nya setiap yang menjadi penghalang kebenaran, dia telah beribadah kepada Rabbnya hingga akhir hayat, Maka pataslah bagi <em>sayyid Al-mursalin</em> shalawat dan <em>taslim</em>, kepada ahlu bait beliau yang mulia, kepada para sahabatnya yang menjadi pilihan umat, kepada istri-istrinya <em>umamahat Al-mu’minin</em> yang suci, dan kepada setiap yang mengikuti jejak dan langkahnya hinga hari kiamat,<a href="#_ftn1">[1]</a> <em>amma ba’d</em><em>u</em>.</p>
<p><span id="more-1873"></span>Sungguh Allah telah menentukan sekolompok dari umat ini sebagai pilihan.  Dia menunjuki mereka untuk senantiasa mentaatiNya dengan senantiasa meniti jalan orang-orang baik (<em>Abrâr</em>) dalam mengikuti sunnah dan <em>atsar</em> para sahabatnya, lalu menghiasi hati mereka dengan keimanan dan memudahkan lisan-lisan mereka dalam menjelaskan hokum agamanya serta mengikuti sunnah Nabi dengan cara terus menerus pergi dan <em>safar</em> serta meninggalkan keluarga dan negeri, demi mengumpulkan hadits-hadits Nabi, menolak ke-<em>bid’ah</em>-an, menggali <em>khazanah-</em>nya dengan meninggalkan filsafat dan ilmu kalam. Lalu muncullah satu kaum yang mengkonsentrasikan dirinya untuk hadits. Mereka mencarinya, melakukan perjalanan jauh dan menulis hadits, menanyakan dan menghafalnya, mengulang-ulang hafalannya dan menyebarkannya ke khalayak umum, mereka ber-<em>tafaqquh</em> dan membuat kaidah-kaidah agama. mereka juga memfokuskan segala tenaga untuknya, sehingga berhasil membedakan hadits yang <em>mursal</em> dari yang <em>muttasil</em>, yang <em>mauquf</em> dari yang <em>mun</em><em>qati’</em>, yang <em>nasikh</em> dari yang <em>mansukh</em>, yang <em>muhkam </em>dari yang <em>m</em><em>ukhtalaf, </em> yang <em>mufass</em><em>a</em><em>r</em> dari yang <em>mujmal</em>, yang masih berlaku dari yang tidak berlaku lagi, yang <em>gharib</em> dari <em>masyhur</em>.</p>
<p>Mereka juga mampu meninggalkan perawi yang dicela dan orang-orang lemah yang ditinggalkan dan menyingkap perawi mana yang tidak dikenal (<em>majhul)</em>, mana yang telah di ganti atau di tukar berupa usaha <em>tadlis </em>&amp; yang berisi <em>talbis</em>, hingga Allah menjaga keaslian agama ini melalui tangAn-tangan mereka dan melindunginya dari tangAn-tangan jahil orang jahat. Allah jadikan mereka sebagai pemimpin kebenaran pada kondisi persilihan, dan lampu-lampu penerang dalam masalah-masalah baru yang menimpa umat merekalah itulah para pewaris Nabi, serta rujukan umat yang pilihan<a href="#_ftn2">[2]</a>.</p>
<p>Allah telah menjadikan <em>ahlu al-hadits</em> sebagai rukun dari syariat, dan melalui mereka membasmi segala <em>bid’ah</em>, mereka adalah duta-duta Allah dari makhluknya, dan  penyambung lidah Rasulullah kepada umatnya , para <em>mujtahid</em> yang bersungguh-sungguh mengeksiskan agama-Nya, cahaya mereka selalu bersinar, keutamaan mereka senantiasa hidup, <em>madzhab</em> mereka terkenal dan <em>hujja</em>h mereka terdepan. Semua kelompok yang mengidolakan hawa nafsu akan kembali atau menganggap baik pendapat yang dimilikinya saja. Kecuali <em>ahlu al-hadits</em>, mereka menjadikan kitab Allah sebagai bekal mereka dan sunnah Nabi yang suci sebagai <em>hujjah</em>-nya. Mereka adalah kelompok Nabi, mereka hanya menisbatkan diri kepadanya, sama sekali tidak tertarik kepada hawa nafsu dan tidak menggubris pendapat akal, diterima dari mereka setiap yang mereka riwayatkan dari Rasulullah mereka dipercaya, menjadi penjaga agama dan syari’atnya, mereka adalah gudang ilmu dan pemanggulnya. Mereka adalah para ulama besar, para <em>faqih</em>, para <em>khatib</em> orator, <em>qari</em> yang handal, merekalah <em>al jumhur al a’dzom</em> (<em>ahlus sunah wal jama’ah</em>).   Jalan mereka adalah jalan yang lurus, siapa yang berupaya makar pada  mereka, maka Allah akan memurkainya, siapa yang memusuhi mereka, maka Allah akan rendahkan, tidak merugikan mereka orang yang menyelisihinya dan beruntung orang yang meninggalkan mereka. Orang yang menjaga agamanya butuh kepada bimbingan mereka dan celakalah orang yang memandang jahat kepada mereka. Sesungguhnya Allah maha kuasa untuk memenangkan mereka.<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Demikianlah para ulama ahli hadits berjuang menjaga sunnah-sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> dan menyebarkannya, hingga akhirnya mereka menjadi penjaga agama dan menara hujjah. Mereka pantas mendapatkan keutamaan dan kedudukan tinggi, karena mereka menjaga agama ini dan menyampaikan berita Alquran dan sunnah kepada umat ini.</p>
<p>Mereka memberikan perhatian yang sangat besar kepada sunnah-sunnah rasulullah n dengan mengumpulkan, menghafal dan menulisnya. Bermunculanlah banyak kitab-kitab yang berisi hadits-hadits Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> diantaranya berupa <em>Muwatha’</em>,<em> Al-Jawâmi’</em> dan yang lainnya.</p>
<p>Diantara bentuk-bentuk kitab tersebut adalah kitab <em>Al-Ahkâm.</em></p>
<p><strong>Kitab-kitab Al-Ahkâm</strong></p>
<p>Kitab <em>Al-Ahkâm</em> didefenisikan menurut istilah <em>Ahli Hadits</em> sebagai kitab-kitab yang hanya mencakup hadits-hadits tentang hukum saja. Dalam pengertian hadits-hadits tersebut di keluarkan oleh penyusun kitab-kitab ini dari kitab-kitab rujukan hadits dan mereka susun berdasarkan bab-bab fikih.</p>
<p>Jumlahnya ada banyak, di antara yang paling terkenal sebagai berikut:</p>
<p><strong>1. <em>Al-Ahkâm Al-Kubra</em></strong> karya <em>Al-Imam Al-Muhadits</em> Abu Muhammad Abdilhaq bin Abdurrahman Al-Isybili yang dikenal dengan Ibnul Kharâth hidup antara tahun 510-581 H. Kitab yang terdiri dari lima jilid ini beliau susun dari kitab-kitab sunnah. Kitab ini mengumpulkan hadits-hadits ahkâm dan menyampaikannya dengan <em>sanad</em>. Kitab <em>Al-Ahkâm Al-Kubra</em> ini tidak lepas dari kritik, diantara para pengkritisi kitab ini adalah <em>Al-Hafizh</em> An-Nâqid Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Al-Qath-than wafat tahun 628 H dalam kitabnya yang berjudul <em>Bayanul Wahm wal Ihâm Al waqi’in fi Kitabil Ahkâm</em>.<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p><strong>2. <em>Al-Ahkâm Al-Wustha</em></strong> karya Abdilhaq Al-Asybili juga, terdiri dari dua jilid. Disebutkan dalam khutbahnya bahwa diamnya beliau terhadap sebuah hadits menunjukkan <em>shahih</em>-nya tersebut. Kitab ini adalah ringkasan dari kitab <em>Al-Ahkâm Al-Kubra</em> dengan menghapus <em>sanad</em>-nya. Kitab ini telah dicetak dalam 4 jilid dengan <em>tahqiq</em> Shubhi As-Sâmira`i dan Syeikhuna Hamdi Abdulmajid As-Salafi dan diterbitkan oleh Maktabah Ar-Rusyd tahun 1416 H.</p>
<p>Manuskripdua kitab ini telah dijelaskan keberadaan dan tempat penyimpanannya oleh Shubhi As-Sâmira`i dan guru saya Syeikh Hamdi Abdulmajid As-Salafi dalam <em>Muqaddimah</em> <em>tahqiq</em> beliau berdua atas kitab <em>Ahkâm Al-Wustha</em> ( lihat jilid pertama hlm 57 dari kitab <em>Al-Ahkâm Al-Wustha</em>). Kemudian Abu Abdirrahman bin ‘Uqail azh-Zhâhiri mengeluarkan dua jilid dari kitab <em>Al-Ahkâm Al-Kubra</em> dan <em>Ash-Shughra</em> dan beliau namakan<em> Asy-Syurûh wa At-Ta’liqât ‘Ala Kutub Al-Ahkâm </em>dan dicetak dalam dua jilid. <a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p><strong>3.   <em>Al-Ahkâm Ash-Shughra</em></strong> karya Abdilhaq juga, beliau sebutkan dalam khutbahnya: bahwasanya pilihan beliau terhadap hadits yang <em>shahih</em> <em>sanad</em>-nya dalam kitab ini adalah hal yang biasa di kalangan Kritikus hadits, terdiri dari 1 jilid, kitab ini di <em>syarah</em> lagi oleh Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Marzuq <a href="#_ftn6">[6]</a> wafat tahun 781 H. Kitab <em>Al-Ahkâm Ash-Shughra</em> ini dicetak dalam dua jilid dengan <em>tahqiq</em> Ummu Muhammad Bintu Ahmad Al-Hulais dengan bimbingan syeikh Kholid bin Ali bin Muhammad Al-‘Anbari dan diterbitkan Maktabah Ibnu Taimiyah kairo dan maktabah Al-Ilmi di Jeddah tahun 1413 H.</p>
<p>Dalam kitab ini imam Abdulhaq Al-Isybili meringkas <em>sanad</em> dan mencukupkan dalam <em>takhrij</em> haditsnya pada satu sumber rujukan saja agar mudah dihafal. Juga kitab ini memiliki keistimewaan dalam penyampaian hadits-hadits dan tidak hanya mencukupkan pada hadits halal dan haram saja, bahkan beliau tambah dengan banyak bab-bab sunnah lainnya. Pengarang disini memberikan perhatian dalam kata-kata yang sulit (<em>Gharib Al-Hadits</em>) dan penjelasan maknanya secara ringkas.<strong> </strong></p>
<p><strong>4.<em> </em></strong><em><strong>Al-Umdah Al-Kubro Fi Ahâdits Al-Ahkâm</strong> </em>(العمدة الكبرى في أحاديث الأحكام) karya Taqiyuddin Abu Muhammad Abdulghani bin Abdilwahid Al-Maqdisy Al-Jama’ili wafat tahun 600 H. Kitab ini tidak sama dengan kitab <em>‘Umdah Al-Ahkaam</em> yang terkenal. Kitab ini dicetak dengan <em>tahqiq</em> DR. Rif’at fauzi Abdulmuthalib diterbitkan <em>Maktabah Al-Ma’arif</em> di Riyâdh. Demikian juga di-<em>tahqiq</em> Samir bin Amin Az-Zuhairi dan diterbitkan <em>Daar Al-Bayaan</em> pada cetakan pertama tahun 1422 H .</p>
<p><strong>5.<em> </em></strong><em><strong>U</strong><strong>mdatul Ahkâm An Sayyidil Anâm</strong></em><strong> </strong>karya Taqiyuddin Abu Muhammad Abdulghani bin Abdilwahid Al-Maqdisy Al-Jama’ili wafat tahun 600 H.</p>
<p>Kitab ini adalah salah satu kitab-kitab <em>hadits</em> <em>ahkâm</em> yang penting dan ringkas, karena seluruh hadits-haditsnya <em>shahih</em>, adakalanya hadits-hadits yang <em>muttafaqun ‘alaihi</em>, ada juga yang hanya diriwayatkan Bukhari atau Muslim. Beliau bersandar dalam menyampaikan hadits-hadits <em>muttfaqun ‘alaihi</em> kepada kitab <em>Al-Jam’u baina ash-Shahihain</em> karya Al-Humaidi.</p>
<p>Kitab <em>Umdah Al-Ahkâm</em> ini telah dicetak beberapa cetakan, di antaranya:</p>
<ol>
<li><strong> </strong>Cetakan mathba’ah (percetakan) As-Sunnah Al-Muhammadiyah dengan <em>tahqiq</em> Syeikh Muhammad Hâmid Al-Faqi tahun 1371 H.</li>
<li>Cetakan Dâr Al-Ma’ârif dengan <em>tash-hih</em> Syeikh Ahmad Muhammad Syâkir tahun 1371 H.</li>
<li>Cetakan Al-Mathba’ah As-Salafiyah di Mesir tahun 1376 H dengan pengawasan Syeikh Muhibuddin Al<em>-</em>Khathib.</li>
<li>Cetakan Mathba’ah Al<em>-</em>Manâr di Mesir dengan perhatian dari Syeikh Muhammad Rasyid Ridho dimasukkan dalam <em>Majmu’ah  Al-Hadits </em>An-<em>Najdiyah</em> tahun 1342.</li>
<li>Dicetak ulang secara terpisah melalui dâr As-Salâm .</li>
<li>Cetakan Dâr <em>Al-</em>ma’mun Litturats tahun 1405 H dengan <em>Tahqiq</em> Syeikh Mahmud Al-Arnauth.</li>
<li>Cetakan dengan <em>tahqiq</em> Samier bin Amin Az-Zuhairi.</li>
<li>Cetakan dâr at-Thayyibah beberapa kali dan cetakan ketiganya tahun 1427 H dengan <em>tahqiq</em> Nazhar Muhammad <em>Al-</em>Fâriyâbi dengan 7 naskah manuskrip.</li>
</ol>
<p>Karena pentingnya kitab ini maka para ulama memberikan perhatian besar kepadanya sejak dahulu hingga sekarang dengan men-<em>syarah</em> dan mengajarkan serta memberikan komentar ilmiyah terhadap kitab ini. Diantara <em>syarah</em> kitab ini adalah :</p>
<p><strong>a. </strong> <em>Ihkâm Al-Ahkâm Syarhu Umdatul Ahkâm</em> (إحكام الأحكام شرح عمدة الأحكام) karya <em>Al-Hafizh</em> Ibnu Daqiqul Aid wafat tahun 702H dicetak beberapa cetakan, diantaranya:</p>
<ul>
<li>Cetakan Dâr ‘Alam <em>Al-</em>Fikr di Mesir dengan <em>takhrij</em> Thaha Sa’ad dan Mushthafa Al-hawâri dalam 2 jilid.</li>
<li>Cetakan Muhammad Munir Ad-Dimasyqi di Mesir tahun 1342 H dalam 2 jilid dan disebarkan oleh Dâr <em>Al-</em>Kutub Al-‘Ilmiyah di Bairut.</li>
</ul>
<p><strong>b. </strong> <em>Al-‘Uddah Bi Syarhi Al-‘Umdah</em> (العدة بشرح العمدة) karya Muhammad bin Isma’il Ash-Shan’ani. Kitab ini adalah <em>hasyiyah</em> (komentar ilmiyah) terhadap kitab <em>Ihkâm Al-Ahkâm Syarhu Umdatul Ahkâm</em>. Kitab ini dicetak Al-Mathba’ah As-Salafiyah di Kairo pada tahun 1379 H dalam empat jilid dengan <em>tahqiq</em> Syeikh ‘Ali bin Muhammad Al<em>-</em>Hindi (wafat tahun 1419 H).</p>
<p><strong>c. </strong> <em>Al-I’lâm Bi Fawâ’id ‘Umdah Al-Ahkâm</em> (الإعلام بفوائد عمدة الأحكام) karya <em>Al-Hâfizh</em> Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin ‘Ali bin Ahmad Al<em>-</em>Anshâri yang dikenal dengan ibnu Mulaqqin wafat tahun 804 H. Kitab ini dicetak pertama kali dalam lima jilid oleh Daar <em>Al-</em>‘Ashimah dengan <em>tahqiq</em> Syeikh Abdul Aziz bin Ahmad bin Muhammad Al<em>-</em>Musyaiqih. Kemudian disempurnakan menjadi 11 jilid dengan kata pengantar dari Syeikh Shâlih bin Fauzan Al-Fauzan dan Syeikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid.</p>
<p><strong>d. </strong> <em>Khulashah Al-Kalâm Syarhu ‘Umdah Al-Ahkâm</em> (خلاصة الكلام شرح عمدة الأحكام)  karya Syeikh Faishal bin Abdulaziz Ali Mubaarak wafat tahun 1376 H. Kitab ini telah dicetak beberapa kali diantaranya cetakan kedua diterbitkan Maktabah An-Nahdhoh dan Al-maktabah Al-Ahliyah di Riyâdh tahun 1379 H dan dicetak tahun 1412 H oleh Maktabah Ar-Rusyd.</p>
<p><strong>e. </strong><em>Aqwâl Al-A`imah Al-A’lâm Bi Syarhi Umdah Al-Ahkâm</em> (أقوال الأئمة الأعلام بشرح عمدة الأحكام) karya beliau juga dan belum diterbitkan.</p>
<p><strong>f. </strong> <em>Khulashah Al-Kalâm ‘ala ‘Umdah Al-Ahkâm</em> (خلاصة الكلام على عمدة الأحكام) karya Syeikh Abdullah bin Abdurahman bin Shalih Al-Basâm wafat tahun 1423 H dicetak di Mathba’ah Al<em>-</em>Fajâlah Al-Jadidah di Kairo.</p>
<p><strong>g. </strong> <em>Taisîr Al-‘Alâm Syarhu ‘Umdah Al-Ahkâm</em> (تيسير العلام شرح عمدة الأحكام) karya beliau juga. Kitab ini telah dicetak beberapa kali dan pertama kali pada tahun 1380 H di Mathba’ah Al<em>-</em>Madani di Kairo dalam dua jilid. Terakhir keluar cetakan yang lebih baik dari Dâr Al<em>-</em>Maimân tahun 1426 H dalam dua jilid diawasi langsung oleh anak beliau yang bernama Basâm bin Abdillah Al<em>-</em>Basâm.</p>
<p><strong>h. </strong> <em>Ta’sies Al-Ahkâm ‘Ala Mâ Shahha ‘An Khoiri Al-Anâm Bi Syarhi Ahâdiets ‘Umdah Al-Ahkâm</em> (تأسيس الأحكام على ما صح عن خير الأنام بشرح أحاديث عمدة الأحكام) karya Syeikh Ahmad bin Yahya An-Najmi. Kitab ini dicetak secara sempurna dalam 5 jilid oleh Daar Al<em>-</em>Minhâj di Mesir tahun 1427 H.</p>
<p><strong>i. </strong><em>Al-Ilmâm Bi Syarhi ‘Umdah Al-Ahkâm</em> (الإلمام بشرح عمدة الأحكام) karya Syeikh Isma’il bin Muhammad Al-Anshari wafat tahun 1417 H. <em>Syarah</em> ini cukup ringkas dan mudah sehingga dijadikan buku pegangan siswa SMP (MTS) dan MA di kerajaan saudi Arabia hingga tahun 1397 H. Dicetak beberapa kali diantaranya oleh maktabah Ar-Riyâdh tahun 1392 H dan Mathba’ah As-Sa’adah di Mesir tahun 1400 H.</p>
<p><strong>j.</strong> <em>Tambîh Al-Afhâm Syarhu ‘Umdah Al-Ahkâm min Kalâm Khairi Al-Anâm</em> (تنبيه الأفهام شرح عمدة الأحكام من كلام خير الأنام) karya Syeikh Muhammad bin Shalih Al<em>-</em>Utsaimin wafat tahun 1421 H. Kitab ini adalah buku pegangan siswa tingkat MTS dan ma’had ilmiyah dimulai tahun ajaran 1397-1398 H dicetak dalam 3 juz dan terakhir digabung dalam satu jilid oleh Dâr Al-Bashirah di Mesir.</p>
<p><strong>k.</strong> <em>Nail Al-Marâm Syarhu ‘Umdah Al-Ahkâm</em> (نيل المرام شرح عمدة الأحكام) karya Syeikh Hasan bin Ismail An-Nûri dan syeikh ‘Alwi bin Abas Al<em>-</em>Mâliki wafat tahun 1391 H. Dicetak dalam beberapa cetakan diantarnya cetakan Mathaabi’ Syarikah Asy-Syamarli di Mesir tahun 1392 H.</p>
<p><strong>l. </strong> <em>Al-‘Uddah Syarhu Al-‘Umdah fi Ahâdits Al-Ahkâm</em> (العدة شرح العمدة في أحاديث الأحكام) karya ‘Alauddin Ali bin Dawud bin Al-‘Athâr Asy-Syâfi’i (tahun 654-724 H) di cetak dengan wakaf dari Syeikh Nizhâm Muhammad Shalih Ya’qubi dan diterbitkan Dâr Al-Basyâ`ir di Libanon tahun 1427 H.</p>
<p>Masih banyak lagi <em>syarah</em> kitab <em>‘Umdah</em> ini yang masih dalam bentuk naskah manuskrip.</p>
<p><strong>6. </strong><em><strong>Ihkâm Al-Ahkâm ash-Shâdirah Min Baini Syafatai Sayyid Al-Anâm</strong> </em>karya Syamsuddin Abu Umamah Muhammad bin ‘Ali bin Abdilwahid An-Naqâsy Al-Maghribi Al-Mishri tahun 720-763 H. Kitab ini di-<em>tahqiq</em> DR. Rif’at Fauzi Abdulmuthalib dan di terbitkan Maktabah Al-Khânji di Kairo dan cetakan pertamanya tahun 1409 H.</p>
<p><strong>7. </strong> <strong><em>Al-Ahkâm Al-Kubra</em></strong> karya Majduddin Abdussalam bin Abdullah bin Abu Al-Qâsim bin Abdillah bin Taimiyyah Al-Harani (wafat tahun 653 H). Al-Hafizh Ibnu Rajab berkata tentang beliau dalam biografi beliau dalam kitab <em>Dzail Thobaqât Al Hanabilah</em>, “Kitab tersebut terdiri beberapa jilid”.</p>
<p><strong>8.</strong> <em><strong>A</strong><strong>l-Muntaqa min Akhbâri Musthafa</strong></em> (المنتقى من أخبار المصطفى) karya Majduddin Abul Barakât Abdussalam bin Abdillah bin Abu Al-Qâsim bin Abdillah Ibnu Taimiyyah juga, kitab ini merupakan ringkasan dari kitab <em>Al-Ahkâm Al-Kubra</em> sebagaimana dijelaskan hal itu oleh Ibnu Rajab dalam biografi Al-Majdi ibnu Taimiyah dalam kitab <em>Dzail Thobaqât Al Hanabilah</em>, dan telah dicetak. Kitab ini berisi 5029 hadits yang menjadi sumber dasar hukum-hukum fikih di susun sesuai tertib bab-bab pembahasan fikih, dengan mencantumkan ulama yang mengeluarkannya tanpa menjelaskan derajat hukum hadits tersebut.</p>
<p>Banyak para Ulama yang men<em>-syarah</em> kitab ini, seperti:</p>
<ul>
<li><em>Al-</em>Imam Muhammad bin Ahmad bin Abdul Hadi Al-Maqdisi wafat tahun 744 H.</li>
</ul>
<ul>
<li><em>Al-</em>Allamah Sirajuddin Umar bin Ali bin Al-Mulaqqin wafat tahun 804 H. tapi tidak sampai selesai.</li>
</ul>
<ul>
<li>Abul Abbas Ahmad bin Muhsin Al-Qadhi Al-Hanbali wafat tahun 771 H. dan tidak sampai selesai juga.</li>
</ul>
<ul>
<li>Al-Qadhi Muhammad bin Ali Asy-Syaukani wafat tahun 1255 H. Dan beliau beri nama <em>Nailul Authar Syarhu Muntaqal Akhbâr</em>. Imam Syaukani dalam <em>Syarah</em>nya banyak mengambil metoda dan meringkas penjelasannya dari kitab <em>Fathul Bâri Syarhu </em>Shahih<em> Al-Bukhari</em> dalam masalah <em>Fiqhiyyah</em>. Juga dalam meringkas <em>takhrij</em> hadits cukup bagus dan baik. Kitab <em>Nailu Al-Author</em> ini pertama kali dicetak di <em>Al-</em>mathba’ah <em>Al-</em>Fârûqiyah di Newdelhi (India) tahun 1296 H.  Kemudian kitab ini di<em>tahqiq</em> Thâriq bin ‘Audhullah bin Muhammad dari dua naskah manuskrip dan dicetak menjadi 3 jilid oleh penerbit Dâr Ibnu <em>Al-</em>Jauzi pada tahun 1423 H. DR. Muhammad Umar Bazamul meneliti kitab ini dan penulisnya serta usaha dan jasa beliau dalam permasalahan hadits-hadits ahkâm dan mendapatkan gelar Master dalam<em> syariat islamiyah</em> dari Universitas Umu Al<em>-</em>Qurâ` di Makkah. Disertasi ini dicetak Daar Al-Basyâ`ir di Bairut pada tahun1424 H. Syeikh Faishal bin Mubârak meringkas kitab ini dan diberi judul,<em>Bustân Al-Akhbâr Mukhtashar Nail </em><em>Al-Authâr. </em>Demikian juga Syeikh Khalid Al-‘Ak juga meringkasnya dan diterbitkan Dâr Al-Hikmah tahun 1409 H. Diberitakan bahwa Syeikh Muhammad bin Râsyid telah menyusun hadits-hadits <em>Nail Al-Authâr</em> dengan nama, <em>Tanwîr Uli Al-Abshâr bi Tartîb Ahâdits Nail </em><em>Al-Authâr </em>telah diterbitkan Dâr <em>Al-</em>Kutub Al-Ilmiyah di Bairut tahun 1413 H.</li>
</ul>
<ul>
<li>Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin men<em>-syarah</em> juz pertama dari kitab <em>Al-Muntaqa</em> yaitu sampai masalah <em>Jâmi’ Ad’iya` manshushun ‘Alaiha Fi ash-Shalat</em> dan telah dicetak tahun 1426 H oleh Dâr Al-Muhaddits</li>
</ul>
<ul>
<li>Syeikh Abdulaziz bin Abdillah bin Bâz men-<em>syarah</em> jilid pertama kitab <em>Al-Muntaqa</em> dan direkam dalam kaset.</li>
</ul>
<p><strong>9. <em>Al-Ilmam fi Bayani Adillatil Ahkâm</em></strong> karya Al Izz bin Abdussalam wafat tahun 660 H. Buku ini di <em>tahqiq</em> oleh DR. Ali bin Muhammad Syarif di Universitas Muhammad bin Saud Al-Islamiyah pada tahun 1404 H<a href="#_ftn7">[7]</a>.</p>
<p><strong>10. <em>Al-Ilmam fi ma’rifat Ahâditsil Ahkâm</em></strong> karya Taqiyuddin Abil Fattah Muhammad bin Ali bin Wahb yang masyhur dengan sebutan Ibnu Daqiqul Aid, wafat tahun 702 H. sudah di cetak dengan <em>tahqiq</em> Syeikh DR. Sa’ad bin ‘Abdillah Al-humaid dalam empat jilid besar dengan rincian jilid pertama berjumlah 618 halaman, jilid kedua berjumlah 571 halaman dan jilid ketiga berjumlah 599 halaman serta jilid keempat berjumlah 380 halaman dengan indeks dan referensi. Diterbitkan oleh penerbit Daar At-Tahqiiq di Riyadh KSA.</p>
<p><strong>11. <em>Al-Ilmam fi Ahâditsil Ahkam</em></strong> karya Taqiyuddin Abil Fattah Muhammad bin Ali bin Wahb <em>Al-</em>Mishri <em>Al-</em>Qusyairi yang masyhur dengan sebutan Ibnu Daqiqul Aid, wafat tahun 702 H. sudah di cetak. Hâjie Khalifah berkata, “Ia mengumpulkan <em>matan</em> hadits-hadits yang terkait dengan hukum tanpa <em>sanad</em>, kemudian men<em>-syara-h</em>nya dengan baik dan memberi nama <em>Al-Imâm</em>. Ada yang mengatakan sesungguhnya beliau tidak pernah menulis kitab-hadits sejenis yang lebih bagus dari kitab ini, karena manfaat dan cara pengambilan hukumnya. Namun, ia tidak menyelesaikan buku ini, kemudian Al-Baqa’i dalam <em>Hâsyiah kitab Alfiah</em>-nya menyebutkan bahwa ia telah menyempurnakan kitab tersebut. Kemudian tidak didapatkan kitab ini setelah wafatnya kecuali sedikit, seandainya saja ada niscaya orang tidak perlu lagi <em>syarah</em> <em>syarah</em> yang lain. <a href="#_ftn8">[8]</a>.</p>
<p>Kitab ini telah di<em>-tahqiq</em> dan di<em>-takhrij</em> haditsnya oleh Husein bin Isma’il Al-Jamal dan diterbitkan Dâr Al-Mi’raaj di Riyadh dan cetakan pertamanya tahun 1414 H dalam dua jilid.</p>
<p>Diantara ulama yang men<em>-syarah</em> kitab ini adalah:</p>
<ul>
<li>Penulis sendiri Ibnu Daqiq <em>Al-</em>‘id, sebagaimana disampaikan imam <em>Al-</em>Hâfizh adz-Dzahabi. Syeikhul Islam menyatakan: tidak ada seorangpun yang berbuat seperti beliau, tidak juda ad-Dhiya’ dan tidak pula kakekku Abu <em>Al-</em>Barakaat.<em> Syarah</em> beliau ini di<em>tahqiq</em> seperenamnya oleh Syeikh Abdulaziz bin Muhammad As-Sa’ied sebagai disertasi S2 (magister) pada jurusan <em>Assunnah wa ‘Ulumuha</em> di Universitas Imam Muhammad bin Su’ud KSA dan diterbitkan Daar Athlas Riyadh tahun 1418 H dalam 2 jilid. Jilid pertama berjumlah 464 halaman dan kedua berjumlah 360 diluar indeks isi dan referensi. Hadits yang di<em>-syarah</em> dalam dua jilid ini hanya 7 hadits saja.</li>
</ul>
<ul>
<li>Al-Hafizh Syamsuddin Muhammad bin Nashiriddin Ad-Damsyiqi wafat tahun 842 H.</li>
</ul>
<ul>
<li>Al<em>-</em>Qâdhi Yusuf bin Hasan Al-Hamwi wafat tahun 809. Kitab ini telah diringkas oleh <em>Al-Haafizh</em> Qathbuddin Abdulkarim bin Munayyir Al-Halabi tahun 664-735 H dengan judul <em>Al-</em>Ihtimaam Bi Talkhish kitab Al-Ilmaam diterbitkan Mu`assasah Al-Kutub Ats-Tsaqafah, bairut tahun 1410 H.</li>
</ul>
<p><strong>12. <em>Al-Muharrar fi Ahaditsil Ahkam</em></strong> karya<em> Hafizh</em> Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Qudamah Al-Maqdisi, yang dikenal dengan Ibnu Abdil Hadi wafat tahun 744 H. kitab ini merupakan ringkasan dari kitab <em>Al-</em>Ilmam karya Ibnu ad-Daqiqul Aid.</p>
<p>Syeikh Abdulmanaan Abdullathif Al-Madani seorang peneliti di Markas Bin Baaz untuk penelitian islam (Markaz <em>Al-</em>‘Alamah bin Baaz Liddirasaat <em>Al-</em>Islamiyah) di Jami’ah ibnu Taimiyah di India telah berbicara tentang karakteristik dan <em>manhaj </em>penulis kitab ini dalam <em>Muqadimah</em> beliau dalam <em>tahqiq</em> kitab ini. Kitab ini dicetak markaz dan di terbitkan Daar Ad-Daa’I . kitab ini dicetak pada <em>Rabi’ Al-Awal</em> tahun 1422 H. dalam dua jilid dibawah pengawasan DR. Muhammad Luqmaan As-Salafi. Jumlah halamannya 920 halaman dengan jumlah hadits 1320 hadits. Keistimewaan cetakan ini adalah adanya keterangan faidah dan komentar ilmiyah terhadap hadits-hadits tersebut yang diambil pen-<em>tahqiq</em> dari kitab-kitab <em>syarah</em> hadits yang terkenal seperti<em> Al-Minhaaj</em> (<em>Syarah shahih Muslim</em>) karya imam An-Nawawi , <em>Al-Ikmaal</em> karya Al-Aabi, <em>Fathu Al-baari</em>, <em>‘Aunulma’bud, Tuhfat Al-Ahwadzi, Subul As-Salam</em> dan <em>Taudhih Al-Ahkam</em> serta kitab lainnya dari karya-karya para ulama lainnya. Beliau namakan komentar-komentar beliau ini dengan ‘<em>Aun Al-Mughits Fi Syarhi </em><em>Al-Muharrar fi </em><em>Al-Hadits</em>.</p>
<p>Kitab <em>Al-</em>Muharrar ini telah dicetak sebelumnya dalam beberapa cetakan diantaranya:</p>
<ol>
<li>Cetakan dengan <em>tahqiq</em> Syeikh Muhammad bin Ahmad <em>Al-</em>Muzaini Al<em>-</em>Maaliki</li>
<li>Cetakan Syeikh DR. Yusuf Abdurrahman Al-Mar’asyli dan Muhammad Saliem Samaarah serta Jamaal Hamdi Adz-Dzahabi dan di cetak di daar Al-Ma’rifah, Libanon tahun 1421 H dalam satu jilid tebal jumlah halamannya dengan indek 848 halaman.</li>
<li>Cetakan Syeikh Saliem bin ‘ied <em>Al-</em>Hilaali dicetak tahun 1425 H di Daar ibnu Hazm di Libanon dalam tiga jilid di<em>tahqiq</em> dengan membandingkan lima manuskrip.</li>
</ol>
<p><strong>13. </strong> <em><strong>Dalaail Al-Ahkam</strong> </em>karya Bahauddin Ibnu Syadaad wafat tahun 632 H.</p>
<p><strong>14.</strong><em><strong> Aqribul Asanid wa Tartibul Masanid</strong></em> karya Zainuddin Abul Fadhal Abdurrahim bin Husain Al<em>-</em>Iraqi wafat tahun 806 H. sudah dicetak dan beliau juga men-<em>syarah</em> dalam kitabnya <em>Tharhul Tatsrib fi Syarhit Taqrib</em> namun beliau wafat sebelum bisa menyelesaikannya, kemudian anak beliau yang bernama Waliyyul Al din Ahmad bin Abdurrahim Al-Iraqi wafat tahun 862 H menyempurnakannya.</p>
<p><strong>15.</strong> <em><strong>Fathu Al-Alaam Bi Syarhi Al-I’laam Bi Ahaadits Al-Ahkaam</strong> </em>(فتح العلام بشرح الإعلام بأحاديث الأحكام) karya Syeikh Islam Abu yahya Zakariya Al<em>-</em>Anshaari wafat tahun 925 H. Kitab ini berisi 619 hadits dicetak dalam satu jilid sebanyak 768 halaman berikut indeksnya diterbitkan Daar Al<em>-</em>Kutub <em>Al-</em>‘Ilmiyah di Libanon dengan <em>tahqiq</em> Syeikh Ali Muhammad Mu’awwad dan Syeikh ‘Aadil Ahmad Abdulmaqsud.</p>
<p><strong>16.  &#8216;<em>Uqûd Al-Jawâhir Al-munîfah Fi Adillati Madzhab Al-Imam Abi Hanifah Mimmâ Wâfaqa Fihi Al-Aimmah </em>As-</strong><em><strong>Sittah au Ahadihim</strong> </em>(عقود الجواهر المنيفة في أدلة مذهب الإمام أبي حنيفة مما وافق فيه الأئمة الستة أو أحدهم) karya Al-Imam As-Sayyid Muhammad Murtadha Az-Zabidi (1145-1205 H). Kitab ini dicetak dalam dua juz dengan <em>tahqiq</em> As-Sayyid Abdullah Hasyim Al<em>-</em>Yamaani Al<em>-</em>Madani diterbitkan Mathba’ah Asy-Syabkasyi di Al-Azhar Mesir tahun 1382 H. Juga kitab ini di<em>-tahqiq</em> oleh Syeikh Wahbi Sulaiman Ghaawaji Al<em>-</em>Albani dan diterbitkan Muassasah Ar-Risaalah tahun 1406 H. dalam dua juz.</p>
<p><strong>17.<em> </em></strong><em><strong>Majmu’ Al-Hadits ‘Ala Abwâb Al-Fiqh</strong> </em>(مجموع الحديث على أبواب الفقه) karya Syeikh Muhammad bin Abdulwahab (1115-1206 H). Kitab ini berisi 4600 hadits selain kitab <em>Al-Farâ`idh</em> dan kitab<em> Al-Itqi</em>. Kitab ini dicetak Jami’ah Al<em>-</em>Imam Muhammad bin Sa’ud Al<em>-</em>Islamiyah dalam empat jilid dan dimasukkan kedalam<em> Majmu’ah Mu`allafât Al-Imâm Muhammad bin Abdulwahab</em> dengan <em>tahqiq</em> DR. Mahmud Muhammad Ath-Thahân dan DR. Kholil Mulâ Ibrohim Khâthir.</p>
<p><strong>18. <em>Fathu Al-Ghafâr Al-jâmi’ Liahkami Sunnati Nabiyina Al-Mukhtâr</em></strong> (فتح الغفار الجامع لأحكام سنة نبينا المختار) karya Al<em>-</em>Qâdhi Al<em>-</em>Hasan bin Ahmad Ar-Rubâ’i (1200-1276 H). Kitab ini berisi 6529 hadits dan dicetak dâr ‘Âlam Al<em>-</em>Fawâ`id Makkah tahun 1427 H dengan <em>takhrij</em> sejumlah pelajar dibawah arahan Syeikh Ali bin Muhammad Al<em>-</em>‘Imrân.</p>
<p><strong>19<em>. Atsaar </em>As-<em>Sunan Ma’a at-Ta</em>’liq</strong> Al-Hasan wa Ta’liq At-Ta’liq (آثار السنن مع التعليق الحسن وتعليق التعليق) karya Syeikh Muhammad Ali An-Naimawi wafat tahun 1322 H. Kitab ini berisi 1114 hadits yang menjadi induk dalil dalam fikih madzhab Hanafi dan di-<em>tahqiq</em> Maulana Faidh Ahmad diterbitkan Maktabah Al-Imdaadiyah.</p>
<p><strong>20. <em>Anjah Al-Maa’ii Fi Al-Jam’i Baina Shifatai </em>As-</strong><em><strong>Saami’ wa Al-Waa’ii</strong> </em>(أنجح المساعي في الجمع بين صفتي السامع والواعي) karya Syeikh Falih bin Muhammad Azh-Zhahiri Al<em>-</em>Madani wafat tahun 1238 H. Kitan ini dicetak beberapa kali diantaranya tahun 1391 cetakan kedua dengan <em>tahqiq</em> As-Sayyid Abdullah Haasyim Al<em>-</em>Yamaani kemudian di-<em>ta’lieq </em>dan di-<em>takhrij</em> oleh Ibrahim bin Abdillah Al<em>-</em>Haazimi dan beliau namakan <em>takhrij</em>-nya ini dengan <em>Ifadat Al-Qaari Bi </em><em>Takhrij Ahaadits Anjah </em><em>Al-Masaa’i </em>diterbitkan Daar Asy-Syariif di Riyaadh tahun 1414 H.</p>
<p><strong>21. <em>Ushul Al-Ahkaam </em></strong>(أصول الأحكام) karya Syeikh Abdurrahman bin muhammad bin Qaasim Al-Hambali An-najdi (1312H-1392 H). Kitab ini di<em>-syarah</em> penulisnya sendiri dalam kitab <em>Al-Ihkaam Syarh Ushul </em><em>Al-Ahkaam</em> yang dicetak dalam 4 jilid dan cetakan ketiganya tahun 1406 H.</p>
<p><strong>22. <em>Shofwah Al-Ahkaam Min nail Al-Authaar wa Subulussalam </em></strong>(صفوة الأحكام من نيل الأوطار وسبل السلام) karya DR. Qahthaan Abdurrahman Ad-Duuri. Diterbitkan Al<em>-</em>Furqaan Linnasyr di Yordania cetakan pertamanya tahun 1419 H.</p>
<p><strong>23. <em>Al-Muntakhab Min Adillati </em>Asy-</strong><em><strong>Syari’at</strong> </em>(المنتخب من أدلة الشريعة) karya Syeikh Ahmad bin Abdirrahman bin Muhammad bin Qaasim. Dicetak di Al<em>-</em>Mathaabi’ Al-Ahliyah lil ofset di Riyaadh, cetakan pertama tahun 1405 H.</p>
<p><strong>24. <em>Ahaadits Al-Ahkaam </em></strong>(أحاديث الأحكام) karya Syeikh Muhammad bin Ibrahim Aalusyeikh. Kitab ini ibarat dari 100 hadits dalam <em>Al-Ahkaam</em> yang dipilih Syeikh Muhammad bin Ibrahim Mufti KSA. Hal ini disampaikan oleh Syeikh Muhammad bin Ibrahim bin Qaasim dalam <em>muqaddimah Fatawa Asy-Syeikh Muhammad bin Ibrohin Alusyeikh.</em></p>
<p><strong>25.<em> Bulughul Maram min Ahaditsul Ahkam</em></strong> (بلوغ المرام من أدلة الأحكام ) karya<em> Al-Hafizh</em> Abil Fadhl Syihabuddin Ahmad bin Ali bin Muhamamd Al-Kinaani dikenal dengan Ibnu Hajar Al<em>-</em>Asqalani wafat tahun 852 H. beliau telah mengumpulkan hadits-hadits yang dijadikan oleh para <em>fuqaha’</em> sebagai tempat pengambilan hukum-hukum fikih dengan menjelaskan setelah setiap hadits para Imam yang meriwayatkan hadits tersebut berikut darajat haditsnya <em>shahih</em> atau <em>dha’if</em> tersusun secara sistematis berdasarkan bab-bab fikih. kemudian dimasukkan juga di bagian akhir buku ini pembagian yang lain tentang hadits adab, Akhlak, zikir dan doa, sehingga hadits di dalamnya mencapai sekitar 1596 Hadits.</p>
<p>Beliau sampaikan dalam <em>Muqaddimah</em> kitabnya ini,&#8221;Ini adalah ringkasan yang mencakup pokok dalil-dalil dari hadits-hadits berkenaan dengan hukum-hukum<em> syar’i. </em>Aku pilihkan secara teliti agar orang yang menghafalnya menjadi menonjol diantara sejawatnya dan dapat membantu para pelajar pemula serta para <em>mujtahid</em> tidak akan merasa cukup dengannya&#8230;.&#8221;</p>
<p>Demikianlah beberapa kitab hadits <em>Al-Ahkaam</em> yang dapat dipaparkan dan suatu yang yang sangat sulit kalau tidak dikatakan mustahil menjelaskan dan menyebutkan semua kitab-kitab <em>Al-Ahkaam</em> seluruhnya. Mudah-mudahan yang sedikit ini bermanfaat dan menggambarkan usaha dan jasa para ulama dalam menyebarkan sunnah-sunnah Rasulullah n kepada kita semua.</p>
<p><em>Wabillahi taufiq.</em></p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, L.c.<br />
Artikel <a href="http://www.ustadzkholid.com/" target="_blank">www.ustadzkholid.com</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Diambil dari <em>Muqaddimah Al Khathib dalam Tarikh Al Baghdadi</em> hlm 1/3</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> lihat <em>Shahih Ibnu Hibban</em> hlm 1/84</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> lihat <em>Syaraf Ash hab Al Hadits karya Al Khathib</em> hlm 8-9.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> kitab <em>Bayân Al Wahm wa Al Ihâm</em> telah dicetak dalam enam jilid.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Penulis memiliki jilid yang kedua saja.</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Lihat tentang tiga kitab ini<em> Ar-Risalah al-Musthatrifah</em> karya Al-Katani (178 – 179)</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Lihat lagi <em>Al-Muharrir </em>karya Ibnu adil Hadi: 1/ 64 dari <em>muqaddimah Muhaqqiq</em></p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Haajie Khalifah <em>Kasyful Zhunun: </em>(1 / 158)</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-02-pendahuluan/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-02-pendahuluan/&amp;title=Bulughul-Maram+%28Seri+02-Pendahuluan%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-02-pendahuluan/&amp;title=Bulughul-Maram+%28Seri+02-Pendahuluan%29" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-02-pendahuluan/&amp;t=Bulughul-Maram+%28Seri+02-Pendahuluan%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-02-pendahuluan/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Bulughul-Maram+%28Seri+02-Pendahuluan%29+-+http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-02-pendahuluan/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-02-pendahuluan/&amp;title=Bulughul-Maram+%28Seri+02-Pendahuluan%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-02-pendahuluan/&amp;title=Bulughul-Maram+%28Seri+02-Pendahuluan%29" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Bulughul-Maram+%28Seri+02-Pendahuluan%29+-+http://bit.ly/dJfiFt&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Bulughul-Maram+%28Seri+02-Pendahuluan%29&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-02-pendahuluan/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Segala%20puji%20bagi%20Allah%20pencipta%20langit%20dan%20bumi%2C%20yang%20menjadikan%20kegelapan%20dan%20cahaya%20yang%20terang%2C%20sementara%20mereka%20orang-orang%20kafir%20tetap%20dalam%20pengingkaran.%20Nikmat-nikmat%20Allah%20tidak%20dapat%20dihitung%20dan%20orang%20yang%20ber-tahmid%20tidak%20dapat%20menunaikan%20syukur%20kepadaNya%20serta%20tidak%20ada%20seorangpun%20yang%20d" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-02-pendahuluan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bulughul-Maram (Seri 01-Pengantar Penulis)</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-01-pengantar-penulis/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-01-pengantar-penulis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Apr 2011 07:48:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1866</guid>
		<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم
إن الحمد لله، نحمده، ونستعينه، ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، صلوات الله وسلامه عليه، وعلى اله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<p style="text-align: right;">إن الحمد لله، نحمده، ونستعينه، ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، صلوات الله وسلامه عليه، وعلى اله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين.</p>
<p>Ilmu adalah tuntutan kebutuhan yang paling mulia dan sarana yang mengantar seorang hamba menuju kedudukan orang sholih dan baik serta derajat tertinggi didunia dan akhirat.</p>
<p>Diantara ilmu yang termulia dan tertinggi kedudukannya –setelah <em>kitabullah</em>- adalah memahami sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> secara <em>riwayat</em> dan <em>diroyat</em> karena keduanya adalah dasar pondasi dalam <em>istidlal</em> terhadap hukum-hukum syari’at.</p>
<p><span id="more-1866"></span>Para ulama terdahulu telah memberikan perhatian terhadap jenis dalil ini dan membuat karya tulis yang beranekaragam metodologinya. Diantara metodologi tersebut adalah mencukupkan dengan menyampaikan hadits-hadits hukum semata dan memisahkannya dari hadits-hadits tentang akidah, <em>siroh</em> dan selainnya. Hal ini dilakukan untuk mempermudah para penuntut ilmu menghafalnya dan mempermudahnya dalam ber-<em>istidlal</em>.</p>
<p>Diantara mereka adalah Al-Haafidz Ahmad bin ‘Ali bin Hajar Al-‘Asqalaani (wafat tahun 853 H). Beliau menulis kitab “<strong><em>Bulugh Al-Maraam Min Adillati Al-Ahkaam</em></strong>” yang mengumpulkan hadits-hadits yang berkenaan dengan masalah-masalah pokok dalam fikih dan hukum syari’at dan menyusunnya berdasarkan bab-bab fikih yang masyhur agar mempermudah pembaca untuk murja’ah. Beliau sendiri tidak hanya mencantumkan hadits-hadits shohih dalam kitab ini tapi juga menbawakan sebagian hadit-hadits lemah, sebab mengenal hadits shohih adalah ilmu dan mengenal hadits yang lemah juga ilmu. Juga dengan tujuan agar penuntut ilmu berijtihad (bersungguh-sungguh) dalam mempelajarinya. Hal itu karena terkadang hadits-hadits tersebut memiliki penguat dari hadits lain atau jalan periwayatan lainnya yang harus ia cari dan teliti, apakah hadits tersebut dapat diperkuat atau tidak?</p>
<p>Al-Haafidz mencukupkan dengan menyampaikan kitab dan bab-bab yang umum tanpa menyampaikan judul pada setiap hadits. Beliau menyampaikan diakhir kitabnya adalah kitab <em>Al-Jaami’</em> untuk adab-adab. SeakAn-akan beliau menginginkan dengan hal itu membekali penuntut ilmu setelah menghafal hadits-hadits tentang hukum agar menghafal hadits-hadits tersebut karena mereka sangat membutuhkannya. Jumlah hadits-hadits yang ada dalam kitab ini adalah 1568 hadits dan bias kurang dan lebih mengikuti perbedaan cetakan kitan atau perbedaan pandangan seputar riwayat dan atsar.</p>
<p>Kitab ini memiliki keistimewaan yang banyak, diantaranya:</p>
<ol>
<li>Beliau menyusun kitab, bab dan hadits-haditsnya sesuai dengan bab-bab fikih. Beliau menyampaikan nama kitab kemudian bab kemudian menyampaikan hadits-hadits yang khusus tentang hal itu. Terkadang menyampaikan nama kitab kemudian menyampaikan hadits-hadits tanpa menyebutkan bab sebagaimana dilakukan pada kitab <em>Al-Janaaiz</em> dan awal-awal kitab <em>Az-Zakaat</em>, <em>Shiyam</em> dan <em>An-Nikah</em> dan selainnya.</li>
<li>Beliau mencukupkan hadits-hadits <em>marfu’</em> dan tidak memasukkan hadits-hadits <em>mauquf</em> kecuali sedikit, sebagaimana dalam kitab <em>An-Nikaah</em>, Bab <em>Al-Ielaa’</em>, <em>Iddah</em> dan selainnya.</li>
<li>Beliau meringkas hadits-hadits yang panjang dengan ringkasan yang indah tidak berubah dengan perubahan ibarat (ungkapan) dengan mencukupkan pada tempat <em>istidlal</em>-nya saja.</li>
<li>Beliau menghapus <em>sanad</em> periwayatan dan mencukupkan dengan perawi yang tertinggi saja dan terkadang menyampaikan perawi sebelum perawi tersebut dengan satu tujuan namun hal itu sedikit sekali.</li>
<li>Umumnya beliau menjelaskan derajat hadits dari sisi <em>shahih</em>, <em>hasan</em> atau <em>lemah</em>. Hal ini adakalanya menukil dari selainnya atau menghukum sendiri. Inilah diantaranya keistimewaan yang terpenting walaupun tidak menjelaskan sebab kelemahannya kecuali sangat sedikit. Nampaknya beliau bertujuan untuk meringkas.</li>
<li>Beliau terkadang menyebutkan permasalahan dalam <em>sanad-sanad</em> berupa <em>irsaal</em> (<em>Mursal</em>), <em>inqitha’</em> (<em>Mungqathi’</em>) atau <em>Waqf</em> (<em>Mauquf</em>) . kadang beliau merajihkan apabila hadits memiliki lebih dari satu <em>sanad</em>. Semua itu diungkapkan dengan ungkapan singkat.</li>
<li>Beliau terkadang menyampaikan riwayat-riwayat dan hadits-hadits yang mendukung hadits yang beliau jadikan sebagai asal (pokok). Dan tidak melakukannya kecuali karena faidah berupa <em>Taqyiid Al-Muthlaq</em>, <em>Tafshil Al-Mujmal, Taudhih Mughallaq, daf’u Ta’aarudh</em> atau sejenisnya.</li>
</ol>
<p>Ternyata Allah menganugerahkan kitab ini dengan diterima para ulama terdahulu dan sekarang, sehingga para ulama memujinya dan para penuntut ilmu mengelutinya dan bersemangan untukmenghafalnya. Juga sebagian sekolah menjadikannya sebagai buku pegangan dalam pengajarannya, sehingga para ulamapun memberikan syarah dan penjelasan terhadap kitab ini. Disamping juga kitab ini telah diberi penjelasan dari sisi ilmu hadits dengan di-<em>takhrij</em> dan disandarkan kepada sumber rujukan aslinya dan diberi hokum shohih dan <em>dha’if</em>-nya serta lainnya.</p>
<p><strong>Metode syarah </strong></p>
<p>Dalam mensyarah ini kami akan menggunakan metode sebagai berikut:</p>
<p><strong>1. </strong>Kami      berusaha menjelaskan kitab dan bab dan yang berhubungan dengannya sebelum      mensyarah hadits yang ada dibawahnya.</p>
<p><strong>2.</strong> Dalam      menjelaskan dan men-<em>syarah</em> hadits dalam kitab ini kami mengikuti metode sebagai      berikut:</p>
<ul>
<li>Menjelaskan judul hadits dan menjelaskan temanya serta menjelaskan maksudnya.</li>
</ul>
<ul>
<li> Memberikan biografi singkat terhadap perawi yang disebutkan <em>Al-Haafidz.</em></li>
</ul>
<ul>
<li> Men-<em>takhrij</em> hadits dengan menyampaikan sumber rujukan yang mungkin dilakukan dengan keterbatasan yang ada dengan menjelaskan hukum para ulama tentang hal itu, khususnya hukum-hukum yang disampaikan Syeikh Al-Albani dalam kitab-kitab beliau.</li>
</ul>
<ul>
<li> Tidak terikat dalam penyampaian sumber rujukan (<em>Al-mashadir</em>) dengan satu cara tertentu, karena yang terpenting adalah kejelasan hukum hadits tersebut dari sisi <em>shahih</em> atau tidaknya.</li>
</ul>
<ul>
<li>Apabila berasal dari <em>Shahihain </em>maka kami cukupkan dengannya, kecuali ada hal-hal yang menuntut lebih dari itu.</li>
</ul>
<ul>
<li>Terkadang kami sampaikan hadits secara utuh apabila Al-Haafidz tidak menyampaikannya secara utuh atau bila ada perbedaan lafadz bila memungkinkan dengan menyampaikan juga hukum Al-Haafidz terhadap hadits tersebut yang ada dalam kitab ini atau diluar ditambah dengan hukum para ulama lainnya.</li>
</ul>
<ul>
<li>Apabila ada faidah <em>isnad</em> atau ilmu hadits kadang kami sampaikan karena berfaidah.</li>
</ul>
<ul>
<li> Kemudian setelah <em>takhrij</em> maka kami sampaikan syarah kosa kata hadits dan <em>syarah</em> umum.</li>
</ul>
<ul>
<li>Menyampaikan masalah-masalah fikih dan lainnya yang diambil dari hadits tersebut</li>
</ul>
<p><strong>3. </strong>Terkadang      dalam masalah <em>khilafiyah</em> kami menyampaikan pendapat dan ulama yang      berpendapat demikian dengan membawakan dalil-dalil setiap pendapat –bila      memungkinkAn- dengan berusaha mentarjih dari pendapat yang ada dengan      melihat dan berpedoman kepada <em>tarjih</em>-nya para ulama yang <em>mu’tabar</em>.</p>
<p>Demikian metodologi yang kami coba berusaha untuk melakukannya, mudah-mudahan mempermudah kita semua untuk memahami agama ini dan dijadikan sebagai pabrik amalan sholeh yang tidak putus hingga hari kiamat nanti.</p>
<p>Sebagai penutup kami membuka hati dan telinga kami untuk menerima tegur sapa dan kritik membangun dari para pembaca yang menemui kekurangan dan kesalahan dalam penulisan syarah ini agar dapat diperbaiki dikemudian hari.</p>
<p style="text-align: right;">والله تعالى أسأل أن يجعل عملي صالحاً، ولوجهه خالصاً، ولعباده نافعاً، وصلى الله وسلَّم على نبيّنا محمد، وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, L.c.<br />
Artikel <a href="http://www.Ustadzkholid.com" target="_blank">www.Ustadzkholid.com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-01-pengantar-penulis/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-01-pengantar-penulis/&amp;title=Bulughul-Maram+%28Seri+01-Pengantar+Penulis%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-01-pengantar-penulis/&amp;title=Bulughul-Maram+%28Seri+01-Pengantar+Penulis%29" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-01-pengantar-penulis/&amp;t=Bulughul-Maram+%28Seri+01-Pengantar+Penulis%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-01-pengantar-penulis/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Bulughul-Maram+%28Seri+01-Pengantar+Penulis%29+-+http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-01-pengantar-penulis/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-01-pengantar-penulis/&amp;title=Bulughul-Maram+%28Seri+01-Pengantar+Penulis%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-01-pengantar-penulis/&amp;title=Bulughul-Maram+%28Seri+01-Pengantar+Penulis%29" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Bulughul-Maram+%28Seri+01-Pengantar+Penulis%29+-+http://bit.ly/fQmlP4&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Bulughul-Maram+%28Seri+01-Pengantar+Penulis%29&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-01-pengantar-penulis/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A %D8%A8%D8%B3%D9%85%20%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%20%D8%A7%D9%84%D8%B1%D8%AD%D9%85%D9%86%20%D8%A7%D9%84%D8%B1%D8%AD%D9%8A%D9%85%0D%0A%D8%A5%D9%86%20%D8%A7%D9%84%D8%AD%D9%85%D8%AF%20%D9%84%D9%84%D9%87%D8%8C%20%D9%86%D8%AD%D9%85%D8%AF%D9%87%D8%8C%20%D9%88%D9%86%D8%B3%D8%AA%D8%B9%D9%8A%D9%86%D9%87%D8%8C%20%D9%88%D9%86%D8%B3%D8%AA%D8%BA%D9%81%D8%B1%D9%87%D8%8C%20%D9%88%D9%86%D8%B9%D9%88%D8%B0%20%D8%A8%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%20%D9%85%D9%86%20%D8%B4%D8%B1%D9%88%D8%B1%20%D8%A3%D9%86%D9%81%D8%B3%D9%86%D8%A7%20%D9%88%D9%85%D9%86%20%D8%B3%D9%8A%D8%A6%D8%A7%D8%AA%20%D8%A3%D8%B9%D9%85%D8%A7%D9%84%D9%86%D8%A7%D8%8C%20%D9%85%D9%86%20%D9%8A%D9%87%D8%AF%D9%87%20%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%20%D9%81%D9%84%D8%A7%20%D9%85%D8%B6%D9%84%20%D9%84%D9%87%D8%8C%20%D9%88%D9%85%D9%86%20%D9%8A%D8%B6%D9%84%D9%84%20%D9%81%D9%84%D8%A7%20%D9%87%D8%A7%D8%AF%D9%8A%20%D9%84%D9%87%D8%8C%20%D9%88%D8%A3%D8%B4%D9%87%D8%AF%20%D8%A3%D9" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/hadits/bulughul-maram-seri-01-pengantar-penulis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pohon di Kuburan Meringankan Siksa?</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/aqidah/pohon-di-kuburan-meringankan-siksa/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/aqidah/pohon-di-kuburan-meringankan-siksa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Apr 2009 10:02:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tri.subekti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Kuburan]]></category>
		<category><![CDATA[Siksa Kubur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=849</guid>
		<description><![CDATA[Sebagian orang memiliki kepercayaan bahwa pohon tertentu yang ditanam di atas atau di dekat kuburan dapat meringankan siksa si penghuni kubur. Mereka pun berdalil dengan sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim. Benarkan kepercayaan yang demikian?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="TEXT-ALIGN: right; FONT-SIZE: 16px" align=right><font size=5 face="times, times new roman, serif">عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَبْرَيْنِ فَقَالَ إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ الْبَوْلِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ فَغَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ فَعَلْتَ هَذَا قَالَ لَعَلَّهُ يُخَفِّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا</font></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;<em>Dari Ibnu Abbas Radhiallahu &#8216;anhu , beliau berkata, &#8220;Rasulullah </em><em>shallallahu&#8217;alaihi wassalam melewati dua buah kuburan, lalu beliau bersabda, &#8216;Sungguh keduanya sedang disiksa, mereka disiksa bukan karena perkara besar (dalam pandangan keduanya). Salah satu dari dua orang ini, (semasa hidupnya) tidak menjaga diri dari  kencing, sedangkan yang satunya lagi, dia keliling menebar namimah.&#8217; Kemudian beliau mengambil pelepah basah, beliau belah jadi dua, lalu beliau tancapkan di atas masing-masing kubur satu potong. Para sahabat bertanya, &#8216;Wahai Rasulullah, kenapa engkau melakukan ini ?&#8217; Beliau menjawab, &#8216;Semoga mereka diringankan siksaannya selama keduanya belum kering.&#8221; &#8220;</em></p>
<p align="left"><span id="more-849"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Takhrij</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Hadits ini diatas dikeluarkan oleh:</p>
<ul>
<li>Imam Bukhari dalam <em>Al Jami&#8217; As Shahih</em> (1/317-Fathul Baari) No. 216, 218, 1361, 1378, 6052 dan 6055</li>
<li>Imam Muslim dalam <em>As Shahih</em> (3/200 &#8211; syarah Imam Nawawi) No. 292</li>
<li>Imam Tirmidzi dalam <em>Al Jami</em>&#8216; (1/102) No. 70, dan beliau mengatakan, &#8220;Hadits Hasan Shahih&#8221;</li>
<li>Imam Abu Daud dalam <em>As Sunan</em> (1/5) No. 20</li>
<li>Imam Nasa&#8217;I dalam <em>Al Mujtaba</em> (1/28)</li>
<li>Imam Ibnu Majah dalam As Sunan (1/125) No. 237</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pemahaman Yang Benar Terhadap Hadits</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sabda beliau, <strong> إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ</strong> (Sesungguhnya mereka berdua sedang disiksa.). Kata ganti (mereka berdua-pent) adalah kata ganti untuk kubur, (namun) yang dimaksudkan adalah penghuni kubur.</p>
<p style="text-align: justify;">Sabda beliau, <strong>وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ</strong> (Mereka berdua disiksa bukan karena perkara besar(dalam pandangan keduanya)). Dalam riwayat lain Imam Bukhari,</p>
<p style="font-size:16px;text-align: right;">يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ وَإِنَّهُ لكَبِيْرٌ</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Mereka berdua disiksa karena perkara besar (dalam pandangan keduanya) namun sungguh itu adalah perkara besar.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam Shahih Bukhari juga dalam Kitab Wudhu terdapat lafadz,</p>
<p style="font-size:16px;text-align: right;">وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ بَلْ إِنَّهُ كَبِيْرٌ</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Mereka berdua tidak disiksa karena perkara besar(dalam pandangan keduanya), bahkan  sungguh itu adalah perkara besar.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan dua tambahan lafadz yang shahih ini, dapat ditetapkan bahwa penyebabnya adalah dosa besar. Maka sabda Rasulullah s<em>hallallahu &#8216;alaihi wassalam</em>, &#8220;Mereka berdua disiksa bukan karena perkara besar.&#8221; Perlu di jelaskan.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Nawawi <em>rahimahullah</em> dalam <em>Syarah Shahih Muslim</em> (3/201) mengatakan, para ulama telah menyebutkan dua penafsiran dalam hadits ini</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pertama</strong>, itu bukanlah perkara besar dalam pandangan mereka berdua.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kedua</strong>, meninggalkan kedua perkara ini bukanlah sesuatu yang besar (susah). <strong></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Al Qadli Iyadh menyampaikan tafsir <strong>ketiga</strong> yaitu, tidak termasuk dosa besar.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya (Syaikh Raid) katakan, berdasarkan tafsir ketiga ini, maksud hadits ini adalah larangan dan memberikan peringatan yang keras kepada orang lain selain dua penghuni kubur ini, agar tidak mengira bahwa adzab Allah itu hanya ada akibat dari dosa besar yang membinasakan, karena adzab itu (kadang) ada akibat dari selainnya. <em>Wallahu a&#8217;lam</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebab kedua perbuatan ini (yaitu tidak menjaga diri dari air kencing dan namimah-pent) menjadi dosa besar adalah  perbuatan tidak bersih dari kencing mengakibatkan batalnya shalat. Sehingga tidak diragukan lagi tidak membersihkan diri dari kencing merupakan perbuatan dosa besar. Demikian juga menebar namimah (adu domba) dan berusaha berbuat kerusakan termasuk perbuatan yang paling buruk, apalagi jika bersesuaian dengan sabda beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> yang menggunakan kata <em>YAMSYI</em> (<em>fi&#8217;il mudhari&#8217;</em>) yang biasanya menunjukkan keadaan yang terus berkelanjutan (artinya dia terus-terus melakukannya selama hidupnya-pent).</p>
<p style="text-align: justify;">Sabda beliau <strong>لَا يَسْتَتِرُ</strong> . Al Hafiz Ibnu Hajar dalam <em>Fathul Baari</em> mengatakan, &#8220;Beginilah dalam kebanyakan riwayat yaitu dengan dua huruf yang bertitik dua diatas (dua huruf Ta&#8217;-pent), huruf pertama difathahkan dan huruf kedua dikasrahkan. Dalam riwayat Ibnu Asakir<a name="_ftnref4" href="#_ftn4">[1]</a> <strong>يَسْتَبْرِئُ</strong> (membesihkan diri-pent) dengan huruf <em>ba&#8217;</em> disukunkan, berasal dari kata <strong>اسْتِبْرَاءُ</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hadist riwayat Imam Muslim dan Abu Dawud dari hadits Al A&#8217;masy<a name="_ftnref5" href="#_ftn5">[2]</a> <strong>يَسْتَنْزِهُ</strong> dengan huruf <em>nun </em>yang disukunkan, setelah itu huruf <em>zai</em> lalu huruf <em>ha</em>. Makna kata  <strong>لَا يَسْتَتِرُ</strong> adalah tidak membuat antara dia dengan kencingnya sesuatu yang bisa melindunginya dari percikan kencing. Dengan demikian, maka maknanya sejalan dengan riwayat  <strong>يَسْتَنْزِهُ</strong> .</p>
<p style="text-align: justify;">Al hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> dalam <em>Fathul Baari</em> (1/318) menyatakan, &#8220;Dalam riwayat Abu Nu&#8217;aim berbunyi <strong>لاَيَتَوَقَّى</strong> <strong> </strong>(tidak menjaga diri-pent) dan kata ini merupakan penjelas maksud (kata-kata diatas-pent).  Sebagian para ulama memberlakukan kata  <strong>لَا يَسْتَتِرُ</strong> sesuai zhahirnya. Mereka mengatakan, bahwa arti kata itu adalah tidak menutup auratnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sabda beliau <strong>يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ</strong> yaitu mengutip dan menceritakan perkataan seseorang dengan tujuan mencelakakan. Adapun jika tujuannya untuk mewujudkan satu kemaslahatan atau menghindari kerusakan secara syar&#8217;i maka hal itu dibenarkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Nawawi <em>rahimahullah</em> dalam <em>Syarh Muslim</em> (3/201) mengatakan, &#8220;(<strong>Namiimah</strong>) adalah menceritakan perkataan seseorang ke orang lain dengan tujuan merusaknya (Adu domba).&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan perbuatan <em>Nabi shallallahu &#8216;alaihi</em> <em>wassalam</em> menaruh dua potong pelepah basah diatas dua kubur, menurut pandangan para ulama, perbuatan beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> itu dipahami bahwa beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam </em>memintakan syafa&#8217;at untuk penghuni kubur itu, lalu permintaan beliau s<em>hallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> dikabulkan dengan diberi keringanan adzab kepada kedua penghuni kubur itu sampai kedua potong pelepah itu kering.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Muslim <em>rahimahullah</em> menyebutkan di akhir kitab Shahih-nya sebuah hadits yang panjang yaitu hadits Jabir tentang dua penghuni kubur, (beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> bersabda-pent):</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;<em>&#8230; maka syafa&#8217;atku untuk meringankan adzab dari kedua penghuni kubur itu dikabulkan selama dua batang kayu ini masih basah</em>.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hadits tersebut tidak ada isyarat yang menunjukkan bolehnya menanam pelepah kurma atau yang lainnya di atas kuburan. Itu merupakan (kekhususan) Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em>, karena Allah <em>Ta&#8217;ala </em>memperlihatkan kepada beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> keadaan dua penghuni kubur tersebut dan adzab yang mereka alami. Ini merupakan kekhususan diantara kekhususan-kekhususan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> sebagaimana penjelasan yang akan datang insya Allah <em>Ta&#8217;ala</em> .</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pemahaman keliru tentang hadits ini</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ada yang memahami hadits diatas dengan pemahaman keliru. Sebagian mereka berdalil (berargumentasi) dengan hadits ini, tentang bolehnya menanam kurma dan pepohonan diatas kuburan. Mereka mengatakan bahwa <em>illah </em>(penyebab) diringankan adzab dari kedua penghuni kubur ini adalah dua pelepah yang masih basah karena keduanya senantiasa bertasbih kepada Allah selama masih basah sedangkan yang kering tidak bertasbih.</p>
<p style="text-align: justify;">Pendapat ini menyelisihi firman Allah<em> Ta&#8217;ala</em> ,</p>
<p style="font-size:16px;text-align: right;">وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلاَّيُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِن لاَّتَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Dan tak ada suatupun melainkan nertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.&#8221;</em> (QS Al Isra&#8217; 44)</p>
<p style="text-align: justify;">Kalaulah seandainya, penyebab diringankan adzab adalah tasbih, tentu tidak ada seorangpun yang mendapatkan siksa di dalam kuburnya karena debu dan bebatuan yang berada di atas mayit bertasbih kepada Allah <em>Ta&#8217;ala</em> .<strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Syaikh kami Al Albani <em>rahimahullah</em> mengatakan dalam <em>Ahkamul Janaaiz </em>(hal. 201), &#8220;Kalau seandainya kondisi basah pelepah itu yang dimaksud, pasti para salafus shalih telah memahaminya  dan mengamalkan penunjukkannya serta telah meletakkan pelepah atau batang pohon di atas kubur ketika mereka berziarah. Kalau seandainya mereka melakukan hal tersebut, tentu beritanya akan masyhur kemudian dinukil para perawi terpercaya kepada kita. Karena ini termasuk perkara yang menarik perhatian dan mesti dinukil. Jika tidak dinukil, maka menunjukkan bahwa hal itu tidak  pernah terjadi. Cara seperti ini dalam mendekatkan diri kepada Allah adalah bid&#8217;ah&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun hadits Buraidah Al Aslamiy <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> yang berisi bahwa beliau berwasiat agar ditaruhkan dua pelepah diatas kuburnya. Maka hal ini merupakan hasil ijtihad beliau semata dan ijtihad itu kadang benar dan kadang salah. Dan kebenaran bersama orang yang meninggalkan perbuatan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Syaikh Ibnu Baaz <em>rahimahullah</em> dalam komentar beliau atas kitab <em>Fathul Baari </em>(3/223) mengatakan, &#8220;Pendapat yang mengatakan bahwa hal itu merupakan kekhususan Nabi merupakan pendapat yang benar. Karena Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> tidak pernah menanamkan pelepah kecuali di atas kuburan yang beliau ketahui penghuninya sedang disiksa dan tidak melakukan hal itu kepada semua kuburan. Kalau seandainya perbuatan itu sunnah, tentu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> akan melakukannya kepada semua kuburan. Juga karenakan para khulafa&#8217; Ar Rasyidin dan tokoh besar shahabat tidak pernah melakukan hal itu. Kalau seandainya itu disyari&#8217;atkan tentu mereka akan segera melakukannya&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Bukhari <em>rahimahullah</em> membuat satu bab dalam kitab shahihnya (3/222) <strong>Bab Al Jariidati Ala Al Qabri</strong><strong>.</strong><strong> </strong>Ibnu Rusydi mengatakan, tampaknya dari penjelasan Imam Bukhari <em>rahimahullah</em> bahwa hal itu khusus untuk dua orang itu saja, oleh karena itu beliau melanjutkannya dengan membawakan perkataan Ibnu Umar <em>radliallahu &#8216;anhuma</em> ketika melihat sebuah tenda di atas kuburan Abdurrahman,</p>
<p style="font-size:16px;text-align: right;">انْزِعْهُ يَا غُلَامُ فَإِنَّمَا يُظِلُّهُ عَمَلُهُ</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Wahai anak muda, cabutlah itu! Hanya amal perbuatannya saja yang (bisa) menaunginya&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Para ahli ilmu menjelaskan bahwa ini adalah satu kejadian khusus yang mungkin dikhususkan kepada orang-orang yang Allah perlihatkan kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> keadaan sang mayit.</p>
<p style="text-align: justify;">Al Khathabi berkata dalam <em>Ma&#8217;alimus Sunan</em> (1/27) mengomentari hadits ini, &#8220;Ini termasuk bertabarruk (mengharapkan barakah-pent) dengan atsar dan do&#8217;a beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam agar diringankan adzab dari keduanya. Seakan-akan beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjadikan waktu basahnya ranting itu sebagai batas dari permintaan keringanan adzab dari beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> , bukan karena pelepah basah memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki pelepah kering.  Kebanyakan orang di banyak negara menanam pepohonan di atas kubur-kubur mereka, saya lihat mereka melakukan ini tidak mengambilnya dari sisi ini&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Syaikh Ahmad Syakir dalam komentar beliau terhadap Sunan Tirmidzi (1/103) berkata setelah hadits ini: &#8220;Benarlah (apa yang dikatakan-pent) Al Khattaby. Kebanyakan orang semakin menjadi-jadi melakukan amal yang tidak ada dasarnya ini dan berlebih-lebihan dalam hal ini. terutama di negeri Mesir, karena taklid kepada orang-orang nasrani, sampai-sampai mereka meletakkan bunga-bunga diatas pekuburan, saling menghadiahkan bunga diantara mereka. Lalu mareka taruh diatas pusara keluarga dekat mereka dan kenalan mereka sebagai penghormatan kepada penghuni kubur dan sikap pura-pura baik kepada yang masih hidup. Bahkan kebiasaan ini menjadi setengah resmi dalam acara persahabatan  antar bangsa. Engkau dapatkan, para pembesar Islam, jika berkunjung ke salah satu negara Eropa pergi ke kuburan para pembesar negera itu atau ke kubur yang mereka sebut <strong>kuburan pahlawan tak dikenal</strong> dan menabur bunga diatasnya. Sebagian mereka meletakkan bunga plastik yang tidak ada unsur basah padanya karena ikut-ikutan orang Prancis dan mengikuti perbuatan-perbuatan Nashara dan Yahudi. Dan  para ulama tidak mengingkar mereka atas perbuatan tersebut apalagi orang awam, bahkan engkau melihat mereka sendiri meletakkan di kuburan orang mati mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya tahu kebanyakan wakaf-wakaf yang mereka namakan wakaf khairiyah ditanami pohon kurma dan bunga-bunga yang berbau harum yang diletakkan di atas kuburan. Semua ini adalah perbuatan bid&#8217;ah dan mungkar yang tidak memiliki dasar sama sekali, tidak memiliki sandaran dari Al-Qur&#8217;an maupun Sunnah. Para ahli ilmu wajib mengingkari dan memberantas kebiasaan-kebiasaan ini sesuai dengan kemampuan masing-masing.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Syaikh kami Al Albani mengatakan dalam kitab <em>Ahkaamul Janaiz</em> (hal. 201),</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ada beberapa perkara yang menguatkan (pendapat yang mengatakan) bahwa meletakkan  pelepah di atas kuburan merupakan kekhususan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> dan peringanan adzab bukan disebabkan  pelepah yang beliau n bagi dua. -beliau t menyebutkan, diantaranya:</p>
<p style="text-align: justify;">Hadits Jabir radhiallahu &#8216;anhu yang terdapat dalam shahih Muslim , Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Sesungguhnya aku melewati dua kuburan yang sedang disiksa, maka dengan syafa&#8217;atku aku ingin agar adzabnya diperingan dari keduanya selama dua ranting ini masih basah.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ini jelas sekali, (menerangkan) bahwa keringanan adzab itu disebabkan oleh syafa&#8217;atnya <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> dan do&#8217;anya n bukan karena unsur basah (yang ada pada ranting itu-pent), baik kisah Jabir <em>radhiallahu &#8216;anhu </em> ini satu kejadian dengan kisah Ibnu Abbaz <em>radhiallahu &#8216;anhu </em>yang terdahulu sebagaimana yang dirajihkan oleh Al &#8216;Aini atau yang ulama lain, ataupun dua kejadian yang berbeda sebagaimana dirajihkan oleh Ibnu Hajar dalam <em>Fathul Baari.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Adapun berdasarkan kemungkinan pertama (yaitu kisah J<em>abir radhiallahu &#8216;anhu</em> satu kejadian dengan kisah Ibnu Abbas <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> ) maka cukup jelas. Adapun berdasarkan kemungkinan kedua, karena penelitian yang benar menunjukkan bahwa penyebabnya satu dalam dua kisah tersebut karena adanya kemiripan yang ada dalam dua kisah tersebut. Juga karena keberadaan pelepah basah sebagai sebab diringankan adzab dari mayit ini termasuk perkara yang tidak diketahui secara syar&#8217;i atau akal. Kalau seandainya hal ini benar, tentu orang yang paling ringan adzabnya adalah orang-orang kafir yang menanamkan pepohonan dikuburan seperti layaknya sebuah taman karena banyaknya tanaman dan pepohonan yang selalu hijau di musim panas ataupun dingin. Ditambah juga bahwa sebagian ulama seperti Imam Suyuthi t menjelaskan  bahwa sebab pengaruh pelepah basah dalam peringanan adzab adalah karena dia bertasbih kepada Allah <em>Ta&#8217;ala</em> . mereka mengatakan, &#8220;Jika hilang sifat basah dari pelepah itu dan kering, maka berhentilah dari tasbih!.</p>
<p style="text-align: justify;">Alasan ini menyelisihi keumuman firman Allah Ta&#8217;ala ,</p>
<p style="font-size:16px;text-align: right;">وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلاَّيُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِن لاَّتَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ<em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;</em><em>Dan tak ada suatupun melainkan nertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.</em><em>&#8220;</em><em> </em>(QS. Al Isra&#8217;:44)</p>
<p style="text-align: justify;">Jika hal ini sudah jelas, maka mudah untuk memahami kebathilan qiyas lemah yang dikutip oleh Imam Suyuthi <em>rahimahullah</em> dari orang yang tidak beliau sebutkan, &#8220;<strong>Jika adzab kubur diringankan dari keduanya dengan sebab tasbbih pelepah tersebut, maka bagaimana pula dengan al-Qur&#8217;an yang dibacakan seorang mukmin ? Dia mengatakan, &#8220;Hadits ini merupakan dalil menanam pohon di kuburan&#8221;</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Saya (Syaikh Al Albani) mengatakan, &#8220;Kokohkan dulu kursi singgasana baru dipahat&#8221;<a name="_ftnref6" href="#_ftn6">[3]</a>, Apakah (mungkin) bayangan sesuatu itu lurus sementara batang (empunya bayangan) bengkok. Kalau seandainya qiyas ini benar, tentulah para salafusshalih akan bersegera melakukannya karena mereka lebih bersemangat dalam kebaikan dibandingkan kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Keterangan yang telah lewat menunjukkan bahwa meletakkan pelepah di kuburan itu merupakan kekhususan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam </em>dan rahasia peringanan adzab dari dua penghuni kubur diatas bukan karena pelepah yang basah akan tetapi karena syafa&#8217;at dan do&#8217;a Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> . Kejadian ini termasuk kejadian yang tidak mungkin terulang lagi setelah beliau n wafat dan tidak juga orang lain setelah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> , karena mengetahui adzab kubur termasuk kekhususan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> . Hal ini termasuk perkara ghaib yang tidak akan diketahui kecuali oleh Rasul, sebagaimana berita dalam firman Allah Ta&#8217;ala ,</p>
<p style="font-size:16px;text-align: right;">عَالِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;</em><em>(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.</em><em>&#8220;</em><em> (</em>QS.Al Jin:26)</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">[Diterjemahkan oleh Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. dari kitab <em>Tashihul Akhtha' wal Auhaam all Waqi'ah fi fahmi Ahaditsin Nabi alaihis shalatu was salam,</em> Syaikh Raid Shabri Bin Abu Alfah, hal 72-78] <a name="_ftnref1" href="#_ftn1"></a></p>
<p style="text-align: justify;">Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.com</a></p>
<hr size="1" />
<p style="text-align: justify;"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4">[1]</a> Penerjemah juga menemukan beberapa riwayat lain yang menggunakan kalimat <strong>????????????</strong><em> </em>seperti riwayat Imam Nasa&#8217;I berikut</p>
<p style="font-size:16px;text-align: right;">???? ????? ???????? ????? ????? ??????? ??????? ?????? ???????  ?????? ????????? ???????????? ??????? ?????????? ?????????????? ????? ???????????? ??? ??????? ?????? ??????????? ??????? ??? ???????????? ???? ???????? ???????? ???????? ??????? ??????? ?????????????? ????? ?????? ????????? ???????? ?????????? ?????????? ????? ?????? ??? ????? ?????? ????????? ????????? ??? ??????? ??????? ???? ???????? ????? ??????? ???????????? ???? ????????? ????????? ??? ???? ?????????</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Dari Ibnu Abbas , beliau berkata, &#8220;Rasulullah </em><em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em><em> melewati dua buah kuburan, lalu beliau bersabda, &#8216;Sungguh Keduanya sedang disiksa, mereka disiksa bukan karena dosa besar. Salah satu dari dua orang ini, tidak menjaga diri dari  kencing, sedangkan yang satunya lagi, dia keliling menebar <strong>namiimah</strong>.&#8217; Kemudian beliau mengambil ranting basah, beliau patahkan jadi dua, lalu beliau tancapkan diatas masing-masing kubur satu potong. Para sahabat bertanya, &#8216;Wahai Rasulullah, kenapa Rasul melakukan ini ?&#8217; Beliau menjawab, &#8216;Semoga mereka diringankan siksaannya selama kedua ranting itu beum kering.<strong></strong></em></p>
<p style="text-align: justify;"><a name="_ftn5" href="#_ftnref5">[2]</a> Riwayat selengkapnya,</p>
<p style="font-size:16px;text-align: right;">????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ????? ?????????? ??????? ?????????? ???????????? ????? ???????????? ??? ??????? ?????? ????? ??????? ??? ???????????? ???? ????????? ???????? ????? ??????? ??????? ?????????????? &#8230;</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Rasulullah </em><em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em><em> melewati dua buah kuburan, lalu beliau bersabda, &#8216;Sesungguhnya Keduanya sedang disiksa, mereka disiksa bukan karena dosa besar, orang ini tidak membersihkan  diri dari  kencing, sedangkan yang ini dia keliling menebar <strong>namiimah&#8230;</strong></em><strong><em>&#8220;</em></strong><strong><em> </em></strong><strong>(HR. Abu Dawud)</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><a name="_ftn6" href="#_ftnref6">[3]</a> Ini peribahasa yang bermakna buktikan dulu kebenaran satu masalah baru dipakai sebagai ukuran. (pent)</p>
<p style="text-align: justify;">


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/aqidah/pohon-di-kuburan-meringankan-siksa/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/aqidah/pohon-di-kuburan-meringankan-siksa/&amp;title=Pohon+di+Kuburan+Meringankan+Siksa%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/aqidah/pohon-di-kuburan-meringankan-siksa/&amp;title=Pohon+di+Kuburan+Meringankan+Siksa%3F" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/aqidah/pohon-di-kuburan-meringankan-siksa/&amp;t=Pohon+di+Kuburan+Meringankan+Siksa%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/aqidah/pohon-di-kuburan-meringankan-siksa/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Pohon+di+Kuburan+Meringankan+Siksa%3F+-+http://ustadzkholid.com/aqidah/pohon-di-kuburan-meringankan-siksa/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/aqidah/pohon-di-kuburan-meringankan-siksa/&amp;title=Pohon+di+Kuburan+Meringankan+Siksa%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/aqidah/pohon-di-kuburan-meringankan-siksa/&amp;title=Pohon+di+Kuburan+Meringankan+Siksa%3F" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Pohon+di+Kuburan+Meringankan+Siksa%3F+-+http://b2l.me/n9ppd&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Pohon+di+Kuburan+Meringankan+Siksa%3F&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/aqidah/pohon-di-kuburan-meringankan-siksa/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Sebagian%20orang%20memiliki%20kepercayaan%20bahwa%20pohon%20tertentu%20yang%20ditanam%20di%20atas%20atau%20di%20dekat%20kuburan%20dapat%20meringankan%20siksa%20si%20penghuni%20kubur.%20Mereka%20pun%20berdalil%20dengan%20sebuah%20hadits%20yang%20diriwayatkan%20Imam%20Bukhari%20dan%20Imam%20Muslim.%20Benarkan%20kepercayaan%20yang%20demikian%3F" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/aqidah/pohon-di-kuburan-meringankan-siksa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terjaganya Hadits Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/hadits/terjaganya-hadits-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/hadits/terjaganya-hadits-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Apr 2009 13:46:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[salafy]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=714</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta'ala berfirman:

?????? ?????? ?????????? ????????? ???????? ???? ????????????

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Dzikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al Hijr: 9)
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Allah ta’ala mengutus Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>untuk membimbing manusia kepada jalan yang lurus dan memerintahkan mereka untuk mentaati dan mencontoh prilaku beliau. Allah ta’ala berfirman :</p>
<p align="right"><span style="font-size: 15px;">وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ</span></p>
<p><em>Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia.Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Allah.Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya</em>. (QS. Al-Hasyr: 7)</p>
<p>Beliaupun <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em> telah menunaikan semua tugasnya dan meninggalkan al-Qur`an dan Sunnah sebagai petunjuk bagi manusia hingga hari kiamat dalam mencapai keselamatan dunia dan akherat. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda:</p>
<p align="right"><span style="font-size: 15px;">???????? ???????? ?????????? ???? ?????????? ??? ????????????? ??????? ??????? ????? ?? ?????????</span></p>
<p><em>Aku tinggalkan pada kalian dua hal, kalian tidak akan sesat selama kalian berpegang teguh kepada keduanya yaitu Kitabullah (al-Qur`an) dan Sunnahku</em>. (HR al-Haakim dan dishohihkan al-Albani dalam Shohih al-Jâmi&#8217; as-Shoghîr no. 2937)</p>
<p>Dari sini jelaslah hadits-hadits Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em> menjadi salah satu sumber pengambilan hukum syari&#8217;at baik berupa aqidah, hukum fikih dan yang lainnya. Sunnah-sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>ini menjadi sumber kehidupan seorang muslim dalam menggapai kebahagian dan keridho&#8217;an disisi Allah ta’ala . Jadilah hadits-hadits ini menjadi sumber dan asas syari&#8217;at yang kekal dan terjaga keontetikannya.<span id="more-714"></span><br />
Syeikh Abdul muhsin al-Abâd hafizhahullah menyatakan: Sesungguhnya Sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>adalah wahyu yang Allah sampaikan kepada NabiNya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia bersama al-Qur`an yang mulia adalah asas agama islam dan sumber hukumnya. Keduanya saling terkait sebagaimana kaitan syahadat Lâ ilâha Illa Allah dan syahadat Muhammad Rasulullah. Siapa yang tidak beriman kepada Sunnah berarti tidak beriman kepada al-Qur&#8217;an. ( Lihat: Kitab Miftâh al-Jannah Fî al-Ihtijâj Bi as-Sunnah karya al-Suyuthi, cetakan kelima tahun 1415H terbitan al-Jâmi&#8217;ah al-Islamiyah Madinah hal. 3)<br />
Memang keduanya adalah sumber utama dalam mengenal aqidah dan hukum-hukum syari&#8217;at yang saling melengkapi, sebab Sunnah adalah penjelas kandungan al-Qur&#8217;an yang mujmal (global) dan membatasi kemutlakannya. Bahkan sebenarnya ia adalah penerapan al-Qur&#8217;an melalui Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em> yang Allah ta’ala sifatkan dengan ketinggian akhlaknya dalam firmanNya:</p>
<p align="right"><span style="font-size: 15px;">وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ</span></p>
<p><em>Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.</em> (QS.Al Qolam: 4)</p>
<p>Demikianlah ummul Mukminin A&#8217;isyah <em>radhiyallahu &#8216;anha</em> ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak dapat mengungkapkannya kecuali dengan menyatakan:</p>
<p align="right"><span style="font-size: 15px;">????? ???????? ??????????</span></p>
<p><em>Akhlak beliau adalah al-Qur`an </em>(HR Ahmad no. 23460 dan dishohihkan al-Albani dalam Shohih al-Jâmi&#8217; as-Shoghîr no 4811).</p>
<p>Sehingga Allah <em>ta’ala</em> berfirman:</p>
<p align="right"><span style="font-size: 15px;">لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا</span></p>
<p><em>Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.</em> (QS. Al Ahdzab: 21)</p>
<p><strong>Allah <em>ta’ala</em> Menjaga sunnah RasulNya</strong></p>
<p>Eratnya hubungan al-Qur`an dan Sunnah ini tidak akan dapat dipisah-pisah dalam memahami islam yang benar dan dikehendaki Allah <em>ta’ala</em>. Ironisnya, kedudukan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tinggi ini membuat musuh-musuh islam berang dan berusaha merusaknya dengan membuat-buat perkataan yang disandarkan kepada beliau <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>. bahkan sampai berusaha melontarkan syubhat-syubhat untuk mengingkari sunnah sebagai sumber hokum. Namun Allah<em> ta’ala</em> telah menjamin keontetikannya dan akan memeliharanya sebagaimana menjaga dan memelihara al-Qur`an. Seperti yang dijelaskan Allah dalam firmanNya:</p>
<p align="right"><span style="font-size: 15px;">إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ</span></p>
<p><em>Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Dzikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.</em> (QS. Al Hijr: 9)</p>
<p>Ayat yang mulia ini adalah nash penjagaan al-Qur`an dan juga terkandung penjagaan terhadap hadits-hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, karena Allah <em>ta’ala</em> berfirman:</p>
<p align="right"><span style="font-size: 15px;">وَالزُّبُرِ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ</span></p>
<p><em>Dan Kami turunkan kepadamu al-Dzikr, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan</em>, (QS. An Nahl: 44)</p>
<p>(dalam ayat ini) Allah ta’ala memerintahkan RasulNya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> untuk menjelaskan al-Qur`an kepada manusia, maka seandainya penjelasan beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> terhadap al-Qur`an tidak terjaga dan terpelihara (mahfûzh) tentulah tidak dapat berpegang teguh dan beramal dengan al-Qur`an. Padahal Allah juga berfirman:</p>
<p align="right"><span style="font-size: 15px;">وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى 3  إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى  4</span></p>
<p><em>dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur&#8217;an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)</em>, (QS. An Najm: 3-4) .</p>
<p>(lihat: Zawâbigh Fî Wajhi as-Sunnah Qadiman wa Haditsan, Sholahuddin Maqbûl Ahmad, cetakan pertama tahun 1411 H, Islamic Sceintific Research Academy, Newdelhi, India, hal. 7-8)</p>
<p>Dengan demikian jelaslah bahwa janji Allah untuk memelihara al-Dzikr tidak hanya terbatas pada al-Qur`an saja tapi yang dimaksud adalah menjaga syari&#8217;at dan agama Allah <em>ta’ala</em> yang disampaikan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan ia lebih umum dari sekedar al-Qur`an atau Sunnah saja. (lihat: As-Sunnah wa Makânatuha Fî al-Tasyri&#8217; al-Islami, Musthofa as-Sibaa&#8217;I, cetakan keempat tahun 1405 H , al-Maktab al-Islami, Baerut, hal. 156)</p>
<p>Ibnu Hazm <em>rahimahullah</em> dalam kitab al-Ihkaam (1/121) menyatakan: Tidak ada perbedaan antara para ulama ahli lughah (bahasa Arab) dan syari&#8217;at bahwa semua wahyu yang turun dari Allah <em>ta’ala</em> itu adalah a<em>l-Dzikru al-Munazzal .</em> semua wahyu terpelihara dengan pemeliharaan Allah ta’ala dengan pasti dan semua yang Allah jamin pemeliharaannya maka terjaga tidak akan hilang dan tidak akan terubah sedikitpun yang tidak ada penjelasan tentang kebatilannya.<br />
Kemudian beliau membantah orang yang menganggap pengertian al-Dzikr dalam ayat diatas sebagai al-Qur`an saja dengan menyatakan: ini adalah klaim dusta yang tidak berdasarkan bukti dan pengkhususan kata al-Dzikr tanpa dalil… kata al-Dzikr adalah nama umum untuk semua yang Allah ta’ala turunkan kepada RasulNya n berupa al-Qur`an atau sunnah yang merupakan wahyu penjelas al-Qur`an. Juga Allah<em> ta’ala</em> berfirman:</p>
<p align="right"><span style="font-size: 15px;">وَالزُّبُرِ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ</span></p>
<p><em>Dan Kami turunkan kepadamu al-Dzikr, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan</em>, (QS. An Nahl: 44)</p>
<p>Sehingga benar beliau n diperintahkan untuk menjelaskan al-Qur`an kepada manusia. Dalam al-Qur`an ada banyak perintah mujmal seperti sholat, zakat, haji dan selain itu yang kita tidak ketahui apa yang Allah ta’ala wajibkan dengan lafadz al-Qur`an namun dengan penjelasan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam . Apabila penjelasan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap yang global (mujmal) tidak terpelihara dan tidak terjamin keselamatannya dari yang bukan dari sunnah, maka tidak dapat mengambil manfaat dari nash al-Qur`an, lalu hilanglah kebanyakan syari&#8217;at yang diwajibkan kepada kita dan kita tidak tahu kebenaran yang Allah ta’ala kehendaki. (Dinukil dari kitab as-Sunnah wa Makânatuha Fî al-Tasyri&#8217; al-Islami hal. 156-158)<br />
Demikian juga pemeliharaan al-Qur`an tidak sempurna kecuali dengan menjaga dan memilihara sunah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Hal itu karena makna kandungan al-Qur`an terrefleksikan pada akhlak dan amalan beliau. Sehingga mengingkari, tidak menggunakan dan membiarkan satu sunnah yang shohih atau menyimpangkan dan mentakwilkannya keluar dari maksudnya serta memahaminya diluar ketentuan syari&#8217;at adalah sama dengan meninggalkan dan tidak peduli dengan al-Qur`an. (Lihat : Kitab Zawâbigh hal.8)</p>
<p><strong>Bentuk Penjagaan Allah terhadap Sunnah</strong></p>
<p>Jelaslah seluruh yang disampaikan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tentang agama semuanya wahyu dan al-Dzikr. Semuanya terjaga dan terpelihara dengan penjagaan dan pemeliharaan Allah.<br />
Adapun al-Qur`an maka semuanya terpelihara dan dinukilkan secara mutawatir. Sedangkan Sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang merupakan penjelas al-Qur`an , pengkhusus lafadz-lafadz umumnya dan pembatas lafadz-lafadz mutlaknya pun terjaga dan terpelihara. Diantara yang Allah <em>ta’ala</em> jadikan sebagai sebab pemeliharaan dan penjagaan sunnah adalah sebagai berikut:</p>
<p>1. Thô`ifah al-Manshuroh</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> ciptakan sekelompok dari umat islam yang senantiasa menegakkan kebenaran sampai hari kiamat, sebagaimana disampaikan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dalam sabda beliau:</p>
<p align="right"><span style="font-size: 15px;">??? ??????? ????????? ???? ???????? ?????????? ????? ???????? ??? ??????????? ???? ?????????? ?????? ???????? ?????? ?????? ?????? ????????</span></p>
<p><em>Senantiasa ada sekelompok dari umatku yang menang diatas kebenaran, tidak merugikan mereka orang-orang yang menghina mereka hingga datang keputusan Allah dan mereka dalam keadaan demikian.</em> (HR Muslim no. 3544)</p>
<p>Dengan adanya umat yang menegakkan kebenaran dan memenanginya maka tentunya akan dapat memelihara keontetikan sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Hal ini terbukti dengan adanya perhatian para salaf umat dan ulama muhadditsin disetiap zaman dan tempat.</p>
<p>2. Perhatian salaf sholeh terhadap sunnah</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> menyiapkan pembela sunnah dengan menciptakan generasi salaf sholeh dan setelah mereka yang telah memberikan perhatian besar kepada sunnah. Perhatian salaf umat ini terhadap sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>sangat beragam sesuai dengan kemampuan dan sarana yang ada disetiap zaman. Oleh karena itu didapatkan mereka telah mengerahkan seluruh kesungguhan dan kemampuan serta beragam sarana dalam memperhatikan sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> baik berupa ilmu dan amal, menghafal dan menulisnya, mempelajari dan menyebarkannya kepada umat manusia. Setelah wafat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>para sahabat memberikan perhatian lebih dari sebelumnya dalam menjaga sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, diantaranya menghafal dan tatsabut (klarifikasi) sehingga salah seorang mereka bepergian untuk satu hadits sepanjang perjalanan sebulan dalam rangka cek ulang (tatsabut) tentang hafalannya. Demikian juga menulisnya dalam lembaran shahifah kemudian menyebarkannya diantara manusia. Semua ini disesuaikan dengan metodologi amaliyah dan ilmiyah.<br />
Demikian pula para Tabi&#8217;in memberikan perhatian terhadap sunnah yang dapat diwujudkan dalam banyak bentuk diantaranya:<br />
1. Perhatian dalam menghafalnya<br />
2. Bertanya tentang sanad<br />
3. mencari tahu keadaan para perawi dan penukil hadits yang menghasilkan ilmu rijal. Ilmu rijal ini menjadi salah satu keistimewaan umat islam.<br />
4. Tadwin (kodefikasi) sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang dimulai lembaran sahifah hingga menjadi karya tulis yang memiliki bab dan tersusun rapi. (Lihat: Tadwin as-Sunnah An-nabawiyah, Nasy&#8217;atuhu wa Tathawwuruhu, DR. Muhammad bin Mathor az-Zahrôni, cetakan kedua tahun 1419H, Dar al-Khudhairi, Madinah Nabawiyah hal. 38)</p>
<p>3. Ulama-ulama muhaditsin.</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> telah memberikan taufiq kepada sejumlah besar dari kalangan ulama-ulama muhadditsin pada setiap masa dan tempat untuk meriwayatkannya, menyebarkannya, menulisnya, menggunakannya dalam menepis kebatilan dan melakukan hidmat yang sempurna dan tiada bandingannya terhadap sunnah dalam sejarah dunia. Ulama muhadditsin telah mengeluarkan segala kemampuan dan kekuatannya dalam menjaga sunnah Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dari penambahan dan pengurangan sehingga bila ditambah satu huruf pada matan hadits akan mereka jelaskan. Ibnu Hibban dalam mensifatkan ulama Muhadditsin menyatakan, Hingga salah seorang mereka seandainya ditanya tentang jumlah huruf dalam sunnah-sunnah untuk setiap sunnah tentulah mereka akan sampaikan jumlahnya dan seandainya ditambahkan padanya huruf alif atau wawu, tentulah akan dikeluarkan secara paksa dan akan ditampakkan. (lihat: Manhaj al-Muhadditsin Fî Taqwiyât al-Ahâdits al-Hasanah wa al-Dho&#8217;ifah, DR. al Murtadho al-Zein Ahmad, cetakan pertama tahun 1415 H , Maktabah ar-Rusyd hal 7)</p>
<p>Manshur bin &#8216;Ammâr as-Sulami al-Khurâsâni dalam mensifati ahlu hadits menyatakan: Allah ta&#8217;ala menugaskan penjagaan atsar yang menafsirkan al-Qur`an dan sunnah-sunnah yang kokoh bangunannya sekelompok orang-orang pilihan. Allah <em>ta’ala </em>memberikan mereka taufiq untuk mencarinya dan menulisnya dan memberikan kekuatan kepada mereka dalam memelihara dan menjaganya. Juga memberikan kepada mereka kecintaan membaca dan mempelajarinya dan menghilangkan dari mereka perasaan lelah dan bosan, duduk dan bepergian, mengorbankan jiwa dan harta dengan menyeberangi hal-hal yang menakutkan. Mereka bepergian dari satu negeri kenegeri lainnya untuk menuntut ilmu di setiap tempat dalam keadaan rambut yang kusut, pakaian yang compang camping, perut yang lapar, mulut yang kering, wajah yang pucat karena kelelahan dan kelaparan dan badan yang kurus. Mereka memiliki satu tekad keras dan ridho kepada ilmu sebagai petunjuk dan pemimpinnya, tidaklah rasa lapar dan haus memutus mereka dari hal itu. Juga musim panas dan dingin tidak membuat mereka bosan dalam memilah-milah yang shohih dari yang bermasalah dan yang kuat dari yang lemah (dari sunnah-sunnah) dengan pemahaman yang kokoh, pandangan yang luas dan hati yang sangat mengerti kebenaran. Sehingga dapat menjaga dari kesesatan orang yang suka menduga-duga, kebidahan orang-orang mulhid dan kedustaan para pendusta. Seandainya kamu melihat mereka diwaktu malam hari telah menghidupkannya dengan menulis semua yang telah mereka dengar dan mengoreksi semua yang telah mereka kumpulkan dalam keadaan menjauhi kasur yang empuk dan pembaringan yang menggiurkan. Rasa kantukpun telah menguasai mereka sehingga menidurkan mereka dan berlepasanlah pena-pena dari telapak tangan mereka, lalu (seketika itu juga) mereka tersadar dalam keadaan terkejut. Kelelahan telah memberikan rasa sakit pada punggung-punggung mereka dan keletihan bergadang telah melelahkan akal pikiran mereka sehingga mereka berusa menghilangkannya untuk mengistirahatkan badan mereka dan berusaha berpindah dari satu tempat ketempat yang lain untuk menghilangkan rasa kantuk dan tidurnya dan memijat-mijat mata dengan tangan mereka kemudian kembali menulis karena semangat yang tinggi dan selera mereka kepada ilmu. (hal ini) tentulah membuatmu mengerti bahwa mereka adalah penjaga islam dan penjaga gudang ilmu Allah <em>ta’ala</em>. Apabila mereka telah selesai menunaukan sebagian yang mereka tuntut dari keinginan-keinginan mereka tersebut, maka mereka pulang menuju negeri mereka lalu duduk menetap dimasjid-masjid dan memakmurkannya dengan menggunakan pakaian ketawadu&#8217;an (kerendahan hati), pasrah dan menyerah. Mereka berjalan dengan rendah hati, tidak mengganggu tetangga dan tidak melakukan perbuatan buruk hingga apabila ada penyimpangan atau orang yang keluar dari agama, mereka keluar sebagaimana keluarnya singa dari kandangnya mempertahankan syiar-syiar islam. (Lihat: Al-Muhaddits al-Fâshil Baina ar-Râwi wa al-Wâ&#8217;I hal. 220-221 dinukil dari Manhaj al-Muhadditsin Fi Taqwiyât al-Ahâdits al-Hasanah wa al-Dho&#8217;ifah hal. 6-7)<br />
Demikianlah mereka manjadi penjaga sunnah-sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>di sepanjang masa.</p>
<p>4. Rihlah Fî Tholabi al-Hadits</p>
<p>Diantara perhatian dan usaha para ulama menjaga sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah dengan melakukan bepergian mengumpulkan hadits (Rihlah Fî Tholabi al-Hadits). Mereka mengerahkan segala daya dan upaya untuk mengumpulkan hadits dan sanad-sanadnya hingga bepergian yang menempuh jarak sangat jauh dengan titik kesulitan yang demikian besar. Rihlah ini sudah menjadi tradisi mereka dalam menuntut ilmu dan memiliki pangaruh yang sangat besar dalam penyebaran hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan memperbanyak jalur periwayatannya, sebagaimana juga memiliki pengaruh baik dalam mengenal para perawi dengan sangat detail dan dalam, sebab seorang Muhaddits yang pergi kesatu negeri lalu mengenal ulamanya, berbicara dengan mereka dan bertanya. Dengan demikian juga dapat membongkar pemalsu hadits dan menghilangkan banyak hadits palsu yang ada pada umat ini, sehingga umat terlepas dari musibah penyimpangan agama. Pantaslah bila Ibrohim bin Adham menyatakan, Allah telah menghilangkan musibah dari umat ini dengan bepergiannya ash-hâbu al-Hadits.( Lihat: Tadwien as-Sunnah 44 dan 50)</p>
<p>5. Kaidah ilmu jarh wa ta&#8217;dil dan Mushtholah</p>
<p>Usaha para ulama dari zaman sahabat hingga kini menghasilkan Kaidah ilmu mustholah dan ilmu al-jarh wa Ta&#8217;dil. Para ulama menulis dan menyusun ilmu-ilmu ini dalam rangka memerangi kebidahan dan menjaga agama ini dari kedustaan para pendusta dan penyimpangan serta takwil orang bodoh. Lihatlah penyataan imam al-Haakim dalam Muqaddimah kitab Ma&#8217;rifat &#8216;Ulûm al-Hadits yang berbunyi<em>: Sungguh aku melihat kebid&#8217;ahan dizaman kita ini telah banyak dan pengetahuan orang terhadap ushul sunnan sangat sedikit dengan tenggelamnya mereka dalam penulisan Hadits dan banyak mengumpulkannya dengan lalai dan tidak perhatian. Hal ini mendorongku untuk menulis kitab yang ringan mencakup bagian dan jenis ilmu Hadits yang dibutuhkan para penuntut hadits yang terus menerus menulis hadits-hadits…</em>(Lihat: Ma&#8217;rifat &#8216;Ulûm al-Hadits, Al-Hâkim Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah an-naisâburi, tahqiq DR. as-Sayyid Mu&#8217;azhzhom Husein. Cetakan kedua tahun 1397 H, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Bairut, hal. 1)</p>
<p>Demikian juga Para sahabat telah meletakkan manhaj (metodologi) pengenalan kejujuran perawi dari kedustaannya dan diikuti para tabi&#8217;in. para ulama semakin memperluas setiap kali menjauh dari zaman generasi terbaik umat ini. Belum habis abad ketiga hijriyah, ilmu ini telah tersebar dan dikenal. Ilmu ini dinamakan ilmu al-jarh wa Ta&#8217;dil. (lihat: Dirâsât Fî al-Jarh Wa Ta&#8217;dil, DR Muhammad Dhiya&#8217;urrahman al-A&#8217;zhomi, cetakan keempat tahun 1419H, Maktabag al-Ghurabâ&#8217; al-Atsariyah, madinah hal.20)</p>
<p>Kaidah-kaidah ilmu hadits ini mempelajari seluruh sisi hadits secara sempurna dan dalam, sehingga dapat memilah-milah antara yang shohih dengan yang lemah dan palsu. Ini semua merupakan satu bentuk penjagaan Allah terhadap Sunnah.<br />
Demikianlah sekelumit permasalahan penjagaan Allah <em>ta’ala</em> terhadap sunnah RasulNya, mudah-mudahan bermanfaat.</p>
<p>Penulis: Kholid Syamhudi Lc</p>
<p>Maraji&#8217;:<br />
1. Miftâh al-Jannah Fî al-Ihtijâj Bi as-Sunnah karya al-Suyuthi, cetakan kelima tahun 1415H terbitan al-Jâmi&#8217;ah al-Islamiyah Madinah<br />
2. Zawâbigh Fî Wajhi as-Sunnah Qadiman wa Haditsan, Sholahuddin Maqbûl Ahmad, cetakan pertama tahun 1411 H, Islamic Sceintific Research Academy, Newdelhi, India, hal. 7-8<br />
3. As-Sunnah wa Makânatuha Fî al-Tasyri&#8217; al-Islami, Musthofa as-Sibaa&#8217;I, cetakan keempat tahun 1405 H , al-Maktab al-Islami, Baerut, hal. 156.<br />
4. Tadwin as-Sunnah An-nabawiyah, Nasy&#8217;atuhu wa Tathawwuruhu, DR. Muhammad bin Mathor az-Zahrôni, cetakan kedua tahun 1419H, Dar al-Khudhairi, Madinah Nabawiyah<br />
5. Manhaj al-Muhadditsin Fî Taqwiyât al-Ahâdits al-Hasanah wa al-Dho&#8217;ifah, DR. al Murtadho al-Zein Ahmad, cetakan pertama tahun 1415 H , Maktabah ar-Rusyd<br />
6. Ma&#8217;rifat &#8216;Ulûm al-Hadits, Al-Hâkim Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah an-naisâburi, tahqiq DR. as-Sayyid Mu&#8217;azhzhom Husein. Cetakan kedua tahun 1397 H, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Bairut<br />
7. Dirâsât Fî al-Jarh Wa Ta&#8217;dil, DR Muhammad Dhiya&#8217;urrahman al-A&#8217;zhomi, cetakan keempat tahun 1419H, Maktabag al-Ghurabâ&#8217; al-Atsariyah, madinah.</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/hadits/terjaganya-hadits-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/hadits/terjaganya-hadits-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam/&amp;title=Terjaganya+Hadits+Nabi+Shallallahu+%27alaihi+wa+sallam" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/hadits/terjaganya-hadits-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam/&amp;title=Terjaganya+Hadits+Nabi+Shallallahu+%27alaihi+wa+sallam" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/hadits/terjaganya-hadits-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam/&amp;t=Terjaganya+Hadits+Nabi+Shallallahu+%27alaihi+wa+sallam" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/hadits/terjaganya-hadits-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Terjaganya+Hadits+Nabi+Shallallahu+%27alaihi+wa+sallam+-+http://ustadzkholid.com/hadits/terjaganya-hadits-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/hadits/terjaganya-hadits-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam/&amp;title=Terjaganya+Hadits+Nabi+Shallallahu+%27alaihi+wa+sallam" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/hadits/terjaganya-hadits-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam/&amp;title=Terjaganya+Hadits+Nabi+Shallallahu+%27alaihi+wa+sallam" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Terjaganya+Hadits+Nabi+Shallallahu+%27alaihi+wa+sallam+-+http://b2l.me/n9mes&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Terjaganya+Hadits+Nabi+Shallallahu+%27alaihi+wa+sallam&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/hadits/terjaganya-hadits-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Allah%20ta%27ala%20berfirman%3A%0D%0A%0D%0A%3F%3F%3F%3F%3F%3F%20%3F%3F%3F%3F%3F%3F%20%3F%3F%3F%3F%3F%3F%3F%3F%3F%3F%20%3F%3F%3F%3F%3F%3F%3F%3F%3F%20%3F%3F%3F%3F%3F%3F%3F%3F%20%3F%3F%3F%3F%20%3F%3F%3F%3F%3F%3F%3F%3F%3F%3F%3F%3F%0D%0A%0D%0ASesungguhnya%20Kami-lah%20yang%20menurunkan%20al-Dzikr%2C%20dan%20sesungguhnya%20Kami%20benar-benar%20memeliharanya.%20%28QS.%20Al%20Hijr%3A%209%29%0D%0A" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/hadits/terjaganya-hadits-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

