<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>UstadzKholid.com &#187; Fiqih</title>
	<atom:link href="http://ustadzkholid.com/category/fiqih/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzkholid.com</link>
	<description>Meniti Sunnah Menggapai Ukhuwah</description>
	<lastBuildDate>Fri, 06 Jan 2012 02:41:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Kemunculan Bank Syari&#8217;at (Bagian 1)</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/kemunculan-bank-syariat/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/kemunculan-bank-syariat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jan 2012 02:41:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Halal-Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=2105</guid>
		<description><![CDATA[Dewasa ini semarak penggunaan kata syari’at dalam kalangan muslimin dinegara ini. Pantas untuk disyukuri karena secara langsung atau tidak telah menunjukkan semangat kaum muslimin untuk kembali merujuk agamanya. Namun juga harus diperhatikan dan disadari jangan sampai hal ini hanya sebagai nama dan jorgan semata tanpa kesesuaian dengan syari’at yang suci dan mulia ini. Karena itulah perlu adanya upaya meluruskan istilah dan nama syari’at tersebut agar benar-benar mewakili syari’at islam yang menjadi rahmat bagi alam semesta. Diantara nama dan istilah ini adalah perbankan syari’ah atau bank syari’at yang didefinisikan dengan insitusi atau lembaga yang melakukan aktivitas langsung perbankan diatas asas dasar islam dan kaedah-kaedah fikihnya.[1] Institusi ini mulai merata dan menampakkan jati dirinya ditengah-tengah banyaknya bank-bank konvensional dinegara ini.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Kemunculan Bank Syari&#8217;at</h2>
<p>Dewasa ini semarak penggunaan kata syari’at dalam kalangan muslimin dinegara ini. Pantas untuk disyukuri karena secara langsung atau tidak telah menunjukkan semangat kaum muslimin untuk kembali merujuk agamanya. Namun juga harus diperhatikan dan disadari jangan sampai hal ini hanya sebagai nama dan jorgan semata tanpa kesesuaian dengan syari’at yang suci dan mulia ini. Karena itulah perlu adanya upaya meluruskan istilah dan nama syari’at tersebut agar benar-benar mewakili syari’at islam yang menjadi rahmat bagi alam semesta. Diantara nama dan istilah ini adalah perbankan syari’ah atau bank syari’at yang didefinisikan dengan insitusi atau lembaga yang melakukan aktivitas langsung perbankan diatas asas dasar islam dan kaedah-kaedah fikihnya.<a href="#_ftn1">[1]</a> Institusi ini mulai merata dan menampakkan jati dirinya ditengah-tengah banyaknya bank-bank konvensional dinegara ini.</p>
<h2>Realita Pahit Praktek Ribawi.</h2>
<p>Sudah dimaklumi dalam syari’at islam bahwa riba adalah sesuatu yang diharamkan, namun ironisnya didapatkan banyak sekali kaum muslimin menggandrunginya. Bahkan kita dapati jaringan ribawi ini telah tersebar dalam kehidupan masyarakat umum seperti tersebarnya pembuluh darah dalam tubuh manusia sehingga merusak tatanan masyarakat islam dan merusak keindahan islam dimata pemeluknya. Tidak hanya sebatas ini saja bahkan banyak kaum muslimin berkeyakinan dan memandang praktek ribawi adalah satu-satunya cara menumbuhkan perekonomian Negara dan masyarakatnya. Demikianlah sisa implikasi buruk penjajahan yang telah menanamkan kedalam Negara jajahannya muamalah ribawiyah ini, sebab system ribawi ini masuk kedalam Negara-negara islam melalui tangan dan jerih payah mereka.</p>
<p>Kaum muslimin akhirnya mengimport system ini dari Negara kafir yang menjajahnya baik Negara barat atau timur dan melupakan system perekonomian islam. Hendaknya mereka mengetahui bahwa Negara kafir tidak pernah peduli pada pertumbuhan keagamaan dan memisah agama dari kehidupan ekonomi. Sebab mereka tidak memiliki timbangan akhlak bahkan yang kuat dan kayalah yang akan berkuasa walaupun mereka mendapatkannya dengan bantuan orang-orang fakir dan miskin. Sedangkan islam menginginkan satu system ekonomi yang adil sehingga yang kuat tidak menindas yang lemah dan yang kaya menjajah yang miskin. Juga agar harta tidak hanya berputar pada orang-orang kaya saja sehingga menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Allah berfirman:</p>
<p>وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا 4</p>
<p><em>“Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan Riba.” (QS. 2:275)</em></p>
<p>Tentunya syari’at islam memiliki system ekonomi yang bebas dari riba dan tidak memiliki ketergantungan kepadanya dalam menumbuhkan tingkat perekonimian, kemasyarakatan dan kemanusiaan. Kita yakini dengan pasti adanya system ekonomi islam yang bebas dari riba baik dalam bidang perbankan atau yang lebih bersifat umum lainnya. Karenanya sudah menjadi kewajiban bagi kaum muslimin untuk meneliti dan mempelajari tatanan system tersebut yang tidak bertentangan dan menyimpang dari syari’at islam yang sempurna nan suci.</p>
<p>Bersama jalannya waktu banyak orang yang sadar akan realita pahit praktek ribawi ini. Krisis dan keguncangan ekonomi duniapun tidak dapat dielakkan kembali sehingga orangpun berfikir solusi atas hal ini.</p>
<p>Beberapa riset penelitian membuktikan bahwa orang yang berhutang dengan bunga riba akan sulit atau membutuhkan waktu yang lama sekali untuk melunasi hutang dan bunganya tersebut dan kenyataan umumnya mereka tidak mampu melunasinya. Hal ini akhirnya memaksa mereka untuk melepas atau menjual harta miliknya yang menjadi sebab peminjaman hutang tersebut. Ini untuk dikeluarkan pada kemaslahatan produksi ditambah lagi pengaruh bunga hutang tersebut dalam meninggikan biaya produksi yang berlanjut pada kenaikan harga.  Sebab perusahaan yang mengambil hutang ribawi akan memasukkan nilai bunga hutang tersebut yang membuat  naik biaya produksinya sehingga otomatis menaikkan harganya lebih tinggi.<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Terbukti bahwa krisis-krisis yang menimpa perekonomian dunia umumnya muncul dari hutang-hutang yang menumpuk atas perusahaan-perusahaan. Ini diketahui Negara-negara besar modern sehingga mereka terpaksa mengambil langkah pembatasan prosentase ribanya. Namun hal ini belum bisa mengurangi bahaya riba.<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<h3>Kemunculan Perbankan Syari’at.</h3>
<p>Krisis demi krisis melanda ekonomi dunia hingga banyak sekali bank-bank konvensional yang gulung tikar. Lihat saja dinegara Indonesia saja dalam tahun 2001 M –versi buku Bank Syari’at dari teori ke praktek- telah ada  63 Bank yang sudah tutup, 14 bank telak di take over dan 9 bank lagi harus direkapitulasi dengan biaya ratusan triliyun rupiah.  Ditambah harapan banyak kaum muslimin yang ingin kembali menerapkan ajaran islam dalam  seluruh aspek kehidupannya khususnya dalam masalah ekonomi dan perbankan dan munculnya kebangkitan islam  diera tahun tujuh puluhan. Semua ini mendorong para peneliti bertekad menerapkan system ekonomi islam (Islamic economic system) dengan mengkonsep perbankan syari’at sebagai alternative pengganti perbankan konvensional. Namun waktu itu keadaan dan situasi yang menyelimuti Negara-negara islam belum mendukung harapan, pemikiran dan tekad tersebut.</p>
<p>Kemudian mulailah adanya usaha-usaha riil untuk menerapkannya dan mencari trik dan cara yang beraneka ragam untuk mengeluarkan profit keuntungan dan sejenisnya dari lingkaran riba. Kemudian muncul  setelah itu dalam dunia islam usaha-usaha yang lebih riil berupa penolakan terhadap realita yang diimport dari barat dizaman penjajahan. Usaha-usaha ini mengarah kepada realisasi pengganti perbankan ribawi dengan perbankan syari’at. Usaha-usaha ini bertambah cepat dengan banyaknya kaum muslimin yang enggan menyimpan hartanya di bank-bank konvensional dan enggan bermuamalah dengan riba,</p>
<p>DR. Gharib al-Gamal menjelaskan seputar kemunculan perbankan syari’at dengan menyatakan: banyak dari masyarakat islam yang enggan bermuamalah dengan riba, selanjutnya mereka tidak berhubungan muamalah dengan lembaga perbankan yang ada sekarang ini. Dengan dasar ini maka harta-harta milik kelompok masyarakat  kaum muslimin didunia islam yang cukup besar sekali ini akan nganggur ( tidak dapat dikembangkan). Oleh karenanya termasuk factor pendorong ajakan membangun lembaga perbankan syari’at adalah merealisasikan solusi bagi masyarakat ini. Semua itu dalam rangka usaha memberikan faedah dari harta-harta yang dimiliki masyarakat tersebut untuk kemaslahatan dunia islam seluruhnya. Ditambah lagi untuk pencerahan kepada para penguasa (pemerintah) masyarakat tersebut agar mereka lapang dada membangun system yang menjamin terwujudnya pertumbuhan masyarakat Negara-negara islam dengan cara (uslub) syari’at.<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Realita banyak kaum muslimin yang sudah enggan bermuamalah riba dan menyimpan hartanya dibank-bank konvensional yang nota bene adalah corong riba akan menyebabkan banyaknya harta kaum muslimin yang membutuhkan lembaga atau institusi yang memudahkan mereka mengelolanya. Tidak mungkin dipungkiri lagi  harta yang demikian besar nominalnya tersebut membutuhkan satu institusi yang dapat menyimpan dan mengelolanya sesuai syari&#8217;at. Hal ini mendorong pembentukan lembaga keuangan syariat sebagai satu solusi permasalahan ini.</p>
<p>Muncullah usaha-usaha untuk meninggalkan praktek ribawi tersebut sehingga berdirilah berbagai lembaga keuangan (perbankan) yang mengklaim dirinya berazazkan syariat.  Diantara pelopor pembentukan bank syari’at ini adalah:</p>
<ol>
<li>Mit Ghamr Bank yang      merupakan satu lembaga keuangan yang beroperasi sebagai Rural-sosial bank      (Bunuk al-Id-dikhoor) di Mesir pada tahun 1963 M. Namun ini masih berskala      kecil sekali.</li>
<li>Bank Naashir      al-Ijtima’I berdiri di Mesir tahun 1971 M</li>
<li>Al-Bank al-Islami      Littanmiyah berdiri di Kerajaan Saudi Arabia pada tahun 1973 M</li>
<li>Bank Dubai      al-Islami (Dubai Islamic Bank) berdiri di Uni Emirat Arab pada tahun 1975      M</li>
<li>Bank Faishol      al-Islami (Faisal Islamic Bank) berdiri di Sudan pada tahun 1977 M</li>
<li>Bait at-Tamwiel      al-Kuwaiti (Kuwait Finance Haouse) berdiri di Kuwait pada tahun 1977 M</li>
<li>Bank Faishal      al-Islami al-Mishri (Faisal Islamic Bank) di Mesir pada tahun 1977 M</li>
<li>Al-Bank al-Islami      al-Urduni Littamwiel wa al-Istitsmaar ( Jordan Islamic Bank For Finance      and Investment) berdiri di Yordania pada tahun 1978 M<a href="#_ftn5">[5]</a></li>
</ol>
<p>Kemudian bermunculan banyak sekali bank syari’at sehingga menurut analisa prof. Khursyid Ahmad dan laporan International Association of Islamic Bank bahwa pada akhir tahun 1999 M tercatat lebih dari dua ratus lembaga keuangan Islam yang beroperasi di seluruh dunia.<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Dewasa ini lembaga-lembaga keuangan syariat ini terus berkembang dan bertambah banyak  bertebaran dipelosok-pelosok daerah dengan semua bentuk produk mereka yang diklaim syari’at. Oleh sebab itu mari kita lihat kembali hal ini dengan sikap kritis dan semuanya kembali menilai semua produk dan usaha mereka dengan pandangan syari’at yang mulia ini.</p>
<p>Fenomena ini patut mendapatkan perhatian, partisipasi dan dukungan semua pihak, agar  laju perkembangan dan arah langkahnya tetap lurus sebagaimana yang digariskan syariat Islam dan dapat menjadi pengganti yang benar dan pas dari lembaga keuangan ribawi dan konvensional.</p>
<h3>Umat Islam dan Permasalahan Perbankan Syariat.</h3>
<p>Sudah dimaklumi bahwa bank konvensional ribawi berkembang bersama datangnya para colonial. Kesamaan masa antara pendudukan colonial penjajah dengan berdirinya bank-bank ini di masyarakat islam membenarkan pendapat bahwa bank-bank tersebut dibangun dengan sengaja agar membantu penjajahan dengan menguasai perekonomiannya. Juga agar tertanam dihati masyarakat adanya ketidak sesuaian antara yang mereka yakini tentang pengharaman riba dengan realita yang mereka geluti yang tidak lepas dari riba. Demikian juga dibangun untuk menancapkan benih-benih keraguan tentang benar dan cocoknya syari’at islam di masa-masa kini.</p>
<p>Konsep pemikiran perbankan ini memang diimport dari non muslimin. Ini bisa dibuktikan dengan membaca dan menelaah kitab-kitab fikih klasik, seperti kitab al-Mughni karya imam ibnu Qudamah, Raudhat ath-Thalibin karya imam an-Nawawi dan kitab-kitab induk fikih lainnya. Jelas tidak didapatkan pembahasan mengenai perbankan atau bank dalam kitab-kitab tersebut.  Akan tetapi kaum muslimin ketika melihat orang-orang non muslimin membangun perbankan dan perbankan tersebut mampu menunaikan pekerjaan dan khidmat untuk kebutuhan mendesak masyarakat umum. maka mereka ingin memiliki yang seperti itu dan berusaha membuat alternatif yang sesuai syariat. Oleh karena itu diambillah konsep yang dibuat orang-orang non muslimin ini dan menjadikannya dalam bentuk islam.</p>
<p>Fenomena bahaya riba yang telah menimpa umat manusia dewasa ini ditambah kebutuhan yang mendesak dari masyarakat islam dan pemikiran merubah perbankan ribawi menjadi sesuai syariat. Akhirnya banyak orang yang berfikir untuk membangun bank-bank yang dibangun diatas system syari’at islam.</p>
<h3>Mampukah perubahan tersebut terealisasikan?</h3>
<p>Merubah wajah perbankan menjadi sesuai syariat dengan tetap mempertahankan fungsi dari perbankan tersebut, tentu saja merupakan tantangannya cukup berat. Bagaimana tidak? Disatu sisi harus menggantikan fungsi perbankan tersebut dan disisi lain tidak boleh melanggar syariat.</p>
<p>Dari sini idealnya perbankan syariat syari’at harus mampu menunaikan hal-hal berikut ini:</p>
<ol>
<li>Bank syari’at harus mampu menunaikan semua fungsi yang telah dilakukan bank-bank ribawi berupa pembiayaan (Financing), memperlancar dan mempermudah urusan muamalaat, menarik dana-dana tabungan masyarakat, kliring dan transfer, masalah moneter dan sejenisnya dari praktek-praktek perbankan lainnya.</li>
<li>Bank syari’at harus komitmen dengan hukum-hukum syari’at disertai kemampuan menunaikan tuntutan zaman dari sisi pengembangan ekonomi dalam semua aspeknya.</li>
<li>Bank syari’at harus komitmen dengan asas dan prinsip dasar ekonomi yang benar yang sesuai dengan ideologi dan kaedah syari&#8217;at islam dan jangan sekedar menggunakan dasar-dasar teori ekonomi umum keuangan yang tentunya dibangun diatas dasar mu&#8217;amalah ribawiyah.</li>
</ol>
<p>Tiga perkara ini harus ditunaikan bank syari’at agar dapat berjalan seiring perkembangan zaman dengan semua fenomena dan problema kontemporernya.</p>
<p><em>Bersambung&#8230;.</em></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://ustadzkholid.com/">www.UstadzKholid.com</a></strong></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Lihat definisi ini pada kitab al-Bunuk al-Islamiyah baina an-Nazhoriyah wa at-Tathbiq, Abdullah ath-Thoyaar  hal. 88.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Lihat al-Mu’amalah al-Mashrofiyah al-Mu’ashorah Wa Ra’yu al-Islam Fihaa, DR. Muhammad Abdullah al-‘Arabi hal 13. (dinukil dari ar-Ribaa wa al-Mu’amalat al-Mashrafiyah, DR. Umar abdulaziz al-Mutrik hal 171</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Ar-Ribaa wa al-Mu’amalat al-Mashrafiyah hal 171.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a>[4] Al-Masharif Wa al-A’maal al-Mashrafiyah. DR. Gharib al-Gamal hal. 391</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Lihat al-Bunuk al-Islamiyah Baina An-Nazhoriyat wa at-Tathbiq hal 89.</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Informasi ini diambil dari buku Bank Syari’at dari teori ke praktek, Muhammad Antonio Syafi’I hal 18.</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/kemunculan-bank-syariat/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/kemunculan-bank-syariat/&amp;title=Kemunculan+Bank+Syari%27at+%28Bagian+1%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/kemunculan-bank-syariat/&amp;title=Kemunculan+Bank+Syari%27at+%28Bagian+1%29" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/kemunculan-bank-syariat/&amp;t=Kemunculan+Bank+Syari%27at+%28Bagian+1%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/kemunculan-bank-syariat/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Kemunculan+Bank+Syari%27at+%28Bagian+1%29+-+http://ustadzkholid.com/fiqih/kemunculan-bank-syariat/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/kemunculan-bank-syariat/&amp;title=Kemunculan+Bank+Syari%27at+%28Bagian+1%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/kemunculan-bank-syariat/&amp;title=Kemunculan+Bank+Syari%27at+%28Bagian+1%29" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Kemunculan+Bank+Syari%27at+%28Bagian+1%29+-+http://bit.ly/wHUMiy&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Kemunculan+Bank+Syari%27at+%28Bagian+1%29&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/kemunculan-bank-syariat/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Dewasa%20ini%20semarak%20penggunaan%20kata%20syari%E2%80%99at%20dalam%20kalangan%20muslimin%20dinegara%20ini.%20Pantas%20untuk%20disyukuri%20karena%20secara%20langsung%20atau%20tidak%20telah%20menunjukkan%20semangat%20kaum%20muslimin%20untuk%20kembali%20merujuk%20agamanya.%20Namun%20juga%20harus%20diperhatikan%20dan%20disadari%20jangan%20sampai%20hal%20ini%20hanya%20sebagai%20nama%20dan%20jorgan%20semata%20tanpa%20kesesuaian%20dengan%20syari%E2%80%99at%20yang%20suci%20dan%20mulia%20ini.%20Karena%20itulah%20perlu%20adanya%20upaya%20meluruskan%20istilah%20dan%20nama%20syari%E2%80%99at%20tersebut%20agar%20benar-benar%20mewakili%20syari%E2%80%99at%20islam%20yang%20menjadi%20rahmat%20bagi%20alam%20semesta.%20Diantara%20nama%20dan%20istilah%20ini%20adalah%20perbankan%20syari%E2%80%99ah%20atau%20bank%20syari%E2%80%99at%20yang%20didefinisikan%20dengan%20insitusi%20atau%20lembaga%20yang%20melakukan%20aktivitas%20langsung%20perbankan%20diatas%20asas%20dasar%20islam%20dan%20kaedah-kaedah%20fikihnya.%5B1%5D%20Institusi%20ini%20mulai%20merata%20dan%20menampakkan%20jati%20dirinya%20ditengah-tengah%20banyaknya%20bank-bank%20konvensional%20dinegara%20ini." rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/kemunculan-bank-syariat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mu&#8217;amalat Ribawi dan Bahayanya (Selesai)</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/dampak-negatif-riba-bagi-pribadi-dan-masyarakat/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/dampak-negatif-riba-bagi-pribadi-dan-masyarakat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Nov 2011 07:10:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Halal-Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[bahaya riba]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=2090</guid>
		<description><![CDATA[Syari'at islam tidak memerintahkan kepada manusia kecuali pada sesuatu yang membawa kepada kebahagian dan kemuliannya didunia dan akherat dan hanya melarang dari sesuatu yang membawa kesengsaraan dan kerugian didunia dan akherat. Demikian juga larangan riba dikarenakan memiliki implikasi buruk dan bahaya bagi manusia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Bahaya dan Implikasi Buruk Riba Dampak Negatif Riba Bagi Pribadi dan Masyarakat.</h2>
<p>Syari&#8217;at islam tidak memerintahkan kepada manusia kecuali pada sesuatu yang membawa kepada kebahagian dan kemuliannya didunia dan akherat dan hanya melarang dari sesuatu yang membawa kesengsaraan dan kerugian didunia dan akherat. Demikian juga larangan riba dikarenakan memiliki implikasi buruk dan bahaya bagi manusia.<br />
<span id="more-2090"></span><br />
<strong>A.</strong> Sebagai bentuk maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, Rasulullah <em>shallahu &#8216;alahi wasallam</em> bersabda,</p>
<p><em>&#8220;Setiap umatku dijamin masuk surga kecuali yang enggan.” Para shahabat bertanya, &#8220;Siapa yang enggan masuk surga wahai Rasulullah?.” Beliau menjawab, &#8220;Barangsiapa yang ta&#8217;at kepadaku pasti masuk syurga dan barangsiapa yang berbuat maksiat (tidak ta&#8217;at) kepadaku itulah orang yang enggan (masuk surga).”</em> (HR.Al-Bukhari).</p>
<p><strong>B.</strong> Ibadah haji, shadaqah dan infak dalam bentuk apapun dari harta riba tidak diterima oleh Allah kalau berasal dari hasil riba, Rasulullah bersabda dalam hadits yang shahih,</p>
<p><em>&#8220;Sesunguhnya Allah itu baik dan Dia tidak menerima kecuali dari hasil yang baik.”</em></p>
<p><strong>C.</strong> Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> tidak mengabulkan doa orang yang memakan riba, Rasulullah <em>shallahu &#8216;alahi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>&#8220;Ada seorang yang menengadahkan tangannya ke langit berdo&#8217;a, &#8220;Ya Rabbi,</p>
<p>Ya Rabbi, sementara makanannya haram, pakaiannya haram, dan daging yang tumbuh dari hasil yang<br />
haram, maka bagaimana mungkin do&#8217;anya dikabulkan.&#8221; (HR.Muslim)</p>
<p><strong>D. </strong>Hilangnya keberkahan umur dan membuat pelakunya melarat, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab"><strong>ما أحد أكثر من الربا إلا كان عاقبة أمره إلى قلةرواه الإمام أحمد وصححه الألباني</strong></p>
<p>&#8220;Tidaklah seseorang memperbanyak harta kekayaan dari hasil riba, melainkan berakibat pada kebangkrutan dan melarat.&#8221; (HR.Ahmad dan Ibnu Majah dan dishohihkan al-Albani).</p>
<p><strong>E. </strong>Memakan riba menjadi sebab utama su`ul khatimah, karana riba ini merupakan bentuk kezaliman yang menyengsarakan orang lain, dengan cara menghisap &#8220;darah dan keringat&#8221; pihak peminjam, itulah yang disebut rentenir atau lintah darat.</p>
<p><strong>F. </strong>Pemakan riba akan bangkit di hari Kiamat kelak seperti orang gila dan kesurupan. Ayat yang menyebutkan tentang hal ini, menurut Syaikh Muhammad al-Utsaimin memiliki dua pengertian, yakni di dunia dan di hari Kiamat kelak. Beliau menjelaskan bahwa jika ayat itu mengandungi dua makna, maka<br />
dapat diertikan dengan keduanya secara bersamaan. Yakni mereka di dunia seperti orang gila dan kesurupan serta bertingkah laku seperti orang kerasukan syaitan (tidak peduli dan mementingkan diri). Demikian pula di Akhirat mereka bangun dari kubur juga dalam keadaan seperti itu.<br />
Sedangkan mengenai ayat, &#8220;Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah,&#8221; maka beliau mengatakan kehancuran materi (hakiki) dan maknawi. Kehancuran materi seperti tertimpa bencana dalam hartanya sehingga habis,</p>
<p>Demikian juga riba berbahaya untuk masyarakat dan umat umumnya, diantaranya adalah:</p>
<p><strong>1.</strong> <strong>Berbahaya bagi akhlak dan kejiwaan manusia.</strong><br />
Didapatkan orang yang bermuamalah ribawi adalah orang yang memiliki tabi&#8217;at bakhil, sempit, hati yang keras dan menyembah harta serta yang lain-lainnya dari sifat-sifat rendahan.</p>
<p>Bila melihat kepada aturan dan system riba didapatkan hal itu menyelisihi akhlak yang luhur dan menghancurkan karekteristik pembentukan masyarakat islam. System ini mencabut dari hati seseorang perasaan sayang dan rahmat terhadap saudaranya. Lihatlah kreditor (pemilik harta) senantiasa menunggu dan mencari-cari serta berharap kesusahan menimpa orang lain sehingga dapat mengambil hutang darinya. Tentunya hal ini menampakkan kekerasan, tidak adanya rasa sayang dan penyembahan terhadap harta. Hingga tampak sekali Muraabi (pemberi pinjaman ribawi) seakan-akan melepas pakaian kemanusiaannya, sikap persaudaraan dan kerja sama saling tolong menolong.</p>
<p>Riba tidak akan didapatkan pada seorang yang berlomba-lomba dalam kebaikan dan infaq, sedekah, berbuat baikpun tidak ada pada masyarakat ribawi. Hal ini karena pelaku ribawi (Muraabi) mencari celah kebutuhan manusia dan memakan harta mereka dengan batil. Ini merupakan dosa besar yang telah diperingatkan Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p>Diantara dalil adalah ayat-ayat riba selalu didahului atau diikuti dengan ayat-ayat anjuran berinfak dan sedekah.</p>
<p><strong>2. bahaya dalam kemasyarakatan dan sosial.</strong><br />
Riba memiliki implikasi buruk terhadap social kemasyarakatan, karena masyarakat yang bermuamalah dengan riba tidak akan terjadi adanya saling bantu-membantu dan seandainya adapun karena berharap sesuatu dibaliknya sehingga kalangan orang kaya akan berlawanan dan menganiaya yang tidak punya.</p>
<p>Kemudian dapat menumbuhkan kedengkian dan kebencian dimasing-masing individu masyarakat. Demikian juga menjadi sebab tersebarnya kejahatan dan penyakit jiwa. Hal ini disebabkan karena individu masyarakat yang bermuamalah dengan riba bermuamalah dengan system menang sendiri dan tidak membantu yang lainnya kecuali dengan imbalan keuntungan tertentu, sehingga kesulitan dan kesempitan orang lain menjadi kesempatan emas dan peluang bagi yang kaya untuk mengembangkan hartanya dan mengambil manfaat sesuai hitungannya. Tentunya ini akan memutus dan menghilangkan persaudaraan dan sifat gotong royong dan menimbulkan kebencian dan permusuhan diantara mereka.</p>
<p>Seorang dokter ahli penyakit dalam bernama dr. Abdulaziz Ismail dalam kitabnya berjudul Islam wa al-Thib al-Hadits (Islam dan kedokteran modern) menyatakan bahwa Riba adalah sebab dalam banyaknya penyakit jantung.<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Sistem riba menjadi sebab utama kehancuran negara dan bangsa.Realiti menjadi saksi bahwa negara kita kini mengalami krisis ekonomi dan keadilan yang tidak stabil karana penerapan sistem riba, ini disebabkan para petualang riba memindahkan simpanan kekayaan mereka ke negara-negara yang<br />
memiliki ekonomi kuat untuk memperoleh bunga riba tanpa memikirkan maslahat di dalam negeri sendiri, sehingga negara kini mengalami pertumbuhan yang lembab.<br />
Pengembangan kewangan dan ekonomi dengan sistem riba merupakan penjajahan ekonomi secara sistematik dan diselubungi oleh negara-negara pemilik modal, dengan cara pemberian pinjaman lunak. Ini akan menyebabkan hilangnya atau lenyap bangsa kita untuk menopoli ekonomi negara sendiri.</p>
<p><strong>3. Bahaya terhadap perekonomian.</strong><br />
Krisis ekonomi yang menimpa dunia ini bersumber secara umum kepada hutang-hutang riba yang berlipat-lipat pada banyak perusahaan besar dan kecil. Lalu banyak Negara modern mengetahui hal itu sehingga mereka membatasi persentase bunga ribawi. Namun hal itu tidak menghapus bahaya riba.</p>
<p>Sudah dimaklumi bahwa maslahat dunia ini tidak akan teratur dan baik kecuali –setelah izin Allah- dengan perniagaan, keahlian, industri dan pengembangan harta dalam proyek-proyek umum yang bermanfaat, karena dengan demikian harta akan keluar dari pemiliknya dan berputar. Dengan berputarnya harta tersebut maka sejumlah umat ini dapat mengambil manfaat, sehingga terwujudlah kemakmuran. Padahal Muraabi duduk dan tidak melakukan usaha mengembangkan fungsi hartanya untuk kemanfaatan orang lain<strong> </strong></p>
<p>Riba juga menjadi sarana colonial (penjajahan). Telah dimaklumi bahwa perang ekonomi dibangun diatas mu&#8217;amalah riba.  Cara pembuka yang efektif untuk penjajahan yang membuat runtuh banyak Negara timur adalah dengan riba. Ketika Pemerintah Negara timur berhutang dengan riba dan membuka pintu bagi para muraabi asing maka tidak lama kemudian dalam hitungan tahun tidak terasa kekayaan mereka telah berpindah dari tangan warga Negaranya ke tangan orang-orang asing tersebut, hingga ketika pemerintah tersebut sadar dan ingin melepas diri dan hartanya, maka orang-orang asing tersebut meminta campur tangan negaranya dengan nama menjaga hak dan kepentingannya. Oleh karena itu pantaslah bila Rasululloh n bersabda:</p>
<p class="arab"><strong>لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ</strong></p>
<p><em>“Rasulullah melaknat pemakan riba, orang yang memberi makan dengan riba, juru tulis transaksi riba, dua orang saksinya, semuanya sama saja.&#8221;</em></p>
<p>Melihat bahaya dan impilkasi buruk riba ini, maka sudah menjadi satu kewajiban bagi kita untuk mengetahui hakekat Riba, agar tidak terjerumus padanya.</p>
<p><strong>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, L.c.<br />
Artikel <a href="http://ustadzkholid.com/">www.ustadzkholid.com</a></strong></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Al-Riba Wa Mua&#8217;malat al-Mashrofiyah hal. 172</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/dampak-negatif-riba-bagi-pribadi-dan-masyarakat/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/dampak-negatif-riba-bagi-pribadi-dan-masyarakat/&amp;title=Mu%27amalat+Ribawi+dan+Bahayanya+%28Selesai%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/dampak-negatif-riba-bagi-pribadi-dan-masyarakat/&amp;title=Mu%27amalat+Ribawi+dan+Bahayanya+%28Selesai%29" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/dampak-negatif-riba-bagi-pribadi-dan-masyarakat/&amp;t=Mu%27amalat+Ribawi+dan+Bahayanya+%28Selesai%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/dampak-negatif-riba-bagi-pribadi-dan-masyarakat/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Mu%27amalat+Ribawi+dan+Bahayanya+%28Selesai%29+-+http://ustadzkholid.com/fiqih/dampak-negatif-riba-bagi-pribadi-dan-masyarakat/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/dampak-negatif-riba-bagi-pribadi-dan-masyarakat/&amp;title=Mu%27amalat+Ribawi+dan+Bahayanya+%28Selesai%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/dampak-negatif-riba-bagi-pribadi-dan-masyarakat/&amp;title=Mu%27amalat+Ribawi+dan+Bahayanya+%28Selesai%29" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Mu%27amalat+Ribawi+dan+Bahayanya+%28Selesai%29+-+http://bit.ly/rWGqWT&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Mu%27amalat+Ribawi+dan+Bahayanya+%28Selesai%29&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/dampak-negatif-riba-bagi-pribadi-dan-masyarakat/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Syari%27at%20islam%20tidak%20memerintahkan%20kepada%20manusia%20kecuali%20pada%20sesuatu%20yang%20membawa%20kepada%20kebahagian%20dan%20kemuliannya%20didunia%20dan%20akherat%20dan%20hanya%20melarang%20dari%20sesuatu%20yang%20membawa%20kesengsaraan%20dan%20kerugian%20didunia%20dan%20akherat.%20Demikian%20juga%20larangan%20riba%20dikarenakan%20memiliki%20implikasi%20buruk%20dan%20bahaya%20bagi%20manusia." rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/dampak-negatif-riba-bagi-pribadi-dan-masyarakat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mu&#8217;amalat Ribawi dan Bahayanya (Bagian 3)</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/balasan-pemakan-riba/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/balasan-pemakan-riba/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Nov 2011 09:59:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=2087</guid>
		<description><![CDATA[Balasan Pemakan Riba Imam Al Sarkhasi menyampaikan 5 balasan dan hukuman bagi pemakan riba yang ada dalam ayat-ayat ini (Al Baqarah: 275-279) yaitu: Kesurupan, seperti dalam firman Allah Ta’ala: الَّذِينَ يَأْكُلوُنَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَن [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Balasan Pemakan Riba</h2>
<p>Imam Al Sarkhasi menyampaikan 5 balasan dan hukuman bagi pemakan riba yang ada dalam ayat-ayat ini (Al Baqarah: 275-279) yaitu:<br />
<span id="more-2087"></span></p>
<ul>
<li>Kesurupan, seperti dalam firman Allah <em>Ta’ala</em>:</li>
</ul>
<p class="arab">الَّذِينَ يَأْكُلوُنَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَن جَآءَهُ مَوْعِظَةُُ مِّن رَّبِّهِ فَانتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللهِ وَمَنْ عَادَ فَأُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ</p>
<p><em>“Orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya</em>.” (QS. Al Baqarah:  275)</p>
<ul>
<li>Dihapus (barokahnya), seperti dalam firman-Nya <em>‘Azza wa Jalla</em>:</li>
</ul>
<p class="arab">يَمْحَقُ اللهُ الرِّبَا</p>
<p><em>“Allah memusnahkan Riba&#8230;”</em>(QS. Al Baqarah:  276)</p>
<ul>
<li>Kufur, bagi yang menghalalkannya. dijelaskan dalam firman-Nya <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>:</li>
</ul>
<p class="arab">يَمْحَقُ اللهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللهُ لاَ يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ</p>
<p><em>“Allah memusnahkan Riba dan menyuburkan sedekah, dan Allah tidak menyukai Setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.”</em>(QS. Al Baqarah:  276)</p>
<ul>
<li>Kekal di Neraka. Ini ada dalam firman-Nya<em> Subhanahu wa Ta’ala</em>:</li>
</ul>
<p class="arab">وَمَنْ عَادَ فَأُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ</p>
<p><em>“…orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”</em>(QS. Al Baqarah:  275)</p>
<ul>
<li>Allah <em>Ta’ala</em> memerangi pemakan riba. Seperti dalam firman-Nya <em>‘Azza wa Jalla</em>:</li>
</ul>
<p class="arab">يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَذَرُوا مَابَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ {278} فَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِّنَ اللهِ وَرَسُولِهِ وَإِن تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لاَ تَظْلِمُونَ وَلاَ تُظْلَمُونَ {279}</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa Riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak Menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” </em>(QS. Al Baqarah:  278-279).</p>
<p>Bersambung <em>insya Allah</em>&#8230;</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://ustadzkholid.com/">www.UstadzKholid.com</a></strong></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/balasan-pemakan-riba/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/balasan-pemakan-riba/&amp;title=Mu%27amalat+Ribawi+dan+Bahayanya+%28Bagian+3%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/balasan-pemakan-riba/&amp;title=Mu%27amalat+Ribawi+dan+Bahayanya+%28Bagian+3%29" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/balasan-pemakan-riba/&amp;t=Mu%27amalat+Ribawi+dan+Bahayanya+%28Bagian+3%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/balasan-pemakan-riba/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Mu%27amalat+Ribawi+dan+Bahayanya+%28Bagian+3%29+-+http://ustadzkholid.com/fiqih/balasan-pemakan-riba/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/balasan-pemakan-riba/&amp;title=Mu%27amalat+Ribawi+dan+Bahayanya+%28Bagian+3%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/balasan-pemakan-riba/&amp;title=Mu%27amalat+Ribawi+dan+Bahayanya+%28Bagian+3%29" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Mu%27amalat+Ribawi+dan+Bahayanya+%28Bagian+3%29+-+http://bit.ly/t0HiLs&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Mu%27amalat+Ribawi+dan+Bahayanya+%28Bagian+3%29&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/balasan-pemakan-riba/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Balasan%20Pemakan%20Riba%0D%0AImam%20Al%20Sarkhasi%20menyampaikan%205%20balasan%20dan%20hukuman%20bagi%20pemakan%20riba%20yang%20ada%20dalam%20ayat-ayat%20ini%20%28Al%20Baqarah%3A%20275-279%29%20yaitu%3A%0D%0A%0D%0A%0D%0A%09Kesurupan%2C%20seperti%20dalam%20firman%20Allah%20Ta%E2%80%99ala%3A%0D%0A%0D%0A%D8%A7%D9%84%D9%91%D9%8E%D8%B0%D9%90%D9%8A%D9%86%D9%8E%20%D9%8A%D9%8E%D8%A3%D9%92%D9%83%D9%8F%D9%84%D9%88%D9%8F%D9%86%D9%8E%20%D8%A7%D9%84%D8%B1%D9%91%D9%90%D8%A8%D9%8E%D8%A7%20%D9%84%D8%A7%D9%8E%20%D9%8A%D9%8E%D9%82%D9%8F%D9%88%D9%85%D9%8F%D9%88%D9%86%D9%8E%20%D8%A5%D9%90%D9%84" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/balasan-pemakan-riba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mu’amalat Ribawi dan Bahayanya (Bagian 2)</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/mu%e2%80%99amalat-ribawi-dan-bahayanya-bagian-2/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/mu%e2%80%99amalat-ribawi-dan-bahayanya-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Oct 2011 07:20:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bantahan]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Halal-Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[dana riba. bunga bank]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>
		<category><![CDATA[ribawi. bank riba. hukum riba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=2080</guid>
		<description><![CDATA[Dalil-dalil yang Mengharamkan Riba dari As-Sunnah Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ &#8220;Hindarilah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Dalil-dalil yang Mengharamkan Riba dari As-Sunnah</h2>
<p>Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab">اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ</p>
<p><em>&#8220;Hindarilah tujuh hal yang membinasakan.&#8221; Ada yang bertanya: &#8220;Apakah tujuh hal itu wahai Rasulullah?&#8221; Beliau menjawab: &#8220;Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa dengan cara yang haram, memakan riba, memakan harta anak yatim, kabur dari medan perang, menuduh berzina wanita suci yang sudah menikah karena kelengahan mereka. &#8220;</em><br />
<span id="more-2080"></span><br />
Diriwayatkan oleh imam Muslim dari Jabir bin Abdillah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> bahwa ia menceritakan:</p>
<p class="arab">لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ</p>
<p><em>“Rasulullah melaknat pemakan riba, orang yang memberi makan dengan riba, juru tulis transaksi riba, dua orang saksinya, semuanya sama saja.&#8221;</em></p>
<p>Diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari dari Samurah bin Jundub<em> radhiyallahu ‘anhu</em> bahwa ia menceritakan: Rasulullah <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab">رَأَيْتُ اللَّيْلَةَ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِي فَأَخْرَجَانِي إِلَى أَرْضٍ مُقَدَّسَةٍ فَانْطَلَقْنَا حَتَّى أَتَيْنَا عَلَى نَهَرٍ مِنْ دَمٍ فِيهِ رَجُلٌ قَائِمٌ وَعَلَى وَسَطِ النَّهَرِ رَجُلٌ بَيْنَ يَدَيْهِ حِجَارَةٌ فَأَقْبَلَ الرَّجُلُ الَّذِي فِي النَّهَرِ فَإِذَا أَرَادَ الرَّجُلُ أَنْ يَخْرُجَ رَمَى الرَّجُلُ بِحَجَرٍ فِي فِيهِ فَرَدَّهُ حَيْثُ كَانَ فَجَعَلَ كُلَّمَا جَاءَ لِيَخْرُجَ رَمَى فِي فِيهِ بِحَجَرٍ فَيَرْجِعُ كَمَا كَانَ فَقُلْتُ مَا هَذَا فَقَالَ الَّذِي رَأَيْتَهُ فِي النَّهَرِ آكِلُ الرِّبَا</p>
<p><em>&#8220;Tadi malam aku melihat dua orang lelaki, lalu keduanya mengajakku pergi ke sebuah tanah yang disucikan. Kamipun berangkat sehingga sampai ke satu sungai yang berair darah. Di situ terdapat seorang lelaki sedang berdiri. </em><em>Di tengah sungai terdapat seorang lelaki lain yang menaruh batu di hadapannya. Ia menghadap ke arah lelaki yang ada di sungai. Kalau lelaki di sungai itu mau keluar, ia melemparnya dengan batu sehingga terpaksa lelaki itu kembali ke dalam sungai darah. Demikianlah seterusnya setiap kali lelaki itu hendak keluar, lelaki yang di pinggir sungai melempar batu kemulutnya sehingga ia terpaksa kembali lagi seperti semula. Aku bertanya: &#8220;Apa ini?&#8221; Salah seorang lelaki yang bersamaku menjawab: &#8220;Yang engkau lihat dalam sungai darah itu adalah pemakan riba.&#8221;</em></p>
<h3>Ijma&#8217; yang Mengharamkan Riba</h3>
<p>Kaum muslimin seluruhnya telah bersepakat bahwa asal dari riba adalah <a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/muamalat-ribawi-dan-bahayanya-bagian-1/" target="_blank">diharamkan</a>, terutama sekali riba pinjaman atau hutang. Bahkan mereka telah berkonsensus dalam hal itu pada setiap masa dan tempat. Para ulama Ahli Fikih seluruh madzhab telah menukil ijma&#8217; tersebut. Memang ada perbedaan pendapat tentang sebagian bentuk aplikasinya, apakah termasuk riba atau tidak dari segi praktisnya, namun tidak bertentangan dengan asal ijma&#8217; yang telah diputuskan dalam persoalan itu.</p>
<p>Ijma’ akan pengharamannya dinukilkan Ibnu Hazm dalam <em>Maratib Al Ijma’</em> hal 103, Ibnu Rusyd dalam <em>Al Muqaddimah wal Mumahadah</em> 2/8, Al Mawardi dalam <em>Al Haawi Al Kabir</em> 5/74, An Nawawi dalam <em>Al Majmu’ Syarhul Muhadzab</em> 9/391, dan Ibnu Taimiyah dalam <em>Majmu’ Al fatawa</em> 29/419.</p>
<p>Pengharaman Riba tidak terbatas hanya pada syari&#8217;at islam bahkan juga ada dalam syari&#8217;at agama sebelumnya.</p>
<h3>Periodisasi Pengharaman Riba</h3>
<p>Sebagaimana khamr, riba tidak Allah haramkan sekaligus, melainkan melalui tahapisasi yang hampir sama dengan tahapisasi pengharaman khamar:</p>
<p><strong>1. Tahap pertama: Dengan mematahkan paradigma manusia bahwa riba akan melipatgandakan harta.</strong><br />
Pada tahap pertama ini, Allah SWT hanya memberitahukan pada mereka, bahwa cara yang mereka gunakan untuk mengembangkan uang melalui riba sesungguhnya sama sekali tidak akan berlipat di mata Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>. Bahkan dengan cara seperti itu, secara makro berakibat pada tidak tawazunnya sistem perekonomian yang berakibat pada penurunan nilai mata uang melalui inflasi. Dan hal ini justru akan merugikan mereka sendiri.</p>
<p>Pematahan paradigma mereka ini Allah gambarkan dalam QS. Ar-Rum /30 : 39 ;</p>
<p><em>“Dan sesuatu tambahan (riba) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).&#8221;</em></p>
<p><strong>2. Tahap kedua : Memberitahukan bahwa riba diharamkan bagi umat terdahulu.</strong><br />
Setelah mematahkan paradigma tentang melipat gandakan uang sebagaimana di atas, Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> lalu menginformasikan bahwa karena buruknya sistem ribawi ini, maka umat-umat terdahulu juga telah dilarang bagi mereka. Bahkan karena mereka tetap bersikeras memakan riba, maka Allah kategorikan mereka sebagai orang-orang kafir dan Allah janjikan kepada mereka azab yang pedih.</p>
<p>Hal ini sebagaimana yang Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> firmankan dalam QS 4 : 160 – 161 :</p>
<p><em>“Maka disebabkan kezaliman orang-orang yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi manusia dari jalan Allah. Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dialarang dari padanya, dan karena mereka harta dengan cara yang bathil. Kami telah menyediaka nuntuk orang-orang kafir diantara mereka itu siksa yang pedih.&#8221;</em></p>
<p><strong>3. Tahap ketiga : Gambaran bahwa riba secara sifatnya akan menjadi berlipat ganda. </strong><br />
Lalu pada tahapan yang ketiga, Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> menerangkan bahwa riba secara sifat dan karakernya akan menjadi berlipat dan akan semakin besar, yang tentunya akan menyusahkan orang yang terlibat di dalamnya. Namun yang perlu digarisbawahi bahwa ayat ini sama sekali tidak menggambarkan bahwa riba yang dilarang adalah yang berlipat ganda, sedangkan yang tidak berlipat ganda tidak dilarang.</p>
<p>Pemahaman seperti ini adalah pemahaman yang keliru dan sama sekali tidak dimaksudkan dalam ayat ini. Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> berfirman (QS. 3:130),</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.”</em></p>
<p><strong>4. Tahap keempat : Pengharaman segala macam dan bentuk riba. </strong><br />
Ini merupakan tahapan terakhir dari seluruh rangkaian periodisasi pengharaman riba. Dalam tahap ini, seluruh rangkaian aktivitas dan muamalah yang berkaitan dengan riba, baik langsung maupun tidak langsung, berlipat ganda maupun tidak berlipat ganda, besar maupun kecil, semuanya adalah terlarang dan termasuk dosa besar.</p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> berfirman dalam QS. 2 : 278 – 279 ;</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan seluruh sisa dari riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Alla hdan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya.”</em></p>
<p>=Bersambung <em>insya Allah</em>=</p>
<p><strong>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, L.c.<br />
Artikel <a href="../" target="_self">www.UstadzKholid.com</a></strong></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/mu’amalat-ribawi-dan-bahayanya-bagian-2/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/mu%e2%80%99amalat-ribawi-dan-bahayanya-bagian-2/&amp;title=Mu%E2%80%99amalat+Ribawi+dan+Bahayanya+%28Bagian+2%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/mu%e2%80%99amalat-ribawi-dan-bahayanya-bagian-2/&amp;title=Mu%E2%80%99amalat+Ribawi+dan+Bahayanya+%28Bagian+2%29" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/mu%e2%80%99amalat-ribawi-dan-bahayanya-bagian-2/&amp;t=Mu%E2%80%99amalat+Ribawi+dan+Bahayanya+%28Bagian+2%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/mu%e2%80%99amalat-ribawi-dan-bahayanya-bagian-2/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Mu%E2%80%99amalat+Ribawi+dan+Bahayanya+%28Bagian+2%29+-+http://ustadzkholid.com/fiqih/mu%e2%80%99amalat-ribawi-dan-bahayanya-bagian-2/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/mu%e2%80%99amalat-ribawi-dan-bahayanya-bagian-2/&amp;title=Mu%E2%80%99amalat+Ribawi+dan+Bahayanya+%28Bagian+2%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/mu%e2%80%99amalat-ribawi-dan-bahayanya-bagian-2/&amp;title=Mu%E2%80%99amalat+Ribawi+dan+Bahayanya+%28Bagian+2%29" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Mu%E2%80%99amalat+Ribawi+dan+Bahayanya+%28Bagian+2%29+-+http://bit.ly/rQmDFP&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Mu%E2%80%99amalat+Ribawi+dan+Bahayanya+%28Bagian+2%29&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/mu%e2%80%99amalat-ribawi-dan-bahayanya-bagian-2/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Dalil-dalil%20yang%20Mengharamkan%20Riba%20dari%20As-Sunnah%0D%0ADiriwayatkan%20oleh%20Al-Bukhari%20dan%20Muslim%20dari%20hadits%20Abu%20Hurairah%20bahwa%20Nabi%20shallallahu%20%E2%80%98alahi%20wa%20sallam%20bersabda%3A%0D%0A%D8%A7%D8%AC%D9%92%D8%AA%D9%8E%D9%86%D9%90%D8%A8%D9%8F%D9%88%D8%A7%20%D8%A7%D9%84%D8%B3%D9%91%D9%8E%D8%A8%D9%92%D8%B9%D9%8E%20%D8%A7%D9%84%D9%92%D9%85%D9%8F%D9%88%D8%A8%D9%90%D9%82%D9%8E%D8%A7%D8%AA%D9%90%20%D9%82%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%8F%D9%88%D8%A7%20%D9%8A%D9%8E%D8%A7%20%D8%B1%D9%8E%D8%B3%D9%8F%D9%88%D9%84%D9%8E%20%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%91%D9%8E%D9%87%D9%90%20%D9%88%D9%8E%D9%85%D9%8E%D8%A7" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/mu%e2%80%99amalat-ribawi-dan-bahayanya-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dowload Makalah Kajian Bimbingan Praktis Pengurusan Jenazah</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/dowload-makalah-kajian-bimbingan-praktis-pengurusan-jenazah/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/dowload-makalah-kajian-bimbingan-praktis-pengurusan-jenazah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Oct 2011 04:03:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Download Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[fikih jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[makalah islami]]></category>
		<category><![CDATA[pengurusan mayit]]></category>
		<category><![CDATA[sholat mayit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=2075</guid>
		<description><![CDATA[Makalah Kajian Bimbingan Praktis Pengurusan Jenazah di Masjid Jami&#8217; Al-Sofwa Al-Sofwah- Tidak kurang dari 500 muslimin dan muslimat menghadiri Kajian Sehari Bimbingan Praktis Pengurusan Jenazah yang diselenggarakan di Masjid Jami’ Al-Sofwa pada Ahad 16 Oktober 2011. Pada kajian kali ini, tampil sebagai pemateri adalah Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. (Pengasuh Mahad Ibnu Abbas Sragen, Solo dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Makalah Kajian Bimbingan Praktis Pengurusan Jenazah di Masjid Jami&#8217; Al-Sofwa</h2>
<p><strong>Al-Sofwah</strong>- Tidak kurang dari 500 muslimin dan muslimat menghadiri Kajian Sehari Bimbingan Praktis Pengurusan Jenazah yang diselenggarakan di Masjid Jami’ Al-Sofwa pada Ahad 16 Oktober 2011. Pada kajian kali ini, tampil sebagai pemateri adalah Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. (Pengasuh Mahad Ibnu Abbas Sragen, Solo dan anggota sidang redaksi Majalah As-Sunnah Solo).<br />
<span id="more-2075"></span><br />
Sejak dimulai pada pukul 08.30 WIB, antusias hadirin dengan kajian ini tampak dengan keseriusan mereka menyimak materi demi materi yang disampaikan, mulai dari pemaparan tentang seluk-beluk kematian, menjelang kematian, teori-teori hingga praktek tata cara pengurusan jenazah. Agar mempermudah melakukan pemaparan materi, maka digunakan 2 unit proyektor in-focus masing-masing untuk jamaah laki-aki dan jamaah wanita. Materi juga ditampilkan tidak hanya tulisan dan kutipan dari beberapa kitab namun juga dalam bentuk gambar-gambar animasi tentang tata cara pengurusan jenazah sehingga para hadirin dapat mudah mengingat dan menerapkannya pada saat praktek langsung.</p>
<p>Minat untuk menggali ilmu juga tampak dari banyaknya pertanyaan tentang permasalahan aktual yang diajukan yang alhamdulillah sebagiannya dapat terjawab dengan jelas dan ringkas.Banyaknya permasalahan yang diajukan ini tak urung membuat praktek langsung tata cara pengurusan jenazah dilaksanakan setelah shalat Zhuhur.</p>
<p>Pada saat praktek langsung Ustadz Kholid Syamhudi tampak sigap mengajari hadirin tentang memandikan jenazah, membungkus kafan termasuk hal-hal teknis lainnya seperti cara menggunting kain kafan, cara meletakkan kain kafan di pembaringan, cara mengangkat dan menurunkan jenazah baik di pembaringan maupun ketika tiba di pekuburan.</p>
<p>Pada kajian kali ini pengurus Masjid Jami’ Al-Sofwa juga mengundang beberapa pengurus masjid di sekitar Yayasan Al-Sofwa dan beberapa DKM di Jakarta, Tangerang, Depok dan Bekasi. Kajian akhirnya selesai pada sekitar pukul 13.30 WIB dilanjutkan dengan makan siang bersama para pengurus masjid. Tentunya tidak lupa makanan ringan dan segelas air mineral menemani para hadirin ketika menyimak materi serta sebagai oleh-oleh sebanyak 500-an eksemplar buku “<strong>Menuju Hati Yang Bersih</strong>”, [terjemah dari buku <em>Shalah al-Qulub</em>, oleh Syaikh Khalid bin Abdullah al-Mushlih] dihadiahkan kepada para hadirin.</p>
<p>Silahkan download makalah pada link berikut: <a href="http://alsofwah.or.id/download/urusjenazah.rar" target="_blank"><strong>Bimbingan Praktis Pengurusan Jenazah</strong></a></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://ustadzkholid.com/">www.UstadzKholid.com</a></strong></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/dowload-makalah-kajian-bimbingan-praktis-pengurusan-jenazah/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/dowload-makalah-kajian-bimbingan-praktis-pengurusan-jenazah/&amp;title=Dowload+Makalah+Kajian+Bimbingan+Praktis+Pengurusan+Jenazah" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/dowload-makalah-kajian-bimbingan-praktis-pengurusan-jenazah/&amp;title=Dowload+Makalah+Kajian+Bimbingan+Praktis+Pengurusan+Jenazah" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/dowload-makalah-kajian-bimbingan-praktis-pengurusan-jenazah/&amp;t=Dowload+Makalah+Kajian+Bimbingan+Praktis+Pengurusan+Jenazah" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/dowload-makalah-kajian-bimbingan-praktis-pengurusan-jenazah/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Dowload+Makalah+Kajian+Bimbingan+Praktis+Pengurusan+Jenazah+-+http://ustadzkholid.com/fiqih/dowload-makalah-kajian-bimbingan-praktis-pengurusan-jenazah/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/dowload-makalah-kajian-bimbingan-praktis-pengurusan-jenazah/&amp;title=Dowload+Makalah+Kajian+Bimbingan+Praktis+Pengurusan+Jenazah" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/dowload-makalah-kajian-bimbingan-praktis-pengurusan-jenazah/&amp;title=Dowload+Makalah+Kajian+Bimbingan+Praktis+Pengurusan+Jenazah" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Dowload+Makalah+Kajian+Bimbingan+Praktis+Pengurusan+Jenazah+-+http://bit.ly/rojfkS&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Dowload+Makalah+Kajian+Bimbingan+Praktis+Pengurusan+Jenazah&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/dowload-makalah-kajian-bimbingan-praktis-pengurusan-jenazah/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Makalah%20Kajian%20Bimbingan%20Praktis%20Pengurusan%20Jenazah%20di%20Masjid%20Jami%27%20Al-Sofwa%0D%0AAl-Sofwah-%20Tidak%20kurang%20dari%20500%20muslimin%20dan%20muslimat%20menghadiri%20Kajian%20Sehari%20Bimbingan%20Praktis%20Pengurusan%20Jenazah%20yang%20diselenggarakan%20di%20Masjid%20Jami%E2%80%99%20Al-Sofwa%20pada%20Ahad%2016%20Oktober%202011.%20Pada%20kajian%20kali%20ini%2C%20tampil%20s" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/dowload-makalah-kajian-bimbingan-praktis-pengurusan-jenazah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mu&#8217;amalat Ribawi dan Bahayanya (Bagian 1)</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/muamalat-ribawi-dan-bahayanya-bagian-1/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/muamalat-ribawi-dan-bahayanya-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Oct 2011 04:32:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Halal-Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[bank riba]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>
		<category><![CDATA[ribawi]]></category>
		<category><![CDATA[utang riba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=2072</guid>
		<description><![CDATA[Mu&#8217;amalat Ribawi dan Bahayanya Muqaddimah. Muamalat Maliyah adalah medan hidup yang sudah tersentuh oleh tangan-tangan manusia sejak jaman klasik, bahkan jaman purbakala. Setiap orang membutuhkan harta yang ada ditangan orang lain. Hal ini membuat manusia berusaha membuat beragam cara pertukaran, bermula dengan kebiasaan melakukan tukar menukar barang yang disebut barter, berkembang menjadi sebuah sistem jual [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><strong><em>Mu&#8217;amalat</em> Ribawi dan Bahayanya</strong></h2>
<p><strong>Muqaddimah.</strong></p>
<p><em>Muamalat Maliyah</em> adalah medan hidup yang sudah tersentuh oleh tangan-tangan manusia sejak jaman klasik, bahkan jaman purbakala. Setiap orang membutuhkan harta yang ada ditangan orang lain. Hal ini membuat manusia berusaha membuat beragam cara pertukaran, bermula dengan kebiasaan melakukan tukar menukar barang yang disebut <strong>barter</strong>, berkembang menjadi sebuah sistem jual beli yang kompleks dan multidimensional. Bagaimana tidak. Karena semua pihak yang terlibat berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, dengan karakter dan pola pemikiran yang bermacam-macam, dengan tingkat pendidikan dan pemahaman yang tidak sama. Baik itu pihak pembeli atau penyewa, penjual atau pemberi sewaan, yang berhutang dan berpiutang, pemberi hadiah atau yang diberi, saksi, sekertaris atau juru tulis, hingga calo atau broker, kesemuanya adalah majemuk dari berbagai kalangan dengan berbagai latar belakang sosial dan pendidikannya yang variatif. Selain itu, transaksi muamalah maliyah juga semakin berkembang sesuai dengan tuntutan jaman. Sarana atau media dan fasilitator dalam melakukan transaksi juga kian hari kian canggih. Sementara komoditi yang diikat dalam satu transaksi juga semakin bercorak-ragam, mengikuti kebutuhan umat manusia yang semakin konsumtif dan semakin terikat tuntutan jaman yang juga kian berkembang.<br />
<span id="more-2072"></span><br />
Oleh sebab itu, <em>muamalah maliyah </em>yang sangat erat dengan perekonomian islam ini akan tampak urgensinya bila kita melihat salah satu bagiannya yaitu dunia bisnis perniagaan dan khususnya level menengah ke atas. Seorang yang memasuki dunia perbisnisan ini membutuhkan kepekaan yang tinggi, <em>feeling</em> yang kuat dan keterampilan yang matang serta pengetahuan yang komplit terhadap berbagai epistimologi terkait, seperti ilmu manajemen, akuntansi, perdagangan, bahkan perbankan dan sejenisnya. Atau berbagai ilmu yang secara tidak langsung juga dibutuhkan dalam dunia perniagaan modern, seperti komunikasi, informatika, operasi komputer, dan lain-lain. Itu dalam standar kebutuhan <em>businessman </em>(orang yang berwirausaha) secara umum.</p>
<p>Bagi seorang muslim, dibutuhkan syarat dan prasyaratan lebih untuk menjadi bisnisman dan pengelola modal yang berhasil. Karena seorang muslim selalu terikat –selain dengan kode etik ilmu perdagangan secara umum&#8211; dengan aturan dan syariat Islam dengan hukum-hukumnya yang komprehensif. Oleh sebab itu, tidak selayaknya seorang muslim memasuki dunia bisnis dengan pengetahuan kosong terhadap ajaran syariat, dalam soal jual beli misalnya. Karena yang demikian itu merupakan sasaran empuk ambisi syetan pada diri manusia untuk menjerumuskan seorang muslim dalam kehinaan.</p>
<p>Diantara permasalahan yang sering terjadi dan menimpa kaum muslimin dalam muamalat maliyah adalah permasalahan Riba. Sehingga sudah menjadi kewajiban orang yang masuk dalam muamalat ini untuk mengetahui permasalahan ini dengan baik dan jelas.</p>
<p><strong>Pengharaman Riba</strong></p>
<p>Diharamkannya riba berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul serta ijma&#8217; para ulama. Bahkan bisa dikatakan keharamannya sudah menjadi aksioma dalam ajaran Islam ini.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Dalil-dalil yang Mengharamkan Riba dari Al-Qur`an</span></strong></p>
<p>Al-Qur&#8217;an telah membicarakan riba dalam empat tempat terpisah; salah satunya adalah Ayat Makkiyyah, sementara tiga lainnya adalah Ayat-ayat Madaniyyah.</p>
<p>Dalam surat Ar-Ruum Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:</p>
<p class="arab">وَمَآءَاتَيْتُم مِّن رِّبًا لِيَرْبُوا فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلاَ يَرْبُوا عِندَ اللهِ وَمَآءَاتَيْتُم مِّن زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللهِ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ</p>
<p><em>“Dan sesuatu Riba (tambahan) yang kamu berikan agar Dia bertambah pada harta manusia, Maka Riba itu tidak menambah pada sisi Allah. dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, Maka (yang berbuat demikian) Itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).”</em> <strong><em>(QS. Ar-Ruum : 39)</em></strong><em></em></p>
<p>Ayat tersebut tidak mengandung ketetapan hukum pasti tentang haramnya riba. Karena kala riba memang belum diharamkan. Riba baru diharamkan di masa Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> di kota Al-Madinah. Hanya saja ini mempersiapkan jiwa kaum muslimin agar mampu menerima hukum haramnya riba yang terlanjur membudaya kala itu.</p>
<p>Dalam surat An-Nisaa, Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> berfirman:</p>
<p class="arab">} فَبِظُلْمٍ مِّنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبِيلِ اللهِ كَثِيرًا {160} وَأَخْذِهِمُ الرِّبَاوَقَدْنُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا {161}</p>
<p><em>“Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) Dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Dan disebabkan mereka memakan riba, Padahal Sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.” <strong>(QS. An-Nisaa’: 160-161)</strong></em></p>
<p>Ayat di atas menjelaskan diharamkannya riba terhadap orang-orang Yahudi. Ini merupakan pendahuluan yang amat gamblang, untuk kemudian baru diharamkan terhadap kalangan kaum muslimin. Ayat tersebut turun di kota Al-Madinah sebelum orang-orang Yahudi menjelaskannya.</p>
<p>Dalam surat Ali Imran Allah<em> Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman:</p>
<p class="arab">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُّضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan Riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” <strong>(QS. Ali Imraan: 130)</strong></em></p>
<p>Baru kemudian turun beberapa ayat pada akhir surat Al-Baqarah, yaitu:</p>
<p class="arab">الَّذِينَ يَأْكُلوُنَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَن جَآءَهُ مَوْعِظَةُُ مِّن رَّبِّهِ فَانتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللهِ وَمَنْ عَادَ فَأُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ {275} يَمْحَقُ اللهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللهُ لاَ يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ {276} إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَءَاتَوُا الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ {277} يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَذَرُوا مَابَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ {278} فَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِّنَ اللهِ وَرَسُولِهِ وَإِن تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لاَ تَظْلِمُونَ وَلاَ تُظْلَمُونَ {279}</p>
<p><em>“Orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan Riba dan menyuburkan sedekah. dan Allah tidak menyukai Setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa Riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak Menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. <strong>(QS. Al-Baqarah: 275-279)</strong></em></p>
<p>Ayat-ayat ini adalah ayat-ayat tentang riba yang terakhir diturunkan dalam Al-Qur&#8217;an Al-Karim.</p>
<p>=Bersambung <em>insya Allah</em>=</p>
<p><strong>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, L.c.<br />
Artikel <a href="http://ustadzkholid.com/" target="_self">www.UstadzKholid.com</a></strong></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/muamalat-ribawi-dan-bahayanya-bagian-1/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/muamalat-ribawi-dan-bahayanya-bagian-1/&amp;title=Mu%27amalat+Ribawi+dan+Bahayanya+%28Bagian+1%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/muamalat-ribawi-dan-bahayanya-bagian-1/&amp;title=Mu%27amalat+Ribawi+dan+Bahayanya+%28Bagian+1%29" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/muamalat-ribawi-dan-bahayanya-bagian-1/&amp;t=Mu%27amalat+Ribawi+dan+Bahayanya+%28Bagian+1%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/muamalat-ribawi-dan-bahayanya-bagian-1/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Mu%27amalat+Ribawi+dan+Bahayanya+%28Bagian+1%29+-+http://ustadzkholid.com/fiqih/muamalat-ribawi-dan-bahayanya-bagian-1/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/muamalat-ribawi-dan-bahayanya-bagian-1/&amp;title=Mu%27amalat+Ribawi+dan+Bahayanya+%28Bagian+1%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/muamalat-ribawi-dan-bahayanya-bagian-1/&amp;title=Mu%27amalat+Ribawi+dan+Bahayanya+%28Bagian+1%29" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Mu%27amalat+Ribawi+dan+Bahayanya+%28Bagian+1%29+-+http://bit.ly/qZTfBD&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Mu%27amalat+Ribawi+dan+Bahayanya+%28Bagian+1%29&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/muamalat-ribawi-dan-bahayanya-bagian-1/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Mu%27amalat%20Ribawi%20dan%20Bahayanya%0D%0AMuqaddimah.%0D%0A%0D%0AMuamalat%20Maliyah%20adalah%20medan%20hidup%20yang%20sudah%20tersentuh%20oleh%20tangan-tangan%20manusia%20sejak%20jaman%20klasik%2C%20bahkan%20jaman%20purbakala.%20Setiap%20orang%20membutuhkan%20harta%20yang%20ada%20ditangan%20orang%20lain.%20Hal%20ini%20membuat%20manusia%20berusaha%20membuat%20beragam%20cara%20pertukaran" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/muamalat-ribawi-dan-bahayanya-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Harta di Akhirat II</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/harta-di-akhirat/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/harta-di-akhirat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Oct 2011 06:06:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=2067</guid>
		<description><![CDATA[Pahala Harta Yang Digunakan di Jalan Allah. 1. Pahala orang yang menginfakkan hartanya dijalan Allah. Allah berfirman, الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُم بِالَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلاَنِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ &#8220;Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, Maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Pahala Harta Yang Digunakan di Jalan Allah.</h2>
<p>1. Pahala orang yang menginfakkan hartanya dijalan Allah.<br />
Allah berfirman,</p>
<p class="arab">الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُم بِالَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلاَنِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ</p>
<p><em>&#8220;Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, Maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.&#8221;</em> (QS. Al-Baqarah: 274)</p>
<p>Dalam ayat ini Allah menganjurkan kita untuk segera menginfakkan harta dijalan kebaikan, baik dipagi, siang dan malam hari, baik secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi. Lalu menjanjikan 3 hal: pahala dari Allah, keamanan dan kebahagian.<br />
<span id="more-2067"></span><br />
Rasulullah pernah menyampaikan pahala infak dijalan Allah ini dalam satu hadits yang berbunyi,</p>
<p class="arab">جَاءَ رَجُلٌ بِنَاقَةٍ مَخْطُومَةٍ فَقَالَ هَذِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكَ بِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَبْعُ مِائَةِ نَاقَةٍ كُلُّهَا مَخْطُومَةٌ</p>
<p><em>&#8220;Datang seorang membawa onta yang sudah ada tali kekangnya, lalu berkata: Ini untuk dipergunakan dijalan Allah. Maka Rasulullah menjawab: Kamu mendapatkannya di hari kiamat berupa tujuh ratus onta semuanya ada tali kekangnya.&#8221; </em>(HR. Muslim).</p>
<p>Imam an-Nawawi dalam<em> Syarah Shahih Muslim</em> menyatakan: &#8220;Ada yang menyatakan bahwa maksudnya adalah pahala tujuh ratus onta dan bisa jadi sesuai zhahirnya sehingga ia mendapatkan tujuh ratus onta bertali kekang yang setiap ontanya dapat ia kendarai umtuk tamasya di surga.&#8221; (<em>Syarah Shahih Muslim</em> 13/38).</p>
<p>2.  Pahala orang yang berjihad dijalan Allah dengan hartanya.<br />
Allah mengkhabarkan dan menunjukkan kaum mukminin kepada perniagaan yang pasti untung diakherat dan didunia juga dan mensifatkannya sebagai perniagaan terbaik, yaitu J<em>ihad fi sabilillah</em>.<br />
Allah berfirman,</p>
<p class="arab">يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ {10} تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرُُ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ {11} يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ {12} وَأُخْرَى تُحِبُّونَهَا نَصْرُُ مِّنَ اللهِ وَفَتْحُُ قَرِيبُُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ {13</p>
<p><em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah &#8216;Adn. Itulah keberuntungan yang besar. dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.</em>&#8221; (QS. Ash-Shaf 10-13).</p>
<p>Demikianlah Allah berikan pahalanya sampai-sampai orang yang hanya membiayai perlengkapannya mendapatkan pahala yang berperang dijalan Allah. Rasulullah pernah bersanbda dalam hal ini,</p>
<p class="arab">مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فَقَدْ غَزَا وَمَنْ خَلَفَ غَازِيًا فِي أَهْلِهِ بِخَيْرٍ فَقَدْ غَزَا</p>
<p><em>&#8220;Siapa yang menyiapkan perlengkapan orang yang berperang maka ia telah berperang dan diapa yang mengurusi keluarga yang ditinggal orang yang berperang maka telah berperang.</em>&#8221; (HR Al-Bukhari). Dalam riwayat lainnya,</p>
<p class="arab">مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِ الْغَازِي شَيْئًا</p>
<p><em>&#8220;Siapa yang memperlengkapi orang yang berperang dijalan Allah maka ia mendapatkan pahala seperti pahalanya tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.&#8221;</em> (HR. ibnu Majah).</p>
<p>Alangkah beruntungnya orang yang memiliki harta lalu dipergunakan untuk membiayai orang yang berjihad dijalan Allah! Pahala yang besar seperti pahala orang yang berperang dijalan Allah yang dijanjikan dalam sabda beliau,</p>
<p class="arab">تَكَفَّلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِمَنْ جَاهَدَ فِي سَبِيلِهِ لَا يُخْرِجُهُ إِلَّا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِهِ وَتَصْدِيقُ كَلِمَتِهِ بِأَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ أَوْ يَرُدَّهُ إِلَى مَسْكَنِهِ الَّذِي خَرَجَ مِنْهُ مَعَ مَا نَالَ مِنْ أَجْرٍ أَوْ غَنِيمَةٍ</p>
<p><em>&#8220;Allah bertanggung jawab memberi kepada orang yang berjihad di jalanNya yang tidak mengeluarkannya kecuali jihad dijalan Allah dan membenarkan kalimatNya dengan memasukkannya kedalam syurga atau mengembalikannya ketempat tinggalnya yang ia keluar darinya dengan membawa pahala dan rampasan perang yang diperolehnya.</em>&#8221; (HR. Muslim).</p>
<p>3.    Pahala orang yang bersedakah dijalan Allah.<br />
Rasulullah pernah menceritakan bahwa seorang hamba menemui Allah di hari kiamat nanti tanpa ada antaranya dengan Allah penterjemah dan Allah berfirman kepada hambaNya tersebut,</p>
<p class="arab">أَلَمْ أُعْطِكَ مَالًا وَأُفْضِلْ عَلَيْكَ فَيَقُولُ بَلَى فَيَنْظُرُ عَنْ يَمِينِهِ فَلَا يَرَى إِلَّا جَهَنَّمَ وَيَنْظُرُ عَنْ يَسَارِهِ فَلَا يَرَى إِلَّا جَهَنَّمَ قَالَ عَدِيٌّ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقَّةِ تَمْرَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ شِقَّةَ تَمْرَةٍ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ</p>
<p><em>Bukankah aku telah berikan kepadamu harta dan aku utamakan kamu? Maka hamba tersebut menjawab: Iya. Lalu ia melihat kesebelah kanannya, ternyata tidak melihat kecuali neraka jahannam dan melihat kekiri, ternyata tidak melihat kecuali neraka jahannam. Sahabat ‘Adi berkata: Aku mendengar Nabi bersabda: Bertakwalah dari neraka walaupun dengan setengah kurma. Siapa yang tidak mendapatkan separuh kurma maka dengan perkataan baik.</em> (HR. Al-Bukhari).</p>
<p>Disini jelaslah Nabi menjelaskan bahwa orang yang akan dilindungi dari neraka adalah orang yang bersedekah dengan sedikit atau banyak hartanya. Sebab Allah melipat gandakan pahala sedekah hingga sedekah yang sedikit menjadi banyak seperti gunung. Hal ini dijelaskan dalam sabda beliau,</p>
<p class="arab">مَا تَصَدَّقَ أَحَدٌ بِصَدَقَةٍ مِنْ طَيِّبٍ &#8211; وَلاَ يَقْبَلُ اللَّهُ إِلاَّ الطَّيِّبَ &#8211; إِلاَّ أَخَذَهَا الرَّحْمَنُ بِيَمِينِهِ وَإِنْ كَانَتْ تَمْرَةً فَتَرْبُو فِى كَفِّ الرَّحْمَنِ حَتَّى تَكُونَ أَعْظَمَ مِنَ الْجَبَلِ</p>
<p><em>&#8220;Tidaklah seorang bershadaqah dari sesuatu yang baik –Allah tidak menerima kecuali yang baik- kecuali Allah akan mengambilnya dengan tangan kananNya. Apabila berbentuk korma maka akan berlipat ganda di tangan Allah hingga lebih besar dari gunung.&#8221;</em> (HR. Muslim).</p>
<p>Siapa yang Allah lindungi dari neraka dengan sebab sedekahnya didunia yang Allah lipat gandakan pahalanya dengan sebab diinfaqkan dalam mencari keridhaanNya atau dengan sebab shodaqah jariyahnya, maka Allah yang akan menyiapkan tempatnya disyurga. Inilah yang Allah firmankan,</p>
<p class="arab">وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلاَنِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُوْلَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ {22} جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنْ ءَابَآئِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلاَئِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍ {23} سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ</p>
<p><em>&#8220;Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang Itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) syurga &#8216;Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikAt-malaikat masuk ke tempAt-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): &#8220;Salamun &#8216;alaikum bima shabartum.” Maka Alangkah baiknya tempat kesudahan itu.</em>&#8221; (QS. Ar-Ra’d : 22-24)</p>
<p>4.    Pahala Orang yang mengeluarkan harta yang dicintainya.<br />
Allah berfirman,</p>
<p class="arab">وَءَاتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقاَمَ الصَّلَوةَ وَءَاتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَآءِ وَالضَّرَّآءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ</p>
<p><em>&#8220;Memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.&#8221;</em> (QS. Al-Baqarah:177</p>
<p>5.    Pahala Orang yang sabar atas ujian hartanya.<br />
Orang-orang yang Allah uji dalam harta mereka di kehidupan dunia ini, lalu bersabar dan bertakwa kepada Allah maka Allah akan membalasnya dengan sempurna tanpa hitungan.  seperti Allah firmankan,</p>
<p class="arab">لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًىكَثِيرًا وَإِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ اْلأُمُور</p>
<p><em>&#8220;Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. jika kamu bersabar dan bertakwa, Maka Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk urusan yang patut diutamakan.</em>&#8221; (QS. Alimran: 186)</p>
<p>6.    Pahala orang yang mendahulukan ibadah atas hartanya<br />
Allah berfirman,</p>
<p class="arab">يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاَةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرُُ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ</p>
<p><em>&#8220;Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum&#8217;at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.&#8221;</em> (QS. Al-Jum’ah : 9).</p>
<p>Orang-orang yang taat dengan meninggalkan jual beli dan bersegera beribadah kepada Allah, akan Allah balas dengan yang lebih baik dari perniagaan mereka tersebut. Allah berfirman,</p>
<p class="arab">قُلْ مَاعِندَ اللهِ خَيْرُُ مِّنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ وَاللهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ</p>
<p><em>Katakanlah: &#8220;Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan&#8221;, dan Allah Sebaik-baik pemberi rizki.</em>&#8221; (QS. Al-Jum’ah : 11).</p>
<p>7.    Pahala orang yang menangguhkan penagihan hutan dan memaafkan hutang.<br />
Allah telah perintahkan kita semua untuk bersabar pada orang yang pailit yang tidak mampu membayar hutang dan memperpanjang tempo pembayaran seperti dalam firman Allah,</p>
<p class="arab">وَإِن كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرُُ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ</p>
<p><em>&#8220;Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, Maka berilah tangguh sampai Dia berkelapangan. dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.</em>&#8221; (QS. Al-Baqarah:280)</p>
<p>Bahkan menyatakan bahwa memaafkan hutang-hutang itu lebih baik lagi.<br />
Rasulullah pernah menjelaskna pahala orang yang berbuat demikian dalam sabdanya,</p>
<p class="arab">مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ لَهُ أَظَلَّهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَحْتَ ظِلِّ عَرْشِهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ</p>
<p><em>Siapa yang menangguhkan pembayaran hutang orang yang tidak mampu membayar atau memaafkan hutangnya maka Allah akan naungi dia di hari kiamat dibawah naungan arsyNya di hari yang tidak ada naungan kecuali naunganNya.</em> (HR At-Tirmidzi dan dishahihkan Al-Albani dalam shahih At-Tirmidzi no. 1052)</p>
<p>Bahkan sikap ini bisa menjadi sebab masuk syurga seperti dijelaskan rasulullah dalam sabdanya,</p>
<p class="arab">إِنَّ رَجُلًا كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ أَتَاهُ الْمَلَكُ لِيَقْبِضَ رُوحَهُ فَقِيلَ لَهُ هَلْ عَمِلْتَ مِنْ خَيْرٍ قَالَ مَا أَعْلَمُ قِيلَ لَهُ انْظُرْ قَالَ مَا أَعْلَمُ شَيْئًا غَيْرَ أَنِّي كُنْتُ أُبَايِعُ النَّاسَ فِي الدُّنْيَا وَأُجَازِيهِمْ فَأُنْظِرُ الْمُوسِرَ وَأَتَجَاوَزُ عَنْ الْمُعْسِرِ فَأَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya seorang dari umat sebelum kalian telah didatangi malaikat untuk mencabut ruhnya. Lalu ia ditanya: Apakah kau telah mengamalkan satu kebaikan? Ia menjawab: aku tidak tahu. Ia berkata: Lihatlah! Ia menjawab: Tidaklah aku mengetahui sesuatu kecuali aku pernah berjualan kepada orang didunia dan aku membalas mereka (dengan kebaikan), aku tangguhkan hutang orang yang mampu me</em>mbayar dan aku maafkan hutangku dari orang yang tidak mampu membayar. Lalu Allah memasukkannya kedalam syurga.&#8221;</p>
<p>Demikianlah beberapa perkara yang penting diketahui tentang amalan berupa harta yang dapat dijadikan sebab kebaikan dunia dan akherat.</p>
<p>Semoga bermanfaat.</p>
<p><strong>Penulis Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.ustadzkholid.com/">www.UstadzKholid.com</a></strong></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/harta-di-akhirat/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/harta-di-akhirat/&amp;title=Harta+di+Akhirat+II" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/harta-di-akhirat/&amp;title=Harta+di+Akhirat+II" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/harta-di-akhirat/&amp;t=Harta+di+Akhirat+II" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/harta-di-akhirat/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Harta+di+Akhirat+II+-+http://ustadzkholid.com/fiqih/harta-di-akhirat/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/harta-di-akhirat/&amp;title=Harta+di+Akhirat+II" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/harta-di-akhirat/&amp;title=Harta+di+Akhirat+II" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Harta+di+Akhirat+II+-+http://bit.ly/qKzYGp&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Harta+di+Akhirat+II&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/harta-di-akhirat/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Pahala%20Harta%20Yang%20Digunakan%20di%20Jalan%20Allah.%0D%0A1.%20Pahala%20orang%20yang%20menginfakkan%20hartanya%20dijalan%20Allah.%0D%0AAllah%20berfirman%2C%0D%0A%D8%A7%D9%84%D9%91%D9%8E%D8%B0%D9%90%D9%8A%D9%86%D9%8E%20%D9%8A%D9%8F%D9%86%D9%81%D9%90%D9%82%D9%8F%D9%88%D9%86%D9%8E%20%D8%A3%D9%8E%D9%85%D9%92%D9%88%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%8E%D9%87%D9%8F%D9%85%20%D8%A8%D9%90%D8%A7%D9%84%D9%91%D9%8E%D9%8A%D9%92%D9%84%D9%90%20%D9%88%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%86%D9%91%D9%8E%D9%87%D9%8E%D8%A7%D8%B1%D9%90%20%D8%B3%D9%90%D8%B1%D9%91%D9%8B%D8%A7%20%D9%88%D9%8E%D8%B9%D9%8E%D9%84%D8%A7%D9%8E%D9%86%D9%90%D9%8A%D9%8E%D8%A9%D9%8B%20%D9%81%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%87%D9%8F%D9%85%D9%92%20%D8%A3%D9%8E%D8%AC%D9%92%D8%B1" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/harta-di-akhirat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Transaksi dan Rukunnya Menurut Islam</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/transaksi-dan-rukunnya-menurut-islam/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/transaksi-dan-rukunnya-menurut-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Sep 2011 03:29:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=2052</guid>
		<description><![CDATA[Transaksi dan Rukunnya Menurut Islam Manusia telah mengenal ihwal akad sejak dahulu kala. Bukan suatu hal yang aneh, jika ada orang yang mengikat dirinya dengan transaksi yang harus dilaksanakan saat itu juga atau beberapa waktu berikutnya. Namun belum diketahui secara pasti bagaimana pemikiran untuk mengadakan transaksi itu muncul dan faktor dominan yang melatarbelakanginya. Semua yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Transaksi dan Rukunnya Menurut Islam</p>
<p>Manusia telah mengenal ihwal akad sejak dahulu kala. Bukan suatu hal yang aneh, jika ada orang yang mengikat dirinya dengan transaksi yang harus dilaksanakan saat itu juga atau beberapa waktu berikutnya. Namun belum diketahui secara pasti bagaimana pemikiran untuk mengadakan transaksi itu muncul dan faktor dominan yang melatarbelakanginya. Semua yang diungkap dalam masalah ini hanyalah perkiraan semata.</p>
<p>Sebagian pakar ekonomi memandang bahwa transaksi yang dikenal pertama kali yaitu barter tunai. Yaitu ketika butuh sesuatu, ia menukar barang miliknya dengan barang orang lain yang dia butuhkan. Kemudian transaksi ini mengalami perkembangan sesuai dengan keonsep pemikiran dan agama yang berkembang pada suatu masyarakat, sampai Islam membawa konsep akad transaksi yang indah dan istimewa.<br />
<span id="more-2052"></span></p>
<h3>Urgensi dan Pengertian Akad Transaksi</h3>
<p><em>Urgensi akad transaksi dalam hubungan antar manusia.</em></p>
<p>Manusia sebagai makhluk sosial pasti butuh pada orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Ini berarti, setiap orang pasti butuh untuk hidup bersama dengan orang disekelilingnya.  Allah yang Maha Pengasih dan Maha Tahu memberikan anugerah kepada manusia dengan menciptakan alam semesta untuk mereka. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>اللهُ الَّذِي سَخَّرَ لَكُمُ الْبَحْرَ لِتَجْرِيَ الْفُلْكُ فِيهِ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا مِن فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ {12} وَسَخَّرَ لَكُم مَّافِي السَّمَاوَاتِ وَمَافِي اْلأَرْضِ جَمِيعًا مِّنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لأَيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ .13</strong><strong> </strong></p>
<p><em> “Allah</em><em>-lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal berlayar padanya dengan seizin-Nya, dan </em><em>supaya kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur. Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.” </em>(QS. Al-Jatsiyah/45:12-13)<em> </em></p>
<p>Setiap orang mendapatkan rezeki dan kemudahan yang berbeda-beda. Dan apa yang sudah  menjadi milik orang, maka itu tidak boleh direbut atau diambil kecuali dengan transaksi yang dibenarkan syari&#8217;at. Khususnya yang terkait dengan pengelolaan dana (harta). Akad atau transaksi itu teramat penting. Transaksi inilah yang mengatur hubungan antar pihak yang terlibat. Transaksi itu juga yang mengikat hubungan itu di masa sekarang dengan hubungan tersebut di masa akan datang. Karena dasar hubungan itu adalah penampakan sikap ridha dan pelaksanaan semua yang menjadi orientasi kedua transaktor (orang yang melakukan transaksi), yang dijelaskan dalam komitmen transaksionalnya, kecuali bila menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal, atau mengandung unsur pelanggaran terhadap hukum-hukum Allah. Warisan ilmu fikih yang kita miliki memuat berbagai rincian dan penetapan dasar-dasar transaksi-transaksi tersebut sehingga dapat merealisasikan tujuannya, memenuhi kebutuhan umat pada saat yang sama, serta melahirkan bagi umat Islam beberapa kaidah dan persepsi untuk digunakan memoles kebutuhan moderen kita.</p>
<p>Semakin jelas rincian dan kecermatan dalam membuat transaksi, maka peluang konflik dan pertentangan yang mungkin timbul di masa mendatang semakin kecil. Dari sini, seorang muslim mestinya tertantang untuk serius memperhatikan masalah transaksi, mulai dari menyusun konsep, managemen dan mensukseskannya. Karena Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ</strong></p>
<p><em>Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu.</em> (QS. Al-Maidah/5:1)</p>
<p>Oleh sebab itu, sangat diperlukan penjelasan umum tentang hukum-hukum yang berkaitan dengan transaksi, terutama saat berbagai transaksi menggiurkan bermunculan seperti jamur di musim hujan. Antusias masyarakat luas dan respon positip mereka telah mengecoh banyak kaum Muslimin untuk ikut andil. Padahal seharusnya sebagai seorang Muslim, kita harus melihat dan menimbangnya dengan aturan agama kita. Jika tidak bertentang dengan prinsip agama dan berminat, baru ikut andil. Jika bertentangan, maka tinggalkanlah meski nafsu sangat menginginkannya.</p>
<h3>Definisi Akad (Transaksi)</h3>
<p>Secara bahasa, kata “akad” berasal dari bahasa arab <em>al-‘Aqd</em> yang dipergunakan dalam banyak makna, yang keseluruhannya kembali ke makna ikatan atau penggabungan dua hal<a href="#_ftn1">[1]</a>.</p>
<p>Bila kita memperhatikan pernyataan dan pendapat Ulama ahli fikih seputar definisi akad, kita dapati bahwa akad itu memiliki dua makna yaitu makna umum dan makna khusus. Dalam maknanya yang umum, akad adalah semua komitmen yang ingin dilaksanakan oleh manusia dan menimbulkan hukum syar’i.<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Pengertian ini mencakup semua jenis komitmen, baik yang berasal dari dua pihak atau lebih seperti akad jual-beli, sewa-menyewa dan akad nikah serta yang sejenisnya; ataupun komitmen yang berasal dari satu pihak saja, seperti akad sumpah, nadzar, talak, akad memberikan hadiah, shadaqah dan lain-lainnya, termasuk komitmen pribadi untuk melaksanakan semua kewajiban agama dan meninggalkan semua larangan dalam agama.</p>
<p>Menurut para ahli tafsir, makna inilah yang terkandung dalam firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ</strong></p>
<p><em>Wa</em><em>hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu</em><em>.</em> (QS. al-Maidah/5:1)</p>
<p>Ibnul Arabi rahimahullah menyatakan, &#8220;Ikatan transaksi (akad) terkadang berhubungan dengan Allah, terkadang dengan manusia dan terkadang dengan lisan serta terkadang dengan perbuatan.&#8221;<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Bahkan syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t memasukkan komitmen untuk membebaskan budak, akad wala’, ketaatan, nadzar dan sumpah dalam kategori akad. Bahkan beliau juga menyebut kesepakatan damai antara kaum Muslimin dan orang-orang kafir sebagai akad.<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Pengertian akad secara umum ini digunakan para Ulama ahli fikih ketika menjelaskan hukum-hukum umum yang melekat pada suatu akad.</p>
<p>Sedangkan akad dalam maknanya yang khusus, didefinisikan oleh para Ulama dengan beragam definisi yang hampir sama.  Semua definisi itu tercakup dalam pengertian berikut, yaitu :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>رَبْطُ إِيْجَابِ بِقَبُوْلٍ أَوْ مَا يَقُوْمُ مَقَامَهُمَا عَلَى وَجْهٍ مَشْرُوْعٍ</strong></p>
<p><em>(akad adalah) transaksi yang ditandai dengan </em><em>î</em><em>j</em><em>a</em><em>b</em><a href="#_ftn5"><em><strong>[5]</strong></em></a><em> dan qab</em><em>û</em><em>l</em><a href="#_ftn6"><em><strong>[6]</strong></em></a><em> atau yang mewakili keduanya yang dilaksanakan sesuai dengan syari’at.</em><a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Definisi akad dalam maknanya yang khusus inilah yang langsung terfahami sebagai definisi akad dalam fikih <em>muamalat maliyah</em>.</p>
<h3>Rukun-rukun Akad (Transaksi)</h3>
<p>Sebelum membahas rukun akad, perlu diketahui bahwa pembahasan ini berkenaan langsung dengan akad atau transaksi dalam maknanya yang khusus bukan yang umum.</p>
<p>Dalam maknanya yang khusus, akad memiliki tiga rukun yaitu dua pihak yang melakukan akad (al-aqid), obyek</p>
<p>akad (<em>mahallul ‘aqd</em>), serta pelafalan (<em>shighah</em>) akad. Berikut perinciannya</p>
<p><strong>Pertama:</strong> Dua pihak yang melakukan akad (Transaktor).</p>
<p>Maksudnya adalah dua orang yang terlibat langsung dalam transaksi. Kedua orang ini harus memenuhi syarat sehingga transaksinya dianggap sah. Syarat-syarat tersebut adalah :</p>
<ol>
<li><em>Rasyîd</em> (mampu membedakan mana yang baik dan yang buruk untuk dirinya). Ini ditandai dengan akil baligh dan tidak dalam keadaan tercekal. Orang yang tercekal karena dianggap ediot atau bangkrut total, jika melakukan akad maka akadnya tidak sah.</li>
<li>Sukarela  dan tidak terpaksa. Akad yang dilakukan dibawah paksaan tidak sah.</li>
<li>Akad itu dianggap berlaku  dan berkekuatan hukum, apabila tidak memiliki <em>khiyar</em> (hak pilih/opsi). Seperti <em>khiyar syarath</em> (hak pilih menetapkan persyaratan), <em>khiyar ‘aib</em> dan sejenisnya. <a href="#_ftn8">[8]</a></li>
</ol>
<p><strong>Kedua :</strong> Obyek Akad (<em>Mahallul Aqd/ al-Ma’qûd ‘alaihi</em>).</p>
<p>Sesuatu yang menjadi obyek akad, terkadang berupa harta benda, barang dan terkadang non barang atau berupa manfaat (jasa). Misalnya barang yang dijual dalam akad jual beli, atau yang disewakan dalam akad sewa-menyewa dan sejenisnya.</p>
<p>Obyek ini juga harus memenuhi syarat, baru dikatakan akadnya sah. Syarat-syarat itu adalah :</p>
<p><strong>1.</strong> Obyek akad adalah suatu yang bisa ditransaksikan sesuai syariat. Syarat ini disepakati para Ulama fikih. Penulis <em>Bidayatul Mujtahid</em> (2/166), Ibnu Rusyd t mengatakan, &#8220;(Jika obyek akad itu) barang, maka (syaratnya adalah) boleh diperjual-belikan. … sedangkan (jika obyek akad itu adalah) manfaat (jasa) maka harus dari sesuatu yang tidak dilarang syari&#8217;at. Dalam masalah ini, ada beberapa masalah yang telah disepakati dan ada yang masih diperselisihkan. Diantara yang sudah disepakati (oleh para Ulama&#8217;) adalah batalnya akad sewa-menyewa atas semua manfaat (jasa) yang digunakan untuk sesuatu yang zatnya haram. Demikian juga semua manfaat (jasa) yang diharamkan oleh syariat, seperti upah menangisi jenazah dan upah para penyanyi. Berdasarkan ini, apabila obyek akad itu tidak bisa ditransasikan secara syariat, maka akadnya tidak sah. Misalnya pada akad <em>Mu’awadhah</em> (transaksi bisnis), maka yang menjadi obyek haruslah barang yang bernilai, sepenuhnya milik transaktor dan tidak terkait dengan hak orang lain.  Berdasarkan ini, para Ulama ahli fiqih melarang beberapa bentuk transaksi berikut:</p>
<ol>
<li>Jika obyek akadnya adalah manusia yang merdeka (non budak), karena orang yang merdeka bukan harta, sehingga tidak boleh diperjualbelikan dan tidak boleh dijadikan jaminan hutang.</li>
<li>Jika obyek akadnya adalah sesuatu yang najis, seperti bangkai, anjing dan babi. Juga semua barang yang suci yang berubah menjadi najis yang tidak mungkin disucikan lagi, seperti cuka, susu dan benca cair lainnya yang terkena najis. Namun jika bisa dibersihkan, maka itu boleh dijadikan sebagai obyek akad.</li>
<li>Jika obyeknya adalah barang yang tidak dapat dimanfaatkan, baik yang tidak dapat dimanfaatkan dalam bentuk nyata, seperti serangga atau tidak dapat dimanfaatkan karena dilarang syariat, seperti alat musik.<a href="#_ftn9">[9]</a> Karena fungsi legal dari suatu komoditi menjadi dasar nilai dan harga komoditi tersebut. Komoditi yang tidak berguna ibarat barang rongsokan yang tidak dapat dimanfaatkan. Atau bermanfaat tetapi untuk hal-hal yang diharamkan, seperti minuman keras dan sejenisnya, semuanya itu tidak dapat jadikan obyek akad.<a href="#_ftn10">[10]</a></li>
</ol>
<p><strong>2.</strong> Obyek akad itu ada ketika akad dilakukan.</p>
<p><strong>3.</strong> Obyek transaksi bisa diserahterimakan. Barang yang tidak ada atau ada tapi tidak bisa diserahterimakan, tidak sah dijadikan sebagai obyek akad.</p>
<p><strong>4. </strong>Jika obyeknya adalah barang yang diperjualbelikan secara langsung, maka traksaktor harus mengetahui wujudnya. Dan harus diketahui ukuran, jenis dan kriterianya, apabila barang-barang itu berada dalam kepemilikan transaktor namun barang tersebut tidak ada di lokasi transaksi, seperti dalam jual beli <em>as-Salam</em>, berdasarkan sabda Nabi n ,&#8221;Barangsiapa yang melakukan jual beli <em>As-Salm</em>, hendaknya ia menjual barangnya dalam satu takaran yang jelas atau timbangan yang jelas, dalam batas waktu yang jelas..&#8221;</p>
<p><strong>Ketiga: </strong>Kalimat Transaksi (<em>shighat al-Akad</em>)</p>
<p>Yang dimaksudkan adalah ungkapan atau yang mewakilinya yang bersumber dari transaktor untuk menunjukkan keinginannya terhadap keberlangsungan transaksi dan sekaligus mengisyaratkan keridhaannya terhadap akad tersebut. Para Ulama ahli fiqih membahasakannya dengan <em>îjab</em> dan <em>qabûl</em> (serah terima) <a href="#_ftn11">[11]</a>, namun mereka berbeda pendapat tentang definisi ijab dan qabûl. Menurut madzhab hanafiyyah, ijab adalah kalimat transaksi yang diucapkan sebelum qabûl, baik bersumber dari pihak pemilik barang (dalam akad jual-beli, sewa-menyewa) ataupun bersumber dari pembeli (jika dalam akad jual beli).</p>
<p>Sementara menurut jumhur Ulama, <em>î</em><em>j</em><em>a</em><em>b</em> adalah statemen penyerahan dan <em>qab</em><em>û</em><em>l</em> adalah statemen penerimaan. Sehingga menurut jumhur Ulama, <em>ij</em><em>a</em><em>b</em> itu mestinya diucapkan oleh orang pemilik barang pertama, seperti penjual, pemberi sewaan, wali calon isteri dan lain sebagainya. Dan <em>qab</em><em>û</em><em>l</em> karena dia adalah penerimaan, maka msertinya berasal dari orang yang akan menjadi pemilik kedua, seperti pembeli, penyewa, calon suami dan lain sebagainya. Jadi, pemilik pertama yang mengucapkan ijab sementara calon pemilik kedua yang mengucapkan qabûl.</p>
<p>Pada dasarnya ketika seseorang hendak mengungkapkan keinginannya, maka yang dia pergunakan adalah untaian kata-kata. Sehingga lafazh dan untaian kata-kata adalah cara utama dalam mengungkapkan keinginan. Namun ini terkadang bisa diwakili dengan yang lainnya seperti isyarat, tulisan, surat dan saling memberi dan lain sebagainya. Oleh karena itu <em>shighat</em> (kalimat transaksi) ini dapat dilakukan dengan dua cara :</p>
<p><strong>1. Dengan <em>shighat qauliyah</em> (ucapan lisan).</strong> Ini yang dinamakan <em>î</em><em>j</em><em>a</em><em>b</em> <em>Qab</em><em>û</em><em>l</em>. <em>Ij</em><em>a</em><em>b qab</em><em>û</em><em>l</em> ini dapat diwujudkan dengan tulisan atau utusan perwakilan. Apabila seorang menulis kepada pihak kedua lalu mengirimnya dengan faks atau mengirim orang untuk membawa faktur penjualan lalu pihak kedua menerimanya di majlis akad maka akad jual beli itu sah.</p>
<p>Dalam <em>ij</em><em>a</em><em>b qab</em><em>û</em><em>l</em> disyaratkan beberapa syarat diantaranya :</p>
<p><strong>a. </strong>Ada relevansi antara<em> qab</em><em>û</em><em>l</em> dan <em>î</em><em>j</em><em>a</em><em>b</em><a href="#_ftn12">[12]</a> dalam masalah ukuran, kriteria, pembayaran dan tempo. Jika tidak relevan, maka akad itu tidak sah. Misalnya, penjual menyatakan, &#8220;Saya jual rumah ini seharga 300 juta.&#8221;,  lalu pembeli menjawab, &#8220;Saya terima rumah ini seharga 250 juta.&#8221; , maka akad seperti ini tidak sah.</p>
<p>Apabila <em>qab</em><em>û</em><em>l</em> menyelisihi kandungan <em>î</em><em>j</em><em>a</em><em>b</em> maka akad atau transaksinya tidak sah.</p>
<p>Namun bila <em>qab</em><em>û</em><em>l</em> menyelisihi <em>î</em><em>j</em><em>a</em><em>b</em> demi kebaikan orang yang mengucapkan <em>î</em><em>j</em><em>a</em><em>b</em> maka para Ulama menyatakannya sebagai akad yang sah. Misalnya, seorang wali mengucapkan <em>î</em><em>j</em><em>a</em><em>b</em> dengan menyatakan, “Saya nikahkan engkau dengan anak saya dengan mahar 50 ribu dolar”. lalu sang mempelai lelaki menjawab dalam qabulnya, &#8220;Saya terima nikahnya dengan mahar 100 ribu dolar”. Akad ini bisa diterima dan sah karena isinya mendatangkan kemaslahatan bagi pengijab. Bahkan ini semakin menunjukkan keridhaan pihak penerima.</p>
<p><strong>b.</strong> Ijab dan qabûl bersambung dan ini terwujud dalam satu majlis atau dalam satu lokasi. Karena <em>î</em><em>j</em><em>a</em><em>b</em> itu hanya bisa dianggap bagian dari transaksi bila ia bersambung dengan <em>qab</em><em>û</em><em>l</em>. Perlu dicatat, bahwa kesamaan lokasi tersebut disesuaikan dengan kondisi jaman. Transaksi itu bisa berlangsung melalui pesawat telpon. Dalam kondisi demikian, lokasi tersebut adalah masa berlangsungnya percakapan via telpon. (bagaimana dengan akad nikah) Selama percakapan itu masih berlangsung, dan line telpon masing tersambung, berarti kedua belah pihak masih berada dalam lokasi transaksi. Ada pengecualian atas syarat ini, karena adanya sebagian transaksi tidak bisa dan tidak menjadi syarat terjadinya qabul di satu majlis, diantaranya:</p>
<ul>
<li>Akad wasiat (transaksi wasiat). Ijab dalam akad ini dilakukan saat pemberi wasiat masih hidup dan <em>qab</em><em>û</em><em>l</em> dari pihak penerima wasiat tidak akan dianggap kecuali setelah orang yang berwasiat meninggal dunia. Akad wasiat menjadi tidak sah apabila serah terima barang yang diwasiatkan dilakukan di majlis <em>î</em><em>j</em><em>a</em><em>b</em> atau setelahnya selama pemberi wasiat masih hidup.<a href="#_ftn13">[13]</a></li>
<li>Akad <em>Wash</em><em>a</em><em>yah</em> yaitu akad penyerahan wewenang setelah kematian orang yang memiliki kewenangan tersebut. Seperti untuk melunasi hutang, mengembalikan barang titipan. Orang yang diberi wewenang dinamakan <em>washiy</em> dan seseorang tidak anggap <em>washiy</em> kecuali setelah yang memberikan wewenang itu meninggal. Karena dalam akad <em>wash</em><em>a</em><em>yah</em> tidak disyaratkan <em>î</em><em>j</em><em>a</em><em>b</em> dan <em>qab</em><em>û</em><em>l</em> itu dalam satu majlis.<a href="#_ftn14">[14]</a></li>
<li>Akad Wakalah.</li>
</ul>
<p><strong>c. </strong>Antara <em>î</em><em>j</em><em>a</em><em>b</em> dan <em>qab</em><em>û</em><em>l</em> tidak diselingi jeda waktu lama yang mengisyaratkan ketidakinginan salah satu pihak.</p>
<p>Tidak ada indikasi yang menunjukkan penolakan atau pengunduran diri dari pihak kedua merupakan syarat, karena jika indikasi itu ada, maka bisa membatalkan <em>î</em><em>j</em><em>a</em><em>b</em>. Kalau beberapa saat setelah ada indikasi penolakan itu baru ada <em>qab</em><em>û</em><em>l</em>, maka <em>qab</em><em>û itu </em>sudah tidak berguna lagi. Karena tidak terkait lagi dengan <em>î</em><em>j</em><em>a</em><em>b</em> sebelumnya secara tegas.</p>
<p><strong>d.</strong> Kedua belah pihak mendengar ucapan <em>î</em><em>j</em><em>a</em><em>b qab</em><em>û</em><em>l</em>. Apabila jual beli menggunakan saksi maka pendengaran saksi cukup untuk mengesahkan jual beli tersebut.</p>
<p><strong>e.</strong> <em>Ij</em><em>a</em><em>b</em> masih berlaku sampai ada <em>qab</em><em>û</em><em>l</em> dari pihak kedua. Kalau pihak pertama telah menarik îjabnya, lalu setalah itu ada <em>qab</em><em>û</em><em>l</em>, maka <em>qab</em><em>û</em><em>l</em> seperti ini dianggap <em>qab</em><em>û</em><em>l</em> tanpa îjab dan tidak diperhitungkan.</p>
<p><strong>2. Dengan <em>shighatul fi’liyah</em> (dengan perbuatan)</strong> dinamakan juga <em>al-mu’athah</em> yaitu serah terima tanpa ucapan. Seperti orang yang membeli barang yang sudah jelas harganya lalu ia ambil barang dan menyerahkan uang pembayaran. Ini sering terjadi di supermarket dan toko-toko zaman ini. Demikian juga aktifitas jual beli via bursa efek, dimana akad transaksi terjadi dalam hitungan menit bahkan detik dengan aturan dan sisitem yang telah disepakati perusahan dan orang-orang yang bertransaksi untuk menunjukkan keridhaan. Maka ini semua sah apabila sudah ada nota kesepakatan antara perusahaan yang terkait dengan penjual dan pembeli atas satu sistem yang mengungkapkan keridhaan semua pihak. Seperti nomor kartu visa via internet.</p>
<p>Demikian sebagian pembahasan tentang transaksi dan rukunnya dalam islam semoga bermanfaat.</p>
<p><strong>Referensi :</strong></p>
<ol>
<li><em>Al-Mughni</em> karya Ibnu  Quddamah.</li>
<li><em>Raudhatuth Th</em><em>a</em><em>lib</em><em>î</em><em>n</em> karya Imam an-Nawawi</li>
<li><em>Al-Majm</em><em>û</em><em>’ Syarhul Muhadzdzab</em> karya imam an-Nawawi</li>
<li><em>Aqs</em><em>a</em><em>mul Uq</em><em>û</em><em>d fil Fiqhil Isl</em><em>a</em><em>mi</em>, karya Hanan bintu Muhammad Husein Jastaniyah</li>
<li>Dll.</li>
</ol>
<p>****</p>
<p><strong>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, L.c.</strong></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://ustadzkholid.com/" target="_blank">www.UstadzKholid.com</a></strong></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Ikatan itu sendiri bisa bermakna kongkrit. Itulah makna sebenarnya. Seperti dalam bahasa Arab, &#8220;<em>aqadtu al-habl</em>&#8220;  yakni saya buhul dan saya hubungkan antara dua ujungnya. Namun ikatan juga bisa bermakna abstrak seperti ikatan jual-beli.<br />
<a href="#_ftnref2">[2]</a> <em>Aqsâmul Uqûd</em> 1/43<br />
<a href="#_ftnref3">[3]</a> <em>Ahkâmul Qur`ân</em>, 2/526<br />
<a href="#_ftnref4">[4]</a> Lihat <em>al-Qawâ&#8217;idun Nûrâniyah</em>, hlm. 73.<br />
<a href="#_ftnref5">[5]</a> Ungkapan penyerahan dari pihak pertama, misalnya, &#8220;Saya menjual barang ini kepada anda&#8221;<br />
<a href="#_ftnref6">[6]</a> Ungkapan penerimaan dari pihak kedua, misalnya, &#8220;Saya beli barang anda&#8221;<br />
<a href="#_ftnref7">[7]</a> Lihat <em>at-Ta’rîfât</em> karya al-Jurjâni, hlm. 166<br />
<a href="#_ftnref8">[8]</a> Tentang khiyaar telah kami sampaikan dalam rubrik fikih majalah Assunnah edisi / /  dan edisi / / /<br />
<a href="#_ftnref9">[9]</a> Lihat <em>al-Majm</em><em>û</em><em>’ Syarhul Muhadzdzab</em> karya imam an-Nawawi, 9/238-240.<br />
<a href="#_ftnref10">[10]</a> Yang perlu diingat di sini, bahwa satu barang dikatakan bermanfaat atau tidak, itu bisa berubah melalui perkembangan jaman. Sampah misalnya, dahulu dianggap sebagai barang rongsokan yang tidak dapat dimanfaatkan. Namun dalam kehidupan modern sekarang ini, sampah dapat digunakan dalam produksi pupuk dan sejenisnya. Maka komoditi ini tidak lagi dianggap sebagai barang rongsokan.<br />
<a href="#_ftnref11">[11]</a> <em>Aqsâmul Uqûd</em> 1/59<br />
<a href="#_ftnref12">[12]</a> Lihat <em>Raudhatuth Th</em><em>â</em><em>lib</em><em>î</em><em>n</em> karya Imam an-Nawawi, 3/342<br />
<a href="#_ftnref13">[13]</a> Lihat al-Mughni 6/444<br />
<a href="#_ftnref14">[14]</a> Lihat al-Mughni 6/467</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/transaksi-dan-rukunnya-menurut-islam/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/transaksi-dan-rukunnya-menurut-islam/&amp;title=Transaksi+dan+Rukunnya+Menurut+Islam" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/transaksi-dan-rukunnya-menurut-islam/&amp;title=Transaksi+dan+Rukunnya+Menurut+Islam" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/transaksi-dan-rukunnya-menurut-islam/&amp;t=Transaksi+dan+Rukunnya+Menurut+Islam" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/transaksi-dan-rukunnya-menurut-islam/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Transaksi+dan+Rukunnya+Menurut+Islam+-+http://ustadzkholid.com/fiqih/transaksi-dan-rukunnya-menurut-islam/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/transaksi-dan-rukunnya-menurut-islam/&amp;title=Transaksi+dan+Rukunnya+Menurut+Islam" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/transaksi-dan-rukunnya-menurut-islam/&amp;title=Transaksi+dan+Rukunnya+Menurut+Islam" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Transaksi+dan+Rukunnya+Menurut+Islam+-+http://bit.ly/pqxeQJ&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Transaksi+dan+Rukunnya+Menurut+Islam&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/transaksi-dan-rukunnya-menurut-islam/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Transaksi%20dan%20Rukunnya%20Menurut%20Islam%0D%0A%0D%0AManusia%20telah%20mengenal%20ihwal%20akad%20sejak%20dahulu%20kala.%20Bukan%20suatu%20hal%20yang%20aneh%2C%20jika%20ada%20orang%20yang%20mengikat%20dirinya%20dengan%20transaksi%20yang%20harus%20dilaksanakan%20saat%20itu%20juga%20atau%20beberapa%20waktu%20berikutnya.%20Namun%20belum%20diketahui%20secara%20pasti%20bagaimana%20pemikiran%20u" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/transaksi-dan-rukunnya-menurut-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dowload Kajian: Membangun Ekonomi Umat</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/membangun-ekonomi-umat/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/membangun-ekonomi-umat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Sep 2011 07:24:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Download Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=2050</guid>
		<description><![CDATA[Kajian berisi tentang bagaimana solusi membangun ekonomi umat. Semoga dengan kajian ini bermanfaat bagi kita semua. Berikut link download mp3: Membangun Ekonomi Umat Artikel www.UstadzKholid.com Subscribe to the comments for this post? Share this on del.icio.us Digg this! Share this on Facebook Post on Google Buzz Share this on Plurk Share this on Reddit Stumble [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kajian berisi tentang bagaimana solusi membangun ekonomi umat. Semoga dengan kajian ini bermanfaat bagi kita semua.</p>
<p>Berikut link download mp3:<br />
<span id="more-2050"></span><br />
<a href="http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Kholid%20Syamhudi/Membangun%20Ekonomi%20Umat/Membangun%20Ekonomi%20Umat.mp3?l=12" target="_blank"><strong>Membangun Ekonomi Umat</strong></a></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://ustadzkholid.com/" target="_self">www.UstadzKholid.com</a></strong></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/membangun-ekonomi-umat/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/membangun-ekonomi-umat/&amp;title=Dowload+Kajian%3A+Membangun+Ekonomi+Umat+" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/membangun-ekonomi-umat/&amp;title=Dowload+Kajian%3A+Membangun+Ekonomi+Umat+" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/membangun-ekonomi-umat/&amp;t=Dowload+Kajian%3A+Membangun+Ekonomi+Umat+" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/membangun-ekonomi-umat/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Dowload+Kajian%3A+Membangun+Ekonomi+Umat++-+http://ustadzkholid.com/fiqih/membangun-ekonomi-umat/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/membangun-ekonomi-umat/&amp;title=Dowload+Kajian%3A+Membangun+Ekonomi+Umat+" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/membangun-ekonomi-umat/&amp;title=Dowload+Kajian%3A+Membangun+Ekonomi+Umat+" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Dowload+Kajian%3A+Membangun+Ekonomi+Umat++-+http://bit.ly/oXsFnZ&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Dowload+Kajian%3A+Membangun+Ekonomi+Umat+&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/membangun-ekonomi-umat/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Kajian%20berisi%20tentang%20bagaimana%20solusi%20membangun%20ekonomi%20umat.%20Semoga%20dengan%20kajian%20ini%20bermanfaat%20bagi%20kita%20semua.%0D%0A%0D%0ABerikut%20link%20download%20mp3%3A%0D%0A%0D%0AMembangun%20Ekonomi%20Umat%0D%0A%0D%0AArtikel%20www.UstadzKholid.com" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/membangun-ekonomi-umat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Daging Anjing dan Memeliharanya</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-daging-anjing-dan-memeliharanya/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-daging-anjing-dan-memeliharanya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Sep 2011 08:00:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bantahan]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Halal-Haram]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=2047</guid>
		<description><![CDATA[Daging Anjing Halalkah? Seiring dengan tingkat kemajuan dan meningkatkan kebutuhan manusia terhadap segala sesuatu, maka banyak pula usaha yang dilakukan oleh manusia dengan kemampuan yang dimiliki untuk menggali segala yang diciptakan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui penelitian, pengkajian dan lain-lain, sehingga hasilnya nanti dapat membantu manusia memecahkan persoalan hidup yang terus berkembang dalam segala aspek [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Daging Anjing Halalkah?</h2>
<p>Seiring dengan tingkat kemajuan dan meningkatkan kebutuhan manusia terhadap segala sesuatu, maka banyak pula usaha yang dilakukan oleh manusia dengan kemampuan yang dimiliki untuk menggali segala yang diciptakan Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> melalui penelitian, pengkajian dan lain-lain, sehingga hasilnya nanti dapat membantu manusia memecahkan persoalan hidup yang terus berkembang dalam segala aspek kehidupan.</p>
<p>Di antara berbagai macam persoalan yang seringkali menimpa manusia adalah persoalan kesehatan, makanan dan keuangan serta kesenangan. Secara alami manusia selalu mencari cara agar dapat bertahan guna memenuhi kebutuhan tersebut. namun persoalanya adalah sejauh mana cara yang dilakukan manusia tersebut berguna dan bermanfaat bagi dirinya tanpa harus melakukan dan mengerjakan sesuatu yang bertentangan dengan syariat. Namun demikian, seiring dengan perkembangan zaman dan kompleksnya persoalan hidup, akhirnya manusia berhadapan dengan jalan dimana mereka harus menentukan pilihan hidup. kemudian, manusia dituntut untuk mengambil sikap, jalan mana yang harus ditempuh. Hal ini semakin kompleks dengan jauhnya mereka dari tuntunan ajaran islam yang suci, sehingga mereka mengambil kesenangan dan makanan tanpa melihat lagi kehalalan dan keharamannya.<br />
<span id="more-2047"></span><br />
<strong>Memelihara Anjing</strong></p>
<p>Saat ini, begitu seringnya kita menyaksikan dan mendengar orang yang memelihara anjing. Bahkan sebagian orang mengistimewakannya melebihi manusia, tidur bersamanya dan diberi makanan melebihi makanan manusia. Padahal memelihara anjing tanpa satu kebutuhaan, seperti menjaga rumah, kebun, hewan ternak dan berburu tidak diperbolehkan. Hal ini dijelaskan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam sabdanya:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>مَنِ اقْتَنَى كَلْبًا إِلاَّ كَلْبَ مَاشِيَةٍ أَوْ كَلْبَ صَيْدٍ نَقَصَ مِنْ عَمَلِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطٌ</strong></p>
<p>“<em>Barangsiapa memelihara anjing selain anjing untuk menjaga binatang ternak dan anjing untuk berburu, maka amalannya berkurang setiap harinya sebanyak satu qiroth (satu qiroth adalah sebesar gunung uhud)</em>.” (HR. Muslim). ‘Abdullah mengatakan bahwa Abu Hurairah juga mengatakan, “<em>Atau anjing untuk menjaga tanaman.</em>”</p>
<p>Juga sabda beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>أَيُّمَا أَهْلِ دَارٍ اتَّخَذُوا كَلْبًا إِلاَّ كَلْبَ مَاشِيَةٍ أَوْ كَلْبَ صَائِدٍ نَقَصَ مِنْ عَمَلِهِمْ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطَانِ</strong></p>
<p>“<em>Rumah mana saja yang memelihara anjing selain anjing untuk menjaga binatang ternak atau anjing untuk berburu, maka amalannya berkurang setiap harinya sebanyak dua qiroth (satu qiroth adalah sebesar gunung uhud)</em>.” (HR. Muslim).</p>
<p>Demikian juga Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>مَنْ أَمْسَكَ كَلْبًا فَإِنَّهُ يَنْقُصُ كُلَّ يَوْمٍ مِنْ عَمَلِهِ قِيْرَاطٌ إِلاَّ كَلْبَ حَرْثٍ أَوْ مَاشِيَةٍ</strong></p>
<p>“<em>Barangsiapa memelihara anjing, maka amalan Shalehnya akan berkurang setiap harinya sebesar satu qiroth (satu qiroth adalah sebesar gunung uhud), selain anjing untuk menjaga tanaman atau hewan ternak</em>.”<br />
Ibnu Sirin dan Abu Shaleh mengatakan dari Abu Hurairah bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengatakan,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>إِلاَّ كَلْبَ غَنَمٍ أَوْ حَرْثٍ أَوْ صَيْدٍ</strong></p>
<p>“<em>Selain anjing untuk menjaga hewan ternak, menjaga tanaman atau untuk berburu</em>.”</p>
<p>Abu Hazim mengatakan dari Abu Hurairah bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>كَلْبَ صَيْدٍ أََوْ مَاشِيَةٍ</strong></p>
<p>”<em>Selain anjing untuk berburu atau anjing untuk menjaga hewan ternak</em>.” (HR. Bukhari)</p>
<p>Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>مَنِ اقْتَنَى كَلْبًا إِلاَّ كَلْبَ مَاشِيَةٍ أَوْ ضَارِى نَقَصَ مِنْ عَمَلِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطَانِ</strong></p>
<p>“<em>Barangsiapa memelihara anjing selain anjing untuk menjaga binatang ternak, maka amalannya berkurang setiap harinya sebanyak dua qiroth (satu qiroth adalah sebesar gunung uhud)</em>.” (HR. Muslim: 23 Kitab Al Masaqoh).<br />
iman An-Nawawi t memandang haramnya memelihara anjing sengan membuat bab dari kitab Riyadh ash-Shalihin, bab<em> Haramnya Memelihara Anjing Selain Untuk Berburu, Menjaga Hewan Ternak atau Menjaga Tanaman. (lihat Bahjah anNazhirin 3/187)</em></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin mengatakan, “<span style="text-decoration: underline;">Adapun memelihara anjing dihukumi haram bahkan perbuatan semacam ini termasuk dosa besar -<em>Wal ‘iyadzu billah</em>-</span>. Karena seseorang yang memelihara anjing selain anjing yang dikecualikan (sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits di atas, pen), maka akan berkurang pahalanya dalam setiap harinya sebanyak 2 qiroth (satu qiroth = sebesar gunung Uhud).” (Syarh Riyadhus Shalihin</p>
<p><strong>Najisnya Air Liur Anjing</strong></p>
<p>Air liur anjing adalah najis berdasarkan hadits Abu Hurairah <em>radhiallahu ‘anhu</em>, bahwassanya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sabda,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>إِذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِي إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيُرِقْهُ ثُمَّ لِيَغْسِلْهُ سَبْعَ مِرَارٍ </strong></p>
<p>Bila seekor anjing minum dari wadah milik kalian, maka buanglah lalu cucilah 7 kali. (HR Bukhari no 418, Muslim no. 422). Didalam riwayat lainnya:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>طَهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ</strong></p>
<p>Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda<em>,`Sucinya wadah kalian yang dimasuki mulut anjing adalah dengan mencucinya 7 kali, salahsatunya dengan tanah.”</em> (HR. Muslim 420 dan Ahmad 2/427)</p>
<p>Seluruh ulama sepakat bahwa air liur anjing itu najis, bahkan sebagian ulama memandang levelnya adalah najis yang berat (<em>mughallazhah</em>). Sebab untuk mensucikannya harus dengan air tujuh kali dan salah satunya dengan menggunakan tanah. Siapa yang menentang hukum ini, maka dia telah menentang Allah dan rasul-Nya. Sebab Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah menegaskan kenajisan air liur anjing itu.</p>
<p>Prof. Thabaroh dalam kitab <em>Ruuh ad-Din al-Islaami</em> menyatakan: “Diantara hukum islam dalam perlindungan badan adalah penetapan najisnya anjing. Ini adalah mukjizat ilmiyah yang dimiliki islam yang mendahului kedokteran modern. Dimana kedokteran modern menetapkan bahwa anjing menyebarkan banyak penyakit kepada manusia, Karena anjing mengandung cacing pita yang menularkannya kepada manusai dan menjadi sebab manusai menderita penyakit yang berbahaya, bisa sampai mematikan. Sudah ditetapkan bahwa seluruh anjing tidak lepas dari cacing pita sehinga wajib menjauhkanya dari semua yang memiliki hubungan dengan makanan dan minuman manusia.<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<h3>Hukum Jual Beli Anjing.</h3>
<p>Tidak diperbolehkan menjual anjing dan hasil penjualannya pun tidak halal, baik itu anjing penjaga, anjing untuk berburu atau lainnya.<a href="#_ftn2">[2]</a> Yang demikian itu didasarkan pada apa keumuman hadits yang diriwayatkan Abu Mas&#8217;ud <em>radhiallahu ‘anhu</em> beliau berkata:</p>
<p style="text-align: right;"><strong> أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَمَهْرِ الْبَغِيِّ وَحُلْوَانِ الْكَاهِنِ</strong></p>
<p>&#8220;Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melarang hasil penjualan anjing, mahar (hasil) pelacur, dan upah dukun.” <a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<h3>Hukum Memakan Anjing</h3>
<p>Berkembang dewasa ini disebagian kota di Negara ini, rumah makan dengan label “<em>Sate Jamu</em>” atau “<em>Rica-rica jamu</em>” yang memberikan pengertian rumah makan makanan dari daging <a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/liur-anjing/" target="_blank">anjing</a>. Semaraknya ini masih didukung sebagian kelompok kaum muslimin yang menghalalkannya. Lalu bagaimana sebenarnya?</p>
<p>Mayoritas ulama muslimin mengharamkan makan daging anjing, walaupun disembelih secara syar’i apalagi bila dibunuh dengan cara-cara yang melanggar syari’at. Ada beberapa argumen yang disampaikan mereka berkenaan dengan keharaman daging anjing ini.</p>
<p>1. Anjing terhitung dari <em>As-Siba’</em> (hewan buas) yang memiliki taring untuk memangsa korbannya. Sedangkan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah melarangnya dalam beberapa hadits, yaitu:</p>
<p>Hadits Abu Hurairah <em>radhiallahu ‘anhu</em> yang berbunyi , bahwasanya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah bersabda:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>كُلُّ ذِي نَابَ مِنْ السِّبَاعِ فَأَكْلُهُ حَرَامٌ</strong></p>
<p><em>“Semua yang memiliki gigi taring dari hewan buas maka memakannya haram. “</em><a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Hadits ibnu Abbas <em>radhiallahu ‘anhu</em> yang berbunyi:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ أَكْلِ كُلِّ ذِي نَابٍ مِنْ السِّبَاعِ </strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang makan semua hewan buas yang bertaring.”</em><a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Berdasarkan hadits-hadits ini, maka harimau, singa, srigala, burung garuda, dan juga anjing haram dimakan.</p>
<p>2. Adanya larangan dari memanfaatkan hasil penjualan anjing, menunjukkan keharaman mengkonsumsi dagingnya, sebagaimana disampaikan bahwa :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَمَهْرِ الْبَغِيِّ وَحُلْوَانِ الْكَاهِنِ</strong></p>
<p><em>&#8220;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang hasil penjualan anjing, mahar (hasil) pelacur, dan upah dukun&#8221;.</em> <a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Kalau harganya terlarang, maka dagingnya pun haram.</p>
<p>Sebagaimana dalam sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah kalau mengharamkan kepada suatu kaum memakan sesuatu  maka (Allah) haramkan harganya atas mereka.”<a href="#_ftn7"><strong>[7]</strong></a></em></p>
<p>3. Ayat yang menerangkan pembatasan hewan yang diharamkan yaitu firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>قُل لآأَجِدُ فِي مَآأُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلاَّ أَن يَّكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلاَعَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ</strong></p>
<p><em>Katakanlah: &#8220;Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepada-Ku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi &#8211; karena Sesungguhnya semua itu kotor &#8211; atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam Keadaan terpaksa, sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&#8221;</em> (Qs. Al-An’aam:6/145)</p>
<p>Ayat ini adalah Makkiyah yang turun sebelum hijroh bertujuan membantah orang-orang jahiliyah yang mengharamkan Al-Bahirah, As-Saa`ibah , Al-Washiilah dan Al-Haam. Kemudian setelah itu Allah dan Rasul-Nya mengharamkan banyak hal, seperti daging keledai, daging bighal dll. Termasuk didalamnya semua hewan buas yang bertaring.</p>
<p>Ayat diatas tidak lain hanyalah memberitakan bahwa tidak ada di waktu itu yang diharamkan kecuali yang disebutkan dalam ayat tersebut. Kemudian baru turun setelahnya wahyu yang mengharamkan semua hewan buas bertaring, sehingga wajib diterima dan diamalkan.</p>
<p>Syeikh Prof. DR. shalih bin Abdillah Al-fauzaan –<em>Hafizhahullah</em>- merajihkan pengharaman semua hewan buas yang bertaring menukilkan pernyataan syeikh Muhammad Al-Amien Asy-Syinqity yang menyatakan: Semua yang sudah absah pengharamannya dengan jalan periwayatan yang shahih dari Al-Qur`an atau As-Sunnah maka ia haram dan ditambahkan kepada empat yang diharamkan dalam ayat tersebut. Hal ini tidak bertentangan dengan Al-Qur`an, karena sesuatu yang diharamkan diluar ayat tersebut dilarang setelahnya. Memang pada waktu turunnya ayat tersebut tidak ada yang diharamkan kecuali empat tersebut. Pembatasannya sudah pasti benar ada sebelum pengharaman yang lainnya. Apabila muncul pengharaman  sesuatu selainnya dengan satu perintah yang baru , maka hal itu tidak menafikan pembatasan yang pertama.<a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Kebenaran  pendapat yang mengharamkan ini dikuatkan juga dengan tinjauan medis bahwa anjing memiliki cacing pita yang berbahaya bagi manusia. Ditambah lagi dengan air liur anjing yang najis, sehingga setidaknya anjing meminum air liurnya yang najis dan memperngaruhi dagingnya. Padahal Rasululah n melarang kita memakan daging hewan yang mengkonsumsi najis dan kotoran, sebagaimana dalam hadits yang berbunyi:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْلِ الْجَلَّالَةِ وَأَلْبَانِهَا </strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melarang makan hewan Al-Jilaalah (pemakan najis dan kotoran) dan susunya.<a href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Dengan demikian sangat jelas sekali keharaman daging anjing. Apalagi realitanya banyak orang yang memakan daging anjing yang tidak disembelih secara syar’i.</p>
<p>Semoga  ini semua  dapat membantu menjelaskna permasalahan yang selama ini muncul di masyarakat mengenai keharaman anjing (<em>kalb</em>).</p>
<p><strong>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, L.c.</strong></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://ustadzkholid.com/" target="_blank">www.UstadzKholid.com</a></strong></p>
<p><strong>****<br />
</strong></p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li><em>Bahjah      an-Nazhirin syarah Riyadh as-Shalihin</em>, Saalim      bin Ied Al-Hilali, Dar ibnu Al-Jauzi.</li>
<li><em>Ath’imah      Syeikh Shalih bin Fauzan</em> , Maktabah      Al-Ma’arif</li>
<li><em>Shahih      fikih Sunnah,</em> Abi Maalik Kamaal bin As-Sayyid saalim,      Maktabah Taufiqiyah, mesir</li>
<li><em>Taudhih      al-Ahkaam Syarh al-Bulugh all-Maram</em>,      Syeikn Abdullah bin Abdurrahman Ali Basaam, Maktabah Al-Asadi.Makkah.</li>
</ol>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> <em>Taudhih al-Ahkam,</em> Syeikh Ali Basaam, 1/137.<br />
<a href="#_ftnref2">[2]</a> <em>Fatwaa </em><em>Al-Lajnah Ad-Daa-imah Lil Buhuuts Al-Ilmiyah Wal Ifta</em>, Pertanyaan ke-1 dari Fatwa Nomor 6554<br />
<a href="#_ftnref3">[3]</a> Diriwayatkan oleh Imam, Ahmad 4/118-119, 120, Al-Bukhari 7/28 dan Muslim no. 1567.<br />
<a href="#_ftnref4">[4]</a> HR. muslim 1933<br />
<a href="#_ftnref5">[5]</a> HR. Muslim no. 1934<br />
<a href="#_ftnref6">[6]</a> Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari 3/43 dan Muslim 3/198 no 1567 serta Abu Dawud 3/753 nomor 3481. At-Tirmidzi 3/439 dan An-Nasaa-i VII/309 nomor 4666<br />
<a href="#_ftnref7">[7]</a> Diriwayatkan oleh imam Ahmad dalam Musnadnya 1/247, 293 dan 322 dan Abu Daud no.3488,<br />
<a href="#_ftnref8">[8]</a> Kitab al-Ath’imah hlm 56-60.<br />
<a href="#_ftnref9">[9]</a> HR at-Tirmidzi no. 1747.</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-daging-anjing-dan-memeliharanya/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-daging-anjing-dan-memeliharanya/&amp;title=Hukum+Daging+Anjing+dan+Memeliharanya" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-daging-anjing-dan-memeliharanya/&amp;title=Hukum+Daging+Anjing+dan+Memeliharanya" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-daging-anjing-dan-memeliharanya/&amp;t=Hukum+Daging+Anjing+dan+Memeliharanya" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-daging-anjing-dan-memeliharanya/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Hukum+Daging+Anjing+dan+Memeliharanya+-+http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-daging-anjing-dan-memeliharanya/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-daging-anjing-dan-memeliharanya/&amp;title=Hukum+Daging+Anjing+dan+Memeliharanya" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-daging-anjing-dan-memeliharanya/&amp;title=Hukum+Daging+Anjing+dan+Memeliharanya" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Hukum+Daging+Anjing+dan+Memeliharanya+-+http://bit.ly/qeeU7x&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Hukum+Daging+Anjing+dan+Memeliharanya&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-daging-anjing-dan-memeliharanya/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Daging%20Anjing%20Halalkah%3F%0D%0ASeiring%20dengan%20tingkat%20kemajuan%20dan%20meningkatkan%20kebutuhan%20manusia%20terhadap%20segala%20sesuatu%2C%20maka%20banyak%20pula%20usaha%20yang%20dilakukan%20oleh%20manusia%20dengan%20kemampuan%20yang%20dimiliki%20untuk%20menggali%20segala%20yang%20diciptakan%20Allah%20Subhanahu%20wa%20Ta%E2%80%99ala%20melalui%20penelitian%2C%20pengkajian%20dan%20" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-daging-anjing-dan-memeliharanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Liur Anjing dan Cara Mensucikannya (Seri II)</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/liur-anjing/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/liur-anjing/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Sep 2011 03:10:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=2044</guid>
		<description><![CDATA[Telah kita bahas sebelumnya tentang takhrij hadis. وَعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ: طُهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيْهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ، أُوْلاَهُنَّ بِالتُّرَابِ أخْرَجَهُ مُسْلِمٌ وَفِيْ لَفظٍ لَهُ: &#8220;فَلْيُرِقْهُ&#8221; وَلِلتِّرْمِذِيِّ: &#8220;أُخْرَاهُنَّ، أَوْ أُوْلاَهُنَّ بِالتُّرَابِ&#8220; Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhuia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Telah kita bahas <a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/liur-anjing-dan-cara-mensucikannya/" target="_blank">sebelumnya</a> tentang takhrij hadis.</p>
<p style="text-align: right;"><strong>وَعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ: طُهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيْهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ، أُوْلاَهُنَّ بِالتُّرَابِ</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>أخْرَجَهُ مُسْلِمٌ</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>وَفِيْ لَفظٍ لَهُ: &#8220;فَلْيُرِقْهُ&#8221; وَلِلتِّرْمِذِيِّ: &#8220;أُخْرَاهُنَّ، أَوْ أُوْلاَهُنَّ بِالتُّرَابِ</strong>&#8220;</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radliallahu ‘anhu</em>ia berkata: Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah bersabda: <em>“Sucinya bejana kamu yang dijilat anjing adalah dengan cara mencucinya sebanyak tujuh kali dan yang pertama dengan tanah.”</em></p>
<p>Diriwayatkan oleh Muslim. Dan dalam suatu lafazhnya: “Hendaklah ia membuang air yang di bejana tersebut.” Dan dalam riwayTirmidziy dengan lafazh: “Salah satu bilasannya dengan tanah atau yang pertamanya.”<br />
<span id="more-2044"></span><br />
Selanjutnya pembahasan tentang:</p>
<p><strong>4. Masaa’il</strong></p>
<p>Ada beberapa masalah terkait dengan hadits ini, diantaranya:</p>
<p><strong>1.</strong><span style="text-decoration: underline;"> Apakah tambahan kata (فليرقه) shahih ataukah tidak?</span></p>
<p>Sebagian ahli hadits melemahkan lafazh (فليرقه) yang ada dari jalur periwayatan Ali bin Mushir dari al-A’masy dari Abu Razien dan Abu Shalih dari Abu Hurairah. Imam Muslim mengisyareatkan bersendirinya Ali bin Mushir dalam meriwayatkan lafazh ini. Imam an-Nasa’i menyataka: Saya tidak mengetahui ada seorang yang mendampingi Ali bin Mushir atas riwayat (فليرقه). (Sunan an-nasaa’i 1/53). Demikian juga semakna dengannya disampaikan ibnu mandah (lihat fathu al-baari 1/331)</p>
<p>Imam al-Iraqi menyatakan: Ini tidak merusaknya, karena tambahan dari tsiqah (ziyadah tsiqah) diterima menurut  pendapat mayoritas ulama&#8230;. Ali bin Mushir ini telah ditsiqahkan oleh Ahmad bin hambal, Yahya bin Ma’in, al-“ijli dan selain mereka. Beliau seorang huffazh yang dijadikan sandaran oleh syeikhain (al-Bukhari dan Muslim). Saya tidak tahu ada seorang yang mencelanya, sehingga kesendiriannya tersebut tidak berpengaruh. (Tharhu at-tatsrieb 2/121).</p>
<p>Sedang ibnu al-mulaqqin menyatakan: Kesendiriannya dalam meriwayatkan hal ini tidak bermasalah; karena  Ali bin Mushir adalah seorang imam, hafizh yang disepakati ketakwaannya dan jadi hujjah. Oleh karena itu ad-Daraquthni menyatakan setelah menyampaikan riwayat ini: Sanadnya hasan dan para perawinya Tsiqah (lihat Sunan ad-daraquthni 1/64). Ini juga diriwayatkan imamul aimmah Muhammad bin ishaq bin Khuzaimah dalam shahihnya (Shahih ibnu Khuzaimah no. 98) dan lafazhnya (فليهرقه) dan zhahir riwayat ini adalah kewajiban mnumpahkan air dan makanan&#8230;. (syarhu al-Umdah 1/306 dan al-Badru al-Munir 2/325).</p>
<p>Hadits dengan tambahan ini dihukumi shahih oleh syeikh al-Albani dalam Irwa’ al-Ghalil no. 167.</p>
<p><strong>2.</strong> <span style="text-decoration: underline;">Jumlah pencucian.</span></p>
<p>Terfahami dari hadits Abdullah bin Mughaffal bahwa mencucinya delapan kali, karena lafazh :</p>
<p>«وعفروه الثامنة بالتراب» sehingga ini menjadi dasar wajibnya mencuci delapan kali. Ibnu Abdilbarr menyatakan:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>(بهذا الحديث كان يفتي الحسن البصري، أن يُغسل الإناء سبع مرات والثامنة بالتراب، ولا أعلم أحداً كان يفتي بذلك غيره)</strong></p>
<p>Dengan dasar hadits ini al-Hasan al-bashri berfatwa mencuci bejana tujuh kali dan kedelapannya dengan menggunakan debu (tanah). Saya tidak mengetahui ada yang berfatwa demikian selain beliau. (at-tamhied 18/266). Nampaknya ibnu Abdilbarr menginginkan ulama-ulama terdahulu. Padahal ini juga pendapat yang diriwayatkan dari imam Ahmad, seperti dalam al-Mughni 1/73 dan dari Imam Maalik seperti dijelaskna dalam kitab at-talkhish 1/36)</p>
<p>Diantara ulama ada yang merajihkan hadits Abu Hurairah dan cuciannya hanya 7 kali. Mereka menjawab hadits Ibnu Mughaffal dengan beberapa jawaban:</p>
<ol>
<li>Cucian dijadikan delapan, karena tanah (debu) satu jenis bukan termasuk air, sehingga menjadikan bersatunya air dengan tanah dalam satu cucian dihitung dua. Sekan-akan tanah menduduki posisi satu cucian sehingga disebut kedelapan.</li>
<li>Abu Hurairah orang yang paling hafal hadits dizamannya, sehingga riwayatnya lebih didahulukan.</li>
</ol>
<p>Diantara ulama ada yang merajihkan hadits Ibnu Mughaffal; karena beliau menambah cucian kedelapan. Tambahan ini diterima khususnya dari beliau. Hal ini tidak mengapa karena mengamalkan pengertian yang terfahami dari nash dan berisi pengertian kehati-hatian.</p>
<p>Yang rajih pendapat pertama.</p>
<p><strong>3.</strong> <span style="text-decoration: underline;">Urutan pencucian dengan tanah (debu)</span>.</p>
<p>Disebutkan posisi pencucian dengan tanah dalam hadits-hadits yang kita bahas ini dalam beberapa sisi. Ada riwayat : «أُولاهن بالتراب»  , ada juga dengan lafazh: «وعفروه الثامنة بالتراب»   dan ada juga :  أولاهن أو أخراهن   serta ada juga dengan lafazh: «إحداهن» sedangkan dalam riwayat ath-Thahawi (Syarah Musykil al-Atsar 1/21) dengan lafazh: أولاها ـ أو السابعة ـ بالتراب . ini semua tidak masalah dan tidak mengharukan untuk menghilangkan pensyariatan penggunaan tanah hanya karena adanya perbedaan-perbedaan ini, sebagaimana pendapat madzhab hanafiyah dan Malikiyah (lihat Syarhu al-‘Umdah karya ibnul Mulaqqin 1/308 dan Tharhu At-tatsrieb 2/129-130). Hal ini karena masih bisa dirajihkan dengan merajihkan lafazh (أُولاهن) ; karena ia adalah riwayat Abu Hurairah dari jalan periwayatan Muhammad bin Sirin. Riwayat ibnu Sirin ini dibawakan oleh tiga perawi yaitu Hisyam bin Hisaan, Habieb bin asy-Syahied dan Ayub as-Sakhtiyaani. Imam Muslim mengeluarkan riwayat ini dari riwayat Hisyam. Riwayat ini rajih dengan tiga hal:</p>
<ol>
<li>Banyak perawinya</li>
<li>Salah seorang dari syeikhain (al-Bukhari dan Muslim) mengeluarkannya.</li>
<li>Dari sisi pengertiannya; karena pencucian dengan tanah lebih pas kalau pertama sebab dibutuhkan setelah pencucian dengan air yang menghilangkan sisa tanah tersebut. Beda kalau dijadikan yang ketujuh maka ia membutuhkan pencucian lagi setelahnya.</li>
</ol>
<p>Adapun riwayat at-tirmidzi yang berbunyi:أولاهن أو أُخراهن  apabila ia berasal dari pernyataan Nabi maka ini menunjukkan adanya pilihan antara keduanya. Apabila itu keraguan dari sebagian perawi maka terjadilah satu hal yang kontradiktif, sehingga kembali kepada tarjih dan yang rajih adalah yang pertama sebagaimana diatas. Diantara indikator ini adalah keraguan dari perawi hadits adalah adanya riwayat lain dalam sunan at-tirmidzi dengan lafazh: أولاهن ـ أو قال: أخراهن ـ بالتراب</p>
<p>Sedangkan riwayat (إحداهن) hal ini tidak ada dalam kutubussittah, adanya pada sunan ad-Daraquthni dan al-bazaar (lihat al-badru al-Munir 2/330). Hal ini tidak bertentangan dengan riwayat sebelumnya karena ia tidak ada penentuan bisa di yang pertama atau yang lainnya. Sehingga difahami dengan riwayat (أولاهن).</p>
<p>Demikian juga dengan hadits وعفروه الثامنة بالتراب maka kedelapan ini ditinjau pada tambahan atas tujuh kali cucian memakai air bukan sebagai yang terakhir. Dengan demikian inipun tidak menyelisihi riwayat-riwayat diatas.</p>
<p><em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p><strong>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.</strong></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://ustadzkholid.com/" target="_blank">www.UstadzKholid.com</a></strong></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/liur-anjing/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/liur-anjing/&amp;title=Liur+Anjing+dan+Cara+Mensucikannya+%28Seri+II%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/liur-anjing/&amp;title=Liur+Anjing+dan+Cara+Mensucikannya+%28Seri+II%29" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/liur-anjing/&amp;t=Liur+Anjing+dan+Cara+Mensucikannya+%28Seri+II%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/liur-anjing/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Liur+Anjing+dan+Cara+Mensucikannya+%28Seri+II%29+-+http://ustadzkholid.com/fiqih/liur-anjing/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/liur-anjing/&amp;title=Liur+Anjing+dan+Cara+Mensucikannya+%28Seri+II%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/liur-anjing/&amp;title=Liur+Anjing+dan+Cara+Mensucikannya+%28Seri+II%29" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Liur+Anjing+dan+Cara+Mensucikannya+%28Seri+II%29+-+http://bit.ly/rl57wR&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Liur+Anjing+dan+Cara+Mensucikannya+%28Seri+II%29&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/liur-anjing/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Telah%20kita%20bahas%20sebelumnya%20tentang%20takhrij%20hadis.%0D%0A%D9%88%D9%8E%D8%B9%D9%8E%D9%86%D9%92%20%D8%A3%D9%8E%D8%A8%D9%90%D9%8A%D9%92%20%D9%87%D9%8F%D8%B1%D9%8E%D9%8A%D9%92%D8%B1%D9%8E%D8%A9%D9%8E%20%D8%B1%D9%8E%D8%B6%D9%90%D9%8A%D9%8E%20%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%20%D8%B9%D9%8E%D9%86%D9%92%D9%87%D9%8F%20%D9%82%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%8E%3A%20%D9%82%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%8E%20%D8%B1%D9%8E%D8%B3%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%84%D9%8F%20%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%20%D8%B5%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%8E%D9%89%20%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%20%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%8A%D9%92%D9%87%D9%90%20%D9%88%D9%8E%D8%B3%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%85%D9%8E%3A%20%D8%B7%D9%8F%D9%87%D9%8F%D9%88%D8%B1%D9%8F%20%D8%A5%D9%90%D9%86%D9%8E%D8%A7%D8%A1%D9%90%20%D8%A3%D9%8E%D8%AD%D9%8E%D8%AF%D9%90%D9%83%D9%8F%D9%85%D9%92%20%D8%A5%D9%90%D8%B0%D9%8E%D8" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/liur-anjing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Liur Anjing dan Cara Mensucikannya (Seri I)</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/liur-anjing-dan-cara-mensucikannya/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/liur-anjing-dan-cara-mensucikannya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Aug 2011 06:55:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[liur anjing]]></category>
		<category><![CDATA[najis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=2040</guid>
		<description><![CDATA[Mensucikan Bejana Terkena Liur Anjing وَعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ: طُهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيْهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ، أُوْلاَهُنَّ بِالتُّرَابِ أخْرَجَهُ مُسْلِمٌ وَفِيْ لَفظٍ لَهُ: &#8220;فَلْيُرِقْهُ&#8221; وَلِلتِّرْمِذِيِّ: &#8220;أُخْرَاهُنَّ، أَوْ أُوْلاَهُنَّ بِالتُّرَابِ Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Mensucikan Bejana Terkena Liur Anjing</h2>
<p style="text-align: right;"><strong>وَعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ: طُهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيْهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ، أُوْلاَهُنَّ بِالتُّرَابِ</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>أخْرَجَهُ مُسْلِمٌ</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>وَفِيْ لَفظٍ لَهُ: &#8220;فَلْيُرِقْهُ&#8221; وَلِلتِّرْمِذِيِّ: &#8220;أُخْرَاهُنَّ، أَوْ أُوْلاَهُنَّ بِالتُّرَابِ</strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radliallahu </em><em>‘</em><em>anhu </em>ia berkata: Rasulullah <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam</em> telah bersabda: <em>“</em><em>Sucinya bejana kamu yang dijilat anjing adalah dengan cara mencucinya sebanyak tujuh kali dan yang pertama dengan tanah.</em><em>”</em></p>
<p>Diriwayatkan oleh Muslim. Dan dalam suatu lafazhnya: “Hendaklah ia membuang air yang di bejana tersebut.” Dan dalam riwayTirmidziy dengan lafazh: “Salah satu bilasannya dengan tanah atau yang pertamanya.”<br />
<span id="more-2040"></span><br />
<strong>1. <em>Takhrijul</em> Hadits : </strong></p>
<p>SHAHIH. Telah diriwayatkan oleh Muslim ( 1/162), Abu Dawud (no.71), Tirmidziy (no.91) , Nasaa-i(1/178), Ahmad (no.2/265,427,489,508) dan lain-lain banyak sekali yang salah satu <em>lafazh</em><em>-</em>nya seperti di atas . Dalam <em>lafazh</em> Tirmidziy :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>أُوْلاَهُنَّ أَوْ أُخْرَاهُنَّ بِالتُّرَابِ</strong></p>
<h4>“ Yang pertama atau salah satunya dicampur dengan tanah “</h4>
<p>Kemudian Abu Dawud –di dalam salah satu riwayatnya– (no.72), Tirmidziy (no.91), Thahawi dikitabnya <em>Syarah Ma</em><em>’</em><em>aa-nil Atsar </em>(1/19-20), Daruquthni (1/64,67,68) dan Baihaqiy (1/247-248) memberikan tambahan .</p>
<p style="text-align: right;"><strong>…وَإِذَا وَلَغَتْ فِيْهِ الْهِرَّةُ غُسِلَ مَرَّةً</strong></p>
<p>“… Dan apabila air di dalam bejana tersebut dijilat oleh kucing dicuci satu kali “</p>
<p>Tambahan ini telah di-<em>Shahih-</em>kan oleh Tirmidziy, Thahawi, Daruquthni Syaik Ahmad Syakir dan Syaikh Albani.</p>
<p>Kemudian, hadits di atas tanpa tambahan <em>“</em><em>yang pertama dicampur dengan tanah.</em><em>”</em> Telah diriwayatkan juga oleh Imam Malik, Bukhari, Muslim, Nasaa-i, Ibnu Majah dan Ahmad dan lain-lain banyak sekali dengan <em>lafazh</em>:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>إِذَا شَرِبَ الْكَلْبُ فِيْ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْسِلْهُ سَبْعًا</strong></p>
<p>“Apabila anjing meminum (air) di bejana salah seorang dari kamu, maka hendaklah ia mencucinya sebanyak tujuh kali.”</p>
<p>Imam muslim (no. 89) juga meriwayatkan dari jalur Ali bin Mushir dari al-A’masy dari Abu Razien dan Abu Shalih dari Abu Hurairoh secara marfu’ dengan lafazh :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>«إذا ولغ الكلب في إناء أحدكم فليرقه، ثم ليغسله سبع مرات»</strong></p>
<p>“Apabila anjing meminum (air) di bejana salah seorang dari kamu, maka hendaklah ia menumpahkannya kemudian mencucinya sebanyak tujuh kali.”</p>
<p>Lafazh dengan jalur periwayatan inipun dikeluarkan imam an-Nasaa’i (1/53). Sebagian ahli hadits melemahkan lafazh  (<strong>فليرقه</strong>) karena Ali bin Mushir bersendirian meriwayatkannya dari al-A’masy. Padahal hadits ini diriwayatkan oleh 9 orang murid al-A’masy dan semuanya tidak menyebutkan tambahan lafazh tersebut. Diantara mereka adalah Syu’bah dan Abu Mu’awiyah yang keduanya termasuk murid dekat al-A’masy. Juga hadits ini diriwayatkan dari Abu Hurairoh oleh sepuluh orang selain al-A’masy dan tidak ada diriwayatkan lafazh ini. (lihat ath-thahuur hlm 270).</p>
<p>Nampaknya al-Hafizh ibnu Hajar mencukupkan dengan riwayat muslim saja karena lebih sempurna dari riwayat al-Bukhori yang tidak menyebutkan padanya penggunaan debu. Padahal hadits ini asalnya shahihain dengan lafazh : «<strong>إذا ولغ الكلب في إناء أحدكم فليغسله سبع</strong> مرات»lalu imam Muslim menambahkan lafazh : «<strong>أولاهن بالتراب</strong>»</p>
<p>Hadits ini didukung oleh hadits Abdullah bin Mughaffal bahwa Nabi bersabda :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>«إذا ولغ الكلب في الإناء فاغسلوه سبع مرات، وعفّروه الثامنة بالتراب» أخرجه مسلم</strong></p>
<p>Apabila Anjing menjilati bejana maka cucilah bejana tersebut tujuh kali dan taburilah yang kedelapan dengan debu. (HR Muslim no. 93).</p>
<p>Sedangkan at-Tirmidzi (no. 91) meriwayatkan dari jalan periwayatan Ayyub dari Ibnu Sirin dari Abu Hurairoh secara marfu’ dengan lafazh:</p>
<p style="text-align: right;">«<strong>يُغسل الإناء إذا ولغ فيه الكلب سبع مرات، أُولاهن أو أخراهن بالتراب، وإذا ولغت فيه الهرة غسل مرة» ، وقال الترمذي: (حديث حسن صحيح)</strong></p>
<p>Bejana dicuci bila dijilati anjing tujuh kali, yang pertama atau terakhir dengan debu. Apabila kucing yang menjilatinya maka dicuci sekali. Imam at-Tirmidzi menyatakan: Hadits ini hasan shahih.</p>
<p><strong>2. Kosa kata Hadits </strong></p>
<p>(<strong>طهور إناء أحدكم</strong>)dengan didhommahkan huruf tha’nya bermakna pensucian bejana salah seorang dari kalian.</p>
<p>(<strong>إذا ولغ فيه الكلب</strong>) : apabila anjing menjilatinya. Kata (<strong>وَلَغَ الكلب يلَغُ ولَغاً وولوغاً</strong>) artinya apabila minum atau memasukkan ujung lidahnya dan menggerakkannya. Sedang kan (<strong>أل</strong>)   pada kata (<strong>الكلب</strong>) bermakna istighraqiyah sehingga mencakup segala jenis anjing baik yang diizinkan pemilikannya seperti anjing pemburu, anjing penjaga ternak dan kebun maupun yang tidak diizinkan.</p>
<p>(<strong>سبع مرات</strong>)   pada asalnya bermakna Hendaknya mencucunya tujuh kali cucian</p>
<p>(<strong>أولاهن بالتراب</strong>) : pertama dengan menggunakan debu.</p>
<p><strong>3. Pengertian umum hadits.</strong></p>
<p>Syariat Islam berasal dari Allah yang maha bijaksana lagi maha mengetahui akibat yang ditimbulkan dari sebagian makhlukNya berupa madharat dan mengetahui cara menanggulangi dan mencegahnya serta menghilangkan bahaya tersebut. Diantara makhlukNya tersebut adalah anjing yang telah ditetapkan secara medis bahwa liurnya mengandung mikroba dan kotoran yang tidak hilang dan tercegah bahayanya kecuali dengan pensuciannya sesuai dengan anjuran Rasulullah. Dalam hadits ini Abu Hurairah menjelaskan anjuran Rasulullah kepada kita semua untuk mencuci semua bejana yang terkena liur anjing sebanyak tujuh kali dengan air dan tanah agar hilang semua mikronba dan kotoran tersebut. (lihat Tambih al-Afhaam 1/21).</p>
<p><strong>=Bersambung <em>insya Allah</em>=</strong></p>
<p><strong>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.</strong></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://ustadzkholid.com/" target="_blank">www.UstadzKholid.com</a></strong></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/liur-anjing-dan-cara-mensucikannya/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/liur-anjing-dan-cara-mensucikannya/&amp;title=Liur+Anjing+dan+Cara+Mensucikannya+%28Seri+I%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/liur-anjing-dan-cara-mensucikannya/&amp;title=Liur+Anjing+dan+Cara+Mensucikannya+%28Seri+I%29" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/liur-anjing-dan-cara-mensucikannya/&amp;t=Liur+Anjing+dan+Cara+Mensucikannya+%28Seri+I%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/liur-anjing-dan-cara-mensucikannya/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Liur+Anjing+dan+Cara+Mensucikannya+%28Seri+I%29+-+http://ustadzkholid.com/fiqih/liur-anjing-dan-cara-mensucikannya/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/liur-anjing-dan-cara-mensucikannya/&amp;title=Liur+Anjing+dan+Cara+Mensucikannya+%28Seri+I%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/liur-anjing-dan-cara-mensucikannya/&amp;title=Liur+Anjing+dan+Cara+Mensucikannya+%28Seri+I%29" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Liur+Anjing+dan+Cara+Mensucikannya+%28Seri+I%29+-+http://bit.ly/pbwERp&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Liur+Anjing+dan+Cara+Mensucikannya+%28Seri+I%29&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/liur-anjing-dan-cara-mensucikannya/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Mensucikan%20Bejana%20Terkena%20Liur%20Anjing%0D%0A%D9%88%D9%8E%D8%B9%D9%8E%D9%86%D9%92%20%D8%A3%D9%8E%D8%A8%D9%90%D9%8A%D9%92%20%D9%87%D9%8F%D8%B1%D9%8E%D9%8A%D9%92%D8%B1%D9%8E%D8%A9%D9%8E%20%D8%B1%D9%8E%D8%B6%D9%90%D9%8A%D9%8E%20%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%20%D8%B9%D9%8E%D9%86%D9%92%D9%87%D9%8F%20%D9%82%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%8E%3A%20%D9%82%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%8E%20%D8%B1%D9%8E%D8%B3%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%84%D9%8F%20%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%20%D8%B5%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%8E%D9%89%20%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%20%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%8A%D9%92%D9%87%D9%90%20%D9%88%D9%8E%D8%B3%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%85%D9%8E%3A%20%D8%B7%D9%8F%D9%87%D9%8F%D9%88%D8%B1%D9%8F%20%D8%A5%D9%90%D9%86%D9%8E%D8%A7%D8%A1%D9%90%20%D8%A3%D9%8E%D8%AD%D9%8E%D8%AF%D9%90%D9%83%D9%8F%D9%85%D9%92%20%D8%A5%D9%90%D8%B0%D9%8E%D8%A7%20%D9%88%D9%8E%D9%84%D9%8E%D8%BA%D9" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/liur-anjing-dan-cara-mensucikannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bulan Ramadhan menurut Kaum Salaf (Seri I)</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/bulan-ramadhan/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/bulan-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Aug 2011 03:35:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=2034</guid>
		<description><![CDATA[Kembali Kepada Ramadhan Kaum Salaf Sepakat orang yang berakal bahwa waktu yang paling berharga adalah yang digunakan untuk beribadah kepada Allah pemelihara alam semesta dan berjalan diatas jalan menuju akhirat, untuk mencapai syurga ilahi dan menghindari adzab neraka yang sangat pedih sekali. Ketika jalan ini seperti jalan-jalan lainnya yang naik turun, menanjak dan berkelok-kelok ditambah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Kembali Kepada Ramadhan Kaum Salaf</h2>
<p>Sepakat orang yang berakal bahwa waktu yang paling berharga adalah yang digunakan untuk beribadah kepada Allah pemelihara alam semesta dan berjalan diatas jalan menuju akhirat, untuk mencapai syurga ilahi dan menghindari adzab neraka yang sangat pedih sekali.</p>
<p>Ketika jalan ini seperti jalan-jalan lainnya yang naik turun, menanjak dan berkelok-kelok ditambah lagi banyaknya para penghalang dan pencuri hati dari syeitan manusia dan jin. Maka butuh penunjuk jalan yang dapat menjelaskan jalan yang aman dan mudah dilalui. Menjelaskan persembunyian mereka dan waktu yang paling pas dan bagus untuk meneruskan perjalanan. Penunjuk jalan tersebut tidak lain adalah manhaj salaf sholih dalam ibadah dan jalan mereka menuju Allah.<br />
<span id="more-2034"></span><br />
Setiap yang ingin sukses dan selamat sampai tujuan yang mulia ini pasti membutuhkan manhaj salaf dan aplikasi praktis para salaf umat ini dalam berjalan di kehidupan dunia ini. Berpegang teguh dengannya adalah jalan keselamatan.</p>
<p style="text-align: right;"><strong>دع عنك ما قاله العصري منتحلاً</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong> وبالعتيق تمسك قطواعتصم</strong></p>
<p>Sudah dimaklumi waktu-waktu utama termasuk waktu yang paling pas untuk bersungguh-sungguh dalam ketaatan, maka bulan Ramadhon termasuk bulan yang Allah muliakan dengan berbagai kemudahan beribadah dan keutamaan. Sehingga sudah menjadi keharusan bagi kita untuk saling menasehati agar bangkit kembali semangat dan tekad untuk mendapatkan keridhoan Allah dibulan ini.</p>
<p>Namun apakah kaum muslimin sekarang khususnya kita semua telah mememiliki semangat memanfaatkan kesempatan emas ini untuk memulai menyempurnakan kepribadian islam dan kemanusian kita?</p>
<p>Kaum muslimin telah berpuasa bertahun-tahun dan mendapatkan bulan Ramadhan berkali-kali, apakah anugerah ini telah menjadikan mereka lebih dekat kepada Allah atau malahan semakin jauh dariNya?</p>
<p>Apabila para da’i kesesatan dan kefajiran sangat semangat dan bertekad besar dalam menyiapkan program-programnya dalam rangka menyesatkan makhluk dibulan ini dengan menyiarkan film seri, drama, sinetron dan acara-acara hiburan yang merusak lainnya. Tentulah ahlu iman juga lebih berlomba-lomba dalam mepersiapkannya dalam menegakkan kebaikan dan takwa, sebagaimana yang ada dikalangan para salaf umat ini.</p>
<h2>Mujahadah para Salaf dan Ulama dalam Bulan Ramadhan.</h2>
<p>Benarlah sabda Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa sallam</em> tentang keunggulan generasi salaf:</p>
<p><em>“Sebaik-baik zaman adalah di zamanku (sahabat), kemudian orang sesudah mereka (tabi’in) dan kemudian orang sesudah mereka (atba’ tabi’in).”</em> (Riwayat Bukhari).</p>
<p><em>Mujahadah salaf</em> selama bulan Ramadhan membuktikan kebenaran sabda Rasulullah di atas. Khususnya dalam melakukan amalan shalat dan membaca Alquran.  Mujahadah mereka amat susah untuk ditandingi oleh umat Islam generasi terakhir. Bahkan bisa jadi kita menilai bahwa amalan yang pernah mereka lakukan itu mustahil dilakukan!</p>
<p>Nah, bagaimana sebanarnya mujahadah mereka selama bulan Ramadhan? Serta seperti apa persiapan mereka dalam menyambut bulan itu?</p>
<h2>Salaf Khatamkan Alquran dalam Dua Rakaat pada bulan Ramadhan!</h2>
<p>Ramadhan adalah bulan diturunkannya Alquran. Bahkan Imam Al Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya, bahwa di tiap tahunnya Jibril <em>Alaihissalam</em> membacakan Alquran kepada Rasulullah setiap malam selama Ramadhan.</p>
<p>Oleh sebab itu, dengan berpedoman dengan hadits ini, Al Hafidz Ibnu Hajar berpendapat bahwa terus-menerus membaca Alquran di bulan Ramadhan akan menambah kemulyaan bulan itu. (lihat <em>Fath Al Bari</em>,9/52).</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga bersabda, “<em>Barang siapa melakukan qiyam Ramadhan dengan didasari keimanan dan keikhlasan, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”</em> (Riwayat Al Bukhari).</p>
<p>Karena itulah, para salaf dan ulama amat memperhatikan amalan tilawah, qiyam Ramadhan, serta pengkajian keilmuan, sehingga mereka siap bermujahadah dalam melakukan amalan-amalan itu.</p>
<p>Adalah Aswad bin Yazid An Nakha’i Al Kufi. Disebutkan dalam <em>Hilyah Al Auliya</em> (2/224) bahwa beliau mengkhatamkan Alquran dalam bulan Ramadhan setiap dua hari, dan beliau tidur hanya di waktu antara maghrib dan isya, sedangkan di luar Ramadhan beliau menghatamkan Alquran dalam waktu 6 hari.</p>
<p>Tidak hanya bermujahadah dalam menghatamkan Alquran, dalam ibadah shalat, Imam Adz Dzahabi menyebutkan bahwa tabi’in ini melakukan shalat 6 ratus rakaat dalam sehari semalam. (<em>Al Ibar wa Al Idhadh</em>, 1/86).</p>
<p>Adapula Qatadah bin Diamah, dalam hari-hari “biasa”, tabi’in ini menghatamkan Alquran sekali tiap pekan, akan tetapi tatkala Ramadhan tiba beliau menghatamkan Alquran sekali dalam tiga hari, dan apabila datang sepuluh hari terakhir beliau menghatamkannya sekali dalam semalam. (<em>Al Hilyah</em>, 2/228).</p>
<p>Tabi’in lain, Abu Al Abbas Atha’ juga termasuk mereka yang “luar biasa” dalam tilawah. Di hari-hari biasa ia menghatamkan Alquran sekali dalam sehari. Tapi di bulan Ramadhan, Abu Al Abbas mempu menghatamkan 3 kali dalam sehari. (<em>Al Hilyah</em> 10/302).</p>
<p>Sedangkan Said bin Jubair, dalam <em>Mir’ah Al Jinan</em>, Al Yafi’i menyebutkan sebuah riwayat, bahwa di suatu saat tabi’in ini membaca Alquran di Al Haram, lalu beliau berkata kepada Wiqa’ bin Abi Iyas pada bulan Ramadhan, “Pegangkan Mushaf ini”, dan ia tidak pernah beranjak dari tempat duduknya itu, kacuali setelah menghatamkan Alquran.</p>
<p>Diriwayatkan juga dari Said bin Jubair, beliau pernah mengatakan, “Jika sudah masuk sepuluh hari terakhir, aku melakukan mujahadah yang hampir tidak mampu aku lakukan.”</p>
<p>Beliau juga menasehati, “Di malam sepuluh terakhir, jangan kalian matikan lentera.”Maksudnya, agar umat Islam menghidupkan malamnya dengan membaca Alquran.</p>
<p><em>Thabaqat Fuqaha Madzhab An Nu’man Al Mukhtar</em>, yang dinukil oleh Imam Laknawi dalam <em>Iqamah Al Hujjah</em> (71,72) disebutkan periwayatan bahwa dalam bulan Ramadhan Said bin Jubair mengimami shalat dengan dua qira`at, yakni qira`at Ibnu Mas’ud dan Zaid bin Tsabit.</p>
<p>Manshur bin Zadan, termasuk tabi’in yang terekam amalannya di bulan diturunnya Alquran ini.<strong> </strong>Hisham bin Hassan bercerita, bahwa di bulan Ramadhan, Manshur mampu menghatamkan Alquran di antara shalat Maghrib dan Isya’, hal itu bisa beliau lakukan dengan cara mengakhirkan shalat Isya hingga seperempat malam berlalu. Dalam hari-hari biasapun beliau mampu menghatamkan Alquran sekali dalam sehari semalam. (<em>Al Hilyah</em>, 3/57).</p>
<p>Tidak ketinggalan pula Imam Mujahid, salah satu tabi’in yang pernah berguru langsung dengan Ibnu Abbas juga amat masyur dengan mujahadahnya. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dawud dengan sanad yang shahih, bahwa tabi’in ahli tafsir ini juga menghatamkan Alquran pada bulan Ramadhan di antara maghrib dan isya.</p>
<p>Sebagian besar ulama berpendapat bahwa Abu Hanifah termasuk pada golongan tabi`in, karena telah bertemu dengan sahabat Anas bin Malik. Banyak riwayat yang menegaskan bahwa beliau adalah ulama yang ahli ibadah. Yahya bin Ayub, ahli zuhud yang semasa dengan beliau mengatakan: <em>Tidak ada seorangpun yang datang ke Makkah, pada zaman ini lebih banyak shalatnya dibanding dengan Abu Hanifah</em>.</p>
<p>Karena itu, beliau dijuluki <em>Al Watad</em> (tiang) karena banyak shalat (<em>Tahdzib Al Asma</em>, 2/220). Lalu, bagaimana amalan ulama ahli ibadah ini dalam bulan Ramadhan?</p>
<p>Orang yang melakukan shalat fajar dengan wudhu isya selama 40 tahun ini menghatamkan Alquran 2 kali dalam sehari di bulan Ramadhan, pada waktu siang sekali, dan pada waktu malam sekali (<em>Manaqib Imam Abu Hanifah</em>, 1/241-242).</p>
<p>Bahkan disebutkan oleh Imam Al Kardari bahwa Abu Hanifah termasuk 4 imam yang bisa menghatamkan Alquran dalam 2 rakaat, mereka adalah Utsman bin Affan, Tamim Ad Dari, Said bin Jubair, serta Abu Hanifah sendiri.</p>
<h2>Lalu bagaimana Ramadhan Para Ulama ?</h2>
<p>Imam Malik rahimahullah, apabila telah datang bulan Ramadhan, ia menghentikan membaca hadits dan majelis ilmu dan mengkhususkan diri membaca Alquran dari mushhaf.</p>
<p>Iman Syafi&#8217;i rahimahullah mengkhatamkan enam puluh kali di bulan Ramdhan yang dia membacanya di luar shalat, dan dari imam Abu Hanifah rahimahullah seperti itu juga.</p>
<p>Imam Syafi’i (204 H), beliau dalam bulan Ramadhan biasa menghatamkan Al Qur’an dua kali dalam semalam, dan itu dikerjakan di dalam shalat, sehingga dalam bulan Ramadhan beliau menghatamkan Alquran enam puluh kali dalam sebulan (<em>Tahdzib Al Asma’ wa Al Lughat</em>, 1/ 45)</p>
<p>Al Qazwini (590 H), seorang ulama madzhab Syafi’i yang masuk golongan mereka yang bermujahadah dalam bulan Ramadhan, akan tetapi aktivitas beliau agak berbeda dengan amalan-amalan para ulama lain. Setelah shalat tarawih, beliau membuka majelis tafsir yang dihadiri banyak orang. Beliau menafsirkan surat demi surat semalam suntuk, hingga datang waktu shubuh. Kemudian beliau melakukan shalat shubuh bersama para jama’ah dengan wudhu isya’. Seakan tidak memiliki rasa lelah, setelah itu beliau mengajar di madrasah Nidhamiyah sebagaimana biasanya. (<em>Thabaqat As Syafi’iah Al Kubra</em>, 6/10).</p>
<p>Ali Khitab bin Muqallad (629 H), seorang ulama Bagdad yang hidup di masa khalifah Al Muntashir, dalam Ramadhan mampu menghatamkan Al Qur’an 90 kali, dan di hari biasa beliau menghatamkan sekali dalam sehari. (<em>Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra</em>, 8/294).</p>
<h2>Persiapan Para Salaf dan Ulama Menghadapi Ramadhan</h2>
<p>Jika di Bulan Ramadhan para salaf mampu melakukan amalan-amalan “berat”. Bagaimana persiapan mereka sebelum memasuki bulan suci ini? Ternyata para salaf sudah melakukan persiapan yang cukup maksimal. Ini bisa dilihat dari mujahadah mereka sebelum Ramadhan.</p>
<p>Habib bin Abi Tsabit mengatakan, “Bulan Sya’ban adalah bulan qura` (para pembaca Alquran)”. Sehingga pada bulan itu, para salaf konsentrasi terhadap Alquran. Salah satu diantara mereka adalah Amru bin Qais, ahli ibadah yang wafat tahun 41 Hijriyah ini, ketika Sya’ban tiba, ia menutup tokonya dan tidak ada aktivitas yang ia lakukan selain membaca Alquran.</p>
<p>Bulan Ramadhan di pandangan para salaf adalah bulan mulia yang amat dinanti-nanti, sehingga mereka mempersiapkan jauh-jauh untuk menyambut “tamu idaman” ini, yakni dua bulan sebelum bulan suci datang. Sudahkah mempersiapkannya sebagaimana para salaf bersiap-siap?</p>
<p>As-Sirri as-Siqathi berkata: Tahun adalah pohon, bulan adalah  cabangnya, hai-hari adalah dahannya, jam adalah daun-daunnya, dan napas hamba adalah buahnya. Maka bulan Rajab adalah hari-hari berdaunnya, Sya&#8217;ban adalah hari-hari bercabangnya, dan Ramadhan adalah hari-hari memetiknya, dan orang-orang beriman adalah para pemetiknya.</p>
<p>Adapun untuk mempersiapkan Ramadhan, kita bisa belajar dari Taqi Ad Din As Subki (756 H). Beliau memiliki kebiasaan dikala datang bulan Rajab, yakni tidak pernah keluar dari rumah kecuali untuk melakukan shalat wajib, dan hal itu terus berjalan hingga Ramadhan tiba. (<em>Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra</em>, 10/168).</p>
<p>Ini ditempuh supaya beliau lebih bisa konstrasi beribadah, sehingga ketika Ramadhan telah tiba, fisik dan batin sudah memiliki kesiapan untuk melakukan dan meningkatkan mujahadah dalam beribadah.</p>
<p>Selain itu, adapula Khatib As Syarbini (977 H), ulama Mesir penulis <em>Mughni Al Muhtaj,</em> juga memiliki cara tersendiri agar bisa konsentrasi melakukan ibadah ketika Ramadhan tiba. Yakni, tatkala terlihat hilal Ramadhan, beliau bergegas dengan perbekalan yang cukup untuk ber’itikaf di masjid Al Azhar, dan tidak pulang, kecuali setelah selesai menunaikan shalat ied. (lihat, biografi singkat As Syarbini dalam <em>Mughni Al Muhtaj</em>, 1/5)</p>
<h3>Lalu Bagaimana Kita di bulan ramadhan?</h3>
<p>Tidak disangsikan lagi bahwa beribadah kepada Allah adalah tujuan akhir seorang muslim dalam kehidupan. Ibadah mencakup semua ucapan dan perbuatan, lahir dan batin yang diridhai, maka beribadah kepada Allah adalah tujuan yang terus berlanjut seperti berlanjutnya kehidupan pada seorang muslim. Akan tetapi tujuan ini lebih ditekankan di bulan yang keutamaan sangat agung, faedahnya sangat banyak, dan manaqibnya sangat besar. Bulan diturunkan padanya al-Qur`an, dilipat gandakan kebaikan, dan di buka limpahan ampunan padanya, firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>:</p>
<p><em>(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur&#8217;an. </em>(QS. 2:185)</p>
<p>Bulan Ramadhan adalah hiburan bagi setiap orang yang berdosa, peringatan bagi orang yang lupa, pendidikan bagi orang yang jahil, pemberi semangat bagi setiap orang yang beramal. Wahai orang yang melewati batas dan mengikuti hawa nafsunya serta menjauhi kebenaran, telah datang kepadamu bulan yang mulia, perbaharuilah imanmu, perbanyaklah taubat dan amal sholih.</p>
<p>Ingatlah, datangnya bulan yang mulia ini merupakan kenikmatan yang agung dan karunia yang mulia..</p>
<p>saudaraku! Lihatlah keutamaan bulan ini :</p>
<h3>Keutamaan Bulan Ramadhan</h3>
<p><strong>a.</strong> Bulan Ramadhan adalah bulan Alquran karena Alquran diturunkan pada bulan tersebut sebagaimana yang difirmankan Allah dalam surat Albaqarah ayat 185:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>شهر رمضان الذي أنزل فيه القراّن هدى للناس و بينات من الهدى و الفرقان فمن شهد منكم الشهر فليصمه</strong></p>
<p><em>“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, hendaklah dia berpuasa.”</em></p>
<p>Dalam ayat di atas, bulan Ramadhan dinyatakan sebagai bulan Alquran diturunkan, kemudian pernyataan tersebut diikuti dengan perintah yang dimulai dengan huruf<br />
&lt;<strong>ف</strong>&gt; –yang berfungsi menunjukkan makna ‘alasan dan sebab’– dalam <strong>فمن شهد منكم الشهر فليصمه</strong>. Hal itu menunjukkan bahwa sebab dipilihnya bulan Ramadhan sebagai bulan puasa adalah karena di dalamnya diturunkan Alquran.</p>
<p><strong>b.</strong><strong> </strong>Dalam bulan ini, para setan dibelenggu, pintu neraka ditutup, dan pintu surga dibuka sebagaimana yang disabdakan Rasulullah,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>« إذا جاء رمضانُ فتِّحت أبوابُ الجنةِ وغلِّقت أبوابُ النيران، وصفِّدت الشياطينُ » [رواه البخاري ومسلم]</strong></p>
<p><em>“Jika datang bulan Ramadhan dibuka pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka serta dibelenggu para setan.” </em>(Riwayat al-Bukhariy dan Muslim).</p>
<p>Oleh karena itu, kita dapati dalam bulan ini sedikit terjadi kejahatan dan kerusakan di bumi karena sibuknya kaum muslimin dengan berpuasa dan membaca Alquran serta ibadah-ibadah yang lainnya; dan juga dibelenggunya para setan pada bulan tersebut.</p>
<p><strong>c.</strong> Di dalamnya terdapat satu malam yang dinamakan <em>lailatul qadar</em>, satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan sebagaimana yang dijelaskan dalam surat al-Qadr.</p>
<p><strong>d.</strong> Dibulan ini diwajibkan berpuasa yang menjadi sebab penghapusan dosa, seperti sabda Rasululloh :</p>
<p><em> &#8216;Barangsiapa yang berpuasa dibulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala niscaya diampuni darinya dosanya yang terdahulu’</em>.</p>
<p>Maka jadikanlah –wahai saudaraku- dari bulan Ramadhan sebagai bulan ibadah, petunjuk keberuntungan, kebaikan dan tambahan: firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>:</p>
<p><em>Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung</em>. (QS. an-Nuur :31)</p>
<p>Apabila Allah mengajak kepada taubat karena mengharapkan keberuntungan di segala waktu, maka sesungguhnya waktu terbaik untuk bertaubat dan paling bersih adalah bulan Ramadhan karena keutamaan dan keistimewaan yang Allah berikan kepadanya yang menunjukkan keberkahan dan keagungannya.</p>
<p>Saudaraku, andaikan dibukakan bagi ahli kubur pintu angan-angan, niscaya mereka berangan-angan hidup satu hari di bulan Ramadhan.. mereka kelaparan padanya karena Allah, kehausan padanya karena Allah, menghidupkan siangnya dengan membaca al-Qur`an, menambah iman dan memohon ampunan, dan menghidupkan malamnya dengan ibadah, shalat, doa, dan menangis, dan memohon ampunan dan kebebasan dari neraka.</p>
<p>Wahai saudaraku, sekarang engkau masih hidup dalam keadaan walafiyat, telah datang kepadamu bulan Ramadhan dan engkau membuka lembaran darinya dengan kelupaan, apakah engkau melihat dirimu melupakan kelebihannya?ataukah engkau melihat dirimu tidak mengetahui keutamaannya?.. atau engkau melihat dirimu mendapat jaminan ampunan,</p>
<p>maka apakah imanmu tidak bersiap-siap dengan kedatangan Ramadhan?</p>
<p>Engkau berharap –semoga Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menjagamu padanya- di bulan ini dan alangkah agungnya bulan ini dan ingatlah di hari engkau diletakkan di dalam kubur. Dan katakanlah tolonglah wahai jiwa dengan sabar sesaat  Maka tidak adalah dia melainkan hanya satu waktu kemudian berlalu.  Maka saat bertemu orang yang kerja keras menjadi hilang. Dan jadilah orang yang berduka menjadi senang gembira</p>
<h3>Bagaimanakah engkau menghabiskan bulan Ramadhan?</h3>
<p>Sungguh manusia bergembira dengan kedatangan bulan puasa, mereka  mendapatkan padanya kebaikan dan keberkahan, namun sedikit sekali yang menunaikan dengan cara yang menyebabkan ridha Allah  dan membangunnya dengan taat, ibadah dan menunaikan kewajiban. Terkadang berbagai macam penyimpangan yang belum pernah di bulan-bulan sebelumnya, menjadi ada di bulan Ramadhan, seperti israf (berlebihan), mubazir, menyia-nyiakan shalat, begadang di depan program-program televisi, menghabiskan waktu dalam permainan, dan keluyuran di jalanan. Semua itu dengan alasan karena capek dan hiburan sambil menunggu waktu berbuka. Jika kita merenungi kondisi salafus shaleh dan meneliti bagaimana mereka menghabiskan waktu-waktu mereka di bulan Ramadhan. Bagaimana mereka memakmurkannya dengan amal shaleh, niscaya kita mengetahui jauhnya jarak di antara kita dan mereka.<br />
Setiap keburukan ada dalam bid&#8217;ahnya kaum khalaf<br />
Dan setiap kebaikan ada dalam mengikuti kaum salaf.</p>
<p><strong>= Bersambung <em>Insya Allah</em> =</strong></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://ustadzkholid.com/" target="_blank">www.UstadzKholid.com</a></strong></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/bulan-ramadhan/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/bulan-ramadhan/&amp;title=Bulan+Ramadhan+menurut+Kaum+Salaf+%28Seri+I%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/bulan-ramadhan/&amp;title=Bulan+Ramadhan+menurut+Kaum+Salaf+%28Seri+I%29" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/bulan-ramadhan/&amp;t=Bulan+Ramadhan+menurut+Kaum+Salaf+%28Seri+I%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/bulan-ramadhan/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Bulan+Ramadhan+menurut+Kaum+Salaf+%28Seri+I%29+-+http://ustadzkholid.com/fiqih/bulan-ramadhan/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/bulan-ramadhan/&amp;title=Bulan+Ramadhan+menurut+Kaum+Salaf+%28Seri+I%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/bulan-ramadhan/&amp;title=Bulan+Ramadhan+menurut+Kaum+Salaf+%28Seri+I%29" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Bulan+Ramadhan+menurut+Kaum+Salaf+%28Seri+I%29+-+http://bit.ly/qNmk9p&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Bulan+Ramadhan+menurut+Kaum+Salaf+%28Seri+I%29&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/bulan-ramadhan/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Kembali%20Kepada%20Ramadhan%20Kaum%20Salaf%0D%0ASepakat%20orang%20yang%20berakal%20bahwa%20waktu%20yang%20paling%20berharga%20adalah%20yang%20digunakan%20untuk%20beribadah%20kepada%20Allah%20pemelihara%20alam%20semesta%20dan%20berjalan%20diatas%20jalan%20menuju%20akhirat%2C%20untuk%20mencapai%20syurga%20ilahi%20dan%20menghindari%20adzab%20neraka%20yang%20sangat%20pedih%20sekali.%0D%0A%0D%0AK" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/bulan-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Hukum Uang Muka Dalam Jual Beli?</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-uang-muka-dalam-jual-beli/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-uang-muka-dalam-jual-beli/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Aug 2011 04:57:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[TanyaUstadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=2027</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu’alaikum Ustadz, Sudah umum terjadi, bahwasanya pada transaksi jual beli ada uang muka atau DP sebagai tanda jadi si pembeli akan membeli barang dari penjual. Apakah praktik uang muka itu dibenarkan oleh syariat? Jazakalloohu khoiron. Abu Mirza (aslijreb***@gmail.com) Jawab: Setiap orang tidak mungkin bisa lepas dari orang lain yang menutupi kebutuhannya. Interaksi antar individu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu’alaikum Ustadz,</em><em> </em></p>
<p>Sudah umum terjadi, bahwasanya pada transaksi jual beli ada uang muka atau DP sebagai tanda jadi si pembeli akan membeli barang dari penjual. Apakah praktik uang muka itu dibenarkan oleh syariat?<br />
<em>Jazakalloohu khoiron.</em></p>
<p><em>Abu Mirza (aslijreb***@gmail.com)</em><br />
<span id="more-2027"></span><br />
<strong>Jawab: </strong></p>
<p>Setiap orang tidak mungkin bisa lepas dari orang lain yang menutupi kebutuhannya. Interaksi antar individu manusia adalah perkara penting yang mendapatkan perhatian besar dalam Islam. Khususnya yang berhubungan dengan pertukaran harta. Oleh karena itu Allah berfirman:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا</strong></p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.</em><em>” </em> (QS. An Nisaa’ 4: 29)<br />
Dalam ayat yang mulia ini Allah menjelaskan pertukaran harta dapat dilakukan dengan perniagaan yang berasaskan saling suka diantara para transaktornya.</p>
<p>Dewasa ini banyak sekali berkembang sistem perniagaan yang perlu dijelaskan hukum syariatnya, apalagi dimasa kaum muslimin sudah menjauh dari agamanya, ditambah lagi ketidakmengertian mereka terhadap syariat Islam. Salah satu sistem perniagaan tersebut adalah jual beli dengan panjar atau uang muka atau DP.</p>
<p><strong>Jual beli ini diperbolehkan sebagaimana </strong>pendapat madzhab Hambaliyyah dan diriwayatkan juga kebolehan jual beli ini dari Umar bin Al-Khathab, Ibnu Umar, Sa’id bin Al Musayyib dan Muhammad bin Sirin.[16]</p>
<p><strong>Dasar argumentasi mereka adalah:</strong></p>
<p>a. Atsar yang berbunyi:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>عَنْ نَافِعِ بْنِ الحارث, أَنَّهُ اشْتَرَى لِعُمَرَ دَارَ  السِّجْنِ مِنْ صَفْوَانَ بْنِ أُمَيَّةَ, فَإِنْ رَضِيَ عُمَرُ , وَ إِلاَّ فَلَهُ كَذَا وَ كَذَا</strong></p>
<p><em>Diriwayatkan dari Nafi bin Al-Harits, ia pernah membelikan sebuah bangunan penjara untuk Umar dari Shafwan bin Umayyah, (dengan ketentuan) apabila Umar suka. Bila tidak, maka Shafwan berhak mendapatkan uang sekian dan sekian. </em></p>
<p>Atsar ini dikeluarkan Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya (5/392) dan Al Bukhari secara mu’allaq (lihat Fathul Bari 5/91) dan Al Atsram meriwayatkannya dalam kitab Sunnahnya dari jalan periwayatan Ibnu ‘Uyainah dari Amru bin Dinaar dari Abdurrahman bin Farukh dengan lafadz,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>” أن نافع بن عبد الحارث اشترى داراً للسجن من صفوان بن أمية بأربعة آلاف درهم، فإن رضي عمر فالبيع له، وإن عمر لم يرض فأربعمائة لصفوان ” .</strong></p>
<p>Demikian juga Abdurrazaaq dalam Mushonnafnya (5/148-149), Al Baihaqi dalam sunannya 6/34, Al Azraaqi dalam Akhbaar Makkah 2/165 dan Al Fakihi dalam Akhbaar Makkah 3/254 seluruhnya dari jalan Sufyan bin ‘Uyainah.</p>
<p>Riwayat ini dapat dijadikan hujjah, sebagaimana dilakukan imam Ahmad bin Hambal.<br />
Al-Atsram berkata: Saya bertanya kepada Ahmad: “Apakah Anda berpendapat demikian?” Beliau menjawab: “Apa yang harus kukatakan? Ini Umar rodhiyallohu ‘anhu (telah berpendapat demikian).[18]<br />
Demikian juga Ibnul Qayyim menukilkannya dari beliau pada Bada’i Al Fawa’id 4/84.</p>
<p>Ditambah kisah ini telah masyhur dikalangan para ulama dan penulis sejarah Makkah seperti Al Azraaqi, Al Fakihi dan Umar bin Syubah hingga diriwayatkan penjara ini masih ada sampai zaman Al Fakihie. Wallahu A’lam.</p>
<p>c. Panjar ini adalah kompensasi dari penjual yang menunggu dan menyimpan barang transaksi selama beberapa waktu. Ia tentu saja akan kehilangan sebagian kesempatan berjualan. Tidak sah ucapan orang yang mengatakan bahwa panjar itu telah dijadikan syarat bagi penjual tanpa ada imbalannya.</p>
<p>d. Tidak sahnya qiyas atau analogi jual beli ini dengan Al Khiyar Al Majhul (hak pilih terhadap hal yang tidak diketahui), karena syarat dibolehkannya panjar ini adalah dibatasinya waktu menunggu. Dengan dibatasinya waktu pembayaran, maka batallah analogi tersebut, dan hilanglah sisi yang dilarang dari jual beli tersebut.</p>
<p>e. Jual beli ini tidak dapat dikatakan jual beli mengandung perjudian sebab tidak terkandung spekulasi antara untung dan buntung. Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Syarah Bulugh Al Maram hal. 100 menyatakan: ketidak jelasan dalam jual beli Al Urbun tidak sama dengan ketidak jelasan dalam perjudian, karena ketidak jelasan dalam perjudian menjadikan dua transaktor tersebut berada antara untung dan buntung, adapun ini tidak, karena penjual tidak merugi bahkan untung dan paling tidak barangnya dapat kembali. Sudah dimaklumi seorang penjual memiliki syarat hak pilih untuk dirinya selama satu hari atau dua hari, dan itu diperbolehkan. Dan jual beli dengan uang muka ini menyerupai syarat hak pilih tersebut. Hanya saja penjual diberi sebagian dari pembayaran apabila barang dikembalikan, karena nilainya telah berkurang bila orang mengetahui hal itu walaupun hal ini didahulukan namun ada maslahat disana. Juga ada maslahat lain bagi penjual karena pembeli bila telah menyerahkan uang muka akan termotivasi untuk menyempurnakan transaksi jual belinya. Demikian juga ada maslahat bagi pembeli, karena ia masih dapat memilih mengembalikan barang tersebut bila menyerahkan uang muka. Padahal bila tidak tentu diharuskan terjadinya jual beli tersebut.</p>
<p>Namun perlu diingat bila penjual mengembalikan uang muka (panjar) tersebut kepada pembeli ketika gagal menyempurnakan jual belinya, itu lebih baik dan lebih besar pahalanya disisi Allah sebagaimana disabdakan Rasululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>مَنْ أَقَالَ مُسْلِمًا أَقَالَهُ اللَّهُ عَثْرَتَهُ</strong></p>
<p><em>Siapa yang berbuat iqaalah dalam jual belinya kepada seorang muslim maka Allah akan bebaskan ia dari kesalahan dan dosanya.</em><br />
Iqalah dalam jual beli dapat digambarkan dengan seorang membeli sesuatu dari seorang penjual, kemudian pembeli ini menyesal membelinya, ada kala karena sangat rugi atau sudah tidak butuh lagi atau tidak mampu melunasinya, lalu pembeli itu mengembalikan barangnya kepada penjual dan penjualnya menerimanya kembali (tanpa mengambil sesuatu dari pembeli).</p>
<p>Wallahu a’lam</p>
<p><strong>Ust. Kholid Syamhudi, Lc.</strong></p>
<p><strong>Artikel <a href="../">ustadzkholid.com</a></strong></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-uang-muka-dalam-jual-beli/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-uang-muka-dalam-jual-beli/&amp;title=Bagaimana+Hukum+Uang+Muka+Dalam+Jual+Beli%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-uang-muka-dalam-jual-beli/&amp;title=Bagaimana+Hukum+Uang+Muka+Dalam+Jual+Beli%3F" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-uang-muka-dalam-jual-beli/&amp;t=Bagaimana+Hukum+Uang+Muka+Dalam+Jual+Beli%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-uang-muka-dalam-jual-beli/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Bagaimana+Hukum+Uang+Muka+Dalam+Jual+Beli%3F+-+http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-uang-muka-dalam-jual-beli/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-uang-muka-dalam-jual-beli/&amp;title=Bagaimana+Hukum+Uang+Muka+Dalam+Jual+Beli%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-uang-muka-dalam-jual-beli/&amp;title=Bagaimana+Hukum+Uang+Muka+Dalam+Jual+Beli%3F" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Bagaimana+Hukum+Uang+Muka+Dalam+Jual+Beli%3F+-+http://bit.ly/qHwyjF&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Bagaimana+Hukum+Uang+Muka+Dalam+Jual+Beli%3F&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-uang-muka-dalam-jual-beli/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Pertanyaan%3A%0D%0A%0D%0AAssalamu%E2%80%99alaikum%20Ustadz%2C%20%0D%0A%0D%0ASudah%20umum%20terjadi%2C%20bahwasanya%20pada%20transaksi%20jual%20beli%20ada%20uang%20muka%20atau%20DP%20sebagai%20tanda%20jadi%20si%20pembeli%20akan%20membeli%20barang%20dari%20penjual.%20Apakah%20praktik%20uang%20muka%20itu%20dibenarkan%20oleh%20syariat%3F%0D%0AJazakalloohu%20khoiron.%0D%0A%0D%0AAbu%20Mirza%20%28aslijreb%2A%2A%2A%40gmail.com" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-uang-muka-dalam-jual-beli/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Shalat Tasbih dan Tata caranya</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-tasbih-dan-tata-caranya/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-tasbih-dan-tata-caranya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Jun 2011 04:21:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[TanyaUstadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1990</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu’alaikum wr. wb. Ust. Apa hukum shalat tasbih dan bagaimana tata caranya? Wassalam Hamba Allah Jawaban: Wa’alaikumussalam. Para ulama bersilang pendapaat tentang hukum shalat tasbih dalam tiga pendapat berdasarkan perbedaan mereka terhadap keabsahan hadits Al-Abaas bin Abdilmuthalib yang berbunyi: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّاهُ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu’alaikum wr. wb.</em></p>
<p>Ust. Apa hukum shalat tasbih dan bagaimana tata caranya?<br />
<em>Wassalam</em></p>
<p><em>Hamba Allah</em><br />
<span id="more-1990"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa’alaikumussalam.</em></p>
<p>Para ulama bersilang pendapaat tentang hukum shalat tasbih dalam tiga pendapat berdasarkan perbedaan mereka terhadap keabsahan hadits Al-Abaas bin Abdilmuthalib yang berbunyi:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّاهُ أَلَا أُعْطِيكَ أَلَا أَمْنَحُكَ أَلَا أَحْبُوكَ أَلَا أَفْعَلُ لَكَ عَشْرَ خِصَالٍ إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ ذَنْبَكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ وَقَدِيمَهُ وَحَدِيثَهُ وَخَطَأَهُ وَعَمْدَهُ وَصَغِيرَهُ وَكَبِيرَهُ وَسِرَّهُ وَعَلَانِيَتَهُ عَشْرُ خِصَالٍ أَنْ تُصَلِّيَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ تَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَةٍ فَإِذَا فَرَغْتَ مِنْ الْقِرَاءَةِ فِي أَوَّلِ رَكْعَةٍ قُلْتَ وَأَنْتَ قَائِمٌ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً ثُمَّ تَرْكَعُ فَتَقُولُ وَأَنْتَ رَاكِعٌ عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنْ الرُّكُوعِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَهْوِي سَاجِدًا فَتَقُولُهَا وَأَنْتَ سَاجِدٌ عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنْ السُّجُودِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَسْجُدُ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنْ السُّجُودِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا فَذَلِكَ خَمْسَةٌ وَسَبْعُونَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ تَفْعَلُ فِي أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ إِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيَهَا فِي كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَفِي كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي عُمُرِكَ مَرَّةً</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda kepada Al-Abaas bin Abdulmuthalib: <em>“Wahai pamanku! Maukan aku beri, maukah aku anugerahkan, maukah aku kasih dan maukah aku lakukan untukmu sepuluh perkara apabila kamu kerjakan maka Allah akan mengampuni seluruh dosa yang pertama hingga terakhir, yang lalu dan yang sekarang, baik yang dilakukan karena keliru ataupun sengaja, dosa kecil dan besar, tersembunyi dan yang terang-terangan. Sepuluh perkara itu adlah kamu lakukan shalat empat rakaat, kamu baca dalam setiap rakaat surat Al-Fatihah dan surat (Al-Qur`an). Apabila telah selesai dari membaca surat di awal rakaat, maka ucapkalah dalam keadaan kamu berdiri:</em><br />
<strong>سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ</strong> <em>sebanyak lima belas kali kemudian ruku’ lalu ucapkanlah dlam keadaan kamu ruku’ sepuluh kali, kemudian mengangkat kepalanya (berdiri) dari ruku’ lalu ucapkanlah tasbih tersebut sepuluh kali, kemudian turun sujud dan mengucapkan dalam sujudmu tasbih tsb 10 kali, kemudian bangkit dari sujud dan mengucapkan nya 10 kali. Kemudian sujud lagi dan mengucapkanya 10 kali lalu bangkit dan mengucapkan 10 kali. Sehingga jumlahnya 75 kali dalam satu rakaat.  Kerjakanlah empat rakaat apabila kamu mampu melakukannya dalamsetiap hari sekali maka kerjakanlah dan bila tidka mampu maka sekali dalam satu Jum’at apabila tidka mampu maka setiap bulan sekali dan bila tidak mampu maka sekali dalam seumur hidup.&#8221;</em> (HR Abu Daud 1105 4/59 dan ibnu Maajah 1377  dan dimasukkan Al-Albani dalam <em>Shahih At-Targhib</em> dan <em>At-Tarhib</em> no 677 ).</p>
<p>Diantara ulama dan yang menghukumi hadits ini sebagai hadits <em>dhaif</em> (lemah) dan sebagian lainnya mengabsahkannya. Diantara ulama yang mengabsahkan hadits ini adalah Abu Daud,  Al-Haakim, Al-Baihaqi, ibnu Hajar, Ahmad Syakir dan Al-Albani.</p>
<p>Yang <em>rajih</em> –<em>wallahu a’lam</em>-  dari pendapat ulama tentang hadits ini adalah pendapat yang mengabsahkan riwayat ini.</p>
<p>Berdasarkan hal ini maka shalat tasbih termasuk shalat sunnah yang diperbolehkan dengan tata cara yang ada dalam hadits diatas.</p>
<p>Dapat disimpulkan tata caranya adalah:</p>
<p>1.    Bertakbir dan berdiri lalu membaca Al-Fatihah  dan surat dari Al-Qur`an kemudian membaca `15 tasbih yang berbunyi: <strong>سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ</strong><br />
2.    Kemudian ruku’ dan membaca tasbih tersebut 10 kali<br />
3.    Lalu berdiri i’tidal setelah mengucapkan sami’allahu liman hamidah mengucapkan tasbih 10  kali<br />
4.    Lalu turun sujud dan membaca tasbih ini dalam sujudnya sebanyak 10 kali<br />
5.    Lalu bangkit dari sujud untuk duduk diantara dua sujud dan mengucapkan tasbih ini 10 kali<br />
6.    Kemudian sujud kedua dan mengucapokan dalam sujudnya tasbih ini 10 kali<br />
7.    Kemudian bangkit dari sujud dan mengucapan tasbih sebanyak 10 kali. Sehingga totalnya adalah 75 kali tasbih.<br />
8.    Kemudian bangkit untuk rakaat kedua, ketiga dan keempat seperti itu juga. Sehingga jumlah totalnya adalah 300 kali tasbih.</p>
<p>Demikianlah seputar shalat tasbih mudah-mudahan bermanfaat.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Kholid Syamhudi, L.c.<br />
Artikel <a href="http://www.ustadzkholid.com/" target="_blank">www.UstadzKholid.com</a></strong></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-tasbih-dan-tata-caranya/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-tasbih-dan-tata-caranya/&amp;title=Hukum+Shalat+Tasbih+dan+Tata+caranya" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-tasbih-dan-tata-caranya/&amp;title=Hukum+Shalat+Tasbih+dan+Tata+caranya" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-tasbih-dan-tata-caranya/&amp;t=Hukum+Shalat+Tasbih+dan+Tata+caranya" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-tasbih-dan-tata-caranya/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Hukum+Shalat+Tasbih+dan+Tata+caranya+-+http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-tasbih-dan-tata-caranya/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-tasbih-dan-tata-caranya/&amp;title=Hukum+Shalat+Tasbih+dan+Tata+caranya" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-tasbih-dan-tata-caranya/&amp;title=Hukum+Shalat+Tasbih+dan+Tata+caranya" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Hukum+Shalat+Tasbih+dan+Tata+caranya+-+http://bit.ly/jNIhXH&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Hukum+Shalat+Tasbih+dan+Tata+caranya&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-tasbih-dan-tata-caranya/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Pertanyaan%3A%0D%0A%0D%0AAssalamu%E2%80%99alaikum%20wr.%20wb.%0D%0A%0D%0AUst.%20Apa%20hukum%20shalat%20tasbih%20dan%20bagaimana%20tata%20caranya%3F%0D%0AWassalam%0D%0A%0D%0AHamba%20Allah%0D%0A%0D%0AJawaban%3A%0D%0A%0D%0AWa%E2%80%99alaikumussalam.%0D%0A%0D%0APara%20ulama%20bersilang%20pendapaat%20tentang%20hukum%20shalat%20tasbih%20dalam%20tiga%20pendapat%20berdasarkan%20perbedaan%20mereka%20terhadap%20keabsahan%20hadits%20" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-tasbih-dan-tata-caranya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

