<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>UstadzKholid.com &#187; Akhlaq</title>
	<atom:link href="http://ustadzkholid.com/category/akhlaq/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzkholid.com</link>
	<description>Meniti Sunnah Menggapai Ukhuwah</description>
	<lastBuildDate>Fri, 06 Jan 2012 02:41:56 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Mahasiswa Antara Radikalisme dan Apatisme (Selesai)</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/akhlaq/sebab-munculnya-radikalisme/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/akhlaq/sebab-munculnya-radikalisme/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Dec 2011 04:54:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=2101</guid>
		<description><![CDATA[Sebagaimana telah dijelaskan pada pembahasan pertama tentang keadaan sekelompok besar atau mayoritas mahasiswa yang apatis atau tidak dekat dengan agama terkadang disikapi dengan sikap yang salah. Jadinya bermunculan sikap-sikap radikal yang muncul dikalangan mahasiswa lantaran tidak pas dan benarnya pendidikan dan pembinaan keagamaan mereka. Maka kami akan mengetengahkan sebuah kisah yang banyak mengandung sebuah pelajaran yang besar bagi kita.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright" title="radikalisme mahasiswa" src="http://www.sxc.hu/pic/m/m/mz/mzacha/1213609_gun.jpg " alt="radikalisme mahasiswa" width="288" height="232" />Sebagaimana telah dijelaskan pada pembahasan <a href="http://ustadzkholid.com/akhlaq/mahasiswa-antara-radikalisme-dan-apatisme-bagian-1/">pertama</a> tentang keadaan sekelompok besar atau mayoritas mahasiswa yang apatis atau tidak  dekat dengan agama terkadang disikapi dengan sikap yang salah. Jadinya  bermunculan sikap-sikap radikal yang muncul dikalangan mahasiswa  lantaran tidak pas dan benarnya pendidikan dan pembinaan keagamaan  mereka. Maka kami akan mengetengahkan sebuah kisah yang banyak mengandung sebuah pelajaran yang besar bagi kita.</p>
<h2>Kisah ini dijelaskan para ulama sebagai berikut:</h2>
<p>Ketika muncul kelompok Haruriyah (khawarij)<a href="#_ftn1">[1]</a>, mereka memisahkan diri di satu perkampungan, mereka berjumlah 6000 orang dan bersepakat untuk menyempal (memberontak) dari Ali .Orang-orang selalu mendatangi Ali a dan berkata :wahai Amirul mu’minin sesungguhnya kaum tersebut akan memberontak kepadamu. Lalu beliau menjawab: Biarkan mereka karena saya tidak akan memerangi mereka sampai mereka memerangi saya dan mereka akan melakukannya.<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Pada suatu hari saya (ibnu Abbas) mendatanginya sebelum sholat dhuhur dan aku berkata kepada Ali: Wahai Amirulmu’minin akhirkan sholat agar saya dapat mengajak bicara mereka. Beliau berkata: saya mengkhawatirkan mereka mencelakai kamu. Saya menjawab : Tidak akan, karena saya seorang yang berakhlak baik dan tidak pernah menyakiti seorangpun.</p>
<p>Lalu beliau mengizinkan saya, maka saya mengenakan pakaian yang paling bagus dari pakaian yaman dan menyisir rambut saya kemudian menemui mereka diperkampungan mereka di tengah hari sedangkan mereka sedang makan, lalu saya menemukan satu kaum yang saya tidak pernah menemukan kaum yang lebih bersungguh sungguh (dalam ibadah) dari mereka, dahi-dahi mereka hitam dari sujud, tangan-tangan mereka kasar seperti kasarnya unta dan mereka mengenakan gamis-gamis yang murah dan tersingkap serta wajah-wajah mereka pucat menguning.</p>
<p>Lalu saya memberi salam kepada mereka dan mereka menjawab: Selamat datang wahai Ibnu Abbas pakaian apa yang engkau pakai ini?!</p>
<p>Saya jawab: Apa yang kalian cela dari ku ? sungguh saya telah melihat Rasululloh sangat bagus sekali ketika mengenakan pakaian yaman, kemudian membacakan firman Allah :</p>
<p><strong> قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللهِ الَّتِى أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ اْلأَيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ</strong></p>
<p><em>Katakanlah:&#8221;Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah di keluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik&#8221;. (QS. 7:32)</em></p>
<p>Lalu mereka berkata: Apa maksud kedatangan engkau ?</p>
<p>Saya katakan pada mereka : Saya mendatangi kalian sebagai utusan para sahabat Nabi n dari muhajirin dan anshor dan dari sepupu Nabi n dan menantunya sedangkan Al Quran turun pada mereka sehingga mereka lebih mengetahui terhadap ta’wilnya dari kalian dan tidak ada dikalangan kalian seorangpun dari mereka ; Sungguh saya akan menyampaikan kepada kalian apa yang mereka sampaikan dan saya akan sampaikan kepada mereka apa yang kalian sampaikan.</p>
<p>Lalu berkata sekelompok dari mereka : Janganlah kalian berdebat dengan orang Quraisy karena Allah berfirman:</p>
<p><strong> بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُون</strong><strong><em> </em></strong></p>
<p><em>sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar. (QS. 43:58)</em></p>
<p>Kemudian bangkit kepadaku sebagian dari mereka dan berkata dua atau tiga orang: Sungguh kami akan mengajak bicara dia. Saya berkata: Silahkan, apa dendam kalian terhadap para sahabat Rasululloh dan sepupunya ? mereka jawab : tiga</p>
<p>Saya katakan: apa itu ?</p>
<p>mereka mengatakan: Pertama karena dia berhukum kepada orang dalam perkara Allah sedangkan Allah berfirman:</p>
<p><strong>إِنِِ الْحُكْمُ إِلاَّ لله</strong></p>
<p><em>Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.. (QS. 6:57)</em></p>
<p>Saya katakan: Ini satu.</p>
<p>Mereka berkata lagi: Kedua karena dia berperang dan tidak menawan dan merampas harta (yang diperangi), kalau mereka kaum kafir maka halal menawannya dan kalau mereka kaum mu’minin maka tidak boleh menawan mereka dan tidak pula memerangi mereka.<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Saya katakan: Ini yang kedua dan apa yang ketiga?</p>
<p>Mereka berkata: dia menghapus gelar amirulmu’minin dari dirinya, maka jika dia bukan amirulmu’minin, dia amirulkafirin.</p>
<p>Saya katakan : apakah masih ada pada kalian selain ini ?</p>
<p>mereka menjawab: ini sudah cukup. Saya katakan kepada mereka :bagaimana pendapat kalian kalau saya bacakan kepada kalian bantahan atas pendapat kalian dari kitabullah dan sunnah NabiNya, apakah kalian mau kembali ?</p>
<p>mereka mengatakan : ya,</p>
<p>Saya katakan: adapun pendapat kalian bahwa dia (ali) berhukum kepada orang (manusia) dalam perkara Allah maka saya bacakan kepada kalian ayat dalam kitabullah dimana Allah menjadikan hukumnya kepada manusia dalam menentukan harga ¼ dirham, lalu Allah memerintahkan mereka untuk berhukum kepadanya. Apa pendapatmu tantang firman Allah :</p>
<p><strong>يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنتُمْ حُرُمُُ وَمَن قَتَلَهُ مِنكُمْ مُّتَعَمِّدًا فَجَزَآءُُ مِّثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِّنكُمْ </strong><strong> </strong></p>
<p><em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa diantara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu (QS. 5:95)</em></p>
<p>dan hukum Allah diserahkan kepada orang (manusia) yang menghukum dalam perkara tersebut, dan kalau Allah kehendaki maka dia menghukumnya sendiri, kalau begitu tidak mengapa seseorang berhukum kepada manusia. demi Allah apakah berhukum kepada manusia dalam masalah perdamaian dan pencegahan pertumpahan darah lebih utama ataukah dalam perkara kelinci ? mereka menjawab : tentu hal itu lebih utama. Dan Allah berfirman tentang seorang wanita dan suaminya:</p>
<p><strong>وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِّنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِّنْ </strong><strong> </strong></p>
<p><em>Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. (QS. 4:35)</em></p>
<p>Demi Allah apakah berhukum kepada manusia dalam perdamaian dan mencegah pertumpahan darah lebih utama dari berhukum kepada manusia dalam permasalahan wanita ?! apakah saya telah menjawab hal itu ?</p>
<p>Mereka berkata: ya.</p>
<p>Saya katakan: pendapat kalian:&#8221;dia berperang akan tetapi tidak menawan dan merampas harta perang&#8221;; apakah kalian ingin menawan ibu kalian Aisyah yang kalian menghalalkannya seperti kalian menghalalkan selainnya, sedangkan beliaus adalah ibu kalian? Jika kalian menjawab :kami menghalalkannya seperti kami menghalalkan selainnya<em> </em>maka kalian telah kafir dan jika kalian menjawab : dia bukan ibu kami maka kalian telah kafir, Allah berfirman :</p>
<p><strong>النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ </strong><strong><em> </em></strong></p>
<p><em>Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. (QS. 33:6) m</em>aka kalian berada didua kesesatan, silahkan beri jalan keluar .apakah saya telah menjawabnya ?</p>
<p>Mereka berkata : ya.</p>
<p>Sedangkan masalah dia (Ali ) telah menghapus gelar amirulmukminin dari dirinya, maka saya akan datangkan kepada kalian apa yang membuat kalian ridho, yaitu bahwa Nabi n pada hari perjanjian Hudaibiyah berdamai dengan kaum musyrikin, lalu berkata kepada Ali :hapuslah wahai Ali (tulisan) <em>Allahumma Inaaka Ta&#8217;lam Ani Rasululloh</em> (wahai Allah sesungguhnya Engkau mengetahu bahwa aku adalah Rasululloh) dan tulislah (kalimat) <em>hadza ma sholaha alaihi Muhammad bin Abdillah</em> (ini adalah perjanjian yang dilakukan oleh Muhammad bin Abdillah).<a href="#_ftn4">[4]</a> Demi Allah sungguh Rasululloh lebih baik dari Ali dan beliau menghapus (gelar kerasulannya) dari dirinya dan tidaklah penghapusan tersebut berarti penghapusan kenabian dari dirinya. Apakah aku telah menjawabnya ?</p>
<p>Mereka berkata : ya</p>
<p>Kemudian kembalilah dari mereka dua ribu orang dan sisanya memberontak dan berperang diatas kesesatan mereka lalu mereka diperangi oleh kaum muhajirin dan Anshor.<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Jelas sekali setan mempermainkan akal kaum Khawarij sehingga mereka mengikuti hawa nafsunya dan bersandar penuh kepada kemampuan dan kedangkalan pemahaman mereka. Hal ini menyebabkan mereka enggan meruju’ kepada para Ulama dari kalangan para Sahabat yang telah jelas berada di atas petunjuk Rasulullah. Akibatnya mereka menyimpang dengan memvonis mayoritas kaum Muslimin waktu itu sebagai orang-orang kafir dan murtad dengan slogan :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><em>Tidak lain, Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah</em>.</p>
<p>Alangkah miripnya hal ini dengan sebagian kaum Muslimin sekarang yang sibuk mengumandangkan slogan ini, lalu mulai menyematkan gelar kafir terhadap sebagian kaum Muslimin. Berawal dari mengkafirkan pemerintah, baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif lalu menular sampai mengkafirkan semua orang yang mereka anggap ridha dan setuju dengan hukum-hukum “thaghût”. Akhirnya, darah mereka dianggap halal dan ditumpahkan begitu saja dengan pengeboman di negara yang nota bene berpenduduk mayoritas Muslimin.</p>
<h3>Realitas  yang harus diperbaiki.</h3>
<p>Tidak dipungkiri lagi radikalisme sudah ada sejak zaman dahulu pada kehidupan manusia. Bunuh membunuh selalu menyertai perjalanan sejarah anak manusia. Dimulai dari kisah dua anak nabi Adam hingga saat ini dan mungkin hingga masa akan datang.</p>
<p>Hal ini memang terjadi karena radikalisme dengan keaneka ragaman pengertiannya akan terus ada selama ada kezhaliman dan sikap berlebihan (Thughyaan) dimuka bumi ini. Sikap radikal ini akan berhenti atau berkurang hanya dengan kembali kepada realisasi keadilan dan sikap obyektif individu dan masyarakat. Ditambah dengan orang yang kuat menyayangi dan menghormati yang lemah dan semua orang berhukum dengan syariat yang adil yang mampu mengatur hubungan alamiyah antar mereka.</p>
<p>Sudah menjadi kewajiban para umara (pemerintah) dan Ulama untuk membimbing mereka kembali kepada ajaran Islam yang indah nan suci, yang telah dipahami secara benar oleh para Sahabat dahulu. Lihatlah, bagaimana Khalîfah Ali bin Abu Thalib mengizinkan dan mengutus Sahabat `Abdullah bin Abbas untuk mendatangi kaum Khawarij dan menjelaskan kesesatan mereka, sehingga akhirnya sebagian mereka kembali kepada kebenaran.</p>
<p>Disamping itu perlu sekali kita mengenal sebab dan faktor pendukung terjadinya radikalisme ini.</p>
<p><strong> </strong></p>
<h3>Sebab munculnya radikalisme<strong> </strong></h3>
<ol>
<li>kebodohan terhadap hakekat agama islam. Hal ini tampak jelas dengan kebodohan mereka dalam perkara berikut:
<ol>
<li>Bodoh terhadap permasalahan Takfier.</li>
<li>Tidak mengerti hak ulama dan ketinggian mereka dalam islam</li>
<li>Tidak mengetahui hakekat Al Wala’ dan Al bara’</li>
<li>Bodoh terhadap petunjuk nabi dan para sahabatnya dalam fiqih amar makruf nahi mungkar</li>
<li>Tidak faham hukum-hukum jihad, ketentuan dan syaratnya</li>
<li>Tidak mengerti hak-hak penguasa</li>
<li>Ketidah tahuan bahaya menumpahkan darah dan akibat yang timbul didunia dan Akherat.</li>
</ol>
</li>
<li>Bangga dengan dirinya dan tertipu serta sombong, ditambah lagi menganggap benar pendapatnya dan tidak menganggap sama sekali pendapat orang lain dan tidak dewasa serta kebodohan mereka. Hal ini mengakibatkan mereka berburuk sangka pada orang lain.</li>
<li>Mengikuti hawa nafsu dan dorongan jiwa dan perasaannya.</li>
<li>menerima ilmu dari ahli bid’ah dengan mendengar dan mengambil syubhat-syubhat mereka. Terkadang melalui media masa atau internet dan lain-lainnya.</li>
<li>Sedikit kalau tidak dibilang tidak ada orang yang membimbing mereka kepada kebenaran dan membantah syubhat mereka.</li>
<li>Sikap ekstrim dalam beragama</li>
<li>Adanya para da’I yang memprovokatori orang untuk melawan penguasa dan para ulama di muka umum</li>
<li>Adanya beberapa kemungkaran yang terang-terangan yang ditafsirkan sebagian orang yang tidak mengerti agama sebagai bentuk penghalalan.</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<h3>Terapi pencegahan dan pengobatannya.</h3>
<p>Orang yang mengerti sebab penyimpangan wajib berusaha mencegah dirinya dan keluarganya serta kaum muslimin lainnya dari semua sebab tersebut dan wajib juga mengobati dan memperbaiki keadaan. Hal ini dapat direalisasikan dengan hal berikut:</p>
<p>1. Menyebarkan ilmu manfaat      diantara kaum muslimin dan menganjurkan mereka belajar agama, dengan dasar      firman Allah:</p>
<p><strong>وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا</strong></p>
<p><em>Dan katakanlah:&#8221;Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan&#8221;. (QS. </em>surat Thoha 114<em>)</em></p>
<p><strong>قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لاَيَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُوا اْلأَلْبَابِ</strong></p>
<p><em>Katakanlah: &#8220;Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?&#8221; Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. </em>(QS. Az-Zumar )</p>
<p>Sabda Rasulullah:</p>
<p><em>Siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya maka difahamkan agama.</em> (HR Al Bukhori)</p>
<p>2. Mengembalikan kaum      muslimin kepada manhaj Rasululloh dan para sahabatnya dalam aqidah, ibadah      dan akhlak. Dengan dasar firman Allah:</p>
<p><strong>وَمَآءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَانَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ</strong></p>
<p><em>Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.</em> (Al Hasyr 7)</p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p><strong>لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن </strong><strong>كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا</strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik  bagi kamu, yaitu bagi orang-orang yang mengharapkan menemui Allah dan  Hari Akhir dan mengingat Allah sebanyak-banyak.” </em>(QS Al Ahzab 33 : 21).</p>
<p>Dan firman Allah :</p>
<p><strong>فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ</strong></p>
<p><em>Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.</em> (Al Nur 63).</p>
<p>Juga firman-Nya:</p>
<p><strong>وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَاتَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَاتَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآءَتْ مَصِيرًا</strong></p>
<p><em>Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.</em> (An Nisa’ 115).</p>
<ol>
<li>memerintahkan kaum      muslimin untuk merujuk kepada para ulama dalam memahami perkara agama yang      tidak jelas bagi mereka dengan dasar  dalil.</li>
<li>memerintahkan kaum muslimin untuk mentaati      penguasa dalam kemakrufan</li>
<li>menjelaskan urgensi amar      makruf nahi mungkar dan perlunya belajar tentang itu.</li>
<li>perintah untuk berdakwah      diatas ilmu</li>
<li>memberikan pencerahan      kepada kaum muslimin tentang hak-hak yang wjib dilaksanakan terhadap kaum      msulimin sendiri dan non muslim</li>
<li>mengajak orang      memperhatikan perkara tauhid dalam bejar dan mengajar dan memperingatkan      mereka dari kesyirikan</li>
<li>perintah ittiba’ dan      peringatan dari kebidahan dan ahli bid’ah dengan dasar</li>
<li>wajib komitmen kepada Al      Qur’an dan Sunnah dan bersatu diatasnya serta peringatan dari pecah belah      dan perselisihan.</li>
<li>hati-hati dan peringatan      dari syubhat ahli bid’ah dan membongkar kebatilannya.</li>
<li>ancaman mengikuti      prasangka dan kemauan jiwa.</li>
<li>hati-hati dari dakwah dan      panatis golongan yang menyelisihi dakwah nabi</li>
<li>jangan mengikuti syaitan      dan keinginan jiwa yang menmgajak kepada kejelekan.</li>
<li>mengambil kehati-hatian      dari tipu daya musuh yang ingin menghancurkan persatuan islam.</li>
<li>membina nak-anak dengan      pembinaan nabawiyah sdengan menanamkan manhaj tengah dan adil dalam jiwa      mereka dan memilih sahabat yang sholeh bagi meereka dengan dasar:</li>
<li>menjelaskan pengertian      jihad yang benar dengan ketentuan , syarat dan hukum-hukumnya.</li>
</ol>
<p>Akhirnya, kami mengajak kaum Muslimin untuk tidak mengikuti hawa nafsu dan bersandar kepada kedangkalan ilmu dan akal mereka tanpa merujuk kepada para Ulama rabbani yang telah menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk menggeluti ilmu agama. Para Ulama pewaris para nabi yang sudah dikenal, memiliki komitmen yang teguh dalam membela, menyebarkan dan mengamalkan isi kandungan al-Qur`an dan Sunnah dengan pemahaman yang benar.</p>
<p>Mudah-mudahan dengan demikian kita dapat mereka memahami dan mengamalkan agama Islam sesuai ajaran Rasul-Nya, sehingga menjadi umat terbaik dan generasi terbaik umat manusia.</p>
<p>Allah k berfirman:</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><em>Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma&#8217;ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. </em>(Qs Ali Imran/3:110)<em> </em></p>
<p>Wabillahittaufiq.</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://ustadzkholid.com/">www.UstadzKholid.com</a></strong></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Nisbat kepada Harura&#8217; yaitu sebuah desa berjarak dua mil dari Kufah, dia menjadi tempat pertama berkumpulnya kaum khawarij yang menyelisihi Ali bin Abi Tholib, lalu dinisbatkan kepadanya. Lihat Mu&#8217;jam Al Buldan 3/345 dan Allubaab fi Tahdziibil Ansaab 1/359.<br />
<a href="#_ftnref2">[2]</a> Sebagai pembenaran terhadap khabar Rasululloh tentang mereka.<br />
<a href="#_ftnref3">[3]</a> Demikanlah hukum terhadap kelompok pembangkang: wanita-wanita mereka tidak ditawan dan tidak dibagi-bagi feinya, tidak dibunuh orang-orang yang luka dari mereka dan tidak dikejar orang-orang yang lari serta tidak dimulai memeranginya sebelum mereka melakukannya.<br />
<a href="#_ftnref4">[4]</a> Dan hadits ini memiliki syahid dari hadits Bara&#8217; bin Aaziib dikeluarkan oleh Bukhoriy 5/303-304 (fath) dan Muslim 12/134-138 (Nawawiy) dan syahid dari hadits Anas dikeluarkan oleh Muslim 12/138-139 (Nawawiy)<br />
<a href="#_ftnref5">[5]</a> shohih, lihat takhrijnya dalam kitab : Munaadzaraatussalaf Ma&#8217;a Hizbi Iblis Wa Afrokhil Kholaf hal. 95 penerbit Dar Ibnil Jauziy- damam.</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/akhlaq/sebab-munculnya-radikalisme/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/sebab-munculnya-radikalisme/&amp;title=Mahasiswa+Antara+Radikalisme+dan+Apatisme+%28Selesai%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/sebab-munculnya-radikalisme/&amp;title=Mahasiswa+Antara+Radikalisme+dan+Apatisme+%28Selesai%29" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/akhlaq/sebab-munculnya-radikalisme/&amp;t=Mahasiswa+Antara+Radikalisme+dan+Apatisme+%28Selesai%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/sebab-munculnya-radikalisme/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Mahasiswa+Antara+Radikalisme+dan+Apatisme+%28Selesai%29+-+http://ustadzkholid.com/akhlaq/sebab-munculnya-radikalisme/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/sebab-munculnya-radikalisme/&amp;title=Mahasiswa+Antara+Radikalisme+dan+Apatisme+%28Selesai%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/sebab-munculnya-radikalisme/&amp;title=Mahasiswa+Antara+Radikalisme+dan+Apatisme+%28Selesai%29" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Mahasiswa+Antara+Radikalisme+dan+Apatisme+%28Selesai%29+-+http://bit.ly/uoLugP&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Mahasiswa+Antara+Radikalisme+dan+Apatisme+%28Selesai%29&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/akhlaq/sebab-munculnya-radikalisme/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Sebagaimana%20telah%20dijelaskan%20pada%20pembahasan%20pertama%20tentang%20keadaan%20sekelompok%20besar%20atau%20mayoritas%20mahasiswa%20yang%20apatis%20atau%20tidak%20dekat%20dengan%20agama%20terkadang%20disikapi%20dengan%20sikap%20yang%20salah.%20Jadinya%20bermunculan%20sikap-sikap%20radikal%20yang%20muncul%20dikalangan%20mahasiswa%20lantaran%20tidak%20pas%20dan%20benarnya%20pendidikan%20dan%20pembinaan%20keagamaan%20mereka.%20Maka%20kami%20akan%20mengetengahkan%20sebuah%20kisah%20yang%20banyak%20mengandung%20sebuah%20pelajaran%20yang%20besar%20bagi%20kita." rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/akhlaq/sebab-munculnya-radikalisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mahasiswa Antara Radikalisme dan Apatisme (Bagian 1)</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/akhlaq/mahasiswa-antara-radikalisme-dan-apatisme-bagian-1/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/akhlaq/mahasiswa-antara-radikalisme-dan-apatisme-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Dec 2011 10:10:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=2098</guid>
		<description><![CDATA[Keadaan sekelompok besar atau mayoritas mahasiswa yang apatis atau tidak dekat dengan agama terkadang disikapi dengan sikap yang salah. Jadinya bermunculan sikap-sikap radikal yang muncul dikalangan mahasiswa lantaran tidak pas dan benarnya pendidikan dan pembinaan keagamaan mereka. Inilah yang diinginkan syaitan dalam tipu dayanya yang kedua. Tipu daya tersebut adalah menyeret mereka untuk mengikuti kebid’ahan dan salah kaprah dalam memahami ajaran agama Islam yang mulia ini serta menjauhkan mereka dari para Ulama yang dapat memberikan petunjuk dan bimbingan dalam upaya menempuh jalan yang lurus dan benar. Semua ini dilakukan agar semakin tenggelam dalam penyimpangan dan kesesatan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Manusia sebelum diutusnya Rasulullah Muhammad hidup dalam kegelapan berupa kesyirikan, paganisme, kekufuran, kefajiran, kebodohan dan kedzoliman. Demikian juga hidup dalam perpecahan, perselisihan, permusuhan yang menjadikan mereka berperang, saling bunuh dan saling menindas</p>
<p>Lalu Allah karuniai nikmat yang sangat agung dan besar yang menjadi sebab keluarnya mereka dari kegelapan dan keadaan yang buruk tersebut. Nikmat tersebut adalah diutusnya Muhammad sebagai Rasul utusan Allah. sehingga Allah membuka hati-hati yang tertutup, telinga-telinga yang tuli dan mata-mata yang buta. Menjadikan mereka memiliki petunjuk dari kesesatan dan ilmu dari kebodohan serta menyatukan hati mereka menjadi bersaudara.</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab"><strong>لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ-آل عمران:164</strong></p>
<p><em>Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS. 3:164)</em></p>
<p>Dan firman-Nya,</p>
<p class="arab"><strong>وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعاً مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ-لأنفال:63</strong></p>
<p><em>Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 8:63)</em></p>
<p>Demikianlah perubahan itu terjadi sehingga kaum muslimin dimasa beliau dan para sahabatnya bersatu dalam persatuan dan persaudaraan iman. Mereka mewujudkan tauhid dan ihklas, rukun iman dan islam dan mewujudkan sebab-sebab kemenangan dan kejayaan, sehingga akhirnya Allah wariskan bumi ini kepada mereka dan memenangkan mereka atas umat lainnya. Ini semua karena iman dan amal sholeh mereka. Allah berfirman,</p>
<p class="arab"><strong>وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ-النور:55</strong></p>
<p><em>Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merobah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa.Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik. (QS. 24:55) </em>dan firman-Nya,</p>
<p class="arab"><strong>وَلَيَنصُرَنَّ اللهُ مَن يَنصُرُهُ إِنَّ اللهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ الَّذِينَ إِن مَّكَّنَّاهُمْ فِي اْلأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلاَةَ وَءَاتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ اْلأُمُورِ</strong></p>
<p><em>Seungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa (yaitu)orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma&#8217;ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. (QS. 22:40-41)</em></p>
<p>Kemudian mereka menyebarkan ajaran islam dan menerangi dunia dengan cahaya islam yang terang benderang dan menjadi kaum terhormat dan disegani seluruh umat dunia.</p>
<h2>Permusuhan musuh-musuh Islam</h2>
<p>Hal seperti ini tentunya tidak membuat musuh-musuh islam senang. Hati mereka dipenuhi kebencian dan kedengkian terhadap kaum muslimin sehingga terus berusaha untuk merusak dan menghancurkan persatuan dan kesatuan kaum muslimin dengan beraneka ragam makar. Dalam hal ini Allah jelaskan dalam firman-Nya,</p>
<p class="arab"><strong>وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَآءً فَلاَ تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ أَوْلِيَآءَ حَتَّى يُهَاجِرُوا فِي سَبِيلِ اللهِ فَإِن تَوَلَّوْا فَخُذُوهُمْ وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ وَجَدتُّمُوهُمْ وَلاَتَتَّخِذُوا مِنْهُمْ وَلِيًّا وَلاَ نَصِيرًا</strong></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan diantara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawanlah dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun diantara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong, (QS. 4:89)</em></p>
<p>Namun Allah senantiasa mengawasi mereka dan membalas tipu daya mereka pada setiap waktu dan tempat. Allah berfirman,</p>
<p class="arab"><strong>إِنَّهُمْ يَكِيدُونَ كَيْدًا وَأَكِيدُ كَيْدًا فَمَهِّلِ الْكَافِرِينَ أَمْهِلْهُمْ رُوَيْدًا </strong></p>
<p><em>Sesungguhnya orang kafir itu merencanakan tipu daya yang jahat dengan sebenar-benarnya. Dan Akupun membuat rencana (pula) dengan sebenar-benarnya Karena itu beri tangguhlah orang-orang kafir itu yaitu beri tangguhlah mereka itu barang sebentar. (QS. 86:15-17)</em></p>
<p>Musuh-musuh islam akhirnya dengan perjalanan waktu dan jauhnya kaum muslimin dari kenabian mendapatkan kesempatan dan jalan melalui sebagian kaum muslimin yang menyimpang dari ajaran Rasululloh dan para sahabatnya. Mereka berhasil semakin manjauhkan orang yang tersesat tersebut sehingga mereka berbuat kebidahan-kebidahan dalam agama ini.</p>
<h2>Syaitan pun ikut serta</h2>
<p>Setan memiliki dua cara efektif untuk menggoda seorang Muslim dan menjerumuskannya ke dalam kesesatan.</p>
<p><strong>Pertama</strong>: apabila seorang Muslim adalah pelaku kemasiatan dan orang yang tidak memiliki komitmen kepada agama, maka setan memperindah kemaksiatan dan syahwat dalam pandangannya sehingga akan semakin asyik dengan perbuatan maksiatnya dan hanyut dalam syahwatnya. Kondisi ini akan semakin menjauhkannya dari perbuatan taat kepada Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p><strong>Kedua</strong>: apabila seorang Muslim tersebut orang yang taat dan ahli ibadah, maka setan menghiasyi sikap ektrem dan berlebihan dalam agama agar agama orang ini rusak.</p>
<h2>Mahasiswa yang Apatis terhadap Agama</h2>
<p>Keberhasilan syaitan menggoda kaum muslimin lebih-lebih kaum muda dan para mahasiswa untuk tenggelam kedalam syahwat dan keduniaan membuat mereka mengidap penyakit “cinta dunia” sehingga pasti “takut mati”. Apabila sudah demikian parah penyakit ini maka mereka semakin jauh dari ketaatan kepada Allah dan memandang segala sesuatu dengan ukuran standar tersebut. Jadilah mereka bersikap apatis terhadap agama, karena menganggap agama akan menghalangi kebutuhan dan syahwatnya.</p>
<p>Sikap apatis ini dipertebal dengan peran sertanya para orientalis dan musuh-musuh islam lainnya yang berusaha merusak citra kemulian islam. Apalagi adanya peristiwa-peristiwa yang diberitakan sedemikian rupa akibat kesalahan sebagian kaum muslimin yang nampaknya tanpa disengaja dan dengan niyat yang baik.</p>
<p>Demikianlah keberhasilan syaitan dalam menggoda para mahasiswa sehingga jauh dan menjauh dari ibadah kepada Allah dengan benar dan islam hanya tinggal nama saja tanpa ruh dan syariat.</p>
<p>Bila demikain ini dipertahankan terus maka akibat buruknya adalah terjadinya kerendahan dan kehinaan pada kaum muslimin dan kemulian serta kejayaan terhapuskan dari mereka. Lihatlah sabda Rasulullah :</p>
<p class="arab"><strong>إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ</strong></p>
<p><em>Apabila kalian telah berjual beli ribawi dan mengikuti ekor sapi serta ridho dengan pertania dan meninggalkan jihad dijalan Allah, maka pasti Allah timpakan kepada kalian kehinaan tidak akan mencabutnya hingga kalian kembali kepada Agama kalian.</em> (HR Abu dawud dan dishahihkan al-Albani dengan sebab banyaknya jalan periwayatannya dalam Silsilah Ahadits Shahihah no. 11 (1/15)).</p>
<p>Dalam hadits yang mulia ini ada isyarat bahwa cara menghilangkan sikap apatis terhadap agama ini hanya bisa dilakukan dengan sukses bila diajak kembali memahami islam dengan benar.</p>
<h3>Mahasiswa dan radikalisme</h3>
<p>Keadaan sekelompok besar atau mayoritas mahasiswa yang apatis atau tidak dekat dengan agama terkadang disikapi dengan sikap yang salah. Jadinya bermunculan sikap-sikap radikal yang muncul dikalangan mahasiswa lantaran tidak pas dan benarnya pendidikan dan pembinaan keagamaan mereka. Inilah yang diinginkan syaitan dalam tipu dayanya yang kedua. Tipu daya tersebut adalah menyeret mereka untuk mengikuti kebid’ahan dan salah kaprah dalam memahami ajaran agama Islam yang mulia ini serta menjauhkan mereka dari para Ulama yang dapat memberikan petunjuk dan bimbingan dalam upaya menempuh jalan yang lurus dan benar. Semua ini dilakukan agar semakin tenggelam dalam penyimpangan dan kesesatan.</p>
<p>Penyakit “<strong>salah kaprah dalam memahami ajaran Islam</strong>” telah terjadi sejak para Sahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> masih hidup. Diawali dengan kemunculan embrio sekte Khawarij yang berawal dari salah kaprah dalam vonis kafir lalu berlanjut ke pemberontakan dan akhirnya membunuhi  kaum Muslimin yang telah mereka vonis kafir. Rasulullah mensifati mereka dengan sabdanya,</p>
<p>v<strong>يَقْتُلُونَ أَهْلَ اْلإِسْلاَمِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ اْلأَوْثَانِ</strong><strong> </strong></p>
<p><em>Mereka memerangi kaum Muslimin dan membiarkan penyembah berhala</em> (Muttafaq ‘alaihi)</p>
<p>Mereka bisa demikian, karena dalam memahami nash-nash syari’at mereka menyelisihi pemahaman para Sahabat waktu itu. Oleh karena itu, ketika Sahabat yang mulia Ibnu Abbas z mendebat mereka dengan pemahaman yang benar, banyak diantara mereka menyatakan ruju’ kepada kebeanaran dan meninggalkan pemahaman mereka yang keliru.</p>
<p>=<em>Bersambung insyaAllah</em>=</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://ustadzkholid.com/">www.UstadzKholid.com</a></strong></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/akhlaq/mahasiswa-antara-radikalisme-dan-apatisme-bagian-1/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/mahasiswa-antara-radikalisme-dan-apatisme-bagian-1/&amp;title=Mahasiswa+Antara+Radikalisme+dan+Apatisme+%28Bagian+1%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/mahasiswa-antara-radikalisme-dan-apatisme-bagian-1/&amp;title=Mahasiswa+Antara+Radikalisme+dan+Apatisme+%28Bagian+1%29" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/akhlaq/mahasiswa-antara-radikalisme-dan-apatisme-bagian-1/&amp;t=Mahasiswa+Antara+Radikalisme+dan+Apatisme+%28Bagian+1%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/mahasiswa-antara-radikalisme-dan-apatisme-bagian-1/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Mahasiswa+Antara+Radikalisme+dan+Apatisme+%28Bagian+1%29+-+http://ustadzkholid.com/akhlaq/mahasiswa-antara-radikalisme-dan-apatisme-bagian-1/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/mahasiswa-antara-radikalisme-dan-apatisme-bagian-1/&amp;title=Mahasiswa+Antara+Radikalisme+dan+Apatisme+%28Bagian+1%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/mahasiswa-antara-radikalisme-dan-apatisme-bagian-1/&amp;title=Mahasiswa+Antara+Radikalisme+dan+Apatisme+%28Bagian+1%29" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Mahasiswa+Antara+Radikalisme+dan+Apatisme+%28Bagian+1%29+-+http://bit.ly/uJ0ivh&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Mahasiswa+Antara+Radikalisme+dan+Apatisme+%28Bagian+1%29&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/akhlaq/mahasiswa-antara-radikalisme-dan-apatisme-bagian-1/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Keadaan%20sekelompok%20besar%20atau%20mayoritas%20mahasiswa%20yang%20apatis%20atau%20tidak%20dekat%20dengan%20agama%20terkadang%20disikapi%20dengan%20sikap%20yang%20salah.%20Jadinya%20bermunculan%20sikap-sikap%20radikal%20yang%20muncul%20dikalangan%20mahasiswa%20lantaran%20tidak%20pas%20dan%20benarnya%20pendidikan%20dan%20pembinaan%20keagamaan%20mereka.%20Inilah%20yang%20diinginkan%20syaitan%20dalam%20tipu%20dayanya%20yang%20kedua.%20Tipu%20daya%20tersebut%20adalah%20menyeret%20mereka%20untuk%20mengikuti%20kebid%E2%80%99ahan%20dan%20salah%20kaprah%20dalam%20memahami%20ajaran%20agama%20Islam%20yang%20mulia%20ini%20serta%20menjauhkan%20mereka%20dari%20para%20Ulama%20yang%20dapat%20memberikan%20petunjuk%20dan%20bimbingan%20dalam%20upaya%20menempuh%20jalan%20yang%20lurus%20dan%20benar.%20Semua%20ini%20dilakukan%20agar%20semakin%20tenggelam%20dalam%20penyimpangan%20dan%20kesesatan." rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/akhlaq/mahasiswa-antara-radikalisme-dan-apatisme-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hindarilah Sifat Hasad</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/akhlaq/sifat-hasad/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/akhlaq/sifat-hasad/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Aug 2011 06:49:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1474</guid>
		<description><![CDATA[Menghindari Sifat Hasad
Allah memberikan nimmat-Nya tidak sama pada semua hamba-Nya, ada yang diberi banyak dan ada yang sedikit. Semua itu untuk menguji para hamba-Nya dalam kehidupan dunia ini. Ujian ini bagaikan api membersihkan dan memisahkan emas dari campurannya. Sehingga dengan ujian ini dapat terlihat mana yang benar-benar beriman dan yang tidak. Oleh karena itu janga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Menghindari Sifat Hasad</h2>
<p>Allah memberikan nimmat-Nya tidak sama pada semua hamba-Nya, ada yang diberi banyak dan ada yang sedikit. Semua itu untuk menguji para hamba-Nya dalam kehidupan dunia ini. Ujian ini bagaikan api membersihkan dan memisahkan emas dari campurannya. Sehingga dengan ujian ini dapat terlihat mana yang benar-benar beriman dan yang tidak. Oleh karena itu janga sampai kita kalah dalam ujian tersebut.<br />
<span id="more-1474"></span></p>
<h2><strong>Sifat Hasad Iblis kepada Adam</strong></h2>
<p>Karena perbedaan inilah, sering timbul sifat-sifat jelek hamba Allah terhadap yang lainnya. Lihat awal perseteruan Adam dan iblis, ketika Iblis melanggar perintah Allah untuk sujud kepada Adam disebabkan perasaan hasadnya terhadap Adam. Ia merasa Allah tidak adil dalam perintah tersebut, bagaimana tidak? –menurut Iblis-. Ia yang lebih baik dan pantas dari Adam mendapat kemuliaan tersebut, kok malahan diminta sujud padanya, sampai ia mengatakan,</p>
<p><em>”Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.&#8221;</em> (QS. Al-A&#8217;raf: 12)</p>
<p>Perseteruan itu ada disebabkan <strong>sifat hasad</strong> kepada Adam yang telah Allah muliakan. Akibatnya Allah kutuk Iblis dan menjadikannya musuh anak Adam sampai hari kiamat.</p>
<p>Demikian juga permusuhan orang kafir terhadap kaum mukminin, sehingga mereka mengerahkan segala kekuatan dan daya upaya untuk menjauhkan kaum mukmin dari keimanan, sebagaimana dijelaskan Allah dalam firman-Nya,</p>
<p><em>Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguh-Nya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.</em> (QS. Al-Baqarah: 109)</p>
<h3>Apa itu Sifat Hasad?</h3>
<p><span style="text-decoration: underline;">Sifat hasad</span> atau dengki adalah sifat seseorang yang tidak suka orang lain lebih darinya atau tidak suka orang lain mendapatkan kenikmatan Allah baik dengan keinginan kenikmatan tersebut hilang darinya atau tidak, bila disertai perasaan ingin menghancurkan milik orang lain maka ini merupakan sifat hasad tingkat tinggi dan paling jelek, seperti sifat hasadnya Iblis kepada Adam.<br />
Sifat hasad ini dapat digambarkan dengan contoh, misalnya tetangga kita memiliki kelebihan harta benda, atau anak atau istri yang cantik jelita atau memiliki kedudukan dan nama baik dimasyarakat, lalu kita iri dan dengki kepadanya, baik berusaha jelek merusaknya ataupun tidak. Sifat hasad ini dapat membuat orang berbuat dzolim kepada tetangganya, bahkan juga ngosipin dan menjelek-jelekkannya didepan orang lain. Tentu ini akan menjadikan suasana bermasarakat yang tidak kondusif dan buruk sekali.</p>
<h4>10 Bahaya Sifat Hasad</h4>
<p><span style="text-decoration: underline;">Sifat hasad sangat berbahaya sekali, diantara bahayanya adalah:</span></p>
<ul>
<li>Sifat hasad merupakan sifat orang yahudi yang Allah laknat, sehingga siapa yang memilikinya berarti telah menyerupai mereka. Allah berfirman tentang hal ini,</li>
</ul>
<p><em>&#8220;Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar.&#8221;</em> (QS. An-Nisa&#8217; 4:54)</p>
<ul>
<li> Orang yang memiliki sifat sifat hasad tidak dapat menyempurnakan imannya, sebab ia tidak akan dapat mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Padahal Rasulullah bersabda, <em>&#8220;Tidak sempurna iman salah seorang kalian sampai cinta untuk saudaranya seperti cinta untuk dirinya.&#8221;</em> (Muttafaqun Alaihi). Bahkan lebih dari itu orang yang hasad sangat bahagia dan senang bila saudaranya celaka dan binasa.</li>
</ul>
<ul>
<li> Ada dalam sifat hasad ini ketidaksukaan terhadap takdir yang Allah berikan kepadanya, sebab siapa yang memberikan nikmat kepada orang lain tersebut? Tentu saja Allah. Seakan-akan ia ingin ikut berperan aktif dalam penentuan takdir Allah dengan merasa bahwa ia lebih pantas mendapatkan nikmat tersebut dari orang lain.</li>
</ul>
<ul>
<li> Setiap orang lain mendapatkan kenikmatan, semakin besar dan kuat api hasad dalam dirinya, sehingga ia selalu penasaran dan duka serta hatinya terbakar api hasad tersebut.</li>
</ul>
<ul>
<li> Menimbulkan sikap egois yang tinggi dan tidak menyukai kebaikan pada orang lain</li>
</ul>
<ul>
<li> Sifat hasad memakan dan melumat kebaikan yang dimilikinya sebagaimana api memakan dan melumat kayu bakar yang kering. Ini yang dinyatakan Rasulullah dalam sabdanya,</li>
</ul>
<p><em>&#8220;Jauhkanlah (oleh kalian) dengki (hasad) karena ia akan memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.&#8221;</em> (HR. Abu daud).</p>
<ul>
<li> menyusahkan diri sendiri sebab ia tidak mampu merubah sedikitpun takdir Allah. Allah telah memberikan nikmat pada orang lain dan tidak akan tercegah dan terhalangi oleh ulah orang yang hasad tersebut. Walaupun ia telah berusaha dengan mencurahkan seluruh kesungguhan dan kemampuannya tidak akan mungkin merubah takdir Allah yang sudah ditetapkan. Sehingga semua usahanya hanyalah sia-sia belaka.</li>
</ul>
<ul>
<li> Sifat hasad mencegah pemiliknya dari berbuat amal kebaikan dan kemanfaatan. Hal ini karena ia selalu sibuk dengan memikirkan dan melihat milik orang lain sehingga seluruh hidupnya hanya untuk memikirkan bagaimana datangnya kenikmatan pada orang lain dan bagaimana cara menghilangkannya.</li>
</ul>
<ul>
<li> Sifat	hasad dapat memecah persatuan, kesatuan dan persaudaraan kaum muslimin. Memang demikian, karena itulah Rasulullah bersabda,</li>
</ul>
<p><em>&#8220;Janganlah saling hasad dan berbuat najasy dan janganlah saling bermusuhan serta saling mendiamkan dan jadilah kalian bersaudara.&#8221;</em> (HR.  Muslim).</p>
<ul>
<li>Hidupnya tidak pernah tenang dan tentram, apalagi bahagia. Orang yang hasad selalu dalam keadaan gundah gulana dan resah melihat orang lain lebih darinya. Padahal mesti ada orang ;ain yang memiliki kelebihan darinya.</li>
</ul>
<p>Oleh karena itu, Rasulullah melarang kita melakukan perbuatan hasad ini.</p>
<p>Alangkah mengerikan bahaya dan kerusakan yang timbul dari dengki (sifad hasad) ini. Oleh karena itu, marilah kita berusaha menanggalkan dan menghilangkannya dari diri kita.</p>
<h5>10 Kiat menghindari dan mencegah sifat Hasad.</h5>
<p><span style="text-decoration: underline;">Setelah mengetahui bahayanya, tentunya kita harus berusaha menghindari dan manjauhkan diri dari sifat yang satu ini. Untuk itu perlu melihat kiat-kiat berikut ini:</span></p>
<ul>
<li> Belajar dan memahami akidah islam yang benar, baik tentang keimanan ataupun syari’at serta nmengamalkannya. Kebenaran aqidah merupakan sumber segala perbaikan dan kebaikan. Hal ini dilakukan dengan terus senantiasa menggali isi kandungan Alquran dan Hadits.</li>
</ul>
<ul>
<li> Memahami dengan benar konsep takdir menurut syari’at Islam, sehingga faham kalau segala kenikmatan dan rezeki serta yang lainnya tidak lepas dari ketentuan takdir Allah. Dengan memahami ini diharapkan tidak timbul dalam diri kita rasa iri dan dengki terhadap orang lain, karena tahu itu semua tidak lepas dari ketetapan takdir Allah.</li>
</ul>
<ul>
<li> Meyakini dengan benar dan kokoh bahwa semua kenikmatan tersebut berasal dari Allah dan diberikan kepada setiap orang sesuai dengan hikmah yang diinginkan-Nya. Sebab tidak semua kenikmatan yang Allah berikan kepada orang lain itu baik untuknya.</li>
</ul>
<ul>
<li> Membersihkan hati dengan berusaha mengamalkan seluruh syari’at islam.</li>
</ul>
<ul>
<li> Memandang dunia dengan segala perhiasannya sebagai sesuatu yang akan punah dengan cepat dan sesuatu yang tidak seberapa dibanding akherat. Demikian juga memandang tujuan akhir kehidupannya adalah akhirat yang kekal abadi, sebagaimana firman Allah,</li>
</ul>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman di bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berfikir. Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).&#8221;</em> (QS. Yunus, 10: 24-25)</p>
<ul>
<li>Selalu mengingat bahaya sifat hasad bagi kehidupan dunia dan akhiratnya.</li>
</ul>
<ul>
<li> Selalu mencanangkan dalam hatinya kewajiban mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cinta untuk dirinya, sehingga tidak merasa panas melihat saudaranya lebih baik darinya dalam permasalahan dunia. Rasulullah bersabda,</li>
</ul>
<p><em>&#8220;Tidaklah seorang dari kalian sempurna imannya sampai mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya.&#8221; </em>(Mutafaqun Alaihi).</p>
<ul>
<li>Berusaha memenuhi hak-hak saudaranya sesama muslim dan mencari teman baik yang mengingatkan dan menasihatinya.</li>
</ul>
<ul>
<li> <a title="istigfar" href="http://ustadzkholid.com/aqidah/istighfar/" target="_blank">Selalu mengingat kematian</a> dan pembalasan Allah atas kezaliman dan kerusakan yang ditumbulkan sifat hasad tersebut.</li>
</ul>
<ul>
<li> Mengingat keutamaan zuhud dan lapang dada terhadap nikmat yang Allah anugrahi kepada orang lain serta kewajiban bersyukur terhadap nikmat yang dianugrahkan kepadanya. Sebab semua ini akan menimbulkan sifat qana’ah dan kaya diri. Sifat qana’ah dan kaya diri ini yang akan membawanya kepada sifat <em>iffah</em> dan takwa.</li>
</ul>
<p>Mudah-mudahan dengan selalu berusaha menjauhi dan meninggalkan sifat hasad ini kita semua dimudahkan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.</p>
<p><strong>Penulis Ustadz Kholid Syamhudi, L.c.</strong></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.ustadzkholid.com/" target="_blank">www.UstadzKholid.com</a></strong></p>
<p><strong>Tentang:</strong> Sifat Hasad, ciri-ciri sifat hasad, menghilangkan sifat hasad</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/akhlaq/sifat-hasad/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/sifat-hasad/&amp;title=Hindarilah+Sifat+Hasad" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/sifat-hasad/&amp;title=Hindarilah+Sifat+Hasad" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/akhlaq/sifat-hasad/&amp;t=Hindarilah+Sifat+Hasad" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/sifat-hasad/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Hindarilah+Sifat+Hasad+-+http://ustadzkholid.com/akhlaq/sifat-hasad/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/sifat-hasad/&amp;title=Hindarilah+Sifat+Hasad" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/sifat-hasad/&amp;title=Hindarilah+Sifat+Hasad" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Hindarilah+Sifat+Hasad+-+http://bit.ly/qbTVZq&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Hindarilah+Sifat+Hasad&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/akhlaq/sifat-hasad/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Menghindari%20Sifat%20Hasad%0D%0AAllah%20memberikan%20nimmat-Nya%20tidak%20sama%20pada%20semua%20hamba-Nya%2C%20ada%20yang%20diberi%20banyak%20dan%20ada%20yang%20sedikit.%20Semua%20itu%20untuk%20menguji%20para%20hamba-Nya%20dalam%20kehidupan%20dunia%20ini.%20Ujian%20ini%20bagaikan%20api%20membersihkan%20dan%20memisahkan%20emas%20dari%20campurannya.%20Sehingga%20dengan%20ujian%20ini%20dap" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/akhlaq/sifat-hasad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kiat Mendeteksi Keimanan Kita</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/akhlaq/kiat-mendeteksi-keimanan-kita/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/akhlaq/kiat-mendeteksi-keimanan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 May 2011 07:22:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1691</guid>
		<description><![CDATA[Setelah kita bersusah payah mengeluarkan dan mengorbankan waktu, tenaga dan harta milik kita untuk merubah keadaan menjadi lebih baik dan sempurna. Perlu sekali kita mengecek hasilnya, apakah kalbu kita telah sehat kembali ataukah masih sakit atau malahan semakin keras –Wal’iyadzubillah-?
Untuk itu marilah kita kenali kesehatan kalbu kita dengan melihat kadar rasa takutnya kepada Allah, sebagaimana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah kita bersusah payah mengeluarkan dan mengorbankan waktu, tenaga dan harta milik kita untuk merubah keadaan menjadi lebih baik dan sempurna. Perlu sekali kita mengecek hasilnya, apakah kalbu kita telah sehat kembali ataukah masih sakit atau malahan semakin keras –<em>Wal’iyadzubillah</em>-?</p>
<p>Untuk itu marilah kita kenali kesehatan kalbu kita dengan melihat kadar rasa takutnya kepada Allah, sebagaimana Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman,<br />
<strong><br />
</strong><em>“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati (kalbu) mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.</em>” (Al-Anfaal: 2)<br />
<span id="more-1691"></span><br />
<strong>Bagaimana Mengetahui kalbu memiliki rasa takut kepada Allah?</strong></p>
<p>Tentunya hal ini dengan melihat tanda-tandanya, diantaranya adalah,</p>
<p><strong>1. Rasa gemetar 	pada tubuh dan rasa tenang pada kulit dan hati ketika mendengar 	Al-Qur’an.</strong></p>
<p>Sebagaimana Allah berfirman,</p>
<p><em>“Allah 	telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu Al-Qur’an) yang 	serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya 	kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi 	tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah 	petunjuk Allah, dengan Kitab itu Dia menunjuki siapa yang 	dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak 	ada seorang pun pemberi petunjuk baginya.”</em> (Az-Zumar: 23)</p>
<p><strong>2. Kekhusyukan hati ketika berdzikir kepada Allah.</strong></p>
<p>Sebagaimana Allah berfirman,</p>
<p>“<em>Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik</em>.”(Al-Hadiid: 16)</p>
<p><strong>3. Mendengarkan kebenaran dan tunduk terhadapnya</strong>.</p>
<p>Sebagaimana Allah berfirman,<br />
<strong><br />
</strong><em>“Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al-Qur’an itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati (kalbu) mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.”</em> (Al-Hajj: 54)</p>
<p><strong>4. Selalu kembali bertobat kepada Allah</strong>.</p>
<p>Sebagaimana Allah berfirman,<br />
<em>“Yaitu orang yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati (kalbu) yang bertaubat.”</em> (Qaaf: 33)</p>
<p><strong>5. Ketenangan dan kewibawaan</strong>.</p>
<p>Sebagaimana Allah berfirman,<br />
<em><strong><br />
</strong></em><em>“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati (kalbu) orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”</em> (Al-Fath: 4)</p>
<p><strong>6. Berdebarnya kalbu karena cinta kaum mukminin</strong>.</p>
<p>Sebagaimana Allah berfirman,<br />
<strong><br />
</strong><em>“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”</em> (Al-Hasyr: 10)</p>
<p><strong>7. Selamatnya hati dari iri dan dengki</strong>.</p>
<p>Sebagaimana Allah berfirman,</p>
<p>“<em>Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.</em>” (Ali Imraan: 103)</p>
<p>Apabila hati kita telah demikian maka bersyukurlah kepada Allah dengan mempertahankannya dan memeliharanya agar dapat istiqamah. Namun sebaliknya bila tanda-tanda ini belum ada maka hendaknya banyak lagi bertaubat.</p>
<p>Mari obati kalbu kita agar selamat didunia dan akhirat.</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi,L.c.<br />
Artikel <a href="http://www.UstadzKholidcom" target="_blank">www.ustadzkholid.com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/akhlaq/kiat-mendeteksi-keimanan-kita/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/kiat-mendeteksi-keimanan-kita/&amp;title=Kiat+Mendeteksi+Keimanan+Kita" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/kiat-mendeteksi-keimanan-kita/&amp;title=Kiat+Mendeteksi+Keimanan+Kita" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/akhlaq/kiat-mendeteksi-keimanan-kita/&amp;t=Kiat+Mendeteksi+Keimanan+Kita" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/kiat-mendeteksi-keimanan-kita/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Kiat+Mendeteksi+Keimanan+Kita+-+http://ustadzkholid.com/akhlaq/kiat-mendeteksi-keimanan-kita/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/kiat-mendeteksi-keimanan-kita/&amp;title=Kiat+Mendeteksi+Keimanan+Kita" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/kiat-mendeteksi-keimanan-kita/&amp;title=Kiat+Mendeteksi+Keimanan+Kita" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Kiat+Mendeteksi+Keimanan+Kita+-+http://bit.ly/jIvWLL&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Kiat+Mendeteksi+Keimanan+Kita&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/akhlaq/kiat-mendeteksi-keimanan-kita/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Setelah%20kita%20bersusah%20payah%20mengeluarkan%20dan%20mengorbankan%20waktu%2C%20tenaga%20dan%20harta%20milik%20kita%20untuk%20merubah%20keadaan%20menjadi%20lebih%20baik%20dan%20sempurna.%20Perlu%20sekali%20kita%20mengecek%20hasilnya%2C%20apakah%20kalbu%20kita%20telah%20sehat%20kembali%20ataukah%20masih%20sakit%20atau%20malahan%20semakin%20keras%20%E2%80%93Wal%E2%80%99iyadzubillah-%3F%0D%0A%0D%0AUnt" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/akhlaq/kiat-mendeteksi-keimanan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sabar di Atas Ketaatan dan dari Kemaksiatan</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/akhlaq/sabar-di-atas-ketatan-dan-dari-kemaksiatan/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/akhlaq/sabar-di-atas-ketatan-dan-dari-kemaksiatan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Mar 2011 06:42:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1855</guid>
		<description><![CDATA[Syeikh Abdulqadir Al-Jailani menyatakan, “Seorang hamba harus menghadapi perintah untuk dikerjakan, larangan untuk dijauhi dan takdir yang harus disabari.”
Pernyataan beliau ini memiliki dua sisi; sisi pertama dari Allah dan sisi yang lainnya dari hamba. Allah Ta&#8217;ala memiliki dua hukum atas hamba-Nya yaitu hukum syar’i dan hukum kauniyah. Hukum syar’i berhubungan dengan perintah Allah dan hukum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Syeikh Abdulqadir Al-Jailani menyatakan<em>, “Seorang hamba harus menghadapi perintah untuk dikerjakan, larangan untuk dijauhi dan takdir yang harus disabari.”</em></p>
<p>Pernyataan beliau ini memiliki dua sisi; sisi pertama dari Allah dan sisi yang lainnya dari hamba. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> memiliki dua hukum atas hamba-Nya yaitu hukum <em>syar’i</em> dan hukum <em>kauniyah</em>. Hukum <em>syar’i</em> berhubungan dengan perintah Allah dan hukum <em>kauniyah</em> berhubungan dengan penciptaan-Nya, sebab Allah-lah yang memiliki penciptaan dan perintah, sebagaimana firman-Nya,<span id="more-1855"></span></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَاْلأَمْرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam.” </em>(QS. Al-A&#8217;raf : 54).</p>
<p><em> </em></p>
<p>Hukum <em>syar’i</em> yang menjadi hak Allah itu ditinjau dari yang dituntut ada dua. Pertama, yang dituntut itu dicintai Allah, maka harus dikerjakan ada kalanya hukumnya wajib atau sunnah dan ini tidak bisa dilakukan secara sempurna tanpa kesabaran. Apabila hal itu dibenci Allah maka yang harus dilakukan adalah meninggalkannya, baik hukumnya haram atau makruh. Ini juga harus dengan kesabaran.</p>
<p>Adapun Hukum <em>kauniyah</em>-nya inilah yang dinamakan ketetapan dan takdir Allah, inipun butuh kesabaran.</p>
<p>Sehingga agama kembali kepada tiga hal ini yaitu melaksanakan perintah, menjauhi larangan dan sabar menghadapi takdir Allah, ini dari sisi Allah.</p>
<p>Sedangkan dari sisi hamba sendiri, mereka tidak akan lepas dari tiga perkara ini selama masih menjadi <em>mukallaf</em>. Tidak akan lepas dari tiga perkara diatas sampai hilang darinya beban <em>taklif</em> (tidak jadi <em>mukallaf</em> lagi). Padahal ketiga perkara diatas tidak akan dapat dihadapi seorang hamba kecuali dengan kesabaran, sehingga seorang hamba harus memiliki tiga kesabaran; sabar diatas ketaatan dan perintah Allah hingga menunaikannya, sabar dari maksiat dan larangan Allah sampai tidak terjerumus padanya, dan sabar menghadapi takdir dan ketetapan Allah hingga tidak murka dengannya.</p>
<p>Ketiga hal inilah yang diwasiatkan Luqman kepada anaknya dalam firman Allah,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">يَابُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاَةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَآأَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ اْلأُمُورِ</p>
<p><em>“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”</em> (QS. Luqman:17).</p>
<p>Demikian juga Allah sampaikan tiga perkara ini dalam firmanNya,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا اْلأَلْبَابِ {19} الَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهْدِ اللهِ وَلاَيَنقُضُونَ الْمِيثَاقَ {20} وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَآأَمَرَ اللهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيَخشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ {21} وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلاَنِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُوْلَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ .22}</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran,(yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian,dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk. Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Rabbnya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rejeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik).” (</em>QS. Ar-Ra&#8217;d: 19-22<em>).</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Ibnul Qayim dalam kitab <em>Idatush Shabirin</em> menyatakan, &#8220;Yang dimaksud bahwa ayat-ayat ini mencakup seluruh kedudukan (<em>Maqam</em>) Islam dan iman. Ayat-ayat ini mencakup pelaksanaan perintah dan meninggalkan larangan dan sabar menghadapi takdir Allah. Allah juga sampaikan tiga perkara ini dalam firmanNya,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَإِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Jika kamu bersabar dan bertakwa.</em>” (QS. Ali Imran:186).<em> </em></p>
<p>Dan,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَن يَتَّقِ وَيَصْبِرْ</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar.” </em>(QS. Yusuf: 90).<em> </em></p>
<p>Serta,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ .200</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” </em>(QS. Ali Imran: 200).</p>
<p><em> </em></p>
<p>Maka seluruh ayat yang digabungkan ketakwaan dengan sabar mencakup tiga perkara ini, karena hakekat takwa adalah melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan.”</p>
<p><strong>Mengapa ketaatan butuh kesabaran?</strong></p>
<p>Seseorang harus sabar diatas ketaatan, karena ketaatan itu berat bagi jiwa dan terkadang berat bagi badan, bahkan juga dari sisi harta. Semisal ibadah haji, ibadah ini memerlukan kesabaran menahan diri dari hal-hal yang dilarang, ini tentunya berat dan menyusahkan jiwa pelakunya. Juga dalam haji banyak amalan badan, dari melempar <em>jumrah</em>, <em>thawaf</em>, <em>sa&#8217;i</em> dan lain-lainnya yang menyebabkan kesulitan dan kelelahan badan. Ditambah lagi harus keluar uang dan harta yang tidak sedikit. Semua ini tentunya mengharuskan adanya kesabaran.</p>
<p>Demikian juga meninggalkan larangan dan menahan diri dari kemaksiatan butuh sekali kepada kesabaran. Sebab hawa nafsu mendorong kita berbuat maksiat dan melanggar larangan Allah. Sehingga seseorang harus tabah dan sabar menahan dirinya untuk tidak melakukan perbuatan tersebut.</p>
<p>Oleh karena itu Allah berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوااللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ .200</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” </em>(QS. Ali-Imran: 200).</p>
<p><em> </em></p>
<p>Syeikh Ibnu Utsaimin menafsirkan ayat diatas yang intinya adalah, Allah (dalam ayat ini) memerintahkan kaum mukminin berbuat empat perkara:</p>
<ul>
<li>Bersabar dari kemaksiatan. Kemaksiatan tidak terjadi kecuali ketika      hawa nafsu mendorongnya.</li>
<li><em>Mushabarah</em>. Ini ada pada ketaatan, Karena ketaatan berisi      dua perkara:</li>
</ul>
<blockquote><p>1. Beban perbuatan pada seseorang dan ia harus memaksakan diri<br />
2. Berat bagi jiwa, karena beratnya melaksanakan ketaatan sama dengan beratnya meninggalkan maksiat bagi jiwa dan hawa nafsu.</p></blockquote>
<ul>
<li><em>Al-Murabathah</em> yang berarti kebaikan yang banyak dan      sinambung diatasnya.</li>
<li>Takwa yang mencakup ketiga hal diatas.</li>
</ul>
<p>Kemudian Allah menjelaskan bahwa pelaksanaan keempat perkara diatas adalah sebab-sebab timbulnya kesuksesan. (Diambil secara bebas dan perubahan dari kitab <em>Syarhu Riyadh shalihin,</em> 1/122-123).</p>
<p>Siapa yang ingin sukses segera wujudkan keempat perkara diatas!</p>
<p>Demikianlah, kesabaran harus tetap dilatih sekuat mungkin hingga dapat mewujudkan ketakwaan dalam diri kita masing-masing.<br />
Mudah-mudahan bermanfaat.</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, L.c.<br />
Artikel <a href="http://www.ustadzkholid.com" target="_blank">www.ustadzkholid.com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/akhlaq/sabar-di-atas-ketatan-dan-dari-kemaksiatan/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/sabar-di-atas-ketatan-dan-dari-kemaksiatan/&amp;title=Sabar+di+Atas+Ketaatan+dan+dari+Kemaksiatan" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/sabar-di-atas-ketatan-dan-dari-kemaksiatan/&amp;title=Sabar+di+Atas+Ketaatan+dan+dari+Kemaksiatan" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/akhlaq/sabar-di-atas-ketatan-dan-dari-kemaksiatan/&amp;t=Sabar+di+Atas+Ketaatan+dan+dari+Kemaksiatan" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/sabar-di-atas-ketatan-dan-dari-kemaksiatan/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Sabar+di+Atas+Ketaatan+dan+dari+Kemaksiatan+-+http://ustadzkholid.com/akhlaq/sabar-di-atas-ketatan-dan-dari-kemaksiatan/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/sabar-di-atas-ketatan-dan-dari-kemaksiatan/&amp;title=Sabar+di+Atas+Ketaatan+dan+dari+Kemaksiatan" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/sabar-di-atas-ketatan-dan-dari-kemaksiatan/&amp;title=Sabar+di+Atas+Ketaatan+dan+dari+Kemaksiatan" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Sabar+di+Atas+Ketaatan+dan+dari+Kemaksiatan+-+http://bit.ly/idVTok&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Sabar+di+Atas+Ketaatan+dan+dari+Kemaksiatan&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/akhlaq/sabar-di-atas-ketatan-dan-dari-kemaksiatan/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Syeikh%20Abdulqadir%20Al-Jailani%20menyatakan%2C%20%E2%80%9CSeorang%20hamba%20harus%20menghadapi%20perintah%20untuk%20dikerjakan%2C%20larangan%20untuk%20dijauhi%20dan%20takdir%20yang%20harus%20disabari.%E2%80%9D%0D%0A%0D%0APernyataan%20beliau%20ini%20memiliki%20dua%20sisi%3B%20sisi%20pertama%20dari%20Allah%20dan%20sisi%20yang%20lainnya%20dari%20hamba.%20Allah%20Ta%27ala%20memiliki%20dua%20hukum%20atas%20h" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/akhlaq/sabar-di-atas-ketatan-dan-dari-kemaksiatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sabar Menghadapi Cobaan</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/akhlaq/sabar-menghadapi-cobaan/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/akhlaq/sabar-menghadapi-cobaan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Mar 2011 07:40:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1831</guid>
		<description><![CDATA[Dunia adalah negeri cobaan. Manusia senantiasa diuji dan diberikan cobaan baik cobaan musibah atau cobaan kesenangan. Cobaan kesenangan dan kemudahan membutuhkan sikap bersyukur. Syukur atas nikmat kesenangan ini termasuk ketaatan yang juga membutuhkan kesabaran. Sehingga tidak bisa bersyukur kecuali dengan sabar dalam melaksanakan ketaatan.
Ibnul Qayyim menyatakan dalam kitab &#8216;Idatush Shabirin: Semua yang dijumpai seorang hamba [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dunia adalah negeri cobaan. Manusia senantiasa diuji dan diberikan cobaan baik cobaan musibah atau cobaan kesenangan. Cobaan kesenangan dan kemudahan membutuhkan sikap bersyukur. Syukur atas nikmat kesenangan ini termasuk ketaatan yang juga membutuhkan kesabaran. Sehingga tidak bisa bersyukur kecuali dengan sabar dalam melaksanakan ketaatan.</p>
<p>Ibnul Qayyim menyatakan dalam kitab <em>&#8216;Idatush Shabirin</em>:<em> </em>Semua yang dijumpai seorang hamba didunia ini tidak lepas dari dua jenis; <strong>Pertama</strong> yang sesuai dengan hawa nafsu dan kehendaknya, dan <strong>kedua</strong> yang menyelisihinya. Ia butuh kepada sabar dalam keduanya. Adapun jenis yang sesuai dengan keinginannya seperti sehat, keselamatan, dapat jabatan dan harta serta beraneka ragam kelezatan yang mubah. Ini lebih butuh kepada sabar dari beberapa sisi,<span id="more-1831"></span></p>
<p>1.  Tidak bergantung dan terpedaya dengannya serta tidak membuatnya sombong dan prilaku tercela yang tidak Allah sukai.</p>
<p>2.  Tidak tenggelam dalam mencarinya dan berlebihan dalam mencapainya, karena bisa berbalik menjadi sebaliknya. Siapa yang berlebihan dalam makan, minum dan jima&#8217; maka akan berbalik dan diharamkan makan, minum dan <em>jima&#8217;</em> tersebut.</p>
<p>3.  Bersabar dalam menunaikan hak Allah pada kenikmatan tersebut dan tidak menyia-nyiakannya hingga Allah mencabutnya.</p>
<p>Demikian juga bila diuji dengan musibah dan cobaan kesulitan, maka dibutuhkan kesabaran menghadapi takdir Allah dengan <em>ridha</em> dan menerimanya. Sehingga tepatlah bila dikatakan sabar selalu dibutuhkan setiap insan sampai meninggalkan dunia ini.</p>
<p>Apalagi dizaman <em>kiwari</em> ini, dimana Indonesia terus-menerus diuji dengan musibah yang silih berganti. Belum lagi yang menimpa pribadi dan individu masyarakatnya. <em>Wah</em> kalau begitu kita harus banyak bersabar <em>donk</em>!<br />
Allah berfirman,</p>
<p><em>“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” </em> (QS. Al-Baqarah: 155)</p>
<p>Demikianlah Allah menguji hambanya dengan hal-hal berikut,</p>
<p>1. Sedikit ketakutan dan tidak seluruhnya.</p>
<p>2.  Kelaparan yang dapat difahami dalam dua makna,</p>
<ul>
<li>Penyakit lapar yaitu penyakit yang menimpa seseorang yang tidak pernah kenyang walaupun telah makan banyak.</li>
<li> Kelaparan karena kekurangan pangan disebabkan kemarau panjang dan tidak adanya panen.</li>
</ul>
<p>3.  Kekurangan harta berupa kemiskinan<br />
4.  Kekurangan jiwa berupa kematian<br />
5.  Kekurangan buah-buahan.</p>
<p>Orang dalam menyikapi hal ini ada beberapa tingkatan,</p>
<p>1.  Marah dan murka. Hal ini dapat terjadi dengan hati, lisan atau anggota tubuh. Marah dengan hati berupa adanya ketidak sukaan terhadap Allah seperti merasa Allah telah mendzaliminya dan sebagainya. Marah dengan lisan berupa mencela takdir atau mencela waktu dengan lisannya. Sedangkan marah dengan anggota tubuhnya dilakukan dengan cara misalnya memukul pipi, menjambak rambut atau merobek-robek pakaiannya. Orang yang demikian tidak mendapatkan pahala atas musibah tersebut bakan mendapatkan dosa.</p>
<p>2.  Bersabar dengan menahan diri, tidak mengucapkan dan berbuat sesuatu yang dimurkai Allah dan tidak ada dihatinya perasaan menyalahkan Allah, walaupun ia tidak menyukai musibah tersebut. Orang seperti ini mendapatkan pujian dari Allah dalam firmanNya,</p>
<p><em>“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,&#8217;Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji&#8217;uun.&#8217; Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabb-nya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” </em> (QS. Al-Baqarah: 155-157).</p>
<p>3.  Ridha dengan lapang dada menerima musibah tersebut dan meridhainya seakan-akan tidak terkena mushibah. Tingkatan ini lebih tinggi dari tingkatan sabar diatas.</p>
<p>4.<strong> </strong>Bersyukur dengan memuji Allah atas musibah tersebut. Seperti dicontohkan Rasulullah dalam hadits A&#8217;isyah beliau berkata,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى مَا يُحِبُّ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ</p>
<p><em>&#8220;Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam apabila melihat apa yang ia sukai menyatakan, &#8216;Alhamdulillah Alladzi bini&#8217;matihi Tatimmu Al Shalihaat.&#8217; Dan bila melihat (mendapati) sesuatu yang tidak beliau sukai mengucapkan, &#8216;Alhamdulillahi &#8216;Ala Kulli Halin</em>.&#8217;&#8221; (HR Ibnu Majah dan di<em>shahih</em>kan Al Albani dalam <em>Shahih Al Jaami&#8217;</em> no. 4727).</p>
<p>Mensyukuri Allah karena Allah memberikan pahala atas musibah tersebut lebih banyak dari yang menimpanya.</p>
<p>Kapan dikatakan sabar.</p>
<p>Seorang dikatakan telah sabar menerima musibah apabila telah melakukan hal-hal berikut,</p>
<p>1.	Tidak ada dihatinya perasaan buruk sangka kepada Allah dan takdirnya.<br />
2.	Amalannya tidak melakukan perbuatan yang dilarang Allah.<br />
3.	Lisannya tidak mencela Allah, takdirnya atau masa, bahkan lisannya mengucapkan, <em>‘Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji&#8217;un’</em> sebagaimana dalam ayat diatas. Akan lebih baik lagi bila ditambah dengan doa yang diajarkan Rasululah kepada kita dalam hadits Ummu Salamah,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا إِلَّا أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا</p>
<p><em>&#8220;Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Tidak ada seorang muslim yang tertimpa musibah lalu menyatakan apa yang Allah perintahkan, ‘Innaa lillahi Wa Inna Ilaihi Raji&#8217;un Allahumma&#8217; Jurni fi mushibatie wa Akhlif li Khairan minha.’ Kecuali Allah gantikan baginya yang lebih baik.”</em> (HR. Muslim).</p>
<p>Mudah-mudahan kita dapat mendapatkan tingkatan tertinggi dari tingkatan sabar dan paling tidak kita masih ditetapkan sebagai orang yang sabar.<br />
Selamat berlatih sabar!</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.<br />
Artikel <a href="http://www.ustadzkholid.com" target="_blank">www.ustadzkholid.com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/akhlaq/sabar-menghadapi-cobaan/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/sabar-menghadapi-cobaan/&amp;title=Sabar+Menghadapi+Cobaan" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/sabar-menghadapi-cobaan/&amp;title=Sabar+Menghadapi+Cobaan" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/akhlaq/sabar-menghadapi-cobaan/&amp;t=Sabar+Menghadapi+Cobaan" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/sabar-menghadapi-cobaan/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Sabar+Menghadapi+Cobaan+-+http://ustadzkholid.com/akhlaq/sabar-menghadapi-cobaan/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/sabar-menghadapi-cobaan/&amp;title=Sabar+Menghadapi+Cobaan" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/sabar-menghadapi-cobaan/&amp;title=Sabar+Menghadapi+Cobaan" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Sabar+Menghadapi+Cobaan+-+http://bit.ly/eLFlLJ&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Sabar+Menghadapi+Cobaan&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/akhlaq/sabar-menghadapi-cobaan/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Dunia%20adalah%20negeri%20cobaan.%20Manusia%20senantiasa%20diuji%20dan%20diberikan%20cobaan%20baik%20cobaan%20musibah%20atau%20cobaan%20kesenangan.%20Cobaan%20kesenangan%20dan%20kemudahan%20membutuhkan%20sikap%20bersyukur.%20Syukur%20atas%20nikmat%20kesenangan%20ini%20termasuk%20ketaatan%20yang%20juga%20membutuhkan%20kesabaran.%20Sehingga%20tidak%20bisa%20bersyukur%20kecual" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/akhlaq/sabar-menghadapi-cobaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berbakti Kepada Orang Tua</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/akhlaq/berbakti-kepada-orang-tua/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/akhlaq/berbakti-kepada-orang-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Sep 2010 22:10:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[birrul walidain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1479</guid>
		<description><![CDATA[Berbicara tentang berbakti kepada orang tua tidak lepas dari permasalahan berbuat baik dan mendurhakainya. Mungkin, sebagian orang merasa lebih ‘tertusuk’ hatinya bila disebut ‘anak durhaka’, ketimbang digelari ‘hamba durhaka’. Bisa jadi, itu karena ‘kedurhakaan’ terhadap Allah, lebih bernuansa abstrak, dan kebanyakannya, hanya diketahui oleh si pelaku dan Allah saja. Lain halnya dengan kedurhakaan terhadap orang tua, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berbicara tentang berbakti kepada orang tua tidak lepas dari permasalahan berbuat baik dan mendurhakainya. Mungkin, sebagian orang merasa lebih ‘tertusuk’ hatinya bila disebut ‘anak durhaka’, ketimbang digelari ‘hamba durhaka’. Bisa jadi, itu karena ‘kedurhakaan’ terhadap Allah, lebih bernuansa abstrak, dan kebanyakannya, hanya diketahui oleh si pelaku dan Allah saja. Lain halnya dengan kedurhakaan terhadap orang tua, yang jelas amat kelihatan, gampang dideteksi, diperiksa dan ditelaah,sehingga lebih mudah mengubah sosok pelakunya di tengah masyarakat, dari status sebagai orang baik menjadi orang jahat.</p>
<p>Pola berpikir seperti itu, jelas tidak benar, karena Allah menegaskan dalam firman-Nya, (yang artinya) :</p>
<p>“<em>Allah telah menetapkan agar kalian tidak beribadah melainkan kepada-Nya; dan hendaklah kalian berbakti kepada kedua orang tua.</em>” (Al-Israa : 23)</p>
<p>Penghambaan diri kepada Allah, jelas harus lebih diutamakan. Karena manusia diciptakan memang hanya untuk tujuan itu. Namun, ketika Allah ‘menggandengkan’ antara kewajibanmenghamba kepada-Nya, dengan kewajiban berbakti kepada orang tua, hal itu menunjukkan bahwa berbakti kepada kedua orang tua memang memiliki tingkat urgensi yang demikian tinggi, dalam Islam. Kewajiban itu demikian ditekankan, sampai-sampai Allah menggandengkannya dengan kewajiban menyempurnakan ibadah kepada-Nya.<span id="more-1479"></span></p>
<p><strong>Urgensi Berbakti kepada Dua orang Tua</strong></p>
<p>Ada setumpuk bukti, bahwa berbakti kepada kedua orang tua –dalam wacana Islam- adalah persoalan utama, dalam jejeran hukum-hukum yang terkait dengan berbuat baik terhadap sesama manusia. Allah sudah cukup mengentalkan wacana ‘berbakti’ itu, dalam banyak firman-Nya, demikian juga Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>, dalam banyak sabdanya, dengan memberikan ‘bingkai-bingkai’ khusus, agar dapat diperhatikan secara lebih saksama. Di antara tumpukan bukti tersebut adalah sebagai berikut:</p>
<p><strong>1. Allah ‘menggandengkan’ antara perintah untuk beribadah kepada-Nya, dengan perintah berbuat baik kepada orang tua:</strong></p>
<p>“<em>Allah telah menetapkan agar kalian tidak beribadah melainkan kepada-Nya; dan hendaklah kalian berbakti kepada kedua orang tua.</em>” (Al-Israa : 23)</p>
<p><strong>2. Allah memerintahkan setiap muslim untuk berbuat baik kepada orang tuanya, meskipun mereka kafir:</strong></p>
<p>“<em>Kalau mereka berupaya mengajakmu berbuat kemusyrikan yang jelas-jelas tidak ada pengetahuanmu tentang hal itu, jangan turuti; namun perlakukanlah keduanya secara baik di dunia ini.</em>” (Luqmaan : 15)</p>
<p>Imam Al-Qurthubi menjelaskan, “Ayat di atas menunjukkan diharuskannya memelihara hubungan baik dengan orang tua, meskipun dia kafir. Yakni dengan memberikan apa yang mereka butuhkan. Bila mereka tidak membutuhkan harta, bisa dengan cara mengajak mereka masuk Islam..<a href="#_ftn1">[1]</a>“</p>
<p><strong>3. Berbakti kepada kedua orang tua adalah jihad.</strong></p>
<p>Abdullah bin Amru bin Ash meriwayatkan bahwa ada seorang lelaki meminta ijin berjihad kepada Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>. Beliau bertanya, “<em>Apakah kedua orang tuamu masih hidup?</em>” Lelaki itu menjawab, “Masih.” Beliau bersabda, “<em>Kalau begitu, berjihadlah dengan berbuat baik terhadap keduanya</em>.” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p><strong>4. Taat kepada orang tua adalah salah satu penyebab masuk Surga.</strong></p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda, “<em>Sungguh kasihan, sungguh kasihan, sungguh kasihan.</em>” Salah seorang Sahabat bertanya, “Siapa yang kasihan, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “<em>Orang yang sempat berjumpa dengan orang tuanya, kedua-duanya, atau salah seorang di antara keduanya, saat umur mereka sudah menua, namun tidak bisa membuatnya masuk Surga.</em>” (Riwayat Muslim)</p>
<p>Beliau juga pernah bersabda:</p>
<p>“<em>Orang tua adalah ‘pintu pertengahan’ menuju Surga. Bila engkau mau, silakan engkau pelihara. Bila tidak mau, silakan untuk tidak memperdulikannya.</em>” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan beliau berkomentar, “Hadits ini shahih.” Riwayat ini juga dinyatakan shahih, oleh Al-Albani.) Menurut para ulama, arti ‘pintu pertengahan’, yakni pintu terbaik.</p>
<p><strong>5. Keridhaan Allah, berada di balik keridhaan orang tua.</strong></p>
<p>“<em>Keridhaan Allah bergantung pada keridhaan kedua orang tua. Kemurkaan Allah, bergantung pada kemurkaan kedua orang tua</em><a href="#_ftn2">[2]</a>.”</p>
<p><strong>6. Berbakti kepada kedua orang tua membantu meraih pengampunan dosa.</strong></p>
<p>Ada seorang lelaki datang menemui Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> sambil mengadu, “Wahai Rasulullah! Aku telah melakukan sebuah perbuatan dosa.” Beliau bertanya, “<em>Engkau masih mempunyai seorang ibu?</em>” Lelaki itu menjawab, “Tidak.” <em>“Bibi?”</em> Tanya Rasulullah lagi. “Masih.” Jawabnya. Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>bersabda, “<em>Kalau begitu, berbuat baiklah kepadanya.</em>”</p>
<p>Dalam pengertian yang ‘lebih kuat’, riwayat ini menunjukkan bahwa berbuat baik kepada kedua orang tua, terutama kepada ibu, dapat membantu proses taubat dan pengampunan dosa. Mengingat, bakti kepada orang tua adalah amal ibadah yang paling utama.</p>
<p><strong>7. Berbakti kepada orang tua, membantu menolak musibah.</strong></p>
<p>Hal itu dapat dipahami melalui kisah ‘tiga orang’ yang terkurung dalam sebuah gua. Masing-masing berdoa kepada Allah dengan menyebutkan satu amalan yang dianggapnya terbaik dalam hidupnya, agar menjadi wasilah (sarana) terkabulnya doa. Salah seorang di antara mereka bertiga, mengisahkan tentang salah satu perbuatan baiknya terhadap kedua orang tuanya, yang akhirnya, menyebabkan pintu gua terkuak, batu yang menutupi pintunya bergeser, sehingga mereka bisa keluar dari gua tersebut. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p><strong>8. Berbakti kepada orang tua, dapat memperluas rezki.</strong></p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda, “<em>Barangsiapa yang ingin rezkinya diperluas, dan agar usianya diperpanjang (dipenuhi berkah), hendaknya ia menjaga tali silaturahim.</em>” (Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Berbakti kepada kedua orang tua adalah bentuk aplikasi silaturahim yang paling afdhal yang bisa dilakukan seorang muslim, karena keduanya adalah orang terdekat dengan kehidupannya.</p>
<p><strong>9. Doa orang tua selalu lebih mustajab.</strong></p>
<p>Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda, “<em>Ada tiga bentuk doa yang amat mustajab, tidak diragukan lagi: Doa orang tua untuk anaknya, doa seorang musafir dan orang yang yang terzhalimi.</em>”</p>
<p><strong>10. Harta anak adalah milik orang tuanya.</strong></p>
<p>Saat ada seorang anak mengadu kepada Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>, “Wahai Rasulullah! Ayahku telah merampas hartaku.” Rasulullah bersabda, “<em>Engkau dan juga hartamu, kesemuanya adalah milik ayahmu</em><a href="#_ftn3">[3]</a>.”</p>
<p><strong>11. Jasa orang tua, tidak mungkin terbalas.</strong></p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p>“<em>Seorang anak tidak akan bisa membalas budi baik ayahnya, kecuali bila ia mendapatkan ayahnya sebagai budak, lalu dia merdekakan.</em>” (Dikeluarkan oleh Muslim)</p>
<p><strong>12. Durhaka kepada orang tua, termasuk dosa besar yang terbesar.</strong></p>
<p>Dari Abu Bakrah diriwayatkan bahwa Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda, “<em>Maukah kalian kuberitahukan dosa besar yang terbesar?</em>” Para Sahabat menjawab, “Tentu mau, wahai Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>.” Beliau bersabda, “<em>Berbuat syirik kepada Allah, dan durhaka terhadap orang tua.</em>” Kemudian, sambil bersandar, beliau bersabda lagi, “<em>..ucapan dusta, persaksian palsu..</em>” Beliau terus meneruskan mengulang sabdanya itu, sampai kami (para Sahabat) berharap beliau segera terdiam. (Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p><strong>13. Orang yang durhaka terhadap orang tua, akan mendapatkan balasan ‘cepat’ di dunia, selain ancaman siksa di akhirat</strong><a href="#_ftn4">[4]</a>.</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda, “<em>Ada dua bentuk perbuatan dosa yang pasti mendapatkan hukuman awal di dunia: Memberontak terhadap pemerintahan Islam yang sah, dan durhaka terhadab orang tua</em><a href="#_ftn5">[5]</a>.”</p>
<p>Alhamdulillah. Kesemua bukti tersebut –dan masih banyak lagi bukti-bukti ilmiah lainnya, termasuk konsensus umat Islam terhadap urgensi berbakti kepada orang tua yang sama sekali tidak boleh terabaikan–, kesemuanya, menunjukkan betapa bakti kepada orang tua adalah kebajikan maha penting, bahkan yang terpenting dari sekian banyak perbuatan baik yang diperuntukkan terhadap sesama makhluk ciptaan Allah. Sedemikian pentingnya, hingga riwayat-riwayat yang menjelaskan tentang adab, prilaku dan sikap seorang anak terhadap orang tuanya, bertaburan dalam banyak hadits-hadits Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>, bahkan juga dalam beberapa ayat Al-Qur’an.</p>
<p><strong>Memuliakan Orang Tua</strong></p>
<p>Pemuliaan Islam terhadap sosok orang tua, amat lugas. Wujud pemuliaan itu sudah beberapa langkah mendahului gemuruh propaganda sejenis, yang baru-baru saja muncul belakangan ini, dari kalangan Barat. Sebut saja contohnya: jaminan untuk kaum manula, perhatian terhadap kaum jompo dan lain sebagainya. Kenapa demikian? Karena Islam sudah jauh-jauh hari langsung menghadirkan ‘perintah tegas’ bagi seorang mukmin, untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya.</p>
<p>“<em>Telah kami pesankan seorang manusia untuk senantiasa berbuat baik kepada kedua orang tuanya.</em>” (Al-Ahqaaf : 15)</p>
<p>Ibnu Katsier menjelaskan, “Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, sekaligus juga melimpahkan kasih sayang kita kepada mereka<a href="#_ftn6">[6]</a>.”</p>
<p>“<em>Beribadahlah kepada Allah, jangan menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.</em>” (An-Nisaa : 36)</p>
<p>Perintah itu, bahkan diseiringkan dengan perintah untukmengesakan Allah sebagai kewajiban utama seorang mukmin. Sehingga amatlah jelas, perintah itu mengandung ‘tekanan’ yang demikian kuat.</p>
<p>Sekarang, bandingkanlah substansi ajaran Islam itu dengan realitas yang berkembang di berbagai negara di dunia, termasuk di Indonesia sekarang ini. Banyak anak yang enggan menyisihkan sebagian waktunya, mengucurkan keringat atau sekadar berlelah-lelah sedikit, untuk merawat orang tuanya yang sudah ‘uzur’. Terutama sekali, bila anak tersebut sudah berkedudukan tinggi, sangat sibuk dan punya segudang aktivitas. Akhirnya, ia merasa sudah berbuat segalanya dengan mengeluarkan biaya secukupnya, lalu memasukkan si orang tua ke panti jompo!!</p>
<p><strong>Berbuat Baik Kepada Orang Tua</strong></p>
<p>“<em>..dan hendaklah kalian berbuat baik kepada kedua orang tua.</em>” (Al-Israa : 23)</p>
<p>Berbuat baik dalam katagori umum, dalam bahasa Arabnya disebut ihsaan. Sementara bila ditujukan secara khusus kepada orang tua, lebih dikenal dengan istilah birr. Dalam segala bentuk hubungan interaktif, Islam sangatlah menganjurkan ihsan atau kebaikan.</p>
<p>“Sesungguhnya Allah menetapkan kebaikan, untuk dilakukan dalam segala hal. Bila kalian membunuh, lakukanlah dengan cara yang baik. Bila kalian menyembelih hewan, lakukanlah dengan cara baik. Oleh sebab itu, hendaknya seorang muslim menyiapkan pisau yang tajam, dan upayakan agar hewan sembelihan itu merasa lebih nyaman<a href="#_ftn7">[7]</a>.”</p>
<p>Ibnu Jarir Ath-Thabari menjelaskan, “Allah berpesan agar setiap orang melakukan bakti kepada orang tua dengan berbagai bentuk perbuatan baik. Namun kepada selain orang tua, Allah hanya memesankan ’sebagian’ bentuk kebaikan itu saja. “Katakanlah yang baik, kepada manusia.” (Al-Baqarah : 83)</p>
<p>Orang tua adalah manusia yang paling berhak mendapatkan danmerasakan ‘budi baik’ seorang anak, dan lebih pantas diperlakukan secara baik oleh si anak, ketimbang orang lain. Ada beragam cara yang bisa dilakukan seorang muslim, untuk ‘mengejawantahkan’ perbuatan baiknya kepada kedua orang tuanya secara optimal. Beberapa hal berikut, adalah langkah-langkah dan tindakan praktis yang memang sudah ’seharusnya’ kita lakukan, bila kita ingin disebut ‘telah berbuat baik’ kepada orang tua:</p>
<p>1. Bersikaplah secara baik, pergauli mereka dengan cara yang baik pula, yakni dalam berkata-kata, berbuat, memberi sesuatu, meminta sesuatu atau melarang orang tua melakukan suatu hal tertentu.</p>
<p>2. Jangan mengungkapkan kekecewaan atau kekesalan, meski hanya sekadar dengan ucapan ‘uh’. Sebaliknya, bersikaplah rendah hati, dan jangan angkuh.</p>
<p>3. Jangan bersuara lebih keras dari suara mereka, jangan memutus pembicaraan mereka, jangan berhohong saat beraduargumentasi dengan mereka, jangan pula mengejutkan mereka saat sedang tidur, selain itu,jangan sekali-kali meremehkan mereka.</p>
<p>4. Berterima kasih atau bersyukurlah kepada keduanya, utamakan keridhaan keduanya, dibandingkan keridhaan kita diri sendiri, keridhaan istri atau anak-anak kita.</p>
<p>5. Lakukanlah perbuatan baik terhadap mereka, dahulukan kepentingan mereka dan berusahalah ‘memaksa diri’ untuk mencari keridhaan mereka.</p>
<p>6. Rawatlah mereka bila sudah tua, bersikaplah lemahlembut dan berupayalah membuat mereka berbahagia, menjaga mereka dari hal-hal yang buruk, serta menyuguhkan hal-hal yang mereka sukai.</p>
<p>7. Berikanlah nafkah kepada mereka, bila memang dibutuhkan. Allah berfirman:</p>
<p>“<em>Dan apabila kalian menafkahkan harta, yang paling berhak menerimanya adalah orang tua, lalu karib kerabat yang terdekat.</em>” (Al-Baqarah : 215)</p>
<p>8. Mintalah ijin kepada keduanya, bila hendak bepergian, termasuk untuk melaksanakan haji, kalau bukan haji wajib, demikian juga untuk berjihad, bila hukumnya fardhu kifayah.</p>
<p>9. Mendoakan mereka, seperti disebutkan dalam Al-Qur’an:</p>
<p>“<em>Dan ucapanlah, “Ya Rabbi, berikanlah kasih sayang kepada mereka berdua, sebagaimana menyayangiku di masa kecil.</em>” (Al-Isra : 24)<a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Semua hal di atas bukanlah ’segalanya’ dalam upaya berbuat baik terhadap orang tua. Kita teramat sadar, bahwa ‘hak-hak’ orang tua, jauh lebih besar dari kemampuan kita membalas kebaikan mereka. Mungkin lebih baik kita tidak usah terlalu berbangga diri, kalaupun segala hal diatas telah dapat kita wujudkan dalam kehidupan nyata. Karena orang tua adalah manusia yang pertama kali berbuat baik kepada kita, karena dorongan kasih sayang dan –terlebih-lebih– penghambaan dirinya kepada Allah. Sementara kita hanya memberi balasan, setelah terlebih dahulu kita menerima kebaikan dari mereka. Sehingga, bagaimanapun, nilainya jelas akan berbeda.</p>
<p><strong>Arti </strong><strong><em>Birrul Waalidain</em></strong></p>
<p>Perlu ditegaskan kembali, bahwa <em>birrul waalidain</em> (berbakti kepada kedua orang tua), lebih dari sekadar berbuat ihsan (baik) kepada keduanya. Namun <em>birrul walidain</em> memiliki nilai-nilai tambah yang semakin ‘melejitkan’ makna kebaikan tersebut, sehingga menjadi sebuah ‘bakti’. Dan sekali lagi, bakti itu sendiripun bukanlah balasan yang setara yang dapat mengimbangi kebaikan orang tua. Namun setidaknya, sudah dapat menggolongkan pelakunya sebagai orang yang bersyukur.</p>
<p>Imam An-Nawaawi menjelaskan, “Arti <em>birrul waalidain</em> yaitu berbuat baik terhadap kedua orang tua, bersikap baik kepada keduanya, melakukan berbagai hal yang dapat membuat mereka bergembira, serta berbuat baik kepada teman-teman mereka.”</p>
<p>Al-Imam Adz-Dzahabi menjelaskan bahwa <em>birrul waalidain</em> atau bakti kepada orang tua, hanya dapat direalisasikan dengan memenuhi tidak bentuk kewajiban:</p>
<p><strong>Pertama</strong>: Menaati segala perintah orang tua, kecuali dalam maksiat.</p>
<p><strong>Kedua</strong>: Menjaga amanah harta yang dititipkan orang tua, atau diberikan oleh orang tua.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>: Membantu atau menolong orang tua, bila mereka membutuhkan.</p>
<p>Bila salah satu dari ketiga kriteria itu terabaikan, niscaya seseorang belum layak disebut telah berbakti kepada orang tuanya.</p>
<p>Karena berbakti kepada kedua orang tua lebih merupakan perjanjian, antara sikap kita dengan keyakinan kita. Kita tahu, bahwa menaati perintah orang tua adalah wajib, selama bukan untuk maksiat. Bahkan perintah melakukan yang mubah, bila itu keluar dari mulut orang tua, berubah menjadi wajib hukumnya. Kita juga tahu, bahwa harta orang tua harus dijaga, tidak boleh dihamburkan secara percuma, atau bahkan untuk berbuat maksiat. Kita juga meyakini, bahwa bila orang tua kita kekurangan atau membutuhkan pertolongan, kitalah orang pertama yang wajib menolong mereka. Namun itu hanya sebatas keyakinan. Bila tidak ada ‘ikatan janji’ dengan sikap kita, semua itu hanya terwujud dalam bentuk wacana saja, tidak bisa terbentuk menjadi ‘bakti’ terhadap orang tua. Oleh sebab itu, Allah menyebut kewajiban bakti itu sebagai ‘ketetapan’, bukan sekadar ‘perintah’. “<em>Allah telah menetapkan agar kalian tidak beribadah melainkan kepada-Nya; dan hendaklah kalian berbakti kepada kedua orang tua.</em>” (Al-Israa : 23)</p>
<p><strong>Jangan Mendurhakainya!</strong></p>
<p>Mendurhakai orang tua adalah dosa besar. Dan berbuat durhaka terhadap ibu adalah dosa yang jauh lebih besar lagi. Melalui pelbagai penjelasan Islam tentang ‘kewajiban kita’ terhadap sang ibunda, kita dapat menyadari bahwa berbuat durhaka terhadapnya adalah sebuah tindakan paling memalukan yang dilakukan seorang anak berakal.</p>
<p>Imam An-Nawawi menjelaskan, “Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> menyebutkan keharusan berbuat baik kepada ibu sebanyak tiga kali, baru pada kali yang keempat untuk sang ayah, karena kebanyakan sikap durhaka dilakukan seorang anak, justru terhadap ibunya<a href="#_ftn9">[9]</a>.”</p>
<p>Dalam sebuah hadits, Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p>“Sesungguhnya Allah mengharamkan sikap durhaka terhadap ibu danmelarang mengabaikan orang yang hendak berhutang. Allah juga melarang menyebar kabar burung, terlalu banyak bertanya dan membuang-buang harta<a href="#_ftn10">[10]</a>.”</p>
<p>Ibnu Hajar memberi penjelasan sebagai berikut, “Dalam hadits ini disebutkan ’sikap durhaka’ terhadap ibu, karena perbuatan itu lebih mudah dilakukan terhadap seorang ibu. Sebab, ibu adalah wanita yang lemah. Selain itu, hadits ini juga memberi penekanan, bahwa berbuat baik kepada itu harus lebih didahulukan daripada berbuat baik kepada seorang ayah, baik itu melalui tutur kata yang lembut, atau limpahan cinta kasih yang mendalam<a href="#_ftn11">[11]</a>.”</p>
<p>Sementara, Imam Nawawi menjelaskan, “Di sini, disebutkan kata ‘durhaka’ terhadap ibu, karena kemuliaannya yang melebihi kemuliaan seorang ayah<a href="#_ftn12">[12]</a>.”</p>
<p>Kapan seseorang disebut <em>durhaka</em>? Imam Ash-Shan’aani menjelaskan, “Imam Al-Bulqaini menerangkan bahwa arti kata <em>durhaka</em> yaitu: <em>apabila seseorang melakukan sesuatu yang tidak remeh menurut kebiasaan, yang menyakiti orang tuanya atau salah satu dari keduanya</em>. Dengan demikian, berdasarkan definisi itu, bila seorang anak tidak mematuhi perintah atau larangan dalam urusan yang sangat sepele yang menurut hukum kebiasaan itu tidak dianggap ‘durhaka’, maka itu bukan termasuk kategori perbuatan <em>durhaka</em> yang diharamkan. Namun bila seseorang melakukan pelanggaran terhadap larangan orang tua dengan melakukan perbuatan dosa kecil, maka yang dilakukannya menjadi dosa besar, karena kehormatan larangan orang tua. Demikian juga, disebut durhaka, bila seorang anak melanggar larangan orang tua yang bertujuan menyelamatkan si anak dari kesulitan<a href="#_ftn13">[13]</a>.”</p>
<p>Ibnu Hajar Al-Haitsami menjelaskan, “Kalau seseorang melakukan perbuatan yang kurang adab dalam pandangan umum, yang menyinggung orang tuanya, maka ia telah melakukan dosa besar, meskipun bila dilakukan terhadap selain orang tua, tidaklah dosa. Seperti memberikan sesuatu dengan dilempar, atau saat orang tuanya menemuinya di tengah orang ramai, ia tidak segera menyambutnya, dan berbagai tindakan lain yang di kalangan orang berakal dianggap ‘kurang ajar’, dapat sangat menyinggung perasaan orang tua<a href="#_ftn14">[14]</a>.”</p>
<p>Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan, “Arti durhaka kepada orang tua yaitu melakukan perbuatan yang menyebabkan orang tua terganggu atau terusik, baik dalam bentuk ucapan ataupun amalan..<a href="#_ftn15">[15]</a>“</p>
<p>Imam Al-Ghazali menjelaskan, “Kebanyakan ulama berpendapat bahwa taat kepada orang tua wajib, termasuk dalam hal-hal yang masih <em>syubhat, </em>namun tidak boleh dilakukan dalam hal-hal haram. Bahkan, seandainya keduanya merasa tidak nyaman bila makan sendirian, kita harus makan bersamamereka. Kenapa demikian? Karena menghindari syubhat termasuk perbuatan<em>wara’ </em>yang bersifat keutamaan, sementara mentaati kedua orang tua adalah wajib. Seorang anak juga haram bepergian untuk tujuan mubah ataupun sunnah, kecuali dengan ijin kedua orang tua. Melakukan haji secepat-cepatnya bahkan menjadi sunnah, bila orang tua tidak menghendaki. Karena melaksanakan haji bisa ditunda, dan perintah orang tua tidak bisa ditunda. Pergi untuk menuntut ilmu juga hanya menjadi <em>anjuran</em>, bila orang tua membutuhkan kita, kecuali, untuk mempelajari hal-hal yang wajib, seperti shalat dan puasa, sementara di daerah kita tidak ada orang yang mampu mengajarkannya..<a href="#_ftn16">[16]</a>“</p>
<p>Seringkali seorang anak membela diri saat dikecam sebagai anak yang durhaka terhadap ibunya, dengan pelbagai alasan yang dibuat-buat, atau sekadar mengalihkan perhatian kepada soal lain. ‘Seharusnya kan orang tua itu lebih tahu,’ ‘Seharusnya seorang ibu mengerti perasaan anak,’ ‘Seharusnya seorang ibu itu lebih bijaksana daripada anaknya,’ ‘Seharusnya seorang ibu tidak boleh memaksakan kehendak,’ dan berbagai alasan kosong lainnya. Yah, taruhlah, dalam suatu kasus, si ibu memang melakukan kesalahan, dengan memaksakan kehendaknya, atau bersikap kurang bijaksana. Namun saat si anak membantah perintah atau larangan ibunya, apalagi dia mengerti bahwa yang dikehendaki oleh ibunya itu adalah baik, meski kurang tepat, tidak pelak lagi, si anak telah berbuat durhaka. Di sinilah seharusnya ‘kunci kesabaran’ dan tingkat ‘kesadaran’ terhadap syariat Allah, juga penghormatan terhadap orang tua, dapat menggeret seseorang mengambil jalan <em>mengalah</em>, meskipun ia harus mengorbankan banyak hal, termasuk harta, dan juga cita-citanya. Selama hal itu dapat membahagiakan sang ibu, seharusnya ia berusaha untuk memenuhi kehendaknya.</p>
<p>Abdullah bin Ali Al-Ju’aitsan menegaskan, “Apabila kita sudah menyadari betapa besar hak seorang ibu terhadap anaknya, dan betapa besar dosa perbuatan durhaka terhadapnya, atau dosa sekadar lalai memperhatikannya,cobalah, segera berbakti kepadanya, maafkan segala kekeliruannya di masa lampau, berusaha dan berusahalah untuk selalu menjalin hubungan baik dengannya. Berusahalah untuk menyenangkannya, dan dahulukan upaya memperhatikannya daripada segala hal yang kita sukai. Berupayalah untuk memenuhi kebutuhannya selekas mungkin, jangan sampai menyusahkannya. Ingatlah firman Allah:</p>
<p>“<em>Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, “Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” </em>(Al-Israa : 24)</p>
<p><strong>Ketika orang tua telah berusia senja.</strong></p>
<p>Pada saatnya, usia juga yang membatasi <em>kepawaian</em> seorang ibu mengasuh anaknya. Kasih ibu, memang tak dapat dihentikan sang waktu. Namun sebagai manusia, kekuatannya tidak pernah abadi. Akhirnya, sang ibu harus melalui juga masa-masa yang belum pernah dibayangkan selama ini. Kulitnya mulai keriput, tenaganya mulai jauh berkurang, tulang-tulangnyapun mulai terasa rapuh, suaranya berubah menjadi <em>sengau</em>, tak mampu menyetabilkan nada yang keluar. Saat itulah, ia mulai sangat membutuhkan belaian kasih sang anak. Ia mulai memerlukan adanya orang lain di sisinya, untuk menyelesaikan segala hal, termasuk pekerjaan-pekerjaan ringan sekalipun, yang selama ini bisa dia selesaikan seorang diri. Saat itulah, bakti seorang anak menjadi suatu hal yang teramat dibutuhkan:</p>
<p>“<em> Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah:”Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.</em><em> </em>(Al-Isra : 23-24)</p>
<p>Saat usia semakin tua, bisa jadi kepekaan seorang ibu bertambah. Ia lebih mudah tersinggung, lebih mudah melampiaskan amarahnya, lebih mudah tersentuh hatinya hanya oleh kata-kata atau ucapan, yang bila itu diucapkan seorang anak di waktu mudanya, tidak akan diperdulikan sama sekali. Oleh sebab itu, Al-Qur’an memberikan bimbingan yang demikian santun, agar seorang anak membiasakan diri berbicara dan bersikap secara mulai, santun dan terpuji, terhadap kedua orang tuanya, terutama sekali ibunya.</p>
<p>Suatu hari, Rasulullah naik ke atas mimbar, lalu beliau berkata: “Amin, amin, amin.” Kontan, seorang Sahabat bertanya: “Kenapa engkau mengucapkan amin, amin dan amin, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Tadi datang Jibril menemuiku, lalu ia berkata: “Barangsiapa yang menjumpai bulan Ramadhan, lalu ia tidak mendapatkan ampunan Allah, maka ia pasti masuk Neraka. Jauhilah hamba-Mu ini dari siksa Neraka.” Akupun berkata: ‘Amin.’ Lalu Jibril berkata lagi: “Barangsiapa yang mendapatkan salah seorang dari kedua orang tuanya, atau keduanya, pada saat mereka sudah berusia lanjut, namun ia tidak berkesempatan berbakti kepada mereka, maka ia pasti masuk Neraka. Jauhilah hamba-Mu ini dari siksa Neraka.” Akupun berkata: ‘Amin.’ Lalu Jibril berkata lagi: “Barangsiapa yang mendengar namaku (Nabi Muhammad) disebutkan, lalu ia tidak membaca shalawat untukku, maka bila ia mati, ia pasti masuk Neraka. Jauhilah hamba-Mu ini dari siksa Neraka.” Akupun berkata: ‘Amin.<a href="#_ftn17">[17]</a>‘<strong> </strong></p>
<p><strong>Saat Ibunda Telah Wafat</strong></p>
<p>Ada beberapa wujud manefestasi cinta kasih kepada sang bunda, yang masih dapat kita lakukan saat sang bunda sudah terlebih dahulu meninggalkan dunia ini. Semua bentuk implementasi cinta kasih itu pada dasarnya lebih bersifat tugas dan kewajiban kita. Dengan atau tanpa muatan cinta kasih, semua tugas itu harus kita pikul. Namun adalah kenistaan, bila kita melaksanakan semuanya tanpa landasan cinta kepadanya. Berikut ini, penulis paparkan beberapa di antaranya:</p>
<p><strong>Pertama: Melaksanakan perjanjian dan pesan sang bunda.</strong></p>
<p>Diriwayatkan dari Syaried bin Suwaid Ats-Tsaqafi, bahwa ia menuturkan, “Wahai Rasulullah! Ibuku pernah berpesan kepadaku untuk memerdekakan seorang budak wanita yang beriman. Aku memiliki seorang budah wanita berkulit hitam. Apakah aku harus memerdekakannya?” “Panggil dia.” Sabda Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>. Saat wanita itu datang, beliau bertanya, “Siapa Rabbmu?” Budak wanita itu menjawab, “Allah.” “Lalu, siapa aku?” Tanya Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> lagi. Wanita itu menjawab, “Engkau adalah Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>.” Beliaupun bersabda, “Merdekakan dia. Karena dia adalah wanita mukminah<a href="#_ftn18">[18]</a>.”</p>
<p><strong>Kedua: Mendoakan sang ibu, membacakah shalawat dan memohonkan ampunan baginya</strong>.</p>
<p>Ibnu Rabi’ah meriwayatkan: Saat kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>, tiba-tiba datanglah seorang lelaki dari kalangan Bani Salamah bertanya, “Wahai Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>! Apakah masih tersisa bakti kepada kedua orang tuaku setelah mereka meninggal dunia?” Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> menjawab, “Ya. Bacakanlah shalat untuk mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, tunaikan perjanjian mereka, peliharalah silaturahim yang biasa dipelihara kala mereka masih hidup, juga, hormati teman-teman mereka<a href="#_ftn19">[19]</a>.”</p>
<p>Abu Hurairah meriwayatkan: Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda: &#8220;<em>Sesungguhnya, Allah Azza wa Jalla bisa saja mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di Surga kelak. Si hamba itu akan bertanya, “Ya Rabbi, bagaimana aku bisa mendapatkan derajat sehebat ini?” Allah berfirman, “Karena permohonan ampun dari anakmu</em><a href="#_ftn20">[20]</a>.”</p>
<p>Salah satu dari tanda cinta kasih kita kepada ibu adalah munculnya pengharapan agar si ibu selalu hidup berbahagia. Bila ia sudah meninggal dunia, kita juga senantiasa mendoakannya, membacakan shalat untuknya serta memohonkan ampunan untuknya. Semua perbuatan tersebut bukanlah hal-hal yang remeh. Dan juga, amat jarang anak yang mampu secara telaten melakukan semua kebajikan tersebut. Padahal, ditinjau dari segi kelayakan, dan segi kesempatan serta kemampuan, sudah seyogyanya setiap anak berusaha melakukannya. Dari kwantitas, semua amalan tersebut tidak membutuhkan banyak waktu. Sekadar perhatian dan kesadaran, yang memang sangat dituntut. Bila seorang anak merasa sangat kurang berbakti kepada kedua orang tuanya, inilah kesempatan yang masih terbuka lebar, untuk menutupi kekurangan tersebut, selama hayat masih dikandung badan.</p>
<p><strong>Ketiga: Memelihara hubungan baik, dengan teman dan kerabat ibu</strong>.</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda, “Barangsiapa yang tetap ingin menjaga hubungan silaturahim dengan ayahnya yang sudah wafat, hendaknya ia menjaga hubungan baik dengan teman-teman ayahnya yang masih hidup<a href="#_ftn21">[21]</a>.”</p>
<p><strong>Keempat: Melaksanakan beberapa ibadah untuk kebaikan sang ibu</strong>.</p>
<p>Sa&#8217;ad bin Ubadah pernah bertanya, “Ibuku sudah meninggal dunia. Sedekah apa yang terbaik, yang bisa kulakukan untuknya?” Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> menjawab, “<em>Air. Gali saja sumur. Lalu katakan: ‘pahala penggunaan sumur ini, untuk ibu Saad</em><a href="#_ftn22">[22]</a>.”</p>
<p>Demikianlah sekilas tentang hubungan dengan ibu yang menjadi salah satu dari kedua orang tua, sengaja dibatasi pembahasan ini hanya seputar ibu, agar lebih singkat. Mudah-mudahan bermanfaat.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.Com</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Tafsir Al-Qurthubi XIV : 65.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan beliau berkomentar, “Hadits ini shahih.” Riwayat ini juga dinyatakan shahih, oleh Al-Albani. Diriwayatkan juga oleh Ath-Thabrani dalam Al-Awsath</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah, dinyatakan shahih oleh Al-Albani</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Dicuplik dari wa bil waalidain ihsaana oleh Abdullah bin Ali Al-Ju’aitsin – Select.Islamiy.com.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Diriwayatkan oleh Al-Hakim, dinyatakan shahih oleh Al-Albani.</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Lihat Tafsir Al-Qur’aan Al-’Azhiem IV : 159.</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Diriwayatkan oleh Ibnu Majah II : 1058, dari hadits Syaddad bin Aus.</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Dicuplik dari makalah Birrul Waalidain oleh Abdurrahman Abdul Kariem Al-Ubaid – select.Islamy.com</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Lihat Syarah Muslim oleh Imam An-Nawaawi I : 194.</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Diriwayatkan oleh Al-Bukhari VI : 331, Muslim III : 1341, dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya XII : 36.</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Lihat Fathul Baari V : 68.</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> Syarah Muslim XII : 11.</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> Lihat Subulus Salaam IV : 162.</p>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> Az-Zawaajir II : 73.</p>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> Lihat Fathul Baari I : 420.</p>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> Lihat Ihyaa ‘Ulumuddien oleh Imam Al-Ghazali. Buku ini mengandung berbagai pelajaran akhlak yang baik. Sayang, terlalu banyak mengandung hadits-hadits lemah dan palsu, selain mengandung pengajaran tasawuf yang menyimpang dari pemahaman yang benar. Para ulama banyak memperingatkan terhadap bahaya kitab ini. Namun mereka juga masih sering menukil beberapa persoalan akhlak, dari buku ini. Untuk itu, kami juga memperingatkan agar menghindari membaca buku ini, kecuali bagi penuntu ilmu yang mapan atau ulama yang sudah bisa memilah-milah yang baik dengan yang tidak.</p>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a> Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban (904, oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad (646) dan Ibnu Khuzaimah (1888)</p>
<p><a href="#_ftnref18">[18]</a> Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan An-Nasaai.</p>
<p><a href="#_ftnref19">[19]</a> Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak IV : 155, dan beliau berkata, “Hadits ini shahih berdasarkan system periwayatan Al-Bukhari dan Muslim, namun keduanya tidak mengeluarkan hadits tersebut. Adz-Dzahabi berkata, “Shahih.”</p>
<p><a href="#_ftnref20">[20]</a> Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ath-Thabrani dalam Al-Awsath. Disebutkan oleh Al-Haitsami dalam Majma’uz Zawaa-id X : 210.</p>
<p><a href="#_ftnref21">[21]</a> Diriwayatkan oleh Abu Ya’la. Lihat penjelasannya dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah nomor 1342.dengan</p>
<p><a href="#_ftnref22">[22]</a> Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan An-Nasaa-ie.</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/akhlaq/berbakti-kepada-orang-tua/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/berbakti-kepada-orang-tua/&amp;title=Berbakti+Kepada+Orang+Tua" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/berbakti-kepada-orang-tua/&amp;title=Berbakti+Kepada+Orang+Tua" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/akhlaq/berbakti-kepada-orang-tua/&amp;t=Berbakti+Kepada+Orang+Tua" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/berbakti-kepada-orang-tua/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Berbakti+Kepada+Orang+Tua+-+http://ustadzkholid.com/akhlaq/berbakti-kepada-orang-tua/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/berbakti-kepada-orang-tua/&amp;title=Berbakti+Kepada+Orang+Tua" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/berbakti-kepada-orang-tua/&amp;title=Berbakti+Kepada+Orang+Tua" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Berbakti+Kepada+Orang+Tua+-+http://b2l.me/n8ebb&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Berbakti+Kepada+Orang+Tua&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/akhlaq/berbakti-kepada-orang-tua/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Berbicara%20tentang%20berbakti%20kepada%20orang%20tua%20tidak%20lepas%20dari%20permasalahan%20berbuat%20baik%20dan%20mendurhakainya.%20Mungkin%2C%20sebagian%20orang%20merasa%20lebih%20%E2%80%98tertusuk%E2%80%99%20hatinya%20bila%20disebut%20%E2%80%98anak%20durhaka%E2%80%99%2C%C2%A0ketimbang%20digelari%20%E2%80%98hamba%20durhaka%E2%80%99.%20Bisa%20jadi%2C%20itu%20karena%20%E2%80%98kedurhakaan%E2%80%99%20terhadap%20Allah%2C%20leb" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/akhlaq/berbakti-kepada-orang-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>17 Amalan Penghapus Dosa</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/akhlaq/17-amalan-penghapus-dosa/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/akhlaq/17-amalan-penghapus-dosa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 09:58:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[dosa]]></category>
		<category><![CDATA[taubat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1476</guid>
		<description><![CDATA[Manusia pasti berbuat dosa dan pasti butuh ampunan Allah. Oleh karena itu Allah memberikan keutamaan dan kemurahan kepada hambaNya dengan mensyariatkan amalan-amalan yang dapat menghapus dosa disamping taubat. Sebagiannya dijelaskan dalam Al Qur’an dan sebagiannya lagi dalam Sunnah Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Manusia pasti berbuat dosa dan pasti butuh ampunan Allah. Oleh karena itu Allah memberikan keutamaan dan kemurahan kepada hambaNya dengan mensyariatkan amalan-amalan yang dapat menghapus dosa disamping taubat. Sebagiannya dijelaskan dalam Al Qur’an dan sebagiannya lagi dalam Sunnah Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>.Diantaranya sebagai berikut:</p>
<p>1. <strong>Menyempurnakan wudhu dan berjalan ke masjid</strong>, sebagaimana disampaikan Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>:</p>
<p class="arab">????? ??????????? ????? ??? ??????? ??????? ???? ??????????? ?????????? ???? ???????????? ??????? ????? ??? ??????? ??????? ????? ????????? ?????????? ????? ???????????? ?????????? ???????? ????? ???????????? ???????????? ?????????? ?????? ?????????? ?????????? ??????????</p>
<p><strong> </strong><em>&#8220;Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dapat menghapu dosa dan mengangkat derajat. Mereka menjawab: ya wahai rasululloh. Beliau berkata: menyempurnakan wudhu ketika masa sulit dan memperbanyak langkah kemasjid serta menunggu shalat satu ke shalat yang lain, karena hal itu adalah ribath&#8221; </em>(HR Muslim dan Al Tirmidzi).</p>
<p align="left"><span id="more-1476"></span></p>
<p><em> </em>Juga dalam sabda beliau yang lain:</p>
<p class="arab">????? ????????? ????????? ?????????? ?????????? ????? ?????? ????? ?????????? ??? ?????????? ???? ????? ??? ?????????? ?????? ????????? ???? ?????? ???????? ?????? ???????? ??????? ????? ???????? ???? ????? ?????? ????? ?????????</p>
<p style="text-align: left;"><strong> </strong><em>&#8220;Jika seseorang berwudhu lalu menyempurnakan wudhunya kemudian berangkat sholat dengan niatan hanya untuk sholat, maka tidak melangkah satu langkah kecuali Allah angkat satu derajat dan hapus satu dosa&#8221; </em>(HR. Al Tirmidzi).</p>
<p align="left"><em> </em><strong> </strong>2. <strong>Puasa hari Arafah dan A’syura’</strong>, dalilnya:</p>
<p class="arab">????? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ????? ??????? ?????? ???????? ?????? ?????????? ????? ??????? ???? ????????? ????????? ??????? ???????? ??????????? ??????? ???????? ?? ??????? ?????? ??????????? ?????? ?????????? ????? ??????? ???? ????????? ????????? ??????? ????????</p>
<p align="left"><strong> </strong><em>&#8220;Nabi Bersabda: Puasa hari Arafah saya berharap dari Allah untuk menghapus setahun yangsebelumnya dan setahun setelahnya dan Puasa hari A’syura saya berharap dari Allah menghapus setahun yang telah lalu&#8221; </em>(HR. At Tirmidzi dan di-shahih-kan Al Albani dalam Shahih Al Jaami’ no. 3853)</p>
<p align="left"><em> </em>3. <strong>Shalat tarawih di bulan Ramadhan</strong>, dengan dalil sabda Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>:</p>
<p class="arab">???? ????? ????????? ?????????? ?? ??????????? ????? ???? ??? ????????? ???? ????????</p>
<p align="left"><strong> </strong><em>&#8220;Siapa yang menegakkan romadhon (shalat tarawih) dengan iman dan mengharap pahala Allah maka diampunilah dosanya yang telah lalu&#8221; </em>(Muttafaqun ‘Alaihi)</p>
<p align="left"><em> </em>4. <strong>Haji yang mabrur,</strong> dengan dalil:</p>
<p class="arab">???? ????? ?????? ???????? ?? ???? ???????? ?????? ???????? ?????????? ???????</p>
<p align="left"><strong> </strong><em>&#8220;Siapa yang berhaji lalu tidak berkata keji dan berbuat kefasikan maka kembali seperti hari ibunya melahirkannya&#8221; </em>(HR. Al Bukhari)</p>
<p align="left">dan sabda beliau:</p>
<p class="arab">???????? ???????????? ?????? ???? ??????? ?????? ??????????</p>
<p align="left"><strong> </strong><em>&#8220;Haji mabrur balasannya hanyalah surga&#8221; </em>(HR. Ahmad).</p>
<p align="left"><em> </em>5. <strong>Memaafkan hutang orang yang sulit membayar</strong>, dengan dalil:</p>
<p class="arab">???? ?????????? ????? ?????? ??????? ???????? ???? ????????? ?????? ??????? ?????? ??????? ???? ?????? ???????? ??? ?????????? ????? ??? ????? ?????????? ??????? ???????? ????????? ???????? ??????? ???? ??????? ?????????? ???????? ??????????? ????? ?????????? ?????????? ??????????? ??????? ??????? ????? ??????? ????? ?????? ??????????? ???? ???????</p>
<p>&#8220;<em>Dari Hudzaifah beliau berkata Allah memanggil seorang hambaNya yang Allah karuniai harta. Maka Allah berkata kepadanya: Apa yang kamu kerjakan didunia? Ia menjawab: Wahai Rabb kamu telah menganugerahkanku hartaMu lalu aku bermuamalah dengan orang-orang. Dan dahulu akhlakku adalah memaafkan, sehingga aku dahulu mempermudah orang yang mampu dan menunda pembayaran hutang orang yang sulit membayar. Maka Allah berfirman: Aku lebih berhak darimu maka maafkanlah hambaKu ini</em>&#8221; (HR. Muslim).</p>
<p align="left">6. <strong>Melakukan kebaikan setelah berbuat dosa</strong>, dengan dalil:</p>
<p class="arab">?????? ??????? ????????? ?????? ?????????? ???????????? ??????????? ????????? ????????? ???????? ???????? ??????</p>
<p align="left"><strong> </strong><em>&#8220;Bertakwalah kepada Allah dimanapun kamu berada, ikutilah kejelekan dengan kebaikan yang menghapusnya dan pergauli manusia dengan etika yang mulia&#8221;</em> (HR Al Tirmidzi dan Ahmad dan dishohihkan Al Albani dalam Shohih Al Jaami’ no. 97.)</p>
<p align="left"><em> </em>7. <strong>Memberi salam dan berkata baik,</strong> dengan dalil sabda Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>:</p>
<p class="arab">????? ???? ??????????? ????????????? ?????? ?????????? ?? ?????? ??????????</p>
<p align="left"><strong> </strong><em>&#8220;Sesungguhnya termasuk sebab mendapatkan ampunan adalah memberikan salam dan berkata baik&#8221; </em>(HR Al Kharaithi dalam <em>Makarim Al Akhlak</em> dan di-<em>shahih</em>-kan Al Albani dalam<em> Silsilah Al Ahadits Al Shahihah,</em> no. 1035)</p>
<p align="left"><em> </em>8. <strong>Sabar atas musibah dengan</strong>, dalil sabda Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>:</p>
<p class="arab">????? ??????? ????? ??????? ??????? ?????? ????? ??????????? ??????? ???? ???????? ????????? ??????????? ????? ??? ????????????? ????????? ??????? ???? ?????????? ?????? ???????? ?????????? ??????? ???? ???????????</p>
<p align="left"><strong> </strong><em>&#8220;Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla berfirman: Sungguh Aku bila menguji seorang hambaKu yang mukmin, lalu ia memujiku atas ujian yang aku timpakan kepadanya, maka ia bangkit dari tempat tidurnya tersebut bersih dari dosa seperti hari ibunya melahirkannya&#8221; </em>(HR Ahmad, dan dihasankan Al Albani dalam <em>Silsilah Al Ahadits Al Shohihah</em> no. 144).</p>
<p align="left"><em> </em>9. <strong>Menjaga shalat lima waktu dan jum’at serta puasa Ramadhan</strong>, dengan dalil sabda Rasulullah:</p>
<p class="arab"><strong>??????? ???????? ?? ?????????? ????? ??????????? ?? ???????? ????? ???????? ???????????? ??? ?????????? ????? ???????????</strong><strong> ????????????</strong></p>
<p align="left"><strong> </strong><em>&#8220;Sholat lima waktu dan jum’at ke jum’at dan Romadhon ke Romadhon adalah penghapus dosa diantara keduanya selama menjauhi dosa besar&#8221; </em>(HR Muslim)</p>
<p align="left"><em> </em>10. <strong>Mengumandangkan a</strong><strong>dzan</strong>, dengan dalil sabda Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>:</p>
<p align="right"><strong>????? ???????????? ???????? ???? ????? ????????</strong></p>
<p align="left"><strong> </strong><em>&#8220;Seorang Muadzin diampuni dosanya sepanjang (gema) suaranya&#8221; </em>(HR Ahmad dan dishohihkan Al Albani dalam Shahih AL Jaami’ no. 1929)</p>
<p align="left"><em> </em>11.  <strong>Shalat wajib</strong>, dengan dalil sabda Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>:</p>
<p class="arab"><strong>???????????? ???? ????? ??????? ??????? ?????????? ?????????? ????? ????? ?????? ??????? ??? ??????? ?????? ??????? ???? ???????? ??????? ??? ??????? ???? </strong><strong>???????? ??????? ????? ???????? ?????? ???????????? ????????? ??????? ??????? ???? ???????????</strong></p>
<p align="left"><strong> </strong><em>&#8220;Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sungai di pintu yang digunakan untuk mandi setiap hari lima kali, pa yang kalian katakan apakah tersisa kotorannya? Mereka menjawab: Tidak sisa sedikitpun kotorannya. Beliau bersabda: sholat lima waktu menjadi sebab Allah hapus dosa-dosa&#8221; </em>(HR. Al Bukhari).</p>
<p align="left"><em> </em>12. <strong>Memperbanyak sujud, </strong>dengan dalil sabda Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>:</p>
<p class="arab">???????? ?????????? ??????????? ????????? ??? ???????? ??????? ?????? ???????? ????? ????? ???????? ?? ????? ?????? ????? ??????????</p>
<p align="left"><strong></strong><em>&#8220;Hendaklah kamu memperbanyak sujud kepada Allah, karena tidaklah kamu sekali sujud kepada Allah kecuali Allah mengangkatmu satu derajat dan menghapus satu kesalahanmu (dosa)&#8221; </em>(HR Muslim).</p>
<p align="left"><em></em>13. <strong>Shalat malam</strong>, dengan dalil:</p>
<p class="arab">???????? ????????? ???????? ????????? ?????? ?????????????? ?????????? ?????? ???????? ????? ?????? ????????? ?? ??????????? ???????????? ?? ????????? ???? ????????</p>
<p align="left"><strong></strong><em>&#8220;Hendaklah kalian sholat malam, karena ia adalah adat orang yang sholeh sebelum kalian dan amalan yang mendekatkan diri kepada Robb kalian serta penghapus kesalahan dan mencegah dosa-dosa&#8221; </em>(HR Al Haakim, dan dihasankan Al Albani dalam <em>Irwa’ Al Ghalil</em> 2/199)<em>.</em></p>
<p align="left"><em></em>14. <strong>Berjihad dijalan Allah</strong>, dengan dalil:</p>
<p class="arab">???????? ??????????? ????? ?????? ????? ????????</p>
<p align="left"><strong></strong><em>&#8220;Semua dosa orang yang mati syahid diampuni kecuali hutang&#8221; (HR Muslim)</em></p>
<p align="left"><em></em>15. <strong>Mengiringi haji dengan umrah</strong>, dengan dalil:</p>
<p class="arab">?????????? ?????? ??????? ?? ??????????? ??????? ??????????? ??????????? ???????? ????????? ?? ??????????? ????? ???????? ????????? ?????? ???????????</p>
<p align="left"><strong></strong><em>&#8220;Iringi haji dengan umroh, karena mengiringi antara keduanya dapat menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana Al Kier (alat pembakar besi) menghilangkan karat besi&#8221;</em> (HR Ibnu Majah dan dishohihkan Al Albani dalam Shohih Al Jaami’ no,2899)</p>
<p align="left"><em></em>16. <strong>Shadaqah</strong>, dengan dalil:</p>
<p class="arab"><strong>إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ</strong></p>
<p align="left"><strong></strong><em>&#8220;Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan&#8221; </em>(QS. Al Baqarah: 271)</p>
<p align="left"><em></em>Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>pun bersabda:</p>
<p class="arab">??????????? ????????? ????????????? ????? ????????? ???????? ????????</p>
<p align="left"><strong></strong><em>&#8220;Shadaqah menghapus dosa seperti air memadamkan api&#8221; </em>(HR Ahmad, Al Tirmidzi dan selainnya dan di-shahih-kan Al Al Bani dalam <em>Takhrij Musykilat Al faqr</em> no. 117)</p>
<p align="left"><em></em>17. <strong>Menegakkan hukum pidana sesuai syariat Islam, </strong>dengan dalil:</p>
<p class="arab">???????? ?????? ??????? ???????? ????? ????? ????? ?????? ????? ???????? ???????? ??????? ?????? ?????? ?????? ?????????</p>
<p align="left"><strong></strong><em>&#8220;Siapa saja yang melanggar larangan Allah kemudian ditegakkan padanya hukum pidana maka dihapus dosa tersebut&#8221; </em>(HR Al Haakim dan dishohihkan Al Albani dalam <em>Shahih Al Jaami’</em> no,2732)</p>
<p align="left"><em></em>Demikian sebagian penghapus dosa, mudah-mudahan penjelasan ini bermanfaat.</p>
<p align="left">&#8212;</p>
<p align="left">Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.<br />
Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.Com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/akhlaq/17-amalan-penghapus-dosa/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/17-amalan-penghapus-dosa/&amp;title=17+Amalan+Penghapus+Dosa" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/17-amalan-penghapus-dosa/&amp;title=17+Amalan+Penghapus+Dosa" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/akhlaq/17-amalan-penghapus-dosa/&amp;t=17+Amalan+Penghapus+Dosa" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/17-amalan-penghapus-dosa/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=17+Amalan+Penghapus+Dosa+-+http://ustadzkholid.com/akhlaq/17-amalan-penghapus-dosa/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/17-amalan-penghapus-dosa/&amp;title=17+Amalan+Penghapus+Dosa" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/17-amalan-penghapus-dosa/&amp;title=17+Amalan+Penghapus+Dosa" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=17+Amalan+Penghapus+Dosa+-+http://b2l.me/n8t3v&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=17+Amalan+Penghapus+Dosa&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/akhlaq/17-amalan-penghapus-dosa/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Manusia%20pasti%20berbuat%20dosa%20dan%20pasti%20butuh%20ampunan%20Allah.%20Oleh%20karena%20itu%20Allah%20memberikan%20keutamaan%20dan%20kemurahan%20kepada%20hambaNya%20dengan%20mensyariatkan%20amalan-amalan%20yang%20dapat%20menghapus%20dosa%20disamping%20taubat.%20Sebagiannya%20dijelaskan%20dalam%20Al%20Qur%E2%80%99an%20dan%20sebagiannya%20lagi%20dalam%20Sunnah%20Rasulullah%20Shallallahu%27alaihi%20Wasallam" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/akhlaq/17-amalan-penghapus-dosa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencintai Sesama Muslim Termasuk Kesempurnaan Iman</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/akhlaq/mencintai-sesama-muslim-termasuk-kesempurnaan-iman/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/akhlaq/mencintai-sesama-muslim-termasuk-kesempurnaan-iman/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2009 03:55:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[adab]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1142</guid>
		<description><![CDATA[Penjelasan hadits: "Tidaklah seorang dari kalian sempurna imannya sampai mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya"]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="font-size:22px;font-family:'Traditional Arabic';text-align:right">???? ?????? ???????? ?????? ???? ??????? ??????? ??????? ????  ???? ???????? ????? : ??? ???????? ?????????? ?????? ??????? ????????? ??? ??????? ??????????</p>
<p>“<em>Dari Abu Hamzah Anas bin Malik, pembantu Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam, dari Nabi </em><em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam beliau bersabda: Tidaklah seorang dari kalian sempurna imannya sampai mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya</em>”</p>
<p><strong>Takhrij</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Hadits ini dikeluarkan oleh <strong>Iman Al Bukhari </strong>dalam Shahih-nya, kitab <em>Al Iman</em>, bab <em>Min Al Iman An Yuhibba Li akhihi ma yuhibbu linafsihi</em>, hadits no. 13. juga <strong>Imam Muslim </strong>dalam Shahih-nya, kitab <em>Al Iman</em>, Bab <em>Al Dalil ‘Ala Ana Min Khishal Al Iman An Yuhibba Liakhihi al muslim ma yuhibbu linafsihi min Al khoir</em>, hadits no. 45.</p>
<p><strong>Penjelasan </strong><strong>hadits</strong><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="font-size: 22px; color:blue;font-family: 'Traditional Arabic'; text-align: left;">??? ???????? ??????????</p>
<p>bermakna &#8216;tidak sempurna iman salah seorang&#8217;, karena penafian disini untuk menafikan kesempurnaan bukan menafikan pokok iman.</p>
<p>Jika ada yang bertanya: “Apa dalil kamu tentang ta’wil ini, yang merupakan pemalingan kalam dari makna zhahirnya?” Jawabnya: “Dalil kami yang menunjukkan hal ini adalah amalan tersebut tidak mengeluarkan manusia dari iman dan tidak dianggap telah murtad, itu hanya nasehat, sehingga penafiannya disini hanya menafikan kesempurnaan iman”.<span id="more-1142"></span></p>
<p>Jika ada yang menyanggah: “Bukankah kalian mengingkari <em>ta’wil</em>-nya ahli <em>ta’wil</em>?” Jawabnya: “Kami tidak mengingkari <em>ta’wil</em>-nya ahli <em>ta’wil</em>, akan tetapi mengingkari ta’wil mereka yang tidak didasari dalil, karena jika ta’wil tidak didasari dalil maka dinamakan <em>tahrif </em>(penyimpangan) dan bukan ta’wil. Sedangkan ta’wil yang berdasarkan dalil maka ia dianggap sebagai bagian dari tafsir kalam (perkataan), sebagaimana sabda Rasulullah dalam mendoakan Abdullah bin Abas :</p>
<p style="font-size:22px;font-family:'Traditional Arabic';text-align:right">??????? ????????? ???? ????????? ?? ????????? ?????????????</p>
<p>“<em>Ya Allah faqihkanlah ia dalam agama dan ajarilah ia ta’wil</em>”<a href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a></p>
<p>Jika ada yang bertanya: dalam firman Allah :</p>
<p style="font-size:22px;font-family:'Traditional Arabic';text-align:right">فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ</p>
<p><em>“</em><em>Apabila kamu membaca al-Qur&#8217;an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk</em><em>”</em><em> </em>(QS. Al Nahl :98)<em> </em></p>
<p>Jika ‘apabila kamu membaca Al Qur’an’ disini dimaknai ‘Jika kamu hendak membaca Al Qur’an’, apakah ini termasuk <em>ta’wil</em> yang tercela atau <em>ta’wil</em> yang benar?</p>
<p>Jawabnya, ini <em>ta’wil</em> yang benar, karena ditunjukkan oleh dalil yaitu perbuatan Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> karena beliau ber-<em>ta’awwudz</em> ketika akan membaca dan tidak diakhir bacaan apa-apa.</p>
<p>Jika ada yang bertanya: “Dalam firman Allah :</p>
<p style="font-size:22px;font-family:'Traditional Arabic';text-align:right">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ</p>
<p><em>“</em><em>Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu</em><em>”</em><em> </em>(QS. Al Maidah:6)<em> </em></p>
<p>Bahwa yang dimaksud adalah ‘jika kalian hendak melaksanakan shalat’, apakah ini termasuk <em>ta’wil</em> yang tercela datau yang benar? Jawabnya, ini ta’wil yang benar. Oleh karena itu kita tidak mengingkari semua <em>ta’wil</em>, namun hanya mengingkari <em>ta’wil</em> yang tidak didasari dalil dan kita namakan <em>tahrif</em>.</p>
<p style="font-size: 22px; color:blue;font-family: 'Traditional Arabic'; text-align: left;">??? ???????? ??????????</p>
<p>Iman secara etimologi bahasa Arab bermakna <em>iqrar </em>yang mengharuskan penerimaan dan ketundukan, inilah definisi yang sesuai dengan syari’at. Ada yang mendefinisikannya dengan <em>Tashdiq</em>. Definisi ini lemah, karena perkataan: ( <strong>??????? ???????</strong>) dan (<strong>????????? ????????</strong> ) dan tidak dikatakan: ( <strong> ??????? ????????</strong>). Ada juga yang menyatakan: iman menurut bahasa Arab adalah <em>iqrar</em>. Yang berpendapat demikian berdalil dengan perkataan (<strong>????? ?? ?? ??????? ????</strong> ) dan tidak dikatakan: ( <strong>???????</strong>) bermakna (<strong>?????????</strong> ). Ketika dua kata kerja ini tidak dapat sama dalam transitif dan intransitifnya, maka diketahui bahwa keduanya tidak bermakna satu.</p>
<p>Sehingga iman menurut bahasa yang sebenarnya adalah <em>iqrar </em>hati terhadap apa yang disampaikan dan bukan tashdiq. Terkadang iman juga bermakna <em>tashdiq </em>dengan indikator tertentu, seperti firman Allah :</p>
<p style="font-size:22px;font-family:'Traditional Arabic';text-align:right">فَآمَنَ لَهُ لُوطٌ</p>
<p><em>“</em><em>Maka Luth membenarkan (kenabian)nya..</em><em>”</em> (QS. Al Ankabut:26)<em> </em></p>
<p>Menurut satu pendapat ulama dengan ada kemungkinan dikatakan : (<strong>????????? ???? ?????</strong> ) bermakna tunduk patuh kepadanya -yaitu Ibrahim- dan membenarkan dakwahnya. Adapun makna iman menurut syari’at maka ia sama dengan definisinya menurut bahasa. Sehingga siapa yang mengakui tanpa menerima dan tunduk maka belum mukmin. Berdasarkan hal ini maka orang yahudi dan nashroni sekarang ini bukan mukmin, karena mereka tidak menerima dan tunduk kepada agama islam. Abu Thalib dulu juga mengakui kenabian Muhammad <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dan menyampaikan hal itu dalam pernyataannya:</p>
<blockquote><p>Sungguh mereka mengetahui bahwa anak kita ini tidak didustai</p>
<p>Dalam diri kita dan tidak juga mengucapkan perkataan batil.</p>
<p>Dan menyatakan juga:</p>
<p>Sungguh aku mengetahui agama Muhammad</p>
<p>Termasuk agama manusia yang terbaik</p>
<p>Seandainya bukan karena celaan dan khawatir dimaki</p>
<p>Sungguh kamu melihatku menerima dengan baik agama itu</p></blockquote>
<p>Ini pengakuan yang jelas dan pembelaan terhadap Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> . walaupun demikian ia bukanlah seorang mukmin, karena tidak menerima dan tunduk, ia belum menerima dan tunduk kepada dakwah Rasulullah<em> Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>, sehingga mati dalam keadaan kafir.</p>
<p>Tempatnya iman adalah hati, lisan dan anggota tubuh. Sehingga iman itu dengan hati, lisan dan anggota tubuh, bermakna perkataan lisan dinamakan iman dan amalan anggota tubuh dinamakan iman. Ini semua dengan dalil firman Allah <em>Ta’ala</em>:</p>
<p style="font-size:22px;font-family:'Traditional Arabic';text-align:right">وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ</p>
<p><em>“</em><em>Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu..</em><em>”</em><em> (QS. Al </em><em>B</em><em>aq</em><em>a</em><em>r</em><em>a</em><em>h:143)</em></p>
<p>Para ahli tafsir menyatakan : “Yang dimaksud ’imanmu’ adalah shalatmu menghadap baitul maqdis”. Demikian juga sabda Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> :</p>
<p style="font-size:22px;font-family:'Traditional Arabic';text-align:right">????????? ?????? ?? ?????????? ???????? ???????????? ?????? ??? ?????? ?????? ???? ?? ?????????? ????????? ??????? ???? ??????????? ?? ????????? ???? ???????????</p>
<p>“Iman itu lebih dari tujuh puluh cabang, yang tertinggi adalah kalimat la ilaha illa Allah dan terrenda adalah membuang pengganggu dari jalanan dan malu termasuk cabang dari iman”<a href="#_ftn2"><strong>[2]</strong></a></p>
<p>Tertinggi adalah pernyataan l<em>a ilaha illa Allah</em>, dan ini adalah pernyataan lisan dan terendah adalah membuang pengganggu dari jalanan juga adalah amalan anggota tubuh, serta rasa malu termasuk amalan hati.  Adapun pendapat yang menyatakan iman tempatnya hanya diahati saja dan orang yang membenarkan (Islam), maka telah mukmin, ini adalah pendapat yang salah dan tidak benar.</p>
<p style="font-size: 22px; color:blue;font-family: 'Traditional Arabic'; text-align: left;">?????? ???????</p>
<p>Kata (<strong>??????</strong> ) bermakna ‘sampai’, berarti maknanya ‘sampai mencintai untuk saudaranya’. Kata cinta tidak perlu dijelaskan dan penjelasannya hanya menimbulkan masalah dan ketidak-jelasan. Cinta ya cinta tidak ada kata yang lebih jelas menafsirkannya dari itu.<strong> </strong></p>
<p style="font-size: 22px; color:blue;font-family: 'Traditional Arabic'; text-align: left;">?????????</p>
<p>Bermakna ‘saudara sesama mukmin’</p>
<p style="font-size: 22px; color:blue;font-family: 'Traditional Arabic'; text-align: left;">??? ??????? ?????????</p>
<p>Bermakna sesuatu yang ia cintai untuk dirinya dari kebaikan, keselamatan dan pembelaan kehormatan serta yang lainnya. Makna ini juga ada dalam hadits yang shahih dari Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> beliau bersabda: <strong> </strong></p>
<p style="font-size:22px;font-family:'Traditional Arabic';text-align:right">???? ??????? ???? ?????????? ???? ???????? ?? ???????? ????????? ???????????? ??????????? ?????? ???????? ?????? ?? ???????? ??????? ?????????? ????? ???????? ??? ??????? ???? ?????? ????????</p>
<p>&#8220;<em>Siapa yang ingin diselamatkan dari neraka dan dimasukkan syurga, maka hendaklah meninggal dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir dan memberikan orang lain seperti ia senang mendapatkannya</em>&#8220;<a href="#_ftn3"><strong>[3]</strong></a></p>
<p>Yang terpenting dalam hadits disini adalah: Sabda beliau:</p>
<p style="font-size:22px;font-family:'Traditional Arabic';text-align:right">?????????? ????? ???????? ??? ??????? ???? ?????? ????????</p>
<p>“<em>memberikan orang lain seperti ia senang mendapatkannya</em>”</p>
<p><strong>Faedah Hadits</strong><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dapat<strong> </strong>diambil beberapa faedah dari hadits ini, diantaranya:</p>
<ol>
<li>Boleh menafikan sesuatu karena tidak sempurna, dengan dalil sabda Rasulullah :</li>
</ol>
<p style="font-size:22px;font-family:'Traditional Arabic';text-align:right">??? ???????? ?????????? ?????? ??????? ????????? ??? ??????? ??????????</p>
<p>dan sejenis ini adalah sabda beliau:</p>
<p style="font-size:22px;font-family:'Traditional Arabic';text-align:right">????? ?? ???? ????? ?? ???? ????? ?? ???? ??? ??? ?? ???? ???? ??? ? ????? ?? ???? ???? ? ??????? ?</p>
<p>“<em>Demi Allah tidak beriman, Demi Allah tidak beriman, Demi Allah tidak beriman. Para sahabat bertanya: &#8220;Siapa wahai Rasulullah?&#8221;. Beliau menjawab: &#8220;Seorang yang tetangganya tidak aman dari kejahilannya (gangguannya)</em>” <a href="#_ftn4"><strong>[4]</strong></a></p>
<p>Diantara contoh lain pada kebolehan menafikan sesuatu dengan tidak sempurnanya sesuatu itu adalah sabda Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>:</p>
<p style="font-size:22px;font-family:'Traditional Arabic';text-align:right">??? ??????? ?????????? ??????????</p>
<p>&#8220;Tidak ada shalat jika makanan telah dihidangkan&#8221;<br />
Bermakna tidak ada shalat yang sempurna, karena hati orang yang shalat akan sibuk dengan makanan yang telah dihidangkan dan contoh lainnya banyak.</p>
<ol>
<li>Kewajiban seseorang mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cinta untuk dirinya, karena penafian iman dari orang yang tidak mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cinta untuk dirinya (dalam hadits) menunjukkan kewajiban tersebut, sebab tidak dinafikan iman kecuali karena hilangnya kewajiban iman atau adanya hal yang bertentangan dengannya.</li>
<li>Peringatan dari sikap hasad, karena orang yang hasad tidak mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cinta untuk dirinya, bahkan ia mengharap hilangnya nikmat Allah dari saudaranya seislam. Para ulama berselisih dalam tafsir hasad, sebagian mereka mendefinisikan hasad adalah mengharap hilangnya kenikamtan dariorang lain. Sebagian ulama yang lain menyatakan, hasad adalah ketidak sukaan terhadap nikmat Allah atas orang lain. Ini lah yang dirajihkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika berkata: “Jika seorang hamba membenci kenikmatan yang Allah berikan kepada orang lain maka ia telah hasad kepadanya walaupun tidak sampai mengharap hilangnya nikmat tersebut”.</li>
<li>Hendaklah menyampaikan perkataan yang berisi ajakan beramal, karena itu termasuk kefasihan. Yang menjadi dalil dari hadits adalah sabda Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> : <strong>????????</strong><strong> </strong>karena hal ini menunjukkan lemah lembut, kasih dan sayang. Contoh serupa ada pada firman Allah tentang ayat qishash:</li>
</ol>
<p style="font-size:22px;font-family:'Traditional Arabic';text-align:right">فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ</p>
<p>“<em>Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik</em>” (QS. Al Baqarah : 178)</p>
<p>Padahal ia yang membunuh untuk menampakan kelembutan dan kasih sayang kepada <em>al mukhathab</em> (yang ditujukan pembicaraan (edt)).</p>
<p>Jika ada yang menyatakan: masalah ini susah, bermakna bahwa  mencintai untuk saudara sesuatu yang kamu cintai untuk dirimu dengan pengertian, senang saudara kamu menjadi alim, menjadi kaya, menjadi orang yang banyak harta dan anaknya dan menjadi seorang yang istiqomah adalah perkara yang susah.</p>
<p>Jawabnya, ini tidak susah jika kamu telah membiasakan jiwa kamu berbuat demikian, latihlah jiwamu untuk demikian, niscaya akan mudah. Namun jika kamu mentaati jiwa kami dalam hawa nafsunya maka benar hal itu akan menjadi berat.</p>
<p>Jika seorang murid bertanya: apah termasuk dalam hal ini saya mencontekkan kepada teman saya dalam ujian, karena saya senang lulus ujian sehingga saya memberikan contekan kepadanya agar ia lulus ujian juga?</p>
<p>Jawabnya, tidak. Karena itu adalah penipuan, ia sebenarnya adalah mengganggu saudaramu dan bukan perbuatan baik padanya, katrena kamu telah membiasakan ia berkhianat sehingga ia menjadi biasa dan karena kamu telah membohonginya dimana ia akan mendapatkan ijazah yang ia tidak pantas menyandangnya.</p>
<p><em>Wallahu al Muwaffiq</em>.</p>
<p>[Diterjemahkan oleh Ustadz Khalid Syamhudi, Lc. dengan perubahan susunan dari tulisan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin di kitab <em>Syarah Al Arba’in Al Nawawiyah</em>, cetakan pertama tahun 1424 H, Dar Al Tsurayaa, Riyadh, KSA hal160-164]</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.Com</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> HR Ak Bukhari dalam shahih-nya, kitab <em>Al Wudhu’</em>, Bab <em>Wadh’u Al Ma’ Inda Al Khola’</em> no. 143.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> HR Muslim dalam Shahih-nya, kitab Iman, bab <em>Bayaan ‘Adad Syu’abi Al Iman wa Afdholuha wa Adnaha Wa Fadhilah Al Haya wa Kaunihi Min Al Iman</em> no. 35.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> HR Muslim dalam Shahih-nya, kitab Al Imarah, Bab <em>Wujub al Wafa’ bi bai’ati Al Khulafai al waal fal awal</em> no. 1844.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> HR Al Bukhari dalam Shahih-nya, kitab al Adab, Bab <em>Al</em><em> Itsmu man la Ya’man Jarao Bawaaiqahu</em> no, 6-16.</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/akhlaq/mencintai-sesama-muslim-termasuk-kesempurnaan-iman/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/mencintai-sesama-muslim-termasuk-kesempurnaan-iman/&amp;title=Mencintai+Sesama+Muslim+Termasuk+Kesempurnaan+Iman" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/mencintai-sesama-muslim-termasuk-kesempurnaan-iman/&amp;title=Mencintai+Sesama+Muslim+Termasuk+Kesempurnaan+Iman" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/akhlaq/mencintai-sesama-muslim-termasuk-kesempurnaan-iman/&amp;t=Mencintai+Sesama+Muslim+Termasuk+Kesempurnaan+Iman" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/mencintai-sesama-muslim-termasuk-kesempurnaan-iman/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Mencintai+Sesama+Muslim+Termasuk+Kesempurnaan+Iman+-+http://ustadzkholid.com/akhlaq/mencintai-sesama-muslim-termasuk-kesempurnaan-iman/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/mencintai-sesama-muslim-termasuk-kesempurnaan-iman/&amp;title=Mencintai+Sesama+Muslim+Termasuk+Kesempurnaan+Iman" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/mencintai-sesama-muslim-termasuk-kesempurnaan-iman/&amp;title=Mencintai+Sesama+Muslim+Termasuk+Kesempurnaan+Iman" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Mencintai+Sesama+Muslim+Termasuk+Kesempurnaan+Iman+-+http://b2l.me/n8f2h&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Mencintai+Sesama+Muslim+Termasuk+Kesempurnaan+Iman&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/akhlaq/mencintai-sesama-muslim-termasuk-kesempurnaan-iman/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Penjelasan%20hadits%3A%20%22Tidaklah%20seorang%20dari%20kalian%20sempurna%20imannya%20sampai%20mencintai%20untuk%20saudaranya%20sesuatu%20yang%20ia%20cintai%20untuk%20dirinya%22" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/akhlaq/mencintai-sesama-muslim-termasuk-kesempurnaan-iman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesempatan Untuk Berubah Di Bulan Ramadhan</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/akhlaq/kesempatan-untuk-berubah-di-bulan-ramadhan/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/akhlaq/kesempatan-untuk-berubah-di-bulan-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2009 03:27:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Muhasabah]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=1134</guid>
		<description><![CDATA[Jadikanlah bulan Ramadhan sebagai awal menuju kebaikan dimasa mendatang dan titik tolak perubahan dari yang ada menuju yang lebih baik dan sempurna.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ramadhan hampir tiba, tak terasa waktu berjalan dan berlalu hampir setahu dari ramadhan yang lalu. Bulan yang selalu ditunggu-tunggu karena kemuliaan dan keutamaannya. Bagaimana tidak?</p>
<p>Bulan ini adalah bulan pengampunan dan rahmat serta dimudahkan beramal shalih padanya. Lihat saja sabda Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> :</p>
<p style="font-size:22px;font-family:'Traditional Arabic';text-align:right">????? ?????? ?????? ????????? ????????? ????????? ?????????? &#8211; ?????? ????????? : ????????? ??????????- ?????? ?????????:  ????????? ??????????? ??????????? ????????? ????????? ???????????? ?????????????</p>
<p>“<em>Apabila masuk bulan Ramadhan maka dibukalah pintu langit –dalam satu riwayat dikatakan:  pintu surga dan dalam riwayat lainnya: pintu-pintu rahmat.- ditutup pintu-pintu jahannam dan para setan dibelenggu</em>”. (HR al-Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Hal ini ada sejak awal ramadhan sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat Ibnu Majah yang berbunyi:</p>
<p style="font-size:22px;font-family:'Traditional Arabic';text-align:right">????? ?????? ?????? ????????? ????????? ????????? ?????????? &#8211; ?????? ????????? : ????????? ??????????- ?????? ?????????: ????? ??????? ??????? ???????? ???? ????????? ????????? ????????????? ?????????? ???????? ??????????? ????????? ?????????</p>
<p>“<em>Apabila masuk awal malam dari bulan ramadhan maka para setan dan jin jahat dibelenggu  dan ditutup pintu neraka jahannam</em>”</p>
<p>Demikian juga sabda beliau <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>:</p>
<p style="font-size:22px;font-family:'Traditional Arabic';text-align:right">???? ????? ???????? ????????? ????????? ????????????? ?????? ???? ??? ????????? ???? ???????? ?????? ????? ????????? ????????? ????????????? ?????? ???? ??? ????????? ???? ????????</p>
<p>“<em>Siapa yang menghidupkan malam qadar dalam keadaan iman dan mencari pahala maka Allah ampuni dosanya yang telah lalu dan siapa yang berpuasa dalam keadaan iman dan mencari pahala maka Allah ampuni dosanya yang telah lalu</em>” (HR al-Bukhari).</p>
<p>Kalau demikian hendaknya kita jadikan bulan ramadhan ini sebagai kesempatan untuk melihat keadaan kita dan berfikir tentang realita yang ada, agar kita dapat introspeksi dan memperbaiki yang telah rusak dan menerapi yang sakit.<span id="more-1134"></span></p>
<p>Jadikanlah bulan ini sebagai awal menuju kebaikan dimasa mendatang dan titik tolak perubahan dari yang ada menuju yang lebih baik dan sempurna.</p>
<p>Seandainya setiap orang merenungi dirinya dan memperhatikan kehidupan dan kondisinya, tentulah ia mendapatkan dirinya memiliki banyak pikiran dan sifat-sifat individu serta prilaku tertentu.</p>
<p>Pertanyaan yang wajib disampaikan kepada diri kita adalah:</p>
<p><em>Apakah kita ridho dengan keadaan kita sekarang ini ataukah tidak?</em></p>
<p><em>Apakah ia menganggap telah mencapai  keadaan yang lebih baik dan sempurna atau malahan dalam keadaan lemah dan jauh dari kesempurnaan?</em></p>
<p><em> Apakah semua fikiran, sifat dan prilaku yang telah kita lakukan adalah sesuatu yang tidak bisa berubah dan sudah menjadi kodratnya ataukah kita sebagai manusia memiliki usaha dan ikhtiar dalam merubahnya?</em></p>
<p>Pertanyaan-pertanyaan seperti ini terpendam di dalam jiwa kita untuk dicarikan kesempatan untuk dibedah dan diintrospeksi serta direnungkan.</p>
<p>Hal ini sangat dibutuhkan seseorang untuk maju dan berkembang kearah kebaikan, namun ironisnya kebanyakan orang tidak mau memberikan waktunya untuk merenung dan mengintrospeksi dirinya tersebut, karena dua hal:</p>
<ol>
<li>Tenggelam      dalam kesibukan mencari kehidupan.</li>
<li>Perenungan      ini menuntut adanya kesiapan dan ketetapan perubahan yang banyak tidak      diinginkan orang.</li>
</ol>
<p>Upaya <em>muhaasabah</em> (introspeksi diri) sangat dianjurkan dalam syariat islam agar kita tidak tenggelam dalam kehidupan materi dan sibuk dengan kehidupan yang tiada batas. Anjuran ini diungkapkan khalifah Umar bin al-Khath-thab <em>Radhiallahu’anhu</em> dalam pernyataan beliau: “<em>Muhasabah</em>-lah terhadap dirimu sebelum kamu dihisab, dan timbang-timbanglah sebelum kamu ditimbang”.</p>
<p>Demikian juga ungkapan khalifah Ali bin Abi Thalib <em>Radhiallahu’anhu</em>: “Alangkah perlunya seorang memiliki satu saat yang tidak disibukkan dengan kesibukan untuk introspeksi diri. Ia melihat apa yang dilakukannya berupa kebaikan dan keburukan diwaktu siang dan malamnya”.</p>
<p>Sebenarnya introspeksi diri ini memberikan kesempatan kepada kita untuk mengetahui kesalahan dan titik kelemahan kita, lalu dapat mendorong kita menjadi lebih baik lagi. Hal ini disampaikan khalifah Ali bin Abi Thalib <em>Radhiallahu’anhu</em>: :Hasil dari introspeksi diri adalah perbaikan diri”.</p>
<p>Nah tidak ada satu bulan yang menandingi Ramadhan dalam masalah ini. Ramadhan adalah bulan terbaik dan pas untuk melakukan <em>muhasabah</em>. Bayangkan dibulan yang mulia ini kita-kita dilarang makan dan minum serta syahwat lainnya yang biasa kita lakukan keseharian. Hal-hal ini tentunya dapat menumbuhkan kesadaran dan memberikan kesempatan untuk perbaikan diri.</p>
<p>Demikian juga ibadah-ibadah yang ada pada bulan ini, seperti sholat malam adalah kesempatan untuk mendekat kepada Allah, membaca al-Qur`an yang dianjurkan dibulan ini akan membantu terciptanya suasana kondusif untuk perbaikan diri kita. Tapi hal ini bisa ada kalau dilakukan dengan tadabbur dalam membacanya dan memperhatikan isi kandungannya serta komitmen dengan perintah dan larangannya.  Sehingga ketika membaca ia senantiasa mempertanyakan keadaannya dari kandungan ayat yang dibacanya.</p>
<p>Banyaknya berdoa dan ibadah dibulan ini tentunya memberikan pembinaan dan pendidikan ruhiyah kepada diri kita. Harapannya dengan melaksanakan amalan ibadah dibulan mulia ini kita semua bisa berubah menjadi lebih baik dan mendapatkan ampunan ilahi.</p>
<p>Marilah kita gunakan kesempatan emas ini untuk mencapai kesuksesan dunia dan akhirat. Siapa yang mau?</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.Com</a></p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/akhlaq/kesempatan-untuk-berubah-di-bulan-ramadhan/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/kesempatan-untuk-berubah-di-bulan-ramadhan/&amp;title=Kesempatan+Untuk+Berubah+Di+Bulan+Ramadhan" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/kesempatan-untuk-berubah-di-bulan-ramadhan/&amp;title=Kesempatan+Untuk+Berubah+Di+Bulan+Ramadhan" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/akhlaq/kesempatan-untuk-berubah-di-bulan-ramadhan/&amp;t=Kesempatan+Untuk+Berubah+Di+Bulan+Ramadhan" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/kesempatan-untuk-berubah-di-bulan-ramadhan/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Kesempatan+Untuk+Berubah+Di+Bulan+Ramadhan+-+http://ustadzkholid.com/akhlaq/kesempatan-untuk-berubah-di-bulan-ramadhan/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/kesempatan-untuk-berubah-di-bulan-ramadhan/&amp;title=Kesempatan+Untuk+Berubah+Di+Bulan+Ramadhan" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/kesempatan-untuk-berubah-di-bulan-ramadhan/&amp;title=Kesempatan+Untuk+Berubah+Di+Bulan+Ramadhan" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Kesempatan+Untuk+Berubah+Di+Bulan+Ramadhan+-+http://b2l.me/n85nv&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Kesempatan+Untuk+Berubah+Di+Bulan+Ramadhan&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/akhlaq/kesempatan-untuk-berubah-di-bulan-ramadhan/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Jadikanlah%20bulan%20Ramadhan%20sebagai%20awal%20menuju%20kebaikan%20dimasa%20mendatang%20dan%20titik%20tolak%20perubahan%20dari%20yang%20ada%20menuju%20yang%20lebih%20baik%20dan%20sempurna." rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/akhlaq/kesempatan-untuk-berubah-di-bulan-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Urgensi Akhlak dalam Membangun Masyarakat</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/akhlaq/urgensi-akhlak-dalam-membangun-masyarakat/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/akhlaq/urgensi-akhlak-dalam-membangun-masyarakat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 12:25:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tri.subekti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=857</guid>
		<description><![CDATA[Makarimul akhlak (kepribadian yang mulia) merupakan sifat para nabi, orang shiddiq dan shalih. Sedangkan akhlak yang buruk adalah racun yang membawa pemiliknya ke jalan syaitan dan penyakit yang menghancurkan kebahagian umat manusia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em>Makarimul akhlak</em> (kepribadian yang mulia) merupakan sifat para nabi, orang <em>shiddiq </em>dan shalih. Sedangkan akhlak yang buruk adalah racun yang membawa pemiliknya ke jalan syaitan dan penyakit yang menghancurkan kebahagian umat manusia. Oleh karena itu Allah <em>Ta&#8217;ala</em> mengutus Rasulullah <em>shallallahu&#8217;alaihi wassalam </em> untuk menyempurnakan akhlak yang luhur yang dimiliki umat manusia. Beliau membawa akhlak yang agung bersumber dari wahyu Ilahi untuk menjadi teladan bagi orang yang beriman.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah <em>Ta&#8217;ala </em>berfirman :</p>
<p style="text-align: right; font-size: 16px;"><strong>وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;</em><em>Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.</em><em>&#8220;</em><em> </em>(QS. Al Qalam: 4)</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini ditafsirkan oleh Aisyah <em>radhiallahu&#8217;anha</em> ketika ditanya tentang akhlak beliau <em>shallallahu&#8217;alaihi wassalam</em> dalam pernyataannya:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 16px;"><strong>????? ???????? ??????????</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;</em><em>Akhlak beliau adalah Al Qur&#8217;an.</em><em>&#8220;</em><a name="_ftnref1"></a></p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah akhlak yang mulia telah menjadi salah satu rukun kenabian <em>shallallahu&#8217;alaihi wassalam</em> .<span id="more-857"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sabda Rasulullah <em>shallallahu&#8217;alaihi wassalam:</em></p>
<p style="text-align: right; font-size: 16px;"><strong>???????? ???????? ??????????? ?????????  ????????????</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;</em><em>Aku hanya diutus untuk menyempurnakan kemulian akhlak.</em><em>&#8220;</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Takhrij</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Hadits ini diriwayatkan Imam Bukhari dalam <em>Al Adaab Al Mufraad</em> hal 42, Ahmad 2/381, Al Hakim 2/613, Ibnu Saad dalam <em>Thabaqaatul Kubra</em> (1/192), Al Qudhaa&#8217;iy dalam Musnad Asysyihaab No.1165 dan Al Kharaaithiy dalam <em>Makarimul Akhlak Wa Ma&#8217;aaliha</em> hal 2. dari jalan periwayatan Muhammad bin Ajlaan dari Al Qa&#8217;qaa&#8217; dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dari Nabi <em>shallallahu&#8217;alaihi wassalam </em></p>
<p style="text-align: justify;">Sanad ini hasan. Hadits ini dishahihkan Al Haakim dan beliau berkata: &#8220;Sesuai dengan syarat Muslim&#8221; demikian juga Adz Dzahabiy menyetujui ucapan Al Hakim ini, akan tetapi Muhammad bin &#8216;Ajlaan dikeluarkan Imam Muslim dalam <em>Mutaba&#8217;ah </em>(untuk penguat saja).</p>
<p style="text-align: justify;">Hadits ini juga memiliki <em>syahid </em>(jalan periwayatan dari sahabat yang lain) dalam <em>Muwatha&#8217;</em> Imam Malik (2/904) secara <em>balagh</em> dengan lafadz:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 16px;"><strong>??????? ???? ???????? ????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ????? ???????? ??????????? ?????? ????????????</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Sesungguhnya telah sampai kepadaku (balagh) bahwa Rasulullah bersabda: &#8220;Aku diutus untuk menyempurnakan kemulian akhlak.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Demikian juga dikuatkan oleh hadits Zaid bin Aslam yang mursal  dan hadits Jaabir bin Abdillah yang lemah. Sehingga Syaikh Saalim bin Ied Al Hilaaliy menyatakan hadits ini shahih dengan <em>syahid-syahid</em>-nya.<a name="_ftnref2"></a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Syarah Hadits</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Makarimul akhlak</em> (akhlak yang mulia) jika menjadi sifat seseorang bermakna satu ungkapan yang mencakup sifat dan perbuatan luhur (terpuji) yang tampak dalam budi pekerti dan pergaulannya. Akhlak yang mulia ini adalah tonggak keutuhan dan kejayaan satu umat, sebagaimana disampaikan oleh seorang penyair yang bernama Ahmad Syauqiy dalam pernyataannya:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Umat itu tergantung akhlak yang tersisa padanya</em><em>, j</em><em>ika akhlak tersebut lenyap maka lenyaplah  mereka</em><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">Akhlak mulia memiliki pengaruh dalam tegak dan hancurnya satu masyarakat karena akhlak mulia adalah dasar ditegakkannya perintah Allah <em>Ta&#8217;ala</em> dalam jiwa manusia. Jika jiwa memiliki akhlak dan perilaku mulia maka tidak diragukan dia akan mengagungkan syiar-syiar Allah dan komitmen dengan manhaj agamanya. Sebagaimana Allah berfirman:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 16px;"><strong>ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;</em><em>Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi&#8217;ar-syi&#8217;ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati.</em><em>&#8220;</em><em> </em>(QS. Al Hajj:32)</p>
<p style="text-align: justify;">Akhlak mulia menjadi salah satu rukun ajaran Rasulullah <em>shallallahu&#8217;alaihi wassalam</em> sehingga sudah semestinya diwujudkan dalam jiwa seorang muslim.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedudukan yang tinggi ini telah dijelaskan Allah dalam ayat-ayat-Nya agar manusia dapat istiqamah di atas akhlak mulia tersebut. Allah berfirman:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 16px;"><strong>كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;</em><em>Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertaqwa.</em><em>&#8220;</em><em> </em>(QS. Al Baqarah:187).</p>
<p style="text-align: right; font-size: 16px;"><strong>وَصَرَّفْنَا فِيهِ مِنَ الْوَعِيدِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;D</em><em>an Kami telah menerangkan dengan berulang kali di dalamnya sebahagian ancaman, agar mereka bertaqwa</em><em>.&#8221;</em><em> </em>(QS. Thaha:113)</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian juga firman-Nya:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 16px;"><strong>قُرْآنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;</em><em>(Ialah) al-Qur&#8217;an dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertaqwa.</em><em>&#8220;</em> (QS. Az Zumaar :28)</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itulah para Rasul senantiasa mengajak kaumnya untuk mewujudkan akhlak yang mulia .</p>
<p style="text-align: justify;">Lihatlah Nabi Nuh <em>&#8216;alaihis salam</em>, beliau mengajak kaumnya sebagaimana dikisahkan Allah dalam firmanNya:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 16px;"><strong>كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوحٍ الْمُرْسَلِينَ إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ نُوحٌ أَلا تَتَّقُونَ<br />
إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ<br />
فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;</em><em>Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka:&#8221;Mengapa kamu tidak bertaqwa?Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertaqwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam.Maka bertaqwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku</em><em>.</em><em>&#8220;</em>(Asy Syu&#8217;ara: 105-110)</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian juga Nabi Hud <em>&#8216;alaihis salam</em> mengajak kaumnya berakhlak mulia</p>
<p style="text-align: right; font-size: 16px;"><strong>كَذَّبَتْ عَادٌ الْمُرْسَلِينَ إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ هُودٌ أَلا تَتَّقُونَ<br />
إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ<br />
وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ أَتَبْنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ آيَةً تَعْبَثُونَ<br />
وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُونَ وَإِذَا بَطَشْتُمْ بَطَشْتُمْ جَبَّارِينَ<br />
فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ وَاتَّقُوا الَّذِي أَمَدَّكُمْ بِمَا تَعْلَمُونَ أَمَدَّكُمْ بِأَنْعَامٍ وَبَنِينَ وَجَنَّاتٍ وَعُيُونٍ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;</em><em>Kaum Aad telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka:&#8221;Mengapa kamu tidak bertaqwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertaqwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan sekali-kali aku tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam. </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)</em><em>. </em><em>Dan apabila kamu menyiksa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis. Maka bertaqwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan bertaqwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air, sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab yang besar</em><em>.&#8221;</em><em> </em>(QS. Asy Syu&#8217;ara:123-135)</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi Shalih <em>&#8216;alaihissalam</em> pun mengajak kaumnya kepada akhlak yang mulia :</p>
<p style="text-align: right; font-size: 16px;">كَذَّبَتْ ثَمُودُ الْمُرْسَلِينَ إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ صَالِحٌ أَلا تَتَّقُونَ إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;</em><em>Kaum Tsamud telah mendustakan rasul-rasul. Ketika saudara mereka, Shaleh, berkata kapada mereka:&#8221;Mengapa kamu tidak bertaqwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertaqwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu, upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam.</em><em>&#8220;</em><em> </em>(QS. 26:141-145)</p>
<p style="text-align: justify;">Lihat kembali kisah nabi Luth <em>&#8216;alaihis salam</em> :</p>
<p style="text-align: right; font-size: 16px;">كَذَّبَتْ قَوْمُ لُوطٍ الْمُرْسَلِينَ إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ لُوطٌ أَلا تَتَّقُونَ إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ أَتَأْتُونَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعَالَمِينَ وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;</em><em>Kaum Luth telah mendustakan rasul-rasul,ketika saudara mereka, Luth, berkata kepada mereka:&#8221;Mengapa kamu tidak bertaqwa?&#8221; Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan yang (di utus) kepadamu, maka bertaqwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam. Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang di jadikan oleh Rabbmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas</em><em>.&#8221;</em><em> (</em>QS. 26:160-166)</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi Syu&#8217;aib <em>&#8216;alaihis salam</em> :</p>
<p style="text-align: right; font-size: 16px;">كَذَّبَ أَصْحَابُ الأيْكَةِ الْمُرْسَلِينَ إِذْ قَالَ لَهُمْ شُعَيْبٌ أَلا تَتَّقُونَ إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ أَوْفُوا الْكَيْلَ وَلا تَكُونُوا مِنَ الْمُخْسِرِينَ وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ وَلا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلا تَعْثَوْا فِي الأرْضِ مُفْسِدِينَ  وَاتَّقُوا الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالْجِبِلَّةَ الأوَّلِينَ</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;</em><em>Penduduk Aikah telah mendustakan rasul-rasul; ketika Syu&#8217;aib berkata kepada mereka: &#8220;Mengapa kamu tidak bertaqwa?, Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertaqwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku; dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam. Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan; dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan; dan bertaqwalah kepada Allah yang telah menciptakan kamu dan umat-umat yang dahulu</em><em>.</em><em>&#8221; </em>(QS. 26:176-184)</p>
<p style="text-align: justify;">Jelaslah dakwah mereka mengajak manusia bertakwa kepada Allah, dan ketakwaan adalah sumber utama akhlak mulia, darinyalah mengalir kemulian akhlak dalam kehidupan seorang mukmin. Dengan demikian akhlak mulia adalah ketakwaan yang dapat dilihat seorang mukmin sebagai satu kebaikan dan barokah bagi masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ha</strong>l ini dikuatkan dengan hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> diatas. Dimana Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> menjelaskan salah satu tugas penting beliau adalah mengokohkan pondasi dasar akhlak mulia, menyempurnakan dan menjelaskan ketinggiannya. Bukankah hal ini menunjukkan peran penting akhlak dalam membangun kejayaan kaum muslimin. Untuk lebih jelasnya marilah kita melihat tugas Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> yang telah Allah tetapkan dalam beberapa ayat dibawah ini:</p>
<p style="text-align: justify;">- Firman Allah <em>Ta&#8217;ala:</em></p>
<p style="text-align: right; font-size: 16px;"><strong>كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;</em><em>Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.</em><em>&#8220;</em><em> </em>(QS. Al Baqarah:151).</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Katsir mengomentari ayat ini dalam tafsirnya: &#8220;Dalam ayat ini Allah menjelaskan kepada hambaNya yang mukmin karunia nikmat yang Allah limpahkan kepada mereka, yaitu: diutusnya nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> untuk membacakan ayat-ayatNya dan men-<em>tazkiyah</em>. <em>Tazkiyah </em>bermakna mensucikan mereka dari kejelekan akhlak, kekotoran jiwa dan perbuatan jahiliyah&#8221;. <a name="_ftnref3"></a></p>
<p style="text-align: justify;">- Firman Allah <em>Ta&#8217;ala</em> :</p>
<p style="text-align: right; font-size: 16px;"><strong>لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;</em><em>Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.</em><em>&#8220;</em><em> </em>(QS. Al &#8216;Imron:164)<em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">serta firmanNya:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 16px;"><strong>هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الأمِّيِّينَ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;</em><em>Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan aya-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah.Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.</em><em>&#8220;</em><em> </em>(QS. Al Jumu&#8217;ah: 2)</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Tazkiyah </em>merupakan salah satu tugas utama dan rukun dakwah para Rasul. <em>Tazkiyah </em>ini tidak lain adalah dengan membina umat untuk berakhlak baik dan meninggalkan akhlak yang buruk, beristiqamah dan berpegang teguh kepada ketinggian akhlak tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian pentingnya akhlak dalam kehidupan masyarakat islam sampai nabi Ibrahim <em>&#8216;alaihissalam</em> menjadikannya sebagai salah satu rukun dakwahnya, sebagaimana diberitakan Allah dalam firmanNya:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 16px;"><strong>وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُرَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><em>&#8220;</em><em>Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah beserta Ismail (seraya berdo&#8217;a):&#8221;Ya Rabb kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak-cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Ya Rabb kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (al-Qur&#8217;an) dan hikmah serta <strong>mensucikan mereka</strong>. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.</em><em>&#8220;</em><em> </em>(QS. Al Baqarah: 127-129)</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah Nabi Ibrahim mendidik kaum dan anak keturunannya untuk berakhlak mulia, sehingga ajaran beliau ini masih tersisa pada bangsa Arab sebelum diutusnya Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> . ini tampak jelas karena Rasulullah diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia yang dimiliki bangsa Arab waktu itu. Tentunya dengan menghilangkan seluruh akhlak yang buruk dari kesyirikan, kekufuran, kebid&#8217;ahan dan kemaksiatan kepada Allah <em>Ta&#8217;ala</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhlak yang mulia yang diajarkan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> sangat lengkap dan bersumber dari wahyu. Akhlak yang meliputi akhlak kepada Allah dan kepada makhluknya. Akhlak kepada Allah yang meliputi keimanan dan tauhid serta beribadah kepadaNya tanpa berbuat syirik dan maksiat sedikitpun dan berakhlak dalam berhubungan sesama makhluk Allah dalam pergaulan pribadi atau masyarakat. Inilah inti ajaran islam yang dibawa para rasul.</p>
<p style="text-align: justify;">Wahai para da&#8217;i yang ingin membangun kejayaan umat ini janganlah kalian melupakan sisi penting ini. Melupakan <em>tazkiyah </em>(<em>tarbiyah</em>) pembentukan pribadi muslim diatas akhlak yang mulia yang bersumber dari kitabullah dan sunnah Rasulullah, bersumber dari keimanan dan tauhid yang benar. Tapi ingatlah hal ini tidak sempurna tanpa melakukan <em>tashfiyah</em> (pemurnian agama dari ajaran selainnya) dahulu. Ikutilah dakwahnya para rasul dengan benar dan sempurna, mudah-mudahan Allah mengangkat derajat dan mengembalikan kejayaan umat ini kembali.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Faedah hadits</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Diantara faedah yang dapat diambil dari hadits ini adalah:</p>
<p style="text-align: justify;">1.       Islam adalah agama yang menghilangkan kebatilan dan mengokohkan kebenaran. Hal ini tampak jelas pada sabda beliau dalam hadits ini yaitu ??????????? . sehingga Islam tetap mengokohkan kemulian akhlak yang dimiliki bangsa Arab dan menyempurnakannya dengan menghilangkan keburukan dan kejelekan akhlak mereka. Dengan demikian jelaslah slogan yang menyatakan Islam adalah revolusi atau revolusi islam adalah kebatilan, karena revolusi mesti ditandai dengan penghancuran baik yang benar atau yang salah.</p>
<p style="text-align: justify;">2.       Bangsa Arab sebelum diutusnya Rasulullah termasuk bangsa yang paling berakhlak mulia, karena mereka memiliki sebagian akhlak mulia yang mereka warisi dari ajaran nabi Ibrahim <em>&#8216;alaihis salam</em> akana tetapi mereka sesat lantaran kekufuran mereka. Lalu Allah utus Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> untuk menyempurnakan kemulian dan keindahan akhlak dengan menjelaskan kesesatan mereka dan ketetapan syariat dalam hal tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">3.       Akhlak yang mulia memiliki kedudukan dan urgensi sangat penting dalam membangun masyarakat islam</p>
<p style="text-align: justify;">4.       Akhlak yang mulia merupakan tonggak kejayaan satu bangsa atau umat.</p>
<p style="text-align: justify;">5.       Akhlak yang mulia merupakan salah satu rukun dakwah para Rasul</p>
<p style="text-align: justify;">6.       Akhlak yang mulia meliputi akhlak terhadap Allah dan makhluknya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Penulis : Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.</p>
<p style="text-align: justify;">Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.com</a></p>
<hr size="1" />
<p style="text-align: justify;"><a name="_ftn1"></a> Hadits Shahih diriwayatkan oleh Muslim, Syarah Shahih Muslim Lin Nawawi (6/25) , Abu Daud dalam Sunan-nya(2/40), An Nasaa&#8217;I dalam Sunan-nya (3/199), Ad Darimiy dalam Sunan-nya (1/345).</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="_ftn2"></a> Takhrij ini disarikan dari risalah &#8220;<em>Makarimul Akhlak</em>&#8221; karya Syaikh Saalim bin Ied Al Hilali, hal 14-15.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="_ftn3"></a> Tafsir Ibnu Katsir, 1/186.</p>
<p style="text-align: justify;">


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/akhlaq/urgensi-akhlak-dalam-membangun-masyarakat/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/urgensi-akhlak-dalam-membangun-masyarakat/&amp;title=Urgensi+Akhlak+dalam+Membangun+Masyarakat" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/urgensi-akhlak-dalam-membangun-masyarakat/&amp;title=Urgensi+Akhlak+dalam+Membangun+Masyarakat" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/akhlaq/urgensi-akhlak-dalam-membangun-masyarakat/&amp;t=Urgensi+Akhlak+dalam+Membangun+Masyarakat" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/urgensi-akhlak-dalam-membangun-masyarakat/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Urgensi+Akhlak+dalam+Membangun+Masyarakat+-+http://ustadzkholid.com/akhlaq/urgensi-akhlak-dalam-membangun-masyarakat/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/urgensi-akhlak-dalam-membangun-masyarakat/&amp;title=Urgensi+Akhlak+dalam+Membangun+Masyarakat" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/urgensi-akhlak-dalam-membangun-masyarakat/&amp;title=Urgensi+Akhlak+dalam+Membangun+Masyarakat" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Urgensi+Akhlak+dalam+Membangun+Masyarakat+-+File: /data/app/webapp/functions.php<br />Line: 7<br />Message: Too many connections&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Urgensi+Akhlak+dalam+Membangun+Masyarakat&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/akhlaq/urgensi-akhlak-dalam-membangun-masyarakat/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Makarimul%20akhlak%20%28kepribadian%20yang%20mulia%29%20merupakan%20sifat%20para%20nabi%2C%20orang%20shiddiq%20dan%20shalih.%20Sedangkan%20akhlak%20yang%20buruk%20adalah%20racun%20yang%20membawa%20pemiliknya%20ke%20jalan%20syaitan%20dan%20penyakit%20yang%20menghancurkan%20kebahagian%20umat%20manusia." rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/akhlaq/urgensi-akhlak-dalam-membangun-masyarakat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memuliakan Tetangga</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/akhlaq/memuliakan-tetangga/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/akhlaq/memuliakan-tetangga/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 May 2009 06:51:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tri.subekti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[tetangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=896</guid>
		<description><![CDATA[Agama Islam agama fitrah yang memperhatikan hak-hak yang berhubungan dengan asasi seseorang atau masyarakat. Agama yang mengatur hubungan hamba dengan Rabbnya dan hubungan antar hamba dengan keserasian dan keselarasan yang sempurna. Diantara hubungan antar hamba yang diatur dan diperhatikan Islam adalah hubungan bertetangga, ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Agama Islam agama fitrah yang memperhatikan hak-hak yang berhubungan dengan asasi seseorang atau masyarakat. Agama yang mengatur hubungan hamba dengan Rabbnya dan hubungan antar hamba dengan keserasian dan keselarasan yang sempurna. Diantara hubungan antar hamba yang diatur dan diperhatikan Islam adalah hubungan bertetangga, karena hubungan bertetangga termasuk hubungan kemasyarakatan yang penting yang dapat menghasilkan rasa saling cinta, kasih sayang dan persaudaraan antar mereka. Oleh karena itu Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wassalam</em> sangat memperhatikan hal tersebut sebagaimana dalam hadits dibawah ini.</p>
<p>Sabda Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wassalam</em> :</p>
<p style="text-align:right;font-size:16px"><strong>??? ????? ????????? ????????? ?????????? ?????? ???????? ??????? ?????????????</strong></p>
<p><em>&#8220;Jibril senantiasa berwasiat kepadaku dengan tetangga sehingga aku menyangka tetangga tersebut akan mewarisinya.&#8221;</em></p>
<p align="left"><span id="more-896"></span></p>
<p><strong>Takhrij Hadits</strong></p>
<p>Hadits ini diriwayatkan dari dua sahabat yaitu Aisyah dan Ibnu Umar. Adapun jalan periwayatan Aisyah radhiallahu &#8216;anha dikeluarkan oleh:</p>
<p>-          Al Bukhari dalam <em>Shahihnya</em>, kitab <em>Al Adab</em>, Bab <em>Al Washiyah Bil Jaar </em>No. 6014.</p>
<p>-          Muslim dalam S<em>hahihnya</em>, kitab <em>Al Adab</em>, Bab <em>Al Washiyah Bil Jaar Wal Ihsan Ilaihi</em>, No. 6628, lihat <em>Syarah Nawawi</em> 16/392.</p>
<p>-          Abu Daud dalam <em>Sunannya</em>, kitab <em>Al Adab</em>, Bab <em>Fi Haqil Jiwaar</em>, No. 5151</p>
<p>-          Attirmidziy dalam <em>Jami&#8217;nya</em>, kitab <em>Al Bir Wash Shilah</em>, Bab <em>Ma Ja&#8217;a Fi Haqil Jiwaar</em> No. 1942</p>
<p>-          Ibnu Majah dalam Sunannya, kitab <em>Al Adab</em>, Bab <em>Haqul Jiwaar</em> No. 3673.</p>
<p>Sedangkan jalan periwayatan Ibnu Umar dikeluarkan oleh:</p>
<p>-          Al Bukhari dalam <em>Shahihnya</em>, kitab <em>Al Adab</em>, Bab <em>Al Washiyah Bil Jaar </em>No. 6015.</p>
<p>-          Muslim dalam <em>Shahihnya</em>, kitab <em>Al Adab</em>, Bab <em>Al Washiyah Bil Jaar Wal Ihsan Ilaihi</em>, No. 6630, lihat <em>Syarah Nawawi</em> 16/392.</p>
<p><strong>Faedah Hadits</strong></p>
<p>Hadits yang agung ini menunjukkan urgensi dan kedudukan tetangga dalam Islam. Tetangga memiliki kedudukan yang penting dan hak-hak yang harus diperhatikan setiap muslim. Sehingga dengan demikian konsep Islam sebagai rahmat untuk alam semesta dapat direalisasikan dan dirasakan oleh setiap manusia.</p>
<p><strong>a.  Definisi, Batasan dan Hakikat Tetangga</strong></p>
<p>Kata <em>Al Jaar</em> (tetangga) dalam bahasa Arab berarti orang yang bersebelahan denganmu. Ibnu Mandzur berkata: &#8220;???????? , ?????????????  dan ????????  bermakna orang yang bersebelahan denganmu. Bentuk pluralnya ????????? , ???????? dan ????????? .&#8221;.</p>
<p>Sedang secara istilah <em>syar&#8217;i</em> bermakna orang yang bersebelahan secara syar&#8217;i baik dia seorang muslim atau kafir,  baik atau jahat, teman atau musuh, berbuat baik atau jelek, bermanfaat atau merugikan dan kerabat atau bukan.</p>
<p>Tetangga memiliki tingkatan, sebagiannya lebih tinggi dari sebagian yang lainnya, bertambah dan berkurang sesuai dengan kedekatan dan kejauhannya, kekerabatan, agama dan ketakwaannya serta yang sejenisnya. Sehingga diberikan hak tetangga tersebut sesuai dengan keadaan dan hak mereka.</p>
<p>Adapun batasannya masih diperselisihkan para ulama, diantara pendapat mereka adalah:</p>
<ol type="1">
<li>Batasan tetangga yang mu&#8217;tabar adalah empat puluh rumah dari semua      arah. Hal ini disampaikan oleh Aisyah <em>Radhiallahu &#8216;anha</em>, Az Zuhri      dan Al Auzaa&#8217;i.</li>
<li>Sepuluh rumah dari semua arah.</li>
<li>Orang yang mendengar adzan adalah tetangga. Hal ini disampaikan oleh      Imam Ali bin Abi Tholib <em>Radhiallahu &#8216;anhu</em>.</li>
<li>Tetangga adalah yang menempel dan bersebelahan saja.</li>
<li>Batasannya adalah mereka yang disatukan oleh satu masjid.</li>
</ol>
<p>Yang rajih insya Allah, batasannya kembali kepada adat yang berlaku. Apa yang menurut adat tetangga adalah tetangga. <em>Wallahu A&#8217;lam</em>.</p>
<p>Dengan demikian jelaslah tetangga rumah adalah bentuk yang paling jelas dari hakikat tetangga, akan tetapi pengertian tetangga tidak hanya terbatas pada hal itu saja bahkan lebih luas lagi. Karena dianggap tetangga juga tetangga di pertokoan, pasar, lahan pertanian, tempat belajar dan tempat-tempat yang memungkinkan terjadinya ketetanggaan. Demikian juga teman perjalanan karena mereka saling bertetanggaan baik tempat atau badan dan setiap mereka memiliki kewajiban menunaikan hak tetangganya.</p>
<p><strong>b. Wasiat Islam terhadap Tetangga</strong></p>
<p>Islam telah berwasiat untuk memuliakan tetangga dan menjaga hak-haknya, bahkan Allah menyambung hak tetangga dengan ibadah dan tauhidNya serta berbuat bakti kepada kedua orang tua, anak yatim dan kerabat, sebagaimana firmanNya:</p>
<p style="text-align:right;font-size:16px"><strong>وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالا فَخُورًا</strong></p>
<p><em>&#8220;Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri&#8221;. </em>(QS. An Nisaa&#8217;:36)</p>
<p>Demikian pula hadits-hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> telah menjelaskan kewajiban menjaga hak tetangga dan menjaga kehormatan dan kemuliannya dan perintah menutupi aib mereka, menundukkan pandangan dari harta kehormatannya dan menjauhi hal yang menyakiti dan mengganggunya.</p>
<p>Diantaranya hadits Aisyah dan Ibnu Umar ini. Lihatlah baik-baik bagaimana Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> mengatakan:<em> &#8220;Sehingga aku menyangka tetangga tersebut akan mewarisinya.&#8221;</em></p>
<p>Hal ini menunjukkan wasiat dengan tetangga tersebut meliputi penjagaan, berbuat baik kepadanya, tidak berbuat jahat dan mengganggunya, selalu bertanya tentang keadaannya dan memberikan kemakrufan kepadanya. Ini semua adalah bentuk perhatian dan motivasi syariat dalam menjaga dan menunaikan hak-hak mereka.</p>
<p>Bahkan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> menetapkan pelanggaran kehormatan tetangga sebagai salah satu dosa terbesar dalam sabdanya ketika ditanya:</p>
<p style="text-align:right;font-size:16px"><strong>????? ????????? ?????? ??????? ???????? ????? ???? ???????? ??????? ?????? ?????? ???????? ?????? ????? ????? ????? ????? ???? ???????? ???????? ???????? ???? ???????? ?????? ?????? ????? ????? ????? ???? ????????? ??????????? ??????? </strong></p>
<p><em>&#8220;Dosa apa yang terbesar disisi Allah, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wassalam menjawab: &#8220;Menjadikan sekutu tandingan Allah, padahal Allah yang menciptakanmu&#8221;. Saya (Ibnu Mas&#8217;ud) bertanya: &#8220;Kemudian apa?&#8221; beliau menjawab: &#8220;Kemudian membunuh anakmu karena khawatir dia makan bersamamu&#8221; lalu saya bertanya lagi: &#8220;Kemudian apa?&#8221; beliau menjawab: &#8220;Berzina dengan istri tetanggamu.&#8221; &#8221; <a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a></em></p>
<p>Tidak cukup hanya disitu, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> pun memerintahkan Abu Dzar untuk memperbanyak kuah masakannya agar dapat dibagi dan dirasakan tetangga, seperti dalam hadits :</p>
<p style="text-align:right;font-size:16px"><strong>???? ????? ????? ????? ????? ???????? ?????? ??????? ???????? ????????? ?????????? ????? ???????? ??????? ?????????? ??????? ????? ??????? ?????? ?????? ???? ?????????? ???????????? ??????? ???????????</strong></p>
<p><em>&#8220;Dari<strong> </strong>Abu Dzar beliau berkata: &#8220;Kekasihku shallallahu &#8216;alaihi wassalam telah berwasiat kepadaku, jika kamu memasak kuah daging maka perbanyak kuahnya kemudian lihat keluarga tetanggamu dan berikanlah sebagian kepada mereka.&#8221; <a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><strong>[2]</strong></a></em></p>
<p>Demikian besarnya hak dan kedudukan tetangga dalam Islam.</p>
<p><strong>c.  Hak-hak Tetangga</strong></p>
<p>Telah jelas bahwa tetangga memiliki hak yang besar dan kedudukan yang tinggi dalam Islam. Hak-hak mereka kalau dirinci akan sangat banyak sekali, akan tetapi semuanya dapat dikembalikan kepada empat hak yaitu:</p>
<p><strong>1.    Berbuat baik kepada mereka</strong></p>
<p>Berbuat baik dalam segala sesuatu adalah karektaristik Islam, demikian juga pada tetangga. Imam Al Marwaziy meriwayatkan dari Al Hasan Al Bashriy pernyataan beliau: &#8220;<em>Tidak mengganggu bukan termasuk berbuat baik kepada tetangga  akan tetapi berbuat baik terhadap tetangga dengan sabar atas gangguannya</em>.&#8221;</p>
<p>Sehingga Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align:right;font-size:16px"><strong>?????? ???????????? ?????? ??????? ?????????? ??????????? ???????? ??????????? ?????? ??????? ?????????? ????????? ????? ????? ?????? ????? ??????? ?????? ???????</strong></p>
<p>&#8220;<em>Sebaik-baiknya sahabat disisi Allah adalah yang paling baik kepada sahabatnya&#8221;</em></p>
<p>Diantara ihsan kepada tetangga adalah:</p>
<p>- Memuliakannya</p>
<p>Sikap ini menjadi salah satu tanda kesempurnaan iman seorang muslim sebagaimana dinyatakan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> dalam hadits yang shahih yang berbunyi:</p>
<p style="text-align:right;font-size:16px"><strong>???? ????? ???????? ????????? ??????????? ???????? ????? ?????? ??????? </strong></p>
<p><em>&#8220;Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah mengganggu tetatangganya&#8221;</em></p>
<p>Dan dalam lafadz yang lain:<em> </em></p>
<p style="text-align:right;font-size:16px"><strong>???????????? ??????? </strong></p>
<p><em>&#8220;Maka hendaklah memuliakan tetangganya</em>&#8221; <a name="_ftnref3" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>-  Ta&#8217;ziyah ketika mereka mendapat musibah, mengucapkan selamat ketika mendapat kebahagiaan, menjenguknya ketika sakit, memulai salam dan bermuka manis ketika bertemu dengannya dan membantu membimbingnya kepada hal-hal yang bermanfaat dunia akherat serta memberi mereka hadiyah.</p>
<p>Aisyah <em>radhiallahu &#8216;anha</em> bertanya kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> :</p>
<p style="text-align:right;font-size:16px"><strong>??? ??????? ??????? ????? ??? ????????? ??????? ?????????? ??????? ????? ????? ????????????? ?????? ??????</strong></p>
<p><em>&#8220;Wahai Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wassalam saya memiliki dua tetangga lalu kepada siapa dari keduanya aku memberi hadiyah? Beliau menjawab: &#8220;Kepada yang pintunya paling dekat kepadamu.&#8221; &#8221; <a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><strong>[4]</strong></a> </em></p>
<p><strong>2.    Sabar menghadapi gangguan tetangga</strong></p>
<p>Ini adalah hak kedua untuk tetangga yang berhubungan erat dengan yang pertama dan menjadi penyempurnanya. Hal ini dilakukan dengan memaafkan kesalahan dan perbuatan jelek mereka, khususnya kesalahan yang tidak disengaja atau sudah dia sesali kejadiannya. Hasan Al Bashriy berkata: &#8220;<em>Tidak mengganggu bukan termasuk berbuat baik kepada tetangga  akan tetapi berbuat baik terhadap tetangga dengan sabar atas gangguannya.&#8221;</em></p>
<p>Sebagian ulama berkata: &#8220;Kesempurnaan berbuat baik kepada tetangga ada pada empat hal:</p>
<p>a.    Senang dan bahagia dengan apa yang dimilikinya</p>
<p>b.    Tidak tamak untuk memiliki apa yang dimilikinya</p>
<p>c.     Mencegah gangguan darinya</p>
<p>d.    Bersabar dari gangguannya</p>
<p><strong>3.    Menjaga dan memelihara tetangga</strong></p>
<p>Ini merupakan hak ketiga untuk tetangga. Imam Ibnu Abi Jamroh berkata: &#8220;Menjaga tetangga termasuk kesempurnaan iman. Orang jahiliyah dahulu sangat menjaga hal ini dan melaksanakan wasiat berbuat baik ini dengan memberikan beraneka ragam kebaikan sesuai kemampuan; seperti hadiyah, salam, muka manis ketika bertemu, membantu memenuhi kebutuhan mereka, menahan sebab-sebab yang mengganggu mereka dengan segala macamnya baik jasmani atau maknawi. Apalagi Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> telah meniadakan iman dari orang yang selalu mengganggu tetangganya. Ini merupakan ungkapan tegas yang mengisyaratkan besarnya hak tetangga dan mengganggunya termasuk dosa besar.&#8221;</p>
<p><strong>4.    Tidak mengganggu tetangga</strong></p>
<p>Telah dijelaskan diatas akan kedudukan tetangga yang tinggi dan hak-haknya terjaga dalam islam. Oleh karena itu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> memperingatkan dengan keras upaya mengganggu tetangga, sebagaimana dalam sabda beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wassalam</em> :</p>
<p style="text-align:right;font-size:16px"><strong>??? ????????? ??? ???????? ??? ????????? ??? ???????? ??? ????????? ??? ????????</strong> <strong>??????? ?????? ????? ??? ??????? ??????? ????? ????? ??? ???????? ??????? ??????????? </strong></p>
<p><em>&#8220;Tidak demi Allah tidak beriman, tidak demi Allah tidak beriman, tidak demi Allah tidak beriman mereka bertanya: siapakah itu wahai Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wassalam beliau menjawab: &#8220;Orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya.&#8221; &#8221; <a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><strong>[5]</strong></a> </em></p>
<p>Dalam riwayat lain:</p>
<p style="text-align:right;font-size:16px"><strong>??? ???????? ?????????? ???? ??? ???????? ??????? ???????????</strong></p>
<p><em>&#8220;Tidak masuk syurga orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya.&#8221;<a name="_ftnref6" href="#_ftn6"><strong>[6]</strong></a></em></p>
<p>Demikian juga dalam hadits yang lain beliau bersabda:</p>
<p style="text-align:right;font-size:16px"><strong>???? ????? ???????? ????????? ??????????? ???????? ????? ?????? ??????? </strong></p>
<p><em>&#8220;Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah mengganggu tetatangganya&#8221;.</em></p>
<p>Demikianlah besarnya hak tetangga yang terkadang kurang kita perhatikan, padahal demikian besar dan pentingnya bagi kehidupan seorang muslim dalam bermasyarakat. Oleh karena itu marilah kita perbaiki kehidupoan kita dengan takwa dan iman sehingga kita dapat mencapai kemulian dan kebahagian didunia dan akherat.</p>
<p>Mudah-mudahan ini berguna.</p>
<p>[Pembahasan ini disarikan oleh Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. dari <em>Risalah Ila Al jaar</em>, penerbit Dar Ibnu Khuzaimah, Riyadh, KSA.]</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.com</a></p>
<hr size="1" /><a name="_ftn1" href="#_ftnref1">[1]</a> Diriwayatkan oleh Al Bukhari No4389, 6354 dan 6978, Muslim No. 125</p>
<p><a name="_ftn2" href="#_ftnref2">[2]</a> Diriwayatkan oleh Muslim No. 6632.</p>
<p><a name="_ftn3" href="#_ftnref3">[3]</a> Mutafaqun alaihi.</p>
<p><a name="_ftn4" href="#_ftnref4">[4]</a> Riwayat Bukhari, Kitab <em>Assuf&#8217;ah</em>, Bab Ayul Jiwari Aqrab, No. 2099.</p>
<p><a name="_ftn5" href="#_ftnref5">[5]</a> Riwayat Al Bukhari</p>
<p><a name="_ftn6" href="#_ftnref6">[6]</a> Riwayat Muslim dari Abu Hurairah</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/akhlaq/memuliakan-tetangga/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/memuliakan-tetangga/&amp;title=Memuliakan+Tetangga" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/memuliakan-tetangga/&amp;title=Memuliakan+Tetangga" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/akhlaq/memuliakan-tetangga/&amp;t=Memuliakan+Tetangga" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/memuliakan-tetangga/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Memuliakan+Tetangga+-+http://ustadzkholid.com/akhlaq/memuliakan-tetangga/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/memuliakan-tetangga/&amp;title=Memuliakan+Tetangga" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/memuliakan-tetangga/&amp;title=Memuliakan+Tetangga" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Memuliakan+Tetangga+-+File: /data/app/webapp/functions.php<br />Line: 7<br />Message: Can't connect to local MySQL server through socket '/var/run/mysqld/mysqld.sock' (11)&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Memuliakan+Tetangga&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/akhlaq/memuliakan-tetangga/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Agama%20Islam%20agama%20fitrah%20yang%20memperhatikan%20hak-hak%20yang%20berhubungan%20dengan%20asasi%20seseorang%20atau%20masyarakat.%20Agama%20yang%20mengatur%20hubungan%20hamba%20dengan%20Rabbnya%20dan%20hubungan%20antar%20hamba%20dengan%20keserasian%20dan%20keselarasan%20yang%20sempurna.%20Diantara%20hubungan%20antar%20hamba%20yang%20diatur%20dan%20diperhatikan%20Islam%20adalah%20hubungan%20bertetangga%2C%20" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/akhlaq/memuliakan-tetangga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tatkala Orang Awam Sok Kuasa</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/manhaj/tatkala-orang-awam-sok-kuasa/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/manhaj/tatkala-orang-awam-sok-kuasa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Apr 2009 07:11:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[awam]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[takfir]]></category>
		<category><![CDATA[ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=819</guid>
		<description><![CDATA[Orang yang berakal dan beradab ialah orang yang -dalam banyak sisi penerapan syari&#8217;at- mengerti kedudukan dirinya. Mengerti tentang tugas, fungsi dan wewenangnya. Tidak mengambil alih wewenang dan tugas orang lain, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Allah dan RasulNya.
Secara umum, kewajiban semua orang memang sama. Yaitu wajib mentauhidkan Allah Ta&#8217;ala, yakni beribadah hanya kepada-Nya. Allah Ta&#8217;ala [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Orang yang berakal dan beradab ialah orang yang -dalam banyak sisi penerapan syari&#8217;at- mengerti kedudukan dirinya. Mengerti tentang tugas, fungsi dan wewenangnya. Tidak mengambil alih wewenang dan tugas orang lain, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Allah dan RasulNya.</p>
<p>Secara umum, kewajiban semua orang memang sama. Yaitu wajib mentauhidkan Allah Ta&#8217;ala, yakni beribadah hanya kepada-Nya. Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p style="font-size:16px;text-align:right">وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ</p>
<p>&#8220;<em>Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu.&#8221;</em> (QS Adz Dzariyat : 56).</p>
<p>Imam Ibnu Katsir menjelaskan ayat di atas adalah Allah menyatakan &#8220;Aku ciptakan mereka untuk Aku perintahkan, supaya mereka beribadah kepadaKu saja. Bukan karena Aku butuh kepada mereka.&#8221; <a name="_ftnref1" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Alla <em>Ta&#8217;ala </em>juga berfirman:</p>
<p style="font-size:16px;text-align:right">يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ</p>
<p>&#8220;<em>Hai manusia, sembahlah Rabb-mu yang telah menciptakanmu dan menciptakan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa</em>&#8221; (QS. Al Baqarah).</p>
<p>Kewajiban bersama mentauhidkan Allah ini tentu juga terwujud dalam banyak ketentuan syari&#8217;at. Disamping masalah aqidah, juga masalah-masalah lainnya, seperti shalat, <em>shiyam</em> Ramadhan, meninggalkan kemaksiatan dan lain-lain. Semua itu merupakan kewajiban bersama bagi seluruh lapisan umat yang baligh; tua-muda, laki-laki, perempuan, orang awam, penguasa maupun ulama.<span id="more-819"></span></p>
<p>Tetapi banyak pula persoalan syari&#8217;at yang pelaksanaannya tidak menjadi kewajiban dan wewenang semua orang. Contoh, kewajiban berjilbab tidak untuk kaum laki-laki. Kewajiban berjenggot tidak untuk perempuan. Wewenang perempuan tidak sama dengan wewenang laki-laki. Dan seterusnya.</p>
<p>Demikian juga, banyak kewajiban orang awam yang bukan merupakan kewajiban ulama serta penguasa. Banyak kewajiban ulama yang bukan merupakan kewajiban penguasa serta orang awam. Dan banyak kewajiban penguasa yang bukan merupakan kewajiban orang awam serta ulama. Pun tentang wewenang masing-masing.</p>
<p>Syaikh Ibrahim bin &#8216;Amir Ar Ruhaili (seorang ulama dan guru besar pada universitas Islam Madinah KSA) menjelaskan persoalan itu dalam ceramahnya di Fakultas Hadits, Universitas Islam Madinah pada bulan Sya&#8217;ban tahun 1422 H (copy ceramahnya ada pada kami). Ketika itu beliau berceramah dengan judul <em>Al Mauqif Ash Shahih Tujaah Qadhiyyati Afghanistan</em> (Sikap yang benar menghadapi persoalan Afganistan).</p>
<p>Beliau <em>-hafidhahullah-</em> mengatakan,&#8221;Adapun berkaitan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi ini, maka seorang muslim harus memahami kedudukan dirinya terlebih dahulu di tengah umat, sebelum ia bertanya tentang kewajibannya. Sebab kewajiban-kewajiban itu berkaitan erat dengan tingkatan-tingkatan manusia. Apa yang menjadi kewajiban penguasa, bukanlah merupakan kewajiban ulama. Dan apa yang menjadi kewajiban ulama, bukanlah merupakan kewajiban rakyat biasa. Demikianlah setiap muslim mempunyai kewajibannya masing-masing.</p>
<p>Ini merupakan prinsip agung yang mesti dipelihara. Bahwa (tak mungkin) umat mempunyai kewajiban dalam segala hal. Tak mungkin seorang &#8216;alim (ulama) harus melaksanakan kewajiban penguasa. Tak mungkin pula penguasa yang tidak disebut &#8216;alim harus menempati posisi ulama. Adalah tidak layak jika orang awam (rakyat biasa) kita ajak berbicara tentang kewajiban-kewajiban penguasa dan ulama. Tidak layak pula jika penguasa dan ulama kita ajak berbicara tentang kewajiban-kewajiban orang awam.</p>
<p>Adalah termasuk orang yang baik pemahamannya terhadap agama, jika seorang da&#8217;i atau seorang penuntut ilmu (syari&#8217;at) memahami bagaimana cara berbicara kepada manusia. Orang awam (rakyat biasa) mempunyai kewajiban yang harus diajak berbicara, sesuai dengan kewajibannya. Para penguasa mempunyai kewajiban yang harus pula diajak berbicara, sesuai dengan kewajibannya. Barangsiapa yang dianugerahi Allah kemampuan dapat membedakan persoalan-persoalan ini, sungguh berarti ia diberi taufiq dengan kebaikan yang banyak.</p>
<p>Adapun barangsiapa yang rancu dalam melihat persoalan-persoalan ini, maka besar kemungkinan ia akan menjadi fitnah bagi orang lain. Kalau kita lihat masalah yang sering dibahas dan dibicarakan orang dewasa ini tentang jihad; (yakni) apakah jihad wajib atau tidak? Kemudian banyak orang datang menanyakannya, baik itu laki-laki, perempuan, besar-kecil, pelajar dan orang awam; lalu masing-masing bertanya apakah ia wajib berjihad? (Sungguh) ini merupakan fitnah besar yang membuktikan betapa teramat bodohnya terhadap prinsip-prinsip syari&#8217;at.&#8221;</p>
<p>Intinya beliau menegaskan, bahwa untuk mencermati dan memobilisasi jihad -sebagai salah satu amal perbuatan yang paling <em>afdhal</em>- bukan merupakan tugas orang awam (rakyat biasa). Bahkan bukan pula merupakan tugas para ulama. Tetapi menjadi tugas para penguasa umat yang didukung oleh pandangan para ulama.<a name="_ftnref2" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Di sisi lain pada ceramah yang sama, beliau menegaskan perkataannya, &#8220;Maka seyogyanya setiap individu dari umat ini harus mengerti kedudukan dirinya. Apakah ia termasuk ulama atau penuntut ilmu (syari&#8217;at). Hingga dengan demikian ia mempunyai hak dan kewajiban khususnya. Ataukah ia termasuk orang awam, yang dengan demikian ia pun mempunyai hak dan kewajiban. Ataukah ia termasuk penguasa, sehingga karenanya ia juga mempunyai hak dan kewajiban tertentu?&#8221;</p>
<p>Jika orang awam -maksudnya, ia bukan ulama dan bukan pula pejabat atau penguasa- mengambil alih tugas dan wewenang ulama atau penguasa, berarti ia tidak mempunyai adab dan sedikit akalnya.</p>
<p>Semestinya, ketika mengetahui diriya sebagai orang awam, ia lebih baik berkonsentrasi memikirkan bagaimana dapat melaksanakan tugas-tugas dan kewajiban-kewajibannya secara baik kepada Allah.</p>
<p>Ironisnya banyak orang awam yang tidak peduli pada kewajiban dirinya, tetapi justru konsentrasinya terkuras untuk menuntut kewajiban orang lain. Kadang-kadang orang awam mengfungsikan dirinya sebagai ulama, padahal ilmu agamanya masih dangkal. Akibatnya keluarlah berbagai fatwanya yang sesat dan menyesatkan. Fatwa tentang jihad, fatwa tentang <em>takfir</em>, fatwa tentang politik dan sebagainya. Orang-orang itu juga tidak jarang menampilkan diri seakan-akan sebagai penguasa, sehingga lahirlah tindakan-tindakan main hakim sendiri. Mulai dari <em>sweeping</em> miras sampai melaksanakan hukum <em>hadd</em> (pidana) bagi anggota yang bersalah. Akibatnya timbul <em>mafsadah </em>(kerusakan) yang lebih besar, fitnah dan musibah-musibah. Kemudian yang langsung merasakan kerugiannyapun tak lain adalah dakwah  dan umat Islam sendiri.</p>
<p>Imam Ibnu Al Jauzi <em>Rahimahullah</em> dalam kitab <em>Talbis Iblis </em>menyebutkan, bahwa di antara bentuk godaan (penyesatan) iblis terhadap orang awam ialah ketika seseorang itu merasa puas dengan jalan pikiran (pemahaman) dirinya sendiri. Tidak peduli, apakah pemahamannya menyelisihi ulama ataukah tidak. Sehingga bila fatwa para ulama menyelisihi kepentingannya, ia buru-buru melakukan bantahan.<a name="_ftnref3" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Ada contoh-contoh lain tentang beberapa persoalan syari&#8217;at yang tidak menjadi kewajiban serta wewenang setiap orang. Diantaranya : bentuk-bentuk tertentu amar ma&#8217;ruf nahi munkar, pelaksanaan hukum <em>hadd</em> (pidana) dan mobilisasi jihad.</p>
<p>Secara umum, amar ma&#8217;ruf nahi munkar menjadi kewajiban setiap  muslim. Syaikh Abdus Salam bin Barjas bin Nashir Abdul Karim menjelaskan, amar ma&#8217;ruf nahi mungkar merupakan salah satu pilar diantara pilar-pilar agama. Dengannya kebaikan akan tampak dan merata, dan dengannya kebatilan akan pudar dan sirna.</p>
<p>Allah membuat perbedaan antara kaum mukminin dengan orang-orang munafik terletak pada pelaksanaan amar ma&#8217;ruf nahi munkar. Hal yang membuktikan bahwa sifat khusus kaum mukminin adalah kemauannya untuk melaksanakan amar ma&#8217;ruf nahi munkar.</p>
<p>Beliau (Syaikh Abdus Salam bin Barjas) kemudian membawakan dalil-dalilnya. Diantaranya firman Allah Ta&#8217;ala:,</p>
<p style="font-size:16px;text-align:right">وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ</p>
<p>&#8220;<em>Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka melakukan amar ma&#8217;ruf, dan nahi munkar</em>&#8221; (QS. At Taubah : 71).</p>
<p>Juga hadits dari Abu Sa&#8217;id Al Khudri Radhiallahu &#8216;Anhu , ia mengatakan, Saya mendengar Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam bersabda,</p>
<p style="font-size:16px;text-align:right"><strong>مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ  فَبِقَلْبِهِ وِذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ</strong></p>
<p>&#8220;<em>Barangsiapa diantara kamu yang melihat kemungkaran, maka rubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemah iman</em>&#8220;. (HR Muslim).</p>
<p>Berdasarkan hadits ini, beliau (Syaikh Abdus Salam bin Barjas) menegaskan bahwa amar ma&#8217;ruf nahi munkar dengan tangan merupakan kewajiban setiap muslim yang memiliki kemampuan. Tetapi mengingkari kemungkaran dengan tangan, tidak berarti harus dengan kekerasan dan pedang. Karena itu beliau memberikan catatan, mengingkari kemungkaran dengan tangan ini harus berdasarkan persyaratan. Di antaranya, pengingkarannya terhadap kemungkaran tidak menimbulkan kemungkaran yang lebih besar, <strong>dan bukan pengingkaran yang &#8211; menurut syari&#8217;at- menjadi wewenang khusus penguasa</strong>. Misalnya : <strong>pelaksanaan hukum </strong><strong>hadd</strong><strong> (pidana), pengingkaran dengan menggunakan pedang</strong> dan lain-lain.<a name="_ftnref4" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Lajnah Da&#8217;imah Lil Buhuts Al Ilmiyah Wa Al Ifta&#8217; </em>(Dewan Tetap Untuk Pembahasan Ilmiah dan Fatwa) Kerajaan Saudi Arabia, yang ditanda-tangani oleh ketua; Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz t , wakil ketua Syaikh Abdur Razaq Afifi,  Syaikh Abdullah bin Ghadayyan dan Syaikh Abdullah bin Qu&#8217;ud, keduanya sebagai anggauta, juga menfatwakan hal senada. Ketika ditanya tentang bagaimana tafsir hadits tentang &#8220;merubah kemungkaran dengan tangan, dengan lisan dan dengan hati%</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/manhaj/tatkala-orang-awam-sok-kuasa/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/tatkala-orang-awam-sok-kuasa/&amp;title=Tatkala+Orang+Awam+Sok+Kuasa" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/manhaj/tatkala-orang-awam-sok-kuasa/&amp;title=Tatkala+Orang+Awam+Sok+Kuasa" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/manhaj/tatkala-orang-awam-sok-kuasa/&amp;t=Tatkala+Orang+Awam+Sok+Kuasa" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/tatkala-orang-awam-sok-kuasa/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Tatkala+Orang+Awam+Sok+Kuasa+-+http://ustadzkholid.com/manhaj/tatkala-orang-awam-sok-kuasa/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/tatkala-orang-awam-sok-kuasa/&amp;title=Tatkala+Orang+Awam+Sok+Kuasa" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/manhaj/tatkala-orang-awam-sok-kuasa/&amp;title=Tatkala+Orang+Awam+Sok+Kuasa" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Tatkala+Orang+Awam+Sok+Kuasa+-+File: /data/app/webapp/functions.php<br />Line: 7<br />Message: Too many connections&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Tatkala+Orang+Awam+Sok+Kuasa&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/manhaj/tatkala-orang-awam-sok-kuasa/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Orang%20yang%20berakal%20dan%20beradab%20ialah%20orang%20yang%20-dalam%20banyak%20sisi%20penerapan%20syari%27at-%20mengerti%20kedudukan%20dirinya.%20Mengerti%20tentang%20tugas%2C%20fungsi%20dan%20wewenangnya.%20Tidak%20mengambil%20alih%20wewenang%20dan%20tugas%20orang%20lain%2C%20sebagaimana%20yang%20telah%20ditetapkan%20oleh%20Allah%20dan%20RasulNya.%0D%0A%0D%0ASecara%20umum%2C%20kewajiban%20" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/manhaj/tatkala-orang-awam-sok-kuasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seorang Mukmin Bagaikan Pohon Kurma</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/akhlaq/seorang-mukmin-bagaikan-pohon-kurma/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/akhlaq/seorang-mukmin-bagaikan-pohon-kurma/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Apr 2009 02:54:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tri.subekti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[dalil]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=695</guid>
		<description><![CDATA[Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya ada diantara pepohonan, satu pohon yang tidak gugur daunnya. Pohon ini seperti seorang muslim, maka sebutkanlah kepadaku apa pohon tersebut?" Lalu orang menerka-nerka pepohonan wadhi. Berkata Abdullah: "Lalu terbesit dalam diriku, pohon itu adalah pohon kurma, namun aku malu mengungkapkannya". Kemudian mereka berkata: "Wahai Rasululloh beritahulah kami pohon apa itu?" Lalu beliau menjawab: "Ia adalah pohon kurma".]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="font-size:15px;text-align:right;">????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ????? ???? ????????? ???????? ??? ???????? ????????? ?????????? ?????? ??????????? ????????????? ??? ???? ???????? ???????? ??? ?????? ??????????? ????? ?????? ??????? ???????? ??? ??????? ???????? ??????????? ??????????????? ????? ??????? ?????????? ??? ???? ??? ??????? ??????? ????? ???? ???????????</p>
<p><em>&#8220;Rasulullah bersabda: &#8220;Sesungguhnya ada diantara pepohonan, satu pohon yang tidak gugur daunnya. Pohon ini seperti seorang muslim, maka sebutkanlah kepadaku apa pohon tersebut?&#8221; Lalu orang menerka-nerka pepohonan wadhi. Berkata Abdullah: &#8220;Lalu terbesit dalam diriku, pohon itu adalah pohon kurma, namun aku malu mengungkapkannya&#8221;. Kemudian mereka berkata: &#8220;Wahai Rasululloh beritahulah kami pohon apa itu?&#8221; Lalu beliau menjawab: &#8220;Ia adalah pohon kurma&#8221;.&#8221;</em><span id="more-695"></span></p>
<h2>Takhrij</h2>
<p>Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam shohihnya kitab <em>Al Ilmu</em>, bab <em>Qaulul Muhadits Hadatsanaa</em> no. 61 (1/145-Fathul Bariy) dan Muslim dalam shohihnya kitab <em>Sifatul Munafiqin</em> bab <em>Mitslul mukmin matsalun Nakhlah </em>no. 7029 (17/151- Syarah Nawawi)</p>
<p><strong>Syarah Mufradat Hadits</strong></p>
<p>1. <strong>????? ???? ????????? ???????? ??? ???????? ????????? ?????????? ?????? ??????????? </strong> : terdapat persamaan dan penyerupaan seorang muslim dengan pohon yang tidak gugur daunnya, yaitu pohon kurma</p>
<p>2.  <strong>???????? ???????? ??? ?????? ???????????</strong> : akal pikiran mereka menerawang kepada pepohonan di <em>wadhi</em>. Setiap orang menafsirkannya dengan salah satu jenis pepohonan tersebut, namun lupa dengan pohon kurma.<a name="_ftnref1" href="http://ustadzkholid.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/blank.htm#_ftn1">[1]</a></p>
<p>3.<strong> ??????????? </strong><strong> </strong>: bentuk jamak dari <em>Badiyah</em> yang bermakna dataran luas yang ada padanya tumbuhan dan air<a name="_ftnref2" href="http://ustadzkholid.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/blank.htm#_ftn2">[2]</a></p>
<p>4.  <strong>????? ?????? ???????</strong> : Abdullah ini adalah Abdullah bin Umar, sahabat yang meriwayatkan hadits ini dari Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wassalam</em>.</p>
<p>5. <strong>???????????????</strong> : sebab malu beliau, karena paling kecil dari para sahabat yang hadir waktu itu, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat Bukhori di kitab <em>Al Ath&#8217;imah</em>: <em>&#8220;Aku adalah orang kesepuluh dan aku yang paling kecil&#8221;</em>.</p>
<p>6. <strong> ???? ???????????</strong> : pohon kurma. Tentulah pohon ini memiliki keistimewaan sehingga dijadikan sebagai permisalan bagi seorang muslim. Tidak hanya ini saja bahkan Allah memberikan permisalan kalimat <em>thoyibah</em> dengan pohon ini dalam firmannya:</p>
<p style="font-size:15px;text-align:right;"><strong>?????? ???? ?????? ?????? ????? ??????? ???????? ????????? ?????????? ????????? ????????? ??????? ??????????? ??? ?????????? ??????? ????????? ????? ????? ???????? ???????? ?????????? ????? ???????????? ????????? ??????????? ??????????????</strong></p>
<p>Artinya: <em>&#8220;</em><em>Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya.Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS. Ibr</em><em>a</em><em>him</em><em>:</em><em> 24-25)</em><em></em></p>
<p><em> </em>Ibnu Hajar berkata: &#8220;<em>Imam Bukhori telah membawakan hadits ini juga dalam tafsir firman Allah</em>:</p>
<p align="right"><strong>?????? ???? ?????? ?????? ????? ??????? ???????? ?????????</strong></p>
<p>Sebagai isyarat dari beliau bahwa yang dimaksud dengan pohon yang baik itu adalah pohon kurma. Memang telah ada riwayat yang tegas dari hadits yang dikeluarkan oleh Al Bazaar dari jalan periwayatan Musa bin &#8216;Uqbah dari Naafi&#8217; dari Ibnu Umar, beliau menyatakan bahwa Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wassalam</em> membaca ayat ini dan bersabda: <em>&#8220;Apakah kalian tahu pohon apakah itu?&#8221;</em> Ibnu Umar menyatakan: <em>&#8220;</em><em>J</em><em>elas itu adalah pohon kurma, namun usiaku yang kecil menahanku untuk berbicara&#8221;. Lalu Rasululloh berkata: &#8220;ia adalah pohon Kurma&#8221;</em>.<a name="_ftnref3" href="http://ustadzkholid.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/blank.htm#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Dengan demikian, pohon yang baik disini ditafsirkan dengan pohon kurma dan ini adalah pendapat banyak Ulama Salaf, diantaranya: Ibnu Abbas, Mujahid, Masruq, Ikrimah, Ad Dhohaak, Qatadah dan Ibnu Zaid.<a name="_ftnref4" href="http://ustadzkholid.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/blank.htm#_ftn4">[4]</a> Pendapat ini dikuatkan oleh hadits yang diriwayatkan Ibnu Hibbaan dari jalan periwayatan Abdulaziz bin Muslim dari Abdullah bin Dinaar dari ibnu Umar bahwa Rasulullah bersabda:</p>
<p style="font-size:15px;text-align:right;"><strong>???? ???????????? ???? ???????? ????????? ?????? ??????????? ????????? ??????? ??????????? ???? ??????????</strong></p>
<p>Artinya:<em> </em><em>&#8220;Siapakah yang dapat menyebuntukan kepadaku satu pohon yang menyerupai seorang mukmin, pokok batangnya kokoh dan cabangnya menjulang kelangit?&#8221;.<a name="_ftnref5" href="http://ustadzkholid.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/blank.htm#_ftn5"><strong>[5]</strong></a></em></p>
<p>Semua ini menunjukkan pohon kurma memiliki keutamaan, ketinggian dan keistimewaan. Semua ini telah ditunjukkan dalam ayat diatas. Namun cukuplah dengan dijadikan sebagai permisalahan seorang muslim menunjukkan ketinggian dan keistimewaannya.</p>
<p><strong>Syarah Hadits</strong><strong> </strong></p>
<p>Nabi Shalallahu &#8216;alaihi Wassalam dalam hadits ini memberikan permisalan dan menyerupakan seorang muslim dengan pohon kurma. Tentunya hal ini menunjukkan adanya sisi kesamaan antara keduanya. memang mengenal dan mengetahui sisi kesamaan ini perlu mendapat perhatian yang cukup, apalagi Allah telah menjelaskan hal ini agar manusia selalu ingat kepadaNya, sebagaimana firmanNya:</p>
<p style="font-size:15px;text-align:right;"><strong>?????? ???? ?????? ?????? ????? ??????? ???????? ????????? ?????????? ????????? ????????? ??????? ??????????? ??? ?????????? ??????? ????????? ????? ????? ???????? ???????? ?????????? ????? ???????????? ????????? ??????????? ??????????????</strong></p>
<p>Artinya:<em> &#8220;Tidakkah kamu kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya.Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat&#8221;. </em><em>(QS. Ibr</em><em>a</em><em>him</em><em>:</em><em> 24-25)</em></p>
<p>Diantara sisi kesamaan muslim dengan pohon kurma adalah:<a name="_ftnref6" href="http://ustadzkholid.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/blank.htm#_ftn6">[6]</a></p>
<p>1. Pohon kurma mesti memiliki akar, pangkal batang, cabang, daun dan          buah, demikian juga pohon keimanan, memiliki pokok, cabang dan buah. Pokok imam adalah rukun iman yang enam dan cabangnya adalah amalan sholeh dan aneka ragam ketaatan dan ibadah. Sedangkan buahnya adalah semua kebaikan dan kebahagiaan yang didapatkan seorang mukmin didunia dan akherat.</p>
<p>Imam Ahmad berkata: &#8220;perumpamaan iman seperti pohon, karena pokoknya adalah syahadatain, batang dan daunnya demikian juga. Sedangkan buahnya adalah sikap <em>wara&#8217;</em> (hati-hati). Tidak ada kebaikan pada pohon yang tidak berbuah dan tidak ada kebaikan pada orang yang tidak punya sifat <em>wara&#8217;</em>&#8220;.<a name="_ftnref7" href="http://ustadzkholid.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/blank.htm#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Imam Al Baghaqwiy menyatakan: &#8220;Hikmah dari penyerupaan iman dengan pohon adalah pepohonan tidak dikatakan sebagai pohon (yang baik) kecuali memiliki tiga hal. Memiliki akar yang kuat, batang yang kokoh dan cabang yang tinggi. Demikian juga iman, tidak sempurna iman kecuali dengan tiga hal, yaitu pembenaran hati, ucapan lisan dan amalan anggota tubuh&#8221;.<a name="_ftnref8" href="http://ustadzkholid.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/blank.htm#_ftn8">[8]</a> Demikian juga Ibnul Qayyim mengomentari hal ini dalam pernyataan beliau: &#8220;Ikhlas dan Tauhid adalah satu pohon dihati, cabangnya adalah amalan dan buahnya adalah kehidupan yang baik didunia dan nikmat yang abadi di akherat. Sebagaimana buah-buahan syurga tidak terputus dan tidak tercegah mengambilnya, maka buah tauhid dan ikhlas diduniapun demikian. Adapun kesyirikan, dusta dan riya&#8217; adalah satu pohon dihati, buahnya didunia perasaan takut, sedih, duka, kesempitan dan kegelapan hati dan buahnya diakherat buah zaqqum dan adzab yang abadi. Kedua pohon ini telah dijelaskan Allah dalam surat Ibrohim&#8221;.<a name="_ftnref9" href="http://ustadzkholid.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/blank.htm#_ftn9">[9]</a></p>
<p>2. Pohon kurma tidak akan bertahan hidup kecuali dengan disiram dan dipelihara. Disiram dengan air, jika tidak maka akan kering dan jika ditebang maka mati. Demikian juga seorang mukmin tidak dapat hidup yang hakiki dan istiqomah kecuali dengan siraman wahyu. Oleh karena itulah Allah menamakan wahyu dengan ruh dalam firmanNya:</p>
<p style="font-size:15px;text-align:right;"><strong>?????????? ??????????? ???????? ?????? ????? ????????? ???????? ??????? ??? ?????????? ????? ??????????? ??????? ??????????? ?????? ???????? ???? ??? ???????? ???? ?????????? ????????? ????????? ????? ??????? ????????????</strong></p>
<p><em> </em>Artinya:<em> &#8220;</em><em>Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh/ wahyu (al-Qur&#8217;an) dengan perintah Kami.Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (al-Qur&#8217;an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al-Qur&#8217;an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus</em><em>&#8220;</em><em>. (QS. </em><em>Asy-Syura</em><em>:52)</em> dan firmanNya:</p>
<p style="font-size:15px;text-align:right;"><strong>????????? ?????????????? ?????????? ???? ???????? ????? ??? ??????? ???? ????????? ???? ????????? ??????? ???????? ????????? ???????????</strong><em></em></p>
<p>Artinya:<em> &#8220;</em><em>Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu:</em><em> </em><em>&#8220;Peringatkanlah olehmu sekalian,bahwasanya tidak ada Ilah (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertaqwa kepada-Ku&#8221;. (QS. 16:2)</em>, karena kehidupan hakiki bagi hati tidak ada tanpa wahyu. Sehingga tanpa wahyu manusia dikatakan mayit walaupun bergerak diantara manusia. Allah berfirman:</p>
<p style="font-size:15px;text-align:right;"><strong>???????? ????? ??????? ??????????????? ??????????????? ?????? ??????? ???? ??? ???????? ?????? ???????? ??? ???????????? ?????? ????????? ???????? ???????? ??????? ?????????????? ?????????? ????????</strong></p>
<p>Artinya:<em> &#8220;Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan ditengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya. </em><em>(QS. </em><em>Al An&#8217;am</em><em>:122)</em>.</p>
<p>Disini jelas sekali sisi persamaannya. Pohon kurma hanya hidup dengan disiram air dan hati seorang mukmin hanya hidup dengan siraman wahyu.</p>
<p>3. Pohon kurma sangat kokoh, sebagaimana firmanNya:</p>
<p style="font-size:15px;text-align:right;"><strong>?????? ???? ?????? ?????? ????? ??????? ???????? ????????? ?????????? ????????? ????????? ??????? ??????????? ??? ?????????? ??????? ????????? ????? ????? ???????? ???????? ?????????? ????? ???????????? ????????? ??????????? ??????????????</strong></p>
<p>Artinya:<em> &#8220;Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya.Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat&#8221;. </em><em>(QS. Ibr</em><em>a</em><em>him</em><em>:</em><em> 24-25)</em><em>.</em></p>
<p>Demikian juga iman jika telah mengakar didalam hati, maka menjadi sangat kokoh dan tidak goyah sedikitpun, seperti kokohnya gunung yang besar menjulang.</p>
<p>Imam Al &#8216;Auzaa&#8217;iy ditanya tentang iman, apakah bertambah? Beliau menjawab: &#8220;Ya, sampai membesar seperti gunung&#8221;. Ditanya lagi, apakah berkurang? Beliau menjawab: &#8220;Ya, sampai tidak sisa sedikitpun&#8221;.<a name="_ftnref10" href="http://ustadzkholid.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/blank.htm#_ftn10">[10]</a> Demikian juga imam Ahmad bin Hambal ditanya tentang hal yang serupa dan menjawab: &#8220;Bertambah sampai mencapai lebih tinggi dari langit yang tujuh dan berkurang sampai menjadi paling rendah dari bumi yang ketujuh&#8221;.<a name="_ftnref11" href="http://ustadzkholid.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/blank.htm#_ftn11">[11]</a></p>
<p>4. Pohon kurma tidak dapat tumbuh disembarang tanah, bahkan hanya tumbuh ditanah tertentu yang subur saja. Pohon kurma disebagian tempat tidak tumbuh sama sekali, disebagian lainnya tumbuh namun tak berbuah dan disebagian lain tumbuh berbuah tapi sedikit buahnya. Sehingga tidak semua tanah cocok untuk pohon kurma. Demikian juga iman, ia tidak kokoh pada semua hati. Dia hanya akan kokoh pada hati orang yang Allah berikan hidayah dan lapang dada menerimanya. Sehingga pantaslah bila Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wassalam</em> bersabda:</p>
<p style="font-size:15px;text-align:right;"><strong>?????? ??? ????????? ??????? ???? ???? ???????? ??????????? ???????? ????????? ?????????? ??????? ??????? ??????? ??????? ????????? ???????? ???????? ???????????? ????????? ??????????? ?????????? ????????? ??????? ????????? ?????????? ???????? ???????? ??????? ????? ???????? ?????????? ????????? ?????????? ??????????? ??????? ????????? ??????? ???????? ???? ???????? ??? ???????? ????? ????? ???????? ?????? ???????? ?????? ???? ?????? ??? ????? ??????? ?????????? ???????? ????????? ???????? ???? ???? ???????? ???????? ??????? ?????? ???????? ????? ??????? ??????? ?????????? ???? </strong></p>
<p><em> </em>Artinya:<em> &#8220;Permisalan petunjuk dan ilmu yang aku dapatkan dari Allah adalah seperti permisalan air hujan yang deras menimpa bumi. Ada diantara tanah bumi itu Naqiyah, menerima air lalu menumbuhkan rumput dan tumbuhan yang banyak. Ada juga ajaadib, menampung air lalu Allah memberikan manfaat kepada manusia. Mereka minum, mengambil dan bercocok tanam. Air hujan ini juga menimpa sejenis tanah lain yaitu Qii&#8217;aan yang tidak menerima air dan tidak menumbuhkan rumputan. Demikian itulah permisalan orang yang berilmu (faqih) dalam agama dan mengambil manfaat darinya. Ia mengetahui dan mengajarkannya dan permisalan orang yang tidak menganggapnya sama sekali dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku bawa&#8221;.<a name="_ftnref12" href="http://ustadzkholid.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/blank.htm#_ftn12"><strong>[12]</strong></a></em></p>
<p><em> </em>5. Pohon kurma tidak dapat bercampur dengan tumbuhan pengganggu dan tumbuhan asing yang bukan jenisnya. Mereka ini dapat mengganggu dan melemahkan pertumbuhannya serta mengganggunya dalam menyerap air. Oleh karena itu diperlukan perawatan khusus dan selektif dari pemiliknya. Demikian juga seorang mukmin, mesti mendapatkan hal-hal yang dapat melemahkan iman dan keyakinannya. Juga mendapatkan perkara yang dapat mendesak iman dari hatinya. Oleh karena itu diperlukan introspeksi (muhasabah) dalam setiap waktu dan bersungguh-sungguh menjaganya. Juga berusaha selalu menghilangkan segala sesuatu yang mengotorinya, seperti was-was, mengikuti hawa nafsunya dan lain-lainnya. Allah berfirman:</p>
<p style="font-size:15px;text-align:right;"><strong>??????????? ????????? ?????? ????????????????? ????????? ??????? ????? ?????? ??????????????</strong></p>
<p>Artinya:<em> &#8220;Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik&#8221;. </em><em>(QS. </em><em>Al Ankabut</em><em>:</em><em> </em><em>69)</em>.</p>
<p>6. Pohon kurma memberikan hasilnya setiap waktu, sebagaimana firman Allah :</p>
<p style="font-size:15px;text-align:right;"><strong>??????? ????????? ????? ????? ???????? ???????? </strong></p>
<p>Artinya:<em> &#8220;</em><em>pohon itu memberikan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Rabbnya</em><em>&#8220;</em><em>. (QS. Ibr</em><em>a</em><em>him</em><em>:</em><em> 24-25)</em><em>.</em></p>
<p>Buah pohon ini dimakan waktu siang dan malam, baik dimusim dingin atau dimusim panas. Dimakan dalam bentuk kurma (tamar) atau <em>busr</em> atau <em>Ruthab</em>.<a name="_ftnref13" href="http://ustadzkholid.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/blank.htm#_ftn13">[13]</a> Demikian juga seorang mukmin amalan mereka naik pada pagi dan sore hari. Rabi&#8217; bin Anas menyatakan: &#8220;Makna firman Nya: <strong>????? ?????</strong> adalah setiap pagi dan sore hari, karena buah kurma selalu dapat dimakan diwaktu malam dan siang, baik musim dingin atau panas, baik berupa kurma, busr atau ruthab, demikian juga amalan seorang mukmin naik pada pagi dan sore harinya&#8221;<a name="_ftnref14" href="http://ustadzkholid.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/blank.htm#_ftn14">[14]</a></p>
<p>Ibnu Jarir Ath Thobariy menyatakan dalam tafsir ayat ini: &#8220;Pendapat yang rojih menuruntku adalah pendapat yang menyatakan, makna (<strong>????? ?????</strong>) dalam ayat ini adalah pagi dan sore, setiap saat, karena Allah menjadikan hasil pohon ini setiap saat dari buahnya untuk perumpamaan amalan dan perkataan seorang mukmin. Padahal sudah pasti amalan dan perkataan baik seorang mukmin diangkat kepada Allah setiap hari, bukan setiap setahun atau setengah tahun atau dua bulan sekali. Jika demikian, maka jelaslah kebenaran pendapat ini. Jika ada yang bertanya: &#8220;Pohon kurma mana yang menghasilkan buah setiap saat buah yang dimakan pada musim panas dan dingin? Jawabnya: adapun dimusim dingin, maka Thol&#8217; (mayang kurma) adalah buahnya dan dimusim panas, maka <em>balkh</em>, <em>busr</em>, <em>Ruthob</em> dan kurma adalah buahnya. Jadi semuanya adalah buahnya&#8221;.<a name="_ftnref15" href="http://ustadzkholid.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/blank.htm#_ftn15">[15]</a></p>
<p>7. Pohon kurma memiliki barokah dalam semua bagiannya. Semua bagiannya dapat dimanfaatkan. Demikian juga seorang mukmin, sebagaimana sabda Rasululloh <em>Shallallahu alaihi Wassalam</em>:</p>
<p style="font-size:15px;text-align:right;"><strong>???? ?????? ??????? ???? ?????? ?????? ??????? ????????? ????? ??????? ?????? ?????? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ??????? ????? ?????? ?????????? ???????? ??????? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ????? ???? ????????? ????? ?????????? ?????????? ??????????? ?????????? ??????? ??????? ??????????? ?????????? ???? ??????? ???? ??????????? ??? ??????? ??????? ????? ?????????? ??????? ????? ??????? ???????? ????? ???????????? ????????? ??????? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ???? ???????????</strong></p>
<p>Artinya:<em> &#8220;</em><em>Dari Abdillah bin umar beliau berkata: &#8220;Ketika kam</em><em>i</em><em> duduk-duduk disisi Rasululloh </em><em>Shalllallahu &#8216;alaihi Wassalam</em><em> tiba-tiba diberikan jamaar (jantung kurma). Rasululloh </em><em>shallahu &#8216;alaihi wassalam</em><em> lalu berkata: &#8220;Sesunggu</em><em>h</em><em>nya terdapat satu pohon, barokahnya seperti barokah seorang muslim&#8221;. Lalu aku menerka itu adalah pohon kurma lalu ingin aku sampaikan dia adalah pohon kurma, wahai Rasululloh. Kemudian aku menengok dan mendapatkan aku orang kesepuluh dan paling kecil, lalu aku diam. Rasululloh berkata: &#8220;Ia adalah pohon kurma&#8221;".<a name="_ftnref16" href="http://ustadzkholid.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/blank.htm#_ftn16"><strong>[16]</strong></a></em><em></em></p>
<p>Ibnu Hajar berkata: &#8220;Barokah pohon kurma ada pada semua bagiannya, senantiasa ada dalam setiap keadaannya. Dari mulai tumbuh sampai kering, dimakan semua jenis buahnya, kemudian setelah itu seluruh bagian pohon ini dapat diambil manfaatnya sampai-sampai bijinya digunakan sebagai makannan ternak. Demikian juga serabutnya dapat dijadikan sebagai tali serta yang lainnyapun demikian. Hal ini sudah jelas. Demikian juga barokah seorang muslim meliputi seluruh keadaannya. Juga manfaatnya terus menerus ada untuknya dan untuk orang lain sampai setelah matinyapun&#8221;.<a name="_ftnref17" href="http://ustadzkholid.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/blank.htm#_ftn17">[17]</a></p>
<p>8. Pohon kurma disifatkan Rasululloh <strong>??? ???????? ????????? </strong>. Sisi persamaannya dengan muslim dijelaskan dalam riwayat Al Haarits bin Abi Usamah dari hadits Ibnu Umar dari periwayatan yang lainnya dengan lafadz:</p>
<p style="font-size:15px;text-align:right;"><strong>?????? ?????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ????? ?????? ??????? ????? ?????? ?????????? ???????? ?????????? ??? ???????? ????? ?????????? ???????????? ??? ???? ??????? ??? ????? ???? ??????????? ??? ???????? ????? ?????????? ?? ??? ???????? ?????????? ????????</strong></p>
<p>Artinya:<em> &#8220;</em><em>Kami berada bersama Rasulullah</em><em> pada satu hari, lalu beliau bersabda: &#8220;Sesungguhnya permisalan seorang mukmin seperti permisalan pohon yang tidak gugur daunnya. Tahukah kalian pohon apa itu?&#8221; Mereka berkata: &#8220;</em><em>T</em><em>idak&#8221; Lalu beliau menjawab: &#8220;</em><em>I</em><em>a adalah pohon kurma tidak gugur daunnya dan seorang mukmin tidak gugur do&#8217;anya&#8221;.<a name="_ftnref18" href="http://ustadzkholid.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/blank.htm#_ftn18"><strong>[18]</strong></a></em><em></em></p>
<p><em> </em>Jadi jelaslah sisi persamaan antara keduanya. Telah dimaklumi do&#8217;a telah disyariatkan dan dijanjikan akan dikabulkan sebagaiman firman Allah:</p>
<p style="font-size:15px;text-align:right;"><strong>??????? ????????? ????????? ?????????? ?????? ????? ????????? ??????????????? ???? ?????????? ????????????? ????????? ??????????</strong></p>
<p><em> </em>Artinya:<em> &#8220;</em><em>Dan Rabbmu berfirman:&#8221;Berdo&#8217;alah kepada-Ku,niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina&#8221;. (QS. </em><em>Al Mu&#8217;min</em><em>:</em><em> </em><em>60)</em><em></em></p>
<p>Akan tetapi do&#8217;a akan dikabulkan dengan kesempurnaan syarat dan tidak adanya penghalang. Terkadang tidak dikabulkan karena tidak sebagian syaratnya atau keberadaan sebagian penghalangnya. Adabnya yang paling penting adalah kehadiran hati, pengharapan terkabulnya do&#8217;a  dan tekad/azam dalam masalah tersebut.<a name="_ftnref19" href="http://ustadzkholid.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/blank.htm#_ftn19">[19]</a></p>
<p>Ibnul Qayim memberikan makna lain terhadap hadits ini dengan menyatakan hal ini menunjukkan kekonsistenan pohon kurma menjadikannya sebagai pakaian dan perhiasan, sehingga tidak gugur pada musim dingin dan panas. Demikian juga seorang mukmin senantiasa konsisten memakai pakaian ketaqwaan dan perhiasannya sehingga menghadap Rabbnya.<a name="_ftnref20" href="http://ustadzkholid.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/blank.htm#_ftn20">[20]</a></p>
<p>9. Pohon kurma disifatkan dalam ayat dengan <em>thoyiibah</em> (baik). Ini meliputi baik dalam pemandangan, gambar dan bentuk. Juga meliputi baik dalam rasa, buah dan manfaat. Demikian juga seorang mukmin memiliki sifat baik dalam segala urusan dan keadaannya, baik dzahir ataupun bathin. Oleh kerena itu ketika kaum mukminin masuk syurga langsung disambut para malaikat penjaganya dengan menyatakan:</p>
<p style="font-size:15px;text-align:right;"><strong>??????? ????????? ????????? ????????? ????? ?????????? ??????? ?????? ????? ????????? ?????????? ???????????? ??????? ?????? ??????????? ??????? ?????????? ???????? ????????????? ??????????</strong></p>
<p><em> </em>Artinya:<em> &#8220;Dan orang-orang yang bertaqwa kepada Rabbnya dibawa ke surga berombong-rombongan (pula).Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: &#8220;Kesejahtera (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya&#8221;. (QS. Az Zumar: 73)</em><strong><em> </em></strong><strong> </strong> dan firmanNya:</p>
<p style="font-size:15px;text-align:right;"><strong>????????? ?????????????? ?????????????? ?????????? ?????????? ??????? ?????????? ????????? ?????????? ????? ??????? ???????????</strong></p>
<p>Artinya:<em> &#8220;(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka):&#8221;Salaamun&#8217;alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan&#8221;. </em><em>(QS. </em><em>An Nahl</em><em>:</em><em> </em><em>32)</em> serta firman Allah :</p>
<p style="font-size:15px;text-align:right;"><strong>????? ????? ???????? ????????? ????????? ?????????? ????????????? ???????? ??????? ??? ????????? ???????????? ??????????? ?????? ???? ????????? ??? ?????? ??????????? ????????????? ?????? ??????? ???????? ????? ?????????? ???? ????????? ???????? ????? ??????? ??????????</strong></p>
<p>Artinya: <em>&#8220;</em><em>Sesungguhnya Allah mamasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera. </em></p>
<p><em> </em><em>Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki(pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji</em><em>&#8220;</em><em>. (QS. </em><em>Al Hajj</em><em>:</em><em> </em><em>23-24)</em><em></em></p>
<p><em> </em>10. Pohon kurma disifatkan dengan sabda Rasulullah:</p>
<p style="font-size:15px;text-align:right;">????? ?????? ?????????? ???????? ??????????? ??? ???????? ???? ?????? ????????</p>
<p>Artinya:<em> &#8220;</em><em>Sesungguhnya permisalan mukmin seperti pohon kurma. Tidaklah kamu mengambil sesuatu darinya, niscaya bermanfaat bagimu.<a name="_ftnref21" href="http://ustadzkholid.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/blank.htm#_ftn21"><strong>[21]</strong></a></em></p>
<p>Pohon kurma seluruhnya bermanfaat, demikian juga seorang mukmin ketika bergaul dengan teman dan sekitarnya. Ia tidak menampakkan kecuali akhlak yang mulia, adab budi pekerti yang luhur, muamalah baik, memebrikan kebaikan dan tidak mengganggu mereka. Selalu memberikan manfaat kepada mereka dalam seluruh pergaulannya.</p>
<p>11. Pohon kurma memiliki perbedaan mencolok, satu dengan lainnya. Perbedaan dalam bentuk, jenis dan buahnya. Pohon kurma tidak hanya satu tingkat dalam kebagusan dan kuwalitas, sebagaimana firman Allah:</p>
<p style="font-size:15px;text-align:right;"><strong>????? ????????? ?????? ??????????????? ?????????? ????? ????????? ???????? ????????? ????????? ???????? ????????? ??????? ??????? ??????? ??????????? ????????? ????? ?????? ??? ????????? ????? ??? ?????? ???????? ????????? ???????????</strong></p>
<p>Artinya:<em> &#8220;</em><em>Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang, disirami dengan air yang sama.Kami melebihkan sebagian tanam-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya.Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir</em><em>&#8220;</em><em>. (QS. </em><em>Ar Ra&#8217;d</em><em>:</em><em> </em><em>4)</em><em></em></p>
<p>Demikianlah pohon kurma berbeda dalam rasa, bentuk dan jenisnya, sebagiannya lebih baik dari sebagian yang lainnya.</p>
<p>Demikian juga keadaan antar kaum mukminin. Kaum mukminin bertingkat-tingkat keimanannya dan tidak satu tingkat dalam iman. Allah berfirman:</p>
<p style="font-size:15px;text-align:right;"><strong>????? ??????????? ?????????? ????????? ???????????? ???? ?????????? ?????????? ??????? ?????????? ????????? ??????????? ?????????? ??????? ?????????????? ???????? ????? ?????? ????????????? ??????????</strong></p>
<p>Artinya:<em> &#8220;</em><em>Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu diantara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan diantara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah.Yang demikian itu itu adalah karunia yang amat besar</em><em>&#8220;</em><em>. (QS. </em><em>Fatir</em><em>:</em><em> </em><em>32).</em><em></em></p>
<p>12. Pohon kurma termasuk pohon yang paling sabar menghadapi angin dan terpaannya serta lainnya dari badai angin. Terkadang menerpanya dan terkadang menggulungnya. Kebanyakan tumbuhan tidak mampu sabar bertahan dari kekeringan air seperti kesabaran pohon kurma. Demikian juga seorang mukmin selalu sabar dalam menghadapi bala, mala petaka dan musibah. Berkumpul pada seorang mukmin kesabaran dengan ketiga jenisnya, yaitu sabar dalam ketaatan Allah, sabar dari kemaksiatan dan sabar menghadapi takdir yang menyedihkan. Allah berfirman:</p>
<p style="font-size:15px;text-align:right;"><strong>??????????????????? ???????? ???? ????????? ?????????? ???????? ????? ???????????? ???????????? ?????????????? ????????? ????????????? ????????? ????? ???????????? ?????????? ??????? ?????? ???? ???????? ???????? ?????????? ?????????? ?????????? ????????? ???? ?????????? ?????????? ???????????? ???? ??????????????</strong></p>
<p>Artinya:<em> &#8220;</em><em>Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadam, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan:&#8221;Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji&#8217;uun&#8221;. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. </em><em>Al Baqarah</em><em>:155-157)</em><em>.</em></p>
<p>Dan firmanNya:</p>
<p style="font-size:15px;text-align:right;"><strong>???? ?????????? ????????? ????????? ???????? ????????? ?????????? ?????????? ??? ?????? ?????????????????? ???????? ????? ????????? ???????? ???????? ????????????? ????????? ???????? ???????</strong></p>
<p>Artinya:<em> &#8220;Katakanlah:&#8221;Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertaqwalah kepada Rabbmu&#8221;.Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan.Dan bumi Allah itu adalah luas.Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas&#8221;. (QS. Az Zumar: 10)</em></p>
<p>13. Pohon kurma semakin tua semakin bertambah baik dan tinggi kualitasnya. Demikian juga seorang mukmin jika panjang usianya maka bertambah kebaikan dan amal sholehnya. Imam At Tirmidziy meriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Busr, beliau berkata:</p>
<p style="font-size:15px;text-align:right;"><strong>????? ????????????? ????? ??? ??????? ??????? ???? ?????? ???????? ????? ???? ????? ???????? ???????? ???????? </strong></p>
<p>Artinya:<em> &#8220;</em><em>Seorang a&#8217;robiy bertanya kepada Rasulull</em><em>a</em><em>h: &#8220;Wahai Rasulull</em><em>a</em><em>h siapakah orang yang terbaik? Rasulull</em><em>a</em><em>h </em><em>Shallallahu&#8217;alaihi Wassalam</em><em> </em><em>menjawab: &#8220;Orang yang panjang umur dan baik amalannya&#8221;.<a name="_ftnref22" href="http://ustadzkholid.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/blank.htm#_ftn22"><strong>[22]</strong></a></em><em></em></p>
<p>14. Pohon kurma tidak pernah berhenti memberi manfaat walaupun gagal berbuah. Manusia dapat mengambil pelepah, daun dan serabutnya untuk kemanfaatan yang banyak. Demikian juga seorang mukmin tidak pernah lepas dari kebaikan. Selalu mengeluarkan kebaikan dan terjaga dari berbuat kejelekan, sebagaimana sabda Rasulullah:</p>
<p style="font-size:15px;text-align:right;"><strong>????? ???????????? ???????????? ???? ????????? ????? ?????????? ??????? ?????? ??????? ???????? ??????? ?????? ????? ??? ??????? ??????? ??????????? ??????????? ???? ???????? ????? ?????????? ???? ??????? ???????? ?????????? ??????? ??????????? ???? ??? ??????? ???????? ????? ???????? ??????? </strong></p>
<p>Artinya: <em>&#8220;</em><em>Maukah kalian aku beritahu orang terbaik dari terjelak dari kalian. Lalu beliau mengulanginya tiga kali. Lalu seorang bertanya: &#8220;Wahai Rasulull</em><em>a</em><em>h beritahulah kami tentang orang terbaik dari terjelak dari kami&#8221; Rasululloh menjawab: &#8220;orang terbaik dari kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan aman dari kejelekannya dan orang terjelek adalah orang yang tidak diharapkan kebaikannya dan manusia tidak aman dari kejelekannya&#8221;.<a name="_ftnref23" href="http://ustadzkholid.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/blank.htm#_ftn23"><strong>[23]</strong></a></em><em></em></p>
<p>Imam Ikrimah menafsirkan firman Allah : <strong>?????????? ?????????</strong> dengan menyatakan: &#8220;Dialah pohon kurma yang senantiasa memberi manfaat&#8221;.<a name="_ftnref24" href="http://ustadzkholid.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/blank.htm#_ftn24">[24]</a></p>
<p>Demikian juga seorang mukmin senantiasa memberi manfaat sesuai dengan bagian dan kekuatan imannya.</p>
<p>15. Pohon kurma mudah memetik buahnya, karena pohon kurma terkadang pendek sehingga mudah memetiknya dan terkadang tinggi besar. Walaupun besar masih mudah memanjatnya dibanding memanjat pohon lain yang setingginya, karena terdapat tangga dan tempat memijak sampai keatas. Demikian juga seorang mukmin mudah mengambil kebaikan darinya.</p>
<p>16. Buah kurma termasuk buah yang paling bermanfaat, karena <em>ruthab</em>nya dimakan sebagai buah-buahan dan manis. Juga kurma yang telah kering menjadi makanan pokok, lauk dan buah serta dapat dihasilkan darinya cuka dan pemanis. Kurma juga dibuat sebagai obat dan minuman. Kemanfaatannya sudah cukup jelas bagi yang menggunakannya. Demikian juga mukmin memiliki keumuman manfaat dan keaneka ragaman kebaikan dan kebagusannya.</p>
<p>Ditambah lagi buah kurma memiliki rasa manis dan iman pun memiliki rasa manis yang tidak dapat merasakannya kecuali orang yang memiliki iman yang benar. Oleh karena itu Rasulullah bersabda:</p>
<p style="font-size:15px;text-align:right;"><strong>??????? ???? ????? ????? ?????? ????????? ??????????? ???? ??????? ??????? ??????????? ??????? ???????? ?????? ?????????? ?????? ??????? ????????? ??? ????????? ?????? ??????? ?????? ???????? ???? ??????? ??? ????????? ????? ???????? ???? ???????? ??? ????????</strong></p>
<p>Artinya:<em> &#8220;</em><em>Tiga perkara, jika seorang memilikinya niscaya merasakan manisnya iman, menjadikan Allah dan RasulNya lebih dicintai dari yang lainnya dan mencintai seseorang hanya karena Allah serta benci kembali kepada kekufuran sebagaimana benci dilemparkan kedalam api</em><em>&#8220;</em><em>.<a name="_ftnref25" href="http://ustadzkholid.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/blank.htm#_ftn25"><strong>[25]</strong></a></em><em></em></p>
<p>Imam Abu Muhammad bin Abi Jamroh menyatakan: &#8220;Diibaratkan dengan rasa manis dalam hadits ini, karena Allah menyerupakan iman dengan pohon dalam firmanNya:</p>
<p style="font-size:15px;text-align:right;"><strong>?????? ???? ?????? ?????? ????? ??????? ???????? ????????? ?????????? ?????????</strong><strong> </strong></p>
<p>Kalimat didalam ayat ini adalah kalimat ikhlas dan pohonnya adalah pokok iman, cabangnya adalah mengikuti perintah dan menjauhi larangan. Sedang daunnya adalah kebaikan yang diperhatikan seorang mukmin, buahnya adalah ketaatan&#8221;.<a name="_ftnref26" href="http://ustadzkholid.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/blank.htm#_ftn26">[26]</a></p>
<p>17. Kesamaan sifat pohon kurma dengan sifat mukmin sehingga Ibnul Qayyim menyatakan: &#8220;Sebagian orang ada yang telah menyamakan manfaat-manfaat ini (manfaat pohon kurma) dengan sifat muslim. Mereka menjadikan setiap manfaat darinya dihadapkan dengan satu sifat muslim. Ketika sampai pada duri pohon kurma, maka dihadapkan kepada sifat keras dan tegas terhadap musuh Allah dan orang fajir. Sehingga kekerasan dan ketegasan terhadap mereka (para musuh tersebut) seperti kedudukan duri pohon kurma dan sikap mereka terhadap mukmin yang taqwaeperti kedudukan ruthab yang manis dan lembut. Allah berfirman:</p>
<p style="TEXT-ALIGN: right">?????????? ????? ??????????? ????????? ??????????</p>
<p>Artinya:<em> &#8220;K</em><em>eras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka</em><em>&#8220;</em><em>. (QS. </em><em>Al Fath</em><em>:29</em>) <a name="_ftnref27" href="http://ustadzkholid.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/blank.htm#_ftn27">[27]</a></p>
<p>Oleh karena itu para ulama yang terkenal keras dan tegas dalam membantaha orang-orang bathil dinamakan duri dileher mereka.</p>
<p>Demikianlah diantara kesamaan yang ada. para pensyarah hadits ini memberikan beberapa kesamaan yang lainnya, namun semuanya lemah dan sebagiannya batil. Imam Ibnu Hajar telah meringkasnya dikitab <em>Fathul Bari</em> dengan menyatakan: &#8220;Adapun orang yang menganggap letak persamaan antara muslim dengan pohon kurma dari sisi: jika dipotong kepalanya ia akan mati, atau karena pohon kurma tidak berbuah tanpa perkawinan, atau ia mati dengan ditenggelamkan, atau bau putiksarinya seperti mani manusia atau ia minum dari bagian atasnya. Semuanya ini lemah, karena sisi kesamaan tersebut juga untuk seluruh manusia tidak khusus kepada muslim. Yang lebih lemah lagi adalah pernyataan bahwa pohon kurma diciptakan dari tanah sisa penciptaan adam, karena hadits yang menunjukkannya tidak shohih, Wallahu a&#8217;laam&#8221;.<a name="_ftnref28" href="http://ustadzkholid.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/blank.htm#_ftn28">[28]</a></p>
<p>Dengan demikian telah kita ketahui iman adalah pohon mubarokah yang memiliki manfaat dan faedah besar serta buah hasil. Iman memiliki tempat khusus penanaman dan siraman khusus, juga memiliki pokok, cabang dan buah. Tempatnya adalah hati seorang mukmin, siramannya adalah wahyu dan pokoknya adalah rukun iman yang enam. Sedangkan cabangnya adalah amalan sholeh dan ketaatan yang beraneka ragam yang dilakukan seorang mukmin dan buahnya adalah semua kebaikan dan kebahagiaan yang dirasakan seorang mukmin didunia dan akherat. Inilah diantara buah dan hasil iman. <em>Wallahu a&#8217;lam bis Showaab</em>.</p>
<p><strong>Faedah yang diambil dari Hadits.</strong></p>
<p>Di antara faedah yang diambil dari hadits ini adalah:</p>
<ol>
<li>Orang yang diberi teka-teki hendaknya memperhatikan indicator yang menunjukkan jawabannya.</li>
<li>Ujian seorang alim terhadap santrinya tentang sesuatu yang belum jelas dan menjelakannya jika mereka belum faham.</li>
<li>Motivasi untuk memamahami ilmu. Imam Bukhori membuat bab untuk hadits ini bab <em>Fahm fil Ilmu</em> (memahami ilmu)</li>
<li><em>Dhorbul Amtsal</em> (membuat permisalan) dan <em>asybah</em> (contoh) untuk menambah faham</li>
<li>Tanya jawab.</li>
<li>Penggambaran makna untuk mengokohkan pemahaman</li>
<li><em>Tasybih</em>(menyamakan) sesuatu dengan sesuatu tidak mesti harus sama  dalam setiap sisi</li>
<li>Imam memberikan permasalahan kepada anak buahnya untuk menguji ilmu yang dimiliki mereka. (Bukhori)</li>
<li>Ulama besar terkadang tidak tahu sesuatu yang diketahui orang yang dibawahnya, karena ilmu itu pemberian Allah.</li>
<li>Malu dianggap baik selama tidak melepas maslahat yang ada.</li>
<li><em>Tauqiir</em> (menghormati) orang yang lebih tua.</li>
</ol>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.com</a></p>
<hr size="1" /><a name="_ftn1" href="http://ustadzkholid.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/blank.htm#_ftnref1">[1]</a> <em>Syarah Shohih Muslim</em> 17/152 dan lihat juga <em>Fathul Bariy</em> 1/146.</p>
<p><a name="_ftn2" href="http://ustadzkholid.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/blank.htm#_ftnref2">[2]</a> Lihat <em>Mu&#8217;jamul Wasith</em> 1/45.</p>
<p><a name="_ftn3" href="http://ustadzkholid.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/blank.htm#_ftnref3">[3]</a> <em>Fathul Bariy</em> 1/146.</p>
<p><a name="_ftn4" href="http://ustadzkholid.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/blank.htm#_ftnref4">[4]</a> Lihat makalah <em>Syeikh Abdirrozaaq Al &#8216;Abaad</em> dalam majalah <em>Al Jaami&#8217;ah Al Islamiyah</em> edisi 107 tahun 29, 1418-1419 hal. 205</p>
<p><a name="_ftn5" href="http://ustadzkholid.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/blank.htm#_ftnref5">[5]</a> dibawakan <em>Ibnu Hajar</em> dalam <em>Fathul Baariy</em> 1/147.</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/akhlaq/seorang-mukmin-bagaikan-pohon-kurma/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/seorang-mukmin-bagaikan-pohon-kurma/&amp;title=Seorang+Mukmin+Bagaikan+Pohon+Kurma" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/seorang-mukmin-bagaikan-pohon-kurma/&amp;title=Seorang+Mukmin+Bagaikan+Pohon+Kurma" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/akhlaq/seorang-mukmin-bagaikan-pohon-kurma/&amp;t=Seorang+Mukmin+Bagaikan+Pohon+Kurma" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/seorang-mukmin-bagaikan-pohon-kurma/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Seorang+Mukmin+Bagaikan+Pohon+Kurma+-+http://ustadzkholid.com/akhlaq/seorang-mukmin-bagaikan-pohon-kurma/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/seorang-mukmin-bagaikan-pohon-kurma/&amp;title=Seorang+Mukmin+Bagaikan+Pohon+Kurma" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/seorang-mukmin-bagaikan-pohon-kurma/&amp;title=Seorang+Mukmin+Bagaikan+Pohon+Kurma" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Seorang+Mukmin+Bagaikan+Pohon+Kurma+-+http://b2l.me/n85n9&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Seorang+Mukmin+Bagaikan+Pohon+Kurma&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/akhlaq/seorang-mukmin-bagaikan-pohon-kurma/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Rasulullah%20bersabda%3A%20%22Sesungguhnya%20ada%20diantara%20pepohonan%2C%20satu%20pohon%20yang%20tidak%20gugur%20daunnya.%20Pohon%20ini%20seperti%20seorang%20muslim%2C%20maka%20sebutkanlah%20kepadaku%20apa%20pohon%20tersebut%3F%22%20Lalu%20orang%20menerka-nerka%20pepohonan%20wadhi.%20Berkata%20Abdullah%3A%20%22Lalu%20terbesit%20dalam%20diriku%2C%20pohon%20itu%20adalah%20pohon%20kurma%2C%20namun%20aku%20malu%20mengungkapkannya%22.%20Kemudian%20mereka%20berkata%3A%20%22Wahai%20Rasululloh%20beritahulah%20kami%20pohon%20apa%20itu%3F%22%20Lalu%20beliau%20menjawab%3A%20%22Ia%20adalah%20pohon%20kurma%22." rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/akhlaq/seorang-mukmin-bagaikan-pohon-kurma/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dampak Buruk Makanan Haram Bagi Seorang Muslim</title>
		<link>http://ustadzkholid.com/akhlaq/dampak-buruk-makanan-haram-bagi-seorang-muslim/</link>
		<comments>http://ustadzkholid.com/akhlaq/dampak-buruk-makanan-haram-bagi-seorang-muslim/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2009 04:49:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[haram]]></category>
		<category><![CDATA[makanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzkholid.com/?p=704</guid>
		<description><![CDATA[Permasalahan halal dan haram sangat penting sekali bagi seorang muslim, dan ini ditunjukkan langsung dengan pengaitan Allah Subhanahu wa Ta'ala antara makanan yang baik dengan amal shalih dan ibadah.
Namun sayang masih banyak dijumpai orang yang menyatakan: "Yang haram aja susah apalagi yang halal." Satu ungkapan yang menggambarkan rendahnya kondisi keimanan dan keyakinan mereka terhadap rahmat dan rizki Allah]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Era globalisasi banyak berpengaruh pada kehidupan seorang muslim, sadar atau tidak sadar mereka terseret ke dalam arusnya. Sehingga dijumpai banyak orang menyatakan: &#8220;<em>Yang haram aja susah apalagi yang halal.</em>&#8221; Satu ungkapan yang menggambarkan rendahnya kondisi keimanan dan keyakinan mereka terhadap rahmat dan rizki Allah. Padahal Allah dan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah menegaskan dengan sangat tandas sekali bahwa Allah akan mencukupkan rizki mereka dan tidak membebankan hal itu kepada pundak mereka. Sebagaimana dijelaskan dalam firmanNya:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right"><strong>وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ<br />
</strong></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>&#8220;Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rizkinya sendiri.Allah-lah yang memberi rizki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.&#8221; (QS. </em><em>Al Ankabut</em><em>: 60) </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>dan firman-Nya
</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right"><strong>مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ</strong></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>&#8220;Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya memberi Aku makan.&#8221; (QS. </em><em>Adz Dzariyat</em><em>:57)</em></p>
<p>Dalam dua ayat di atas jelaslah Allah sebagai pemberi rizki kepada semua makhluknya, lalu Ia mengutus Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> untuk menghalalkan yang baik-baik dan mengharamkan yang buruk dan jelek bagi manusia, <span id="more-704"></span>sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right"><strong>الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالأغْلالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ<br />
</strong></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>&#8220;(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma&#8217;ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur&#8217;an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.&#8221; (QS. </em><em>Al a&#8217;raf</em><em>:157)</em></p>
<p><strong>Makanlah yang halal dan baik saja</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Setelah mengetahui yang dihalalkan Allah adalah semua yang baik dan sebaliknya yang diharamkan semuanya pasti buruk, apalagi yang menjadi halangan menghindari yang haram dan hanya mengambil yang halal saja?</p>
<p>Tinggal kita laksanakan saja perintah Allah untuk memakan yang halal dan baik dan tidak mengikuti jejak dan ajakan syeitan yang mengajak kepada keburukan dan kesengsaraan. Allah berfirman:
</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right"><strong>يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الأرْضِ حَلالا طَيِّبًا وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ </strong></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>&#8220;Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan; karena sesungguhnya syaithan adalah musuh yang nyata bagimu.&#8221; (QS. </em><em>Al Baqarah</em><em>:168)</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Karena hal ini merupakan wujud syukur kita kepada Allah yang telah memberikan rizki-Nya yang luas dan banyak. Sebagaimana dijelaskan Allah dalam firman-Nya:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right"><strong></strong><strong>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ<br />
</strong></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada Allah kamu menyembah.&#8221; (QS. </em><em>Al Baqarah</em><em>:172)</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Apabila kita bersyukur, Allah akan menambah anugerah-Nya. Jangan sekali-kali kita ingkar terhadap nikmat Allah dan melampaui batas, sebab jika kita ingkar terhadap nikmat Allah maka kebinasaan ada di hadapan kita.</p>
<p>Allah berfirman:
</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right"><strong>كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَلا تَطْغَوْا فِيهِ فَيَحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبِي وَمَنْ يَحْلِلْ عَلَيْهِ غَضَبِي فَقَدْ هَوَى</strong></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>&#8220;Makanlah di antara rezki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah ia.&#8221; (QS. </em><em>Thaaha</em><em>:81)</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Pentingnya makan yang halal dan bahaya makan yang haram</strong></p>
<p>Permasalahan halal dan haram sangat penting sekali bagi seorang muslim, dan ini ditunjukkan langsung dengan pengaitan Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> antara makanan yang baik dengan amal shalih dan ibadah. Di dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Muslim dan yang lainnya, dari Abu Hurairah <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right"><strong>????? ??????? ??????? ??? ???????? ?????? ???????? ??????? ??????? ?????? ?????????????? ????? ?????? ???? ?????????????? ??????? ??? ???????? ????????? ?????? ???? ????????????? ??????????? ???????? ?????? ????? ??????????? ??????? ??????? ??? ???????? ????????? ??????? ?????? ???? ?????????? ??? ????????????? ????? ?????? ????????? ??????? ????????? ???????? ???????? ??????? ???????? ????? ?????????? ??? ????? ??? ????? ???????????? ??????? ???????????? ??????? ???????????? ??????? ???????? ???????????? ???????? ??????????? ????????</strong></p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya Allah Ta&#8217;ala itu baik, tidak menerima kecuali yang baik, dan bahwa Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin dengan apa yang diperintahkannya kepada para rasul dalam firman-Nya: &#8216;Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal shaleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.&#8217;&#8221; </em>(Qs. al-Mu&#8217;minun: 51).</p>
<p>Dan Ia berfirman,  (yang artinya)<em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.&#8221; </em>(Qs. al-Baqarah: 172). <em>Kemudian beliau menyebutkan seorang laki-laki yang kusut warnanya seperti debu mengulurkan kedua tangannya ke langit sambil berdo&#8217;a: &#8216;Ya Rabb, Ya Rabb,&#8217; sedang makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, ia kenyang dengan makanan yang haram, maka bagaimana mungkin orang tersebut dikabulkan permohonannya?!&#8221;<a name="_ftnref1" href="#_ftn1">1</a></em></p>
<p>Dalam hadits di atas Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>menjelaskan bahwa makanan yang dimakan seseorang mempengaruhi diterima dan tidaknya amal shalih seseorang. Hal ini tentunya cukup membuat kita memberikan perhatiaan yang serius dan berhati-hati dalam permasalahan ini.</p>
<p>Ibnu Rajab <em>rahimahullah </em>berkata, &#8220;Hadits ini menunjukkan bahwa amal tidak diterima dan tidak suci kecuali dengan memakan makanan yang halal. Sedangkan memakan makanan yang haram dapat merusak amal perbuatan dan membuatnya tidak diterima&#8221;<a name="_ftnref2" href="#_ftn2">2</a>.</p>
<p>Hal ini sangat berbahaya sekali, perhatikan lagi sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang lain:</p>
<h4 style="font-size:18px;text-align:right"><strong>???????? ??????  ?????? ???????? ???? ?????? ?????????? ??????? ????</strong></h4>
<p><strong>&#8220;</strong><em>Siapa saja hamba yang dagingnya tumbuh dari (makanan)  haram maka Neraka lebih pantas baginya.&#8221;<a name="_ftnref3" href="#_ftn3">3</a></em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Mudah-mudahan hal ini membuat kita lebih berhati-hati. <em>Wallahu Al Muwaffiq</em>.</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzkholid.com">UstadzKholid.com</a></p>
<hr size="1" /><a name="_ftn1" href="#_ftnref1">1</a> Dikeluarkan oleh Muslim dalam <em>az-Zakaah </em>no.1015, at-Tirmidzi dalam <em>Tafsirul Qur&#8217;an </em>no.2989,Ahmad dalam <em>Baaqi Musnad al-Muktsriin </em>no.1838, ad-Darimi dalam <em>ar-Riqaaq </em>no. 2717.<br />
<a name="_ftn2" href="#_ftnref2">2</a> <em>Jaami&#8217;ul&#8217;Uluum wal Hikam</em> 1/260.<br />
<a name="_ftn3" href="#_ftnref3">3</a> Bagian dari hadits yang dikeluarkan oleh at-Tirmidzi dalam <em>at-Targhiibu wa at-Tarhiib </em>3/17, awalnya, &#8220;<em>Hai Sa&#8217;d perbaikilah makananmu niscaya do&#8217;amu diterima.&#8221; </em>al-Haitsami menyebutnya dalam <em>al-Mujama&#8217; </em>10/294, ia berkata, &#8220;Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dan pada sanadnya terdapat perawi yang saya belum mengenal mereka, adapun tambahan ini, shahih dengan banyak <em>syahid</em>nya dari Jabir dan Ka&#8217;b bin &#8216;Ujrah serta Abu Bakar ash-Shiddiiq sebagaimana dalam <em>adh-Dha&#8217;ifah </em>3/293, dan dikeluarkan oleh at-Tirmidzi dengan sepertinya dalam <em>al-Jumu&#8217;ah </em>no. 614 dari Ka&#8217;b bin &#8216;Ujrah pada sebahagian dari hadits panjang, lafazhnya, &#8220;<em>Sesungguhnya tidak berkembang daging yang tumbuh dari makanan yang haram kecuali Neraka yang lebih pantas baginya.&#8221; </em>Abu &#8216;Isa berkata, &#8220;Hadits ini <em>hasan Gharib</em>. Dan disahkan oleh al-Albani dalam <em>Shahih Sunan at-Tirmidzi </em>no. 501</p>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center">
<ul class="socials">
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://ustadzkholid.com/akhlaq/dampak-buruk-makanan-haram-bagi-seorang-muslim/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-delicious">
			<a href="http://delicious.com/post?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/dampak-buruk-makanan-haram-bagi-seorang-muslim/&amp;title=Dampak+Buruk+Makanan+Haram+Bagi+Seorang+Muslim" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a>
		</li>
		<li class="shr-digg">
			<a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/dampak-buruk-makanan-haram-bagi-seorang-muslim/&amp;title=Dampak+Buruk+Makanan+Haram+Bagi+Seorang+Muslim" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://ustadzkholid.com/akhlaq/dampak-buruk-makanan-haram-bagi-seorang-muslim/&amp;t=Dampak+Buruk+Makanan+Haram+Bagi+Seorang+Muslim" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-googlebuzz">
			<a href="http://www.google.com/buzz/post?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/dampak-buruk-makanan-haram-bagi-seorang-muslim/&amp;imageurl=" rel="nofollow" class="external" title="Post on Google Buzz">Post on Google Buzz</a>
		</li>
		<li class="shr-plurk">
			<a href="http://www.plurk.com/m?content=Dampak+Buruk+Makanan+Haram+Bagi+Seorang+Muslim+-+http://ustadzkholid.com/akhlaq/dampak-buruk-makanan-haram-bagi-seorang-muslim/&amp;qualifier=shares" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Plurk">Share this on Plurk</a>
		</li>
		<li class="shr-reddit">
			<a href="http://reddit.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/dampak-buruk-makanan-haram-bagi-seorang-muslim/&amp;title=Dampak+Buruk+Makanan+Haram+Bagi+Seorang+Muslim" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a>
		</li>
		<li class="shr-stumbleupon">
			<a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://ustadzkholid.com/akhlaq/dampak-buruk-makanan-haram-bagi-seorang-muslim/&amp;title=Dampak+Buruk+Makanan+Haram+Bagi+Seorang+Muslim" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Dampak+Buruk+Makanan+Haram+Bagi+Seorang+Muslim+-+http://b2l.me/pawce&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Dampak+Buruk+Makanan+Haram+Bagi+Seorang+Muslim&amp;body=Link: http://ustadzkholid.com/akhlaq/dampak-buruk-makanan-haram-bagi-seorang-muslim/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Permasalahan%20halal%20dan%20haram%20sangat%20penting%20sekali%20bagi%20seorang%20muslim%2C%20dan%20ini%20ditunjukkan%20langsung%20dengan%20pengaitan%20Allah%20Subhanahu%20wa%20Ta%27ala%20antara%20makanan%20yang%20baik%20dengan%20amal%20shalih%20dan%20ibadah.%0D%0ANamun%20sayang%20masih%20banyak%20dijumpai%20orang%20yang%20menyatakan%3A%20%22Yang%20haram%20aja%20susah%20apalagi%20yang%20halal.%22%20Satu%20ungkapan%20yang%20menggambarkan%20rendahnya%20kondisi%20keimanan%20dan%20keyakinan%20mereka%20terhadap%20rahmat%20dan%20rizki%20Allah" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzkholid.com/akhlaq/dampak-buruk-makanan-haram-bagi-seorang-muslim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

