Hakekat Mencintai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam
Allah telah mengutus Rasulullah untuk menjelaskan kandungan makna syahadatain dan memerintahkan beliau untuk memerangi manusia hingga bersaksi dengannya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam :
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ
Artinya: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai bersaksi sesungguhnya tiada sesembahan yang benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah (Syahadatain), menegakkan sholat dan menunaikan zakat. Apabila mereka melakukan hal tersebut maka terjaga dariku darah dan harta mereka kecuali dengan hak islam dan hisab mereka pada Allah.” [HR. Al Bukhori dalam kitab Al Iman, Bab Fa in Taabuu Wa Aqoomushalaata Wa Aatuu Az Zakaata, hadits nomor 25]
Demikian juga Allah menjadikan ketaatan kepada beliau sebagai satu konsekwensi syahadatain dan jalan menuju kebahagian hamba didunia dan akherat, disamping itu memberikan balasan syurga bagi orang yang taat kepada beliau, sebagaimana dijelaskan dalam firmanNya:
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Artinya: “Barangsiapa yang mentaati Allah dan RasulNya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam jannah yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar.” [QS. An Nisa’: 13].
Oleh karena itu Ibnu Taimiyah menyatakan: “Tidak ada kebahagian dan keselamatan di hari akhirat, kecuali dengan mengikuti Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam . dengan dalil firmanNya:
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ
Artinya: “Barangsiapa yang mentaati Allah dan RasulNya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam jannah yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan RasulNya dan melanggar ketentuan-ketentuanNya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api naar sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” [QS An Nisa’:13-14]
Ketaatan kepada Allah dan RasulNya adalah poros kebahagian dan tempat keselamatan yang pasti.” [Majmu Fatawa Ibni Taimiyah 1/4]
Karena dengan diutusnya beliau sebagai Rasul Allah manusia dapat membedakan kebenaran dan kebatilan dalam seluruh perkaranya. Syaikhul Islam menyatakan juga: “Dengan diutusnya Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam, jelaslah sudah kekafiran dari keimanan, keuntungan dari kerugian, petunjuk dari kesesatan, penyimpangan dari kelurusan, kekeliruan dari kebenaran, ahli syurga dari ahli neraka, orang yang bertakwa dari orang fajir dan mendahulukan jalan orang yang Allah karuniai nikmat dari kalangan para nabi, shidiqin, syuhada dan shalihin dari jalannya orang yang dimurkai Allah dan sesat.
Sehingga jiwa lebih membutuhkan untuk mengenal ajaran dan mengikuti Rasulullah? , daripada kebutuhannya kepada makan dan minum. Karena, jika tidak memiliki makan minum hanya terjadi kematian. Sedangkan jika tidak memiliki petunjuk, akan mendapatkan adzab. Maka sudah menjadi kewajiban bagi setiap orang menumpahkan seluruh kekuatan dan kemampuannya untuk mengenal ajaran beliau dan mentaatinya. Inilah jalan keselamatan dari adzab yang pedih dan jalan kebahagiaan ke syurga. Caranya dengan mengambil riwayat dan penukilan (Al Qur’an dan As Sunnah, pen.). Karena tidak akan bisa mengenalnya, bila hanya mengandalkan akal. Sebagaimana cahaya mata, tidak dapat melihat kecuali dengan adanya cahaya yang di depannya. Demikian pula cahaya akal, tidak berfungsi kecuali jika ada cahaya terang risalah Allah”. [Majmu Fatawa Ibni Taimiyah 1 /5-6]
Demikian tinggi dan besarnya kedudukan RasulullahShallallahu’alaihi Wasallam disisi Allah, sehingga Allah mewajibkan kepada hamba-hambaNya beberapa hak dan kewajiban seputar beliau, diantaranya mencintai dan mengagungkannya melebihi diri hamba itu sendiri bahkan melebihi kecintaan kita kepada orang lain selain beliau, sebagaimana dijelaskan dalam sabda beliau:
??? ???????? ?????????? ?????? ??????? ??????? ???????? ???? ????????? ?????????? ?????????? ??????????? ???? ???????
Artinya: “Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian hingga menjadikanku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia.” [HR. Al Bukhori dalam kitab Al Iman, Bab Hubbur Rasul minal Imaan, no. 14 ]
Sehingga Ibnu Taimiyah menyatakan: “Cinta Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam termasuk kewajiban agama yang terbesar.” [Lihat Al Radd A’lal Akhnaa’I hal. 231 dinukil dari kitab Huquq Al Nabi ‘Ala Umatihi Fi Dhau’il Kitab Was Sunnah, DR Muhammad Khalifah At Tamimi]
Kewajiban Mencintai Rasulullah
Mencintai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam hukumnya wajib bahkan termasuk kewajiban agama terbesar yang tidak sempurna iman seorang hamba kecuali dengannya. Oleh karena itu Allah perintahkan umat ini untuk mencintai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melebihi dirinya, keluarga, harta dan seluruh manusia, sebagaimana dijelaskan dalam firmanNya:
قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Artinya: “Katakanlah:”Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” [QS. At Taubah: 24]
Ayat ini jelas menunjukkan kewajiban mencintai Allah dan RasulNya dan kecintaan tersebut harus didahulukan atas semua kecintaan. Al Qadhi Iyadh menyatakan: “Ayat ini cukup menjadi anjuran dan bimbingan serta hujjah untuk kewajiban mencintai beliau dan kelayakan beliau mendapati kecintaan tersebut, kaerena Allah menegur orang yang menjadikan harta, keluarga dan anaknya lebih dicintai dari Allah dan RasulNya dan mengancam mereka dengan firmanNya:
??????? ??? ???? ???? ?????
Artinya: “Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”
Kemudian diakhir ayat menamakan mereka fasiq dan memberitahukan bahwa orang tersebut termasuk orang yang sesat dan tidak mendapatkan petunjuk Allah. [Dinukil dari Huquq An Nabi 1/301-302]
Demikian juga firman Allah Ta’ala:
النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ
Artinya: “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri” [QS. Al-Ahdzab:6]
Ayat ini menunjukkan orang yang tidak menjadikan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam lebih utama dari dirinya sendiri termasuk bukan mukmin. Hal ini menunjukkan kewajiban mencintai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melebihi dirinya sendiri. Juga firmanNya:
وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
Artinya: “Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” [QS. Al Baqarah: 165]
Ayat ini mengandung hukum kewajiban mencintai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, karena termasuk bagian kecintaan kepada Allah adalah mencintai semua yang Allah cintai dan Allah mencintai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, karena itulah mencintai Rasulullah menjadi wajib. Dilengkapi dengan firman Allah:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya: “Katakanlah:”Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Al Imran: 31]
Allah telah menjadikan ittiba’ (mengikuti RasulNya) sebagai bukti dan dalil kebenaran cinta Allah. Hal ini dapat diwujudkan hanya setelah iman kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam . dan iman kepada beliau harus terwujudkan syarat-syaratnya yang diantaranya mencintai Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam , seperti diberitakan Abu Hurairah Radhiallahu’anhu dalam pernyataan beliau Shallallahu’alaihi Wasallam:
???? ??????? ???????? ???????? ??? ???????? ?????????? ?????? ??????? ??????? ???????? ??? ???????? ?? ?????????
Artinya: “Demi Dzat yang jiwaku ditanganNya, Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian hingga menjadikanku lebih ia cintai dari anaknya dan orang tuanya.” [HR Al Bukhori dalam kitab Al Iman, Bab Hubbur Rasul minal Imaan, no. 13]
Sedangkan hadits-hadits Nabi pun memerintahkan demikian cukup banyak selain hadits Abu Hurairah diatas, diantaranya seperti dalam hadits Umar bin Al Khathab Radhiallahu’anhu yang berbunyi:
?????? ???? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ?????? ????? ?????? ?????? ???? ??????????? ??????? ???? ?????? ??? ??????? ??????? ???????? ??????? ??????? ???? ????? ?????? ?????? ???? ??????? ??????? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ??? ????????? ??????? ???????? ?????? ??????? ??????? ???????? ???? ???????? ??????? ???? ?????? ????????? ?????? ????????? ???????? ??????? ??????? ???? ??????? ??????? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ?????? ??? ????? ? ???? ???????
Artinya: “Kami bersama Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan beliau dalam keadaan memegang tangan Umar bin Al Khothob, lalu Umar berkata kepada beliau: Wahai Rasululoh sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku. Lalu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: Tidak, demi Dzat yang jiwaku ditanganNya sampai aku lebih kamu cintai dari dirimu sendiri. Lalu Umarpun berkata: Sekarang, demi Allah sungguh engkau lebih aku cintai dari diriku sendiri. Lalu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: Sekarang wahai Umar!” [HR Al Bukhori kitab Al Aimaan Wa An Nudzur, Bab Kaifa kaanat Yamien Al Nabi no. 6632]
Demikian juga hadits Anas bin Maalik Radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
??????? ???? ????? ????? ?????? ????????? ??????????? ???? ????? ??????? ??????????? ??????? ???????? ?????? ?????????? ?????? ??????? ??????? ??? ????????? ?????? ??????? ????? ??????? ?????? ???????? ???? ??????? ??? ????????? ?????? ???? ?????????? ??????? ?????? ????? ???????? ???? ??????? ??? ????????
Artinya: “Tiga hal yang apabil seorang memilikinya, maka akan mendapatkan manisnya; orang yang menjadikan Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari selainnya, orang yang mencintai seorang hamba hanya karena Allah dan orang yang benci pada kekafiran setelah Allah selamatkan darinya sebagaimana benci dilemparkan ke neraka.” [HR Al Bukhari dalam kitab Al Iman, Bab Halaawat iman, no. 16]
Juga hadits yang diriwayatkan sahabat Anas bin Maalik Radhiallahu’anhu lainnya yang berbunyi:
????? ??????? ???? ?????? ???????????? ????? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ??????? ??? ??????? ??????? ????? ?????????? ????????? ????? ???????? ????? ?????????? ????? ????? ??? ?????????? ????? ?????? ?????? ??????? ??????? ??????????? ????? ??????? ???? ???? ?????????? ????????? ???????? ???????? ????? ?????? ??????????? ?????????? ??????? ????????
Artinya: “Seorang penduduk badui menjumpai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan berkata: Wahai Rasulullah, kapan jhari kiamat terjadi? Beliau menjawab: Apa yang telah kamu persiapkan untuknya? Ia menjawab: aku tidak memiliki persiapan kecuali aku mencintai Allah dan RasulNYa. Maka Rasulullah bersabda: Sungguh kamu bersama orang yang kamu cintai. Lalu kami berkata: Demikian juga kami? Beliau menjawab: Ya. Maka kamipun pada hari itu sangat berbahagia.”
Dalam riwayat Imam Muslim ada tambahan lafadz:
????? ?????? ??????? ??????? ??????? ??????????? ??????? ?????? ???????? ????????? ???? ??????? ???????? ?????? ???? ???????? ???????????????
Artinya: “Anas berkata: Sungguh aku mencintai Allah, RasulNya, Abu Bakar dan Umar, lalu aku berharap bisa bersama mereka walaupun aku belum beramal dengan amalan mereka.” [HR. Al Bukhori kitab Al Adab, Bab Al Mar’u Ma’a Man Ahab no. 6171 dan Muslim kitab Al Bir Wa Al Silah, Bab Al Mar’u Ma’a Man Ahab no.4775]
Masih banyak lagi hadits-hadits yang menjelaskan kewajiban mencintai Rasulullah. Sehingga pantaslah bila Syaikhul Islam berkata: “Cinta Allah bahkan cinta Allah dan RasulNya termasuk kewajiban iman terbesar dan pokok dan kaidah iman yang teragung. Bahkan ia adalah dasar semua amalan iman dan agama.” [Al Tuhfah Al Iraqiyah Fi Al A’mal Al Qalbiyah, Ibnu Taimiyah, tahqiq DR. Yahya Muhammad Al Hunaidi, cetakan pertama tahun 1421H, Maktabat Al Rusyd, hal 373]
Hakekat cinta Rasulullah
Cinta Rasulullah adalah bagian dari cinta Allah, karena ia adalah cinta karena Allah dan dijalan Allah, hal itu karena kecintaan kepada Allah menuntut konsekwensi mencintai semua yang Allah cintai, sedangkan Allah mencintai nabi dan kekasihNya Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam , sehingga kecintaan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam adalah cabang dan ikut kecintaan Allah.
Ibnul Qayyim menyatakan: “Semua kecintaan dan pengagungan kepada manusia diperbolehkan hanya karena ikut kepada kecintaan Allah dan pengagunganNya, seperti cinta dan pengagungan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam . kecintaan tersebut merupakan kesempurnaan mencintai dan pengagungan Dzat yang mengutusnya, karena umatnya mencintai beliau karena Allah mencintainya dan merekapun mengagungkan dan memuliakan beliau karena Allah memuliakannya.” [Jala’ Al AFhaam fi Fadhli Al Sholat Wa Al Salam ‘Ala Khoiril Anam, Ibnul Qayyim, tahqiq Zaid bin Ahmad Al Nasyiri]
Dengan demikian maka kecintaan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengharuskan kita meniru dan bersikap sama dengan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam semua yang dicintai dan dibencinya. Hal ini diwujudkan dalam ittiba’ (meniru) beliau Shallallahu’alaihi Wasallam , sehingga kita mencintai dengan hati kita semua yang Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam cintai dan membenci semua yang beliau Shallallahu’alaihi Wasallam benci, ridho dengan semua yang beliau ridhoi dan marah terhadap semua yang Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam marah padanya serta mengamalkan semua tuntutan cinta da nbenci tersebut dengan amal perbuatan. [Huquq Al Nabi, 1/289 dengan sedikit perubahan]
Kecintaan dan pengagungan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dapat diaplikasikan dengan hal-hal berikut:
- Mencintai beliau Shallallahu’alaihi Wasallam diatas kecintaan kepada diri sendiri, keluarga dan seluruh manusia, dalam rangka mengamalkan firman Allah:
النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ
Artinya: “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri” [QS. Al Ahdzab: 6]Dan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam :
??? ???????? ?????????? ?????? ??????? ??????? ???????? ???? ????????? ?????????? ?????????? ??????????? ???? ???????
Artinya: “Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian hingga menjadikanku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia.” [HR Al Bukhari dalam kitab Al Iman, Bab Hubbur Rasul minal Imaan, no.14]
Sehingga bersiap mengorbankan jiwa dan harta untuk kecintaan kepadanya, sebagaimana dijelaskan Allah dalam firmanNya:
مَا كَانَ لأهْلِ الْمَدِينَةِ وَمَنْ حَوْلَهُمْ مِنَ الأعْرَابِ أَنْ يَتَخَلَّفُوا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ وَلا يَرْغَبُوا بِأَنْفُسِهِمْ عَنْ نَفْسِهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلا نَصَبٌ وَلا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلا إِلا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ إِنَّ اللَّهَ لا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
Artinya: “Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah. Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik” [QS. At Taubah: 120]
- Membenarkan semua yang beliau beritakan dari Allah, mentaati beliau dalam semua perintahnya dan menjauhi segala larangannya serta beribadah hanya dengan syari’atnya. Ibnu Taimiyah berkata: “Yang wajib bagi orang semisal mereka adalah mengetahui bahwa kecintaan dan pengagungan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam hanyalah terwujud dengan membenarkan seluruh berita beliau dari Allah, mentaati perintah beliau dan meniru serta mencintai dan berloyalitas padanya, bukan dengan mendustakan ajaran beliau dan berbuat syirik serta bersikap berlebihan pada beliau Shallallahu’alaihi Wasallam” [Dinukil dari Huquq Al Nabi 1/291]. Ini juga merupakan konsekwensi dari syahadat Anna Muhammadan Abduhu wa Rasuluhu sebagaimana dijelaskan Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam kitab Al Ushul Al Tsalatsah dalam pernyataan beliau: makna Syahadat Anna Muhammadan Rasulullah adalah Mentaati beliau dalam semua perintahnya, membenarkan semua beritanya dan menjauhi semua larangannya serta tidak beribadah kecuali dengan syari’atnya [Lihat Thoriq Al Wushul Ila Idhah Al Tsalatsah Al Ushul, Syeikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkholi, cetakan tahun 1422H, Maktabah Al Furqaan, UEA. Hal. 163]. Hal ini merupakan wujud cinta dan pengagungan yang sempurna, lalu adakah kesempuraan cinta dan pengagungan kepada Rasulullah pada orang yang mendustakan berita beliau atau melanggar perintah dan larangannya atau berbuat kebidahan dalam ibadah?
- Melaksanakan semua konsekwensi kecintaan kepada Rasulullah baik berupa I’tikad, pernyataan ataupun amalan sesuai dengan hak-hak Rasulullah yang Allah wajibkan kepada hati, lisan dan anggota tubuh, sehingga beriman dan membenarkan kenabian, kerasulan dan seluruh ajaran beliau. Lalu melaksanakan dengan segenap kemampuannya semua yang wajib berupa ketaatan, ketundukan kepada perintahnya dan mencontoh serta meneladani sunnahnya . Allah berfirman:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
Artinya: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia.Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah” [QS. Al Hasyr: 7]
Termasuk dalam hal ini mengucapkan sholawat dan salam kepada beliau, menolong dan membela beliau dari semua orang yang mengusik dan mengganggunya baik ketika hidup atau setelah wafat dan berbicara kepada beliau dengan perkataan yang pantas serta mendahulukan pendapat dan pernyataan beliau dari selainnya.[Huquq An Nabi 1/294]
Demikianlah seharusnya dilakukan setiap muslim dalam mewujudkan kecintaannya kepada Rasulullah.
Sahabat dan kecintaan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam
Sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah memperoleh kemulian berjumpa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan melihat langsung keluhuran dan kemulian akhlak beliau dan juga langsung menyaksikan wahyu turun kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam , sehingga perlu kita lihat bagaimana besar kecintaan mereka kepada Rasululoh Shallallahu’alaihi Wasallam . banyak kisah tentang wujud kecintaan mereka kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam , namun dalam kesempatan ini kami paparkan sedikit dari kisah-kisah tersebut.
Diantaranya kisah perjalanan beliau ke Hudaibiyah dan kejadian perjanjian Hudaibiyah yang disampaikan Imam Al Bukhari dengan sangat panjang, diantara isinya adalah:
??????????? ???? ???????? ???? ????? ???????? ???? ????????? ????????????? ??? ?????? ???? ???????? ???? ????????? ????????? ???????? ?????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ???? ?????? ????????? ??????? ?????? ???????? ?????? ???? ??????? ????????? ???? ??????? ???????? ????????? ??????? ??????????????? ?????????? ???????? ????????????? ?????? ???????????? ??????????? ???? ????????? ??????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ?????? ???? ?????? ????????? ?????? ?????????? ??????? ????????????? ??????? ????????? ???? ???????????? ????????? ??????????? ?????? ?????? ??????? ????????????? ??????? ??????????? ??????? ???????? ???????? ?????? ???????? ?????? ??????? ???? ?????????? ?????? ?????? ????? ???????? ???????? ???????? ?????? ??????? ?????? ???? ??????? ??????????? ??????? ???????? ?????????????????? ????? ??????? ????? ?????? ?????????? ?????????? ??????????????? ??????? ???????? ??????? ???????? ??????????????? ??? ??????? ????? ??????????? ?????? ????? ????????? ????? ?????? ???? ??????????? ???? ????? ????????? ????????????? ??????? ??????? ?????? ???????? ???? ?????????? ?????????? ????????? ??????? ????????????? ??? ??????? ????? ???? ??????????? ?????? ???????? ??????? ????? ????????? ???????? ????? ??? ?????????? ??????? ????? ?????????? ??????? ????? ??????? ????????????? ????? ????? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ??????? ???????? ???? ????????? ??????? ???? ?????? ?????????? ???????????? ??????? ????? ????? ?????????? ??????????? ??????? ????? ????? ?????? ????????????? ??????? ??? ????? ?????????? ??????????? ?????? ????????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ??????? ?????????? ????????? ????????? ?????? ?????????? ??????? ????? ????? ??????? ????? ???? ?????? ?????? ??????? ?????? ??????????? ?????????? ?????? ??????? ??????? ????????? ???????? ????????? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ??????? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ??????? ???? ???????? ?????????? ??????? ???????? ?????? ?????? ???? ????????? ?????????? ???? ????????????? ?????? ???????? ???? ???????? ???????? ???? ????????? ???????? ???????? ???????? ?????? ?????? ?????????? ???????? ????????? ??????? ???????? ???????? ??????? ?????????? ???? ???????? ???????? ???? ????????? ??????????? ??????? ???? ????? ?????? ??????????? ??????? ???????? ???????? ???????? ??????? ?????? ?????????? ??????? ???? ??? ??????? ????? ?????? ????? ????? ????????? ??????? ???????? ??????? ???? ??????? ???? ??????? ???? ???????? ????? ???????????? ????? ???????? ????????? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ?????????? ????????? ?????? ???????????? ?????????????? ???? ???????? ??????? ????? ?????? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ???????? ????????? ?????????? ??????????? ?????????? ??????? ???????? ???????? ????? ???????? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ?????? ?????? ???????? ????????? ??????? ???? ??????? ?????? ???? ???????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ???????? ???????? ???????? ??????? ???? ????? ??????? ???????????? ???? ???????? ??????? ???? ?????? ???????? ??????? ??? ?????????? ??????? ???????????? ?????? ??????? ??? ??????????????? ???????????? ???????? ????????????? ????? ????? ?????????? ??????? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ?????? ???????????? ?????????? ???????? ???????? ???????? ?????? ??? ?????? ????? ????? ???????? ?????? ???????? ????????? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ???????????? ????? ??????????? ??? ????????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ????????? ?????? ???????? ??? ????? ?????? ???????? ???????? ????? ???????? ?????????? ??????? ?????????? ??????????? ???????? ??????? ????????? ??????? ????????????? ????? ????????? ??????? ????????? ???????? ????????????? ???????? ????? ?????????? ???????? ????????? ?????????? ???? ???????? ???????? ????? ??????????? ??????? ???? ?????? ????????? ?????? ???????? ????? ?????????? ?????????? ????? ???????? ????????? ??????????????? ????????? ???? ???????? ??????? ????? ??????????? ??????????? ??? ????????? ????????? ????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ?????????? ????????? ???? ????????? ????????? ?????? ???????? ??? ????? ?????? ???????? ???????? ????? ???????? ?????????? ??????? ?????????? ??????????? ???????? ??????? ????????? ??????? ????????????? ????? ????????? ??????? ????????? ???????? ????????????? ???????? ????? ?????????? ???????? ????????? ?????????? ???? ????????? ???? ?????? ?????????? ??????? ?????? ?????????????.
Artinya: “Ketidak mereka dalam keadaan demikian tiba-tiba datangnya Budail bin Warqaa’ Al Khuzaa’I bersama beberapa orang dari kaumnya Khuza’ah dan mereka ini adalah orang-orang yang dipercaya Rasulullah (dapat menyimpan rahasia dan amanah) dari penduduk tihaamah. Lalu Budail berkata: Sungguh aku tinggalkan Ka’ab bin Lu’ai dan ‘Amir bin Lu’ai tinggal di sekitar sumber air Hudaibiyah dan bersama mereka harta, wanita dan anak-anak mereka dalam keadaan siap memerangmu dan mencegahmu dari Ka’bah. Maka Rasulullah SAW berkata: Kami datang bukan untuk berperang namun kami datang untuk berumroh. Sungguh Quraisy telah menjadi lemah dan rugi karena perang, maka jika mereka ingin, aku akan memberikan gencatan senjata beberapa waktu dan membiarkan urusanku dengan orang-orang. Maka jika aku menang, bila mereka ingin memeluk apa yang orang lain memeluknya (beragama), mereka bisa kerjakan dan kalau tidak menang, maka mereka telah beristirahat dari peperangan. Apabila mereka menolak (tawaran ini), maka demi Dzat yang jiwaku ada ditanganNya, tentu akan aku perangi diatas agama ini sampai bahuku terpisah (aku terbunuh) dan Allah pasti akan mewujudkan perintahnya. Lalu Budail berkata: Saya akan sampaikan kepada mereka apa yang engkau sampaikan. Perawi berkata: Lalu Budail berangkat sampai mendatangi Quraisy, ia berkata Aku telah mendatangi kalian dari lelaki tersebut dan kami telah mendengar pernyataannya, jika kalian ingin kami sampaikan kepada kalian, kami akan lakukan. maka orang bodoh mereka berkata: Kami tidak butuh kamu beritahukan hal itu. Sedangkan tokoh mereka berkata: Silahkan beritahu apa yang telah kamu dengar dari pernyataannya. Budail berkata: Aku mendengar ia berkata demikian dan demikian. Lalu Budail menyampaikan kepada mereka pernyataan Nabi SAW. Lalu Urwah bin Mas’ud bangkit dan berkata: Wahai kaum, bukankah kalian orang tua? Mereka menjawab: Ya. Ia berkata lagi: Bukankah aku ini anak kalian? Mereka menjawab: Ya. Ia berkata lagi: Apakah kalian meragukanku? Mereka menjawab: Tidak. Ia berkata lagi: Bukanlah kalian mengetahui bahwa aku telah memerintahkan penduduk ‘Ukaadz untuk berprang, ketika mereka menolaknya maka aku mendatangkan keluarga dan anakku serta orang yang mentaatiku? Mereka menjawab: Ya. Ia berkata lagi: Sungguh orang itu telah menawarkan kepada kalian perkara yang baik, maka terimalah dan biarkanlah aku menemuinya. Mereka menjawab: Datangilah! Lalu Urwah mendatangi Rasulullah dan mulailah ia berbicara kepada Nabi SAW lalu Nabi SAW menjawab seperti yang beliau sampaikan kepada Budail. Maka Urwahpun berkata ketika itu: Wahai Muhammad, bagaimana pendapatmu, bila kamu habiskan perkara kaummu, apakah kamu pernah mendengar seorang dari bangsa Arab menghancurkan seluruh keluarganya sebelummu? Namun bila sebaliknya sungguh aku tidak melihat orang-orang dan aku yakin orang-orang campuran tersebut pasti akan lari dan meninggalkanmu. Maka Abu bakar berkata kepadanya: Sedot kemaluannya Latta! Adakah mungkin kami akan lari dan meninggalkannya? Maka Urwahpun berkata: Siapa itu? Mereka menjawab: Abu Bakar. Lalu Urwah berkata: Seandainya tidak karena jasa baikmu padaku dahulu menghalangiku, tentu aku akan menjawab (pernyataan) kamu ini. Urwah kembali berbicara kepada Rasulullah SAW, setiap kali ia berbicara maka ia memegang jenggot Rasulullah dan Al Mughiroh bin Syu’bah berdiri dibelakang kepala Nabi SAW membawa pedang dan mengenakan tutup kepala besi, sehingga setiap kali Urwah menggerakkan tangannya ke arah jenggot Nabi SAW maka Al Mughiroh memukulnya dengan gagang pedang, dan berkata: tahan tanganmu dari jenggot Rasulullah SAW. Lalu Urwahpun mengangkat kepalanya dan berkata: Siapa ini? Mereka menjawab: Al Mughiroh bin Syu’bah. Maka Urwahpun berkata: Wahai penghianat, bukankan aku telah berusaha menghilangkan (kejelekan) pengkhianatanmu? Memang Al Mughiroh dahulu pernah menemani satu kaum di zaman Jahiliyah, lalu membunuh mereka dan merampok harta mereka, kemudian datang masuk islam, lalu Nabi berkata: Adapun Islammu aku terima sedangkan harta itu bukan urusanku. Kemudian Urwah mulai memperhatikan para shabat Nabi dengan kedua matanya. Ia berkata: Demi Allah tidaklah Rasulullah mengeluarkan dahak kecuali mengenai satu telapak seorang dari mereka, lalu menggosokkannya ke wajah dan kulitnya dan jika beliau SAW memerintahkan mereka, maka mereka segera melaksanakannya serta bila beliau SAW berwudhu, maka mereka seakan-akan berperang memperebutkan sisa air wudhunya dan jika berbicara mereka merendahkan suara-suara mereka. Mereka tidak memandang langsung Rasulullah karena mengagungkannya. Lalu Urwahpun pulang menemui teman-temannya dan berkata: Wahai kaum, demi Allah sungguh aku pernah menemui para raja, menemui kaisar, kisra dan Najasyi. Demi Allah tidak pernah aku melihat seorang rajapun yang diagungkan para sahabatnya seperti para sahabat Muhammad kepada Muhamad. Demi Allah tidaklah keluar dahak darinya kecuali mengenai telapak seorang dari mereka, lalu menggosokkannya di wajah dan kulitnya. Jika ia memerintahkan mereka, maka mereka segera melaksanakannya, jika ia berwudhu, mereka seakan-akan berperang memperebutkan air sisa wudhunya dan jika berbicara mereka merendahkan suara-suara mereka serta tidak memandang langsung kepadanya karena mengagungkannya. Sungguh ia telah menawarkan kepada kalian tawaran baik maka terimalah!” [HR Al Bukhori, kitab Al Syuruth bab Syurut Fil Jihad no. 2529]
Demikian kita lihat betapa besar cinta para sahabat terhadap Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan mereka wujudkan dalam amalan nyata, diantaranya melaksanakan seluruh perintah beliau Shallallahu’alaihi Wasallam , merendahkan suara dihadapannya dan tidak sanggup memandang langsung wajah beliau. Hal ini dilihat dan diungkapkan oleh musuh beliau waktu itu.
Mudah-mudahan kita semua diberi kemudahan untuk dapat mencintai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan membuktikannya dalam realitas kehidupan sehari-hari. Wabillahit taufiq.
Referensi
- Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah
- Huquq Al Nabi ‘Ala Umatihi Fi Dhau’il Kitab Was Sunnah, DR Muhammad Kholifah Al Tamimi, cetakan pertama tahun 1418 H, Penerbit Adwaa’ Al Salaf
- Al Tuhfah Al Iraqiyah Fi Al A’mal Al Qalbiyah, Ibnu Taimiyah, tahqiq DR. Yahya Muhammad Al Hunaidi, cetakan pertama tahun 1421H, Maktabat Al Rusyd
- Thoriq Al Wushul Ila Idhah Al Tsalatsah Al Ushul, Syeikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkholi, cetakan tahun 1422H, Maktabah Al Furqaan, UEA.
- Jala’ Al AFhaam fi Fadhli Al Sholat Wa Al Salam ‘Ala Khoiril Anam, Ibnul Qayyim, tahqiq Zaid bin Ahmad Al Nasyiri, cetakan pertama tahun 1425H Dar ‘Alam Al Fawaaid.
Tidak ada tulisan terkait

Kalau Rosululloh saw pernah ditanya sahabat siapa yang perlu dihormati setelah Allah sampai 3x dan jawab Rosululloh saw: Umi juga 3x, jadi harus bagaimana?
WA’alaikumussalam
Tidak ada masalah sebab jawaban nabi sesuai kondisi dan pertanyaan penanya. Nabi sendiri menjadikan kecintaan kpd Allah dan dirinya bergandengan, sehingga tidak sempurna cinta kpd Allah tanpa cinta kpd beliau dan melebihi kewajiban kepada ibu
Sedangkan perbandingan antara ibu dan ayah nampak dlm hadis ini 3xdeisebut ibu dan sekali bapak
Menunjukkan kewajiban berbakti kpd ibu lebih besar dari bapak.
Wassalam
assalamualaikum …ustad ..?
ana mau tanya ustad .bagaimana hukumnya orang nikah lagi tanpa sepengetahuan istrinya / tidak di idzini oleh istri pertama
wasalam….
terima kasih
abdullah munif