<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>UstadzKholid &#187; Fiqih</title>
	<atom:link href="http://ustadzkholid.com/category/fiqih/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzkholid.com</link>
	<description>Meniti Sunnah Menggapai Ukhuwah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 13 Jul 2010 04:59:03 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Peringatan Isra&#8217; Mi&#8217;raj</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/peringatan-isra-miraj/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/peringatan-isra-miraj/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jun 2010 14:39:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tri.subekti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Isra Mi'raj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=742</guid>
		<description><![CDATA[Apa itu Isra' Mi'raj dan bolehkan merayakan peringatan Isra Mi'raj?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p lang="en-US">Bulan Rajab, bulan yang dihormati manusia. Bulan ini termasuk bulan <em>haram</em> (<em>Asyhurul Hurum</em>). Banyak cara manusia menghormati bulan ini, ada yang menyembelih hewan, ada yang melakukan sholat khusus Rajab dan lain-lainnya.</p>
<p>Di  bulan ini juga, sebagian kaum muslimin memperingati satu peristiwa yang sangat luar biasa, peristiwa perjalanan Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dari Makkah ke Baitul Maqdis, kemudian ke <em>sidratul muntaha</em> menghadap Pencipta alam semesta dan Pemeliharanya. Itulah peristiwa Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj.</p>
<p>Peristiwa ini tidak akan dilupakan kaum muslimin, karena perintah sholat lima waktu sehari semalam diberikan oleh Allah pada saat Isra’ dan Mi’raj. Tiang agama ini tidak akan lepas dari peristiwa Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> .</p>
<p>Akan tetapi, haruskah peristiwa itu diperingati? Apakah peringatan Isra’ mi’raj yang dilakukan kaum ini merupakan hal yang baik ataukah satu hal yang merusak agama? Simaklah pembahasan kali ini, mudah-mudahan Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk memahaminya dan menerima kebenaran.<span id="more-742"></span></p>
<p><strong>Kapan Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj terjadi?</strong><br />
Ketika mendengar sebuah peristiwa besar, mestinya ada satu pertanyaan yang akan segera timbul dalam hati si pendengar yaitu masalah waktu terjadi. Begitu pula kaitannya dengannya peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> .</p>
<p lang="en-US">Kapan sebenarnya Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj terjadi, benarkah pada tanggal 27 Rajab atau tidak? Untuk  bisa memberikan jawaban yang benar, kita perlu melihat pendapat para ulama seputar masalah ini. Berikut kami nukilkan beberapa pendapat para ulama:</p>
<p><strong>Pertama:</strong> Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqaalaniy <em>Rahimahullah</em> <sup><a href="#sdfootnote1sym"><sup>1</sup></a></sup> berkata: &#8220;Para ulama berselisih tentang waktu Mi&#8217;raj. Ada yang mengatakan sebelum kenabian. Ini pendapat yang aneh, kecuali kalau dianggap terjadinya dalam mimpi. Kebanyakan para ulama berpendapat bahwa peristiwa itu terjadi setelah kenabian. Para ulama yang mengatakan peristiwa Isra’ dan Mi’raj terjadi setelah kenabian juga berselisih, diantara mereka ada yang mengatakan setahun sebelum hijrah. Ini pendapat Ibnu Sa&#8217;ad dan yang lainnya dan dirajihkan (dikuatkan) oleh Imam An Nawawiy dan Ibnu Hazm, bahkan Ibnu Hazm berlebihan dengan mengatakan  ijma&#8217; (menjadi kesepakatan para ulama’) dan itu terjadi pada bulan Rabiul Awal. Klaim ijma&#8217; ini tertolak, karena seputar hal itu ada perselisihan yang banyak lebih dari sepuluh pendapat.&#8221;<sup><a href="#sdfootnote2sym"><sup>2</sup></a></sup></p>
<p lang="en-US">Kemudian beliau menyebutkan pendapat para ulama tersebut satu persatu.</p>
<ul>
<li>Pendapat pertama mengatakan: &#8220;setahun sebelum hijroh, tepatnya bulan Rabi&#8217;ul Awal&#8221;. Ini pendapat Ibnu Sa&#8217;ad dan yang lainnya dan dirajihkan An Nawawiy</li>
<li>
<p lang="en-US">Kedua mengatakan: &#8220;delapan bulan sebelum hijroh, tepatnya bulan 	Rajab&#8221;. Ini isyarat perkataan Ibnu Hazm, ketika berkata: &#8220;Terjadi di bulan rajab tahun 12 kenabian&#8221;.</p>
</li>
<li>Ketiga mengatakan: &#8220;enam bulan sebelum hijroh, tepatnya bulan Romadhon&#8221;. Ini disampaikan oleh Abu Ar Rabie&#8217; bin Saalim.</li>
<li>Keempat mengatakan: &#8220;sebelas bulan sebelum hijroh tepatnya di bulan	Robiul Akhir&#8221;. Ini pendapat Ibrohim bin Ishaq Al Harbiy, ketika berkata: &#8220;Terjadi pada bulan Rabiul Akhir, setahun sebelum 	hijroh&#8221;. Pendapat ini dirojihkan Ibnul Munayyir dalam syarah As Siirah karya Ibnu Abdil Barr.</li>
<li>Kelima mengatakan: &#8220;setahun dua bulan sebelum hijroh&#8221;. Pendapat ini disampaikan Ibnu Abdilbar.</li>
<li>Keenam mengatakan: &#8220;setahun tiga bulan sebelum hijroh&#8221;. Pendapat 	ini disampaikan oleh Ibnu Faaris.</li>
<li>
<p lang="en-US">Ketujuh mengatakan: &#8220;setahun lima bulan sebelum hijroh&#8221;. Ini pendapat As Suddiy.</p>
</li>
<li>Kedelapan 	mengatakan: &#8220;delapan belas bulan sebelum hijroh, tepatnya dibulan Ramadhan&#8221;. Pendapat ini disampaikan Ibnu Sa&#8217;ad, Ibnu Abi Subrah dan Ibnu Abdilbar.</li>
<li>
<p lang="en-US">Kesembilan mengatakan: &#8221; Bulan Rajab tiga tahun sebelum hijroh&#8221;. Pendapat ini disampaikan Ibnul Atsir</p>
<p lang="en-US">Kesepuluh mengatakan: &#8220;lima tahun sebelum hijroh&#8221;. Ini pendapat imam	Az Zuhriy dan dirojihkan Al Qadhi &#8216;Iyaadh. <sup><a href="#sdfootnote3sym"><sup>3</sup></a></sup></p>
</li>
</ul>
<p>Oleh karena banyaknya perbedaan pendapat dalam masalah ini, maka benarlah apa yang dikatakan Ibnu Taimiyah <em>Rahimahullah</em> , bahwa tidak ada dalil kuat yang menunjukkan bulannya dan tanggalnya. Bahkan pemberitaannya terputus serta massih diperselisihkan, tidak ada yang dapat memastikannya.<sup><a href="#sdfootnote4sym"><sup>4</sup></a></sup></p>
<p>Bahkan Imam Abu Syaamah mengatakan, &#8220;Dan para ahli dongeng menyebutkan Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj terjadi di bulan Rajab. Menurut ahli ta&#8217;dil dan jarh (Ulama Hadits) itu adalah kedustaan&#8221;.<sup> </sup><sup><a href="#sdfootnote5sym">5</a></sup></p>
<p><strong>Hukum Memperingati Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj.</strong><br />
Mungkinkah Islam agama yang sempurna ini mensyariatkan sesuatu yang belum jelas ketentuan waktunya?  Cukuplah ini sebagai indikator kuat akan bid’ahnya peringatan Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj yang banyak diadakan kaum muslimin. Apalagi kita telah tahu bahwa para ulama salaf telah sepakat (konsensus) menggolongkan peringatan yang dilakukan berulang-ulang (musim) yang tidak ada syariatnya termasuk kebidahan yang dilarang Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> . berdalil dengan sabda beliau:</p>
<p lang="en-US">وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ</p>
<p lang="en-US"><em>Hati-hatilah dari hal yang baru, karena setiap  hal yang baru  itu bid’ah dan setiap kebidahan itu sesat. </em>(Riwayat At Tirmidziy dan Ibnu Majah)</p>
<p lang="en-US"><em>dan</em></p>
<p lang="en-US"><em>.</em> مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ</p>
<p lang="en-US"><em>Siapa yang membuat-buat dalam perkaraku (agamaku) ini, sesuatu yang bukan darinya maka dia tertolak. </em>(Riwayat Bukhari dan Muslim)</p>
<p lang="en-US">serta:</p>
<p lang="en-US">مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ</p>
<p><em>Siapa yang beramal satu amalan yang tidak ada perintahku padanya mak dia tertolak. </em>(Riwayat Muslim)<em>. </em></p>
<p lang="en-US">Peringatan Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj adalah perkara baru yang tidak pernah dilakukan para sahabat dan tabiin maupun orang-orang alim setelah mereka dari para salaf umat ini. Padahal mereka adalah orang yang paling semangat mencari kebaikan dan paling semangat mengamalkan amal sholeh.<sup><a href="#sdfootnote6sym"><sup>6</sup></a></sup></p>
<p lang="en-US">Untuk itu berkata Syeikhil Islam Ibnu Taimiyah ketika beliau ditanya tentang keutamaan malam Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj dan malam qadar, &#8220;… Dan tidak diketahui seorangpun dari kaum muslimin menjadikan malam Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj memiliki keutaman atas selainnya, apalagi diatas malam qadar. Demikian juga para sahabat g dan orang yang mengikuti mereka dengan baik tidak sengaja mengkhususkan satu amalan di malam Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj dan mereka juga tidak memperingatinya, oleh karena itu tidak diketahui kapan malam tersebut. Peristiwa isra&#8217; merupakan keutamaan beliau <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> yang besar, namun demikian, tidak perintahkan mengkhususkan (mengistimewakan) malam tersebut dan tempat kejadian tersebut dengan melakukan satu ibadah syar&#8217;i. Bahkan gua Hiro’ yang merupakan tempat turun wahyu pertama kali dan merupakan tempat pilihan Beliau <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> sebelum diutus menjadi Nabi, tidak pernah sengaja di kunjungi oleh beliau <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> ataupun salah seorang sahabatnya selama berada diMakkah. Tidak pula mengkhususkan (mengistimewakan) hari turunnya wahyu dengan satu ibadah tertentu atau yang lainnya. Tidak pula mengkhususkan tempat pertama kali turun wahyu dengan sesuatu. Maka barang siapa mengkhususkan (mengistimewakan) tempat-tempat dan waktu-waktu yang diinginkan dengan melakukan satu ibadah tertentu karena termotivasi oleh peristiwa diatas atau yang sejenisnya, maka dia sama dengan ahli kitab yang telah menjadikan hari kelahiran Isa q musim dan ibadah seperti hari natal dan lain sebagainya&#8221;<sup><a href="#sdfootnote7sym"><sup>7</sup></a></sup></p>
<p lang="en-US">Untuk lebih memperjelas masalah hukum peringatan Isra’ Mi’raj, kami sampaikan fatwa beberapa ulama tentang hukum peringatan ini.</p>
<p><strong>Pertama</strong>: An Nahaas <em>rahimahullah</em> <sup><a href="#sdfootnote8sym"><sup>8</sup></a></sup></p>
<p>Beliau berkata, &#8220;Peringatan malam Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj adalah bid’ah besar dalam agama dan kebid’ahan yang dibuat oleh teman-teman Syaithon.&#8221;<sup><a href="#sdfootnote9sym"><sup>9</sup></a></sup></p>
<p><strong>Kedua</strong>: Ibnul Haaj.<sup><a href="#sdfootnote10sym"><sup>10</sup></a></sup></p>
<p>Beliau berkata, &#8220;Diantara kebid’ahan yang mereka buat  pada bulan Rajab adalah malam dua puluh tujuh yang merupakan malam Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj &#8220;<sup><a href="#sdfootnote11sym"><sup>11</sup></a></sup></p>
<p><strong>Ketiga</strong>:  Fatwa Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy Syaikh <em>rahimahullah</em> <sup><a href="#sdfootnote12sym"><sup>12</sup></a></sup> dalam jawaban beliau atas undangan yang disampaikan kepada Robithoh Alam Islamiy untuk menghadiri salah satu peringatan Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj setelah beliau ditanya tentang hal itu. Lalu beliau menjawab,&#8221;Ini tidak disyariatkan, dengan berdasarkan Al-Qur&#8217;an, As-sunnah, Istishhab dan akal&#8221;.</p>
<p><strong>Dalil Al Qur&#8217;an</strong></p>
<p>Firman Allah:</p>
<p><strong>الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا</strong></p>
<p><em>Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridha Islam itu jadi agamamu.</em> (QS. Al Maidah : 3)</p>
<p lang="en-US">dan firmanNya:</p>
<p><strong>يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِى اْلأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ</strong></p>
<p lang="en-US"><em>Hai orang-orang yang beriman, ta&#8217;atilah Allah dan ta&#8217;atilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alquran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. </em>(QS. An Nisa&#8217;  59)</p>
<p lang="en-US"><em>kembali kepada Allah</em> maksudnya kembali kepada Al Quran, <em>kembali kepada Rasulullah</em> <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> maksudnya merujuk ke Sunnahnya setelah beliau meninggal dunia.</p>
<p lang="en-US">Demikian juga firmanNya:</p>
<p><strong>قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللهُ غَفُورُُ رَّحِيمُُ </strong></p>
<p lang="en-US"><em>Katakanlah (hai Muhammad), &#8220;Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu&#8221;. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. </em>(QS. Al Imran: 31)</p>
<p lang="en-US">dan firmanNya:</p>
<p><strong>فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ</strong></p>
<p lang="en-US"><em>maka orang-orang yang menyalahi perintah-Nya hendaklah mereka takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. </em>(QS. An Nur: 63)</p>
<p lang="en-US"><strong>Dalil Sunnah</strong></p>
<p lang="en-US"><strong>Pertama</strong> : Hadits shahih dalam shohihain dari Aisyah z bahwa Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda</p>
<p lang="en-US">مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ</p>
<p lang="en-US"><em>Siapa yang membuat-buat dalam perkaraku (agamaku) ini, sesuatu yang bukan darinya maka dia tertolak. </em>(Riwayat Bukhari dan Muslim)<em>,</em></p>
<p lang="en-US">dan hadits shahih dalam Kitab Shahih Muslim</p>
<p lang="en-US">مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ</p>
<p lang="en-US"><em>Barangsiapa yang melakukan satu amalan yang tidak kami perintahkan maka dia tertolak </em>(Riwayat Muslim)<em>. </em></p>
<p lang="en-US">Kedua: Hadits riwayat Ibnu Majah, At Tirmidziy dan dianggap shohih oleh beliau serta diriwayatkan pula oleh  Ibnu Hibban dalam shohihnya dari Irbaadh bin Saariyah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> , beliau berkata, “Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda</p>
<p lang="en-US">وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ</p>
<p lang="en-US"><em>Hindarilah </em><em>hal-hal yang baru, karena setiap  hal yang baru  itu bidah.</em></p>
<p lang="en-US">Ketiga: Riwayat Ahmad, Al bazaar dari Ghadhiif bahwa Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda</p>
<p lang="en-US">مَا أَحدَثَ قَوْمٌ بِدْعَةً إِلاَّ رَفَعَ مِثْلَهَا مِنَ السُّنَّةِ</p>
<p lang="en-US"><em>Tidaklah satu kaum berbuat bid&#8217;ah kecuali dihilangkan sepertinya dari Sunnah.</em> Dan diriwayatkan oleh Ath Thabraaniy akan tetapi dengan lafadz:</p>
<p lang="en-US">مَا مِنْ أُمَّةٍ ابْتَدَعَتْ بَعْدَ نَبِيِّهَا إِلاَّ أَضَاعَتْ مِثْلَهَا مِنَ السُّنَّةِ</p>
<p lang="en-US"><em>Tidak ada umat yang melakukan kebidahan setelah nabinya kecuali dihilangkan sunnah seukuran bid’ahnya.</em></p>
<p lang="en-US">Keempat: Riwayat Ibnu Majah, Ibnu Abi Ashim dari Anas bin Malik <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> beliau berkata, “Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> telah bersabda</p>
<p lang="en-US">أَبَى اللهُ أَنْ يَقْبَلَ عَمَلَ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعَ بِدْعَتَهُ</p>
<p lang="en-US"><em>Allah tidak akan menerima amalan pelaku bid&#8217;ah sampai ia meninggalkan perbuatan bid’ahnya.</em></p>
<p lang="en-US">Dan dalam riwayat Ath Thabraniy dengan lafadz</p>
<p lang="en-US">إِنَّ اللهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعَ بِدْعَتَهُ</p>
<p lang="en-US"><em>Sesungguhnya Allah menutup taubat dari semua pelaku bid&#8217;ah sampai ia meninggalkan perbuatan bid’ahnya.</em></p>
<p lang="en-US"><strong>Dalil Istishhaab</strong></p>
<p lang="en-US">Hal ini tidak ada dasar perintahnya. Pada dasarnya, <em>ibadah itu tauqifiyah</em>, sehingga tidak boleh kita mengatakan, &#8220;Ibadah ini disyariatkan” kecuali ada dalil dari Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijma&#8217;, dan tidak boleh pula mengatakan, &#8220;Ini diperbolehkan karena termasuk dalam maslahat mursalah, istihsaan (anggapan baik), qiyas (analogi) atau ijtihad” karena permasalahan aqidah, Ibadah dan hal-hal yang telah ada ukurannya (dalam Syariat) seperti pembagian warisan dan pidana adalah perkara yang tidak ada tempat bagi ijtihad atau sejenisnya.</p>
<p lang="en-US"><strong>Dalil Akal</strong></p>
<p>Jika perayaan Isra’ dan Mi’raj bertujuan untuk mengagungkan peristiwa Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj itu sendiri, kita katakan, &#8220;seandainya hal ini disyari&#8217;atkan, tentunya Beliau <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> merupakan orang pertama yang melaksanakannya&#8221;.</p>
<p>Jika perayaan itu untuk mengagungkan Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dan mengenang perjuangan Beliau <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> seperti pada maulid Nabi, maka tentulah Abu Bakr <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> adalah orang yang pertama melakukannya , lalu Umar, Utsman, Ali, kemudian orang-orang setelah mereka. Disusul kemudian oleh para tabiin selanjut para imam. Padahal tidak ada seorangpun dari mereka yang diketahui melakukan hal tersebut meskipun sedikit. Maka cukuplah bagi kita untuk melakukan apa yang menurut mereka cukup.&#8221;<sup><a href="#sdfootnote13sym"><sup>13</sup></a></sup></p>
<p>Beliaupun berfatwa di dalam <em>fatawa wa rasail</em> beliau, &#8220;Peringatan Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj adalah perkara batil dan satu kebidahan. Ini termasuk sikap meniru-niru orang yahudi dan nashrani dalam mengagungkan hari yang tidak diagungkan syari&#8217;at. Pemilik kedudukan tinggi Rasulullah  Muhammad <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> lah yang menetapkan syariat. Dialah yang menjelaskan halal dan harom. Sementara para <em>khulafa&#8217; rasyidin</em> dan para imam dari para sahabat dan tabiin tidak pernah diketahui melakukan peringatan tersebut.&#8221; Kemudian berkata lagi, &#8220;Maksudnya perayaan peringatan Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj adalah bid’ah. Maka tidak boleh bekerjasama dalam hal tersebut.&#8221;<sup><a href="#sdfootnote14sym"><sup>14</sup></a></sup></p>
<p><strong>Keempat</strong>: Fatwa Syaikh Abdul Aziz Ibnu Baaz <em>rahimahullah</em> <sup><a href="#sdfootnote15sym"><sup>15</sup></a></sup>:</p>
<p>&#8220;Tidak disangsikan lagi, Isra&#8217; mi&#8217;roj merupakan tanda kebesaran Allah Ta&#8217;ala yang menunjukkan kebenaran Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dan ketinggian derajat Beliau disisi Allah Ta&#8217;ala . Sebagaimana Isra’ dan Mi’raj termasuk tanda-tanda keagungan Allah dan ketinggianNya atas seluruh makhluk. Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ اْلأَقْصَا الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَآ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ</p>
<p lang="en-US"><em>Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat</em>. (Al Isra&#8217; : 1)</p>
<p lang="en-US">Dan telah telah diriwayatkan secara <em>mutawatir</em> dari Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bahwa Beliau diangkat ke langit dan dibukakan pintu-pintunya sampai Beliau melewati langit yang ketujuh. Lalu RobNya berbicara kepadanya dengan sesuatu yang dikehendakinya dan diwajibkan padanya sholat lima waktu. Allah Ta&#8217;ala pertama kali mewajibkan padanya lima puluh sholat, lalu senantiasa Nabi Muhammad <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> meminta keringanan sampai dijadikan lima sholat. Itulah lima sholat yang diwajibkan tapi pahalanya lima puluh, karena satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Allah k zat yang harus dipuji dan disyukuri atas segala nikmatNya.</p>
<p lang="en-US">Tidak ada dalam hadits yang shohih penentuan malam terjadinya Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj. Semua hadits yang menjelaskan penentuan malamnya menurut ulama hadits adalah hadits yang tidak shohih dari Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>. Allah Ta&#8217;ala memiliki hikmah dalam melupakan manusia tentangnya. Seandainya ada penentuannya yang absahpun kaum muslimin tidak boleh mengkhususkannya dengan satu ibadah tertentu, tidak boleh mereka merayakan peringatannya, karena Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dan para sahabatnya tidak memperingatinya dan tidak pula mengkhususkan ibadah tertentu padanya. Seandainya peringatannya adalah perkara yang disyariatkan, tentunya Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> telah menjelaskannya kepada umatnya, baik dengan ucapan atau perbuatan Beliau. Seandainya pernah dilakukan niscaya akan iketahui serta akan dinukilkan oleh para sahabatnya g kepada kita. Karena mereka telah menyampaikan segala sesuatu yang dibutuhkan umat dan tidak melalaikan urusan agama ini sedikitpun, bahkan mereka berlomba-lomba dalam melaksanakan kebaikan.</p>
<p lang="en-US">Maka seandainya peringatan malam Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj disyariatkan niscaya mereka orang pertama yang melakukannya, apalagi Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> adalah orang yang sering menasehati umatnya. Beliau telah menyampaikan risalah agama sebaik-baiknya serta telah menunaikan amanah yang diembannya. Maka seandainya mengagungkan dan memperingati malam tersebut termasuk ajaran agama, maka tentunya Beliau tidak melalaikan dan menyembunyikannya.</p>
<p lang="en-US">Karena Nabi tidak mengagungkan dan memperingati malam tersebut, maka jelaslah peringatan dan pengagungan malam tersebut bukan termasuk ajaran Islam.</p>
<p lang="en-US">Begitulah Allah Ta&#8217;ala telah menyempurnakan agama Islam dan menyempurnakan nikmat untuk umatnya serta mengingkari orang yang menambah-nambah syariat Islam dengan sesuatu yang tidak diizinkanNya. Allah berfirman dalam Al Qur&#8217;an</p>
<p><strong>الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا</strong></p>
<p><em>Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu. (QS. </em>Al Maidah : 3)</p>
<p lang="en-US">Demikian juga dalam firmanNya</p>
<p>أَمْ لَهُمْ شُرَكَآؤُاْ شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَالَمْ يَأْذَن بِهِ اللهُ وَلَوْلاَ كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِىَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمُُ</p>
<p><em>Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan (selain Allah) yang mensyari&#8217;atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan.Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih. (QS. </em>Asy Syura :21)</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dalam hadits-hadits yang shohih telah memperingatkan bahaya bid’ah dan menjelaskan bahwa bid’ah itu sesat. Untuk memperingatkan umat ini dari besarnya bahaya bidah dan untuk menghindarkan mereka dari membuat bid’ah. Kami akan sampaikan beberapa hadits, diantaranya hadits yang shohih dalam shohihain dari Aisyah x dari Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> , Beliau bersabda</p>
<p lang="en-US">مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ</p>
<p lang="en-US"><em>Siapa yang membuat-buat dalam perkaraku (agamaku) ini, sesuatu yang bukan darinya maka dia tertolak. (Riwayat Bukhari dan Muslim)</em></p>
<p lang="en-US">dan dalam riwayat Muslim</p>
<p lang="en-US">مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ</p>
<p lang="en-US"><em>Siapa yang beramal satu amalan yang tidak ada perintahku padanya mak dia tertolak. (Riwayat Muslim). </em></p>
<p lang="en-US">Dan dalam shohih Muslim dari Jabir bin Abdillah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> beliau berkata: &#8220;Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> berkhutbah pada hari jum&#8217;at dan mengatakan:</p>
<p lang="en-US">أَمَا بَعْدُ فَإِِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللَّهِ وَ خَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ</p>
<p lang="en-US">A<em>ma Ba&#8217;du; sesungguhnya sebaik ucapan adalah kitabullah dan sebaik contoh adalah contoh petunjuk Muhammad </em><em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> , sejelek-jeleknya perkara adalah perkara yang dibuat-buat, dan setiap kebidahan adalah sesat.</p>
<p lang="en-US">Dalam sunan dari Al Irbaadh bin Saariyah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> , beliau berkata</p>
<p lang="en-US">وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظَةً بَلِيغَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ وَذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَأَوْصِنَا قَالَ أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِيْ تَمَسَّكُوْابِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ</p>
<p lang="en-US"><em>Rasulullah </em><em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> telah menasehati kami dengan nasehat yang mendalam, hati bergetar dan mata meneteskan airmata. Lalu kami berkata: &#8220;Wahai Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> seakan-akan nasehat perpisahan, maka berilah kami wasiat!. Lalu beliau berkata: &#8220;aku wasiatkan kalian untuk bertaqwa kepada Allah ,patuh dan taat, walaupun kalian dipimpin seorang budak, karena siapa yang hidup dari kalian, maka akan melihat perselisihan yang banyak. Maka kalian harus berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnahnya para khulafa rasyidin yang memberi petunjuk setelahku. Berpeganglah kalian dan gigitlah dia dengan gigi graham kalian serta hati-hatilah dari hal yang baru, karenasetiap  hal yang baru  itu bidah dan setiap kebidahan itu sesat. (Riwayat At Tirmidziy dan Ibnu Majah).</p>
<p lang="en-US">Dan banyak hadits yang lain yang semakna dengan ini.</p>
<p lang="en-US">Demikian juga peringatan dan ancaman dari perbuatan bid’ah telah ada dari sahabat Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dan para salaf sholih setelah mereka. Karena perbuatan bid’ah adalah penambahan dalam agama dan syariat yang tidak diizinkan Allah Ta&#8217;ala serta meniru-niru kaum Yahudi dan Nashroni musuh Allah. Melakukan bid’ah berarti pelecehan terhadap agama Islam dan menuduh Islam tidak sempurna. Dengan demikian jelas menimbulkan kerusakan dan kemungkaran yang besar, karena Allah telah menyatakan kesempurnaan agama ini  melalui firmanNya</p>
<p>الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ</p>
<p><em>Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu</em> (QS. Al Maidah 3)</p>
<p lang="en-US">Perbuatan bid’ah juga secara terang-terangan menyelisihi hadits-hadits Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> yang memperingatkan dan mengancam kebid’ahan.</p>
<p>Mudah-mudahan apa yang telah kami jelaskan dari dalil-dali tersebut cukup memuaskan pencari kebenaran dalam mengingkari dan mengingatkan kebidahan ini- yaitu peringatan  malam Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj -. Sesungguhnya dia bukanlah dari syariat Islam sedikitpun.<sup><a href="#sdfootnote16sym"><sup>16</sup></a></sup></p>
<p>Demikianlah keterangan para ulama seputar hukum merayakan peringatan Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj. Keterangan yang cukup jelas dan gamblang disertai dalil-dalil yang kuat bagi pencari kebenaran. Kemudian masihkah kita melakukannya, padahal peringatan tersebut satu kebidahan dan bukan termasuk ajaran Islam. Bahkan itu merupakan penambahan syariat dalam Islam dan menyerupai kelakuan ahli kitab yang telah membuat bid’ah dalam agama mereka, sehingga menjadi rusak dan hancur.</p>
<p lang="en-US">Sudahkan kita merenungkan bahaya kebidahan terhadap islam?</p>
<p>Cukuplah peringatan Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> , para sahabat dan ulama Islam sebagai peringatan bagi kita untuk sadar dan bangkit memperbaiki kondisi kaum muslimin demi mencapai kejayaan Islam.</p>
<p>Mudah-mudahan Allah meudahkan kita untuk memahami tulisan ini dan mudah-mudahan Allah menolong kita dalam menjalankan ketaatan kepadaNya dan untuk meninggalkan perayaan yang telah menghabiskan harta dan tenaga yang banyak akan tetapi justru merusak agama dan amalan kita semua.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.</p>
<p>Artikel UstadzKholid.Com</p>
<p lang="en-US">
<p lang="en-US"><span style="text-decoration: underline;">Catatan Kaki</span></p>
<p><a href="#sdfootnote1anc">1</a> Beliau bernama Ahmad bin Ali bin Muhammad Al 	Kinaaniy Al Asqaalaniy, seorang ulama besar dalam hadits dan fiqih, 	pengarang kitab <em>Fathul Bariy Syarah Shahih Bukhari</em>, meninggal tahun 	852 H.</p>
<p lang="en-US"><a href="#sdfootnote2anc">2</a> Ibnu Hajar, <em>Fathul Bari</em> 7/203.</p>
<p lang="en-US"><a href="#sdfootnote3anc">3</a> ibid</p>
<p lang="en-US"><a href="#sdfootnote4anc">4</a> lihat <em>Zaadul Ma&#8217;aad</em> 1/57.</p>
<p lang="en-US"><a href="#sdfootnote5anc">5</a> <em>Al Baa&#8217;its</em>, hal 171.</p>
<p lang="en-US"><a href="#sdfootnote6anc">6</a> Lihat <em>Al Bida&#8217; Al Hauliyah</em> hal. 274.</p>
<p lang="en-US"><a href="#sdfootnote7anc">7</a> Dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam kitab <em>Zaadul Ma&#8217;ad</em> 1/58-59.</p>
<p lang="en-US"><a href="#sdfootnote8anc">8</a> Beliau bernama Abu Zakariya Ahmad bin Ibrahim bin Muhammad 	Ad Dimasyqiy, dikenal dengan Ibnu Nahaas, seorang ulama besar yang 	meninggal dalam perang menghadapi Perancis tahun 814 H.</p>
<p lang="en-US"><a href="#sdfootnote9anc">9</a> lihat <em>Al Bida&#8217; Al Hauliyah</em> hal 279.</p>
<p lang="en-US"><a href="#sdfootnote10anc">10</a> Beliau bernama Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Al Haaj, Abu 	Abdillah Al &#8220;Abdariy Al Faasiy, meninggal tahun 737 H.</p>
<p lang="en-US"><a href="#sdfootnote11anc">11</a> lihat <em>Al bida&#8217; Al Hauliyah</em> hal. 275, menukil dari <em>Al Madkhal</em> 1/.294.</p>
<p><a href="#sdfootnote12anc">12</a> Beliau bernama Muhammad bin Ibrahim bin Abdillathif bin Abdirrohman 	bin Hasan bin Muhammad bin Abdil Wahaab, dilahirkan di Riyadh tahun 	1311 H dan meninggal di bulan Ramadhan 1398 H. Beliau pernah 	menjabat sebagai ketua <em>Rabithah Alam Islamiy</em>, Rektor Jami&#8217;ah 	Islamiyah dan Mufti agung kerajaan Saudi Arabia sebelum Syaikh Ibnu 	Baaz.</p>
<p lang="en-US"><a href="#sdfootnote13anc">13</a> Lihat <em>Al Bida&#8217; Al Hauliyah</em> hal. 276-279 menukil dari <em>Fatawa wa 	Rasail Asy Syaikh Muhammad bin Ibrahim</em> 3/97-100.</p>
<p lang="en-US"><a href="#sdfootnote14anc">14</a> Ibid 3/103.</p>
<p lang="en-US"><a href="#sdfootnote15anc">15</a> Beliau bernama Abdulaziz bin Abdillah bin Abdirrahman bin Baaz, 	dilahirkan tahun 1330 H di Riyadh. Beliau seorang alim besar abad 	ini dan menjadi mufti agung Kerajaan Saudi Arabia menggantikan 	Syeikh Muhammad bin Ibrahim Ali Asy Syaikh sampai meninggal tahun 	1420 H.</p>
<p lang="en-US"><a href="#sdfootnote16anc">16</a> Lihat catatan kaki kitab <em>Fatawa Lajnah Daimah</em> 3/64-66.</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/peringatan-isra-miraj/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/peringatan-isra-miraj/&amp;title=Peringatan+Isra%27+Mi%27raj" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/peringatan-isra-miraj/&amp;title=Peringatan+Isra%27+Mi%27raj" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/peringatan-isra-miraj/&amp;t=Peringatan+Isra%27+Mi%27raj" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/peringatan-isra-miraj/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Peringatan+Isra%27+Mi%27raj+-+http://ustadzkholid.com/fiqih/peringatan-isra-miraj/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/peringatan-isra-miraj/&amp;title=Peringatan+Isra%27+Mi%27raj" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/peringatan-isra-miraj/&amp;title=Peringatan+Isra%27+Mi%27raj" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Peringatan+Isra%27+Mi%27raj+-+File: /data/app/webapp/functions.php<br />Line: 7<br />Message: Too many connections&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Peringatan+Isra%27+Mi%27raj&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/peringatan-isra-miraj/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Apa%20itu%20Isra%27%20Mi%27raj%20dan%20bolehkan%20merayakan%20peringatan%20Isra%20Mi%27raj%3F" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/peringatan-isra-miraj/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rukun Mudharabah</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/muamalah-fiqih/rukun-mudharabah/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/muamalah-fiqih/rukun-mudharabah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 06:45:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Mudharabah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1404</guid>
		<description><![CDATA[Mudharabah, sebagaimana juga jenis pengelolaan usaha lainnya, memiliki tiga rukun. Pertama : Adanya dua pelaku atau lebih, yaitu investor (pemilik modal) dan pengelola (mudharib). Kedua : Objek transaksi kerjasama, yaitu modal, usaha dan keuntungan. Ketiga : Pelafalan perjanjian]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Mudharabah</em>, sebagaimana juga jenis pengelolaan usaha lainnya, memiliki tiga rukun.<br />
<strong>Pertama</strong> : Adanya dua pelaku atau lebih, yaitu investor (pemilik modal) dan pengelola (mudharib)<br />
<strong>Kedua</strong> : Objek transaksi kerjasama, yaitu modal, usaha dan keuntungan.<br />
<strong>Ketiga</strong> : Pelafalan perjanjian</p>
<p>Sedangkan Imam Asy-Syarbini di dalam <em>Syarh Al-Minhaj</em> menjelaskan, bahwa rukun mudharabah ada lima, yaitu : Modal, jenis usaha, keuntungan, pelafalan transaksi dan dua pelaku transaksi [1]. Ini semua ditinjau dari perinciannya, dan semuanya tetap kembali kepada tiga rukun diatas.</p>
<p><strong>RUKUN PERTAMA : ADANYA DUA PELAKU ATAU LEBIH</strong><br />
Kedua pelaku kerja sama ini adalah pemilik modal dan pengelola modal. Pada rukun pertama ini, keduanya disyaratkan memiliki kompetensi (<em>jaiz al-tasharruf</em>), dalam pengertian, mereka berdua baligh, berakal, <em>rasyid</em> (normal) dan tidak dilarang beraktivitas pada hartanya. [2]</p>
<p>Sebagian ulama mensyaratkan, keduanya harus muslim atau pengelola harus muslim. Sebab, seorang muslim tidak dikhawatirkan melakukan perbuatan riba atau perkara haram. [3] Namun sebagian lainnya tidak mensyaratkan hal tersebut, sehingga diperbolehkan bekerja sama dengan orang kafir yang dapat dipercaya, dengan syarat harus terbukti adanya pematauan terhadap pengelolaan modal dari pihak muslim, sehingga terbebas dari praktek riba dan haram. [4]<span id="more-1404"></span></p>
<p><strong>[A]. Modal</strong><br />
Ada empat syarat modal yang harus dipenuhi.</p>
<ol>
<li>Modal harus berupa alat tukar atau satuan mata uang (al-naqd). Dasarnya adalah Ijma’. [5] atau barang yang ditetapkan nilainya ketika akad menurut pendapat yang rajih. [6]</li>
<li>Modal yang diserahkan harus jelas diketahui. [7]</li>
<li>Modal diserahkan harus tertentu</li>
<li>Modal diserahkan kepada pihak pengelola, dan pengelola menerimanya langsung, dan dapat beraktivitas dengannya. [8]</li>
</ol>
<p>Jadi dalam <em>mudharabah</em>, modal yang diserahkan, disyaratkan harus diketahui. Dan penyerahan jumlah modal kepada <em>mudharib</em> (pengelola modal) harus berupa alat tukar, seperti emas, perak dan satuan mata uang secara umum. Tidak diperbolehkan berupa barang, kecuali bila nilai tersebut dihitung berdasarkan nilai mata uang ketika terjadi akan (transaksi), sehingga nilai barang tersebut menjadi modal <em>mudharabah</em>.</p>
<blockquote><p>Conothnya, seorang memiliki sebuah mobil yang akan diserhak kepada <em>mudharib</em> (pengelola modal). Ketika akad kerja sama tersebut disepakati, maka mobil tersebut wajib ditentukan nilai mata uang saat itu, misalnya disepakati Rp.80.000.000, maka modal <em>mudharabah</em> tersebut adalah Rp.80.000.000.</p></blockquote>
<p>Kejelasan jumlah modal ini menjadi syarat, karena untuk menentukan pembagian keuntungan. Apabila modal tersebut berupa barang dan tidak diketahui nilainya ketika akad, bisa jadi barang tersebut berubah harga dan nilainya, seiring berjalannya waktu, sehingga dapat menimbulkan ketidak jelasan dalam pembagian keuntungan.</p>
<p><strong>[B]. Jenis Usaha</strong><br />
Jenis usaha disini ada beberapa syarat yang harus dipenuhi.</p>
<ol>
<li>Jenis usaha tersebut di bidang perniagaan</li>
<li>Tidak menyusahkan pengelola modal dengan pembatasan yang menyulitkannya. Misalnya, harus berdagang permata merah delima atau mutiara yang sangat jarang sekali adanya. [9]</li>
<li>Asal dari usaha dalam mudharabah adalah di bidang perniagaan dan yang terkait dengannya, serta tidak dilarang syariat. Pengelola modal dilarang mengadakan transaksi perdagangan barang-barang haram, seperti daging babi, minuman keras dan sebagainya. [10]</li>
<li>Pembatasan waktu penanaman modal. Menurut pendapat madzhab Hambaliyah, dalam kerja sama penanaman modal ini, dipebolehkan membatasi waktu usaha, [11] dengan dasar diqiyaskan (dianalogikan) dengan sistem sponsorship pada satu sisi, dan dengan berbagai kriteria lain yang dibolehkan, pada sisi lainnya. [12]</li>
</ol>
<p><strong>[C]. Keuntungan</strong><br />
Setiap usaha yang dilakukan adalah untuk mendapatkan keuntungan. Demikian juga dengan <em>mudharabah</em>. Namun dalam <em>mudharabah</em> pendapatan keuntungan itu disyaratkan dengan empat syarat.</p>
<ol>
<li> Keuntungan, khusus untuk kedua pihak yang bekerja sama, ayitu pemilik modal (investor) dan pengelola modal. Seandainya sebagian keuntungan disyaratkan untuk pihak ketiga, misalnya dengan menyatakan “Mudharabah dengan pembagian 1/3 keuntungan untukmu, 1/3 keuntungan untukku dan 1/3 lagi untuk isteriku atau orang lain”, maka tidak sah, kecuali disyaratkan pihak ketiga ikut mengelola modal tersebut, sehingga menjadi qiradh bersama dua orang. [13] Seandainya dikatakan “Seapruh keuntungan untukku dan sepruhnya untukmu, namun separuh dari bagianku untuk isteriku”, maka ini sah, karena ini akad janji hadiah kepada isteri. [14]</li>
<li>Pembagian keuntungan untuk berdua, tidak boleh hanya untuk satu pihak saja. Seandainya dikatakan : “Saya bekerja sama mudharabah denganmu, dengan keuntungan sepenuhnya untukmu”, maka yang demikian ini menurut madzhab Syafi’i tidak sah. [15]</li>
<li>Keuntungan harus diketahui secara jelas.</li>
<li>Dalam transaksi tersebut ditegaskan prosentase tertentu bagi pemilik modal (investor) dan pengelola. Sehingga keuntungannya dibagi sebagaimana telah ditentukan prosentasenya, seperti : setengah, sepertiga atau seperempat. [16] Apabila ditentukan nilainya, contohnya jika dikatakan, “Kita bekerja sama mudharabah dengan pembagian keuntungan untukmu satu juta, dan sisanya untukku”, maka akad mudharabah demikian ini tidak sah. Demikian juga bila tidak jelas prosentasenya, seperti “Sebagian untukmu dan sebagian lainnya untukku”.</li>
</ol>
<p>Adapun Dalam Pembagian Keuntungan Perlu Sekali Melihat Hal-Hal Berikut:<br />
<strong>[1]. Keuntungan berdasarkan kesepakatan dua belah pihak, namun kerugian hanya ditanggung pemilik modal. [17]</strong></p>
<p>Ibnu Qudamah di dalam <em>Syarhul Kabir</em> menyatakan: &#8220;Keuntungan sesuai dengan kesepakatan berdua. Lalu dijelaskan dengan pernyataan, maksudnya, dalam seluruh jenis sayrikah. Hal itu tidak terdapat perselisihan dalam <em>mudharabah</em> murni&#8221;.</p>
<p>Ibnu Mundzir menyatakan: &#8220;Para ulama bersepakat, bahwa pengelola berhak memberikan syarat atas pemilik modal 1/3 keuntungan atau ½, atau sesuai kesepakatan berdua setelah hal itu diketahui dengan jelas dalam bentuk prosentase&#8221;. [18]</p>
<p><strong>[2]. Pengelola modal hendaknya menentukan bagiannya dari keuntungannya. Apabila keduanya tidak menentukan hal tersebut, maka pengelola mendapatkan gaji yang umum, dan seluruh keuntungan merupakan milik pemilik modal (investor). [18]</strong></p>
<p>Ibnu Qudamah menyatakan: &#8220;Di antara syarat sah <em>mudharabah</em> adalah, penentuan bagian (bagian) pengelola modal, karena ia berhak mendapatkan keuntungan dengan syarat sehingga tidak ditetapkan kecuali dengannya. Seandainya dikatakan “ambil harta ini secara <em>mudharabah</em>” dan ketika akan tidak disebutkan bagian untuk pengelola sedikitpun dari keuntungan, maka keuntungan seluruhnya untuk pemilik modal. Demikian pula kerugian ditanggung oleh pemilik modal. Adapun pengelola modal, ia mendapatkan gaji sebagaimana umumnya. Inilah pendapat Ats-Tsauri, Asy-Syafi’i, Ishaaq, Abu Tsaur dan Ashab Ar-Ra’yi (Hanafiyah)&#8221;. [20]. Ibnu Qudamah merajihkan pendapat ini.</p>
<p><strong>[3]. Pengelola modal tidak berhak menerima keuntungan sebelum menyerahkan kembali modal secara sempurna</strong>.</p>
<p>Berarti, tidak seorangpun berhak mengambil bagian keuntungan sampai modal diserahkan kepada pemilik modal. Apabila ada kerugian dan keuntungan, maka kerugian ditutupi dari keuntungan tersebut, baik kerugian dan keuntungan dalam satu kali, atau kerugian dalam satu perniagaan dan keuntungan dari perniagaan yang lainnya. Atau yang satu dalam satu perjalnan niaga, dan yang lainnya dari perjalanan lain. Karena makna keuntungan adalah, kelebihan dari modal. Dan yang tidak ada kelebihannya, maka bukan keuntungan. Kami tidak tahu ada perselisihan dalam hal ini. [21]</p>
<p><strong>[4]. Keuntungan tidak dibagikan selama akad masih berjalan, kecuali apabila kedua pihak saling ridha dan sepakat. [22]</strong></p>
<p>Ibnu Qudamah menyatakan: &#8220;Jika dalam mudharabah tampak adanya keuntungan, maka pengelola tidak boleh mengambil sedikitpun darinya tanpa izin pemilik modal. Dalam masalah ini, kami tidak menemukan adanya perbedaan di antara para ulama&#8221;.</p>
<p>Tidak Dapat Melakukannya Karena Tiga Hal:<br />
[a]. Keuntungan adalah cadangan modal, karena tidak bisa dipastikan tidak adanya kerugian yang dapat ditutupi dengan keuntungan tersebut, sehingga berakhir hal itu tidak menjadi keuntungan.<br />
[b]. Pemilik modal adalah mitra usaha pengelola sehingga ia tidak memiliki hak membagi keuntungan tersebut untuk dirinya.<br />
[c]. Kepemilikannya atas hal itu tidak tetap karena mungkin sekali keluar dari tangannya untuk menutupi kerugian.</p>
<p>Namun apabila pemilik modal mengizinkan untuk mengambil sebagiannya, maka diperbolehkan karena hak tersebut milik mereka berdua. [23]</p>
<p><strong>[5]. Hak mendapatkan keuntungan tidak akan diperoleh salah satu pihak sebelum dilakukan perhitungan akhir atas usaha tersebut.</strong></p>
<p>Sesungguhnya hak kepemilikan masing-masing pihak terhadap keuntungan yang dibagikan bersifat tidak tetap, sebelum berakhirnya pernjanjian dan sebelum seluruh usaha bersama tersebut dihitung. Adapun sebelum itu, keuntungan yang dibagikan itupun masih bersifat cadangan modal yang digunakan menutupi kerugian yang bisa saja terjadi di kemudian, sebelum dilakukan perhitungan akhir.</p>
<p>Perhitungan Akhir Untuk Menetapkan Hak Kepemilikan Keuntungan, Aplikasinya Bisa Dua Macam.<br />
[a]. <strong>Perhitungannya di akhir usaha</strong>. Dengan cara ini, pemilik modal bisa menarik kembali modalnya dan menyelesaikan ikatan kerjasama antara kedua belah pihak.<br />
[b]. <strong>Finish Cleansing terhadap kalkulasi keuntungan</strong>. Yakni dengan cara asset yang dimilikinya dituangkan terlebih dahulu, lalu menetapkan nilainya secara kalkulatif. Apabila pemilik modal mau, maka dia bisa mengambilnya. Tetapi kalau ia ingin diputar kembali, berarti harus dilakukan perjanjian usha baru, bukan meneruskan usaha yang lalu. [24]</p>
<p><strong>RUKUN KETIGA : PELAFALAN PERJANJIAN (SHIGHAH TRANSAKSI)</strong></p>
<p><em>Shighah</em> adalah, ungkapan yang berasal dari kedua belah pihak pelaku transaksi yang menunjukkan keinginan melakukannya. <em>Shighah</em> ini terdiri dari ijab qabul. Transaksi <em>mudharabah</em> atau syarikah dianggap sah dengan perkataan dan perbuatan yang menunjukkan maksudnya. [25]</p>
<p>Demikian rukun-rukun yang harus dipenuhi dalam kerja sama mudharabah, yang semestinya dipahami secara bersama oleh masing-masing pihak. Sehingga terbangunlah mua’amalah yang shahih dan terhindar dari sifat merugikan pihak lain. <em>Wallahu a’lam</em></p>
<p style="line-height: 150%;">__________<br />
Foote Note<br />
[1]. Lihat <em>Takmilah al-Majmu Syarhu al-Muhadzab Imam an-Nawawi</em>, oleh Muhammad Najib Al-Muthi’i yang digabung dengan kitab <em>Majmu Syarhu al-Muhadzab</em> (15/148).<br />
[2]. <em>Al-Fiqh Al-Muyassar</em>, Bagian Fiqih Mu’amalah karya Prof Dr Abdullah bin Muhammad ath-Thayar. Prof Dr Abdullah bin Muhammad al-Muthliq dan Dr Muhammad bin Ibrahim Alimusaa, Cetakan Pertama, Th 1425H, hal. 169<br />
[3]. Lihat <em>al-Bunuk al-Islamiyah Baina an-Nadzariyat wa Tathbiq</em>, karya Prof Dr Abdullah bin Muhammad ath-Thayar., Cetakan Kedua, Th 1414H, Muassasah al-Jurais, Riyadh, KSA, hal. 123<br />
[4]. Lihat kitab <em>Ma’la Yasa’u at_tajir Jahluhu</em>, karya Prof.Dr Abdullah al-Mushlih dan Prof.Dr Shalah ash-Shawi. Telah diterjemahkan dalam edisi bahasa Indonesia, oleh Abu Umar Basyir, dengan judul Fiqih Ekonomi Islam, Penerbit Darul Haq, Jakarta, Hal. 173<br />
[5]. Lihat <em>Maratib al-Ijma</em>, karya Ibnu Hazm, tanpa tahun dan cetakan, Penerbit Dar al-Kutub al-Ilmiyah. Beirut, hal.92 dan Takmilah al-Majmu, op, cit (15/143)<br />
[6]. Pendapat inilah yang dirajihkan Syaikh Ibnu Utsaimin dalam <em>asy-Syarhu al-Mumti</em>, op.cit (4/258)<br />
[7]. <em>Al-Bunuk al-Islamiyah</em>, op.cit hal.123 dan <em>Takmilah al-Majmu</em> op.cit (15/144)<br />
[8]. <em>Takmilah al-Majmu</em>, op.cit. (15/145)<br />
[9]. Ibid (15/146-147)<br />
[10]. Lihat Fiqih Ekonomi Keuangan Islam, op.cit. hal.176<br />
[11]. <em>Al-Mughni</em>, karya Ibnu Qudamah, tahqiq Abdullah bin Abdul Muhsin at-turki, Cetakan Kedua, Tahun 1412H, Penerbit Hajr, (7/177)<br />
[12]. Fikih Ekonomi Keuangan Islam, op. cit.177<br />
[13]. Lihat Juga <em>al-mughni</em>, op.cit (7/144)<br />
[14]. <em>Takmilah al-Majmu</em>, op.cit. (15/160)<br />
[15]. Inid (15/159)<br />
[16]. Lihat <em>Maratib al-Ijma</em>, op.cit.hal.92, <em>asy-Syarhu al-Mumti</em>, op.cit. (4/259) dan <em>Takmilah al-Majmu</em>.op.cit. (15/159-160).<br />
[17]. Masalah kerugian lihat artikel “<em>Membagi Kerugian Dalam Mudharabah</em>”.<br />
[18]. <em>Al-Mughni</em>, op.cit. (7/138)<br />
[19]. <em>Al-Bunuk al-Islamiyah</em>, op.cit.hal.123<br />
[20].<em> Al-Mughni</em>, op.cit. (7/140)<br />
[21]. Ibid (7/165)<br />
[22]. <em>Al-Bunuk al-Islamiyah</em>, op.cit. 123<br />
[23]. <em>Al-Mughni</em>, op.cit. (7/172)<br />
[24]. Fiqih Ekonomi Keuangan Islam, op.cit, hal. 181-182<br />
[25]. <em>Al-Fiqh Al-Muyassar</em>, op.cit, hal. 169</p>
<p style="line-height: 150%;">&#8212;</p>
<p style="line-height: 150%;">Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.<br />
Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.Com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/muamalah-fiqih/rukun-mudharabah/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/muamalah-fiqih/rukun-mudharabah/&amp;title=Rukun+Mudharabah" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/muamalah-fiqih/rukun-mudharabah/&amp;title=Rukun+Mudharabah" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/muamalah-fiqih/rukun-mudharabah/&amp;t=Rukun+Mudharabah" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/muamalah-fiqih/rukun-mudharabah/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Rukun+Mudharabah+-+http://ustadzkholid.com/fiqih/muamalah-fiqih/rukun-mudharabah/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/muamalah-fiqih/rukun-mudharabah/&amp;title=Rukun+Mudharabah" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/muamalah-fiqih/rukun-mudharabah/&amp;title=Rukun+Mudharabah" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Rukun+Mudharabah+-+File: /data/app/webapp/functions.php<br />Line: 7<br />Message: Can't connect to local MySQL server through socket '/var/run/mysqld/mysqld.sock' (11)&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Rukun+Mudharabah&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/muamalah-fiqih/rukun-mudharabah/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Mudharabah%2C%20sebagaimana%20juga%20jenis%20pengelolaan%20usaha%20lainnya%2C%20memiliki%20tiga%20rukun.%20Pertama%20%3A%20Adanya%20dua%20pelaku%20atau%20lebih%2C%20yaitu%20investor%20%28pemilik%20modal%29%20dan%20pengelola%20%28mudharib%29.%20Kedua%20%3A%20Objek%20transaksi%20kerjasama%2C%20yaitu%20modal%2C%20usaha%20dan%20keuntungan.%20Ketiga%20%3A%20Pelafalan%20perjanjian" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/muamalah-fiqih/rukun-mudharabah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fiqih Qurban 4: Harus Baca Basmalah</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-4-harus-baca-basmalah/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-4-harus-baca-basmalah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 13:46:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Qurban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1373</guid>
		<description><![CDATA[Para ulama berselisih pendapat tentang hukum menyebut nama Allah (mengucapkan ‘bismillah’) sebelum menyembelih qurban, namun yang rajih adalah wajib.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Telah lalu disampaikan syarat kedua dan ketiga dalam penyembelihan yang syar&#8217;i dan ini kelanjutannya,</p>
<p><strong>Syarat Keempat: Menyebut Nama Allah</strong></p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> telah berfirman menjelaskan syarat keempat ini dalam Al Qur&#8217;an yang berbunyi:</p>
<p style="font-family:Traditional Arabic;text-align:right;font-size: 22px;">???????? ?????? ?????? ????? ??????? ???????? ???? ???????? ?????????? ??????????? ????? ?????? ?????? ?????????? ?????? ?????? ????? ??????? ???????? ?????? ??????? ?????? ??? ??????? ?????????? ?????? ??? ????????????? ???????? ? ??????? ???????? ???????????? ??????????????? ???????? ?????? ? ????? ??????? ???? ???????? ???????????????? ???????? ??????? ????????? ??????????? ? ????? ????????? ??????????? ????????? ???????????? ????? ??????? ????????????? ????? ?????????? ?????? ???? ???????? ????? ??????? ???????? ????????? ???????? ? ??????? ????????????? ?????????? ?????? ??????????????? ???????????????? ? ?????? ??????????????? ????????? ?????????????</p>
<p><em>&#8220;Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya. Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas. Dan tinggalkanlah dosa yang nampak dan yang tersembunyi. Sesungguhnya orang-orang yang mengerjakan dosa, kelak akan diberi pembalasan (pada hari kiamat), disebabkan apa yang mereka telah kerjakan. Dan janganlah kamu mamakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu;dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik&#8221; </em>(QS. al An’am [6]: 118-121)<em> </em></p>
<p>Para ulama sepakat <span style="text-decoration: underline;">disyari’atkannya</span> menyebut nama Allah dalam penyembelihan dengan dasar ayat ini.<span id="more-1373"></span></p>
<p><strong>Hukumnya</strong></p>
<p>Para ulama berselisih pendapat tentang hukum menyebut nama Allah (mengucapkan <em>‘bismillah’</em>) ini, namun yang <em>rajih </em>adalah wajib dengan dasar sebagai berikut:</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>1. Firman Allah</strong> ’<em>Azza wa Jalla</em> yang artinya,<strong> </strong></p>
<p><em>”Dan janganlah kamu mamakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. </em><em>Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu;dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik</em><em>.” </em>(QS. al An’am [6]: 121)</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>2. Hadits Rafi&#8217; bin Khudaij yang berbunyi: Rasulullah </strong><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><strong> bersabda:</strong></p>
<p style="font-family:Traditional Arabic;text-align:right;font-size: 22px;">??? ???????? ??????? ???????? ????? ??????? ???????? ????????? ?????? ???????? ??????????? ????????????????? ???? ?????? ?????? ???????? ???????? ???????? ????????? ??????? ???????????</p>
<p><em>“Semua yang darahnya tertumpah dan disebutkan nama Allah atasnya, maka makanlah! Bukan memakai gigi dan kuku. Saya akan sampaikan tentang hal itu. Adapun gigi maka ia adalah tulang, sedangkan Kuku maka itu adalah alat potongnya orang Habasyah</em>.” (HR. Al Bukhari)</p>
<p>Inilah pendapat yang di-<em>rajih</em>-kan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika menyatakan: “Inilah pendapat yang paling <em>rajih</em>, karena Al Qur&#8217;an dan Sunnah menggantungkan kehalalan dengan menyebut nama Allah pada banyak ayatNya.”<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p><strong>Hikmah Pensyariatannya</strong></p>
<p>Disyari’atkan menyebut nama Allah dalam penyembelihan karena dapat memperbagusnya dan menolak syaithan dari penyembelih dan hewan sembelihannya. Apabila tidak dibacakan nama Allah, maka syaithan dapat mencampuri penyembelih dan hewan yang disembelih hingga memberikan kejelekan pada hewan tersebut. <a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p><strong>Bacaan yang Disyariatkan Sebagai Menyebut Nama Allah</strong></p>
<p>Demikian juga dalam permasalahan ini, namun yang <em>rajih</em> adalah harus dengan <em>bismilah</em> tidak bisa diganti dengan lainnya. Hal ini berdasarkan amalan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ketika menyembelih membaca: “<em>Bismillah</em>”. Amalan inilah yang menjelaskan kemutlakan ayat perintah menyebut nama Allah. Inilah yang di-<em>rajih</em>-kan Syaikh Shalih Al Fauzan.</p>
<p><strong>Waktu Membacanya</strong></p>
<p>Menurut kesepakatan para ulama bahwa waktu membacanya adalah pada waktu penyembelihan, sebab tidak terwujud makna menyebut nama Allah dalam penyembelihan kecuali pada waktunya dan diperbolehkan dibaca menjelang waktu penyembelihan dalam waktu yang sebentar dan tidak lama dari penyembelihan.</p>
<p><strong>Hukum Sembelihan yang Tidak Jelas Apakah Dibacakan Bismilah Atau Tidak?</strong></p>
<p>Permasalahan ini langsung dijawab Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam hadist A&#8217;isyah, beliau berkata:</p>
<p style="font-family:Traditional Arabic;text-align:right;font-size: 22px;">????? ??????? ??????? ??????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ????? ??????? ?????????? ??????????? ??? ??????? ???????? ????? ??????? ???????? ???? ??? ??????? ??????? ???????? ???????? ????????? ??????? ????????? ???????? ?????? ???????????</p>
<p>“Sesungguhnya satu kaum bertanya kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bahwa ada satu kaum memberi kami daging yang kami tidak mengetahui apakah dibacakan padanya nama Allah atau tidak? Maka Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menjawab: Bacalah padanya &#8216;Bismilah&#8217; dan makanlah! Aisyah menyatakan bahwa mereka tersebut baru masuk Islam.” (HR. Al Bukhari)</p>
<p>Dari hadits ini dapat diambil satu hukum, yaitu seseorang bila mendapatkan daging yang telah disembelih orang lain, maka ia diperbolehkan memakannya dan menyebut nama Allah, dengan dasar prasangka baik kepada orang lain.</p>
<p>Syaikh Shalih Al Fauzan memberikan penjelasan sebagai berikut: “Apabila yakin bahwa sang penyembelih tidak menyebut nama Allah, maka tidak boleh memakannya. Bila tidak mengetahuinya apakah dibacakan padanya nama Allah atau tidak, maka boleh memakannya, karena tidak diwajibkan kamu mengetahui dibacakan bismilah atau tidak dalam semua yang ada di pasar kaum muslimin dari sembelihan kaum muslimin atau ahlu kitab. Karena kaum muslimin semua mengetahui dan bisa mengucapkan <em>&#8216;bismilah&#8217;</em> dan seorang muslim harus diberi prasangka baik selama belum jelas yang menyelisihinya dan ahlu kitab sama hukumnya dengan mereka.”</p>
<p>Demikian syarat-syarat penyembelihan yang ada. Semua sembelihan yang telah memenuhi empat syarat di atas adalah sembelihan yang sah menurut syari&#8217;at.</p>
<p>Mudah-mudahan bermanfaat.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc<br />
Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.Com</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> <em>Majmu&#8217; Fatawa</em> 35/239.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> <em>Al Ath&#8217;imah</em> Syaikh Shalih Al Fauzan, hal. 127</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-4-harus-baca-basmalah/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-4-harus-baca-basmalah/&amp;title=Fiqih+Qurban+4%3A+Harus+Baca+Basmalah" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-4-harus-baca-basmalah/&amp;title=Fiqih+Qurban+4%3A+Harus+Baca+Basmalah" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-4-harus-baca-basmalah/&amp;t=Fiqih+Qurban+4%3A+Harus+Baca+Basmalah" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-4-harus-baca-basmalah/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Fiqih+Qurban+4%3A+Harus+Baca+Basmalah+-+http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-4-harus-baca-basmalah/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-4-harus-baca-basmalah/&amp;title=Fiqih+Qurban+4%3A+Harus+Baca+Basmalah" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-4-harus-baca-basmalah/&amp;title=Fiqih+Qurban+4%3A+Harus+Baca+Basmalah" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Fiqih+Qurban+4%3A+Harus+Baca+Basmalah+-+http://b2l.me/pav8s&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Fiqih+Qurban+4%3A+Harus+Baca+Basmalah&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-4-harus-baca-basmalah/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Para%20ulama%20berselisih%20pendapat%20tentang%20hukum%20menyebut%20nama%20Allah%20%28mengucapkan%20%E2%80%98bismillah%E2%80%99%29%20sebelum%20menyembelih%20qurban%2C%20namun%20yang%20rajih%20adalah%20wajib." rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-4-harus-baca-basmalah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fiqih Qurban 3: Alat dan Bagian yang Disembelih</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-3-alat-dan-bagian-yang-disembelih/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-3-alat-dan-bagian-yang-disembelih/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 01:59:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Qurban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1371</guid>
		<description><![CDATA[Syarat yang berhubungan dengan alat potong atau alat sembelih ada dua: Pertama: Alat sembelih harus tajam, memotong atau menyobek dengan ketajamannya bukan dengan beratnya. Kedua: Tidak berupa gigi dan kuku.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Telah lalu dipaparkan syarat pertama dalam penyembelihan secara syar&#8217;i. Sekarang akan dijelaskan syarat kedua.</p>
<p><strong>Syarat Kedua: Syarat yang Berhubungan dengan Alat Potong atau Sembelih</strong></p>
<p>Syarat yang berhubungan dengan alat potong atau alat sembelih ada dua:</p>
<p><strong>Pertama</strong>: Alat sembelih harus tajam, memotong atau menyobek dengan ketajamannya bukan dengan beratnya.</p>
<p><strong>Kedua</strong>: Tidak berupa gigi dan kuku.</p>
<p>Apabila telah ada dua syarat ini dalam penyembelihan, maka halal sembelihannya, baik alat tersebut berupa besi, batu, kayu atau kaca. Dikecualikan gigi dan kuku, karena  keumuman sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">??? ???????? ??????? ???????? ????? ??????? ???????? ????????? ?????? ???????? ??????????? ????????????????? ???? ?????? ?????? ???????? ???????? ???????? ????????? ??????? ???????????</p>
<p><em>“</em><em>Semua yang darahnya tertumpah dan disebutkan nama Allah atasnya, maka makanlah! Bukan memakai gigi dan kuku. Saya akan sampaikan tentang hal itu. Adapun gigi maka ia adalah tulang, sedangkan Kuku maka itu adalah alat potongnya orang Habasyah</em>.” (HR. Al Bukhari)<span id="more-1371"></span></p>
<p>Sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi  wa sallam</em> ini menegaskan bahwa semua alat potong yang dapat menumpahkan darah hewan sembelihan dengan ketajamannya menjadikan sembelihan sah secara syar&#8217;i, kecuali dua; yaitu <strong>Gigi</strong> dan <strong>Kuku</strong>. Pengertian kuku di sini adalah kuku manusia dan selainnya dari hewan-hewan baik yang masih bersambung dengan tubuhnya atau sudah terpisah. Seperti menyembelih dengan kuku harimau atau binatang buas lainnya. Inilah pendapat mayoritas ulama dan yang <em>r</em><em>a</em><em>jih</em> karena keumuman hadits di atas.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Memotong dengan Potongan Tulang</strong></p>
<p>Para ulama  berselisih pendapat tentang hukum memotong hewan dengan potongan tulang dalam dua  pendapat:</p>
<ol>
<li>Diperbolehkan, karena yang dilarang hanyalah gigi sehingga diperbolehkan  memotong hewan dengan potongan  tulang  selain gigi.</li>
<li>Tidak diperbolehkan karena  larangan bersifat umum pada semua tulang. Inilah  pendapat madzhab Syafi&#8217;i, dengan berlandaskan sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> :</li>
</ol>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">{ ?????? ???????? ???????? }</p>
<p><em>“</em><em>Adapun gigi maka ia adalah tulang</em>”</p>
<p>Pernyataan beliau ini menjelaskan ketidakbolehan menyembelih dengan tulang. Mereka menyatakan bahwa pengertian hadits di atas adalah “adapun gigi, maka  ia adalah  tulang dan semua tulang tidak boleh dijadikan alat penyembelihan”. Dengan demikian ada ketetapan sembelihan tidak boleh dengan tulang. Oleh karena itu, beliau mencukupkan denga menyatakan: ????????  seakan-akan sembelihan dengan tulang sudah dikenal para sahabat tidak diperbolehkan lalu syari&#8217;at mengokohkannya. Dalam hal ini imam al Bukhari membuat judul bab dalam kitab <em>Shahih al Bukhari</em> dengan: <strong>“Bab Tidak Disembelih dengan Gigi, Tulang dan Kuku.”</strong></p>
<p>Yang <em>r</em><em>a</em><em>jih</em> tentang hal ini adalah pendapat kedua yang tidak memperbolehkannya. <em>Wallahu A&#8217;lam</em></p>
<p><strong>Syarat Ketiga: Memotong yang Wajib Dipotong dalam Penyembelihan</strong></p>
<p>Para ulama sepakat bahwa bagian yang disembelih adalah leher dan <em>Lubbah</em> dan tidak boleh menyembelih di bagian lainnya. Dikhususkan bagian ini dalam penyembelihan, karena ia adalah tempat berkumpulnya pembuluh darah dan urat, sehingga akan mudah tumpah darah dan cepat hilangnya nyawa. Sehingga dengan demikian, dapat menjadikan daging lebih bagus dan lebih mudah bagi hewan yang disembelih. Sembelihan di leher dinamakan <em>al Dzabh</em> dan ini untuk selain unta, sedangkan sembelihan di <em>Lubbah</em> yaitu bagian yang ada di pangkal leher dan di atas dada dinamakan <em>Nahr</em> dan ini  khusus untuk unta. Denga demikian, sembelihan di leher bagian atas dinamakan <em>al Dzabh</em> dan di bagian bawah leher dinamakan <em>Nahr</em>.</p>
<p>Adapun yang wajib dipotong dalam sembelihan adalah memotong empat bagian:</p>
<ol>
<li>Tenggorokan, yaitu saluran keluar masuk nafas.</li>
<li>Kerongkongan, yaitu saluran masuk makanan dan minuman dan ia berada dibawah kerongkongan.</li>
<li>dua urat leher yang ada di dua sisi leher mengapit kerongkongan atau tenggorokan yang merupakan saluran darah.</li>
</ol>
<p>Disepakati bila keempat bagian tersebut terpotong, maka sembelihannya sempurna. Namun para ulama berselisih dalam masalah berikut ini:</p>
<ol>
<li>Bila terpotong sebagian dari empat bagian tersebut, apakah sah sembelihannya?<br />
Yang <em>rajih</em> dalam masalah ini adalah cukup dengan memotong sebagian dari empat hal terebut. Kemudian timbul masalah lain yaitu:</li>
<li>Apabila sah, bagian mana yang harus dipotong?<br />
Yang <em>rajih</em> adalah memotong tiga bagian darinya tanpa ditentukan, Karena ketiga bagian tersebut adalah dua urat leher dan kerongkongan atau tenggorokan, mungkin juga tenggorokan dan kerongkongan dengan salah satu dari dua urat leher tersebut. Kedua hal di atas dapat menumpahkan darah dan mempercepat kematian hewan sembelihan.</li>
<li>Hukum sembelihan yang kelewatan hingga memotong sungsum tulang lehernya yang memanjang dari tulang belakang sampai otak.<br />
Yang <em>rajih</em> dalam permasalahan ini adalah sah sembelihannya dengan kemakruhan karena menambah sakit pada hewan tersebut</li>
<li>Hukum sembelihan dari tengkuknya.<br />
Yang <em>rajih</em> dalam masalah ini adalah sah sembelihannya apabila alat potong tersebut memotong bagian yang wajib dipotong dalam keadaan hewan tersebut masih bernyawa walaupun sedikit.</li>
</ol>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.<br />
Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.Com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-3-alat-dan-bagian-yang-disembelih/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-3-alat-dan-bagian-yang-disembelih/&amp;title=Fiqih+Qurban+3%3A+Alat+dan+Bagian+yang+Disembelih" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-3-alat-dan-bagian-yang-disembelih/&amp;title=Fiqih+Qurban+3%3A+Alat+dan+Bagian+yang+Disembelih" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-3-alat-dan-bagian-yang-disembelih/&amp;t=Fiqih+Qurban+3%3A+Alat+dan+Bagian+yang+Disembelih" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-3-alat-dan-bagian-yang-disembelih/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Fiqih+Qurban+3%3A+Alat+dan+Bagian+yang+Disembelih+-+http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-3-alat-dan-bagian-yang-disembelih/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-3-alat-dan-bagian-yang-disembelih/&amp;title=Fiqih+Qurban+3%3A+Alat+dan+Bagian+yang+Disembelih" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-3-alat-dan-bagian-yang-disembelih/&amp;title=Fiqih+Qurban+3%3A+Alat+dan+Bagian+yang+Disembelih" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Fiqih+Qurban+3%3A+Alat+dan+Bagian+yang+Disembelih+-+File: /data/app/webapp/functions.php<br />Line: 7<br />Message: Can't connect to local MySQL server through socket '/var/run/mysqld/mysqld.sock' (11)&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Fiqih+Qurban+3%3A+Alat+dan+Bagian+yang+Disembelih&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-3-alat-dan-bagian-yang-disembelih/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Syarat%20yang%20berhubungan%20dengan%20alat%20potong%20atau%20alat%20sembelih%20ada%20dua%3A%20Pertama%3A%20Alat%20sembelih%20harus%20tajam%2C%20memotong%20atau%20menyobek%20dengan%20ketajamannya%20bukan%20dengan%20beratnya.%20Kedua%3A%20Tidak%20berupa%20gigi%20dan%20kuku." rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-3-alat-dan-bagian-yang-disembelih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fiqih Qurban 2: Penyembelih Yang Sah</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-2-penyembelih-yang-sah/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-2-penyembelih-yang-sah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 11:47:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Qurban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1369</guid>
		<description><![CDATA[Terdahulu disampaikan tentang pengertian sembelihan, hukum dan hikmahnya. Maka berikut ini dipaparkan tentang syarat sembelihan yang sesuai dengan syariat Islam.
Sembelihan yang sesuai syariat Islam memiliki syarat-syarat, sebagian syarat berhubungan dengan penyembelihnya dan sebagian lainnya berhubungan dengan hewan sembelihan dan alat sembelihnya.
Syarat Pertama: Syarat yang berhubungan dengan penyembelih
Syarat-syarat yang berhubungan dengan penyembelih adalah:
1. Penyembelih harus berakal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Terdahulu disampaikan tentang pengertian sembelihan, hukum dan hikmahnya. Maka berikut ini dipaparkan tentang syarat sembelihan yang sesuai dengan syariat Islam.</p>
<p>Sembelihan yang sesuai syariat Islam memiliki syarat-syarat, sebagian syarat berhubungan dengan penyembelihnya dan sebagian lainnya berhubungan dengan hewan sembelihan dan alat sembelihnya.</p>
<h3>Syarat Pertama: Syarat yang berhubungan dengan penyembelih</h3>
<p>Syarat-syarat yang berhubungan dengan penyembelih adalah:</p>
<p>1. Penyembelih harus berakal baik laki-laki atau perempuan, sudah baligh atau belum asalkan sudah <em>mumayyiz</em>. Sehingga tidak sah sembelihan orang gila, anak kecil yang belum berakal dan orang mabuk, karena mereka dianggap tidak berakal dalam syariat. Inilah pendapat mayoritas ulama Islam.<span id="more-1369"></span></p>
<p>Imam Ibnu Hazm <em>rahimahullah</em> menyatakan: “Tidak sah sembelihan orang yang tidak berakal seperti orang gila dan orang mabuk, karena mereka tidak dibebani beban syariat dalam firman Allah Ta’ala:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">?????? ??????????????</p>
<p><em>“Kecuali yang sempat kamu menyembelihnya</em><strong><em>.”</em></strong><em> (QS. </em><em>a</em><em>l Maidah </em><em>[</em><em>5</em><em>]</em><em>:</em><em> </em><em>3)</em><em>.</em> Karena mereka tidak mukallaf.<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Sedangkan Syaikh DR. Shalih Al Fauzan menyatakan: “Yang rajih disyaratkan akal dan <em>mumayyiz</em> dalam penyembelih, karena menyembelih adalah satu jenis ibadah dan disebutkan padanya nama Allah. Sedangkan ibadah harus dengan niat dan niat tidak akan diakui kecuali penyembelih tersebut berakal dan <em>mumayyiz</em>. Demikian juga penyembelihan memiliki syarat-syarat yang tidak akan diperhatikan dan dilaksanakan kecuali berakal dan <em>mumayyiz</em>.<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>2. Penyembelih harus muslim atau ahlu kitab. Sembelihan orang musyrikin dan Majusi tidak sah menurut syariat dan ini merupakan ijma’ kesepakatan ulama islam. Hal ini karena orang musyrik tidak akan ikhlas menyebut nama Allah dan menyembelih untuk berhala mereka hingga Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">????????? ?????????? ??????????? ????????? ???????? ??????????? ???????????? ???????? ????? ???? ????????????????? ???????????????? ?????????????????? ?????????????? ??????????? ????????? ?????? ?????????????? ??????????? ????? ????????? ?????? ?????????????? ?????????????? ???????? ?????? ????????? ?????? ????????? ???????? ??? ?????????</p>
<p><em>Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) <strong>yang disembelih untuk berhala</strong>. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk ( mengalahkan) agamamu. </em>(QS. al Maidah [5]: 3)<em> </em></p>
<p>Adapun sembelihan ahlu kitab dihalalkan karena dasar firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">????????? ??????? ?????? ????????????? ????????? ????????? ??????? ?????????? ?????? ??????? ????????????? ?????? ???????</p>
<p><em>Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang</em><em> </em><em>diberikan Al-Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka</em><em>. (QS. 5:5)</em></p>
<p>Sahabat yang mulia Ibnu Abbas <em>radhiyallahu ‘anhu</em> menafsirkan kata ??????? dalam ayat di atas dengan sembelihan.  Seandainya yang dimaksud dengan kata ???????  dalam ayat di atas bukan sembelihan, maka pengkhususan terhadap ahlu kitab sia-sia, sebab makanan seluruh orang kafir selain sembelihan halal dimakan. Demikian juga kata ???????  adalah sesuatu yang dimakan dan sembelihanpun masuk dalam pengertian yang dimakan.<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>3. Penyembelih tidak dalam keadaan berihram baik untuk umroh atau haji, apabila menyembelih hewan buruan darat. Seorang yang berihram dilarang secara syariat ikut campur tangan terhadap hewan buruan darat baik dengan berburu, menyembelih atau membunuhnya. Bahkan juga diharamkan menunjukkan hewan buruan kepada pemburu atau memberi isyarat. Sehingga hewan buruan darat yang disembelih seseorang yang sedang berihram adalah bangkai. Hal ini didasarkan firman Allah <em>Subhanhu wa Ta’ala</em>:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">??????????? ????????? ????????? ??? ?????????? ????????? ????????? ??????? ????? ???????? ??????? ????????????? ?????????? ??????? ??? ?????? ???? ????????? ???????? ???? ????? ?????? ???????? ??????? ??????? ??????????? ???? ?????????? ??????? ?????????? ???? ?????? ?????? ???????? ?????????? ??????? ???????? ????? ????? ?????? ?????? ?????? ????? ??????????? ????? ?????? ??????? ???????? ??? ??????????</p>
<p><em>“</em><em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa diantara kamu membunuhn</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-2-penyembelih-yang-sah/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-2-penyembelih-yang-sah/&amp;title=Fiqih+Qurban+2%3A+Penyembelih+Yang+Sah" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-2-penyembelih-yang-sah/&amp;title=Fiqih+Qurban+2%3A+Penyembelih+Yang+Sah" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-2-penyembelih-yang-sah/&amp;t=Fiqih+Qurban+2%3A+Penyembelih+Yang+Sah" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-2-penyembelih-yang-sah/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Fiqih+Qurban+2%3A+Penyembelih+Yang+Sah+-+http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-2-penyembelih-yang-sah/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-2-penyembelih-yang-sah/&amp;title=Fiqih+Qurban+2%3A+Penyembelih+Yang+Sah" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-2-penyembelih-yang-sah/&amp;title=Fiqih+Qurban+2%3A+Penyembelih+Yang+Sah" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Fiqih+Qurban+2%3A+Penyembelih+Yang+Sah+-+http://b2l.me/n83m6&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Fiqih+Qurban+2%3A+Penyembelih+Yang+Sah&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-2-penyembelih-yang-sah/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Terdahulu%20disampaikan%20tentang%20pengertian%20sembelihan%2C%20hukum%20dan%20hikmahnya.%20Maka%20berikut%20ini%20dipaparkan%20tentang%20syarat%20sembelihan%20yang%20sesuai%20dengan%20syariat%20Islam.%0D%0A%0D%0ASembelihan%20yang%20sesuai%20syariat%20Islam%20memiliki%20syarat-syarat%2C%20sebagian%20syarat%20berhubungan%20dengan%20penyembelihnya%20dan%20sebagian%20lainnya%20ber" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-2-penyembelih-yang-sah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fiqih Qurban 1: Cara Penyembelihan</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-1-cara-penyembelihan/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-1-cara-penyembelihan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 15:39:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Qurban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1367</guid>
		<description><![CDATA[Hukum, tata cara dan hikmah penyembelihan hewan qurban]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hewan yang boleh dimakan tidak lepas dari dua keadaan:</p>
<p><strong>Pertama</strong><strong>.</strong> Hewan jinak yang berada di tangan kita. Hewan yang dapat kita kurung, lepas, kendarai atau tunggangi, sebagaimana difirmankan oleh Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>:<strong> </strong></p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">????????? ?????? ???????????? ???????? ???????? ????? ????? ????????? ????????????? ??????????????  ??????????? ????? ????????? ????? ?????????? ???????? ????????? ????? ????????????? ???????? ??????????? ????????? ??????? ??????? ????? ????? ??????????? ???? ??????????? ???????? ????? ???????? ??????????????</p>
<p><em>“</em><em>Dan Yang menciptakan semua yang berpasang-pasangan dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi. Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Rabbmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan:&#8221;Maha Suci Dia yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal sebelumnya kami tidak mampu menguasainya,dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami&#8221;. </em>(QS. al Zukhruf [43]: 12-14)<em> </em></p>
<p><strong>Kedu</strong><strong>a</strong>. Hewan yang berada di luar jangkauan kita, menjauh dari kita dan sulit menangkapnya dan ini ada dua jenis:<span id="more-1367"></span></p>
<ol>
<li>Jenis hewan yang terpisah dari manusia,      seperti  di hutan, padang pasir,      gunung dan sebagainya. Jenis ini dinamakan hewan liar.</li>
<li>Jenis hewan yang jinak dan tidak liar namun      terjadi keadaan kabur dan jauh dari jangkauan kita dan dianggap liar.      Jenis ini dalam bahasa Arab dinamakan <em>a</em><em>l Na’am </em><em>a</em><em>l Mutawahisy</em>.</li>
</ol>
<p>Jenis-jenis ini semua memiliki tata cara penyembelihan yang berbeda-beda sesuai keadaannya.</p>
<p>Oleh karena itu perlu sekali diketahui pengertian sembelihan (<em>a</em><em>l Dza</em><em>k</em><em>ah</em>) dan tata caranya agar dapat memilah-milah cara penyembelihan yang sesuai syari’at.</p>
<h2><strong>Pengertian penyembelihan (</strong><strong>a</strong><strong>l Dza</strong><strong>k</strong><strong>ah)</strong><strong> </strong></h2>
<p>Kata<em> </em><em>a</em><em>l Dza</em><em>k</em><em>ah</em> dalam etimologi bahasa Arab bermakna sembelihan. Sedangkan dalam istilah syariat <em>a</em><em>l Dza</em><em>k</em><em>ah</em> (sembelihan) ini memiliki pengertian sebab yang menjadikan halnya memakan daging hewan darat secara ikhtiyari.</p>
<p>Dengan demikian maka sembelihan itu ada dua jenis:</p>
<ol>
<li>Sembelihan dengan digorok atau dalam bahasa Arabnya <em>a</em><em>l Dzabhu</em>.</li>
<li>Sembelihan dengan ditusuk atau dalam bahasa Arabnya <em>a</em><em>l Nahru</em>.</li>
</ol>
<p><em>Al Dzabhu</em> adalah menyembelih dengan cara memutus tenggorokan dari badan pada persendian antara kepala dengan leher di bawah dagu. Inilah yang sudah dikenal banyak dalam menyembelih sembelihan selain unta.</p>
<p>Sedangkan <em>a</em><em>l Nahru</em> adalah menyembelih hewan dengan cara menusukkan pisau atau sejenisnya di bagian <em>Lubbah</em> (bagian bawah leher tempat kalung), dan ini khusus untuk unta saja.</p>
<p>Pengkhususan a<em>l Nahru</em> pada unta dan <em>a</em><em>l Dzabhu</em> pada selainnya adalah sunnah, karena Allah menyebutkan kata <em>a</em><em>l Nahru</em> pada penyembelihan onta dan <em>a</em><em>l Dzabhu</em> pada selainnya, seperti firmanNya:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">??????? ????????? ?????????</p>
<p><em>&#8220;Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan naharlah (berkorbanlah)&#8221;. </em>(QS. al Kautsar [108]: 2)</p>
<p><em> </em></p>
<p>Dan firmanNya:<strong> </strong></p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">?????? ????? ?????? ?????????? ????? ??????? ???????????? ??? ?????????? ???????? ??????? ?????????????? ??????? ????? ??????? ????????? ???? ??????? ???? ????????????</p>
<p><em>&#8220;Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya:&#8221;Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina&#8221;. Mereka berkata:&#8221;Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?&#8221;. Musa menjawab:&#8221;Aku berlindung kepada Allah sekiranya menjadi seorang dari orang-orang yang jahil&#8221;. </em>(QS. al Baqarah [2]: 67)<em> </em></p>
<p>Serta firmanNya:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">????????????? ???????? ???????</p>
<p><em>Dan Kami tebus anak itu dengan dengan seekor sembelihan yang besar. </em>(QS. al Shaffat [37]: 107)<em> </em></p>
<h2>Hukum Penyembelihan</h2>
<p>Para ulama Islam telah bersepakat ketidakhalalan hewan yang dimakan dagingnya kecuali ikan-ikanan dan belalang tanpa disembelih atau yang semakna dengannya.</p>
<p>Dasar kesepakatan ini adalah firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">????????? ?????????? ??????????? ????????? ???????? ??????????? ???????????? ???????? ????? ???? ????????????????? ???????????????? ?????????????????? ?????????????? ??????????? ????????? ?????? ??????????????</p>
<p><em>“</em><em>Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, yang diterkam binatang buas, <strong>kecuali yang sempat kamu menyembelihnya</strong></em><strong><em>.</em></strong><em>”</em><em> (QS. </em><em>a</em><em>l Maidah </em><em>[</em><em>5</em><em>]</em><em>:</em><em> </em><em>3)</em></p>
<p>Dan sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>:<strong> </strong></p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">??? ???????? ??????? ???????? ????? ??????? ???????? ?????????</p>
<p><em>“</em><em>Semua yang ditumpahkan darahnya dan disebut nama Allah atasnya maka makanlah!</em><em>”</em><em> (Muttafaqun ‘Alaihi).</em></p>
<p>Dalam hadits ini ada petunjuk bahwa sembelihan dan menyebut nama Allah adalah syarat kehalalan hewan tersebut.</p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<h2><strong>Hikmahnya</strong><strong> </strong></h2>
<p>Diantara hikmah penyembelihan yang disampaikan para ulama adalah:</p>
<ol>
<li>Keharaman dalam hewan yang dimakan adalah pada darah yang tertupah (a<em>l Dam </em><em>a</em><em>l Masfuh</em>) dan ini akan hilang hanya dengan penyembelihan. Padahal Allah telah berfirman:
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">????????????? ????????????? ?????? ???? ??????? ?????? ?????????????</p>
<p><em>“</em><em>Mereka menanyakan kepadamu:&#8221;Apakah yang dihalalkan bagi mereka&#8221;. Katakanlah:&#8221;Dihalalkan bagimu yang baik-baik&#8221;. </em>(QS. al Maidah [5]: 4).</p>
<p>Sedangkan hewan tersebut tidak baik kecuali dengan ditumpahkan darahnya dengan disembelih. Oleh karena itu, diharamkan bangkai karena masih ada <em>al dam al masfuh</em>-nya.</li>
<li>Pembeda antara hewan yang dimakan manusia dengan binatang buas.</li>
<li>Pengingat manusia tentang kemurahan Allah kepadanya dengan diperbolehkannya menghilangkan nyawa hewan tersebut dan memanfaatkannya setelah hewan tersebut mati.</li>
</ol>
<p>Demikianlah sebagian hikmah penyembelihan dan juga pengantar pembahasan tata cara dan syarat penyembelihan yang akan dibahas dalam edisi berikutnya.</p>
<p>Mudah-mudahan bermanfaat.</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-1-cara-penyembelihan/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-1-cara-penyembelihan/&amp;title=Fiqih+Qurban+1%3A+Cara+Penyembelihan" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-1-cara-penyembelihan/&amp;title=Fiqih+Qurban+1%3A+Cara+Penyembelihan" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-1-cara-penyembelihan/&amp;t=Fiqih+Qurban+1%3A+Cara+Penyembelihan" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-1-cara-penyembelihan/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Fiqih+Qurban+1%3A+Cara+Penyembelihan+-+http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-1-cara-penyembelihan/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-1-cara-penyembelihan/&amp;title=Fiqih+Qurban+1%3A+Cara+Penyembelihan" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-1-cara-penyembelihan/&amp;title=Fiqih+Qurban+1%3A+Cara+Penyembelihan" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Fiqih+Qurban+1%3A+Cara+Penyembelihan+-+http://b2l.me/n83ap&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Fiqih+Qurban+1%3A+Cara+Penyembelihan&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-1-cara-penyembelihan/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Hukum%2C%20tata%20cara%20dan%20hikmah%20penyembelihan%20hewan%20qurban" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-1-cara-penyembelihan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fiqih Ibadah Haji (1)</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 13:39:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<category><![CDATA[Ihram]]></category>
		<category><![CDATA[Miqat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1358</guid>
		<description><![CDATA[Rincian tata cara pelaksanaan ibadah haji]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sungguh Allah <em>Ta&#8217;ala</em> tidaklah menciptakan manusia dan jin kecuali hanya untuk menyembah-Nya semata, sebagaimana firman-Nya:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">??? ???? ???? ? ????? ??? ???????</p>
<p>&#8220;<em>Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. </em><em>(</em>QS. Adz dzariyat:56)</p>
<p>kemudian untuk merealisasikan penyembahan tersebut dibutuhkan suatu media yang dapat menjelaskan makna dan hakikat penyembahan yang dikehendaki Allah <em>Ta&#8217;ala</em>, maka dengan hikmah-Nya yang agung Dia mengutus para Rasul dalam rangka membawa dan menyampaikan risalah dan syariat-Nya kepada jin dan manusia. Dan risalah tersebut merupakan petunjuk yang jelas dan hujjah atas para hamba-Nya. Dan diantara kesempurnaan Islam Allah yang Maha Bijaksana menetapkan ibadah Haji ke Baitullah Al Haram sebagai salah satu dari syiar-syiar Islam yang agung. Bahkan ibadah haji merupakan rukun yang kelima dari rukun-rukun Islam dan merupakan salah satu sarana dan media bagi kaum muslimin untuk bersatu, meningkatkan ketaqwaan dan meraih surga yang telah dijanjikan untuk orang-orang yang bertaqwa.Oleh karena itu Islam dengan kesempurnaan syari&#8217;atnya telah menetapkan suatu tatacara atau metode yang lengkap dan terperinci sehingga tidak perlu adanya penambahan dan pengurangan dalam pelaksanaan ibadah ini. Dan sebagai seorang muslim yang baik tentunya akan berusaha dan bersemangat untuk mempelajarinya kemudian mengamalkannya setelah Allah memberikan pertolongan, kemudahan dan kemampuan baginya untuk menunaikan ibadah yang mulia ini.</p>
<p>Dari sinilah penulis berusaha untuk memberikan apa yang Allah <em>Ta&#8217;ala</em> karuniakan dari hal-hal yang berhubungan dengan ibadah yang mulia ini, sebuah ibadah yang selalu diharap-harap dan dicita-citakan kaum muslimin yang berpegang teguh dengan agamanya, mudah-mudahan hal ini bermanfaat bagi semua pihak dan dapat pula memperbaiki kesalahan-kesalahan yang banyak dilakukan sebagian para jama&#8217;ah haji serta dapat dijadikan sebagai petunjuk bagi mereka yang akan menunaikannya dan mudah-mudahan Allah <em>Ta&#8217;ala</em> menjadikan amalam yang kecil ini sebagai bekal bagi penulis ketika menghadap Rabb-Nya di hari yang tidak ada pertolongan dan belas kasihan kecuali dari-Nya yang Maha Kuasa lagi Maha Adil dan Maha Bijaksana.<span id="more-1358"></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>1. Definisi Haji</strong></p>
<p>a. Secara Etimologi</p>
<p>Kata haji berasal dari bahasa arab yang bermakna tujuan dan dapat dibaca dengan dua lafazh <em>Al-hajj</em> dan <em>Al-Hijj</em> <a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>b. Secara terminologi syariat</p>
<p>Haji menurut istilah syar&#8217;i adalah beribadah kepada Allah dengan melaksanakan manasik yang telah ditetapkan dalam sunnah Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> <a href="#_ftn2">[2]</a> dan ada pula ulama yang berpendapat: &#8220;Haji adalah bepergian dengan tujuan ke tempat tertentu pada waktu yang tertentu untuk melaksanakan suatu amalan yang tertentu pula<a href="#_ftn3">[3]</a>. Akan tetapi definisi ini kurang pas karena haji lebih khusus dari apa yang didefinisikan di sini, karena seharusnya ditambah dengan satu ikatan yaitu ibadah, maka apa yang ada pada definisi pertama lebih sempurna dan menyeluruh.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>2. Dalil Pensyari&#8217;atannya</strong></p>
<p>Haji merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima dan dia merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan bagi seorang muslim yang mampu, sebagaimana telah digariskan dan ditetapkan dalam Al-Qur&#8217;an, As-Sunnah dan Ijma&#8217;.</p>
<p>Adapun dalil dari Al-Qur&#8217;an:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">???? ??? ????? ?? ????? ?? ?????? ???? ?????? ??? ??? ??? ???? ??? ?? ?????????</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>&#8220;</em><em>M</em><em>engerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam&#8221;</em>. (QS. Ali Imran, 97)</p>
<p>dan firman Allah <em>Ta&#8217;ala</em></p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">?????? ???? ???????  ??? ??? ?????? ??? ?????? ?? ????? ??? ?????? ?????? ??? ???? ????? ???? ??? ??? ???? ?????? ?? ?? ???? ?? ???? ????? ?? ???? ?? ???? ?? ??? ???? ????? ??? ???? ??????? ??? ???? ??? ?????? ?? ????? ??? ?? ??? ????? ????? ???? ?? ???? ????? ??? ????? ??? ???? ????? ??? ??? ?? ??? ???? ????? ?????? ?????? ?????? ???? ??????? ?? ???? ???? ??????</p>
<p><em>&#8220;Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) kurban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu sebelum kurban sampai ke tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu dia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu berpuasa, atau bersedekah, atau berkurban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan umrah sebelum haji (di dalam bulan Haji), (wajiblah dia menyembelih) kurban yang mudah didapat. Tetapi jika dia tidak menemukan (binatang kurban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekkah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketauhilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.&#8221;</em> (QS. Al-Baqarah,196)</p>
<p>Dalil dari As-Sunnah:</p>
<p>Hadits yang diriwayatkan Muslim dari Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">????? ???? ????  ???? ?????? ????? ?? ??? ???? ????? ???? ?????</p>
<p><em>&#8220;Telah berkhutbah Rasulullah </em><em><em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em></em><em> kepada kami dan berkata: &#8220;Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya Allah </em><em><em>Ta&#8217;ala</em></em><em> telah mewajibkan atas kalian untuk berhaji, maka berhajilah kalian.&#8221;</em><em> </em>(HR. Muslim)</p>
<p>Dan hadits Ibnu Umar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">??? ??????? ??? ??? ????? ?? ?? ??? ??? ???? ??? ?????? ???? ???? ????? ?????? ?????? ?????? ??? ????? ???? ?????</p>
<p><em>&#8220;Islam itu didrikan atas lima perkara yaitu persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah (dengan benar) kecuali Allah dan bersaksi bahwa Muhammad </em><em><em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em></em><em> adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat,berhaji ke baitullah dan puasa di bulan ramadhan.&#8221;</em> (H.R. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Dalil ijma&#8217; (konsesus) para Ulama&#8217;</p>
<p>Para ulama dan kaum muslimin dari zaman Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> sampai sekarang telah bersepakat bahwa ibadah haji itu hukumnya wajib.<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>3. Syarat-syarat haji</strong></p>
<p>Haji diwajibkan atas manusia dengan lima syarat:</p>
<p>1. Islam</p>
<p>2. Berakal</p>
<p>3. Baligh</p>
<p>4. Memiliki kemampuan perbekalan dan kendaraan</p>
<p>5. Merdeka</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>4. Miqat-miqat untuk haji</strong></p>
<p><em>Miqat</em> adalah apa yang telah ditentukan dan ditetapkan oleh syari&#8217;at untuk suatu ibadah baik tempat atau waktu.<a href="#_ftn5">[5]</a> Dan haji memiliki dua <em>miqat</em> yaitu miqat <em>zamani</em> dan <em>makani</em>. Adapun <em>miqat</em> <em>zamani</em> dimulai dari malam pertama bulan syawal menurut kosensus para ulama, akan tetapi para ulama berbeda pendapat tentang kapan berakhirnya bulan haji. Perbedaan ini terbagi menjadi tiga pendapat yang masyhur yaitu:</p>
<p>1.Syawal, Dzul Qa&#8217;dah, dan 10 hari dari Dzul Hijjah dan ini merupakan pendapat Ibnu Abbas, Ibnu Mas&#8217;ud, Ibnu Umar, dan Ibnu Zubair dan ini yang dipilih madzhab hanbali.</p>
<p>2.Syawal, Dzul Qa&#8217;dah, dan 9 hari dari Dzul Hijjah dan ini yang dipilih madzhab Syafi&#8217;i.</p>
<p>3.Syawal, Dzul Qa&#8217;dah, dan Dzul Hijjah ini yang dipilih madzhab malikiyah</p>
<p>Dan yang rajih -<em>wallahu’alam</em>- bahwa bulan Dzul Hijjah seluruhnya termasuk bulan haji dengan dalil firman Allah <em>Ta&#8217;ala</em>:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">???? ???? ??????? ??? ??? ???? ???? ??? ??? ??? ???? ??? ???? ?? ???? …… ?????</p>
<p><em>&#8220;(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat kefasikan, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.&#8221; </em>(QS Al-Baqarah, 197)</p>
<p>dan firman Allah <em>Ta&#8217;ala</em> :</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">????? ?? ???? ?????? ??? ????? ??? ???? ?????? ?? ???? ???? ?? ????????</p>
<p><em>&#8220;Dan (inilah) suatu pemakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada manusia pada hari haji akbar, bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyirikin.&#8221; </em>(QS At-Taubah 9:3)</p>
<p>Dalam surat Al-Baqarah ini Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman (????) dan bukan dua bulan sepuluh hari atau dua bulan sembilan hari. padahal (????) jamak dari (???) dan hal itu menunjukkan paling sedikit tiga bulan dan pada asalnya kata (???) masuk padanya satu bulan penuh dan tidak dirubah asal ini kecuali dengan dalil syar&#8217;i <a href="#_ftn6">[6]</a> maka tidak boleh berhaji sebelum bulan syawal dan tidak boleh mengakhirkan suatu amalan haji setelah bulan Dzulhijjah.</p>
<p>Sebagai contoh seorang yang berhaji pada bulan Ramadhan maka ihramnya tersebut tidak dianggap sah untuk haji akan tetapi berubah menjadi ihram untuk Umrah.</p>
<p>Adapun miqat makani, maka berbeda-beda tempatnya disesuaikan dengan negeri dan kota yang akan menjadi tempat awal para haji untuk melakukan ibadah hajinya. Hal ini telah dijelaskan oleh Rasullulah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">??? ???? ???? <em> </em> ???? ??????? ?? ??????? ????? ????? ?????? ????? ????? ??? ????? ????? ????? ??? ?? ??? ??? ??? ????? ?? ??? ????? ??? ??? ???? ???? ? ?????? ??? ??? ????? ???? ?? ???? ????? ??? ??? ????? ????</p>
<p><em>&#8220;Rasulullah </em><em><em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em></em><em> telah menentukan miqat bagi ahli Madinah <strong>Dzul Hulaifah</strong> </em><a href="#_ftn7"><em>*</em></a><em> dan bagi ahli Syam <strong>Al-Juhfah</strong> dan bagi ahli Najd <strong>Qarn</strong> dan bagi ahli Yamam <strong>Yalamlam</strong> lalu bersabda: &#8220;mereka (miqat-miqat) tersebut adalah untuk mereka dan untuk orang-orang yang mendatangi mereka selain penduduknya bagi orang yang ingin haji dan umrah. Dan orang yang bertempat tinggal sebelum miqat-miqat tersebut, maka tempat mereka dari ahlinya, dan demikian pula dari penduduk Makkah berhaji (ihlal) dari tempatnya Makkah.&#8221;</em> (H.R Bukhari 2/165, 166; dan 3/21, Muslim 2/838-839, Abu Dawud 1/403, Nasa&#8217;i 5/94,95,96)</p>
<p>Dari hadits diatas Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> telah menerangkan bahwa miqat ahli Madinah adalah <strong><em>Dzul Hulaifah</em></strong> yang dikenal sekarang dengan nama <span style="text-decoration: underline;">Abyar Ali</span> yaitu sebuah tempat di <span style="text-decoration: underline;">Wadi Aqiq</span> yang berjarak enam mil atau 5<sup>2</sup>/<sub>3</sub> mil kurang seratus hasta<a href="#_ftn8">[7]</a> yang setara kurang lebih 11 km. dari Madinah. Dan dari makkah sejauh sepuluh marhalah atau kurang lebih 430 Km dan sebagian ulama mengatakan 435 Km. Dan <em>miqat</em> penduduk Syam adalah <strong><em>al-Juhfah</em></strong> yaitu suatu tempat yang sejajar dengan <strong><em>Raabigh</em></strong> dan dia berada dekat laut, jarak antara <strong><em>Raabigh </em></strong>(tempat yang sejajar dengannya) dengan makkah adalah lima marhalah atau sekitar 201 Km, dan berkata sebagian ulama sekitar 180 km. Akan tetapi karena banyaknya wabah di <strong><em>al-Juhfah</em></strong>, maka para jamaah haji dari Syam mengambil <strong><em>Raabigh </em></strong>sebagai ganti al-Juhfah. <em>Miqat</em> ini juga sebagai <em>miqat</em> penduduk Mesir, Maghrib, dan Afrika Selatan seperti Somalia jika datang melalui jalur laut atau darat dan berlabuh di<strong><em> Raabigh, </em></strong>akan tetapi kalau mereka datang melalui <strong><em>Yalamlam</em></strong> maka miqat mereka adalah miqat ahli Yaman yaitu <strong><em>Yalamlam</em></strong>. <strong><em>Yalamlam</em></strong> yang dikenal sekarang dengan daerah As Sa&#8217;diyah adalah bukit yang memisahkan <span style="text-decoration: underline;">Tuhamah</span> dengan <span style="text-decoration: underline;">As-Saahil</span>, berjarak dua marhalah atau sekitar 80 km dari Makkah, dan berkata sebagian ulama sekitar 92 km.</p>
<p>Demikian pula miqat penduduk Najd adalah<strong><em> Qarnul Manazil</em></strong> atau <strong><em>Qarnul Tsa&#8217;alib</em></strong>, yaitu sebuah bukit yang ada di antara Najd dan Hijaz. Jaraknya dari makkah dua marhalah atau sekitar 80 Km. dan berkata sebagian ulama sekitar 75 Km<a href="#_ftn9">*</a> demikian juga ahli Thaif dan Tuhamah Najd serta sekitarnya.<a href="#_ftn10">[8]</a> Kemudian ada satu miqat lagi yaitu <strong><em>Dzatu &#8216;Irq</em></strong> yaitu tempat yang sejajar denagn <strong><em>Qarnul Manazil</em></strong> yang terletak antara desa <span style="text-decoration: underline;">al-Mudhiq</span> dan <span style="text-decoration: underline;">Aqiq Ath-Thaif</span>, jaraknya dari Makkah dua marhalah atau sekitar 80 km. Dan miqat ini juga untuk penduduk Iraq. Akan tetapi terjadi perselisihan dari para ulama tetang penetapan <span style="text-decoration: underline;">Dzatul &#8216;Irq</span> sebagai miqat, apakah didasarkan dari perintah Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> atau dari perintah Umar bin Khaththab <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>?</p>
<p>a. Pendapat pertama menyatakan bahwa Nabilah yang menetapkannya sebagaimana dalan hadits Abu Dawud dan An-Nasa&#8217;i dari &#8216;Aisyah beliau berkata:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">?? ???? ???? ??? ???? ?????? ??? ?????</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya Rasulullah </em><em><em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em></em><em> telah menentukan miqat ahli &#8216;Iraq adalah Dzatul &#8216;irq&#8221;</em> (H.R Abu Dawud no. 1739 dan an-Nasa&#8217;i 2/6)<a href="#_ftn11">[9]</a></p>
<p>b. Pendapat kedua mengatakan bahwa Umar bin Khaththab <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> yang menetapkannya. Sebagaimana dalam Shahih Bukhari ketika penduduk Bashrah dan Kufah mengadu kepada Umar tentang jauhnya mereka dari Qarnul Manazil, bekata Umar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">??????? ????? ?? ??????</p>
<p><em>&#8220;Lihatlah tempat yang sejajar dengannya (Qarnul Mnazil) dari jalan kalian.&#8221;</em> Lalu Umar menetapkan Dzatul &#8216;Irq (H.R Bukhary 1/388) dan ini adalah pendapat Imam Syafi&#8217;i.</p>
<p>Yang rajih –<em>wallahu’alam</em>- bahwa miqat tersebut telah ditetapkan oleh Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dan penetapan Umar tersebut bersesuian dengan apa yang telah ditetapkan Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>, dan ini adalah pendapatnya Ibnu Qudamah.</p>
<p>Miqat-miqat diatas diperuntukkan bagi ahli tempat-tempat tersebut dan orang-orang yang lewat melaluinya dari selain ahlinya, sehingga setiap orang yang melewati miqat yang bukan miqatnya maka wajib baginya untuk berihram darinya. Misalnya: orang Indonesia yang melewati Madinah dan tinggal disana satu atau dua hari kemudian berangkat umrah atau haji maka wajib baginya untuk berihram dari <strong><em>Dzul Hulaifah</em></strong> atau ahli Najd atau ahli Yaman yang melewati Madinah tidak perlu pergi ke <strong><em>Qarnul Manazil</em></strong> atau <strong><em>Yalamlam </em></strong>akan tetapi diberi kemudahan oleh Allah <em>Ta&#8217;ala</em> untuk berihram dari<strong><em> Dzul Hulaifah.</em></strong>kecuali ahli Syam yang melewati madinah dan <strong><em>Al-Juhfah</em></strong>, maka ada perselisihan para ulama tentang kebolehan mereka menunda ihramnya sampai ke <strong><em>Al-Juhfah</em></strong>,</p>
<p>a. pendapat pertama membolehkan bagi mereka untuk mengakhirkan ihram mereka sampai <strong><em>Al-Juhfah</em></strong>, dan ini merupakan pendapat Abu Hanifah dan Imam Malik. Mereka berdalil bahwa seorang yang melewati dua miqat wajib baginya berihram dari salah satu dari keduanya. Satu dari keduanya adalah cabang, yaitu <strong><em>Dzul Hulaifah,</em></strong> dan yang kedua adalah asal, yaitu <strong><em>Al-Juhfah</em></strong> ,maka boleh mendahulukan asal dari cabangnya. dan pendapat ini yang dirajihkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sebagaimana dinukilkan Al-Ba&#8217;ly dalam <em>Ikhtiyarat al-Fiqhiyah</em> halaman 117.</p>
<p>b. Pendapat yang kedua mengatakan bahwa mereka wajib berihram dari <strong><em>Dzul Hulaifah</em></strong> karena zhahir hadits dari Ibnu Abbas diatas, dan ini adalah pendapat Jumhur Ulama. Dan ini adalah pendapat yang lebih hati-hati kerena keumuman sabda Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em></p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">???? ??? ????? ?? ??? ?????</p>
<p><em>&#8220;Dan bagi yang datang melaluinya dari selain ahlinya&#8221;</em> (Hadits Ibnu Abbas).</p>
<p>Adapun mereka yang berada di antara miqat dengan makkah maka wajib berihram dari tempat dia tetapkan niatnya untuk berhaji atau berumrah. Maka hal ini menguatkan penduduk yang berada di antara Dzul Hulaifah dan Al-Juhfah seperti penduduk ar-Rauha&#8217;, penduduk Badr dan Abyar al-Maasy untuk berihram dari tempat mereka. Demikian juga kalau ada seorang penduduk madinah kemudian bepergian ke Jeddah dan tinggal di sana satu atau dua hari kemudian ingin berumrah atau berhaji maka miqatnya adalah Jeddah kecuali kalau asal tujuan bepergiannya adalah umrah atau haji maka hajatnya tersebut ikut asal tujuannya sehingga dia ihram dari miqatnya yaitu Dzul Hulaifah. contohnya: Seorang mengatakan saya ingin pergi umrah dan saya akan turun dulu di Jeddah sebelum umrah untuk membeli barang-barang yang saya butuhkan, maka disini kepergiannya ke Jeddah adalah ikut kepada asal tujuannya yaitu umrah. Akan tetapi kalau asal tujuannya adalah pergi ke Jeddah dikarenakan ada kebutuhan yang sangat penting kemudian berkata: &#8220;Kalau dikendaki Alah dan saya mempunyai kesempatan, saya akan berumrah, maka disini umrah ikut kepada asal tujuan yaitu ke Jeddah. Maka dia berihram di Jeddah dan jika dia memilliki dua tujuan yang sama kuat maka diambil tujuan melaksanakan umrah sebagai asal. Demikian juga bagi ahli Makkah, mereka berihram dari Makkah untuk berhaji. Sedangkan untuk umrah, maka mereka harus keluar tanah haram Makkah yang paling dekat. Dengan dalil hadits Ibnu Abbas yang terdahulu dan hadits Aisyah ketika beliau berumrah setelah haji maka Rasululllah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> menyuruh Abdurrahman bin Abi Bakar untuk mengantarnya ke Tan&#8217;im, sebagaimana dalam hadits Abdurrahman, beliau berkata:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">????? ???? ???? ?? ???? ????? ??????? ?? ??????</p>
<p><em>&#8220;Rasulullah </em><em><em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em></em><em> telah memerintahkanku untuk menemani Aisyah dan (Aisyah) berihram untuk umrah dari Tan&#8217;im &#8220;</em>(H.R Mutafaq &#8216;alaih)</p>
<p>Demikianlah miqatnya ahli Makkah baik dia penduduk asli maupun pendatang berihram dari rumah-rumah mereka jika akan berhaji dan keluar ke tempat yang halal (di luar tanah haram Makkah) yang terdekat jika akan berumroh. Kemudan bagi mereka yang tidak melewati miqat-miqat tersebut, maka wajib bagi mereka untuk berihram dari tempat yang sejajar dengan miqat yang terdekat dari jalan yang dilewati tersebut.</p>
<p>Kesimpulan dari pembahasan ini bahwa mansia itu tidak lepas dari 3 keadaan:</p>
<p>1. Dia berada di dalam batas haram Makkah, ini dinamakan al-Harami atau al-Makki maka dia berikhram untuk haji dari tempat tinggalnya, dan kalau berumrah maka harus keluar dari haram dan berihram darinya.</p>
<p>2. Berada di luar haram Makkah dan berada sebelum <em>Miqat</em> maka mereka berihram dari tempatnya untuk berhaji dan berumrah.</p>
<p>3. Berada di luar <em>Miqat</em> maka mereka memiliki dua keadaan:</p>
<p>a. Melewati <em>Miqat</em>, maka wajib berihram dari <em>miqat</em></p>
<p>b. Tidak melewati miqat kalau ke Makkah, maka mereka berihram dari tempat yang sejajar atau memilih miqat yang terdekat dengannya.</p>
<p>Adapun seorang yang pergi ke Makkah tidak lepas dari dua keadaan:</p>
<p>1. Pergi ke Makkah dengan niat haji atau umrah atau keduanya bersama-sama maka tidak boleh dia masuk makkah kecuali dalam keadaan berihram.</p>
<p>2. Pergi ke Makkah dengan niat tidak berhaji dan umrah, maka dalam hal ini para ulama terbagi menjadi dua:</p>
<p>a. Orang yang melewati miqat dan ingin masuk makkah wajib berihram baik ingin haji dan umrah ataupun yang lainnya, ini merupaka madzhab Hanafiyah dan Malikiyah.</p>
<p>Berdalil dengan atsar Ibnu Abbas <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">??? ?? ???? ??? ?? ??? ??????</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya tidaklah masuk (ke haram makkah) kecuali dalam keadaan berihram&#8221;.</em></p>
<p>Mereka berkata: &#8220;Ini menunjukkan bahwa seorang mukalaf kalau melewati miqat dengan niat masuk makkah maka tidak boleh memasukinya kecuali dalam berihram. Demikian juga Allah telah mengharamkan makkah dan keharaman tersebut mengharuskan masuknya dengan cara yang khusus dan kalau tidak maka sama saja dengan yang lainnya.&#8221;</p>
<p>b. Boleh bagi yang melewati miqat dan tidak berniat haji atau umrah untuk tidak berihram dan ini adalah madzhab Syafi&#8217;i.</p>
<p>Mereka berdalil sebagai berikut:</p>
<p>Sabda Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">??? ???? ???? ? ??????</p>
<p><em>&#8220;Bagi siapa saja yang ingin melaksanakan haji dan umrah&#8221; </em>(Mutafaqun &#8216;Alaih)</p>
<p>Di sini Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> membatasi perintah berihram kepada orang yang berniat melaksanakan haji dan umrah, hal ini menunjukkan bahwa selainnya dibolehkan tidak berihram jika ingin masuk makkah</p>
<p>Berhujjah dengan masuknya Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> ke Makkah pada fathul Makkah dalam keadaan memakai topi baja pelindung kepala (<em>al-Mighfar</em>)</p>
<p>Dan yang rajih –<em>wallahu’alam</em>- adalah pendapat kedua yang membolehkan karena asalnya adalah tidak diwajibkan untuk berihram sampai ada dalil yang menunjukkannya. Dan ini adalah pendapat yang dirajihkan oleh Ibnu Qudamah dan Bahaudin al-Maqdisy serta Muhammad bin Muhammad al-Mukhtar asy-Syanqithy.</p>
<p>Dari pembahasan yang lalu menunjukkan wajibnya berihram dari miqat-miqat yang telah ditentukan oleh syar&#8217;i, lalu bagi mereka yang melewat miqat dan dia berniat haji atau umrah dan belum berihram maka dia tidak lepas dari tiga keadaan:</p>
<p>1. Melewati <em>miqat</em> dan belum berihram, lantas dia melampaui <em>miqat</em> beberapa jauh, kemudian kembali ke miqat untuk berihram darinya, maka hukumnya adalah boleh dan tidak terkena apa-apa, karena dia telah berihram dari tempat yang Allah perintahkan untuk berhram.</p>
<p>2. Melewati <em>miqat</em>, walaupun hanya satu kilometer, lalu berihram dan dia tidak kembali ke miqat, masalah ini ada dua gambaran:</p>
<p>a.Dia memiliki udzur syar&#8217;i sehingga tidak mampu untuk kembali, seperti takut kehilangan haji kalau kembali dan lain sebagainya.</p>
<p>b.Tidak memiliki udzur syar&#8217;i.</p>
<p>maka hukum kedua-duanya adalah sama, yaitu wajib menyembelih sembelihan, karena dia telah kehilangan kewajiban haji, yaitu berihram dari miqat.</p>
<p>3. Melewati <em>miqat</em> dan melampauinya, kemudian berihram setelah melampaui <em>miqat</em>, lalu kembali dan berihram lagi untuk kedua kali dari miqat maka dalam hal ini ada lima pendapat ulama:</p>
<p>a. Wajib atasnya dam (sembelihan) baik kembali atau tidak kembali, ini pendapat malikiyah dan hanabillah.</p>
<p>b. Tidak ada dam selama belum melaksanakan satu amalan-amalan haji atau umrah, ini madzhab Syafi&#8217;iyah</p>
<p>c. Kalau kembali ke miqat dalam keadaan bertalbiyah maka tidak ada dam (sembelihan) dan kalau kembali tidak bertalbiyah maka wajib atasnya dam.</p>
<p>d. Rusak hajinya atau umrahnya dan wajib mengulangi ihramdari miqat, ini pendapat Sa&#8217;id bin Jubair.</p>
<p>e. Tidak apa-apa, ini pendapat al-Hasan al-Bashry, al-Auza&#8217;i, dan ats-Tsaury.</p>
<p>Pendapat pertama adalah pendapat yang dirajihkan oleh Syaikh Muhammad bin Muhammad al-Mukhtar asy-Syanqithy dalam <em>Mudzakirat Syarh &#8216;Umdah</em> hal. 23.</p>
<p><strong>5. Jenis-jenis Manasik Haji</strong></p>
<p>Jenis-jenis manasik haji yang telah ditetapkan syariat ada tiga,yaitu:</p>
<p>1. Ifrad</p>
<p>Ifrad merupakan salah satu dari jenis manasik haji yang hanya berihram untuk haji tanpa dibarengi dengan umroh,maka seorang yang memilih jenis manasik ini harus berniat untuk haji saja, kemudian pergi ke Makkah dan ber-<em>th</em><em>a</em><em>waf qudum</em>, apabila telah ber-<em>th</em><em>a</em><em>waf</em> maka dia tetap berpakaian ihram dan dalam keadaan muhrim sampai hari nahar (tanggal 10 Dzul hijah dan tidak dibebani hadyu (sembelihan),serta tidak ber-Sa&#8217;i kecuali sekali dan umrohnya dapat dilakukan pada perjalanan yang lainnya.</p>
<p>Diantara bentuk-bentuk <em>Ifrad</em> adalah:</p>
<p>a.  Berumroh sebelum bulan-bulan haji dan tinggal menetap di Makkah sampai haji.</p>
<p>b.  Berumroh sebelum bulan-bulan haji, kemudian pulang ketempat tinggalnya dan setelah itu kembali ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji.</p>
<p>2. Tamattu&#8217;</p>
<p>Tamatu&#8217; adalah berihram untuk umrah di bulan-bulan haji setelah itu berihram untuk haji pada tahun itu juga. Dalam hal ini diwajibkan baginya untuk menyembelih <em>hadyu</em> (sembelihan). Oleh karena itu setelah <em>thawaf</em> dan <em>sa&#8217;i</em> dia mencukur rambut dan pada tanggal 8 Dzul Hijjah berihram untuk haji.</p>
<p>3. Qiran</p>
<p>Qiran adalah berihram untuk umrah dan haji sekaligus, dan membawa <em>hadyu</em> (sembelhan) sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>, dan qiran ini memiliki tiga bentuk:</p>
<p>a.  Berihram untuk haji dan umrah bersamaan, dengan menyatakan &#8220;???? ????? ????? &#8221; dengan dalil bahwa Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> didatangi Jibril u dan berkata:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">?? ?? ??? ?????? ??????? ? ?? ???? ?? ???</p>
<p><em>&#8220;Shalatlah di wadi yang diberkahi ini dan katakan &#8220;&#8216;Umrah fi hajjatin&#8221;</em> (H.R Bukhari)</p>
<p>b.  Berihram untuk umrah saja pertama kali kemudian memasukkan haji atasnya sebelum memulai thawaf. Dengan dalil hadits yang diriwayatkan &#8216;Aisyah ketika beliau berihram untuk umrah kemudian haidh di Saraf. Lalu Rasulullah memerintahkan beliau untuk berihlal (ihram) untuk haji dan perintah tersebut bukan merupakan pembatalan umrah dengan dalil sabda Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dalam hadits tersebut:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">???? ????? ???? ??????</p>
<p><em>&#8220;Cukuplah bagi kamu thawafmu untuk haji dan umrahmu&#8221; </em>(H.R Muslim no. 2925/132)</p>
<p>c.  Berihram untuk haji kemudan memasukkan umrah atasnya. Tentang kebolehan hal ini para ulama ada dua pendapat:</p>
<p>Boleh dengan dalil hadits &#8216;Aisyah:</p>
<p>??? ???? ???? <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> ?????</p>
<p>&#8220;<em>Rasululloh berihlal (ihrom) dengan haji&#8221;.</em></p>
<p>dan hadits Ibnu Umar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">?? ?? ??? ?????? ??????? ? ?? ???? ?? ???</p>
<p><em>&#8220;Shalatlah di wadi yang diberkahi ini dan katakan &#8220;&#8216;Umrah fi hajjatin&#8221;</em> (H.R Bukhari)</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">??? ?????? ?? ???? ??? ??? ???????</p>
<p><em>&#8220;telah masuk umroh kedalam haji sampa hari kiamat&#8221;.</em></p>
<p>Dalil-dalil ini menunjukkan kebolehan memasukkan umrah kedalam haji.</p>
<p>Tidak boleh dan ini adalah pendapat yang masyhur dalam madzhab hanbali. Berkata Syaikhul Islam: &#8220;Dan seandainya dia berihram dengan haji kemudian memasukkan umrah ke dalamnya, maka tidak boleh menurut pendapat yang rajih dan sebaliknya dengan kesepakatan para ulama&#8221; <a href="#_ftn12">[10]</a></p>
<p>Kemudian berselisih para ulama dari ketiga macam/jenis manasik ini dan dapat kita simpulkan menjadi tiga pendapat:</p>
<p>1. <em>Tamattu&#8217;</em> lebih utama dan ini merupakan pendapat Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, &#8216;Aisyah, Alhasan, &#8216;Atha&#8217;, Thawus, Mujahid, Jabir bin Zaid, Al-Qarim, Saalim, Ikrimah, Ahmad bin Hanbal, dan madzhab ahli zhahir serta merupakan pendapat yang masyhur dari madzhab hanbali dan satu daru dua pendapat Imam Syafi&#8217;i.</p>
<p>2. Qiran lebih utama dan ini merupakan pendapat madzhab Hanafi dan Tsaury berhujjah dengan:</p>
<p>Hadits Anas, beliau berkata:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">???? ???? ????  ??? ??? ??????: ???? ???? ? ????? ???? ???? ? ???? (???? ????)</p>
<p><em>&#8220;Aku mendengar Rasulullah berihlal dengan keduanya</em><em>: ‘L</em><em>abbaik Umrotan wa hajjan</em><em>’</em><em>&#8220;</em><em> </em><em>(Mutafaqun Alaih)</em></p>
<p>Hadits Adh-Dhabi bin Ma&#8217;bad ketika <em>talbiyah</em> dengan keduanya, kemudian datang umar lalu dia menanyakannya,maka beliau berkata: &#8220;Kamu telah mendapatkan sunah Nabimu” (HR Abu Dawud no. 1798; Ibnu Majah no. 2970 ddengan sanad shahih)</p>
<p>Perbuatan Ali dan perkataannya kepada Utsman ketika menegurnya:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">???? ????? ???? ??? ????? ??? ??? ??? ??? ???? ???? ????? (???? ???????)</p>
<p><em>&#8220;Aku mendengar Rasulullah bertalbiyyah dengan keduanya sekalgus, maka aku tidak akan meninggallkan ucapan Rasulullah karena pendapatmu &#8220;</em>(H.R Baihaqi)</p>
<p>Karena pada Qiran ada pembawaan <em>hadyu</em>, maka lebih utama dari yang tidak membawa.</p>
<p>3.  Ifrad lebih utama dan ini merupakan pendapat Imam Malik dan yang terkenal dari Madzhab Syafi&#8217;i serta pendapat Umar, Utsman, Ibnu Umar, Jabir dan &#8216;Aisyah; dengan hujjah:</p>
<ul>
<li>Hadits Aisyah dan Jabir yang menjelaskan bahwa Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> melakukan haji ifrad</li>
<li>Karena haji tersebut sempurna tanpa membutuhkan      penguat, maka yang tidak membutuhkan lebih utama dari yang membutuhkan.</li>
<li>Amalan Khulafaur Rasyidin</li>
</ul>
<p>Sedangkan yang rajih –<em>wallahu’alam</em>- adalah pendapat pertama dengan dalil:</p>
<p>a.  Hadits Ibnu Abbas, beliau berkata: ketika Rasulullah sampai di Dzi Thuwa dan menginap disana , lalu setelah shalat subuh beliau berkata:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">?? ??? ?? ?????????? ????????? ????</p>
<p><em>&#8220;Barang siapa yang ingin menjadikannya umrah maka jadikanlah dia sebagai umrah&#8221;</em> (Mutafaqun Alaihi)</p>
<p>b.  Hadits Aisyah:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">????? ?? ???? ???? ??? ???? ??? ??? ????? ???? ???? ??? ?????? ?????? ???? ???? ????  ?? ?? ??? ??? ?????? ?? ???? ???? ??? ?? ?? ??? ??? ????? ? ???? ?? ???? ?????? ???????</p>
<p><em>&#8220;Kami telah berangkat bersama Rasulullah dan tidaklah kami melihat kecuali itu adalah haji, ketika kami tiba di makkah kami thawaf di ka&#8217;bah, lalu Rasulullah memerintahkan orang yang tidak membawa hadyu (senmbelihan) untuk bertahalul, berkata Aisyah: maka bertahalullah orang yang tidak membawa hadyu dan istri-istri beliatidak membawa hadyu maka mereka bertahalul &#8221; </em>(Mutafaqun ‘Alaih)<em> </em></p>
<p>c.  Juga terdapat riwayat Jabir dan Abu Musa bahwa Rasulullah memerintahkan sahabat-sahabatnya ketika selesai thawaf di ka&#8217;bah untuk tahalul dan menjadikannya sebagai umrah.</p>
<p>Maka perintah pindah dari Ifrad dan Qiran kepada tamatu&#8217; menujukkan bahwa tamattu&#8217; lebih utama. Karena, tidaklah beliau memindahkan satu hal kecuali kepada yang lebih utama.</p>
<p>d.  Sabda Raslullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em></p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">?? ??????? ?? ???? ?? ??????? ?? ??? ????? ? ??????? ????</p>
<p><em>&#8220;Seandainya saya dapat mengulangi apa yang telah lalu dari amalan saya maka saya tidak akan membawa sembelihan dan menjadikannya Umrah&#8221;.</em> (H.R Muslim Ahmad no. 6/175)</p>
<p>e.  Kemarahan dan kekesalan Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> kepada para sahabatnya yang masih bimbang dengan anjuran beliau agar mereka menjadikan haji mereka umrah sebagaimana hadits Aisyah:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic">???? ??? ? ?? ????? ????: ?? ????? ?? ???? ???? ???? ???? ?????? ??? ???? ???? ??? ???? ????? ???? ???? ?? ???????</p>
<p><em>&#8220;Maka masuklah Ali dan beliau dalam keadaan marah, lalu aku berkata: &#8220;Siapa yang membuatmu marah wahai Rasulullah?&#8221; Beliau menjawab: &#8220;Apakah kamu tidak tahu, aku memerintahkan orang-orang dengan suatu perintah , lalu mereka bimbang. (ragu dalam melaksanakannya) &#8220;</em>(H.R Muslim)</p>
<p>Maka jelaslah kemarahan beliau ini menunjukan satu keutamaan yang lebih dari yang lainnya &#8211; ????? ???? -</p>
<p>Sedangkan Syaikul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa hukumnya disesuaikan dengan keadaan, kalau dia membawa <em>hadyu</em> (sembelihan) maka <em>qiran</em> lebih utama, dan apabila dia telah berumrah sebelum bulan-bulan haji maka <em>ifrad</em> lebih utama dan selainnya <em>tama</em><em><em>Radhiallahu&#8217;anhu</em></em><em>tu&#8217;</em> lebih utama. Beliau berkata: “Dan yang rajih dalam hal ini adalah hukumnya berbeda-beda sesuai dengan perbedaan orang yang berhaji, kalau dia bepergian dengan satu perjalanan umrah dan satu perjalanan untuk haji atau bepergian ke Makkah sebelum bulan-bulan haji dan berumrah kemudian tinggal menetap disana sampai haji, maka dalam keadaan ini <em>ifrad</em> lebih utama baginya, dengan kesepakatan imam yang empat. Dan apabila dia mengerjakan apa yang telah dilakukan kebanyakan orang, yaitu mengabungkan antara umrah dan haji dalam satu kali perjalanan dan masuk Makkah dalam bulan-bulan haji, maka dalam keadaan ini qiran lebih utama baginya kalau dia membawa hadyu, dan kalau dia tidak membawa <em>hadyu</em> maka, ber-<em>tahal</em><em>l</em><em>ul</em> dari ihram untuk umrah lebih utama”<a href="#_ftn13">[11]</a></p>
<p>[Bersambung]</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc<br />
Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.Com</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> <em>Al-Mughn</em><em>i</em>, 5/5</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> <em>Syarhul Mumti&#8217;</em>, 7/7</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> <em>Muzakir</em><em>at Syarhul &#8216;Umdatil Fiqh</em>, Kitab <em>Haji wal Umrah</em> hal.1</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Lihat Al-Ijma, oleh Ibnul Mundzir hal 54 dan <em>Al-Mughny</em> 5/6</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Lihat <em>Syarhl Umdah</em> oleh Ibnu Taimiyah 2/302</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Lihat <em>Syarhul Mumti&#8217;</em>, 7/62-64 dan <em>Syarah Umdatul Fiqh</em> hal 14</p>
<p><a href="#_ftnref7">*</a> dikenal sekarang dengan <em>As-Sa&#8217;diyah</em></p>
<p><a href="#_ftnref8">[7]</a> <em>Syarah &#8216;Umdah</em> oleh Ibnu Taimiyah 2/316</p>
<p><a href="#_ftnref9">*</a> Dikenal sekarang dengan nama <span style="text-decoration: underline;">As-Sail al-Kabir</span>.</p>
<p><a href="#_ftnref10">[8]</a> <em>Syarah Umdah</em> Ibnu Taimiyah 2/316</p>
<p><a href="#_ftnref11">[9]</a> Hadits ini dishahihkan Al-Albani dalam <em>Al Irwa&#8217;</em> 6/176</p>
<p><a href="#_ftnref12">[10]</a> <em>Al-Ikhtiyarat </em><em>Fiqhiyyah</em>, hal 117</p>
<p><a href="#_ftnref13">[11]</a> Kitab <em>Manasik</em> hal. 14</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/&amp;title=Fiqih+Ibadah+Haji+%281%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/&amp;title=Fiqih+Ibadah+Haji+%281%29" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/&amp;t=Fiqih+Ibadah+Haji+%281%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Fiqih+Ibadah+Haji+%281%29+-+http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/&amp;title=Fiqih+Ibadah+Haji+%281%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/&amp;title=Fiqih+Ibadah+Haji+%281%29" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Fiqih+Ibadah+Haji+%281%29+-+http://b2l.me/n8ue2&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Fiqih+Ibadah+Haji+%281%29&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Rincian%20tata%20cara%20pelaksanaan%20ibadah%20haji" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum-Hukum Seputar Shalat Berjama’ah</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/shalat-fiqih/hukum-hukum-seputar-shalat-berjama%e2%80%99ah/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/shalat-fiqih/hukum-hukum-seputar-shalat-berjama%e2%80%99ah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Sep 2009 04:25:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1187</guid>
		<description><![CDATA[Shalat berjama’ah memiliki adab dan hukum-hukum yang terkait dan berhubungan dengannya. Semua ini karena arti penting dan kedudukannya dalam islam. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-berjama%e2%80%99ah-wajib-ataukah-sunnah/">Shalat berjama’ah</a> memiliki adab dan hukum-hukum yang terkait dan berhubungan dengannya. Semua ini karena arti penting dan kedudukannya dalam islam. Padahal pada kenyataannya banyak kaum muslimin yang belum mengetahui hal ini, sehingga banyak dijumpai mereka shalat berjama’ah tanpa memperhatikan adab dan hokum yang terkait. Akhirnya mereka terjerumus kedalam kesalahan dan dosa bahkan dalam kebid&#8217;ahan.</p>
<p><strong>Batasan minimal peserta shalat berjama’ah</strong>.</p>
<p>Batasan minimal untuk shalat jama’ah adalah dua orang, seorang imam dan seorang makmum. Jumlah ini telah disepakati para ulama, sehingga Ibnu Qudamah menyatakan: “Shalat jama’ah dapat dilakukan oleh dua orang atau lebih. Kami belum menemukan perbedaan pendapat dalam masalah ini”<a href="#_ftn1">[1]</a>.</p>
<p>Demikian juga Ibnu Hubairah menyatakan: “Para ulama bersepakat batasan minimal shalat jama’ah adalah dua orang, yaitu imam dan seorang makmum yang berdiri disebelah kanannya”.<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Shalat berjama’ah sah walaupun makmumnya seorang anak kecil atau wanita, berdasarkan hadits Ibnu Abbas <em>Radhiallahu’anhu</em> yang berbunyi:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:'Traditional Arabic'">????? ?????? ???????? ??????? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ???????? ???? ????????? ???????? ???????? ?????? ???????? ???? ????????? ???????? ????????? ???????????? ???? ?????????</p>
<p><em>“</em><em>Aku tidur dirumah bibiku, lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bangun mengerjakan shalat malam. Lalu aku turut shalat bersamanya dan berdiri disamping kirinya. Kemudian beliau meraih kepalaku dan memindahkanku kesamping kananny</em><em>a”</em><a href="#_ftn3">[3]</a><em> </em></p>
<p>Demikian juga hadits Anas bin Malik <em>Radhiallahu’anhu</em> :</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:'Traditional Arabic'">????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ?????? ???? ??????????? ????? ???????????? ???? ????????? ????????? ??????????? ?????????</p>
<p><em>Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam shalat mengimami dia dan ibunya. Anas berkata: “Beliau menempatkanku disebelah kanannya dan wanita (ibunya) dibelakang kami”<a href="#_ftn4">[4]</a></em></p>
<p align="left"><span id="more-1187"></span></p>
<p>Semakin banyak jumlah makmum semakin besar pahalanya dan semakin Allah sukai, berdasarkan sabda Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:'Traditional Arabic'">????????? ????????? ???? ????????? ??????? ???? ????????? ???????? ????????? ????????? ???? ????????????? ??????? ???? ????????? ???? ????????? ????? ??????? ???????? ?????? ??????? ????? ??????? ????? ???????</p>
<p><em>“</em><em>Shalat besama orang lain lebih baik dari shalat sendirian. Shalat bersama dua orang lebih baik dari shalat bersama seorang. Semakin banyak (yang shalat) semakim disukai Alla</em><em>h Ta’ala”</em><a href="#_ftn5"><em><strong>[5]</strong></em></a><em> </em></p>
<p>Hadits ini jelas menunjukkan semakin banyak jumlah jama’ahnya semakin lebih utama dan lebih disukai Allah <em>Ta’ala</em>.</p>
<p>Demikian juga seorang anak kecil yang telah <em>mumayiz</em> boleh menjadi imam menurut pendapat yang rojih. Hal ini berdasarkan hadits Amru bin Salamah <em>Radhiallahu’anhu</em> yang berbunyi:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:'Traditional Arabic'">???????? ??????? ???????? ?????? ????????? ??????? ????? ?????? ??????????????? ???????? ????? ??????? ??????????????? ???????? ?????? ????? ?????????? ????????? ???? ?????? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ?????? ??????? ??????? ??????? ????? ??? ????? ????? ????????? ??????? ????? ??? ????? ????? ??????? ???????? ?????????? ????????????? ?????????? ??????????????? ???????????? ???????? ?????????? ?????? ?????? ?????? ???????? ???????? ?????? ????????????? ?????? ??????????? ??????? ????? ????? ???? ?????? ???????</p>
<p>“Ketika terjadi penaklukan kota Makkah, setiap kaum datang menyatakan keislaman mereka. Bapakku datang menyatakan keislaman kaumku. Ketika beliau pulang beliau berkata: “Demi Allah Aku membawakan kepada kalian kebenaran dari sisi Rasulullah”. Lalu berkata: “Shalatlah kalian shalat ini pada waktu ini dan shalatlah ini pada waktu ini. Jika telah masuk waktu shalat, hnedaklah salah seorang kalian beradzan dan orang yang paling banyak hafalan qur’annya yang mengimami. Lalu mereka mencari (imam). Ternyata tidak ada seorangpun yang lebih banyak dariku hafalan Al Qur’annya. Lalu mereka menunjukku sebagai imam dan aku pada waktu itu berusia enam atau tujuh tahun”<a href="#_ftn6"><strong>[6]</strong></a></p>
<p><strong>Kapan dikatakan mendapati shalat berjama’ah?</strong></p>
<p>Gambaran permasalahan ini adalah seorang datang kemasjid untuk shalat berjama’ah. Kemudian mendapati imam ber-<em>tasyahud akhir</em>, lalu ber-<em>takbiratul ihr</em><em>a</em><em>m</em>. Apakah <em>masbuq</em> tersebut dikatakan mendapatkan pahala berjama’ah bersama imam ataukah dianggap sebagai shalat sendirian (<em>munfarid</em>)?.</p>
<p>Dalam permasalahan ini para ulama berbeda pendapat dalam tiga pendapat:</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Pertama</span></strong><span style="text-decoration: underline;">: Shalat jama’ah didapatkan dengan takbir sebelum imam salam</span>.</p>
<p>Ini pendapat madzhab Hanafiyah dan Syafiiyah.</p>
<p>Berdalil dengan hadits Abu Hurairah <em>Radhiallahu’anhu</em> dari Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> beliau bersabda:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:'Traditional Arabic'">????? ????????? ?????????? ????? ?????????? ?????????? ?????????? ????????? ?????????????????????? ????? ???????????? ????????? ????? ????????? ???????????</p>
<p><em>“</em><em>Jik</em><em>a </em><em>shalat telah diiqamati, maka janganlahmendatanginya denga nberlari, datangilah dengan berjalan. Kalian harus tenang. Apa yang kalian dapati maka shalatlah dan yang terlewatkan sempurnakanla</em><em>h”<a href="#_ftn7"><strong>[7]</strong></a></em><em> </em></p>
<p>Dalam hadits ini dinyatakan orang yang mendapatkan imam dalam keadaan sujud atau duduk tasyahud akhir sebagai orang yang mendapatkan, lalu menyempurnakan yang terlewatkan, sehingga orang yang bertakbir ihrom sebelum imam salam dikatakan mendapati shalat jama’ah.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Kedua</span></strong><span style="text-decoration: underline;">: Membedakan antara jum’at dan jama’ah. Jika shalat jum’at melihat kepada raka’at dan jama’ah melihat kepada takbir</span>.</p>
<p>Bermakna dalam shalat jum’at seseorang dikatakan mendapati shalat jum’at bersama imam bila mendapati satu raka’at bersama imam. Dikatakan mendapatkan jama’ah bila bertakbir sebelum imam mengucapkan salam. Ini pendapat yang masyhur dari madzhab syafi’i.<a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Ketiga</span></strong><span style="text-decoration: underline;">: Dikatakan mendapati shalat berjama’ah bila mendapati satu rakaat bersama imam.</span></p>
<p>Ini pendapat madzhab Malikiyah, Imam Ghazaaliy dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.</p>
<p>Muhammad bin Abdil Wahab dan Abdurrahman bin Naashir As Sa’di telah merajihkannya.<a href="#_ftn9">[9]</a><strong> </strong></p>
<p>Berdalil dengan hadits Abu Hurairah <em>Radhiallahu’anhu</em> dari Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> beliau berkata:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:'Traditional Arabic'">???? ???????? ???????? ???? ?????????? ?????? ???????? ??????????</p>
<p><em>“</em><em>Siapa yang mendapatkan raka’at dari shalat maka telah mendapatkan shalat</em><em>”</em><a href="#_ftn10"><em><strong>[10]</strong></em></a><em> </em>dan hadits Ibnu Umar yang berbunyi:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:'Traditional Arabic'">????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ???? ???????? ???????? ???? ??????? ??????????? ???? ????????? ?????? ???????? ??????????</p>
<p><em>“Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang mendapatkan satu rakaat dari shalat jum’at atau selainnya maka telah mendapatkan shalat”.<a href="#_ftn11"><strong>[11]</strong></a></em><br />
Sedangkan rakaat dilihat dari ruku’nya sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah yang <em>marfu’</em> :</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:'Traditional Arabic'">????? ???????? ????? ?????????? ???????? ??????? ??????????? ????? ??????????? ??????? ?????? ???????? ??????????? ?????? ???????? ??????????</p>
<p><em>“Jika kalian berangkat shalat dan menemukan kami sedang sujud maka bersujudlah dan jangan dihitung sebagai rakaat. Barang siapa yang mendapatkan raka’at maka telah mendapatkan shalat</em><em>”<a href="#_ftn12"><strong>[12]</strong></a></em><em> </em></p>
<p>Mereka menyatakan: “Orang yang mendapatkan satu rakaat dari shalat jum’at atau selainnya maka mendapatkan shalat. Demikian juga Shalat jama’ah tidak dianggap mendapatinya kecuali dengan mendapat satu raka’at”.<a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Pendapat ini dirajihkan Syaikhul Islam dalam pernyataan beliau: “Yang benar adalah pendapat ini, karena hal berikut:</p>
<ol>
<li>Menurut syari’at, dalam hal ini takbir tidaklah berkaitan dengan hukum apapun, tidak berkaitan dengan waktu dan tidak pula dengan jum’at atau jama’ah atau yang lainnya. Takbir disini adalah sifat yang tidak terkait dengan hukum apapun (<em>Washfun Mulgh</em><em>a</em>) dalam tinjauan syari’at. Maka dari itu tidak boleh menggunakannya sebagai <em>hujjah</em>.</li>
<li>Syari’at hanya mengaitkan status dapat tidaknya shalat berjama’ah dengan mendapati raka’at. Pengaitannya dengan takbir akan meniadakannya.</li>
<li>Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> mengaitkan dapatnya shalat berjama’ah bersama imam dengan raka’at. Ini adalah nash permasalahan.</li>
<li>Jum’at tidak didapati seseorang kecuali mendapati raka’at, demikianlah fatwa sahabat Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> diantaranya; Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud, Anas dan yang lainnya. Tidak diketahui ada sahabat yang menyelisihi meeka dalam hal ini. Bahkan sebagian ulama menyatakan hal ini merupakan ijma’ sahabat. Pemisahan hukum jum’at dengan jama’ah disini tidak benar. Oleh karena itu Abu Hanifah meninggalkan ushulnya dan membedakan keduanya. Tapi hadits dan atsar sahabat membatalkan pendapat beliau.</li>
<li>Bila tidak mendapati satu raka’atpun bersama imam, maka tidaklah dianggap mendapati jama’ah. Karena ia menyelesaikan seluruh bagian shalatnya dengan sendirian. Ia tidak terhitung mendapati satupun bagian shalat bersama imam, seluruh bagian shalat dia kerjakan sendirian.<a href="#_ftn14">[14]</a></li>
</ol>
<p>Pendapat ini adalah pendapat yang rajih, <em>Wallahu a’lam bish Sh</em><em>awaab</em>.</p>
<p><strong>Hukum Berjama’ah Dalam Shalat Nafilah</strong>.<a href="#_ftn15">[15]</a><strong> </strong></p>
<p>Shalat nafilah (<em>shalat tathawu’</em>) sangat penting bagi seorang muslim, bahkan ia merupakan pelengkap dan penyempurna shalat fardhu. Melihat pentingnya permasalahan ini perlu diketahui secara jelas hukum seputar jama’ah dalam shalat nafilah.</p>
<p>Nafilah bila ditinjau dari pensyari’atan jama’ah padanya terbagi menjadi dua;</p>
<p>A. Shalat <em>nafilah</em> yang      disyari’atkan padanya jama’ah</p>
<p>Shalat <em>nafilah</em> yang disunnahkan berjama’ah adalah:</p>
<p>1. Shalat Kusuf (Shalat gerhana matahari).<br />
Shalat ini disunnahkan berjama’ah dengan kesepakatan para <em>fuqaaha’</em>. Sedangkan shalat gerhana bulan terdapat perselisihan para ulama padanya. Imam Abu Hanifah dan Malik menyatakan tidak disunnahkan, sedangkan imam Syafi’I dan Ahmad menyatakan sunnahnya.</p>
<p>2. Shalat Istisqa’<br />
Disunnahkan berjamaah menurut madzhab Malikiyah, Syafiiyah, Hambaliyah dan dua murid Abu Hanifah yaitu Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan. Sedangkan Abu Hanifah berpendapat tidak disunnahkannya berjama’ah.</p>
<p>3. Shalat Ied<br />
Disunnahkan berjamaah secara <em>ijma’</em> kaum muslimin.</p>
<p>4. Shalat Tarawih</p>
<p>B. Shalat <em>nafilah</em> yang      tidak disyari’atkan berjama’ah.</p>
<p>Shalat yang disyariatkan melakukannya sendirian tidak berjama’ah sangat banyak sekali, diantaranya shalat rawatib, shalat sunnah mutlaqoh dan yang disunnahkan di setiap malam dan siang.</p>
<p>Tentang hukum melakukan shalat-shalat tersebut berjama’ah terjadi peselisihan diantara para ulama. Madzhab Syafiiyah dan Hambaliyah memperbolehkan berjama’ah, Madzhab Hanafiyah memakruhkannya dan madzhab Malikiyah membolehkan berjama’ah kecuali sunnah rawatib sebelum subuh. Mereka nyatakan hal itu menyelisihi yang lebih utama, selebihnya boleh dengan syarat jama’ahnya tidak banyak dan tidak ditempat yang terkenal, karena takut terjadi riya’ dan munculnya anggapan bahwa hak itu wajib.</p>
<p>Akan tetapi yang benar dari Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> , beliau pernah melakukan kedua-duanya. Pernah meklakukan shalat sunnah tersebut dengan berjama’ah dan sendirian. Sebagaimana riwayat berikut ini:</p>
<p>a.</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:'Traditional Arabic'">???? ?????? ???? ??????? ????? ????????? ?????????? ?????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ????????? ?????????? ???????? ?????? ????? ????? ??????? ??????????? ?????? ????? ?????? ???? ??????? ???????? ????? ??????? ????? ???? ???????? ???? ????? ??? ?????? ??????? ???????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ?????????? ????? ???????????? ????????? ???????????? ???? ?????????? ???????? ????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ???????????? ????? ?????????</p>
<p><em>“Dari Anas bin Malik Radhiallahu’anhu beliau menyatakan bahwa neneknya yang bernama Mualikah mengundang Rasulullah makan-makan yang dibuatnya. </em><em>Lalu Rasulullah memakannya dan berkata: “bangkitlah kalian, aku akan shalat berjama’ah bersama kalian”. Anas berkata: aku mengambil tikarkami yang telah berwarna hitam karena lamanya pemakaian dan rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam bangkit. Aku dan seorang anak yatim membuat shof dibelakang beliau, sedang orang-orang tua wanita berdiri dibelakang kami. Rasulullah shalat dua raka’at kemudian pergi</em><em>”</em><a href="#_ftn16"><em><strong>[16]</strong></em></a><em> </em></p>
<p>b.</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:'Traditional Arabic'">???? ????????? ???? ??????? ????? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ??????? ??? ?????????? ??????? ?????? ??????? ???? ????????? ???? ???? ???????? ????? ?????????? ???? ????? ??????? ????????? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ??????????? ???????? ???????? ????????????</p>
<p><em>“</em><em>Dari Utbaan bin Maalik bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mendatanginya di rumahnya, lalu berkata: “Dimana dari rumahmu ini yang kamu suka aku shalat untuk mu”. Lalu aku tunjukkan satu tempat. Kemudian beliau bertakbir dan kami membuat shof dibelakangnya. Beliau shalat dua raka’at</em><em>”</em><a href="#_ftn17"><em><strong>[17]</strong></em></a><em> </em></p>
<p>Demikian juga Syaikh Shalih As Sadlaan me-<em>r</em><em>a</em><em>jih</em>-kan pendapat kebolehannya dengan syarat, sebagaimana pernyataan beliau: “Yang benar dari yang telah kami sampaikan, nafilah boleh dilakukan dengan berjama’ah. Baik nafilahnya adalah sunnah rawatib atau sunnah <em>mustahabbah</em> atau <em>tathawu’</em> mutlaq. Tapi dengan syarat tidak menjadikannya satu kebiasaan, tidak ditampakkan secara terang-terangan dan dilakukan karena satu sebab seperti diminta tuan rumah atau kerena berbarengan dalam menunaikan sunah, seperti tamu ketika bertamu, seandainya dia dan tuan rumahnya shalat witir berjama’ah, dengan syarat tidak timbul kebid’ahan atau perkara yang tidak dibolehkan oleh Syari’at. Jika terjadi satu dari yang telah disebutkan maka tidak disyari’atkan berjama’ah”.<a href="#_ftn18">[18]</a></p>
<p>Kesimpulannya dibolehkan melaksanakan shalat sunnah berjama’ah selama tidak menimbulkan kebid’ahan atau pelanggaran syari’at dan dibutuhkan untuk itu. <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p><strong>Udzur Yang Memperbolehkan </strong><strong>T</strong><strong>idak </strong><strong>M</strong><strong>enghadiri Shalat </strong><strong>Berj</strong><strong>ama’ah</strong></p>
<p>Diperbolehkan tidak menghadiri shalat berjama’ah dengan sebab-sebab tertentu. Diantara sebab-sebab tersebut:</p>
<p>1. Dingin dan hujan.</p>
<p>Berdasarkan hadits dari Nafi’, beliau berkata:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:'Traditional Arabic'">????? ????? ?????? ??????? ???????????? ??? ???????? ????? ?????? ??????? ????? ????? ????? ??????? ??? ?????????? ????? ????? ????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ????? ???????? ???????????? ????? ??????? ???????? ????? ?????? ???????? ??????? ????? ??????? ??? ??????????</p>
<p><em>“</em><em>Sesungguhnya Ibnu Umar beradzan untuk shalat pada malam yang dingin dan berangin kencang, kemudian berkata: “Ala Shollu Fi Rihaalikum (Shalatlah kalian di rumah kalian)”. Lalu beliau berkata: “Sesuangguhnya Raasululloh memerintahkan muadzin jika malam dingin dan berhujan mengatakan: “Ala Shollu Firihaal”.</em>(Mutafaqun Alaihi).</p>
<p>2. Sakit yang memberatkan      penderitanya menghadiri jama’ah.</p>
<p>Berdasarkan firman Allah <em>Ta’ala</em> :</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:'Traditional Arabic'">??????????? ?????????? ??? ???????? ???? ?????? ??????? ????????? ???????????? ???? ?????????? ?????????????? ??? ??????</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“</em><em>Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu</em>“ (QS. Al Hajj 78)</p>
<p>dan Sabda beliau <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> ketika sakit dan tidak bisa mengimami shalat beberapa hari:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:'Traditional Arabic'">??????? ????? ?????? ??????????? ?????????</p>
<p>“<em>Perintahkanlah Abu Bakr agar mengimami manusia</em>”<a href="#_ftn19">[19]</a></p>
<p>Ibnu Hazm berkata: “Ini tidak diperselisihkan”<a href="#_ftn20">[20]</a></p>
<p>3. Kondisi tidak aman yang dapat membahayakan diri, harta dan      kehormatannya.</p>
<p>Berdasarkan firman Allah <em>Ta’ala</em> :</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:'Traditional Arabic'">??? ????????? ????? ??????? ?????? ?????????</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><em>“</em><em>Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya</em><em>”</em><em> </em>(QS. Al Baqarah 286<strong>(</strong></p>
<p>dan sabda Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> :</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:'Traditional Arabic'">???? ?????? ?????????? ?????? ???????? ????? ??????? ???? ?????? ???? ??????</p>
<p><em>“</em><em>Barang siapa yang mendengar adzan lalu tidak datang maka tidak ada shalat baginya kecuali karena udzur</em><em>”</em><a href="#_ftn21"><em><strong>[21]</strong></em></a></p>
<p>Dalam riwayat Al Baihaqi ada tambahan tafsir udzur disini dengan sakit atau rasa takut (situasi tidak aman). <a href="#_ftn22">[22]</a></p>
<p>4. Saat makanan telah dihidangkan dan menahan hajat kecil atau besar.</p>
<p>Berdasarkan hadits Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:'Traditional Arabic'">??? ??????? ?????????? ?????????? ????? ???? ??????????? ??????????????</p>
<p><em>“</em><em>Tidak boleh shalat saat makanan dihidangkan dan tidak pula ketika menahan buang hajat kecil dan besar</em><em>”</em><a href="#_ftn23"><em><strong>[23]</strong></em></a></p>
<p>5. Ketiduran</p>
<p>Berdasarkan sabda Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> :</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:'Traditional Arabic'">??????? ?????? ??? ????????? ????????? ???????? ???????????? ????? ???? ???? ??????? ?????????? ?????? ??????? ?????? ???????????????????? ?????? ?????? ?????? ?????????????? ????? ?????????? ?????</p>
<p><em>“</em><em>Bukanlah ketiduran tafrith (tercela), akan tetapi tafrith hanya pada orang yang tidak shalat sampai datang waktu shalat yang lainnya. Barang siapa yang berbuat demikian maka hendaklah shalat ketika sadar</em><em>”</em> <a href="#_ftn24">[24]</a></p>
<p>Demikianlah sebagian perkara yang penting yang berhubungan dengan shalat jama’ah. Semoga bermanfaat.</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.Com</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> <em>Al Mughni</em>, 3/7.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> <em>Al Ifsh</em><em>ah An Ma’aanish Shihaah</em>, 1/155, dinukil dari <em>Shalatul Jam’ah</em> karya Prof. DR. Shalih bin Ghaanim Assadlaan hal 47. lihat juga pernyataan kesepakatan ini dalam <em>Raudhat</em><em>un Nadiyah</em> karya Shidiq Hasan Khan, 1/308.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam <em>Sh</em><em>ahih</em>-nya, kitab <em>Al Jum’ah</em>, Bab <em>Ma Ja’a fil Witri</em>, no 937</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam <em>Sh</em><em>ahi</em><em>h</em>-nya kitab <em>Al </em><em>Masaajid wa Mawaadhi’ Shalat</em>, bab <em>Jawaazu Al Jama’ah fin Nafilah wash Shalat Ala Hashiir Wa Kh</em><em>amr</em><em>ah</em> no. 1056.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam <em>Sunan</em>-nya, kitab <em>Ash Shalat bab Fi Fadhli Shalatul Jama’ah</em> no.467, An-Nasaa’i dalam sunannya kitab <em>Al Imamah</em> bab <em>Al jama’ah idza kaana Itsnaini</em> no.834, Ahmad dalam <em>Musnad</em>-nya no.20312 dan Al Haakim dalam <em>Mustadr</em><em>ak</em>-nya 3/269. Hadits ini di-<em>sh</em><em>ahih</em>-kan Ibnu Khuzaimah dalam <em>Sh</em><em>ahih</em>-nya, 2/366-367, no. 1477.</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Diriwayatkan oleh imam Bukhari dalam <em>Sh</em><em>ahih</em>-nya, kitab <em>Al Maghaaziy</em> no. 3963.</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Diriwayatkan oleh imam Bukhari dalam <em>Sh</em><em>ahih</em>-nya</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Lihat <em>Majmu’ Fatawa</em><em>,</em> 23/331.</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Lihat <em>Shalatul Jama’ah</em> hal 50. tentang tarjih mereka ini dapat dilihat dalam kitab <em>Adaab Al Masyi Ila Shalat</em> hal 29 dan <em>Al Mukhtaraat Al </em><em>Jaliyah Fil Masaail Al Fiqhiyah</em> (dalam <em>Al </em><em>Majmu’ah Al Kaamilah Li Mualafat Syeikh Abdurrahman bin Naashir Assa’diy</em><em>,</em> 2/109).</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam <em>Sh</em><em>ahih</em>-nya kitab <em>Mawaaqitus Shalat</em> bab <em>Man Adraka Minas Shalat Rakaat </em>no.546 dan Muslim dalam <em>Sh</em><em>ahih</em>-nya kitab <em>Al Masaajid wa Mawaadhi’ Shalat</em>, Bab <em>Man Adraka Minas Shalat Rakaat Faqad Adraaka Shalat </em>no. 954</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Diriwayatkan oleh An Nasaa’i dalam <em>Sunan</em>-nya kitab <em>Al Mawaaqit Bab Man Adraka Rak’atan Minas Shalat </em>no. 554, Ibnu Maajah dalam <em>Sunan</em>-nya, kitab <em>Iqamatush Shalat Was Sunnah Fiha</em>, bab <em>Ma Ja’a Fiman Adraka Minal Jum’at Rak’atan</em> no.1113 dan Ibnu Khuzaimah dalam <em>Sh</em><em>ahih</em>-nya 3/173.</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam sunannya kitab <em>Ash</em><em> Shalat Bab Fi Rajuli Yudrikul Imam Sajidan Kaifa Yasna’ </em>no. 759</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> Lihat <em>Shalatul Jama’ah</em> hal 51.</p>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> <em>Majmu’ Fatawa</em>, 23/331-332 dengan sedikit pemotongan.</p>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> Diringkas dari <em>Shalatul Jama’ah</em><em>,</em> karya Syaikh Shalih As Sadlaan hal 74-78 dengan beberapa perubahan.</p>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam <em>sh</em><em>ahih</em>-nya kitab <em>Al Masaajid wa Mawaadhi’</em> Shalat bab <em>Jawaazu Al Jama’ah Fin Nafilah was Shalat Ala Hashiir wa Khomrah</em> no. 1053</p>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a> Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam <em>Sh</em><em>ahih</em>-nya kitab <em>Ash Shalat</em> bab <em>Idza Dahola Baitan Haitsu Syaa </em>no. 406.</p>
<p><a href="#_ftnref18">[18]</a> <em>Shalatul Jama’ah </em>hal 77-78.</p>
<p><a href="#_ftnref19">[19]</a> Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam <em>Sh</em><em>ahih</em>-nya</p>
<p><a href="#_ftnref20">[20]</a> <em>Al Muhalla</em>, 4/351.</p>
<p><a href="#_ftnref21">[21]</a> Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam <em>Sunan</em>-nya, kitab <em>Al Masaajid wal Jama’ah</em>, bab <em>At</em><em> Taghlidz fi At</em><em> Takhalluf ‘Anil Jama’ah</em> no. 785. hadits ini di-<em>sh</em><em>ahih</em>-kan Al Albani dalam <em>Sh</em><em>ahih </em><em>Sunan Ibnu Maajah</em> no. 631.</p>
<p><a href="#_ftnref22">[22]</a> Dibawakan oleh penulis kitab <em>Shalat Jama’ah </em>hal 199 dan dinisbatkan kepada <em>Sunan </em><em>Al Kubr</em><em>a </em><em>Al Baihaqi</em><em>,</em> 1/185.</p>
<p><a href="#_ftnref23">[23]</a> Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam <em>Sh</em><em>ahih</em>-nya kitab <em>Al Masaajid wa Mawaadhi</em> <em>Shalat</em> bab <em>Kar</em><em>ahatus Shalat Bi Hadhratith Tho’aam </em>no. 869.</p>
<p><a href="#_ftnref24">[24]</a> Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam <em>Sh</em><em>ahih</em>-nya kitab <em>Al Masaajid wa Mawaadhi Shalat</em>, bab <em>Qadha’ Shalat Fawaait</em> no. 1099.</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/shalat-fiqih/hukum-hukum-seputar-shalat-berjama’ah/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/shalat-fiqih/hukum-hukum-seputar-shalat-berjama%e2%80%99ah/&amp;title=Hukum-Hukum+Seputar+Shalat+Berjama%E2%80%99ah" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/shalat-fiqih/hukum-hukum-seputar-shalat-berjama%e2%80%99ah/&amp;title=Hukum-Hukum+Seputar+Shalat+Berjama%E2%80%99ah" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/shalat-fiqih/hukum-hukum-seputar-shalat-berjama%e2%80%99ah/&amp;t=Hukum-Hukum+Seputar+Shalat+Berjama%E2%80%99ah" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/shalat-fiqih/hukum-hukum-seputar-shalat-berjama%e2%80%99ah/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Hukum-Hukum+Seputar+Shalat+Berjama%E2%80%99ah+-+http://ustadzkholid.com/fiqih/shalat-fiqih/hukum-hukum-seputar-shalat-berjama%e2%80%99ah/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/shalat-fiqih/hukum-hukum-seputar-shalat-berjama%e2%80%99ah/&amp;title=Hukum-Hukum+Seputar+Shalat+Berjama%E2%80%99ah" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/shalat-fiqih/hukum-hukum-seputar-shalat-berjama%e2%80%99ah/&amp;title=Hukum-Hukum+Seputar+Shalat+Berjama%E2%80%99ah" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Hukum-Hukum+Seputar+Shalat+Berjama%E2%80%99ah+-+http://b2l.me/pawwx&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Hukum-Hukum+Seputar+Shalat+Berjama%E2%80%99ah&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/shalat-fiqih/hukum-hukum-seputar-shalat-berjama%e2%80%99ah/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Shalat%20berjama%E2%80%99ah%20memiliki%20adab%20dan%20hukum-hukum%20yang%20terkait%20dan%20berhubungan%20dengannya.%20Semua%20ini%20karena%20arti%20penting%20dan%20kedudukannya%20dalam%20islam.%20" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/shalat-fiqih/hukum-hukum-seputar-shalat-berjama%e2%80%99ah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Konsep Mudharabah</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/muamalah-fiqih/mengenal-konsep-mudharabah/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/muamalah-fiqih/mengenal-konsep-mudharabah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 14:38:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Mudharabah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=985</guid>
		<description><![CDATA[Al Mudharabah adalah akad (transaksi) antara dua pihak dimana salah satu pihak menyerahkan harta kepada yang lain agar diperdagangkan dengan pembagian keuntungan diantara keduanya sesuai dengan kesepakatan]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Allah menciptakan manusia makhluk yang berinteraksi sosial dan saling membutuhkan satu sama lainnya. Ada yang memiliki kelebihan harta namun tidak memiliki waktu dan keahlian dalam mengelola dan mengembangkannya, disisi lain ada yang memiliki <em>skill </em>kemampuan namun tidak memiliki modal. Dengan berkumpulnya dua jenis orang ini diharapkan dapat saling melengkapi dan mempermudah pengembangan harta dan kemampuan tersebut. Untuk itulah Islam memperbolehkan syarikat dalam usaha diantaranya <em>Al Mudharabah</em>.</p>
<p><strong>Pengertian Al Mudharabah</strong></p>
<p><em>Syarikat Mudhaarabah</em> memiliki dua istilah yaitu <em>Al Mudharabah</em> dan <em>Al Qiradh</em> sesuai dengan penggunaannya di kalangan kaum muslimin. Penduduk Irak menggunakan istilah <em>Al Mudharabah</em> untuk mengungkapkan transaksi syarikat ini. Disebut sebagai <em>mudharabah </em>karena diambil dari kata <em>dharb</em> di muka bumi yang artinya melakukan perjalanan yang umumnya untuk berniaga dan berperang, Allah berfirman:</p>
<p style="font-size: 16px" align="right">?????? ???? ????????? ???????? ??????? ?????????? ??????????? ??? ????????? ??????????? ???? ?????? ??????? ?????????? ???????????? ??? ??????? ??????? ??????????? ??? ????????? ??????</p>
<p><em>&#8220;Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari al-Qur&#8217;an&#8221; (QS. Al Muzammil:20)</em></p>
<p>Ada juga yang mengatakan diambil dari kata: <em>dharb</em> (mengambil) keuntungan dengan saham yang dimiliki.<span id="more-985"></span></p>
<p>Dalam istilah bahasa Hijaaz disebut juga sebagai <em>qiraadh</em>, karena diambil dari kata <em>muqaaradhah</em> yang arinya penyamaan dan penyeimbangan. Seperti yang dikatakan</p>
<p><strong>????????? ????????????</strong></p>
<p>&#8220;Dua orang penyair melakukan <em>muqaaradhah</em>,&#8221; yakni saling membandingkan syair-syair mereka. Disini perbandingan antara usaha pengelola modal dan modal yang dimiliki pihak pemodal, sehingga keduanya seimbang. Ada juga yang menyatakan bahwa kata itu diambil dari <em>qardh</em> yakni memotong. Tikus itu melakukan <em>qardh</em> terhadap kain, yakni menggigitnya  hingga putus. Dalam kasus ini, pemilik modal memotong sebagian hartanya untuk diserahkan kepada pengelola modal, dan dia juga akan memotong keuntungan usahanya.<a name="_ftnref1">1</a></p>
<p>Sedangkan dalam istilah para ulama Syarikat <em>Mudhaarabah </em>memiliki pengertian: Pihak pemodal (Investor) menyerahkan sejumlah modal kepada pihak pengelola untuk diperdagangkan. Dan berhak mendapat bagian tertentu dari keuntungan.<a name="_ftnref2">2</a> Dengan kata lain <em>Al Mudharabah</em> adalah akad (transaksi) antara dua pihak dimana salah satu pihak menyerahkan harta kepada yang lain agar diperdagangkan dengan pembagian keuntungan diantara keduanya sesuai dengan kesepakatan.<a name="_ftnref3">3</a> Sehingga <em>Al Mudharabah</em> adalah bentuk kerja sama antara dua atau lebih pihak dimana pemilik modal (<em>Shahib Al Mal</em>/Investor) mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (<em>Mudharib</em>) dengan suatu perjanjian pembagian keuntungan.<a name="_ftnref4">4</a> Bentuk ini menegaskan kerja sama dengan kontribusi 100% modal dari <em>shahib Al Mal</em> dan keahlian dari <em>Mudharib</em>.</p>
<p><strong>Hukum Al Mudharabah Dalam Islam</strong><br />
Para ulama sepakat bahwa sistem penanaman modal ini <strong>dibolehkan</strong>. Dasar hukum dari sistem jual beli ini adalah ijma&#8217; ulama yang membolehkannya. Seperti dinukilkan Ibnul Mundzir<a name="_ftnref5">5</a>, Ibnu Hazm<a name="_ftnref6">6</a> Ibnu Taimiyah<a name="_ftnref7">7</a> dan lainnya.</p>
<p>Ibnu Hazm menyatakan: &#8220;Semua bab dalam fiqih selalu memiliki dasar dalam Al Qur&#8217;an dan Sunnah yang kita ketahui -Alhamdulillah- kecuali <em>Al Qiraadh</em> (<em>Al Mudharabah</em> (pen). Kami tidak mendapati satu dasarpun untuknya dalam Al Qur&#8217;an dan Sunnah. Namun dasarnya adalah ijma&#8217; yang benar. Yang dapat kami pastikan bahwa hal ini ada dizaman <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>, beliau ketahui dan setujui dan seandainya tidak demikian maka tidak boleh&#8221;.<a name="_ftnref8">8</a></p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengomentari pernyataan Ibnu Hazm diatas dengan menyatakan: &#8220;Ada kritikan atas pernyataan beliau ini:</p>
<ol type="1">
<li>Bukan      termasuk madzhab beliau membenarkan ijma&#8217; tanpa diketahui sandarannya dari      Al Qur&#8217;an dan Sunnah dan ia sendiri mengakui bahwa ia tidak mendapatkan      dasar dalil Mudhorabah dalam Al Qur&#8217;an dan Sunah.</li>
<li>Beliau tidak memandang bahwa tidak      adanya yang menyelisihi adalah ijma&#8217;, padahal ia tidak memiliki disini      kecuali ketidak tahuan adanya yang menyelisihinya.</li>
<li>Beliau mengakui persetujuan      Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> setelah mengetahui sistem muamalah ini. <em>Taqrier </em>(persetujuan)      Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> termasuk satu jenis sunnah, sehingga (pengakuan beliau) tidak      adanya dasar dari sunnah menentang pernyataan beliau tentang taqrir ini.</li>
<li>Jual beli (perdagangan)      dengan keridhaan kedua belah fihak yang ada dalam Al Qur&#8217;an meliputi juga      Al Qiradh  dan mudhorabah</li>
<li>Madzhab beliau menyatakan      harus ada nash dalam Al Qur&#8217;an dan Sunnah atas setiap permasalahan, lalu      bagaimana disini meniadakan dasar dalil <em>Al Qiradh </em>dalam Al Qur&#8217;an dan      Sunnah</li>
<li>Tidak ditemukannya dalil      tidak menunjukkan ketidak adaannya</li>
<li>Atsar yang ada dalam hal ini      dari Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>tidak sampai pada derajat pasti (Qath&#8217;i) dengan semua      kandungannya, padahal penulis (Ibnu Hazm) memastikan persetujuan Nabi      dalam permasalahan ini.<a name="_ftnref9">9</a></li>
</ol>
<p>Demikian juga Syaikh Al Albani mengkritik pernyataan Ibnu Hazm diatas dengan menyatakan: &#8220;Ada beberapa bantahan (atas pernyataan beliau), yang terpenting bahwa asal dalam Muamalah adalah boleh kecuali ada nas (yang melarang) beda dengan ibadah, pada asalnya dalam ibadah dilarang kecuali ada nas, sebagaimana dijelaskan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. <em>Al Qiradh</em> dan <em>Mudharabah</em> jelas termasuk yang pertama. Juga ada nas dalam Al Qur&#8217;an yang membolehkan perdagangan dengan keridhoan dan ini jelas mencakup <em>Al Qiraadh</em>. Ini semua cukup sebagai dalil kebolehannya dan dikuatkan dengan ijma&#8217; yang beliau akui sendiri&#8221;.<a name="_ftnref10">10</a></p>
<p>Dalam kesempatan lain Ibnu Taimiyah menyatakan: &#8220;Sebagian orang menjelaskan beberapa permasalahan yang ada ijma&#8217; padanya namun tidak memiliki dasar nas, seperti <em>Al Mudharabah</em>, hal itu tidak demikian. <em>Mudharabah</em> sudah masyhur dikalangan bangsa Arab dijahiliyah apalagi pada bangsa Quraisy, karena umumnya perniagaan jadi pekerjaan mereka. Pemilik harta menyerahkan hartanya kepada pengelola (&#8216;<em>umaal</em>). Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> sendiri pernah berangkat membawa harta orang lain sebelum kenabian sebagaimana telah berangkat dalam perniagaan harta Khadijah. Juga kafilah dagang yang dipimpin Abu Sufyan kebanyakannya dengan sistem <em>mudharabah </em>dengan Abu Sufyan dan selainnya. Ketika datang islam Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> menyetujuinya dan para sahabatpun berangkat dalam perniagaan harta orang lain secara mudhorabah dan beliau <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> tidak melarangnya. Sunnah disini adalah perkataan, pebuatan dan persetujuan beliau, ketiak beliau setujui maka <em>mudharabah </em>dibenarkan dengan sunnah.<a name="_ftnref11">11</a></p>
<p>Juga hukum ini dikuatkan dengan adanya amalan sebagian sahabat Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> diantaranya yang diriwayatkan dalam <em>Al-Muwattha&#8217;</em><a name="_ftnref12">12</a> dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya bahwa ia menceritakan: Abdullah dan Ubaidillah bin Umar bin Al-Khattab pernah keluar dalam satu pasukan ke negeri Iraaq. Ketika mereka kembali, mereka lewat di hadapan Abu Musa Al-Asy&#8217;ari, yakni gubernur Bashrah. Beliau menyambut mereka berdua dan menerima mereka sebagai tamu dengan suka cita. Beliau berkata: &#8220;Kalau aku bisa melakukan sesuatu yang berguna buat kalian, pasti akan kulakukan.&#8221; Kemudian beliau berkata: &#8220;Sepertinya aku bisa melakukannya. Ini ada uang dari Allah yang akan kukirimkan kepada Amirul Mukminin. Beliau meminjamkannya kepada kalian untuk kalian belikan sesuau di Iraaq ini, kemudian kalian jugal di kota Al-Madinah. Kalian kembalikan modalnya kepada Amirul Mukminin, dan keuntungannya kalian ambil.&#8221; Mereka berkata: &#8220;Kami suka itu.&#8221; Maka beliau menyerahkan uang itu kepada mereka dan menulis surat untuk disampaikan kepada Umar bin Al-Khattab agar Amirul Mukminin itu mengambil dari mereka uang yang dia titipkan. Sesampainya di kota Al-Madinah, mereka menjual barang itu dan mendapatkan keuntungan. Ketika mereka membayarkan uang itu kepada Umar. Umar lantas bertanya: &#8220;Apakah setiap anggota pasukan diberi pinjaman oleh Abu Musa seperti yang diberikan kepada kalian berdua?&#8221; Mereka menjawab: &#8220;Tidak.&#8221; Beliau berkata: &#8220;Apakah karena kalian adalah anak-anak Amirul Mukminin sehingga ia memberi kalian pinjaman?&#8221; Kembalikan uang itu beserta keuntungannya.&#8221; Adapun Abdullah, hanya membungkam saja. Sementara Ubaidillah langsung angkat bicara: &#8220;Tidak sepantasnya engkau berbuat demikian wahai Amirul Mukminin! Kalau uang ini berkurang atau habis, pasti kami akan bertanggungjawab.&#8221; Umar tetap berkata: &#8220;Berikan uang itu semaunya.&#8221; Abdullah tetap diam, sementara Ubaidillah tetap membantah. Tiba-tiba salah seorang di antara penggawa Umar berkata: &#8220;Bagaimana bila engkau menjadikannya sebagai investasi modal wahai Umar?&#8221; Umar menjawab: &#8220;Ya. Aku jadikan itu sebagai investasi modal.&#8221; Umar segera mengambil modal beserta setengah keuntungannya, sementara Abdullah dan Ubaidillah mengambil setengah keuntungan sisanya.<a name="_ftnref13">13</a></p>
<p>Kaum muslimin sudah terbiasa melakukan akad kerja sama semacam itu hingga jaman kiwari ini di berbagai masa dan tempat tanpa ada ulama yang menyalahkannya. Ini merupakan konsensus yang diyakini umat, karena cara ini sudah digunakan bangsa Quraisy secara turun temurun dari jaman jahiliyah hingga zaman Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>,kemudian beliau mengetahui, melakukan dan tidak mengingkarinya.</p>
<p>Tentulah sangat bijak, bila pengembangan modal dan peningkatan nilainya merupakan salah satu tujuan yang disyariatkan. Sementara modal itu hanya bisa dikembangkan dengan dikelola dan diperniagakan. Sementara tidak setiap orang yang mempunyai harta mampu berniaga, juga tidak setiap yang berkeahlian dagang mempunyai modal. Maka masing-masing kelebihan itu dibutuhkan oleh pihak lain. Oleh sebab itu mudhorabah ini disyariatkan oleh Allah demi kepentingan kedua belah pihak.</p>
<p><strong>Hikmah Disyariatkannya <em>Al Mudharabah</em></strong></p>
<p>Islam mensyariatkan akad kerja sama Mudhorabah untuk memudahkan orang, karena sebagian mereka memiliki harta namun tidak mampu mengelolanya dan disana ada juga orang yang tidak memiliki harta namun memiliki kemampuan untuk mengelola dan mengembangkannya. Maka Syariat membolehkan kerja sama ini agar mereka bisa saling mengambil manfaat diantara mereka. <em>Shohib Al mal </em>(investor) memanfaatkan keahlian <em>Mudhorib </em>(pengelola) dan <em>Mudhorib </em>(pengelola) memanfaatkan harta dan dengan demikian terwujudlah kerja sama harta dan amal. Allah Ta&#8217;ala tidak mensyariatkan satu akad kecuali untuk mewujudkan kemaslahatan dan menolak kerusakan.<a name="_ftnref14">14</a></p>
<p><strong>Jenis Al Mudhorabah</strong></p>
<p>Para ulama membagi <em>Al Mudharabah </em>menjadi dua jenis:</p>
<ol type="1">
<li><em>Al Mudhorabah Al Muthlaqah</em> (<em>Mudharabah </em>bebas). Pengertiannya adalah sistem <em>mudharabah </em>dimana pemilik      modal (investor/<em>Shohib Al Mal</em>) menyerahkan modal kepada pengelola tanpa      pembatasan jenis usaha, tempat dan waktu dan dengan siapa pengelola      bertransaksi. Jenis ini memberikan kebebasan kepada <em>Mudhorib </em>(pengelola      modal) melakukan apa saja yang dipandang dapat mewujudkan kemaslahatan.</li>
<li><em>Al Mudhorabah Al Muqayyadah</em> (<em>Mudhorabah </em>terbatas). Pengertiannya pemilik modal (investor) menyerahkan      modal kepada pengelola dan menentukan jenis usaha atau tempat atau waktu      atau orang yang akan bertransaksi dengan <em>Mudharib</em>. <a name="_ftnref15">15</a> jenis kedua ini diperselisihkan para ulama keabsahan syaratnya, namun yang      rajih bahwa pembatasan tersebut berguna dan tidak sama sekali menyelisihi      dalil syar&#8217;i, itu hanya sekedar ijtihad dan dilakukan dengan kesepakatan      dan keridhoan kedua belah pihak sehingga wajib ditunaikan.<a name="_ftnref16">16</a></li>
</ol>
<p>Perbedaan antara keduanya terletak pada pembatasan penggunaan modal sesuai permintaan investor.</p>
<p><strong>Rukun <em>Al Mudharabah</em></strong><br />
Al Mudhorabah seperti usaha pengelolaan usaha lainnya memiliki tiga rukun:</p>
<ol type="1">
<li>Adanya dua atau lebih pelaku      yaitu investor (pemilik modal) dan pengelola (<em>mudharib</em>).</li>
<li>Objek transaksi kerja sama      yaitu modal, usaha dan keuntungan.</li>
<li>Pelafalan perjanjian.</li>
</ol>
<p>Sedangkan imam Al Syarbini dalam <em>Syarh Al Minhaaj</em> menjelasakan bahwa rukun mudhorabah ada lima, yaitu Modal, jenis usaha, keuntungan, pelafalan transaksi dan dua pelaku transaksi.<a name="_ftnref17">17</a> Ini semua ditinjau dari perinciannya dan semuanya tetap kembali kepada tiga rukun diatas.</p>
<p><strong><em>Rukun pertama: adanya dua atau lebih pelaku.</em></strong></p>
<p>Kedua pelaku kerja sama ini adalah pemilik modal dan pengelola modal. Disyaratkan pada rukun pertama ini keduanya memiliki kompetensi beraktifitas (<em>Jaiz Al tasharruf</em>) dalam pengertian mereka berdua baligh, berakal, Rasyid dan tidak dilarang beraktivitas pada hartanya<a name="_ftnref18">18</a>. Sebagian ulama mensyaratkan bahwa keduanya harus muslim atau pengelola harus muslim, sebab seorang muslim tidak ditakutkan melakukan perbuatan riba atau perkara haram.<a name="_ftnref19">19</a> Namun sebagian lainnya tidak mensyaratkan hal tersebut, sehingga diperbolehkan bekerja sama dengan orang kafir yang dapat dipercaya dengan syarat harus terbukti adanya pemantauan terhadap aktivitas pengelolaan modal dari pihak muslim sehingga terlepas dari praktek riba dan haram.<a name="_ftnref20">20</a></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>Rukun kedua: objek Transaksi.</em></strong></p>
<p>Objek transaksi dalam mudhorabah mencakup modal, jenis usaha dan keuntungan.</p>
<ol type="a">
<li><em>Modal</em></li>
</ol>
<p>Dalam sistem <em>Mudharabah </em>ada empat syarat modal yang harus dipenuhi:</p>
<p>1.       Modal harus berupa alat tukar/satuan mata uang (<em>Al Naqd</em>) dasarnya adalah ijma&#8217;<a name="_ftnref21">21</a> atau barang yang ditetapkan nilainya ketika akad menurut pendapat yang rojih. <a name="_ftnref22">22</a></p>
<p>2.       Modal yang diserahkan harus jelas diketahui<a name="_ftnref23">23</a></p>
<p>3.       Modal yang diserahkan harus tertentu</p>
<p>4.       Modal diserahkan kepada pihak pengelola modal dan pengelola menerimanya langsung dan dapat beraktivitas dengannya.<a name="_ftnref24">24</a></p>
<p>Jadi dalam <em>Mudharabah </em>disyaratkan modal yang diserahkan harus diketahui dan penyerahan jumlah modal kepada <em>Mudharib </em>(pengelola modal) harus berupa alat tukar seperti emas, perak dan satuan mata uang secara umum. Tidak diperbolehkan berupa barang kecuali bila ditentukan nilai barang tersebut dengan nilai mata uang ketika akad transaksi, sehingga nilai barang tersebut yang menjadi modal <em>mudharabah</em>. Contohnya seorang memiliki sebuah mobil toyota kijang lalu diserahkan kepada <em>mudharib </em>(pengelola modal), maka ketika akad kerja sama tersebut disepakati wajib ditentukan harga mobil tersebut dengan mata uang, misalnya Rp 80 juta; maka modal mudhorabah tersebut adalah Rp 80 juta.</p>
<p>Kejelasan jumlah modal ini menjadi syarat karena menentukan pembagian keuntungan. Apabila modal tersebut berupa barang dan tidak diketahui nilainya ketika akad, bisa jadi barang tersebut berubah harga dan nilainya seiring berjalannya waktu, sehingga memiliki konsekuensi ketidak jelasan dalam pembagian keuntungan.</p>
<ol type="a">
<li><em>Jenis Usaha</em></li>
</ol>
<p>Jenis usaha disini disyaratkan beberapa syarat:</p>
<p>1.       Jenis usaha tersebut di bidang perniagaan</p>
<p>2.       Tidak menyusahkan pengelola modal dengan pembatasan yang menyulitkannya, seperti ditentukan jenis yang sukar sekali didapatkan, contohnya harus berdagang permata merah delima atau mutiara yang sangat jarang sekali adanya. <a name="_ftnref25">25</a></p>
<p>Asal dari usaha dalam <em>mudharabah </em>adalah di bidang perniagaan dan bidang yang terkait dengannya yang tidak dilarang syariat. Pengelola modal dilarang mengadakan transaksi perdagangan barang-barang haram seperti daging babi, minuman keras dan sebagainya.<a name="_ftnref26">26</a></p>
<p><em>Pembatasan Waktu Penanaman Modal</em></p>
<p>Diperbolehkan membatasi waktu usaha dengan penanaman modal menurut pendapat madzhab Hambaliyyah.<a name="_ftnref27">27</a> dengan dasar dikiyaskan (dianalogikan) dengan sistem sponsorship pada satu sisi, dan dengan berbagai kriteria lain yang dibolehkan, pada sisi yang lainnya.<a name="_ftnref28">28</a></p>
<ol type="a">
<li><em>Keuntungan</em></li>
</ol>
<p>Setiap usaha dilakukan untuk mendapatkan keuntungan, demikian juga <em>Mudharabah</em>. Namun dalam <em>mudharabah </em>disyaratkan pada keuntungan tersebut empat syarat:</p>
<p>1.       Keuntungan khusus untuk kedua pihak yang bekerja sama yaitu pemilik modal (investor) dan pengelola modal. Seandainya disyaratkan sebagian keuntungan untuk pihak ketiga, misalnya dengan menyatakan: &#8216;<em>Mudhorabah</em> dengan pembagian 1/3 keuntungan untukmu, 1/3 untukku dan 1/3 lagi untuk istriku atau orang lain, maka tidak sah kecuali disyaratkan pihak ketiga ikut mengelola modal tersebut, sehingga menjadi <em>qiraadh </em>bersama dua orang.<a name="_ftnref29">29</a> Seandainya dikatakan: &#8217;separuh keuntungan untukku dan separuhnya untukmu, namun separuh dari bagianku untuk istriku&#8217;, maka ini sah karena ini akad janji hadiyah kepada istri.<a name="_ftnref30">30</a></p>
<p>2.       Pembagian keuntungan untuk berdua tidak boleh hanya untuk satu pihak saja. Seandainya dikatakan: &#8216;Saya bekerja sama <em>mudharabah </em>denganmu dengan keuntungan sepenuhnya untukmu&#8217; maka ini dalam madzhab Syafi&#8217;i tidak sah.<a name="_ftnref31">31</a></p>
<p>3.       Keuntungan harus diketahui secara jelas.</p>
<p>4.       Dalam transaksi tersebut ditegaskan prosentase tertentu bagi pemilik modal (investor) dan pengelola. Sehingga keuntungannya dibagi dengan persentase bersifat merata seperti setengah, sepertiga atau seperempat.<a name="_ftnref32">32</a> Apa bila ditentuan nilainya, contohnya dikatakan kita bekerja sama mudhorabah dengan pembagian keuntungan untukmu satu juta dan sisanya untukku&#8217; maka akadnya tidak sah. Demikian juga bila tidak jelas persentase-nya seperti sebagian untukmu dan sebagian lainnya untukku.</p>
<p>Dalam pembagian keuntungan perlu sekali melihat hal-hal berikut:</p>
<ol type="a">
<li>Keuntungan berdasarkan      kesepakatan dua belah pihak, namun kerugian hanya ditanggung pemilik      modal.<a name="_ftnref33">33</a> Ibnu Qudamah dalam <em>Syarhul Kabir </em>menyatakan: &#8220;Keuntungan sesuai dengan      kesepakatan berdua&#8221;. Lalu dijelaskan dengan pernyataan: &#8220;Maksudnya dalam      seluruh jenis syarikat dan hal itu tidak ada perselisihannya dalam Al      <em>Mudharabah </em>murni&#8221;. Ibnul Mundzir menyatakan: &#8220;Para ulama bersepakat bahwa      pengelola berhak memberikan syarat atas pemilik modal 1/3 keuntungan atau      ½ atau sesuai kesepakatan berdua setelah hal itu diketahui dengan jelas      dalam bentuk persentase&#8221;.<a name="_ftnref34">34</a></li>
<li>Pengelola modal hendaknya      menentukan bagiannya dari keuntungan. Apabila keduanya tidak menentukan      hal tersebut maka pengelola mendapatkan gaji yang umum dan seluruh      keuntungan milik pemilik modal (investor).<a name="_ftnref35">35</a> Ibnu Qudamah menyatakan: &#8220;Diantara syarat sah <em>Mudharabah </em>adalah penentuan      bagian (bagian) pengelola modal karena ia berhak mendapatkan keuntungan      dengan syarat sehingga tidak ditetapkan kecuali dengannya. Seandainya      dikatakan: Ambil harta ini secara <em>mudharabah </em>dan tidak disebutkan (ketika      akad) bagian pengelola sedikitpun dari keuntungan, maka keuntungan      seluruhnya untuk pemilik modal dan kerugian ditanggung pemilik modal      sedangkan pengelola modal mendapat gaji umumnya. Inilah pendapat Al      Tsauri, Al Syafi&#8217;i, Ishaaq, Abu Tsaur dan ashhab Al Ra&#8217;i (hanafiyah)&#8221;.<a name="_ftnref36">36</a> Beliaupun merajihkan pendapat ini.</li>
<li>Pengelola modal tidak berhak      menerima keuntungan sebelum menyerahkan kembali modal secara sempurna.      Berarti tidak seorangpun berhak mengambil bagian keuntungan sampai modal      doserahkan kepada pemilik modal, apabila ada kerugian dan keuntungan maka      kerugian ditutupi dari keuntungan tersebut, baik baik kerugian dan      keuntungannya dalam satu kali atau kerugian dalam satu perniagaan dan      keuntungan dari perniagaan yang lainnya atau yang satu dalam satu      perjalanan niaga dan yang lainnya dalam perjalanan lain. Karena mkna      keuntungan adalah kelebihan dari modal dan yang tidak ada kelebihannya      maka bukan keuntungan. Kami tidak tahu ada perselisihan dalam hal ini.<a name="_ftnref37">37</a></li>
<li>Keuntungan tidak dibagikan      selama akad masih berjalan kecuali apabila kedua pihak saling ridha dan      sepakat.<a name="_ftnref38">38</a> Ibnu Qudamah menyatakan: &#8220;Keuntungan jika tampak dalam mudharabah, maka      pengelola tidak boleh mengambil sedikitpun darinya tanpa izin pemilik      modal. Kami tidak mengetahui dalam hal ini ada perbedaan diantara para      ulama. Tidak dapat melakukannya karena tiga hal:
<ol type="1">
<li>keuntungan adalah cadangan       modal, karena tidak bisa dipastikan tidak ada kerugian yang dapat       ditutupi dengan keuntungan tersebut.sehingga berakhir hal itu tidak       menjadi keuntungan</li>
<li>pemilik modal adalah mitrra       usaha pengelola sehingga ia tidak memiliki hak membagi keuntungan       tersebut untuk dirinya.</li>
<li>kepemilikannya tas hal itu       tidak tetap, karena mungkin sekali keluar dari tangannya untuk menutupi       kerugian.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>Namun apabila pemilik modal mengizinkan untuk mengambil sebagiannya, maka diperbolehkan; karena hak tersebut milik mereka berdua&#8221;.<a name="_ftnref39">39</a></p>
<p>Hak mendapatkan keuntungan tidak akan      diperoleh salah satu pihak sebelum dilakukan perhitungan akhir terhadap      usaha tersebut. Sesungguhnya hak kepemilikan masing-masing pihak terhadap      keuntungan yang dibagikan adalah hak yang labil dan tidak akan bersikap      permanen sebelum diberakhirkannya perjanjian dan disaring seluruh bentuk      usaha bersama yang ada. Adapun sebelum itu, keuntungan yang dibagikan      itupun masih bersifat cadangan modal yang digunakan menutupi kerugian yang      bisa saja terjadi kemudian sebelum dilakukan perhitungan akhir.</p>
<ol type="a"></ol>
<p>Perhitungan akhir yang mempermanenkan hak kepemilikan keuntungan, aplikasinya bisa dua macam:</p>
<p>Pertama: perhitungan akhir terhadap usaha. Yakni dengan cara itu pemilik modal bisa menarik kembali modalnya dan menyelesaikan ikatan kerjasama antara kedua belah pihak.</p>
<p>Kedua: Finish cleansing terhadap kalkulasi keuntungan. Yakni dengan cara penguangan aset dan menghadirkannya lalu menetapkan nilainya secara kalkulatif, di mana apabila pemilik modal mau dia bisa mengambilnya. Tetapi kalau ia ingin diputar kembali, berarti harus dilakukan perjanjian usaha baru, bukan meneruskan usaha yang lalu.<a name="_ftnref40">40</a></p>
<p><strong><em>Rukun ketiga: Pelafalan Perjanjian (shighoh Transaksi).</em></strong></p>
<p><em>Shighah </em>adalah ungkapan yang berasal dari kedua belah pihak pelaku transaksi yang menunjukkan keinginan melakukannya. <em>Shighah </em>ini terdiri dari <em>ijab qabul</em>. Transaksi <em>mudharabah </em>atau syarikat dianggap sah dengan perkataan dan perbuatan yang menunjukkan maksudnya.<a name="_ftnref41">41</a></p>
<p><strong>Syarat Dalam Mudharabah<a name="_ftnref42"></a>42</strong><br />
Pengertian syarat dalam <em>Al Mudharabah </em>adalah syarat-syarat yang ditetapkan salah satu pihak yang mengadakan kerjasama berkaitan dengan mudhorabah. Syarat dalam Al Mudhorabah ini ada dua:</p>
<p>1. Syarat yang <em>Shahih </em>(dibenarkan) yaitu syarat yang tidak menyelisihi tuntutan akad dan tidak pula maksudnya serta memiliki maslahat untuk akad tersebut. Contohnya Pemilik modal mensyaratkan kepada pengelola tidak membawa pergi harta tersebut keluar negeri atau membawanya keluar negeri atau melakukan perniagaannya khusus dinegeri tertentu atau jenis tertentu yang gampang didapatkan. Maka syarat-syarat ini dibenarkan menurut kesepakatan para ulama dan wajib dipenuhi, karena ada kemaslahatannya dan tidak menyelisihi tuntutan dan maksud akad perjanjian <em>mudharabah</em>.</p>
<p>2. Syarat yang <em>fasad </em>(tidak benar). Syarat ini terbagi tiga:</p>
<ol type="a">
<li>Syarat yang meniadakan      tuntutan konsekuensi akad, seperti mensyaratkan tidak membeli sesuatu atau      tidak menjual sesuatu atau tidak menjual kecuali dengan harga modal atau      dibawah modalnya. Syarat ini disepakati ketidak benarannya, karena      menyelisihi tuntutan dan maksud akad kerja sama yaitu mencari keuntungan.</li>
<li>Syarat yang bukan dari      kemaslahatan dan tuntutan akah, seperti mensyaratkan kepada pengelola      untuk memberikan mudhorabah kepadanya dari harta yang lainnya.</li>
<li>Syarat yang berakibat tidak      jelasnya keuntungan seperti mensyaratkan kepada pengelola bagian      keuntungan yang tidak jelas atau mensyaratkan keuntungan satu dari dua      usaha yang dikelola, keuntungan usaha ini untuk pemilik modal dan yang      satunya untuk pengelola atau menentukan nilai satuan uang tertentu sebagai      keuntungan. Syarat ini disepakati kerusakannya karena mengakibatkan      keuntungan yang tidak jelas dari salah satu pihak atau malah tidak dapat      keuntungan sama sekali. Sehingga akadnya batal.</li>
</ol>
<p><strong>Berakhirnya Usaha Mudharabah</strong><br />
Mudharabah termasuk akad kerjasama yang diperbolehkan. Usaha ini berakhir dengan pembatalan dari salah satu pihak. Karena tidak ada syarat keberlangsungan terus menerus dalam transaksi usaha semacam ini. Masing-masing pihak bisa membatalkan transaksi kapan saja dia menghendaki.Transaksi mudhorabah ini juga bisa berakhir dengan meninggalnya salah satu pihak transaktor, atau karena ia gila atau ediot.</p>
<p>Imam Ibnu Qudamah (wafat tahun 620 H) menyatakan: &#8220;Al Mudhorabah termasuk jenis akad yang diperbolehkan. Ia berakhir dengan pembatalan salah seorang dari kedua belah pihak -siapa saja-, dengan kematian, gila atau dibatasi karena ediot; hal itu karena ia beraktivitas pada harta orang lain dengan sezinnya, maka ia seperti wakiel dan tidak ada bedanya antara sebelum beraktivitas dan sesudahnya.<a name="_ftnref43">43</a> Sedangkan Imam Al Nawawi menyatakan: Penghentian qiraadh boleh, karena ia diawalnya adalah perwakilan dan setelah itu menjadi syarikat. Apabila terdapat keuntungan maka setiap dari kedua belah pihak boleh memberhentikannya kapan suka dan tidak butuh kehadiran dan keridoan mitranya. Apabila meninggal atau gila atau hilang akal maka berakhir usaha terbut&#8221;. <a name="_ftnref44">44</a></p>
<p>Imam Syafi&#8217;i menyatakan: &#8220;Kapan penilik modal ingin mengambil modalnya sebelum diusahakan dan sesudahnya dan kapan pengelola ingin keluar dari qiraadh maka ia keluar darinya&#8221;.<a name="_ftnref45">45</a></p>
<p>Apabila telah dihentikan dan harta (modal) utuh, namun tidak memiliki keuntungan maka harta tersebut diambil pemilik modal. Apabila terdapat keuntungan maka keduanya membagi keuntungan tersebut sesuai dengan kesepakatan. Apabila berhenti dan harta berbentuk barang, lalu keduanya sepakat menjualnya atau membaginya maka diperbolehkan, karena hak milik kedua belah pihak. Apabila pengelola minta menjualnya sedang pemilik modal menolak dan tampak dalam usaha tersebut ada keuntungan, maka penilik modal dipaksa menjualnya; karena hak pengelola ada pada keuntungan dan tidak tampak decuali dengan dijual. Namun bila tidak tampak keuntungannya maka pemilik modal tidak dipaksa.<a name="_ftnref46">46</a></p>
<p>Tampak sekali dari sini keadilan syariat islam yang sangat memperhatikan keadaan dua belah pihak yang bertransaksi mudharabah. Sehingga seharusnya kembali memotivasi diri kita untuk belajar dan mengetahu tata aturan syariat dalam muamalah sehari-hari.</p>
<p>Demikianlah sebagian pembahasn tentang mudhorabah semoga yang sedikit ini bermanfaat bagi kita semua&#8230;</p>
<hr size="1" /><a name="_ftn1">1</a> Lihat Al Mughni karya Ibnu Qudamah, tahqiq Abdullah bin Abdulmuhsin Al Turki, cetakan kedua tahun 1412H, penerbit Hajr. (7/133), Al Syarh Al Mumti&#8221;Ala Zaad Al Mustaqni&#8217; karya Ibnu Utsaimin tahqiq Abu Bilal Jamaal Abdul &#8216;Aal, cetakan pertama tahun 1423 H, penerbit Dar Ibnu Al Haitsam, Kairo, Mesir (4/266), Al Fiqhu Al Muyassar -bag. Fiqih Muamalah- karya Prof. DR Abdullah bin Muhammad Al Thoyaar, Prop. DR. Abdullah bin Muhammad Al Muthliq dan DR. Muhammad bin Ibrohim Alimusaa. Cetakan pertama tahun 1425H Hal. 185, Al Bunuk Al Islamiyah Baina An Nadzoriyat Wa Tathbiq, karya Prof. DR Abdullah bin Muhammad Al Thoyaar, cetakan kedua tahun 1414 H, Muassasah Al Jurais, Riyaadh, KSA hal 122</p>
<p><a name="_ftn2">2</a> Al Mughni op.cit 7/133</p>
<p><a name="_ftn3">3</a> Al Bunuk Al Islamiyah Baina An Nadzoriyat Wa Tathbiq, op.cit hal 122</p>
<p><a name="_ftn4">4</a> Al Fiqhu Al Muyassar op.cit. hal 185. Hal inipun diakui PKES (pusat Komunikasi Ekonomi Syari&#8217;at) indonesia dalam buku saku perbankan Syari&#8217;at hal 37.</p>
<p><a name="_ftn5">5</a> Al Mugnhi  op.cit 7/133</p>
<p><a name="_ftn6">6</a> Maratib Al Ijma&#8217; karya Ibnu Hazm, tanpa tahun dan cetakan, penerbit Dar Al Kutub Al Ilmiyah, Bairut. hal 91.</p>
<p><a name="_ftn7">7</a> Majmu&#8217; Fatawa 29/101</p>
<p><a name="_ftn8">8</a> Maratib Al Ijma&#8217; op.cit hal 91-92.</p>
<p><a name="_ftn9">9</a> Naqdh Maratib Al Ijma&#8217; karya Syeikh Islam yang dicetak sebagai foot note kitab Maratib Al Ijma hal 91-92.</p>
<p><a name="_ftn10">10</a> Irwa&#8217; Al Gholil Fi Takhrij Ahaadits Manar Al Sabil karya Syeikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, cetakan kedua tahun 1405 H. Al maktab Islami, Baerut. 5/294</p>
<p><a name="_ftn11">11</a> Majmu&#8217; Fatawa 19/195-196</p>
<p><a name="_ftn12">12</a> Dalam kitab <em>al-Qiraadh</em> bab 1 halaman 687 dan dibawakan juga oelh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu&#8217; fatawa 19/196</p>
<p><a name="_ftn13">13</a> Dinilai Shohih Oleh Syeikh Al Albani dalam Irwa Al Gholil 5/290-291</p>
<p><a name="_ftn14">14</a> Al Bunuk Al Islamiyah op.cit hal 123.</p>
<p><a name="_ftn15">15</a> Al Fiqh Al Muyassar op.cit hal 186.</p>
<p><a name="_ftn16">16</a> Demikianlah yang dirojihkan penulis kitab Al Fiqh Al Muyassar hal 187.</p>
<p><a name="_ftn17">17</a> Lihat Takmilah AL Majmu&#8217; Syarhu Al Muhadzab imam nawawi oleh Muhammad Najieb Al Muthi&#8217;i yang digabung dengan kitab Majmu&#8217; Syatrhul Muhadzab 15/148</p>
<p><a name="_ftn18">18</a> Al Fiqh Al Muyassar op.cit hal169.</p>
<p><a name="_ftn19">19</a> Lihat Al Bunuk Al Islamiyah op.cit hal 123.</p>
<p><a name="_ftn20">20</a> Lihat kitab Maa La Yasa&#8217;u Al Taajir Jahlulu, karya prof. DR Abdullah Al Mushlih dan prof. DR. Shalah Al Showi yang diterjemahkan dalam edisi bahasa Indonesia oleh Abu Umar Basyir dengan judul Fiqh Ekonimi Keuangan Islam, penerbit Darul Haq, Jakarta hal. 173.</p>
<p><a name="_ftn21">21</a> Lihat Maratib Al Ijma&#8217; hal 92 dan Takmilah AL Majmu&#8217; op.cit 15/143</p>
<p><a name="_ftn22">22</a> Pendapat inilah yang dirojihkan syeikh Ibnu Utsaimin dalam Al Syarhu Al Mumti&#8217;. Op.cit. 4/258</p>
<p><a name="_ftn23">23</a> Al Bunuk Al Islamiyah op.cit hal. 123 dan Takmilah AL Majmu&#8217; op.cit 15/144</p>
<p><a name="_ftn24">24</a> Takmilah AL Majmu&#8217; op.cit 15/145</p>
<p><a name="_ftn25">25</a> ibid 15/146-147</p>
<p><a name="_ftn26">26</a> lihat Fiqih Ekonomi Keuangan Islam op.cit hal 176</p>
<p><a name="_ftn27">27</a> Al Mughni op.cit 7/177</p>
<p><a name="_ftn28">28</a> fikih Ekonomi Keuangan Islam op.cit. 177</p>
<p><a name="_ftn29">29</a> lihat juga Al Mughni op.cit 7/144</p>
<p><a name="_ftn30">30</a> Takmilah Al Majmu&#8217; op.cit 15/160</p>
<p><a name="_ftn31">31</a> ibid 15/159</p>
<p><a name="_ftn32">32</a> lihat Maratib Al Ijma&#8217; op.cit hal 92, Al Syarhu Al Mumti&#8217; op.cit 4/259 dan takmilah Al Majmu&#8217; op.cit 15/159-160</p>
<p><a name="_ftn33">33</a> untuk masalah kerugian dalam mudhorabah silahkan lihat makalah Ustadz Abu Ihsan dalam mabhas ini.</p>
<p><a name="_ftn34">34</a> Al Mughni op.cit 7/138</p>
<p><a name="_ftn35">35</a> Al Bunuk Al Islamiyah op.cit hal 123.</p>
<p><a name="_ftn36">36</a> Al Mughni op.cit 7/140.</p>
<p><a name="_ftn37">37</a> Ibid 7/165.</p>
<p><a name="_ftn38">38</a> Al Bunuk Al Islamiyah op.cit 123.</p>
<p><a name="_ftn39">39</a> Al Mughni op.cit 7/172</p>
<p><a name="_ftn40">40</a> Fiqih Ekonomi Keuangan Islam op.cit hal 181-182.</p>
<p><a name="_ftn41">41</a> Al Fiqh Al Muyassar op.cit hal 169.</p>
<p><a name="_ftn42">42</a> Diambil dari catatan penulis dari pelajaran fiqih dari Syeikh prof. DR. Hamd Al Hamaad ditahun keempat pada kuliah hadits di Universitas Islam Madinah tahun 1419H  dan kitab Al Mughni op.cit 7/175-177</p>
<p><a name="_ftn43">43</a> Al Mughni op.cit 7/172</p>
<p><a name="_ftn44">44</a> Majmu&#8217; Syarhu Almuhadzab op.cit  15/176.</p>
<p><a name="_ftn45">45</a> Ibid 15/191.</p>
<p><a name="_ftn46">46</a> Al Mughni op.cit 7/172</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/muamalah-fiqih/mengenal-konsep-mudharabah/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/muamalah-fiqih/mengenal-konsep-mudharabah/&amp;title=Mengenal+Konsep+Mudharabah" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/muamalah-fiqih/mengenal-konsep-mudharabah/&amp;title=Mengenal+Konsep+Mudharabah" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/muamalah-fiqih/mengenal-konsep-mudharabah/&amp;t=Mengenal+Konsep+Mudharabah" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/muamalah-fiqih/mengenal-konsep-mudharabah/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Mengenal+Konsep+Mudharabah+-+http://ustadzkholid.com/fiqih/muamalah-fiqih/mengenal-konsep-mudharabah/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/muamalah-fiqih/mengenal-konsep-mudharabah/&amp;title=Mengenal+Konsep+Mudharabah" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/muamalah-fiqih/mengenal-konsep-mudharabah/&amp;title=Mengenal+Konsep+Mudharabah" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Mengenal+Konsep+Mudharabah+-+http://b2l.me/n8gp4&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Mengenal+Konsep+Mudharabah&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/muamalah-fiqih/mengenal-konsep-mudharabah/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Al%20Mudharabah%20adalah%20akad%20%28transaksi%29%20antara%20dua%20pihak%20dimana%20salah%20satu%20pihak%20menyerahkan%20harta%20kepada%20yang%20lain%20agar%20diperdagangkan%20dengan%20pembagian%20keuntungan%20diantara%20keduanya%20sesuai%20dengan%20kesepakatan" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/muamalah-fiqih/mengenal-konsep-mudharabah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shalat Raghaib Di Bulan Rajab</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/shalat-raghaib-di-bulan-rajab/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/shalat-raghaib-di-bulan-rajab/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2009 12:27:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=973</guid>
		<description><![CDATA[Kita sudah berada di penghujung bulan Jumadil Akhir dan akan memasuki bulan Rajab. Ada ibadah yang dilakukan sebagian orang di awal bulan Rajab yaitu Shalat Raghaib. Bagaimana hukumnya?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rajab adalah bulan yang dipandang orang Arab Jahiliyah dahulu memiliki arti penting dan keistimewaan dibanding bulan-bulan yang lain, sehingga mereka memberi nama bulan tersebut Rajab. Kata Rajab berasal dari <img src='http://ustadzkholid.com/wp-includes/images/smilies/icon_confused.gif' alt=':?' class='wp-smiley' /> ????? ????? ??????? ??  ????????  ???????? ???????? ?????????   bermakna menghormati dan mengagungkan, sehingga bulan rajab bermakna bulan agung. Bulan Rajab memiliki 14 nama; yaitu <em>Rajab, Al Asham, Al Ashab, Rajm, Al Harm, Al Muqim, Al Mu&#8217;alla, Manshal As Asinnah, Manshal Al Aal, Al Mubri&#8217; , Al  Musyqisy, Syahru Al &#8216;Athirah dan Rajab Mudhar</em>.</p>
<p>Bulan Rajab tidak memiliki keistimewaan kecuali sebagai bulan haram yang berjumlah empat. Tidak ada satu dalilpun yang sah yang menunjukkan keutamaan dan pengkhususan bulan ini dengan amal ibadah tertentu.</p>
<p>Namun berkembang banyak ke-<em>bid&#8217;ah</em>-an dibulan ini, diantaranya <em>bid&#8217;ah</em> shalat <em>Raghaib</em>.<span id="more-973"></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Waktu Pelaksanaan Shalat Raghaib</strong></p>
<p>Shalat Raghaib dilakukan pada awal malam Jum&#8217;at pertama bulan Rajab  diantara shalat maghrib dan Isya dengan didahulukan puasa hari Kamis, yaitu Kamis pertama di bulan Rajab.<a name="_ftnref1"></a></p>
<p>Ibnu Utsaimin berkata: &#8220;(Diantara manusia ada yang menganggap)Pada bulan Rajab ada shalat yang dinamakan Shalat Raghaib yang dikerjakan malam Jum&#8217;at pertama antara maghrib dan isya&#8221;</p>
<p><strong>Tata Cara </strong><strong>Shalat Raghaib</strong></p>
<p>Tata acara shalat ini dipaparkan dalam hadits yang dihukumi sebagian ulama sebagai hadits <strong>palsu</strong> dari Anas bin Malik:</p>
<p>?????? ?????? ????? ?? ???????? ???????? ?? ????????? ?????????????? : ????? ???? ?????? ???????? ?????? ??????????? ??????? ???????? ???? ?????? ????? ????????? ??????? ?????? ??????????? ????????????? ???????? ???????? ???????????  ???????? ???????? ???????? ???????? ???? ????? ???????? ????????? ?????????? ??????? ? (?? ???? ???????????? ??? ???????? ????????? ) ???? ??? ???????? ?? ???? ???? ??????? ?????? ????????? ???????? ??????? ???????? ?????? ????? ???????????? ???????????????? ??????? ?????? ???? ?????????? ??????? ??????? ?????????? ??????? ????? ???????? ????? ????? ????? ????????? ????????? ??????? ?? ????? ????? ????? ???????? ?????????? ???? ???????? ???????? ????????? ????? ????????????? ?? ????????? ?????????? ??????? ????? ???????? ???????? ?????????? ????? ??????????? ???????? ?? ????????? ?????? ???????? ??????? ?????? ??????????? ?????????? ?????????? ??????? ????? ???????? ???????????? ?????????? ?????? ??? ????? ???? ?????????? ??????? ????? ???????? ????? ????????? ?????????? ??????? ????? ??????? ???? : ?????????? ???????? ??????? ??? ???? ?????? ???? ? ?? ?????? ?????? ?????? ????????? ?????? ?????? ???? ???? ???????? ?????????? ?? ??? ????? ?????? ?????? ????????? ?? ?????? ?????? ??????????? ? ?????? ?????? ????????????  ???? ????????????? ???? ?????? ???????? . ??????? ????? ???? ??????? ???????? ???? ???????? ????? ???????? ?????? ?????????? ???????????? ???????? ?????? ????????? ?????? ?????????? ???? ?????????? ???????? ?????? ???????? ???? ????? ??????? ?????????? ???? ?????? ???? ????? ??? ???????? ??????? ???????? ???? ???????? ????? ???????? ???????? ??????? ???? ????????? ????? ???????? ????????? ???????? ???? ????????????????????? ???? ??? ?????????? ????? ??????? ????????? ???????? ???????????? ???? ???????? ????? ???? ?????? ????? ?????? ???????? ? ??? ?????? ??????? ?? ????????? ?????????? ?? ???????? ?????? ?????????? ??????? ?????? ???? ???????? ?????????? ???? ???????? ???????????? ????? ???????? ?? ???????? ?????? ???????? ????????? ???? ????????? ???????</p>
<p>&#8220;<em>Rajab bulan Allah dan Sya&#8217;ban bulanku serta Ramadhan bulan umatku. Orang yang berpuasa di hari Kamis yaitu awal Kamis dalam bulan Rajab kemudian shalat diantara Maghrib dan &#8216;Atamah (Isya)- yaitu malam Jum&#8217;at- dua belas rakaat, membaca pada setiap rakaat surat al Fatihah sekali dan surat Al Qadr tiga kali serta surat Al Ikhlas dua belas kali, shalat ini dipisah-pisah setiap dua rakaat dengan salam, jika telah selesai dari shalat tersebut maka ia bershalawat kepadaku tujuh puluh kali, kemudian mengatakan Allahhumma Sholli &#8216;Ala Muhammadin Al Nabi Al Umiyi Wa &#8216;Ala Alihi, kemudian sujud lalu menyatakan dalam sujudnya: &#8216;Subuhun qudusun Rabul Malaikati War Ruh&#8217; tujuh puluh kali, lalu mengangkat kepalanya dan mengucapkan: &#8216;Rabb ighfirli warham wa tajaawaz amma ta&#8217;lam Inaka  anta Al Aziz Al A&#8217;dzham&#8217; tujuh puluh kali, kemudian sujud kedua dan mengucapkan seperti ucapan pada sujud yang pertama, lalu memohon kepada Allah hajatnya, maka hajatnya akan dikabulkan. Rasulullah bersabda : &#8216;Demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya, tidak ada seorang hamba laki-laki atau perempuan yang melakukan shalat ini kecuali akan Allah ampuni seluruh dosanya walaupun seperti buih lautan dan sejumlah daun pepohonan serta bias memberi syafaat dihari kiamat pada tujuh ratus keluarganya. Jika berada di malam pertama dikuburnya akan datang pahala sholat ini. Ia menemuinya dengan wajah yang berseri dan lisan yang indah, lalu menyatakan: &#8216;Kekasihku, berbahagialah! Kamu telah selamat dari kesulitan besar. Lalu (orang yang melakukan shalat ini) berkata: &#8216;Siapa kamu? Sungguh demi Allah aku belum pernah melihat wajah seindah wajahmu dan tidak pernah mendegar perkataan seindah perkataanmu serta tidak pernah mencium bau wewangian sewangi bau wangi kamu&#8217;. Lalu ia berkata: &#8216;Wahai kekasihku! Aku adalah pahala shalat yang telah kamu lakukan di malam itu pada bulan itu. Malam ini aku datang untuk menunaikan hakmu, menemani kesendirianmu dan menghilangkan darimu perasaan asing. Jika ditiup sangkakala maka aku akan menaungimu di tanah lapang kiamat. Maka berbahagialah karena kamu tidak akan kehilangan kebaikan dari maula-Mu (Allah) selama-lamanya.</em>&#8220;<a name="_ftnref2"></a></p>
<p>Dari hadits ini kita dapat meringkas tata caranya sebagai berikut:</p>
<ol type="1">
<li>Jumlah rakaat dua belas dibagi setiap dua rakaat      satu salam</li>
<li>Bertakbir dengan mengucapkan <em>Allahu Akbar</em></li>
<li>Membaca setiap rakaat surat Al Fatihah sekali, surat      Al Qadar tiga kali dan surat Al Ikhlash dua belas kali.</li>
<li>Kemudian ruku&#8217; dan sujud sebagaimana biasa.</li>
<li>Setelah selesai sholat mengicapkan sholawat kepada      Nabi tujuh puluh kali dengan lafadz <em>Allahhumma Sholli &#8216;Ala Muhammadin      Al Nabi Al Umiyi Wa &#8216;Ala Alihi</em></li>
<li>Kemudian sujud dengan membaca <em>Subuhun qudusun      Rabul Malaikati Wa Al Ruh</em></li>
<li>Lalu bangun dan duduk dengan mengucapkan <em>Rabb      ighfirli warham wa tajaawaz amma Ta&#8217;lam Inaka  anta Al Aziz Al A&#8217;zham</em></li>
<li>Lalu sujud lagi dan mengucapkan ucapan yang sama      dengan sujud yang pertama</li>
<li>Kemudian berdoa kepada Allah sesuai dengan hajat      kebutuhannya.</li>
</ol>
<p>Demikianlah tata cara shalat Raghaib, namun hadits di atas hadits palsu yang diatas-namakan dari Rasulullah.</p>
<p><strong>Pertama Dilaksanakan</strong></p>
<p>Shalat ini tidak pernah ada dan dilaksanakan dizaman Nabi dan para sahabatnya dan tidak pula pada tabi&#8217;in dan tabi&#8217;it tabiin. Sholat raghaib ini mulai dikenal dilakukan di Baitul Maqdis setelah tahun 480 H.<a name="_ftnref3"></a></p>
<p><strong>Hukumnya</strong></p>
<p>Tidak diragukan lagi, hukum shalat Raghaib adalah bid&#8217;ah, karena tidak didasari dengan dalil-dalil yang shahih, menyelisihi tata cara shalat sunnah yang sudah dikenal dan tidak pernah dikenal pada zaman <em>salafusl shalih</em> ada yang melakukannya. Oleh karena itu  Al &#8216;Izz  bin Abdussalam menegaskan ke-<em>bid&#8217;ah</em>-an shalat Raghaib dalam beberapa sisi, beliau memberi peringatan tegas bagi ulama dan juga bagi ummat Islam secara umum. Adapun peringatan beliau yang khusus untuk para ulama ada dua, yaitu:</p>
<ol type="1">
<li>Seorang ulama jika melakukan shalat tersebut dapat      memberi opini kepada masyarakat umum bahwa ini adalah sunnah, maka ia      berdusta atas nama Rasulullah dengan amalannya yang terkadang mewakili      lisannya.</li>
<li>Ulama yang melakukan shalat ini menjadi sebab orang      lain berdusta atas nama Rasulullah dengan menyatakan: &#8216;Ini adalah salah      satu sunnah beliau&#8217;. Padahal tidak boleh seseorang menjadi penyebab orang      lain berdusta atas nama Rasulullah.</li>
</ol>
<p>Sedangkan peringatan beliau yang ditujukan kepada umat Muslim secara umum adalah:</p>
<ol type="1">
<li>Melakukan perbuatan bid&#8217;ah sama saja memotivasi para      pembuat bid&#8217;ah untuk membuat kebidahan dan kebohongan (hadits palsu).      Padahal memotivasi berbuat batil dan menolongnya dilarang dalam syari&#8217;at      dan meninggalkan ke-<em>bid&#8217;ah</em>-an dan hadits-hadits palsu dapat      mencegah munculnya kebidahan dan hadits palsu. Mencegah dan memperingatkan      kemungkaran termasuk ajaran penting dalam syari&#8217;at.</li>
<li>Shalat ini bertentangan dengan anjuran Nabi untuk tidak      banyak bergerak dalam shalat, karena dalam shalat ini terdapat pengulangan      surat Al Ikhlash dan Al Qadar. Menghitungnya tidak dapat dilakukan secara      umum kecuali dengan menggerakkan sebagian anggota tubuh.</li>
<li>Shalat ini bertentangan dengan perintah <em>khusyu</em>&#8216;,      merendahkan diri, menghadirkan hati dalam shalat, konsentrasi kepada      Allah, merasakan keagungan Allah dan memahami makna bacaan dan      dzikir.  Maka jika ia memperhatikan      jumlah surat dengan hatinya, maka ia telah berpaling dari Allah dan      meningalkanNya dengan satu perkara yang tidak disyari&#8217;atkan dalam shalat.      Berpaling dengan wajah dicela dalam syari&#8217;at, apalagi berpaling dengan      hati yang merupakan tujuan besar dalam shalat.</li>
<li>Shalat ini bertentangan dengan aturan yang sunnah      dalam <em>shalat nafilah</em> (shalat yang tidak wajib), karena dianjurkankan      padanya bahwa dikerjakan di rumah lebih utama dari masjid, kecuali shalat      yang dikecualikan syari&#8217;at, seperti shalat <em>istisqa&#8217;</em> dan <em>kusuf</em>.      Rasulullah telah bersabda :</li>
</ol>
<p>??????? ????????? ??? ???????? ???????? ???? ????????? ??? ??????????? ?????? ??????????????</p>
<p>&#8220;<em>Shalatnya seseorang dirumahnya lebih baik dari sholatnya di masjid kecuali sholat fardhu</em>.&#8221;<a name="_ftnref4"></a></p>
<ol type="1">
<li>Shalat ini bertentangan dengan sunnah Nabi yaitu      shalat sunah tidak dilakukan secara berjamaah, karena disunnahkan melakukannya      secara bersendirian kecuali yang dikecualikan syari&#8217;at (semisal shalat      tarawih) dan ke-<em>bid&#8217;ah</em>-an yang dibuat-buat atas nama Rasulullah ini      tidak termasuk darinya.</li>
<li>Shalat ini bertentangan dengan sunnah untuk      menyegerakan buka puasa, karena Rasulullah bersabda:</li>
</ol>
<p>??? ??????? ???????? ???????? ??? ????????? ?????????</p>
<p>&#8220;<em>Senantiasa manusia dalam kebaikan selama mereka mempercepat buka puasa</em>&#8220;<a name="_ftnref5"></a></p>
<ol type="1">
<li>Shalat ini bertentangan dengan perintah      mengkonsentrasikan hati dari semua hal-hal yang menyibukkannya sebelum      masuk dalam shalat, karena shalat ini dilakukan dalam keadaan lapar dan      haus, apalagi di hari-hari yang sangat panas. Padahal tidak boleh shalat dengan      keadaan terdapat hal-hal yang menyibukkan pikirannya yang sebenarnya dapat      dihilangkan.</li>
<li>Kedua sujud (setelah selesai shalat tersebut)      dilarang, karena syari&#8217;at tidak mengajarkan sujud yang tersendiri tanpa      sebab sebagai amalan yang mendekatkan diri kepada Allah. Mendekatkan diri      kepada Allah dengan satu ibadah memiliki sebab, syarat, waktu dan      rukun-rukun tertentu yang tidak sah tanpanya. Sehingga sebagaimana tidak boleh      mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan wukuf di Arafah,      Mudzdalifah, melempar jumrah dan sa&#8217;I antara Shafa dan Marwa <strong>tanpa berniat      haji atau umrah</strong> pada waktunya dengan sebab dan syarat-syaratnya,      demikian juga tidak boleh mendekatkan diri kepada Allah dengan sujud      semata -walaupun sujud adalah ibadah- kecuali jika memiliki sebab. Juga      tidak mendekatkan diri kepada Allah dengan shalat dan puasa di setiap      waktu dan saat. Terkadang orang bodoh merasa mendekatkan diri kepada Allah      dengan amalan yang menjauhkannya dari Allah tanpa disadarinya.</li>
</ol>
<p>Seandainya kedua sujud tersebut disyari&#8217;atkan, tentu menyelisihi perintah <em>khusyu&#8217;dan</em> <em>khudhu&#8217;</em> disebabkan sibuknya menghitung jumlah tasbih dengan batin atau lahiriyah atau dengan batin dan lahir. Rasulullah bersabda:</p>
<p>??? ??????????? ???????? ??????????? ????????? ???? ?????? ??????????? ????? ????????? ?????? ??????????? ????????? ???? ?????? ??????????? ?????? ???? ??????? ??? ?????? ????????? ??????????</p>
<p>&#8220;<em>Janganlah mengkhususkan malam jum&#8217;at dari yang lain dengan sholat malam, janganlah mengkhususkan hari jum&#8217;at dari yang lain dengan puasa kecuali puasa yang biasa dikerjakan salah seorang kalian</em>&#8220;.<a name="_ftnref6"></a></p>
<ol type="1">
<li>Dalam shalat ini terdapat hal yang bertentangan      dengan sunnah Rasulullah dalam dzikir ketika sujud, karena ketika turun      firman Allah: ??????? ????? ??????? ?????????? beliau berkata: &#8220;<em>Jadikanlah dalam sujud kalian</em>&#8220;.      Pernyataan &#8216;???????? ?????????&#8217; seandainya benar dari      Rasulullah, namun tidak benar disendirikan tanpa pernyataan (???????? ???????      ??? ????? ) dan tidak pula beliau memerintahkan umatnya. Padahal      sudah dimaklumi beliau tidak memerintahkannya kecuali yang terbaik. Juga      dalam pernyataan: ???????? ??????? ??? ????? terdapat pujian yang tidak ada      dalam pernyataan: ???????? ????????? .(Sampai di sini peringatan      dari Al &#8216;Izz bin Abdussalam) <a name="_ftnref7"></a></li>
</ol>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: &#8220;Shalat Raghaib tidak memiliki dasar dan ia adalah ke-<em>bid&#8217;ah</em>-an, sehingga tidak disunnahkan berjamaah dan tidak juga sendirian. Terdapat dalam Shahih Muslim bahwa Nabi melarang pengkhususan malam jum&#8217;at dengan shalat malam atau hari Jum&#8217;at dengan puasa. Sedangkan <em>atsar</em> yang ada tentang hal itu adalah palsu <strong>menurut kesepakatan para ulama</strong>&#8220;<a name="_ftnref8"></a></p>
<p>Dan beliau juga berkata: &#8220;Shalat Raghaib adalah <em>bid&#8217;ah</em> menurut pendapat para imam agama. Rasulullah tidak mensunnahkannya dan tidak juga seorang pun dari para khalifah beliau. Tidak pula dianggap sunnah oleh seorang pun dari para ulama agama seperti Malik, Syafi&#8217;I, Ahmad, Abu Hanifah, Al Tsauri, Al &#8216;Auza&#8217;I, Al Laits dan lain-lainnya. Sedangkan hadits yang diriwayatkan tentang shalat ini adalah palsu menurut ijma orang yang mengerti hadits&#8217;.<a name="_ftnref9"></a></p>
<p>Dengan demikian jelaslah bahwa shalat Raghaib terlarang untuk dikerjakan karena ia adalah shalat yang bid&#8217;ah sebagaimana pendapat Al &#8216;Izz bin Abdussalam, An Nawawi, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin serta yang lainnya.</p>
<p>Demikianlah penjelasan dari kami mudah-mudahan bermanfaat.</p>
<hr size="1" /><a name="_ftn1"></a> <em>Al Bida&#8217; Al Hauliyah</em> karya Abdullah bin Abdulaziz Ahmad Al Tuwaijiri,cetakan pertama tahun 1421 H ,Dar Al fadhilah, Riyadh, KSA hal 240.</p>
<p><a name="_ftn2"></a> HR Ibnu Al Jauzi dalam kitab <em>Al Maudhu&#8217;aat</em> 2/124-125. beliau berkata: &#8216;Hadits ini palsu, para ulama hadits menuduh Ibnu Juhaim pemalsu&#8217;. Hadits ini palsu menurut para ulama, diantaranya imam Ibnu Taimiyah, Al Syaukani, Al Fairuz Abadi, Al Maqdisi, Al Iraaqi dan Abu Syamah. (lihat keterangan lengkapnya pada <em>Majmu&#8217; Fat</em><em>a</em><em>wa</em> hlm 23/133 dan 134, <em>Al Bida&#8217; Al Hauliyah</em> hlm 241)</p>
<p><a name="_ftn3"></a> Al Bidah Al Hauliyah hlm 242.</p>
<p><a name="_ftn4"></a> HR Al Bukhari dalam Shahihnya kitab <em>Al Adzaan</em> hadits no 731 dan Muslim dalam Shalihnya kitab <em>Sh</em><em>a</em><em>lat Al Musafirin</em>, hadits no. 781 dengan perbedaan lafadz.</p>
<p><a name="_ftn5"></a> HR Al Bukhari dalam Shahihnya, kitab <em>Al Shaum</em> no. 1957.</p>
<p><a name="_ftn6"></a> HR Muslim dalam shahihnya kitab <em>Al Shaum</em> no 1144.</p>
<p><a name="_ftn7"></a> Semua pernyataan Al &#8216;Iz bin Abdulsalam ini diambil dan diterjemahkan secara bebas dari kitab <em>Musajilah &#8216;Ilmiyah Baina Al &#8216;Izz bin Abdulsalam Wa Ibnu Sholah Haula Sholat Al Ragh</em><em>a</em><em>ib Al Mubtada&#8217;ah</em> dengan Tahqiq Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albaniy dan Muhammad Zuheir Al Syaawies, cetakan kedua tahun 1405, Al Maktab Al Islamiy, Beirut. Hlm 5-9.</p>
<p><a name="_ftn8"></a> <em>Majmu&#8217; Fatawa</em> karya Ibnu Taimiyah, disusun Abdurrahman bin Muhammad bin Qasim hlm 23/132</p>
<p><a name="_ftn9"></a> ibid 23/134.</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/shalat-raghaib-di-bulan-rajab/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/shalat-raghaib-di-bulan-rajab/&amp;title=Shalat+Raghaib+Di+Bulan+Rajab" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/shalat-raghaib-di-bulan-rajab/&amp;title=Shalat+Raghaib+Di+Bulan+Rajab" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/shalat-raghaib-di-bulan-rajab/&amp;t=Shalat+Raghaib+Di+Bulan+Rajab" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/shalat-raghaib-di-bulan-rajab/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Shalat+Raghaib+Di+Bulan+Rajab+-+http://ustadzkholid.com/fiqih/shalat-raghaib-di-bulan-rajab/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/shalat-raghaib-di-bulan-rajab/&amp;title=Shalat+Raghaib+Di+Bulan+Rajab" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/shalat-raghaib-di-bulan-rajab/&amp;title=Shalat+Raghaib+Di+Bulan+Rajab" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Shalat+Raghaib+Di+Bulan+Rajab+-+http://b2l.me/n8pnu&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Shalat+Raghaib+Di+Bulan+Rajab&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/shalat-raghaib-di-bulan-rajab/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Kita%20sudah%20berada%20di%20penghujung%20bulan%20Jumadil%20Akhir%20dan%20akan%20memasuki%20bulan%20Rajab.%20Ada%20ibadah%20yang%20dilakukan%20sebagian%20orang%20di%20awal%20bulan%20Rajab%20yaitu%20Shalat%20Raghaib.%20Bagaimana%20hukumnya%3F" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/shalat-raghaib-di-bulan-rajab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
